mengembangkan diri lilin

Bersembunyi di Balik Seribu Alasan

Saat kita mencoba untuk melakukan tugas Ilahi ini, kita seharusnya tidak bersembunyi di balik berbagai alasan. Perumpamaan berikut adalah ilustrasi yang bagus tentang ini:

Dikisahkan pada suatu hari, perang pecah antara hewan daratan (mamalia) dan burung. Kedua belah pihak berjuang untuk menang atas yang lain. Kelelawar, yang membawa karakteristik kedua belah pihak, tidak memihak.

Ketika burung meminta kelelawar untuk bergabung dengan pasukan burung, kelelawar menjawab: “Kami adalah mamalia” dan ketika hewan mamalia membuat tawaran yang sama; kelelawar menjawab bahwa mereka adalah burung.

Beberapa waktu kemudian, kedua pihak menandatangani suatu perjanjian. Kelelawar dengan cepat mengambil langkah dan memihak bangsa burung dan memberi selamat kepada mereka. Namun, burung tidak menerima kelelawar ke dalam golongannya. Ketika kelelawar mencoba bergabung dengan hewan mamalia, mereka menerima sikap yang sama, penolakan.

Kemudian, alkisah, kelelawar dicap sebagai pengkhianat oleh pihak mamalia dan pihak burung. Bangsa kelelawar tidak punya pilihan lain, selain mengasingkan diri, untuk menjadi tawanan kegelapan (gua).

Seorang mukmin seharusnya tidak mencari-cari alasan untuk berpantang dari tugas melayani. Dia harus menyalakan lilin dalam kegelapan dan berusaha mendukung kebaikan sehingga bisa mengalahkan kejahatan. Tentu saja, ini tidak boleh dilakukan dengan cara yang jahat atau pembalasan kejahatan dengan kejahatan; sebaliknya, ini harus dilakukan melalui representasi kebaikan dan menjelaskan keindahannya.

Jiwa yang mengabdikan dirinya untuk melayani kebenaran telah menerima kemungkinan untuk menanggung berbagai macam kesulitan, masalah dan kesusahan. Seseorang dengan jiwa seperti itu harus melakukan upaya luar biasa untuk memenuhi tugas yang diberikan kepadanya, terlepas dari semua kesulitan dan masalah yang mungkin muncul. Dia harus fokus pada tujuannya dan mengabaikan ribuan masalah dan beban yang mungkin dia hadapi. Selain itu, saat dia melakukan tugasnya, dia harus sangat berhati-hati agar tidak bersembunyi di balik banyak alasan.

Dunia ini adalah tempat ibadah dan pelayanan. Hidup adalah sebuah episode dari alur waktu di mana buah-buah dari keabadian sedang ditanam. Melayani (Hizmet) dapat diartikan sebagai menyebarkan Nama Tuhan Yang Maha Esa kepada seluruh umat manusia, wajar jika misi ini akan selalu menghadapi kesulitan seperti yang telah berkali-kali terjadi di masa lalu. Bagian kita dalam jalan melayani Ilahi ini adalah bekerja tanpa henti, tanpa menunjukkan keengganan dan kelelahan.

ilustrasi-potret-said-nursi-_mengembangkan_diri

Teladan Kehidupan: Sang Badiuzzaman

Kaitannya dengan pengabdian agama, Bediuzzaman adalah salah satu tokoh utama yang patut dijadikan sebagai teladan umat. Beliau berpendirian bahwa mengabdi kepada agama Allah harus menjadi tujuan utama setiap manusia. Beliau tetap bersiteguh dengan keyakinan ini dan tidak pernah menyimpang sedikit pun.

Satu contoh ringan misalnya, tatkala berada di pengadilan Eskişehir, seorang hakim bertanya kepada semua hadirin tentang pekerjaan, dan saat giliran beliau tiba,

Beliau lantas berdiri dan dengan lantang berkata, “Pekerjaanku adalah mengabdi kepada agama Allah.”

Bediuzzaman adalah sosok terhormat yang dengan tulus mengorbankan kehormatan, kebanggaan, jiwa, raga, dan kehidupannya untuk mengabdi kepada Alquran. Meskipun beliau telah menerima segala bentuk pelecehan dan penyiksaan, beliau tidak pernah mengambil langkah mundur dalam menjalankan tugas suci ini.

Bediuzzaman meninggalkan segala kenikmatan duniawi demi berkhidmat di jalan agama, menjauhkan diri dari mengumpulkan harta sebab beliau hidup dalam lingkaran rasa syukur, rasa takut kepada Tuhan, dan juga kesalehan. Beliau menghabiskan setiap menit cahaya kehidupannya dalam cengkeraman masalah dan rintangan lantaran mengamalkan Alquran. Hatinya akan terbakar disebabkan melihat kehancuran umat di tangan kekufuran dan ketidakpedulian.

Beliau selalu terlibat dalam setiap kegiatan yang tujuan utamanya berkutat pada: “mengabdi kepada agama”, menyelamatkan umat Muhammad SAW dan memenuhi kalbu masyarakat dengan rasa syukur.

Di saat begitu banyak orang yang berusaha memenuhi kepentingan pribadinya dan mencari kedudukan dunia yang tinggi, beliau justru mendedikasikan jiwanya untuk menyelamatkan umat dan menganggap hal ini sebagai misi terbesar di jagat raya. Karena sebab mulia inilah, beliau berhasil mempublikasikan buku, meskipun ditulis saat berada dalam kondisi tersulit dalam kehidupan beliau. Melalui Risalah Nur, beliau secara ilmiah mengawali penentangan terhadap materialisme, suatu paham yang menjadi musuh agama Islam. Beliau mampu menyesuaikan gagasan persatuan, kebangkitan umat, risalah kenabian, keadilan, takdir, dan analisis agama yang notabenenya berada dalam ujung kehancuran.

Bediuzzaman adalah seseorang yang tekun dalam memberikan aksi nyata, beliau begitu menderita melihat problematika yang dihadapi dunia Islam dan kemanusiaan. Beliau adalah seorang pahlawan pengabdian yang mengorbankan dirinya kepada nilai-nilai yang selama ini beliau percaya. Beliau tidak pernah gentar untuk menyatakan dengan lantang bahwa keyakinan yang dianutnya adalah suatu kebenaran. Beliau adalah seseorang yang sudah pernah diracun berulang kali, hampir dieksekusi mati, pernah dihadapkan pada segala bentuk pelecehan dalam suramnya penjara, serta dikirim menuju pengadilan militer dalam kondisi sangat dingin meskipun sudah berusia tua renta, tetapi beliau tidak pernah sedikitpun lengah atau meringankan apapun dari keyakinannya itu.

Rasa sakit dan penderitaan, dua saksi bisu yang senantiasa menjadi teman bagi siapa saja yang mengabdi kepada agama.

Beliau pernah berkata, “Dalam 80 tahun hidupku, diriku tidak ingat pernah merasakan nikmatnya dunia. Hidupku habis dalam medan perang, penjara bawah tanah, pengadilan, dan bui. Di pengadilan militer, diriku diperlakukan layaknya seorang pembunuh bengis dan dikirim ke pengasingan layaknya seorang gelandangan.”

Uraian kalimat ini sangat sempurna menggambarkan kehidupannya yang penuh dengan ujian.

Seringkali beliau menggambarkan ujian tanpa henti yang mencabik jiwanya dengan ungkapan, “Ada kalanya diri ini sudah lelah dengan kehidupan. Jika agamaku memperbolehkan diriku untuk bunuh diri, Said pasti sudah tiada sekarang.”

Dengan ungkapan ini, Bediuzzaman membuktikan bahwa dirinya selalu melindungi kehormatannya dengan bersabar dan bertahan menghadapi segala bentuk penyiksaan. Beliau seperti sudah mengemas kehidupan duniawi beliau kedalam sebuah keranjang rotan yang selalu beliau bawa dengan tangan.  Bagi beliau seperti itulah nilai dari seluruh kehidupan dunia.

Selama 28 tahun kehidupannya di penjara dan pengasingan, beliau senantiasa mengajarkan kepada muridnya arti penting menjaga dan menegakkan hukum. Beliau tidak pernah tunduk kepada peraturan pemerintah yang menindas. Kendati demikian, beliau tidak melawannya dengan kekerasan. Sebaliknya, beliau menggunakan pena untuk mengkritik dan melawan mereka. Kecerdasan dan bersikeras dalam sikap positif itulah yang telah menempatkan beliau di kedudukan yang istimewa dalam sejarah.

Dalam ceramahnya, beliau senantiasa menekankan pentingnya keikhlasan, ukhuwah, keimanan, dan pengabdian kepada Alquran. Di samping itu, beliau juga memperingatkan muridnya akan bahaya kesombongan dan egoisme.

Suatu ketika Zübeyr Gündüzalp mengadu kepada beliau, “Guru, diriku sungguh takut akan kesombongan.”

Mendengar hal itu, beliau menimpali, “Takutlah akan hal itu.”

Berkaitan dengan hal tersebut, beliau menasihati muridnya,

“Saudaraku, tugas kita adalah mengabdi kepada Alquran dan agama dengan penuh keikhlasan. Namun, kesuksesan kita, penerimaan masyarakat, dan kemenangan atas penindasan adalah tugas-Tuhan. Kita tidak boleh ikut campur dalam urusan ini. Bahkan ketika kita kalah pun, kita tidak akan kehilangan semangat dalam menyembah-Nya. Dalam hal ini, kita hanya perlu bertawakal. Seseorang pernah berkata kepada Jalaladdin Kharzamshah, komandan hebat Islam, “Anda akan memenangkan pertempuran melawan Genghis.” Beliau menjawab, “Tugasku adalah berjuang di jalan Allah. Kemenangan hanyalah milik-Nya. Diriku hanya akan melakukan tugasku dan tidak mencampuri urusan-Nya.”

Bediuzzaman seakan-akan sudah ditakdirkan untuk menghadapi segala bentuk cobaan dan kesulitan untuk menegakkan Alquran, keikhlasan, dan ukhuwah. Karakter beliau memberikan kekuatan yang luar biasa besar baginya untuk terus bersabar. Beberapa kejadian yang mereka tujukan kepada beliau sudah melampaui batas.

Beliau berulang kali dipanggil untuk datang ke kantor polisi dan pengadilan pada tengah malam. Menginterogasi beliau tentang kunjungan murid-murid beliau sudah menjadi penghinaan yang lumrah baginya.

Tidak hanya dirinya, orang yang berhubungan dengannya juga diperlakukan buruk.  Sebagai contoh, setiap orang yang mengunjunginya atau mencium tangannya akan segera ditangkap dan diinterogasi tanpa alasan yang jelas.

Mereka akan ditanyai, “Mengapa kamu menyalaminya?” “Mengapa kamu menatapnya?” Orang tidak berdosa pun akan mendapat perlakuan buruk hanya karena berinteraksi dengan beliau. Menghadapi kondisi demikian, sosok ideal ini justru lebih menunjukan kekokohan sikap sabarannya, atas nama ukhuwah demi menjaga keikhlasan dalam lubuk hatinya.

Permasalahan umat yang beliau beri perhatian ialah sikap mendahulukan kehidupan akhirat di atas dunia dan mengabdi kepada agama tanpa mengharap imbalan apapun. Meninggalkan tugas mengabdi kepada iman atau menunjukan kelesuan dalam menjalankannya adalah sesuatu yang tidak dapat beliau diterima.

natasya-chen-86rFYHziFi4-unsplash

Untukmu, Jiwa-Jiwa yang Kami Nantikan!

Kami sudah sering mendengar, melihat, serta melalui berbagai macam peristiwa, namun entah mengapa kami tidak bisa menyingkirkan keresahan dan gagal menemukan hakikat kedamaian di dalam jiwa.  Kami tidak pernah merasa puas dalam mencari kedamaian hati; mengingat memang kebutuhan hati kami dan obat pelipur lara yang dunia tawarkan sungguh berbeda.

Kami sedang mengharap akan kehadiran seorang teman yang bersedia mengulurkan tangan kepada kami yang menyimpang dan bermaksiat, yang menangis bersama dengan hati yang remuk, yang gelisah gundah melihat kemungkaran. Kami mengharapkan seseorang teman dengan tutur katanya yang lemah lembut, semangatnya yang hidup, dan dakwahnya yang sungguh-sungguh.

Bertahun-tahun lamanya, kami menunggu seorang yang menawarkan obat pelipur lara atas penyakit yang kami derita. Kepadanya kami dapat menyampaikan isi lubuk hati terdalam dengan sejujurnya. Seseorang dengan iman dan kesuciannya bagaikan gunung yang kokoh menjulang. Dalam kelaparan, penyakit, dan ketakutan yang melanda kami terus-menerus, dalam penderitaan terpedih melahap jiwa dan mengikis impian kami, kami merasa setiap hembusan napas teman ini menghidupkan jiwa kami dengan harapan dan impiannya.

Seandainya saja kami dapat memahami petunjuk yang telah Tuhan sampaikan selama ini, seandainya kami percaya akan itu semua. Akan banyak kekosongan yang sudah terisi. Banyak masalah pasti sudah terselesaikan. Namun, ribuan kali kami berkumpul bersama, saling mengisi dengan harapan, menjejakkan langkah untuk memulai kehidupan baru, atau mungkin ribuan kali juga kami melanggar sumpah, lantaran kami tidak dapat menemukan hakikat apa yang kami cari dan tidak bisa mengerti hakikat dari apa-apa yang kami dapatkan.

Kalbu kami sangat haus akan kasih sayang dan cinta, terus mengharap kebajikan dari kemanusiaan. Sayang sekali! Jiwa kami malah dituntun menuju kesengsaraan. Mereka mencoba membenamkan hati kami ke dalam lautan kekejian. Kami sedang diperdaya, menderita kesedihan tanpa akhir. Dalam setiap keadaan tertindas, tercela, dan sengsara, kami terus-menerus dilecehkan dan menjadi korban ketamakan.

Inilah alasan mengapa kami tidak percaya kepada seorangpun dan tidak membuka hati kepada siapapun.

“Tatkala kita menginginkan seorang wanita cantik yang sedang memetik mawar, kita juga berharap ia memiliki pipi indah merah merona ; tatkala kita menginginkan sang penakluk Khaibar (Ali bin Abi Talib) , kita juga menginginkan pelayan kerajaan Kambar.” ( Muhammad Lutfi ).

Kami mungkin akan menemukannya, atau tidak, tetapi setelah dirundung oleh banyak masalah, yang kami inginkan sekarang adalah kemurnian, ketulusan, dan dedikasi di jalan “pecinta buta” ini. Setelah kami mengalami terlalu banyak pengabaian, bahkan pengkhianatan, akan tampak naif bila kami katakan bahwa kami merangkul orang lain dengan toleransi dan tanpa keraguan terhadapnya. Terlepas dari semua iktikad baik dan rasa toleransi kami, kami tetap saja tidak mampu untuk melenyapkan keraguan dan menghilangkan atmosfer ketidakpercayaan kepada orang lain.

Membuat kami mempercayai seseorang dan menyingkirkan keraguan dalam benak kami sangat tergantung pada ikhtiar keikhlasan yang terus menerus dari pahlawan kami ini. Berkat ketulusan dan perbuatannya yang meyakinkan, kami mampu melenyapkan segala bentuk prasangka buruk dan ketidakpercayaan yang selama ini kami rasakan. Kami muak dengan kemunafikan, sopan santun, dan keberanian palsu, berpura-pura menjadi pahlawan setelah kemenangan mereka, yang dipenuhi oleh rasa bangga diri.  Alih-alih mensyukuri nikmat, mereka malah berkeinginan kuat untuk merasakan kenikmatan duniawi, hidup dengan penuh ketamakan, dan gila jabatan. Yang kami harapkan dari pahlawan kami ialah ikhtiarnya untuk membawa sumber semangat dari puncak gunung tertinggi, tekad yang kuat, sungguh-sungguh berusaha sendiri guna mencapai kesuksesan, rela mengorbankan jiwa dan raganya demi orang lain, dan berjuang dengan ikhlas tanpa pamrih.

Biarkan pikiran mereka menjadi bersih tak ternoda. Biarkan jalan mereka menjadi lurus tanpa lika-liku. Biarkan mereka memikirkan dan menceritakan tentang hakikat kehidupan. Biarkan mereka untuk tidak menjadi munafik dan tidak memperdaya kami.

Biarkan muncul raut kesedihan dan penderitaan di wajah mereka. Biarkan wajah mereka basah berlinang air mata, dan dada mereka sesak. Biarkan hati nurani mereka menjadi hidup, tidak hitam mati. Biarkan mereka bermuhasabah diri dan berbudi luhur dengan ajaran sufi, tafakur para ulama, dan kedisiplinan dan ketundukan golongan militer. Biarkan mereka mendapatkan derajat kesempurnaan melalui perbuatan terpuji ini.

Biarkanlah mereka menolong orang terdekat kami -yang hati dan pikirannya telah terkoyak, jiwa mereka telah dirampas dari hati nuraninya – menyelamatkan mereka dari depresi yang berlarut-larut, dan semoga mereka dikembalikan ke kondisi semula seperti sedia kala.

Biarkan mereka berpegang pada kebenaran. Tidak beranggapan bahwa pikiran dan penghambaan mereka adalah satu-satunya jalan yang benar. Tidak lalai bahwa jalan menuju Sang Pencipta sangatlah banyak, sebanyak hembusan-hembusan napas ciptaan-Nya.

Biarkan mereka bersemangat menjadi insan terbaik dalam melayani dan mengabdi, namun enggan dalam menerima ganjaran dan keuntungan. Layaknya Si Tua Kato (seseorang yang memperoleh kejayaan tetapi lebih memilih menjadi petani yang sederhana dan rendah hati). Mereka harus menyingkir dari pandangan masyarakatnya setelah terpenuhinya tanggung jawab akan tugasnya dan dengan sabar menunggu tugas selanjutnya.

Para pelopor di jalan yang diridai ini senantiasa menghindari jabatan dunia. Tatkala mereka harus  menduduki suatu posisi otoritas, mereka dengan tulus dan bersikeras mengharap orang lain yang lebih layak untuk menduduki posisi tersebut.

Mereka yang dengan suka rela bekerja untuk kebangkitan umat harus tetap berada dalam jalan ini. Jika tidak, kekacauan yang ditimbulkan akibat ketidakseimbangan antara kedudukan terbatas dengan jumlah orang yang haus kekuasaan akan menjadi tidak terhindarkan dan sulit diatasi. Terutama jika gagasan ini muncul dalam jiwa-jiwa kawula muda yang belum sepenuhnya matang.

Diriku bertanya-tanya apakah kita mampu melihat ketulusan yang luar biasa dari orang-orang yang selama ini diharapkan menjadi pembimbing. Sekali lagi, kita menyampaikan keputusasaan yang kuat, mengharapkan sosok ini. Kita terus memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan lisan seluruh makhluk – ikan di lautan dan rusa di pegunungan – agar kita tidak perlu menunggu lebih lama lagi.

adrian-dascal-6gGSIRRNlJc-unsplash

Kualitas Para Manusia Khidmah

Dalam salah satu artikelnya, Fethullah Gulen merangkum kualitas orang-orang yang mengabdikan diri pada Khidmah (kata yang berasal dari bahasa Arab, digunakan juga dalam bahasa Turki –Hizmet- yang berarti kesukarelaan dan bermanfaat bagi orang lain):

  1. Orang yang berkhidmah harus meneguhkan diri, demi tujuan yang telah mereka percayai dengan hati, bahkan untuk menyeberangi lautan “darah dan nanah”.
  2. Ketika mereka mendapatkah hal yang diinginkan, mereka harus cukup dewasa untuk menghubungkan segala sesuatu dengan Pemiliknya yang Sah, menghormati serta berterima kasih kepada-Nya. Suara dan nafas mereka digunakan memuliakan dan mengagungkan Allah, Pencipta yang Agung. Orang-orang seperti itu sangat menghormati dan menghargai setiap orang, serta menerima apapun Kehendak Allah sehingga mereka tidak mengidolakan orang-orang yang melakukan hal baik sekalipun.
  3. Mereka memahami bahwa mereka bertanggung jawab atas pekerjaan yang tidak terselesaikan, penuh pertimbangan dan berpikiran terbuka kepada semua orang yang mencari bantuan mereka, serta selalu hidup untuk membela kebenaran.
  4. Mereka sangat teguh dan penuh harapan bahkan ketika institusi mereka dibubarkan, rencana mereka gagal, dan pasukan mereka dikalahkan.
  5. Orang-orang yang melayani, bersikap moderat dan toleran ketika mereka mengambil pemahaman baru dan akhirnya bisa melambung ke puncak, dan sangat rasional dan bijaksana sehingga mereka mengakui sebelumnya bahwa jalannya sangat curam. Begitu bersemangat, tekun, dan percaya diri sehingga mereka rela melewati semua lubang neraka yang ditemui di jalan.
  6. Orang yang begitu tulus dan rendah hati sehingga mereka tidak pernah mengingatkan orang lain tentang pencapaian mereka. 1

Itu Tidak Dapat Dicapai tanpa Kesulitan dan Penderitaan

Salah satu kualitas orang beriman yang menganggap melayani agama sebagai tujuan hidupnya adalah kesulitan dan penderitaan. Seperti diketahui, tujuan para nabi adalah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar melalui undangan dan pengawasan. Tidak ada momen dalam hidup mereka di mana misi Ilahi ini tidak terjadi. Kegiatan paling nyata yang diamati dalam kehidupan para Nabi adalah mengingatkan orang-orang tentang iman; merencanakan dan memunculkan strategi untuk memenuhi misi Ilahi ketika mereka sendirian; meminta bantuan dari Allah agar apa yang diusahakan bisa tercapai; berdoa dan memohon keselamatan bagi mereka yang melepaskan diri dari Allah dan mengalami kesulitan dan penderitaan di jalan ini.

Tentu, tidak berbeda dengan Nabi kita. Beliau memiliki perhatian dan kasih sayang yang besar terhadap rakyatnya. Beliau menanggung banyak kesulitan dan segala bentuk penderitaan agar orang lain bisa memeluk Islam. Al-Qur’an menjelaskan situasinya dengan ayat berikut: Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (at-Taubah 9:128).

Sama seperti yang Beliau lakukan di bumi, Nabi kita yang mulia juga akan berusaha menyelamatkan orang-orang beriman di Hari Penghakiman dengan menggunakan hak syafaatnya, dia akan memohon belas kasihan Allah untuk keselamatan mereka yang layak diampuni. Di zaman sekarang ini, seorang Muslim harus peka tentang situasi orang lain, sama seperti Rasulullah, mereka harus berharap agar mereka memiliki iman, mempelajari kebaikan universal dan mengamalkannya sesuai sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan di kedua dunia. Selain itu, berdoa untuk keselamatan mereka dan peduli tentang masa depan mereka adalah jalan kenabian. Untuk alasan ini, setiap jiwa yang telah memiliki tanggung jawab ini telah membiasakan untuk melafalkan doa berikut: “Allahummarham ummata Muhammad“, ya Allah, kasihanilah umat Muhammad, damai dan berkah besertanya.

Sebagaimana dijelaskan di atas, doa ini mencakup sekilas pandangan para nabi yang luhur karena juga membagikan pandangan-pandangan mereka yang bermartabat. Orang-orang yang memiliki cita-cita luhur seperti itu kadang-kadang berkata, “Ya Allah, pada Hari Penghakiman, buatlah tubuhku begitu besar sehingga memenuhi seluruh Neraka, dengan cara ini tidak akan ada celah kosong untuk orang lain!” Ada juga yang mengatakan: “Saya telah mengorbankan dunia saya dan akhirat untuk kepercayaan rakyat saya. Saya bersedia membara di api neraka jika saja saya bisa melihat keselamatan dari iman umat saya. ” Orang-orang seperti itu telah menunjukkan tindakan pengorbanan diri ini dengan terus hidup dalam kerangka pikiran ini.

Mari kita coba memperkuat argumen kita dengan analogi: Suatu ketika, seseorang berpikir dalam hati, “Saya ingin tahu apakah ada orang suci di zaman-zaman ini?”. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Ya ada seseorang. Dia adalah pandai besi di tempat ini dan itu dan namanya Ahmad Efendi. “

Jadi orang ini mencari Ahmad Efendi dan menemukannya. Dari kejauhan dia mengamati gaya hidupnya. Ia ingin melihat kualitas luar biasa apa yang dimiliki Ahmad Efendi. Namun, dia tidak bisa melihat sesuatu yang mencolok tentang dia.

Akhirnya, dia memutuskan untuk mengunjunginya dan menceritakan pengalamannya. Setelah mendengarkan, Ahmad Efendi menjawab: “Seperti yang Anda lihat, saya tidak memiliki kehidupan religius yang intens. Saya tidak terjaga setiap malam dan saya tidak berpuasa setiap hari. Namun, ketika saya meletakkan besi saya di atas api dan berubah menjadi merah, dan siap untuk saya tempa, umat Muhammad, semoga Allah memberikan sholawat dan salam kepadanya, muncul di benak saya. Saya berpikir tentang bagaimana mereka hidup terpisah dari Allah dan ditemani oleh dosa. Ini adalah saat saya berdoa, “Ya Allah, ampunilah Muslim dan kasihanilah mereka. Selamatkan mereka dari situasi yang memalukan ini.” Saya sangat tersesat dalam pikiran ini sehingga kadang-kadang saya mengambil baja dari sisi yang panas dan saya bahkan tidak merasakan panas di tangan saya. Orang satunya menjawab, “Baik, sekarang saya tahu mengapa Anda begitu berharga di sisi Allah.”

Memang, seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk melayani agama harus merasakan kepedihan dan penderitaan mereka yang membutuhkan bimbingan. Setelah kematian Abu Ali Dakkak, seorang hamba Allah yang tercinta, mereka melihatnya dalam mimpi dimana dia menangis dan berharap dia kembali ke bumi. Mereka bertanya mengapa dia menginginkan hal seperti itu dan dia menjawab:

“Saya ingin kembali ke bumi dan mengenakan pakaian bagus saya. Kemudian ambil tongkat saya dan bergegas ke jalan saat saya mengetuk setiap pintu. Saya ingin meneriaki setiap rumah tangga, “Saya harap anda tahu bahwa anda semakin jauh dengan Allah!”

Pikiran untuk menyentuh setiap jiwa dan mengetuk setiap pintu dan berseru, “Beriman kepada Allah dan selamatkan dirimu!” selalu terlintas di pikiran semua Nabi dan orang alim. Sayangnya, manusia tidak menyadari permainan yang mereka mainkan, hal-hal yang mereka lewatkan dan di mana mereka akan berakhir. Seseorang tidak dapat memahami manusia yang tidak berpikir untuk menggunakan kehidupan yang diberikan kepada mereka, sebagai modal untuk mendapatkan kehidupan kekal mereka.

1.Gulen, M. Fethullah, Pearls of Wisdom, New Jersey: Tughra Books, 2012, hal. 103-104

patrick-tomasso-fBpGf_W9hS4-unsplash

Apa yang Harus Diperhatikan Saat Melayani Bangsa dan Agama?

Apa yang harus dimiliki oleh seorang mukmin yang bertanggung jawab, yang jantungnya berdebar-debar dengan niat mulia untuk melayani agama dan bangsa miliknya? Mari kita coba temukan jawaban untuk pertanyaan ini.

Pertama-tama, kita perlu mempelajari agama kita dengan benar. Untuk melakukan ini, kita perlu mempelajari esensi agama dengan belajar dari sumber-sumber yang otentik. Pengetahuan yang dipelajari harus tercermin dalam kehidupan kita. Utamanya, seseorang yang bertanggung jawab harus mempelajari agamanya dalam kerangka keyakinan orang-orang Sunni (Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah) dan mengamalkan apa yang sudah didapatnya.

Penting juga untuk memelihara kesabaran. Seperti halnya dengan, panutan kita dalam menyampaikan kebenaran ke orang lain, Nabi Muhammad, SAW., ketika kita membaca kehidupannya yang bercahaya, kita melihat bahwa beliau memiliki kesabaran yang sangat tinggi.

Sebagaimana yang kita pahami, masalah dan kesulitan besar datang kepada para nabi yang merupakan hamba Allah yang paling terkasih, namun, mereka menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Tidak diragukan lagi, pasti akan ada berbagai macam rintangan di jalan orang-orang beriman yang ingin mengabdi pada agama dan bangsanya. Mereka perlu mengatasi rintangan ini dengan kesabaran yang besar, seperti kesabaran yang kita amati dalam kehidupan Nabi yang mulia.

Utusan Allah mengalami segala jenis penghinaan, saat duri-duri dipasang di jalan yang akan dilaluinya dan cairan menjijikan dituangkan di atas kepalanya ketika beliau khusyuk memanjatkan doa. Namun, terlepas dari semua itu, beliau menunjukkan dedikasinya yang luar biasa, tetap mengetuk, berkunjung ke setiap rumah dan tenda di setiap jalanan di Mekah demi membimbing orang ke jalan yang benar.

Salah satu landasan terpenting dalam dakwah Nabi kita adalah toleransi dan kelembutan. Al-Qur’an menggambarkan pendekatan lembut Nabi kami kepada orang-orang dengan ayat berikut:

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Q.S. Ali Imran 3:159)

Kebajikan adalah kunci terang yang digunakan oleh Nabi kita untuk membuka hati yang ternoda. Dengan kunci ini beliau telah membuka banyak hati. Oleh karena itu, kita juga harus membekali diri dengan prinsip-prinsip berikut ini: “Bersikaplah toleran sehingga hatimu menjadi luas seperti samudra. Terinspirasi oleh iman dan cinta untuk orang lain. Tawarkan bantuan kepada mereka yang kesusahan, dan berikan perhatian ke semua orang. Puji yang baik untuk kebaikan mereka, hargai mereka yang memiliki hati yang teguh, dan bersikap baik kepada orang beriman. Dekati orang-orang kafir dengan sangat lembut terhadap rasa iri dan benci mereka. Membalas kejahatan dengan kebaikan, dan mengabaikan perlakuan tidak sopan. Karakter seseorang tercermin dalam perilakunya. Pilih sikap toleransi, dan murah hati kepada yang tidak sopan. Ciri paling khas dari jiwa yang imannya kuat adalah mencintai semua jenis cinta yang diungkapkan dalam perbuatan, dan memusuhi semua jenis permusuhan di mana kebencian diumbar. Membenci segala sesuatu adalah tanda kegilaan atau tergila-gila pada Setan. “*

Hal lain yang paling penting: Kita mengamati bahwa dalam menjelaskan Islam, Nabi yang mulia lebih memilih menggunakan metode selangkah demi selangkah. Jika Kita menempatkan beban seberat lima puluh kilogram pada seseorang yang kemampuannya dibatasi hingga dua puluh kilogram, Kita kemungkinan besar akan menyebabkan orang tersebut cedera. Rasulullah memperlakukan orang sesuai dengan tingkat dan kemampuan mereka, menjelaskan realitas agama tidak sekaligus tetapi dalam dosis yang disesuaikan dengan cinta dan perhatian, maka inilah cara beliau memungkinkan iman dan kebaikan masuk ke dalam hati mereka.

Kita juga harus menggarisbawahi hal berikut: Seorang mukmin harus berusaha sebisa mungkin, menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Allah. Dalam merasakan keberhasilan, seseorang seharusnya tidak pernah merasa bangga dan sombong. Sebaliknya, seseorang harus selalu memiliki pemikiran bahwa Allahlah yang memberikan segalanya dan tidak ada yang dapat dicapai tanpa pertolongan-Nya.

Pada akhirnya, seseorang harus selalu menjaga semangat pelayanannya; di samping Sholat Harian, harus ada Tahajud, Nafilah, Awwabin, Tasbihat dan juga Jawshan. Hal-hal tersebut tidak boleh diabaikan. Kehidupan sehari-hari mukmin harus dibangun di atas ketaqwaan dan zuhud.

*Gulen, M. Fatullah, Pearls of Wisdom, New Jersey: Tughra Books, 2012, hal. 103-104.

markus-winkler-_nvKjg0aliA-unsplash

Pendaftaran Relawan Kepenulisan 2021

 

Apadaya, bila seluruh pohon menjadi pena, samudra menjadi tintanya, tulisan ilmu darinya hanya laksana setetes air di samudra ilmu-Mu, ya Rabb. Namun, harap kami tetap hanya Ridha-Mu dalam setiap huruf di jalan ini.

Mengembangkandiri.com membuka pendaftaran untuk menjadi Relawan Kepenulisan (RK). Dengan periode selama 6 bulan dengan beban tugas cukup 5-8 jam/minggu. Besar harapan, bersama dengan RK, mengembangkandiri.com dapat terus mengembangkan diri nya.

Relawan berhak mengambil pengalaman dalam dunia kepenulisan, pemahaman dalam penerjemahan karya tulis, dan kesempatan mengembangkan karir bersama mengembangkandiri.com dan mitra.
RK dapat menjadi bagian dalam salah satu dari 3 tim utama mengembangkandiri.com,

1. Tim Editor
Beberapa tantangan di tim editor adalah menerjemahkan artikel dari bahasa Inggris atau Turki ke bahasa indonesia. Melakukan proofreading artikel yang sudah diterjemahkan juga merupakan hal terpenting dalam menjaga kualitas artikel, Eksekusi terakhir, yaitu upload post ke website beserta memperhatikan kerapian format juga menjadi tanggung jawab Tim Editor.

2. Tim Sosmed Marketer
Seiring dengan pesatnya perkembangan dunia digital, sosial media memiliki peranan penting dalam perkembangan mengembangkandiri.com. Tim sosmed marketer menjadi tumpuhan dalam pembuatan konten, manajemen sosial media, serta analisis secara periodik terhadapnya, yang dapat menjadi landasan arah gerak di masa depan.

3. Tim Business Development
Tak dapat dipungkiri, selalu diperlukan divisi dalam organisasi yang dapat melihat dengan sudut pandang menyeluruh. Benchmarking, evaluasi, inisiasi ide, dan menjaga pace keberjalanan mengembangkandiri.com adalah tugas utama tim business development.

BUKA PENDAFTARAN: 24 Mei – 7 Juni 2021

Silakan mengisikan formulir berikut untuk menjadi Relawan Kepenulisan mengembangkandiri.com:

[forminator_form id=”2245″]

Mari berkontribusi, menyisihkan waktu, menjadi bermanfaat, menebar berkah, bersama tim redaksi mengembangkandiri.com.