Satu dari tonggak pemikiran sosial dan spiritual Fethullah Gulen adalah konsep penghormatan kepada manusia. Tema yang senantiasa disenandungkan dalam ceramah dan tulisannya. Menghormati yang lain merupakan rahasia di balik jalannya kehidupan ini. Dan merupakan prasyarat utama dalam mengabdi kepada Tuhan. Ya, penghormatan adalah sebuah penghargaan yang layak didapati seseorang hanya karena ia seorang manusia dan ini menyatu dengan penghormatan kepada Tuhan. Penghormatan juga merupakan rahasia di balik Tuhan memerintahkan Jibril bersujud kepada Adam, manusia pertama dan seorang nabi (Qur’an, 2:34).
Bagi Gulen, nilai sejati dari seorang manusia dalam bentuk terbaiknya dirumuskan oleh agama-agama samawi, terutama Islam. Analisa yang objektif terhadap isi al-Qur’an tidak mengungkapkan apa-apa selain cinta sejati pada manusia. Hasil tersebut juga tidak ada bedanya jika kita melihat langsung kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan mengamati bagaimana beliau mengutamakan kecintaan dan penghormatannya pada manusia dalam hubungannya dengan orang lain. Pada cara beliau mengajari keimanan pada umatnya dan diplomasi beliau dengan komunitas dan negara lain. Dengan menghormati orang-orang di sekelilingmu berarti menghormati manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Menurut Gulen, ini adalah sebuah budaya yang harus diajarkan kepada generasi penerus seperti halnya mengajarkan praktik salat dan harus dijalankan dalam semua aspek kehidupan, mulai dari pendidikan hingga bisnis, dari keluarga hingga pegawai pemerintah, dari olahraga hingga seni dan politik. Rutenya beda, tapi maksudnya sama.
Adalah fitrah kita untuk beda pemikiran. Karenanya kita harus menghargai pandangan yang berbeda dan tidak memaksa seseorang untuk berpikiran seperti kita.
Menghormati manusia adalah kunci untuk memanifestasikan kualitas batin yang indah, dan untuk mengembangkan keterampilan kita. Sama seperti pengembangan dalam setiap aspek kehidupan kita yang bergantung pada kondisi yang nyaman, begitu juga kemampuan kita berkembang dalam suasana yang mengedepankan rasa hormat pada manusia. Gulen juga mengajak untuk menghormati orang-orang yang memilih jalan yang berbeda. Seseorang tidak boleh menghambat perkembangan mereka atau menjadi musuh mereka hanya karena mereka mengambil jalan yang berbeda dari kita. Adalah berseberangan dengan fitrah manusia untuk memaksa orang-orang agar mengikuti jalan tertentu dan bukan yang lain. Selama kita memiliki tujuan yang sama, keberadaan pemikiran dan metode yang berbeda merupakan sumber keuntungan yang tidak boleh ditinggalkan demi mengikuti kehendak ego tertentu.
Bagi Fethullah Gulen, penghormatan pada manusia haruslah menjadi titik awal untuk mencapai karakter yang baik dan mengembangkan hubungan yang kuat. Mengadopsi sikap yang seperti ini sebagai asas menjalin hubungan dengan pihak lain akan menciptakan dialog yang berkelanjutan dengan siapapun, baik yang dekat maupun jauh. Apakah mereka orang yang beriman atau tidak, orang salih atau mereka yang dekat dengan Anda dan memiliki nasib yang sama dengan Anda. Dalam semua kasus, mereka masih merupakan manusia yang diciptakan Tuhan, mereka masih berhak dihormati, bahkan dengan berkali-kali lipat, untuk alasan sederhana itu.
Manusia telah diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Dalam ayat al-Qur’an yang menjelaskan kebenaran ini, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak mengatakan seorang yang beriman atau seorang muslim, Dia menyebut manusia. Semua manusia memiliki potensi ini sebagai karakter pemberian Tuhan. Karenanya menghormati manusia merupakan aspek alamiah menjadi manusia. Dan itu harus diukir dalam diri kita dengan sering sehingga ia menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kemanusiaan kita. Rasa hormat pada manusia merupakan ciri istimewa dari “manusia hati” yang diimpikan oleh Gulen dalam buku-buku dan ceramahnya. “Manusia hati” adalah arsitek masa depan yang membangun dunia dan mengembangkan relasi dengan pihak lain atas dasar cinta dan rasa hormat. Gulen membayangkan masa depan dimana penghormatan pada hidup manusia dan orang lain akan ditempatkan di tengah-tengah semua tindak tanduk kita, dari membentuk sebuah keluarga hingga membangun pusat kajian dan pembelajaran, dari tetangga sampai hubungan internasional, dari pabrik makanan hingga layanan masyarakat dan kemajuan teknologi. Ini begitu penting jika kita ingin menyelesaikan masalah-masalah sosial yang meluas terjadi.
Satu kualitas luar biasa yang dimiliki generasi orang-orang yang terinspirasi Fethullah Gulen dan mengabdikan hidupnya untuk melayani orang lain adalah rasa hormat pada manusia. Relawan dari gerakan pelayanan ini pertama kali menaruh rasa hormat pada orang lain, dan menghargai setiap orang tanpa melihat perbedaan mereka dalam agama, bahasa, budaya, pekerjaan, atau status ekonomi. Ini adalah rahasia di balik semua pencapaian mereka. Rasa simpati dan cinta yang mereka terima dari seluruh penjuru dunia. Bagi Gulen, para relawan ini melihat, menerima cinta dan rasa hormat setiap orang seperti halnya mereka. Perbedaan tidak pernah bisa menjadi landasan bagi diskriminasi.
Kita tidak mampu membaca seperti dulu kala. Kita tidak mampu membaca buku-buku itu (Risalah Nur).
Menurut saya, membaca buku-buku itu, meskipun mengulang apa yang sudah kita ketahui, di satu sisi, hal tersebut menunjukkan adanya hubungan, antara memahami apa yang seharusnya dibaca, setelah Al-Quran dan Sunnah, dengan apa yang seharusnya dipahami dan hubungan antara pendekatkan diri kita dengan ruh dan sosok yang ada di balik tugas mulia tersebut bersama dengan wasilah tersebut kita juga mendekatkan diri kepada Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Jika memang untuk meraih hubungan tersebut harus menempuh jalan ini, namun terutama diri kita seolah-olah telah menghancurkan jembatan tersebut.
Maksudnya, jika setiap pagi kita tidak membaca buku-buku dengan rasa cinta yang mendalam, meski kita memiliki kesempatan, namun kita tidak membacanya dengan benar, kita tidak mengulas lebih dalam Risalah Nur dari beberapa sudut pandang yang berbeda, hanya disertai dengan sedikit pengkajian, jika kita tidak mencari tahu hubungan peristiwa yang terjadi dengan masa sekarang, jika kita tidak menelaah lebih dalam apa yang disampaikan dari mana dan ke arah mana arah bacaan, jika tidak demikian maka kita anggap buku-buku (Risalah Nur) itu seperti setumpuk buku usang, layaknya buku yang dijual di toko buku bekas. Dengan sudut pandang ini, kita akan terhalangi dari Risalah Nur dan keberkahan yang ada di dalamnya.
Tawajjuh itu sangat penting, seperti halnya bunga yang mengarah ke matahari demi keberlangsungan hidupnya. Demikian juga dengan kehidupan kita, bertawajjuh kepada beberapa unsur seperti sumber cahaya ini sangat penting bagi keberlangsungan hidup kita.
Meskipun topik itu sudah kita ketahui, mungkin saja kalian sudah pernah membaca 100 kali Kalimat Pertama atau Kalimat Ke-2 atau Kalimat Ke-17 membaca dari sudut pandang yang berbeda, mengulasnya dengan perasaan yang beragam, sekali lagi meninjaunya lebih dalam, meniti lebih jauh mutiara yang berada di dalamnya.
Hal itu bisa mengungkapkan hubungan kita dengannya, menjadi wasilah saling bertawajjuh yakni kedekatan yang dibalas dengan kedekatan. Kedekatan ini bisa dalam bentuk kedekatan Ilahi, dalam bentuk kedekatan Nabawi, atau kedekatan dengan Ustad. Ini merupakan salah satu sudut pandang dari permasalah di atas. Hal ini layaknya diet yang disarankan dokter, namun terkadang orang-orang tidak memperhatikan saran tersebut dengan baik namun bagaimanapun keberlangsungan hidup kita berhubungan dengan hal tersebut. Meski susah, namun kita semua harus berusaha dan melanjutkan aktivitas ini.
Salah satu dari permasalahan ini ialah nutrisi yang kita tidak ketahui rahasianya. Sedangkan masalah yang kedua adalah nutrisi yang kita ketahui rahasianya secara langsung. Dalam hal ini apakah kita bisa bertahan dengan berbagai kecerobohan dan kelalaian, dan juga beberapa hal yang dapat merubah kita ke arah yang lebih buruk. Apakah kita sudah menyiapkan hal yang diperlukan untuk menghadapi ini semua?
Seperti contoh, apakah kita sudah memiliki kehidupan tafakkur yang seharusnya? Apakah kita bisa konsisten menemukan setiap solusi dengan bertafakkur, untuk meniti jalan agar meraih kedekatan Allah SWT dari semua jenis tafakkur?
Yang mana Ustadz Nursi menyatakan bahwa hal ini merupakan salah satu dari dua jalan yang sangat penting untuk meraih keihklasan. Beliau menyebutnya optimalisasi cakrawala berpikir, saya sudah pernah membahasnya di berbagai diskusi, saya berusaha mengarahkannya ke dalam topik tersebut. Dalam setiap aktivitas tanpa harus bersikap gegabah, berusaha memusatkan setiap permasalahan untuk membahas Allah Swt menjalin perbincangan dalam lingkup-Nya, dalam setiap waktu, tapi tanpa berlebihan karena kelebihan bahkan satu kosa kata saja pun masuk kategori israf.
Dalam hal mengambil wudhu, meski sedang berada di pinggir samudera, ajaran Islam tetap mengharamkan untuk menggunakan air di luar kebutuhan seperti haramnya penggunaan air itu. Artinya bahwa penggunaan satu kata pun yang berlebih untuk sesuatu yang ingin kita sampaikan, juga tergolong israf yang dilarang.
Karena itu, ketika saya menjelaskan sesuatu kepada kalian saya harus sangat sensitif dalam penggunaan jumlah kata. Jika saya tidak menjaga prinsip dengan berlebihan dalam berbicara meski hanya dua kosa kata, bisa jadi saya akan dihisab karena hal itu.
Selain itu, untuk melawan sikap pemborosan dan ketidakpekaan menurut pengamatan saya, meski Risalah Nur telah banyak sekali mengumpulkan argumen, meskipun selalu mendorong untuk berhemat dan terus menerus menekankan hal itu. Namun di majelis-majelis Risalah Nur, masih sering terjadi pemborosan kata-kata bahkan bisa dikatakan, dibanding dengan jamaah lain suasana pemborosan kata itu terjadi lebih banyak di majelis Risalah Nur dengan tanpa kepekaan sikap, disertai tawaan, candaan, lawakan yang tidak serius, masing-masing bersikap seenaknya, tanpa disertai logika yang benar.
Telah terjadi pemborosan kata yang luar biasa banyak sedangkan para ahli hakikat sejak dulu mengatakan untuk sedikit bicara, sedikit tidur, juga bisa dikatakan sedikit minum, dan menyendiri dari manausia agar dapat menempuh perjalanan di jalan hakikat.
“Sedikit makan, sedikit minum, sedikit tidur, dan sedikit bicara”
Dan mereka menjelaskan banyak bicara tergolong hal kecerobohan, dan saat ini dikenal sebagai dengan sebutan “tong kosong nyaring bunyinya”.
Sedangkan ketika kita membuka mulut kita, seperti yang diungkapkan pada Kalimat ke-17, melihat Allah, memikirkan Allah, memperbincangkan Allah, merasakan keberadaan Allah, hidup untuk Allah dan hidup dengan Allah. Hal-hal tersebut haruslah menjadi tujuan bagi kita.
Kita biasanya menyebutnya “mengalihkan pembicaraan”, namun kalian bisa menggunakan kalimat yang lebih cocok, seperti “mengembalikan topik pembicaraan pada dengan tempat yang sesuai”, atau “membawa pembicaraan pada inti topik yang seharusnya”.
Jika sebuah perbincangan tidak membahas tentang Allah, maka itu hanyalah kesia-siaan. Jika kata-kata tidak menjadikan Allah sebagai inti pembahasan, itu israf. Jika kata-kata tidak mengarahkan kepada Allah, sama artinya menipu umat manusia kata-kata itu hanyalah tipu daya belaka.
Khususnya dalam hal ini majelis-majelis kita seolah terlewat dengan begitu saja kita tidak bisa menutrisi majelis-majelis kita. Yakni hal-hal yang memiliki nilai penting tergantikan oleh hal yang sia-sia, seolah-olah hal yang sia-sia lebih diutamakan dibandingkan hal esensial lainnya.
Ucapan yang tidak memberikan makna yang berasal dari tingkah laku yang tidak serius kata-kata yang mengada-ada, kata-kata kosong, yang tidak memiliki tujuan serta kata-kata yang tak memiliki landasan. Hal ini menurut saya sangatlah penting, terutama mereka yang memiliki wewenang di majelis-majelis penting, seharusnya bisa mengambil tugas sebagai pengatur ‘lalu lintas’ ucapan.
Ketika ada kata-kata yang keluar dari jalur, atau melanggar aturan-aturan ‘lalu lintas’ mereka harus segera menegakkan hukum dengan kapasitas mereka seperti yang Necip Fazil ungkapkan segera merentangkan tangannya dan menghalau mereka, dan harus menyampaikan kepada mereka “Jalan ini adalah jalan buntu, janganlah gegabah!”.
Arahkan setiap perkataanmu menjadi perkataan yang benar dan bermanfaat yang mengantarkanmu kepada Allah SWT, menyuarakan Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Setiap teman kita yang memiliki wewenang dalam majelis, sang pemilik akal yang luhur sedang bagi mereka yang tidak berbuat seperti itu, saya memang melihat mereka bagai orang tak memiliki keluhuran akal sang pemilik akal yang luhur pasti bisa mengatur lalu lintas kata-kata bisa mengarahkan ke tujuan utama mereka.
Ya, salah satu hal pemberian nutrisi berkaitan dengan masalah ini, untuk membangkitkan kehidupan maknawiyah di majelis-majelis kita, sebagaimana dalam kriteria yang Ustadz berikan
“Keluarlah engkau dari alam materi tinggalkanlah kehidupan hewani, lalu masuklah pada kehidupan jiwa dan kalbu“.
Di situlah engkau meraih nilai detik-detik kehidupan yang mungkin setara dengan waktu bertahun-tahun. Satu ungkapan “la illaha illallah” akan membentuk pondasi hadirnya anugerah yang luar biasa, dengan ini potensi perbendaharaan akan semakin melimpah.
Yang kedua, kehidupan siang dan dakwah seseorang memiliki hubungan yang sangat erat dengan ibadah malamnya. Terlintas di benak saya, ada dua teman, setiap tahunnya kita sampaikan di sini, laksanakanlah shalat tahajjud berjamaah disini, demi meraih ridho Allah SWT. Paling sedikit, jangan sampai tidak shalat malam sebulan sekali. Jika kalian mampu satu minggu sekali untuk melaksanakan shalat tasbih dan ucapkanlah 300 kali subhanallah walhamdulillah wa la illaha illallah wallahu akbar.
Jika kita adalah hamba Allah Swt yang memiliki gelar “Rabbani”, itu yang kita harapkan jika kita memang benar-benar hidup sebagai pasukan mulia, maka dari itu kita harus berbeda dengan yang lain. Harus memiliki hubungan yang erat dengan Allah Swt, kita harus memiliki kedalaman ibadah yang mana dengan hal tersebut semoga Allah melimpahkan anugerah yang luas kepada perasaan dan pikiran kita, semoga Allah memberikan keberkahan kepada setiap kata-kata kita.
Di sisi lain semoga Allah menjadikan kita pengaruh baik bagi yang lain, ini bukan dalam artian untuk menghakimi atau menjelek-jelekan teman-teman yang lain. Namun jika misalnya saya tanya, malam ini yang tidak bangun sholat tahajjud silakan angkat tangan, beberapa dari kalian akan pasti merasa malu.
Ketika kehidupan malam seseorang tampak gelap, jika seseorang tertutup dari kehidupan barzah, ia tidak mungkin untuk menjelaskan sesuatu di alam barzah. Orang-orang yang selalu kalian sebut dalam penjelasan kalian, mereka hidup di alam barzah sedang kalian tertutup dari alam barzah. Sholat malam itu yang akan membuka pintu dengan alam barzah di Kalimat ke-9 dibahas secara mendalam, di dalam Hadits Syarif juga ada, di berbagai kajian sudah banyak sekali yang mebahas tentang masalah ini.
Di balik setiap kesuksesan ada ketekunan, kesabaran dan tekad yang kuat. Kita akan mendapatkan kesuksesan di jalan yang kita yakini bila kita memiliki tekad yang kuat, teguh pendirian, bersabar dan kita akan mendapatkan keridhaan Allah SWT. Sedikit saja kelalaian, keraguan akan menyebabkan semua kemampuan alami hati dan pikiran kita padam dan semua perbuatan baik yang telah kita lakukan selama ini akan sia-sia. Ada banyak orang yang telah meninggalkan pekerjaan yang belum selesai di pertengahan jalan, usaha yang telah mereka lalui itu sia-sia belaka dan tidak ada satu pun yang pernah berhasil. Bahkan, hal itu berlaku untuk perbuatan duniawi kita.
Tidak ada tugas yang kita biarkan tidak selesai dan kemudian berharap untuk mendapatkan sesuatu darinya. Perawatan tanaman kita, perawatan peternakan kita, perhatian pada anak-anak kita. Itu semua mana mungkin kita bisa melihat buah keberhasilannya bila kita meninggalkan di tengah-tengah. Seorang Muslim harus bertindak dalam aturan yang sama dalam hal perbuatan yang berhubungan dengan Allah, akhirat, dan untuk mendapatkan Surga. Dia tidak memalingkan matanya bahkan untuk sesaat dari cakrawala Allah yang dia tuju. Dengan hasrat keinginan yang dalam dari hatinya, dia selalu mengharapkan saat dia akan bertemu Allah, dan meninggalkan pintu itu bagaikan kematian baginya. Dan dia akan berhasil dengan taufiq dan inayah dari Allah SWT. Orang yang menunggu keridhaan Allah seperti kucing menunggu mangsanya dari lubang hingga ia mendapatkannya, maka orang itu akan berhasil. Orang yang tidak menyerah meski tidak mendapatkan apa yang diharapkannya selama berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, jika ia tetap menghabiskan banyak usaha, melewati berbagai rintangan maka ia akan berhasil dengan petunjuk dan inayah Allah.
Seandainya Rasulullah SAW ragu-ragu, intoleransi dan berpaling karena tekanan dari kaum musyrikin, Beliau tidak akan bisa mencapai kesuksesan yang kita saksikan sekarang ini. Terlepas dari segalanya, beliau telah bertahan bahkan tidak ada yang mau mendengarkannya selama 13 tahun. Terlepas dari semua ini, beliau bersikeras, bertahan dan kemudian Allah telah menganugerahkan kepadanya kesuksesan. Para pengkhianat tidak bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan. Siapa saja yang meninggalkan sebuah pekerjaan di tengah jalan tidak bisa mendapatkan apa yang ia harapkan. Mereka yang berhenti dari pekerjaan karena menghadapi kesulitan tidak dapat mencapai apa yang mereka harapkan. Baik ketika anda merasa hati anda keras maupun lembut dan dalam dua kondisi tersebut jika tetap anda bisa bertawajuh kepada Allah, maka anda akan berhasil dengan petunjuk dan inayah Allah.
Orang yang tidak berusaha melakukan sesuatu karena keadaan tidak mendukung maka ia tidak akan menghasilkan apa-apa. Mereka yang berusaha dalam keadaan apapun maka keberhasilan akan datang. Mereka yang jatuh cinta dengan memanen sesuatu bahkan dari tanah tandus pun akan bisa memanen. Mereka yang percaya bahwa sesuatu dapat dipanen dari batu pun akan bisa memanen. Rasulullah SAW adalah monumen kesabaran tersebut. Para sahabatnya yang setia adalah monumen kesabaran ini. Mereka telah bersabar, mereka bertahan, dan Allah pun menganugerahkan mereka kesuksesan. “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah”.
Tetaplah bertahan dan berusaha, tanpa menunjukkan keragu-raguan. Terlepas dari segalanya, tetaplah bersikeras untuk tinggal di pintu Allah. Saling memberi nasihat kesabaran.
Jelaskan kesabaran, dan tunjukkan kesabaran itu dengan perbuatan kalian. “Bersatulah dan waspadalah terhadap bahaya! Waspadalah terhadap hal-hal yang dapat membahayakan rumah, cakrawala, dan negara kalian!Jadilah komunitas yang bertindak dalam persatuan dan saling melindungi dari segala bahaya agar kalian beruntung.”
Al-Quran telah mensyaratkan faktor-faktor ini untuk keselamatan dan kemakmuran manusia. Kalian harus berdiri, bertahan, jangan perlihatkan keraguan. Kalian akan memastikan bahwa hal yang sama juga berlaku untuk orang lain. Dan kemudian kalian akan menjadi tubuh yang bersatu, kokoh dan kuat. Kalian akan menjadi dinding yang telah diikat dengan besi satu sama lain dan kemudian muncul sebagai satu tubuh. Maka Allah akan membuat kalian berhasil. Semoga Allah SWT menjadikan kita seperti itu, dan membuat kita berhasil. Karena mereka yang memahami kebenaran suci ini ketika semuanya hancur dan runtuh ia hanya mengandalkan pertolongan Allah, Allah SWT telah membuat mereka berhasil.
Bagi jamaah yang mencintai Rasulullah SAW tidak ada kejadian kedua yang bisa memberikan kesedihan kapada mereka selain kehilangan beliau. Para sahabat begitu mencintainya sampai-sampai bahkan sehari tanpa melihatnya bagaikan siksaan neraka. Namun demikian, orang-orang yang terjaga, dari saat mereka diberitahu kebenarannya, memahami apa yang harus mereka hubungkan, dan percaya pada Allah, mengandalkan Allah dan mencoba berlari menuju cakrawala yang telah Ia tunjukkan di jalan yang telah Ia buka.
Jika kita mengatakan bahwa Sayyidina Abu Bakar r.a, sebagai perwujudan kesabaran, ketekunan dan tidak menunjukkan keraguan setelah Nabi kita wafat pun maka ia layak untuk itu. Dia adalah orang yang pernah menjalani hidupnya dengan Rasulullah, bersamanya di saat-saat paling berbahaya, melindungi-nya dengan tubuhnya dari segala bahaya yang akan ditimpakan kepada Rasulullah SAW dan mengabdikan dirinya untuk mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika Rasulullah wafat, mungkin bisajadi ia terguncang, jatuh dalam keragu-raguan tapi, hal itu tidak terjadi. Dimanapun Nabi kita meninggalkan misinya, dia mengambilnya dari sana dan melanjutkannya dan dengan petunjuk dan inayah Allah ia telah berhadapan dengan orang-orang kafir, murtad, dan munafik tanpa ragu. Dia mendorong pasukan Rasulullah dan berkata: “Pasukan ini harus menghadapi musuh. Adapun Madinah, biarkanlah dia sendiri. Ini adalah perintah Rasulullah.” Dia memerangi mereka yang menolak untuk membayar Zakat yang sudah ditetapkan, mereka yang ragu-ragu dan menantang.
Sambil mengingatkan sabda Rasulullah Saw: “Saya telah dituntut untuk bertindak di jalan Allah. Saya bertanggung jawab untuk menjalankan misi sampaiorang-orang beriman kepada Allah dan mengatakan Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, sampai mereka mendirikan salat dengan benar, dan membayar zakat dengan benar.” “Seperti zaman Rasulullah yang telah ditetapkan zakat, walaupun seuntai tali yang di leher mereka bila tidak dizakatkan, maka aku akan berjihad untuknya.” Dia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Misi tersebut diambil dari tempat dibawanya pada masa Rasulullah dan kemudian dilaksanakan. Kemudian Allah melimpahkan petunjuk dan pertolongan-Nya.
Bayangkan bahwa di satu sisi, dia mengirim pasukan melawan kekaisaran Romawi (Perang Yamamah), di sisi lain, ia berurusan dengan nabi palsu Musailamah yang memproklamirkan diri di Yamamah yang telah membohongi dan mengumpulkan ribuan orang di sekelillingnya dan menyesatkan mereka. Tapi Abu Bakar r.a mengalahkan Musailamah juga. Orang-orang munafik berusaha menyebarkan fitnah di dalam maupun di luar Madinah, dan dia berhasil mengalahkan mereka juga. Ini adalah hasil dari kesabaran, kegigihan, daya tahan, dan tidak menunjukkan rasa menyerah di jalan yang diyakininya benar.
Keraguan selalu membuat orang mundur. Kita mendengar perumpamaan Taurat dari Nabi Musa. Ini berlanjut sebagai berikut: “Wahai Pemilik seluruh alam semesta, saya melihat banyak orang yang menyerah datang kepada-Mu saat mereka berada di tengah jalan menuju-Mu”. Saya melihat banyak orang yang melewati bukit ketika datang ke arah-Mu kemudian mereka menyerah.” Dan Allah yang Maha Kuasa berfirman dengan Kebijaksanaan dan Kesempurnaan-Nya: “Wahai Musa! Bukan mereka yang datang kepadaku. Mereka memang berniat untuk datang kepada-Ku, namun, mereka tidak bisa menghilangkan keraguan mereka. Pada dasarnya mereka tidak dapat memperoleh kekuatan untuk bertahan, tidak belajar bagaimana bersabar, bagaimana mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pada dasarnya mereka mengalami kebingungan.
Di sini, orang-orang yang bingung inilah yang telah menciptakan pemandangan buruk ini di abad ke-20. Ada banyak yang bingung, yang berpikir bahwa mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan sesegera mungkin setelah mereka berangkat. Namun, seperti yang pernah Penyair Yunus Emre katakan:
Jalan ini panjang sekali, ada banyak tempat tuk bermalam.”Tidak ada jalan pintas, hanya ada air yang dalam.”
Anda akan melewati lautan darah dan nanah, Anda akan melintasi bukit, terbang di atas ladang berduri dan mungkin hanya dengan begitu Anda akan mencapai, mendapatkan apa yang Anda inginkan. Semoga Allah SWT menjadikan kita dari mereka yang bertawajuh kepada-Nya di saat kesusahan dan kelapangan. Semoga Allah menjadikan kita sabar di saat susah dan senang, di saat keadaan berkebutuhan, dan kemakmuran.
Tujuan penciptaan alam semesta adalah beriman kepada Allah.
Seorang hamba, jika ia bisa istiqamah dalam tujuan ini, maka ia akan damai di dunia dan lebih bahagia di akhirat. Orang yang malas berjalan ke arah tujuan penciptaan, yang berjalan dengan berat dan yang tidak menunjukkan upaya apapun ke arah itu, maka ia akan menjadi malang, tidak bahagia, gelisah di dunia ini, dan menjadi sasaran murka Allah di akhirat.
Menghormati Allah, tergantung pada mengenal-Nya dengan sangat baik. Merasa terhubung dengan-Nya dengan sangat baik pun bergantung pada mengenal-Nya juga. Tidak terguncang, terkejut atau tersentak dari hal-hal yang datang dari-Nya, itu juga tergantung pada mengenal Allah dengan sangat baik.
Siapapun yang telah meninggalkan keislaman, di satu sisi dia juga meninggalkan al-Quran, merekalah yang tidak mengenal Allah dengan baik. Mereka tidak mengenal Al-Quran, oleh sebab itu ketika merasa sulit mereka pergi meninggalkan Al-Quran. Ketika Allah menguji mereka, mereka pun gagal dalam ujian tersebut.
Namun, jika seseorang yang benar-benar mengenal Allah, bahkan jika dia tidak menemukan satu tumbuhan dan langit tidak memberikan setetes air pun, jika ia memiliki iman kepada Allah, ia selalu akan melihat tanda-tanda Nya pada segala hal, dan mengikatkan diri kepada-Nya dengan jiwa dan hatinya maka dia tidak akan menyimpang dari-Nya.
Orang yang memiliki pemahaman dan berwawasan, hanya berpaling sekali dalam hidupnya. Itu pun dia akan kembali ke fitrahnya, dia kembali ke arah tujuan penciptaannya, yaitu kepada Allah dan Al-Quran, orang itu tidak akan pernah memikirkan untuk meninggalkan-Nya. Apapun bala musibah menimpa dirinya, walaupun alam semesta melawan dan menimpa dirinya, setelah dia kembali kepada Allah, dia tidak akan lagi meninggalkan-Nya dan berpaling kepada sesuatu yang lain.
Di balik pengabaian kita terhadap apa yang telah kita miliki sekarang adalah karena ada ketidakmampuan dalam iman (lemah iman). Dalam menghadapi peristiwa-peritiwa yang kecil lengan kita kendur, karena iman kita tidak produktif. Itu karena ada ketidakmampuan untuk percaya kepada Allah seutuhnya. Karena ada ketidakmampuan untuk mengenal-Nya sesuai dengan kebesaran-Nya. Jika kita memiliki semua itu dalam arti yang sebenarnya, kita akan terikat dengan iman yang sempurna kepada Allah yang Maha Sempurna, dan kita akan melakukan apapun yang diperlukan untuk menjaga ikatan ini dengan-Nya. Semoga Allah yang Maha Esa menganugerahkan iman yang sempurna kepada semua orang. Izinkan saya uraikan kepada anda semua beberapa contoh untuk menjelaskan masalah ini.
Seorang muslim sejati, Ketika merasa semua cahaya padam dalam dirinya bahkan ketika kemampuan alami otaknya berhenti, dia segera kembali kepada Allah yang Maha Kuasa.
“Ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Ada sesuatu yang membuatku kewalahan dan mencekik, saya kewalahan. Oleh karena itu, “saya meninggalkan agama!” ini adalah perkataan orang kafir.
“Saya telah kewalahan, jantungku telah berhenti berdetak, semua kemampuan alami di kepala saya telah berhenti, oleh karena itu saya kembali kepada Pemilik mutlak yaitu hanyalah Allah!” Ini adalah perkataan orang yang beriman.
Seorang muslim akan kembali bersama Allah bahkan Ketika semuanya berakhir, semuanya terkuras habis dan habis.
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl: 128).
Mereka yang berlindung kepada-Nya, mereka yang mengharapkan bantuan dari-Nya, jangan lupa bahwa Allah menyertai mereka. Mereka akan terguncang, akan merasakan musibah, akan ditempa ujian demi ujian entah berapa kali dan jika mereka bertahan dan tidak menyimpang, maka mereka akan melihat rahmat Allah yang luar biasa, dan mereka akan mendengarnya dengan jiwa mereka, mengalaminya dengan perasaan mereka, dan mereka akan mampu menjalani kehidupan seperti surga bahkan ketika masih di dunia ini.
Izinkan penulis mempersembahkan sesuatu, percayalah dengan keyakinan mutlak. Rasulullah Saw telah mengungkapkan hal itu, bisa kita ketahui siapa yang paling besar ujiannya melalui hadits berikut; Allah mengirimkan ujian terbesar kepada hamba-hamba Nya yang terkasih, dengan kata lain, kepada nabi-nabi Nya. Kemudian kepada para ulama atau wali-wali Nya. Setiap orang mendapat ujian ini sesuai dengan derajat keimanan mereka masing-masing.
Yang imannya paling kuat, maka momoknya paling berat dan paling keras. Yang imannya lemah maka ujian-ujiannya lebih sedikit.
Banyak ujian yang menimpa Rasulullah. Rumah beliau telah berubah menjadi rumah di mana masalah datang dan berlalu. Setiap hari, satu masalah menggantikan yang lain. Setiap hari masalah baru bertengger di satu sisi rumah. Setiap hari, Rasulullah menghadapi kesulitan. Ia menanggung penderitaan, menderita di sini untuk membawa kebahagiaan sejati dan damai untuk orang-orang yang menderita. Ia bukan satu-satunya yang mengalami musibah tersebut, bahkan anggota keluarganya, istri-istrinya juga mendapatkan bagiannya.
Siti Aisyah adalah mahkota dunia wanita. Saya akan menggosok wajah saya dengan tanah yang dia injak dan seandainya kuambil tanah itu, dan kucium aroma terbaik itu, saya berharap dari belas kasihan Rabbku. Allah tidak akan membuat hidungku yang telah mencium bau tanah terinjak oleh siti Aisyah mencium aroma neraka. Jika aku tidak mencintainya lebih dari ibuku, jika aku tidak memberinya tahta/tempat yang mulia di hatiku, maka saya akan memiliki kesimpulan bahwa saya tidak menghormatinya. Hanya saya yang tahu betapa senangnya saya saat mengucapkan “ibuku”. Jika saya adalah orang Muslim yang paling rendah derajatnya, maka kedudukan siti Aisyah di hati semua Muslim sangatlah agung, dan sangat tinggi. Tapi tolong perhatikan bahwa karena dia adalah anggota rumah tangga Rasulullah, dia juga tidak bisa terhindar dari ujian itu.
Hidup mereka penuh dengan ujian. Begitu dia selesai dengan satu ujian, maka ujian yang lain akan menangkapnya. Beliau waktu itu masih muda, masih masa berbunga, dan beliau telah mengabdikan dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan semua indranya. Beliau mengabdikan diri sedemikian rupa sehingga ketika beliau dan istri Rasulullah lainnya telah diberi kesempatan untuk memilih salah satu dari dua pilihan,
Rasulullah memanggil dan berkata kepadanya: “Aku akan menyampaikan sesutu kepadamu. Tapi jangan memutuskan itu tanpa berkonsultasi dengan ayah dan ibumu!”
“Apa itu wahai Rasulullah?”
“Intinya adalah bahwa Allah memerintahkan saya untuk meninggalkan kalian jika kalian mau, tetapi jika kalian tidak mau, kalian boleh tinggal dengan saya. Apakah kamu lebih memilih Allah dan Rasulullah atau dunia?” kata Rasulullah kepada istri-istrinya.
“Apakah ini yang saya tanyakan kepada ayah saya?” tanya Siti Aisyah.
“Demi Allah, aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya” katanya.
“Tiga bulan dapur di rumah kami tidak menyala, kami tidak menemukan seteguk air untuk diminum.” Siti Aisyah lebih memilih Rasulullah terlepas dari semua hal itu.
Tapi ujian musibah datang bersamanya, karena dia adalah orang yang hebat, dan dia memiliki tempat yang ditinggikan setelah Rasulullah.
Ketika Al-Quran bebicara kepada Rasulullah, itu memerintahkan bahwa Nabi lebih disukai daripada dirimu sendiri dan istrinya lebih berharga daripada ibumu sendiri. Siti Aisyah, wanita yang lebih berharga dari semua ibu Muslim. Dia ikut pergi bersama Rasulullah untuk Perang Bani Mustaliq, dia kehilangan kalungnya dalam perjalanan itu. Saat dia mencarinya, tentara sudah bergerak ke tujuan lain. Jadi dia memutuskan untuk menuju tempat peristirahatan semula. Ketika siti Aisyah kembali bersama tantara bagian belakang pemeriksa yang bernama Safwan, orang-orang munafik mengamuk, menghina dan memfitnahnya. Mereka juga tahu bahwa siti Aisyah lebih bersih dan lebih cerah dari matahari langit.
Mereka juga tahu kepantasannya menjadi istri Rasulullah, tetapi mereka tetap mengolok dan menghinanya. “Lemparlah lumpur, meskipun sedikit pasti ada yang menempel!”
Sampai Allah membebaskan siti Aisyah dari tuduhan, situasi ini menyebabkan tekanan batin di hati Rasulullah, dan gelombang penderitaan di hati siti Aisyah dan di rumah Abu Bakar.
Hari-hari telah berlalu, dan siti Aisyah tidak menyadari apapun.
Saat berjalan dengan ibu dari salah satu kerabatnya, salah satu dari mereka yang telah mencaci dirinya. Siti Aisyah mendengar klaim itu darinya dan darah di pembuluh darahnya membeku. Dia datang ke rumah Rasulullah dan dia merasa tidak dapat pujian seperti sebelumnya. Ketika Rasulullah masuk ke biliknya, dia meminta izin kepada Rasulullah, untuk mengunjungi rumah orang tuanya.
Penafsir hebat hukum Islam yang akan menerangi umat manusia di bidang Hadits dan hukum Islam ini melebur seperti lilin. Rasulullah SAW telah berkonsultasi dengan banyak orang. Sayyidina Ali mengusulkan kepadanya untuk berkonsultasi dengan seorang wanita yang bisa mengatakan sesuatu yang paling benar.
“Ya Rasulullah, bicaralah dengan wanita itu. Dia akan mengatakan kebenarannya, membebaskan siti Aisyah” katanya. Dan Zaynab binti Jahsh membebaskan siti Aisyah dari tuduhan tersebut.
Sayyidina Umar menunjukkan kepintarannya, dengan mengatakan kebenaran yang paling indah: “Waktu itu kita sedang salat, Ya Rasulullah! Saat melaksanakan salat, Anda melepas sepatu Anda sebelum melakukan ruku’, dan para sahabat di barisan belakang juga melepas sepatu mereka. Kami bertanya setelah salat. Anda mengatakan: “Jibril telah memerintahkan dan karena itu saya melepaskannya”. Anda telah mengetahuinya dari Jibril dan memberi tahu kami. Ada sedikit kotoran di sepatumu dan Jibril telah memberitahumu agar itu tidak membatalkan salat, hingga Anda melepaskannya. Bukankah Allah telah memberi tahu Anda tentang kotoran kecil yang mengotori sepatu anda. Apa mungkin Allah Swt tidak memberitahu Anda tentang pencemaran nama baik yang dilemparkan pada keluarga Anda? Kata yang sangat menusuk, analisis yang sangat bagus walaupun sanadnya lemah. Perkataan ini membuat Rasulullah, menjadi sedikit lebih tenang.
Rasulullah berkata kepada para sahabatnya di masjid: “Apakah tidak ada orang yang bisa menghapus fitnah ini dari keluargaku?”.
Para sahabat sudah siap. Sahabat agung Saad bin Muadz mengaum seperti singa: “Perintahkan, akan kupenggal siapapun yang menfitnahmu”.
Namun semua itu tidak cukup untuk meringankan luka ini sampai wahyu Allah datang. Nabi yang terluka, Nabi yang berduka pergi ke rumah yang penuh duka itu. Abu Bakar membaca Al-Quran tanpa henti dan bertawajuh kepada Allah. Ummi Ruman, ibu dari siti Aisyah merasa seolah-olah ada api di dalam dirinya. Istri Rasulullah difitnah -hasya wa kalla-
Siti Aisyah berada di Kasur seolah-olah dia sedang menunggu kematiannya. Rasulullah menghormati rumah suci itu dan membawa kebahagian padanya. Ketika siti Aisyah menyampaikan peristiwa tersebut kepada kami.
Rasulullah datang dan berkata kepada saya: “Ya Aisyah, saya tahu bahwa anda baik dan suci, tetapi jika seseorang membuat kesalahan dan kemudian kembali kepada Allah, Allah akan mengampuninya.”
Ketika saya mendengar kata ini dari Rasulullah, saya mengerti bahwa ada sesuatu yang melawan saya. Kedengarannya seperti ada keraguan. Wallahi, aku berkata aku hanyalah seorang perempuan belia: Saya tidak tahu banyak tentang Al-Quran. Saya tidak tahu harus berkata apa.
Saya menoleh ke ibu saya dan berkata: “Jawablah kepada Rasulullah!”
Dia berkata: “Saya tidak tahu harus berkata apa kepada Rasulullah”.
Saya menoleh ke ayah saya dan meminta hal yang sama. Dia juga tidak menjawab. Saya sudah sangat binggung. Sehingga saya ingin melafalkan surat Yusuf, saya lupa nama Nabi Yakub juga dan kemudian saya teringat nama anaknya Yusuf, lalu saya berkata: “Wallahi, cerita kita sama seperti cerita Yusuf dan ayahnya. Ketika dia melepaskan diri dari asbab, dia berkata: “Jadi jalan yang tepat bagi saya adalah, menjadi kesabaran yang bertahan tanpa keluhan. Allah lah yang dimintai pertolongan seperti yang telah kamu gambarkan.” (Q.S Yusuf – 18).
Saya pun mebacakan ayat ini atas nama dunia Islam:
Tapi di mana semuanya berakhir, ada yang mengawasi segalanya. Ada Allah yang Maha Mendengar dan Melihat. “Darahku membeku, air mataku telah mengering, aku kembali ke kamar, punggungku menghadap kiblat, dan berbaring di pembaringan lalu aku bertawajuh kepada Allah.
Saat berada di posisi itu, tiba-tiba terjadi badai petir, sepertinya Jibril berlari untuk membantuku. Akhirnya, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Saw. Tubuh beliau bergetar. Begitulah keadaan beliau ketika menerima wahyu.
Setelah selesai (menerima wahyu), ayat-ayat berikut dicurahkan dari bibirnya yang diberkati: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.” (Q.S. Nur – 11).
Duhai kekasihku, Ya Rasulallah! Mereka memfitnah keluargamu. Mereka mengatakan kebohongan tentang keluargamu. Mereka lempar lumpur kepada keluargamu yang suci. Janganlah kamu kira bahwa semua itu buruk bagimu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Dengan ujian berat ini kalangan munafik, orang tidak berkarakter dan berkepribadian lemah sudah ketahuan. Dengan ujian ini Allah mengangkat derajat keluarga Sayyidina Abu Bakar.
Nabi Muhammad Saw dengan ujian ini akan diangkat oleh Allah ke tempat dan kedudukan yang dipuji (Maqam Mahmudah) Siti Aisyah dengan suka cita kembali ke rumah Nabi di mana merupakan tempat kebahagian. Abu Bakar juga senang, dan Ummi Ruman juga senang.
Siti Aisyah, -yang menjalani kehidupan seperti surga di dunia dan di akhirat- juga bahagia, Rasulullah juga sangat bahagia. Bahkan ketika semuanya sudah berakhir, orang yang beriman selalu bertawajuh kepada Allah, dan mereka tidak tersinggung, patah hati karena Allah tidak memberikan apa yang mereka minta.
Sebaliknya, mereka kembali kepada Allah sesuai dengan hadits; “Aku bersama mereka yang hatinya hancur”.
Menurut hadits qudsi, saat mereka merasa patah hati, mereka akan bertawajuh kepada Allah. Allah menyertai mereka.
Allah akan memegang tangan mereka dengan keselamatan. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang ihsan (berbuat kebaikan) ” (Q.S. an Nahl – 128)
Walaupun mereka tidak dapat melihat-Nya, tetapi mereka hidup seolah-olah mereka melihat-Nya.
Pertanyaan: Ustadz yang mulia, pada beberapa kesempatan anda berkata, “semoga jalan dakwah ini menjadi takdir hidup kalian.” Apa saja nasihat Anda agar kami bisa sampai ke puncak yang ideal dan tetap terikat dalam Hizmet ini?
Secara kebetulan sama seperti kemarin, saya telah menjelaskan sifat-sifat anak muda sebagai catatan awal. Sekarang akan saya bahas mengenai sifat-sifat ksatria muda sebagaimana yang diinginkan. Apa yang kita harapkan dari para pemuda? Ketika saya mendapatkan pertanyaan seperti ini, maka mereka bertanya lagi, bisakah Anda menjelaskan sifat generasi muda seperti yang dinanti-nanti. Juga dengan persoalan hari ini, dakwah ini harus menjadi takdir kalian.
Seseorang haruslah mencintai sesuatu yang mulia, dan tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal yang murah, harga diri seseorang bukan bernilai dengan ijazahnya, jabatannya dan tempat dia bernaung. Harga diri seseorang bukanlah bernilai karena menjadi anggota dewan, perdana menteri maupun seorang presiden. Bila takdir membuatku jadi presiden hanya karena nilai diri, sungguh aku akan marah terhadap diri ini dan berkata: “Ya Allah kenapa Engkau menciptakanku tidak beruntung seperti ini.” Aku ke Hammam (pemandian air panas) pada musim panas, malah udara jadi dingin. Memangnya ada yang mau jadi presiden?
Yang aku inginkan dari Engkau adalah Engkau (Allah), yaitu menjelaskan tentang-Mu hingga nafasku terputus-putus. Aku ingin jadi lidah-Mu, kalau tidak maka biarkanlah lidahku yang putus. Aku ingin di mana-mana itu melihat-Mu, kalaupun tidak bisa, ambillah mataku ini supaya aku tidak akan melihat hal yang haram ketika masih muda. Aku ingin mendengar-Mu, bila tidak maka tulikanlah saja telingaku ini. Aku ingin bernafas di sisi-Mu, kalau tidak biarkanlah saja nafasku ini terhenti. Bisakah aku sampaikan ini dengan jelas?
Insan dakwah bukanlah orang yang sekedar makan minum dan tidur. Insan dakwah bukanlah orang yang hidup terikat dengan kebutuhannya saja. Insan dakwah adalah orang yang telah melupakan nikmat kehidupan dan gila memberikan kehidupan bagi yang lain. Insan dakwah itu seperti Majnun, tanpa mencari Laila ia tidak bermakna.
Dan juga seperti Farhat yang tiap hari melubangi gunung yang berbeda untuk mencari jalan bertemu Syirin. Seperti Emrah yang rela terbakar seperti serpihan api demi Aslı. Itulah insan dakwah.
Beberapa generasi sebelumnya menjadi harapan bagi kita untuk mencapai kualitas yang bagus dan menjadi teladan buat generasi yang kita tunggu. Saya berharap meraka menjadi contoh yang baik. Dan Insya Allah semoga kalian berada di jalan seperti itu. Saya rasa saya telah menjelaskan hal yang semestinya saya jelaskan. Apakah saya melakukan sebuah kesalahan bapak doktor? Kalau tidak, saya rasa saya sudah menyampaikan hal-hal yang mungkin saja belum saya sampaikan sebelumnya. Kalau ada penjelasan yang bertentangan, sungguh hanya Allah yang mengetahui semua yang nampak dan rahasia, Semoga Allah juga mengampuni dosa-dosaku. Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi.
Semoga Allah isikan hati kami ini dengan iman, dan kenyangkan kami dengan iman. Bangkitkanlah kami sekali lagi, hilangkanlah kehinaan, sehingga membuat kami mencapai mimpi kami yang ingin memiliki peran cukup besar di dunia. Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Wahai Tuhanku, buatlah diri kami menjadi lupa terhadap nafsu kami, dan tingkatkanlah derajat hati dan jiwa kami, dan jadikanlah nafas kami seperti nafasnya para malaikat. Engkau memberikan kami semangat untuk berlari di Jalan-Mu ibarat Kuda. Jadikan kami tidak merasa kelelahan hingga jantung berhenti berdetak sekalipun. Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Dan jika saja yang aku ucapkan ini merupakan ucapan yang berisi kesombongan maka ampunilah dosaku. Terimalah doa kami ini sebagaimana engkau menerima doa-doa sebelumnya.
Ini adalah generasi harapanku yang terakhir. Jika generasi ini tidak melakukan apa yang mesti dilakukan sekarang, maka kita pun harus menunggu setengah abad lagi yaitu 50 tahun. Maka umur saya dan sebagian besar kita tidak akan cukup untuk itu.
Mus’ab Bin Umair telah meninggalkan hidupnya yang nyaman dan serba berkecukupan dan pergi ke Madinah. Saran saya, jika kalian ingin menyelamatkan dunia, maka kalian harus menjadi seperti Mus’ab, Khabbab Bin Al-Aratt ataupun Ibnu Jahsy. Suatu beban yang hanya bisa diangkat dengan tangan yang dapat mengangkat beban lima kilogram, tak akan bisa diangkat dengan tangan yang hanya kuat mengangkat beban tiga kilogram. Orang-orang yang kesana-kemari berjibaku dalam isu-isu dunia dan lebih mencintainya daripada akhirat, memilih untuk menikmati kasurnya yang empuk daripada melayani al-Qur’an dan umat, serta tidak merasa sedih dan kehilangan ketika agamanya roboh ataupun ketika anak mudanya telah termabuk akan dunia, tak ada yang bisa diharapkan dari mereka untuk perjuangan dakwah ini. Tapi ingatlah, pintu Allah akan selalu terbuka, selalu menunggu kedatangan kalian entah muda atau tua dan menyambut dengan sangat gembira ketika kalian datang menghadap-Nya. Allah akan menjaga kalian dari petaka yang menyakitkan dan penderitaan ini. Dan Dia pun akan menjaga kalian dari konflik dan kerisauan batin.
Jikalau kalian menjadikan rasa kebertuhanan, iman dan makrifat kepada Allah lebih dominan dalam hidup, maka kalian akan diliputi oleh rahmat Allah yang tak terbatas tanpa bisa kalian sangka-sangka. Tunjukkanlah kepada orang lain cara untuk lebih menyukai pengabdian kepada al-Qur’an daripada kenyamanan ranjang tidur. Saya memberikan penekanan pada masalah ini karena dua alasan. Pertama, saya akan membungkam rasa putus terhadap asa orang-orang yang menatap masa depan dengan pandangan pesimis. Kedua, saya akan menghilangkan rasa cemas dari sebuah penghinaan. Saya sepenuhnya percaya dan menyatakan kepada dunia bahwa suara mereka yang mencintai, menghormati, dan melayani orang banyak, suara Islam, suara Nabi Muhammad SAW, suara suci al-Qur’an yang merupakan kalam ilahi, akan menjaga dan melindungi keistimewaan suara yang kuat dan merdu mereka pada skala manusia.
Hanya ada satu cara untuk mewujudkan cita-cita mulia kita ini. Ialah dengan menjaga generasi muda kalian. Seorang individu, keluarga, komunitas ataupun seluruh bangsa harus menyadari pentingnya menjaga anak-anak kita. Mereka akan mengenal Allah dan Utusan-Nya. Kemudian hati dan kepala mereka akan terisi dengan sains modern di sekolah-sekolah sehingga mereka akan tumbuh menjadi manusia yang sempurna. Kita akan membangun masa depan dunia berlandaskan kepercayaan, perdamaian dan kebahagiaan dengan membekali anak kita akan penggabungan sains barat, ilmu agama, kebenaran Rasulullah SAW dan al-Qur’an yang mulia. Saya tidak percaya mereka yang berkelahi di jalanan bisa mengerti misi ini. Saya tidak percaya mereka yang mengklaim bahwa akan mendirikan Turki yang hebat dengan suara lantang bisa menghasilkan sesuatu. Lindungilah generasi kalian dan Allah Yang Maha Kuasa akan menjadikan kalian mulia. Pada saat ini, Allah telah melimpahkan nikmat dan anugerah-Nya pada kalian yang bahkan tidak ada pada abad sebelumnya. Kalian berada pada posisi untuk meninggikan agama Islam sampai pada titik tertinggi kemanusiaan dan meninggikannya sampai pada titik puncak kemanusiaan. Kalian telah memasuki jalan menuju langit dengan bantuan dan rahmat Allah. Allah Yang Maha Kuasa telah menganugerahi kalian keberkahan ini. Dia tidak mengambil kembali nikmat yang telah Ia berikan setelah Ia limpahkan keberkahan-Nya.