mengembangkandiri.com pexels-jacob-morch-572780

Woles

Setiap orang memiliki cita-cita dalam hidupnya, ada yang menjadikan kekayaan sebagai tujuan, ada juga yang menjadikan jabatan, ketenaran dan popularitas sebagai pencapaian yang paling utama. Semua itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan untuk mendapatkan ketenangan yang merupakan pangkal dari kebahagiaan.

Mereka yang berfikir bahwa ketenangan ada pada harta, maka ia akan menjadikan harta tersebut sebagai juru selamatnya. Mereka yang berfikir ketenangan ada pada kedudukan dan jabatan, maka ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan semuanya. Dan mereka yang menjadikan kecantikan, popularitas sebagai sudut pandang manusia, maka mereka akan merasa ujub terhadap dirinya sendiri.

Namun, apakah ketenangan itu benar-benar hanya ada pada harta, kedudukan, jabatan, kecantikan dan popularitas?

Jika benar, ketenangan itu hanya ada pada harta, kedudukan, jabatan, kecantikan dan popularitas.

Lalu, mengapa banyak pengusaha kaya, artis ternama dan para pejabat yang mati bunuh diri?

Sebut saja Michael Jackson, Marilyn Monroe, Chester Bennington, Kurt Cobain dan masih banyak artis terkemuka lainnya.

Bukankah mereka telah memiliki semua yang diperlukan untuk bahagia?

Lalu kenapa mereka justru memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak semestinya?

Hal ini memberikan pelajaran bagi kita, bahwa ternyata ketenangan jiwa yang merupakan pangkal dari kebahagiaan tidak terletak pada harta, kedudukan, jabatan, kecantikan dan popularitas.

Lalu dimanakah ketenangan yang di damba kan semua orang itu?

Rahmat Tuhan Bagi yang Beriman

Ketenangan merupakan rahmat dari Allahﷻ yang di berikan kepada hamba nya yang beriman. Semakin besar kadar keimanan seseorang, maka ia akan semakin tenang. Dan ketenangannya seakan menjadi stempel yang melekat pada keimanan. Syekh Badiuzzaman Said Nursi dalam kitab-Nya Al-kalimat bahasan tentang mensifati karakteristik orang yang beriman dengan sikap ketenangannya beliau menyampaikan.

“Andai kan bola bumi menjadi bom yang dapat meledak, barang kali ia tidak akan membuat takut sang abid yang memiliki kalbu yang bersinar. Bahkan bisa jadi ia melihatnya sebagai salah satu kodrat tuhan yang luar biasa sehingga ia akan merasa kagum dan senang. Sebaliknya, seorang fasik yang memiliki kalbu mati, meski ia seorang filsuf yang dianggap cerdas, apa bila melihat meteor di angkasa ia akan merasa takut dan cemas“ .

Bahaya dan kecemasan luar biasa pernah meliputi kaum muslimin pada saat peristiwa badar, saat itu kaum muslimin harus berhadapan dengan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat lebih besar, dengan persenjataan dan akomodasi perang yang sangat minim. Tak ada pilihan lain, dengan segala keterbatasan kaum muslimin harus menang. Saking gentingnya kondisi saat itu, hingga membuat Rida “Sorban” Baginda mulia Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ter jatuh saat berdo’a, “Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa maka tiada lagi ada yang beribadah kepada-mu”.

Kemudian, alih-alih Allahﷻ memberi pertolongan kepada kaum muslimin pada saat itu, dengan menurunkan hujan dan kantuk sebagai pertolongan pertamanya. Dari pertolongan yang diberikan Allahﷻ, hati kaum muslimin diselimuti ketenangan yang pada akhirnya membuahkan kemenangan. Dalam firman-nya : “Sesungguhnya Allahﷻ menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari nya dan Allahﷻ menurunkan kepada mu hujan dari langit untuk membersihkan mu. Karena dengan air hujan itu, Allahﷻ menghilangkan gangguan syaitan dari mu dan menguatkan hatimu serta memper teguh  kedudukan mu” (Q.s. Al-anfal : 11).

Menjemput ketenangan

Jika ketenangan dapat dibeli harusnya hanya si kaya yang boleh bahagia, Jika ketenangan dapat direkayasa, harusnya kebahagiaan hanya untuk segelintir penguasa. Mungkin ada yang percaya bahwa ketenangan dapat dibeli dan direkayasa. Namun, ketenangan yang hakiki hanya milik Allahﷻ, dan akan hanya diberi kepada mereka yang beriman.

Sejenak mari kita renung kan kembali perjalanan hijrah nya sang Baginda Nabi bersama seseorang sahabat.

Mengapa beliau memilih Abu Bakar r.a sebagai teman perjalanan?.

Seolah beliau ingin mengajarkan kepada umatnya jika ketenangan ada pada kekuatan maka beliau akan memilih Umar dan Hamzah r.a sebagai pendampingnya. Jika ketenangan ada pada harta mungkin Abdurrahman Bin Auf lah yang akan dipilih nya. Namun karena ketenangan ada pada iman, maka Ash-Shiddiq lah yang dipilih. Sosok yang tak akan bertambah keyakinannya meski hijab antaranya dan surga dibuka, sebab keimanan nya telah paripurna. Seraya mengulang firman Allahﷻ, baginda Nabi menguatkan “ jangan bersedih sesungguhnya Allahﷻ Bersama kita “.

Ketenangan juga dapat dijemput dengan sikap bertawakal seraya berserah diri kepada Allahﷻ dan berusaha menyertakan Allahﷻ dalam segala urusan.

Bukankah mereka yang berpergian dengan menyandang nama penguasa akan merasa aman dan mendapat jaminan perlindungan?

Bukankah setiba nya ditempat tujuan mereka akan disambut dan dilayani selayaknya utusan sang raja?

Begitulah gambaran orang yang menyertakan Allahﷻ dalam segala aktivitasnya. Kondisi sebaliknya akan menimpa mereka yang enggan menyandang nama penguasa dalam perjalanannya. Rasa cemas, takut dan bingung akan selalu menyertai perjalanannya yang Panjang.

Ketenangan dan Kebahagian.

Semua orang mendambakan kebahagiaan, namun banyak yang mencari kebahagiaan ditempat yang salah sehingga mereka tidak menemukan kebahagiaan yang hakiki.

Bukankah sudah menjadi tabiat bahagia datang setelah tenang?

Bagi mereka yang memahami hakikat penciptaan akan menjadikan ke ridaan Allahﷻ sebagai tujuan untuk mendapatkan ketenangan. Seperti hal nya menghadapkan wajah pada Mentari, maka akan mendapatkan pancaran sinar ke hangatan yang hakiki. Namun bagi mereka yang membelakangi Mentari, hanya bayangan semu yang ia dapat kan.

Bukankah mengejar bayangan merupakan kesia-siaan belaka?

Setiap insan merindukan kebahagiaan, namun banyak yang lupa jika kebahagiaan datang setelah ketenangan. Maka, sebuah kepalsuan bagi mereka yang mengejar kebahagiaan namun membiarkan perpecahan, peperangan dan kekacauan terjadi. Maka, pastikan diri kita menjadi bagian dari hadirnya ketenangan bagi keluarga kita, bagi tetangga kita dan bagi masyarakat lingkungan kita.

Semoga kita semua dimasukkan kedalam golongan hamba nya yang memiliki kedalaman iman, sehingga dapat merasakan gelombang ketenangan jiwa yang dengannya dapat menjemput sebuah kebahagiaan hakiki.

 woles dan bahagia lah.

pexels-oleksandr-pidvalnyi-2781814

Puncak Masa Depan Yang Didambakan

Karya Pembaca : Imam H.

Mungkin kita pernah berharap pada suatu hari nanti kita bercita-cita ingin menjadi seorang guru, dosen, dokter, insinyur, pelaut, petani dll. Hal tersebut kita lakukan tidak lain agar mempunyai tujuan yang jelas di masa yang akan datang sehingga kita bisa mempersiapkannya dengan lebih matang.

Akan tetapi pada akhirnya mungkin kita akan bertanya-tanya, masa depan itu apa?

Atau apakah masa depan itu mempunyai batas?

Kalaupun iya, lalu apa puncak dari masa depan itu?

Ada yang mendefinisikan bahwa masa depan itu adalah: (1) Periode kehidupan yang akan kita jalani dan berakhir ketika kita meninggal nanti. (2) Periode mendatang yang membutuhkan perencanaan yang bisa dipersiapkan dan bisa dirancang untuk mencapainya.

Semua itu mungkin saja benar karena setiap orang mempunyai definisi yang berbeda akan masa depan. Yang jelas masa depan adalah suatu kejadian yang akan terjadi.

Masa depan berkaitan erat dengan keinginan dan harapan. Terkadang harapan dan keinginan itu menjadi benang merah tolak ukur tercapainya masa depan yang kita dambakan. Apapun yang kita lakukan di detik ini adalah demi terwujudnya masa depan yang lebih baik, ntah apa yang kita ingin dan harapkan akan terwujud atau tidak. Yang jelas setiap detik kedepannya adalah masa depan yang akan kita lalui.

Akan tetapi setiap kali kita mencapai apa yang kita inginkan di masa depan, semua itu pun menjadi masa kini, baik itu  hari yang sedang kita jalani, kepuasan yang sedang kita nikmati, harapan-harapan masa kecil yang telah kita capai, semua itu akan menjadi masa kini atau masa lalu yang telah berlalu.

Terkadang kita pun tidak menyadari ternyata kita sedang ataupun sudah berada di masa lalu yang dahulu kita ingin dan harapkan. Tetapi, waktu tidak peduli, dia tetap akan berjalan. Meskipun kita sadar atau tidak, waktu tidak akan peduli dan terus akan berjalan.

Ketika kita masih kecil, melihat orang-orang dewasa bisa berjalan dengan baik, memperhatikan mereka melakukan segala sesuatu dengan mudahnya, kita pun berharap agar segera tumbuh seperti mereka. Masa itu kita ingin sekali mempercepat waktu dan pada akhirnya ketika kita mencapai apa yang kita inginkan, masa itu pun menjadi masa kini dan waktu pun terus berlanjut. Ketika kita mulai menuntut ilmu dari taman kanak-kanak (TK) kemudian melanjutkan ke jenjang SD,SMP,SMA, sampai mendapatkan gelar sarjana,  semua itu demi masa depan. Ketika kita berharap mendapatkan pekerjaan, menikah, mendambakan keturunan, mempunyai anak, cucu, cicit semuanya demi masa depan.

Ketika semua itu sudah tercapai, masa lalu itu menjadi masa kini.

Masa depan tetap berlanjut, kita selalu menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hingga kita mati pun, masa depan tetap berlanjut sampai pengadilan Allahﷻ ditetapkan.

Apakah kita dimasukkan ke dalam Surga atau neraka?

Hey, ternyata masih berlanjut. Lalu puncak masa depan itu sampai dimana?

Semua orang mempunyai pendapat atau pemikirannya masing-masing. Sebagai umat Muslim kita akan berpikir lebih mendalam lagi, melihat, membaca, merujuk, dan menelaah dari kitab suci Al-qur’an. Al-Qur’an menjelaskan bahwa puncak dari masa depan adalah ketika kita mampu meraih rida Allah سبحانه وتعالى. Puncak dari masa depan yang kita ingin dan harapkan adalah sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى :

 {يا أَيَّتُهَا النَّفْسُ المطمئنة (27) ارْجِعِي إِلى رَبِّكِ راضية مرضية (28) فَادْخُلِي فِي عِبادِي (29) وَادْخُلِي جنتي (30)}.

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)

“Wahai jiwa yang tenang!” para mufassir berkata ini adalah perkataan malaikat maut ketika ingin mencabut nyawa-nyawa orang yang beriman. Wahai jiwa yang tenang, wahai jiwa yang beriman, Kalimat tersebut dikatakan kepada orang mukmin, karena mereka yakin terhadap janji Allahﷻ. Mereka yakin terhadap apa yang dilakukan tidak pernah sia-sia. Mereka yakin terhadap amal saleh yang mereka kerjakan akan diberi ganjaran oleh Allahﷻ. Hati mereka tenang dengan iman dan amal saleh yang mereka lakukan, serta tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hati mereka.

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” Betapa bahagianya seseorang ketika malaikat membisikan kalimat ini kepadanya. Dia akan pulang dalam keadaan rida dan gembira terhadap apa yang menantinya. Bukan hanya sampai disitu, Allahﷻ pun rida terhadap kepulangannya.

Jiwa mana yang tidak bahagia ketika kedatangannya sudah dinanti dan diperlakukan dengan istimewa oleh sang pemilik alam semesta. Terlebih lagi akan diberikan ganjaran yang sangat besar dari amal saleh yang pernah dia kerjakan.

Ketika Allahﷻ berfirman kepadanya, “Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”, Allahﷻ berkehendak agar dia tidak merasa sendiri. Karena akan ada orang-orang saleh bersamanya dari kalangan ulama, para mujahidin, orang yang sering bersedekah, orang yang taat kepada kedua orang tuanya, para hafiz al-Quran dll. Selain itu, ketika ia akan masuk ke surga, Allahﷻ menyebutnya secara khusus. Dia akan merasa sangat spesial dan istimewa karena perlakuan tersebut.

Di dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 185 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Ayat ini menjadi pengingat yang kuat akan masa depan yang sebenarnya kita dambakan. Bukan berarti kita melupakan dunia begitu saja, akan tetapi kita mensyukuri yang menjadi bagian kita, sembari menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang kekal abadi.

Marilah kita bermuhasabah diri, setiap kegiatan yang kita lakukan, setiap prestasi yang kita raih, setiap ibadah yang kita persembahkan, setiap kebaikan yang kita usahakan, apakah semua itu karena Allahﷻ?

Apakah semua itu demi mendapatkan rida-Nya?

Apakah hanya ingin mendapatkan pujian dari manusia atau hanya untuk kepentingan dunia yang bersifat sementara saja?

Aduhai, betapa malangnya ketika apa yang kita usahakan semua itu sia-sia belaka. Lelah, letih, kucuran keringat, tetesan air mata, luka dan darah yang kita alami ternyata bukan karena Allahﷻ. Akhirnya semua itu seperti debu yang beterbangan, tidak ada yang tersisa.

Pengadilan yang Maha Agung, tidak akan pernah salah walaupun sekecil apapun. Pengadilan yang menampakkan sejatinya kita di dunia. Mungkin saja di dunia kita nampak sebagai orang baik, namun di pengadilan ini kita adalah orang yang sebaliknya. Begitupun sebaliknya, orang yang nampak buruk di dunia ternyata di akhirat dia dikumpulkan bersama orang-orang saleh.

Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allahﷻ agar diberikan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Diberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya agar kita dapat menggapai hakikat masa depan yang sebenarnya kita dambakan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” Aamiin

wallahu a’lam….

Mengembangkandiri.com [Downloader.la]-6328082ce580d

Hikmah Sejarah

Karya Pembaca : Saeful Arif

Apa Itu sejarah?

Terkadang datang tanpa rencana, berlalu begitu saja, perginya meninggalkan cerita, itulah sejarah, semua peristiwa yang telah berlalu hakikatnya adalah sejarah, tak peduli seberapa singkat peristiwa itu terjadi jika telah terlewati maka ia telah menjadi bagian dari keping sejarah yang mungkin bisa saja terulang dengan aktor dan pemeran yang berbeda.

J.Bank, Sir Charles Firt, Jhon Tosh dan para ahli sejarah lainnya mencoba mendefinisikan sejarah sebagai semua kejadian atau peristiwa masa lalu. Sejarah berfungsi untuk memahami perilaku masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, sejarah dapat juga diartikan sebagai memori kolektif maupun pengalaman melalui pengembangan suatu rasa identitas sosial manusia dan prospek manusia tersebut pada masa yang akan datang.

Kenapa perlu belajar sejarah?

Disadari atau tidak sebenarnya kehidupan kita senantiasa dipandu oleh sejarah, seorang anak gadis belajar tahu bagaimana caranya menjadi ibu yang baik karena ada memori sejarah dari orang tuanya terdahulu, anak kecil yang pernah secara tak sengaja menyentuh api maka ia akan tahu bagaimana panasnya api, singkatnya semua rangkaian episode kehidupan yang telah dilewati dapat menjadi sejarah yang bisa saja menjadi pemberi warna tertentu bagi kehidupa-Nya.

Sebuah bangsa yang mempelajari dan mengetahui sejarahnya akan lebih memiliki karakter yang kuat dan menjadikan sejarahnya sebagai motivator abadi, sebagai contoh misalkan, Sebagian penduduk Thaif yang membaca serta merenungi sejarah nenek moyangnya akan merasa malu dan bersalah terhadap Rasulullah SAW atas peristiwa pengusiran dimasa lalu, namun peristiwa itu mendorong mereka saat ini untuk senantiasa memuliakan Rasulullah SAW. Contoh lainnya adalah bangsa Yahudi yang merasa berhak atas tanah Palestina, hal itu didorong oleh sejarah masa lalunya yang menumbuhkan keyakinan akan hak kepemilikan atas tanah Palestina.

Sejarah merupakan Tsaqofah wajib para sultan, ilmu akidah, ilmu fikih, ilmu Al-Qur’an Hadit, ilmu Bahasa, ilmu geografi dan ilmu sejarah , menjadi bekal ilmu yang wajib dikuasai oleh para sultan, bukankah sultan Muhammad al-Fatih juga mempelajari sejarah penyebab kegagalan para pendahulu-Nya dalam membebaskan Konstantinopel?

Hikmah sejarah

Sejati-Nya ada banyak hikmah dalam mempelajari sejarah, namun kita akan coba membatasi hanya pada apa yang dikabarkan Allah SWT dalam firmanya, dalam Al-Qur’an Allah SWT memberitahu kita hikmah mempelajari sejarah.

“Dan semua kisah Rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan didalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman. (Q.S Hud ayat 120)”

Berdasarkan ayat diatas kita dapati hikmah pertama dari mempelajari sejarah adalah adanya keteguhan hati, teguh hati berarti memiliki hati yang kokoh  dan tidak mudah goyah, tidak gamang dan latah dalam menyikapi peristiwa, orang yang memahami sejarah seolah-olah memiliki buku panduan dalam bersikap disegala keadaan, karena hakikatnya sejarah senantiasa berulang yang berbeda hanya pemeranya. Orang yang tidak memahami sejarah akan panik, bingung dan canggung dalam menghadapi peristiwa,  dan bukankah Nabi kita juga menjadikan sejarah sebagai tuntunan dalam menyikapi sesuatu?

Dikisahkan setelah perang Hunain Rasulullah kemudian membagikan ghanimah dengan kadar dan takaran tertentu, namun tiba-tiba salah seorang diantara mereka ada yang memprotes pembagian tersebut karena dirasa tidak adil, seketika wajah mulia sang Nabi menjadi merah karena marah, kemudian beliau bersabda “semoga Allah merahmati saudaraku Nabi Musa, beliau telah disakiti lebih dari ini dan bersabar“ disini Rasulullah menggunakan sejarah Nabiyullah Musa AS sebagai acuan dalam bersikap.

Contoh lainnya datang dari Sayyidah Aisyah radhiAllahu anha Ketika Sebagian masyarakat Madinah menggunjing dan memfitnah beliau telah berselingkuh dengan salah seorang sahabat, beliau pun menyikapi masalah ini dengan petunjuk sejarah, bukan marah atau pembelaan yang ia lakukan melainkan ia berkata “ aku tidak akan mengatakan perkataan apapun kecuali apa yang telah dikatakan Nabiyullah Ya’qub “Fasobrun jamil wallahul musta’an“ dari dua kisah ini kita dapat mengetahui bahwa sejarah telah memberikan keteguhan dalam hati sehingga sesorang tidak gamang dan serampangan dalam menyikapi sebuah kejadian.

Fungsi sejarah yang selanjutnya adalah sejarah sebagai nasihat dan peringatan, sebuah kemustahilan jika kita mengharapkan sejarah terulang sama persis, karena sejarah terikat oleh ruang dan waktu, namun kemungkinan sejarah terulang dari prespektif kemiripan-Nya sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu menjadikan sejarah sebagai juru nasihat dan pengingat tidaklah salah. Bukankah seorang muslim seharusnya tidak terjerumus dalam lubang yang sama dua kali ?. Ulama terkemuka asal Turki Syekh Muhammad Fethullah berkata :

“Manusia juga perlu membaca lembaran sejarah yang menakutkan dan menyeramkan, selain membaca halaman yang membahagiakan dan menentramkan, agar ia bisa mengambil langkah antisipasi yang diperlukan. Kalau tidak, ia akan tetap tidak dewasa layaknya anak-anak dalam pemikirannya”

Semoga kita semua dianugerahkan kedalaman hati sehingga dapat merenungi dan mentadaburi setiap keping sejarah yang telah terlewati, karena hidup adalah tempat belajar maka belajarlah dari kehidupan.

Mengembangkandiri.com dca685fbf929e5e3d4397dcdc3ab54b6

Kemerdekaan Bangsa, Kemerdekaan Diri

Karya Pembaca : Ferghi Yusuf

Ufuk fajar menyambut berkahnya hari penuh suka cita. Digaungkan bendera merah putih kebanggaan simbol jati diri bangsa. Alhamdulillah, dengan izin-Nya, hari kemerdekaan telah tiba. Hari ulang tahun Indonesia dengan 270 juta orang yang merayakannya.

Tak dipungkiri hari kemerdekaan merupakan hari bersejarah bagi Nusantara, hari di mana NKRI lahir dan terlepas dari cengkeraman penjajah durjana. Hari di mana rakyat bersorak ria tiap kali ia menyerta. Kendati demikian, kebanyakan enggan untuk memaknai makna kemerdekaan sejati. Mereka menutup pintu qolbu yang sepatutnya diusahakan untuk sebuah memakna hakikat hari.

Kemerdekaan bangsa Indonesia seyogianya dijadikan momentum untuk memerdekakan diri. Kurang afdal bukan jika yang merdeka hanya bangsanya, tidak dengan individunya? Dengan begitu, mari rayakan hari kemerdekaan sebagai ajang kebangkitan hati. Apa maknanya?

Maknanya, Hari Kemerdekaan merupakan sarana bersyukur dan bersimpuh kepada Allah Ta’alla. Qolbu yang rapuh dan haus akan iman harus segera diisi kembali dengan maknawi penuh rohani. Qalbu yang menderita, meronta, meminta karunia kepada Sang Pemilik Segalanya yang mencurahkan rahmat ke dunia fana. Qolbu yang terkorek hitamnya dosa harus bersujud memohon ampun pada-Nya, bertaubat seolah tak ada waktu tersisa.

Tidak berhenti semata, jadikan kemerdekaan sebagai cermin diri bagaimana pendiri bangsa berjuang membela tanah air dengan nyawa mereka. Jadikan pengorbanan mereka sebagai motivasi intrinsik untuk mengabdi tanpa pamrih kepada sesama sesuai tuntunan agama. Jadikan celotehan mereka sebagai prinsip hidup yang terpatri dalam raga. Jadikan tetes darah mereka sebagai pemantik spirit ukhuwah islamiyah kita. Begitu kiranya…

Masih belum kelar, kenyataan pahit memang, Hari Kemerdekaan justru diperingati sebagai momentum berfoya-foya yang tidak semestinya. Banyak orang melakukan maksiat yang dibenci oleh Sang Pencipta. Kita harus berani berbeda. Rayakan hari kemerdekaan dengan melakukan amalan yang membuat malaikat turun berdoa. Isi hari dengan membaca buku, tilawah Al-Qur’an, dan mengembangkan kemampuan yang sekiranya berguna. Terus terang ajakan ini untuk semua pembaca, termasuk penulis juga. Jadi, kita berjuang bersama, ya. Bismillah

ochimax-studio-N5bKG8C93Uw-unsplash

Kemerdekaan Ibarat Sepertiga Dunia Seisinya

Karya Pembaca : Habib A.S

Yang perlu diingat, tiga setengah abad bukanlah waktu yang singkat, bukan pula waktu yang penuh akan nikmat. Nikmat untuk dapat menikmati hidup yang singkat, nikmat untuk sekadar menikmati hasil jeri payah dan keringat. Sejarah telah mencatat hampir tanpa cacat, perihal kehidupan leluhur kita di bawah kuasa kolonial yang jahat. Entah apa yang Tuhan maksudkan, kita hanya dapat menjadikannya sebagai bahan renungan. Renungan yang mengantarkan kita kepada sikap syukur atas kemerdekaan yang telah diberikan. Renungan yang memicu semangat kita untuk terus berjalan ke depan. Renungan yang mendorong kita untuk menadahkan tangan ke atas, memohonkan ampun mereka atas semua kesalahan. Itulah yang semestinya kita lakukan.

Ya. Tujuh puluh tujuh tahun negara ini mendapatkan kemerdekaannya, dimana sebelumnya dirampas oleh mereka yang hanya mementingkan kepentingannya. Begitu banyak hal yang sebenarnya dapat kita jabarkan tentangnya, baik sebelum dan selama dijajah, serta sebelum dan selama merdeka. Tentu tidaklah cukup, apabila semuanya dituangkan hanya pada satu tulisan saja. Begitu pula dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sangatlah banyak hal yang kiranya dapat kita petik dan kita amalkan dalam kehidupan. Sampai-sampai, tak satupun yang dapat kita ingat, kecuali pada saat hari besar kenegaraan saja.

Memang tidaklah salah, jika kita benar-benar demikian, mengingat nikmat kemerdekaan ini hanya pada hari peringatan yang tertanggalkan. Itu menunjukkan bahwa, hari peringatan benar-benar berfungsi sebagaimana yang dimaksudkan, guna memupuk kembali rasa cinta tanah air dan menguatkan ingatan kita akan para leluhur yang telah berjuang habis-habisan.

Terlepas dari itu semua, baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sang panutan umat manusia, yang kecintaannya kepada tanah airnya tidaklah lagi diragukan, sebagaimana disebutkan pada hadist-hadist shahih yang ada, pernah bersabda demikian yang kiranya dapat kita jadikan wallpaper di handphone kita, agar kita ingat selalu tentangnya, agar kita termasuk menjadi seseorang yang senantiasa mensyukuri nikmat kemerdekaan yang Tuhan berikan, tidak hanya pada hari peringatan saja. Demikianlah sabdanya,

“Barangsiapa di antara kalian yang bangun tidur dalam keadaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan mendapatkan makanan (pokok) pada harinya, seakan-akan telah diberikan kepadanya dunia dan semua isinya” (HR. Ibnu Majah).

Dari hadist tersebut, mari kita renungi sejenak diri kita sekarang. Apakah kita terbangun dari tidur karena adanya suara ledakan? Apakah kita terbangun dari tidur akibat teriakan manusia yang kencang? Atau apakah ada suatu gangguan lainnya yang membangunkan kita dari tidur nyenyak? Jika tidak ada, beruntunglah kita menjadi seorang hamba yang diberikan kenikmatan ini. Kenikmatan kemerdekaan atas negeri dimana kita tinggal yang membuat kita bangun dari tidur dalam keadaan yang aman. Tak perlu beranjak pada poin kedua dan ketiga hadist tersebut, kita sudah diberi nikmat yang begitu besar, nikmat yang dapat diibaratkan dengan sepertiga dunia seisinya, nikmat yang tidak akan kita sanggup beli kepada-Nya, jika Dia menetapkan harga pada setiap nikmat yang Dia berikan.

“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya”. (QS. A Nahl : 18)

Demikianlah, Tuhan Sang Maha Pemurah memberikannya kepada kita, dimana ada diantara hamba-hambanya yang belum berkesempatan merasakannya. Terlebih, jika kita mengikuti berita perkembangan dunia, bahwa semakin banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita. Oleh karena itu, kita sangat perlu untuk bersyukur. Bersyukur karena termasuk golongan hambanya yang beruntung, beruntung karena menjadi hamba yang diberikan nikmat tersebut. “kemerdekaan”

“dan bersyukurlah kamu akan nikmat Allah, jika memang hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. An Nahl :114)

Namun, janganlah kita terlampau bangga dulu, janganlah kita menganggap diri kita taat karena diberikan nikmat tersebut. Mari coba renungkan, apakah Dia memberikannya kepada kita secara cuma-cuma tanpa maksud?

“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu`minun : 115)

Dan mari kita renungkan sekali lagi, apakah nikmat kemerdekaan ini justru menjadi sebuah ujian dan musibah bagi kita? Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hazm,

“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu hanyalah musibah”. (Jaami`ul Ulum wal Hikam, 2:82)

Demikianlah. Kemerdekaan yang tengah kita rasakan ini, tidaklah lain adalah pemberian-Nya. Pemberian yang menuntut kita untuk merawatnya sebagai salah satu bentuk syukur kita. Pemberian yang tidak diberikannya secara percuma, melainkan mengandung maksud tertentu dari-Nya agar kita benar-benar memanfaatkannya dengan baik dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita rawat bersama kemerdekaan yang telah Dia berikan kepada kita, yang menjadikan perjuangan dan pengorbanan leluhur kita sebagai perantaranya. Satukan rasa, sampingkan perbedaan, hadapi lawan, dan selesaikan masalah secara bersama. Buktikan kepada-Nya bahwa kita bisa melakukannya, sebagai bentuk mensyukuri nikmat-Nya. Lebih dari itu, kita dapat menjadikannya sebagai sarana untuk menolong saudara kita yang belum seberuntung kita.

Dan yang terpenting, setiap nikmat akan ada pertanggungjawabannya, dengan apa dan bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini dalam ketaatan kepada-Nya.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa berdoa untuk kelanggengan kemerdekaan negara ini sebagaimana yang Nabi Ibrahim Alaihis Salam telah contohkan kepada kita. Tak lupa, selipkan doa kita untuk mereka yang belum seberuntung kita, yang masih berjuang untuk kemerdekaan.

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS. Al Baqarah : 126)

Sekian. Selamat hari kemerdekaan untuk kita semua, Indonesia.

Referensi

M.A Tuasikal, “Akan Dipertanyakan Segala Nikmat”, 2012.

idul adha ibadah kurban

Perjuangan dalam Kebahagiaan Ibadah Kurban

Karya Pembaca: Habib A.

Setahun sekali, umat muslim melakukan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Rabb-nya, sebagai sunnah yang diwariskan oleh beliau abu anbiya Ibrahim alaihi salam. 

Tak henti – hentinya dan tak bosan – bosannya, mereka yang berada di jalan dakwah mengingatkan kepada kita yang awam tentang keutamaannya, tidak lain adalah guna memotivasi kita supaya ikhlas, hanya mengharap ridha-Nya. 

Semua manusia turut merasakan dampaknya, tidak terkhusus bagi mereka yang muslim saja. 

Hari raya kedua umat muslim yang ditetapkan oleh-Nya pada bulan Dzulhijjah, sebagai salah satu dari empat bulan haram, menjadi suatu hari yang begitu dinantikan. Hari dimana golok dan pisau sudah dalam keadaan tajam, siap untuk mengambil manfaat hewan kurban yang telah disiapkan. Hari dimana kantung plastik dan timbangan bersatu dalam menjalankan peran, membagikan kepada semuanya tanpa membedakan ras, suku, agama, dan golongan. Hari dimana para ibu mempersiapkan bumbu masakan beserta alat masak untuk melanjutkan estafet perjuangan. Semuanya berbahagia di hari itu dan di tempat itu, hanya mereka yang disembelih-lah yang meneteskan air mata, air mata kebahagian karena dipersembahkan kepada Penciptanya.

Ya. Bukan hari raya namanya jika tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Bukanlah hari raya namanya jika sebelumnya tidak ada perjuangan yang dilakukan. 

Keduanya, baik kebahagiaan maupun perjuangan merupakan suatu kemurahan dari-Nya, Sang Maha Pemurah. Kemurahan yang diberikan bukan tanpa maksud, melainkan dimaksudkan agar hamba-Nya menjadikannya sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan abadi di akhirat kelak, sebagai bentuk kasih sayang-Nya, Sang Maha Penyayang.

Sudah menjadi hal yang rutin bagi kita untuk gigih dalam perjuangan sebelum datang kebahagiaan sebagai ekspresi dari kemenangan. Perjuangan yang tidak terlepas dari sebuah pengorbanan. Perjuangan yang timbul dari ketakwaan.  Perjuangan untuk menaklukan hawa nafsu dalam jiwa. Perjuangan yang lebih berat daripada menaklukan sebuah kota sendirian.  

Perjuangan yang dimaksud tersebut adalah puasa, yang setelahnya akan tiba kebahagiaan dalam bentuk hari raya. Terlepas dari hukum pelaksanaan keduanya yang berbeda, mengisyaratkan kepada kita akan adanya kesakitan sebelum kesenangan, keringat sebelum nikmat.

Tak hanya puasa saja yang dapat dikatakan sebagai perjuangan. Kurban yang dilakukan pada Idul Adha pun demikian. Meskipun di awal disebutkan bahwa hari raya -idul adha – merupakan suatu kebahagiaan yang datang setelah adanya perjuangan, tetapi mengapa masih ada perjuangan yang dilakukan di dalamnya?  Dan mengapa berkurban dikatakan sebagai sebuah perjuangan? Perjuangan dalam kebahagiaan?

Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut dapat kita baca pada QS. Al Hajj (22) ayat 37, Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya,

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Ya. Pada ayat tersebut disebutkan bahwa daging dan darah dari hewan yang kita kurban-kan tersebut tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kita. Ayat ini menjadi penangkis terhadap praktik sesaji yang dilakukan, sebagai bentuk penegasan bahwa Allah Yang Maha Suci berbeda dengan berhala-berhala yang dijadikan mereka sebagai sekutu-Nya.

Sekali lagi, tidak akan sampai kepada Allah sesuatu berupa benda yang kita kurban-kan. Melainkan, yang akan sampai kepada-Nya adalah ibadah kurban yang kita lakukan sebagai bentuk ketakwaan kita kepada-Nya. Ketakwaan yang melahirkan perjuangan, perjuangan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya. Ketakwaan yang dilakukan dengan dasar keimanan dan disempurnakan dengan keikhlasan. Ketakwaan yang mengharuskan kita melepaskan dengan rela apa yang kita cinta. Tidak semua orang dapat melakukannya, kecuali mereka yang Allah inginkan kebaikan untuknya.

Allah berfirman, “Dan unta – unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki dalam keadaan terikat). ..” QS. Al Hajj (22) : 36.

Allah berfirman, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar – syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati”.  QS. Al Hajj (22) : 32.

Memang, tidaklah mudah untuk melepaskan sekaligus merelakan sesuatu yang kita cinta, baik itu harta, tahta, pasangan, maupun anak. Itulah sebabnya ibadah kurban dapat dikatakan sebagai bentuk perjuangan, perjuangan pada saat hari raya, perjuangan dalam kegembiraan, perjuangan sebagai bentuk ketakwaan. 

Di sinilah Allah Sang Pemilik Alam Semesta menguji kita, menguji seberapa sami`na wa atho`na nya diri kita terhadap apa yang diperintahkan-Nya. Yang mana sebelumnya, Dia melakukannya kepada kekasih-Nya Ibrahim `alaihissalam, yang menjadi tonggak awal lahirnya perjuangan ini. Dia menguji seberapa sami`na wa atho`na nya beliau Ibrahim alaihi salam ketika dihadapkan dengan perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail alaihi salam. Beliau berhasil. Lalu, Dia menyampaikan kembali bentuk ketakwaan tersebut kepada anak keturunan Ibrahim Sang Kekasih-Nya hingga akhir zaman.

Bukan tanpa maksud, disampaikan oleh-Nya perintah kurban kepada kita adalah agar kita menjadi dekat kepada-Nya, agar kita mendapat ridho-Nya, dengan ketakwaan sebagai dasarnya. Berbekal kedekatan dengan-Nya, berbekal ridho-Nya, Dia memberikan kebahagiaan yang tidak terbayang oleh kita sebelumnya. 

Demikianlah. Puasa dan kurban sebagai miniatur kecil dari sebuah perjuangan yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan sebagai bentuk dari kemenangan. Namun, sebagaimana diumpamakan dengan ibadah kurban, kebahagiaan tersebut belumlah bersifat final, masih terdapat perjuangan yang dilakukan di dalamnya. 

Karena sejatinya, hidup kita saat ini di dunia adalah sebuah perjuangan, perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang tidak terdapat lagi perjuangan di dalamnya, kebahagiaan sebagai hari raya yang sesungguhnya, kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya. 

idul adha ibadah kurban

Artikel lain tentang keutamaan Bulan Dzulhijah dapat dibaca dalam artikel berikut: Keutamaan Sepuluh Malam Pertama Zulhijah