ines-alvarez-fdez-fBPEXawTQ7c-unsplash

Mengharap Dengan Sangat

 

Manusia merupakan ciptaan yang sempurna dari Sang Pencipta. Walaupun tergolong sempurna sejatinya manusia tetaplah makhluk yang papa, yang selalu berada dalam kelemahan dan butuh pertolongan. Di Dalam islam dijelaskan bahwa doa atau meminta merupakan salah satu senjata terbaik muslim. Karena pada hakikatnya, kita tidak akan mampu melakukan apapun tanpa kehendak-Nya. 

Didalam berdoa atau meminta kita dianjurkan untuk melembutkan suara kita. 

“Berdoa lah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-A’raf : 55)”. 

Andai kata seorang anak meminta sesuatu kepada orang tuanya dengan suara yang keras tentulah sang anak tidak akan mendapatkan apapun bahkan orang tuanya akan marah kepadanya. Begitulah mengapa kita dianjurkan melembutkan suara ketika berdoa. 

Mintalah segala sesuatu dari Fadhilah Ilahi. Fadhilah Ilahi di sini memiliki makna bahwa “Anugerah tambahan dari sisi Ilahi”. Mintalah kepada Allah dengan perasaan harap dan cemas. Berharap doa kita akan dikabulkan serta cemas lah jikalau doa kita menjauhkan kita dari Allah Swt. 

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusu’ kepada Kami (QS. Al-Anbiya’ : 90)”. 

Bangunlah disaat kebanyakan orang terlelap dari tidurnya, bangkitlah dan berdoalah kepada Allah. Bermunajatlah berulang-ulang dan tanpa bosan. Serta yakinlah bahwa doa-doa yang kita minta akan dikabulkan oleh Allah diwaktu yang tepat. Jangan pernah berpikiran mengapa doa saya tidak dikabulkan oleh Allah. Bisa jadi doa yang kita minta akan membawa keburukan kepada kita bahkan orang disekeliling kita atau memang waktu untuk terkabulnya doa tersebut belum tepat. Rencana Allah diatas rencana manusia.

Dan barangkali ibadah yang paling afdhol adalah Intidhar Faraj, yang berarti “Menunggu kelapangan dengan penuh harap”. Ialah terbesit harapan untuk selamat dari kemalangan seperti jatuh ke sumur seperti nabi Yusuf, selamat saat ditelan ikan, selamat ketika dikepung pasukan Fir’aun, atau selamat dari perampokan ketika melakukan ibadah haji. 

Kita harus menyungkurkan kepala kita keatas sejadah, berbisik kepada bumi agar terdengar oleh langit. Berdoalah demi turunnya hidayah untuk orang-orang yang sibuk dengan keburukan. Berdoalah untuk orang-orang yang berjuang dijalan Ilahi. Berdoalah sebagaimana kita menangis ketika mendoakan Ibu, Ayah, dan keluarga kita yang telah meninggal. Dengan atmosfer yang sama sambil menumpahkan air mata kita berdoa: 

“Ya Rabb, kami memohon halangilah orang-orang zalim, fasik, iri, dan dengki itu dari usaha mereka untuk menghancurkan dakwah yang kami bangun ini” 

“Ya Rabb, selamatkanlah teman-teman kami yang karena kebaikan yang mereka lakukan telah menjadikannya korban, dizalimi, serta dirampas hak-haknya” 

“Ya Allah dengan anugerah ekstra-Mu bebaskanlah, kembalikanlah keadaan mereka” 

“Ya Allah, Anugerahilah kami ke-kariban dengan-Mu serta jagalah diri kami dari kejinya menjilat”. 

Kita sebagai makhluk papa yang sangat membutuhkan pertolongan Allah. Didalam kelemahan tersebut sudah seharusnya kita memohon dengan berurai air mata. Bermunajat seraya meminta dengan penuh pengharapan, memohon agar diberi anugerah ekstra. 

Berdoalah diwaktu-waktu yang mustajab karena Allah akan mengabulkan doa orang-orang yang meminta kepada-Nya. 

“Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni (HR. Muslim)”.

Ingatlah bahwa Allah tidak butuh doa-doa kita tapi sebaliknya kita sangat membutuhkan pertolongan Allah didalam semua kegiatan kita. Berdoalah, memintalah karena Allah sangat suka diminta.

WhatsApp Image 2021-03-02 at 21.56.49

Kerja Keras

Kerja keras adalah lawan dari sikap santai. Secara fitrah manusia membutuhkan makan, minum dan istirahat. Tetapi manusia seharusnya mempunyai kemampuan berpikir dan kemauan yang kuat untuk bisa memenuhi kebutuhannya itu secara seimbang. Oleh karena itu ketika rasa santai dan malas datang menghampiri seseorang, maka orang tersebut harus mulai berpikir dan mulai menggunakan keinginan mau melakukan sesuatu yang kuat untuk melawannya. Jika ia merasa apa yang sudah dilakukannya itu belum cukup maka ia harus menerima bahwa hasil yang akan diperoleh adalah sesuai dengan apa yang telah diusahakannya. Sebenarnya hasil yang diperoleh dari usaha kita tidak mesti harus sesuai dengan yang kita inginkan atau berhubungan dengan apa yang kita lakukan, terkadang hasil yang diperoleh adalah berupa rasa nyaman ataupun bertambahnya semangat dan motivasi kita. Sebagai contoh, jika kita sudah bekerja keras dalam belajar untuk ujian matematika, ternyata hasil yang didapatkan kurang memuaskan, maka sikap kita seharusnya bisa menerimanya dan berusaha lebih keras lagi pada ujian selanjutnya. Bukan berarti kerja keras kita itu tidak ada artinya, tetapi justru kita mendapatkan semangat baru dalam belajar dan belajar dari kesalahan yang mungkin kita lakukan pada ujian tersebut. Jika kita bekerja keras maka motivasi kita akan meningkat, memberi pengalaman buat kita, menguatkan semangat kita dan pada akhirnya akan membawa keberhasilan pada kita

Dalam setiap keberhasilan terdapat dua kebaikan. Pertama, perasaan bersyukur kepada Tuhan YME yang telah memasukkannya ke dalam lingkaran kebaikan dengan sikap tidak menyombongkan diri terhadap apa yang telah diraihnya. Kedua, diberikannya kesempatan bagi dirinya untuk terus berjuang melawan nafsu pada dirinya yang selalu mengatakan bahwa keberhasilan ini berasal dari dirinya sendiri. Kita seharusnya bersyukur terhadap pertolongan yang diberikan Tuhan YME sehingga kita bisa mencapai semua ini. Dengan ini Tuhan YME akan melipat gandakan kebaikannya kepada kita sehingga semakin banyak kebaikan yang akan diperoleh.

Rasa malas disebabkan karena perasaan ingin selalu bersantai dan menyebabkan terjadinya ketidakteraturan. Nafsu kita selalu menginginkan ini, sehingga pada kesempatan pertama kita harus melawannya setelah kita berhasil pada kesempatan pertama, maka akan sangat mudah bagi kita untuk mengalahkannya. Rasa malas juga bisa timbul karena banyaknya hal yang harus dilakukan. Yang harus dilakukan adalah memulai segala sesuatunya dengan perencanaan, tetapkan benang merah dan point penting dari segala halnya, kemudian mulailah membagi waktu dan pekerjaan yang harus dilakukan. Pada saat kita sudah mulai melakukannya walaupun 10% darinya maka akan timbul suatu kepuasan tersendiri, kita akan mulai berpikir positif, jika 10% nya sudah bisa terselesaikan maka sisanya akan bisa terselesaikan juga. Oleh karena itu, rasa malas harus dilawan, jangan mengalah diawal, harus berjuang dengan kemauan yang keras walaupun susah, ketika kita mampu melawan itu semua maka kita akan mendapatkan kenikmatan, kepuasan dan kenyamanan yang tidak bisa didapatkan dalam kemalasan.

Setiap orang yang memiliki kepercayaan yang kuat terhadap Tuhan YME harus selalu aktif bergerak setiap saat. Aktif bergerak sudah menjadi prinsip dalam hidupnya baik dalam bekerja dan istirahat sekali pun. Ia pintar membagi waktunya dan tak pernah menyia nyiakannya. Di luar kebutuhan fitrahnya untuk tidur, ia mempunyai prinsip “active break” yaitu beristirahat dengan cara mengganti kegiatan yang dilakukan, ia mempunyai metode yang dinamis dalam kehidupannya, “istirahat dalam bekerja, bekerja dalam istirahat”.

Sebagaimana atom dan galaksi yang selalu bergerak dan aktif melakukan tugasnya masing-masing, begitu juga semua entitas yang lain, maka tidak bisa terpikirkan jika manusia sebagai ciptaan terbaik Tuhan memiliki sifat malas. Karena kemalasan, kemonotonan akan berujung pada ketiadaan. Sesuatu yang nikmat, jika terlalu sering dirasakan akan hilang kenikmatannya. Oleh karena itu, orang yang malas dan tidak aktif bergerak adalah orang yang rugi dan selalu membawa masalah. Sebagai kesimpulan, orang yang bekerja keras akan mencapai kebahagiaan, mewarnai dirinya dengan rasa syukur bukan hanya dengan keluhan.

Penuntut ilmu memiliki tanggung jawab kepada masyarakat, yaitu untuk menuntut ilmu, Ia harus fokus menuntut ilmu, Ia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya, Ia harus mengatur waktunya dengan baik, Ia harus menghayati prinsip “ta’awun,” yaitu saling membantu antar sesama penuntut ilmu. Ia akan saling membutuhkan bantuan dari sesamanya, Para penuntut ilmu harus serius dalam menuntut ilmu, tidak boleh menyalahgunakan niat baik dari masyarakat. Karena masa depan sebuah bangsa bergantung pada kualitas generasi penuntut ilmunya.

Kalau tidak diperhatikan, maka bangsa itu akan runtuh. Ia harus belajar siang malam. Kalau perlu tidur hanya 4 jam, sisa 20 jamnya harus digunakan untuk menuntut ilmu sampai otaknya berdenyut, dengan istilahnya Necip Fazil, “isi otaknya harus sampai keluar lewat hidung”. Saking seriusnya, kalau perlu kerja di laboratorium sampai pingsan, atau tertidur di atas tumpukan buku. Pekerjaan yang normalnya selesai 10 hari harus dipersingkat jadi 2 hari saja. Waktu tidak boleh disia-siakan, Tuhan YME akan meminta pertanggungjawabannya. Waktu adalah aset paling berharga bagi manusia. Kalau memang mau mengerjakannya, selesaikanlah secepat mungkin… Apa saja yang perlu digunakan, gunakanlah dengan tepat, Ambillah banyak referensi, Binalah hubungan baik dengan gurumu. Dengan loyalitas yang sempurna, agar hak masyarakat juga bisa ditunaikan serta agar tidak mengecewakan dan tidak mengotori husnuzan masyarakat. Maka para penuntut ilmu harus belajar dengan serius sehingga masyarakat pun kagum dan berkata: “Usaha kalian menuntut ilmu demi kemajuan bangsa sungguh luar biasa!”




fabio-comparelli-uq2E2V4LhCY-unsplash

Tujuan Hidup

“Sebaik-baiknya manusia ialah yang baik akhlaknya dan bermanfaat bagi orang lain.”
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa setiap manusia diturunkan mempunyai fitrah sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang saling membutuhkan. Dalam hal ini menjadi sangat penting kita membantu sesama yang sedang membutuhkan bantuan. Karena di saat tertentu kita pun membutuhkan bantuan dari siapa saja.

Tidak semua konteks ‘membutuhkan’ berarti untuk memenuhi kebutuhan material saja. Banyak dari manusia di sekitar kita yang ‘membutuhkan’ bantuan untuk memenuhi kebutuhan rohaninya. Kebutuhan rohani sangat penting untuk dipenuhi, jauh lebih penting dibanding kebutuhan material. Apabila kebutuhan itu tidak dipenuhi, ancamannya ialah kehidupan akhiratnya. Manusia diturunkan ke dunia salah satu tujuannya ialah amr ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari kemungkaran. Dengan membantu sesama itu diharapkan kita menambahkan nilai-nilai amr ma’ruf nahi munkar ini ke dalamnya.

Maka, itulah yang dinamakan memenuhi kebutuhan manusia yang sesungguhnya. Mengamalkan amr ma’ruf nahi munkar tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menghidupkan nilai kemanusiaan seseorang, diri kita sendiri harus terlebih dahulu ‘hidup’. Kita diwajibkan setiap saat meningkatkan kualitas hidup kita dengan memenuhi kebutuhan lahir maupun rohani. Dengan ‘hidup’ kita yang baik, maka kita akan mampu menghidupkan orang lain.

Itulah hakikat tujuan diturunkan kita ke dunia. Meningkatkan hidup kita setiap saat lalu mengamalkan nilai-nilai amr ma’ruf nahi mungkar kepada sesama manusia yang membutuhkan. Kemuliaan seorang manusia bukan dinilai hanya dari cara dia hidup, tetapi berapa orang yang dapat ia tingkatkan kualitas hidupnya dengan cara ia hidup.