kane-reinholdtsen-LETdkk7wHQk-unsplash

Etika dalam berbicara

Dalam pergaulan sehari-hari, etika berbicara itu penting, tidak boleh asal bicara. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, biasanya semakin tinggi pula etikanya dalam berbicara. Kelas pendidikan dan sosial sering menjadi faktor pembeda dalam berbicara.

Bahkan bahasa yang digunakan dan cara berbicara kepada orang yang lebih muda dari kita akan berbeda dengan bahasa dan cara berbicara kepada teman sebaya, begitu juga dengan orang yang lebih tua dari kita. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berbicara :

  1. Jangan gunakan nada bicara yang tinggi

Nada bicara yang tinggi biasanya mencerminkan emosi kemarahan. Lawan bicara akan merasa seperti di marahi atau dianggap mengalami kekurangan pendengaran. Cara ini akan mengurangi respon positif dari lawan bicara. Nada bicara yang normal dan jelas akan lebih enak didengarkan dan lebih berkenan di hati lawan bicara, terutama saat berbicara dengan guru di kelas dan orang yang lebih tua. Komunikasi akan lebih lancar dan apa yang disampaikan akan lebih di pahami.

  1. Berkata baik atau diam, gunakan kata yang halus (bahasa yang baik dan benar)

Berpikir sebelum berbicara akan lebih baik dari pada harus salah bicara karena tidak dipikir dulu. Dengan berpikir, kita akan menemukan kata yang lebih halus untuk mengungkapkan apa yang ingin disampaikan. Kata yang lebih halus akan lebih enak didengar dan lebih mudah mendapatkan respon positif dari pendengar. Bahasa dapat menunjukan kualitas kepribadian dan latar belakang seseorang. Dan tentunya tidak boleh menggunakan kata-kata yang kasar, apalagi yang meninggung hati lawan bicara. Hindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Terakhir jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna atau sia-sia. Sedikit Bicara Lebih Utama

  1. Jangan memotong pembicaraan

Komunikasi yang baik adalah 2 arah. Orang yang hanya banyak bicara dan tidak mau mendengarkan pembicaraan lawan bicara akan memunculkan pikiran tentang karakter egois pada diri kita. Berilah kesempatan pada lawan bicara untuk menyampaikan pertanyaan atau opini maka dia akan merasa lebih dihargai.

  1. Tatap mata lawan bicara

Yang dimaksud disini bukan memelototi tetapi menatap dengan tatapan wajar. Lawan bicara akan merasa tidak dihargai jika kita melengos memperhatikan hal lain dalam waktu cukup lama. Orang akan merasa tidak dihargai jika yang diajak bicara membagi fokusnya pada hal lain seperti gadget.

  1. Sebut nama mereka dengan awalan Pak atau Bu

Menyebut nama akan lebih sopan dan lebih enak di dengar dari pada menggunakan kata “kamu”. Berikan panggilan Bapak, Ibu, Mas, Mbak atau Abi yang diikuti namanya.

  1. Dilarang Membicarakan Setiap yang Didengar

Dunia kata di tengah umat manusia adalah dunia yang campur aduk. Seperti manusianya sendiri yang beragam dan campur aduk; shalih, fasik, munafik, musyrik dan kafir. Karena itu, kata-kata umat manusia tentu ada yang benar, yang dusta; ada yang baik dan ada yang buruk.

  1. Jangan Senang Berdebat Meski Benar

Saat ini, di alam yang katanya demokrasi, perdebatan menjadi hal yang lumrah bahkan malah digalakkan. Ada debat calon presiden, debat calon gubernur dan seterusnya. Pada kasus-kasus tertentu, menjelaskan argumentasi untuk menerangkan kebenaran yang berdasarkan ilmu dan keyakinan memang diperlukan dan berguna.

Tetapi, berdebat yang didasari ketidaktahuan, ramalan, masalah ghaib atau dalam hal yang tidak berguna hanya membuang-buang waktu dan berpengaruh pada retaknya persaudaraan dan menimbulkan permusuhan.

  1. Dilarang Berdusta Untuk Membuat Orang Tertawa

Dunia hiburan (entertainment) menjadi dunia yang digemari oleh sebagian besar umat manusia. Salah satu jenis hiburan yang digandrungi orang untuk menghilangkan stress dan beban hidup yang berat adalah lawak. Dengan suguhan lawak ini orang menjadi tertawa terbahak-bahak, padahal di dalamnya campur baur antara kebenaran dan kedustaan, seperti memaksa diri dengan mengarang cerita bohong agar orang tertawa

  1. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba

Ghibah adalah membicarakan orang lain di belakang orang yang kita bicarakan

jisun-han-cl9KWGDf52E-unsplash

Potret Maknawi Sang Bediuzzaman : Tidak Takut Akan Siksa Neraka, Tidak Berhasrat Akan Kenikmatan Surga

     Bediuzzaman Said Nursi menjelaskan perasaan rohaniah dan pemikirannya yang begitu dalam kepada Esref Edip mengenai pengabdian terhadap agama : “Satu-satunya hal yang membuatku menderita ialah bahaya yang sedang dihadapi umat Islam. Pada masa silam, bahaya berasal dari luar. Namun sekarang, berbagai bahaya itu berasal dari umat Islam sendiri. Sangat sulit untuk melawannya.  Diriku amat takut bila umat tidak mampu menahannya, dikarenakan mereka tidak mengetahui keberadaan musuh. Mereka seolah-olah menganggapnya sebagai teman.”

     Beliau melanjutkan, “Apabila pandangan masyarakat telah buta, benteng keimanan umat Islam akan berada dalam bahaya. Hanya itulah yang kupedulikan sekarang. Diriku bahkan tidak pernah punya waktu untuk memikirkan semua siksaan and penghinaan yang telah kurasakan. Yang kuinginkan hanyalah keselamatan umat. Itu sudah cukup bagiku. Apabila hal tersebut terwujud, diriku tidak akan keberatan dan bersedia untuk mengalami penderitaan yang lebih pedih.”

     “Yang sedang kubicarakan adalah pondasi utama masyarakat Islam. Iman, kalbu, dan nilai-nilai keislaman. Ketiga hal tersebut kuajarkan di bawah naungan persatuan dan keimanan sebagaimana termaktub dalam Alquran. Ketiga hal inilah yang menjadi pilar utama umat Islam. Tanpanya, umat akan hancur suatu saat nanti.”

     Mereka bertanya kepadaku, “Mengapa Anda mengambil barang ini dan itu?”. “Aku bahkan tidak menyadari hal ini. Kobaran api menyala-nyala di hadapanku, membumbung ke atas langit. Anak-anakku terbakar membara dalam api kekufuran. Begitu pula diriku. Kucoba berlari mendekati kobaran api dan memadamkannya. Aku akan menyelamatkan agamaku sendiri.” Ia beralasan, “Apakah masuk akal bila ada seseorang yang ingin berurusan dengan orang yang berhasrat menjebaknya? Dalam keadaan bahaya ini, seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan dari setiap perbuatan kecil manusia?”

     Bediuzzaman dengan tegas berkata, “Apakah mereka berpikir diriku adalah seseorang yang egois? Seseorang yang hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Tentu saja tidak. Kukorbankan seluruh dunia dan akhiratku untuk menolong umat. Diriku tidak takut pada siksa neraka dan tidak berhasrat akan kenikmatan surga. Untuk keselamatan dua puluh lima juta orang Turki, tidak hanya satu Said yang akan mengorbankan dirinya. Pasti ada ribuan Said lain yang akan melakukan hal sama. Apabila tidak ada seorang pun yang tunduk pada ajaran Alquran, diriku tidak akan menginginkan kenikmatan surga. Itu akan menjadi penjara bawah tanahku. Lebih baik diriku terbakar api neraka.”

     “Dalam 80 tahun kehidupanku, diriku tidak prnah mengetahui secuil pun kenikmatan duniawi. Hidupku habis di dalam penjara bawah tanah, pengadilan, dan pengasingan. Ditambah lagi, kehidupanku dipenuhi dengan kesedihan, penderitaan, dan kesulitan. Kukorbankan semua jiwa dan ragaku untuk keselamatan umat. Lisanku bahkan tidak mampu mengutuk kezaliman mereka. Hanya satu alasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan umat melalui buku Risalah Nur karanganku.”  Memang hal itu sebuah fakta. Berdasarkan penuturan jaksa Afyon, Said Nursi telah menyelamatkan iman 500.000 Muslim atau mungkin lebih banyak, MasyaAllah.

     Bediuzzaman adalah seseorang yang siap mengobankan jiwa dan raganya untuk keselamatan umat Islam. Sehubungan dengan hal tersebut, beliau tidak tanggung-tanggung. Beliau melakukan perjaanan ke puncak maknawi tertinggi, Beliau memaafkan semua orang yang telah menyiksanya. Begitu mulianya pribadi beliau!

     Beliau melupakan semua rasa sakit dan derita yang dialaminya dengan penerimaan satu orang akan keimanan yang suci. Beliau menganggapnya sudah cukup untuk membalas semua penderitaan yang beliau alami. Beliau berjalan di atas cakrawala Baginda Rasulullah yang bercahaya. Siapakah yang lebih kuat dibandingkan dengan orang yang memiliki kepercayaan dan ketundukan penuh kepada Tuhannya? Bagaimana gelapnya ruang pengadilan, penjara, atau kematian dapat melukainya?

     Beliau dengan rasa rendah hati menuturkan, “Sejak diriku tahu bahwa Risalah Nur menyelamatkan kalbu orang-orang yang membutuhkan rasa iman, maka biarkanlah seribu Said mengorbankan dirinya. Diriku telah memaafkan siapa saja yang menzalimi dan menyiksaku selama 28 tahun lamanya. Tidak perlu diragukan, diriku telah memaafkan siapa pun yang mengusirku dari satu kota ke kota lainnya. Kumaafkan semua orang yang menghina dan menuduhku atas banyak hal sehingga membuatku dipenjara! Kumaafkan mereka yang telah melemparkan ragaku yang lemah ini ke dalam penjara bawah tanah!”

   “Kukatakan kepada takdir yang selalu adil, diriku pantas menerima tamparan kasih sayang. Jikalau diri ini hidup seperti kebanyakan orang, yang melulu berpikir tentang dirinya sendiri dan selalu mengambil jalan termudah tanpa adanya pengorban jiwa dan raga, niscaya diriku akan kehilangan kekuatan untuk mengabdi kepada agama. Aku telah mengorbankan semuanya. Aku berhasil bertahan dari semua penderitaan pahit. Aku bersabar atas semua siksaan yang pedih. Pada giliranya, realita keimanan sudah tersebar ke segala penjuru. Lembaga pendidikan berbasis Risalah Nur telah berkembang menjadi ribuan dengan jutaan murid yang berdatangan. Mulai sekarang, mereka akan melanjutkan jalan pengabdian ini. Mereka tidak akan menyimpang dari misi pengorbanan ini. Mereka akan melakukan semuanya hanya untuk meraih rida Ilahi semata.” 1

1. Nursi, Bediuzzaman Said, Risale-i Nur Kulliyati-2. Istanbul: Nesil, 1996, hal. 2206

marek-piwnicki--7B7Vvk3KlQ-unsplash

Ambil Tongkat itu, Kami Pantas Dihukum!

Di lingkungan sekolah, nilai moral dan budaya seharusnya diajarkan dengan porsi yang sama dengan pelajaran umum lainnya, sehingga generasi dengan karakter dan semangat yang kuat dapat membentuk bangsanya menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera. Mengajar dan mendidik adalah sesuatu yang berbeda. Banyak orang bisa menjadi seorang guru, namun tidak semua orang bisa mendidik. Menjadi seorang guru-pendidik bergantung kepada perasaan bertanggung jawab dan menjadi penuh perhatian dan menanggung beban amanah di waktu yang bersamaan. Memberi pengaruh ke hati para siswanya hanya bisa dicapai melalui tingkat perasaan jiwa seperti itu.

Kejadian berikut bisa menjadi contohnya:

Pak Ari datang menemui Pak Dimas dalam keadaan panik, “Mereka kabur lagi! Sudah berapa kali kita nasehati, tapi tetap saja mereka melakukannya lagi! Mereka tidak mendengar nasehat kita. Ini sudah ketiga kalinya mereka kabur!”

Pak Dimas bertanya, “ Kali ini, mengapa mereka kabur?”

“Saya kurang tahu; mereka ingin hidup seperti anak nakal,” balasnya

“Bagaimana Anda bisa menangkap mereka terakhir kali, Pak?”

“Pertama, kami temukan mereka di terminal bus dan kedua kalinya mereka kabur, kami menemukan mereka tidur di bangku yang ada di taman. Saat itu, kondisinya sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) jadi polisi menemukan mereka dan menginformasikan kepada kita. Kami datang dan membawa mereka kembali. Kami sudah menasehati kepada mereka tentang perilaku mereka itu sangat beresiko, namun mereka tidak paham-paham.”

Sementara itu, ketiga pelajar yang sedang kabur memutuskan untuk membeli tiket kereta api. Kondektur yang sudah berpengalaman di stasiun kereta api menyadari bahwa anak-anak tersebut sedang kabur.

Dia berkata kepada mereka, “ Dengar nak, di sini bukan tempat yang aman, berikan tiket dan uang kalian dan saya akan menyimpannya. Saat kereta datang, saya akan mengembalikannya.” Anak-anak itu menyadari bahwa itu alasan yang masuk akal dan memberikan tiket mereka ke pak kondektur.

Pak kondektur pun menginformasikan ke polisi di stasiun kereta api dan meminta mereka untuk menginvestigasi anak-anak tersebut. Pak polisi bersikap baik terhadap mereka dan bertanya tentang kondisi anak-anak itu. Pak polisi menemukan nama asrama tempat mereka kabur. Segera Beliau menelpon pihak sekolah dan Pak Dimas yang mendapat informasi tersebut langsung tancap gas menuju ke stasiun. Beliau menjemput ketiga anak kabur itu dan membawanya kembali ke sekolah. Saat itu beliau ingin menghukum mereka secara berat, karena mereka sudah sering kabur sebelumnya. Saat tiba di sekolah, Beliau melihat Pak kepala sekolah dan berubah pikiran untuk menghukum siswa-siswanya. Beliau menceritakan kejadiannya ke Pak kepala sekolah.

Pak kepala sekolah berkata, “ Carikan saya 3 tongkat besi dan pastikan tongkat itu cukup tebal, saya tidak ingin tongkat itu mudah bengkok saat saya memberi pelajaran ke tiga siswa ini. Saya ada kelas sekarang, bawa 3 tongkat itu setelah saya selesai kelas.”

Pak Dimas keluar sambil berpikir, “Bukankah satu tongkat besi saja cukup? Tongkat besi tidak semestinya mudah patah seperti batang kayu biasa.” Kemudian beliau berpendapat, “ Saya harus menghormati beliau, pasti ada pelajaran penting dari ini.”

Setelah beberapa menit, dia kembali dengan menggenggam 3 batang tongkat besi di tangannya. Pak kepala sekolah pun sudah selesai dari kelasnya dan ketiga siswa tadi menunggu didepan pintu seperti pasien yang sedang menunggu untuk dioperasi, dengan rasa takut terlihat di mata mereka. Pak kepala sekolah memanggil mereka “Masuk anak-anak.” Kemudian Beliau menghadap ke Pak Dimas dan berkata kepadanya, “ Sini Pak Dimas, silakan lepas kemeja Anda, saya juga akan melakukan hal yang sama.” Kemudian Beliau melihat siswa-siswanya dan berkata, “ Ini ambil tongkat besinya masing-masing! Kami pantas untuk dihukum. Jika kami adalah contoh dan teladan yang baik, jika kami berhasil menyentuh hati kalian, kalian tidak akan berbuat hal bodoh seperti itu. Kami lah yang pantas untuk hukuman ini. Punggung kami terbuka, pukul sebanyak yang kalian mau.”

Ketiga siswa yang tadinya masuk dalam keadaan wajah pucat dan ketakutan setengah mati sekarang terkaget-kaget. Tongkat-tongkat besi tadi terjatuh dari tangan mereka dan mereka pun bersimpuh di lantai, menangis. Mereka mengaku bersalah kepada Pak kepala sekolah, “Tolong Pak, hukum saja kami apapun kehendak Bapak, patahkan kaki kami namun maafkan kami Pak.” Pak kepala sekolah cukup serius tentang keputusannya untuk menghukum dirinya sendiri. Namun, ketulusan permohonan dari siswa-siswanya menggugah hatinya. Akhirnya, Beliau berubah pikiran dan memutuskan untuk tidak bersikeras lagi. Tidak ada lagi siswa yang kabur dari asrama sekolah tersebut setelahnya.

Terinspirasi dari:

Refik, Ibrahim, Hayatin Renkleri, Istanbul: Albatros, 2001, p. 154

elly-johnson-0omE39JtUAQ-unsplash

Penderitaan dan Kesengsaraan

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata,

“Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (Q.S. al-Baqarah 2:214)

Apa itu Penderitaan dan Kesengsaraan?

Dalam tulisannya, Ustadz Fethullah Gulen menyebutkan bahwa penderitaan dan kesengsaraan adalah sarana yang penting untuk mencapai tujuan luhur dan memperoleh hasil yang maksimal. Seorang yang mencari kebenaran disucikan oleh penderitaan, dimurnikan olehnya dan dengannya dia dapat mencapai hakikat kebenaran. Seseorang tidak dapat mencapai kematangan dan pemahaman akan kalbunya, tanpa ada penderitaan.

Semua sebab dari peristiwa besar dan tujuan altruistik terbabar dalam bayang-bayang, serba kekurangan, penderitaan, dan kesengsaraan. Tidak ada hakikat kebenaran dan cita-cita yang mulia yang dapat dicapai tanpa menghadapi suatu kesulitan dan dilalui tanpa kekurangan.

Suatu Sebab Memerlukan Penderitaan dan Kesengsaraan

Pengabdian kepada Islam dan kesuksesan di jalan ini selalu terjadi dengan metode yang sama, dan begitu banyak jenis penderitaan dan kesengsaraan yang harus ditanggung. Teladan kehidupan yang penuh akan penderitaan dan kesengsaraan dalam pengabdian di jalan Tuhan dapat dilihat dalam kehidupan generasi awal masyarakat yang hidup berabad-abad yang lalu bersama Rasul mereka.

Misalnya, jika kata-kata atau cacian yang dilontarkan ke Nabi Nuh oleh umatnya, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran, dilontarkan kepada salah satu dari kita di pinggir jalan dan jika kita dihina dengan cara seperti ini, kejiwaan kita akan goyah oleh rasa sakit. Salah seorang dari lima Nabi termulia, pelayan Tuhan ini pergi dari pintu ke pintu setiap hari dan menyentuh gagang pintu rumah setiap umatnya seraya berkata, “Katakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan jadilah yang terselamatkan”; Namun, balasan dari umat-umatnya terkadang adalah mengikat tali ke kakinya dan menyeretnya, kadang-kadang mengeroyok dan memukulinya, juga melemparkan tanah padanya dan bahkan melontarkan hinaan yang sangat kejam.

Jika kita mencermati kisah kehidupan Nabi Ibrahim as, terlihat betapa berat kesulitan yang Beliau alami. Beliau menghadapi penderitaan dan kesengsaraan terberat, seperti dilempar ke dalam kobaran api, diperintahkan membawa pergi jauh istrinya dan meninggalkannya disana, dan diperintahkan untuk menyembelih putranya.

Salah satu murid Nabi Isa as mengkhianati Beliau. Kemudian, umatnya sendiri dengan licik mengepung rumahnya dan berlomba-lomba untuk menyalib Sang Nabi.

Ringkasnya, semua Nabi mengalami penderitaan. Jalan seperti inilah merupakan jalan yang mereka lalui. Oleh sebab itu, Yunus Emre (w. 1321 M) berkata:

“Jalan ini panjang; rintangannya banyak. Tidak ada jalan masuk, hanya perairan yang dalam.”

Saat kita meninjau dari perhatian yang seperti ini, mereka yang bertugas di jalan Tuhan harus disiapkan untuk semua jenis kesukaran dan kesulitan, penderitaan dan kesengsaraan. Mereka yang beriman sebaiknya bisa menerima bahwa sejak awal mungkin akan ada malapetaka mengintai mereka dalam tugas untuk menjelaskan Tuhan dan kebenaran kepada setiap hati yang membutuhkan, dan mereka harus mengetahui dengan baik dan menerima bahwa mereka harus menanggung seperti ini.

corina-ardeleanu-sWlxCweDzzs-unsplash

Kesabaran

Kesabaran adalah kemampuan seseorang untuk mentolerir setiap jenis masalah dan kesulitan, dan mampu menanggung situasi yang tidak menyenangkan tanpa terganggu. Orang yang mengalami musibah atau malapetaka dan mampu menanti hasil tanpa mengeluh dan mampu mengatasi hambatan yang muncul di hadapan mereka untuk mencapai hasil.

Manusia dikirim ke dunia ini sebagai ujian. selama masa ujian, kemampuan seseorang berkembang dan akibatnya, dia akan menjadi layak untuk mendapatkan Ridho Allah dan melihat keindahan suci dan tak terbatas. Sebagai suatu ujian di jalan ini, melampaui masalah dan kesulitan hanya dapat dilakukan dengan kesabaran. Kesabaran adalah sifat baik yang akan membawa orang beriman ke cakrawala kebersamaan dengan Tuhan dan akan memungkinkannya untuk mendapatkan kabar baik dari Tuhan. Keberadaan kesetiaan orang beriman kepada Tuhan terkait dengan kesabaran. Kesetiaan tidak bisa dicapai tanpa ada kesabaran.

Tuhan memberi tahu kita bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengetahui mereka yang sabar dan yang tidak. Dia memberi kabar baik kepada orang-orang yang sabar, memberi tahu kami bahwa penerimaan dan ridho-Nya bersama dengan mereka yang memiliki kesabaran, dan Dia menyatakan bahwa Dia akan memberikan pahala yang tidak terbatas kepada hamba yang sabar.

Bersabar adalah menerima dengan senang hati segala kehendak Tuhan yang maha bijaksana serta maha pengasih di alam semesta yang merupakan milik-Nya. Ketidaksabaran adalah penolakan dan pemberontakan. Penting untuk menunjukkan kesabaran dengan kesulitan yang Tuhan kirimkan sebagai cobaan.

Kesabaran membutuhkan penyerahan diri kepada Tuhan, resolusi, kekuatan kemauan dan tekad yang kuat. Kesabaran terletak pada fondasi dari setiap jenis kesuksesan material dan spiritual. Untuk alasan ini, kesabaran adalah kunci dari setiap jenis keselamatan.

Jenis Kesabaran

Bediuzzaman Said Nursi membagi kesabaran menjadi tiga jenis:

  1. Kesabaran melawan dosa: Seorang beriman menunjukkan kesabaran untuk melawan daya tarik provokatif dari setiap jenis dosa dan berusaha untuk tidak melakukan dosa.
  2. Sabar melawan malapetaka: Jenis kesabaran ini dibuat sebelum berbagai malapetaka materi dan spiritual dan bencana yang ditemuinya dalam kehidupan duniawi.
  3. Sabar dalam beribadah: Ibadah memberi beban yang nyata pada seseorang seperti shalat lima waktu setiap hari, berwudhu, dan berpuasa. Seorang mukmin juga harus menunjukkan kesabaran terhadap ini dan mendapatkan surga.

Fethullah Gulen menambahkan jenis kesabaran lain pada tiga kategori ini yaitu kesabaran terhadap keindahan dunia yang menarik ini. Ini adalah masalah yang sangat penting terutama bagi umat Islam saat ini. Standar hidup mereka telah meningkat pesat, dan rumah, mobil, rumah musim panas, retret musim dingin, dll. Sayangnya hal ini menjauhkan beberapa orang dari perasaan memikiran tentang kehidupan lain. Ini ditunjukkan dalam ayat ini, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Al Imran 3:14). Ungkapan “Dijadikan indah pada (pandangan)” menekankan bahwa tidak mungkin orang tidak terpesona oleh hal-hal indah ini. Mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran yang sangat kuat sehingga membuat keyakinan terus menerus dikerjakan.

Sabar terhadap kemarahan zaman, kesabaran dalam bentuk ketidakpedulian terhadap perbedaan spiritual. Nyatanya, kesabaran untuk memaksa diri tetap berada di dunia penderitaan ini sekalipun pintu surga telah dibuka lebar-lebar demi pelayanan di jalan Tuhan adalah jenis lain dari kesabaran.

Ada konsep dalam literatur kami yang dikenal dengan “kesabaran aktif”. Mari kita pikirkan seekor ayam betina yang bertelur. Melihat ayam betina dalam keadaan ini, kita berkata, “Hewan ini berbaring malas di atas telurnya.” Namun, selama tiga minggu ia mengalami rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa. Ayam betina berhati-hati dalam menjaga telur pada suhu tertentu; sementara dia membaliknya, ayam betina menunjukkan usaha maksimal untuk tidak menyakiti atau menghancurkannya. Jadi, dengan sikap yang sangat sensitif, hati-hati dan aktif ini, ayam ini menunjukkan contoh kesabaran yang aktif.

Contoh lain misalkan untuk membuat makan malam, seorang ibu menyiapkan sayuran, daging, minyak, bawang, rempah-rempah … apa pun yang ada, meletakkannya di atas kompor dan mulai menunggu makanannya matang. Kesabaran aktif adalah melanjutkan keinginannya setelah makanan diletakkan di atas kompor dengan berdoa agar tujuannya didapat saat dia menunggu.

Dalam contoh yang berbeda, dua orang berbicara, setuju dan menikah. Masa menunggu buah hati adalah masa aktif sabar. Pasangan itu tidak bisa berbuat banyak, tetapi mereka berdoa agar bayinya selamat dan sehat.

Singkatnya, seseorang menyajikan makanan yang sudah dimasak, memulai makan dengan bismillah, menyusui bayi yang baru lahir, merawatnya. Ini semua membutuhkan persiapan. Pada titik ini, individu bertanggung jawab untuk melanjutkan tugasnya dengan tekad dan kesabaran, dan dengan memeluk doa dan mengenakan pakaian kesalehan, untuk berdiri kokoh di tempatnya. Mungkin beberapa peristiwa akan terjadi, badai akan mengamuk dan gelombang akan naik. Namun, seorang mukmin akan berdiri kokoh bagaikan bintang kutub dan secara aktif menunggu badai berlalu.

Terjemahan: Wildan Abi

ijaz-rafi-zrlMJyijims-unsplash

Mengapa Kita Malu

Seorang ibu mengaku amat resah saat menyadari anak laki-lakinya yang telah beranjak SMA belum juga memiliki seorang pacar. Lalu sang ibu sibuk mengajari anak tersebut bagaimana agar segera bisa memiliki kekasih hati. Belum cukup dengan hal itu ibu dan ayah dari anak ini bahkan memberikan ‘iming-iming’ tambahan uang saku dan fasilitas kendaraan bila si buah hati berhasil mendapat pacar. Keadaan ini semakin diperparah dengan banyaknya film dan tayangan televisi yang mengarahkan generasi muda untuk mengikuti pola hidup hedonis. Maka tak heran jika beberapa waktu lalu dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan adanya pesta tidak senonoh yang diadakan sebelum dan sesudah UN dalam rangka pelepas kegembiraan para remaja tersebut. Lebih miris lagi saat perayaan hari kasih sayang atau valentine day lalu, beberapa anak usia SD mengirimkan tweet atau status FB yang mengumbar status bernada mesra pada ‘teman khususnya’ dengan bahasa yang masih belum pantas mereka gunakan.

Jika ditelusuri lebih jauh kita dapat melihat mata rantai yang hilang dari pendidikan agama anak-anak dan generasi muda saat ini, dan mungkin sudah sejak lama, yaitu rasa malu atau haya yang terlupa untuk diajarkan bahkan seringkali disalah artikan. Benar adanya bahwa betapa beruntungnya anak-anak di Indonesia yang bisa belajar mengaji dan shalat sejak usia mereka amat dini, sementara mungkin di belahan bumi yang lain ‘nikmat’ ini sulit untuk didapat. Namun sayangnya pelajaran agama yang didapatkan anak dari sejak mereka kecil tidak dibarengi dengan pemahaman moral dan iman yang benar-benar terpatri di hatinya, dan sesungguhnya salah satu cabang dari iman adalah malu. (HR.Muslim, al-Iman 57,58)

Konteks malu ini sendiri seringkali salah dipersepsikan oleh masyarakat. Seringkali masyarakat kita mengartikan malu sebagai perasaan tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang tidak baik atau karena memiliki kekurangan. Sehingga sejak kecil anak-anak telah diajarkan untuk ‘berani tampil’ dan tidak merasa malu. Padahal malu yang dalam bahasa Arab disebut al-haya, al-khajal atau al-hisymah diartikan sebagai menjauhi segala yang tidak diridhai Allah karena takut dan segan kepada-Nya. Ketika sikap ini berpadu dengan perasaan malu yang telah ada secara naluriah di dalam watak manusia, maka hal tersebut akan membentuk orang tersebut memiliki hubungan erat dan jalinan kuat yang sesuai dengan nilai-nilai adab dan kehormatan. Sementara menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, haya adalah sebuah tabiat yang mendorong seseorang meninggalkan perbuatan dan mencegahnya dari meremehkan kebaikan.

Betapa kontras kedua pemaknaan malu ini sehingga para orang tua yang belum memahami esensi dan pentingnya rasa malu justru mendorong anak-anaknya dari sejak balita untuk justru mengurangi bahkan menghilangkan rasa malu yang sesungguhnya adalah fitrah manusia. Jika dalam sabdanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Malu hanya akan mendatangkan kebaikan” (HR.Bukhari, Adab: 77). Maka bisa kita bayangkan keburukan apa yang akan menimpa sebuah generasi yang terus ditekankan untuk tidak malu. Padahal perasaan yang pertama pada seorang manusia adalah haya atau rasa malu. Begitu pentingnya rasa malu ini hingga dalam hadis yang lain beliau mengingatkan kita : “Jika kau tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR.Bukhari, Adab:78). Maka amatlah jelas terlihat bahwa perilaku sesuka hati yang terus menggejala semakin parah akhir-akhir ini adalah karena manusia seringkali telah amat kehilangan fitrahnya dalam menjaga malu yang sesungguhnya adalah akhlak seorang mukmin sejati.

Banyak perilaku sehari-hari yang sering kita anggap sepele namun perlahan-lahan telah mengikis fitrah malu yang ada pada diri kita. Dengan gampang kita memuji wanita lain di depan suami atau sebaliknya bangga saat ketampanan suami dikagumi oleh wanita lain adalah pintu malu yang seringkali lupa kita tutup. Bahkan maraknya media sosial berbasis internet telah membuat kita menjadi-jadi dalam sikap tanpa malu massal. Di masa ini orang dapat tahu pasti apa yang kita lakukan dengan suami, kemana kita pergi dengannya dan kegiatan pribadi lain yang seharusnya menjadi batas privasi kita dan keluarga lalu justru menjadi konsumsi publik hanya dengan melihat status dan foto yang kita unggah di internet. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata : “Janganlah seorang wanita memandang dan mengagumi wanita lain, lalu ia menceritakan sifat-sifatnya kepada suaminya seakan-akan suaminya sedang memandangnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)