oxa-roxa-bnFuB--1lE4-unsplash

Rendah hati dan Sederhana

Rendah hati berarti mempunyai sifat malu seperti halnya menjaga kesucian dan dalam kesederhanaan. Rendah hati dan sederhana berkaitan dengan membatasi diri agar tidak berlebihan dalam segala hal. Hal ini juga berkaitan dengan penempatan diri seseorang untuk melindungi hubungannya dengan Tuhan terlebih dahulu, kemudian dengan manusia.

Rendah hati juga merupakan salah satu kualitas utama yang dapat menjadikan manusia sebagai hamba terbaik. Selain itu rendah hati ialah perhiasan spiritual yang dimiliki seseorang, yang menjadi watak utama sebagai patokan Allah melihat kualitas hambanya. Dalam hal ini berarti, rendah hati juga berkaitan dengan menghindari segala perbuatan buruk, yang mana Allah tidak menyukainya, dan membuatnya menjadi hamba berkualitas buruk.

Dalam kitab Al Mutawwa, dikatakan bahwa setiap agama mempunyai satu kode etik, dan kode etik Islam ialah kerendahan hati dan kesederhanaan. Rasulullah mencontohkan sifat mulia ini kepada umat muslim melalui keseharian beliau. Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah melarang seorang lelaki yang menyuruh saudaranya untuk tidak rendah hati, dengan berfirman kepada lelaki tersebut, ‘biarkanlah dia, rendah hati merupakan sebagian dari iman.” Di hadist lain dikatakan, “Iman mempunyai lebih dari tujuh puluh cabang, dan cabang yang paling utama ialah pernyataan,’tidak ada yang patut disembah kecuali Allah,’ sedangkan cabang yang paling bawah ialah menyingkirkan kerikil dari jalan. Rendah hati ialah salah satu cabang atau bagian dari iman.”

Lalu, kepada siapa saja kita harus bersifat rendah hati dan sederhana?

  • Rendah hati dan sederhana kepada Allah

Bentuk paling sederhana dari sikap rendah hati dan sederhana kepada Allah ialah menaati segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

  • Rendah hati dan sederhana kepada manusia

Sikap ini dapat dilakukan dalam bentuk tidak menyakiti sesama dan melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama.

  • Rendah hati dan sederhana kepada diri sendiri

Sikap ini dapat dilakukan dengan menghindari dosa-dosa ketika sedang dalam keadaan sendiri.

Rasulullah mengajarkan bahwa ketakutan akan sifat sederhana dan rendah hati dapat mengarahkan seseorang pada kekafiran. Sunan ibnu Majjah mengatakan, “Kerendahan hatian dan kesederhanaan ialah struktur keimanan. Apabila struktur itu diruntuhkan, maka keimananpun akan rusak dan hancur. Karena moral keislaman ialah rendah hati dan sederhana.

Suatu hari, seorang yang bijaksana dengan pengetahuan teknologinya melihat seorang laki-laki tampan yang bermasalah dengan sifat sederhananya. Menyadari hal itu, seorang bijaksana itu memberitahu laki-laki tampan yang ditemuinya dengan perkataan yang lembut dan penuh pelajaran. Dia berkata, “Ini ialah rumah yang mewah dan bagus, saya harap rumah ini juga memiliki fondasi yang kuat.”

Fondasi yang kuat ialah sifat sederhana dan rendah hati. Tanpa keduanya segala sesuatu yang indah tak akan memiliki arti. Seperti halnya bangunan yang tak memiliki fondasi maka tidak akan pernah bisa berdiri.

Beberapa orang hanya menampakkan sifat rendah hatinya saat orang lain melihatnya. Faktanya, hal ini justru akan mengarahkan orang itu kedalam perbuatan dosa. Hal ini juga menentukan level kerendahan hati orang tersebut. Seorang yang hanya menghindari dosa hanya saat di depan publik tanpa melakukannya ketika dalam keadaan sendiri, sama saja levelnya dengan kehinaan.

Dalam hal ini, marilah bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah seseorang pernah benar-benar sendiri ketika tidak ada seorang pun di sekitarnya? Tentunya tidak. Ada malaikat yang terus mengawasi kita selama 24 jam. Seseorang yang mempunyai keyakinan itu akan terus menjaga sifat sederhana dan rendah hatinya dalam keadaan apapun.

WhatsApp Image 2021-03-02 at 21.56.49

Kerja Keras

Kerja keras adalah lawan dari sikap santai. Secara fitrah manusia membutuhkan makan, minum dan istirahat. Tetapi manusia seharusnya mempunyai kemampuan berpikir dan kemauan yang kuat untuk bisa memenuhi kebutuhannya itu secara seimbang. Oleh karena itu ketika rasa santai dan malas datang menghampiri seseorang, maka orang tersebut harus mulai berpikir dan mulai menggunakan keinginan mau melakukan sesuatu yang kuat untuk melawannya. Jika ia merasa apa yang sudah dilakukannya itu belum cukup maka ia harus menerima bahwa hasil yang akan diperoleh adalah sesuai dengan apa yang telah diusahakannya. Sebenarnya hasil yang diperoleh dari usaha kita tidak mesti harus sesuai dengan yang kita inginkan atau berhubungan dengan apa yang kita lakukan, terkadang hasil yang diperoleh adalah berupa rasa nyaman ataupun bertambahnya semangat dan motivasi kita. Sebagai contoh, jika kita sudah bekerja keras dalam belajar untuk ujian matematika, ternyata hasil yang didapatkan kurang memuaskan, maka sikap kita seharusnya bisa menerimanya dan berusaha lebih keras lagi pada ujian selanjutnya. Bukan berarti kerja keras kita itu tidak ada artinya, tetapi justru kita mendapatkan semangat baru dalam belajar dan belajar dari kesalahan yang mungkin kita lakukan pada ujian tersebut. Jika kita bekerja keras maka motivasi kita akan meningkat, memberi pengalaman buat kita, menguatkan semangat kita dan pada akhirnya akan membawa keberhasilan pada kita

Dalam setiap keberhasilan terdapat dua kebaikan. Pertama, perasaan bersyukur kepada Tuhan YME yang telah memasukkannya ke dalam lingkaran kebaikan dengan sikap tidak menyombongkan diri terhadap apa yang telah diraihnya. Kedua, diberikannya kesempatan bagi dirinya untuk terus berjuang melawan nafsu pada dirinya yang selalu mengatakan bahwa keberhasilan ini berasal dari dirinya sendiri. Kita seharusnya bersyukur terhadap pertolongan yang diberikan Tuhan YME sehingga kita bisa mencapai semua ini. Dengan ini Tuhan YME akan melipat gandakan kebaikannya kepada kita sehingga semakin banyak kebaikan yang akan diperoleh.

Rasa malas disebabkan karena perasaan ingin selalu bersantai dan menyebabkan terjadinya ketidakteraturan. Nafsu kita selalu menginginkan ini, sehingga pada kesempatan pertama kita harus melawannya setelah kita berhasil pada kesempatan pertama, maka akan sangat mudah bagi kita untuk mengalahkannya. Rasa malas juga bisa timbul karena banyaknya hal yang harus dilakukan. Yang harus dilakukan adalah memulai segala sesuatunya dengan perencanaan, tetapkan benang merah dan point penting dari segala halnya, kemudian mulailah membagi waktu dan pekerjaan yang harus dilakukan. Pada saat kita sudah mulai melakukannya walaupun 10% darinya maka akan timbul suatu kepuasan tersendiri, kita akan mulai berpikir positif, jika 10% nya sudah bisa terselesaikan maka sisanya akan bisa terselesaikan juga. Oleh karena itu, rasa malas harus dilawan, jangan mengalah diawal, harus berjuang dengan kemauan yang keras walaupun susah, ketika kita mampu melawan itu semua maka kita akan mendapatkan kenikmatan, kepuasan dan kenyamanan yang tidak bisa didapatkan dalam kemalasan.

Setiap orang yang memiliki kepercayaan yang kuat terhadap Tuhan YME harus selalu aktif bergerak setiap saat. Aktif bergerak sudah menjadi prinsip dalam hidupnya baik dalam bekerja dan istirahat sekali pun. Ia pintar membagi waktunya dan tak pernah menyia nyiakannya. Di luar kebutuhan fitrahnya untuk tidur, ia mempunyai prinsip “active break” yaitu beristirahat dengan cara mengganti kegiatan yang dilakukan, ia mempunyai metode yang dinamis dalam kehidupannya, “istirahat dalam bekerja, bekerja dalam istirahat”.

Sebagaimana atom dan galaksi yang selalu bergerak dan aktif melakukan tugasnya masing-masing, begitu juga semua entitas yang lain, maka tidak bisa terpikirkan jika manusia sebagai ciptaan terbaik Tuhan memiliki sifat malas. Karena kemalasan, kemonotonan akan berujung pada ketiadaan. Sesuatu yang nikmat, jika terlalu sering dirasakan akan hilang kenikmatannya. Oleh karena itu, orang yang malas dan tidak aktif bergerak adalah orang yang rugi dan selalu membawa masalah. Sebagai kesimpulan, orang yang bekerja keras akan mencapai kebahagiaan, mewarnai dirinya dengan rasa syukur bukan hanya dengan keluhan.

Penuntut ilmu memiliki tanggung jawab kepada masyarakat, yaitu untuk menuntut ilmu, Ia harus fokus menuntut ilmu, Ia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya, Ia harus mengatur waktunya dengan baik, Ia harus menghayati prinsip “ta’awun,” yaitu saling membantu antar sesama penuntut ilmu. Ia akan saling membutuhkan bantuan dari sesamanya, Para penuntut ilmu harus serius dalam menuntut ilmu, tidak boleh menyalahgunakan niat baik dari masyarakat. Karena masa depan sebuah bangsa bergantung pada kualitas generasi penuntut ilmunya.

Kalau tidak diperhatikan, maka bangsa itu akan runtuh. Ia harus belajar siang malam. Kalau perlu tidur hanya 4 jam, sisa 20 jamnya harus digunakan untuk menuntut ilmu sampai otaknya berdenyut, dengan istilahnya Necip Fazil, “isi otaknya harus sampai keluar lewat hidung”. Saking seriusnya, kalau perlu kerja di laboratorium sampai pingsan, atau tertidur di atas tumpukan buku. Pekerjaan yang normalnya selesai 10 hari harus dipersingkat jadi 2 hari saja. Waktu tidak boleh disia-siakan, Tuhan YME akan meminta pertanggungjawabannya. Waktu adalah aset paling berharga bagi manusia. Kalau memang mau mengerjakannya, selesaikanlah secepat mungkin… Apa saja yang perlu digunakan, gunakanlah dengan tepat, Ambillah banyak referensi, Binalah hubungan baik dengan gurumu. Dengan loyalitas yang sempurna, agar hak masyarakat juga bisa ditunaikan serta agar tidak mengecewakan dan tidak mengotori husnuzan masyarakat. Maka para penuntut ilmu harus belajar dengan serius sehingga masyarakat pun kagum dan berkata: “Usaha kalian menuntut ilmu demi kemajuan bangsa sungguh luar biasa!”




fabio-comparelli-uq2E2V4LhCY-unsplash

Tujuan Hidup

“Sebaik-baiknya manusia ialah yang baik akhlaknya dan bermanfaat bagi orang lain.”
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa setiap manusia diturunkan mempunyai fitrah sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang saling membutuhkan. Dalam hal ini menjadi sangat penting kita membantu sesama yang sedang membutuhkan bantuan. Karena di saat tertentu kita pun membutuhkan bantuan dari siapa saja.

Tidak semua konteks ‘membutuhkan’ berarti untuk memenuhi kebutuhan material saja. Banyak dari manusia di sekitar kita yang ‘membutuhkan’ bantuan untuk memenuhi kebutuhan rohaninya. Kebutuhan rohani sangat penting untuk dipenuhi, jauh lebih penting dibanding kebutuhan material. Apabila kebutuhan itu tidak dipenuhi, ancamannya ialah kehidupan akhiratnya. Manusia diturunkan ke dunia salah satu tujuannya ialah amr ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari kemungkaran. Dengan membantu sesama itu diharapkan kita menambahkan nilai-nilai amr ma’ruf nahi munkar ini ke dalamnya.

Maka, itulah yang dinamakan memenuhi kebutuhan manusia yang sesungguhnya. Mengamalkan amr ma’ruf nahi munkar tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menghidupkan nilai kemanusiaan seseorang, diri kita sendiri harus terlebih dahulu ‘hidup’. Kita diwajibkan setiap saat meningkatkan kualitas hidup kita dengan memenuhi kebutuhan lahir maupun rohani. Dengan ‘hidup’ kita yang baik, maka kita akan mampu menghidupkan orang lain.

Itulah hakikat tujuan diturunkan kita ke dunia. Meningkatkan hidup kita setiap saat lalu mengamalkan nilai-nilai amr ma’ruf nahi mungkar kepada sesama manusia yang membutuhkan. Kemuliaan seorang manusia bukan dinilai hanya dari cara dia hidup, tetapi berapa orang yang dapat ia tingkatkan kualitas hidupnya dengan cara ia hidup.

pacto-visual-zSeOZKJZE6M-unsplash

Uslub dalam Mengkritik

Uslub dalam Mengkritik[1]

Tanya: Dewasa ini, ketika membahas persoalan pemerintahan, politik, serta kebijakan birokrasi, pendekatan kritik dan kecaman seakan telah menjadi kriteria tunggal. Apakah pendekatan seperti ini tepat?

Jawab: Kata َلتَّخْريِبُ اَسْهَل telah menjadi idiom di kalangan orang Arab. Terjemahan sederhananya adalah “merusak itu lebih mudah”. Ya, merusak, mengkritik, serta menghancurkan sangatlah mudah. Akan tetapi, “membangun” itu kebalikannya, ia amatlah sulit. Untuk itu, mereka yang ingin melontarkan kritik hendaknya meneliti langkah-langkah “membangun”, memastikannya, baru kemudian diperkenankan melontarkan kritik. Jika tidak, kekosongan yang ditinggalkan oleh kritik tidak akan bisa diisi.

Ya, terdapat beberapa masalah yang tidak memiliki daya tahan kokoh andai solusi alternatifnya belum disiapkan. Saya rasa para nabi, khususnya Baginda Nabi SAW, salah satu tugas utamanya adalah untuk mewujudkan keseimbangan ini. Ya, beliau secara jelas dan terang, dengan cara-cara persuasif seakan berteriak “ini salah!”, tetapi di waktu yang sama beliau menerapkan langkah-langkah alternatif yang benar. Dengan demikian, beliau tidak memberi kesempatan keadaan kacau balau serta kekosongan muncul. Beliau menyeimbangkan keadaan, menimbang segala efek positif serta negatifnya, serta tidak membiarkan kekosongan pikiran dan emosi muncul. Sebenarnya dari pendekatan beliau tersebut terdapat banyak hal yang dijelaskan kepada kita: sekali saja rencana dan proyek “membangun” tidak diletakkan pada pondasi yang kokoh, maka usaha-usaha kritik dan kecaman tak lain dan tak bukan adalah pembunuhan.

Oleh karena pemikiran tersebut tidak dipraktikkan dalam kehidupan nyata, bergantung pada besarnya kesalahan yang dilakukan, ia telah menyeret entah itu individu, keluarga, bahkan terkadang negara ke dalam kekacaubalauan serta pada kekosongan. Jika kita mengambil contoh di mana negara yang mengalami keadaan tersebut, maka negara Usmani-lah yang akan muncul pertama kali dalam benak kita. Saat itu sultan berusaha untuk digulingkan, disampaikan agar ditunjuk sosok yang lebih baik untuk menjadi pemimpin; tetapi ketika sosok yang lebih baik tidak berhasil ditemukan kemudian masuklah negara ke dalam keadaan yang lebih buruk lagi. Kondisi tersebut akhirnya memaksa kita untuk mencari kejayaan masa lalu dengan penuh kerinduan.

Misalnya kritikan tokoh-tokoh seperti Talat, Cemal, dan Enver Pasa; Riza Tevfik, Tevfik Fikret, dan – dalam beberapa kriteria – Mehmet Akif, serta banyak tokoh yang mengkritik Sultan Abdul Hamid II dengan panggilan semisal “Sultan Yang Karatan”, di kemudian hari mereka menyampaikan beragam pujian kepadanya. Akan tetapi, saat itu terjadi semuanya telah terlambat. Tokoh-tokoh seperti Cemal, Talat, serta Enver Pasa merintih sendu:”Aduh! Apa yang sudah kami lakukan Sultanku!”. Riza Tevfik ketika orang-orang Yunani menyerang Izmir menangis tersedu-sedu di pelataran masjid. Beliau pun menulis syair yang menggambarkan permohonan bantuan dari alam maknawi sang Sultan. Ya, mereka mungkin kemudian tersadar, tetapi ba’de harabi’l-Basra, nasi sudah menjadi bubur. Usmani telah runtuh, Mosul, Kerkuk, Suleymaniyah, dan Balkan telah melepaskan diri; ketenteraman yang terjaga selama enam abad perlahan mulai sirna; baru kemudian kesadaran itu tiba. Dunia kini sedang membayar konsekuensinya dengan harga yang sangat mahal. Padahal Usmani adalah unsur penyeimbang antara Timur Tengah, Kaukasia, dan Balkan. Sedihnya, kita baru menyadari hal tersebut setelah Usmani runtuh.

Betapa pedihnya, ternyata kesalahan-kesalahan bersejarah tersebut juga dapat terjadi pada hari ini. Negara serta pemerintahan dikecam dan dikritik sebelum rencana dan proyek alternatif terbaik selesai dirancang. Yang ada hanya slogan-slogan oposan seperti “saya tidak setuju dengan kebijakan tersebut” atau “politik dalam dan luar negeri tidak bisa dijalankan seperti itu…”. Saat mereka diminta untuk menjelaskan, menuliskan, serta menggambarkan bagaimana seharusnya bertindak, maka mereka berdalih dengan mengatakan bahwasanya hal tersebut membutuhkan pikiran dan pengalaman yang luas di mana mereka mengaku tidak memilikinya. Mohon izin, pemerintah dan birokrat bisa saja membuat kesalahan. Akan tetapi, bukan berarti kita bisa mengkritik dan mengecam mereka begitu saja tanpa memikirkan apa yang harus dilakukan sebagai solusi alternatifnya. Pemikiran yang demikian dapat melemahkan negara serta mengurangi wibawa bangsa di hadapan pandangan dunia internasional. Bahkan bisa membuka jalan dimana pengaruh negara pun akan sirna. Misalnya, dari segi geografis, negara kita yang memiliki letak strategis, di tengah-tengah pergolakan politik yang sedang terjadi di lingkungan sekitar kita, andaikata negara kita sedikit lebih kuat lagi, tentunya dapat menyatukan negeri-negeri di Asia Tengah untuk mendukung kita menjadi pusat dan dengan satu langkah dapat menyatukan mereka sebagai partner kita. Bahkan negara kita pun dapat mengumpulkan negara-negara Islam dalam satu kesatuan.

Bukankah kejayaan masa lalu telah membuktikan bahwa ia pernah terwujud? Alpaslan, Fatih, Yavuz, bukankah mereka muncul dengan reputasi kuat serta menjadi harapan bagi setiap anak bangsa? Bukankah mereka sebagian besar berhasil menjawab harapan tersebut dengan hasil yang positif?

Ya, kita tidak memiliki hubungan dengan mereka yang memburu perhitungan-perhitungan keliru. Kita sedari awal hingga saat ini, kadang dengan tangisan kadang dengan senyuman, tetapi dari bibir kita senantiasa terangkai senyuman yang berasal dari harapan; kita senantiasa berusaha keras dengan semangat dari kejayaan masa lalu yang mengitari takdir bangsa kita. Agar guncangan baru tidak lagi muncul dan menimpa bangsa serta negara, kita telah menunjukkan kehati-hatian ekstra dalam menjaga kalbu kita. Dalam menghadapi bahaya yang mengancam, kita senantiasa meneliti langkah apa saja yang harus kita ambil. Dan kepada mereka yang bertahun-tahun dari kampung ke kampung, dari desa ke desa, senantiasa membuntuti serta berbuat keburukan kepada kita, yang bisa kita katakan adalah:

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS Al Isra 84)

Terhadap mereka yang menggunakan kuasa negara untuk mengganggu, kami tidak pernah kecewa ataupun marah kepada negara dan bangsa kami.

Ya, terkait pembahasan ini, keseimbangan adalah hal yang sangat penting. Sedangkan pada hari ini, menurut saya terdapat banyak kesalahan dilakukan di lahan ini. Padahal sebagaimana telah kami berikan contohnya di awal pembahasan, betapa besarnya laku tersebut dalam memberikan efek kerusakan dan komplikasi yang tak dapat kita perkirakan dampaknya di mana kekuatan kita rasanya tak akan cukup untuk memperbaiki walau hanya satu bagiannya saja.

Pendekatan ini bisa jadi meresahkan sebagian dari mereka yang memiliki penampakan radikal. Akan tetapi, menurut saya pembahasan ini cukup lembut. Sebenarnya saya tidak pernah menginginkan sebagian kaum muslimin tersinggung. Namun, di hadapan kita terdapat banyak pemahaman Islam. Mereka berkata “saya Muslim”, tetapi di tangannya terdapat bom, sementara di pinggangnya terdapat senjata untuk melukai orang lain di tengah jalan. Betapa sulitnya memahami dan mempertemukan pemandangan tersebut dengan agama Islam. Tentu saja tidak mungkin bagi kita untuk dapat menyenangkan semua pihak. Dari sudut tersebut, saya secara pribadi khawatir pembahasan ini disalahgunakan ataupun ditafsirkan secara keliru. Walaupun demikian, menjelaskan kebenaran dan hakikat adalah tugas kita.

Kesimpulannya, segala sesuatu harus ditunaikan di dalam peraturan yang melingkupinya. Ketika kita mengatakan “mari membangun: maka kita harus senantiasa menunjukkan perhatian pada uslub untuk tidak mendahulukan kritik dan kecaman. Dengan mengambil pelajaran dari masa lalu, kita tidak boleh jatuh ke dalam kekosongan logika; Bangsa dan negara tak boleh dikorbankan demi kepentingan rasa untuk berpetualang.

[1] Diterjemahkan dari artikel berjudul “Eleştiride Üslûb” di buku Prizma 1, bisa dilihat di laman https://fgulen.com/tr/fethullah-gulenin-butun-eserleri/132-Prizma/11570-fethullah-gulen-elestiride-uslub

faye-cornish-Uq3gTiPlqRo-unsplash

Mengapa Kita harus memiliki budi pekerti yang luhur?

“Mengapa Kita harus memiliki budi pekerti yang luhur?”

Tidaklah ayah dan ibu meninggalkan warisan yang lebih baik daripada budi pekerti yang luhur (HR Tirmizi)

Tidak ada agama ataupun sistem kehidupan yang memberikan perhatian terhadap budi pekerti sebesar Islam . Baginda Nabi bersabda: “Islam artinya Budi Pekerti yang luhur”. Memiliki budi pekerti yang luhur adalah cara terbaik mengejewantahkan identitas kita sebagai seorang muslim.
Ada banyak sabda Nabi yang memotivasi kita untuk memiliki budi pekerti luhur. Misalnya:
1. Di antara kaum mukminin yang paling mantap imannya adalah yang paling baik akhlaknya.
2. Di antara kalian yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di hari kiamat adalah kalian yang budi pekertinya paling luhur.

Berikut adalah alasan mengapa kita harus berbudi pekerti luhur:
1. Karena agama kita selain memberi perhatian besar kepada ibadah ia juga memberi perhatian besar kepada hubungan antar manusia. Mereka yang tidak memiliki budi pekerti yang luhur tidak mungkin dapat dikatakan telah menjalankan agama dengan sempurna.
2. Karena Nabi kita juga menjadi representasi dari budi pekerti yang luhur. Untuk bisa menjadi seorang calon penghuni surga, diharuskan memiliki budi pekerti yang luhur.
3. Karena seorang mukmin yang dapat meraih kedalaman dalam ibadahnya dengan budi pekerti yang luhur. Nabi bersabda:”Seseorang berkat budi pekertinya yang luhur dapat meraih derajatnya mereka yang melakukan ibadah malam serta kemuliaannya mereka yang menahan haus di siang yang terik.” Hadis ini hendaknya dipahami dengan tepat, yaitu dengan budi pekerti yang luhur maka segala ibadah yang dilakukan oleh seseorang dapat meraih maknanya yang sempurna
4. Karena budi pekerti yang luhur adalah tanda cinta kita kepada Allah dan kekasihnya, yaitu rasulullah.
5. Karena di belahan bumi dimana kita tidak memahami bahasa dan kultur setempat, satu-satunya bahasa yang dapat kita andalkan untuk bisa bertahan dan diterima di masyarakat tersebut adalah budi pekerti yang luhur.

Nabi Muhammad sebagai prasasti kesopanan

• Sabda nabi: yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya. Hadis ini memberi pesan kepada kita bahwasanya berbudi baik kepada kawan kita adalah sebuah pekerjaan mulia
• Di waktu lainnya, Nabi kita memberi kabar gembira kepada para sahabat bahwasanya di surga terdapat istana dimana mereka yang di dalamnya dapat melihat mereka yang di luar istana, sedangkan mereka yang di luar istana dapat melihat apa isi di dalam istana. Seorang badui yang mendengar kabar ini bertanya: buat siapakah istana tersebut ya Rasulullah? Rasul menjawab: istana tersebut diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kesopanan serta mereka yang senantiasa berbicara dengan kata-kata yang manis
• Salah satu sahabat terdekat nabi, Anas bin Malik berkata:”Saya mengabdi kepada Rasulullah selama 10 tahun. Selama itu beliau tidak pernah mengeluhkan saya. Beliau tidak pernah mengkritik apa yang saya lakukan ataupun apa yang tidak saya lakukan. Karena beliau adalah sebagik-baik pemilik budi pekerti yang luhur.

Apa saja yang termasuk dalam budi pekerti yang luhur:
• Tidak berkata hal-hal yang tidak perlu
• Tidak mempermalukan seseorang atas kesalahan yang diperbuatnya
• Memberi perhatian besar pada kebiasaan saling memberi hadiah
• Senantiasa menyenangkan orang-orang yang membutuhkan
• Senantiasa berada di tengah-tengah masyarakat

popularity

Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas

“Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas”

Said Baru sebagaimana Said Lama, betul-betul menolak, tidak pernah dan tidak akan pernah mau menerima penghormatan kepada dirinya; tidak akan pernah mau mencari perhatian kepada dirinya, serta tidak akan pernah mau mencari popularitas dan kemuliaan.

Lampiran Emirdag, 1/117

Penjelasan

Bagian ini diambil dari salah satu bab pada buku Lampiran Emirdag dan buku Tarihce Hayati di bagian Kehidupan di Emirdag, tepatnya di artikel yang berjudul “Tiba-tiba diperingatkan; Aku pun terpaksa menulis”.

Lewat topeng komite rahasia yang dipegang oleh pihak asing dimana benang-benangnya terhubung pada orang-orang tak beragama, untuk meruntuhkan pengaruh pengabdian kepada iman dan Al Quran, mereka secara terang-terangan menghina dan mencaci-maki Ustaz guna menghapuskan atensi dan perhatian masyarakat kepada pengabdiannya. Ustaz pun menyatakan bahwasanya dirinya memang tidak menginginkan atensi dan perhatian tersebut. Ustaz memberi tahu bahwasanya pengabdiannya ini merupakan pelindung dari usaha-usaha anarkis dari pihak luar yang berusaha masuk ke tanah airnya. Ustaz memberi tahu bahwa pengabdiannya ini merupakan titik pondasi terbesar dari rasa cinta kepada tanah air, serta bahwasanya ia berusaha mencetak rasa cinta kepada dunia Islam yang memiliki penduduk jutaan jiwa di tanah airnya.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Sumber: Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 12