mengembangkandiri-cinta-kekuatan

Cintaku Kekuatan

Kekuatan Cinta

Karya Pembaca: Mahir Martin

“Cinta adalah bagian terpenting dari setiap makhluk. Ia adalah sinar paling cemerlang dan kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal.”

Ini adalah kalimat yang dikutip dari perkataan ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi yang tertulis pada salah satu buku karangannya.

Cinta yang dimaksud Hojaefendi ini, bukanlah cinta yang berisi roman picisan atau cinta yang mengedepankan nafsu jasmaniyah belaka. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang memiliki dimensi yang lebih luas dan dalam.

Dalam kutipan, dikatakan bahwa cinta dapat menjadi kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal. Artinya, cinta bisa dijadikan alat dan cara yang dapat menyelesaikan segala problematika, dan segala permasalahan yang ada di dunia.

Permasalahan Dunia

Dunia yang kita tinggali adalah memang dunia yang tak lepas dari problematika dan permasalahan.

Setiap zaman memiliki permasalahan yang datangnya bertubi-tubi menghantam dunia kita. Dari waktu ke waktu seolah permasalahan tak pernah berhenti datang ke dalam kehidupan manusia.

Anehnya, manusia itu sendiri yang selalu menjadi aktor utama pada permasalahan yang terjadi. Sayangnya banyak manusia yang tidak menyadarinya.

Menurut ustad Bediuzzaman Said Nursi, setidaknya ada tiga permasalahan besar yang ada di dunia kita saat ini, yaitu kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan.

Ketiga permasalahan ini saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membuat permasalahan semakin sulit dipecahkan bak benang kusut yang sulit untuk diurai.

Misalnya saja permasalahan kebodohan. Kebodohan bukan disebabkan karena tidak adanya pendidikan, tetapi hakikat pendidikan yang tidak dimaknai dengan benar. Di dalam institusi pendidikan modern sekarang jarang sekali kita dapatkan kecintaan yang mendalam kepada ilmu pengetahuan. Akhirnya, pendidikan hanya menjadi formalitas belaka.

Pendidikan yang hanya menjadi formalitas, pada akhirnya tidak akan mampu  mewujudkan generasi yang hidup dengan rasa cinta. Yang terjadi adalah ilmu pengetahuan hanya dijadikan alat untuk melakukan kerusakan di muka bumi yang diawali dengan rusaknya generasi yang ada di dalamnya.

Hal yang sama terjadi pada permasalahan kemiskinan. Kemiskinan bukan disebabkan karena kekurangan materi atau harta kekayaan, tetapi yang terjadi adalah kemiskinan akhlak atau degradasi moral yang terjadi pada generasi. Akibatnya, nilai-nilai kebaikan yang seharusnya diusung tinggi menjadi barang mahal yang sulit untuk didapatkan. Cinta kepada kemanusiaan yang seharusnya dikedepankan menjadi sebuah utopia yang sulit untuk bisa digapai.

Nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang tercermin dari rasa saling tolong-menolong, bantu-membantu, dan saling memberikan perhatian antar sesama semakin jarang dilakukan dan sering terlupakan. Kini, yang selalu dikedepankan adalah hanya ego pribadi dan golongan. Prinsipnya, asal diri sendiri senang dan bahagia, maka tujuan hidup telah tercapai dan tidak perlu lagi memikirkan yang lain.

Begitu juga halnya dengan permasalahan perpecahan, setali tiga uang dengan kebodohan dan kemiskinan. Perpecahan tidak terjadi karena disebabkan adanya konflik atau konfrontasi, tetapi perpecahan terjadi pada dimensi pemikiran, ideologi, dan sudut pandang. Meskipun sekelompok orang berasal dari keluarga yang sama, dari suku yang sama, dan disatukan dalam bangsa dan negara yang sama, terkadang perbedaan pemikiran, ideologi, dan sudut pandang bisa menyebabkan terjadinya perpecahan.

Perpecahan seperti ini hanya bisa diatasi dengan komunikasi, dialog, dan adanya kesepakatan bersama. Perbedaan pemikiran, ideologi, dan sudut pandang harus bisa dipersatukan demi hadirnya sebuah kedamaian dalam kehidupan. Semua itu harus dilandasi dengan rasa cinta perdamaian yang seharusnya ada pada setiap benak masyarakat.

Revolusi Mental

Merujuk pada uraian-uraian tersebut, maka problematika dunia, berupa kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan sebenarnya tidak terjadi pada dimensi fisiknya, tetapi terjadi pada dimensi mental. Oleh karenanya, solusi yang tepat untuk mengatasinya adalah dengan adanya revolusi mental.

Revolusi mental yang akan membawa seseorang memiliki rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, cinta kemanusiaan, dan cinta perdamaian.

Ketiga rasa cinta inilah yang akan menjadi kekuatan dahsyat yang bisa melawan dan mengatasi semua permasalahan yang terjadi di dunia saat ini, seperti halnya dikatakan Hojaefendi.

Ketiga rasa cinta itu bisa muncul dari rasa keprihatinan atau kesedihan mendalam terhadap permasalahan manusia di dunia. Keprihatinan ini didasari oleh rasa cinta kita kepada manusia. Jadi, rasa cinta kepada manusia akan menyebabkan timbulnya keprihatinan, dan akhirnya memunculkan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan perdamaian.

Dari pembahasan ini, dapat kita pahami bahwa inti dari revolusi mental adalah cinta. Cinta yang memiliki dimensi yang sangat luas dan dalam. Cinta yang mengalir deras dari hulu ke hilir. Cinta yang merasuki semua sendi kehidupan. Cinta yang apinya harus selalu dihidupkan di dalam sanubari masyarakat.

Rasa cinta yang seperti ini akan timbul dari sebuah mental yang mengedepankan rasa cinta kepada Tuhan. Cinta kepada Tuhan yang seharusnya menjadi akar dari sebuah pohon cinta yang memiliki cabang dan ranting yang dialiri oleh rasa cinta. Pohon cinta ini yang akan memberikan buah cinta yang bisa kita nikmati bersama.

Sebuah Refleksi

Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi juga pernah berkata, “Memang benar, tanpa memperhatikan Allah, cinta apapun terhadap obyek apapun akan sia-sia, tidak menjanjikan, patut diragukan, dan tak menghasilkan apa-apa. Di atas segalanya, orang yang beriman harus mencintai-Nya, dan menyukai orang lain hanya karena mereka adalah manifestasi yang penuh warna dan refleksi dari nama dan sifat-Nya.”

Ya, sangat benar yang dikatakan beliau. Rasa cinta yang tertinggi, yang pertama dan utama, adalah rasa cinta kepada-Nya. Rasa cinta inilah yang seharusnya bisa dibangkitkan kembali di dalam kehidupan masyarakat.

Alhasil, cinta memang memiliki kekuatan. Apalagi jika rasa cinta tersebut didasari oleh keprihatinan dan kesedihan yang mendalam atas sebuah permasalahan, maka rasa cinta akan semakin kuat terasa.

Namun, yang membawa kekuatan cinta bukanlah cinta itu sendiri, tetapi cinta yang diarahkan kepada Sang Pencipta. Cinta dari-Nya, cinta untuk-Nya, cinta karena-Nya, dan cinta kepada-Nya.

mengembangkandiri-HUT-RI

Nasionalisme, Perjuangan, dan Kemerdekaan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Nasionalisme dan Perjuangan

Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan negara kita. Tahun ini, negara kita telah memasuki usia yang ke-76. Usia 76 tahun kemerdekaan bukanlah usia yang pendek bagi negara kita Indonesia untuk membangun bangsanya.

Banyak hal yang sudah dilakukan bangsa ini dalam rangka mengisi kemerdekaannya. Orang tua ataupun anak muda, laki-laki ataupun perempuan, di kota ataupun di desa, semua bahu-membahu dan berlomba-lomba memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.

Kemerdekaan dan Nasionalisme

Atmosfer peringatan HUT kemerdekaan mulai terasa ketika kita memasuki bulan Agustus. Di bulan ini, kita diingatkan lagi dengan nilai-nilai nasionalisme. Nilai-nilai nasionalisme yang tumbuh jauh sebelum diproklamirkannya kemerdekaan negara ini. Nilai-nilai nasionalisme yang masih tetap kita jaga dan lestarikan hingga saat ini.

Sejatinya, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga dan merawat nilai-nilai nasionalisme. Misalnya, memasang bendera, umbul-umbul, spanduk, dan baliho bertemakan kemerdekaan menjadi kegiatan rutin yang kita lakukan. Warna merah putih menjadi begitu dominan di sepanjang jalan utama ataupun di gang-gang kecil, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Masyarakat bekerja bakti untuk membuat gapura dan menghias lingkungan sekitar. Semua bekerja sama dan memberikan kontribusi apapun yang bisa dilakukan. Semua dilakukan dengan semangat gotong royong yang memang sudah menjadi ciri khas warisan budaya nenek moyang bangsa ini.

Ya, gotong royong adalah interpretasi dari rasa nasionalisme kita kepada bangsa dan negara. Gotong royong yang didasari persatuan dan kesatuan, kebersamaan, dan persaudaraan. Gotong royong yang telah menjadi bagian dari jati diri bangsa. Gotong royong yang tidak membuka celah terhadap nasionalisme negatif yang justru bisa menghancurkan bangsa dan negara ini.

Nasionalisme negatif biasanya terjadi karena adanya sikap cinta tanah air yang berlebihan. Nasionalisme negatif membuat masyarakat merasa bahwa hanya bangsa dan negaranya yang paling unggul, dan mereka menutup mata terhadap bangsa yang lain. Nasionalisme negatif ini dikenal dengan nama chauvinisme.

Ada banyak contoh dalam sejarah yang menunjukkan bahwa chauvinisme tidak akan bertahan lama. Sebut saja, chauvinisme Adolf Hitler dengan nazi-nya di Jerman, chauvinisme Mussolini dengan fasisme-nya di Italia, ataupun chauvinisme bangsa Jepang ketika menjajah negara-negara jajahannya.

Kemerdekaan dan Perjuangan

Selain nasionalisme, kemerdekaan juga bermakna perjuangan. Perjuangan adalah nilai penting dalam kemerdekaan. Tidak akan ada kemerdekaan tanpa adanya perjuangan. Keduanya menjadi satu kesatuan, berjuang untuk menggapai kemerdekaan.

Peristiwa kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa penting yang diperingati secara seremonial setiap tahunnya. Kemerdekaan memang seremonila, tetapi perjuangan untuk menggapainya seharusnya tidak bermakna seremonial.

Kemerdekaan memang seharusnya bukanlah tujuan utama perjuangan. Perjuangan harus terus dilakukan, ada atau tidak ada kemerdekaan. Berapa banyak pahlawan yang gugur tanpa merasakan manisnya kemerdekaan. Bagi mereka, bisa berjuang dan gugur untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa, sudah menjadi tujuan mulia kehidupan. Bangsa ini menghargai mereka sebagai pahlawan, bukan karena kemerdekaan, tetapi karena perjuangan yang mereka lakukan.

Kini, meskipun bangsa ini sudah merdeka, perjuangan harus tetap dilanjutkan. Kita sebagai penerus para pahlawan, seharusnya bisa terus berjuang untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif di bidang yang kita geluti masing-masing.

Misalnya saja, baru-baru ini di Olimpiade Tokyo, kita diperlihatkan dengan perjuangan heroik ganda putri andalan Indonesia Greysia Polii dan Apriani yang berhasil mendapatkan medali emas di perhelatan olahraga terbesar di dunia itu. Perjuangan mereka terasa lebih istimewa karena mereka sebenarnya tidak diunggulkan.

Mereka berhasil menembus batas dan akhirnya mendapatkan hasil terbaik, jauh melampaui apa yang diharapkan dari mereka. Oleh karenanya, begitu banyak apresiasi yang diberikan kepada mereka. Sejatinya, mereka telah menyelamatkan wajah perbulutangkisan Indonesia dengan mempertahankan tradisi emas di Olimpiade disaat yang diunggulkan justru harus berguguran.

Perjuangan Greysia Polii dan Apriani memang luar biasa. Disaat dunia memandang mereka dengan sebelah mata, mereka mampu membalikkan semua prediksi dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk menjadi juara. Pastinya, ini diraih dengan persiapan yang matang.

Ya, bagi seseorang yang benar-benar ingin berjuang, segala sesuatunya memang perlu dipersiapkan dengan matang.

Kemerdekaan yang kita dapat 76 tahun lalu, tidak begitu saja didapatkan. Ada persiapan panjang dalam melakukan perjuangan. Begitu juga Greysia Polii dan Apriani. Menjelang olimpiade pastinya mereka sudah berlatih keras dan telah mengeluarkan kemampuannya secara maksimal.

Dalam perjuangan memang perlu adanya persiapan. Persiapan yang bisa dijadikan amunisi ataupun senjata andalan untuk bisa memberikan hasil yang terbaik. Dalam persiapan, diperlukan perencanaan yang matang, strategi yang baik, dan semangat yang kuat untuk melakukan perjuangan. Ketika semua itu dilakukan, maka perjuangan akan berbuah manis. Proses tidak akan mengkhianati hasil yang akan dicapai.

Sebuah Refleksi

Dalam kehidupan, kita akan melihat pola yang sama. Dengan perjuangan, kehidupan pun akan terasa manis. Hidup memang perlu diperjuangkan. Hidup yang tidak diperjuangkan, tidak akan dapat dimenangkan.

Ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi dalam bukunya pernah menuliskan, “Perjuangan seorang insan bagi agama, bangsa, negara, generasi penerus, dan masa depan adalah sebuah prinsip.”

Ya, perjuangan adalah sebuah prinsip kehidupan yang mendorong kita untuk mengorbankan apapun demi sesuatu yang kita perjuangkan. Apapun rintangannya, kita tak akan pernah berhenti berjuang. Bahkan demi nilai-nilai suci yang kita miliki, bukan hanya harta, terkadang nyawa pun bisa kita berikan.

Disisi lain, perjuangan bagi agama, bangsa, negara, dan generasi penerus di masa depan harus dilakukan secara bersama. Hal ini sejalan dengan nilai gotong royong yang merupakan interpretasi nasionalisme positif yang juga merupakan bagian penting dari makna kemerdekaan.

Alhasil, kemerdekaan memang memiliki banyak makna bagi masyarakat yang mau menghayatinya dan merenunginya. Jiwa nasionalisme dan jiwa-jiwa penuh perjuangan adalah diantaranya. Namun, yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa jiwa nasionalisme dan perjuangan itu seyogyanya bisa keluar dari dorongan internal dalam diri masyarakat untuk melakukannya.

Dorongan internal yang didasari dengan hati yang dipenuhi dengan niat yang tulus. Niat yang diarahkan hanya untuk Allah SWT semata. Ya, hanya bagi-Nya yang Mahakuasa, yang telah memberikan nikmat kemerdekaan kepada kita.

Mungkin ini adalah bentuk rasa syukur terbaik yang bisa kita lakukan kepada-Nya di hari kemerdekaan yang kita peringati setiap tahunnya.

Merdeka!

mengembangkandiri-tahun-baru-niat-baru

Niat, Rencana, Aksi, dan Evaluasi

Karya Pembaca: Mahir Martin

Niat Dalam Beragama dan Berorganisasi

Dalam agama, niat merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami. Ketika seseorang melakukan ibadah, maka ibadah harus diawali dengan niat. Meskipun ada perbedaan bagaimana cara mengucapkan atau melafalkan niat, tetapi tak ada yang menafikan pentingnya kedudukan niat dalam ibadah.

Terkait niat ini, Rasulullah SAW pernah bersabda,

”Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.”

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mendefinisikan makna niat sebagai kehendak atau maksud, atau satu kondisi dan suasana hati yang dikelilingi dua hal yakni ilmu dan amal (perbuatan).

Niat, Rencana, Aksi, dan Evaluasi

Niat, tidak hanya penting dalam amalan beragama. Dalam berorganisasi niat juga memiliki peran yang sangat penting. Mungkin sebagian kita tidak menyadarinya. Hal ini disebabkan karena biasanya kita terlalu fokus pada hal-hal yang bersifat formal. Dan niat bukan suatu hal yang formal untuk dilakukan.

Sebagai contoh, dalam berorganisasi, formalnya ada tiga fase penting yang perlu dilewati. Ada fase perencanaan (planning), fase aksi (action), dan fase evaluasi (evaluation). Berbagai macam teori, metode, dan model tentang ketiga hal tersebut bisa kita dapatkan dengan mudah. Kita bisa mempelajarinya baik melalui buku, internet, maupun sumber-sumber lainnya.

Lantas, apa korelasi niat dengan rencana, aksi, dan evaluasi?

Untuk menjawabnya, mari kita perhatikan perkataan ulama dan cendekiawan muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi yang dikutip dari bukunya yang berjudul Islam Rahmatan Lil Alamin.

Beliau berkata, “Segala sesuatu bermula dalam bentuk gambaran di dalam benak, yang kemudian berkembang menjadi rencana, kemudian beralih kepada upaya untuk mewujudkannya dengan tekad dan kesungguhan.”

Artinya, sebuah rencana harus didahului oleh bentuk gambaran yang ada di dalam benak. Bentuk gambaran dalam benak inilah yang diartikan dengan niat. Tanpa adanya niat, tak ada satu pekerjaan pun yang bisa dimulai dan diselesaikan dengan baik. Sejujurnya, dapat dikatakan bahwa niat itulah sumber kekuatan yang tersimpan yang akan membuat sesuatu bisa terjadi.

Jarang sekali para ahli ilmu manajemen organisasi yang menjelaskan dan membahas tentang niat ini. Padahal, kunci berjalannya perencanaan, aksi, dan evaluasi terletak pada motivasi dan semangat pada individu-individu yang memiliki tekad, dan kesungguhan untuk menjalankannya. Dengan kata lain individu-individu yang memiliki niat yang kuat.

Yang sering terjadi, sistem berorganisasi yang telah dirancang sempurna dengan fase perencanaan, aksi, dan evaluasi yang dipersiapkan dengan begitu matang, ternyata dalam pelaksanaanya terdapat banyak kendala disebabkan karena tidak adanya motivasi dan semangat dari individu dalam menjalankan organisasi.

Inilah apa yang dimaksud dengan niat adalah sumber kekuatan dari segala sesuatu untuk terwujud. Tanpa adanya niat, segala sesuatu tak akan berjalan dengan lancar dan sempurna.

Sejatinya, niatlah yang akan menimbulkan motivasi dan semangat yang tak akan pernah luntur pada diri seseorang dalam berorganisasi.

Niat dan Proses Dalam Berorganisasi

Di sisi lain, selain niat itu penting sebelum perencanaan, adanya niat yang kuat juga penting agar individu dalam organisasi memahami dan mencermati proses dalam berorganisasi.

Lantas, bagaimana niat seseorang bisa mempengaruhi seluruh proses dalam organisasi?

Dengan niat yang kuat dalam benaknya, seseorang akan memahami apa yang sebenarnya menjadi tujuan hakiki dirinya melakukan kegiatan dalam berorganisasi. Sejatinya, proses perencanaan, aksi, dan evaluasi hanyalah dijadikan wasilah baginya untuk menggapai niat dan maksud yang paling tinggi.

Niat dan maksud yang tidak bisa dibandingkan dengan niat dan maksud yang bersifat duiniawi.

Dengan pemahaman seperti ini, maka tak akan ada rasa kecewa, takut, dan khawatir ketika menjalankan kegiatan dalam berorganisasi tersebut.

Intinya, niat yang kuat menyebabkan individu-individu yang ada di dalam organisasi mampu menyandarkan segalanya kepada Zat yang menjadi niat dan maksud yang paling tinggi dalam kehidupan.

Oleh karenanya, dalam sebuah organisasi, sebelum memulai sebuah proses, bukan perencanaan yang harus didahulukan, tetapi terlebih dahulu perlu dilakukan penanaman niat, kehendak, kemauan, tekad, dan kesungguhan bagi individu-individu yang ada dalam organisasi tersebut.

Setelah semua individu dalam organisasi memiliki kekuatan niat yang sama, barulah proses perencanaan dibuat. Perencanaan yang didasari niat yang kuat akan mempermudah berjalannya proses aksi. Pada akhirnya, proses evaluasi yang dilakukan pun akan berjalan dengan baik. Inilah gambaran nyata bagaimana proses dalam berorganisasi dipengaruhi oleh niat yang kuat.

Sebuah Refleksi

Niat, ibarat dinamo sentral dalam sebuah organisasi. Niat ini yang akan menentukan arah sebuah organisasi untuk bergerak. Niat ini yang akan terus menjaga kobaran motivasi dan semangat yang ada di dalam proses berorganisasi.

Ya, dengan niat, yang kecil dapat bernilai besar. Sebaliknya yang besar bisa tak bernilai apa-apa, apabila salah niatnya. Niat juga yang sangat menentukan baik tidaknya sesuatu. Jika sudah ada niatan baik, walaupun jalan yang harus ditempuh terkadang berkelok, namun hasilnya pasti akan membawa kebaikan.

Jika niat itu bersih, yang diharapkan pasti akan terealisasi.

Yang perlu kita ingat bersama adalah bahwasanya hanya mengandalkan niat saja tidaklah cukup.

Seperti halnya perkataan Imam Al-Ghazali, niat harus diikuti dengan ilmu dan amal. Tanpa ilmu dan amal, niat yang baik pun bisa menjadi bagaikan harapan hampa yang tidak akan menghasilkan apa-apa dalam realitanya, melainkan hanya pahala niat melakukan kebaikan.

Oleh karenanya, yang terbaik untuk dilakukan adalah mengamalkan setiap niat baik yang ada di dalam benak kita. Mengamalkannya dengan cara yang benar, dan dengan ilmu yang dipelajari dengan benar.

Alhasil, membahas tentang niat dalam beragama dan berorganisasi dapat membuat kita memahami bahwa betapa pentingnya memahami ilmu agama.

Ilmu agama terlalu sempurna jika dibandingkan dengan ilmu duniawi. Banyak hal penting dan krusial yang terkadang tidak bisa diakomodir oleh ilmu duniawi. Perlu ada sentuhan nilai agama di dalamnya.

Seperti halnya, rencana, aksi, dan evaluasi yang perlu didahului dengan niat yang baik, yaitu niat yang diajarkan oleh ilmu agama.

Oleh karenanya, apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh sekali-kali meninggalkan agama. Agama harus selalu menjadi titik pusat dalam mempertimbangkan proses dalam setiap kegiatan yang akan kita lakukan.

mengembangkan-diri-toleransi

Toleransi, Agama dan Integrasinya Dalam Kehidupan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Semua agama pada dasarnya mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Dalam membahas tentang agama dan nilai kehidupan, ada salah satu nilai yang paling penting yang perlu diperhatikan, yaitu toleransi. Setiap agama dengan pendekatannya masing-masing memiliki cara untuk memaknai nilai-nilai dalam kehidupan, yang dari sana menuntut kita untuk bersikap saling toleransi antar umat beragama. Bisa dimaknai bahwa agama dan toleransi adalah dua hal yang bisa diibaratkan seperti dua sisi pada koin yang sama.

Agama dan Toleransi

Indonesia, sebagai negara yang mengakui keberagaman agama, menuntut pemahaman masyarakat yang kuat dan benar tentang makna toleransi antar umat beragama. Masyarakat harus benar-benar memahami bahwa toleransi adalah salah satu cara memaknai agama di dalam kehidupan. Toleransi merupakan nilai yang perlu dikedepankan di setiap sendi kehidupan, di negara kita. Pendidikan bertoleransi pun seharusnya bisa dilakukan sedini mungkin di institusi-institusi pendidikan, baik formal maupun non formal. Pemerintah dan masyarakat pun harus bahu membahu menanamkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Lantas, bagaimana sebenarnya kedudukan toleransi itu sendiri dalam agama?

Semua agama menjunjung tinggi toleransi. Tak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan umatnya untuk bertindak intoleransi yang bisa mengarah kepada paham radikalisme. Yang menjadi permasalahan adalah, terkadang, masih ada segelintir umat yang mengaku beragama, telah salah memahami makna dari toleransi yang diajarkan agamanya. Akhirnya, paham radikalisme dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat di berbagai belahan dunia.

Paham radikalisme, sebagai perwujudan gagalnya penganut agama memahami toleransi, tidak hanya tertuju kepada satu agama. Tak bisa dipungkiri, setiap agama memiliki potensi dimana penganutnya bisa saja salah dalam memahami ajaran agamanya. Yang pada akhirnya akan memabawa mereka pada paham radikalisme.

Jadi, radikalisme itu tidak identik pada satu agama. Radikalisme bukan hanya musuh satu agama atau golongan tertentu. Justru, paham radikalisme adalah musuh kita bersama, musuh semua umat beragama, musuh kemanusiaan umat manusia di seluruh belahan dunia. Dan, radikalisme hanya akan hilang, jika ada kebersamaan antar umat beragama untuk melawannya.

Agama dan Integrasi Dalam Kehidupan

Solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan intoleransi yang mengarah kepada paham radikalisme adalah dengan mengajak para penganut agama untuk memahami ajaran agama dengan baik. Selain itu, nilai-nilai agama juga seharusnya bisa benar-benar diintegrasikan di dalam kehidupan.

Jika saja, nilai-nilai toleransi yang diajarkan agama bisa benar-benar diintegrasikan dalam kehidupan, maka tidak akan ada lagi paham radikalisme yang tumbuh dan berkembang dalam beragama. Para penganut paham radikalisme pun tidak akan memiliki tempat untuk hidup di dunia kita.

Akhirnya, meskipun dunia diisi dengan beragam agama dan penganutnya yang berbeda-beda, namun dengan adanya integrasi agama dalam kehidupan, para penganut agama yang berbeda-beda itu akan memiliki tujuan kehidupan yang sama, nilai-nilai kebaikan yang sama, dan keyakinan yang sama berdasarkan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Intinya ada pada cara seorang penganut agama -apapun agamanya- mampu memahami agamanya dengan baik dan benar. Setelah memahaminya, maka para penganut agama tersebut seharusnya bisa menghidupi agama tersebut, dan yang tak kalah pentingnya mereka juga akan berjuang mengintegrasikan agama dalam kehidupan.

Dalam artikel “Makna Agama dan Kehidupan” dikatakan, “Religiusitas umat manusia harus memiliki perwujudan konkritnya dalam kehidupan sehari-hari manusia. Kebenaran agama akan kosong dan menjadi candu ketika agama hanya sebatas doktrin yang berada di luar kehidupan keseharian.”

Ya, beragama memang memerlukan perwujudan konkrit dalam kehidupan. Beragama tidak cukup hanya dilakukan dengan mengunci diri, menutup pintu rumah untuk beribadah kepada Tuhan. Beragama perlu berintegrasi dengan kehidupan. Prinsipnya, dalam beragama perlu ada aksi nyata dalam kehidupan. Jika tidak, beragama akan terasa hampa, bahkan bisa menjadi candu, seperti halnya yang dikatakan filusuf Karl Marx dengan Marxismenya.

Sebuah Refleksi

Ulama dan cendekiawan muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi dalam bukunya “Islam Rahmatan Lilalamin” merangkum semua ini dari sudut pandang agama Islam yang dipeluknya. Beliau berkata, “Hanya ada dua jalan untuk lepas dari beban tanggung jawab pada Hari Kiamat: hidup bersama Islam secara sempurna atau berjuang mengembalikan Islam ke dalam kehidupan.”

Artinya, agama harus dihidupi dengan sempurna dengan keimanan dan keyakinan yang hakiki, bukan hanya sebagai identitas belaka. Lalu, agama harus diperjuangkan untuk diintegrasikan ke dalam kehidupan. Integrasi agama dalam kehidupan inilah yang bisa kita interpretasikan dalam berdakwah ataupun melayani agama (khidmah). Alhasil, agama dan toleransi memang akan selalu menjadi perbincangan hangat selama masih ada paham intoleransi, paham radikalisme di dalam kehidupan.

Agama yang diintegrasikan dan diwujudkan secara konkrit dalam kehidupan akan menjadi solusinya. Jika ini terjadi, maka dunia akan terbebas dari konflik dan polarisasi, dan kita semua akan bisa hidup dalam suasana yang diliputi dengan kedamaian. Semoga.

magnifying-glass-white-puzzle-blue-background

Mencari Makna yang Hilang

Karya Pembaca: Haerul Al Aziz

Namanya Andre, 30 tahun. Kini ia tertegun dengan secarik kertas dan pena yang ada di hadapan matanya, penuh rasa khawatir dan bimbang. Sosoknya yang terkenal sebagai pemuda paruh baya itu konon telah menjalankan hidupnya penuh dengan limpahan harta dan kekayaan. Anak konglomerat dari salah satu daerah di Indonesia tersebut, tak merasa sukar jika ia harus menikmati segala macam jenis kenikmatan dunia. Pendidikan dengan fasilitas terbaik telah ia tempuh. Segala jenis makanan ternikmat di dunia juga mungkin telah ia rasakan. Tempat-tempat terindah yang ada di dunia pun mungkin pernah ia jelajahi.

Tetapi ada sesuatu yang ia anggap masih kurang. Ia masih merasa belum puas dengan semua itu. Seolah seluruh kenikmatan yang telah ia cicipi itu, tak bernilai. Ia belum merasakan suatu yang hingga saat ini ada, menghantui benaknya. Terpantul jelas dalam lorong-lorong bayangan rasa penasarannya di dalam relung jiwanya saat itu. Suatu hal yang justru orang lain malah lari, karena takut darinya. Ya, ia menginginkan kematian. Sesuatu yang dianggap sebagai pemutus segala kenikmatan. Dan telah ia tuliskan dalam secarik kertas sebagai petuah, pantulan dari kegelisahannya saat itu :

Saat menemui ajal kelak, mungkinkah ada kenikmatan lain yang belum pernah aku rasakan? Mungkinkah kenikmatan sejati dapat diraih setelah aku masuk ke dimensi itu?  Adakah makna dari penciptaan kehidupan baru di alam lain tersebut?

Terbesit sebuah pertanyaan besar dalam kepalanya yang hampir linglung karena telah muntah harta dan bosan akan kenyamanan dunia. Namun tak ada seorang pun yang mampu menjawab keraguan itu, kecuali mereka yang meyakini bahwa hal itu memang benar adanya. Karena yang pergi, telah pergi. Tak akan pernah kembali untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Menunggu ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat di dimensi alam ini.

Tujuan dan tugas istimewa yang dimiliki manusia di muka bumi ini

Apa yang sebenarnya manusia cari? Atau apa yang hilang, hingga ia merasa belum puas dengan kenikmatan yang ia raih di bumi ini? Benarkah dimensi lain itu lebih indah dan abadi?

Jika melihat ke semua makhluk yang ada, bisa kita pastikan bahwa kehadiran mereka ke dunia ini tentunya memiliki sebuah tujuan. Dimulai dari bulan yang menerangi langit di kala malam, hingga matahari yang menyinari siang di setiap harinya. Dari tanaman hias hingga pohon-pohon besar yang menyelimuti bumi ini. Dari seekor semut hingga hewan-hewan berkaki empat yang memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan hidup makhluk yang lain. Lalu bagaimana dengan tujuan penciptaan manusia?

Ketika berencana untuk membangun sekolah, kita perlu memahami terlebih dahulu alasan mengapa dan untuk apa kita ingin membangunnya. Pasti ada tujuan yang termaksud, yang mungkin setara atau bahkan lebih besar dari apa yang ingin kita rencanakan sebelumnya. Begitu pula dengan penciptaan alam semesta ini dan juga makhluk istimewa yang merupakan wujud intisari darinya yang kita sebut sebagai manusia. Sebagai bentuk alam kecil yang mempunyai arti yang lebih luhur dari pada alam yang besar ini, tak mungkin hadir jika tanpa sebuah tujuan.

Setiap insan yang datang ke ruang tamu dan kerajaan dunia ini, setiap kali membuka kedua matanya ia akan melihat berbagai jamuan yang sangat mulia, pameran yang penuh seni, kemah dan tempat latihan yang menakjubkan, tempat rekreasi yang sangat mengagumkan, tempat tafakkur yang penuh hikmah dan bermakna. Tetapi sesuai dengan keahliannya tersebut, dibalik tujuan pengirimannya ke dunia ini, tentunya manusia juga tak lepas dari tugas yang perlu ia emban.

Karena ia memiliki pikiran untuk memilih mana yang terbaik baginya. Memiliki hati nurani untuk menyadari apakah ada hikmah dibalik semua yang ia lihat dan rasakan dalam kehidupannya. Bersikap sadar di antara makhluk yang tak memiliki kesadaran akan esensi dari penciptaannya. Dengan kehendak parsialnya itu, ia berusaha menjawab pertanyaan dari ujian yang ada di lembaran muka bumi ini, untuk mencari makna yang sebelumnya hilang karena terpaku oleh nilai yang sifatnya material semata. Mengajaknya untuk meneliti lebih jauh makna yang ada dalam dirinya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut dengan tepat :

“Siapa ia sebenarnya? Untuk apa ia diciptakan?  Adakah pemilik hakiki dari semua ciptaan ini? Apa yang harusnya ia lakukan di muka bumi? Akan sampai kapan ia hidup? Ke mana ia akan pergi setelahnya? Bagaimana ia bisa menyelamatkan dirinya dari segala jenis kekhawatiran yang ada ini?”

Memahami makna dari arti kehidupan    

Mungkin setangkai bunga sudah merasa puas dengan kehadirannya di taman, menghiasi kebun-kebun. Bisa jadi seekor sapi merasa lega saat memakan rumput dan menganggap tugasnya telah usai saat dagingnya berhasil disantap oleh manusia. Namun  manusia tidak akan pernah puas meski seluruh isi dunia menjadi miliknya. Ia memiliki harapan dan keinginan yang abadi. Karena memang ia diciptakan untuk keabadian. Untuk itu, kita perlu menawarkan kenikmatan yang sifatnya abadi pula, atau setidaknya mengarah pada keabadian itu sendiri. Karena kenikmatan duniawi tak akan pernah cukup untuk memuaskan hasrat keabadiannya itu.

Kita hidup di dunia modern yang dengan fasilitasnya mampu memanjakan manusia yang hidup di masanya. Namun sayang, dunia yang berkembang saat ini dengan segala kemegahannya itu dalam beberapa hal hanya mampu menawarkan kenikmatan sementara yang mengantarkan individunya pada sikap narsisme, bangga diri dan tertipu oleh tampilan luar semata. Tampilan luar yang menyodorkan iming-iming palsu dengan menampilkan diri mereka yang seolah merepresentasikan sebuah nilai luhur, tapi melupakan makna yang ada di dalamnya. Sedangkan makna, mengindikasikan sebuah keabadian. Oleh karena itu, tampilan luar yang kehilangan makna tidak akan sanggup memuaskan hasrat manusia secara utuh.

Kunci untuk Meraih Makna

Kenikmatan yang dirasakan di dunia ini bagi sosok manusia, masing-masing sebenarnya merupakan permisalan. Bahwa ada hal yang lebih indah lagi yang dapat mereka rasakan di dimensi yang lain. Yang ada di dunia ini hanyalah contoh. Di samping mereka tidak akan pernah puas meski sudah mencicipi segala kenikmatan yang ada di dunia ini, di sisi lain mereka juga termasuk orang yang tak tahu diri, jika tidak mengenal siapa sesungguhnya yang memberikan seluruh nikmat tersebut dan hanya menghabiskan itu semua dengan penuh kerakusan.

Selain itu manusia tidak dikirimkan ke dunia ini hanya untuk merasakan kenikmatan belaka. Karena dengan kepedihan yang telah ia lewati atas masa lalu dan kekhawatiran yang ia rasakan akan masa depan, membuatnya tak akan sepenuhnya puas merasakan kenikmatan itu. Bersamaan dengan hal tersebut, kebutuhan, keinginan, dan harapan yang diharapkan manusia, melebihi dirinya sendiri. Maka, tak salah jika makhluk yang paling banyak kebutuhannya ialah manusia. Tetapi ia pun sebenarnya lemah dan papa, bahkan ia tak mampu memenuhi hidupnya atau menghadapi musuhnya sendirian. Untuk itulah dia butuh tempat bersandar yang maha agung dan kokoh dari manifestasinya yang lemah dan papa.

Di saat yang sama, manusia layaknya benih. Benih yang membutuhkan cahaya, air, tanah, dan pupuk yang sesuai, sehingga akan menghasilkan buah layaknya tujuan. Cahaya dalam bentuk maknawi yang mampu menerangi hidupnya. Air yang mampu memberikan nutrisi agar ia tetap bisa hidup dengan kapasitas yang ia miliki. Tanah yang dapat memberikan tempat untuk bisa menjulang tinggi dan wadah baginya untuk berkreasi menampilkan kedermawanan pemiliknya. Pupuk yang membantunya agar lebih subur dan rindang. Pada akhirnya menghasilkan buah manis dan bergizi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Padanya juga terdapat kunci, yang mana jika ia mampu menggunakannya dengan benar maka ia pun akan melihat esensi dari seluruh penciptaan alam semesta ini, termasuk dirinya sendiri. Tetapi jika ia salah dalam menggunakannya, semoga Allah ta’ala melindungi kita, ia akan menjadikannya dirinya sebagai firaun-firaun yang ada di zamannya masing-masing. Itulah yang dinamakan ego manusia. Manusia yang terpaku pada egonya, tidak akan mudah untuk mengenali dirinya sendiri. Mereka yang tak mampu mengenali diri, atas tujuan apa mereka dikirimkan ke dunia, tentunya akan sulit untuk mencari makna dari eksistensinya. Mereka yang tak mampu mendeteksi makna tersebut akan sukar untuk mengenal siapa sebenarnya yang memiliki kerajaan ini. Untuk itu, mari kita merefleksikan diri, sudah seberapa jauh kita mengendalikan ego ini untuk mencari makna yang hilang itu? Dan menyelamatkan Andre dari pikiran konyolnya tersebut.

calin-stan-7a_PHX91su8-unsplash

Memahamai Hakikat Karakteristik Kehidupan Dunia

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, seharusnya setiap manusia tahu dan paham akan karakter kehidupan di dunia  yang sedang ia  jalani. Sehingga dalam menjalani alur kehidupanya, ia merasakan arti disetiap detiknya. Oleh karena itu penting bagi setiap manusia untukmengetahui hakikat hidupnya di dunia ini yang bersifat sementara.

Di dalam kehidupan dunia ini, kita terkadang mendapatkan apa yang kita inginkan tetapi tak jarang juga mendapatkan kesulitan, tetapi dari sini kita pahami bahwasanya hakikat dunia adalah ujian, yang kadang kali kita menemukan yang mudah dan ada juga yang sulit yang mungkin banyak membutuhkan perjuangan dalam menjawabnya, ketika kita tahu karakteristik dunia maka kita  tidak akan banyak keluh kesah  melainkan yang  ada lebih banyak  belajar memahaminya.

Ibnu Athoillah assakandari seorang tokoh sufi di dalam kitabnya al hikam ketika mensifati dunia beliau mengatakan :

لا تَسْتَغْرِبْ وُقوعَ الأَكْدارِ ما دُمْتَ في هذهِ الدّارِ. فإنَّها ما أَبْرَزَتْ إلّا ما هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِها وَواجِبُ نَعْتِها

 “Jangan engkau merasa heran atas terjadinya kesulitan selama engkau berada di dunia ini. Sebab memang begitulah yang patut terjadi dan yang menjadi karakter asli dunia.”

Hakikat dunia memang begitu adanya, karena memang kehidupan di dunia yang bersifat fana’ atau sementara merupakan bentuk ruang ujian yang penuh dengan persoalan – persoalanya yang harus dijawab dan diselesaikan dengan memulainya  dengan selalu mencoba menjawabnya lalu belajar memahami persoalanya sehingga dapat terjawab dengan baik, maka dari sini tak heran banyak ulama’ kita yang mengatakan bahwasanya dunia merupakan tempat berjuang bukan tempat rohah atau istirahat untuk berleha- leha saja, karena sejatinya waktu istirahat semuanya hanyalah  di akhirat, diibaratkan bahwasanya seorang mukmin ketika ia hidup di dunia sejatinya ia sedang menanam sebuah tanaman yang mana ia harus menjaganya dengan baik sehingga ia akan dapat memanenya dengan hasil yang baik di akhirat kelak.

Hal ini juga senada apa yang dikatakan oleh Ja’far Asshadiq yang mengatakan : “Siapa yang meminta sesuatu yang tidak diberikan oleh Allah, sama dengan melelahkan dirinya sendiri.” Ketika ditanya meminta apa itu? Ja’far Asshaddiq menjawab, “Kesenangan di dunia.”

Dengan pahamnya kita hakikat atau karakteristik dari kehidupan dunia ini , maka dikit sedikit kita akan biasa membangun rasa terus belajar dan bersyukur dengan tidak mengeluh apa yang kita nilai memiliki  kesulitan , keresahan  apa yang ada di dunia ini kelak akan menjadi nilai plus di dalam kehidupan akhirat, dan perlu diketahui juga bahwasanya para nabi merupakan manusia yang paling  berat cobaanya supaya kita bisa mengambil  suri tauladanya lewat kesabaran mereka dalam berjuang untuk menanamkan nilai – nilai kebaikan untuk   menegakkan hal yang benar.

Artikel merupakan karya kiriman dari Sdr. Ashari Asrawi.