mengembangkandiri.com festive-lantern-with-bokeh-background-ramadan-kar-2021-08-30-14-08-28-utc

Ibadah Kurban sebagai Bentuk Kesalehan Sosial

Karya Pembaca: F. Yusuf

Menurut KBBI, kurban dapat dimaknai sebagai persembahan kepada Allah (seperti biri-biri, sapi, unta yang disembelih pada hari Lebaran Haji) sebagai wujud ketaatan muslim kepada-Nya.

Adapun secara bahasa, kurban berasal dari akar kata ‘qariba yaqrobu qurbanan wa wirbanan’ yang kurang lebih berarti ‘mendekat.’ Memang tidak dipungkiri jika kurban merupakan napak tilas Nabi Ibrahim, namun alangkah bijak jika semua mukmin mengetahui hakikat mendalam dibalik diperintahkannya ibadah kurban. Satu dari seribu hakikat kurban terwujud melalui kesalehan sosial yang niscaya bermanfaat bagi anggota masyarakat.

Bagaimana memaknai kesalehan sosial?

Kesalehan sosial dapat didefinisikan sebagai nilai Islam yang melihat kepedulian seseorang terhadap kepentingan masyarakat sebagai bagian dari ibadah. Seorang mukmin yang mengamalkan kesalehan sosial tidak hanya terkungkung kepada ibadah ritual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial tinggi untuk berbuat kebaikan terhadap orang lain di sekitarnya.

Bagaimana kurban mewujudkan kesalehan sosial?

Dalam ilmu fikih, daging kurban dibagi menjadi tiga macam, yakni dimakan, diberikan kepada kaum duafa, dan disimpan untuk suatu keadaan mendesak. Pengamalan ketiganya dengan cara berbagi mampu menghidupkan solidaritas sosial yang perlahan mendorong tumbuhnya jiwa toleransi, menebar kasih saying, dan menjalin kerukunan antaranggota masyarakat tanpe melihat kriteria sosial tertentu.

Kurban merupakan momentum terbaik untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah antaranggota masyarakat. Semua bersatu dan bekerja sama menyembelih hewan kurban. Semua mencurahkan tenaga demi kepentingan bersama. Semua mengesampingkan segala perbedaan dengan mempererat tali persaudaraan dalam satu atap prinsip fundamental kehidupan, yaitu akidah Islam dan cahaya iman. Mereka mengesampingkan sikap egosentris yang kian menjamur demi tujuan hakiki. Ibadah kurban menjadi momentum yang tepat untuk evaluasi diri sembari saling memaafkan dalam cakupan interaksi sosial antarsesama. Tali silaturahmi antarmukmin yang semula renggang menjadi erat kembali.

Kurban mengajarkan manusia untuk selalu peka, peduli, dan aktif berpatisipasi terhadap lingkungan sosial. Tatkala kurban tiba, kita membagikan demikian banyak kantung daging kepada mereka yang membutuhkan sebagai aksi konkret tenggang rasa terhadap sesama. Menurut ijtihad ulama ulung seperti Imam Abu Hanifah, pembagian kurban dilakukan kepada semua elemen masyarakat tanpa membedakan suku, bangsa, dan agama.

Kurban menjadi sarana dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, terutama bagi mereka yang mungkin jarang menyantap daging karena tuntutan ekonomi. Daging kurban mengandung nutrisi yang diperlukan organ tubuh dalam menjalankan fungsi biologisnya. Ibadah kurban menjadi kesempatan bagi anggota masyarakat untuk memperbaiki kualitas diet guna memenuhi asupan gizi empat sehat lima sempurna.

Akhir kata, pelaksanaan ibadah kurban tidak hanya ritual penyembelihan hewan belaka, tetapi juga momen penyembelihan sifat ego dalam relung kalbu setiap insan.

mengaji alquran hari raya kurban

artikel lain tentang keutamaan Bulan Dzulhijah dapat dibaca dalam artikel berikut: Keutamaan Sepuluh Malam Pertama Zulhijah

mengembangkandiri.com paper-with-brain-shape-as-dementia-symbol-on-black-2021-08-30-01-45-10-utc

Teori Kecerdasan

Karya Pembaca: Rio A.

Apa itu kecerdasaan?

Bagaimana seseorang bisa dikatakan cerdas?

Apakah kecerdasaan adalah sebuah anugrah? sebuah kualitas yang memang nilainya tetap.

Atau, kecerdasaan adalah buah dari usaha seseorang dalam mempelajari sesuatu?

Dua pandangan ini sah-sah saja untuk dimiliki. Tetapi, tahukah anda kalau cara pandang kita terhadap kecerdasan mampu berimplikasi pada cara pandang kita terhadap hal lain?

Ada dua teori dalam memandang kecerdasan, teori kecerdasan tetap dan teori kecerdasan berubah. Teori kecerdasaan tetap dapat disebut juga dengan teori kecerdasaan entitas. Dikatakan entitas karena teori ini memandang kecerdasaan sebagai suatu entitas dalam diri kita yang tidak bisa diubah. Teori kecerdasaan berubah dapat disebut juga sebagai teori kecerdasaan inkremental. Dikatakan inkremental karena teori ini memandang kecerdasaan sebagai suatu kualitas yang dapat ditingkatkan melalui proses belajar. Lantas, bagaimana teori yang dipercayai seseorang tentang kecerdasan mampu mempengaruhi pandangannya terhadap hal lain?

Dalam buku berjudul Self Theories yang ditulis oleh Carol S. Dweck, guru besar psikologi Universitas Stanford, Profesor Dweck melakukan penelitian-penelitian tentang teori kecerdasaan. Hasil dari penelitian tersebut sangat menarik. Anak-anak sekolah dasar yang teori kecerdasan entitas lebih cepat menyerah ketika menghadapi soal sulit ketimbang anak-anak teori kecerdasan inkremental.

Kenapa bisa demikian?

Saat anak-anak teori kecerdasaan entitas menjumpai soal sulit, mereka memandang soal-soal yang diberikan sebagai penilai kepintaran mereka. Artinya, kalau mereka tidak bisa menjawab soal yang diberikan, mereka berasumsi bahwa mereka tidak cukup pintar. Sebaliknya, anak-anak teori inkremental sangat suka dengan soal-soal sulit yang diberikan oleh peneliti. Mereka memandang soal sulit sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan baru. Pola-pola ini tidak hanya ditemui pada siswa sekolah dasar saja, tetapi penelitian yang dilakukan kepada mahasiswa juga menunjukan pola yang sama.

Jadi, anak-anak yang percaya bahwa kecerdasan adalah suatu entitas yang tetap akan lebih mudah menyerah daripada anak-anak yang percaya bahwa kecerdasan adalah hal yang dapat ditingkatkan melalui belajar.

Apakah kita bisa melihat fenomena “menyerahnya” anak-anak teori entitas karena persoalan yang sulit di luar penelitian?

Tentu.

Pernah dengar cerita kolega atau saudara anda yang mengatakan bahwa seseorang dulunya brilian di kelas, tetapi prestasinya menurun setelah naik ke kelas yang lebih tinggi?

Misalnya, transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah. Pada sekolah dasar, tingkat kesulitan soal atau pekerjaan dijaga minimal agar dapat memastikan pekerjaan tersebut dapat diselesaikan oleh siswa, dan siswa memperoleh banyak kesuksesan. Lebih tepatnya, kesuksesan yang mudah. Ketika mendapat kesuksesan yang mudah, baik anak teori entitas dan teori inkremental tidak terdapat perbedaan performa yang signifikan. Tetapi, saat transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah, soal-soal dan pekerjaan menjadi lebih sulit serta instruksi menjadi lebih umum. Anak-anak teori entitas yang tidak adaptif akan kaget dan percaya bahwa mereka memang tidak cukup cerdas. Anak-anak teori inkremental akan menganggap bahwa transisi tersebut memang bagian dari proses belajarnya. Selanjutnya bisa diduga, setelah transisi, prestasi anak-anak teori entitas menurun dan prestasi anak-anak teori inkremental cenderung tetap.

Saya pernah membaca cuitan seseorang di internet yang isinya kurang lebih, “Apakah benar? Saat masa SMA, perempuan yang ambisius. Tetapi waktu kuliah malah
sebaliknya?”.

Di Kamus Besar bahasa Indonesia, ambisius memiliki arti berkeinginan keras mencapai sesuatu. Mungkin yang dirujuk penulis cuitan tersebut adalah perbedaan prestasi antara masa SMA dan kuliah berdasarkan gender tertentu. Saya tidak terlalu yakin dengan hal tersebut, tentu terdapat perbedaan kasus di setiap tempat. Hal yang saya ketahui, Profesor Dweck memiliki istilah “Paradoks Gadis-gadis Pintar”. Singkatnya, paradoks tersebut berbicara tentang menurunnya prestasi gadis-gadis yang dulunya dicap pintar di bangku kuliah.

Adakah penjelasan mengenai hal tersebut?

Anak-anak yang sering dipuji karena kepintaranya, bukan kerja kerasnya, akan membentuk pola pandangan kecerdasaan teori entitas. Seiring berjalannya waktu, anakanak akan mendambakan pujian akan kepintarannya. Mereka akan memandang soalsoal yang mereka kerjakan sebagai pengukur kecerdasan mereka.

Bagaimana agar kita “tidak pernah” gagal mengerjakan soal?

Sederhana.

Kerjakan soal mudah, atau dengan kata lain, hindari soal-soal sulit. Menghindari soal-soal sulit menurunkan kemungkinan anak-anak untuk belajar hal baru. Maksudnya, kalau kita hanya melakukan apa yang kita bisa lakukan, bagaimana kita bisa belajar hal baru lebih banyak?

Fenomena ini, ditambah pandangan masyarakat bahwa laki-laki lebih baik di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menggiring “gadis-gadis pintar” untuk memilih bidang lain. Hal ini agar mereka dapat menghindari kegagalan. Kalau mereka memasuki bidang STEM pun, kegagalan akan membuat, kepercayaan diri mereka akan lebih cepat hilang dan mereka akan mempertanyakan kecerdasan mereka. Stigma masyarakat tentang dominasi laki-laki menjadi katalis menurunnya performa mereka saat menjumpai kegagalan.

Pandangan tentang teori kecerdasaan mempengaruhi seberapa cepat seseorang melabeli orang lain. Orang teori entitas melabeli orang lain lebih cepat daripada orang teori inkremental. Label di sini tidak hanya label negatif, tetapi berlaku juga pada label positif. Dari argumen-argumen pada paragraf sebelumnya, dapat dipahami kenapa fenomena tersebut dapat muncul. Ketika seseorang percaya bahwa kita memiliki sebuah kualitas yang berada di dalam diri kita yang tidak dapat diubah, maka kita hari ini adalah kita besok (dan kemarin). Satu cuplikan dapat digunakan untuk memprediksi bagaimana seseorang berperilaku ke depannya. Itulah mengapa orang teori entitas cenderung melabeli orang lebih cepat. Hasil penelitian konsisten dengan hal tersebut. Orang-orang teori inkremental, sebaliknya, melabeli orang lain relatif lebih lambat. Sangat mengesankan bagaimana cara pandang seseorang mengenai kecerdasan mampu mempengaruhi seberapa cepat penilaian seseorang kepada orang lain.

Dua pandangan teori kecerdasan , baik kecerdasan tetap maupun berubah, wajar dimiliki seseorang. Tetapi, dari hasil penelitian, pandangan bahwa kecerdasan manusia dapat dikembangkan melalui proses belajar atau kerja keras adalah pandangan yang lebih baik. Kita mungkin diberi anugrah otak yang cemerlang, tetapi, sebagian orang lupa bahwa kita juga diberi anugerah untuk berusaha. Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang, sebelum dia mengubah nasibnya sendiri.

Referensi:
Dweck, Carol S. (2000). “Self Theories”.

Artikel ini sudah dimuat dalam Buletin Yayasan RUBIC bulan Februari 2022

mengembangkandiri.com masjid hassan

Sosiolinguistik: Menyoal Diglosia dalam Ranah Dakwah Islam

KARYA PEMBACA: F. YUSUF

Dakwah yang merupakan khazanah istimewa Islam diperintahkah dalam firman-Nya yang berbunyi,

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Ali Imran / 4:104).

Dalam menunjang keberhasilan dakwah, seseorang harus merancang strategi dakwah yang sesuai dengan objek dakwah. Mengutip dari Moh. Ali Aziz, strategi dakwah dapat dipahami sebagai perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan guna mencapai tujuan dakwah [1]. Terlebih, strategi dakwah harus diaplikasikan dengan beragam asas yang menuntun dai menuju arah dakwah yang efektif lagi efisien. Salah satunya ialah asas sosiologis yang mencakup situasi dan kondisi sasaran dakwah seperti kemampuan linguistik masyarakat sasaran dakwah. Dengan demikian, seorang dai wajib memahami sosiolinguistik masyarakat sehingga tingkat persentase kesuksesan dakwahnya menjadi lebih tinggi.

Mengapa demikian?

Bahasa pada hakikatnya merupakan proses interaksi verbal antara penutur dengan pendengar [2]. Saat seorang dai hendak berbicara, terbentuk suatu gagasan terkait materi dakwah yang mengalir dalam benaknya. Jika telah tiba waktunya, pesan tersebut disampaikan dalam bentuk ujaran yang nantinya ditransformasikan ke telinga pendengar. Dalam proses umpan balik tersebut, seorang dai seyogianya memperhitungkan faktor sosiokultural dan sosiosituasional di samping faktor linguistik yang cenderung mengarah kepada tata gramatikal [2].

Sosiolonguistik merupakan cabang linguistik empiris yang bersifat interdisipliner yang mengkaji masalah kebahasaan terkait dengan aspek sosial dan budaya masyarakat [2]. Keduanya saling bersinergi mengingat struktur sosial dapat mempengaruhi tingkah laku linguistik dan begitu pula sebaliknya [3]. Pemahaman akan disiplin sosiolinguistik begitu esensial mengingat bahasa menunjukkan variasi internal dan tidak akan menemukan seseorang dengan satu gaya bahasa sama [3]. Perbedaan tersebut mungkin terjadi pada pilihan kata, ucapan bunyi, dan struktur kalimat. Dengan memahami berbagai variasi tersebut, seorang dai diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan struktur bahasa di manapun ia berdakwah. Salah satunya berhubungan dengan diglosia. Diglosia merupakan salah satu gejala sosial yang bersangkut paut dengan situasi linguistik sasaran dakwah. Istilah tersebut mengacu kepada eksistensi dua ragam bahasa yang tumbuh berdampingan dengan bahasa lain dengan fungsi sosial yang khusus dalam skema komunikasi antarindividu [2]. Masyarakat dengan kondisi linguistik tersebut disebut diglosik. Lebih spesifik, masyarakat diglosik mengganggap adanya bahasa yang tinggi dan bahasa yang rendah. Bahasa pertama dinilai lebih bermartabat dan biasanya digunakan dalam situasi formal, sementara yang kedua memiliki karakteristik sebaliknya [2].

Diglosia dalam konsep linguistik cenderung mengarah kepada kontak bahasa. Artinya, ada berbagai bahasa yang saling bersinggungan dalam situasi pemakaian bahasa sehari-hari [4]. Menegaskan penjelasan sebelumnya, masyarakat diglosik memiliki ciri pembagian berbagai bahasa sesuai fungsi kemasyarakatan. Ranah tinggi biasanya diterapkan dalam bidang agama, pendidikan, dan pekerjaan. Adapun ranah rendah berkaitan dengan keluarga dan pertemanan. Keduanya tak boleh menerobos penggunaan yang semestinya guna menciptakan kondisi diglosia stabil. Jika sebaliknya, setiap bahasa justru tidak dapat mempertahankan fungsinya dan akhirnya berujung kepada ketirisan diglosia [4]. Ketirisan diglosia tentu akan menimbulkan kondisi sosial yang tidak kondusif mengingat masyarakat mengalami keguncangan budaya secara mendadak terkait pemakaian bahasa. Dalam situasi tersebut, seorang dai akan merasa kesulitan dalam menyampaikan dakwah sebab pengajaran Islam tak luput dari pemakaian bahasa yang baik dan benar.

Apakah yang harus dilakukan oleh seorang dai tatkala terjerembap dalam lubang musibah tersebut?

Seorang dai setidaknya mawas terhadap kondisi diglosia sasaran dakwahnya. Ia harus bijaksana dalam menggunakan ragam bahasa yang sesuai ketika proses dakwah berlangsung. Ketika menghadiri majelis formal, tentu ia diharapkan menggunakan bahasa formal yang dianggap elite oleh masyarakat sekitar. Misalnya, ketika berdakwah di ibu kota Jakarta yang dihadiri oleh golongan kelas atas, berbahasalah dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak luput pengucapan kata sesuai dengan PUEBI. Sebaliknya, tatkala mendakwahi sekelompok pemuda, usahakan gunakan bahasa yang gaul namun tetap sopan. Jangan sampai terbawa suasana sehingga melampaui batas! Penggunaan bahasa yang sesuai tentu akan menarik hati sasaran dakwah seakan-akan gelombang sinyal yang memperoleh media elektronik dengan frekuensi sama. Tak lupa, seorang dai tidak boleh menganggap eksistensi hierarki bahasa. Ia diharuskan menilai diglosia sebagai fenomena linguistik belaka tanpa mengganggu kondisi mentalnya. Jika tidak demikian, ia justru akan menggunakan bahasa yang dianggap lebih elite dan lebih akademik dengan tujuan memamerkan tingkat keilmuannya.

Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa seseorang harus mengucapkan sesuatu sesuai tingkat pemahaman pendengarnya?

Tak hanya berdampak positif terhadap keberhasilan dakwah, adaptasi diglosia yang dilakukan dai ternyata mampu menghindari kematian suatu bahasa. Bayangkan jika dai hanya menggunakan bahasa gaul di situasi apapun, tentu pendengar akan merasa ganjil. Efek setelahnya akan lebih buruk jika sasaran dakwah kelak juga menjadi seorang dai. Ia akan terus berdakwah menggunakan ragam bahasa sama di mana hal tersebut justru memperburuk citra dai.

Mengapa demikian?

Penggunaan bahasa yang monoton dalam jangka waktu panjang menyiratkan kedunguan pembicara. Apakah kematian ragam bahasa hanya berdampak pada dai? Jawabannya tentu tidak. Fenomena kebahasaan tersebut harus dihindari sebab hilangnya sebuah bahasa akan memiskinkan pengetahuan dan pemikiran masyarakat [4]. Masyarakat yang bodoh berakibat pada sulitnya menerima ajaran Islam yang penuh logika.

Intinya, seorang dai sudah sepatutnya mengaplikasikan strategi dakwah secara efisien. Sebagai ilustrasi, ia diharuskan mengetahui situasi linguistik sasaran dakwah. Ia setidaknya memahami garis besar fenomena kebahasaan yang terjadi dan bagaimana ia menghadapinya dengan bijak. Salah satunya ialah diglosia di mana dalam sebuah struktur sosial masyarakat terdapat dua atau lebih ragam bahasa. Yang satu dianggap lebih tinggi sementara yang lainnya dianggap rendah. Dengan pendekatan objektif yang tepat, seorang dai harus menerapkan penggunaan bahasa yang tepat dengan menyesuaikan situasi. Dengan demikian, dengan izin Allah, dakwahnya akan memberikan hasil yang gemilang. Pahalanya akan terus mengalir hingga ruhnya diangkat keharibaan-Nya kelak. Semoga Allah memudahkan para dai tak terkecuali demi tegaknya kalimat syahadat. Amin.

Daftar Pustaka

[1]      E. H. Husnah, “Metode dan Strategi Dakwah,” Banten, 2016.

[2]      Abdurrahman, “Sosiolinguistik: Teori, Peran, dan Fungsinya Terhadap Kajian Bahasa Sastra,” pp. 18–35.

[3]      T. Nugroho, “Apa itu sosiolinguistik?,” Ekspresi, Jakarta, pp. 26–32, Jun. 2006.

[4]      D. Susilawati, “Bahasa Masyarakat Perkotaan: Tantangan Pemerintahan Bahasa Palembang,” Magister linguistik, pp. 1–4, May 2010.

mengembangkandiri.com_a-single-tree-on-the-horizon-in-autumn-2022-03-04-02-27-39-utc

CAKRAWALA HIDUP KITA

Karya Pembaca: Haerul Al Aziz

Sudah tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan sosok sahabat Nabi adalah hasil representasi dari nilai luhur yang dicontohkan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Potret Kebanggaan Manusia yang menjadi panutan bagi seluruh umatnya. Antara jarak dan jangka waktu yang memisahkan kehidupan kita dengan cakrawala agung yang mereka miliki, seolah menjadi hal yang mustahil bagi kita, bahkan untuk sekadar berimajinasi memanifestasikan apa yang telah mereka wujudkan. Menjadi sosok insan kamil merupakan tujuan diciptakannya manusia dengan pencapaian ibadah, ubudiyah dan ubudahnya sebagai seorang hamba. Dengan keselarasan tujuan ini, mampukah kita sebagai generasi milenial menggapai cakrawala yang telah mereka persembahkan sebagai perwujudan dari keteguhan iman, kesadaran islam, dan kedalaman ihsan yang mereka miliki?

Perlu kita akui bahwa sosok sahabat merupakan potret agung yang memiliki karakteristik istimewa. Sehingga generasi setelahnya tidak akan mampu mendapatkan intensitas yang sama dengan pencapaian iman dan aktualisasinya dalam menjalankan sebab akibat untuk memenuhi haknya sebagai seorang mumin dan tanggung jawabnya dalam menjalankan pundi-pundi agama Islam. Seperti yang telah diungkapkan oleh Mursyid Hakiki sallallahu ‘alaihi wasallam bahwa,  “Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka, lalu orang-orang yang setelah mereka.”[1] Para sahabat menyerahkan diri mereka dan beriman secara utuh kepada lantunan ayat Al-Quran sebagai sumber utama bagi keberlangsungan hidupnya meski kala itu segala penindasan bertubi-tubi menghujam konsistensi iman yang mereka miliki. Bersama dengan sisi ummiyah[2] yang membuat mereka jauh dan tertutup dari dunia luar, penyerahan dan penerimaan dalam waktu yang singkat ini, di sisi lain sebenarnya merupakan perwujudan dari mukjizat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam dan Al-Quran itu sendiri.

Di samping itu, kebersamaan dengan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka secara langsung melihat, mendengar dan merasakan manifestasi aliran wahyu yang juga ikut terpercik dalam anatomi spiritual tubuh mereka, ditambah dengan bahasa sikap dan perilaku yang Beliau persembahkan sebagai pedoman kehidupan, menjadikan mereka layak untuk memiliki gelar “Wilayatul Kubra” yang merupakan kedudukan tertinggi dalam dimensi kewalian. Meski mereka yang mengaku telah bertemu berpuluh-puluh kali dengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam melalui sebuah mimpi, nilai mereka tak akan sebanding dengan keluhuran yang dimiliki para sahabat, karena percikan langsung yang mereka raih dari sumber yang hakiki kala itu.[3]

Periode era kebahagiaan telah berlalu, generasi selanjutnya melahirkan generasi lain sesuai dengan kedalaman yang mereka miliki. Disadari maupun tidak, sebuah proses penerimaan dan pemberian tongkat estafet yang mereka amanahkan berlangsung hingga generasi kita saat ini. Kemuliaan-kemuliaan yang dimiliki oleh para sahabat di atas yang menjadikan mereka memiliki gelar sebagai sosok “sahabat yang sesungguhnya” mungkin tidak akan mampu kita capai. Namun dengan keluhuran dan karakteristik tunggal yang mereka miliki tersebut, bukan berarti tidak ada karakteristik lain yang mampu kita jadikan sebagai pedoman supaya kita pun bisa berdiri di belakang barisan mereka. Bahwa layaknya Mursyid Agung, mereka pun tidak melepas tanggung jawabnya sebagai sosok sahabat untuk mencotohkan apa yang seharusnya diimplementasikan bagi generasi setelahnya. Disini kita akan memaparkan prinsip-prinsip mulia yang merupakan karakteristik lain para sahabat sebagai seorang hamba dan manusia ideal, yang mana jika kita mampu merealisasikannya, menggapai kebangkitan layaknya era kebahagiaan bukanlah sekadar imajinasi belaka.

Karamah yang Sesungguhnya

Bashirah agung Umar bin Khatab dalam ekspedisi Sariyah bin Zanim al-Khalji, doa Sa’ad bin Abi Waqqas yang segera terkabulkan, dan sumpah Bara bin Malik yang tak pernah ditolak Allah ta’ala  merupakan contoh dari banyaknya karamah yang dimiliki oleh para sahabat. Meski demikian keistimewaan ini bukanlah tujuan yang ingin mereka capai. Yang ingin mereka tunjukkan sebagai karamah asli ialah menjalankan apa yang seharusnya mereka lakukan sesuai dengan kausalitas yang ada dan mengarahkannya kepada ridha Allah ta’ala seraya menjauhi segala hal yang beraroma takjub di luar itu. Dibandingkan hal yang menakjubkan, mereka lebih memilih untuk hidup sesuai dengan ruh agama yang semestinya; memiliki akhlak mulia; mengisi dirinya dengan kesadaran ma’rifat, mahhabah, ikhlas, dan ihsan; senantiasa memelihara hak Allah dan juga hak orang lain; dan sebisa mungkin memperdalam hubungannya dengan Sang Pencipta. Ini semua merupakan sebuah pantulan dari keteguhan nilai iman yang mereka miliki yang layak bagi kita untuk dijadikan pedoman.

Dua Kosa Kata Luhur “Kesetiaan dan Loyalitas”

Ketika mendengar kosa kata “kesetiaan dan loyalitas” siapa yang tak mengenal Abu Bakar bin Uthman Abu Quhafa, sosok sahabat yang telah sampai kedalam tingkatan siddiq. Kesetiannya untuk menjaga dan melindungi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tak ada satu orang pun yang akan meragukannya. Namun kesetiaan dan loyalitasi yang dimilik para sahabat lain pun perlu kita paparkan sebagai landasan bagi kehidupan generasi kita saat ini. Karena dua nilai luhur ini layaknya sudah menjadi darah daging dalam tubuh mereka dalam rangka menjunjung tinggi nama Allah ta’ala dan mengobati hati yang penuh luka akibat kekufuran. Amr bin Al Ash yang meletakkan rambut Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam di bawah lidahnya ketika ia meninggal dunia sebagai bentuk loyalitas dan wasilah untuk memudahkannya menjawab pertanyaan di akhirat kelak; Sang Panglima perang Khalid bin Walid yang tetap menjaga kesetiaannya meski ia harus wafat di atas kasurnya; dan Ukba bin Nafi yang pergi ke ujung samudera untuk menyampaikan amanahnya dalam rangka memanifestasikan dua kosa kata luhur ini. Sebuah implementasi akan kesadaran Islam yang ingin mereka persembahkan bagi kita semua.

Ramuan Ihsan antara Kesabaran dan Rasa Syukur

Penindasan yang mereka alami di awal tak membuat mereka gentar dan tetap bersabar untuk menjalankan segala kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai umat Islam. Di sisi lain kegembiraan setelah mereka berhasil menaklukan kota Mekkah tak membuat mereka bangga diri, bahkan bersyukur dengan segala karunia yang telah Allah ta’ala limpahkan. Mereka berhasil memadukan kesabaran dan rasa syukur tersebut sebagai ramuan ihsan yang layak bagi mereka untuk kita jadikan sebagai contoh dalam menyikapi setiap peristiwa yang ada. Sebagai perwujudannya tak ada satu pun dari mereka yang ingin membalas dendam dengan apa yang telah kaum musyrik lakukan meski kala itu mereka telah berada di puncak kemenangan. Dengan itu semua mereka lebih memilih untuk bersikap istikamah di jalan ini.

Musyawarah dan Atmosfer Spiritual

Melalui tuntunan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam pentingnya musyawarah juga mereka hadirkan ke dalam pundi-pundi kehidupan mereka sebagai indikator terpenting yang menunjukkan kualitas keimanan pada suatu masyarakat serta menjadi karakter utama yang melekat pada semua komunitas yang mempersembahkan hidup mereka demi kejayaan agama Islam. Di sisi lain, mereka pun selalu menggunakan setiap waktu dan kesempatan yang mereka miliki untuk berbincang dan merundingkan tentang keagungan Allah ta’ala dan hakikat Islam. Tak ada satu pun manfaat dunia yang ingin mereka raih atau mereka gambarkan dalam imajinasinya.

Nilai khas yang dimiliki para sahabat sudah menjadi karakter tunggal yang tidak dimiliki oleh generasi lain. Tetapi bukan berarti kehidupan mereka sebagai seorang hamba yang luhur tidak bisa kita manifestasikan ke dalam kehidupan generasi milenial saat ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa jarak dan waktu telah memisahkan kita dengan mereka, namun jika kita masih sanggup menjaga keteguhan iman, kesadaran Islam, dan kedalaman ihsan yang seharusnya, bukankah kita juga akan memiliki nilai istimewa lain sebagai sosok “saudara” yang dikenang Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya? Walaupun secara langsung kita tidak sanggup melihat dan merasakan kehidupan mulia yang telah mereka jalankan bersama Sang Nabi kala itu. Kendati seperti itu, jika kita melihat ke seluruh penjuru dunia saat ini, sebuah imajinasi yang kita gambarkan dari awal, telah dimanifestasikan oleh sekumpulan individu yang mengabdikan diri mereka untuk menjungjung tinggi perdamaian dunia atas nama kemanusiaan yang telah sejak lama ditunggu kehadirannya. Yang menjadi pertanyaan ialah, kapankah tiba saatnya bagi kita untuk juga mengimplementasikan prinsip-prinsip mulia tersebut sebagai cakrawala hidup kita yang sesungguhnya?

[1] Sahih Muslim, “Fada’il al-Sahaba” 210, 211, 212, 214, 215; Abu Dawwud, Sunnah 9.

[2] Ungkapan ummiyah disini lebih mengarahkan kedalam  makna bahwa kehidupan mereka hingga saat itu jauh dan terasing dari dunia luar, tidak ada hubungan yang signifikan antara kehidupan mereka dengan kultur atau agama lain. Sehingga hati mereka masih bersih dan jernih. Mereka tidak memerlukan sumber lain dalam pemahaman dan penafsirannya terhadap Al-Quran. (http://www.herkul.org/kirik-testi/kur-an-kulturu-ve-sahabe/)   

[3] Bediüzzaman Said Nursi, “Sözler”, Şahadamar Yayınları (2007), s. 532; Fethullah Gülen, “Ölümsüzlük İksiri”, Nil Yayınları (2011), s. 96.

mengembangkandiri.com_four-gingerbread-cookies-on-green-childrens-hand-2022-02-24-06-34-41-utc

Kasih Sayang dan Kekerasan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Dunia memang selalu berubah, bergerak dengan dinamis untuk mencari keseimbangan baru. Beragam peristiwa silih berganti, datang dan pergi membuat kita terkadang harus berada pada kondisi terjepit antara hitam dan putih, gelap dan terang, peperangan dan perdamaian, permusuhan dan persahabatan.

Di tengah kondisi yang terkadang begitu memilukan, hanya ada satu obat penawar bagi segala kemuraman, cahaya bagi kegelapan, kesepakatan bagi peperangan, dan persaudaraan bagi permusuhan. Obat penawar itu adalah rasa kasih sayang. Rasa kasih sayang yang akan menggerus kekerasan yang terjadi di masyarakat.

Pancaran Kasih Sayang

Kasih sayang adalah pancaran dari cahaya akhlak Ilahi yang direpresentasikan dengan hati. Layaknya seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya, seorang guru kepada murid-muridnya, seorang atasan kepada bawahannya.

Seseorang yang sanubarinya diliputi oleh rasa kasih sayang, tidak akan pernah meminta balasan apapun darinya. Kasih sayang akan menjadi kekuatan bagi yang lemah, penghangat bagi yang kedinginan, teman bagi yang kesepian, dan kehadiran bagi seseorang yang tak memiliki siapapun dalam kehidupannya.

Bukankah Nabi berkata bahwa barangsiapa yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda, maka bukanlah bagian dari kita? Ya, begitu pentingnya nilai kasih sayang, sampai-sampai Nabi pun memberikan peringatan ini.

Dengan kekuatan kasih sayang, hati yang keras pun akan menjadi lembut, kepedulian sosial akan muncul, dan saling tolong-menolong akan tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dengan kekuatan kasih sayang juga, negara akan menjadi tempat dimana ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan kesatuan, hikmat dan kebijaksanaan, dan keadilan sosial akan dielu-elukan oleh rakyatnya.

Ya, kasih sayang adalah pancaran suci dari langit kepada kita semua. Jika kita ada pada hari ini dan mampu bertahan dalam kehidupan ini, itu karena kasih sayang-Nya; Jika kita saling menyayangi dan disayangi oleh orang-orang yang ada di sekitar kita, itu juga karena rahmat-Nya.

Nabi kita juga mengajarkan dan mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup dan bermuamalah dengan penuh kasih sayang, kecintaan, dan kelembutan dalam beragama. Dalam beragama tidak boleh ada paksaan, penekanan, menyusahkan dan menyulitkan.

Kekerasan dalam Beragama

Ajaran dan teladan Nabi dalam beragama tersebut memang seharusnya bisa kita terapkan dalam kehidupan. Namun sayangnya, ada sebagian dari kita yang gagal memahami ajaran agama, gagal merepresentasikannya. Sehingga karena rasa takut yang dirasakan dari paksaan dan kekerasan yang dilakukan, banyak orang-orang yang akhirnya salah mengenali kita. Bukankah pepatah mengatakan bahwa manusia akan memusuhi sesuatu yang tidak dikenalinya?

Ya, hal ini terjadi karena kita tidak mampu untuk keluar dari daerah kita, kita cenderung menutup diri, dan gagal mengedepankan komunikasi dan dialog yang sehat dengan orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita. Akhirnya akan selalu muncul percikan api pertikaian antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak memiliki keimanan yang sama.

Orang-orang yang beragama terkadang memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Kekerasan sangat bertolak belakang dengan fitrah manusia yang memiliki iradah dan kebebasan berpikir.

Cara seperti itulah yang sangat bertentangan dengan akal dan logika manusia. Cara itu bukanlah cara yang berdasarkan dengan hasil pemikiran yang benar. Cara itu bisa saja menjadi bumerang yang justru dampak buruknya akan kembali kepada siapa yang melakukannya.

Hal ini yang akhirnya menyebabkan profil seseorang yang beragama menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengkhawatirkan. Jika ini terjadi, maka kedepannya untuk merubah keadaan ini akan semakin sulit dilakukan, dan mungkin kekuatan kita tidak akan mampu menghadapinya.

Sebuah Refleksi

 Bagi orang yang beriman, menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya, sebenarnya menunjukkan betapa lemah keimanannya. Artinya, ia tidak benar-benar yakin dengan keimanannya sehingga ia harus membuktikannya dengan memaksakannya kepada orang lain.

Seorang mukmin sejati akan begitu percaya dengan nilai-nilai yang ia miliki dan yakini. Ia akan mengubahnya menjadi pandangan hidup sehingga ia tidak akan takut untuk hidup bersama dengan orang-orang yang memiliki pandangan keimanan yang berbeda.

Ia berani untuk berdialog dengan mereka, meskipun terkadang berada di bawah naungan mereka. Karena seseorang yang tidak ragu dengan nilai-nilai keimanan dalam dirinya, ia tidak akan merasa tertekan dengan melihat kehidupan dan keimanan orang lain.

Apakah ini berarti bahwa nilai-nilai keimanan tidak bisa kita jelaskan kepada orang lain yang belum mendapatkan petunjuk keimanan?

Sudah menjadi tabiat manusia ingin menjelaskan atau mengajak orang lain kepada sesuatu yang ia yakini kebenarannya. Jika hal ini dilakukan dengan cara-cara yang benar, dengan adab dan cara yang benar, dengan tetap menghormati iradah dan kebebasan berpikir yang dimiliki masyarakat, maka masyarakat akan sangat salut, menghargai, dan mengambil contoh dari nilai-nilai keimanan tersebut. Bahkan, mungkin saja mereka akan mengakui nilai-nilai keimanan tersebut dengan menggunakan iradah dan kebebasan yang ada dalam diri mereka masing-masing.

Alhasil, setiap orang berhak memiliki nilai-nilai yang ia yakini, hidupi, dan mungkin ia ingin bagikan kepada orang lain. Yang menjadi permasalahan adalah ketika cara-cara yang penuh kasih sayang dan kelembutan telah digantikan dengan kekerasan dan paksaan dalam menyikapinya.

Oleh karenanya, yang perlu kita kedepankan adalah iradah dan kebebasan berpikir manusia dalam memandang sesuatu. Seseorang yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap nilai-nilai yang kita anggap benar adalah suatu kewajaran dan menjadi kekayaan keberagaman yang ada di kehidupan bermasyarakat.

mengembangkandiri.com_children-are-tired-of-learning-and-sleepy-2021-09-01-01-43-52-utc

Sebagai Pengingat

Karya Pembaca: Habib A.S

Tidaklah terasa, tahun Masehi 2022 telah berlangsung, seakan – akan waktu berlalu dengan begitu cepat. Suka duka, manis pahit, kucuran keringat, tetesan air mata, dan semuanya yang terjadi pada tahun sebelumnya, akan menjadi sebuah kenangan sekaligus menjadi bekal untuk menjalani kehidupan di tahun berikutnya sebagaimana yang telah Dia tetapkan. Entah apa yang akan terjadi besok, seorang hamba harus siap menghadapi kehidupan dunia yang penuh dengan problematika. Memang, dunia ini adalah tempatnya lelah. Dunia bukanlah tempat untuk manusia beristirahat dengan tenang, apalagi untuk bersenang – senang, terlebih bagi mereka yang beriman dan berserah diri kepada Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya.

Sebagaimana Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Wahai Imam, kapankah waktu istirahat itu?”

Kemudian beliau menjawab, “Istirahat yang sesungguhnya ialah pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

Ya, kadang kala dunia dan segala kesibukan yang dibuatnya, membuat seorang hamba lupa akan akhirat dan segala hal yang terkait dengannya, meskipun pada nantinya akan segera teringat. Hal tersebut tidaklah lain tergantung dari kadar keimanan dan ketakwaan, serta kuantitas dan kualitas dzikir seorang hamba kepada-Nya.

“Sebagai pengingat”, tulisan ini akan mengingatkan tentang sesuatu yang sangat penting nan agung yang tidak lama lagi akan datang membersamai kehidupan. Ia adalah tamu yang mulia yang sangatlah perlu disambut dengan sambutan yang mulia pula. Ia bagaikan hujan yang kedatangannya sangat dinantikan oleh sekelompok manusia yang telah lama hidup dalam kondisi kekeringan. Ia bagaikan anak burung yang menanti kedatangan induknya dengan membawa makanan yang siap untuk disuapkan kepadanya. Ia bagaikan seorang ayah yang kehadirannya sangat dirindukan oleh buah hatinya setelah sekian lama berpisah.

Lalu, apakah sesuatu yang dimaksudkan itu?

Apakah kalian tahu?

Jika belum, tulisan “Sebagai Pengingat” ini yang akan memberi tahu.

Baik, dalam kalender Masehi, ada suatu waktu dimana sebagian besar manusia tidaklah lupa untuk memperingatinya. Suatu waktu yang begitu dinantikan saatnya oleh hampir seluruh manusia di dunia, terutama semenjak matahari terbenam hingga menuju waktu puncaknya. Dinantikannya percikan api yang menghiasi langit bumi, tiupan terompet dan teriakan manusia yang turut memeriahkannya, dan diramaikan dunia maya dengan ucapan “Happy New Year” beserta kreasi lainnya yang tidak melenceng jauh dari maksud utamanya. Meskipun ia hanya berlangsung semalam, namun kedatangannya begitu dinantikan. Hal tersebut tidaklah lain dikarenakan oleh keistimewaan yang dimilikinya.

Jikalau demikian, suatu waktu yang masanya berlangsung jauh lebih lama, yaitu sekitar tiga puluh hari, dan ia memiliki nilai dan keistimewaan yang jauh lebih besar dibandingkan malam tersebut, tentunya akan sangat dinantikan kedatangannya bukan?

Benarkah begitu?

Jika memang benar, maka “sesuatu” yang menjadi pertanyaan di awal telah terjawab. Dan bagi seorang hamba yang beriman, tentu ia telah mengetahuinya terlebih dahulu sebelum sesuatu tersebut disebutkan dengan jelas.

Langsung saja, sesuatu tersebut adalah Ramadhan. Suatu waktu yang kedatangannya sangatlah dinantikan oleh mereka yang benar – benar menantikannya. Suatu waktu dengan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh waktu – waktu lainnya, keistimewaan yang tidak dibuat – buat dan tidak diada – ada, keistimewaan yang langsung diberikan oleh Tuhan Semesta Alam dengan dasar firman-Nya dan dilengkapi oleh sabda rasul-Nya. Suatu waktu yang kehadirannya menjadi harapan bagi mereka yang beriman dan berserah diri kepada-Nya, yang dengan perantaranya dijadikanlah berlipat ganda seluruh amal kebaikan yang dilakukan, yang dihapuskannya dosa – dosa, yang diturunkannya al qur`an sebagai keterangan yang jelas bagi seluruh manusia dan menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yang dibukakannya pintu – pintu surga, ditutupnya pintu – pintu neraka, dibelenggunya setan, dibebaskannya seorang hamba dari neraka, dikabulkannya doa, dan berbagai keutamaan lainnya yang tidak sempat tertuliskan.

Sebagai pengingat, ia akan segera datang dalam kehidupan. Terhitung tujuh puluh tiga hari sejak dituliskannya tulisan ini, ia akan membersamai seorang hamba selama tiga puluh hari ke depan dengan membawa nuansa kehidupan yang berbeda dari biasanya, membawa kenikmatan, ampunan, rahmat, serta ridho Tuhannya.

Lantas, sudahkah seorang hamba mempersiapkan sesuatu yang indah untuk menyambut kedatangannya?

Atau jangan – jangan, ia belum tahu apa yang perlu dipersiapkan olehnya?

Ya, sesuatu yang perlu dipersiapkan tidaklah lain adalah dirinya sendiri. Diri yang hampir satu tahun ditinggalkan olehnya, mungkin saja mengalami perubahan ke arah yang tidak diinginkan olehnya selepas kepergiannya. Oleh karena itu, sangatlah perlu bagi seorang hamba untuk memperbaiki, membenahi, dan memantaskan diri untuk menyambut kedatangannya sekaligus membersamainya dalam kehidupan yang sebatas tiga puluh hari saja.

Tidaklah etis bukan, apabila seseorang tidak mempersiapkan sesuatu untuk ia dihidangkan kepada tamu yang telah memberikan kabar sebelumnya?

Tentu tamu tersebut akan merasa sedih, kecewa, atau bahkan merasa tidak dihargai.

Dan tidaklah tepat pula bukan, jika seseorang tidak mempersiapkan dirinya dengan belajar untuk menghadapi ujian kelulusan di sekolah?

Tentu kelulusan seseorang tersebut akan sangat diragukan. Sama halnya, ketika seorang hamba tidak mempersiapkan dirinya dengan memperbaiki dan membenahi diri untuk menyambut kedatangan Ramadhan yang agung nan mulia. Tentu ia akan membuatnya kecewa. Dan lebih dari sekadar itu, ia akan membuat kecewa Tuhan yang telah memberikan kesempatan untuk berjumpa kembali dengannya. Namun, sejatinya ia sama sekali tidak membuat keduanya kecewa. Sebab, ia justru telah membuat dirinya sendiri menyesal dan merugi di hari kemudian karena telah menyia – nyiakannya.

Maka dari itu, perlu bagi seorang hamba untuk memperbaiki, membenahi, dan memantaskan diri sebelum kedatangannya. Agar pada nantinya, ia benar – benar bisa membersamainya dengan baik, mendapatkan apa yang dibawanya dari Tuhannya, baik berupa rahmat, ampunan, pahala yang berlipa ganda, dan bahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Benarkah demikian?

Tulisan ini dimuat dalam Buletin Yayasan RUBIC 2022 edisi bulan Februari