pexels-pixabay-236164

Asas – Asas Kebangkitan

Menurut Ustaz, faktor-faktor untuk meraih kemajuan & ketenteraman ada tiga yaitu :

 Faktor Pertama: Manajemen Waktu

Manusia harus mengatur waktunya agar harmonis, baik waktu untuk istirahat, maupun waktu untuk keluarga dan anak-anaknya. Ia juga harus menyiapkan waktu untuk bekerja mencari nafkah. Jika ia seorang guru, maka ia harus menyisihkan waktu untuk mendukung kebutuhan profesinya tersebut. Ia juga harus menyisihkan waktunya untuk membaca. Saat luang, ia perlu berdiskusi dengan sejawatnya, membahas hal-hal agung terkait profesinya. Mereka harus tahu apa yang harus mereka kerjakan di jalan ini.

Mereka yang meluncur seperti karambol akan tersangkut oleh hambatan di tengah jalan. Mereka harus tahu siapa dirinya dan sadar saat menulis visi hidupnya, mereka harus berkata:

“Saya harus begini dan begitu biar sukses!”

Ia harus membagi waktu sesuai visi hidupnya. Manajemen waktu adalah bahasan yang dalam dan serius.

Faktor Kedua: Pembagian Tugas

Pembagian tugas harus didasarkan kepada efektivitas kinerjanya. Dalam pembagian tugas juga membutuhkan sifat itsar “mendahulukan orang lain”.  Ketika memahami itsar, kaidah ini harus diingat: Para nabi tak mungkin berkata: “Kamu kerjakan tugasku!”.

Kenabian adalah tugasnya para nabi, mereka tak mungkin berpaling darinya. Selain tugas, kenabian juga merupakan suatu kehormatan. Ia adalah misi dan kewajiban yang tak mungkin bagi para nabi untuk berpaling darinya. Berpaling dari kenabian berarti berpaling dari Allahﷻ, hafizanallah. Karena itu, tak peduli betapa tawaduknya nabi Muhammadﷺ, beliau tidak bisa bersabda:

“Wahai Abu Bakar, Umar, Usman, gantikan saya!”.

Namun demikian, setiap manusia selain nabi perlu mempertimbangkan agar orang lain saja yang mengemban tugasnya lewat semangat itsar. Daripada dirinya sendiri, mereka lebih mengusulkan orang lain: “Si A cocok jadi muazin, si B cocok jadi Bupati, dst”. Tentu disini basirah masyarakat juga dibutuhkan.

Cerita dari pidato Tahir Efendi. Ia berkata: “Anda adalah muntahib (pemilih), sedangkan saya muntahab (yang dipilih) untuk duduk di muntahabun ilaih (majelis). Yang Anda kerjakan adalah intihab (memilih). Intihab berasal dari kata nuhba yang artinya krim (bagian atasnya susu). Seperti apa kualitas susunya, demikian juga kualitas krimnya”.

Ya, saat masyarakat memiliki basirah, siapapun bisa ditugaskan dimanapun. Jika tidak, masyarakat akan memilih orang seperti Karun yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Orang itu akan menyalahgunakan nilai-nilai agung yang Anda junjung tinggi. Mereka akan menyalahgunakannya demi keuntungan pribadi. Untuk itu, intihab (pemilu) sangatlah penting.

Yang Ketiga: Prinsip Tolong Menolong (Ta’awun).

Berasal dari akar tafa’ul (tanda baik), ia menekankan agar kalian saling tolong menolong satu sama lain. Ustaz berkata: “Persatuan dan kesatuan adalah sarana terbesar bagi turunnya taufik ilahi”. Tangan yang saling bergenggaman di jalan Allahﷻ dengan penuh semangat dan memiliki tujuan yang sama, tidak akan pernah Allahﷻ sia-siakan. Anda pun memohon sesuatu yang sama “Ya Allahﷻ, tinggikanlah kalimatMu di segala penjuru, jadikanlah kami sebagai sarananya, dan jadikanlah kami sebagai hambaMu yang mukhlis, mukhlas, muttaqi, wara, zahid, serta muqarrabin. Berikanlah kami, dengan semua itu kerinduan yang membuat kami bisa bertemu dengan kekasihMu ﷺ”.

Itulah penjelasan mengenai apa saja tugas yang menjadi kewajiban kita.

Kita memiliki keahlian dalam beberapa hal. Entah itu, disebabkan oleh lingkungan kita, bakat dan pembawaan kita, atau karena genjotan pada syaraf kita. Kita memiliki kemampuan berfikir yang cukup luas. Dengan kemampuan tersebut, kita harus menggunakannya untuk membantu dan membimbing mereka. Perhatikanlah! Di satu sisi, doa berjamaah, persatuan, dan kesatuan merupakan sarana bagi datangnya taufik ilahi.

Sedangkan sisi lainnya adalah bagaimana kita menjadi sarana matangnya pemikiran dan jiwa umat manusia. Andaikan akal anda telah matang, anda harus membantu dan membimbing manusia agar meraih ufuk pikir itu. Bahkan anda harus berharap agar mereka melebihi Anda. Itulah yang dituntunkan itsar kepada kita.

Itsar : Mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan sendiri.

Contoh lainnya: Anda sedang sekolah. Anda belajar bersama teman-teman anda agar naik kelas. Beberapa dari anda memiliki kemampuan lebih, entah karena faktor keluarga, budaya atau faktor lainnya. Dengan bekal itu, Anda lebih mudah memahami, merangkum, dan menyimpulkan pelajaran. Anda harus sebisa mungkin, membantu teman anda meraih level yang sama. Ini merupakan contoh untuk para pelajar. Di contoh itu, tercerminkan semangat itsar, semangat untuk mengangkat level rekan-rekannya melebihi dirinya.

Berikutnya, contoh di level yang lebih tinggi. Ketika kita meniti karir. Kita bekerja untuk meraih gelar master, doktor, dan professor. Beberapa teman misalnya, sangat ahli dalam menciptakan lagu. Teman lainnya sangat menguasai perpustakaan. Kata Necip Fazil, mereka ini “tikusnya perpustakaan”. Mereka tahu, topik tertentu yang dibahas di buku mana saja. Orang lain mungkin mengerjakan tugas itu dengan kondisi tidak terlalu menguasai hingga sedetil itu. Yang ahli komposisi lagu harus berkata: “Isu ini sebaiknya disampaikan begini”. Ia harus mendukung temannya.

Yang sedang doktoral, harus menyelesaikannya dalam 2 tahun, jangan 10 tahun, andai aturan memungkinkannya. Beberapa diantaranya, menguasai daftar isi buku-buku, mereka bagaikan tikusnya perpustakaan. Dia berkata: “Kawan, rujukan untuk topik itu ada di rak ini, buku ini dan itu, di halaman sekian…”. Bila perlu, ia ajarkan bagaimana topik tersebut harusnya disampaikan, dengan menyesuaikan karakter dospemnya. Sesuai kaidah ta’awun, Ia juga membantu bagaimana menghadapi dosen pembimbing & menyamakan frekuensi dengannya.

Inilah yang semestinya dilakukan oleh kita, sesuai turunan kata ta’awun: Ta’awana/yata’awanu/ta’awunan yang bermakna: saling menolong dalam menyelesaikan suatu pekerjaan antara dua orang atau lebih. Jadi, suatu pekerjaan tidak diselesaikan dengan satu akal. Melainkan dengan ribuan dukungan akal yang semuanya atas izin dan inayat Allahﷻ. Dengan satu sama lain, saling percaya.

Ia: “Temanku lebih amanah!”.

Keyakinan ini juga bersandar pada semangat itsar. Dengan kadar yang berbeda, ada yang setetes, ada yang secangkir, ada yang segelas, dan ada juga yang segentong. Jika kita saling percaya, maka kekuatan akan lahir melalui persatuan dan kesatuan yang kita bangun. Dan kesuksesan itu pun akan tercapai, atas izin Allahﷻ. Dengan menggabungkannya, Kekuatan rekan dapat menambah kekuatan kita. Jika kita bisa meletakkannya di pondasi yang kokoh. Maka dari satu orang, dapat dihasilkan output setara seribu orang.

Hal penting lainnya adalah saling percaya dan tidak mudah suuzan. Bisa jadi keadaan yang ada sekarang, memudahkan kita bersuuzan. Tapi kita masih punya kesempatan untuk mengujinya. Menguji dengan hal yang sederhana. Jika lulus, maka akan naik kelas. Demikian seterusnya hingga berhasil duduk di hati kita. Ternyata, ia juga penuhi haknya. Lalu kita letakkan ia di pusat hati kita:”Silahkan naik kemari!”. Dan ia penuhi lagi haknya. Maka kita katakan:”Kamu benar-benar layak disini.” Cerita ini hanya permisalan.

Demikian juga dalam Hizmet. Anda ditempatkan disini, sukses. Lalu ditambah tugas baru, sukses. Semua itu terbentuk dari berbagai ujian yang sudah dilalui.

Latar belakang dari semua tugas pengambian adalah husnuzan. Saat Anda meragukan seseorang, sebelum suuzan. Maka ujilah dia… Ujian itu nantinya juga akan mengangkat levelnya. Dengannya, Anda menyiapkan pondasi agar masyarakat bisa menikmati semua potensi yang dimiliki teman-teman anda.

muslim-praying-mosque-traditional-ground-carpet_21730-11191

Salat Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar

Sebagai mukmin, hidup kita berada diantara perintah dan larangan. Kita harus mengelola kehidupan kita dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Mengerjakan semua perintah adalah bagian dari agama Islam dan menjauhi larangan juga merupakan bagian lainnya dari agama Islam.

Peran Penting dari Salat

Sebagai orang yang berharap pada Allah ﷻ, jika kita mengerjakan perintahnya, kita akan jadi umat Nabi Muhammad ﷺ. Yaitu jamaah yang meninggalkan semua yang dilarang, dan mengerjakan semua yang diperintahkan untuk meraih hal tersebut, salat memiliki peran yang sangat penting.

Pertama, salat adalah salah satu ibadah yang diperintahkan kepada kita. Bahkan ia adalah ibadah yang berat. Pelaksanaannya di 5 waktu bersama wudu dijelaskan hadis :

“Tahukah kamu tentang apa penghuni langit itu berdebat?”

Poin yang dijelaskan dalam hadis tersebut:

  • Berwudu dengan sempurna walaupun nafsu kita tidak menyukainya.
  • Berwudu secara sempurna dalam cuaca ekstrem dingin ataupun ekstrem panas.
  • Berwudu dengan sempurna tak peduli ditempat itu airnya sedikit atau banyak.

Di alam malaikat, terjadi perdebatan diantara mereka tentang bagaimana pahala ibadah para hamba tersebut dicatat. Di tengah perdebatan tersebut, terdengar suara pena beradu. Salat, kewajiban yang berat. Tetapi ia juga kewajiban yang manis. Yang diwajibkan salat, mendekatkan diri pada yang mewajibkan perintah, yaitu Allah ﷻ. Salat adalah ibadah suci. Ia adalah sarana bagi yang diperintah dan Yang Memberi Perintah untuk bertemu. Salat adalah perintah paling utama diantara perintah lainnya. Di waktu yang sama, salat oleh Al-Qur’an dikatakan sebagai pencegah manusia dari kemungkaran. Salat yang sejati mencegah manusia dari keburukan, akhlak buruk, dan segala macam ketergelinciran. Salat mencegah manusia dari nafsu yang buruk, serta segala macam kemungkaran. Salat adalah ibadah yang menyeluruh. Salat adalah cerminan dari nama Ahmad. Salat adalah penjelasan dari perpaduan asma dan sifatnya. Salat selain memiliki sisi perintah Allah ﷻ, ia juga memiliki identitas sebagai pencegah kemungkaran.

Karena itu kita menyebut salat sebagai ibadah yang menyeluruh. Salat mencegah manusia dari akhlak yang buruk. Ketika Anda menjelaskan salat dengan makna denotasi dan konotasinya. Mereka yang salatnya tidak mencegah dari akhlak yang buruk, dapat disebut bahwa orang itu tidak menunaikan salat. Pandangan ini bisa jadi benar disatu sisi, tapi tidak disisi lainnya. Tetapi, ia benar disisi ini: “Jika seorang mukmin menunaikan salat dengan benar, salat itu akan mencegahnya dari keburukan dan kemungkaran”. Karena salat bermakna sebagai hadirnya kita ke hadapan Allah, mempertanggungjawabkan hidup kita 5 kali sehari.

Salat artinya hadirnya kita dihadapan Allah ﷻ yang berfirman: “Aku memiliki surga dan neraka“. Seakan melewati neraka diatas jembatan sirat, seakan berlari ke surga, seakan Izrail akan mencengkeram kita.

Salat, ungkapan kehadiran kita dihadapan Ilahi, dimana ada dukungan malaikat dan bujukan setan di kanan kirinya. Mereka yang menghadap Allah ﷻ seperti itu, akan mengalami suasana seakan tirai ke alam gaib terbuka untuknya.

Imam salat membaca Al-fatihah dan surat pendek, Anda menunaikan salat seakan ada dihadapan Allah ﷻ. Segala sesuatu yang berhubungan dengan surga dan neraka seakan ditampilkan di hadapanmu.

Seperti apa?

Misal disampaikan pada seorang lelaki:

“Ini ada wanita, silakan pergauli semaumu. Kamu bisa menenggelamkan diri dalam keburukan.”

Silakan ambil jalan hidup tanpa mempedulikan halal dan haram. Kamu bisa makan riba, suap, dan uang korupsi. Kamu bisa menikmatinya sesukamu. Silakan ambil jalan duniawi, jalan menuju kekuasaan, dan jalan menuju pangkat jabatan dunia. Setelah kamu menikmatinya, akan kita buka tabirnya. Tempat tujuan mu berikutnya adalah sumur Gayya yang panas apinya menjalar-jalar.

Tetapi jika kamu mampu menolaknya, maka saat tabir diangkat, tempat tujuan mu adalah taman surga yang indah. Sekarang tabir-Nya kita turunkan, kamu bebas mau hidup seperti apa! Setelah hakikat itu dijelaskan dengan jelas dan terang, kamu bebas mau jadi kafir ataupun jadi mukmin. Kamu bebas mau jadi orang yang sesat, atau mau jadi orang pencari hidayah. Kamu bebas mau mengikuti keburukan, atau mau mengerjakan ketaatan beribadah.

Apakah manusia bisa tenggelam pada keburukan setelah menyaksikan hakikat ini!? Apakah manusia akan meninggalkan surga setelah mengetahui hakikat ini?

Untuk itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

Baik surga ataupun neraka, keduanya diliputi oleh sesuatu. Salah satunya diliputi oleh hal yang disukai syahwat. Sedangkan yang lainnya diliputi oleh hal yang dibenci nafsu

Untuk masuk ke surga dibutuhkan kesabaran menghadapi kesulitan. Untuk selamat dari neraka juga dibutuhkan kesabaran menghindari bujukan syahwat. Salat menyingkap tabir ini dari kita. Sehari 5 kali, salat dengan semua makna dan esensi yang dimilikinya. Dengan qira’at dan tilawah-Nya, ketika ia membuka tabir di depan mata kita. Jangankan mengikuti larangan, jangankan tenggelam dalam keburukan, jangankan kemungkaran. Barangkali hal-hal yang mubah sekalipun dapat menghilangkan selera bagi orang-orang mukmin sejati.

Umar radhiyallahu ‘anhu karena mendengar sesuatu dari alam lain ketika salat, ia jatuh sakit dan harus istirahat dirumah. Sahabat meriwayatkan: Karena sakit, penjenguk berdatangan (Sayyidina Umar) terbaring sakit. Demikianlah salat menghindarkan manusia dari dunia dan hal-hal duniawi.

Sungguh mengingat Allah ﷻ  adalah pekerjaan yang agung. Bagaimana Allah ﷻ membuat kita mengingat-Nya. Di sisi lain, tidak lupa kepadanya juga sangat agung. Ini adalah sisi lain dari ungkapan ini. Ini adalah sisi lain dari ungkapan ini. Kita membacanya setiap akan turun dari mimbar Jumat mengingat Allah ﷻ  sangatlah agung. Banyak mengingat Allah ﷻ adalah sebab lahirnya ketenteraman dan penyingkir kemuraman. Di dunia ini tidak ada yang lebih agung dari mengingat Allah ﷻ didalam hati.

Untuk itu, seorang mukmin sejati tidak akan tahan jika Allah ﷻ keluar dari akalnya. Beberapa Ahlullah pun sesuai derajatnya mengharuskan dirinya untuk gusul (mandi besar) jika akalnya lupa akan Allah ﷻ. Makna Gusul adalah: berbuat kesalahan, menjauhi Tuhan sementara waktu, memenuhi kebutuhan syahwat. Sebagai kafarat-Nya, Anda melakukan Gusul (mandi besar). Jika seorang Ahlullah lalai dari mengingat Allah ﷻ walau tak sampai sedetik, ia mengharuskan diri untuk gusul. Hal ini tidak ada dalam syariat. Ini sukarela, ungkapan dari kebersihan hati Nurani.

Seorang Ahlullah tidak bisa tahan jika ia lupa Allah ﷻ walau kurang dari sedetik dan selama Allah ﷻ  ada diakalnya, tidak mungkin sesuatu yang lain masuk ke dalamnya. Sayyidina Ali minta sahabat mencabut panah dari tubuhnya saat ia salat. Ia tidak merasa kesakitan saat panah yang menembus tulangnya dicabut. Karena Allah ﷻ yang ia ingat telah melingkupi akalnya.

Izinkan saya menjelaskan satu kisah kenangan dari keturunannya: Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib.

Apakah ada yang belum mengenalnya? Apakah ada yang belum mengenal putra dari Ksatria Mu’tah?

Rasulullah ﷺ sepulang dari perang mu’tah bersabda:

“Aku menyaksikan Ja’far ibn Abi Talib terbang disurga dengan 2 sayapnya yang berwarna hijau”

Terdapat pelindung leher menempel dileher temannya yang sama-sama masuk surga. Karena itu adalah cara untuk melindungi diri dari sabetan pedang dan tombak saat bertarung dimedan perang.

“Aku melihat Ja’far tidak mengenakannya. Karena ia menyambut kematian dengan senyuman.”

Saat tombak menerjang, saat pedang membelah tubuhnya, ia saksikan dengan gembira. Ia pun masuk surga tanpa beban.

Kisah Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib

Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib adalah putra dari sosok agung ini, sang Ksatria Mu’tah. Di masa Umayyah, ia pergi ke Syam untuk mengunjungi Hisyam bin Abdulmalik. Mungkin Allah ﷻ tidak meridai kunjungan tersebut. Tidak ada rida karena ditengah perjalanan kakinya tertusuk sesuatu. Karena tidak diobati tepat waktu, keadaannya semakin memburuk dan menjadi gangrene[1]. Ketika ia sampai dihadapan Hisyam bin Abdulmalik, waktunya sudah sangat terlambat. Dokter dipanggil, mereka berkata: Jika tapak kakinya tidak dipotong, nanti pahanya yang harus dipotong. Sosok yang ayahnya kehilangan tangan & kaki di Mu’tah, kini ia kehilangan kaki dihadapan khalifah Umayyah di Mu’tah.

Uniknya takdir, bapak dan anak meninggalkan kakinya didunia. Mereka menghadap Allah dalam keadaan demikian.

“Ayo kita potong” kata mereka.

“Tapi kita bius agar tidak terasa sakit, agar kamu tidak berteriak.”

+ Bagaimana kalian membiusku?

– Kamu akan minum yang memabukkan sampai kamu tidak merasakan sakit lagi.

“Tidak sekali-kali aku berkenan untuk lalai dalam mengingat Tuhanku. Tak akan pernah!”

Kalbu diarahkan kepada Rabb-Nya, ia menyaksikan bagaimana kakinya perlahan-lahan digergaji. Ini hanya satu sisinya. Para Ahlullah[2] tak rela dirinya lalai mengingat Rabb-Nya walau kurang dari sedetik Perhatikanlah sisi lainnya!

Ia ambil kaki yang sudah dipotong itu dan berkata:

“Rabb! Segala puji hanya untukMu! Engkau telah menganugerahiku tubuh yang sempurna. Kini Engkau mengambil satu kakiku! Aku bersyukur dan memujiMu yang telah memberi anggota tubuh lain dalam keadaan sehat dan sempurna!”

Perhatikan kesadarannya! Bagaimana ia mengingat keagungan Rabb-Nya dengan amat layak. Beberapa menit kemudian musibah seperti yang dialami Nabi Ayub akan menghujaninya dengan deras. Datang satu berita: Salah satu anaknya jatuh dari lantai atas rumah Hisyam dan meninggal dunia.

Ia mengangkat tangan :”Ya Rabb! Aku memuji-Mu berkat sisa anak yang Engkau anugerahkan dalam keadaan sehat”. Ia tidak memperhatikan yang pergi dan hilang, ia mensyukuri apa yang tersisa. Itulah usaha untuk tetap mensyukuri segala yang anugerahkan Allah ﷻ kepada kita. Itulah jalan hidup seorang mukmin.

Di dalam pemikiran yang dalam, ingatan yang serius, kita akan menyuntikkan nama Allah ﷻ dalam tiap zarah kehidupan kita. Kalian tidak akan bisa membedakan antara malaikat dengan Abdullah bin Ja’far. Representasi Nabi Ayub dapat Anda saksikan pada diri Abdullah bin Ja’far. Kalian akan menyaksikan Abdullah bin Ja’far terbang disurga bersama ayahnya

Keistimewaan apa yang membuatnya nanti terbang disurga?

Penyerahan hati kepada Tuhannya, penunaian salat dengan segala haknya, diraihnya ketenteraman sejati. Menjauhi kemungkaran seperti dendam, kebencian, dan kemarahan yang dibenci Allah ﷻ. Itulah pembentukan hidup yang manis. Semoga Allah ﷻ menganugerahi kita keberhasilan dalam membentuknya. Di dalam rasa sedih akan perpisahan dengan Ramadan, mari kita berdoa kepada Allah ﷻ dengan hati yang sedih.

Anugerahkanlah kami siratalmustakim. Jagalah kami dari hal-hal buruk yang dibawa oleh keinginan rendah, hasrat, serta syahwat kami. Anugerahilah kami keikhlasan sempurna, semua doa para nabi, serta jadikan kami Mukhlisin dan Mukhlasin.

[1] Gangrene adalah Jaringan mati yang disebabkan oleh infeksi atau kurangnya aliran darah.

[2] Ahlullah adalah   mereka yang mewujudkan ketakwaan kepada Allah ﷻ baik dalam kesunyian dan keramaian, berhati-hati dalam makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggalnya jangan sampai menyelisihi apa yang dia dapatkan dari belajar Alquran baik terjatuh dalam keharaman atau kesamaran.

mengembangkandiri.com golden-scales-of-justice-on-wooden-table-on-black-2021-09-01-13-07-28-utc

Tidaklah Sama Kebaikan dengan Kejahatan

Tidaklah Sama Kebaikan dengan Kejahatan

Perbedaan Nabi Nuh ‘alaihisalam dan Nabi Musa ‘alaihisalam dengan Rasulullah ﷺ

Nabi ﷺ bersabda:”Di antara para nabi aku tidak mirip dengan Nabi Nuh dan Musa as”

Nabi Nuh ‘alaihisalam merupakan nabi yang hidup selama 950 tahun dan selama itu pula nabi Nuh berdakwah dan menasihati kaumnya.  Bukan hal yang mengherankan. Semuanya atas kuasa Allah.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al – ‘Ankabut ayat 14)

Saat semua sebab dan sarana bungkam, saat semua pintu yang diketuk tertutup untuknya. Sampai di mana akhirnya, nabi Nuh berdoa kepada tuhannya yaitu Allah subhana wa ta’ala agar kaumnya yang menolak nasihat yang beliau berikan selama 9 abad lamanya untuk diberi peringatan.

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi”.” (Nuh ayat 26)

Jangan biarkan mereka yang mengingkarimu, tak mengenalmu, menutup matanya dari perintahmu yang acuh terhadap syariahmu tinggal dan menetap di muka bumi.

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”. (Nuh ayat 28)

Beliau berdoa agar kehancuran bagi orang-orang zalim ditambahkan. Namun, di tempat lain, saat Nabi Nuh kehabisan suara dan napas,

“Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)””.(Al – Qamar ayat 10)

Selama itu beliau pergi berkeliling dari pintu ke pintu Apa yang beliau sampaikan?

“Dia yang menciptakan mu, Sang Penyusun amir takwini.”

“Pencipta keseimbangan antara alam denganmu, Dia ingin kalian mengimaniNya”

Baginda Nabi ﷺ di periode tertentu berdakwah: “Ucaplah La ilaha illallah, raihlah keselamatan”

Raihlah kemenangan! Raih keselamatan!

Tak ada seorangpun berwenang mengatakannya! Hanya ia, pemiliki komunikasi dengannya, pengemban risalah, yang berwenang mengatakannya Lewat ibarat diungkapkan: “la ilaha illallah”, sedang lewat isyarat, ungkapan usulnya: “muhammadur Rasulullah ﷺ “. Maka semua nabi menyampaikan pesan yang sama, demikian juga Nabi Nuh ‘alaihisalam. Demikian juga Nabi Musa, di 1-2 tempat, untuk kaumnya yang keras kepala, khususnya pada Firaun,

Akif menyebutnya sebagai Amnofis, Atau julukan lainnya. Dimana tak ada kezaliman yang tak dirasakan Nabi Musa darinya

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakan lah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”. (Yunus: 88)

Kemiripan Akhlah Nabi Ibrahim ‘alaihisalam dan Nabi Isa ‘alaihisalma dengan Rasulullah ﷺ

“Namun dari segi akhlak, aku mirip dengan Nabi Ibrahim dan Isa” sabda Baginda Nabi

Pernyataan ini bukanlah hafalan tanpa dipikir…

Nabi Ibrahim saat meninggalkan ayahnya, beliau mendoakannya walau ayahnya sangat keras kepala

“Dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat”(Asy – Syu’ara’ : 86)

Jawaban beliau ketika diusir ayahnya justru doa Andai Azhar ayahnya. Beberapa penafsir berkata, ia pamannya, karena abi juga dipakai untuk panggilan paman.

Nabi Isa berkata:”Kebaikan bukanlah kebaikan kepada mereka yang berbuat baik kepadamu…”

“Kebaikan adalah berbuat baik kepada mereka yang berlaku buruk kepadamu” Itulah gambaran kelembutan akhlak Nabi Isa ‘alaihisalam. Rasulullah pun mengadopsinya.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (Fussilat ayat 34)

Kebaikan dan keburukan hal berbeda satu sama lain. Yang satu seperti anak panah yang menunjuk arah menuju neraka. Satu lagi seperti anak panah atau kompas penunjuk kiblat, ia mengarahkan ke surga. Keduanya berbeda satu sama lain,Keduanya dipisahkan jarak yang amat jauh, gap antara ‘hasanah’ dan ‘sayyi’ah’ amatlah lebar. Kebaikan tidaklah sama dengan keburukan. Bersihkanlah keburukan dengan kebaikan.

Kisah Habil dan Qabil

Jika kamu melakukannya, mereka yang selalu men denyut kan permusuhan akan membuka dadanya untuk merangkul mu. Dan hari ini, kalian menghadapi ujian yang amat besar. Heroisme adalah tidak meninggalkan kebaikan walau untuk mereka yang berlaku keterlaluan kepadamu. Seperti yang dikatakan anak pertama kebaikan (Habil) kepada keburukan (Qabil):

“Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Jika kamu mengangkat tangan untuk membunuhku, andai kamu mengangkat senjata, kapak, bayonet untuk membunuhku. Aku tak berniat untuk membalas mu, karena aku takut kepada Allah. Ingatlah akhir dari perbuatan mu, yaitu neraka. Akibat dari perbuatan mu kepadaku adalah neraka. Maka urungkan lah niatmu.

Disini sebenarnya Habil tidak ingin saudaranya masuk neraka. Tak usah Habil yang merupakan putra Nabi Adam ‘alaihisalam.

Aku pun ketika mendoakan mereka yang berbuat buruk kepada kalian “Ya Allah, janganlah Engkau hukum mereka dengan azab di akhirat. Selamatkan mereka dari neraka.”

“Jika Kehendak mu mewajibkan mereka untuk diazab, maka azab lah mereka di dunia dengan azab yang lembut.”

Di akhirat nanti wajah mereka berkerut diselimuti rasa malu. Pandangannya menyiratkan permohonan pengampunan. Mereka yang berbuat buruk, menjauhkan hak-hak hidup Anda, mereka yang membunuh karakter Anda kelak di akhirat nanti, mereka akan datang membungkuk di hadapan Anda

Doaku: “Ya Allah, agar mereka nanti tidak terlalu parah menahan malu, jika kehendak mu menghendaki azab.”

“Dengan mengakhiri masa penangguhan azab, dengan keadilan dari ke maha suci an mu, hukumlah mereka di dunia”

“Janganlah Kau azab mereka di akhirat, jangan pula Kau azab kami dengan mengazab mereka”

“Karena aku takkan sanggup! Aku tak sanggup melihat orang lain terbakar oleh api neraka jahannam…!”

Ya, Jika sosok agung tersebut sedemikian nya memikirkan Qitmir, tentu dia berkata

“Andai engkau mengulurkan tangan tuk membunuhku, aku takkan mengulurkan tangan tuk membunuhmu…”

إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ…

“…..Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (Al – Ma’idah: 28)

Karena itu, maka karakter dan akhlak inilah yang harus ditunjukkan. Benih kebaikan yang kalian tebar dan semai tanpa disadari, saat Anda melihatnya, Anda akan terkejut ia berkecambah menjadi tunas pohon-pohon kebaikan.

Atas izin Allah, tunas-tunas tersebut nantinya akan menjadi puluhan pohon cemara Anda akan berkata:”Ternyata semua ujian ini tujuannya untuk menumbuhkan ‘pohon’ ini. Berarti aku beruntung..”

Biarkan saja mereka yang memilih jalan rendah, biar mereka melanjutkan jalannya. Anda tetap harus memikirkan bagaimana cara berbuat baik kepada mereka. Hendaknya keburukan tidak dibalas dengan keburukan, sebagaimana dicontohkan Baginda Nabi, Nabi Isa membalas dengan kebaikan berarti Anda menunjukkan sifat gentelman, kemanusiaan, dan karakter mulia Anda.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”.”(Al – Isra’: 84)

Seseorang bersikap sesuai bawaan karakternya. Berbuat zalim, berkata zalim, berpikir zalim…

Seseorang bersikap sesuai bawaan karakternya. Berbuat zalim, berkata zalim, berpikir zalim…

Pandangan Anda harus mengalirkan keadilan,

Telinga Anda penuh akan gemerincing keadilan,

Mulut Anda harus senantiasa mengucap keadilan,

Jantung Anda pun harus mendetakkan keadilan…

Semoga Allah menjadikan kita sebagai manusia dengan kualitas demikian

Semoga Allah mengampuni kesalahan kata-kataku..

Aku mohon maaf juga dari Anda sekalian…