mengembangkan_diri-heart-shape

Tauhid 9 – Cinta Allah dan Ujian

Tujuan penciptaan alam semesta adalah beriman kepada Allah.

Seorang hamba, jika ia bisa istiqamah dalam tujuan ini, maka ia akan damai di dunia dan lebih bahagia di akhirat. Orang yang malas berjalan ke arah tujuan penciptaan, yang berjalan dengan berat dan yang tidak menunjukkan upaya apapun ke arah itu, maka ia akan menjadi malang, tidak bahagia, gelisah di dunia ini, dan menjadi sasaran murka Allah di akhirat.

Menghormati Allah, tergantung pada mengenal-Nya dengan sangat baik. Merasa terhubung dengan-Nya dengan sangat baik pun bergantung pada mengenal-Nya juga. Tidak terguncang, terkejut atau tersentak dari hal-hal yang datang dari-Nya, itu juga tergantung pada mengenal Allah dengan sangat baik.

Siapapun yang telah meninggalkan keislaman, di satu sisi dia juga meninggalkan al-Quran, merekalah yang tidak mengenal Allah dengan baik. Mereka tidak mengenal Al-Quran, oleh sebab itu ketika merasa sulit mereka pergi meninggalkan Al-Quran. Ketika Allah menguji mereka, mereka pun gagal dalam ujian tersebut.

Namun, jika seseorang yang benar-benar mengenal Allah, bahkan jika dia tidak menemukan satu tumbuhan dan langit tidak memberikan setetes air pun, jika ia memiliki iman kepada Allah, ia selalu akan melihat tanda-tanda Nya pada segala hal, dan mengikatkan diri kepada-Nya dengan jiwa dan hatinya maka dia tidak akan menyimpang dari-Nya.

Orang yang memiliki pemahaman dan berwawasan, hanya berpaling sekali dalam hidupnya. Itu pun dia akan kembali ke fitrahnya, dia kembali ke arah tujuan penciptaannya, yaitu kepada Allah dan Al-Quran, orang itu tidak akan pernah memikirkan untuk meninggalkan-Nya. Apapun bala musibah menimpa dirinya, walaupun alam semesta melawan dan menimpa dirinya, setelah dia kembali kepada Allah, dia tidak akan lagi meninggalkan-Nya dan berpaling kepada sesuatu yang lain.

Di balik pengabaian kita terhadap apa yang telah kita miliki sekarang adalah karena ada ketidakmampuan dalam iman (lemah iman). Dalam menghadapi peristiwa-peritiwa yang kecil lengan kita kendur, karena iman kita tidak produktif. Itu karena ada ketidakmampuan untuk percaya kepada Allah seutuhnya. Karena ada ketidakmampuan untuk mengenal-Nya sesuai dengan kebesaran-Nya. Jika kita memiliki semua itu dalam arti yang sebenarnya, kita akan terikat dengan iman yang sempurna kepada Allah yang Maha Sempurna, dan kita akan melakukan apapun yang diperlukan untuk menjaga ikatan ini dengan-Nya. Semoga Allah yang Maha Esa menganugerahkan iman yang sempurna kepada semua orang. Izinkan saya uraikan kepada anda semua beberapa contoh untuk menjelaskan masalah ini.

Seorang muslim sejati, Ketika merasa semua cahaya padam dalam dirinya bahkan ketika kemampuan alami otaknya berhenti, dia segera kembali kepada Allah yang Maha Kuasa.

“Ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Ada sesuatu yang membuatku kewalahan dan mencekik, saya kewalahan. Oleh karena itu, “saya meninggalkan agama!” ini adalah perkataan orang kafir.

Saya telah kewalahan, jantungku telah berhenti berdetak, semua kemampuan alami di kepala saya telah berhenti, oleh karena itu saya kembali kepada Pemilik mutlak yaitu hanyalah Allah!” Ini adalah perkataan orang yang beriman.

Seorang muslim akan kembali bersama Allah bahkan Ketika semuanya berakhir, semuanya terkuras habis dan habis.

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl: 128).

Mereka yang berlindung kepada-Nya, mereka yang mengharapkan bantuan dari-Nya, jangan lupa bahwa Allah menyertai mereka. Mereka akan terguncang, akan merasakan musibah, akan ditempa ujian demi ujian entah berapa kali dan jika mereka bertahan dan tidak menyimpang, maka mereka akan melihat rahmat Allah yang luar biasa, dan mereka akan mendengarnya dengan jiwa mereka, mengalaminya dengan perasaan mereka, dan mereka akan mampu menjalani kehidupan seperti surga bahkan ketika masih di dunia ini.

Izinkan penulis mempersembahkan sesuatu, percayalah dengan keyakinan mutlak. Rasulullah Saw telah mengungkapkan hal itu, bisa kita ketahui siapa yang paling besar ujiannya melalui hadits berikut; Allah mengirimkan ujian terbesar kepada hamba-hamba Nya yang terkasih, dengan kata lain, kepada nabi-nabi Nya. Kemudian kepada para ulama atau wali-wali Nya. Setiap orang mendapat ujian ini sesuai dengan derajat keimanan mereka masing-masing.

Yang imannya paling kuat, maka momoknya paling berat dan paling keras. Yang imannya lemah maka ujian-ujiannya lebih sedikit.

Banyak ujian yang menimpa Rasulullah. Rumah beliau telah berubah menjadi rumah di mana masalah datang dan berlalu. Setiap hari, satu masalah menggantikan yang lain. Setiap hari masalah baru bertengger di satu sisi rumah. Setiap hari, Rasulullah menghadapi kesulitan. Ia menanggung penderitaan, menderita di sini untuk membawa kebahagiaan sejati dan damai untuk orang-orang yang menderita. Ia bukan satu-satunya yang mengalami musibah tersebut, bahkan anggota keluarganya, istri-istrinya juga mendapatkan bagiannya.

Siti Aisyah adalah mahkota dunia wanita. Saya akan menggosok wajah saya dengan tanah yang dia injak dan seandainya kuambil tanah itu, dan kucium aroma terbaik itu, saya berharap dari belas kasihan Rabbku. Allah tidak akan membuat hidungku yang telah mencium bau tanah terinjak oleh siti Aisyah mencium aroma neraka. Jika aku tidak mencintainya lebih dari ibuku, jika aku tidak memberinya tahta/tempat yang mulia di hatiku, maka saya akan memiliki kesimpulan bahwa saya tidak menghormatinya. Hanya saya yang tahu betapa senangnya saya saat mengucapkan “ibuku”. Jika saya adalah orang Muslim yang paling rendah derajatnya, maka kedudukan siti Aisyah di hati semua Muslim sangatlah agung, dan sangat tinggi. Tapi tolong perhatikan bahwa karena dia adalah anggota rumah tangga Rasulullah, dia juga tidak bisa terhindar dari ujian itu.

Hidup mereka penuh dengan ujian. Begitu dia selesai dengan satu ujian, maka ujian yang lain akan menangkapnya. Beliau waktu itu masih muda, masih masa berbunga, dan beliau telah mengabdikan dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan semua indranya. Beliau mengabdikan diri sedemikian rupa sehingga ketika beliau dan istri Rasulullah lainnya telah diberi kesempatan untuk memilih salah satu dari dua pilihan,

Rasulullah memanggil dan berkata kepadanya: “Aku akan menyampaikan sesutu kepadamu. Tapi jangan memutuskan itu tanpa berkonsultasi dengan ayah dan ibumu!”

“Apa itu wahai Rasulullah?”

“Intinya adalah bahwa Allah memerintahkan saya untuk meninggalkan kalian jika kalian mau, tetapi jika kalian tidak mau, kalian boleh tinggal dengan saya. Apakah kamu lebih memilih Allah dan Rasulullah atau dunia?” kata Rasulullah kepada istri-istrinya.

“Apakah ini yang saya tanyakan kepada ayah saya?” tanya Siti Aisyah.

“Demi Allah, aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya” katanya.

“Tiga bulan dapur di rumah kami tidak menyala, kami tidak menemukan seteguk air untuk diminum.” Siti Aisyah lebih memilih Rasulullah terlepas dari semua hal itu.

Tapi ujian musibah datang bersamanya, karena dia adalah orang yang hebat, dan dia memiliki tempat yang ditinggikan setelah Rasulullah.

Ketika Al-Quran bebicara kepada Rasulullah, itu memerintahkan bahwa Nabi lebih disukai daripada dirimu sendiri dan istrinya lebih berharga daripada ibumu sendiri. Siti Aisyah, wanita yang lebih berharga dari semua ibu Muslim. Dia ikut pergi bersama Rasulullah untuk Perang Bani Mustaliq, dia kehilangan kalungnya dalam perjalanan itu. Saat dia mencarinya, tentara sudah bergerak ke tujuan lain. Jadi dia memutuskan untuk menuju tempat peristirahatan semula. Ketika siti Aisyah kembali bersama tantara bagian belakang pemeriksa yang bernama Safwan, orang-orang munafik mengamuk, menghina dan memfitnahnya. Mereka juga tahu bahwa siti Aisyah lebih bersih dan lebih cerah dari matahari langit.

Mereka juga tahu kepantasannya menjadi istri Rasulullah, tetapi mereka tetap mengolok dan menghinanya. “Lemparlah lumpur, meskipun sedikit pasti ada yang menempel!”

Sampai Allah membebaskan siti Aisyah dari tuduhan, situasi ini menyebabkan tekanan batin di hati Rasulullah, dan gelombang penderitaan di hati siti Aisyah dan di rumah Abu Bakar.

Hari-hari telah berlalu, dan siti Aisyah tidak menyadari apapun.

Saat berjalan dengan ibu dari salah satu kerabatnya, salah satu dari mereka yang telah mencaci dirinya. Siti Aisyah mendengar klaim itu darinya dan darah di pembuluh darahnya membeku. Dia datang ke rumah Rasulullah dan dia merasa tidak dapat pujian seperti sebelumnya. Ketika Rasulullah masuk ke biliknya, dia meminta izin kepada Rasulullah, untuk mengunjungi rumah orang tuanya.

Penafsir hebat hukum Islam yang akan menerangi umat manusia di bidang Hadits dan hukum Islam ini melebur seperti lilin. Rasulullah SAW telah berkonsultasi dengan banyak orang. Sayyidina Ali mengusulkan kepadanya untuk berkonsultasi dengan seorang wanita yang bisa mengatakan sesuatu yang paling benar.

“Ya Rasulullah, bicaralah dengan wanita itu. Dia akan mengatakan kebenarannya, membebaskan siti Aisyah” katanya. Dan Zaynab binti Jahsh membebaskan siti Aisyah dari tuduhan tersebut.

Sayyidina Umar menunjukkan kepintarannya, dengan mengatakan kebenaran yang paling indah: “Waktu itu kita sedang salat, Ya Rasulullah! Saat melaksanakan salat, Anda melepas sepatu Anda sebelum melakukan ruku’, dan para sahabat di barisan belakang juga melepas sepatu mereka. Kami bertanya setelah salat. Anda mengatakan: “Jibril telah memerintahkan dan karena itu saya melepaskannya”. Anda telah mengetahuinya dari Jibril dan memberi tahu kami. Ada sedikit kotoran di sepatumu dan Jibril telah memberitahumu agar itu tidak membatalkan salat, hingga Anda melepaskannya. Bukankah Allah telah memberi tahu Anda tentang kotoran kecil yang mengotori sepatu anda. Apa mungkin Allah Swt tidak memberitahu Anda tentang pencemaran nama baik yang dilemparkan pada keluarga Anda? Kata yang sangat menusuk, analisis yang sangat bagus walaupun sanadnya lemah. Perkataan ini membuat Rasulullah, menjadi sedikit lebih tenang.

Rasulullah berkata kepada para sahabatnya di masjid: “Apakah tidak ada orang yang bisa menghapus fitnah ini dari keluargaku?”.

Para sahabat sudah siap. Sahabat agung Saad bin Muadz mengaum seperti singa: “Perintahkan, akan kupenggal siapapun yang menfitnahmu”.

Namun semua itu tidak cukup untuk meringankan luka ini sampai wahyu Allah datang. Nabi yang terluka, Nabi yang berduka pergi ke rumah yang penuh duka itu. Abu Bakar membaca Al-Quran tanpa henti dan bertawajuh kepada Allah. Ummi Ruman, ibu dari siti Aisyah merasa seolah-olah ada api di dalam dirinya. Istri Rasulullah difitnah -hasya wa kalla-

Siti Aisyah berada di Kasur seolah-olah dia sedang menunggu kematiannya. Rasulullah menghormati rumah suci itu dan membawa kebahagian padanya. Ketika siti Aisyah menyampaikan peristiwa tersebut kepada kami.

Rasulullah datang dan berkata kepada saya: “Ya Aisyah, saya tahu bahwa anda baik dan suci, tetapi jika seseorang membuat kesalahan dan kemudian kembali kepada Allah, Allah akan mengampuninya.”

Ketika saya mendengar kata ini dari Rasulullah, saya mengerti bahwa ada sesuatu yang melawan saya. Kedengarannya seperti ada keraguan. Wallahi, aku berkata aku hanyalah seorang perempuan belia: Saya tidak tahu banyak tentang Al-Quran. Saya tidak tahu harus berkata apa.

Saya menoleh ke ibu saya dan berkata: “Jawablah kepada Rasulullah!”

Dia berkata: “Saya tidak tahu harus berkata apa kepada Rasulullah”.

Saya menoleh ke ayah saya dan meminta hal yang sama. Dia juga tidak menjawab. Saya sudah sangat binggung. Sehingga saya ingin melafalkan surat Yusuf, saya lupa nama Nabi Yakub juga dan kemudian saya teringat nama anaknya Yusuf, lalu saya berkata: “Wallahi, cerita kita sama seperti cerita Yusuf dan ayahnya. Ketika dia melepaskan diri dari asbab, dia berkata: “Jadi jalan yang tepat bagi saya adalah, menjadi kesabaran yang bertahan tanpa keluhan. Allah lah yang dimintai pertolongan seperti yang telah kamu gambarkan.” (Q.S Yusuf – 18).

Saya pun mebacakan ayat ini atas nama dunia Islam:

فَصَبْرٌ جَم۪يلٌۜ وَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُونَ

Tapi di mana semuanya berakhir, ada yang mengawasi segalanya. Ada Allah yang Maha Mendengar dan Melihat. “Darahku membeku, air mataku telah mengering, aku kembali ke kamar, punggungku menghadap kiblat, dan berbaring di pembaringan lalu aku bertawajuh kepada Allah.

Saat berada di posisi itu, tiba-tiba terjadi badai petir, sepertinya Jibril berlari untuk membantuku. Akhirnya, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Saw. Tubuh beliau bergetar. Begitulah keadaan beliau ketika menerima wahyu.

Setelah selesai (menerima wahyu), ayat-ayat berikut dicurahkan dari bibirnya yang diberkati: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.” (Q.S. Nur – 11).

Duhai kekasihku, Ya Rasulallah! Mereka memfitnah keluargamu. Mereka mengatakan kebohongan tentang keluargamu. Mereka lempar lumpur kepada keluargamu yang suci. Janganlah kamu kira bahwa semua itu buruk bagimu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Dengan ujian berat ini kalangan munafik, orang tidak berkarakter dan berkepribadian lemah sudah ketahuan. Dengan ujian ini Allah mengangkat derajat keluarga Sayyidina Abu Bakar.

Nabi Muhammad Saw dengan ujian ini akan diangkat oleh Allah ke tempat dan kedudukan yang dipuji (Maqam Mahmudah) Siti Aisyah dengan suka cita kembali ke rumah Nabi di mana merupakan tempat kebahagian. Abu Bakar juga senang, dan Ummi Ruman juga senang.

Siti Aisyah, -yang menjalani kehidupan seperti surga di dunia dan di akhirat- juga bahagia, Rasulullah juga sangat bahagia. Bahkan ketika semuanya sudah berakhir, orang yang beriman selalu bertawajuh kepada Allah, dan mereka tidak tersinggung, patah hati karena Allah tidak memberikan apa yang mereka minta.

Sebaliknya, mereka kembali kepada Allah sesuai dengan hadits; “Aku bersama mereka yang hatinya hancur”.

Menurut hadits qudsi, saat mereka merasa patah hati, mereka akan bertawajuh kepada Allah. Allah menyertai mereka.

Allah akan memegang tangan mereka dengan keselamatan. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang ihsan (berbuat kebaikan) ” (Q.S. an Nahl – 128)

Walaupun mereka tidak dapat melihat-Nya, tetapi mereka hidup seolah-olah mereka melihat-Nya.

sushobhan-badhai-LrPKL7jOldI-unsplash

Ciri Generasi Muda yang Dinanti

Pertanyaan: Ustadz yang mulia, pada beberapa kesempatan anda berkata, “semoga jalan dakwah ini menjadi takdir hidup kalian.” Apa saja nasihat Anda agar kami bisa sampai ke puncak yang ideal dan tetap terikat dalam Hizmet ini?

Secara kebetulan sama seperti kemarin, saya telah menjelaskan sifat-sifat anak muda sebagai catatan awal. Sekarang akan saya bahas mengenai sifat-sifat ksatria muda sebagaimana yang diinginkan. Apa yang kita harapkan dari para pemuda? Ketika saya mendapatkan pertanyaan seperti ini, maka mereka bertanya lagi, bisakah Anda menjelaskan sifat generasi muda seperti yang dinanti-nanti. Juga dengan persoalan hari ini, dakwah ini harus menjadi takdir kalian.

Seseorang haruslah mencintai sesuatu yang mulia, dan tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal yang murah, harga diri seseorang bukan bernilai dengan ijazahnya, jabatannya dan tempat dia bernaung. Harga diri seseorang bukanlah bernilai karena menjadi anggota dewan, perdana menteri maupun seorang presiden. Bila takdir membuatku jadi presiden hanya karena nilai diri, sungguh aku akan marah terhadap diri ini dan berkata: “Ya Allah kenapa Engkau menciptakanku tidak beruntung seperti ini.” Aku ke Hammam (pemandian air panas) pada musim panas, malah udara jadi dingin. Memangnya ada yang mau jadi presiden?

Yang aku inginkan dari Engkau adalah Engkau (Allah), yaitu menjelaskan tentang-Mu hingga nafasku terputus-putus. Aku ingin jadi lidah-Mu, kalau tidak maka biarkanlah lidahku yang putus. Aku ingin di mana-mana itu melihat-Mu, kalaupun tidak bisa, ambillah mataku ini supaya aku tidak akan melihat hal yang haram ketika masih muda. Aku ingin mendengar-Mu, bila tidak maka tulikanlah saja telingaku ini. Aku ingin bernafas di sisi-Mu, kalau tidak biarkanlah saja nafasku ini terhenti. Bisakah aku sampaikan ini dengan jelas?

Insan dakwah bukanlah orang yang sekedar makan minum dan tidur. Insan dakwah bukanlah orang yang hidup terikat dengan kebutuhannya saja. Insan dakwah adalah orang yang telah melupakan nikmat kehidupan dan gila memberikan kehidupan bagi yang lain. Insan dakwah itu seperti Majnun, tanpa mencari Laila ia tidak bermakna.

Dan juga seperti Farhat yang tiap hari melubangi gunung yang berbeda untuk mencari jalan bertemu Syirin. Seperti Emrah yang rela terbakar seperti serpihan api demi Aslı. Itulah insan dakwah.

Beberapa generasi sebelumnya menjadi harapan bagi kita untuk mencapai kualitas yang bagus dan menjadi teladan buat generasi yang kita tunggu. Saya berharap meraka menjadi contoh yang baik. Dan Insya Allah semoga kalian berada di jalan seperti itu. Saya rasa saya telah menjelaskan hal yang semestinya saya jelaskan. Apakah saya melakukan sebuah kesalahan bapak doktor? Kalau tidak, saya rasa saya sudah menyampaikan hal-hal yang mungkin saja belum saya sampaikan sebelumnya. Kalau ada penjelasan yang bertentangan, sungguh hanya Allah yang mengetahui semua yang nampak dan rahasia,  Semoga Allah juga mengampuni dosa-dosaku. Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi.

Semoga Allah isikan hati kami ini dengan iman, dan kenyangkan kami dengan iman. Bangkitkanlah kami sekali lagi, hilangkanlah kehinaan, sehingga membuat kami mencapai mimpi kami yang ingin memiliki peran cukup besar di dunia. Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Wahai Tuhanku, buatlah diri kami menjadi lupa terhadap nafsu kami, dan tingkatkanlah derajat hati dan jiwa kami, dan jadikanlah nafas kami seperti nafasnya para malaikat. Engkau memberikan kami semangat untuk berlari di Jalan-Mu ibarat Kuda. Jadikan kami tidak merasa kelelahan hingga jantung berhenti berdetak sekalipun. Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Dan jika saja yang aku ucapkan ini merupakan ucapan yang berisi kesombongan maka ampunilah dosaku. Terimalah doa kami ini sebagaimana engkau menerima doa-doa sebelumnya.

Ini adalah generasi harapanku yang terakhir. Jika generasi ini tidak melakukan apa yang mesti dilakukan sekarang, maka kita pun harus menunggu setengah abad lagi yaitu 50 tahun. Maka umur saya dan sebagian besar kita tidak akan cukup untuk itu.

Adult and children hands holding paper family cutout, family home, foster care, homeless support concept

Lindungi Generasi Penerusmu

Mus’ab Bin Umair telah meninggalkan hidupnya yang nyaman dan serba berkecukupan dan pergi ke Madinah. Saran saya, jika kalian ingin menyelamatkan dunia, maka kalian harus menjadi seperti Mus’ab, Khabbab Bin Al-Aratt ataupun Ibnu Jahsy. Suatu beban yang hanya bisa diangkat dengan tangan yang dapat mengangkat beban lima kilogram, tak akan bisa diangkat dengan tangan yang hanya kuat mengangkat beban tiga kilogram. Orang-orang yang kesana-kemari berjibaku dalam isu-isu dunia dan lebih mencintainya daripada akhirat, memilih untuk menikmati kasurnya yang empuk daripada melayani al-Qur’an dan umat, serta tidak merasa sedih dan kehilangan ketika agamanya roboh ataupun ketika anak mudanya telah termabuk akan dunia, tak ada yang bisa diharapkan dari mereka untuk perjuangan dakwah ini. Tapi ingatlah, pintu Allah akan selalu terbuka, selalu menunggu kedatangan kalian entah muda atau tua dan menyambut dengan sangat gembira ketika kalian datang menghadap-Nya. Allah akan menjaga kalian dari petaka yang menyakitkan dan penderitaan ini. Dan Dia pun akan menjaga kalian dari konflik dan kerisauan batin.

Jikalau kalian menjadikan rasa kebertuhanan, iman dan makrifat kepada Allah lebih dominan dalam hidup, maka kalian akan diliputi oleh rahmat Allah yang tak terbatas tanpa bisa kalian sangka-sangka. Tunjukkanlah kepada orang lain cara untuk lebih menyukai pengabdian kepada al-Qur’an daripada kenyamanan ranjang tidur. Saya memberikan penekanan pada masalah ini karena dua alasan. Pertama, saya akan membungkam rasa putus terhadap asa orang-orang yang menatap masa depan dengan pandangan pesimis. Kedua, saya akan menghilangkan rasa cemas dari sebuah penghinaan. Saya sepenuhnya percaya dan menyatakan kepada dunia bahwa suara mereka yang mencintai, menghormati, dan melayani orang banyak, suara Islam, suara Nabi Muhammad SAW, suara suci al-Qur’an yang merupakan kalam ilahi, akan menjaga dan melindungi keistimewaan suara yang kuat dan merdu mereka pada skala manusia.

Hanya ada satu cara untuk mewujudkan cita-cita mulia kita ini. Ialah dengan menjaga generasi muda kalian. Seorang individu, keluarga, komunitas ataupun seluruh bangsa harus menyadari pentingnya menjaga anak-anak kita. Mereka akan mengenal Allah dan Utusan-Nya. Kemudian hati dan kepala mereka akan terisi dengan sains modern di sekolah-sekolah sehingga mereka akan tumbuh menjadi manusia yang sempurna. Kita akan membangun masa depan dunia berlandaskan kepercayaan, perdamaian dan kebahagiaan dengan membekali anak kita akan penggabungan sains barat, ilmu agama, kebenaran Rasulullah SAW dan al-Qur’an yang mulia. Saya tidak percaya mereka yang berkelahi di jalanan bisa mengerti misi ini. Saya tidak percaya mereka yang mengklaim bahwa akan mendirikan Turki yang hebat dengan suara lantang bisa menghasilkan sesuatu. Lindungilah generasi kalian dan Allah Yang Maha Kuasa akan menjadikan kalian mulia. Pada saat ini, Allah telah melimpahkan nikmat dan anugerah-Nya pada kalian yang bahkan tidak ada pada abad sebelumnya. Kalian berada pada posisi untuk meninggikan agama Islam sampai pada titik tertinggi kemanusiaan dan meninggikannya sampai pada titik puncak kemanusiaan. Kalian telah memasuki jalan menuju langit dengan bantuan dan rahmat Allah. Allah Yang Maha Kuasa telah menganugerahi kalian keberkahan ini. Dia tidak mengambil kembali nikmat yang telah Ia berikan setelah Ia limpahkan keberkahan-Nya.

photo-1419833173245-f59e1b93f9ee

Jangan Menyerah Terhadap Peristiwa yang Terjadi

Tak pernah putus asa adalah suatu hal yang terbesit dalam pikiran saya, yang mungkin akan menjadi wasilah ampunan dari Allah SWT bagi saya. Walaupun saya hanya melihat dua orang pemuda, mereka akan tumbuh dan berkembang di masa depan. Yang tadinya hanya dua menjadi dua ratus, dari dua ratus akan menjadi dua ribu. Dengan taufik dan inayah (rahmat) Allah SWT, orang-orang yang beriman akan memimpin takdir manusia. Dengan taufik dan inayah (rahmat) Allah SWT, masa depan tidak akan diarahkan oleh orang yang tidak memiliki iman, ateis ataupun orang-orang yang memiliki penyakit hati, melainkan oleh orang-orang yang hatinya penuh dengan keimanan. Cukuplah janji Allah menjadi dalil untuk kita.

Inilah permohonan saya untuk kalian. Dakwah yang sudah kalian bawa hingga saat ini, jangan sampai kalian tinggalkan di tengah jalan. Setiap orang berusahalah untuk menyalakan dan menjaga percikan dakwah yang telah mereka emban. Bangsa ini memiliki kehormatan yang luar biasa dalam sejarah, tapi ia memiliki berbagai masalah untuk masa depan. Untuk merubah masa depan bangsa yang mulia ini menjadi masa kejayaan, semua orang harus bekerja keras untuk dakwah yang sudah mereka mulai. Peristiwa-peristiwa yang menimpa diri anda seperti munculnya orang-orang yang berusaha menghentikan Anda, jangan sampai membuat anda berhenti. Dakwah ini dimulai seperti ini dan akan senantiasa seperti ini. Derita dan keprihatinan yang luar biasa itu dirasakan oleh orang yang paling dicintai oleh Allah SWT dan anda pun mungkin akan mengalami rintangan yang seperti ini. Dimanapun anda berada, tetap nyalakan api dakwah ini. Nyalakanlah dengan ruh nabi Muhammad SAW, dengan ruh al-Qur’an, dengan ridha Allah SWT dan berhati-hatilah, jangan sampai anda bercerai-berai. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d:11).

Berusahalah untuk tidak bercerai berai dan jangan sampai menjadikan dunia menjadi tujuan ataupun terbawa dengan hal-hal yang fana. Jadikanlah Allah SWT sebagai tujuan yang paling utama dan jadikanlah tujuan anda akan apa yang dikehendaki Rasulullah. Jadikanlah kematian sebagai wasilah untuk bertemu dengan Allah dan Rasul. Berdakwahlah hingga ajal datang menjemput. Jangan pernah berhenti dan janganlah cemari diri anda dengan kotoran dunia. Berkhidmahlah untuk bangsamu sampai mereka benar-benar beriman dan jangan sampai sekali-kali menyerah di jalan ini. Allah SWT akan menjadikan satu menjadi seribu. Ingatlah bahwa ketika anda menjalankan dakwah ini, anda mengikuti dakwah yang di emban oleh para Nabi dan Rasul. Jika anda menyampaikan dakwah ini dengan penuh cinta, isytiyaq (kerinduan) ilahi dan penuh dengan ikhlas, maka tak ada satupun yang bisa mencapai level tingkatan anda. Anda merepresentasikan level tersendiri di sisi Allah SWT. Anda kembali membawa pesan-pesan dari para sahabat yang punya hubungan yang erat dengan Allah SWT yang secara tidak langsung anda merepresentasikan para sahabat tersebut.

nathan-dumlao-LPRrEJU2GbQ-unsplash

Beribadah Tanpa Henti

Sekarang ketika membuat jadwal dalam hidup Anda, Anda harus berkata, hari-hari saya akan terisi oleh al-Qur’an sebanyak ini dan saya harus membaca buku sejumlah ini. Saya harus berdoa dan berzikir, jika seseorang tidak berdoa dan berzikir, maka orang ini berarti tidak patuh pada Allah. Dan karenanya orang ini akan berkata: “Saya tidak memperoleh berkah dalam hidup saya.” “Saya senantiasa terjebak dalam kesalahan”.

Karena itulah seseorang harus berpaling total kepada Allah swt dengan tanpa cacat dalam penghambaannya. “Oh baiklah, saya sudah menyelesaikan tugas-tugas, sekarang saat saya menyisihkan waktu 5 jam setiap hari untuk Allah”. “Berapa lama saya habiskan untuk menyelesaikan tugas-tugas harian (kerja, belajar dll.)?” “Saya menghabiskan 15 jam untuk tugas-tugas saya, saya menyisihkan 5 jam di sini (untuk Allah), kemudian sisa 10 jam bagi saya”. “Tugas utama saya adalah berhubungan dengan Tuhan saya, katakanlah, mulai saat fajar, saat tahajjud, jika saya mulai dengan tahajjud…” Kemudian saya tidak harus mengorbankan waktu lain di samping waktu bagi Allah untuk kegiatan yang lain. Saya tidak harus mengorbankannya demi kelelahan hari kemarin, pun tidak juga untuk tugas-tugas di hari mendatang. Saat ini adalah hak Allah atas diri Anda dan haruslah ditunaikan dan anda tidak bisa melewatkan hak tersebut. Karena jika benar Anda melewatkannya, maka Allah akan mengambil kembali hak tersebut dari Anda. Bahkan kamu tidak sadar hak-hak tersebut telah lenyap dari rangkulan Anda.

Selanjutnya Anda akan mengisinya dengan salat subuh sebelum matahari terbit. ketika matahari melewati puncaknya, waktu untuk salat zuhur dimulai. Itulah hak Allah atas diri Anda, Anda tidak bisa merubah atau menggantikannya. Jika Anda bersungguh-sungguh melaksanakan salat dengan penuh kesadaran Anda mestilah membaca setiap kata (bacaan salat) dengan penuh perhatian. Ustadz (Said Nursi) mengatakan pada mereka yang tidak salat sama sekali, bahwa, seorang pemula hanya butuh waktu satu jam untuk salatnya, termasuk wudhu. Anda harus mengatur waktu untuk salat zuhur, karenanya Anda harus berkata, saya luangkan waktu ini untuk zuhur. Anda minimalnya harus menyisihkannya sebanyak waktu yang Anda sisihkan untuk makan.

Tibalah waktu Ashar, Anda harus menyisakan beberapa saat untuknya. Maghrib pun tiba, Anda pun harus menyisakan beberapa saat untuknya. Anda akan mengalokasikan (waktu) bagi hak Allah, dan mempergunakan selebihnya untuk kegiatan dunia sehari-hari Anda. Ketika Anda menjadwalkan waktu Anda seperti ini layaknya sebuah kalender, yang dinamakan kerangka “waktu mati” untuk kegiatan sehari-hari Anda dan pecahan-pecahannya juga akan punya nilainya dan berharga. Hal-hal yang remeh di antara dua kerangka waktu tersebut juga akan bernilai. Jika seorang beriman, yang mengatakan bahwa dia percaya Allah, mendayagunakan waktunya seperti ini kepercayaannya akan menjadi fitrah yang kedua bagi dia, kalau tidak, setiap orang harus tahu bahwa seorang Muslim melalui kehidupan budaya religius tidak bisa sembarangan menghabiskan waktu mereka dan berharap mencapai ini.

Mereka bisa jadi tidak pernah mendengar Allah, mengetahui keberadaan-Nya merasakan kehadiran-Nya atau hidup dengan cinta kasih-Nya dan takut kepada-Nya. Anda tidak melihat atau merasakan kepercayaan Islam yang sebenarnya dan nilai-nilai dalam karakter dan aktivitas sehari-hari mereka. Mereka tidak bedanya dengan patung-patung selain fakta bahwa mereka hidup. Makan, minum, duduk dan berdiri, semua hal yang menjadi kebiasaan sehari-hari kita dan menjadi bagian dari fitrah kita. Jadi bagaimana jika Anda tidak sarapan? Tapi sebagai manusia kita melakukan sarapan. Faktanya, apa yang terjadi jika Anda tidak minum teh dan bahkan meminum air? Kita minum teh karena itu menjadi bagian dari sifat alamiah kita. Jika salat dan berdoa telah menjadi bagian dari sifat alamiah kita. Dan suatu hari datang ketika Anda tidak membaca Jausyan, Maka hari itu menjadi tidak nyaman karena kekurangan ini. Jika Anda merasa nyaman-nyaman saja, maka itu (berdoa) belumlah menjadi bagian sifat alamiah Anda. Syaitan akan mengganggu dia dengan menghilangkan perasaan menyesal karena tidak melakukan kegiatan-kegiatan spiritual. Menghubungkan diri dengan Allah dan beribadah haruslah menjadi bagian dari sifat alamiah manusia. Dan menjangkau ketinggian yang tidak bisa dijangkau (diganggu) oleh hal apapun. Yang seandainya iman itu adalah kunci misteri bagi kebahagiaan abadi seseorang. Maka harganya haruslah ini (pengorbanan dan bersungguh-sungguh dalam beribadah).

photo-1469122312224-c5846569feb1

Jangan Mengharapkan Keuntungan Apapun dalam Berkhidmah

Apakah teh ini milik saya? Apakah air ini sudah saya bayar atau belum? Dengan penghambaan seperti inilah yang menjadi dasar, wasilah, untuk naik ke tingkat ketaatan yang lebih tinggi.  Karena para nabi tidak menghubungkan tugas dakwah dengan apa pun yang bersifat duniawi sebagai imbalan atas apa yang mereka lakukan, dan tidak mengharapkan balasan apa pun. Jika aku berharap suatu imbalan seukuran jubah atas khidmahku kepada Allah, Ya Allah, ambillah nyawaku ini, biarlah jasad ini melebur dengan tanah. -Sebagaimana para sahabat- suatu hari anda pun akan berkata: “Duhai Masa Lalu”. Kemanusiaan bangkit kembali dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jagalah Hizmet ini.

Anda akan dekat dengan Allah ketika anda menafikan diri anda dihadapan Allah. Jangan Mengharapkan keuntungan apapun dalam berkhidmah. Kalau kita baca tentang wara’ dalam kitab Imam Al-Gazali yang berjudul Ihya Ulumuddin, kita bisa melihat perspektif Imam Al-Gazali tentang “wara’”. Saat anda mengulurkan tangan anda pada sesuatu, anda harus merasa ragu. Misalnya, “Apakah gelas ini milik saya? Apakah piring ini milik saya? Apakah teh ini milik saya? Apakah air ini sudah saya bayar atau belum? Atau buku yang telah anda hadiahkan kepada seseorang, lalu ketika suatu saat anda pergi ke kamarnya, -Bertanya kepada diri sendiri- “Apakah saya boleh mengambil buku itu?” Padahal buku itu anda yang menghadiahkan padanya, namun buku itu sudah menjadi miliknya. “Bisakah saya menyentuhnya?” Anda harus merasa ragu ketika akan mengambil buku tersebut. Itulah Wara’, dengan tingkat kesensitifan seperti inilah kita harus mendekatinya. Dengan penghambaan seperti inilah yang menjadi dasar, wasilah, untuk naik ke tingkat ketaatan yang lebih tinggi. Ketika haknya tidak diberikan secara penuh, maka anda tidak akan bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Dari sudut pandang ini -saya akan tarik kebelakang- bahwa hal-hal yang anda lakukan adalah hal-hal yang sudah dilakukan oleh para nabi yang agung.

Itulah mengapa jalan anda disebut “Jalan Para Nabi”. Karena para nabi tidak menghubungkan tugas dakwah dengan apa pun yang bersifat duniawi sebagai imbalan atas apa yang mereka lakukan, dan tidak mengharapkan balasan apa pun. Mereka yang telah melakukan hal-hal suci pun dengan mengharap balasan duniawi, mereka tidak akan pernah berhasil dan keberhasilan semu yang telah mereka lakukan tidak akan berlangsung lama. Oleh karena itu para nabi selalu menyuarakan: “Upahku tidak lain hanyalah dari Allah”. Ungkapan yang sama juga terdapat dalam surat Yasin, Habib Najjar berkata: Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yasin-21).

Mereka berada di jalan hidayah, jalan para nabi dan pada saat yang sama mereka tidak meminta imbalan apa pun dari Anda. Seandainya mereka mulai tugas ini dengan memakai satu kemeja,  bahkan saat untuk pergi ke kubur pun, membuat orang-orang berkata: “Karena dia tidak memiliki uang untuk membeli kain kafannya, apakah kita akan menguburnya dengan kemeja ini saja?” Sampai pada tingkat itulah mereka berkhidmah dengan semangat istigna dalam hidupnya.

Jika aku berharap suatu imbalan seukuran jubah atas khidmahku kepada Allah, Ya Allah, ambillah nyawaku ini. Biarlah jasad ini melebur dengan tanah. Berkhidmahlah atas pertimbangan ini. Tidak mempergunakan nilai-nilai suci demi meraih pangkat duniawi, bila memang benar berada di jalan Allah, maka ia takkan menautkan pengabdian yang dilakukan dengan sebuah imbalan. Jika dengan khidmah ini anda bertujuan untuk memiliki sebuah rumah, mobil dan beberapa mobil berlapis baja, atau anda berpikir lebih dari itu -seperti Namrud- untuk memiliki sebuah istana, villa di beberapa tempat, jika anda mengharapkan hal-hal seperti ini dari khidmah yang anda lakukan, maka anda sudah keluar dari jalan para nabi. Berarti anda tidak menyadari bahwa anda sudah mengikuti setan yang terlaknat langkah demi langkah. Meskipun anda sering datang ke masjid, namun anda tidak menyadari bahwa anda telah mengikuti setan yang terlaknat. Al-quran memberikan tolak ukur tentang hal ini yaitu

Orang-orang yang selangkah demi selangkah, mereka berjalan di jalan para nabi dan mereka tidak menginginkan imbalan apa pun dari Anda!”