Mengembangkandiri.com (17)

PENGELOLAAN TUGAS DAN KEHIDUPAN BERKELUARGA

Ditulis oleh Fethullah Gülen Diterbitkan pada Kendi Yang Retak.

Pertanyaan: Selain tugasnya sebagai Rasulullah dan pemimpin negara, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam  juga memiliki peran sebagai seorang ayah, suami, serta teman terdekat bagi para Sahabat-nya. Beliau membagi waktunya dengan sangat adil antara peran-peran tersebut hingga tidak ada seorangpun yang haknya terlanggar. Karena itu, bagaimanakah seorang mefkure insanı[1] seharusnya mengelola waktu mereka sehingga dapat menciptakan suatu keseimbangan dalam memenuhi hak-hak setiap orang atas dirinya?

Jawaban: Pengelolaan waktu artinya adalah mengetahui segala sesuatu yang harus dilakukan, menentukan urutan kepentingannya, dan merencanakan kegiatan sehari-hari berdasarkan hal tersebut. Hal ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga peribadatan kita semisal shalat, dzikir dan do’a juga termasuk di dalamnya. Begitu juga kewajiban terhadap orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita semisal keluarga dan anak-anak, hal-hal tersebut haruslah kita perhatikan.

Sebagai contoh, seseorang yang beriman tidak boleh meninggalkan ibadah malamnya dengan alasan telah atau akan melakukan pelayanan sepanjang hari. Seseorang yang benar-benar beriman haruslah tetap melakukan ibadah di malam hari  meskipun hanya berupa dua rakaat shalat. Seseorang yang bangun di malam hari dan menyisihkan 10-15 menit untuk shalat tahajud dan berdo’a pada Allah tidak akan kehilangan apapun dalam pelayanannya, bahkan sebaliknya akan mendapatkan banyak hal; karena orang yang menggunakan malam harinya untuk beribadah dihitung sebagai seseorang yang menapakkan kakinya pada jalur kebangkitan. Ibadah malam merupakan salah satu amal  perbuatan yang sangat dibanggakan di Mele-i âlâ[2]. Mendekatkan diri kepada Allah dengan bersujud dan merendahkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa sembari meneteskan beberapa tetes air mata dalam keheningan malam merupakan suatu bentuk kesalehan yang tak dapat dibandingkan dengan perbuatan  apapun di waktu yang lain. Oleh karena itu, ibadah malam tidak boleh ditinggalkan ketika seseorang merencanakan kegiatan dalam mengisi umur kehidupannya.

Berikan pada Setiap Orang Hak Mereka!

Sebagaimana seseorang tidak boleh mengabaikan ibadah yang menyuburkan hati dan jiwa mereka, mereka juga harus memenuhi setiap kewajiban yang harus dipenuhi dalam kehidupan sosial yang mereka jalani. Hal-hal tersebut harus dimasukkan dalam suatu skala prioritas dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Sebagaimana yang telah kita ketahui, berkenaan dengan seorang Sahabat yang meninggalkan keluarganya untuk beribadah, Rasululloh Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda: “Jiwamu mempunyai hak atas dirimu, keluargamu punya hak atas dirimu, begitu pula Allah Subhanahu Wa Ta’ala  juga punya hak atas dirimu, maka berikanlah pada masing-masing dari mereka haknya.”[3]Sebagaimana yang dapat dipahami dari hadits ini, bahkan ibadah kita pun jangan sampai menelantarkan hak-hak mereka yang memiliki hak terhadap kita, seperti pasangan, anak-anak, dan juga termasuk diri kita sendiri.

Shalat lima waktu yang ditugaskan pada waktu tertentu dalam satu hari memberikan pelajaran yang berharga pada orang yang beriman mengenai pengelolaan waktu. Ayat yang berhubungan dengan kebijaksanaan dalam penciptaan malam dan siang juga memberikan petunjuk mengenai hal ini. Dinyatakan dalam surat al-Qasas:

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّیْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِیهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

’’Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam hari dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (Al-Qasas 28:73).

Melalui ayat ini dan ayat-ayat lain yang serupa, Al-Qur’an menuntun kita dalam pengelolaan waktu dan memberikan kita pesan berikut: jika kita menjalani hari-hari kita dengan teratur, melakukan apa yang perlu dilakukan dalam waktu yang tepat setiap harinya,  serta memanfaatkan dengan baik setiap waktu di siang dan malam hari yang dianugerahkan kepada kita, maka kita akan terselamatkan dari kehidupan yang serampangan, akan terhalang oleh rintangan yang muncul akibat kurangnya perencanaan, dan pada akhirnya kita akan memiliki kehidupan yang lebih produktif.

Merencanakan Dua Puluh Empat Jam Kita

Agar dapat disiplin dan efisien dalam menggunakan waktu, kita bisa menuliskan rencana kita dalam menggunakan 24 jam yang kita punya setiap harinya. Hal ini dilakukan dengan merencanakan waktu untuk berkumpul bersama teman, waktu untuk berbicara dengan orang-orang yang kita cintai, waktu untuk membaca buku sendirian, waktu untuk membersihkan kamar kita, waktu untuk berzikir, waktu untuk mengaji serta menghafal Al Quran, waktu untuk berdiskusi dengan pasangan dan juga anak-anak kita, hingga akhirnya datang waktu untuk beristirahat dan merencanakan kembali hal apa yang akan dikerjakan esok hari dengan jelas. Bahkan waktu yang akan digunakan untuk minum teh atau makan haruslah dimasukkan dalam rencana pengelolaan waktu ini. Sebagai contoh, jika 20 menit cukup untuk makan, seseorang haruslah menggunakannya dengan efisien dan tidak menggunakannya untuk mengobrol kesana kemari. Bahkan merupakan hal yang penting untuk menyediakan waktu darurat dalam perencanaan 24 jam kita sehingga faktor-faktor eksternal yang tiba-tiba muncul tidak merusak program harian kita.

Dari hal yang penting ke hal yang tidak terlalu penting, jika segala sesuatu dapat direncanakan dan dilakukan dengan pendekatan tersebut, maka waktu kita akan lebih produktif dan hasil yang diperoleh akan meningkat dari satu menjadi sepuluh kali lipat. Ketika kehidupan seseorang bisa menjadi seperti itu, maka ke depannya orang tersebut akan menjadi orang disiplin yang sukses, terbiasa bekerja sesuai program dan penuh motivasi, orang tersebut akan mampu melakukan apa yang perlu dilakukan tanpa kesulitan berarti. Namun, Jangan sampai hal ini disalahartikan bahwa program-program tersebut akan membuat kita menyerupai mesin atau robot. Bahkan sebaliknya, seseorang yang disiplin dan menjalani hidup yang sangat teratur tidak akan melewatkan ibadah personal maupun tugas-tugas pekerjaannya serta tidak akan melanggar hak-hak orang lain atas dirinya.

Meyakinkan Orang-orang yang Berjalan Bersama Kita

Hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam hal pengelolaan waktu adalah seseorang haruslah mengungkapkan rencana mereka pada orang-orang yang ada dalam hidupnya, yang memiliki hak atas dirinya, mempelajari pemikiran dan pandangan mereka, kemudian meyakinkan mereka baik pikiran maupun perasaannya akan pentingnya kewajiban yang dia miliki. Seiring dengan hak pasangan, anak dan orang tua, penting untuk menjelaskan sejelas mungkin bahwa Allah, agama dan Al-Qur’an juga mempunyai hak atas diri seseorang. Jika seseorang dapat mempertahankan kesepahaman mengenai masalah ini dengan orang-orang di sekitarnya, maka hal ini akan memungkinkan terlaksananya tugas-tugas yang harus dilakukan  tanpa adanya hambatan yang disebabkan perkataan dan respon negatif dari lingkungan keluarga, ataupun orang-orang terdekat kita.

Bayangkan seseorang yang telah meyakinkan dirinya bahwa dia harus mengorbankan satu bagian penting dari waktunya untuk mengagungkan nama Allah dan memiliki keyakinan yang kuat mengenai hal ini. Bayangkan orang tersebut adalah orang yang telah menginternalisasi idealisme ini hingga dalam menunaikan memenuhi tugasnya dia rela mengorbankan segala sesuatu yang sebenarnya juga adalah haknya. Namun, jika mereka yang berbagi kehidupan bersama orang tersebut tidak menyadari hak Allah dan urgensi menggemakan Nama-Nya di seluruh penjuru dunia, tidak memahami fakta bahwa agama ini merupakan warisan yang dipercayakan pada kita dan memerlukan usaha yang konsisten untuk memperjuangkannya, serta tidak memahami pentingnya tugas untuk mengembalikan benteng spiritual yang telah rusak selama berabad-abad, dari esensi hingga detail-detailnya, maka mereka tidak akan mau berjalan bersama dirinya. Orang tersebut, karena hal ini, perlu memberikan suatu usaha ekstra untuk dapat berjalan bersama mereka. Kalau tidak, hal ini akan menghasilkan suatu kelelahan dan kejenuhan dalam perjalanan kehidupannya.

Jika orang tersebut dapat membuat mereka percaya pada idealisme yang dia miliki, kemudian bisa berbagi perasaan dan pemikiran yang sama, serta mampu  menggugah perasaan untuk memperjuangkan pelayanan yang dia lakukan, maka dia akan benar-benar dimudahlan dalam penunaian tugas dan pengelolaan waktunya. Ketika dia tidak memenuhi kewajiban yang harusnya dia penuhi, misalnya dia tidak menghadiri sebuah rapat atau program baca buku yang harusnya dia hadiri, dia akan memperoleh teguran pertama kali dari orang-orang tersebut (dari istri atau ibunya), hal yang akan menjadi penguat motivasi bagi dirinya.

Sebaliknya, jika pasangan kita, anak-anak kita atau orang lain yang hidup bersama kita tidak memahami pengelolaan tugas yang kita miliki serta urgensi dalam melaksanakannya, maka munculnya suatu konflik dalam pemikiran dan perasaan tidak dapat terhindarkan, dan hal ini dapat menghambat pertolongan Allah untuk diri kita, karena petunjuk Yang Agung  serta pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  datang dari persatuan dan kesatuan. Jika kau berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala  akan menyukseskanmu, kamu pertama-tama harus menjaga kesatuan dan persatuan dengan orang-orang di sekitarmu, tak peduli bagaimanapun keadaannya.

Mengorbankan Waktu Extra untuk Hizmet

Hal lain yang mesti diperhatikan di sini adalah durasi dari waktu yang kita alokasikan untuk penunaian idealisme luhur ini. Jika seseorang dengan serius menyisihkan tujuh hingga delapan jam untuk bekerja menggunakan logika pekerja biasa, apa yang akan dia lakukan untuk idealisme hizmetnya akan terhambat oleh sempitnya logika tersebut. Jika seseorang mengemban tiga hingga empat tanggung jawab untuk idealismenya dan jika mengerjakannya membutuhkan waktu sekitar 13-15 jam, maka orang tersebut harus mencoba memenuhinya dengan suatu manajemen tugas yang lebih efektif. Perlu dipertimbangkan bahwa di satu sisi dia harus menyerahkan waktunya sebanyak mungkin untuk menghambakan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala  tanpa membuang satu detik pun dari waktunya, namun di sisi yang lain dia juga harus berusaha untuk menggunakan waktunya seefektif mungkin dengan menentukan apa yang harus dia selesaikan dalam suatu urutan skala prioritas tertentu.

Khususnya pada zaman sekarang ini, seiring dengan adanya tugas untuk memperbaiki benteng spiritual yang telah rusak selama berabad-abad, orang-orang yang memutuskan untuk melayani Al-Qur’an dan keimanan harus memberikan pengorbanan yang lebih dari pengorbanan yang telah dilakukannya selama ini dan harus bekerja lebih giat lagi. Mereka haruslah membuat suatu resolusi dalam bekerja yang harus dilaksanakan dengan konsisten. Sebagai contoh, seseorang berkata bahwa dia dapat meluangkan 12 jam sehari untuk melayani masyarakat, orang yang lain mengambil tugas 13 jam sehari dan yang lain berjanji untuk bekerja 14 jam di jalan Allah setiap harinya. Secara singkat, barang siapa dengan kerelaan hati  meyakinkan diri untuk menginfakkan berapapun jumlah waktu yang dimilikinya untuk menyelesaikan suatu tugas, dia akan merancang dan menggunakan waktu tersebut dengan orientasi Hizmet dan berusaha keras untuk memenuhinya secara konsisten. Hal ini merupakan suatu pemahaman yang dimiliki orang-orang yang benar-benar beriman. Jika konsep bekerja ini tidak dilakukan, berarti aspek pengamalan Islam yang satu ini tidak dipahami dengan baik.

Meskipun mampu melakukannya, jika sejumlah orang tidak menginfakkan waktunya untuk melayani iman sesuai yang diharapkan dari mereka, maka mereka sangat perlu untuk diyakinkan kembali. Merupakan hal yang amat penting untuk mencapai suatu kesepahaman dengan orang-orang tersebut mengenai masalah ini. Namun, tak seorang pun boleh membuat pelanggaran akan suatu hak setelah adanya kesepakatan atas sebuah topik tugas. Setiap orang haruslah sangat teliti dalam memenuhi kewajibannya, hingga dengan pasangan dan anak-anaknya mereka tidak saling melanggar hak masing-masing; begitu juga dengan yang terjadi antara pekerja dan atasannya, tidak boleh ada ketidakadilan dan tidak boleh ada kewajiban yang terlanggar.

Ketika berbicara tentang jam kerja, jika kita bertindak dengan logika pekerja yang lebih sederhana, yaitu memanjakan diri setelah tujuh hingga delapan jam kerja, makan dan jalan-jalan sesuka hati, atau duduk diam menghabiskan waktu, atau sibuk menikmati hiburan dan games, atau bahkan ikut serta dalam suatu aktivitas duniawi yang merusak, maka kita sebenarnya tidak memahami betapa pentingnya  masalah ini. Seseorang yang berkelakuan dan bermental seperti itu tidak akan mampu untuk bahkan melakukan sepersepuluh dari apa yang seharusnya dia lakukan untuk kebaikan  umat manusia. seseorang dengan pemahaman yang semacam  itu tidak akan  ragu untuk berlibur ataupun pulang kampung kapanpun  ia inginkan. Ia justru akan pergi ketika ada suatu permasalahan penting yang harus diselesaikannya, hingga akhirnya mengacaukan tanggung jawab krusial yang sedang menunggunya.

Ini bukanlah suatu pemahaman akan penunaian tugas yang diharapkan dari seorang relawan Hizmet. Mereka mencoba untuk memenuhi tanggung jawab mereka dalam melayani keimanan, dan mereka tidak akan pergi di tengah jalan saat melaksanakan tugas yang telah mereka mulai. Begitu juga, ketika mereka gagal untuk memperhatikan hak-hak pasangannya, anak-anaknya dan keluarganya, mereka akan segera memperbaikinya, mencoba untuk memperoleh kembali hati dari orang-orang yang berpikir bahwa mereka telah ditelantarkan. Sebagai contoh, kadang mereka datang di hadapan mereka dengan sepaket bunga mawar, menjelaskan alasan kenapa mereka terlambat dan ketika datang suatu kesempatan mereka langsung memenuhi janji-janji yang mereka punya, serta mengganti kesalahan dan keteledoran yang dilakukan tanpa disengaja.

Karena itu, pasangan harus bertindak dengan penuh toleransi terhadap satu sama lain pada keterlambatan yang diakibatkan oleh penunaian beberapa tugas yang perlu untuk dipenuhi. Janganlah sampai terlupakan bahwa selama masa penantian tersebut, setiap jam, menit dan bahkan detik akan dihitung sebagai pahala ibadah bagi mereka yang sabar menunggu; tentu saja, penantian tersebut merupakan suatu pengorbanan yang serius. Setiap pasangan tentulah saling membutuhkan satu sama lain. Ada hal-hal yang perlu utuk didiskusikan bersama pasangan. Meskipun memerlukan kehadiran pasangan di rumah, detik-detik dari seorang yang beriman yang digunakan untuk menunggu pasangan yang sedang bekerja dalam rangka melayani iman tanpa disadari dapat menjadi tahun-tahun penghambaan yang berharga karena nilai dari niat seorang yang beriman jauh lebih baik daripada perbuatannya. Sembari pasangannya sibuk dengan perbuatan yang penuh kebajikan dia memberikan dukungan baik material maupun spiritual pada pasangannya tersebut, kemudian dengan izin Allah, mereka berdua menjadi sosok-sosok yang berhak atas  pahala agung dikarenakan kesabaran dan amalan-amalan lainnya tersebut.

Referensi :

[1] Manusia  yang mempertimbangkan idealisme tinggi.

[2] Majelis agung tempat dimana ruh para nabi-nabi dan para malaikat agung berada.

[3] Sahih al-Bukhari, Adab, 86.

Mengembangkandiri.com (2)

BERJALAN DI TAMAN SURGA

Ditulis oleh Fethullah Gülen Diterbitkan pada Makalah.

Mataku terpejam, ku bayangkan masa depan bahagia kan terbentuk di “tanah harapanku”. Keindahan di setiap jenis yang keluar dari sudut eksistensi yang berlari melalui rumah-rumah dan jalanan, juga melalui lembaga-lembaga pendidikan dan sholat kita. Merefleksikan kembali pada kamar-kamar di dalam rumah kita, mereka adalah sampul kita yang dibanjiri cahaya. Dikombinasikan dengan warna, cahaya ini membentuk pelangi, yang ketika saya berjalan di bawahnya terus-menerus men-set-up mata dan jiwa saya sebagai lengkungan dari kebahagiaan akhirat. Meski kita berada di lapisan kedua di bawah lengkung buatan manusia, tampaknya kita tidak mungkin melewati bagian bawah lengkung surgawi (naik) atas kita. Saat kita berjalan di bawahnya, kita merasa bersatu dengan semua kehidupan kita dalam aliran tanpa batas dari sebuah eksistensi. Mengalir kembali pada hiburan yang kita tonton setelah berhenti sejenak pada kedua sisi untuk menyapa kita, dan kemudian diganti dengan yang baru. Kita terpesona dengan aliran baru yang datang dari kesenangan material dan keintiman antara mereka dengan kita.

Pepohonan bergoyang lembut bersama angin, bukit berwarna hijau dan bercahaya, domba merumput di sini dan melompat ke sana kemari sambil mengembek, dan desa-desa di lereng-lereng, dataran-dataran dan lembah berserakan. Kita amati dengan riang bagaimana semua ini berkontribusi pada keharmonisan universal, dan komentar yang satu ini tidak akan cukup mampu bagi usia kita untuk dapat menghirup semua kesenangan ini. Warna-warni lampu dan suara, aktif melompat dari perasaan eksistensi, yang tercermin dalam dunia emosi kita. Kita merasa seolah-olah kita mendengarkan lirik yang terdiri dari lamunan kenangan manis yang mengalir dalam gelombang. Kita telah menyerap luas Kitab Alam, yang membangkitkan dalam diri kita kesenangan spiritual Surga dan Bumi beserta semua isinya. Buku ini mengisi kita dengan kenikmatan dan kegembiraan yang tak terlukiskan, dan mengangkat kita ke alam yang lebih tinggi dari keberadaan.

Setiap musim baru, kita menemukan diri kita seolah-olah terbangun dari tidur kematian dan menghadapi berbagai warna yang berbeda mulai dari ungu ke hijau. Kita serasa membelai angin untuk menebarkan aroma bunga, buah-buahan dan biji-bijian telinga. Ini kacamata luar biasa, yang tersimpan di dalam rasa jiwa keindahan, bahkan untuk memberikan beberapa bantuan mereka pesimis selalu melihat segala sesuatu melalui jendela jiwa yang gelap dan kewalahan dengan pikiran yang jahat dan penuh kecurigaan. Sebagai orang yang beriman, waktu mengalir di dalam mereka dan melodi hidup bergema di setiap sel mereka. Pagi hari datang kepada mereka dengan lagu-lagu lembut bak angin bertiup melalui daun pohon, sungai bergumam, burung berkicau, dan teriakan anak-anak. Matahari terbenam di cakrawala mereka, membangkitkan di dalamnya perasaan memiliki yang berbeda dari cinta dan kegembiraan. Malam membawa mereka, di berbagai lapangan musik, melalui terowongan waktu misterius dan kacamata alam yang paling romantis.

Setiap tontonan yang kita amati dalam cakrawala keyakinan dan harapan, dan setiap deru suara yang kita dengar, Menghapus dari jiwa kita dan membawa kita melalui semua kerudung waktu lembah yang bercahaya dan lembut, murni dan tenang, menyenangkan firdausnya dimanapun tak terhingga. Kedamaian ini menarik kita ke dunia tarik-menarik, setengah terlihat, setengah tidak, yang telah lama kita tonton dengan mata hati kita, seolah-olah itu dari balik tirai renda. Pada titik ini, ketika roh terpesona dengan kesenangan, mengamati, lidah diam, mata terpejam, dan telinga tak lagi menerima suara. Semuanya menyuarakannya dengan lidah hati. Pikiran murni dan ungkapan perasaan sukacita dan kegembiraan menyelimuti sebagian orang, dan dalam menghadapi kacamata yang seperti menyilaukan itu, semangat merasa seolah-olah berjalan diantara kebun surga.

mengembangkandiri.com (7)

MENGIRINGI DAKWAH DENGAN DO’A

DITULIS OLEH: MUHAMMAD FETHULLAH GÜLEN HOCAEFENDI

Berdo’a merupakan tugas utama yang harus senantiasa dilakukan oleh seorang da’i, karena berdo’a adalah sarana yang paling utama untuk berhubungan dengan Allah Swt. Masalah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama para nabi dan da’i, karena untuk memberi petunjuk kepada manusia tidaklah mudah, dan kewenangannya hanya di tangan Allah Swt. Dia yang berhak memberi petunjuk atau kesesatan bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Jadi, manusia, siapa pun, tidak berwenang memberi petunjuk atau memberi kesesatan kepada siapapun. Tentang masalah ini, Allah Swt telah berfirman, “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu),” (QS al-Furqân [25]: 77).

Kesimpulannya, setiap mukmin, khususnya para nabi dan da’i, harus rajin memohon kepada Allah Swt untuk diberi kemudahan membuka pintu hati para pendengarnya. Adakalanya, karena do’a seorang yang mukhlis, banyak orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt lebih dari yang diberi ceramah. Sehingga, do’a mempunyai kekuatan bagai sihir yang dapat memengaruhi hati orang banyak. Selain itu, do’a juga menjadi senjata orang mukmin dan benteng yang paling ampuh baginya, baik di masa lalu maupun di masa kini. Karenanya, setiap da’i harus rajin memohonkan petunjuk kepada Allah Swt bagi umatnya sebelum ia berdakwah; kemudian, setelah itu, ia berdakwah semampunya. Dengan kalimat yang lebih sederhana, dapat dikatakan di sini bahwa setiap da’i harus berdo’a, menggunakan cara-cara yang masuk akal, sederhana, menarik, dan menimbulkan simpati agar dakwahnya bisa diterima oleh orang banyak.

Rasulullah Saw. telah berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan dakwahnya kepada kaumnya dengan berbagai cara, tetapi beliau tidak pernah terlepas dari berdo’a. Disebutkan bahwa beliau Saw. pernah berdo’a memohon pertolongan Allah Swt agar hati ʿUmar bin Khattab dibuka untuk masuk ke dalam Islam. Do’a beliau Saw. diterima; tidak lama setelah itu, Umar diberi petunjuk oleh Allah Swt untuk masuk Islam.

Disebutkan bahwa pada suatu hari, Abu Hurairah meminta do’a dari Rasulullah agar hati ibunya dibuka sehingga mau menerima Islam. Dalam sebuah riwayat yang lain, disebutkan bahwa Abu Hurairah ra. berkata, “Pada suatu hari, aku mengajak ibuku masuk ke dalam Islam, ketika ia masih sebagai wanita musyrik. Namun, ia mengata-ngatai Islam, sehingga aku datang kepada Rasulullah Saw. seraya menangis, “Ya Rasulullah Saw., tadinya aku mengajak ibuku masuk ke dalam Islam, tetapi ia menjelek-jelekkan Islam. Karena itu, do’akan semoga ibuku mau masuk Islam.” Kemudian, Rasulullah Saw. berdo’a, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada ibunya Abu Hurairah.” Kemudian, aku keluar pulang ke rumahku untuk mengabarkan kepada ibuku tentang do’a beliau baginya. Namun, anehnya, ketika aku tiba di depan pintu rumahku, aku lihat pintu rumahku tertutup. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, ia berkata, “Tunggulah sebentar, wahai Abu Hurairah.” Aku mendengar ia sedang mandi; setelah itu, ia memakai baju dan kerudung, kemudian ia membuka pintu seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi juga bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kata Abu Hurairah, “Kemudian aku kembali ke tempat Rasulullah Saw. sambil menangis atas keislaman ibuku.”

mengembangkandiri.com (6)

SELARASKAN QALBU DENGAN Al-QUR’AN

DITULIS OLEH: MUHAMMAD FETHULLAH GÜLEN HOCAEFENDI

Jika seorang da’i ingin berhasil dalam usaha dakwahnya, maka hendaklah ia menyesuaikan qalbunya seiring dengan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Sebab, hubungan antara qalbu dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Sunnah sangatlah dekat. Dengan kata lain, Al-Qur’an ini sangat erat hubungannya dengan qalbu yang bersih dan sadar diri. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mau menggunakan fungsi akalnya, atau yang mau menggunakan pendengarannya, sedang ia menyaksikannya” (QS Qâf [50]: 37).

Al-Qur’an adalah kitab suci yang Allah Azza wa Jalla turunkan bagi umat Islam. Di dalamnya mengandung berbagai petunjuk, nasihat yang baik, dan sekaligus peringatan. Syarat utama agar bisa meresapi seluruh kandungan Al-Qur’an ke dalam sanubari adalah qalbu kita harus terbuka atau bersedia menerima ajaran Al-Qur’an. Oleh karena itu, setiap pembaca Al-Qur’an hendaknya memusatkan pandangan dan pendengarannya kepada kandungan Al-Qur’an.

Bahkan, sangat dianjurkan agar ia menfokuskan seluruh perhatian kepada isi Al-Qur’an. Karena, tidak mungkin seseorang dapat mengambil pelajaran dari Al-Qur’an jika ia juga bersedia menerima petunjuk dari sumber yang lain atau mengikuti jalan yang bertentangan dengan jalan yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an. Sebab, siapa saja yang perhatiannya tidak sejalan dengan ajaran Al-Qur’an, maka ia tidak akan menikmati ketinggian nilai mukjizatnya. Bahkan, ia akan berani menyamakan Al-Qur’an dengan ucapan manusia biasa dalam perlakuannya terhadap Al-Qur’an. Siapa pun yang menilai Al-Qur’an dengan penilaian seperti itu, maka ia tidak akan bisa mengamalkan ajaran Al-Qur’an, meski ia banyak berbicara tentang Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an sendiri menyatakan sebagai berikut: “Alîf lâm mîn, Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS al-Baqarah [2]: 1-2).

Kitab suci Al-Qur’an berisikan firman-firman Allah Swt., Tuhan seluruh alam semesta. Di dalamnya tidak ada yang perlu diragukan, dan kitab tersebut tidak dapat memberi petunjuk apa pun, kecuali kepada orang-orang yang bertakwa hanya kepada-Nya.

Dari penjelasan firman Allah di atas, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah manusia yang paling mulia, dan mereka paling mengerti dengan syari’at Islam yang sangat cocok dengan fitrah manusia. Perlu diketahui pula bahwa seseorang yang tidak peduli dengan ajaran Al-Qur’an, maka ia bukanlah orang yang bertakwa, karena qalbunya tidak dapat menerima petunjuk apa pun dari Al-Qur’an. Bahkan, qalbunya telah tertutup rapat (mati), sehingga tidak dapat melihat kebenaran Al-Qur’an. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an berikut ini: “Dan orang-orang yang beriman bertanya, mengapa tiada diturunkan suatu surah?” Maka apabila diturunkan suatu surah yang jelas maksudnya, dan disebutkan di dalamnya perintah berperang, maka akan engkau lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam qalbunya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati. Dan kecelakaanlah bagi mereka” (QS Muhammad [47]: 20).

Bagaimana pendapat Anda jika seorang yang sedang tidak sadarkan diri akibat ketakutan mampu mengerti ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya? Tentu, tidak mungkin sama sekali. Akan tetapi, seorang yang sanubarinya terfokus dan peduli kepada ajaran Al-Qur’an, maka ia akan mampu memerhatikan segala kejadian yang ada di alam semesta ini sebagai ciptaan Allah Swt. Sebaliknya, jika seseorang tidak dapat memerhatikan segala kejadian yang ada di alam semesta ini sebagai ciptaan Allah, maka ia tidak akan bisa menerima petunjuk apa pun yang bersumber dari Al-Qur’an.

Jika kita tinjau masalah ini dari sisi yang sedikit berbeda, maka dapat kita simpulkan bahwa ketika seorang da’i ingin berhasil dalam dakwahnya, maka hendaklah sanubarinya selalu disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an. Apabila ia mampu menyesuaikan sanubarinya dengan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an, maka dijamin ia akan berhasil dalam dakwahnya. Jika sebaliknya, maka usaha dakwahnya akan mengalami kegagalan. Karena, seorang da’i akan mampu mengambil pelajaran dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an, jika ia bisa menyatukan qalbunya dengan tuntunan Al-Qur’an. Sehingga diharapkan ia akan bisa menjadi seorang yang mempunyai sanubari lembut, bersih, penuh kasih sayang yang mulia, dan berbagai sifat terpuji lainnya. Lalu ia akan menjadi seorang Mukmin yang sejati.

Segala perwujudan dari sifat orang yang bersikap ingkar pada masa sekarang ini tidak selalu menunjukkan bahwa ia sebagai seorang yang kafir. Demikian pula halnya dengan sifat orang beriman yang tidak selalu menunjukkan bahwa ia sebagai orang yang beriman. Adakalanya sifat-sifat seorang mukmin diwarnai dengan sifat-sifat mereka yang kafir pada tampilan lahiriahnya. Oleh karena itu, pada masa sekarang ini banyak kaum mukmin yang kemudian menjadi lemah karenanya. Sebab, setiap mukmin dituntut untuk mempunyai segala sifat yang berlaku sebagai seorang mukmin, terutama para da’i yang harus memiliki sifat-sifat seorang mukmin secara penuh. Karena, seorang Mukmin adalah cerminan dari sikap seorang yang berjiwa lembut, bersih, ramah, dipenuhi kasih sayang, sehingga ia mampu menyaksikan alam semesta ini sebagai karunia Allah Yang Maha Memberi.

Hendaknya pula seorang mukmin mempunyai kehidupan yang teratur dalam segala aspeknya, sehingga tidak satu saat pun yang ia lewati melainkan ia terlihat sebagai seorang yang terpimpin dan mendapat petunjuk kebenaran. Seorang mukmin tidak boleh membuang waktunya sia-sia di tempat-tempat yang tidak mendatangkan manfaat. Sebab, tempat-tempat dimaksud tidak akan menisbahkan kebaikan apa pun baginya. Sebaiknya, seorang mukmin keluar dari rumah menuju ke tempat-tempat yang baik seperti masjid, majelis ilmu, dan tempat-tempat untuk berdakwah. Jika seorang da’i telah mempunyai sifat-sifat terpuji yang sejatinya dimiliki oleh orang mukmin, maka ia menjadi seorang penuntun ke jalan yang baik.

Kini kita dapat membuktikan mengapa sebagian orang di wilayah Barat lebih unggul daripada orang-orang Islam di wilayah Timur. Karena, mereka mau melaksanakan apa yang menjadi dasar pijakan dari ajaran Islam dengan baik. Sehingga mereka mendapatkan kemajuan yang luar biasa. Sedangkan umat Islam sendiri mengalami kemunduran di berbagai bidang, karena mereka justru melupakan atau menjauh dari ajaran Islam yang sejati. Sehingga dapat kita simpulkan di sini bahwa siapa saja yang bersedia melakukan ajaran Islam dengan baik, maka ia akan mendapat keunggulan di berbagai bidang kehidupan. Dan jika sebaliknya, maka mereka akan mengalami kemunduran di berbagai bidang kehidupan ini. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi seorang mukmin untuk menyelamatkan dirinya di kehidupan alam dunia ini dan alam akhirat kelak, kecuali dengan berpegang-teguh terhadap ajaran Al-Qur’an.

mengembangkandiri.com (16)

CINTA DAN KASIH SAYANG

DITULIS OLEH: FETHULLAH GÜLEN

Cinta adalah bagian terpenting dari setiap makhluk. Ia adalah sinar paling cemerlang dan kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal. Cinta mengangkat setiap jiwa yang meresapinya, dan mempersiapkan jiwa itu untuk perjalanan menuju keabadian. Jiwa yang mampu membangun hubungan dengan keabadian melalui cinta, memacu dirinya untuk mengilhami jiwa-jiwa lain untuk memperoleh hal yang sama. Jiwa itu membaktikan hidupnya untuk tugas suci ini, yang demi tugas tersebut, ia rela memikul segala penderitaan yang paling pedih, dan seperti ketika ia melafalkan “cinta” pada hembusan nafas terakhirnya, ia juga akan mengucapkan “cinta” ketika diangkat pada Hari Pembalasan kelak.

Tidaklah mungkin jiwa yang tak memiliki cinta dapat naik ke horison kesempurnaan manusia. Meskipun ia hidup beribu tahun, ia tak akan mampu melangkah menuju kesempurnaan. Mereka yang kehilangan cinta, seperti orang-orang yang terperangkap dalam sikap mementingkan diri sendiri, tidak mampu mencintai orang lain dan benar-benar tidak menyadari cinta yang tertanam dalam-dalam pada setiap yang ada.

Seorang anak disambut dengan cinta ketika ia lahir, dan tumbuh dalam suasana hangat dari jiwa-jiwa yang penuh kasih sayang. Meskipun anak-anak mungkin tidak merasakan cinta dengan kadar yang sama pada fase kehidupan berikutnya, mereka selalu merindukan dan mengejarnya selama hidup mereka.

Ada banyak bias cinta pada paras matahari; air menguap, naik membubung tinggi, dan setelah mengembun dalam tetasan-tetasan di bubungan tinggi itu, tetesan-tetesan itu jatuh dengan riangnya ke bumi pada sayap-sayap cinta. Lalu, ribuan kuntum bunga bermekaran bersamaan dengan cinta, menawarkan senyuman indah ke sekeliling. Embun menetes pada dedaunan membiaskan cinta dan berkelap-kelip dengan jenakanya. Domba dan anak-anaknya mengembek dan berjingkrakan dengan cinta, dan burung-burung serta anak-anak ayam bercicitan dengan cinta memadukan suara cinta.

Setiap makhluk ambil bagian dalam orkestra paripurna cinta di dunia dengan simponi khasnya dan mencoba mendemonstrasikannya, dengan bebas semaunya atau dengan sifat bawaannya, aspek cinta yang begitu dalam yang ada pada kehidupan.

Cinta melekat pada jiwa manusia sebegitu dalam sehingga banyak orang rela meninggalkan rumah untuk mengejarnya, banyak rumah tangga hancur, dan, di tiap sudut seorang Majnun mendesah dengan cinta, merindukan Layla.[1]Bagi mereka yang belum menemukan cinta yang ada pada diri mereka, penjelmaan cinta seperti itu dianggap sebagai keganjilan!

Mementingkan orang lain adalah sikap mulia yang dimiliki manusia, dan sumbernya adalah cinta. Siapapun yang memiliki andil terbesar dalam masalah cinta ini, mereka lah pahlawan kemanusiaan paling hebat; orang-orang ini telah mampu mencabut perasaan benci dan dendam pada diri mereka. Pahlawan-pahlawan cinta ini akan senantiasa hidup bahkan setelah mereka tiada. Jiwa-jiwa agung ini, yang tiap hari menyalakan suluh cinta yang baru dalam alam batiniah mereka dan menjadikan hati sebagai sumber cinta dan altruisme, akan disambut dan dicintai masyarakat. Mereka berhak untuk memasuki kehidupan abadi atas ridha Yang Mahaadil.

Seorang ibu yang rela mati demi anaknya adalah pahlawan cinta; orang-orag yang membaktikan hidup untuk kebahagiaan orang lain adalah “pejuang yang gagah berani”, dan mereka yang hidup dan mati untuk kemanusiaan diabadikan dengan monumen-monumen yang tak kenal mati yang pantas untuk disematkan ke dalam hati kemanusiaan. Di tangan para pahlawan ini, cinta menjadi obat mujarab untuk mengatasi setiap hambatan dan kunci untuk membuka setiap pintu. Mereka yang memiliki obat mujarab dan kunci demikian ini lambat atau cepat akan dapat menguak gerbang semua belahan dunia dan menyebarkan semerbak wangi kedamaian di mana pun, dengan menggunakan “pedupaan” cinta di tangan.

Cara paling langsung untuk sampai pada hati umat manusia adalah cara cinta, jalan para Nabi. Mereka yang menempuh jalan ini jarang sekali ditolak, kalaupun ditolak oleh segelintir orang, mereka disambut dengan gembira oleh ribuan lainnya. Sekali mereka diterima dengan cinta, tak akan ada yang mampu menghalangi mereka untuk meraih cita-cita gemilang, keridhaan Tuhan.

Betapa bahagia dan melimpahnya mereka yang mengikuti petunjuk cinta. Sebaliknya, betapa malangnya mereka yang melakoni kehidupan “tuli dan bisu,” tidak menyadari hakikat cinta yang dalam pada jiwa mereka!

Ya Allah Yang Mahaagung! Hari ini ketika benci dan dendam meruap di mana-mana seperti gumpalan-gumpalan kegelapan, kami berlindung di bawah Cinta-Mu yang tak berbatas dan memohon dengan sangat di pintu-Mu, agar Engkau memenuhi hati hamba-hamba-Mu yang jahat dan bengis dengan rasa cinta dan kasih sayang!

 

Referensi

[1] Layla dan Majnun adalah dua sejoli yang dimabuk cinta dalam kisah legendaries literatur Timur.

mengembangkandiri.com (14)

ARTI KEHIDUPAN

Ditulis oleh: Muhammad Fethullah Gulen

Pertanyaan: Apakah segala kesulitan di dalam hidup ini akan bertahan lama?

Jawaban: Dari pertanyaan ini tergantung pada tujuan kita hidup di dunia ini. Kenyataannya, memahami tujuan dari hidup ini membutuhkan sebuah proses yang lama dan mendalam. Kita akan dapat merasakan kegaibannya ketika kita benar-benar mampu memikirkan tentang keberadaan kita di dunia ini serta perasaan kita akan kemanusiaan. Oleh karena itu, konsep kita akan sebuah kehidupan akan perlahan-lahan berkembang di sepanjang hidup kita.

Tujuan dari penciptaan kita adalah jelas: untuk meraih tujuan-tujuan pengetahuan akan iman serta sisi kerohanian kita yang terbesar; untuk memikirkan rasa kemanusiaan dan juga keagungan Allah di atas bumi ini dan dengan hal tersebut, nilai diri kita sebagai umat manusia akan terbukti. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka dibutuhkan sebuah pemikiran serta tindakan yang sistematis. Pemikiran akan mendorong adanya sebuah tindakan dan dengan jalan itu, dimulailah sebuah ‘keberhasilan siklus.’ Siklus ini akan menghasilkan lebih banyak siklus lagi yang lebih kompleks, yang terbangkitkan di antara nilai spiritual di dalam hati dan pengetahuan yang ada di dalam otak, dan dengan demikian, berkembanglah gagasan-gagasan yang lebih kompleks dan juga mampu menghasilkan rancangan-rancangan yang lebih beraspirasi.

Menjalankan sebuah proses seperti itu membutuhkan iman, kesadaran, serta pemahaman yang kuat. Orang-orang dengan karakter seperti ini mampu merasakan dan menganalisa gaya hidup yang gegabah dari orang lain. Orang-orang seperti itu akan mencerminkan apa yang mereka percayai sebagai sesuatu yang benar dan kemudian mereka menerapkannya di dalam segala tindakan mereka sehingga dengan demikian, mereka akan tetap dapat memperdalam pemikiran mereka serta mampu mendapatkan gagasan-gagasan yang baru. Mereka percaya bahwa hanya mereka yang mampu berpikir secara mendalam, yang produktif, yang mampu menahan rasa sakit serta penderitaan yang alamilah yang mampu membuat iman mereka menjadi lebih kuat dan lebih dapat bertahan lama.

Mereka mampu menghidupkan sebuah kehidupan yang penuh dengan pemikiran dengan cara mengamati setiap penciptaan yang terjadi pada setiap harinya, dan terkadang mereka mampu ‘membacanya’ seperti sebuah buku ataupun ‘menyulam’ pikiran-pikiran mereka dengan kebijaksanaan yang telah mereka dapatkan. Mereka melihat adanya tujuan dari penciptaan kita sebagai sesuatu yang sangat penting dengan mempercayai bahwa alam semesta ini diciptakan agar dapat di‘baca’ dan dipahami.

Keberadaan alam semesta itu sendiri merupakan sebuah kedermawanan yang dapat membimbing kita menuju ke sebuah jalan untuk mendapatkan kebajikan-kebajikan yang berlimpah. Kita seharusnya menghargai nilai-nilai yang terkandung di dalam rahmat-rahmat yang terberkati seperti ini. Kita harus dapat menjalankan serta memanfaatkan rahmat-rahmat tersebut dengan sebaik-baiknya karena kita telah diciptakan dengan penuh keberkahan yang luar biasa bersama dengan seluruh ciptaan Allah yang ada di alam semesta ini.

Agar dapat mencapai tujuan ini, kita harus mengerahkan segala daya upaya kita. Sebuah suara dapat terlihat dan sebuah nilai dapat terhubung hanya karena Allah Yang Maha Kuasa. Allah mampu mengembangkan segala kemampuan serta keahlian kita menuju jangkauan yang terjauh, dan dengan begitu, kita akan mampu membuktikan kemampuan diri kita sendiri sebagai makhluk yang berkeinginan kuat. Tugas kita adalah untuk memikirkan tempat, segala tanggung jawab, serta hubungan kita di kehidupan ini dengan alam semesta yang begitu luas ini. Kita seharusnya mampu menggunakan pemikiran batin kita untuk dapat menjelajahi sisi-sisi yang tersembunyi dari adanya penciptaan tersebut. Apabila kita dapat melakukan hal itu, kita akan mulai dapat merasakan sebuah perasaan yang lebih mendalam akan diri kita sendiri, sehingga kita akan mampu melihat segala sesuatu itu dengan kacamata yang berbeda, yang biasanya terjadi tidak seperti apa yang kita lihat, dan kita juga akan mampu menyadari bahwa ‘mereka’ sedang berusaha menyampaikan sesuatu kepada kita.

Aku percaya bahwa hal inilah yang merupakan tujuan yang sebenarnya dari hidup itu. Kita adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di alam semesta ini. Sesungguhnya, kita lebih seperti jiwa dan inti sari dari mana sebagian dari alam semesta ini berkembang. Dengan hal ini, kita seharusnya selalu bercermin dan mengamati alam semesta ini sehingga kita mungkin akan menyadari dan mampu memenuhi tujuan penciptaan kita. Tugas kita adalah untuk mencari wawasan dan firasat yang dapat menggembirakan hati dan jiwa kita, dan hanya jalan kehidupan inilah yang dapat menggerakkan kita untuk dapat mengatasi segala usaha yang mungkin akan mengalami kegagalan dari keseluruhan kehidupan yang materialistis dan terkadang menyakitkan ini.

Apa yang membuat penderitaan menjadi sesuatu yang berharga di dalam hidup ialah kegembiraan yang kita rasakan ketika kita tetap berjalan di sepanjang jalan ini dan mendapatkan berkah. Mereka yang tetap berjalan di jalan ini seringkali diberkahi kegembiraan dengan berbagai macam kecakapan. Mereka lalu akan berlari dengan begitu antusiasnya seperti sebuah arus sungai yang mengalir deras menuju ke laut, demi meraih tujuan akhir mereka.

Seringkali kita tidak percaya bahwa kebahagiaan itu datangnya dari sumber-sumber luar yang tidak akan pernah sama. Kebahagiaan yang sejati itu datangnya dari batin yang terdalam, tergantung pada seberapa dekat hubungan kita dengan Allah, yang dapat berubah menjadi kehidupan yang kekal di surga..ya, hal inilah yang membuat kita merasa begitu bahagia. Dunia batin kita itu merupakan sebuah area kecakapan akan Ketuhanan dan hal yang harus kita sadari ialah bahwa diri kita ini adalah pengikut dari kecakapan-kecakapan tersebut. Ketika kita berharap dan menunggu di sepanjang hidup kita demi secercah harapan, maka jiwa kita akan ‘bernyanyi’ dalam kebahagiaan yang mutlak:

Hati kami adalah singgasanaMu, ya Allah! Datanglah ke hati kami, ya Rabbi!

Generasi kita membutuhkan banyak bimbingan untuk mengajarkan kepada kita tentang bagaimana kita dapat meraih iman, pemikiran, proses, serta kebahagiaan seperti itu. Bimbingan mereka akan memberikan jalan kepada para pemuda kita untuk dapat menikmati masa muda mereka serta hidup di jalan yang benar. Mereka akan mengalami keberadaan dan ketiadaan sama halnya ketika mereka merasakan keabadiaan di dalam jiwa mereka; mereka akan mampu menyadari bahwa mereka akan dapat melakukan hal yang lebih daripada yang mereka pikirkan hanya dalam hitungan detik saja. Mereka akan dapat melihat kehidupan setelah mati yang terpancar di dalam segala hal dan dengan jalan itu, mereka akan menyaksikan sendiri kehidupan yang tanpa akhir; mereka akan menemukan bahwa kehidupan itu benar-benar berharga; mereka akan melihat bahwa seluruh proses penciptaan akan tumbuh dan bertahan di dalam jiwa mereka; dan mereka akan berkelana melalui berbagai dimensi jiwa mereka seakan-akan mereka sedang menjelajahi galaksi-galaksi sembari mengamati adanya ketidak terbatasan di dalam dimensi-dimensi yang telah mereka capai selama mereka berada di dalam kehidupan yang fana ini.