aaron-burden-xtIYGB0KEqc-unsplash

KEIKHLASAN: RUH DARI SEGALA AMAL PERBUATAN

Pertanyaan: Dalam salah satu hadis Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam yang mulia, bersabda:

أَخْلِصُوا أَعْمَالَكُمْ لِلهِ فَإِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا خَلَصَ لَهُ

“Ikhlaslah dalam semua amal perbuatan kalian, sesungguhnya Allahﷻ tidak menerima amal, kecuali amal yang ikhlas.”[1]

Bagaimana kita dapat mencapai kebaikan ini yang telah disampaikan Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam, dan menjadi tersadar dan fokus akan “hanya mengharap rida-Nya dalam segala amal kita?”

Jawab: Seorang yang benar-benar beriman yang cinta kepada Allahﷻ, harus mengharap rida-Nya dalam segala perilaku dan perbuatannya; dia tidak seharusnya melihat kepada sosok dirinya sendiri, bahkan hanya untuk sekejap; dia tidak seharusnya berucap “Aku berbicara, Aku melakukan, Aku berhasil…” dan dia tidak mengungkit-ungkit amal baik termasuk dari ingatannya. Terutama ketika dia sedang mengajak orang lain dalam kebenaran, seorang mukmin hendaknya tidak pernah berusaha untuk memamerkan dirinya. Dimana saja ketika ia sedang berbicara atas nama kebenaran, perkataannya harus memantulkan suara yang ada di dalam kalbunya. Saat ia berhasil pada tujuannya, tidak pernah terbesit sekecil apapun dalam pikirannya keberhasilan ini adalah hasil jerih payahnya.

LISAN YANG TIDAK BERJIWA, OLEH KARENA BERTENTANGAN DENGAN KALBUNYA

Sebuah kesadaran seperti yang disebutkan di atas tentu saja adalah sesuatu yang tidak bisa diraih hanya dalam sekejap mata. Seseorang harus secara terus menerus menghilangkan ego dirinya dan mencapai derajat berkata, “Apakah diriku benar-benar ada,” dan pada akhirnya mencapai sebuah tingkatan melupakan dirinya. Jika tidak, maka pengaruh dari perbuatan baiknya hanya akan terbatas pada lingkup yang kecil, dan tidak akan berbuah manis. Meskipun pada awalnya nampak hasilnya, sifatnya hanya sementara dan manfaatnya tidak akan berjangka panjang.

Tidak mencapai sepersepuluh dari zikir-zikir pada masjid-masjid saat ini –misalnya membaca surat Ikhlas tiga kali sebelum salat– ada pada zaman Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam. Di negeri-negeri muslim hari ini, adzan berkumandang dari menara-menara bergema ke seluruh penjuru daratan. Penceramah silih berganti bertugas di masjid-masjid maupun pada acara di TV; mereka berceramah non-stop. Akan tetapi, ceramah dan ayat-ayat yang dibacakan tidak menyentuh kalbu masyarakat; tidak membekas di hati mereka. Masyarakat tidak dibawa ke jalan mengenal Allahﷻ tidak seperti pada zamannya Rasul yang penuh berkah, oleh karena kata-kata yang keluar dari lisannya bertentangan dengan kalbunya. Jika seseorang hanya sekedar memperlihatkan kehebatannya, bahkan ketika sedang mengucapkan اَللهُ أَكْبَرُ “Allahu Akbar,” dan berusaha menarik perhatian dengan suara dan nada yang ia buat, dan berbicara tentang Allahﷻ dan Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam untuk memperlihatkan betapa hebatnya dia dalam berbicara, maka dia hanyalah seorang yang secara diam-diam berdusta.

KEDALAMAN IMAN

Situasi yang dijelaskan di atas adalah sebuah hal besar bagi orang-orang yang telah menaruh kalbunya dalam keimanan. Jika mereka selama ini selalu menganggap kecil hal ini dan tidak berdiri di tengah-tengah topik ini, maka apa yang mereka harus lakukan pertama kali adalah melihat ke dalam jiwanya dan memperbaikinya sebagai syarat untuk memperdalam keimanannya. Sebenarnya, para sahabat pada zaman dahulu melakukan tabiat dan pemahaman ini. Ketika mereka bertemu satu sama lain, mereka akan berkata, سَاعَةً تَعَالَ نُؤْمِنْ “Marilah kita bersama dalam iman kepada Allahﷻ untuk satu jam ke depan.[2] Dengan kata lain, “Iman telah menyelamatkan kita sejauh ini. Tetapi kita tidak tahu apakah kita masih beriman esok hari. Oleh karena itu, marilah kita periksa iman kita sekali lagi.” Jika anda perhatikan, para sahabat tidak berkata “Marilah kita perbarui iman kita,” tetapi “Marilah kita bersama dalam iman kepada Allahﷻ untuk satu jam ke depan.” Maka hal ini bermakna, seperti yang telah Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam sampaikan kepada Abu Dharr al-Ghifari, جَدِّدِ السَّفِينَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيقٌ “Rawat dan perbaiki kapalmu sekali lagi karena lautan semakin dalam,[3] berlayar ke lautan yang baru setiap hari.

Selayaknya seorang pemuda yang hendak bepergian jauh akan memeriksa semua bagian mobilnya dari mesin hingga roda, seseorang harus serupa dalam memperbaiki aspek-aspek dirinya yang membutuhkan pemulihan sebagai syarat tanggung jawab dan kewajiban kepada Allahﷻ. Dengan sebuah fokus yang baru, seseorang harus memperbaiki imannya sekali lagi. Seorang yang akan berlayar di lautan hidup ini, yang sangat dalam, dapat tenggelam kapan saja. Apa yang telah menunggu kita di depan adalah sebuah perjalanan panjang yang bermula di alam kubur dan akan berakhir di Surga atau Neraka. Oleh karena itu, seseorang harus mempersiapkan dengan baik sebelum melangkah di perjalanan yang berat ini.

Kemudian, Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam bersada: وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيد “Persiapkan bekalmu dengan matang, untuk perjalanan yang sangat panjang ini.” Perbekalan yang seseorang siapkan harus lebih dari cukup agar bisa melewati Jembatan Sirat dan masuk Surga. Jembatan Sirat bukanlah seperti jembatan-jembatan di dunia kita sekarang. Tidak mudah untuk melewatinya. Berdasar yang Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam sampaikan dalam pembahasan ini, Jembatan Sirat akan terasa panjang seperti hidup kita di dunia. Seseorang akan bisa masuk surga setelah berhasil melewati tantangan ini.

Sebagai tambahan untuk mendapat bekal yang akan ia butuhkan selama perjalanan ini, seseorang harus selalu menjauhkan diri dari segala larangan dan dosa karena akan menjadi balasan dan siksaan untuk dirinya. Rasulullah menyampaikan hal ini dengan bersabda, وَخَفِّفِ الْحِمْلَ فَإِنَّ الْعَقَبَةَ كَئُودٌ “Ringankanlah bebanmu, untuk tanjakan yang akan sangat terjal.” Seseorang harus berusaha ketika ia masuk kubur, melewati masa-masa di alam barzah, dan berdiri di Hari Pengadilan dengan amat banyak catatan buruk yang harus dipertanggung jawabkan, dan menghindari tercabik oleh besi tajam di Jembatan Sirat.

Sebagai bagian terahir dalam nasihatnya kali ini, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:

 وَأَخْلِصِ الْعَمَلَ فَإِنَّ النَّاقِدَ بَصِيرٌ

“Ikhlaslah dalam segala perbuatanmu dan hanya berharap ridhonya; kepada Allahﷻ, yang amat teliti perhitungan-Nya, mengawasi segala perbuatanmu.” Bediuzaaman menyampaikan hal ini di “Cahaya Ketiga” sebagaimana berikut: “Segala hal yang kalian perbuat seharusnya untuk Allahﷻ, bertemu orang lain untuk Allahﷻ, dan bekerja demi Allahﷻ. Bertindak dalam lingkup, ‘untuk Allahﷻ, demi Allahﷻ, dan karena Allahﷻ”[4] Allahﷻ yang Maha Kuasa dengan cermat menilai perbuatanmu dan mengambil catatan amal baik dan burukmu; Dia mengawasimu setiap saat, dia mengawasi segala sesuatu, dan dia mengetahui segala yang tersembunyi.

TERUS MENERUS MENGKRITISI DIRI

Kehidupan dunia ini harus dipahami dengan batasan-batasannya. Dalam masalah ini tidak ada ruang untuk kelalaian, keacuhan, melupakan atau sikap masa bodoh. Salah satu tokoh saleh, Aswad ibn Yazid an-Nakhai, menekankan, اَلْأَمْرُ جِدٌّ، اَلْأَمْرُ جِدٌّ “Permasalahan ini tidak seperti yang kamu bayangkan; hal ini sangat serius![5] Alias, permasalahan ini bukan sesuatu yang sederhana dan biasa untuk dihadapi dengan remeh dan sembrono. Ini adalah tentang keselamatan dari siksa abadi. Oleh karena itu, seseorang harus mengevaluasi shalatnya, puasa dan semua ibadah dengan kesadaran ini, dan harus terus menerus mengkitisi dirinya.

Dalam hal ini, ketika menjelaskan sebuah topik tertentu, doa dari penceramah, misalnya, “Semoga Allah yang Maha Kuasa menjadikan kita berbicara benar, menyampaikan dengan efektif; semoga Dia memberikan kekuatan di kata-kata kita dan membuatnya diterima di kalbu-kalbu mereka,” hanyalah salah satu aspek pada permasalahan ini. Aspek lainnya adalah membebaskan diri dari egoisme dan menggantinya dengan keikhlasan. Seseorang harus berdoa,“Ya Ilahi, jadikanlah semua perkataanku terucap dalam ketaatan untuk mencapai rida-Mu.” Dengan kata lain, sebagaimana Al Qur’an ajarkan melalui permohonan Nabi Musa a.s.: “Berkata Musa:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Ya Tuhanku, lapangkalah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha ayat 25-28)

Kita harus menirunya dalam doa kita sehari-hari. Selain itu, kita hendaknya juga tidak mengabaikan mengucapkan, مَعَ رِضَاكَ يَا رَبِّ “Ya Tuhanku, bawalah kami ke dalam rida-Mu.”

MONUMEN IKHLAS

Untuk mengurai lebih jelas, seseorang harus senantiasa berdoa, “Tajamkan lisanku dengan rida-Mu, berikan karunia padanya dengan izin-Mu. Jadikanlah lisanku mendapat kedalaman yang tak berhingga dengan karunia-Mu, keagungan-Mu, dan kasih-Mu. Jika tidak, aku hanyalah fana, segala hal akan berakhir ketika hamba masuk ke alam baka. Jika Engkau tidak hadir dalam apa yang aku lakukan dan kerjakan, maka hampa tidak mengandung apapun.” Seseorang harus dengan sungguh-sungguh mengucapkan doa ini 50-100 kali per hari.

Almarhum Nurettin Topcu berkata bahwa mereka yang sedang memamerkan dirinya ketika sedang membacakan ayat-ayat suci adalah “Aktor kerongkongan,” dimana dia sangat tegas terhadap keikhlasan dan istiqomah untuk menekankan pentingnya ikhlas.

Sikap yang mengagumkan diambil Bediuzzaman pada permasalahan ini patut mendapat penghormatan. Dia tidak berharap untuk mendapatkan suatu apapun tanpa keikhlasan; dia menghempaskan segala apapun yang tidak datang dari dasar hatinya, dan menginjaknya. Pada masa kita ada sebuah kebutuhan atas lusinan monumen ikhlas, yang akan merubah wajah dunia. Meskipun mereka yang melaksanakan tugasnya demi mendapatkan keuntungan duniawi, apresiasi dan pujian mungkin berhasil secara sementara, mereka yang demikian tidak pernah berhasil secara abadi, dan mereka tidak akan pernah mampu melakukannya.

Umayyah, Abbasiyah, Khwarezmia, Ayyubiyyah, Seljuk, dan Usmani yang muncul setelah era Kebanggaan Umat Manusia dan era Khulafaur Rasyidin, telah memenuhi pengabdiannya kepada Islam. Khususnya pada masa tertentu, mereka berbakti sebagai tamsil (contoh) Masa Kebahagiaan, dan kemudian mereka meninggalkan dunia ini dengan terhormat. Hanya saja, mereka tidak pernah mencapai kesuksesan era Khulafaur Rasyidin. Penyebab yang harus digarisbawahi adalah khalifah yang diberkati tersebut menjalankan keikhlasan dari hati yang terdalam. Apa yang dibutuhkan umat manusia hari ini bukanlah penampakan luar, formalitas, kerakyatan, apresiasi, tepuk tangan atau tuntutan yang besar, akan tetapi perwujudan praktik ke-Islaman yang sebenar-benarnya dan tanda-tandanya nampak di kepribadian setiap muslim.

[1] Bkz.: ed-Dârakutnî, es-Sünen 1/51; el-Beyhakî, Şuabü’l-îmân 5/33

[2] Ahmed İbn Hanbel, el-Müsned 3/265; İbn Hacer, el-İsâbe 4/83

[3] ed-Deylemî, el-Müsned 5/339

[4] Bediüzzaman, Lem’alar s.21 (Üçüncü Lem’a, Üçüncü Nükte)

[5] Ebû Nuaym, Hilyetü’l-evliyâ 2/104

mengembangkandiri.com[Downloader.la]-639d5bdf5b288

KREDIT TERBESAR BAGI PARA KAFILAH DAKWAH

Tanya: Apa saja pondasi dasar yang harus dimiliki jiwa-jiwa yang bertekad untuk mempertemukan umat manusia dengan hakikat kebenaran?

Jawab: Ubudiyah manusia yang beriman terhadap zat yang mutlak disembah, harus diletakkan sebagai penghambaan mutlak kepada-Nya. Maksudnya, dalam penghambaan dirinya, ia tak boleh tercampur dengan hal selain-Nya. Karena kita sebenarnya adalah budak-Nya dimana terdapat tali kekang di leher-leher kita. Kelemahan, kepapaan, kealpaan, dan ketidakmampuan kita, serta bagaimana kita tidak memiliki kuasa untuk meraih apa yang kita cita-citakan tanpa inayah-Nya; kadang sesuatu sudah diraih namun ia lepas lagi dari genggaman tangan kita; Apa yang kita harapkan ternyata tak mampu kita raih; fakta tersebut sebenarnya menunjukkan betapa papanya kita. Telah jelas bahwasanya kita tidak menguasai dan memiliki diri kita sendiri. Oleh karena itu, sudah pasti ada suatu kekuasaan di atas kita.

Dan memang manusia seringkali tidak menyadari hakikat ini. Manusia kadang melakukan kalibrasi atau peneraan dalam frekuensi tertentu, tetapi ketika proses kalibrasi tidak dilakukan dengan tepat, maka dari kanan kiri akan masuk berbagai lintasan pikiran. Ia akan mempengaruhi cara berpikir dari seseorang. Oleh karena itu, manusia harus berusaha menemukan suara kebenaran lewat proses kalibrasi yang serius. Ya, sebelumnya manusia harus menimbang pemikirannya, gagasannya, dan kata-katanya di atas timbangan yang dimiliki oleh sosok-sosok yang memahami nilai hati nurani. Setelah semua ini ditunaikan, lalu jika dalam perjalanannya masih terdapat sekelebat lintasan pikiran yang mengganggu kemurnian penghambaan kita, hal selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah mengharap pengampunan dari-Nya. Jika tidak, maka kita akan dimasuki perasaan telah melakukan semua pekerjaan dengan sempurna, dimana ia bertentangan dengan kesadaran untuk menghamba.

GADA DEMI GADA

Ketika Anda bersujud dalam shalat, Anda menumpahkan segala isi perasaan Anda kepada Allahﷻ selama lima sampai sepuluh menit. Akan tetapi di saat yang sama, setan membisikkan: “Sungguh kamu telah melakukan penghambaan yang baik.” Jika lintasan pikiran seperti itu muncul di dalam hati, segeralah jawab ia dengan jawaban: “Wahai Allahﷻ, satu-satunya Zat yang patut disembah, sungguh kami tak mampu menghamba dengan sempurna! Wahai Allahﷻ, Zat yang namanya diagungkan oleh makhluk bumi dan langit, sungguh kami tak mampu men-zikir-kan Nama-Mu dengan layak! Wahai Tuhanku yang harusnya dipuja-puji dengan segala macam bahasa, sungguh kami tak mampu bersyukur kepada-Mu dengan baik! Wahai Allahﷻ, Zat yang Maha Suci dari segala kekurangan, sungguh kami tak mampu bertasbih dan mensucikan Nama-Mu dengan baik!.” Jawaban ini bagaikan gada. Dengannya kita mennghantam lintasan pikiran yang tidak diridai oleh-Nya hingga ia tak mampu lagi menegakkan tulang punggungnya.

Namun, walaupun Anda telah menghantamnya dengan Gada terbesar setan bagaikan makhluk bernyawa seribu, ikalipun, perlu diketahui bahwasanya  lewat waswas dan nafsu ammarah serta segala taswilat dan tazyinat[1]nya senantiasa menghantui dan siap menerkam di tempat dan waktu yang tak terduga. Demikian siaganya mereka, bahkan saat kita tawaf di Kabah; berdoa dan wukuf di Arafah; bermalam di Muzdalifah; ataupu saat melempar jumroh di Mina sekalipun, setan dan nafsu tidak pernah beristirahat; mereka selalu berusaha membuat kaki kita tergelincir.

Oleh karena sebab itulah, dalam Alquranul Karim diperintahkan:

فَٱستَقِم كَمَا أُمِرتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطغَواْ (١١٢)

Artinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu. (QS Hud 11: 112)

 Sehingga, kita pun dalam setiap shalat berdoa:

ٱهدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلمستَقِيمَ (٦)

Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS Al Fatihah 1: 6)

Jika kita mendirikan shalat fardhu beserta rawatibnya, kita mengulangi doa ini sebanyak empat puluh kali dalam sehari[2]. Jika kita menunaikan shalat-shalat nafilah lainnya seperti Isyrak, Dhuha, Awwabin, dan Tahajjud, maka itu artinya kita mengulang doa agar Allahﷻ senantiasa berkenan membimbing kita di jalan yang lurus sebanyak 60 kali dalam sehari[3]. Jika Allahﷻ tidak berkenan untuk membimbing kaki kita menuju jalan-Nya yang lurus, maka langkah perbaikan kita akan terhenti di rutenya nafsu ammarah. Ya, jika Dia ﷻ tidak membimbing langkah kaki kita, demikian banyaknya kecelakaan lalu lintas yang akan kita alami, sehingga kerusakan yang dialaminya pun tidak akan bisa diperbaiki dengan mudah.

MEREKA YANG MENGHARGAI PENGABDIANNYA KEPADA AGAMA DENGAN ‘TARIF’ TERTENTU, TIDAK AKAN PERNAH SUKSES     

Di sisi lain, jika kita senantiasa mengeja nama agung-Nya dan menghabiskan malam-malam kita bersama-Nya; jika ketika berada di mana pun kita senantiasa menzikirkan  “Dia” dan menghirup nafas “Huwa” maka di waktu dimana kita berada dalam ruang manusiawi[4] kita,  hubungan kita dengan-Nya akan senantiasa berlanjut. Misalnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menyampaikan kabar gembira, bahwasanya mereka yang setelah menunaikan salat isya lalu sebelum tidurnya berniat untuk bangun salat tahajjud dan menghidupkan malam, namun karena kantuk yang amat berat lalu ia tidak sanggup untuk bangun tahajjud, beliau katakan bahwasanya tidurnya tersebut merupakan sedekah dari Allahﷻ untuknya.[5] Hal tersebut adalah hadiah yang dianugerahkan Allahﷻ dari rahmat-Nya yang luas kepada kita. Ya, rahmatNya tak memiliki akhir, Dia tidak meminta pertanggungjawaban atas apa-apa yang kita tidak mampu memikulnya, melainkan memberikan mukallafiyah[6] sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Seperti diisyaratkan dalam ayat:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفسًا إِلَّا وُسعَهَا (٢٨٦)

Artinya: Allahﷻ tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS Al Baqarah 2: 286)

Dalam agama tidak terdapat kewajiban yang tak mampu dipikul umatnya.

Jika demikian, kita tidak boleh memiliki harapan selain keridaan-Nya, mengingat demikian luasnya anugerah dan tak terbatasnya rahmat dari-Nya. Karena tidak ada harapan yang lebih agung dari mengharap keridaan-Nya. Hadiah terbesar kedua dari Allahﷻ kepada para penghuni surga setelah tajalli jamaliyah adalah firman-Nya: “Aku rida kepadamu.” Kita tak akan mampu menjelaskan dampak yang ditimbulkan oleh wangi aroma Ilahi yang bersumber dari-Nya terhadap ruh manusia. Barangkali sosok waliyullah seperti Syeikh Abdul Qadir Jailani, Abu Hasan as Syadzili, Muhammad Bahauddin an Naqsyabandi, Maulana Khalid al Baghdadi, Imam Rabbani, dan Bediuzzaman Said Nursi; mereka mungkin telah bermusyahadah –menyaksikan– nikmat tersebut dalam takaran sketsa yang dapat ditanggung oleh kemampuan dunia. Sedangkan saya tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan ataupun menggambarkan kelezatan yang didapatkan oleh mereka yang menerima nikmat tersebut. Karena Sang Pemilik Syariat Shalallahu Alaihi Wassalam sendiri ketika beliau menjelaskan nikmat-nikmat di dalam surga.

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ  يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى

“Allahﷻ berfirman: Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia.”[7]

Dalam kerangka yang digambarkan disini dapat kita pahami bahwasanya  kenikmatan surga adalah sebuah topik yang melewati batas pikiran dan khayalan manusia.

Dari sisi ini, baik di dunia dan di akhirat, tidak ada sesuatu yang lebih besar dan bernilai dibandingkan dengan mengemis kasih kepada Allahﷻ serta mengingatkan orang-orang di sekitar kita untuk turut mengemis kasih dari-Nya. Oleh karena itulah, seluruh umur kehidupan dari para nabi digunakan untuk mengenalkan Allahﷻ dan mengarahkan umat manusia agar mencintai Allahﷻ, serta memperkuat hubungan mereka dengan Allahﷻ; dan untuk usahanya tersebut, para Nabi tidak mengharapkan imbalan apapun dari umatnya. Karena pamrih dapat mencederai keikhlasan dan menghilangkan keutamaan dari amal perbuatan. Selain itu, manusia yang mengharapkan imbalan dari setiap pengabdian yang dilakukannya tidak akan sukses. Mereka bisa jadi nampak sukses untuk sementara waktu. Akan tetapi saat angin kritik mulai menghembus, maka mereka akan terguling-guling seperti gulungan jerami.

SEMUA NABI MENYAMPAIKAN HAKIKAT YANG SAMA

Allahﷻ Yang Maha Mulia dalam surat Syura, setelah menyebutkan nama para Nabi Agung seperti Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Salih, Nabi Luth, dan Nabi Syuaib secara berurutan, Dia berfirman:

وَمَا أَسٔلُكُم عَلَيهِ مِن أَجرٍ إِن أَجرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلعَٰلَمِينَ (١٠٩)

Artinya: Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (QS. Asy-Syu’ara: 109) [8] Mereka melakukan tugasnya hanyalah untuk Allahﷻ; Mereka selalu mengarahkan pandangannya hanya kepada-Nya; dan tidak pernah memiliki pamrih apapun walau hanya sebesar biji Żarrah atas semua pengabdian yang mereka lakukan.

Walaupun mereka hidup di masa yang berbeda, dengan kondisi dan kebutuhan sosio-kultur masyarakat yang berbeda, tetapi para nabi-nabi yang dibahas dalam ayat tersebut tetap menyampaikan pesan yang sama. Apa yang disampaikan oleh Nabi Nuh, juga disampaikan oleh Nabi Hud, Nabi Salih, Nabi Luth, dan Nabi Syuaib Alaihisalam. Padahal masalah yang dimiliki setiap masyarakatnya berbeda-beda. Ini artinya apapun masalahnya, solusinya tetap sama, yaitu ikhlas dan tanpa pamrih.

Misalnya, kaum Nabi Nuh Alaihisalam, mereka menuhankan para tokoh masyarakat di antara mereka; mereka menamai tuhan-tuhan mereka dengan nama-nama seperti Wadd, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Mereka menyampaikan salam kepada tokoh-tokoh yang jasadnya sudah di kubur di dalam tanah ini dan mengharapkan sesuatu sebagai balasannya.[9] Kondisi tersebut merupakan ancaman bahaya yang dapat ditemukan di setiap periode masa.

Kamu ‘Aad, merasa bangga dengan kehebatannya. Mereka memiliki kemampuan memahat gunung batu dan menjadikannya tempat tinggal. Demikian angkuhnya mereka oleh kehebatannya, sampai-sampai mereka merasa tidak ada satupun dari apa yang ada di langit dan di bumi yang dapat mencelakakan mereka. Mereka merasa yakin, walaupun semua patahan bumi berkumpul di bawah tanah yang mereka pijak dan bergeser di waktu yang sama, rumah-rumah yang mereka bangun tidak akan runtuh karenanya. Dengan demikian masalah yang dihadapi Nabi Hud berbeda dengan masalah yang dihadapi Nabi Nuh. Nabi Hud Alaihisalam sambil mengacuhkan ancaman demi ancaman yang dilancarkan kaum ‘Aad kepadanya, terus-menerus menyampaikan betapa salahnya pemahaman mereka dan dalam melakukannya beliau senantiasa tidak mengharap pamrih apapun.[10]

Ketika kita sampai pada pembahasan Nabi Salih, kita akan melihat bahwa masalah yang dihadapi oleh beliau juga berbeda. Kaumnya hanyut dalam keindahan duniawi taman-taman dan kebun-kebunnya serta ranumnya bebuahan yang dihasilkannya; mereka pun mulai hidup di dalam kesenangan dan kebanggaan dalam rumah-rumah yang dimilikinya. Nabi mereka Salih Alaihisalam, menghadapi semua kesulitan sambil berusaha menegakkan dadanya; ia menunaikan tugas agungnya tanpa mengharap imbalan apapun, dan mengundang kaumnya menuju tauhid. Beliau juga mengingatkan kaumnya agar tidak menjadi orang-orang yang musrif (ahli mubazir) dan mufsit (sesat).[11]

Nabi Luth Alaihisalam  yang datang setelahnya, menghadapi kaum yang tenggelam di dalam akhlak yang menjijikkan. Sebagaimana nabi-nabi sebelumnya, Nabi Luth pun mengabaikan ancaman dari kaumnya, beliau mengundang mereka menuju jalan yang benar dan tauhid, serta tak mengharapkan imbalan apapun sebagai balasannya.[12]

Lalu kita pun sampai pada pembahasan kaum Nabi Syuaib Alaihisalam. Di masa itu, takaran dan timbangan di pasar dan pertokoan tidak dikalibrasi dengan benar. Timbangannya pun tidak jelas, yang sebelah mana yang menjadi ukuran, yang sebelah mana yang digunakan untuk menimbang. Kehidupan perdagangan penuh dengan spekulasi. Selang (kemakmuran) hanya ada di tangan-tangan yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dimana ia digunakan untuk memenuhi tangki-tangki penyimpanan pribadinya. Nabi Syuaib dengan nasihat-nasihatnya: “Sempurnakanlah takaran dan janganlah memakan hak orang lain dengan mengurangi takarannya. Timbanglah dengan benar dan janganlah mengurangi hak orang lain. Janganlah merusak sistem dengan perilaku buruk itu.” Memperingatkan kaumnya dan atas ajakannya ini beliau tidak meminta imbalan apapun dari mereka.[13]

Surat Asy-Syura ketika menceritakan kisah lima Nabi ini tidak menyebutkan Nabi Besar Muhammad Shalallahu alaihi wassalam. Akan tetapi dalam ayat lainnya disebutkan bahwa pesan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam tidak berbeda dengan apa yang disampaikan oleh nabi-nabi sebelumnya:

ذٰلِكَ الَّذِيْ يُبَشِّرُ اللّٰهُ عِبَادَهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ وَمَنْ يَّقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهٗ فِيْهَا حُسْنًا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Asy-Syura 42:23)

Lewat nasihatnya tersebut, disampaikan bahwasanya beliau tidak mengharapkan imbalan apapun dari kaumnya di Mekkah yang selama tiga belas tahun lamanya tak pernah berhenti memberikan beragam masalah, memaksanya untuk hijrah, dan membuatnya merasakan makna sedih karena perpisahan. Ya, walaupun beliau telah menjadi wasilah kebahagiaan dunia dan akhirat bagi umatnya, namun beliau tak mengharapkan apapun dari mereka sebagai imbalannya; beliau merebahkan tubuhnya di atas anyaman tikar tipis, beliau juga melewati hari-hari dengan perut lapar, tetapi tidak pernah sekalipun beliau ubah perilaku dan perbuatannya.

MENIADAKAN REPUTASI DIRI DAN JALAN TERJAL YANG MENGHADANGNYA

Meniadakan reputasi diri adalah satu-satunya jalan asas agar lawan bicara mempercayai dan meyakini pesan yang kita sampaikan. Karena mereka yang mengharap pamrih dan manfaat parsial dari pengabdian yang dilakukannya otomatis akan kehilangan reputasi serta mematahkan rasa hormat orang lain pada dirinya. Jika Anda memasuki medan pengabdian ini dengan “Bismillah!”, maka Anda tidak boleh menjauhi jalan kenabian. Mereka yang menyaksikan Anda harus bisa berkata: ”Ketika dulu pertama kenal dengan orang-orang ini, saya lihat ia hanya memiliki beberapa rupiah di kantongnya. Kini ketika ia pamit untuk pergi mengabdi di tempat lainnya, uang di kantongnya tak bertambah, bahkan berkurang. Ini artinya, ia pun tak bisa menahan uang pribadinya. Uang pribadinya pun terpakai untuk pengabdian yang dia lakukan. ”Prinsip tanpa pamrih dan istighna[14] sebagaimana merupakan karakteristik yang perlu dimiliki oleh para abdi negara mulai dari level lurah hingga presiden, ia juga merupakan karakter yang perlu dimiliki oleh jiwa-jiwa yang berdedikasi untuk menjelaskan hakikat kebenaran. Karena dinamika terbesar dari para pengabdi adalah tanpa pamrih dan penuh dedikasi.

Kesuksesan mereka yang mendedikasikan dirinya untuk melayani umat manusia agar usahanya tetap lestari, bergantung pada sejauh mana mereka terus berjalan di atas jalan kenabian. Jika tidak, mereka bisa jadi memulai jalannya sebagai Harun namun mengakhiri perjalanannya sebagai Karun yang ditenggelamkan ke dalam harta bendanya dan diingat masyarakat dengan kutukan. Jika di dalam lidahku terdapat tempat untuk mengutuk, maka teruntuk mereka yang mengaku melayani masyarakat namun ternyata mengambil manfaat pribadi dari simpati masyarakat, mereka yang senantiasa memperhitungkan segala sesuatu dengan hitungan untung dan rugi, mereka yang mengambil komisi pribadi dari  berbagai tender, dan kepada mereka yang menempatkan para munafik itu di posisi para sultan, akan kukatakan: “Semoga Allah menenggelamkan dan menghancurkan pamrih dan keinginan-keinginan Anda ke lubang bumi yang paling dalam bersama anak cucu Anda!.” Namun, karena mengutuk tidak memiliki tempat di dalam lidahku, maka aku akan mengatakan apa yang dikatakan Iqbal,[15] aku pun hanya memanjatkan doa, dan tidak mengucap “amin” untuk kutukan.

Dari sini, maka orang-orang yang berada di lingkaran penuh berkah, sosok-sosok yang mendedikasikan diri untuk mengabdi kepada iman dan Al Quran, tidak boleh sedikitpun terbersit dalam pikiran mereka untuk memanfaatkan kredit atas pengabdian yang mereka lakukan untuk kepentingan pribadi. Mereka tidak boleh menggunakan reputasinya untuk memenangkan tender proyek tertentu yang bukan haknya, pun untuk manfaat pribadi lainnya. Mereka tidak boleh mengorbankan dinamik terbesarnya, yaitu dedikasi dan tanpa pamrih, untuk hal-hal yang bersifat duniawi. Allahﷻ telah menganugerahkan kepada mereka berbagai nikmat-Nya, dan menguntungkan mereka dalam kehidupan dunianya; dan Allahﷻ masih berkenan menganugerahkannya. Mereka pun menggunakan nikmat dan rizkinya di jalan Allahﷻ. Ketika pembahasannya sampai kepada mereka yang bertanggungjawab di bidang bimbingan dan konseling, maka sesungguhnya kekayaan terbesar mereka adalah sifat tanpa pamrihnya. Jika mereka terjatuh ke posisi dimana mereka mengejar hal lainnya, maka sesungguhnya mereka telah meninggalkan sesuatu yang banyak demi mendapatkan sesuatu yang sedikit.

AKHIR MENYEDIHKAN DARI PARA PELAKU JALAN RUSAK (KORUP)

Merekalah para tokoh yang perlu diteladani. Jalan dan cara yang benar adalah jalan yang mereka ambil. Jalan yang selain jalan mereka adalah jalan rusak (korup). Orang yang keluar dari jalan yang benar, tanpa sadar terpeleset ke berbagai macam jalan rusak. Korupsi yang mereka lakukan, mungkin awalnya hanya jadi bahan tertawaan, namun akan datang suatu hari yang berat, dimana di hari itu akan membuat mereka yang mendengarnya menangis dan berkata:

يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا

Artinya: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah” dan tidak mendengarnya. (QS An Naba 78:40)

Oleh karena itu, orang-orang yang berada di dalam “komisi mulia” ini hendaknya mengacuhkan segala hal duniawi yang mungkin nampak indah oleh hawa nafsu namun pada hakikatnya tidaklah lebih mulia dari sayap nyamuk. Ada sebuah kalimat yang dikatakan sebagai hadits, dunia tak lebih dari seonggok bangkai; semua aktivitas, rencana, roda, atau mesin, serta orang-orang yang digunakan untuk meraihnya bagaikan anjing-anjing yang berebut untuk mendapatkan bangkai tersebut[16].

Andai kita mampu melupakan dunia yang penuh tipu daya ini dan hal lain di luar hal yang harusnya menjadi fokus kita. Mereka yang tidak mampu melupakannya sesungguhnya telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, bangsanya, dan sejarahnya. Istana Topkapi telah berhasil mengikuti jalan para sahabat dan membawa bangsa yang penuh berkah ini menjadi penguasa dunia. Di sana dunia ruh kita dipantulkan ke luar. Di sana terdapat cita-cita Fatih Sultan Mehmet, Sultan Bayezid ke-2, Yavuz Sultan Selim yang agung, serta Kanuni Sultan Sulaiman. Mereka meniti jalan ini, pergi menuju belahan dunia lainnya, melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menciptakan keseimbangan dunia, membuat orang-orang zalim  bertekuk lutut, memberi nafas kehidupan kepada orang-orang yang dizalimi. Namun, sekembalinya dari tugas, mereka pulang ke istana yang sederhana ini. Di Istana Topkapi ini mereka melanjutkan tugas mereka. Sebaliknya, istana-istana seperti Dolmabahce dan Yildiz, walaupun penuh dengan kilau kemewahan dan kebanggaan, mereka justru meredupkan cahaya bintang kita. Walaupun mereka di satu sisi menampilkan dunia seperti surga, sesungguhnya mereka telah membuat kita melupakan Allahﷻ dan surga yang sejati.

(Diterjemahkan dari Yolun Kaderi hlm. 213 artikel berjudul Irsad Yolculari icin en Buyuk Kredi: Beklentisizlik)

mengembangkandiri.com andrew-seaman-ey5zZOkYL0Q-unsplash

USLUB DALAM BERKHIDMAT

Tanya: Apa saja sarana yang diperlukan untuk mendapatkan inayah Ilahi dalam menggapai ufuk keridaan-Nya?

TAWAJUH KEPADA ALLAHﷻ

Tawajuh kepada Allahﷻ adalah hal yang sangat penting bagi para pahlawan cinta, serta penyandang kasih sayang yang bertekad meraih rida Allahﷻ. Sebagaimana perkembangan karakteristik personal dari umat manusia dapat terwujud berkat tawajuh kepada Allahﷻ, demikian juga perkembangan usaha khidmat –dakwah– sebagaimana bunga-bunga yang mekar menghadap ke arah matahari, dan hanya mungkin akan terjadi berkat bertawajuh kepada-Nya.

Jika seandainya umat manusia memutus tawajuhnya kepada Allahﷻ, maka ia akan masuk dalam ketergelinciran cara pandang terhadap Allahﷻ dan akan terbelenggu oleh angan-angan dunianya fana. Untuk itu, tawajuh kepada Allahﷻ dalam dimensi tauhid, rida, dan keikhlasan amatlah penting demi terraihnya inayat Ilahi yang merupakan salah satu jalan yang tak bisa diabaikan demi menjaga nur kehidupan.

Orang-orang suci yang telah menyerahkan hatinya untuk tujuan yang mulia –dakwah– selama mereka mengikuti prinsip penting ini, maka setiap khidmat yang mereka lakukan, sudah pasti  akan mendapat keuntungan  dalam kehidupan personal  walaupun mungkin mereka tidak mampu menggapai kesuksesan dari segi materi.

SESUAI DAN MENGIKUTI SUNATULLAH

Hal lain yang juga diperlukan guna meraih inayat Ilahi adalah mengikuti sunatullah. Allahﷻ menciptakan kita lewat tabir berbagai sebab. Sedangkan perkembangan nama Allahﷻ al-Qudrah akan dimanifestasikan di akhirat. Di akhirat, segala sesuatu terjadi dengan sangat mengagumkan dan hal-hal menakjubkan senantiasa berlangsung disana. Sedangkan dunia ini merupakan alam hikmah sehingga segala sesuatunya terbungkus oleh tabir sebab. Mengabaikan tabir sebab walaupun sebab-sebab itu nyata tidak lain merupakan tindakan jabariah.

Jika demikian, maka sebab demi sebab harus dengan sensitif diikuti dan gerakan demi gerakan harus disusun tanpa cela sesuai dengan sebab-sebab yang berlaku, sehingga mereka yang mengamatinya akan berkata: “Orang-orang ini tidak lain adalah orang-orang yang mencintai sebab-sebab”. Mereka juga harus bertawakal dan bertawajuh kepada Musabbibul Asbab, yaitu Allahﷻ, sembari menihilkan sebab-sebab, sehingga kali ini orang-orang yang menyaksikannya akan berkata: “Mereka seperti jabari yang tidak menerima satupun sebab dan menyerahkan segala-galanya kepada Allahﷻ.” Perilaku yang seperti ini merupakan sesuatu yang amat penting dalam menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Sang Musabbibul Asbab dan sebab-sebab yang diciptakan-Nya.

Kita juga dapat menyaksikan keseimbangan ini pada kehidupan Baginda Nabi. Baginda Nabi di perang yang satu dan di medan perang lainnya senantiasa membangun benteng-benteng kokoh dan mengenakan dua lapis baju zirah.[2]  Contoh ini dan juga banyak contoh lainnya menunjukkan betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengikuti sunatullah dalam derajat yang luar biasa sensitif. Di sisi lainnya beliau juga mengangkat kedua tangannya untuk berdoa dan bermunajat: “Ya Allah, janganlah Engkau datangkan kekalahan bagi pasukanku ini!”. Seakan beliau tidak melakukan persiapan apa-apa. Dengan demikian, kehalusan dan ketelitian Baginda Nabi dalam mengikuti sunatullah serta kepasrahan totalnya kepada Sang Musabbibul Asbab telah sampai pada titik koheren. Benar, beliau telah sampai pada titik koheren dan dengan demikian telah berhasil menjaga keseimbangan sebagai penggambaran dari pemahaman tauhid hakikinya yang sempurna.

KEBERLANGSUNGAN DAN KONTINUITAS

Salah satu dinamika terpenting yang perlu dikerjakan demi diraihnya inayat Ilahi adalah keberlangsungan serta kontinuitas usaha dan upaya seseorang dalam mencapai tujuan yang diharapkannya. Perlu diingat juga betapa banyak sosok yang memulai pekerjaan ini dengan penuh kebanggaan, namun tiga langkah kemudian disebabkan oleh kelelahan, kebosanan, kejenuhan, serta ditinggalkannya aktivitas suci ini karena merasa ia  tidak berbeda dengan aktivitas lainnya tepat sesaat sebelum datangnya masa “panen”, lalu mereka pun tergusur dan hanya menjadi sesuatu yang tak lebih dari sekedar secuil penggalan sejarah belaka.

PEMUFAKATAN DAN PERSATUAN

Selain tiga sarana yang telah disebutkan sebelumnya, pemufakatan dan persatuan adalah sebuah sarana yang amat penting guna menggapai inayat Ilahi. Walaupun kekuatan setiap individu yang berkumpul bersama ataupun kemampuan suatu masyarakat yang berkumpul bersama, kekuatannya tak diragukan lagi. Hal ini adalah sebuah fakta bahwasanya anugerah Allahﷻ kepada suatu jamaah lebih besar dibandingkan dengan kumpulan andil dari setiap individu yang berkumpul dalam satu kesatuan tersebut. Karena Allahﷻ telah menyatukan syarat terwujudnya kesuksesan pemakmuran dunia dan tersebarnya ruh Sang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan perjuangan kaum mukminin yang terbungkus dalam pemufakatan dan persatuan. Maka saat ia –pemufakatan dan persatuan– diabaikan, walaupun kumpulan mukminin tersebut diisi oleh sosok-sosok agung dan intelek seperti Imam Hasan Syadzili, Imam Ahmad Badawi, dan Syekh Abdul Qadir Jailani, kesuksesan tidak akan mungkin bisa dicapai. Allahﷻ telah mensyaratkan pemufakatan dan persatuan untuk tercapainya kesuksesan tersebut. Anugerah Allahﷻ yang luas kualitasnya melebihi ke-qutb-an[3] dan  ke-ghauts-an[4]. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah: يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ “Tangan Allahﷻ berada di atas tangan mereka”[5] serta sabda Baginda Nabi: “Inayat dan kodrat Ilahi ada  bersama jamaah”[6]. Maka dari itu sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, permohonan terbaik guna dikabulkannya pertolongan dan inayat Ilahi adalah pemufakatan dan persatuan.

Kesimpulannya, barangsiapa yang ingin meraih inayat Allahﷻ, maka dia harus mengikuti nasihat-nasihat ini; khidmah-khidmah yang akan dikerjakan harus dijalankan di atas petunjuk dan bimbingan ini.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Hizmette Üslup’ Dari Buku Prizma 4)

EVALUASI

Apa hubungan inayah Allah dan tawajuh kepadaNya?

Apakah yang dimaksud dengan sunnatullah? Jelaskan!

Sebutkan empat langkah untuk mendapatkan inayah Ilahi!

[1] Uslub berarti jalan, cara, atau mazhab. Uslub juga berarti fann (seni). Menurut ahli balaghah, Uslub adalah sebuah metode dalam memilih  redaksi dan menyusunnya , untuk mengungkapkan sejumlah makna, agar sesuai dengan tujuan dan  pengaruh yang jelas. Dalam bahasa Arab, Uslub adalah makna yang terdapat dalam suatu bentuk susunan lafaz-lafaz (kalimat) agar dapat lebih mudah mencapai tujuan yang dimaksud pada diri pendengar atau pembaca. Kesimpulannya, uslub adalah cara yang dipilih penulis di dalam menyusun lafaz-lafaz untuk mengungkapkan suatu tujuan dan makna dari apa yang disampaikannya

[2] HR Abu Daud, Bab Jihad 75; HR Ibnu Majah, Bab Jihad 18

[3] Qutub secara istilah adalah manusia terbaik yang mengumpulkan seluruh keutamaan. Baik dalam kemanusiaan, ibadah, dan kedekatannya dengan Allah. Seorang qutub merupakan Khalifah Rasulullah dalam menjaga keseimbangan alam. Setiap masa hanya ada satu orang qutub. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kata abdal telah masyhur dalam sejumlah khabar dan qutub telah ditemukan dalam beberapa atsar.

[4] Ghauts merupakan sosok qutub yang sempurna.  Kemutlakan ghauts atau al qutub al jami’ adalah istilah yang muncul di antara para wali

[5] QS Fath 48: 10

[6] HR Tirmizi, Bab Fitan 7; HR Ibnu Hibban, as sahih 10/438

Mengembangkandiri.com qibla001

Barometer Keimanan

Urgensi Beriman

Tujuan dari penciptaan manusia salah satunya adalah untuk beribadah dan bertakwa pada Allahﷻ. Untuk menuju penghambaan yang sempurna maka setiap manusia wajib memiliki keimanan yang kuat. Iman merupakan satu satunya perkara yang tidak bisa dihadirkan kehadapan Allahﷻ dalam keadaan cacat. Jika salat wajib belum sempurna maka masih bisa disempurnakan dengan salat sunnah, jika puasa belum sempurna maka bisa ditutupi dengan puasa sunnah, jika zakat belum sempurna maka bisa disempurnakan dengan sedekah. Namun, jika seseorang mukmin menghadap Allahﷻ dengan iman yang tidak sempurna, maka tertolak semua amalnya.

Lalu Bagaimana Cara Menjaga dan Memperbaiki Iman?

Jauh–jauh hari baginda Muhammad ﷺ telah mengabarkan pada kita bahwa selagi Ruh belum melewati tenggorokan maka potensi iman bertambah atau berkurang senantiasa ada. Namun bersamaan dengan itu beliau juga memberitahukan kita solusi meningkatkan iman, Sabdanya.

Perbaharuilah iman kalian dengan kalimat laa ilaaha illAllaah”. Hadits ini dapat dimaknai secara tersurat maupun tersirat, secara tersurat hadits ini menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dengan memperbanyak zikir dan menyebut Allahﷻ, sementara makna tersuratnya iman dapat bertambah dengan mengaplikasikan lafadz “laa ilaaha illAllaah” ada dua substansi yang terkandung dalam lafadz tersebut. Pertama penafian, maksudnya adalah menafikan keterkaitan segala sesuatu dalam hidup kita dan substansi kedua adalah penyandaran yaitu menyandarkan segala sesuatu pada Allahﷻ. Maksudnya setelah kita menafikan keterkaitan Zat lain selain Allahﷻ kemudian kita menyandarkanya kepada Allahﷻ.

Contoh sederhana pengaplikasian lafadz “laa ilaaha illAllah“ dalam kehidupan kita sebagai berikut. Suatu hari terjadi kecelakaan di depan halte bus, secara kebetulan di dalam halte ada 3 orang yang sedang menunggu bus. Orang pertama seorang dokter karena profesinya seorang dokter maka ia mengambil kesimpulan awal “mungkin sang driver sedang kurang sehat sehingga terjadi kecelakaan“, sementara orang kedua yang merupakan seorang mekanik bliaupun berkesimpulan “mungkin ada yang tidak beres dengan mesin nya“. orang ketiga berpendapat “bisa jadi kecelakaan ini terjadi karena faktor jalan yang bergelombang atau kontruksi jalan yang tidak pas” hal ini wajar karena latar belakang orang ke tiga ini seorang insinyur kontruksi.

Lalu siapakah yang benar? Tentu kita tidak bisa mengatakan semua benar atau semua salah karena ini hanya kesimpulan sementara berdasarkan latar belakang keahlianya, namun jika kita ingin mengaplikasikan substansi hadits di atas maka yang seharusnya dipikirkan di awal adalah “ kecelakaan ini terjadi karena kehendak dan takdir dari Allahﷻ, namun sebab yang menjadi wasilahnya adalah bisa jadi karena faktor kesehatan driver, faktor kondisi mesin atau factor kontruksi jalan” jika kita senantiasa mengaitkan segala sesuatu yang terjadi kepada Allahﷻ terlebih dahulu baru kemudian mencari sebab atau faktor lain yang menjadi asbab.

Menakar keimanan

Keikhlasan dan kesabaran bagaikan saudara kembar yang senantiasa mendampingi iman. Bagaikan mustahil seseorang mendeklarasikan keimananya tanpa ada ujin dari Allahﷻ. Ujian bagi orang yang beriman bagaikan stempel dan sekaligus barometer untuk mengukur kadar keyakinan seorang mu’min. Dalam QS. Al -Angkabut Allahﷻ berfirman :

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

Dari ayat ini seolah Allahﷻ ingin mengabarkan kepada orang–orang yang berkeluh kesah terhadap ujian setelah beriman, agar berhenti berkeluh kesah dan bersabarlah, karena ujian adalah tabiat keimanan, maka semakain seseorang ikhlas, ridho dan sabar atas ujian yang ada maka hal itu menunjukkan kualitas keimanan seseorang.

Kualitas keimanan sesorang tidak bisa dilihat dari seberapa besar wawasanya terhadap pengetahuan agama, juga tidak bisa diukur berdasarkan ilmu dan pakaiannya. Jika barometer iman adalah wawasan, ilmu dan pakaian , maka kenapa iblis yang wawasanya melebihi Nabi Adam, dan yang lebih dahulu diciptakan Allahﷻ justru menolak printah Allahﷻ untuk bersujud kepada Adam?

Ujian dapat berupa sesuatu yang terlihat buruk seperti musibah, kesulitan dan kefakiran, dan dapat juga berupa segala sesuatu yang terlihat baik seperti kemudahan, kelapangan kekayaan. Keduanya tetaplah ujian keimanan, keridhoan, keikhlasan dan kesabaranlah barometernya. Jadi barometer bagi keimanan adalah kesabaran, semakin tinggi kadar keyakinan seseorang terhadap Tuhan-nya maka semakin besar pula tingkat kesabarnya, semoga kita semua dimasukkan kedalam golongan orang–orang yang beriman dan bersabar.

mengembangkan diri cahaya-abadi-muhammad-1-768x1178

Menepati Janji – Cahaya Abadi Muhammad SAW

-salawat-

Al Quran memuji orang-orang yang memiliki sifat Sidiq

Quran surat al-ahzab ayat 23 yang artinya di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya

Anas bin Malik r.a. menjadi pelayan Rasulullah SAW melalui sebuah peristiwa unik, yaitu ketika ibunya menggendongnya saat ia berusia 10 tahun ke kediaman Rasulullah SAW untuk diserahkan sebagai pelayan kalau itu sang Ibu berseru wahai Rasulullah ini pelayanmu Anas lalu wanita itu meninggalkan Anas begitu saja dan beranjak pulang. Anas bin Malik r.a. berkata ayat ini turun disebabkan Pamanku Anas bin Nadhar dan orang-orang yang seperti dia. Sejak Anas bin Nadhar r.a melihat Rasulullah SAW pada peristiwa Baitul Aqabah, paman Anas bin Malik itu sudah amat mencintai Beliau hanya sayangnya disebabkan adanya beberapa hal, Anas bin Nadhar tidak dapat ikut Perang Badar. Padahal Perang Badar memiliki posisi khusus yang sangat istimewa di kalangan umat Islam. Semua sahabat yang mengikuti perang ini mendapatkan predikat khusus diantara para sahabat yang lain bahkan menurut Jibril Alaihissalam yang menjadi panglima golongan malaikat dalam Perang Badar para malaikat yang ikut dalam Perang Badar juga mendapatkan kedudukan istimewa diantara para malaikat yang lain 

Tentang pamannya Anas bin Malik r.a. menuturkan, pamanku yang namaku berasal dari namanya tidak ikut berperan di Badar bersama Rasulullah SAW sungguh hal itu telah membuatnya gelisah Pamanku berkata pada peperangan pertama yang harus dihadapi rasulullah aku tidak ikut serta. Seandainya saja Allah berkenan menyampaikan aku pada perang yang terjadi nanti bersama Rasulullah pastilah Allah akan melihat Apa yang kulakukan. 

Rupanya Pamanku berkata begitu karena dia tidak sanggup mengatakan yang lebih dari itu, maka kemudian dia ikut berperang bersama Rasulullah dalam Perang Uhud. 

Saat itu dia bertemu, Saad bin Muadz, yang bertanya padanya, “Wahai Abu Amr hendak kemanakah Engkau?”

Ia menjawab, “Semerbak aroma surga, sudah kucium di kaki gunung uhud!”

Maka dia pun maju bertempur sampai akhirnya syahid.

Ketika mengenang kembali Perang Uhud kita pasti tak akan bisa menahan sesak yang mendadak terasa di dada. Sebab, itulah perang, yang dalamnya 70 sahabat Rasulullah gugur sebagai syahid. 

Tampaknya itulah penyebab yang membuat Rasulullah SAW, setiap hari melintas di dekat Uhud selalu berkata, “Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” 

Maksud ucapan Rasulullah SAW ini adalah agar umat Islam tidak membenci Uhud. Uhud memang sebuah gunung yang sulit didaki, tapi Perang Uhud jauh lebih sulit dihadapi. Pada saat itu sebagian sahabat meninggalkan pos yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW selama beberapa saat sebagai bentuk perubahan strategi, itulah sebabnya kita tidak dapat menyebut Perang Uhud sebagai sebuah kekalahan. Penghormatan kita terhadap para sahabat dan sudut pandang kita sebagai Muslim lah yang mengharuskan hal itu. 

Dalam pertempuran Uhud, Rasulullah terluka dan giginya patah, bahkan ada dua buah mata rantai topi besi Rasulullah yang menancap di wajah Beliau hingga berdarah. Tapi karena Rasulullah telah diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, Beliau pun segera melepas baju besinya, seraya berseru kepada Allah, “Wahai Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahuinya 

Dalam Perang Uhud inilah Anas bin Nadhar bergerak tangkas ke sana kemari untuk memenuhi janji yang pernah diucapkannya kepada Rasulullah beberapa tahun sebelumnya. Dalam tempo singkat sekujur tubuh Paman Anas bin Malik ini telah penuh dengan hujanan tombak dan sabetan pedang sampai akhirnya ia pun gugur sebagai Syahid. Demikianlah sejak awal pertempuran Anas bin Nadhar rupanya telah menyadari bahwa hidupnya akan segera berakhir. 

Tapi ketika Saad bin Muadz bertanya kepadanya tentang pertempuran dengan enteng Anas menjawab sembari tersenyum semerbak aroma surga di kaki gunung uhud 

Dalam peperangan uhud, banyak Syuhada yang sulit dikenali wajahnya, Hamzah r.a. Mushab Bin Umair r.a. Abdullah bin Jahs r.a. Anas bin Nadhar.a. Bahkan Anas bin Nadhar hanya dapat dikenali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya sebab tampaknya hanya bagian itulah yang tidak rusak oleh senjata musuh. Mari kita lanjutkan penuturan dari Anas bin Malik, “Dia ada seminar bertempur sampai gugur pada saat itu di sekujur tubuhnya terdapat lebih dari 80 luka sabetan pedang dan tikaman tombak serta anak panah, Bibiku yang bernama Rumbai binti Nadhar berkata, “Aku tidak dapat mengenali saudaraku kecuali hanya lewat jari tangannya!”” 

Pada saat itulah turun ayat yang berbunyi, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya.” alahzab ayat 23 

Para sahabat menyakini bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Anas bin Nadhar dan para syuhada uhud lainnya, benar, ayat ini memang menjelaskan kepahlawanan orang-orang seperti Anas bin Nadhar. ada orang yang menepati janji yang telah diikrarkan pada dirinya, bahwa, ia akan bertempur sampai titik darah penghabisan. Akhirnya ia memang terbunuh, sebab rupanya bahkan maut pun tak mampu menghalanginya untuk menepati janji, ya, dia telah menepati janjinya kepada Allah, ketika sebuah ayat memuji para syuhada seperti mereka. Maka maksud sebenarnya dari ayat itu adalah untuk menunjukkan bahwa para syuhada itu adalah teladan bagi setiap orang yang bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah, lailahailallah. 

Agar mereka tidak mudah menyia-nyiakan agama, menyurutkan keimanan, atau merendahkan syariat Allah. Sungguh Anas bin Nadhar telah menepati janjinya sebagaimana beberapa sahabat lainnya juga telah menepati janjinya dan semua itu mereka lakukan karena mereka telah dididik 

 Jadi sebagaimana halnya sosok yang mereka cintai adalah seorang sadiq yang terpercaya maka para sahabat dan murid-murid beliau pun menjadi orang-orang yang sodiq dan terpercaya inspirasi cahaya abadi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kebanggaan umat manusia 

mengembangkandiri.com_father-and-son-using-air-masks-2021-09-02-10-31-03-utc

Musibah Kehidupan

Musibah dalam Kehidupan Pribadi dan Kehidupan Agama

Entah mengapa, ketika kita membicarakan musibah, maka yang terbersit di kepala kita adalah musibah yang menerpa kehidupan kita di dunia. Musibah yang biasa dikaitkan dengan bencana. Bencana yang bisa disebabkan oleh faktor alam, non-alam, atau konflik sosial. Padahal ada musibah bentuk yang lain, yang mungkin bisa lebih berbahaya dampaknya.

Semua kita sepakat bahwa musibah adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, dan harus kita hadapi. Musibah terkadang ada yang menimpa diri, keluarga, atau masyarakat luas. Dampak dari musibah pun sangat beragam macamnya.

Bagi individu, musibah bisa membuat seseorang jatuh ke jurang keterpurukan atau sebaliknya musibah juga bisa menjadi titik balik baginya untuk menjadi insan yang lebih baik lagi menjalani kehidupan. Semua itu tergantung apakah individu tersebut mampu mengambil hikmah atau tidak dari musibah yang sedang dihadapinya.

Musibah dalam Kehidupan Pribadi Manusia

Seperti yang dikatakan di awal, musibah tidak hanya dibatasi dengan peristiwa alam, non-alam ataupun konflik sosial. Musibah juga bisa menimpa sisi kehidupan pribadi manusia. Salah satu musibah yang sering menimpa sisi pribadi kehidupan manusia adalah rasa ketakutan, kekhawatiran, atau kegelisahan dalam menjalani kehidupan. Takut adalah sifat dasar manusia, tetapi jika salah disikapi, akhirnya ketakutan bisa menjadi musibah besar dalam kehidupan.

Misalnya, di masa pandemi seperti saat ini, seseorang bisa saja dirundung ketakutan yang luar biasa untuk menghadapi masa depan yang tidak menentu dan tidak bisa diprediksi akan seperti apa. Rasa takut ini bisa berubah menjadi sebuah tekanan, stress, dan akhirnya bisa membuat seseorang tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang.

Selain rasa takut, salah satu musibah besar dalam kehidupan pribadi adalah ketika manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan pokok manusia berupa sandang, pangan, dan papan. Jika semua itu tidak terpenuhi, maka musibah besar bisa terjadi pada manusia. Hal ini yang membuat orang berlomba-lomba dan berusaha semaksimal mungkin agar bisa memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.

Hal lain yang bisa dikategorikan musibah yang menimpa sisi kehidupan pribadi manusia adalah kekurangan harta. Di era yang serba glamor dan hedon seperti saat ini, hidup pas-pasan bisa membuat seseorang merasa dirinya terkucilkan. Meskipun kebutuhan pokok sudah terpenuhi, seseorang pasti menginginkan hal lainnya, yang jika dipikirkan sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang penting dan utama bagi dirinya.

Misalnya, banyak orang yang merasa dirinya tertekan jika tidak memiliki gawai. Tak bisa dipungkiri, di era digitalisasi teknologi, gawai seakan-akan menjelma menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang. Jika seseorang tidak bisa menyikapi hal ini dengan baik, maka ia bisa melakukan apapun dan mungkin menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Musibah dalam Kehidupan Agama

Sebenarnya, musibah yang menimpa kehidupan duniawi kita, apapun bentuknya, masih terbilang kecil jika dibandingkan musibah yang menimpa kehidupan agama kita. Musibah yang  menimpa kehidupan agama memiliki dampak yang jauh lebih besar, karena tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga kehidupan di akhirat kelak. Dampaknya tidak sementara, tetapi berdampak kekal dan abadi.

Lantas, apa saja contoh musibah dalam kehidupan agama? Keraguan dalam keimanan, hidup dalam lingkaran dosa, tidak mementingkan ibadah, lemahnya hubungan dengan Tuhan, mangabaikan generasi penerus dan membiarkan mereka hidup jauh dari Tuhannya adalah beberapa contoh musibah dalam kehidupan agama. Jika kita memahami betapa bahayanya semua itu, maka musibah yang menimpa dunia kita tidak akan ada artinya.

Terkadang kita meremehkan dan tidak memperhatikan musibah kita dalam beragama. Padahal musibah ini sebenarnya musuh terbesar yang ada di dalam diri kita. Jika kita tidak mampu menghadapi dan kalah darinya, maka musibah-musibah duniawi lain akan datang menyertainya.

Agar kita bisa terhindar dari musibah dalam kehidupan agama dibutuhkan kepekaan diri dalam menyikapinya. Kepekaan akan muncul bergantung dengan bagaimana keseharian kita dalam menjalani kehidupan. Jika kita tenggelam dalam diskursus masalah-masalah aktual terkini dengan menyibukkan diri di media sosial, jika kita hidup dalam pikiran yang dikotori oleh dedikodu dan pikiran buruk lainnya, atau jika kita tidak pernah serius, menganggap enteng, dan selalu bercanda dalam kehidupan keseharian kita, maka kepekaan yang diharapkan tidak akan muncul dalam diri kita.

Oleh karenanya, dibutuhkan para ksatria yang selalu mampu menata hatinya untuk berhati-hati menjalani kehidupan, selalu menginstropeksi diri atas apa yang telah diperbuat, dan selalu menengadahkan kedua tangan seraya berdoa agar diberikan petunjuk jalan yang benar, jalan yang lurus, dan jalan yang diridhai-Nya.

Sebuah Refleksi

Ya, musibah akan datang dan menghampiri kita. Jalan yang tepat untuk menghadapi musibah adalah dengan kesabaran. Kita harus menyadari bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Tuhan yang Mahakuasa, dan segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Maka, sebagai orang yang beriman, sikap sabar adalah sebuah keharusan karena kita tak pernah tahu apa skenario Tuhan yang sedang dijalankan dalam kehidupan kita.

Setelah kita memahami hal ini, maka kesabaran perlu diiringi dengan sikap keridhaan. Ridha atas segala takdir yang telah digariskan dalam kehidupan kita. Ridha atas segala konsekuensi yang akan kita dapati dalam setiap musibah yang kita terima.

Sabar dan ridha tidak berarti kita berpangku tangan atas segala musibah yang menimpa kita. Sabar dan ridha adalah puncak dari ikhtiar kita dalam rangka menjauhkan diri dari segala bala dan musibah. Sabar dan ridha seakan menjadi dua senjata ampuh yang dimiliki seorang yang beriman dalam menghadapi dampak buruk bala dan musibah. Dengan sabar dan ridha manusia akan menunjukkan sisi kemalaikatannya dan bisa mengambil hikmah dari bala dan musibah yang dihadapinya.