Mengembangkandiri.com [Downloader.la]-632809c0b3d45

Manakah yang lebih tebal antara Al-Kalimat dengan Al-Maktubat?

Tidaklah ada bangunan yang dibangun tanpa pondasi. Jika anda ingin membangun gedung 10 lantai, anda perlu menggali sedalam mungkin dan meletakkan pondasinya dengan kokoh. Sehingga tidak rusak dan roboh pada saat terjadi gempa atau bencana lainnya. Basis gerakan Hizmet adalah manusia, yaitu manusia yang terampil. Sebagaimana yang Mulia Alvarlı Efe ia selalu berdoa, “Semoga Allah menjadikan kita manusia yang mulia!” Dasar utama Hizmet adalah “manusia” dalam kualitas ini. Manusia dengan kualitas ini hanya dididik dan dibina di Rumah-rumah. Jika orang-orang yang tinggal di Rumah-rumah memiliki kualitas seperti ini maka Hizmet akan ada, Jika tidak, maka Hizmet tidak akan ada.

Rumah, tapi rumah yang bagaimana?

Sebuah rumah di mana lima atau enam orang tinggal didalamnya. Sebuah rumah di mana penghuninya menghabiskan waktu bersama-sama sebanyak mungkin dengan salat berjamaah dan berdoa bersama serta membaca buku, setidaknya setiap hari tiga dari mereka yang tinggal di rumah ini salat berjamaah bersama dan kemudian membaca buku. Rumah yang di mana semua kamar dan ruangannya bersih dan tertata dengan sangat rapi serta dapur yang juga sangat rapi dan bersih. “Cahaya” Allahﷻ tidak termanifestasikan di tempat-tempat yang kotor, berantakan dan kumuh. Cahaya iman tidak dapat terpancar di tempat yang berantakan dan kumuh.

Mendekatkan diri dan dzikir kepada Allahﷻ adalah anugerah yang sangat berharga. Rumah-rumah ini adalah tempat istimewa di mana nikmat berharga ini terus turun.

Al-Qur’an menyebut rumah ini dengan sebutan “Rumah Cahaya”:

(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allahﷻ untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (mensucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allahﷻ, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat). (QS. An- Nur Ayat 36 dan 37)

Rumah yang tidak memenuhi persyaratan diatas bukanlah Rumah Cahaya tapi “kos-kosan”, Ini adalah kebenaran yang menyedihkan. Jika rumah-rumah yang memenuhi persyaratan diatas ada, maka Hizmet akan tetap ada. Jika tidak, Hizmet tidak akan ada meskipun kelihatannya ada.

Hocaefendi menggambarkan rumah-rumah ini sebagai berikut:

“Rumah Cahaya adalah bangunan suci yang pernah ada; rumah yang paling efektif untuk generasi yang bercahaya yang menyibak kegelapan. Di rumah-rumah ini, setiap paginya dipenuhi dengan semangat kemenangan dan harapan baru. Di setiap sudutnya, evrad-u ezkar digaungkan, penghuni rumah yang diberkati ini setiap hari bagun dengan perasaan dan semangat baru yang penuh dengan rasa percaya diri. Semua sisi kehidupan mereka dipenuhi cahaya. Saat berkumpul, mereka berkumpul untuk belajar dan tarbiah diri; Saat mereka berpisah, mereka berpisah untuk memperoleh keutamaan dari perasaan yang bersih, pemikiran yang jernih, akhlak yang baik, iman yang kokoh, dan kedekatan dengan sang pencipta Allahﷻ yang sudah mereka dapatkan dari majlis belajar dan tarbiah.”

Rumah adalah universitas kecil kehidupan. Rumah adalah laboratorium di mana ma’rifatullah, manajemen kehidupan dan empati serta “bermuamalah dengan orang lain” dipelajari dan dipraktekkan. Sekolah maupun asrama tidak dapat menggantikan peran rumah. Manusia tidak tumbuh dan dididik dengan cara paketan. Sebuah perusahaan bisa memproduksi “patung” dalam jumlah yang banyak secara langsung namun tidak dengan manusia.

Saya pernah mencoba menguji kualitas rumah. Saya bertanya kepada salah satu lulusan yang tinggal di rumah.

Dialognnya sebagai berikut:

– Berapa lama anda tinggal di rumah? Apa yang anda lakukan?

– 5 tahun. Selama 3 tahun ini saya sebagai “imam rumah” .

– Apakah anda sudah menyelesaikan buku Ar-Risalah?

– Secara keseluruhan saya belum menyelesaikannya, tapi bisa dikatakan saya sudah menyelesaikannya.

– Apa yang dimaksud dengan ijtihad?

– … Aku tidak bisa menjelaskannya.

– Baik, ada di buku manakah Risalah icraat?

– Saya tidak ingat secara pasti, tapi bisa jadi ada di buku Al-Lama’at.

– Apakah ada kalimat yang anda ingat dari Risalah Ikhlas?

– Ya, itu Risalah yang harus dibaca setiap 15 hari sekalikan ya?

– Ya, betul sekali?

– Aku tidak

Saat dialog semakin memburuk, saya harus mengajukan pertanyaan berikut:

– Manakah yang lebih tebal antara Al-Kalimat dengan Al-Maktubat?

– Kalau tidak salah Al-Kalimat lebih tebal.

Saya tidak berbicara tentang satu contoh saja, tetapi ada banyak contoh dialog yang serupa. Dan anda menjadikan orang-orang ini sebagai penanggung jawab. Anda menjadikannya sebagai guru, kemudian anda mengharapkan pekerjaan yang sesuai dengan yang dijelaskan dalam Risalah ikhlas dari mereka.

Izinkan saya menambahkan satu kisah lagi.

Sebuah rumah yang sudah 20 tahun saya tidak datang dan melihatnya. Saat saya mengantar seorang kerabat saya yang baru memulai sekolah hukum ke rumah tempat ia tinggal. Saat itu sekitar jam 11 malam, saya berpikir untuk keluar dan melihat rumah tersebut. Lalu saya keluar dan melihat rumah Itu, saya melihat rumah itu adalah rumah yang mewah. Rumah Itu sebesar rumah tempat kami dahulu yang mana dihuni oleh 11 orang siswa. Kami menggunakan tempat tidur kayu seperti peti dengan penutupnya. Sedangkan mereka memiliki set sofa dan tempat tidur yang lengkap. Di rumah sebesar itu hanya dihuni oleh 4 orang saja. Imam rumahnya sudah menikah, oleh karena itu ia jarang datang ke rumah tersebut. Dua orang lainnya, di akhir pekan mereka pulang ke rumah mereka masing-masing. Rumah itu persis seperti kos-kosan. Kemudian saya bertanya “Apakah ada tamu yang datang?”. Tidak ada, jawab mereka. Bahkan dalam istilah kebiasaan mereka tidak ada kata tamu. Rumah itu mungkin akan bisa dikata bersih setelah disapu dan dipel selama tiga jam. Yang paling menakutkan adalah dapur. Di atas kompornya ada sisa-sisa bekas makanan yang sudah lama dan mengeras. Di satu sisi dapurnya terdapat sampah yang bertumpuk-tumpuk. Kulkasnya kotor dan penuh dengan bekas makanan yang sudah lama. Saya perkirakan jika saya membersihkan rumah itu mungkin sampai waktu subuh datang baru selesai.

Dikatakan bahwa “bagian dari sesuatu menunjukan keadaan keseluruhannya”. Ada berapa jumlah rumah yang sama dengan yang saya sebutkan diatas? Bahkan jika ada 20 % dari 100% rumah dengan keadaan seperti diatas, maka ini adalah sebuah bencana besar. Bagaimana jika anda memiliki ribuan rumah seperti itu sekarang? Apalah artinya meskipun puluhan ribu orang di rumah yang seperti itu? Jika dikumpulkan ratusan rumah yang ada, apakah ratusan rumah itu bisa menggantikan satu rumah dengan kualifikasi yang saya sebutkan di awal? jika hanya fokus kepada angka dan jumlah yang banyak maka membuka rumah hanya akan menjadi perlombaan

banyak-banyakan tanpa memperhatikan kualitas isinya. Berkaitan dengan hal ini disebutkan dalam Al-Quran dengan sangat jelas: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur ayat 1). Di rumah ini adalah tempat “mengagungkan Allah” serta “memuliakan dan menghormati manusia”

RUMAH ADALAH YANG UTAMA

Jika kita memiliki sepuluh sekolah dan dua puluh asrama di sebuah kota, namun jika tidak ada rumah yang merupakan pondasi Hizmet seperti yang saya jelaskan sebelumnya, maka bisa dikatakan Hizmet tidak ada di kota tersebut. Hal terpenting yang diajarkan oleh Risalah adalah untuk tidak terpaku pada sebab-sebab saja. Jika kita berhasil memahami sebab-sebab ini, kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita dimulai dengan hilangnya rumah-rumah. Institusi dapat bertahan jika bersandar pada rumah-rumah yang menjadi pondasi dasarnya. Institusi yang dibangun oleh individu- individu yang belum mematangkan jiwanya di rumah, maka ini adalah institusi yang tidak berdasar. Institusi yang tanpa “dasar” menjadi rentan terhadap kehancuran dan serangan musuh yang sebanding dengan ukuran dan tingginya. Tidak ada institusi yang akan maju ke masa depan jika kita tidak membangun pondasi serta tiang bangunannya dengan orang-orang yang terampil dan terlatih di rumah-rumah.

Sebelum ‘Rumah yang berkualitas di setiap tempat’ menjadi target utama bagi setiap penanggung jawab, maka Hizmet yang dilakukan tidak mungkin sesuai dengan yang disebutkan dalam ayat Al-Quran. Jika kriteria sukses di Hizmet adalah institusi, jumlah dan ekonomi, bukan kualitas, Maka diperlukan koreksi yang sangat serius.

Ini adalah target yang bagus untuk anda:

Tempat dimana anak-anak dari semua suku, bangsa dan negara bisa datang, belajar, membaca buku…

Tempat yang selalu dikunjungi oleh pria, wanita, pengusaha dan orang tua minimal satu kali dalam seminggu….

Dan rumah-rumah dimana nama Allahﷻ selalu di agungkan …

Institusi yang terbuat dari batu bata tentu saja berharga, tetapi rumah yang seperti ini lebih berharga dari pada emas yang bertumpuk- tumpuk.

mengembangkandiri.com splashes-of-watercolor-paint-and-painting-supplies-2021-09-02-14-39-48-utc

Menyikapi Kesalahan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Kesalahan dan Cara Menyikapinya

Manusia adalah makhluk Tuhan yang tak bisa terhindar dari kekhilafan. Baik disengaja maupun tak disengaja, manusia melakukan kesalahan, manusia lupa dan alfa, manusia menyimpang dan melakukan dosa.

Kesalahan diidentikkan dengan perbuatan setan. Sebuah dosa atau kesalahan terjadi karena manusia mengikuti bujukan, rayuan, dan ajakan setan. Setelah manusia melakukan kesalahan, setan akan mengajak manusia melakukan pembenaran.

Bagi orang yang taat dan memiliki karakter kuat, setelah melakukan kesalahan, alih-alih mencari pembenaran, mereka akan kembali kepada Rabbnya untuk mencari pintu maaf atas kesalahan yang dilakukan.

Dalam al-Quran ditegaskan,

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (Q.S 3:135).

Memohon ampun ketika melakukan kesalahan bukan perkara mudah. Kesalahan akan membawa manusia kepada lingkaran fasid. Fasid adalah perbuatan, pekerjaan, isi hati yang rusak atau busuk. Berada dalam lingkaran fasid membuat manusia akan selalu berada dalam lingkungan yang rusak dan busuk. Hal ini menyebabkan manusia sangat rentan untuk terus melakukan kesalahan dan sulit keluar darinya.

Seperti kita ketahui, manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada. Dalam diri manusia terdapat sifat berlian dan juga sifat arang. Lingkungan yang akan menentukan sifat mana yang akan lebih dikedepankan. Jika manusia berada dalam lingkaran fasid, sudah barang tentu sifat buruklah yang akan lebih menonjol. Sifat arang akan lebih terlihat dan menutupi sifat berlian yang ada pada dirinya.

Setiap kesalahan yang dilakukan manusia akan membuat noda hitam dalam diri manusia. Noda yang akan membekas di benak manusia, sekecil apapun noda itu ditorehkan. Noda kecil akan membesar jika tidak segera dibersihkan. Oleh karenanya, sekecil apapun kesalahan tidak seharusnya diremehkan. Kesalahan yang besar maupun yang kecil sekalipun, seharusnya bisa dibersihkan dengan segera melakukan taubat dan permintaan ampun kepada-Nya.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, maka yang seharusnya dilakukan adalah bermuhasabah dan kembali kepada Rabbnya, meminta maaf dan bertobat dengan sebenar-benarnya. Namun sayangnya, terkadang kita melupakannya. Terkadang kita lebih sibuk melakukan pembelaan diri, merasa diri tak bersalah, dan melakukan pembenaran.

Kita seolah tidak menyadari atas kesalahan yang kita lakukan.

Jika muhasabah benar-benar dilakukan, maka akan terbentuk perasaan bersalah dalam diri. Seseorang yang sadar atas kesalahan yang dilakukan akan fokus mengarahkan dirinya untuk bertobat dan hidup dalam pengharapan untuk mendapatkan maaf dari Rabbnya walaupun ia sendiri tak bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah melakukan kesalahan tersebut.

Oleh karenanya, agar terhindar dari melakukan kesalahan, manusia harus terus berhati-hati. Manusia seharusnya menghindar dari lingkaran fasid yang ada dihadapannya, menjauh dari perbatasan untuk masuk kedalamnya. Berjalan di perbatasan, sewaktu-waktu bisa membuat manusia tergelincir ke dalamnya, masuk ke dalamnya tanpa ia sadari.

Ya, terkadang kita memang tak sadar dalam melakukan kesalahan, tak sadar masuk ke lingkaran fasid yang bisa membuat kita justru melakukan pembenaran terhadap kesalahan yang kita lakukan. Bahkan bisa saja kita justru sibuk menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita lakukan.

Hal ini sesuai dengan sebuah kaidah bahwa seseorang yang sibuk dengan menyalahkan orang lain, tak akan mampu melihat kesalahan dirinya sendiri.

Seseorang yang selalu mencari-cari noda dalam diri orang lain, tak akan menyadari dirinya yang berada dalam kubangan lumpur yang penuh dengan noda.

Alhasil, kita harus sangat berhati-hati dalam kehidupan. Kita harus berusaha menjaga diri untuk tidak melakukan kesalahan dan kekhilafan. Kita juga harus menyadari bahwa kita hidup di dalam dunia yang licin, yang sewaktu-waktu bisa membuat kita tergelincir ke dalam kesalahan.

Selain itu, kita juga seharusnya bisa mengulurkan tangan kepada orang-orang yang memiliki kemungkinan untuk tergelincir di tempat yang sama, karena inilah yang dibutuhkan dari keimanan dan kasih sayang kita kepada sesama manusia.

mengembangkandiri.com nature-background-with-flower-behind-patterned-gla-2021-12-09-17-48-43-utc

Kejujuranku Menyelamatkanku

Sebuah kisah dari sosok, seorang sahabat, teladan umat Islam, Ka’b bin Malik tentang kejujurannya yang sudah menyelamatkannya.

Ka’b bin Malik: “Kejujuranku Menyelamatkanku”

Dalam setiap diskusi membahas tentang kejujuran, sosok Ka’b ibn Malik selalu menjadi rujukan karena kisahnya ini.

Beliau adalah sahabat yang sangat ahli dalam menggunakan pedang dan kata-kata.

Beliau adalah seorang penyair.

Melalui syair-syairnya, Ka’b ibn Malik dapat melemahkan semangat orang-orang kafir. Beliau telah bersumpah setia kepada Rasulullah di Aqabah. Oleh karena itu, dia termasuk orang-orang pertama yang beriman di Madinah. Namun, dia tidak bisa mengikuti perang Tabuk. Mari kita dengarkan saat dia menceritakan kisahnya sendiri:

“Panggilan untuk berjihad dalam perang itu ditujukan untuk semua orang, karena perang itu diprediksi akan berlangsung secara sengit. Namun, prediksi keberlangsungan perang ini bukanlah ketetapan dari Allah SWT dan bahkan, pertarungan secara langsung tidak terjadi dalam perang itu. Hasil dari peperangannya mungkin atau juga mungkin tidak diilhamkan kepada Rasulullah SAW. Namun, Beliau sangat memberikan perhatian kepada kesiapan pasukan perang tersebut.

Seperti yang lain, saya juga melakukan persiapan. Bahkan, saya tidak pernah bersiap lebih baik dibandingkan perang-perang sebelumnya. Rasulullah SAW memberi sinyal kepada pasukan muslim untuk mulai berangkat.

Saya tidak mengikuti mereka dan berpikir, ‘Saya dapat mengejar mereka bagaimanapun juga.’

Saya tidak memiliki kegiatan lain yang khusus. Tapi karena kepercayaan diri saya, saya tertinggal. Sehingga saya menunda keberangkatan ke hari berikutnya, namun, banyak hari pun berlalu.

Saya tidak mungkin lagi mengejar Rasulullah.

Saya tidak bisa melakukan apapun selain menunggu mereka kembali. Tapi penantian ini terasa begitu lama bagi saya.

Akhirnya, kabar kembalinya Rasulullah SAW pun datang juga. Madinah akan segera hidup sebelum Beliau kembali. Kegembiraan akan kembalinya Rasulullah terlihat di wajah semua orang…

Akhirnya, harapan mereka terkabul, dan pasukan tiba di Madinah.

Seperti biasa, Rasulullah SAW pergi ke masjid dan melakukan shalat dua rakaat dan mulai menyapa orang-orang. Kemudian semua orang datang ke masjid secara berkelompok dan mengunjungi Beliau.

Mereka yang tidak bisa mengikuti peperangan menyampaikan permintaan maaf mereka. Sebagian besar orang yang tidak ikut berperang telah menyebutkan alasan mereka, dan Rasulullah telah menerima alasan mereka.

Saya bisa melakukan hal yang sama karena saya memiliki kemampuan khusus untuk membujuk orang dan menggunakan bahasa dan retorika.

Tapi bagaimana saya bisa berbohong kepada Rasulullah, karena saya tidak punya alasan.

Saya tidak melakukannya; saya tidak bisa.

Saat kami bertemu, Rasulullah menyapa saya dengan senyum masam yang menusuk hati saya.

“Di mana dirimu?” beliau bertanya.

Saya menjelaskan cerita saya apa adanya.

Beliau memalingkan wajahnya dari saya dan berkata tanpa suara,

‘Pergi.’

Saya pun pergi.

Orang-orang mengerumuni saya, berkata, ‘Beri alasan dan bebaslah.’ Mereka membujuk saya.

Tapi saya sadar dan bertanya, ‘Apakah ada orang lain seperti saya?’

‘Ya,’ jawab mereka, dan menyebutkan nama dua orang.

Keduanya adalah sahabat terkemuka yang pernah berpartisipasi dalam Perang Badar yaitu Murarah bin Rabi dan Hilal bin Umayyah. Mereka tidak menyebutkan alasan apapun, tetapi mengatakan yang sebenarnya.

Mereka seperti saya.

Saya bisa mengikuti cara mereka. Saya memutuskan untuk seperti mereka dan menghindari menyampaikan alasan apapun.

Sebuah perintah dikeluarkan perihal kami bertiga. Perintahnya adalah melarang siapapun berbicara atau bertemu dengan kami.

Dua orang yang lain tinggal di rumah, menangisi dosa-dosa mereka. Saya lebih muda dan lebih kuat. Jadi saya bisa berjalan di jalan-jalan dan pasar dan saya bisa pergi ke masjid pada waktu salat.

Tapi tidak ada yang berbicara kepada saya. Saya menghabiskan sebagian besar waktu di masjid.

Saya akan menunggu dengan sungguh-sungguh senyum dari Rasulullah.

Yang membuat saya cemas, setiap hari saya pulang ke rumah dengan kekecewaan.

Meskipun selalu ada senyum di wajahnya, Rasulullah tidak pernah menatap saya dan tersenyum pada saya.

Saya selalu menyambutnya dan menunggu dengan seksama jawaban darinya.

Tapi bibir Beliau tetap tertutup untuk saya.

Saya juga terkadang mencuri-curi pandang kepada Beliau saat berdoa. Beliau melihat kearah saya ketika saya mulai melakukan shalat, tapi Beliau mengalihkan pandangannya dari saya selepas shalat.

Selama lima hari saya dalam keadaan seperti ini. Semua orang di sekitar tempat saya tinggal mulai tampak begitu asing sehingga terasa seperti tinggal di negara asing.

Suatu hari, saya melewati pagar dan masuk ke kebun Abu Qatadah —Beliau adalah putra paman saya dan kami sangat dekat— dan pergi menemuinya.

Saya mengucapkan salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak membalas salam saya.

Saya berkata: ‘Wahai Abu Qatadah, saya memohon padamu demi Allah! Tahukah kamu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Dia diam.

Saya mengulangi pertanyaan saya tiga kali. Akhirnya, dia berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,’ dan pergi.

Seluruh dunia tampak terbalik.

Saya tidak pernah menyangka akan mendengar hal ini dari Abu Qatadah.

Mataku berlinang air mata dan menangis.

Suatu hari, saya sedang berjalan-jalan di Madinah, dan saya mendengar seseorang mencari saya. Dia datang kepada saya dan menyerahkan surat kepada saya..

Itu dari raja Ghassan. Raja mengundang saya ke negaranya.

Surat itu tertulis: ‘Saya telah diberitahu bahwa sahabatmu (Rasulullah SAW) telah memperlakukanmu dengan kasar. Bagaimanapun, Allah tidak membuatmu tinggal di tempat di mana kamu merasa rendah diri dan kehilangan hakmu. Jadi, bergabunglah dengan kami, dan kami akan menghiburmu.’

Ketika saya membacanya, saya berkata pada diri sendiri, ‘Ini juga adalah ujian,’ dan saya membawa surat itu ke perapian dan membakarnya.

Pada hari ke 40 dari 50 hari yang berlalu.

Seorang utusan Rasulullah datang kepada saya dan berkata, ‘Rasulullah memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.’

Saya berkata, ‘Haruskah saya menceraikannya; atau apa yang harus saya lakukan?”

Dia berkata, “Tidak, jauhi saja dia dan jangan bergaul dengannya.”

Saya berkata kepada istri saya, ‘Pergilah ke orang tuamu dan tinggal bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan-Nya dalam masalah ini.’

Sementara itu, istri Hilal telah meminta izin untuk melayani Hilal. Hilal adalah seorang lelaki tua tak berdaya yang tidak memiliki pelayan untuk merawatnya. Rasulullah memberikan izin kepadanya.

Beberapa orang menyarankan agar saya meminta izin dengan cara yang sama.

Tapi saya tidak mau melakukannya. Saya tidak tahu bagaimana reaksi Rasulullah jika saya melakukan itu.

Kami terus berada dalam kondisi tersebut selama 10 malam, hingga periode 50 malam selesai.

Jiwa saya terasa sesak dan bumi tampak sempit bagi saya, padahal ia begitu lapang.

Setelah menyelesaikan salat Subuh pada pagi kelima puluh, saya mendengar seseorang memanggil nama saya. ‘Wahai Ka’b, berbahagialah (dengan menerima kabar baik)’ katanya.

Mengetahui bahwa telah datang pengampunan-Nya, saya pun tersungkur  dalam sujud di hadapan Allah.

Rasulullah telah mengumumkan penerimaan taubat kami oleh Allah setelah salat Subuh.

Saya berlari ke masjid.

Semua orang mengucapkan selamat kepada saya.

Talhah dengan cepat mendatangi saya, menjabat tangan saya dan memberi selamat kepada saya. Seolah-olah saya berada di hari Aqaba.

Saya pergi ke hadapan Rasulullah dan memegang tangannya. Beliau juga meraih tangan saya.

Rasulullah berkata, ‘Allah memaafkanmu.’ Kemudian, beliau membacakan ayat berikut:

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah 9:118).

Setelah ayat ini turun, Ka’b ibn Malik berkata kepada Rasulullah SAW: “Saya berjanji untuk berkata benar selama hidup saya.”

mengembangkandiri.com gift-shop-at-the-street-market-in-istanbul-turkey-2021-08-26-18-35-40-utc

Karakter Kejujuran Seorang Muslim

Kejujuran, Kebohongan, dan Omong Kosong

Orang-orang yang baru datang ke Turki pasti sepakat akan satu hal: Saat mereka berniaga dengan masyarakat muslim Turki, tidak diperlukan suatu kontrak berdagang tertulis karena perjanjian secara lisan sudah cukup disana. Situasi ini adalah hasil dari etika dan moral Islam yang sudah lama tertanam di masyarakat Turki.  

Muslim yang berpegang kepada akhlak Al Quran digambarkan dengan,

“…… dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji….” (Q.S. Al-Baqarah 2: 177). Dalam kelanjutan ayat itu disebutkan, Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” 

Seorang Jenderal Prancis, Comte de Bonneval, membagikan kekagumannya terhadap kejujuran masyarakat Turki,

“Kriminalitas seperti ketimpangan hukum, monopoli, dan pencurian seakan tidak dikenal di Turki. Singkat kata, entah karena keyakinan agama atau ketakutan kepada hukum, mereka menampilkan satu tingkat integritas yang membuat banyak orang tercengang kepada kejujuran mereka.”

Ketelitian dan sensitivitas pedagang Turki dalam urusan kejujuran tergambar dalam kisah berikut:

Kala itu, seorang pedagang tekstil dari negeri nan jauh datang ke negeri Utsmani dan ingin membeli seluruh kain yang dibuat oleh satu pabrik kain yang sangat dia sukai.

Namun, suatu ketika, dia melihat pemilik pabrik menyingkirkan satu gulungan kain saat kain yang lain sedang ditimbang.

Ketika ditanya alasannya, pemilik itu menjawab, “Saya tidak bisa memberikan kain ini, kain ini memiliki cacat.”

Meskipun pedagang asing tadi berkata, “Itu tidak masalah,”

Si pengusaha Turki tetap tidak mau menjual satu gulungannya itu dan berujar,

“Sudah kubilang bahwa kain ini cacat. Anda pun sudah tahu perihal ini. Ketika Anda menjual barang cacat ini di negerimu, orang-orang tidak akan tahu bahwa saya sudah memberitahu Anda. Maka, saya seolah menjual barang cacat ke rakyat negerimu. Harga diri dan kehormatan Daulah Utsmani akan dicerca dan mereka akan menyangka bahwa kami ini culas. Inilah mengapa saya tidak akan menyerahkan gulungan cacat ini bagaimanapun jua.”

Demikian dia menjelaskan alasannya kukuh tidak menjual kain tadi.

Satu karakter yang membedakan Bangsa Turki dari bangsa-bangsa lain adalah mereka tidak mengenal tindakan menipu dan berbohong. Ajaran agama Islam telah masuk menjadi pendirian dari masyarakat Turki untuk mencintai akhlak mulia serta menolak perbuatan tercela.

Hal ini disampaikan dalam dokumen sejarah dari Abad XIX yang  tertulis sebagai berikut:

“Kita harus mencari tahu karakter suatu bangsa dari kelas menengahnya, di antara orang-orang yang mencari rezeki di pabrik kecil, mereka yang tidak miskin dan tidak pula kaya: kelas menengah pada bangsa Turki, memiliki nilai moral dan kebajikan yang terikat dengan ilmu pengetahuan yang cukup sepadan dengan kebutuhan mereka, dengan kecenderungan patriarki kekotaan di level keluarga satu rumah dan di masyarakat. Kejujuran juga menjadi karakter khas pengusaha Turki… Di perkampungan mereka, di mana tidak ada orang Yunani, kesederhanaan hidup dan kemurnian prilaku manusia amatlah terlihat, dan disana tidak dikenal istilah penipuan.” (Thomas Thornton (1762–1814), seorang pedagang Inggris di Timur Tengah dan penulis tentang Turki).

Pengamatan pengusaha-pelancong Prancis Abad VII, Du Loir, bisa menjadi simpulan yang gamblang: “Tidak diragukan lagi, politik dan kehidupan di Turki, dalam hal moralitas, adalah role model bagi seluruh dunia.”  .

Seorang Muslim harus Jujur dan Amanah

Seorang muslim harus jujur dan amanah, perkataan dan perbuatan yang dilakukannya tidak boleh berlawanan dengan pikiran dan perasaannya. Kita harus berusaha banting tulang untuk tetap dalam kondisi seperti itu. Rasulullah sendiri memberikan perhatian yang lebih dalam penanaman nilai moral ini pada diri anak-anak.

Untuk menghindarkan para orang tua dari dosa berbohong, meskipun kepada anak-anak mereka, beliau telah merumuskan prinsip-prinsip umum sebagai pedoman dalam hubungan antara anak dan orang tua.

Sebagai contoh, tidak boleh seorang ayah atau ibu untuk berbohong pada anaknya, dalam kondisi apapun, dan tidak pula membeda-bedakan perlakuan kepada tiap anak.

Abdullah bin Amir menceritakan: “Suatu hari ibuku memanggilku, di saat Rasulullah SAW tengah duduk di rumah kami. Kata ibuku: Datanglah kemari! Aku akan memberimu sesuatu. Rasulullah bertanya padanya: Apa yang akan Engkau berikan padanya? Jawab ibuku: Saya ingin memberinya kurma. Maka Rasulullah berkata: Jika engkau malah tidak memberinya apa-apa, maka itu akan jadi dosa bagimu.” 

Abu Hurairah juga meriwayatkan kisah serupa: “Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang berkata kepada anaknya, “Datanglah kemari, aku akan memberimu sesuatu,” lalu malah tidak memberi apapun kepada si anak, maka itu akan dicatat sebagai perbuatan dusta.”

Kesesuaian antara hati dengan perilaku yang ditampilkan oleh seorang muslim juga amat penting untuk nilai integritasnya. Sama dengan kita harus menjauhi perkataan kasar, kita juga harus menjaga diri kita dari perasaan atau pemikiran penuh benci.

Dengan kata lain, seorang muslim harus berkata-kata sesuai dengan pikirannya, dan berperilaku sesuai dengan perkataannya; tidak boleh ada perbedaan antara yang terdapat dalam hati kita dengan perilaku yang kita tampilkan.

Hadis berikut mengupas aspek integritas:

“Barang siapa yang hatinya batil, tidak akan memiliki iman yang sempurna. Jika lidahnya tidak berkata benar, maka dalam hatinya tidak ada kebenaran, dan jika tetangganya tidak selamat darinya, maka dia tidak akan masuk surga” (Al-Musnad, 3/198).

Di sini Nabi mengajarkan bahwa hati dan lidah harus saling berkesesuaian, dan keduanya harus menampilkan integritas.

Ketika terdapat kesesuaian antara aktivitas batin seorang muslim dengan aktivitas lahirnya, maka dia akan selalu jujur, dalam bekerja maupun berniaga. Setiap muslim harus dengan detail tidak pernah sekalipun berbuat curang atau menipu orang lain demi mendapat laba yang lebih besar ataupun demi kepentingan lain.

Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah berbunyi,

“Suatu hari Nabi melihat (seorang lelaki menjual) setumpuk gandum. Nabi memasukkan tangannya ke tumpukan itu dan menemukan bahwa gandum yang di bawah basah sedangkan yang di tumpukan atas kering.

Maka Nabi bertanya kepada si penjual, ‘Apa ini?’

Lelaki itu menjawab, ‘Hujan telah membuatnya basah.’

Jawab Nabi, ‘Kamu harus meletakkan gandum yang basah di atas (agar semua orang bisa melihatnya).

Penipu bukan termasuk golongan kami.’”

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,

“Pedagang yang tidak melenceng dari nilai keadilan dan kejujuran akan dibangkitkan bersama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang taqwa.”

Salah satu karakteristik unik pada diri sahabat Nabi -barangkali adalah karakteristik yang paling penting- adalah integritas dan kejujuran yang teguh. Kualitas ini telah membawa satu atmosfer mendalam berupa kelapangan dan rasa aman pada batin dan hubungan antarpribadi mereka.

Pada suatu waktu Abu al-Haura bertanya kepada Hasan bin Ali, “Apa yang engkau hafal dari Rasulullah?”

Jawabnya, “Aku menghafal dari beliau: ‘Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu, beralihlah ke apa-apa yang menghapuskan keraguan darimu.’

Dalam riwayat yang sama, Sufyan bin Abdullah As-Sakafi berkata, “Wahai Rasulullah, berilah ilmu tentang Islam kepadaku yang cukup bagiku sehingga aku tidak perlu bertanya kepada siapapun lagi tentang Islam.”

Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian jadilah benar-benar jujur dalam segala hal.”

matt-howard-A4iL43vunlY-unsplash

Keteladanan – Cahaya Abadi Muhammad SAW

Selawat

Tujuan dihadirkannya Rasulullah SAW,  para nabi dan rasul adalah agar mereka semua menjadi suri teladan dan contoh yang dapat diikuti oleh umat mereka masing-masing. Allah menyatakan di dalam Alquran:

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka Ikutilah petunjuk mereka.” Q.S. Al An’am ayat ke-90

Ayat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW sebagai pesan Allah untuk beliau agar mengikuti jejak para nabi terdahulu yang nama-nama mereka telah disebutkan di ayat sebelumnya. Marilah kita renungi ayat berikut ini:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Q.S Al-Ahzab ayat 21 

Para Nabi adalah teladan kita dan sekaligus menjadi imam kita. Sebagaimana halnya kita harus mengikuti imam di saat salat. Kita juga harus mengikuti perilaku para Nabi dalam seluruh aspek kehidupan. Hal itu harus dilakukan, sebab kehidupan yang hakiki bagi kita adalah kehidupan yang dicontohkan oleh nabi kita Muhammad SAW dan para nabi lain sebelum beliau. Para sahabat yang hidup semasa dengan Rasulullah telah berhasil mengikuti jejak Rasulullah langkah demi langkah. Itulah sebabnya para sahabat dan tabiin berhasil mencapai kedudukan mulia. Seperti yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits beliau: 

Akan datang suatu masa pada manusia ketika mereka menyerang segolongan orang lain mereka ditanya: 

“Apakah diantara kalian ada yang pernah bertemu Rasulullah?” 

mereka menjawab “Ya” maka dibukakanlah jalan kemenangan untuk mereka 

kemudian mereka menyerang segolongan orang lalu mereka ditanya 

“Apakah diantara kalian ada yang pernah bertemu orang yang bersahabat dengan Rasulullah?”

mereka menjawab iya maka dibukakanlah jalan kemenangan untuk mereka 

kemudian mereka menyerang segolongan orang lalu mereka ditanya 

“Apakah diantara kalian ada yang pernah bertemu orang yang bersahabat dengan orang yang bersahabat dengan Rasulullah?” 

mereka menjawab Ya maka dibukakanlah jalan kemenangan untuk mereka 

dalam hadis lain dinyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda

 “Sebaik-baik manusia adalah masa lalu orang-orang setelah mereka lalu orang-orang setelah mereka.”

Lewat sampai ini Rasulullah SAW menyatakan keunggulan masa yang terdekat dengan masa hidup beliau. Hal itu dapat terjadi karena orang-orang muslim yang hidup pada masa itu memiliki kepekaan yang tinggi dalam mengikuti sunah-sunah Rasulullah SAW dalam segala hal, dalam kehidupan, perilaku dan pemikiran. Jadi tak dapat dipungkiri bahwa amatlah penting bagi mereka untuk selalu berusaha memiliki tujuan hidup yang semirip mungkin dengan Rasulullah, yang telah diutus untuk menjadi teladan dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Begitulah para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, memang telah menunjukkan kepekaan yang tinggi atas masalah yang satu ini. Itulah sebabnya mereka menjadi manusia-manusia yang lebih baik dibandingkan semua orang yang hidup di masa yang lain. Merekalah para sahabat Rasulullah SAW yang dimaksud oleh Isa a.s. dalam sabdanya 

“Di tangan mereka tergenggam panji-panji orang-orang Kudus.” At-Tsaniyah bab 33 ayat 3 

sungguh sebuah ungkapan penghormatan yang luar biasa.

Sebuah hadis Dhaif berbunyi 

“Para ulama umatku adalah seperti nabi-nabi bagi Israel” terlepas dari kedhaifannya hadits ini menunjukkan keunggulan umat Muhammad SAW. Ya, para pengikut Rasulullah memang telah berhasil mengikuti jejak sang nabi hingga mencapai tingkat yang sedemikian tinggi, dan berada persis di bawah derajat kenabian. Kiranya Umar bin Khattab r.a., dapat menjadi contoh mengagumkan di antara sekian banyak manusia biasa yang telah berhasil menjadikan Rasul Allah sebagai pembimbing dan teladan dalam semua sendi, serta aspek kehidupan. Dan kemudian menghiasi hidup mereka dengan contoh yang telah diberikan Rasulullah. Bahkan Umar sama sekali tidak mengubah sedikitpun gaya hidupnya, setelah berhasil menundukkan Byzantium dan bangsa-bangsa lain. 

Ketika Al-Quds, Yerusalem, yang saat itu masih berduka di bawah cengkraman penjajah Israel dan menjadi noda yang mencoreng wajah umat Islam, dulu berhasil ditaklukan Pasukan Islam, ternyata para pendeta yang berada di kota suci itu tidak bersedia menyerahkan kunci kota kepada Panglima pasukan muslim, yang telah memenangi pertempuran. 

Para pendeta itu berkata: “Kami tidak menemukan seorang pun di antara kalian, yang layak menerima kunci kota suci ini.”

Singkat cerita setelah berita tentang sikap para pendeta itu sampai ke telinga Umar r.a. Sang Amirul Mukminin langsung berangkat menuju Al Quds, dengan mengendarai seekor unta yang dipinjamnya dari Baitul Mal. Di sepanjang perjalanan menuju akun Umar r.a. bahkan rela bergantian mengendarai unta pinjaman itu dengan pelayannya. Secara kebetulan, ketika unta yang dikendarai Umar hampir sampai di gerbang Al Quds tibalah giliran si pelayan untuk mengendarai unta itu. Umar pun turun dan mempersilahkan pelayannya untuk naik ke punggung unta. Sementara dia menuntun, sambil berjalan. Si pelayan pun menolak karena tak bisa membiarkan sang Amirul Mukminin, memasuki Al Quds sambil berjalan menuntun unta, yang dikendarai oleh seorang pelayan.

Silakan Anda bayangkan betapa dramatisnya peristiwa itu.

Dalam sekejap mendadak seisi Yerusalem riuh rendah oleh orang-orang yang tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang pemimpin tertinggi kekhalifahan Islam berjalan memasuki kota sambil menuntun unta yang dikendarai oleh pelayannya sendiri. 

Dan ketika hal itu dilihat oleh para pendeta memegang kunci kota, mereka pun berujar: “Iya memang seperti inilah sifat orang yang akan menerima kunci kota ini! Seperti yang telah disebutkan dalam kitab suci kami. 

Mereka langsung menyerahkan kunci kota al-quds kepada Umar Bin Khattab r.a.

Selain peristiwa ini silakan Anda bayangkan ketika Umar tergeletak di tanah setelah ditikam oleh seorang lelaki majusi, sehingga membuat makanan yang baru disantapnya terburai keluar dari perut yang sobek. Ketika itu Umar tergolek diam tak sadarkan diri dan tak ada seorangpun yang berhasil membuatnya siuman. 

Berkenaan dengan kejadian ini Miswar bin Makhzamah menuturkan sebuah riwayat “Ketika aku melihat Umar Bin Khattab sedang tergeletak, aku bertanya kepada orang-orang yang ada di situ, Menurut kalian bagaimana keadaannya? 

Mereka menjawab, “Keadaannya separah yang kau lihat.” 

Aku berkata, “Bangunkanlah Ia dengan seruan salat.

Ketika kami tidak mengetahui ada cara yang lebih ampuh untuk menyadarkan Umar dari pingsan melainkan dengan mengajaknya salat. 

Maka orang-orang pun berseru, “Salat…! Wahai Amirul Mukminin!” 

Sontak Umar pun siuman dari pingsannya, seraya berujar, “

 telah mempelajari semua yang dilakukan itu dari rasulullah yang amat dicintainya. Sosok yang wajib dijadikan panutan dan diikuti dengan cara yang sedemikian rupa untuk kemudian menjadi teladan sempurna bagi semua generasi yang muncul kemudian. Begitulah diutusnya para nabi dan rasul untuk menjadi teladan yang baik bagi umat mereka adalah salah satu tujuan utama kedatangan mereka.

Diambil cahaya abadi Muhammad SAW kebanggaan umat manusia Hocaefendi