marion-michele-779368-unsplash

SEMANGAT PENGABDIAN SEPANJANG KEHIDUPAN

 

Semangat Pengabdian Sepanjang Kehidupan

(Diterjemahkan dari artikel “Bir Ömür Boyu Adanmışlık Ruhu”dari buku  Kırık Testi 14; Buhranlı Günler ve Umit Atlasımız)

Pertanyaan: Apa saja prinsip-prinsip pokok agar dapat menjaga semangat pengabdian tetap menyala di dalam kalbu ?

Jawab: Orang-orang yang sudah mengabdikan dirinya secara menyeluruh harus menjauhkan diri dari segala macam sikap dan perbuatan yang dapat menjatuhkan nama baik atau kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Menurut saya,  orang-orang yang sudah memberikan hatinya kepada sebuah cita-cita mulia dengan tulus dan tanpa pamrih, tidak akan pernah sengaja untuk melakukan hal-hal yang menghancurkan jamaahnyaserta tidak akan pernah sengaja melakukan perbuatan yang membuat kecewa teman seperjuangannya. Namun, kadangkala langkah yang diambil tanpa dipikir matang atau tanpa pertimbangan yang hati-hati dalam suatu persoalan dapat membuat seseorang tergelincir dan akan menyebabkan hilangnya kepercayaan orang lain atas dirinya. Dalam hal ini, maka yang perlu dilakukan adalah suatu tindakan yang sigap dari teman-teman seperjuangannya, yang memiliki pemikiran dan perasaan serupa untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Tindakan yang sigap ini tidak hanya menyelamatkan orang tersebut dari rasa malu, tetapi juga mencegah pikiran negatif orang lain terhadap jamaah tersebut.

Ya Allah, Jangan Biarkan Hamba Membuat Malu Sahabat-Sahabatku!”

Seorang tokoh ulama, Mawlana Khalid al-Baghdadi, sangat berhati-hati dalam menjaga martabat dirinya dengan tidak meminta-minta dari siapapun dan mampu memberikan contoh yang baik bagi kita semua. Dalam mencegah persepsi negatif orang-orang di zamannya, beliau mengingatkan para murid dan pengikutnya sejak awal: “Jangan pernah terlalu dekat dengan orang-orang kaya, penguasa, dan pemerintah. Mereka bisa saja menawarkan makanan yang lezat, memberikanmu kedudukan terhormat, dan juga berwajah manis untuk melakukan korupsi di belakang. Jika sudah berada di bawah pengaruh mereka, kalian akan tunduk kepada mereka sepanjang hidup. Oleh karena itu, merasa cukuplah dengan apa yang kamu miliki dan jangan pernah meminta kepada siapapun. Jangan lupa bahwa para penguasa dan pemerintah berkeinginan untuk menguasaimu agar tunduk kepada mereka.”

Orang-orang yang memprioritaskan filosofi hidup dalam mengabdi kepada Rabbnya, harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang menimbulkan rasa curiga terhadap jamaahnyadan tidak pernah mendekati tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan terhadap mereka. Contohnya, mereka tidak boleh meskipun hanya sekedar melewati sebuah bar agar orang-orang tidak memiliki pikiran bahwa mereka baru saja keluar dari bar, karena ada  kemungkinan mereka bisa mendapatkan fitnah dari orang lain. Oleh sebab itu, diperlukan sikappenuh kehati-hatian.

Seteliti apapun dalam bertindak, perlu diingat bahwa selalu ada kemungkinan bagi kita untuk menjadi sasaran fitnah. Meskipun kalian selalu menjaga persaudaraan, menyebarkan perasaan cinta, memiliki sifat lapang dada, dan tidak memiliki musuh dengan siapapun, jika ada orang-orang yang memiliki rasa dengki dan benci, mereka tidak akan pernah mengulurkan tangan dan tidak melapangkan dada kepada kalian. Sebaliknya,mereka akan membalas senyuman kalian dengan wajah masam. Pada saat itu, tidak ada hal selain meminta kepada Rabb dan memohonlah pertolongan kepadaNya. Jangan pernah lupa, kejadian seperti ini sudah terjadi sejak masa Nabi Adam Alaihissalam hingga sekarang dan akan terus berlangsung. Apa yang menjadi perhatian di sini adalah jiwa-jiwa pengabdi harus menjauhkan diri dari kondisi dan perilaku yang dapat menodai pergerakan mereka sendiriserta kehidupan keluarga dan sosial.Kalian harus memiliki tekad dan selalu memohon kepadaNya seraya berdoa, “Ya Rabbi jangan membuat malu teman-teman atas perbuatan kami, dan jangan membuat kami malu atas perbuatan teman-teman kami.” Jangan pernah berhenti mencari perlindungan Allah dan meminta pertolonganNya. Karena sangatlah mungkin bagi seseorang jatuh kepada nafsu duniawi dan setan terus-menerus memperindah angan-angan dan membuat lupa dirinya, selalu membuat dosa-dosa nampak indah bagi manusia.

Seseorang yang tidak berhati-hati akan bahaya dosa, mungkin akan masuk ke salah satu dosa tersebut tanpa sadar dan (semoga Allah melindungi kita) dapat membuat malu. Oleh sebab itu, orang-orang yang berada dalam sebuah gerakan yang jutaan orang memandangnya dengan penuh harapan harus sangat waspada untuk menghindari segala hal yang dapat membahayakan akhlak dan kesucian, teguh melawan godaan setan dan nafsu, serta tidak pernah memberikan kelonggaran atas nilai kejujuran dan amanah (dapat dipercaya). Mereka harus takut bila melanggar hak-hak dari rekan relawan yang bersama mereka dalam melangkah di jalan ini. Mereka harus mengangkat tangan seraya berucap, “Ya Rabbi, jika hamba membuat teman-teman merunduk malu, dengan segenap hati hamba lebih suka dikubur dalam tanah sebagai gantinya.” Itulah ungkapan kesetiaan dan loyalitas kepada teman-temannya. Agar tidak membiarkan orang lain berpikiran negatif dan kesalahan sekecil apapun terjadi, setiap jiwa yang mengabdi harus berusaha seperti seorang duta kejujuran, kesetiaan, dan kesucian. Sepanjang waktu, mereka harus dengan hormat menahan diri dari meminta-minta, mengemis dari orang lain, serakah, bersyukur atas apa yang diberikan Allah, dan menjauhkan diri dari segala hal yang merusak kehormatannya.

Sebelum Menasehati Berikanlah Contoh

Siapapun yang berusaha menyampaikan kebenaran dan kebajikan, jangan pernah lupa bahwa dengan sikap tulus dan teladan dapat mengajak orang-orang kepada kebaikan, daripada sekedar kata-kata yang diucapkan. Kata-kata yang tidak mencerminkan kebenaran atau jauh dari makna hakiki karena terlalu berlebihan, mungkin dapat membuat orang-orang terpesona namun itu hanya sementara. Bukan menjadikannya tertanam abadi di dalam kalbu, justru mengganggu kredibilitas/kepercayaan dari orang lain. Sedangkan perbuatan yang terus-menerus dilakukan, tidak mungkin sebuah kepalsuan. Dia akan terus mengalir di alurnya. Seseorang yang selalu jujur, setia sepanjang waktu, tidak pernah bermain-main dengan kesucian, dan terus menerus menginspirasi kejujuran akan sangat meyakinkan bagi orang-orang sekitarnya. Dari sudut pandang ini kita dapat berkata bahwa di dalam Islam, teladan perbuatan lebih utama daripada perkataan.

Salah satu tugas kenabian dari Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam, yang sangat kita cintai bagaikan raja bagi kita, adalah menyampaikan wahyu yang beliau terima dari Allah. Oleh karena itu, jika wahyu tidak disampaikan melalui sosok yang dirahmati seperti beliau, mukjizat wahyu Ilahi tidak akan terasa hingga masa ini dan kalbu tidak akan menerimanya. Untuk alasan inilah, Al-Qur’an yang kita taruh di rak dinding rumah-rumah kita yang dibalut dengan sampul beludru yang indah, telah dan akan selalu diwakilkan oleh orang-orang yang pantas mewakilinya. Dalam hal ini, kedalaman tingkat keteladanan Rasulullah memiliki hak tertinggi untuk menyampaikan wahyu Ilahi. Beliau diangkat ke langit saat Mi’raj, tidak hanya karena beliau telah menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga karena beliau telah memberikan contoh teladan melalui akhlak dan kepribadiannya.

Kerendahan Hati dan Berusaha Tidak Membuat Iri

Rasululullah bersabda, “Tuannya dari orang-orang adalah dia yang melayani mereka.” Salahuddin Ayyubi, seorang pahlawan Islam yang merupakan teladan dari sikap ini, adalah penguasa pertama yang diberi gelar “Pelayan Dua Tempat Suci”, yaitu Makkah dan Madinah. Beberapa abad kemudian, Sultan Selim I, yang juga memiliki semangat yang sama merasa kurang nyaman mendapat gelar “Penguasa Dua Tempat Suci”, lalu segera mengubahnya menjadi “Pelayan Dua Tempat Suci” seraya berlutut dari singgasananya, sebagai tanda hormat. Mereka yang menjadi pewarisnya pun menggunakan sebutan “Pelayan Dua Tempat Suci.” Dalam hal ini, tanpa melihat status sosialnya, para jiwa yang semangat mengabdi harus menyadari bahwa sebuah kehormatan terbesar adalah dengan melayani orang lain. Bahkan mereka akan mengatakan, “Dibutuhkan seseorang untuk membawakan minuman dan melayani mereka yang sedang duduk bersama untuk berbagi pemikiran, cita-cita, dan ide,” dan selalu menjadi yang terdepan dalam melayani orang lain.

Selain itu, keberhasilan seseorang pada bidang tertentu dapat menimbulkan rasa iri hati pada orang lain. Beberapa orang dengan karakter yang lemah dapat menjadi sangat cemburu, terbawa perasaan persaingan. Pada masalah ini, perlu melihat prinsip-prinsip mulia yang diajarkan agama Islam dalam mendisiplinkan nafsu. Bediuzzaman Said Nursi, yang membuat pedoman di bawah cahaya prinsip-prinsip tersebut, menyatakan bahwa murid sejati Al-Qur’an tidak boleh menyebabkan rasa iri pada para pengikutnya. Secara umum, perasaan iri yang manusiawi masih bisa diterima dalam Islam. Tetapi mengingat faktanya, perasaan iri adalah tetangga dekat dari hasad (rasa iri yang menimbulkan kemarahan), seseorang yang memendam perasaan iri, suatu saat dapat melampaui batas tanpa disadari. Atas alasan inilah Bediuzzaman menyatakan untuk tidak berbuat yang menimbulkan perasaan iri hati kepada orang lain sebagai sebuah tanggung jawab sebagai murid Al-Qur’an. Cara untuk mewujudkan ini, seseorang harus menghargai setiap manusia yang mengabdi atas nama Allah dan lebih mengutamakan orang banyak daripada dirinya sendiri. Selain itu, setiap manusia memiliki titik lemah yang berbeda-beda, misalnya berkeinginan untuk mendapatkan tepuk tangan, meraih penghargaan, dan mendapat kenaikan pangkat.  Oleh karena itu, diperlukan seseorang dalam bidang tertentu untuk menyiapkan lahan dalam berkarya dalam lingkup yang luas, membiarkan berbagai individu untuk melayani dengan tepat dalam bidang yang beragam, dan juga merasa puas atas hasil jerih payahnya. Selain itu, perlu untuk menjaga orang lain agar tetap dalam keimanan dan moralitas, menjaga ikatan yang kuat kepada Rabb nya, dan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah.

Bahaya ketika Berada di Derajat Tinggi

Hal lain yang harus kita perhatikan adalah berada dalam jalan yang lurus dengan teguh. Allah yang Maha Kuasa mungkin sedang membawa kita ke jalanNya; namun mencari jalan yang lurus saja tidaklah cukup; yang paling utama adalah untuk berjalan lurus hingga garis akhir dengan pandangan waspada. Berdasarkan sabda Rasulullah, “Setiap manusia dapat terjatuh dalam kebinasaan, kecuali yang berilmu. Orang yang berilmu juga dapat terjatuh dalam  kebinasaan, kecuali mereka yang mengamalkan berdasarkan pengetahuan mereka. Mereka yang mengamalkan pengetahuan juga dapat terjatuh dalam kebinasaan, kecuali bagi mereka yang ikhlas. Mereka yang ikhlas juga menghadapi bahaya yang besar.”[1] Mungkin bahaya besar ini bisa disebut “bahaya ketika berada di derajat tinggi.” Dalam hal ini, tidak peduli seberapa tinggi Allah menaikkan derajat, kita harus selalu merasa takut bahwa kita dapat terjatuh kapan saja. Allah telah membimbing beberapa kaum pada jalan yang benar, tetapi saat mereka tidak fokus kepada titik di tengah “lingkaran”, mereka tersesat hingga garis luar dan sulit untuk kembali. Karenanya sebuah kaum menjadi tersesat dan menyimpang, dan ada juga kaum yang mendapat azab dan menerima murka Allah. Dengan demikian, meskipun mencari jalan yang lurus adalah tugas yang sulit dan sangat diutamakan, berada di jalan yang lurus terus-menerus tentu lebih sulit. Sama ketika menghadapi kesulitan saat mendaki tebing, mempertahankan diri di puncak jauh lebih sulit. Atas dasar itulah Bediuzzaman mengingatkan kembali bahwa seseorang yang terjatuh dari ketinggian dari keikhlasan akan menghadapi bahaya jatuh ke lubang yang dalam.

Memberikan Tugas Sesuai dengan Keahlian

Ada sebuah hal penting lain yang harus diperhatikan oleh jiwa-jiwa pengabdi agar bisa berbakti dengan tepat dalam jangka waktu yang lama yaitu mengenali apa saja sumber daya manusia yang tersedia dan menempatkan dengan benar, dan tidak bertentangan dengan bakat alami. Allah yang Maha Kuasa menciptakan manusia dengan bakat yang beragam dan memberkahi manusia dengan berbagai keahlian. Ada beberapa orang yang kurang efektif dalam menyampaikan pesan secara langsung kepada khalayak karena kemampuan sosialisasinya yang kurang. Misalnya, ada beberapa orang yang sanggup menyuarakan kebenaran ketika menggoreskan pena pada kertas, yang dapat membujuk orang lain, mengobarkan kembali semangat di dada. Saat mereka diminta untuk menyampaikan khutbah, bisa jadi mereka kehilangan kepercayaan diri yang biasanya mereka dapatkan dengan adanya buku-buku disampingnya pada saat di atas mimbar, karena Allah mungkin tidak memberikan keahlian berbicara yang sama baiknya dengan keahlian menulisnya. Tetapi orang tersebut bisa sangat berhasil dalam menyampaikan kebenaran yang diyakininya dengan buku-buku, artikel, dan tulisan-tulisan karyanya. Jadi seorang pimpinan yang memiliki wewenang untuk membimbing dan mengelola bawahan harus menyadari fakta ini dan memberikan pekerjaan pada setiap orang dengan tugas yang sesuai keahliannya. Seperti kisah yang banyak diketahui ini, ada permintaan yang ditujukan kepada Khalid ibn al-Walid, Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam pun mengirimnya ke Yaman sebagai pengajar ilmu agama. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Abu Musa al-Ash’ari, hari dan bulan berlalu tetapi tidak ada kabar mengenai perkembangannya. Dan sebenarnya, Khalid ibn al-Walid bukanlah pembicara yang baik. Allah yang Maha Kuasa tidak memberkahinya dengan keahlian untuk menjadi seorang yang terpilih menjadi pembimbing melainkan menjadi seorang komandan prajurit. Ya, Allah telah memberkahinya dengan keunggulan di bidang lain. Kebijaksanaan Allah melampaui akal kita. Seandainya Khalid ibn al-Walid menjadi rajanya sastra yang jumlahnya sangat jarang sepanjang sejarah – sama seperti para sahabat lainnya – lalu siapa yang akan memimpin pasukan melawan kekuatan besar musuh kala itu? Setelah tinggal beberapa lama di Yaman, beliau kembali ke Madinah, lalu Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam mengirimkan Ali ibn Abi Talib ke Yaman sebagai gantinya. Sosok Ali ibn Abi Talib, adalah pengkhutbah dan orator yang bagus, kata-katanya sangat menyentuh jiwa, suaranya menjangkau semua usia, dan Allah telah memberkahi beliau dengan keahlian khusus di bidang ini, maka jumlah penduduk yang menyatakan keimanan pun tumbuh pesat. Beliau sosok mulia yang sangat mengenal dengan baik bagaimana menjangkau ke dalam jiwa-jiwa orang ketika sedang berbicara dan mengetahui apa yang harus disampaikan. Dengan demikian, apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin adalah mampu membedakan bakat dan keahlian dan menempatkan setiap orang pada posisi yang tepat sehingga dapat bekerja dengan efisien. Seperti memberikan beban tugas seekor gajah kepada seekor semut justru akan menginjaknya, sebaliknya mempekerjakan seekor gajah yang mampu mengangkut batang pohon dengan sebuah beban yang sanggup dipikul oleh seekor semut adalah mubazir. Sangat penting untuk menilai keahlian dan karakter setiap individu, dan tidak pernah lupa bahwa semua itu bergantung pada kekuasaan Allah. Misalnya, saya mengenal beberapa orang yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik, dia yang mengalami kesulitan saat berbicara meskipun hanya beberapa kalimat, tetapi sanggup melunakkan hati orang-orang setelah berbicara beberapa patah kata. Kalian tidak bisa menjelaskan hal tersebut ketika hanya melihat penampilan fisik seseorang, kualitas, kapasitas, batas pemikiran, dan kemampuan berekspresi, selama hati ada di tangan Allah. Dialah yang memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki. Untuk itu, demi Allah para relawan tidak bisa menganggap remeh segala tanggung jawab yang mereka emban. Mereka harus berusaha menunaikan tanggung jawabnya, meski sekedar membuatkan secangkir teh, makanan, atau melakukan kunjungan. Singkat kata, kita perlu memanfaatkan segala kesempatan yang ada untuk memenangkan hati orang lain.

Keseimbangan antara Cita-cita dan Realita

Agar dapat membedakan antara cita-cita dan realita, sangat perlu untuk menjaga standar yang tinggi dan mengejar tujuan yang luhur – maka mereka yang berhijrah demi mewujudkan cita-citanya harus benar-benar mengejar cita-cita yang tinggi yaitu mengubah wajah dunia. Jika seseorang menyimpan impian yang tinggi dengan penuh semangat, bahkan jika mereka tidak berhasil meraihnya dengan usaha sendiri, Allah yang Maha Kuasa akan mengganjar niat dan memberikan pahala sesuai apa yang di dalam hati mereka. Setiap orang akan diganjar pahala atas niat baiknya meskipun dia tidak berhasil dalam meraih tujuan. Atas hal ini, setiap orang harus selalu memiliki cita-cita yang tinggi dan menjaga harapan besar mereka. Bersamaan dengan ini, cita-cita harus disadari juga dengan mempertimbangkan waktu, tempat, kemungkinan, dan faktor manusia. Rencana yang baik harus dipertimbangkan sesuai kondisi riil sehingga langkah yang kita ambil tidak akan salah dan mengalami kegagalan. Kadang-kadang, banyak orang pergi untuk mengubah warna dunia, tetapi sebenarnya mereka hanya berfantasi tentang sebuah utopia semacam “Negeri Saleh” karya Al Farabi atau “The City of The Sun” karya Campanella. Pada dunia hasil imajinasi mereka, masyarakat saling berpelukan di manapun mereka berjumpa. Kawanan singa dan serigala datang menawarkan bantuan pada domba-domba. Pasar menjadi tempat yang sangat sempurna dimana sebagian besar pedagang adalah malaikat. Di dunia tersebut, tidak ada satupun yang bertindak asusila dan melakukan korupsi. Anak-anak memasuki proses pertumbuhan dan pendewasaan dengan baik tanpa ada masalah pendidikan dan pendisiplinan yang serius, lalu mereka seperti menjadi sosok malaikat ketika berusia lima belas tahun. Meskipun sangat mudah memiliki hal-hal tersebut dalam pikiran dan imajinasi, kenyataannya sangatlah berbeda. Kita harus memperhatikan perangai manusia dan hubungan interpersonal. Kehidupan di suatu tempat yang bukan di lingkungan Rasulullah tinggal, sebuah pasar tidak pernah menjadi tempat yang penuh kebaikan, serigala dan domba tidak pernah berdamai, dan singa tidak pernah meninggalkan daging untuk menjadi vegetarian. Menurut saya, melihat apa yang realita yang terjadi, kita tidak bisa acuh dalam mempertimbangkan apakah mencari kebenaran bisa terwujud atau tidak. Bahkan jika kita mengharapkan teman seperjuangan kita memikul beban kebajikan untuk mengubah warna dunia, kita akan mengalami kekecewaan karena membangun cita-cita kita dengan sebuah mimpi kosong dan larut dalam mengejar kesia-siaan, yang juga akan menghancurkan harapan mereka yang menaruh harapan kepada kita. Agar tidak memikul beban dosa itu, sekali lagi sangat perlu untuk menilai potensi dan bakat setiap orang, mendistribusikan tugas dengan tepat, dan menyadari cita-cita mulia kita dengan mempertimbangkan waktu, tempat, dan ketersediaan sumber daya manusia.

[1]Lihat Kasyf al-Khafa (2796)

tj-k-349056-unsplash

MASA DEPAN DAN KEWAJIBAN KITA

Masa Depan dan Kewajiban Kita

 

Tanya: “Di antara perubahan di masa depan, suara yang paling tinggi dan paling lantang akan berupa suara Islam”. Usaha apa yang harus kita kerjakan agar pernyataan ini dapat terwujud?

Jawab: Sebelum hal lainnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar umat Nabi Muhammad tidak menanti lebih lama lagi dan semoga nikmat ini segera dianugerahkan-Nya kepada kita. Terkait permasalahan ini, di satu sisi merupakan tugas bagi seorang hamba, di sisi lainnya merupakan keharusan dari perwujudan sifat Rububiyah Allah SWT. Kita akan berusaha menjawab pertanyaan ini dari sisi kedua.

Pertama-tama, di antara perubahan di masa depan, suara yang paling tinggi dan paling lantang akan berupa suara Islam merupakan kabar yang disampaikan Allah SWT di dalam al Quran. Dalam sebuah ayat yang mulia, Allah SWT berfirman bahwasanya nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada Nabi Daud dan Sulaiman juga akan dianugerahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Allah  berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai (QS An Nur 24:55).

Ini adalah aturan Ilahi. Demikianlah, terkait permasalahan tersebut, ketika hal-hal yang diinginkan Allah dapat kita penuhi, suara teragung dan terlantang yang akan terdengar dalam perubahan-perubahan masa depan akan berupa suara Islam. Ayat mulia lain yang menguatkan makna tersebut di antaranya adalah:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِـُٔوا۟ نُورَ اللَّهِ بِأَفْوٰهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُونَ

”Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai (QS at Taubah 9:32).

Tanpa bersandar pada asas yang kokoh, dengan slogan kosong yang hanya bergulir di lidah, mereka berusaha memadamkan Islam ad dinul mubin (Islam, agama yang jelas). Allah sama sekali tidak mengizinkan hal itu untuk terjadi. Walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya, kehendak Allah adalah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun mereka ingin memadamkannya dengan segenap daya, upaya, gagasan, dan ungkapan.

Allah SWT, mengirimkan Sang Habibi SAW dengan hidayah-Nya yang murni, dengan asas-asas yang akan mengeluarkan umat manusia menuju cahaya, dengan agama yang benar dan sangat cocok dengan fitrah manusia, serta dengan prinsip-prinsip yang cocok dengan agama, tabiat, dan syariat fitriah. Allah mengirim dan di waktu yang sama menjaganya. Allah pun melanjutkan penjagaan-Nya. Sebagaimana bintang-bintang lenyap setelah terbitnya matahari, ketika pemiliknya telah merentangkan sayap agungnya, agama ini dengan maknanya yang hakiki akan mengalahkan segala macam ideologi. Dengan istilah lain, saat Allah mengecambahkan benih di suatu tempat, saat Allah menyiapkan telur-telur untuk dierami dan kemudian menetaskan anak-anak ayam, Allah akan menjaga mereka dari kekuatan-kekuatan jahat. Penjelasan lain dalam makna yang sama terdapat pada ayat mulia lainnya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya” (QS Ash Shaf 61:9)”.

Suatu hari Baginda Nabi SAW bersabda, ”Seandainya aku bisa menyaksikan saudara-saudaraku!”. Para sahabat dengan sedikit heran bertanya kepada Baginda Nabi, ”Ya Rasulullah, bukankah kami adalah saudara-saudaramu?”. Baginda Nabi menjawab, ”Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku belum datang, mereka akan datang setelahku…”[1]. Dari sini dapat dipahami bahwasanya Allah SWT  akan menganugerahkan kemuliaan-kemuliaan yang setara baik kepada umat terdahulu maupun untuk umat yang akan datang kemudian.

Di hadits lainnya, Baginda Nabi bersabda, “Jihad dimulai denganku dan akan berlanjut hingga datang hari pertempuran umat terakhirku dengan Dajjal.”[2] Dari hadits ini dapat dipahami bahwa umat terakhir yang memanggul kewajibannya kepada Allah di pundaknya akan menjunjung tinggi agama ini. Mereka akan melawan orang-orang yang mengingkari keilahiatan Allah, orang-orang yang mengaku sebagai nabi, orang-orang yang menentang kenabian, baik dari kalangan orang-orang lugu maupun dari kalangan mereka yang telah keluar dari agama. Dengan demikian, representasi agama ini sekali lagi akan berlanjut dengan kecemerlangannya. Ya, Baginda Nabi lewat haditsnya membahas tentang adanya kumpulan orang yang akan terus mendukung agama ini hingga datangnya hari kiamat. Tidak bisa dibayangkan jika orang-orang yang demikian tidak ada. Komunitas itu mungkin di suatu periode waktu tertentu melemah, tetapi seiring berjalannya waktu kekuatan mereka akan kembali terpulihkan. Mereka akan memikul agama ini hingga sangkakala kiamat dibunyikan.

Jika kita melihat semua sisi tersebut, di tengah-tengah terjadinya pergolakan masa depan, akan nampak bahwa suara Islam akan menjadi suara yang teragung dan terlantang, keadaan yang ada saat ini pun seakan membenarkan dan mengonfirmasinya. Kita telah menjadi saksi terurai dan mundurnya dunia Islam di abad ke-18 hingga abad 19.  Angin topan nilai-nilai asing betul-betul bertiup kencang dan orang-orang kita selangkah demi selangkah menjauhi nilai-nilai mulianya sendiri. Ada banyak intelektual yang menganggap tindakan menjauhi agama sebagai kemuliaan dan kebajikan. Sedangkan sisanya, yaitu mereka yang terpengaruh oleh intelektual-intelektual itu sayangnya kemudian terperangkap oleh perasaan rendah diri dan lebih memilih untuk mengikuti langkah para intelektual tersebut. Akan tetapi, di seperempat akhir abad ke-20, kita melihat kecemerlangan dari sebagian kilatan cahaya menuju arah kita. Orang-orang beriman sekali lagi bersatu dan bangkit untuk melawan ateisme dan keingkaran terhadap keilahiatan Allah. Kaum muslimin yang ada di masa ini bukan lagi sosok seperti kaum muslimin di abad 18-19. Kaum muslimin di masa ini, walaupun  sendirian, mereka memiliki iradat, merasa kuat, dan memiliki harapan untuk memanggul tugas dakwahnya Baginda Nabi SAW.

Penjelasan saya adalah salah satu sisi dari permasalahan yang sedang kita bahas. Sisi lainnya adalah sebagai berikut: Kita memiliki kewajiban untuk menghidupkan Islam yang menjadi garansi kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Inilah yang disyaratkan oleh keikhlasan kepada kita. Kewajiban kita adalah menunaikan tugas, sedangkan untuk hasilnya kita tidak memiliki ruang untuk ikut campur. Kita tidak bisa mengetahui apa saja yang terjadi dan diperdebatkan di alam malaikat. Baginda Nabi bersabda, ”Saya bangun pada suatu malam dan salat semampu saya, kemudian saya mengantuk dan merasa berat. Tiba-tiba Rabb-ku muncul dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan berfirman: Wahai Muhammad, tahukah kamu tentang apa para malaikat itu berdebat? Aku menjawab: Tidak, Ya Rabb.  Kemudian tangannya diletakkan di antara dua bahuku, aku merasakan kesejukan di antara dua belikat atau di dadaku. Peristiwa itu terjadi di antara waktu magrib dan isya. Setelahnya, aku jadi mengetahui segala macam hal. Kemudian datang suara: ”Wahai Muhammad!” Aku jawab: ”Aku dengar dan aku taat, wahai Tuhanku”. Dia melanjutkan firman-Nya: ”Saat ini apakah kamu tahu hal apa saja yang diperdebatkan di alam malaikat?” Aku menjawabnya: ”Derajat dan kafarat, berjalanlah menuju jamaah dan masjid, mengambil wudu dengan sempurna walaupun kondisinya amat sulit, dan tentang menantikan salat dengan penuh semangat setelah menunaikan satu waktu salat.” Barangsiapa yang mengerjakannya, ia akan hidup dalam kebaikan, mati di dalam kebaikan, dia akan disucikan dan dibersihkan dari beragam kesalahan dan dosa, seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.”[3]

Seorang manusia akan menunjukkan gairahnya untuk mati di jalan Allah dan dalam semangat tersebut ajal akan menemuinya sehingga ia pun bisa bertemu dengan Tuhannya. Mereka yang melewati kuburnya tidak akan lewat tanpa mengirimkan pahala surat Al-Fatihah untuknya. Balasan dari derajat yang diraihnya tersebut akan diberikan di akhirat. Sedangkan orang lainnya mungkin tidak bisa selamat sepenuhnya dari dosa-dosa. Akan tetapi, sedari awal ia bagaikan bara dari api unggun, ia memeluk erat agamanya, ia mungkin akan kehilangan pangkat dan jabatannya, perniagannya mungkin akan merugi, beberapa di antaranya mungkin akan menerima perlakuan buruk. Walaupun demikian, ia tetap memegang erat agamanya dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Ia tidak sekali-kali berkenan untuk melepaskan agamanya begitu saja. Terkait mereka, pembahasannya juga akan dilakukan oleh Allah dan para malaikatnya. Baik kita ketahui ataupun tidak, itulah yang akan terjadi. Kewajiban kita adalah berusaha dan berikhtiar sebaik-baiknya. Itulah tugas kita satu-satunya.

 

Diterjemahkan dari artikel berjudul “Istikbal ve Bize Dusen” di buku Bahar Nesidesi, hlm. 161-165

[1] HR Muslim, bab taharah, 39; HR Nasai, bab taharah, 113

[2] HR Abu Daud, Jihad 35

[3] HR Tirmizi, bab tafsirul quran, surat Shad

david-monje-671441-unsplash

Getaran Jiwa dan Akal Sehat

Getaran Jiwa dan Akal Sehat

Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan salabatud diniyah dan bagaimana ia harusnya dipraktikkan?

Jawab: Tidaklah tepat jika kosakata salabatud diniyah dimaknai sebagai fanatik buta, keras kepada yang berbeda pendapat dengannya, serta merasa dirinya paling benar dengan menyalahkan pendapat lain yang berbeda dengan pendapat yang diyakininya. Kita menggunakan kosakata kefanatikan lebih kepada keras kepala, berpikiran tertutup, membela pendapat pribadinya dengan membabi buta, tanpa adanya dalil dan sumber yang mendasarinya. Kata kefanatikan juga dapat dimaknai sebagai tidak toleran dan menghargai, serta menolak pendapat lain tanpa ampun. Dari penjelasan ini, maka istilah salabatud diniyah tidak bermakna fanatik buta dan berpikiran tertutup, melainkan bermakna memegang erat prinsip agama dengan teguh dan konsisten. Perihal tersebut digambarkan surat ِAl Baqarah sebagai berikut :

لَٓا اِكْرَاهَ فِي الدّ۪ينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰىۗ لَا انْفِصَامَ لَهَاۜ وَاللّٰهُ سَم۪يعٌ عَل۪يمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS  Al Baqarah 2: 256)

Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu alayhi wasallam lewat hadis mulianya menyampaikan amanatnya kepada kita,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتيِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بالنَّوَاجِذِ

Artinya: “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham.”[1]

“Gigitlah dengan geraham” yang terdapat dalam hadis tersebut adalah sebuah gaya bahasa atau idiom yang digunakan dalam Bahasa Arab. Oleh karena itu, ketika berusaha untuk memahaminya, ia harus dipahami sebagai orang Arab memahaminya.

Idiom “Gigitlah dengan geraham” dapat dipahami sebagai: “Pegang eratlah prinsip–prinsip agamamu, seperti kamu memegang erat sesuatu dengan alat catut”.Jadi, dari teks hadis tersebut dapat dipahami bahwasanya yang dimaksud dengan salabatud diniyyah adalah: memegang teguh perintah–perintah agama, loyal dan setia kepadanya; konsisten dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti iman, akhlak, dan kehormatan diri; serta menjaga diri dari kelalaian dan keteledoran. Sedangkan berpikiran tertutup serta fanatisme buta dalam beragama, memaksa orang lain untuk menerima pendapat dan keyakinannya, sebagaimana kami sampaikan di awal, ia  bukanlah salabatud diniyah, melainkan fanatik buta belaka.

Jangan Jadi Sebab Seseorang Membenci Agamamu ketika Dirimu Berusaha Mengabdi kepada Agama

Jika seseorang  merasa bahwa memaksakan pendapat, bersikeras dengan pandangan pribadinya, dan berlaku kasar kepada mereka yang berbeda pendapat dengannya adalah bagian dari salabatud diniyyah;  dan jika dengan pemahaman tersebut ia berpikir bahwa ia telah berkhidmat kepada agamanya, sungguh ia sedang berada dalam kekhilafan yang nyata. Laku tersebut dapat memancing reaksi  negatif. Bukannya simpati dan diterima dengan hangat, lakunya tersebut justru akan membuat lawan bicaranya benci dan semakin menjauhkan diri dari agama.  Oleh sebab itu, jika Anda tidak menjelaskan kedalaman ruh serta esensi pokok dalam agama; Jika Anda tidak menyampaikan makna dan intisari serta kebaikan dan keindahan seperti apa yang bisa umat manusia capai dengan agama; Jika Anda tidak mampu membangkitkan rasa ketertarikan pada agama dalam hati mereka; maka Anda akan mendapati respon yang mungkin tidak Anda bayangkan sebelumya. Ketika Anda bermaksud mengabdi kepada agama, tanpa disadari, Anda sedang membuat orang–orang di sekitar Anda menjauhi agama. Ya, segala sesuatu yang dikerjakan dengan pikiran tertutup dan pemaksaan kehendak lebih besar kerugiannya daripada keuntungannya.

Ya, semua orang tahu bagaimana hasil akhir dari pelaksanaan beragam “isme” yang berusaha dikukuhkan lewat kekuatan dan kekuasaan di abad ke-20. Seperti Anda ketahui, ada satu negara di mana 40-50 juta orang dibunuh demi dipraktikkannya “isme” ini. Seakan sistem tersebut dibangun di atas tengkorak – tengkorak rakyatnya. Apa yang disisakan dari kezaliman, penindasan, dan kekerasan tersebut hanyalah kebencian dan dendam. Ya, walaupun sistem tersebut berusaha ditegakkan lewat kekerasan, kebengisan, dan penindasan, 50-60 tahun kemudian sistem tersebut akhirnya runtuh. Setelah sistem runtuh, orang – orang yang ditekan itu kemudian kembali ke keyakinan lamanya.  

Kriteria Hakiki Loyalitas kepada Agama

Jika demikian, seorang mukmin pemilik salabatud diniyah tidak boleh melakukan kesalahan semisal hanya menggunakan perasaannya saja, tanpa diimbangi pertimbangan lain seperti akal dan logika, lalu menyampaikan pesannya dengan teriakan–teriakan.  Metode seperti ini hanya akan memicu kebencian dari lawan bicara serta menambah resistensinya kepada agama. Kebencian dan resistensinya tersebut perlahan menumpuk di dalam dirinya, bahkan bisa berubah menjadi permusuhan dan agresi. Agar jalan bagi reaksi-reaksi negatif serta komplikasinya tidak terbuka, maka kita harus mengambil asas gerakan positif, memegang teguh nilai-nilai suci agama kita, berkonsentrasi padanya, memposisikan diri sebagai petugas pengundang agar lawan bicaranya berkenan melirik nilai–nilai mulia agamanya, dan di waktu yang sama, ia harus berupaya untuk menampilkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk yang paling indah dengan bahasa sikap dan kalbu. Pada masa dimana ilmu pengetahuan, mantik, dan logika berada di garda terdepan serta pada zaman dimana penaklukan peradaban diwujudkan dengan jalan persuasif, seorang manusia yang religius serta memiliki salabatud diniyyah harus mengetahui dengan baik nilai–nilai suci dalam agamanya. Ia harus mempelajarinya dengan baik serta mempraktikkan dalam kehidupan sehari–hari sampai nilai–nilai tersebut menjadi sifat tabiatnya. Jika usaha ini mengharuskan seseorang untuk membaca seratus judul buku, maka seseorang yang ingin berkhidmat kepada agamanya harus mendedikasikan 2–3 tahun dari umur kehidupannya untuk mempelajari serta memahami isi dari buku–buku tersebut. Jika diperlukan, buat ringkasannya, lakukan analisis atasnya, dan praktikkan hasil temuan Anda dari buku–buku tersebut. Selain itu, jangan lupa dimensi maknawiyahnya. Dengan keteguhan serta konsistensi tinggi, dirikanlah salat tahajud dan hajat selama empat puluh tahun. Panjatkanlah doa dalam sujud–sujudnya: “Ya Allah, hanya kepada-Mulah aku berserah diri! Kumohon lembutkanlah hati orang-orang ini untuk beriman!”

Jika untuk mempelajari nilai–nilai suci dan meresapinya sebagai sifat tabiat membutuhkan usaha yang demikian keras, maka sesuai dengan kriteria itulah Anda harus membaca dan mendedikasikan diri. Di waktu yang sama, gentingnya persoalan ini tidak hanya membutuhkan usaha perseorangan. Jadi ia tidak cukup disiapkan dengan usaha membaca perseorangan saja. Anda harus mengundang teman–teman Anda untuk bermusyawarah dan berdiskusi dengannya terkait persoalan ini, serta mengevaluasinya bersama–sama. Anda akan terjun ke lapangan dakwah berbekal motivasi dan kekuatan maknawi yang dihasilkan lewat diskusi bersama dan proses tukar pikiran tersebut. Tidak cukup sampai di situ, Anda juga harus memelihara hubungan Anda dengan Sang Pencipta serta senantiasa berusaha menjadi hamba-Nya yang baik demi diraihnya inayat Ilahi. Dengannya, Allah Subhanahu wa ta’ala  akan mendukung usaha–usaha yang tulus serta akan memberi pengaruh pada tutur kata Anda, sehingga setiap kata yang keluar akan meniupkan semangat kebangkitan serta membangunkan motivasi diri di hati para pendengarnya. Seperti yang dapat dilihat, persoalan yang ada tidak diselesaikan dengan emosi–perasaan– belaka. Ia harus diselesaikan dengan mantik logika serta pemikiran yang mendalam. Bukankah ini jalannya Nabi Muhammad SAW? Beliau dalam kurun waktu 23 tahun menyajikan  pesan-pesannya dalam bentuk yang dapat diterima oleh lawan bicaranya. Beliau senantiasa bergerak dengan akal dan logika dari Al Quran. Beliau menyampaikan wahyu Ilahi ke setiap hati pendengarnya tanpa perlu membangkitkan reaksi negatif dari orang–orang yang menerima pesannya.

Khususnya di zaman ini, tanpa mengikuti kaidah mantik dan logika, tanpa kerangka dari kitabullah, kita tidak bisa menjelaskan sesuatu ataupun menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan menggunakan kekerasan, kekuasaan, dan perilaku kasar. Ya, jika Anda bertekad untuk melakukan pengabdian kepada agama dan bangsa walau ia harus mengorbankan kehidupan Anda, maka Anda harus dilengkapi dengan pemikiran dan spiritualitas yang luhur. Anda harus memiliki hubungan yang kuat dengan Allah  Subhanahu wa ta’ala, keprihatinan, dan kepedulian yang tinggi atas segala permasalahan umat. Perkara representasi Islam yang semakin langka di permukaan bumi telah menjadikannya sebagai masalah bagi seluruh umat Islam. Hal yang demikian tentunya tidak bisa ditangani secara individu. Seringkali laku individu berujung pada kesalahan fatal yang aibnya harus ditanggung oleh seluruh umat Islam di seantero dunia. Misalnya, seseorang menduga bom bunuh diri adalah jalan untuk membela Islam. Sayangnya apa yang diperbuatnya itu telah mencoreng wajah Islam. Hal tersebut membuat masyarakat Islam di berbagai penjuru dunia pun akhirnya kesulitan untuk menjelaskan keagungan dan keluhuran agama Islam yang sebenarnya. Apa yang mereka lakukan telah membuat masyarakat dunia berpersepsi negatif kepada kaum muslimin lainnya: “Pelaku bom bunuh diri itu mengaku sebagai muslim. Gaya pakaiannya pun menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslim.” Agama yang merupakan representasi dari kebenaran, keadilan, dan rahmat pun mendapatkan stigma negatif dari masyarakat dunia. Kesalahan yang akibatnya harus ditanggung oleh semua umat muslim ini bersumber dari tidak dipahaminya semangat agama, tidak dianalisisnya definisi dari siratalmustakim, ditinggalkannya mantik dan logika Al Quran serta didahulukannya emosi dan perasaan. 

Dinamisme Emosi Jiwa yang Diperbaiki dengan Akal dan Logika

Dari apa yang saya katakan ini, janganlah dipahami bahwasanya saya sedang mendorong Anda untuk meminggirkan emosi dan perasaan. Perasaan tentu saja merupakan sebuah faktor yang sangat penting untuk menjelaskan dan membela agama Islam. Seorang manusia, harus sangat bersemangat ketika menjelaskan nilai–nilai yang diyakininya kepada orang lain. Jika terdapat musibah yang akan menimpa agamanya, ia harus gemetar seakan dirinya yang akan menemui ajal. Namun di waktu yang sama, ia harus senantiasa menjaga keseimbangan motivasinya dengan akal dan logika. Ia juga harus mengetahui bagaimana cara terbaik untuk menyalurkan motivasinya tersebut dengan benar.

Izinkan saya menjelaskannya dengan sebuah contoh: Bayangkan terdapat sebuah pemukiman di tepi puncak gunung yang tinggi. Di musim dingin, salju lebat menutupi puncak gunung tersebut. Saat musim semi datang, salju yang mencair menciptakan potensi banjir dahsyat yang dapat menyapu bersih seluruh pemukiman. Secara logika, hal yang harus dikerjakan dengan segera adalah membuat bendungan. Bendungan tersebut nantinya menampung salju yang mencair. Setelah itu, saluran irigasi juga harus dibangun untuk mengalirkan air di bendungan ke wilayah–wilayah yang membutuhkannya. Seperti halnya masyarakat di pemukiman tersebut yang sangat bergairah membangun bendungan demi menyelamatkan pemukimannya dari banjir, seorang mukmin juga harus memiliki gairah yang sama untuk menyelamatkan agamanya. Jika ada sesuatu yang mengancam agamanya, ia harus diselimuti rasa khawatir yang amat sangat. Rasa kantuknya akan segera hilang. Ia akan segera bangkit dari ranjangnya dan jalan mondar–mandir di koridor seperti orang gila. Ia tidak akan melakukan laku sia–sia seperti berteriak tanpa gerak. Demikianlah, ia akan berusaha melakukan hal yang harusnya dilakukan, yakni solusi logis dan masuk akal, untuk mengatasi masalah tersebut. Ia akan mengubah gairahnya yang membara menjadi aksi dan gerakan positif. Akan tetapi, saat melakukannya ia sama sekali tidak diperbolehkan melakukan gerak secara individu, hanya berdasar pada perasaan belaka, serta tanpa pemikiran yang matang.

Meskipun emosi dan semangat merupakan rasa yang layak dipuji, ia tetap harus diletakkan di bawah kendali akal dan logika sehingga manfaatnya dapat dimaksimalkan. Segala peristiwa yang menimpa dunia Islam dewasa ini atau bahkan segala peristiwa yang menimpa kemanusiaan dewasa ini seharusnya sudah cukup membuat kita gemetar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki serta membuat kita sangat bergairah untuk segera memberikan kontribusi. Akan tetapi, jika seseorang bergerak hanya sebatas karena faktor emosional belaka, maka orang–orang di sekitarnya akan terancam terkena dampak turbulensi dari gerakannya. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya justru bisa jadi antipati dan membencinya. Lebih buruk lagi, gerakannya tersebut dapat memancing orang–orang di sekitar untuk memusuhi bahkan menyerangnya. Ya, jika perasaan dan emosi jiwa tidak diselaraskan dengan pertimbangan akal dan logika; jika ia tidak disalurkan melalui kanal yang telah dievaluasi keamanannya oleh akal dan logika; perasaan dan emosi tersebut akan berubah banjir bandang yang siap menyapu bersih apa yang dilewatinya. Bukannya memberi manfaat, ia justru akan mendatangkan mara bahaya yang teramat besar bagi lingkungan sekitarnya.

Dari sini, tidaklah mungkin bagi kita untuk melupakan respon hebat yang ditunjukkan oleh Ustaz Said Nursi. Seperti yang Anda ketahui, beliau adalah sosok manusia yang penuh semangat dan bermotivasi tinggi. Bisa dikatakan pada masa itu sudah tidak tersisa lagi orang dengan semangat dan motivasi yang setara frekuensinya dengan beliau. Di waktu yang sama, juga tidak ada orang yang mampu bergerak seseimbang dirinya. Ya, walaupun seluruh umur kehidupannya dipersembahkan untuk kemajuan bangsanya sehingga harusnya ia layak untuk dimuliakan dan diapresiasi perjuangannya, ia malah menghabiskan sisa umur kehidupannya di penjara, tepatnya saat umur beliau di kisaran 75–80an tahun. Walau perlakuan seperti ini yang diterimanya, beliau tidak pernah bertindak gegabah dan emosional. Sosok agung ini selain tahu kapan harus mengerem dirinya, beliau juga mengetahui bagaimana cara mengerem orang–orang di sekitarnya. Padahal di sekitarnya berjajar sosok–sosok pemberani nan gagah berani yang siap membela dan melindunginya. Ustaz Said Nursi mengetahui dengan baik bahwasanya bergerak secara perseorangan dan reaktif tidak akan menuai hasil yang baik. Sebaliknya, beliau mengarahkan potensi emosi dan semangat ini dengan mantik dan logika Al Quran serta menstimulasinya ke berbagai saluran. Semua perkembangan dan kemajuan pada hari ini di bidang ilmu pengetahuan dan agama tak mungkin dilepaskan dari strategi–strategi yang dikembangkannya di masa itu.

Pada akhirnya dapat kita katakan bahwasanya emosi jiwa dan semangat merupakan dinamika yang sangat penting untuk menyampaikan pesan–pesan agama ke setiap relung jiwa serta melindungi nyalanya agar tak padam. Akan tetapi, dinamika tersebut harus dimodifikasi dengan ilmu pengetahuan, akal salim, mantik, pemikiran yang mendalam, musyawarah untuk mencapai mufakat, serta keputusan kolektif. Lewat modifikasi ia diubah menjadi bentuk yang paling efektif dan efisien sehingga bisa memberikan manfaat maksimal.

[1] Tirmizi Kitab Ilm 16, Abu Dawud Kitab sunnah 5, Ibnu Majah Kitab Mukaddimah 6

MURSYID HAKIKI

MURSYID HAKIKI

Tanya: Apa saja karakteristik mursyid hakiki?

Jawab: Seorang mursyid ketika menunaikan tugasnya,  yaitu memberikan pengarahan kepada mereka yang ingin mendapat bimbingan untuk dapat melakukan perjalanan kalbu dan kehidupan ruh, akan memperhatikan kondisi si murid secara umum. Mursyid sejati adalah orang yang mengetahui cara memberi atau cara membentuk dunia ruh, struktur berpikir, dan dunia pikiran murid yang diterimanya. Dia adalah sosok insan yang mampu memasuki kalbu murid-muridnya, dan bukan orang yang sekedar membagikan jumlah tasbih dan zikir kepada orang-orang yang mendatanginya. Dia adalah figur  agung yang mengetahui bagaimana si murid harus mengembangkan potensi dirinya, entah dengan sejumlah bacaan tasbih, ataukah dengan riyadhah, ataupun dengan berkhalwat. Jika sang mursyid mampu mendeteksi dan mampu memasuki kalbu murid-muridnya, maka ia akan dapat mengarahkan murid-muridnya. Membagi-bagikan sejumlah tasbih kepada setiap murid yang datang kepadanya adalah kemursyidan yang polos. Menepikan diri setelah menerima sejumlah tasbih pun merupakan kepolosan dalam menjadi murid.

Ya, hubungan antara seorang mursyid dan murid bergantung pada pengetahuan yang mumpuni. Seorang mursyid harus mengetahui kondisi kejiwaan muridnya. Ia harus mengarahkan dan menjadi sarana bagi kebangkitan muridnya. Sebenarnya seorang murid yang berkonsultasi kepada seorang guru bagaikan seorang pasien yang menemui seorang dokter. Pertama, sang mursyid akan mendiagnosa penyakit si murid yang datang kepadanya. Obat yang sama tidak bisa diberikan begitu saja kepada setiap murid yang datang tanpa ditemukan penyakitnya terlebih dahulu. Solusi dari setiap penyakit berbeda-beda. Ziya Pasa berkata:

Ketahuilah penyakitnya, baru mulai usaha pengobatannya

Apakah kau kira semua balsem merupakan obat bagi setiap penyakit?

Pertama, penyakit harus diketahui baru kemudian cara pengobatan yang tepat dapat dipraktikkan. Jika penyakitnya adalah kekufuran dan keingkaran, walaupun Anda memberinya jutaan tasbih sekalipun tidak akan memberi manfaat. Pengobatan yang harusnya dilakukan kepada orang yang demikian adalah dengan menghilangkan keraguan dan kebimbangan di dalam dirinya. Izinkan saya memberikan contoh dari Era Kebahagiaan:

Sayyidina Julaibib, salah satu di antara sahabat Baginda Nabi, adalah seorang pemuda yang saat itu masih berada di bawah pengaruh watak manusiawinya. Selang berapa lama kemudian, kekurangannya ini menjadi pembicaraan di antara masyarakat. Untuk itu, Baginda Nabi memanggil Sayyidina Julaibib agar menemuinya. Bagaimana Baginda Nabi memberikan perhatian khusus kepada dirinya saja sudah cukup untuk menyihir dirinya. Baginda Nabi kemudian melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada sosok manusia yang telah tersihir ini:

  • Apakah kamu mau jika hal itu dilakukan kepada ibumu?
  • Biarlah jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Rasul Allah! Jelas aku tidak menginginkannya.
  • Tidak ada satu seorangpun yang mau hal itu dilakukan kepada ibunya. Andai kamu memiliki anak perempuan, maukah kamu jika hal itu dilakukan kepada anak perempuanmu?
  • Biarlah jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Rasul Allah! Jelas aku tidak menginginkannya.
  • Tidak ada satu seorangpun yang mau hal itu dilakukan kepada anak perempuannya. Lalu, maukah kamu jika hal itu dilakukan kepada saudara perempuanmu?
  • Tidak, ya Rasulullah! Aku tidak mau!
  • Maukah kamu jika hal itu dilakukan kepada bibimu?
  • Tidak! Tidak! Aku tidak mau!
  • Demikianlah, tidak ada seorangpun manusia yang mau hal itu terjadi kepada ibu, bibi, dan anak perempuannya

Ya, lewat diskusi ini Baginda Nabi berhasil membujuk akal si pemuda dan memberikan kepadanya pemahaman yang cukup. Kemudian beliau meletakkan tangan mulianya ke atas dada sang pemuda dan mendoakannya:

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya! Bersihkanlah kalbu  dan jagalah kehormatannya!”

Setelah didoakan, Sayyidina Julaibib berubah menjadi seorang teladan dalam  menjaga ifah[1]. Mungkin ia telah menjadi teladan dalam usaha menjaga ifah, tetapi karena orang-orang mengetahui reputasinya sebelum ini, tidak ada seorang pun yang berkenan menikahkan putrinya kepadanya. Baginda Nabi kemudian sekali lagi menjadi obat bagi permasalahan yang dihadapi sahabat yang akalnya telah direformasi ini. Beliau mengirim utusan kepada seorang ayah untuk menyampaikan niat melamar anak gadisnya guna dinikahkan dengan Sayyidina Julaibib (HR Imam Ahmad, al Musnad 4/442).

Selang beberapa waktu kemudian, Sayyidina Julaibib jatuh sebagai syahid di salah satu medan pertempuran. Di akhir pertempuran, Baginda Nabi bertanya kepada orang-orang di sekitarnya:”Apakah ada yang hilang di antara kalian?” Para ashabu kiram menjawab: ”Tidak, Ya Rasulullah. Jumlah kita lengkap.” Baginda Nabi bersabda: ”Tetapi ada yang hilang dari diriku!” dan beliaupun segera menuju tempat dimana Sayyidina Julaibib gugur sebagai syahid. Beliau meletakkan kepala Sayyidina Julaibib di atas paha mulianya dan bersabda: ”Julaibib berasal dariku dan Aku berasal dari Julaibib.” Sayyidina Julaibib pun terbang ke alam lainnya dengan akhir yang terpuji (HR Muslim, Fadhailus Sahabah, 131).

Demikianlah profil seorang mursyid hakiki, ia adalah insan yang mampu membujuk serta meyakinkan akal dan kalbu; Ia juga sosok yang mampu menyingkirkan masalah yang dihadapi muridnya. Pandangan merupakan hal yang penting. Pandangan seorang wali dapat menjadi sarana bagi melembutnya dan berubahnya hati seorang murid. Akan tetapi, membujuk dan meyakinkan akal adalah prioritas. Manusia bukanlah sekedar makhluk yang tersusun atas kalbu dan perasaan saja. Hampir seperlima bagian dari Al Quran berisi ajakan kepada manusia untuk memanfaatkan pandangannya dengan bertafakur dan menyajikan halaman-halaman buku alam semesta kepada setiap mata yang memandangnya.

Ya, pertama-tama, akal, kalbu, dan perasaan harus dibujuk dan diyakinkan. Kita bukanlah makhluk yang muncul dari perasaan, kalbu, atau pun akal belaka. Jika semua latifah (sederhananya dapat disebut sebagai panca indera ruhani) sepenuhnya diserahkan kepada Allah SWT, maka kita akan menjadi seorang mukmin yang tak mudah terguncang atas inayat Ilahi.

Karakteristik yang kita harapkan dimiliki oleh seorang mursyid di antaranya sebagai berikut: Pertama-tama, seorang mursyid harus menguasai ilmu positif yang berkembang di masanya. Dengan pengetahuannya tersebut, ia harus berusaha menjadi obat penawar bagi setiap permasalahan yang dihadapi semua orang. Jika demikian, luka-luka materi dan maknawi yang tadinya dianggap tidak bisa disembuhkan perlahan akan membaik atas taufik dan inayat dari Allah. Di waktu yang sama, seorang mursyid harus mampu menyingkirkan keraguan dan kebimbangan yang bersumber dari falsafah dialektika. Selain itu, memberikan resep wirid sesuai kebutuhan si murid juga merupakan salah satu tugas dari seorang mursyid. Sang mursyid harus memberi si murid wirid yang paling cocok dengan levelnya.

Sebenarnya semua orang dapat membaca beragam wirid, entah ia mengaitkan dirinya dengan seorang mursyid ataupun tidak. Menurut beberapa pendapat, untuk bisa membaca Awradu Qudsiyah dan Awradu Syah Naqsyabandi seseorang harus mengambil izin. Saya sendiri tidak menemukan landasan perlunya izin untuk dapat mempraktikkan suatu wirid, entah itu dari Al Quran, sunnah, ijma ulama, maupun jalannya para salafus salih. Menurut saya, pendapat ini tidak memiliki dasar. Tidak diperlukan izin khusus untuk berdoa kepada Allah SWT. Inilah jalannya Baginda Nabi, para sahabat, dan salafus salih.

Akan tetapi, tidaklah layak bagi seorang mukmin untuk tidak rutin membaca wirid yang telah diniatkannya. Wirid yang telah diniatkannya harus dibaca secara rutin, dimana pembacaan di hari kedua harus lebih baik daripada hari pertama. Baginda Nabi sangat menekankan urgensi dari hal ini. Ummul Mukminin Aisyah ra menyampaikan bahwasanya Baginda Nabi mengganti ibadah ketaatan di hari berikutnya jika di hari sebelumnya beliau berhalangan (HR Muslim, Salatul Musafirin, 297-298). Demikian sensitifnya beliau dalam menjaga ibadah salat sunah rawatib, dalam kitab-kitab hadist yang terpercaya kita dapat menemukan peristiwa mencengangkan berikut ini: Suatu hari, Baginda Nabi menunaikan dua rakaat salat sunah setelah menunaikan salat ashar. Kepada mereka yang bertanya salat apa ini, jawaban beliau: Ada rombongan tamu dari suatu tempat. Karena sibuk menjamu mereka, aku tidak sempat menunaikan salat bakdiyah zuhur. Jadi selepas salat ashar tadi, aku tunaikan salat bakdiyah zuhur tersebut (HR Bukhari, Mawaqit 33; HR Tirmizi, Salat 21).”

Sebenarnya menurut kitab-kitab fikih, kita tidak perlu mengqadha shalat sunah jika waktu salatnya telah lewat. Akan tetapi, sosok agung yang memiliki hubungan istimewa dengan Tuhannya tersebut, dimana saja beliau memulai hubungan dengan Tuhannya, beliau senantiasa memperdalam hubungannya dan dengan demikian derajat beliau pun melejit.

Ya, Baginda Nabi SAW senantiasa rutin dalam mengerjakan hal-hal yang telah dimulainya. Seandainya kita mampu menyelesaikan doa jausyan sehari sekali, mari kita rutinkan kebiasaan tersebut. Jika tidak mampu membaca sekaligus, ia dapat kita bagi. Sebagian di waktu pagi, sebagian di waktu sore, sebagian lagi di waktu malam. Akan tetapi, adalah sebuah keharusan bagi kita untuk memiliki wirid yang kita baca sehari-hari. Apa yang mampu kita baca harus direncanakan dalam suatu program dan harus kita rutinkan pembacaannya setiap hari.

 

Diterjemahkan dari artikel berjudul Hakiki Mursyid, dari Buku Bahar Nesidesi.

[1] Pengekangan hawa nafsu, pertarakan (KBBI)

afdhalul fadhail 2

APA ITU AFDHALUL FADHAIL?

APA ITU AFDHALUL FADHAIL?

Baginda Rasul al Akram S.A.W bersabda: “Fadhilah yang paling utama ialah menyambung kasih kepada orang yang memotong hubungan dengan anda, berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada anda, dan santun kepada orang yang mencaci maki anda” (HR Ahmad No. 15065), dan dalam riwayat lainnya: “memaafkan mereka yang berbuat zalim kepada anda”. Berkenankah Anda menjelaskan intisari pesan dan hakikat yang terkandung di dalam hadis ini? Apa yang dimaksud dengan fadhilah?

Fadhilah yang di zaman sekarang ini mereka katakan sebagai keutamaan atau kalau memang maknanya sepadan, anda dapat menyebutnya dengan “keutamaan yang paling utama”. Prinsipnya, di satu sisi pemilik fadhilah adalah sang pahlawannya pahlawan. Maksudnya, pahlawan dengan bakat di atas kemampuan pahlawan biasa, dengan kata lain merekalah yang dimuliakan dengan bakat kemampuan yang melampaui kemampuan orang-orang pada umumnya. Merekalah yang dimuliakan dengan berbagai macam kelebihan oleh Penciptanya (SWT).

Dari sisi pendefinisian ini, maka dapat diketahui bahwa kata “utama” tidak mungkin sepadan dengan kata “fadhilah”. Disabdakan bahwasanya fadhilahnya fadhilah (أَفْضَلُ الْفَضَائِلِ) yang pertama adalah أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ (An tashila man qatha ak). Jadi maksudnya, tugas mendasar anda adalah untuk tidak pernah memutuskan hubungan dengan yang memutuskan silaturahminya dengan anda. Sekarang bagaimana kita tidak terpengaruh dengan sikap orang-orang yang memutuskan hubungan dengan kita? Kita harus tetap mempererat tali kasih sayang seerat hubungan orang-orang yang tidak bercerai-berai, sebagaimana di dalam hati nurani kita yang sebenarnya senantiasa terpatri perasaan untuk saling terhubung. Entah itu kerinduan kepada tanah air, sedangkan untuk kerinduan kita kepada ayah dan ibu, kita menyebutnya: “ikatan kepada ayah dan ibu”.

Terkadang dalam satu frame, semua tempat yang pernah kita kunjungi, hampiri, dan tinggali semuanya menjadi satu dalam sebuah keinginan, meliputi pikiran kita. Seringkali kita pun mengerang menahan kerinduan terhadap tempat-tempat itu, oleh karena itulah jangan sampai kita mengizinkan perpisahan dan perpecahan muncul di tengah kita. Prinsipnya adalah jangan sampai kita membiarkan mereka (yang memutuskan hubungan dengan kita) dalam kesendiriannya. Kalau hati mereka cenderung kepada perpisahan, mereka bagai melepaskan diri mereka, seperti dahan yang menggugurkan daunnya, hingga sang daun pun membusuk di tanah. Maka kita pun dengan segala daya yang ada di tangan, kita harus bisa menjadi penghalang terjadinya perpecahan. Jangan sampai memberi kesempatan kepada timbulnya perpecahan, kalau anda bisa melakukannya, maka itulah yang disebut “fadhilahnya fadhilah” untuk anda.

Kesendirian adalah masalah yang amat krusial, ketika anda mengatakan: “afdholul fadhooili an tashila man qatha ak…”, maka sebenarnya kalimat itu menitikberatkan pada masalah bersendiri (krn berpisah). Tetapi masalahnya tidak hanya sampai disitu, poin tadi hanyalah salah satu dari 4 asas fadhilah, akan tetapi jika ada satu orang yang memilikinya, maka itulah sifat mukmin sejati, itulah akhlaknya Al Quran, akhlak Nabawiyah SAW.

Kemudian yang kedua: “wa tu’tiya mammana ‘aka”. Ketika seseorang tidak memberi anda, baik itu berupa penghargaan atau pemuliaan, baik itu berupa pemberian satu sama lain, kalau misalnya ada kebutuhan anda mungkin berupa sedekah kalau ada keperluan yang lain, misalnya berupa zakat, kalau misalnya ketika ada sebuah pekerjaan, mungkin berupa support dukungan. Mungkin dia tidak melakukan hal tersebut, dia mungkin tidak membantu anda dalam kasus ini, dia bisa dikatakan tidak menunaikan tugasnya untuk membantu sesama muslim. Akan tetapi walaupun demikian, anda harus tetap meneruskan bantuan anda kepadanya di dalam kasus itu, demi terwujudnya perasaan memberi kepada sesama, anda harus hadir menghadapi sikapnya yang tidak mau memberi dengan tetap berbagi.

Dia mungkin tidak memperhatikanmu, acuh tak acuh, dia mungkin juga tidak menghargai anda. Meski demikian tetaplah tunjukkan perhatian anda kepadanya dan hargailah ia, pastikan tangan dan hati anda selalu terbuka untuknya. Tetaplah berprasangka baik saat berhadapan dengannya, jangan sembunyikan senyum diwajahmu saat berpapasan dengannya, jangan menyimpan uluran tanganmu untuknya, demikian juga dengan sifat suka memberimu. Inilah poin kedua hadis ini, poin ini pun membahas topik “kesendirian”. Lagi-lagi merupakan hal yang penting, ini pun adalah sifat seorang mukmin, bersamaan dengan itu inilah khuluqul Quran (akhlak Ilahi). Mengapa demikian? Karena Allah Jalla Jalaluhu, walaupun syukur kita sedikit tetapi Dia tetap senantiasa membagikan rizki-Nya, tak pernah meninggalkan kita sehingga tidak mendapat kebagian.

Mengenai hal ini saya memohon izin untuk menyampaikan sebuah riwayat, Sayyidina Hz Ibrahim as ketika ada tamu yang datang, beliau senantiasa menghidangkan jamuan, itulah Hz Ibrahim yang masyhur dengan kedermawanan dan kemuliaan hatinya. Sebagaimana beliau as masyhur dengan ketulusannya, kesetiaannya, dan kehangatannya terhadap sahabat-sahabatnya, beliau pun terkenal dengan kedermawanannya, memberi makanan kepada semua orang, beliau menyuapi masyarakatnya dengan apapun yang dimilikinya.

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa malaikat berkata: “Ya Rabbi, kekasihmu ini (Hz Ibrahim) kalau dilihat dari status kedekatannya dengan-Mu, bagaimana bisa mempunyai dunia (materi) begitu banyak?”. Dengan level kedekatannya yang seperti ini, bagaimana bisa beliau as mempertahankan memiliki harta duniawi yang banyak sekaligus juga menjadi khalilullah? Disini Allah SWT mengirimkan malaikatnya, sebenarnya dalam kisah ini kita tidak perlu memfokuskan pada apa yang dikatakan secara zahir oleh para malaikat, kita harus melihat hakikat apa yang sebenarnya terjadi dalam riwayat ini. Malaikat mendatanginya, kemudian para malaikat mengatakan kepada Hz Ibrahim: “Subbuhun Quddusu Rabbuna Wa Rabbil Malaikatu Warruh…”, dan tentu saja Hz Ibrahim as bukanlah sosok yang tidak paham makna dari kalimat ini. Beliau as, menghambakan diri dalam bentuk yang paling cocok dengan bayangan Zat Ilahi. Maka, demikian bersemangatnya di dalam penyucian dan penghambaan kepada Allah, Hz Ibrahim (demi mendengar tasbih yang dibacakan malaikat) mengatakan: “Biarlah 1/3 dari hewan ternakku ini untukmu saja”.

Demikian mulia hatinya, demikian dermawan dirinya. Hz Ibrahim berkata: “Bisakah anda membacakan kalimat tasbih tersebut sekali lagi?”, ini maknanya apa? Demikian besarnya pengaruh kalimat tasbih yang diucapkan dari lisan malaikat kepada hati hz Ibrahim. Kata-kata ini pasti bukan karena Hz Ibrahim tidak mengerti kedalaman maknanya sehingga minta diulangi agar bisa dimengerti, tetapi Beliau as ingin mendengarnya lagi (keluar dari lisan para malaikat). Maka ketika dibacakan kembali untuknya sekali lagi, Hz Ibrahim berkata: “Sisa ternak 1/3nya lagi untuk anda”. Sekali lagi dibacakan  untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Semua ternak saya untuk anda saja”, dan  ketika keempat kalinya dibacakan lagi untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Biarlah saya menjadi budak anda (karena hartanya sudah habis)”. Demikianlah, kemuliaan dan kedermawanan hati hz Ibrahim as sudah memasuki level yang sangat tinggi.

dakwah

Hak Orang Tua dan Hak Dakwah

Tanya: Bagaimana harusnya bersikap kepada kedua orang tua yang tidak menginginkan kita aktif dalam usaha dakwah?

Jawab: Terkait kebutuhan akan pengembangan Islam, setiap masa memiliki prioritasnya masing-masing. Misalnya di masa Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Usmani. Karena di masa itu hal-hal seperti menguasai ilmu pedang, memelihara kuda perang, dan memiliki niat untuk bergabung dalam jihad adalah hal-hal yang sangat penting, maka semua orang yang hidup di masa tersebut mengetahui bahwa jenis jihad tersebut adalah tugas tersuci. Di samping periode tersebut, juga terdapat periode dimana sosok-sosok seperti Mus’ab bin Umair dan Khabbab bin Arats tumbuh di masa awal penyebaran Islam. Di masa itu misalnya, tidak diketahui adanya pedang maupun kuda yang dipelihara. Sebaliknya, di masa tersebut para pahlawan cinta menyebar ke seluruh penjuru bumi dengan membawa bukti-bukti Al-Quran yang cemerlang layaknya permata. Mereka berperangai lembut dan siap menyingkirkan kerasnya hati dan batunya pikiran di kepala lawan bicaranya. Demikianlah, Khabbab melunakkan hati Mus’ab. Demikian juga Mus’ab menakhlukkan hati tujuh puluh orang dalam setahun dakwahnya di Madinah. Mus’ab bin Umair memberi pelajaran kepada masyarakat Madinah sama persis dengan pelajaran-pelajaran yang diterima dari gurunya, yaitu Sayyidina Khabbab bin Arats yang notabene adalah seorang budak. Demikianlah jihad dilaksanakan di masa itu. Akan tetapi, di hari Uhud Baginda Nabi SAW menginginkan hal lain dari Mus’ab. Masa ketika Sayyidina Mus’ab jatuh syahid di tangan orang-orang kafir, dimana terdapat pedang yang disarungi baju lamanya dan  jubah Rasulullah juga menempel di punggungnya, secara deretan kejadian menunjukkan kondisi yang berbeda. Di hari Uhud, tugas baru yang diemban Sayyidina Mus’ab tersebut secara kebutuhan mendapat prioritas utama. Saya tidak berpikir telah menggambarkan bahasan-bahasan ini untuk menggelorakan emosi dan membangkitkan gairah Anda.  Maksud dari saya menjelaskan bahasan ini adalah untuk menyampaikan bahwasanya di setiap masa terdapat perbedaan pada hal mana yang lebih menjadi prioritas.

***

Di masa kita saat ini, demikian urgennya pekerjaan irsyad dan tabligh untuk menjadi prioritas, tetapi di waktu yang sama menakhlukkan Jerman dengan tank dan membawa semua teknologi industri Jerman ke negeri kita tidaklah lebih utama dibandingkan mengenalkan Allah SWT kepada lima puluh masyarakat Jerman. Membujuk Rusia agar meletakkan hulu ledak nuklirnya di negeri kita tidaklah lebih penting dibandingkan dengan mengenalkan Allah kepada lima puluh warga Rusia. Demikian juga dengan Amerika, membawa semua sistem dan kemajuan di Amerika ke negeri kita tidaklah lebih penting dibandingkan dengan menjelaskan apa itu muslim kepada sepuluh orang negro di sana.

Pada hari ini, disebabkan urgensinyalah irsyad akhirnya sampai pada posisi dimana ia menjadi tugas terpenting yang layak mendapatkan aplaus dari para penghuni langit. Oleh sebab itu, menggeser perhatian masyarakat yang sedang bersemangat dengan Islam ke masalah-masalah materi dan politik, artinya mengeluarkan perhatian masyarakat tersebut dari posisi seharusnya. Hal tersebut adalah salah satu dari banyak kekhawatiran-kekhawatiranku. Kelompok-kelompok yang meyakini segala permasalahan dapat dicarikan solusinya di tingkat parlementer, mereka terhitung sebagai sosok-sosok yang mengeluarkan permasalahan inti dari posisi seharusnya. Tentu saja sebagai sebuah realita jalan parlementer juga perlu digarap. Akan tetapi, apabila masalah amar makruf nahi munkar tidak ditujukan kepada pondasi dasarnya, di waktu yang dekat mereka, termasuk juga para politisi, akan menemui jalan buntu yang akan sangat mengejutkannya. Semoga Allah tidak menunjukkan hari itu kepada kita! Kita harus menggunakan semua upaya yang bisa kita lakukan. Atas inayat Ilahi, kita tidak boleh meninggalkan lahan irsyad dan tabligh kosong  begitu saja.

Di masa ini, kita memiliki putra dan putri yang melakukan pekerjaan irsyad serta tabligh layaknya Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqash dan  Mus’ab bin Umair.  Sayyidina Mus’ab bin Umair, sosok dimana pemuda dan pemudi kita mengambil inspirasi darinya, setelah tinggal di Mekkah selama 4-5 tahun lamanya kemudian pertama-tama ia hijrah ke Ethiopia sebelum akhirnya melanjutkan hijrahnya ke Madinah. Hanya Allah yang mengetahui betapa besar ujian yang diberikan pihak keluarga kepadanya. Anak yang memiliki keindahan surgawi ini telah menerima Islam saat usianya baru menginjak 15-16 tahun. Ia mengerahkan semua upayanya untuk tidak menyakiti hati ibunya. Di waktu yang sama, ia tidak sesaat pun berpaling dari sisi Baginda Nabi SAW. Sa’ad bin Abi Waqqash adalah putra dari pamannya Baginda Nabi. Ia masuk ke naungan Islam di usia 18 tahun. Di umurnya yang masih belia tersebut, ia telah menunjukkan loyalitasnya kepada Baginda Nabi. Ia menjelaskan sendiri keadaannya:

“Di suatu malam di Mekkah, saya keluar untuk untuk melakukan hadats kecil. Karena lapar, mata saya tidak dapat melihat dengan jelas. Dari suara air saya memahami bahwa ia telah mengenai sesuatu yang keras. Saya berusaha merabanya dan tangan saya berhasil menemukan sepotong kulit. Dengan hati bahagia aku membawanya pulang. Aku membersihkan dan memasaknya. Aku menikmati kuah sup dari rebusan kulit tersebut selama tiga hari. Dengannya aku mengatasi laparku dalam beberapa hari.”[1] Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqash yang telah melewati beragam kesulitan hidup seperti kisah tersebut kemudian berkata: ”Suatu hari Ibuku datang menemuiku dan berkata: ’Saya bersumpah tidak akan makan apapun dan tidak akan berpindah dari bawah terik matahari sampai engkau berpaling dari jalanmu itu!’ Tiga hari berturut-turut ibuku benar-benar melaksanakan sumpahnya. Ketika ia mulai pingsan di hari ketiga, aku segera menemui Baginda Nabi dan menjelaskan keadaannya. Ayat kemudian turun: ’Dan kami wajibkan kepada manusia agar berbuat kebaikan kepada kedua orang tuanya….’[2][3]

   Di masa itu, sensitivitas di sisi tersebut memang dibutuhkan.  Segala upaya dilakukan untuk tidak menyakiti hati ayah dan ibu yang masih musyrik, tetapi di waktu yang sama kegiatan untuk berdakwah tidak pernah kendur. Hari ini kita hidup di masa dimana segala beban dakwah berada di pundak kita, baik laki-laki maupun perempuan. Semoga Allah SWT mengokohkan generasi ini! Akan tetapi, jangan sampai masalah ini jadi sebab kita menyakiti perasaan kedua orang tua kita. Kita tidak boleh lupa, walaupun misalnya mereka musyrik sekalipun, Al Quran memerintahkan kita untuk menghormati mereka: “…pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…”[4]

Tugas dasar kita kepada orang tua adalah sensitif dalam mentaati keduanya serta selalu  memasang wajah penuh senyuman saat berinteraksi dengan mereka. Secara fitrah dan karena kasih sayangnya, tidak ada satu ibupun yang rela hidup berjauhan dengan anaknya, walaupun untuk alasan dakwah. Akan tetapi, jika terdapat ladang dakwah yang membutuhkan pengorbanan dimana di sana dibutuhkan sumber daya manusia untuk mengelola progam-program dakwah, maka dia harus tetap berdiri teguh di sana. Jika tidak berdiri teguh, kegoyahannya tersebut dapat dianggap pengkhianatan kepada dakwah dan teman-teman seperjuangannya. Orang-orang yang berada pada posisi harus memilih salah satu di antara dua pilihan ini harus memohon rida ibunya seraya mencium tangan dan kaki ibunya. Ia harus menumpahkan air matanya dan berkata:”Aku mencium kaki ibu dengan penuh rasa bangga. Karena Baginda Nabi bersabda ‘surga ada di bawah telapak kaki ibu.’[5] Namun, insya Allah aku akan menjadi anak yang membanggakanmu di akhirat dan di hadapan Baginda Nabi SAW,” untuk meyakinkan ibunya. Karena hak terbesar yang harus kita penuhi setelah hak Allah adalah hak orang tua. Dalam Al Qur’an tertera peringatan:”…jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak…”[6] Saya secara pribadi senantiasa gemetar bila mengingat peringatan yang terdapat pada ayat ini.

***

Terkait topik pembahasan, saya hendak menceritakan peristiwa yang terjadi pada diri saya. Saya tidak ingat pernah menyakiti hati ayah saya. Saya hendak menceritakannya sebagai bentuk dari tahdis nikmat: Saya dapat bersumpah bahwa saya tidak pernah menginjak bahkan bayangan dari ayah saya. Ketika berjalan bersamanya, saya selalu berusaha berjalan di belakang bayangannya. Ayah saya adalah sosok yang sangat bersih. Beliau juga merupakan guru bahasa Arab saya. Namun salah satu keputusannya pernah membuatku berkata:”Ayah, permasalahan rumit seperti petualangan yang jatuh kepada saya ini hampir saja membuat ibu dan saudara-saudara lainnya menangis!”. Beliau ketika itu pergi ke tempat yang tidak disukai keluargaku dan ketika perjalanan pulang, beliau terjatuh tepat di atas rel kereta. Namun suratan takdir berkata bahwa kereta tidak melindasnya. Hanya sebagian pakaiannya saja yang tersobek. Ayah dengan nada protes dan marah berkata kepadaku:”Ayah seperti apa yang kau inginkan?”

Jika mengingat peristiwa tersebut, hatiku gemetar terguncang oleh kekhawatiran bagaimana aku mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti. Hari itu duniaku runtuh. Demikian dahsyat efeknya, aku sampai tidak ingat pada tungku yang kubakar.  Tungku yang terbakar menjalarkan api ke sekelilingnya. Muncul kobaran api kecil di kamarku. Aku benar-benar terguncang.

Ya, hak ayah dan ibu amatlah besar. Aku tidak bisa memaafkan diriku walau masalah tersebut sepertinya remeh. Bagaimana bisa aku jadi pemicu bagi ayahku yang merupakan seorang religius meluapkan kemarahannya? Aku masih merasakan penyesalan di lubuk hatiku yang paling dalam. Namun, di akhir kehidupannya, beliau menyatakan kebanggaannya kepadaku. Hari-hari terakhir dalam kehidupannya jatuh pada hari kamis pertama di bulan Ramadhan. Aku berkata kepadanya:”Jika ayahanda mengizinkan aku akan berangkat ke Manisa, tempat dinasku yang baru.” Wajahnya menatapku dengan menyiratkan ketidakridaan, tetapi di akhir beliau berkata:”Pergilah anakku! Disini engkau hanya ditunggu oleh empat mata, tetapi di sana engkau telah ditunggu oleh ribuan mata. Ya, beliau meridai dan bangga padaku, tetapi aku tetap tidak bisa memaafkan kesalahanku.

***

Terkait muamalah kepada kedua orang tua, lebih sensitif dan berhati-hatilah, khususnya jika keduanya juga sensitif dalam menjaga wudu dan waktu salat. Jika kalian menginginkan umur yang berkah, ingin istikamah dan kokoh dalam ketakwaan, serta menginginkan wajah bercahaya saat menghadap ke haribaan Ilahi, jangan pernah goyah dalam menghargai kedua orang tuamu. Seorang manusia tidak memiliki hak untuk menentang dan berbuat tidak adil kepada kedua orang tuanya. Memangnya hak apa yang layak dituntut oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya? Terkait masalah ini, al Quran sangat tegas dalam menunjukkan sikapnya. Sang Penyusun Gagasan Abad ini dalam menjelaskan masalah ini berkata:”Mereka yang menentang kedua orang tuanya adalah monster yang merusak manusia”[7]

______________________

[1] Abu Nuaim, Hilyatul Auliya, 1/93

[2] QS Al Ankabut 29:8

[3] Wahidi, Asbabun Nuzul, hlm. 341

[4] QS Lukman 31:15

[5] Al Qudai, Musnadus Syihab, 1:102

[6] QS al Isra 17:23

[7] Bediuzzaman Said Nursi, al Kalimat, kata ke-32