mengembangkandiri.com (16)

CINTA DAN KASIH SAYANG

DITULIS OLEH: FETHULLAH GÜLEN

Cinta adalah bagian terpenting dari setiap makhluk. Ia adalah sinar paling cemerlang dan kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal. Cinta mengangkat setiap jiwa yang meresapinya, dan mempersiapkan jiwa itu untuk perjalanan menuju keabadian. Jiwa yang mampu membangun hubungan dengan keabadian melalui cinta, memacu dirinya untuk mengilhami jiwa-jiwa lain untuk memperoleh hal yang sama. Jiwa itu membaktikan hidupnya untuk tugas suci ini, yang demi tugas tersebut, ia rela memikul segala penderitaan yang paling pedih, dan seperti ketika ia melafalkan “cinta” pada hembusan nafas terakhirnya, ia juga akan mengucapkan “cinta” ketika diangkat pada Hari Pembalasan kelak.

Tidaklah mungkin jiwa yang tak memiliki cinta dapat naik ke horison kesempurnaan manusia. Meskipun ia hidup beribu tahun, ia tak akan mampu melangkah menuju kesempurnaan. Mereka yang kehilangan cinta, seperti orang-orang yang terperangkap dalam sikap mementingkan diri sendiri, tidak mampu mencintai orang lain dan benar-benar tidak menyadari cinta yang tertanam dalam-dalam pada setiap yang ada.

Seorang anak disambut dengan cinta ketika ia lahir, dan tumbuh dalam suasana hangat dari jiwa-jiwa yang penuh kasih sayang. Meskipun anak-anak mungkin tidak merasakan cinta dengan kadar yang sama pada fase kehidupan berikutnya, mereka selalu merindukan dan mengejarnya selama hidup mereka.

Ada banyak bias cinta pada paras matahari; air menguap, naik membubung tinggi, dan setelah mengembun dalam tetasan-tetasan di bubungan tinggi itu, tetesan-tetesan itu jatuh dengan riangnya ke bumi pada sayap-sayap cinta. Lalu, ribuan kuntum bunga bermekaran bersamaan dengan cinta, menawarkan senyuman indah ke sekeliling. Embun menetes pada dedaunan membiaskan cinta dan berkelap-kelip dengan jenakanya. Domba dan anak-anaknya mengembek dan berjingkrakan dengan cinta, dan burung-burung serta anak-anak ayam bercicitan dengan cinta memadukan suara cinta.

Setiap makhluk ambil bagian dalam orkestra paripurna cinta di dunia dengan simponi khasnya dan mencoba mendemonstrasikannya, dengan bebas semaunya atau dengan sifat bawaannya, aspek cinta yang begitu dalam yang ada pada kehidupan.

Cinta melekat pada jiwa manusia sebegitu dalam sehingga banyak orang rela meninggalkan rumah untuk mengejarnya, banyak rumah tangga hancur, dan, di tiap sudut seorang Majnun mendesah dengan cinta, merindukan Layla.[1]Bagi mereka yang belum menemukan cinta yang ada pada diri mereka, penjelmaan cinta seperti itu dianggap sebagai keganjilan!

Mementingkan orang lain adalah sikap mulia yang dimiliki manusia, dan sumbernya adalah cinta. Siapapun yang memiliki andil terbesar dalam masalah cinta ini, mereka lah pahlawan kemanusiaan paling hebat; orang-orang ini telah mampu mencabut perasaan benci dan dendam pada diri mereka. Pahlawan-pahlawan cinta ini akan senantiasa hidup bahkan setelah mereka tiada. Jiwa-jiwa agung ini, yang tiap hari menyalakan suluh cinta yang baru dalam alam batiniah mereka dan menjadikan hati sebagai sumber cinta dan altruisme, akan disambut dan dicintai masyarakat. Mereka berhak untuk memasuki kehidupan abadi atas ridha Yang Mahaadil.

Seorang ibu yang rela mati demi anaknya adalah pahlawan cinta; orang-orag yang membaktikan hidup untuk kebahagiaan orang lain adalah “pejuang yang gagah berani”, dan mereka yang hidup dan mati untuk kemanusiaan diabadikan dengan monumen-monumen yang tak kenal mati yang pantas untuk disematkan ke dalam hati kemanusiaan. Di tangan para pahlawan ini, cinta menjadi obat mujarab untuk mengatasi setiap hambatan dan kunci untuk membuka setiap pintu. Mereka yang memiliki obat mujarab dan kunci demikian ini lambat atau cepat akan dapat menguak gerbang semua belahan dunia dan menyebarkan semerbak wangi kedamaian di mana pun, dengan menggunakan “pedupaan” cinta di tangan.

Cara paling langsung untuk sampai pada hati umat manusia adalah cara cinta, jalan para Nabi. Mereka yang menempuh jalan ini jarang sekali ditolak, kalaupun ditolak oleh segelintir orang, mereka disambut dengan gembira oleh ribuan lainnya. Sekali mereka diterima dengan cinta, tak akan ada yang mampu menghalangi mereka untuk meraih cita-cita gemilang, keridhaan Tuhan.

Betapa bahagia dan melimpahnya mereka yang mengikuti petunjuk cinta. Sebaliknya, betapa malangnya mereka yang melakoni kehidupan “tuli dan bisu,” tidak menyadari hakikat cinta yang dalam pada jiwa mereka!

Ya Allah Yang Mahaagung! Hari ini ketika benci dan dendam meruap di mana-mana seperti gumpalan-gumpalan kegelapan, kami berlindung di bawah Cinta-Mu yang tak berbatas dan memohon dengan sangat di pintu-Mu, agar Engkau memenuhi hati hamba-hamba-Mu yang jahat dan bengis dengan rasa cinta dan kasih sayang!

 

Referensi

[1] Layla dan Majnun adalah dua sejoli yang dimabuk cinta dalam kisah legendaries literatur Timur.

mengembangkandiri.com (15)

TAHU SAJA TIDAK CUKUP

Ditulis Oleh: Fajar Sidiq

Jika kita lihat media sosial akhir-akhir ini, maka kita akan menemukan banyak sekali perdebatan di dalamnya. Bahkan, perdebatan tersebut juga terjadi di kalangan sesama Muslim. Apa saja didebatkan. Mulai dari hukum, etika, dan bahkan sampai kredibilitas keimanan seseorang. Tak jarang Muslim yang satu membabi buta menuduh Muslim yang lainnya tidak beriman. Bahkan terlampau jauh sampai mengkafirkan sesama Muslim. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Terlepas apakah umat Muslim dewasa ini mengulang kembali sejarah yang akan berujung kepada perpecahan. Fenomena ini menarik bagi kita untuk menyelami kembali sebetulnya apa hakikat sejati dari iman itu sendiri?

Iman berasal dari Bahasa Arab dari kata dasar amana yu’minu-imanan, artinya beriman atau percaya. Percaya dalam  Bahasa  Indonesia  artinya  meyakini  atau  yakin  bahwa  sesuatu  (yang  dipercaya)  itu  memang  benar  atau  nyata adanya. Abul ‘Ala al-Mahmudi menterjemahkan iman dalam Bahasa inggris faith, yaitu to know, to believe, to be convinced beyond the last shadow of  doubt yang  artinya,  mengetahui,  mempercayai,  meyakini  yang  didalamnya  tidak  terdapat  keraguan  apapun. Sedangkan secara istilah iman adalah “membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan melaksanakan dengan anggota badan”

Ketika rombongan Arab Badui datang kepada rasulullah saw. dan menyatakan bahwa mereka telah beriman, rasulullah saw. memberi tahu mereka bahwa sejatinya mereka baru berislam.

Allah SWT. berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah “kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Hujurat: 49).

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya Tafsir Al-Wajiz berpendapat bahwa ayat di atas diturunkan bagi pembenci dari Bani Asad bin Khuzaimah. Mereka datang ke Madinah untuk berjumpa dengan rasulullah saw. saat masa-masa gersang. Mereka menampakkan ungkapan syahadatain, namun mereka belum beriman dalam hati. Mereka baru mengucapkan secara lisan saja, Iman yang benar belum merasuk kedalam hati mereka.

Namun, iman belum sampai di situ saja. Jika mengucapkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati saja sudah bisa disebut iman, bukankah seharusnya iblis itu beriman? Kenyataan tidak berkata demikian. Nyatanya iblis lebih memilih mengingkari Allah SWT. ketika ia diperintahkan untuk bersujud kepada Adam a.s. Maka dari itu, keimanan harus dilakukan juga dengan anggota tubuh, dengan ketaatan. Hal mendasar seperti keimanan ini juga berdampak kepada cara kita mengimplementasikannya di kehidupan sehari-hari. Bahkan di tataran keilmuan, juga harus senantiasa diiringi dengan amal yang dilakukan.

Abu Abdirraḥmān As-Sulami -raḥimahullāh- meriwayatkan, ia berkata,”Sahabat-sahabat Nabi yang mengajari kami Al-Qur`an menceritakan bahwa mereka biasa belajar Al-Qur`an dari Rasulullah ﷺ per sepuluh ayat; mereka tidak akan masuk ke sepuluh ayat lainnya kecuali setelah mereka mengetahui pengetahuan dan pengamalan yang dikandungnya. Mereka mengatakan, ‘Kami belajar pengetahuan dan pengamalan.'”

Dua hal yang harus kita garisbawahi mengenai aplikasi iman dalam kehidupan sehari-hari ialah, ketika kita mempelajari suatu hal, entah itu ayat atau hadis, maka selalu iringilah dan usahakanlah berikut pengamalannya. Percuma kita membaca banyak buku tapi malas dalam pengamalannya. Percuma juga kita banyak mengaji, tetapi ilmu itu hanya sampai kepada memori kita saja, tidak kita amalkan isinya.

Ulama kontemporer seperti K.H. Ahmad Dahlan juga mencontohkan bagaimana pengamalan ilmu beserta pengamalannya. Diceritakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan pada beberapa waktu terus-menerus mengajarkan surat Q.S. Al-Maun kepada murid-muridnya sehingga mereka bosan. Begini terjemahan suratnya:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?/Maka itulah orang yang menghardik anak yatim/dan tidak mendorong memberi makan orang miskin/Maka celakalah orang yang salat/(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya/yang berbuat ria/dan enggan (memberikan) bantuan (Q.S Al-Maun).”

Mereka pun bertanya kepada gurunya mengapa gurunya tidak mengajarkan surat yang lain? Ahmad Dahlan kemudian bertanya kepada murid-muridnya tersebut, “apakah kalian sudah mengamalkan surat al-Maun atau belum?” Para murid menjawab, “kami sudah mengamalkan, bahkan sudah menjadikan al-Maun sebagai bacaan pada setiap salat.”

“Kalian sudah hafal surat al-Maun, tapi bukan itu yang saya maksud. Amalkanlah! Diamalkan, artinya dipraktekkan, dikerjakan! Rupanya, saudara-saudara belum mengamalkannya,” ucap Ahmad Dahlan seperti dikutip Junus Salam dalam K.H. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya (2009).

Setelah itu ia menyuruh murid-muridnya untuk berkeliling mencari orang miskin dan membawanya pulang, lalu dimandikan dengan sabun, diberi pakaian yang bersih, diberi makan dan minum, serta disediakan tempat tidur yang layak. MasyaAllah, sungguh akhlak yang mulia.

Tapi sayangnya, dewasa ini orang-orang banyak terjebak baru di tahapan memperoleh ilmunya saja, belum gencar di tahap pengamalannya. Tentu banyak orang yang tahu tentang kebaikan dan keindahan, tetapi mereka tidak menjalankannya dalam kehidupan. Itu karena mereka hanya baru sampai ke tahap mengetahui, tetapi belum ke tahap menyadari. Kita tahu jika shalat tahajud itu indah, kita bisa dengan all-out bermunajat kepada Allah. Namun, justru banyak dari kita malah tidak mengerjakannya. Hal itu disebabkan oleh karena pengetahuan kita tentang suatu hal tidak seiring dengan tumbuhnya kesadaran.

Seharusnya, ketika kita mempelajari suatu kebaikan, maka kita harus mengiringi pengetahuan tersebut dengan pertumbuhan kesadaran yang kita miliki seperti contoh dari para sahabat dan K.H. Ahmad Dahlan. Atau meminjam kata-kata Fahrudin Faiz yang menyatakan bahwa, sebenarnya kita ini mengetahui banyak hal yang baik dan tidak baik. Tetapi, kita belum punya kesadaran untuk melakukan yang kita tahu sebagai kebaikan atau menjauhi yang ktia tahu sebagai keburukan.

Bahkan dalam hal ini, rasulullah saw. mengajarkan kita sebagai umatnya dengan doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya. Janganlah Engkau menjadikannya samar di hadapan kami sehingga kami tersesat. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Di dalam doa tersebut, kita tidak hanya meminta untuk ditunjukkan hal yang benar atau hal yang salah saja. Tapi kita juga meminta kepada Allah agar kita dibantu untuk mengikuti kebenaran, dan menjauhi hal yang batil. Sebab, sekadar tahu kebenaran itu tidak akan berarti apa-apa tanpa kesadaran untuk mengerjakannya. Bahkan kita pun mengamalkan doa di dalam Q.S. Al-Fatihah sebanyak seminimimalnya sebanyak 17x untuk meminta jalan yang lurus. Namun, setelah Allah SWT. menunjukkan jalan yang lurus kok kita mundur?

Semoga kita selalu ditunjukkan hal yang benar itu benar dan kita dibantu untuk mengikuitinya. Semoga kita selalu ditunjukkan hal yang salah itu salah dan kita dibantu juga untuk menjauhinya. Semoga, setiap ilmu yang kita ketahui, kita bisa mengamalkannya juga dengan penuh keridaan. Amin…

 

Referensi

mengembangkandiri.com (14)

ARTI KEHIDUPAN

Ditulis oleh: Muhammad Fethullah Gulen

Pertanyaan: Apakah segala kesulitan di dalam hidup ini akan bertahan lama?

Jawaban: Dari pertanyaan ini tergantung pada tujuan kita hidup di dunia ini. Kenyataannya, memahami tujuan dari hidup ini membutuhkan sebuah proses yang lama dan mendalam. Kita akan dapat merasakan kegaibannya ketika kita benar-benar mampu memikirkan tentang keberadaan kita di dunia ini serta perasaan kita akan kemanusiaan. Oleh karena itu, konsep kita akan sebuah kehidupan akan perlahan-lahan berkembang di sepanjang hidup kita.

Tujuan dari penciptaan kita adalah jelas: untuk meraih tujuan-tujuan pengetahuan akan iman serta sisi kerohanian kita yang terbesar; untuk memikirkan rasa kemanusiaan dan juga keagungan Allah di atas bumi ini dan dengan hal tersebut, nilai diri kita sebagai umat manusia akan terbukti. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka dibutuhkan sebuah pemikiran serta tindakan yang sistematis. Pemikiran akan mendorong adanya sebuah tindakan dan dengan jalan itu, dimulailah sebuah ‘keberhasilan siklus.’ Siklus ini akan menghasilkan lebih banyak siklus lagi yang lebih kompleks, yang terbangkitkan di antara nilai spiritual di dalam hati dan pengetahuan yang ada di dalam otak, dan dengan demikian, berkembanglah gagasan-gagasan yang lebih kompleks dan juga mampu menghasilkan rancangan-rancangan yang lebih beraspirasi.

Menjalankan sebuah proses seperti itu membutuhkan iman, kesadaran, serta pemahaman yang kuat. Orang-orang dengan karakter seperti ini mampu merasakan dan menganalisa gaya hidup yang gegabah dari orang lain. Orang-orang seperti itu akan mencerminkan apa yang mereka percayai sebagai sesuatu yang benar dan kemudian mereka menerapkannya di dalam segala tindakan mereka sehingga dengan demikian, mereka akan tetap dapat memperdalam pemikiran mereka serta mampu mendapatkan gagasan-gagasan yang baru. Mereka percaya bahwa hanya mereka yang mampu berpikir secara mendalam, yang produktif, yang mampu menahan rasa sakit serta penderitaan yang alamilah yang mampu membuat iman mereka menjadi lebih kuat dan lebih dapat bertahan lama.

Mereka mampu menghidupkan sebuah kehidupan yang penuh dengan pemikiran dengan cara mengamati setiap penciptaan yang terjadi pada setiap harinya, dan terkadang mereka mampu ‘membacanya’ seperti sebuah buku ataupun ‘menyulam’ pikiran-pikiran mereka dengan kebijaksanaan yang telah mereka dapatkan. Mereka melihat adanya tujuan dari penciptaan kita sebagai sesuatu yang sangat penting dengan mempercayai bahwa alam semesta ini diciptakan agar dapat di‘baca’ dan dipahami.

Keberadaan alam semesta itu sendiri merupakan sebuah kedermawanan yang dapat membimbing kita menuju ke sebuah jalan untuk mendapatkan kebajikan-kebajikan yang berlimpah. Kita seharusnya menghargai nilai-nilai yang terkandung di dalam rahmat-rahmat yang terberkati seperti ini. Kita harus dapat menjalankan serta memanfaatkan rahmat-rahmat tersebut dengan sebaik-baiknya karena kita telah diciptakan dengan penuh keberkahan yang luar biasa bersama dengan seluruh ciptaan Allah yang ada di alam semesta ini.

Agar dapat mencapai tujuan ini, kita harus mengerahkan segala daya upaya kita. Sebuah suara dapat terlihat dan sebuah nilai dapat terhubung hanya karena Allah Yang Maha Kuasa. Allah mampu mengembangkan segala kemampuan serta keahlian kita menuju jangkauan yang terjauh, dan dengan begitu, kita akan mampu membuktikan kemampuan diri kita sendiri sebagai makhluk yang berkeinginan kuat. Tugas kita adalah untuk memikirkan tempat, segala tanggung jawab, serta hubungan kita di kehidupan ini dengan alam semesta yang begitu luas ini. Kita seharusnya mampu menggunakan pemikiran batin kita untuk dapat menjelajahi sisi-sisi yang tersembunyi dari adanya penciptaan tersebut. Apabila kita dapat melakukan hal itu, kita akan mulai dapat merasakan sebuah perasaan yang lebih mendalam akan diri kita sendiri, sehingga kita akan mampu melihat segala sesuatu itu dengan kacamata yang berbeda, yang biasanya terjadi tidak seperti apa yang kita lihat, dan kita juga akan mampu menyadari bahwa ‘mereka’ sedang berusaha menyampaikan sesuatu kepada kita.

Aku percaya bahwa hal inilah yang merupakan tujuan yang sebenarnya dari hidup itu. Kita adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di alam semesta ini. Sesungguhnya, kita lebih seperti jiwa dan inti sari dari mana sebagian dari alam semesta ini berkembang. Dengan hal ini, kita seharusnya selalu bercermin dan mengamati alam semesta ini sehingga kita mungkin akan menyadari dan mampu memenuhi tujuan penciptaan kita. Tugas kita adalah untuk mencari wawasan dan firasat yang dapat menggembirakan hati dan jiwa kita, dan hanya jalan kehidupan inilah yang dapat menggerakkan kita untuk dapat mengatasi segala usaha yang mungkin akan mengalami kegagalan dari keseluruhan kehidupan yang materialistis dan terkadang menyakitkan ini.

Apa yang membuat penderitaan menjadi sesuatu yang berharga di dalam hidup ialah kegembiraan yang kita rasakan ketika kita tetap berjalan di sepanjang jalan ini dan mendapatkan berkah. Mereka yang tetap berjalan di jalan ini seringkali diberkahi kegembiraan dengan berbagai macam kecakapan. Mereka lalu akan berlari dengan begitu antusiasnya seperti sebuah arus sungai yang mengalir deras menuju ke laut, demi meraih tujuan akhir mereka.

Seringkali kita tidak percaya bahwa kebahagiaan itu datangnya dari sumber-sumber luar yang tidak akan pernah sama. Kebahagiaan yang sejati itu datangnya dari batin yang terdalam, tergantung pada seberapa dekat hubungan kita dengan Allah, yang dapat berubah menjadi kehidupan yang kekal di surga..ya, hal inilah yang membuat kita merasa begitu bahagia. Dunia batin kita itu merupakan sebuah area kecakapan akan Ketuhanan dan hal yang harus kita sadari ialah bahwa diri kita ini adalah pengikut dari kecakapan-kecakapan tersebut. Ketika kita berharap dan menunggu di sepanjang hidup kita demi secercah harapan, maka jiwa kita akan ‘bernyanyi’ dalam kebahagiaan yang mutlak:

Hati kami adalah singgasanaMu, ya Allah! Datanglah ke hati kami, ya Rabbi!

Generasi kita membutuhkan banyak bimbingan untuk mengajarkan kepada kita tentang bagaimana kita dapat meraih iman, pemikiran, proses, serta kebahagiaan seperti itu. Bimbingan mereka akan memberikan jalan kepada para pemuda kita untuk dapat menikmati masa muda mereka serta hidup di jalan yang benar. Mereka akan mengalami keberadaan dan ketiadaan sama halnya ketika mereka merasakan keabadiaan di dalam jiwa mereka; mereka akan mampu menyadari bahwa mereka akan dapat melakukan hal yang lebih daripada yang mereka pikirkan hanya dalam hitungan detik saja. Mereka akan dapat melihat kehidupan setelah mati yang terpancar di dalam segala hal dan dengan jalan itu, mereka akan menyaksikan sendiri kehidupan yang tanpa akhir; mereka akan menemukan bahwa kehidupan itu benar-benar berharga; mereka akan melihat bahwa seluruh proses penciptaan akan tumbuh dan bertahan di dalam jiwa mereka; dan mereka akan berkelana melalui berbagai dimensi jiwa mereka seakan-akan mereka sedang menjelajahi galaksi-galaksi sembari mengamati adanya ketidak terbatasan di dalam dimensi-dimensi yang telah mereka capai selama mereka berada di dalam kehidupan yang fana ini.

mengembangkandiri.com (12)

JIWA PARA PEMUDA

Sebuah komunitas menjaga kehidupan dan perkembangannya melalui jiwa para pemudanya. Apabila sebuah komunitas kehilangan jiwa ini, maka komunitas tersebut akan memudar dan layu, seperti sekuntum bunga yang pembuluh batangnya dipotong, akhirnya bunga itu hancur sampai ke akarnya.

Seorang lelaki muda, pada masa sekolah maupun masa remaja, biasanya penuh dengan berbagai aktivitas, yang diliputi perasaan nasionalisme dan patriotisme, pembicaraan tentang cara mengatasi berbagai masalah yang ada di negaranya dan juga bagaimana cara memajukan negaranya tersebut, dan ia pun akan menjadi gusar apabila ada kemalasan ataupun ketidakpekaan terhadap berbagai masalah yang ada dalam komunitas itu. Meskipun demikian, ada pula beberapa anak muda yang awalnya begitu meluap-luap akan pikiran-pikiran mulia mereka, namun begitu mereka mendapatkan sebuah posisi ataupun pekerjaan yang cukup bagus beberapa tahun kemudian, mereka akan duduk diam dan kehilangan berbagai perasaan dalam aktifitas-aktifitas sebelumnya tersebut. Menjadi tergantung pada posisi barunya itu, dengan berjalannya waktu, demi untuk memenuhi semua keinginan dan kesenangan-kesenangannya yang berupa materi, mereka akan mulai melupakan tujuan-tujuan awal mereka, mulai merasa terbebani oleh berbagai kritikan yang datang kepada mereka, dan akhirnya jatuh ke dalam keterbatasan keinginan dan kemauan. Sekali mereka berada dalam keadaan bahaya, mereka tidak akan pernah dapat pulih kembali jika tidak ada tangan-tangan mulia yang datang untuk membantu mereka, dan mereka akan terbelenggu oleh keadaan-keadaan yang pernah membuat mereka gusar dahulu. Mereka menjadi sangat acuh tak acuh terhadap berbagai pemikiran awal mereka sehingga mereka merasa terhina ketika berbagai kritikan atau bahkan suara hati mereka sendiri ataupun orang lain, tentang penyalahgunaan pekerjaan ataupun tanggung jawab yang mereka lakukan.

Mulai saat itu, mereka menggunakan seluruh kemampuan mereka untuk berusaha mempertahankan posisi mereka dan juga memenangkan pembuktian keunggulan diri mereka, segala hal yang dapat mempermalukan seorang manusia, dan mengakibatkan seseorang itu kehilangan posisinya perlahan-lahan. Apabila mereka menunjukkan kemampuannya untuk dapat lebih dipromosikan, mereka tidak akan memikirkan hal lain lagi selain mendapatkan promosi jabatan tersebut meskipun hal itu berarti mereka harus kehilangan kehormatan dan harga diri mereka, dan melakukan segala sesuatu yang berbeda dari apa yang diperintahkan oleh kesadaran dan iman mereka. Mereka akan membungkukkan badan mereka selama orang yang mereka anggap berguna bagi posisi mereka memberikan manfaat kepada mereka, dan menunjukkan keburukan-keburukan karakter dari seseorang yang sebelumnya mereka agung-agungkan secara berlebihan.

Sebuah kepura-puraan dan bujukan akan kembali menyerang mereka dan tipe mereka ini adalah begitu merendahkan diri mereka sendiri dibandingkan dengan karakter mereka sebelumnya sehingga kita tidak dapat lagi mengharapkan kebaikan ataupun nilai-nilai berharga dari mereka. Yang lebih menyedihkan lagi, mereka mengembangkan ‘penyakit’ mental atau spiritual yang menyebabkan mereka kehilangan kepekaan dan kemampuan berpikir mereka dalam mengambil keputusan yang benar, dan hal itu adalah benar-benar sebuah kekurangan pemahaman dan kebijaksanaan, dan mereka masih menganggap diri mereka sendiri sebagai satu-satunya orang yang memiliki kemampuan berpikir lebih baik dibandingkan orang lain, yang sebenarnya orang tersebut lebih dapat membuat penilaian yang paling baik dan juga mampu berbuat sesuatu yang lebih berguna.    

Dan tentu saja, hal ini sangat tidak mudah untuk mengingatkan mereka, ataupun memberi peringatan, akan kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Sejak para pemilik jiwa-jiwa yang egois seperti mereka yang biasanya lebih mengembangkan kebencian dan dendam untuk melawan mereka yang mengungkapkan kesalahan-kesalahan mereka, dan mereka cenderung menganggap diri mereka sendiri sebagai seseorang yang selalu paling benar, mereka tidak akan pernah mau meminta saran dari siapapun.

Alamiahnya, hampir setiap orang memiliki kekurangan dalam hal tertentu dan biasanya kekurangan itu nampak tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Bagaimanapun, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk menyelamatkan orang-orang dari keterpurukan di dalam rawa kelemahan-kelemahan mereka. Apabila kita mampu untuk menanamkan kepada para pemuda sebuah kepercayaan yang kuat, pikiran-pikiran yang murni dan sehat, sebuah perasaan yang kuat akan azas mengutamakan orang lain dan sebuah perasaan cinta yang tak mudah padam kepada bangsa dan negara; apabila kita mampu membuat mereka untuk menyelesaikan bersama-sama sebuah alasan mulia dimana hal itu membuat mereka mendedikasikan diri mereka kepadanya; apabila kita membawa mereka untuk lebih memilih nilai-nilai berharga seperti kehormatan dan harga diri di atas kesenangan-kesenangan; dan apabila kita menanamkan di dalam diri mereka sebuah tugas kesetiaan kepada negara dan bekerja untuk kejayaan negaranya, dan meyakinkan mereka bahwa adalah merupakan rasa tidak berterima kasih yang tak terampunkan apabila mereka melakukan sesuatu yang tidak begitu penting dibandingkan dengan melayani bangsa dan negara dalam hubungannya dengan alasan mulia tersebut. Apabila kita mampu melakukan semua itu, para pemuda akan memelihara identitas pokok mereka untuk melawan kebusukan mental dan spiritual. Jika tidak, setiap hari kita akan menyaksikan sebuah bintang yang perlahan-lahan hilang dari langit harapan kita karena penyakit-penyakit spiritual yang terjadi seperti cinta akan kedudukan, terlalu terikat akan kehidupan dunia, pencari ketenaran dan ketergantungan akan kesenangan-kesenangan materi, dan kita akan tunduk pada kekecewaan dan harapan yang hilang.

mengembangkandiri.com (13)

CINTA DALAM DAKWAH

Dalam perjalanan menuju cinta Ilahi, dakwah menjadi panggilan nurani yang mendorong setiap individu untuk menyelami keindahan, kejujuran, dan keyakinan yang murni. Bagi seorang pendakwah, tanggung jawab nurani ini merupakan prioritas utama untuk membantu orang lain memahami esensi jiwa dan menguatkan ikatan mereka dengan Sang Pencipta.

Dakwah yang hidup adalah dakwah yang membangun ikatan batin—antara seorang hamba dengan sesamanya, antara seorang hamba dengan dakwahnya, dan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Mencintai sesama merupakan bagian dari pencarian akan makna hidup dan kebenaran. Dakwah mengajarkan bahwa kelembutan dan kasih sayang adalah inti dari penyampaian pesan agama, di mana hubungan antar manusia menjadi cerminan dari kasih yang dianugerahkan Tuhan.

Cinta seorang hamba kepada Tuhan tidak hanya menjadi bentuk ibadah, namun juga menjadi kehadiran yang menyatu dalam segala aspek kehidupan. Dakwah sejati tidak hanya mengajarkan konsep-konsep agama, tetapi membimbing setiap individu untuk merasakan cinta Ilahi dalam setiap napas dan denyut jantung. Dakwah adalah panggilan hati yang mengajak kita menyadari bahwa cinta Ilahi adalah sumber dari segala kehidupan. Melalui dakwah, kita diajak untuk memahami bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam setiap detik kehidupan, memberikan kehangatan dan makna dalam perjalanan kita menuju kesempurnaan diri.

Seorang ulama kharismatik pernah berkata, “Dakwah tanpa cinta adalah bagaikan tubuh tanpa jiwa.” Dakwah yang hanya mengandalkan pengetahuan tanpa disertai kelembutan dan kasih sayang bagaikan tubuh yang hidup namun tanpa ruh. Cinta dalam dakwah memberikan kehangatan dan menjadikan dakwah lebih dari sekadar penyampaian pesan—ia menjadi sarana yang penuh makna dan mampu menyentuh hati setiap individu.

Dalam keseimbangan, cinta menjadi kekuatan pendorong yang menghidupkan dakwah. Cinta ini menyentuh orang-orang yang membutuhkan, memberikan kehangatan seperti jiwa yang menghidupkan tubuh. Dakwah yang penuh cinta akan membawa kedamaian dan kebijaksanaan yang mampu mengakomodasi perbedaan pandangan, serta menghadapi resistensi tanpa kehilangan esensi ajaran agama. Kelembutan membawa seseorang menuju pemahaman yang lebih dalam, dan menjadi aspek penting dalam mendampingi mereka yang sedang menempuh jalan kebenaran.

Dakwah dengan kelembutan menciptakan ruang bagi dialog yang sehat dan pengertian yang mendalam. Dalam kelembutan terdapat kemampuan untuk mendengarkan dengan perhatian, memahami perasaan orang lain, dan menyampaikan pesan agama dengan kasih sayang. Pesan dakwah dapat lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan cinta dan empati, mengingat setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang unik. Maka, dakwah yang dilandasi kelembutan bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk membangun hubungan yang erat antara pembawa dan penerima dakwah.

Cinta dalam dakwah bukanlah pelengkap, melainkan kekuatan utama. Tanpa cinta, pesan dakwah akan terasa hampa dan sulit diterima. Oleh karena itu, setiap langkah dakwah hendaknya selalu diiringi oleh cinta yang menyertakan kelembutan dan kasih sayang, sehingga pesan tersebut masuk ke dalam hati dan menginspirasi tindakan kebaikan. Cinta dalam dakwah bukan hanya tentang menyebarkan kebenaran, tetapi juga menciptakan ikatan batin yang erat dengan Allahﷻ dan sesama manusia.

mengembangkandiri.com (9)

GHURABA

Akhir-akhir ini, telah banyak terjadi berbagai macam fitnah dan cobaan yang berdatangan silih berganti. Munculnya kebatilan di setiap tempat yang menyebabkan berbagai kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Banyaknya manusia yang menuruti hawa nafsu dan syahwatnya sampai mereka dikalahkan, diperbudak, bahkan berada di bawah kendali dan perintah hawa nafsunya. Terlebih banyaknya manusia yang malas dan lalai dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan sehingga menjauhkan diri mereka dari Sang Maha Pencipta. Akan tetapi sesungguhnya Allahﷻ berkuasa atas segala sesuatu dan kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Dari Anas bin Malik, Rasulullahﷺ bersabda; “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

Sesungguhnya diantara mereka ada sebuah kelompok yang Allahﷻ memilih mereka dan mensucikan mereka. Mereka dijaga dari berbagai macam fitnah manakala mereka senantiasa menjaga dan melaksanakan ketaatan atas perintah-perintah Allahﷻ kepadanya. Merekalah yang dinamakan Ghuraba.

Siapakah Ghuraba itu? diantara pendapat para ulama tentang Ghuraba, ada dua pendapat yang paling kuat, yaitu: (الذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ) “orang-orang yang berbuat kebajikan dan senantiasa melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak”. (أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ فِيْ أُنَاسِ سُوْءٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُ) “orang-orang saleh diantara banyaknya orang-orang yang buruk, orang yang menyelisihi mereka lebih banyak daripada yang mentaatinya”. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa Ghuraba adalah orang yang berpegang teguh pada ajaran islam yang murni,  di saat kondisi zaman yang semakin parah, mereka adalah sekelompok manusia yang tetap tegak, kokoh diatas kebenaran, istiqomah dengan ajaran al-Haq, menjaga ajaran Islam yang mulia.

Rasulullahﷺ bersabda,“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuroba)”. Sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya rasulallah?. Rasulullah bersabda: “Mereka adalah orang yang senantiasa memperbaiki keadaan manakala manusia telah rusak” (HR. Ahmad).

Berkata Auza’i rahimahullah, “Islam dimulai dengan keadaan asing dan Islam akan kembali asing sebagaimana dia datang”. Kemudian beliau melanjutkan “Bukan Islam yang pergi, tapi yang pergi adalah para ahlussunnah sampai-sampai tidak tersisa dari mereka kecuali satu orang saja”. Yunus Abu ubaid berkata: “Bukanlah sunnah yang asing, melainkan yang asing adalah orang yang mengetahuinya, mengikutinya dan mengamalkannya”.

Rasulullahﷺ mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang  yang memperbaiki keadaan, artinya bukan hanya orang yang saleh untuk dirinya sendiri saja. Karena orang yang saleh hanya untuk dirinya sendiri tidaklah cukup. Sedangkan salah satu dari sifat Ghuraba adalah mereka yang suka berdakwah dan memperbaiki, mereka yang mensalehkan diri mereka sendiri sekaligus meningkatkan kesalehan masyarakatnya, mereka ikut menanggung derita dari orang lain, mereka bukanlah orang yang apatis yang hanya peduli pada diri mereka sendiri, akan tetapi berusaha untuk melayani dan mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat, mereka bukan orang yang gampang berputus asa dan menyerah dengan keadaan yang telah rusak. Mereka bisa saja duduk manis sambil menyeruput secangkir kopi dengan tenang di pagi hari, menikmati hasil usahanya sendiri, hidup bahagia dengan keluarganya tanpa perlu memperdulikan keadaan sekitarnya. Tapi Ghuraba berbeda, justru mereka adalah orang yang selalu berada di garda terdepan dalam urusan umat, mereka tidak bisa tinggal diam manakala terjadinya kemungkaran, mereka selalu berusaha memberikan solusi terbaik untuk perkembangan umat, bahkan kepala mereka sampai panas dan berdenyut karena memikirkan tanggung jawab dan beban umat yang begitu banyak, tidur pun hanya 3-4 jam saja selebihnya mereka gunakan untuk berkhidmah untuk agama ini. Mereka rela meninggalkan kampung halaman yang dimana tempat mereka dibesarkan, meninggalkan sanak kerabat dan saudara mereka menuju suatu negeri hanya untuk meninggikan kalimat Allahﷻ yang mulia. Karena sedikitnya mereka di antara manusia, maka mereka disebut dengan Ghuraba atau orang yang asing.

Ibnu Rajab mengatakan: “Ghuraba terbagi menjadi 2 golongan. Pertama, mereka yang memperbaiki diri ketika manusia telah rusak dan inilah kedudukan paling bawah. Kedua, adalah mereka yang berusaha berdakwah dan memperbaiki keadaan yang telah rusak oleh perbuatan manusia dan inilah yang paling tinggi dan yang paling utama.

Seorang pebisnis yang ingin menempuh cara yang halal dan tidak berbuat curang akan terasa asing di tengah-tengah pebisnis lainnya yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan. Karena dia mengetahui bahwa Islam menuntut untuk mencari rezeki dengan cara yang halal dan jujur tanpa berbuat kecurangan karena itulah yang mendatangkan keberkahan.

Seorang pemuda yang mulai istiqomah senantiasa menjaga ibadahnya, salat, sedekah, puasa dan perintah-perintah syariat agamanya, maka dia adalah orang asing di kalangan teman-temannya yang lalai dan mengabaikan perintah agamanya.

Seorang yang bersusah payah membuka matanya di waktu sepertiga malam terakhir, bangkit dari tempat tidurnya yang hangat di musim dingin kemudian membersihkan diri serta mengambil air wudhu dan berdiri dihadapan Tuhan semesta Alam adalah orang yang asing di kalangan orang yang nyaman terlelap dalam buaian tidurnya.

Mereka adalah keluarganya Allahﷻ yang sebenar-benarnya dan pada dasarnya mereka tidaklah asing. Janganlah mengira para Ghuraba itu berada dalam kesusahan dan kepayahan. Justru mereka adalah orang yang paling bahagia. Sebagaimana sabda Nabi “Beruntunglah para Ghuraba”. Merekalah orang yang paling bahagia didunia dan mereka mempunyai derajat yang sangat tinggi di akhirat setelah para Nabi.

إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي

“Sesungguhnya Islam itu muncul dalam keadaan asing dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah Ghuraba’ (orang-orang yang terasing), yaitu orang orang yang memperbaiki sunnahku di saat manusia merusak sunnah-sunnahku” (HR. At-Tirmidzi).

Perlu diketahui bahwa, hadits-hadits yang berkaitan dengan Ghuraba bukanlah berarti penyusutan atau kemunduran Islam dan seakan-akan tidak ada harapan kejayaan Islam kembali. Inilah yang kebanyakan orang memahaminya dari golongan orang-orang yang berputus asa. Ini adalah pendapat yang keliru karena Jika Islam dimulai dalam keadaan asing, maka dengan izin Allahﷻ, dia akan kembali dengan kekuatan sebagaimana yang didapat pada generasi Islam yang pertama. Dan inilah yang benar dalam memahami masalah ini karena banyak dalil yang memperkuatnya baik di dalam ayat Al-Qu’ran maupun hadits.

Allahﷻ berfirman yang artinya “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. “Sesungguhnya Allahﷻ Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (Al-Mujadalah : 21).

Semoga Allahﷻ senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya, melimpahkan limpahan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua agar kita menjadi generasi yang senantiasa meningkatkan kesalehan diri kita, keluarga kita dan membantu meningkatkan kesalehan di masyarakat kita. Hanya Allahﷻ yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

wallahu Ta’ala A’lam.