Mengembangkandiri.com (20)

Bediüzzaman Hazretleri: Mereka Tidak Memahami Saya!

Pertanyaan: Dalam perjalanan terakhirnya ke Urfa, Bediüzzaman Hazretleri mengatakan “Mereka tidak memahami saya!” Siapakah yang dimaksud dengan mereka ini dan mengapa mereka tidak memahaminya?

Jawaban:

Bediüzzaman Hazretleri telah hidup dengan penuh kesungguhan, tanpa meninggalkan kekosongan, dan telah memberikan arah hidup kepada banyak orang melalui pemikirannya, karya-karyanya, dan kehidupannya. Dengan kejujuran, kesederhanaan, akhlaknya yang luhur, ia menjalani hidup dengan sangat hati-hati dan penuh ukuran. Sebagai contoh, dalam soal makan dan minum, ia tidak pernah berlebihan. Ia hanya memenuhi kebutuhan tubuhnya dengan kalori yang cukup, hidup dengan disiplin, dan karena itu, ia tidak pernah mengalami kelebihan berat badan, bahkan hingga akhir hayatnya, ia mempertahankan kesehatan dan kebugarannya. Hubungannya dengan Allah sangat kuat, sehingga segala cobaan yang datang ia terima dengan penuh kerelaan. Beliau hidup dengan penuh kehati-hatian.

Memulai dari Dasar

Sepanjang hidupnya, ia berjuang untuk menciptakan tipe manusia baru dalam perasaan dan pemikiran. Ia mulai dari dasar, dari “abc,” dengan perlahan menarik orang-orang untuk bersamanya, mendidik mereka satu per satu. “Bismillah,” ia mulai dari awal, berusaha meyakinkan orang-orang di sekitarnya akan nilai-nilai yang diyakininya. Ia menyadari bahwa masalah besar dalam masyarakat tidak akan terselesaikan hanya dengan menggugah jiwa massa melalui populisme atau politik. Ia percaya bahwa masalah-masalah besar dalam dunia Islam hanya dapat diatasi oleh orang-orang yang memiliki iman yang mendalam, yang berpegang pada logika Al-Qur’an, dan yang mampu melihat peristiwa-peristiwa dari perspektif Al-Qur’an. Oleh karena itu, ia memulai dari dasar, merenovasi sebuah benteng yang telah lama diabaikan, dan sebagai seorang arsitek pemikiran, ia membentuk kembali cara berpikir manusia.

Kepeduliannya terhadap Orang Lain

Bediüzzaman Hazretleri mengabdikan hidupnya untuk melayani agama Islam dan sangat peduli dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan takdir agama. Ia selalu menghargai setiap bentuk pelayanan kepada Islam, meskipun hanya dalam cahaya sekecil apapun. Ia memberikan apresiasi dan dukungan terhadap setiap usaha yang dilakukan demi Islam. Ia bersikap baik sangka terhadap orang-orang yang berusaha untuk berkhidmat kepada agama dan selalu mendorong mereka. Misalnya, ia sangat senang dengan berdirinya sekolah-sekolah Imam Hatip, dan mendukung dengan sepenuh hati publikasi-publikasi yang ia anggap sebagai suara dan nafas bagi umat Muslim di dunia. Ia tidak pernah memandang masalah pelayanan agama dalam pandangan yang sempit atau terbatas, dan tidak pernah mengorbankannya dengan pertimbangan afiliasi.

Keterikatan dengan Al-Qur’an

Jika Anda melihat Bediüzzaman Hazretleri dari berbagai sisi, Anda akan sulit menemukan kekurangan pada dirinya. Karya-karyanya dipenuhi dengan spiritualitas, karena karya-karya tersebut, yang ujungnya terhubung dengan Al-Qur’an, mengalirkan ilham dari Al-Qur’an. Oleh karena itu, ketika Anda membaca karya-karya yang ia tinggalkan, Allah akan membuka cakrawala Anda terhadap Al-Qur’an dan menanamkan wahyu-wahyu-Nya ke dalam hati Anda. Seperti Imam Rabbani dan Ibn Arabi, Bediüzzaman Hazretleri adalah seorang tokoh besar yang menyampaikan rahasia-rahasia Ilahiyat dari Allah. Saat menyampaikan tema-tema mendalam ini, ia selalu memperhatikan tingkat pemahaman lawan bicaranya dan menggunakan gaya bahasa yang bisa dipahami oleh mereka. Namun, di balik gaya bahasa yang tampak sederhana ini, tersembunyi makna-makna yang sangat dalam. Jika Anda membaca karya-karyanya dengan fokus, dan menganalisis kata-kata yang ia gunakan secara serius, Anda akan dapat menemukan kedalaman tersebut.

Bediüzzaman Hazretleri sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Al-Qur’an, oleh karena itu terminologi, argumen, dan gaya bahasanya dalam karya-karya beliau sangat Qur’ani. Semua topik yang ia bahas dapat dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis. Namun, karena kita telah terasing dari sumber-sumber Ilahi tersebut, kita tidak dapat menghubungkan titik-titik tersebut dengan baik, dan kita kesulitan untuk memahaminya secara menyeluruh.

Kekuatan Imajinasi

Bediüzzaman Hazretleri adalah seorang yang memiliki imajinasi yang luar biasa luas. Bahkan jika kita hanya melihat keluasan dunia imajinasi dan pemikirannya tanpa memperhatikan kata-kata yang ia ungkapkan, kita akan menyadari betapa pentingnya hal ini. Begitu kita memasuki dunia tahayyul dan tasawur beliau, kita akan merasa pusing, kesulitan untuk mengikuti alur pemikirannya. Ia membuka cakrawala baru dengan berbagai asosiasi, menyampaikan pemikiran-pemikiran orisinal yang melampaui zamannya. Kadang-kadang, ia menghubungkan hal-hal yang kita sulit pahami, dan menyampaikan ide-ide yang sangat orisinal. Sayangnya, karena kebiasaan, kita tidak bisa melihat air terjun imajinasi yang mengalir dalam pikirannya, dan kita tidak dapat membuka diri untuk hal tersebut.

Kekayaan Filosofis

Bediüzzaman Hazretleri menghabiskan beberapa periode dalam hidupnya dengan mempelajari filsafat, dan ia menyadari bahwa beberapa prinsip filsafat bisa berguna. Ia menggunakan latar belakang filosofis ini untuk menghasilkan analisis dan pemikiran yang mendalam. Meski demikian, ia tidak terpengaruh oleh filsafat. Dengan hati-hati, ia menunjukkan kekurangan-kekurangan dalam filsafat dan menghindarinya. Seperti halnya dalam filsafat, ia juga menjauh dari tasawuf teoretis yang tidak dapat diterima oleh semua orang, dan dengan sepenuh hati ia mengarah pada Al-Qur’an. Pandangannya terhadap filsafat dan cara ia menggunakannya, seperti yang diamati oleh para peneliti seperti Taha Abdurrahman, juga layak untuk diteliti lebih lanjut.

Kekuatan Sastra

Mereka yang meneliti karya-karya Bediüzzaman Hazretleri dan menulis buku tentangnya, seperti Feridü’l-Ensarî dalam Âhiru’l-Fursân (Kesatria Terakhir), menyoroti beliau sebagai seorang “sastrawan.” Bahkan banyak yang berpendapat bahwa kekuatan sastra Bediüzzaman lebih unggul daripada Tolstoy dan Dostoyevski. Kekuatan sastra beliau tidak hanya terletak pada susunan kalimat, tetapi juga pada bagaimana beliau mengolah dan membahas topik, makna, dan nuansa dengan cara yang mendalam.

Membaca Zaman

Bediüzzaman Hazretleri adalah salah satu orang yang paling tepat dalam membaca zamannya. Dia menyaksikan bagaimana pemikiran besar dari Barat dapat mengguncang bahkan para intelektual terbaik, atau setidaknya menimbulkan kebingungan serius di antara mereka. Zaman yang ia jalani adalah zaman yang penuh kesulitan, baik dalam hal materi maupun spiritual. Ia sangat memahami bahwa umat Islam mengalami krisis spiritual yang mendalam pada masa itu, di mana mereka terasingkan dan kehilangan arah.

“Mereka Tidak Memahami Saya”

Dari apa yang saya dengar dari Almarhum Bayram Abi, dalam perjalanan terakhirnya menuju Urfa, Bediüzzaman Hazretleri berkata, “Mereka tidak memahami saya!” Saya tidak menganggap beliau mengacu pada orang-orang yang telah sesat atau kafir, karena mereka memang tidak memiliki niat untuk memahami. Namun, yang beliau maksudkan adalah orang-orang yang berada di dekatnya, tetapi tidak dapat memahami ajaran-ajaran yang beliau sampaikan. Banyak orang yang terlalu terbiasa dengan kehidupan sehari-hari, yang terperangkap dalam rutinitas dan kebiasaan, yang tidak dapat menangkap kedalaman pemikiran beliau.

Tentu saja, perasaan ini juga berlaku kepada kalangan ulama dan intelektual, yang seharusnya lebih dekat dengan pemikirannya, tetapi justru banyak yang menjauhkan diri darinya. Kecemburuan, rasa takut, dan tekanan politik pada zaman itu mempengaruhi banyak orang untuk tidak mendekatkan diri kepada beliau. Akhirnya, meskipun karya-karya beliau sangat bermanfaat, banyak yang tidak dapat memanfaatkannya karena mereka terlalu jauh secara emosional atau intelektual.

Kesimpulan

Pada akhirnya, (kecuali beberapa pengecualian) hampir tidak ada yang mendukung Bediüzzaman Hazretleri pada masa hidupnya. Bahkan orang-orang yang seharusnya bisa mengambil manfaat dari ajarannya, banyak yang menjauhkan diri, entah karena alasan pribadi, ketakutan, atau kecemburuan. Seandainya saja, pada waktu itu, seratus orang yang berpengaruh memahami dan mendukung beliau, maka suara mereka akan mengguncang masyarakat dan membuka pintu perubahan besar.

Semoga Allah meridhai Bediüzzaman Hazretleri selamanya, karena karyanya telah menjadi obat bagi luka zaman itu, memberikan harapan kepada umat yang kehilangan harapan dan memperkuat jiwa-jiwa yang lemah.

mengembangkandiri.com (19)

KENAPA ADA ORANG KAYA DAN MSIKIN BUKANKAH ALLAH MAHA ADIL?

Sering muncul pertanyaan, mengapa ada orang kaya dan ada orang miskin? Mengapa sebagian orang dilahirkan yatim piatu, sementara yang lain memiliki orang tua lengkap? Apakah ini berarti Allah tidak adil? Sebelum menjawab pertanyaan ini, penting untuk memahami bahwa Allah Maha Adil, sebagaimana firman-Nya:

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).

Memahami Konsep Keadilan

Secara etimologis, keadilan bermakna keseimbangan. Contoh sederhana adalah kantong pelana pada hewan tunggangan yang memiliki dua sisi setara, atau timbangan yang kedua sisinya sama berat. Dalam konteks ini, keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya secara proporsional, bukan berarti menyamaratakan segala hal tanpa melihat hikmah dan tujuan di baliknya.

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa keadilan berarti semua manusia harus diciptakan setara dalam segala hal. Namun, Allah memiliki kebijaksanaan yang jauh melampaui pemahaman manusia. Setiap ciptaan dan ketetapan-Nya mengandung hikmah mendalam yang tidak selalu dapat kita pahami secara langsung.

Nikmat yang Tak Terhitung

Sebelum mempertanyakan keadilan Allah, penting untuk merenungkan nikmat yang telah diberikan-Nya. Allah menciptakan manusia dari ketiadaan, membentuk kita sebagai makhluk yang lebih mulia dibandingkan makhluk lainnya. Kita bisa saja menjadi benda mati seperti batu atau besi, atau makhluk yang menjijikkan seperti ular atau kalajengking. Namun, Allah memilih menjadikan kita manusia dengan akal dan potensi besar.

Ulama besar, Bediuzzaman Said Nursi, berkata:

“Ibadah kepada Allah bukanlah penyebab datangnya nikmat, melainkan hasil dari nikmat-nikmat yang telah diberikan sebelumnya.”

Artinya, segala bentuk ibadah dan syukur yang kita lakukan adalah wujud pengakuan atas limpahan nikmat Allah yang tak terhingga, bukan syarat untuk memperoleh sesuatu di masa depan.

Perspektif Kehidupan Dunia dan Akhirat

Allah menciptakan manusia tidak hanya untuk kehidupan duniawi. Kehidupan ini adalah ujian yang menjadi pintu gerbang menuju kehidupan abadi di akhirat. Kemiskinan, kesulitan, atau kehilangan bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan ujian yang dapat mengangkat derajat seseorang di sisi Allah jika dihadapi dengan sabar dan syukur.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ya Allah, bangkitkan aku di antara orang miskin.” (HR. Tirmidzi)

Kemiskinan di sini bukan sekadar soal materi, melainkan kerendahan hati dan kebergantungan total kepada Allah. Dalam hadits lain, beliau memperingatkan bahwa kemiskinan yang tidak diiringi kesabaran bisa mendekatkan seseorang pada kekufuran. Namun, bagi mereka yang sabar dan tetap berusaha, Allah menjanjikan surga sebagai balasannya.

Hikmah di Balik Ketetapan Allah

Anak yatim sering kali dijadikan contoh bagaimana Allah memperhatikan mereka secara khusus. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik.” (QS. Ad-Dhuha: 9-10)

Rasulullah SAW bersabda:

“Aku dan orang yang mengurus anak yatim akan berada di surga seperti ini,” sambil mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah yang berdekatan. (HR. Bukhari)

Kehilangan orang tua adalah ujian besar, namun di balik itu ada hikmah dan peluang besar untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, baik bagi anak yatim maupun orang yang merawatnya.

Menyikapi Ujian dengan Bijak

Sebagai manusia, kita sering kali melihat suatu peristiwa hanya dari sisi negatifnya. Padahal, di balik musibah atau kekurangan, Allah menyimpan hikmah yang luar biasa. Contohnya, kebakaran mungkin tampak sebagai bencana, tetapi ia juga bisa menjadi pengingat bagi manusia untuk lebih waspada, memperbaiki sistem keamanan, atau bahkan mendekatkan diri kepada Allah.

Allah tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa tujuan. Setiap ketetapan-Nya memiliki hikmah yang kadang hanya dapat kita pahami di akhirat kelak. Oleh karena itu, tugas kita adalah menerima dengan ikhlas, berusaha sebaik mungkin, dan terus bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan.

mengembangkandiri.com (11)

HADAPILAH KETAKUTAN DENGAN KEBERANIAN

Jangan biarkan diri terperangkap dalam rasa takut yang berlebihan. Jika kita selalu membiarkan diri terjebak dalam ketakutan, maka kita hanya akan memicu hal yang kita takutkan itu menjadi nyata. Dalam semangat berani, ada pesan mendalam dari para tokoh yang memegang teguh nilai-nilai kebenaran dan keberanian, seperti yang diungkapkan oleh Badiuzzaman Said Nursi. Beliau menegaskan, “Jikalau pun seluruh kekuatan dunia digunakan untuk melawan saya, kepala yang rela dikorbankan demi kebenaran Al-Qur’an ini tak akan menyerah kepada para Zindik.” Ungkapan ini mengajak kita untuk tak gentar, meski menghadapi ancaman yang tampaknya besar dan tak terkalahkan.

Baniuzzaman Said Nursi dengan lantang menyampaikan bahwa kematian bukanlah akhir dari perjuangan, justru sebaliknya, ia akan menjadi ledakan semangat yang menghancurkan kezaliman. “Setelah membunuh satu orang yang setia, kalian tidak akan hidup tenang. Kematian saya akan meledak seperti bom yang menghancurkan kepada kalian. Jika kalian ingin hidup tenang, jangan ganggu saya,” ungkapnya. Pesan ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak takut menghadapi kezaliman dan ancaman, tetapi sebaliknya, hadapi dengan keyakinan dan keteguhan iman. Ketahuilah, pembalasan dari Allah bagi ketidakadilan akan datang, bahkan dengan kekuatan yang berkali-kali lipat.

Harapan beliau pada Allah adalah bahwa kematian dapat lebih melayani agama daripada hidupnya sendiri. Ucapan ini menegaskan pengorbanan total, bahkan hingga titik terakhir, demi keyakinan. Semangat seperti ini harus diwarisi oleh generasi setelahnya, untuk tidak takut atau gentar melawan ketidakadilan dan kezaliman. Keberanian yang terpancar dalam kata-kata tersebut menyiratkan bahwa setiap dari kita memiliki potensi untuk menjadi suara zaman, menghadapi tantangan dengan keteguhan yang kuat.

Ketika kota Istanbul diduduki, tampak di tengah-tengah tentara penjajah seorang uskup Gereja Anglikan dengan keangkuhan dan pertanyaan menantang kepada umat Islam. Pada saat seperti inilah seorang “Pahlawan Zaman” muncul dan mengangkat suaranya dengan penuh keteguhan. Dalam kondisi di mana ketangguhan dan perlawanan mutlak diperlukan, beliau memberikan perlawanan yang nyata.

Bisa saja, dalam keadaan penuh tekanan dan intimidasi, Badiuzzaman memilih untuk menjawab tantangan itu dengan tindakan, yaitu meludah. Meludah bukan pada orang, tetapi pada wajah ketakutan, pada wajah ancaman, pada wajah pengusiran, kehancuran, perbudakan, dan kezaliman. Sebuah simbol dari ketidakpatuhan terhadap ancaman yang menindas. Inilah bentuk keberanian dan keyakinan yang luar biasa, bahwa rasa takut harus dilawan, bukan ditakuti.

Siapakah yang benar di antara mereka yang berjuang untuk kebenaran dan mereka yang menyebarkan kezaliman? Hanya waktu yang akan menunjukkan kebenarannya. Waktu tidak pernah berdusta; ia adalah saksi yang selalu akurat dalam menafsirkan hasil dari setiap tindakan. Keberanian yang dibarengi dengan kebenaran akan tetap bersinar, meskipun mungkin harus melewati jalan panjang.

Percayalah pada tafsiran waktu, karena waktu adalah manifestasi dari kehendak, kekuasaan, perlindungan, dan pertolongan Allah. Semoga Allah tidak mencabut keberanian dan keyakinan itu dari kita semua, karena keberanian adalah kunci untuk mengalahkan ketakutan dan menghadapi segala rintangan dengan hati yang mantap. Aamiin.

mengembangkandiri.com (5)

IMAN, MAHABBAH, DAN KECINTAAN BERTUGAS

Ilmu-ilmu yang tidak diinternalisasi ke dalam jiwa tak ubahnya beban di punggung para pemiliknya. Pengetahuan yang tidak menuntun manusia pada tujuan-tujuan luhur juga merupakan pengkhianatan terhadap pikiran dan kalbu. Ya, sintesis kalimat ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an:

  مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allahﷻ itu. Dan Allahﷻ tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

Permasalahan utamanya bukan sekedar membolak-balik halaman buku, tetapi bagaimana kita bisa menjelma sebagai buku itu sendiri, mendalami isinya, serta menjadikan buku sebagai dinamika tersendiri.  

Ilmu yang tidak mendekatkan manusia kepada Allahﷻ, bukanlah ilmu melainkan sebuah musibah buruk yang berasal dari kebodohan. Seorang manusia dalam setiap proses membaca dan berpikir haruslah mampu merasakan bahwa dirinya selangkah lebih dekat dengan Sang Pencipta. Jauh di dalam hati sanubarinya ia harus mampu mendengar bahwa dirinya semakin melepaskan diri dari jasmaniyahnya. Ia harus merasa seakan sedang berdiri di belakang Rasulullahﷺ dalam posisi siap sedia untuk menyembah Allahﷻ. Ketika ilmu tidak bertransformasi menjadi amal, ia layaknya beban di punggung pemiliknya. Sâdî-i Şirazî berkata: “Apabila ilmu seseorang tak bertransformasi menjadi amal, sesungguhnya ia adalah sebenar-benarnya orang jahil.”. Apabila ilmu tidak beralih menjadi aksi nyata, tidak sanggup merapikan susunan lahir dan batin kita, tidak mewarnai dunia kalbu serta ibadah dan ketaatan kita, tidak menyetel lanskap ukhrawi dan malakuti kita, menurutku ilmu itu tak lebih dari sekedar beban bagi pemiliknya. Allahﷻ akan mempertanyakan mengapa Anda sibuk dengan hal-hal yang kurang urgen. Dia akan bertanya: “Mengapa kamu terlalu fokus dengan hal-hal yang tak ada maknanya?”.“Mengapa kamu kerja sampai nyut-nyutan untuk sesuatu yang tak ada gunanya”?.“Mengapa kamu menekuni urusan ini?.

Untuk itu, yang sejati adalah transformasi ilmu menjadi makrifat, sesuatu yang bisa Anda sebut sebagai kultur nurani, transformasi makrifat menuju mahabbah, transformasi mahabbah menjadi aşk u iştiyak (rasa cinta dan semangat yang membuncah). Hendaknya pemikiran seperti ini senantiasa menghiasi keseharian seorang manusia.  

Ya, seseorang yang mengatur dirinya dengan program tersebut akan bertransformasi menjadi monumen kasih sayang. Ia akan mencintai cinta dan membenci kebencian. Ia akan melakukan apapun demi perdamaian, Namun, ia serius dalam menentang kebencian dan permusuhan. Ia mengusir kebencian dan permusuhan dari tujuh pintu. Ia jatuh cinta pada kasih sayang. Demikian cintanya ia pada cinta, ia sampai tak mengenali kekasih yang dicintainya. 

Terdapat manqobah yang Anda kenal: Majnun jatuh cinta pada Leyla. Namun, ketika berjumpa ia tak menunjukkan perhatian. Karena ia jatuh cinta pada cinta, demikian juga cintanya Ferhat. Jatuh cinta pada cinta…. Jatuh cinta pada mahabbah. Ya, demikianlah mencintai cinta dan membenci kebencian. 

Kita diperbolehkan membenci beberapa hal. Manusia boleh saja membenci sifat-sifat kafir. Manusia boleh membenci sifat-sifat seperti al ilhad, kebencian, hasad, cemburu, serta black campaign kepada sesama. Namun, kebencian ini tak boleh merembet kepada individunya. Pada prinsipnya, yang harus dibenci adalah sifat-sifatnya. Semangatnya harus digunakan untuk memisahkan sifat-sifat itu dari individunya.       

Apabila perasaan tersebut mendatangkan tegangan metafisik yang serius…. Maka ia harus digunakan untuk menyelamatkan manusia yang hampir tenggelam ke dalam sifat-sifat jahat, fasik, dan sifat-sifat setan ; Karena benci, permusuhan, pengrusakan, dan hasad adalah sifat-sifat setan. Orang-orang ini tenggelam tanpa sadar. Bahkan jika ia terlihat sanggup berdiri, tetapi tanpa disadari ia tenggelam. Tergantung dari tingkat maksiat yang dilakukannya, ia akan memiliki penampilan maknawi terkadang serupa dengan kera, gorilla, atau dubb. Kuatir tidak sopan, saya menyebutnya dengan bahasa arab ; terkadang berupa dzi’b, ia juga dibahas di Al-Qur’an (QS 16:17), artinya serigala. Setiap hewan ini memiliki karakteristik tersendiri. Ada yang menggigit, mengoyak, mengimiatsi, ada yang mencekik, dan ada yang meracuni seperti ular. Itulah sifat-sifat tak bermoral, sifat-sifatnya setan.     

Ketika melihat sifat-sifat itu pada diri seseorang tak bisa dipungkiri bahwa rasa benci akan segera muncul. Namun, rasa benci itu tak boleh ditujukan kepada individunya. Kita bahkan harus mengerahkan upaya untuk menyelamatkan individu tersebut supaya selamat dari ketenggelamannya. Hendaknya kita menggunakan semua daya upaya untuk tujuan ini. Inilah akhlak kita secara umum. Seperti inilah kita mengenal Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Kita mengutuk kebencian, permusuhan, dan pengrusakan. Semoga Allahﷻ menganugerahi orang-orang yang bertindak seperti ini dengan perasaan pengertian, kemanusiaan, iman yang hakiki, saling mencintai, saling merangkul dan memahami!. Semoga Allahﷻ menyelamatkan mereka dari sifat-sifat hewani serta dari penampilan maknawi layaknya binatang meski secara fisik terlihat seperti manusia.        

Penyerupaan ini, yaitu menjadi qirodah (kera) dan khanazir (babi) dalam QS 59:60, dipahami penafsir dalam 2 bentuk. Sebagian penafsir berkata bahwa beberapa orang dikutuk menjadi kera dan babi dalam bentuknya yang hakiki sebagai hukuman atas pembangkangannya kepada Allahﷻ. Namun, sebagian muhaqqiq berkata bahwa mereka tidak dikutuk menjadi hewan dalam bentuk jasmani, melainkan dalam bentuk maknawinya saja.   

Orang-orang yang menekuni urusan ini mengatakan bahwa mereka mengalami deformasi, degenerasi, pertumbuhan ke bawah. Karena kondisi tersebut tidak cocok dengan tabiat manusia, maka masa hidup mereka memendek untuk kemudian mati. Mereka memberontak kepada nabi, menolak pesannya yang bercahaya,  menampiknya dengan punggung tangannya, mereka menuruti nafsunya, mengikuti jejak langkah setan, sehingga Allah pun menghukumnya. Sebagai contoh, pada zaman Nabi Musa dan Nabi Daud, beliau-beliau mendoakan sesuatu untuk mereka dan hal itu terjadi, dan beliau mengutukkan sesuatu dan hal itu pun terjadi. 

Penafsiran lainnya adalah: “Mereka mengalami perubahan maknawi: akhlaknya, karakternya, sikap, dan perilakunya menjadi sama persis dengan hewan-hewan tersebut.”. Mereka meneteskan air liur, menunjukkan taring, serta mencoba menghancurkan sesuatu yang dibangun berabad-abad lamanya. Dalam 40-50 tahun terakhir mereka berusaha merusak sistem yang sedang dibangun. Demi melakukan pengrusakan, mereka gunakan semua daya dan upaya. Mereka mengkampanyekan pelumatan, hafizanallah. Dengan demikian, secara maknawi mereka hidup seperti gorilla, beruang, dan serigala.     

Allah ta’ala bisa saja menuangkan mereka ke dalam hidayah sekali lagi. Sebagaimana Dia menciptakan mereka dalam bentuk yang cocok untuk menjadi ahsani taqwim, dengan menyematkan karakter khas dari ahsani taqwim Dia bisa mengembalikan mereka ke bentuk asalnya. Jika seandainya sedari awal mereka berpikir demikian dan berlari di atas peta rencana demikian, nasib mereka ada di tangan Allahﷻ, Allahﷻ akan memudahkan mereka untuk bertobat.  

Meskipun di satu sisi bertobat di saat sekarat bisa tidak diterima karena diucapkan dalam keadaan haalat yais. Firman Allahﷻ : “Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran QS 4: 18). Maka dari itu, sebelum terjadi, Allah akan membuatnya berikrar: Saya beriman kepada Allahﷻ, Rasul-Nya, dan Hari Akhir. Demikianlah, nasibnya ada di “tangan” Allahﷻ. Rahmat-Nya telah melingkupi marah-Nya. 

Kembali ke pembahasan, profesi kita adalah mencintai cinta dan membenci kebencian ; Syiar kita adalah mengusir kebencian dari tujuh pintu. Tidak memelihara rasa benci, permusuhan, dan dendam kepada siapapun, mempermalukan orang, mengecam, merendahkan,  mengusir, mengancam, memisahkan, abai terhadap ibadah ; Hidupnya tidak terikat pemikiran setan seperti menghabisi hidup orang lain ; Itulah pemikiran setan. Pemikiran : ”Kami akan menghabisi mereka. Kami adalah pedang-pedang terasah, akan kami hancurkan mereka!” adalah gaya pemikiran setan.

Mereka yang diam saja dihadapan pemikiran ini merupakan setan-setan yang bisu. Seseorang yang tak mampu bereaksi “Ini sudah berlebihan..” layaknya intelektual…, perlahan bisa mengalami deformasi yang serius hingga akhirnya menjadi setan bisu yang tak bersuara menghadapi kondisi negatif, hafizanallah.

Seorang intelektual, barangkali yang terbersit adalah sosok seperti Emile Zola. Padahal ada banyak intelektual kita, misalnya Muhammad al Fatih dalam peristiwa potong tangan dalam manqobah, sekali lagi dalam manqobah…. Ini karena orang-orang mengkritik semua hal dan berkata: “Tidak ada peristiwa seperti itu”. Lalu apakah peristiwa ini nyata ataukah hanya kisah dalam manqobah?. Dalam manqobah disebutkan bahwa Hızır Çelebi, qadi-nya sultan, menjatuhi hukuman potong tangan untuk Sultan Muhammad al Fatih. Mendengar putusan itu, Sultan Al Fatih menerimanya dengan lapang dada. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu seperti gada dari bawah kursinya dan berkata.  “Tuan Hakim! Jika Anda memutuskan perkara tanpa memperhatikan hukum ilahi, sungguh aku akan menghancurkanmu hingga berkeping-keping”. Tak kalah dengan Sultan Al Fatih, Hızır Çelebi juga mengeluarkan belati dari balik lengannya dan berkata: “Wahai Sultanku! Andaikata Anda tak menerima putusanku yang berdasar pada hukum Allah, maka aku tak segan untuk menusukmu dengan belati ini!”.   

Jadi, yang penting bukanlah peristiwa itu benar terjadi atau tidak. Lebih dari itu, Ini adalah ekspresi dari respek kepada kebenaran, keadilan, berlaku adil, menjadi orang yang penuh pengertian, -dengan kata lain- menjadi orang yang penuh cinta dan kasih sayang, serta menjadi orang bersikap dan berperilaku untuk mendekatkan diri kepada Allahﷻ dalam setiap tindakannya, semoga Allahﷻ berkenan mewujudkannya!.

Terdapat cinta hakiki dan cinta relatif. Cinta sejati terdapat pada mereka yang berbagi perasaan dan pemikiran yang sama…. Seperti disampaikan Rumi: “Mereka yang bisa saling memahami bukanlah orang yang berbicara dalam bahasa yang sama, melainkan mereka yang berbagi perasaan yang sama!”. Terdapat beragam level cinta. Teruntuk insan yang menempati saf awal kadar cintanya akan berbeda. Demikian juga kepada insan yang berada di saf kedua, ketiga, dan generasi setelah mereka, hingga mereka yang hanya berdiri di pinggiran serambi. Kita pancarkan cinta untuk mereka sama, namun cinta hakiki diperuntukkan untuk kelompok insan khusus, sedangkan cinta relatif diperuntukkan untuk insan lainnya. Kita secara mutlak berkewajiban membangun hubungan dan kedekatan kepada semua kelompok insan. 

Kadar iman seseorang tergantung pada derajat cinta dan kasih sayang kepada sesama makhluk. Dapat dikatakan bahwa iman dan kasih sayang itu paralel. Orang yang penuh kebencian dan permusuhan, orang yang membenci mukminin, sekadar itu juga derajat keimanannya.  Jika kita melihat mereka dengan pandangan Ahlul Iman, maka kita melihatnya sesuai prinsip حُسْنُ الظَّنِّ مِنْ حُسْنِ الْعِبَادَةِ “husnuzan adalah bagian dari husnul ibadah!”. Untuk itu, seringkali kita tertipu. 

Barangkali jika kita bergerak sesuai kriteria yang dipandu oleh Al-Ustaz Said Nursi, barangkali kita bisa mengurangi probabilitas untuk tertipu : “Husnuzan sambil tetap waspada”. Kita membiarkan wilayah “kehati-hatian” tetap terbuka. Ketika ada orang yang berniat menusuk, kita tak serta merta menyodorkan dada. Kita harus berhati-hati dan mengambil antisipasi. Kita harus bertindak dalam lingkaran kewaspadaan yang di satu sisi merupakan langkah pertama dalam tasawuf. Karena ia digunakan dalam tafaul, artinya kita harus waspada sekali lagi, dan waspada sekali lagi…. Jika perlu kita mencubit diri sendiri supaya tak sempat menguap, tak sempat mengantuk. Dengan apa? Dengan makrifat dan irfan, dengan menguji dalil, muzakarah, dan muthalaah…. Demikianlah cara kita mencubit diri sehingga kesadaran kita selalu ada di level puncak. Mata senantiasa terjaga. Dalam hadis ia disebut “uyun sahira”. Mereka yang matanya tak terpejam saat piket di pos penjagaan akan mendapat pahala seperti beribadah semalam suntuk.   

Ya, iman merupakan sesuatu yang sangat penting. Ketika kita membangun sesuatu di atas pondasi yang kokoh, berkat izin dari Allahﷻ akan diraih imani billah, lalu makrifatullah, lalu mahabbatullah, hingga datanglah kenikmatan ruhani. Demikian lezatnya nikmat ruhani itu, nikmat lain seperti makan, minum, dan nikmat jasmani lainnya ibarat tetesan air di hadapan samudera. Setelah itu terdapat derajat “kecintaan bertemu Allahﷻ”, Itu adalah jalannya sosok-sosok agung. Lalu karena derajat itu adalah jalannya fulan dan fulanah, astagfirullah, maafkan saya, mereka tidak layak disebut fulan dan fulanah, Lalu apakah kita bisa berkata: ”Derajat tersebut hanya untuk sosok agung. Kita cukup jalan yang biasa saja”. Oo tidak bisa. Cita-cita kita untuk mencapai derajat maknawi harus setinggi langit. Untuk itu, Rasulullahﷺ pernah bersabda: “Di akhirat nanti mintalah surga firdaus kepada Allahﷻ. Karena itu adalah surga di level puncak”.  Siapa tahu, mungkin dengan cara ini kita bisa menikmati Jamaliah-Nya dari lereng-lereng jumat di surga firdaus. Barangkali jawaban “Aku meridai kalian!” di puncak Ridwan juga akan terdengar di sana. Untuk itu, saat menginginkan sesuatu, inginkanlah cita-cita yang agung. Jangan inginkan cita-cita yang sederhana.    

Ya, imani billah, makrifatullah, mahabbatullah, lalu zawq ruhani datang dengan sendirinya. Zawq Ruhani otomatis diraih. Apabila Anda menekuni tugas ini demi zawq ruhani semata, menurutku Anda mencita-citakan sesuatu yang remeh. Jika Anda tetap menginginkan sesuatu, pintalah: “Ya Allah, hamba ingin tulus dalam semua perbuatan hamba, demi meraih ridha-Mu dan berada di sisi-Mu dengan cinta dan pengabdian yang murni.”     

Gunakanlah semua upaya untuk meraihnya!

Kembali ke pembahasan. Iman dan mahabbah ibarat saudara kembar. Terkadang mereka mendukung satu sama lain, kadang mereka timbul sebagai hubungan sebab akibat.

Seperti yang Anda ketahui, saya mengidap puluhan penyakit. Namun, kita lihat Rasulullahﷺ, Sayidina Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, mereka tak berhenti mengabdi hingga detik-detik akhir kehidupannya.

Saya akan bercerita sesuatu yang saya ceritakan kepada teman-teman dekat anggota halakah tafsir hadis sebuah peristiwa yang baru terjadi. Secara pribadi, saya tak pernah bertemu mereka, sosok-sosok al allamah di periode terakhir : Husrev Efendi, Aslen Arnavut, Mehmet Akif. Mereka adalah cendekiawan besar di Istanbul. Anda mengenal  Ömer Nasuhi Hoca?.  Banyak teman-teman kita yang mengkaji kitabnya, Istılâhât-ı Fıkhiyye Kamusu, yang berkata: “Karyanya yang tebalnya berjilid-jilid ini seperti sudah cukup menjadi bukti bahwa beliau adalah seorang mujaddid”. Beliau sekampung dengan saya di Erzurum, dari desa Ova. Husrev Hoja berkata: “Diamlah wahai orang bodoh! Kamu hanya mengulik buku seperti orang yang mengaku dirinya akademisi. Kutip dari sini, kutip dari sana, kamu rangkum menjadi buku. Itu bukanlah ilmu!.” Seperti disebut Imam Ghazali: “Catatanmu di buku tulis tak bisa disebut sebagai ilmu!”. Ilmu harus dicerna oleh saraf, seperti yang kalian rasakan ketika hari ini membaca ihya. Ömer Nasuhi Hoca dengan mudah memilih hadis dengan tepat sesuai tempat, kapan harus menggunakan kata mutiara, dan bagaimana menganalisis masalah. 

Demikian juga Husrev Efendi. Beliau tak pernah menunda 1 menit pun pengajaran kepada murid-muridnya. Saya tak hafal umurnya.  Mahmud Bayram Hoja adalah salah satu muridnya. Aku beruntung bisa berjumpa dengannya, beliau adalah penceramah masyhur sekaligus imam Masjid al Fatih. Beliau juga salah satu murid Salih Efendi. Yaşar Tunagür Hoja, sosok yang amat kuhormati, mantan Wamenag yang pengabdiannya tak kalah dengan 20 Menag, semoga ruhnya terpuji di sisi Allahﷺ, beliau juga murid Husrev Efendi. 

Husrev Hoja tak pernah meninggalkan pengajaran. Seingatku, beliau mengijazahi kitabnya Imam Taftazani berjudul Tavzih sebanyak 30 kali. Beliau mengkhatamkan pengajaran Tavzih sebanyak 30 kali, Sebuah kitab masyhur yang membahas ushul. Beliau selalu mengajar. Suatu hari, beliau sakit. Kali ini para santri membentuk halakah di sekitar tempat tidurnya. Beliau pun mengajar dengan kitab di tangannya. Namun, terkadang tangannya tak kuat memegang buku sehingga beberapa kali terjatuh. Husrev Hoja menangis dan berkata: “Ya Rabbi, kini memegang kitab pun aku sudah tak kuat!”. Meskipun demikian, beliau terus berusaha mengajar semampunya.    

Sebagaimana Sayidina Abu Bakar menggantikan Rasulullahﷺ mengimami salat di saat beliau tak sanggup berdiri, maka sebelum nyawa tersisa di kerongkongan marilah kita tunaikan tugas kita semaksimal mungkin. Ada puluhan penyakitku, tetapi jika aku berhenti melakukan tugas pengabdian itu seperti pembangkangan kepada Rasulullahﷺ, itu seperti pembangkangan kepada sosok-sosok agung lainnya. 

Dan suatu hari saat kitab jatuh dari pegangan tangannya, ruh Husrev Efendi benar-benar berpisah dari jasadnya, semoga posisinya terpuji di sisi Allahﷻ. Semoga Allahﷻ membangkitkannya di samping Sang Cahaya Abadi. 

Di satu sisi, terdapat kegilaan dalam menunaikan tugas sebagai guru. Mengajar artinya menjelaskan sesuatu kepada umat manusia. Di sisi lain, betapa luas ufuk taslimiyahnya…. Aku menyimak kisah ini 50 tahun yang lalu. Aku mendengar dari muridnya 55 tahun yang lalu…. Aku tak bertemu langsung dengan sosoknya. Cerita ini kudengar dari muridnya. Namun, sampai sekarang aku tak bisa mencernanya! .

Yaşar Tunagür Hoja berkata: “Kami berangkat ke rumah Husrev Efendi, tempat beliau mengajar. Suatu hari, ketika masuk kami melihat sesuatu di depan pintu, terdapat air mendidih di dalam kuali dengan api menyala di bawahnya. Juga ada peti mati dan meja pemulasaraan. Husrev Hoja mengajar seperti biasa. Kami pun tak berkomentar. Sebelum pulang, kami bertanya: “Guruku, untuk apakah alat-alat ini?”. Beliau menjawab: “Putriku yang sedang kuliah kemarin meninggal. Air panas, peti mati, dan meja itu untuk memulasarakan jenazahnya!”  

Demikianlah ketika seseorang jatuh cinta pada tugasnya!. Demikianlah bersikap bijaksana dalam membimbing manusia menuju makrifat. Inilah majnun kepada tugas. Ketika mereka bersikap demikian, demikian pula sikap Anda meski dalam cakupan yang lebih kecil, sebagai respek saya kepada Anda, meski sakit saya merasa wajib untuk menemui Anda.

Barangkali pada suatu hari di sini, bisa jadi itu hari ini atau besok, saya merasa akan wafat ketika berdiskusi dengan Anda. Dan sebenarnya inilah kondisi yang saya harapkan. Saya senantiasa berdoa: “Ya Allah, ambillah nyawaku dalam kondisi saat aku dekat denganmu, yaitu ketika sujud”. Perasaan ini baru pertama kali saya bahas kepada Anda.  

Saya berharap wafat ketika bersujud, atau ketika mendiskusikan sesuatu di sini. Namun, apa manfaat mati dalam keadaan itu?. Apa boleh buat, sepertinya itu saja taraf yang bisa kulakukan. Apa yang sekiranya kalian harapkan dari Qitmir? Qitmir, seperti halnya qitmir-nya para ashabul kahfi.

Aku tak pernah menganggap diriku seperti manusia yang baik. Orang-orang bisa saja berkata: “dia maksum dan maksun”. Namun, aku takut seperti takutnya Aswad bin Yazid an Nakhai, hafizanallah. Aku takut wafat seperti Bal’am bin Baura. Sebelum tidur, aku selalu berdoa: “Ya Allah, jangan sampai aku mati dalam keadaan kafir!”. Entah doa apa saja yang kubaca hingga akhirnya hanyut dalam tidur. Aku berdoa lagi dan lagi: “Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan aku sebagai orang kafir“. Aku sangat takut mati dalam keadaan kafir. Kekhawatiran yang serupa dengan yang dirasakan Aswad bin Yazid an Nakhai.   

Puluhan kali Anda menyimak bahwa Ummul Mukminin Aisyah berdiri sejam lamanya, dan berkali-kali mengulang bacaan ayat: Dan jelaslah bagi mereka kejahatan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh apa yang dahulu mereka selalu memperolok-olokkannya (QS 39:48). Mengulangnya layaknya wirid. Jika saya yang mempraktikkannya barangkali Anda akan menyebutnya sebagai gumaman. Namun, karena ia adalah sultannya para wanita, kita menyebutnya sebagai wiridan. Pada usianya yang ke-14 atau 15, ia bermukim di rumah yang dihujani oleh wahyu. Beliau bahkan tak melihat dosa dalam mimpinya. Entah mengapa beliau tetap menangis, tak mampu aku memahaminya. Jika beliau menangis, barangkali yang layak kita lakukan berkat perasaan ini adalah menghentikan detak jantung.  

Celakalah orang-orang malang yang merasa dirinya tak berdosa dan yang merasa bahwa kezaliman yang dilakukan hanyalah bagian dari pekerjaan. Celakalah mereka yang menyiarkan penghancuran peradaban 1400 tahun yang dibangun 100 tahun terakhir, serta yang melakukan semua kejahatan dengan uang negara karena bersemboyan: “Uang negara ada sebanyak lautan, mereka yang tak memakannya bodoh seperti babi”. Jika Allahﷻ menakdirkan untuk mengangkat mereka, maka terjadilah, semoga Allahﷻ memberi mereka akal dan kemampuan berpikir. Jika tidak, semoga Allahﷻ menjaga umat manusia, kaum muslimin, dan dunia islam dari para pendosa dan penjahat itu.

Namun, bagaimanapun seperti segala sesuatu mereka pun tak kekal. Ada syair Gönenli Mehmet Efendi: “Ketika rantai arloji sampai diujung, ia tak mampu lagi berdetak. Sekarang jam tidak pakai rantai. “Ketika pegas arloji rusak, maka ia tak lagi berdetak. Arloji berpegas pun sekarang sudah tidak musim. “Ketika baterai habis, ia tak lagi bisa berdetak”. “Saat waktunya tiba, mereka berkata kepada roh: ‘Ayo keluar, keluar!’ / Andai kau menghamba kepada Sang Haq / Karena di akhirat suaramu takkan didengar . Wassalam…

mikael-kristenson-3f4sQIums6k-unsplash

Perjalanan Kekariban, Keamanan Jalan, dan Pertolongan

Ketika kita melihat apa yang terjadi melalui lensa akhirat dan konsekuensinya, yang muncul adalah gambaran yang benar-benar berbeda…!

Melibatkan harapan duniawi pada pekerjaan-pekerjaan ukhrawi selain menyebabkan kegagalan, ia juga mengisyaratkan syirik. Segala puji dan sanjungan hanyalah bagi Sang Pencipta, ketika sedang memperjelas posisi kita dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya meskipun prosesnya penuh dengan masalah Dia melalui sebuah lereng, wilayah, pelabuhan, dan dermaga yang tersedia lagi cocok menghentikan kita seakan berfirman: “Tunggu di sini!”. Barangkali salah satu di antaranya akan terbang di angkasa. Atau mungkin seperti cerita yang dikarang Jules Verne, dia akan melakukan perjalanan melintasi bintang-gemintang. Namun, jika hasilnya adalah kegelapan di hari kiamat maka untuk apa semua capaian itu? Al-Ustaz Badiuzzaman Said Nursi menyampaikan di banyak tempat tentang asas dari benih tersebut: “Iman secara maknawi sedang mengandung benih yang akan melahirkan pohon tuba di surga nanti. Sementara kekufuran secara maknawi sedang mengandung benih dari pohon zaqqum dari neraka jahanam.” Maka sebenarnya mereka senantiasa menelan benih pohon zaqqum sepanjang umurnya, hafizanallah. 

Untuk itu, apapun masalah yang menyekat tenggorokan kita, setelah kita menolehkan pandangan mata kita ke alam berikutnya ia akan hilang berkat izin dan inayat ilahi. Apalagi jika jalannya mendatar tanpa rintangan dan penghalang!

Ketika Sang Potret Kebanggaan Umat Manusia menutup mata dan rohnya bersiap untuk mengembangkan sayap layaknya merpati untuk terbang menuju ke rahmatullah, segala sesuatu tak lagi bernilai di depan mata ini. Tenaga menjadi hilang hingga tak sanggup lagi untuk berdiri. Semoga nyawaku pun turut dicabut…! Demi melihat kerumunan orang berkumpul dalam semangat penghambaan sebagaimana mereka berkumpul di sekitar Ka’bah, maka Sayidina Abu Bakar beranjak untuk mengimami salat… Barangkali peristiwa tersebut terjadi di Madinah. Namun, menggunakan istilah yang digunakan Badiuzzaman, di mana pun manusia berada, ketika ia bertawajuh ke arah Ka’bah dalam bentuk lingkaran halakah, maka ujung jalan akan terhampar hingga Sidratul Muntaha… Ya, ketika memandang pemandangan yang menyiratkan harapan, manis, nan lembut ini Rasulullah pun tersenyum. Meskipun energinya bahkan tak sanggup untuk menyiratkan senyuman, tetapi sungguh beliau sedang tersenyum. 

Insya Allah Sang Maha Pengasih menakdirkan Anda semua untuk menyaksikan menit-menit yang lezat, manis, indah, nan legit ini. Ya, Dia bisa menggubah dunia layaknya surga bagi Anda. Ketika menatap dunia dengan pandangan ini sungguh ia akan jadi sangat berbeda. 

Bukankah dalam suatu kesempatan terdapat sebuah kalimat yang disandarkan kepadanya, Rasulullah bersabda:  اَلدُّنْيَا جِيفَةٌ، وَطَوَالِبُهَا كِلاَبٌ yang artinya “Dunia itu adalah bangkai, yang mencarinya (dunia), adalah anjing.” Apabila dunia diucapkan demikian oleh Sang Pemilik lisan yang Suci, itu pasti karena adanya kesepakatan yang secara lahiriah menuntutnya demikian. Setelah sabda tersebut, penjelasan apapun yang dirangkai guna menerangkan makna dunia tak akan sebanding dengannya. Semua yang beliau katakan selaras dengan hakikatnya.  Dalam hal ini, beliau menyebutnya “qilabun (anjing)”. 

Mereka yang menjalankan kehidupan dengan kesadaran bahwasanya dunia adalah ladang yang hasilnya akan dipanen di akhirat sekaligus sebagai cermin manifestasi nama-nama ilahi, di hari akhir nanti akan menyaksikan Jamalullah dari peraduannya. 

Untuk itu, pada dunia terdapat sisi-sisi lahiriah cerminan dari asma-asma ilahi. Sebagaimana disampaikan oleh Badiuzzaman, dunia adalah mazraatul akhirah, ladang akhirat. Anda dapat menyaksikan nama-nama-Nya yang agung ketika memperhatikan seluruh sisi dunia.

  تَأَمَّلْ سُطُورَ الْكَائِنَاتِ فَإِنَّهَا * مِنَ الْمَلَإِ اْلأَعْلَى إِلَيْكَ رَسَائِلُ

“Tafakkurilah baris-baris alam semesta sedalam mungkin. Itu karena mereka adalah pesan-pesan ilahi yang diturunkan dari Tempat Tertinggi untuk kalian semua.” “Seluruh alam semesta adalah suatu kitabullah yang agung/huruf mana pun yang kau eja di situ muncul Nama Allah.” (R.M. Ekrem)

Apabila kita melihat sisi-sisi ini, pada prinsipnya mereka pun menyiratkan-Nya. Mereka ibarat lensa dan proyektor yang disesuaikan dengan level-level setiap manusia. Sekali lagi, di satu sisi seorang manusia akan berkata: “Aku ingin melihat-Nya!” ketika berkontemplasi tentang-Nya. Aku sendiri terlihat. Karena aku terlihat, aku yakin akan bisa melihat-Nya, insya Allah. Semoga Allah menganugerahkan level dan derajat pada dua ufuk tersebut, insya Allah. Mari kita menjalani hidup dengan mengaitkan diri dari kesadaran bahwasanya kita “disaksikan”. Semoga di waktu berikutnya Allah memuliakan kita dengan kesempatan untuk mampu “menyaksikan-Nya”. 

Sebagaimana disampaikan pada kitab Bad’ul Amali, 

يَرَاهُ الْمُؤْمِنُونَ بِغَيْرِ كَيْفٍ

وَإِدْرَاكٍ وَضَرْبٍ مِنْ مِثَالٍ

“Orang mukmin melihat-Nya tanpa melalui sarana/alat. Padanya juga tidak dapat dicarikan padanannya. Dalam bahasa hadis: “Kaum mukminin menyaksikan-Nya tanpa sarana ataupun alat seperti saat mereka menyaksikan bulan purnama.’ Ini merupakan ungkapan yang menyatakan kemudahan memandang. Ungkapan ini tidak menyatakan bahwasanya Allah mirip dengan purnama, matahari, atau apapun yang bisa dilihat oleh mata kita1. Semua manusia akan mampu melihat Zat Allah Yang Maha Agung, Sang Pengelola alam semesta ini dengan kapasitasnya masing-masing. 

Bait tersebut ada kelanjutannya, berikut sambungannya:

يَرَاهُ الْمُؤْمِنُونَ بِغَيْرِ كَيْفٍ

وَإِدْرَاكٍ وَضَرْبٍ مِنْ مِثَالٍ

فَيَنْسَوْنَ النَّعِيمَ إِذَا رَأَوْهُ

فَيَا خُسْرَانَ أَهْلَ الْاِعْتِزَالِ

Mukminin mampu menyaksikan-Nya tanpa alat dan tanpa sarana. Tak ada permisalan yang sepadan dengannya. Begitu menyaksikan-Nya, mereka akan lupa pada segala nikmat surga. Betapa meruginya kaum muktazilah yang mengatakan “Allah tak bisa disaksikan”. Ketika mereka menyaksikan-Nya, mereka akan melupakan nikmat-nikmat surga. Meskipun ada istana, di mana sungai mengalir di kakinya, di mana para bidadari menantikannya, .. menyaksikan-Nya, di hadapan pemandangan yang sanggup membuat pingsan akan membuat ahli surga berkata: “apa pentingnya nikmat-nikmat tersebut” .. Demikian kira-kira…

Apabila kesempatan menyaksikan-Nya telah diraih, artinya tidak ada lagi hal yang perlu dikejar. Demikianlah takaran posisinya. Biarlah nyawa ini menjadi tebusan bagi Zat yang memberikan urgensi pemosisian ini…! Pemandu kita dalam perkara ini adalah pemandu yang tak menyesatkan, shallallahu alaihi wasallam. Pada masa ini, penerjemah Rasulullah, yang mengikuti langkah-langkahnya senti demi senti, adalah Ustaz Said Nursi. Beliau akan berbahagia di Firdaus-Nya, insya Allah. Tangannya akan memegang bahu kita, beliau menyokong kita dari belakang, insya Allah. Apabila kita meniti jalannya dengan memegang Risalah Ikhlas, Ukhuwah, dan semangat untuk meninggikan kalimat Allah, insya Allah Anda telah berada di bawah panduan tangan dan garansi yang kuat. Setelah ini tidak ada lagi hal yang perlu dicoba. 

Kita tidak perlu mengaku sebagai orang suci. Apabila semua saudara-saudara kita melakukan muhasabah mendalam dan merenungi makna tanggung jawab yang diembannya, serta memisahkan diri dari keakuan untuk kemudian berlindung di bawah kekuatan dan kewenangan Allah, itu sudah cukup.

Adalah tidak tepat untuk melihat permasalahannya dari satu sisi saja. Terdapat sekelompok orang yang pada periode waktu tertentu tak mampu menahan kecemburuannya kepada Anda. Mereka berusaha mendirikan institusi-institusi sosial sesuai kebutuhan mereka. Ketika Anda muncul dengan beberapa perbedaan, mereka kemudian mengamuk karena cemburu. Misalnya terdapat kejadian seperti ini. Namun, ketika kita memahami permasalahannya seperti itu, dalam hati kita kemudian membuih perasaan untuk menyalahkan mereka. Meskipun ini salah, kita dapat menyebutnya sebagai “kesalahan ijtihad”. Karena saat ini kezaliman, keburukan, dan kemaksiatan menunjukkan demikian. Ini adalah lapisan diryah yang paling dasar. Ziya Gokalp menyebutnya sebagai “merajalelanya dosa”

Permasalahan kedua sebagai berikut: Allah jalla jalaluhu telah memberi kita banyak kesempatan. Ketika sedang membahas saudara kita yang baik ini, saya tidak pernah ingin mengungkapkan pikiran-pikiranku tentang dirinya.  Namun, sebagai pengingat dengan menautkan permasalahannya kepada diriku sendiri, maka saya berkata: “Seandainya saya mampu bersikap logis lagi tepat, barangkali tawajuh orang-orang ini akan bertansformasi menjadi pengabdian-pengabdian yang indah! Sayangnya, dikarenakan diriku memotong permasalahannya sedemikian rupa, pengabdian ini pun tersendat…! 

Aku tak bisa menilai saudaraku dengan pendekatan ini. Namun, terdapat satu hal yang ingin aku ingatkan: “Tidak masalah bagi saudara-saudara kita untuk bertawajuh kepada Allah dengan pendekatan seperti tadi.” Sebagaimana Anda ketahui Al-Ustaz Said Nursi berkata: “Lakukan tazkiyah nufus dengan tidak melakukan tazkiyah nufus (Lihat An Najm: 32).” Jangan anggap diri kita suci. Terdapat penjelasan dalam kata ke-31:

إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِيَدِ الرَّجُلِ الْفَاجِرِ

Beliau berkata: “ Terkadang Allah meninggikan agama ini melalui tangan orang-orang fajir (pendosa)”. “Karena Anda tidak suci, barangkali Anda perlu menganggap diri sebagai seorang fajir,” lanjutnya. Dari sisi ini, setiap pribadi perlu memandang dirinya demikian. Pendekatan ini selain penting dalam rangka membersihkan diri, ia juga penting untuk menyadarkan bahwa dirinya tidak memiliki kontribusi apa-apa. Semakin kita memisahkan diri dari kekuatan, kehendak, dan kebajikan kita sendiri, maka semakin kita mengandalkan dan berlindung pada kekuatan, kekuatan, rahmat, dan kebijaksanaan-Nya.  Memang inilah pendekatan yang tepat.

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Tiada daya dan upaya kecuali terwujud berkat izin dan kehendak Allah.

Selain itu, kita juga perlu memandangnya seperti ini: “Di mana kiranya kita membuat kesalahan!” Misalnya: “Apakah ia terjadi karena kurangnya analisis kita? Apakah kita bergerak sendirian? Seandainya sedari awal kita membuat keputusan melalui keputusan kolektif dan musyawarah! Ini persoalan yang berbeda tentu… Terkait hal ini kita bisa membuat daftar lainnya… Namun, permasalahan ini secara khusus perlu mempertimbangkan tiga hal fundamental sebagai bahasan utama.

“Bersama kesulitan terdapat kemudahan.” Pada setiap peristiwa-peristiwa sulit kita juga perlu melihat beragam anugerah ilahi lainnya. 

Terdapat sisi-sisi baik dari setiap permasalahan. Memang segala hal bermula dari kebaikan. Misalnya di suatu negara praktik agama dilarang. Sebagaimana Anda ketahui, TPA Al Qur’an pun dilarang. Pada masa itu, aku tetap berangkat ke TPA Al-Qur’an. Mereka membuat terowongan dari kandang sapi menuju ruangan pengajar Al Qur’an. Di situlah kami, anak-anak, belajar mengaji. Saya ingat bagaimana Satpol PP membongkarnya. Dalam masa yang demikian, apa yang dilakukan Ustaz Said Nursi? Pada masa itu tidak terlalu buruk, terdapat 2-3 orang yang berkumpul di rumah-rumah belajar… Jadi masalah-masalah itu di satu sisi menunjukkan jalan keluar yang luar biasa bagi kita, insya Allah. Apa yang kita capai pada hari ini bermula dari kondisi sulit tersebut…

Demikianlah sisi-sisi positifnya. Barangkali saat ini Allah sedang menekan kita, tetapi dalam setiap kesulitan terdapat kemudahan: فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . Demikian firman Allah dalam Surat Al Insyirah. Artinya di periode Mekkah kalbu mulia Nabi Muhammad sangat tersiksa. Untuk itu Al-Qur’an berkata: وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ

“Dan Kami telah menghilangkan daripadamu beban yang memberatkan punggungmu? (Al Insyirah 2-3).” “Beban yang dapat meremukkan tulang punggungmu…” Beliau menghadapi kondisi yang demikian. “Namun, kamu harus tahu bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan”

Selain kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, ternyata Allah juga mendorong kita untuk menemukan hal-hal baik dan indah lainnya. Dia menebarkan kita ke seluruh penjuru dunia. Pada satu masa mereka bertebaran secara sukarela.. Ini pun pasti ada hikmah yang tak mampu dicerna akal kita.. Jika mereka di masa itu tidak berangkat, jika mereka tidak menerjemahkan perasaan, pemikiran, serta prinsip-prinsip Anda, barangkali para “muhajir” yang datang kemudian tidak akan disambut sehangat ini… Di negara-negara tujuan, teman-teman Anda telah membangkitkan profil yang sangat bagus di tengah masyarakat lokal. Masyarakat lokal pun menyambut teman-teman yang datang kemudian dengan rangkulan erat yang hangat. Ini adalah contoh hal-hal positif di masa yang sulit. 

Setelah ini, kita harus bersikap sesuai situasi dan kondisi. Terdapat teman-teman yang telah berangkat dan tinggal di sana. Apabila terdapat pihak-pihak tertentu yang berusaha merusak kedamaian dan merusak perencanaan Anda, Anda tetap harus mengerjakan tugas ini, insya Allah. Mereka datang dengan agenda untuk merusak tatanan ini. Merusak itu mudah. Namun, mereka pasti berada dalam golongan yang kalah di sisi Allah. Ya, demikianlah kita harus memahaminya. Dalam satu jangka waktu tertentu kita perlu melihatnya seperti ini. 

Gangguan-gangguan tadi menyebabkan tetesan darah. Darah itu juga membasahi kalbuku, ia mengusir kantukku, dan memicu penyakit-penyakit baru bagiku. Namun, kita harus mengencangkan geraham dan bersabar. Kita perlu menyambut ujian-ujian ini dengan wirid yang biasa kita baca pagi dan sore hari:

رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) رَسُولاً

Dalam beberapa riwayat terdapat lafal: رَسُولاً نَبِيًّا 

Aku rida bahwa Allah adalah Rabb-ku, Islam adalah agamaku, dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul“.

 Dengan wirid ini kita tebas segala perasaan, pemikiran, takhayul, dan imajinasi negatif, insya Allah. 

Di satu sisi kita menjalankan hidup sesuai ufuk rida dengan senantiasa berharap akan rida dan membuat Allah senang dengan pekerjaan kita, di sisi lain kita merencanakan beragam aksi sesuai kebutuhan, situasi, dan kondisi dunia tempat kita hidup saat ini, mudah-mudahan dengan demikian kita menjadi orang-orang yang berjalan lurus menuju Allah, insya Allah. Kita adalah pejalan kekariban (kedekatan dengan Allah). 

Para sufi mempraktikkannya di majelis-majelis zikir: “Fana fis syaikh”, “ Fana fir rasul”, “Fana fillah”, Baqabillah-ma’allah”, “Sayir anillah”… Anda akan berangkat serta mengalami naik dan turun. Anda akan pergi, Anda akan kenyang, Anda akan puas; benar-benar akan marem, Anda akan meluap, luapan ini terjadi dengan izin Allah. Anda akan berkata: “Saya wajib menyampaikan kebaikan-kebaikan ini”. Pahamilah semangat menghidupkan orang lain seperti ketika Abdul Quddus menerangkan kondisi Rasulullah: “Demikian tingginya derajat yang dicapai dan kualitas yang dilihat! Jika aku yang meraihnya, sungguh aku tak akan pulang ke bumi. Namun, beliau memutuskan untuk pulang ke bumi!”. Waliullah lainnya berkata :”Inilah perbedaan level antara kenabian dan derajat-derajat lainnya, pahamilah ini baik-baik!”

Inilah semangat menghidupkan orang lain.. Selain itu adalah semangat untuk melanjutkan hidup. Itu pun tidak hina. Jika masuk surga, dirimu akan menjadi bidadari yang awet muda. Demikianlah penjelasan Allah dalam Al-Qur’an. Namun, tidak ada satu pun yang setara dengan semangat menghidupkan orang lain. Dengannya Anda akan merengkuh tangan dan mengangkat derajat orang lain dan seterusnya…

Perasaan ini akan terus datang dan pergi. Ketika perasaan terus menghantam kita bertubi-tubi, bersegeralah kita ambil resep solusinya sembari memanjatkan munajat: “Ya Rasulullah! Aku menghadapi masalah pelik. Kira-kira apa solusinya?” Barangkali beliau akan menjawab: “Apakah kamu tidak membaca sirahku..?!”

Ketika memulai kehidupan baru di negara tujuan, yang harus menjadi target selain kemampuan berintegrasi dengan masyarakat lokal, kita juga tak boleh longgar dalam menjalankan perintah agama.

Bahasan lainnya adalah puji syukur kita bisa berhijrah, bermigrasi. Ada yang di Kanada, California, Jerman, Inggris, Belanda, Amerika, bahkan Afrika! Yang perlu diperhatikan, di sana terdapat orang-orang yang tumbuh dengan matang setelah membaca dengan benar seluk beluk budaya lokal. Maka, apabila kita bergotong royong dalam prinsip:

 مَا خَابَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Orang yang bermusyawarah tidak akan merugi.”

Dengan prinsip ini kita akan menjadi orang beruntung. Berkat izin dan inayat ilahi kita akan berhasil mendapatkan untung, kemungkinan merugi akan dapat diturunkan semaksimal mungkin.    

Kita perlu membaca legenda geografis dengan benar. Oleh karena itu, di dunia bagian mana pun kita berada, kita perlu untuk menentukan hal-hal yang akan kita katakan serta gestur apa yang digunakan ketika kontak langsung dengan orang-orang di sana sembari memperdalamnya dengan semangat representasi. Dengan kata lain, selain ekspresi kenabian – saya katakan “di samping ekspresi kenabian” – tempatkan “sikap” dan “representasi” dalam baris-baris pembahasan ini. Maksudnya, pada prinsipnya setiap sikap kita harus sama senti demi senti dengan apa yang kita sampaikan. Demikian cara kita berintegrasi dengan masyarakat lokal. Masyarakat tersebut pun akan melihat kita sebagai individu bahkan komunitas yang merupakan bagian dari entitas mereka..! 

Selain itu, ketika berada di negeri yang asing akan terdapat sesuatu yang dominan dan berasal dari luar dunia kita di mana hal-hal tersebut bisa mempengaruhi kita. Ia dapat berupa uslub, gaya hidup, maupun sistem kepercayaan. Contoh lain adalah nilai-nilai kemanusiaan. Ia bisa berada di barisan terdepan… Namun, terdapat beberapa perintah agama. Kita diharuskan mampu berdiri teguh menentang gaya hidup bohemian, membuat semacam konservatori, di mana kita bisa hidup aman di dalamnya… Poin-poin ini sangat penting bagi kita dan bagi generasi penerus kita. Buku-buku yang dibaca pemuda-pemudi kita adalah buku-buku yang berasal dari latar belakang negeri itu. Kita perlu melakukan upaya untuk menjunjung nilai-nilai kita sendiri setinggi langit serta membuat para pemuda-pemudi mencintainya. Adakah orang yang melihat gaya hidup hampir utopis masyarakat Asr Saadah yang tak jatuh cinta padanya?  Demikian baiknya nilai ini diselipkan dan disampaikan, sehingga anak-anak kita kemudian mampu membangun konservatori yang melindunginya dari asimilasi negatif, insya Allah.

Himmat adalah praktik yang dilaksanakan sejak masa Asr Saadah. Pada hari ini namanya, wilayah jangkauannya, dan bentuknya sedikit berubah menjadi “muawanah2.  Apapun nama dan sebutannya, membantu mereka yang membutuhkan merupakan bagian dari hutang budi yang ingin kita bayar.

Rasulullah ketika memulai usaha ini mengawalinya dengan mengumpulkan himmat dari orang-orang. Ketika itu, mereka akan pergi ke Tabuk. Mereka memerlukan beragam perbendaharaan yang amat serius. Bagaimana ia dijalankan berarti ia diwujudkan sesuai dengan kebutuhan di masa itu. Maka Rasulullah pun mengumpulkan himmat. 

Apa yang kumpulkan pada hari ini pun disebut “himmat”. Anda mengumpulkan “himmat” hampir di setiap kesempatan. Dari situ Anda memberi beasiswa, membangun asrama, membuka pusat bimbingan belajar, dan sebagainya.

Rasulullah kemudian membukanya dengan pidato yang paling berpengaruh. Demi sabdanya, gunung, bebatuan, pepohonan, bahkan hewan sekalipun akan memberi jawaban. Apabila Anda memperhatikan risalah Al-Ustaz Said Nursi yang membahas mukjizat Rasulullah, demi mendengar panggilannya segala sesuatu menjawab “Labbaik (Aku penuhi panggilanmu, Ya Rasulullah)!” dan berlari ke arahnya. 

Terdapat hal-hal menarik dari peristiwa tersebut. Sayidina Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali bertindak sesuai karakter mereka yang agung. Sayidina Abu Bakar menyerahkan semua hartanya. Sayidina Umar memberikan setengah hartanya. Sayidina Ali menyerahkan separuh donasinya secara sembunyi-sembunyi dan separuhnya lagi secara terang-terangan. Sayidina Usman seperti diketahui memberi 500 unta. Apa yang mereka lakukan telah menjadi legenda. 

Namun, ada saja orang-orang yang tak memahaminya. Misalnya terdapat orang yang berbicara: “Jadi sekarang kita harus memberikan harta yang dikumpulkan dengan peluh keringat ini ke sakunya..?”. Lalu ada orang yang memahami pesan ini, ia kemudian berlari ke rumahnya. Ia keluar membawa semaksimal mungkin yang bisa dibawa dan berkata: “Ambil ini, Ya Rasulullah!” Demi melihatnya orang yang pertama kemudian berkata: “Ternyata yang diharapkan adalah pendekatan seperti itu.” Demikian kira-kira. 

Dari situ ternyata kita tidak bisa paham begitu saja. Semoga Allah meridai teman-teman dan guru-guru yang telah menanamkan semangat berinfak dalam benak kita. Demikian berkembangnya semangat ini berkat izin dan inayat ilahi, saya ingin menyampaikan satu kisah dari banyak peristiwa yang saya saksikan, bahkan saya ingin menyebut nama tempatnya:

Dalam sebuah aula di Bozyaka. Sekali lagi al-fakir menyampaikan pesan ini tanpa sistematika sebagaimana saya membuat kepala Anda sakit saat ini. Kemudian rekan-rekan yang bertugas mengambil buku tulis dan pensil. Mereka menanyai satu per satu: “Kamu bisa kasih berapa? Kalau kamu berapa?” Orang-orang kemudian menyebut janji seakan ia dipetik dari kalbunya. Setelah berbicara saya mundur karena merasa sedikit malu. Saya merasa seperti meminta-minta, tetapi apa boleh buat. Kalau tidak demikian turbinnya tak berputar. Dibutuhkan kekuatan air terjun untuk bisa menggerakkannya. Saya mundur ke kamar. Kemudian seorang purnawirawan militer yang juga terlibat dalam usaha pengabdian ini datang tergopoh-gopoh sambil menyerahkan kunci. Matanya sembab dan berkata: “Ustaz, saya tak punya uang. Ini saya kasih kunci rumah yang baru saya beli dari uang pesangon saya.” ini adalah peristiwa yang tak mungkin saya lupakan…

Namun, betapa banyaknya peristiwa yang tak bisa kulupakan. Donasi di suatu tempat sayangnya berjumlah sedikit. Ini membuat saya gelisah. Saya pun berkata: “Kekurangannya dari saya. Saya janji akan berdonasi 100ribu lira!” Aku menyebutnya tanpa berpikir bagaimana bisa mendapatkannya. 1-2 hari kemudian seseorang yang kalian kenal, ipar-iparnya juga dermawan, mereka di dalam hizmet. Entah bagaimana saya datang sarapan di rumah mereka. Saya tak meminta apa-apa. Mereka pun jarang muncul. Lalu mereka berkata: “Ustaz, Anda menyampaikan janji donasi sebesar 100ribu lira. Jika diizinkan, biar saya yang membayar donasi itu.” Ya, di satu tempat Anda melangkah dengan berani. Allah-lah yang kemudian menjawabnya. Pada hakikatnya Anda malu melakukannya dan meringkuk seperti tongkat bengkok. 

Sebagaimana terbiasa dengan himmat, demikian juga dengan muawanah. Namanya saja yang berubah, demikian juga tujuan penyalurannya. Dulu kita mengerjakannya di Turki. Kini, kita ke luar negeri. Terdapat banyak orang yang harus dirawat dan diperhatikan, orang-orang yang perlu dibantu, dari kalangan wanita dan anak-anak. Ada banyak orang yang syahid, meninggal dunia di tengah perjalanan. Mereka perlu dirawat dan diperhatikan.

Bagaimana kita melakukannya di luar, misal di Amerika, atau di Jerman? Barangkali di LSM dan yayasan di luar sana mereka mempunyai anggaran untuk membantu orang-orang ini. Bisa saja mereka yang menunaikan tugas ini. Namun, kita harus yakin dan percaya bahwa kita juga bisa.

Jika kemarin kita melakukannya melalui kata, hari ini kita membungkusnya dengan sikap dan representasi. Kita bergerak bersama layaknya paduan suara, berkat izin dan inayat ilahi. Semua orang akan mendengar dan menyambut undangan ini, insya Allah.

  1. Selengkapnya baca: https://mutiarazuhud.wordpress.com/tag/melihat-allah/
  2. Konsep al-Muawanah dalam al-Qur’an diartikan sebagai bentuk tolong menolong atau bantu membantu untuk meringankan beban serta kesukaran. Dalam Al-Qur’an, term al-Muawanah terkadang dimaksudkan sebagai sarana untuk memelihara sifat kemanusiaan antar sesama
pexels-pixabay-236164

Asas – Asas Kebangkitan

Menurut Ustaz, faktor-faktor untuk meraih kemajuan & ketenteraman ada tiga yaitu :

 Faktor Pertama: Manajemen Waktu

Manusia harus mengatur waktunya agar harmonis, baik waktu untuk istirahat, maupun waktu untuk keluarga dan anak-anaknya. Ia juga harus menyiapkan waktu untuk bekerja mencari nafkah. Jika ia seorang guru, maka ia harus menyisihkan waktu untuk mendukung kebutuhan profesinya tersebut. Ia juga harus menyisihkan waktunya untuk membaca. Saat luang, ia perlu berdiskusi dengan sejawatnya, membahas hal-hal agung terkait profesinya. Mereka harus tahu apa yang harus mereka kerjakan di jalan ini.

Mereka yang meluncur seperti karambol akan tersangkut oleh hambatan di tengah jalan. Mereka harus tahu siapa dirinya dan sadar saat menulis visi hidupnya, mereka harus berkata:

“Saya harus begini dan begitu biar sukses!”

Ia harus membagi waktu sesuai visi hidupnya. Manajemen waktu adalah bahasan yang dalam dan serius.

Faktor Kedua: Pembagian Tugas

Pembagian tugas harus didasarkan kepada efektivitas kinerjanya. Dalam pembagian tugas juga membutuhkan sifat itsar “mendahulukan orang lain”.  Ketika memahami itsar, kaidah ini harus diingat: Para nabi tak mungkin berkata: “Kamu kerjakan tugasku!”.

Kenabian adalah tugasnya para nabi, mereka tak mungkin berpaling darinya. Selain tugas, kenabian juga merupakan suatu kehormatan. Ia adalah misi dan kewajiban yang tak mungkin bagi para nabi untuk berpaling darinya. Berpaling dari kenabian berarti berpaling dari Allahﷻ, hafizanallah. Karena itu, tak peduli betapa tawaduknya nabi Muhammadﷺ, beliau tidak bisa bersabda:

“Wahai Abu Bakar, Umar, Usman, gantikan saya!”.

Namun demikian, setiap manusia selain nabi perlu mempertimbangkan agar orang lain saja yang mengemban tugasnya lewat semangat itsar. Daripada dirinya sendiri, mereka lebih mengusulkan orang lain: “Si A cocok jadi muazin, si B cocok jadi Bupati, dst”. Tentu disini basirah masyarakat juga dibutuhkan.

Cerita dari pidato Tahir Efendi. Ia berkata: “Anda adalah muntahib (pemilih), sedangkan saya muntahab (yang dipilih) untuk duduk di muntahabun ilaih (majelis). Yang Anda kerjakan adalah intihab (memilih). Intihab berasal dari kata nuhba yang artinya krim (bagian atasnya susu). Seperti apa kualitas susunya, demikian juga kualitas krimnya”.

Ya, saat masyarakat memiliki basirah, siapapun bisa ditugaskan dimanapun. Jika tidak, masyarakat akan memilih orang seperti Karun yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Orang itu akan menyalahgunakan nilai-nilai agung yang Anda junjung tinggi. Mereka akan menyalahgunakannya demi keuntungan pribadi. Untuk itu, intihab (pemilu) sangatlah penting.

Yang Ketiga: Prinsip Tolong Menolong (Ta’awun).

Berasal dari akar tafa’ul (tanda baik), ia menekankan agar kalian saling tolong menolong satu sama lain. Ustaz berkata: “Persatuan dan kesatuan adalah sarana terbesar bagi turunnya taufik ilahi”. Tangan yang saling bergenggaman di jalan Allahﷻ dengan penuh semangat dan memiliki tujuan yang sama, tidak akan pernah Allahﷻ sia-siakan. Anda pun memohon sesuatu yang sama “Ya Allahﷻ, tinggikanlah kalimatMu di segala penjuru, jadikanlah kami sebagai sarananya, dan jadikanlah kami sebagai hambaMu yang mukhlis, mukhlas, muttaqi, wara, zahid, serta muqarrabin. Berikanlah kami, dengan semua itu kerinduan yang membuat kami bisa bertemu dengan kekasihMu ﷺ”.

Itulah penjelasan mengenai apa saja tugas yang menjadi kewajiban kita.

Kita memiliki keahlian dalam beberapa hal. Entah itu, disebabkan oleh lingkungan kita, bakat dan pembawaan kita, atau karena genjotan pada syaraf kita. Kita memiliki kemampuan berfikir yang cukup luas. Dengan kemampuan tersebut, kita harus menggunakannya untuk membantu dan membimbing mereka. Perhatikanlah! Di satu sisi, doa berjamaah, persatuan, dan kesatuan merupakan sarana bagi datangnya taufik ilahi.

Sedangkan sisi lainnya adalah bagaimana kita menjadi sarana matangnya pemikiran dan jiwa umat manusia. Andaikan akal anda telah matang, anda harus membantu dan membimbing manusia agar meraih ufuk pikir itu. Bahkan anda harus berharap agar mereka melebihi Anda. Itulah yang dituntunkan itsar kepada kita.

Itsar : Mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan sendiri.

Contoh lainnya: Anda sedang sekolah. Anda belajar bersama teman-teman anda agar naik kelas. Beberapa dari anda memiliki kemampuan lebih, entah karena faktor keluarga, budaya atau faktor lainnya. Dengan bekal itu, Anda lebih mudah memahami, merangkum, dan menyimpulkan pelajaran. Anda harus sebisa mungkin, membantu teman anda meraih level yang sama. Ini merupakan contoh untuk para pelajar. Di contoh itu, tercerminkan semangat itsar, semangat untuk mengangkat level rekan-rekannya melebihi dirinya.

Berikutnya, contoh di level yang lebih tinggi. Ketika kita meniti karir. Kita bekerja untuk meraih gelar master, doktor, dan professor. Beberapa teman misalnya, sangat ahli dalam menciptakan lagu. Teman lainnya sangat menguasai perpustakaan. Kata Necip Fazil, mereka ini “tikusnya perpustakaan”. Mereka tahu, topik tertentu yang dibahas di buku mana saja. Orang lain mungkin mengerjakan tugas itu dengan kondisi tidak terlalu menguasai hingga sedetil itu. Yang ahli komposisi lagu harus berkata: “Isu ini sebaiknya disampaikan begini”. Ia harus mendukung temannya.

Yang sedang doktoral, harus menyelesaikannya dalam 2 tahun, jangan 10 tahun, andai aturan memungkinkannya. Beberapa diantaranya, menguasai daftar isi buku-buku, mereka bagaikan tikusnya perpustakaan. Dia berkata: “Kawan, rujukan untuk topik itu ada di rak ini, buku ini dan itu, di halaman sekian…”. Bila perlu, ia ajarkan bagaimana topik tersebut harusnya disampaikan, dengan menyesuaikan karakter dospemnya. Sesuai kaidah ta’awun, Ia juga membantu bagaimana menghadapi dosen pembimbing & menyamakan frekuensi dengannya.

Inilah yang semestinya dilakukan oleh kita, sesuai turunan kata ta’awun: Ta’awana/yata’awanu/ta’awunan yang bermakna: saling menolong dalam menyelesaikan suatu pekerjaan antara dua orang atau lebih. Jadi, suatu pekerjaan tidak diselesaikan dengan satu akal. Melainkan dengan ribuan dukungan akal yang semuanya atas izin dan inayat Allahﷻ. Dengan satu sama lain, saling percaya.

Ia: “Temanku lebih amanah!”.

Keyakinan ini juga bersandar pada semangat itsar. Dengan kadar yang berbeda, ada yang setetes, ada yang secangkir, ada yang segelas, dan ada juga yang segentong. Jika kita saling percaya, maka kekuatan akan lahir melalui persatuan dan kesatuan yang kita bangun. Dan kesuksesan itu pun akan tercapai, atas izin Allahﷻ. Dengan menggabungkannya, Kekuatan rekan dapat menambah kekuatan kita. Jika kita bisa meletakkannya di pondasi yang kokoh. Maka dari satu orang, dapat dihasilkan output setara seribu orang.

Hal penting lainnya adalah saling percaya dan tidak mudah suuzan. Bisa jadi keadaan yang ada sekarang, memudahkan kita bersuuzan. Tapi kita masih punya kesempatan untuk mengujinya. Menguji dengan hal yang sederhana. Jika lulus, maka akan naik kelas. Demikian seterusnya hingga berhasil duduk di hati kita. Ternyata, ia juga penuhi haknya. Lalu kita letakkan ia di pusat hati kita:”Silahkan naik kemari!”. Dan ia penuhi lagi haknya. Maka kita katakan:”Kamu benar-benar layak disini.” Cerita ini hanya permisalan.

Demikian juga dalam Hizmet. Anda ditempatkan disini, sukses. Lalu ditambah tugas baru, sukses. Semua itu terbentuk dari berbagai ujian yang sudah dilalui.

Latar belakang dari semua tugas pengambian adalah husnuzan. Saat Anda meragukan seseorang, sebelum suuzan. Maka ujilah dia… Ujian itu nantinya juga akan mengangkat levelnya. Dengannya, Anda menyiapkan pondasi agar masyarakat bisa menikmati semua potensi yang dimiliki teman-teman anda.