mengembangkandiri.com (8)

KONSUMSI MAKANAN BERLEBIH DAN KURANGNYA AKTIVITAS FISIK

Ditulis oleh; Kitaka Ashraf, M.Sc

Bayangkan tubuh Anda sebagai mesin yang disetel dengan baik, dan makanan yang Anda konsumsi sebagai bahan bakar yang menggerakkannya. Sekarang, pertimbangkan skenario di mana Anda secara konsisten menuangkan lebih banyak bahan bakar ke dalam mesin melebihi apa yang dibutuhkannya, dan Anda mengabaikan energi yang dihasilkan oleh mesin tersebut. Seiring berjalannya waktu, kelebihan bahan bakar ini akan menimbulkan masalah. Dalam analogi di atas, berlebihan bahan bakar diartikan sebagai berlebihnya makanan yang dikonsumsi, dan kegagalan untuk menggunakan energi ekstra melambangkan kurangnya olahraga. Ketika mesin disetel dengan baik, tubuh Anda pun demikian. Namun, seperti pipa yang tersumbat, berkurangnya efisiensi, dan keausan pada komponen-komponennya mulai terjadi. Sama seperti mesin yang dapat menjadi lambat dan tidak efisien ketika dibebani dengan bahan bakar yang tidak perlu, tubuh manusia dapat menghadapi berbagai tantangan kesehatan ketika mengalami kelebihan kalori (energi dari makanan) secara terus menerus tanpa pengeluaran yang sesuai melalui aktivitas fisik.  Pentingnya menjaga keseimbangan antara input (konsumsi makanan) dan output (olahraga) untuk memastikan fungsi optimal dan umur panjang “mesin”, tubuh Anda, tidak dapat diremehkan. Islam adalah cara hidup yang komprehensif yang menangani setiap aspek kehidupan manusia. Allah Yang Maha Kuasa yang juga merupakan arsitek tubuh manusia telah memperingatkan kita untuk bersikap moderat dalam konsumsi makanan seperti yang ditetapkan dalam Al-Quran: “Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaianmu di setiap masjid dan makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Surat Al-A’raf (7:31).

Hippocrates, seorang dokter Yunani dan bapak kedokteran modern, pernah berkata: “Jika kita dapat memberikan setiap individu makanan dan olahraga dalam jumlah yang tepat, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, kita akan mendapatkan cara yang paling aman menuju kesehatan”. Pernyataan Hippocrates ini menggarisbawahi pentingnya olahraga rutin dalam menjaga kesehatan. Teknologi modern, kemunculan internet, dan kesibukan kerja merupakan beberapa faktor yang berkontribusi pada gaya hidup tidak aktif yang kita jalani saat ini. Banyak orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di luar ruangan sambil terus mengonsumsi makanan kaya energi yang energinya tidak dimanfaatkan melalui olahraga.

Nabi Muhammadﷺ, lambang penciptaan dan kebanggaan umat manusia, menjalani kehidupan yang patut dicontoh oleh semua orang yang beriman dalam agama Islam. Beliau melakukan aktivitas fisik, termasuk berjalan kaki dalam perjalanan jauh dan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat. Beliau dikenal aktif dalam membantu pekerjaan rumah dan pekerjaan kasar, yang menunjukkan pentingnya aktivitas fisik untuk gaya hidup sehat. Para sejarawan juga melaporkan bahwa Rasulullahﷺ sering berpartisipasi dalam berkuda, sebuah latihan aerobik dengan intensitas sedang yang melibatkan berbagai kelompok otot dan membutuhkan keseimbangan dan koordinasi. Menunggang kuda dapat disamakan dengan bersepeda di zaman modern, yang dapat membakar 16% energi yang dibutuhkan oleh rata-rata individu dalam sehari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengembangkan rekomendasi khusus untuk aktivitas fisik yang diperlukan oleh semua kelompok usia untuk menjaga kesehatan. Inisiatif ini muncul sebagai hasil dari bukti penelitian yang kuat yang menghubungkan kurangnya aktivitas fisik dengan sejumlah penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, dan lain-lain. Di bawah ini adalah rekomendasi aktivitas fisik yang dikemukakan oleh WHO.

  1. Untuk anak-anak dan remaja (6-17 tahun), setidaknya 60 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat setiap hari, termasuk aktivitas yang memperkuat otot dan tulang, setidaknya 3 kali seminggu.
  2. Untuk orang dewasa (18-64 tahun), setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit aktivitas fisik intensitas berat per minggu, atau kombinasi keduanya, termasuk aktivitas penguatan otot, setidaknya 2 kali per minggu.
  3. Untuk orang dewasa yang lebih tua (65 tahun ke atas), sama seperti orang dewasa, atau sebanyak yang dimungkinkan oleh kemampuan dan kondisinya, dengan penekanan pada aktivitas yang seimbang dan terkoordinir, setidaknya 3 kali per minggu.
  4. Untuk semua kelompok, aktivitas fisik harus menyenangkan dan bervariasi, serta membatasi perilaku kurang gerak.

Islam menganjurkan gaya hidup yang seimbang, termasuk keseimbangan antara aspek fisik, mental, dan spiritual. Terlibat dalam aktivitas yang menjaga dan meningkatkan kesehatan fisik dipandang sebagai bagian dari pemenuhan tanggung jawab seseorang terhadap tubuh, yang dianggap sebagai amanah dari Allah. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi orang yang beriman untuk menjaga tubuh mereka dengan menyeimbangkan asupan makanan dengan olahraga rutin sebagai cara untuk menghormati apa yang telah dipercayakan oleh Pencipta Allahﷻ.

mengembangkandiri.com (7)

KESADARAN DALAM KONSUMSI MAKANAN

Ditulis oleh: MSc. Nutrition, Kitaka Ashraf

Ilmu Gizi adalah ilmu yang mempelajari tentang makanan dan bagaimana makanan mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Nutrisi adalah zat yang ditemukan dalam makanan yang digunakan tubuh kita untuk tumbuh, berkembang biak, dan bertahan hidup. Tubuh manusia dapat diibaratkan sebagai sebuah mesin yang canggih, yang dirancang secara rumit untuk menjalankan berbagai fungsi dengan ketepatan yang luar biasa. Sama seperti mesin yang membutuhkan bahan bakar untuk beroperasi secara efisien, tubuh manusia juga membutuhkan asupan nutrisi yang seimbang agar dapat berfungsi dengan baik. Jika mesin kekurangan bahan bakar yang diperlukan atau dipasok dengan bahan bakar berkualitas buruk, hal ini mengakibatkan mesin beroperasi pada tingkat yang tidak optimal, bahkan mesin dapat mengalami kerusakan. Demikian pula, tubuh yang kekurangan nutrisi penting atau diberi makan dengan pola makan yang tidak seimbang dapat mengalami kelelahan, kelemahan, disfungsi kekebalan tubuh, dan berbagai masalah kesehatan. Ketidakseimbangan nutrisi yang biasanya disebabkan oleh pola makan yang tidak hati-hati dan melibatkan pilihan makanan yang buruk atau mengonsumsi makanan tertentu secara berlebihan dengan mengorbankan makanan lainnya, juga dapat berkontribusi secara signifikan terhadap perkembangan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan kanker. 

Allahﷻ menciptakan tubuh manusia dan memproporsikannya dengan sempurna melalui keagungannya yang sejati, telah memerintahkan orang-orang beriman untuk memberi makan tubuh mereka dengan nutrisi yang optimal dengan tetap memperhatikan pilihan makanan. Fakta ini dimanifestasikan dalam Al-Quran di mana Allah berfirman;

“Hai sekalian manusia, makanlah dari apa saja yang terdapat di bumi yang halal dan baik dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Surat Al-Baqarah (2:168).

Ayat di atas mendorong orang-orang beriman untuk mengkonsumsi makanan yang tidak hanya halal tetapi juga baik dan sehat. Ayat ini mendorong pemikiran bahwa kualitas makanan yang kita makan berdampak pada kesehatan fisik dan spiritual. Selain itu, ayat ini secara fundamental menganjurkan untuk makan dengan penuh kesadaran. Gagasan tentang makan dengan penuh kesadaran digambarkan dengan tegas dalam ayat Al-Quran lainnya di mana Allahﷻ menyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika memang Dia yang kamu sembah.” Surat Al-Baqarah (2:172).

Mari kita telusuri bagaimana ayat di atas dapat dikaitkan dengan makan dengan penuh kesadaran; 

  1. Bersyukur dan Konsumsi Secara Sadar

Ayat ini dimulai dengan sebuah sapaan kepada orang-orang yang beriman, yang menekankan pada tindakan memakan “hal-hal yang baik” yang disediakan oleh Allahﷻ. Hal ini mendorong sikap bersyukur atas rezeki yang diberikan. Makan dengan penuh kesadaran melibatkan kehadiran penuh dan penghargaan terhadap makanan yang ada di hadapan Anda. Tindakan mengungkapkan rasa syukur selaras dengan pendekatan mindfulness, karena individu secara sadar mengakui dan menghargai makanan yang mereka terima.

  1. Kualitas Konsumsi

Perintah untuk makan “dari yang baik” menekankan pentingnya kualitas dalam konsumsi. Hal ini dapat dikaitkan dengan prinsip mindfulness dalam membuat pilihan secara sadar tentang makanan yang kita makan. Makan dengan penuh kesadaran mendorong individu untuk memilih makanan yang bergizi, memuaskan, dan berkontribusi pada kesehatan secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan tuntunan Al-Quran untuk mengonsumsi makanan yang baik. 

  1. Hubungan dengan Ibadah

Ayat ini diakhiri dengan mengaitkan tindakan makan dengan ibadah: “Bersyukurlah kepada Allahﷻ jika memang Dia yang kamu sembah. Makan dengan penuh kesadaran dapat dilihat sebagai bentuk ibadah jika dilakukan dengan penuh rasa syukur, kesadaran, dan pemahaman akan ketentuan ilahi. Hal ini menjadi cara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allahﷻ atas rezeki yang diberikan. 

Allahﷻ telah menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan memerintahkan mereka untuk berbakti kepada-Nya dengan beribadah dan berdzikir tanpa henti. Ini adalah tugas berat yang mengharuskan kita untuk selalu berada dalam kondisi mental, fisik, dan spiritual yang baik. Bagaimana kita memberi makan tubuh kita dengan nutrisi yang optimal melalui pilihan makanan yang sadar dan mempraktikkan makan dengan penuh kesadaran, dapat menjadi penentu yang kuat bagi kesehatan fisik dan spiritual kita secara keseluruhan, dan dapat menentukan sejauh mana keberhasilan kita dalam memenuhi kewajiban ilahi yang dianugerahkan kepada kita. Di dunia modern di mana kita dimanjakan dengan berbagai pilihan makanan karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi makanan dan rentan terhadap konsumsi yang berlebihan, sudah saatnya kita mulai melihat nutrisi yang tepat melalui makan secara sadar sebagai jalan menuju spiritualitas agama.

mengembangkandiri.com (2)

MEMERIKSA PIKIRAN

Liburan sekolah selesai. Liburan sekolah yang panjang karena dibarengi liburan natal dan tahun baru. Liburan yang selalu membawa cerita. Liburan yang bisa membawa seseorang menjadi lebih baik atau justru sebaliknya.

Saya sendiri mengajar di sekolah berasrama. Sebelum sekolah dimulai, siswa berdatangan  kembali ke asrama. Suasana ramai di pintu masuk asrama. Siswa mengantri dengan membawa barang bawaannya masing-masing. 

Di asrama ada sebuah aturan. Setiap siswa yang pulang, maka ketika masuk kembali harus diperiksa barang bawaannya. Hal ini dilakukan sebagai usaha preventif. Agar siswa tak membawa barang-barang yang dilarang penggunaannya.

Kakak pembina asrama memeriksa barang bawaan siswa satu per satu, didampingi siswa yang bersangkutan. Saya yang kebetulan sedang melintas di pintu masuk menyapa mereka. Sambil menoleh ke Kakak pembina asrama saya berkata, “Kak, cuma barang bawaan yang diperiksa? Pikirannya tidak diperiksa?” 

Kakak pembina dan siswa tersebut tersenyum mendengar celotehanku itu. Wajar saja, karena itu memang cuma candaan ringan. Saya pun mengatakannya spontanitas tanpa berpikir lagi. Bagaimana mungkin kita memeriksa isi pikiran seseorang.

Tapi entah mengapa, setelah saya masuk ke ruangan, terbersit di kepala akan apa yang telah saya katakan. Pikirku, sejatinya kita harus memeriksa pikiran siswa juga. Bukan memeriksa secara fisik pastinya.

Tak bisa dipungkiri, liburan terkadang mengubah pikiran siswa. Suasana santai, rileks, dan tanpa beban untuk belajar membuat siswa terkadang terlena. Mereka bermalasan dan berleha-leha, karena tidak perlu bangun pagi dan menjalani rutinitas berangkat ke sekolah. 

Setiap hari bermain dengan gadget sampai larut malam, tanpa mengindahkan waktu lagi. Smartphone ditangan telah menjauhkan siswa dari hal-hal positif yang bisa dilakukan. Padahal, ketika sekolah aktif, pikiran siswa selalu dibentuk untuk disiplin, semangat, dan termotivasi untuk melakukan hal-hal baik.

Ada hal lain lagi, bisa jadi selama liburan mereka terjerat dengan kebiasan-kebiasan buruk. Dari mulai kecanduan game online, pergaulan bebas, rokok, atau narkoba. Yang lebih bahaya lagi jika pikirannya yang terkontaminasi. Paham-paham sesat, seperti deisme atau LGBT mudah sekali merasuki mereka. Akhirnya, bisa membawa mereka kepada pemikiran anti agama dan menuhankan kebebasan. 

Jika kita pikirkan, dampak buruk kontaminasi pikiran ini justru yang lebih mengkhawatirkan daripada yang lain. Sejatinya, kontaminasi pikiran juga penyakit. Jika sudah terjangkit, maka akan sangat sulit sekali untuk diobati. Masalahnya, pikiran itu tak nampak, pikiran itu sulit diduga, pikiran itu abstrak.

Oleh karenanya, menjaga pikiran dan sikap mental itu sangat penting. Jeff Keller dalam bukunya Attitude is Everything mengatakan bahwa sukses berawal dari pikiran. Menurutnya, pikiran itu berhubungan dengan sikap mental. Bagaimana mental kita menyikapi sesuatu itu yang penting.

Misal, jika kita menyikapi liburan dengan sikap mental yang baik, maka liburan bisa menjadi sangat bermakna. Semestinya, di awal liburan kita bisa menargetkan banyak hal baik, seperti buku mana yang harus diselesaikan, skill baru apa yang harus dipelajari, atau kebiasan baik apa yang akan dibangun.

Jika itu semua telah direncanakan dari awal, maka liburan akan memiliki banyak manfaat bagi diri kita. Bukan hanya penyegaran secara jasmani tetapi juga penyegaran ruhani. Segarnya jasmani dan ruhani akan membuat pikiran menjadi baik dan positif.

Ustad Badiuzzaman Said Nursi dalam kitab Risalah Nur mengatakan, “Siapa yang melihat indah, maka akan berpikir indah. Seseorang yang berpikir indah akan mendapatkan kelezatan dalam kehidupan”. Oleh karenanya, jika mau bahagia, mulailah berpikir indah. Semua keindahan bermula dari pikiran kita. Dan ingat, pikiran bisa kita kendalikan. Tergantung kita mau membawanya kemana.

Siswa yang melewati liburan dengan hal-hal baik, maka akan lebih semangat dalam menatap semester baru, lebih termotivasi untuk belajar. Karena pikirannya berisi kebaikan. Sebaliknya, jika liburannya hanya dilewatkan dengan berleha-leha, bermalas-malasan, maka memulai kembali rutinitas sekolah akan menjadi sangat memberatkan.

Sebagai pendidik, saya harus siap menghadapi siswa-siswa dengan segala kondisinya pasca liburan. Pasti akan ada siswa yang menurun semangat dan motivasinya untuk belajar. Dalam hal ini, saya harus sabar jika harus memulai kembali pembiasaan baik kepada siswa, memotivasi kembali siswa agar bisa semangat untuk belajar.

Namun, sebelum saya memotivasi siswa kembali, saya juga perlu memeriksa pikiran saya kembali.  Sudahkah saya melewati liburan saya dengan hal-hal baik?. Sudahkan pikiran saya mendapatkan penyegaran?. Apakah saya termotivasi?. Pertanyaan-pertanyaan itu yang perlu saya renungi untuk menatap semester baru dengan semangat dan motivasi baru lagi.

mengembangkandiri.com (5)

IMAN, MAHABBAH, DAN KECINTAAN BERTUGAS

Ilmu-ilmu yang tidak diinternalisasi ke dalam jiwa tak ubahnya beban di punggung para pemiliknya. Pengetahuan yang tidak menuntun manusia pada tujuan-tujuan luhur juga merupakan pengkhianatan terhadap pikiran dan kalbu. Ya, sintesis kalimat ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an:

  مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allahﷻ itu. Dan Allahﷻ tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

Permasalahan utamanya bukan sekedar membolak-balik halaman buku, tetapi bagaimana kita bisa menjelma sebagai buku itu sendiri, mendalami isinya, serta menjadikan buku sebagai dinamika tersendiri.  

Ilmu yang tidak mendekatkan manusia kepada Allahﷻ, bukanlah ilmu melainkan sebuah musibah buruk yang berasal dari kebodohan. Seorang manusia dalam setiap proses membaca dan berpikir haruslah mampu merasakan bahwa dirinya selangkah lebih dekat dengan Sang Pencipta. Jauh di dalam hati sanubarinya ia harus mampu mendengar bahwa dirinya semakin melepaskan diri dari jasmaniyahnya. Ia harus merasa seakan sedang berdiri di belakang Rasulullahﷺ dalam posisi siap sedia untuk menyembah Allahﷻ. Ketika ilmu tidak bertransformasi menjadi amal, ia layaknya beban di punggung pemiliknya. Sâdî-i Şirazî berkata: “Apabila ilmu seseorang tak bertransformasi menjadi amal, sesungguhnya ia adalah sebenar-benarnya orang jahil.”. Apabila ilmu tidak beralih menjadi aksi nyata, tidak sanggup merapikan susunan lahir dan batin kita, tidak mewarnai dunia kalbu serta ibadah dan ketaatan kita, tidak menyetel lanskap ukhrawi dan malakuti kita, menurutku ilmu itu tak lebih dari sekedar beban bagi pemiliknya. Allahﷻ akan mempertanyakan mengapa Anda sibuk dengan hal-hal yang kurang urgen. Dia akan bertanya: “Mengapa kamu terlalu fokus dengan hal-hal yang tak ada maknanya?”.“Mengapa kamu kerja sampai nyut-nyutan untuk sesuatu yang tak ada gunanya”?.“Mengapa kamu menekuni urusan ini?.

Untuk itu, yang sejati adalah transformasi ilmu menjadi makrifat, sesuatu yang bisa Anda sebut sebagai kultur nurani, transformasi makrifat menuju mahabbah, transformasi mahabbah menjadi aşk u iştiyak (rasa cinta dan semangat yang membuncah). Hendaknya pemikiran seperti ini senantiasa menghiasi keseharian seorang manusia.  

Ya, seseorang yang mengatur dirinya dengan program tersebut akan bertransformasi menjadi monumen kasih sayang. Ia akan mencintai cinta dan membenci kebencian. Ia akan melakukan apapun demi perdamaian, Namun, ia serius dalam menentang kebencian dan permusuhan. Ia mengusir kebencian dan permusuhan dari tujuh pintu. Ia jatuh cinta pada kasih sayang. Demikian cintanya ia pada cinta, ia sampai tak mengenali kekasih yang dicintainya. 

Terdapat manqobah yang Anda kenal: Majnun jatuh cinta pada Leyla. Namun, ketika berjumpa ia tak menunjukkan perhatian. Karena ia jatuh cinta pada cinta, demikian juga cintanya Ferhat. Jatuh cinta pada cinta…. Jatuh cinta pada mahabbah. Ya, demikianlah mencintai cinta dan membenci kebencian. 

Kita diperbolehkan membenci beberapa hal. Manusia boleh saja membenci sifat-sifat kafir. Manusia boleh membenci sifat-sifat seperti al ilhad, kebencian, hasad, cemburu, serta black campaign kepada sesama. Namun, kebencian ini tak boleh merembet kepada individunya. Pada prinsipnya, yang harus dibenci adalah sifat-sifatnya. Semangatnya harus digunakan untuk memisahkan sifat-sifat itu dari individunya.       

Apabila perasaan tersebut mendatangkan tegangan metafisik yang serius…. Maka ia harus digunakan untuk menyelamatkan manusia yang hampir tenggelam ke dalam sifat-sifat jahat, fasik, dan sifat-sifat setan ; Karena benci, permusuhan, pengrusakan, dan hasad adalah sifat-sifat setan. Orang-orang ini tenggelam tanpa sadar. Bahkan jika ia terlihat sanggup berdiri, tetapi tanpa disadari ia tenggelam. Tergantung dari tingkat maksiat yang dilakukannya, ia akan memiliki penampilan maknawi terkadang serupa dengan kera, gorilla, atau dubb. Kuatir tidak sopan, saya menyebutnya dengan bahasa arab ; terkadang berupa dzi’b, ia juga dibahas di Al-Qur’an (QS 16:17), artinya serigala. Setiap hewan ini memiliki karakteristik tersendiri. Ada yang menggigit, mengoyak, mengimiatsi, ada yang mencekik, dan ada yang meracuni seperti ular. Itulah sifat-sifat tak bermoral, sifat-sifatnya setan.     

Ketika melihat sifat-sifat itu pada diri seseorang tak bisa dipungkiri bahwa rasa benci akan segera muncul. Namun, rasa benci itu tak boleh ditujukan kepada individunya. Kita bahkan harus mengerahkan upaya untuk menyelamatkan individu tersebut supaya selamat dari ketenggelamannya. Hendaknya kita menggunakan semua daya upaya untuk tujuan ini. Inilah akhlak kita secara umum. Seperti inilah kita mengenal Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Kita mengutuk kebencian, permusuhan, dan pengrusakan. Semoga Allahﷻ menganugerahi orang-orang yang bertindak seperti ini dengan perasaan pengertian, kemanusiaan, iman yang hakiki, saling mencintai, saling merangkul dan memahami!. Semoga Allahﷻ menyelamatkan mereka dari sifat-sifat hewani serta dari penampilan maknawi layaknya binatang meski secara fisik terlihat seperti manusia.        

Penyerupaan ini, yaitu menjadi qirodah (kera) dan khanazir (babi) dalam QS 59:60, dipahami penafsir dalam 2 bentuk. Sebagian penafsir berkata bahwa beberapa orang dikutuk menjadi kera dan babi dalam bentuknya yang hakiki sebagai hukuman atas pembangkangannya kepada Allahﷻ. Namun, sebagian muhaqqiq berkata bahwa mereka tidak dikutuk menjadi hewan dalam bentuk jasmani, melainkan dalam bentuk maknawinya saja.   

Orang-orang yang menekuni urusan ini mengatakan bahwa mereka mengalami deformasi, degenerasi, pertumbuhan ke bawah. Karena kondisi tersebut tidak cocok dengan tabiat manusia, maka masa hidup mereka memendek untuk kemudian mati. Mereka memberontak kepada nabi, menolak pesannya yang bercahaya,  menampiknya dengan punggung tangannya, mereka menuruti nafsunya, mengikuti jejak langkah setan, sehingga Allah pun menghukumnya. Sebagai contoh, pada zaman Nabi Musa dan Nabi Daud, beliau-beliau mendoakan sesuatu untuk mereka dan hal itu terjadi, dan beliau mengutukkan sesuatu dan hal itu pun terjadi. 

Penafsiran lainnya adalah: “Mereka mengalami perubahan maknawi: akhlaknya, karakternya, sikap, dan perilakunya menjadi sama persis dengan hewan-hewan tersebut.”. Mereka meneteskan air liur, menunjukkan taring, serta mencoba menghancurkan sesuatu yang dibangun berabad-abad lamanya. Dalam 40-50 tahun terakhir mereka berusaha merusak sistem yang sedang dibangun. Demi melakukan pengrusakan, mereka gunakan semua daya dan upaya. Mereka mengkampanyekan pelumatan, hafizanallah. Dengan demikian, secara maknawi mereka hidup seperti gorilla, beruang, dan serigala.     

Allah ta’ala bisa saja menuangkan mereka ke dalam hidayah sekali lagi. Sebagaimana Dia menciptakan mereka dalam bentuk yang cocok untuk menjadi ahsani taqwim, dengan menyematkan karakter khas dari ahsani taqwim Dia bisa mengembalikan mereka ke bentuk asalnya. Jika seandainya sedari awal mereka berpikir demikian dan berlari di atas peta rencana demikian, nasib mereka ada di tangan Allahﷻ, Allahﷻ akan memudahkan mereka untuk bertobat.  

Meskipun di satu sisi bertobat di saat sekarat bisa tidak diterima karena diucapkan dalam keadaan haalat yais. Firman Allahﷻ : “Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran QS 4: 18). Maka dari itu, sebelum terjadi, Allah akan membuatnya berikrar: Saya beriman kepada Allahﷻ, Rasul-Nya, dan Hari Akhir. Demikianlah, nasibnya ada di “tangan” Allahﷻ. Rahmat-Nya telah melingkupi marah-Nya. 

Kembali ke pembahasan, profesi kita adalah mencintai cinta dan membenci kebencian ; Syiar kita adalah mengusir kebencian dari tujuh pintu. Tidak memelihara rasa benci, permusuhan, dan dendam kepada siapapun, mempermalukan orang, mengecam, merendahkan,  mengusir, mengancam, memisahkan, abai terhadap ibadah ; Hidupnya tidak terikat pemikiran setan seperti menghabisi hidup orang lain ; Itulah pemikiran setan. Pemikiran : ”Kami akan menghabisi mereka. Kami adalah pedang-pedang terasah, akan kami hancurkan mereka!” adalah gaya pemikiran setan.

Mereka yang diam saja dihadapan pemikiran ini merupakan setan-setan yang bisu. Seseorang yang tak mampu bereaksi “Ini sudah berlebihan..” layaknya intelektual…, perlahan bisa mengalami deformasi yang serius hingga akhirnya menjadi setan bisu yang tak bersuara menghadapi kondisi negatif, hafizanallah.

Seorang intelektual, barangkali yang terbersit adalah sosok seperti Emile Zola. Padahal ada banyak intelektual kita, misalnya Muhammad al Fatih dalam peristiwa potong tangan dalam manqobah, sekali lagi dalam manqobah…. Ini karena orang-orang mengkritik semua hal dan berkata: “Tidak ada peristiwa seperti itu”. Lalu apakah peristiwa ini nyata ataukah hanya kisah dalam manqobah?. Dalam manqobah disebutkan bahwa Hızır Çelebi, qadi-nya sultan, menjatuhi hukuman potong tangan untuk Sultan Muhammad al Fatih. Mendengar putusan itu, Sultan Al Fatih menerimanya dengan lapang dada. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu seperti gada dari bawah kursinya dan berkata.  “Tuan Hakim! Jika Anda memutuskan perkara tanpa memperhatikan hukum ilahi, sungguh aku akan menghancurkanmu hingga berkeping-keping”. Tak kalah dengan Sultan Al Fatih, Hızır Çelebi juga mengeluarkan belati dari balik lengannya dan berkata: “Wahai Sultanku! Andaikata Anda tak menerima putusanku yang berdasar pada hukum Allah, maka aku tak segan untuk menusukmu dengan belati ini!”.   

Jadi, yang penting bukanlah peristiwa itu benar terjadi atau tidak. Lebih dari itu, Ini adalah ekspresi dari respek kepada kebenaran, keadilan, berlaku adil, menjadi orang yang penuh pengertian, -dengan kata lain- menjadi orang yang penuh cinta dan kasih sayang, serta menjadi orang bersikap dan berperilaku untuk mendekatkan diri kepada Allahﷻ dalam setiap tindakannya, semoga Allahﷻ berkenan mewujudkannya!.

Terdapat cinta hakiki dan cinta relatif. Cinta sejati terdapat pada mereka yang berbagi perasaan dan pemikiran yang sama…. Seperti disampaikan Rumi: “Mereka yang bisa saling memahami bukanlah orang yang berbicara dalam bahasa yang sama, melainkan mereka yang berbagi perasaan yang sama!”. Terdapat beragam level cinta. Teruntuk insan yang menempati saf awal kadar cintanya akan berbeda. Demikian juga kepada insan yang berada di saf kedua, ketiga, dan generasi setelah mereka, hingga mereka yang hanya berdiri di pinggiran serambi. Kita pancarkan cinta untuk mereka sama, namun cinta hakiki diperuntukkan untuk kelompok insan khusus, sedangkan cinta relatif diperuntukkan untuk insan lainnya. Kita secara mutlak berkewajiban membangun hubungan dan kedekatan kepada semua kelompok insan. 

Kadar iman seseorang tergantung pada derajat cinta dan kasih sayang kepada sesama makhluk. Dapat dikatakan bahwa iman dan kasih sayang itu paralel. Orang yang penuh kebencian dan permusuhan, orang yang membenci mukminin, sekadar itu juga derajat keimanannya.  Jika kita melihat mereka dengan pandangan Ahlul Iman, maka kita melihatnya sesuai prinsip حُسْنُ الظَّنِّ مِنْ حُسْنِ الْعِبَادَةِ “husnuzan adalah bagian dari husnul ibadah!”. Untuk itu, seringkali kita tertipu. 

Barangkali jika kita bergerak sesuai kriteria yang dipandu oleh Al-Ustaz Said Nursi, barangkali kita bisa mengurangi probabilitas untuk tertipu : “Husnuzan sambil tetap waspada”. Kita membiarkan wilayah “kehati-hatian” tetap terbuka. Ketika ada orang yang berniat menusuk, kita tak serta merta menyodorkan dada. Kita harus berhati-hati dan mengambil antisipasi. Kita harus bertindak dalam lingkaran kewaspadaan yang di satu sisi merupakan langkah pertama dalam tasawuf. Karena ia digunakan dalam tafaul, artinya kita harus waspada sekali lagi, dan waspada sekali lagi…. Jika perlu kita mencubit diri sendiri supaya tak sempat menguap, tak sempat mengantuk. Dengan apa? Dengan makrifat dan irfan, dengan menguji dalil, muzakarah, dan muthalaah…. Demikianlah cara kita mencubit diri sehingga kesadaran kita selalu ada di level puncak. Mata senantiasa terjaga. Dalam hadis ia disebut “uyun sahira”. Mereka yang matanya tak terpejam saat piket di pos penjagaan akan mendapat pahala seperti beribadah semalam suntuk.   

Ya, iman merupakan sesuatu yang sangat penting. Ketika kita membangun sesuatu di atas pondasi yang kokoh, berkat izin dari Allahﷻ akan diraih imani billah, lalu makrifatullah, lalu mahabbatullah, hingga datanglah kenikmatan ruhani. Demikian lezatnya nikmat ruhani itu, nikmat lain seperti makan, minum, dan nikmat jasmani lainnya ibarat tetesan air di hadapan samudera. Setelah itu terdapat derajat “kecintaan bertemu Allahﷻ”, Itu adalah jalannya sosok-sosok agung. Lalu karena derajat itu adalah jalannya fulan dan fulanah, astagfirullah, maafkan saya, mereka tidak layak disebut fulan dan fulanah, Lalu apakah kita bisa berkata: ”Derajat tersebut hanya untuk sosok agung. Kita cukup jalan yang biasa saja”. Oo tidak bisa. Cita-cita kita untuk mencapai derajat maknawi harus setinggi langit. Untuk itu, Rasulullahﷺ pernah bersabda: “Di akhirat nanti mintalah surga firdaus kepada Allahﷻ. Karena itu adalah surga di level puncak”.  Siapa tahu, mungkin dengan cara ini kita bisa menikmati Jamaliah-Nya dari lereng-lereng jumat di surga firdaus. Barangkali jawaban “Aku meridai kalian!” di puncak Ridwan juga akan terdengar di sana. Untuk itu, saat menginginkan sesuatu, inginkanlah cita-cita yang agung. Jangan inginkan cita-cita yang sederhana.    

Ya, imani billah, makrifatullah, mahabbatullah, lalu zawq ruhani datang dengan sendirinya. Zawq Ruhani otomatis diraih. Apabila Anda menekuni tugas ini demi zawq ruhani semata, menurutku Anda mencita-citakan sesuatu yang remeh. Jika Anda tetap menginginkan sesuatu, pintalah: “Ya Allah, hamba ingin tulus dalam semua perbuatan hamba, demi meraih ridha-Mu dan berada di sisi-Mu dengan cinta dan pengabdian yang murni.”     

Gunakanlah semua upaya untuk meraihnya!

Kembali ke pembahasan. Iman dan mahabbah ibarat saudara kembar. Terkadang mereka mendukung satu sama lain, kadang mereka timbul sebagai hubungan sebab akibat.

Seperti yang Anda ketahui, saya mengidap puluhan penyakit. Namun, kita lihat Rasulullahﷺ, Sayidina Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, mereka tak berhenti mengabdi hingga detik-detik akhir kehidupannya.

Saya akan bercerita sesuatu yang saya ceritakan kepada teman-teman dekat anggota halakah tafsir hadis sebuah peristiwa yang baru terjadi. Secara pribadi, saya tak pernah bertemu mereka, sosok-sosok al allamah di periode terakhir : Husrev Efendi, Aslen Arnavut, Mehmet Akif. Mereka adalah cendekiawan besar di Istanbul. Anda mengenal  Ömer Nasuhi Hoca?.  Banyak teman-teman kita yang mengkaji kitabnya, Istılâhât-ı Fıkhiyye Kamusu, yang berkata: “Karyanya yang tebalnya berjilid-jilid ini seperti sudah cukup menjadi bukti bahwa beliau adalah seorang mujaddid”. Beliau sekampung dengan saya di Erzurum, dari desa Ova. Husrev Hoja berkata: “Diamlah wahai orang bodoh! Kamu hanya mengulik buku seperti orang yang mengaku dirinya akademisi. Kutip dari sini, kutip dari sana, kamu rangkum menjadi buku. Itu bukanlah ilmu!.” Seperti disebut Imam Ghazali: “Catatanmu di buku tulis tak bisa disebut sebagai ilmu!”. Ilmu harus dicerna oleh saraf, seperti yang kalian rasakan ketika hari ini membaca ihya. Ömer Nasuhi Hoca dengan mudah memilih hadis dengan tepat sesuai tempat, kapan harus menggunakan kata mutiara, dan bagaimana menganalisis masalah. 

Demikian juga Husrev Efendi. Beliau tak pernah menunda 1 menit pun pengajaran kepada murid-muridnya. Saya tak hafal umurnya.  Mahmud Bayram Hoja adalah salah satu muridnya. Aku beruntung bisa berjumpa dengannya, beliau adalah penceramah masyhur sekaligus imam Masjid al Fatih. Beliau juga salah satu murid Salih Efendi. Yaşar Tunagür Hoja, sosok yang amat kuhormati, mantan Wamenag yang pengabdiannya tak kalah dengan 20 Menag, semoga ruhnya terpuji di sisi Allahﷺ, beliau juga murid Husrev Efendi. 

Husrev Hoja tak pernah meninggalkan pengajaran. Seingatku, beliau mengijazahi kitabnya Imam Taftazani berjudul Tavzih sebanyak 30 kali. Beliau mengkhatamkan pengajaran Tavzih sebanyak 30 kali, Sebuah kitab masyhur yang membahas ushul. Beliau selalu mengajar. Suatu hari, beliau sakit. Kali ini para santri membentuk halakah di sekitar tempat tidurnya. Beliau pun mengajar dengan kitab di tangannya. Namun, terkadang tangannya tak kuat memegang buku sehingga beberapa kali terjatuh. Husrev Hoja menangis dan berkata: “Ya Rabbi, kini memegang kitab pun aku sudah tak kuat!”. Meskipun demikian, beliau terus berusaha mengajar semampunya.    

Sebagaimana Sayidina Abu Bakar menggantikan Rasulullahﷺ mengimami salat di saat beliau tak sanggup berdiri, maka sebelum nyawa tersisa di kerongkongan marilah kita tunaikan tugas kita semaksimal mungkin. Ada puluhan penyakitku, tetapi jika aku berhenti melakukan tugas pengabdian itu seperti pembangkangan kepada Rasulullahﷺ, itu seperti pembangkangan kepada sosok-sosok agung lainnya. 

Dan suatu hari saat kitab jatuh dari pegangan tangannya, ruh Husrev Efendi benar-benar berpisah dari jasadnya, semoga posisinya terpuji di sisi Allahﷻ. Semoga Allahﷻ membangkitkannya di samping Sang Cahaya Abadi. 

Di satu sisi, terdapat kegilaan dalam menunaikan tugas sebagai guru. Mengajar artinya menjelaskan sesuatu kepada umat manusia. Di sisi lain, betapa luas ufuk taslimiyahnya…. Aku menyimak kisah ini 50 tahun yang lalu. Aku mendengar dari muridnya 55 tahun yang lalu…. Aku tak bertemu langsung dengan sosoknya. Cerita ini kudengar dari muridnya. Namun, sampai sekarang aku tak bisa mencernanya! .

Yaşar Tunagür Hoja berkata: “Kami berangkat ke rumah Husrev Efendi, tempat beliau mengajar. Suatu hari, ketika masuk kami melihat sesuatu di depan pintu, terdapat air mendidih di dalam kuali dengan api menyala di bawahnya. Juga ada peti mati dan meja pemulasaraan. Husrev Hoja mengajar seperti biasa. Kami pun tak berkomentar. Sebelum pulang, kami bertanya: “Guruku, untuk apakah alat-alat ini?”. Beliau menjawab: “Putriku yang sedang kuliah kemarin meninggal. Air panas, peti mati, dan meja itu untuk memulasarakan jenazahnya!”  

Demikianlah ketika seseorang jatuh cinta pada tugasnya!. Demikianlah bersikap bijaksana dalam membimbing manusia menuju makrifat. Inilah majnun kepada tugas. Ketika mereka bersikap demikian, demikian pula sikap Anda meski dalam cakupan yang lebih kecil, sebagai respek saya kepada Anda, meski sakit saya merasa wajib untuk menemui Anda.

Barangkali pada suatu hari di sini, bisa jadi itu hari ini atau besok, saya merasa akan wafat ketika berdiskusi dengan Anda. Dan sebenarnya inilah kondisi yang saya harapkan. Saya senantiasa berdoa: “Ya Allah, ambillah nyawaku dalam kondisi saat aku dekat denganmu, yaitu ketika sujud”. Perasaan ini baru pertama kali saya bahas kepada Anda.  

Saya berharap wafat ketika bersujud, atau ketika mendiskusikan sesuatu di sini. Namun, apa manfaat mati dalam keadaan itu?. Apa boleh buat, sepertinya itu saja taraf yang bisa kulakukan. Apa yang sekiranya kalian harapkan dari Qitmir? Qitmir, seperti halnya qitmir-nya para ashabul kahfi.

Aku tak pernah menganggap diriku seperti manusia yang baik. Orang-orang bisa saja berkata: “dia maksum dan maksun”. Namun, aku takut seperti takutnya Aswad bin Yazid an Nakhai, hafizanallah. Aku takut wafat seperti Bal’am bin Baura. Sebelum tidur, aku selalu berdoa: “Ya Allah, jangan sampai aku mati dalam keadaan kafir!”. Entah doa apa saja yang kubaca hingga akhirnya hanyut dalam tidur. Aku berdoa lagi dan lagi: “Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan aku sebagai orang kafir“. Aku sangat takut mati dalam keadaan kafir. Kekhawatiran yang serupa dengan yang dirasakan Aswad bin Yazid an Nakhai.   

Puluhan kali Anda menyimak bahwa Ummul Mukminin Aisyah berdiri sejam lamanya, dan berkali-kali mengulang bacaan ayat: Dan jelaslah bagi mereka kejahatan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh apa yang dahulu mereka selalu memperolok-olokkannya (QS 39:48). Mengulangnya layaknya wirid. Jika saya yang mempraktikkannya barangkali Anda akan menyebutnya sebagai gumaman. Namun, karena ia adalah sultannya para wanita, kita menyebutnya sebagai wiridan. Pada usianya yang ke-14 atau 15, ia bermukim di rumah yang dihujani oleh wahyu. Beliau bahkan tak melihat dosa dalam mimpinya. Entah mengapa beliau tetap menangis, tak mampu aku memahaminya. Jika beliau menangis, barangkali yang layak kita lakukan berkat perasaan ini adalah menghentikan detak jantung.  

Celakalah orang-orang malang yang merasa dirinya tak berdosa dan yang merasa bahwa kezaliman yang dilakukan hanyalah bagian dari pekerjaan. Celakalah mereka yang menyiarkan penghancuran peradaban 1400 tahun yang dibangun 100 tahun terakhir, serta yang melakukan semua kejahatan dengan uang negara karena bersemboyan: “Uang negara ada sebanyak lautan, mereka yang tak memakannya bodoh seperti babi”. Jika Allahﷻ menakdirkan untuk mengangkat mereka, maka terjadilah, semoga Allahﷻ memberi mereka akal dan kemampuan berpikir. Jika tidak, semoga Allahﷻ menjaga umat manusia, kaum muslimin, dan dunia islam dari para pendosa dan penjahat itu.

Namun, bagaimanapun seperti segala sesuatu mereka pun tak kekal. Ada syair Gönenli Mehmet Efendi: “Ketika rantai arloji sampai diujung, ia tak mampu lagi berdetak. Sekarang jam tidak pakai rantai. “Ketika pegas arloji rusak, maka ia tak lagi berdetak. Arloji berpegas pun sekarang sudah tidak musim. “Ketika baterai habis, ia tak lagi bisa berdetak”. “Saat waktunya tiba, mereka berkata kepada roh: ‘Ayo keluar, keluar!’ / Andai kau menghamba kepada Sang Haq / Karena di akhirat suaramu takkan didengar . Wassalam…

Mengembangkandiri.com (4)

BERPIKIR POSITIF DAN BERSYUKUR DI TAHUN BARU

Menjelang akhir tahun, saya mengajak keluarga untuk rekreasi. Mumpung liburan, kami ingin menikmati udara segar tanpa polusi. Duduk santai sambil berteduh di bawah pohon nan rindang. Karena udara di Jakarta yang panas, membuat kami mencari tempat yang sejuk dan dingin.

Kami memutuskan untuk pergi ke tempat wisata alam. Daerah pegunungan, hutan, atau taman perkebunan menjadi pilihan. Namun, dari rumah kami yang di pinggiran Jakarta, tak ada banyak pilihan. Berdasarkan info yang kami peroleh, ada sebuah tempat wisata keluarga yang baru saja dibuka. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Berada di perbatasan kota Depok dan Bogor. 

Kami lihat lokasinya di google. Gambar-gambarnya sangat meyakinkan. Tempatnya sesuai dengan yang kami inginkan. Asri, hijau, sejuk, dan menyegarkan. Ada jejeran pohon rindang, hamparan rerumputan luas, danau dengan sepeda bebek di atasnya, dan kolam renang untuk anak-anak.

Terlintas di benak suasana tenang yang menentramkan. Gemericik air, semilir angin, dan cicitan burung kecil nan merdu terngiang di kepala. Saya membayangkannya sambil menyiapkan buku untuk dibaca. “Ini tempat yang tepat untuk membaca, merenung dan merefleksikan diri di akhir tahun,” pikirku.

Esok harinya, kami berangkat agak sedikit siang. Kami berpikir tempatnya akan sepi. Belum banyak orang yang tahu tempat ini, karena tempatnya masih baru. Ternyata kami salah. Setibanya di lokasi, kami dikagetkan dengan ramainya tempat parkiran. Orang-orang berlalu-lalang memadati jalan menuju lokasi wisata. Antrian loket tiket pun terpantau mengular panjang.

Kami beruntung masih bisa mendapat tiket dan masuk ke dalam. Di dalam, semua sudut sudah dipenuhi orang-orang. Ada yang sedang makan bersama, bernyanyi bersama, dan bersenda gurau santai bersama keluarga. Kami kesulitan untuk sekedar mencari tempat duduk yang nyaman dan sedikit tenang.

Terlintas dalam pikiran, “Buyar sudah semua bayangan lokasi wisata yang menyegarkan, buyar sudah rencana membaca buku dengan tenang.” Dengan jumlah pengunjung sebanyak itu, suasana menjadi lebih seperti pasar daripada tempat wisata. Pergerakan menjadi sangat terbatas. Perlu mengantri dan menunggu lama untuk bermain di setiap wahana yang tersedia.

“Senyumin aja, nikmati aja, syukuri aja” itu yang terbesit di benakku. Kebetulan saya sedang membaca buku tentang stoikisme, sebuah filosofi Yunani kuno yang mengajarkan kita untuk mengendalikan diri. Dalam prinsip stoikisme dikatakan bahwa ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak.

Jika kita ingin hidup bahagia, maka kita seharusnya fokus kepada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Bagian utama yang bisa kita kendalikan adalah pikiran kita. Kita bisa mengendalikannya ke arah baik dan positif. Ini yang saya artikan The power of positive or good thinking.

Ramainya suasana di lokasi wisata tidak bisa saya kendalikan. Yang bisa saya kendalikan adalah bagaimana saya bisa berpikir positif, mencoba mengendalikan pikiran dan menikmati kondisi itu. Daripada mengeluh dengan ramainya suasana, lebih baik keliling mencari wahana yang bisa dinikmati. 

Itu yang saya lakukan. Membawa anak-anak keliling sambil melihat-lihat wahana yang ada. Benar saja, ternyata kami menikmatinya, ternyata suasana tak ideal ini bisa menyenangkan juga. Berbagai wahana kami coba. Tak terasa, kami bermain sampai sore hari tiba. Kami pun harus pulang  walau masih ingin bermain lama lagi. Meskipun singkat, liburan ini sudah cukup membawa kebahagian bagi kami sekeluarga.

Begitulah caranya kita menikmati kehidupan. Selalu melihat apapun dari sisi baiknya, sisi positifnya. Selalu memfokuskan kepada yang bisa kita kendalikan. Selalu hidup dengan menghilangkan aura negatif dalam pikiran kita. Dengan ini, hidup kita akan menjadi lebih produktif, lebih bermakna, dan lebih bermanfaat.

Bukankah seharusnya hidup kita seperti itu? Liburan akhir tahun ini sejatinya memang bisa dijadikan sebagai momentum. Momentum kita untuk berpikir seperti para stoa (penganut filosofi stoikisme). Sebelum kita memasuki tahun yang baru, mari kita renungi sejenak kehidupan kita pada tahun lalu! Apakah kita sudah cukup bahagia? Atau kita selalu hidup dalam kecemasan?

Dalam agama, kita juga diajarkan untuk berpikir positif, agar tidak selalu cemas. Caranya dengan memperbanyak bersyukur. Jika kita bersyukur, maka hidup kita akan bahagia, apapun keadaannya, apapun kondisinya. Syukur adalah bagian penting dalam penghambaan kita kepada Tuhan. Tanpa adanya syukur, kita tak akan memahami betapa besar nikmat Tuhan yang telah dicurahkan kepada kita.

Ustad Badiuzzaman Said Nursi dalam salah satu koleksi bukunya Risalah Nur menjelaskan pentingnya bersyukur. “Zikir, Syukur, dan Fikir” katanya. Di awal “Basmallah” sebagai zikir. Di akhir “Hamdallah” sebagai syukur. Di tengah-tengah adalah memikirkan asma-asma Tuhan melalui segala nikmat yang diberikan-Nya.

Ustad Badiuzzaman Said Nursi menjelaskan hal ini pada bab pertama kitab pertama koleksi Risalah Nur. Pada bab awal ini, sebenarnya beliau mengangkat pembahasan tentang Basmallah. Basmallah adalah awal dari setiap perbuatan baik. Semua perbuatan yang dimulai dengan Basmallah, pasti akan mendapatkan hasil yang baik. Basmallah memiliki kaitan erat dengan bersyukur.

Ya, di awal tahun sudah semestinya kita membuka lagi lembaran baru kehidupan dengan penuh rasa syukur, dengan ucapan Basmallah. Basmallah bukan hanya dilapalkan, tetapi diarungi makna di dalamnya. Di dalamnya kita akan memahami pentingnya bersyukur. Dengan syukur hidup kita akan aman, tentram, dan penuh kedamaian.

Screenshot 2024-01-07 110059

IRAMA DERITA