sven-fischer-V7WkmXntA8M-unsplash

HAK HAMBA

“Hak Hamba”

Apa definisi hak hamba?

Hak hamba adalah sebuah istilah yang luas. Segala bentuk pelanggaran baik terhadap badan maupun harta benda orang lain, dimana pelanggaran materi akan berhadapan dengan hukum pidana, sedangkan yang berhubungan dengan kalbu dan jiwa akan berhadapan dengan hukum perdata. Pelanggaran hak hamba yang paling besar adalah pembunuhan. Pembunuhan berarti mengakhiri hak hidup orang lain, memutus hubungan seseorang dengan segala sesuatu di alam semesta, menyudahi hak seorang hamba untuk menyembah dan beribadah kepada Sang Pencipta, serta menjadi penghalang terjadinya syukur terhadap nikmat rahmani dan terjadinya tafakur akan karya-karya Ilahi.

Untuk memudahkan memahami cakupan dalam definisinya, berikut contohnya dalam kehidupan:

  • Menggunakan barang tanpa pengetahuan dan izin dari pemiliknya
  • Merampas, mencuri, korupsi
  • Menunda pembayaran hutang di saat mampu membayarnya
  • Menipu dalam jual beli (takaran, timbangan, kualitas, kuantitas)
  • Tidak menghargai dan menghormati ayah dan ibu
  • Gibah, fitnah, mencela orang lain
  • Tanpa hak mencederai, melukai, dan membunuh orang lain
  • Menghalangi orang lain untuk mempelajari agamanya ataupun menjalankan perintah agamanya

Islam memberi perhatian besar kepada hak-hak manusia serta melindunginya. Setiap muslim harus menunjukkan rasa hormatnya kepada hak-hak individu orang lain, tak peduli apapun agama dan suku bangsanya. Setiap muslim juga harus memperhatikan dengan seksama agar dirinya tidak melanggar hak orang lain. Karena satu-satunya persoalan dimana para syuhada yang bebas dari pertanyaan pun akan dilakukan perhitungan atasnya serta membuat semua orang gemetar di hari kiamat nanti adalah hak hamba.

Terkadang hak kita sebagai manusia dilanggar, baik oleh individu ataupun otoritas tertentu. Terkadang kita pun menjadi korban. Demikian juga dengan orang lain, bisa jadi kita pernah mengambil ataupun melanggar hak orang lain. Diambil ataupun dilanggarnya hak kita oleh orang lain sampai kapan pun tidak akan pernah menjadi sarana bagi timbulnya kerugian di pihak kita. Karena kita bisa merelakannya dengan berkata: ”Jikalau ada hak saya yang diambil ataupun dilanggar, tidak apa-apa, saya halalkan, saya relakan.” Dengan demikian haknya pun telah menjadi halal untuk dinikmati pihak lain. Akan tetapi, jika kita yang memakan hak orang lain, maka kita harus meminta kerelaannya secara tersurat. Jika diperlukan kita juga harus membayar apa yang sudah kita ambil tersebut.

Di sini aku ingin menyampaikan satu memori berkenaan dengan topik yang kita bahas. Ayahku adalah orang yang senantiasa berusaha hidup dengan seluruh prinsip Islam. Suatu waktu, pekerja yang membantu ayahku di ladang meninggalkan jasnya di gudang jerami. Bertahun-tahun lewat tetapi orang ini tidak juga mengambilnya. Ayahku tidak pernah lupa kepadanya, sebelum wafat beliau berpesan kepada paman-pamanku “Tolong cari pemilik jas ini, kembalikan ia kepada pemiliknya.” Bahkan di masa-masa sakaratul maut beliau merasakan kepedihan dan kekhawatiran akan terambilnya hak orang lain oleh dirinya.

Ya, hak hamba amatlah penting. Saya hampir selalu berdoa bagi kaum mukminin. Akan tetapi, ketika sampai di bahasan hak hamba, sungguh ia adalah bahasan yang berada di luar kuasa kita. Tidak mungkin kita bisa berbuat sesuatu untuk menolong mereka (yang telah mengambil atau melanggar hak orang lain). Karena tidak jatuh kewajiban berzakat kepada diriku, maka apa saja yang kukeluarkan nilainya adalah sedekah. Walau demikian, saat mengeluarkannya selalu kuniatkan untuk membayar zakat. Akan tetapi, saya yakin jika niat seperti kalimat berikut ini akan jauh lebih tepat: ”Ya Allah! Barangkali aku pernah mengambil ataupun melanggar hak orang lain. Terimalah apa yang aku berikan ini sebagai sedekahnya, biarlah pahalanya mengalir untuk dia.”

Kesimpulannya, mari kita tidak mati dan menghadap kepada Allah SWT nanti dengan membawa hak orang lain. Andai kita tahu siapa pemilik dari sesuatu yang telah kita ambil, hendaknya kita secara langsung memohon keridaanNya. Bagi yang tidak kita ketahui pemiliknya, hendaknya kita bersedekah atas namanya dimana pahala-pahala yang akan mengalir kita niatkan sebagai hadiah untuknya.

jeremy-bishop-iftBhUFfecE-unsplash

BERAKSI DAN BERGERAK DENGAN DINAMIKA-DINAMIKA DASAR

Tanya: Dalam berhizmet kepada agama, apakah rahasia untuk bisa selalu menjadi manusia aksi dan penuh semangat yang cocok dengan kebutuhan dan kondisi dewasa ini? Apa saja solusi untuk bisa senantiasa menghidupkannya?

Pentingnya Menyandarkan Segala Daya Kepada Pemiliknya, yaitu Allah SWT

Aksi adalah kata yang diserap dari bahasa Perancis. Berikutnya, kita bisa menggunakan istilah gerakan untuk menggantikannya. Di dalam hizmet-hizmet yang dibuat demi agama kita, ketika kita menyebut aksi ataupun gerakan, kita dapat memikirkan makna-makna seperti: tidak melihat cukup apa yang sudah ada; menggenggam usaha di posisi tertinggi; tidak pernah berhenti, jenuh, dan bosan dalam usaha mengubah dunia menjadi koridor surga, ataupun mengantarkan pekerjaan ini hingga tercapai tujuan akhirnya.  Sedangkan akhir dari pekerjaan ini adalah – sesuatu  sehingga jawaban rahasia dari pertanyaan di atas adalah – untuk  menangkap titik ufuk yang dijelaskan oleh ayat:

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ 

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”[1]

Jadi, maksudnya adalah mengantarkan penghambaan dengan semua ketulusan dan keaktifan sehingga ia menjadi kokoh sampai ajal datang nanti. Ya, mengantarkan penghambaan hingga ajal datang adalah gerakan dan aksi yang sebenarnya. Baik secara individu maupun secara kelompok masyarakat, jika seorang hamba memikirkan tugas dan kewajiban yang diharapkan dari dirinya dengan sepenuh jiwa dan hatinya serta berjuang untuk menunaikannya, maka sebagaimana kita sebutkan sebelumnya, ia telah memahami dan hidup dengan gerakan dan aksi yang sejati. Sebaliknya, jika permasalahannya hanya diambil dari satu dimensi tunggal belaka dan dengan pengabdian-pengabdian materi yang mereka kerjakan sejak awal, walaupun nantinya mereka berhasil membawa Turki menjadi negara paling makmur di dunia serta, sebagaimana disampaikan dalam beberapa karya tulis, andai pedang-pedang digantung di atas menara Masjid Blue Mosque, pekerjaan itu akan tergelincir. Sedangkan sisanya akan mundur dengan teratur. Bahkan andai dalam satu gerakan mereka menyelamatkan dunia lalu mereka yakin dan percaya pada kapasitas perbuatannya, dapat dengan mudah saya sampaikan bahwa segala yang mereka kerjakan tersebut tidak akan dianggap sedikitpun di sisi Sang Haq.

Di bagian kedua pertanyaan dikatakan “Apa saja solusi untuk bisa senantiasa menghidupkannya?” Pertama-tama, untuk bisa melanjutkan semangat dan ruh tersebut berhubungan dengan faktor-faktor berikut ini:

1. Amaliyatul Fikriyah :

 Ya, tampaknya kekurangan terbesar kita adalah jauhnya dan lalainya kita dari tafakur dan tadqiq[2]. Selebihnya disebabkan oleh jauhnya kita dari muraqabah (autokontrol) kehidupan hati dan kubur.

2. Rabitatul Maut :

Yaitu senantiasa memikirkan kematian, bersatu dengannya; mempersiapkan diri untuk memenuhi janji pertemuan dengan Malaikat Izrail. Untuk itu, rumah sakit harus dijenguk…, berempati dan menyatu dengan para pasien pengidap berbagai penyakit. Harus mengingat kembali bahwasanya dunia ini fana dan senantiasa mengalami dekadensi dengan menziarahi kuburan serta memikirkan kondisi di liang lahat di mana di sana kita tinggal tulang belulang mengering belaka. Di sisi lain, mengingat pepatah “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama,” kita harus berjuang meninggalkan karya dan jasa, dengannya kita berusaha memenuhi umur kehidupan kita. Perhatikanlah kehidupan Sang Kebanggaan Alam Semesta! Di akhri kehidupannya, di waktu perjumpaan dengan Sang Rafiq al Ala semakin dekat pun beliau menyiapkan pasukan untuk melawan Bizantium.[3] Beliau juga mengangkat putra dari syuhada Mu’tah[4], yang dicintainya seperti cintanya kepada cucu-cucu kandungnya, yaitu Sayyidina Usamah bin Zaid[5] r.a. sebagai komandan pasukan. Di waktu-waktu akhir saat sakitnya semakin parah, beliau pingsan, sadar, pingsan lagi, dan setiap sadar beliau selalu bertanya apakah pasukan sudah berangkat atau belum. Saya mohon izin, apakah hal tersebut lazim dipikirkan dan dikalutkan oleh orang-orang yang sedang menghadapi sakaratul maut? Tetapi tidak bagi para pegiat dakwah. Dibutuhkan pekerja magang yang layak untuk disandingkan dengan Sultan seperti Beliau! Dan dari negeri ini muncul satu jenius yang amat cemerlang: Murad Hudavendigar[6]. Beliau membatasi hidupnya dengan jalan meletakkan ganjal di perut sebagaimana yang dilakukan Baginda Nabi. Sebelum menyerahkan ruhnya kepada Tuhannya di medan perang, orang-orang terdekatnya, yaitu Gazi Mihal[7] dan Gazi Evranos[8] bertanya: “Sultan, apa ada permintaan terakhir Anda?” Jawaban Sang Sultan adalah jawaban yang nanti  ditulis oleh tinta emas dalam lembaran sejarah manusia:”Attan inmeye inmeyesüz, kılıcınızı kınına koymayasuz! ~ Kita tidak boleh turun dari punggung kuda, kita tidak boleh sarungkan pedang!”. Beliau tidak berwasiat untuk memakamkan jasadnya di Bursa ataupun supaya penerusnya membalaskan dendamnya. Sebaliknya, dengan apa yang disampaikannya tersebut beliau sedang menghembuskan semangat aksi di jalan dakwah dimana beliau jatuh syahid. Salah satu jalan untuk bisa meraih titik ufuk tersebut adalah dengan menghadapi kematian dengan senyuman serta menerima kematian sebagai hari raya dan pesta resepsi purna tugas kita di muka bumi.

3. Tidak tertinggal dari profit yang didapat dari hasil kerja kolektif.

Barangkali sebagian dari kita telah runtuh kehidupan kalbuya. Kita harus memperbaikinya dengan jalan hadir di dalam atmosfer yang penuh berkah, yaitu tempat di mana orang-orang baik berkumpul. Terkadang di dalam atmosfer negatif dimana kita terdapat di dalamnya, mata kita, telinga kita, tangan hingga kaki kita sendiri tidak cukup bagi kita. Di waktu itulah genggaman tangan, tatapan mata, serta perhatian dari telinga para sahabat dapat mewujudkan apa yang kita butuhkan serta membantu kita meraih keadaan di atas kekuatan dan kemampuan kita.

4. Untuk bisa selalu berada dalam skema hizmet kepada bangsa yang hidup dan aktif, secara mutlak kita harus ambil bagian dalam tugas dengan penuh semangat tanggungjawab

            Ya, sejumlah orang yang berniat untuk melakukan hizmet kepada bangsanya berkumpul dalam frekuensi sering; mereka sibuk menelaah dan membahas hasil kerja serta program lanjutannya, seminggu penuh mereka bangun dan tidur dengan kesibukan tersebut; tanpa membiarkan waktu berlalu percuma mereka hembuskan nafas-nafas hizmet. Ketika mereka berlaku demikian, maka Allah SWT pun memberkahi gairah dan semangatnya, atau dengan kata lain memberkati gerakan dan aksinya. Barangkali ini adalah ungkapan hakikat dari hadis qudsi:”…Jika ia datang kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari...”[9]

            Kesimpulan; ketika penindasan disungkurkan ke tanah; para ksatria yang menyumbangkan bahunya untuk memikul pekerjaan yang amat indah ini pertama-tama melalui tafakur akan menyadari betapa berharganya nilai-nilai yang mereka miliki… dengan rabitatul maut, mereka akan melampaui fana dan dekadensi dunia… bahkan mereka akan menunjukkan jalan untuk menjadi eksis di tengah-tengah kefanaan dan dekadensi dunia kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka akan menunjukkan kepada orang lain jalan untuk menjadi eksis di dalam kumpulan rekan-rekan yang membersamainya bahu-membahu di jalan hizmet kepada bangsa. Bersama mereka melewati setiap kesulitan, cobaan, ujian, juga kebahagiaan di setiap tempat dan waktu. Dengan jalan ini angka satu akan mencapai seribu. Para pahlawan futuwah yang menjadi representasi dari loyalitas akan berlari menuju hizmet-hizmet berikutnya dengan penuhsemangat dan gairah seolah berangkat menuju pertemuan dengan tokoh-tokoh besar nan jadi panutan di dunia pembimbing dan penunjuk jalan keselamatan. Betapa banyak pahlawan yang akan menampilkan gerakan di atas gerakan untuk mewujudkan kabar gembira yang telah dikirimkan ke alam dunia berabad-abad yang lalu.

            Ya Allah, angkatlah generasi kami dengan anugerah, kemurahan, serta inayatMu! Berkat Kemahakuatan serta KeperkasaanMu, dukunglah kami di jalan dan perjuangan besar yang mana ia tak mampu kami lalui dengan kekuatan dan kemampuan kami! Jadikanlah kami dan generasi kami sebagai bagian yang melanjutkan tugas besar ini! Ya Allah, selama agama ini eksis di muka bumi, bahagiakanlah mereka baik yang ada di atas maupun di dalam permukaan bumi!

 

Diterjemahkan dari artikel yang berjudul “Temel Dinamikleri Ile Aksiyon”, yang terdapat di buku Prizma 1, hlm. 24


[1]Surat al Hijr 15:99

[2] Pemeriksaan secara seksama dan detil

[3] Bukhârî, mağâzî 87; Müslim, fazailü’s-sahâba 63.

[4] Bukhârî, mağâzî 44; Müslim, janâiz 30

[5] Bukhârî, adab 22, Ahmad Ibn Hanbal, al-Musnad 5/205.

[6] Murat Hudavendigar adalah Sultan Murad I. Hudavendigar berasar dari bahasa Persia yang bermakna “Yang Taat Kepada Tuhannya”. Tetapi dalam konteks ini bermakna Khalifahnya Allah. Adalah sultan ke-3 Usmani setelah Osman Gazi dan Orhan Gazi. Beliau syahid setelah berhasil menakhlukkan Kosovo

[7] Abdullah Mihal Gazi adalah sahabat seperjuangan Sultan Murad. Beliau adalah komandan bizantium pertama yang memilih Islam dan bergabung dengan pasukan Usmani. Bernama asli Mikhael Kosses, setelah bersyahadat beliau menerima nama yang diusulkan oleh Sultan Muran, yaitu Abdullah. Beliau kemudian dikenal dengan nama Abdullah Mihal Gazi

[8] Komandan Perang di masa Sultan Murad I, Bayezid I, Suleyman Celebi, dan Mehmed I

[9] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”(HR Bukhari no 6970 dan Muslim no. 2675)

jesse-roberts-146556-unsplash

Rumah Cahaya dari Masa ke Masa

Rumah Cahaya dari Masa ke Masa

(Diterjemahkan dari Prizma 2 artikel berjudul Dünden Bugüne İbn Ebi’l-Erkam Evleri)

Tanya: Apa esensi dari Rumah Cahaya dan apa saja yang bisa diuraikan terkait dengan misi yang diembannya?

Jawab: Topik dan gagasan yang paling sering saya sampaikan dan paling jelas saya kemukakan hingga saat ini salah satunya adalah rumah cahaya. Tidak mungkin saya bisa mengingat keseluruhan penjelasan saya di masa lalu untuk kemudian mengulangi menjelaskannya kembali secara sistematik saat ini. Akan tetapi, karena kembali ditanyakan, saya akan berusaha menjelaskannya kembali sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikiran saya, mohon maklum jika tidak tertib.

Benih mungil yang di lempar di padang ketiadaan

Semua institusi yang kita kelola pada hari ini, dapat diibaratkan seperti pohon besar yang tumbuh dari sebuah benih mungil yang dilempar di atas padang ketiadaan.

Ya, di masa dimana sebuah lilin dinyalakan di tengah kegelapan yang semakin pekat melingkupi – perlahan ia menyirnakan kegelapan pekat tersebut; ruang mungil yang dibangun, pelan-pelan  ia menjadi sebuah  rumah cahaya, lalu menjadi kompleks perumahan yang lebih besar; persis seperti karakter fitri sebuah sperma yang mengandung cahaya dari Baginda Nabi Shallallahu  Alayhi Wasallam sebagai sebab pertama dari penciptaan dasar langit dan bumi, ia pun lewat perwalian Nuru Adzam  melakukan hal yang kurang lebih sama.

Rasulullah membangunnya dari sebuah rumah

Jika kita melihat bagaimana Rasulullah SAW memulai usaha ini, beliau juga memulainya dari rumah-rumah ini. Ya, ketika Rasulullah SAW memulainya dengan sebuah rumah, maka bumi berubah menjadi masjid, dimana Mekkah menjadi mihrabnya, Madinah menjadi mimbarnya. Semua manusia di seluruh penjuru dunia, dari yang berumur tujuh hingga tujuh puluh tahun, dari laki-laki hingga perempuan, satu per satu menjadi santri yang juga jamaah dari masjid ini serta membenarkan pesan dari madrasah irsyad dan tablig ini. Yaitu usaha dakwah dan mematangkan jiwa manusia.

Para Pembaharu di setiap masa mengikuti jejak langkah Rasulullah

Di masa-masa setelah Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah, metode ini tetap diikuti. Misalnya, di masa dimana Bani Umayyah perlahan mengalami kemunduran, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz r.a. bersama 3-5 orang di sekitarnya memulai usaha perbaikan dengan sejumput orang ini. Beliau memulainya dan dalam waktu yang amat singkat, yaitu dalam dua setengah tahun, beliau telah mencapai prestasi yang bahkan tidak akan mampu disamai oleh mereka yang bekerja selama seratus tahun. Beliau membangun usaha agungnya tersebut dari tempat yang kecil dengan dukungan sejumput orang-orang di sekitarnya saja. Kemunduran yang dimaksud disini adalah kemunduran di bidang keinsafan beragama.

Imam Ghazali juga mengikuti jalan yang sama. Ya, beliau juga bersama beberapa orang dari masyarakat yang dipanggilnya, menjelaskan falsafah khidmah kepada para manusia; beliau menunjukkan jalan ‘ihya’ ilmu-ilmu agama  dan ketika beliau mengerahkan penanya untuk menulis  ‘al Munqidhu minad Dhalal’ sebagai usaha dengan tujuan menghidupkan ilmu-ilmu agama tadi; Di sisi yang lain, dengan kitabnya yang berjudul ‘Ihya Ulumuddin’ beliau membakar suluh kebangkitan kehidupan Islami di kalbu kaum mukminin.

Sebenarnya, mulai dari masa dimana cahaya awal itu berpendar hingga masanya Imam Rabbani; dari masa beliau hingga ke masanya Sang Penderita Agung di masa kita ini, Bediuzzaman Said Nursi; Mereka yang berperan sebagai mursyid kepada umatnya Nabi Muhammad SAW di berbagai masa, sosok-sosok agung tersebut senantiasa mengikuti jalan yang sama.

Ya, alam semesta yang luar biasa ini; Sebagaimana sistem tata surya dan galaksi disusun oleh beragam atom berukuran mini. Demikian juga sebuah dakwah agung, ia dibangun dari usaha-usaha kecil tadi yang menggemakan[1] (pesan dakwahnya) ke setiap kalbu. (Atom-atom mini penyusun alam semesta tadi) Menjadi buku yang penuh makna, (ia) berisi berbagai macam galeri[2] (seni yang agung).

Isyarat halus dari Al Quran

Ketika pembahasannya sampai di masa kita ini; Cahaya yang terdapat di Surat An Nuur ~ yang berarti Cahaya;

ف۪ي بُيُوتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ ف۪يهَا اسْمُهُۙ يُسَبِّحُ لَهُ ف۪يهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِۙ ﴿٣٦﴾

Artinya: di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allah buat ditinggikan dan disebut namaNya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan namaNya di dalamnya, baik pagi atau petang (QS Nur:36).

 Menurut saya, rumah-rumah cahaya ini memiliki korelasi dekat dengan ayat ini; rumah-rumah cahaya ini menunaikan tugas seperti menara masjid yang sekali lagi memperdengarkan apa makna dari potret seorang muslim.

Bukankah sosok yang berada di garda terdepan dalam pekerjaan ini ketika memperkenalkan dirinya berkata: ”Saya berada di ujung menara abad ke-13 H. Saya mengundang mereka yang secara tersurat seperti orang berpendidikan, tetapi secara tersirat adalah orang terbelakang untuk datang ke masjid.”

Sebenarnya ketika beliau menyampaikan hal tersebut, bukan berarti beliau benar-benar berdiri di atas menara lalu menutup telinganya (seperti bilal yang akan mengumandangkan azan) dengan jemarinya untuk berteriak. Akan tetapi, beliau, dengan menaranya di Barla, menara yang memanggul peran mulia – Pada hari ini pun ia masih tetap berdiri kokoh dengan segala wibawanya di sisi pohon Platanus orientalis – dari tempatnya beristirahat itu, beliau berusaha untuk memperdengarkan suaranya kepada umat manusia.

Tempatnya beristirahat tersebut, – menurutku – Darul Arqam, lalu kediaman mulianya Baginda Nabi SAW, rumah Imam Ghazali, rumah Imam Rabbani, dan rumah-rumah lainnya yang digunakan untuk tujuan yang sama, merupakan sebuah menara agung yang menjelaskan makna kecemerlangan dengan segala sisinya sebagaimana dijelaskan QS An Nur: 36  Yaitu di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allah buat ditinggikan dan disebut namaNya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan namaNya di dalamnya, baik pagi atau petang.

Karakteristik Rumah Cahaya

Rumah Cahaya ini memiliki karakteristik yang khas. Di sanalah tempat dimana kekosongan jiwa yang bisa muncul karena sisi manusiawi mereka diisi. Ia adalah tempat suci, dimana rencana dan proyek (kemanusiaan) diciptakan; tempat dimana tegangan metafisik terus-menerus dialirkan; tempat  matangnya sosok-sosok beriman sekuat baja, berjiwa kokoh,  dimana Ustadz menjelaskan mereka yang matang tersebut dengan kalimat:  ‘mereka yang berhasil merengkuh iman yang hakiki, akan sanggup membaca semua kebutuhan dunia.’

Dan memang sekarang, penaklukkan dunia tak lagi dilakukan dengan berkuda seperti halnya berlaku di masa lalu; tak juga dengan pedang di tangan, belati di pinggang, ataupun busur panah di punggung; Sudah jelas bahwa di masa kini kalbu-kalbu manusia hanya bisa dimasuki dengan Al Quran di tangan kanan, dan logika di  tangan kiri.

Demikianlah pemuda makna dan ruh matang di rumah cahaya. Merekalah yang akan  memakmurkan jiwa-jiwa yang kosong dengan cahaya yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepadanya, di atas jalan menuju pembebasan di dalam makna dan di dalam jiwa. Jika demikian, rumah-rumah ini merupakan sebuah madrasah atau meja kerja, dimana generasi  yang latah dengan godaan dunia yang memikat dan anak-anak yang kehilangan arah kemudian dimakmurkan dan dikembalikan ke akar makna dan jiwanya

Khususnya di masa dimana madrasah dan majelis zikir dilarang, apa yang diharapkan dari rumah-rumah tersebut adalah ditunaikannya misi mulia tersebut, yaitu untuk mengisi peran madrasah dan majelis zikir. Rumah-rumah ini mengajarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan positif kepada para penghuninya; Ini artinya, selain menjalankan tugas sebagai majelis zikir dan majelis taklim, ia juga menjalankan tugas sebagai madrasah.

Sebenarnya ayat Al Quran mengisyaratkan semua ini:  Penggunaan kata بُيُوتٍ ‘Büyutün’ secara nakiroh (tidak spesifik), mengindikasikan bahwa kata ini dipakai untuk menjelaskan bahwa kata yang dimaksud adalah ‘sesuatu’ selain masjid. Yaitu, ia bukanlah musholla dan masjid dimana azan dikumandangkan lewat menara-menaranya sebagaimana yang kita ketahui; Ia adalah tempat yang tidak spesifik.

Rumah-rumah ini pun seiring berjalannya waktu juga tidak memiliki spesifikasi tertentu. Rumah-rumah ini tidak memiliki spesifikasi yang jelas, karena mereka yang keluar-masuk ke dalamnya senantiasa diawasi.

Walaupun demikian, ada satu yang spesifik dan jelas darinya, yaitu di masa dimana kesulitan menghimpit, rumah demi rumah yang dibuka telah berhasil mendapatkan kemuliaan dan anugerah di masa-masa sulit itu. Tanpa terpaku pada masalah yang sederhana dan sementara, pada masa dimana kumandang azan di menara-menara dan aktivitas mulia lainnya dibungkam, rumah mulia ini menjadi terpuji lewat izin tersirat Allah SWT:”Untuk saat ini biarlah NamaKu dipuji dan digaungkan di rumah-rumah ini”; ia adalah tempat luar biasa, dimana buku-buku dibaca dan kebenaran dikaji.  Setelah ini, kajian-kajian  tentang ruh beragama yang tadinya dilakukan di masjid, ia akan dilakukan di rumah-rumah ini. Dengan pertimbangan ini, rumah-rumah ini adalah tempat yang berkah, yang disebut sebagai “penerjemah wilayah hakikat yang agung”.

Karakteristik Pemuda yang Tinggal di Rumah Cahaya

Keadaan rumah-rumah ini senantiasa cocok dengan apa yang digambarkan Sayyidina Abu Bakar r.a.: “Ketika kita masuk rumah, kita tidak yakin apa masih bisa keluar.  Demikian juga saat kita keluar rumah, kita  tidak yakin apakah masih bisa masuk rumah lagi.“

Ya, adalah sebuah kemungkinan yang sangat terbuka bagi kita untuk ditangkap saat kita menuntut ilmu di dalam rumah; Demikian juga saat kita keluar rumah, juga sangat mungkin penghuni rumah-rumah ini untuk diculik oleh mobil tak dikenal.  Oleh karena itu, Kita harus selalu berlindung kepada Allah SWT dengan berdoa: ”Tidak ada sekutu bagiMu, segala sesuatu ada dalam genggamanMu. Jika Engkau tidak mengizinkan, tidak ada satu keburukan pun yang dapat mencelakakan kami.“ Dengan doa tersebut, kita menyerahkan keamanan rumah ini dan penghuninya kepada penjagaannya Allah SWT.

Menyingkirkan semua ‘sekutu’, sepenuhnya berserah diri dan bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, atau dalam istilah lainnya, duduk dan bangkit ‘bersama’ Allah Subhanahu wa ta’ala, adalah tabiat dari para penghuni rumah-rumah ini

Peran Wanita di Rumah Cahaya

Di sisi lain, ayatul karim ini menggambarkan bagaimana dakwah ini berjalan di masa-masa awalnya, dimana ketika itu hanya sedikit dari kaum wanita yang mengambil peran, atau dengan kaidah taglib[3] dalam bahasa Arab.

رِجَالٌۙ لَا تُلْه۪يهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَا۪يتَٓاءِ الزَّكٰوةِۙ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ ف۪يهِ الْقُلُوبُ وَالْاَبْصَارُۙ ﴿٣٧﴾

QS Nur: 37 “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan  dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu)…” dimana dalam ayat ini seakan-akan hanya kaum lelaki saja yang dibahas. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwasanya ayat ini dengan kaidah taglib juga mengisyaratkan kepada kaum wanita. Dengan demikian kata ‘rijalun’ juga bermakna ‘wanita yang tangguh seperti lelaki’. Yakni, ketika orang lain mengejar jabatan dan kebanggaan diri,  tenggelam dengan penampilan jasmani, sibuk dengan anak-anaknya, sosok-sosok dalam ayat tadi terbang dengan keagungan yang digambarkan ayat tersebut; ia juga bermakna bahwa ada juga wanita-wanita dengan iradah kuat sekuat kaum lelaki sebagaimana dibahas dalam ayat tersebut.

Ya, pada masa permulaannya, bersama para pahlawan dari kaum lelaki seperti Sidik Sulaiman, Hulusi Efendi, dan Husrev Efendi, terdapat pula para pahlawan wanita yang kita kenal, walau jumlahnya sedikit. Mereka bagaikan berada di bawah bayangan Sayyidah Nasibah dan Sumaira yang juga turut terlibat dalam Perang Badar dan Uhud.

Ya, walaupun mereka wanita,  mereka tidak ketinggalan dalam memanggul dakwah yang mulia ini. Pada hari ini pun, rumah-rumah cahaya bertindak sebagai tuan rumah bagi para pahlawan ini.

Peran yang dipikul Rumah Cahaya

Aku rasa, selama rumah cahaya ini dijalankan sesuai dengan tujuan pendiriannya, ia akan  mencapai titik-titik yang tak mampu dicapai oleh tekke (majelis taklim) dan zawiyah (majelis zikir), dan di waktu yang sama ia akan menjadi sebaik madrasah dalam mencetak generasi (emas). Dari rumah-rumah ini akan lahir generasi seperti Abdul Qadir Jailani, Gelenbevi (Professor Matematika Usmani), Ali Kuscu (Ahli Astronomi), Molla Husrev (Syaikhul Islam), Molla Gurani (Guru Para Putra Mahkota Usmani), Ebu Suud (Syaikul Islam di zaman Kanuni Sultan Sulaiman), Ibrahim Hakki dari Erzurum.

Jika tidak, hafizanallah, bisa saja ia berubah menjadi gubuk miskin. Aku rasa, sebagian besar dari mereka yang memiliki perasaan dan pemikiran yang sama denganku, akan lebih memilih mati daripada harus menyaksikan keadaan rumah cahaya berubah menjadi gubuk-gubuk miskin.

Rumah – rumah yang memiliki peran dan tujuan seperti rumah Ibnu Arqam selalu dibuka di berbagai masa, di mulai dengan di masanya Baginda Nabi, pada hari ini pun ia masih melanjutkan tugas dan peranannya.

Rumah-rumah ini, di hari-hari dimana layar mulai terkembang untuk kebangkitan yang ketiga (Kebangkitan pertama adalah  masa Sahabat. Kebangkitan kedua adalah masa Usmani, penerj.), ia akan menjadi tempat dimana generasi pembangkitnya dilengkapi dan  disempurnakan, insya Allah..

Di satu masa, Tekke dan Zawiyah menjadi tempat yang sangat penting dalam menghasilkan generasi pembangkit. Lewat sosok-sosok bercahaya yang dihasilkannya, ia membangkitkan Anatolia. Dalam kriteria tertentu, lewat penunaian tugas dan fungsinya, ia juga menjadi sumber keberkahan bagi kita.

Dan kini, tidak hanya Anatolia. Bagaimana rumah-rumah ini sanggup mencetak pemuda ruh dan makna yang membangkitkan seluruh penjuru dunia, adalah sangat penting untuk menilai rumah-rumah ini memiliki (peranan yang ) setara dengan madrasah, tekke, dan zawiyah.

Para rijalullah yang dihasilkan dari rumah-rumah ini, sambil mempelajari semua aspek dari ilmu positif,  dilengkapi dengan hadis, tafsir, fiqih, dan cabang ilmu Islam lainnya, mereka harus hidup dengan kehidupan ruh Islam yang amat luas, mereka harus menampilkan makna dan jiwa dari ruh para pendahulunya yang tak pernah lekang oleh waktu.

Jika tidak dilakukan, ia bagaikan pengkhianatan kepada rumah cahaya ini, kepada pemilik rumah ini (Bediuzzaman), kepada inspirasi rumah ini yaitu Arqam,  dan kepada Sang pemberi arti, Baginda Muhammad Mustafa Shallallahu alayhi wa salllam.

Tamsil (perwakilan) dari ruh tersebut, sebagai bentuk dari kedalaman maknawinya, ia harus menunaikan shalat dengan amat dalam, kalau perlu ketika meletakkan kepalanya ke tanah ia sanggup mengatakan ‘Ya Allah, Andai Engkau tidak menakdirkanku untuk mengangkat kepalaku ini. Andai sujudku ini menjadi titik dimana aku kembali kepadaMu!’

Ia tidak akan mengalihkan pandangan matanya ke hal lain, ia berdiri dengan tulus di hadapan Ilahi, ia menutup dirinya untuk hal-hal yang tidak berfaedah, dan seakan ia sedang menyaksikan keindahan (jamal) nya Allah SWT di dalam surga, ia memasuki fase konsentrasi , mempertemukan tangan di atas lututnya, ia keluar dari ‘ana’ (saya) dan ‘nahnu’  (kami – kita),  dan menjadi mata yang memandang ‘Huwa’ (Dia)

Ya, mengarahkan diri kepadaNya dengan kriteria ini…

Ya, bukan dengan pemikiran:’Azan sudah dikumandangkan. Aku masih perlu melakukan beberapa kegiatan. Kalau demikian biar aku selesaikan dengan cepat shalat ini.’

Melainkan: demi bisa berjalan menuju mikraj, seakan ia turun ke jalanan landai (menurun), ia melupakan dirinya, menuju serta mencapai fana fillah, baqa billah, menunaikan shalat  dalam atmosfer kebersamaan denganNya, tanpa memikirkan diri sendiri…

Yakni, menuju Rabb sebagaimana Zübeyr Gündüzalp, Hüsrev Efendi meretakkan kalbunya. Dan dengan awradu azkar (wirid dan zikir), tasbihu takdis (tasbih), di bawah bimbingan cemerlang dari Al Quran, demi bisa mencapai Allah SWT, rumah-rumah cahaya ini dirubah menjadi pelabuhan dan galangan kapal yang tidak ada bandingannya.

Ya, jika rumah cahaya dijalankan seperti tadi, maka ufuk pun akan mencapai Allah SWT;

Tempat Menutrisi Generasi Pembawa Panji Kebenaran

Hari ini, mereka yang memiliki mimpi untuk membawa hakikat dan kebenaran ke tujuh benua, mereka wajib dinutrisi oleh rumah-rumah yang berperan bagai penghasil air susu ibu yang berkah.

Untuk mereka yang tinggal bertahun-tahun di tempat suci tersebut namun tetap tidak memahami Allah SWT, mereka yang tak mampu meraih kecintaan dan hasrat kepadaNya, mereka di satu kriteria merupakan orang-orang yang tidak beruntung dan menyedihkan.

Mereka yang memiliki keadaan demikian, mirip bayi yang berada dalam timangan ibunya, namun tak mampu meraih ASI dari ibunya. Mereka yang demikian, tidak mendapatkan keuntungan apapun, pun tidak akan mampu mengantarkan umat manusia menuju apapun.

Kesungguhan Dalam Mendirikan Shalat

Ketika sampai disini, izinkan aku menyampaikan isi hatiku. Ketika aku melihat orang yang sedang shalat, namun ia shalat sambil tengok kanan-kiri, aku merasakan, jika boleh dikatakan demikian, seakan kemuliaan Tuhanku sedang direndahkan.  Saat itu aku bergumam:’Andai saja orang ini melemparkan sumpah serapahnya saja kepadaku, namun tak menengokkan matanya ke kanan dan ke kiri saat shalat.” Menurutku, sumpah serapah tersebut masih ringan dibandingkan shalat tanpa keseriusan seperti itu.

Ya, orang yang ketika menghadap kepada Allah melakukan gerakan seperti ini, aku secara pribadi menganggapnya sebagai sumpah serapah kepadaNya. Seandainya mereka menusuk jantungku saja, mungkin mereka akan menjadi pembunuh, tetapi aku akan berdoa:’Ya Allah, jika Engkau tidak memaafkan orang ini,–andai aku bisa – aku tidak ingin menghadap kepadaMu.‘

Seperti yang Anda saksikan, aku sangat terganggu oleh mereka yang tidak serius dalam shalatnya.

Tanpa doa dan shalat, atau menunaikan shalat tanpa ruhnya, tak mungkin seseorang bisa menjadi mukmin sejati. Allah SWT berfirman: ‘Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS Al Mukminun : 1-2).

Shalatnya mereka yang tinggal di rumah-rumah suci tersebut, lebih penting daripada penakhlukkan dunia tanpa shalat. Dan memang, selama mereka tidak menjadikan shalat sebagai hal paling penting dalam kehidupannya, tidak mungkin dibayangkan mereka akan meraih kesuksesan.

Rumah Cahaya Dibuka Untuk Mengkompensasi Pekerjaan Yang Terabaikan

Kesimpulannya, untuk topik tadi, saya senantiasa merasa terluka. Rumah-rumah cahaya ini dibuka untuk mengkompensasi apa yang telah diabaikan oleh sejarah; barangkali aku tidak tahu seberapa tepatnya ia dijalankan sesuai dengan tujuan awalnya; namun, aku ingin tetap berhusnuzan sambil berkata:’teman-teman pasti menunaikan haknya rumah-rumah cahaya ini’

Jangan lupakan semua umat yang sedang dan akan berada dalam kehancuran dunia, mereka sedang menunggu pemuda irsyad yang matang di rumah-rumah ini untuk membangkitkan mereka. Dan demikian ia dipahami, bahwasanya fungsi dari rumah-rumah ini tidak akan pernah selesai

Jika demikian, maka demi Allah, datanglah, tunaikanlah shalat dengan haknya, berpuasalah; Dan tunaikanlah shalat dan puasa dengan sebaik-baiknya, sehingga malaikat  yang sedari ia diciptakan tak pernah bangkit dari rukuknya pun akan berkata:’Luar biasa! ternyata ada yang menunaikan shalat lebih baik lagi.’  Demikian baiknya kita melebur ke dalam zikir dan fikir, para penghuni langit yang menyaksikan kita pun akan berkata:’merekalah yang akan membangkitkan dunia!’

Sebagai manusia yang beruntung, atau  sebagai hamba Allah, mari kita  manfaatkan rumah-rumah – keran air susu ibu – yang diliputi berkah tersebut dengan maksimal. Jangan sia-siakan waktu kita dengan canda tawa  seperti orang-orang bodoh, atau dengan kata-kata yang tak bermakna, yang tak memberikan manfaat dunia dan akhirat. Marilah kita jadikan rumah-rumah cahaya ini sebagai sumber cahaya yang akan menerangi seluruh dunia.

Semoga Allah menjadi Penolong bagi kita semua! Amin

 

[1] Menggemakan: menjadikan bergema; gema: bunyi atau suara yang memantul; kumandang; gaung; memantul bergerak balik karena membentur sesuatu atau karena refleksi (KBBI)

[2] Galeri: ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni dan sebagainya (KBBI)

[3] Taglib : disebabkan suatu hubungan, suatu kata digunakan untuk makna lainnya dengan mengambil makna dari kata tersebut. Misalnya, untuk kata ayah yang berhubungan dengan ibu selaku orang tua, digunakan kata abawayn

fragile

Titik Terlemah Manusia

“Prinsip ke-3”

Lalu di titik terlemah manusia yaitu ‘popularitas, kebanggaan diri, dan kedudukan’ dalam pendekatan yang sangat tercela, demi mengendalikanku lewat titik terlemah manusia ini, tidak ada satupun dari pengkhianatan, makian, dan siksaan yang mereka perintahkan dan harusnya mampu mengusik titik terlemah manusia ini berhasil. Dan mereka sekali-kali tidak akan pernah memahami bahwasanya kami menganggap dunia, popularitas, dan kebanggaan diri yang mereka sembah tersebut merupakan perbuatan ria serta keangkuhan yang membahayakan; bahwasanya kami tidak peduli sedikitpun pada cinta kedudukan, popularitas, kebanggaan diri, serta hal-hal duniawi lainnya yang mana mereka memberikan perhatian besar kepadanya; barangkali mereka kami anggap sebagai orang-orang yang pandir dari sisi ini.

Lampiran Emirdag, 1/232

 

Penjelasan

Di ujung pancingan setan dari kalangan jin dan manusia terdapat titik terlemah manusia yaitu popularitas, kebanggaan diri, pangkat, dan kedudukan. Setan dari kalangan jin dan manusia ini datang dari arah sebaliknya, bekerja keras mengusik titik lemah orang-orang istikamah ini lewat siksaan dan cacian yang merendahkan agar akhirnya mereka melakukan kesalahan. Sayangnya, sebagian orang akhirnya menyerahkan dirinya pada hal-hal duniawi dan fana pada godaan pertama. Sebagiannya lagi tidak bisa menyadari rencana-rencana besar setan, lalu disebabkan tidak adanya strategi khusus untuk menghadapi cacian dan makian yang mengusik titik terlemah itu akhirnya ia masuk ke dalam pembuluh darahnya; Ia pun terjebak dalam kemarahan dan akhirnya menunjukkan tindak-tanduk yang keliru. Harusnya mereka berada dalam kebenaran, tetapi mereka jatuh dalam kesalahan dan akhirnya dihabisi disitu. Ustaz dan pengabdiannya pada agama yang menjadi pantulan dari nama-nama Allah yaitu Rahim dan Hakim, bergerak dengan prinsip kasih sayang, cinta, dan hikmah; dengan penuh kesabaran mereka mengobrak-abrik semua rencana orang-orang munafik dan pengkhianat. Ustaz hanya menunjukkan kemarahannya kepada mereka yang keterlaluan, dan dengan izin Allah berhasil membuat jera orang-orang yang demikian.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

 

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Sumber: Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 12

alvaro-reyes-507651-unsplash

HARMONISASI PEMIKIRAN DAN AKSI

Harmonisasi Pemikiran dan Aksi

(Diterjemahkan dari artikel yang berjudul ‘Düşünce-Aksiyon İçİçeliği’, Dari buku Kırık Testi 11: Yaşatma Ideali)

Tanya: Rencana kegiatan yang baik disebut sebagai salah satu disiplin yang mempengaruhi kesuksesan sebuah program. Di sisi lain, dikatakan bahwasanya sebuah aksi berawal dari keberadaan pemikiran.  Bagaimana kita harus memahami dan mempraktikkan kedua hal tersebut?

Jawab: Setiap individu yang berkeinginan untuk memberikan manfaat duniawi dan ukhrawi pada umat manusia, agar manfaat yang diberikan bisa berumur panjang, maka semua kegiatan dan pekerjaan yang akan diimplementasikan harus didasarkan pada rencana program yang baik dan  memiliki tolok ukur yang jelas. Bagi orang beriman sudah jelas, tolak ukur mereka adalah adilla-i arbaah[1], yaitu Al Quran, sunnah, ijma umat, serta qiyas fukaha. Selain itu, juga terdapat adilla-i ta’liyah atau adilla-i zamaniyah yang terdiri dari maslahat, istihsan, dan urf. Keputusan yang didasarkan padanya disebut ijtihad dan istinbat[2]. Akan tetapi, perlu diketahui bahwasanya ijtihad dan istinbat hanya dapat dihasilkan dari evaluasi secara mendalam atas poin-poin kriteria yang terdapat dalam sumber-sumber rujukan. Para mujtahid kiram yang mulia tidaklah menetapkan hukum dari kepala mereka sendiri, tidak“min indi anfusihim”[3]. Istilahnya dalam kaidah ushul fikih[4], para mujtahid dengan bersandar kepada maqisun alaih[5]lalu melakukan qiyas atau ijtihad atasnya. Harus kita katakan bahwa  sosok-sosok agung tersebut telah menyelesaikan pekerjaan besar yang amat sulit dengan penuh ketelitian dan kepekaan.

Rencana Ringkas

Kita kembali pada topik awal. Ya, di awal kita harus membuat rencana yang mengikuti tolak ukur tertentu. Akan tetapi, al fakir[6] selalu melihat rencana tersebut sebagai sebuah rencana ringkas. Sebagaimana manusia ketika pertama kali beriman, awalnya ia masuk ke wilayah iman dengan pengetahuan yang ringkas. Maksudnya, di awal dengan pengetahuan yang ringkas: “Allah itu hak keberadaannya. Dialah Sang Khaliq A’zham[7] dan Khaliq Aalam[8]” lalu seseorang menerima iman. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kematangan, serta pengetahuan, seseorang akan mampu menjelaskan iman dengan berbagai argumentasinya; dengannya ia akan menemukan kedalaman dalam beriman.

            Baik, lalu apa sebenarnya rencana ringkas yang Anda maksud? Dalam diri seorang mukmin, terdapat nilai-nilai dasar yang diyakini dan dipahaminya. Seorang mukmin berkeinginan agar nilai-nilai dan keindahan-keindahan iman yang diyakininya diketahui orang lain. Ia seakan senantiasa bersyair: ‘Seandainya masyarakat dunia mencintai apa yang kucintai / Seandainya semua kata dan kalimat hanya membahas kekasihku..!’(Taslicali Yahya). Syair tersebut menunjukkan ringkasan pemikiran dan keinginan seorang mukmin untuk mengenalkan nilai dan keindahan dari apa yang diimaninya kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh kalbu yang berada di muka bumi. Akan tetapi, setiap wilayah geografi memiliki kriteria, lingkungan budaya, serta adat istiadat yang unik. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut lalu bagaimana caranya agar kita berhasil merangkul masyarakatnya akan bergantung pada pemikiran yang detail serta rencana dan program yang mendetail. Inilah yang kami maksud dengan ‘pemikiran yang mendahului aksi’. Maksudnya, informasi ringkas yang dimiliki harus dikonversi menjadi pelaksanaan dari apa yang sudah direncanakan dan diprogramkan, yaitu menjadi gerakan dan aksi nyata. Walhasil, melakukan bimbingan dan pendampingan atas rencana dan pemikiran yang detail ada di posisi awal sebelum akhirnya gerakan dan aksi nyata dilakukan.

Mereka adalah Para Pewaris Rasullallah

Mari kita buka pembahasan ini lebih detail lagi. Katakanlah Anda pada hari ini meyakini sepenuh hati sistem nilai dari langit yang dihadiahkan kepada umat manusia ini. Anda benar-benar merasakannya meresap secara mendalam. Sebagai hasil dari iman yang meresap semakin dalam pada diri Anda, bagaikan orang yang cinta buta, Anda berkeinginan untuk memperdengarkannya kepada seluruh dunia. Dalam melakukannya, propaganda, misioner, memaksakan agama Anda untuk diyakini orang lain, dan tidak memiliki bagian dalam tujuan Anda. Namun, saat Anda tidak mampu mewakili agama yang Anda yakini dalam setiap sikap dan tingkah laku Anda, maka Anda tidak akan mampu menuai hasil kecuali menipu diri. Oleh karena itu, dikatakan: “Tinggalkan semua penjelasan-penjelasan Anda. Cukup penjelasan tersebut diwakili oleh tingkah laku Anda. Biarkan kesempurnaan serta kematangan yang terpancar dari sikap dan tingkah laku Anda mempengaruhi nurani lawan bicara Anda. Jadikan mereka yang melihat dan memperhatikan Anda, lewat perilaku, gerak-gerik, cara pandang serta cara berbicara Anda, kemudian mengingat Allah, dan selalu menyebut namaNya”; sehingga penilaian seperti:”Apa yang disampaikan orang ini bukan omong kosong. Setiap langkah mereka tidak ada yang sia-sia”  akan terfermentasi  di setiap hati orang-orang yang menyaksikan Anda. Mereka yang berdiri di atas kaidah-kaidah kokoh dan diamanahkan kepada sandaran yang tangguh, walaupun terjadi gempa sebesar 10 skala Richter sekalipun, mereka tidak akan ambruk karenanya. Teknik kata-kata sesempurna dan sepenuh sastra sekalipun tanpa didalami oleh representasi dari kata-kata yang disampaikannya akan luluh lantak diguncang gempa walau hanya berkekuatan 3 skala Richter. Oleh karena itu, dapat dikatakan jika kata tidaklah terlalu penting. Kata, selama menjadi ungkapan dari sifat dan tingkah laku pengucapnya, maka ia memiliki nilai yang mulia. Ketika ia telah menjadi tabiat dari seseorang, atau saat seseorang telah mampu menjadi representasi dari kedalaman tabiat dan budi pekerti yang luhur, maka ia akan membangkitkan rasa penasaran lawan bicaranya, ia pun akan mampu mempengaruhi orang di sekitarnya. Misalnya, Anda tidak membiarkan hal haram walau sebesar biji wijen terusap di atas tangan Anda. Meskipun Anda berada dalam keadaan amat terdesak sekalipun, Anda tetap berpegang teguh pada prinsip Anda. Anda lakukan sekali, dua kali, tiga kali, hingga akhirnya keadaan Anda tersebut mendapat perhatian dari orang lain. Bukankah ketika Bediuzzaman Said Nursi sedang menyebrangi selat Golder Horn di Istanbul bersama Sayyid Taha dan Haji Ilyas, beliau senantiasa menundukkan dan menahan pandangannya. Ketika Sayyid Taha dan Haji Ilyas menyampaikan ketakjubannya, Bediuzzaman menanggapinya dengan jawaban:”Aku tidak menginginkan penderitaan dan penyesalan akibat kelezatan sementara yang tidak terlalu penting namun diliputi dosa”[9].

            Menampilkan budi pekerti yang demikian sepanjang umur kehidupan amatlah penting. Ya, setelah 40 tahun mereka mengamati gerak-gerik Anda, mereka akan memberikan kesaksian:’Luar biasa! Orang-orang ini benar-benar layak menjadi pewaris Nabi! Mereka memiliki sifat-sifat Baginda Nabi seperti ismah[10], sidik, amanah, tablig, dan fatanah. Oleh karena tidak ada Nabi setelah Baginda Nabi Muhammad SAW, maka mereka pastilah pewarisnya!’

Apalagi di masa di mana wajah cemerlang Islam berusaha diburamkan, maka Anda harus mengerahkan segala daya dan upaya untuk mampu menjadi representasi sejati dari nilai-nilai agama yang Anda sandang demi memperbaiki kesalahpahaman orang awam terhadap agama kita. Misalnya, Anda harus menjelaskan bahwasanya perbuatan seperti bom bunuh diri, mengumumkan perang sembari menyembelih kepala sandera, melontarkan satu dua roket ke sasaran yang terdiri dari orang-orang tak bersalah padahal ia idak memiliki kekuatan yang mumpuni,  tidaklah sesuai dengan identitas seorang muslim. Islam tidak meninggalkan tempat kosong dalam setiap bidang kehidupan. Islam telah menjelaskan dengan sangat jelas bagaimana berjuang melawan kezaliman dan ketidakadilan lewat jalan yang legal dan benar. Misalnya, dalam Perjuangan Kemerdekaan Turki (Istiklal Mucadele), pemerintah membentuk suatu komisi dan mereka memutuskan untuk mengumumkan perang. Setiap individu pun sebagai anggota masyarakat mentaati dan memenuhi panggilan untuk berjuang ini. Semua warga negara dari segala penjuru bangkit memenuhi panggilan ini. Mereka pun berjuang dengan legal.

            Demikianlah. Anda harus memiliki rencana menyeluruh untuk menunjukkan kepada dunia betapa cemerlangnya wajah Islam yang dikotori oleh pihak-pihak tertentu ini. Ketika kita mengatakan menyeluruh, maka yang dimaksud darinya adalah lewat usaha kita dalam merepresentasikan Islam dengan sebaik-baiknya, kita berkewajiban untuk membuat masyarakat nantinya berkata:’Ternyata muslim-muslim yang hakiki masih tersisa!’. Tentu jika kita mengharapkan pujian ini ditujukan kepada kita, maka itu adalah perbuatan riya. Namun jika pujian itu memiliki tujuan yang ditujukan kepada kemuslimannya, maka ia adalah kewajiban. Ya, menampilkan identitas kemusliman asli  dan hakiki ke seluruh penjuru dunia merupakan hutang budi kita kepada Manusia Kebanggaan Alam shallallahu alayhi wasallam serta para Khulafaur Rasyidin radhiyallahu anhuma. Wajah Islam yang berkabut, tertutup asap hitam, dan berkarat harus dihapus. Singkatnya, kita harus menampilkan kemuslimanan sejati  yang cemerlang dan gemilang. Itulah hakikat dari kewajiban yang digantungkan di leher kita sebagai seorang muslim.

            Misalnya lewat aktivitas membuka sekolah dan pusat kebudayaan di berbagai tempat di seluruh dunia, sambil membangun jembatan dan sarana untuk mendidik siswa-siswa, serta mengirimkan siswa-siswa untuk mengunjungi keluarga para wali murid secara silang; atau misalnya lagi dengan memanfaatkan momen spesial seperti membuat bubur asyura, borek, kunefe di hari asyura dan membagikannya ke tetangga-tetangga kita, dengan menjelaskan bahwa ini semua adalah bagian dari budaya orang Turki kita berusaha menutup lubang antara kita dengan lawan bicara kita yang muncul  akibat terjadinya salah pengertian. Lewat aktivitas tersebut kita akan mampu mendekatkan jarak serta membangun jembatan antara kita dengan lawan bicara yang mungkin berasal dari budaya dan agama yang berbeda.  Dengan jalan tersebut, yaitu dengan membangun jembatan yang menyambungkan daratan yang dipisahkan oleh sungai-sungai; dengan membangun terowongan yang menembus gunung-gunung; sekali lagi kita bersiaga untuk merengkuh kalbu umat manusia serta memperkenalkan mereka kepada Penciptanya, Allah Subhanahu wa ta’ala, lewat jalan yang lebih fitri sembari menyingkirkan hal-hal yang menghalangi kalbu untuk mengenalNya.

Gagasan Alternatif serta Berbagai Proyek Kemanusiaan

Ya, orang-orang di daerah dimana Anda pergi ke sana, disadari atau tidak, akan mengamati setiap gerak-gerik serta detak jantung Anda. Misalnya, beberapa orang yang berniat buruk datang ke negara-negara tempat Anda mengabdi untuk kemudian menemui masyarakat di negara itu dan mulai menjelek-jelekkan Anda. Saat itu, masyarakat negara tersebut akan menjawab:’Kami mengamati orang-orang ini selama sepuluh tahun. Kami tidak menemukan sedikitpun dari apa yang kalian sampaikan terdapat pada diri mereka. Kami tidak menemukan aritmea[11] pada diri mereka. Detak jantung meraka selalu sama.’ Sebagaimana disaksikan bersama lewat respon tersebut, mereka seakan sedang melindungi Anda. Seandainya di beberapa tempat terdapat kebuntuan, sebabnya adalah ketidakmampuan dalam menjelaskan jati diri kita, atau ketidaksempurnaan kita dalam menggambarkan jati diri kita. Di sini kita perlu memperhatikan satu hal: Setiap saat kita harus memiliki rencana dan program alternatif yang dapat membalik hasil negatif yang tadinya tidak kita perkirakan menjadi hasil yang positif.

             Ya, mengevaluasi kembali kondisi terkini pada saat faktor-faktor penentu berubah untuk kemudian membuat rencana dan proyek alternatif berdasarkan faktor-faktor penentu terkini itu kita sebut sebagai perencanaan menyeluruh. Di waktu yang sama, ia juga dapat disebut sebagai pemikiran yang berdasarkan pada aksi. Ya, di satu sisi rencana menyeluruh, di sisi lain Anda harus memiliki informasi utama yang mana gerakan dan kegiatan Anda dibangun atasnya. Di sisi lain,  Anda juga harus meninggalkan ujung yang terbuka pada perubahan zaman. Anda juga harus memiliki rencana dan proyek alternatif yang nantinya dipraktikkan sesuai perubahan kondisi dan faktor terkini. Dengan mempertimbangkan ragam kebudayaan, bahasa, agama, pemahaman, serta respon masyarakat atas setiap peristiwa, setelah Anda mengenal masyarakatnya, sembari beraksi Anda harus dapat mengatakan:”di sini program A bisa dibuat, di sana lebih cocok untuk membuat program B.” Anda harus dapat merancang berbagai program alternatif sesuai kondisi negara atau wilayah Anda dimana Anda mengabdi, dan atas izin serta inayah dari Allah, Anda harus mampu mengembangkan sistem berpikir baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat di sana.

            Kesimpulannya, orang yang biasanya berpikir sederhana dan dangkal akan berpikir sangat luas dan dalam. Meminjam istilah Ziya Gokalp ketika mengekspresikan kebodohan, mereka yang di awal berpikir dangkal dan sederhana, saat menuju akhir, mereka mulai berpikir lebih menyeluruh – Anda bisa menambahkan dengan istilah lain juga – dan akhirnya setelah ini mereka akan berpikir lebih matang lagi. Maksudnya, saat berpikir dan menganalisis suatu masalah, kalian akan memiliki keluasan ufuk dengan mempertimbangkan berbagai alternatif sembari berkata:”seperti ini juga bisa, dibuat seperti itu juga bagus, tapi seperti yang lain pun juga bisa.” Semua ini adalah faktor-faktor yang perlu ditelaah terkait pembahasan rencana dan proyek menyeluruh.

[1] Adilla-i arba’ah adalah dalil-dalil yang djadikan rujukan dalam ilmu fikih. (Penerj.)

[2] Istinbat adalah pengungkapanmakna tersembunyi dari sebuah permasalahan yang dilakukan oleh mujtahid atau alim besar melalui tatqiq sumber-sumber yang ada secara mendalam. (Penerj.)

[3] Dari pendapatmereka sendiri. (Penerj.)

[4] Metodologi fikih. (Penerj.)

[5] Sesuatu yang asli, yang atasnya dilakukan qiyas. (Penerj.)

[6] Maksudnya al fakir di sini adalah penulis, yaitu M. Fethullah Gulen. (Penerj.)

[7] Pencipta Yang Maha Besar. (Penerj.)

[8] Pencipta Alam Semesta. (Penerj.)

[9] Biografi Bediuzzaman Said Nursi, Bab Kehidupan Emirdag

[10] Terjaga dari dosa

[11]Cardiac arrhythmia, istilah yang digunakan untuk merujuk pada perubahan sekuens normal dari detak jantung manusia, dapat dipahami juga sebagai ritme detak jantung yang tidak normal. Dalam tulisan ini mungkin ditujukan pada detak jantung tidak normal orang-orang yang berbohong atau berpura-pura yang bisa tertangkap oleh lie detector.

fahrul-azmi-625307-unsplash

KESALEHAN DAN KEPEKAAN DALAM BERAGAMA

Kesalehan dan Kepekaan dalam Beragama
(Artikel asli berjudul “Dindarlik ve Dini Hassasiyet”dari buku Kırık Testi 12: Yenilenme Cehdi)

Pertanyaan: Apa makna yang terkandung dalam  istilah kesalehan dan kepekaan dalam beragama?

Jawab: Kesalehan secara teoritis bermakna mengayomi prinsip-prinsip agama dengan menerima dan menjunjungnya tinggi-tinggi. Sedangkan secara praktik, kesalehan memiliki beragam derajat dan tingkatan, mulai dari belajar untuk hidup religius hingga menghidupkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, beberapa orang meyakini aspek-aspek penting beragama dalam tingkat informasi pada level bunga rampai tanya jawab seputar agama dan ia pun mempraktikkan ketaatan dan peribadatannya sesuai pengetahuannya tersebut. Beberapa yang lain menggunakan pendekatan yang lebih luas, baik secara teoritis maupun secara praktik. Dengan pendekatannya tersebut, mereka mengikuti semua yang diperintahkan serta menjauhi semua yang dilarang oleh agama. Selain menjauhi apa saja yang diharamkan dan menunaikan segala hal yang diwajibkan, mereka juga bersikap peka terhadap segala hal yang meragukan karena khawatir akan terjatuh ke jalan yang haram.

Dengan demikian, mereka senantiasa berusaha untuk menjalankan kehidupannya dengan penuh ketakwaan. Sedangkan mereka yang hidup dengan kesadaran lebih tinggi dalam beragama akan menunaikan ketaatan dan peribadatannya seakan-akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sedang menginspeksinya. Mereka hidup dalam ihsan[1]. Dari segi ini, terdapat banyak derajat dan tingkatan kesalehan, mulai dari level serendah tanah hingga level setinggi bintang gemintang. Sebelumnya perlu kami sampaikan bahwasanya derajat kesalehan terendah sekalipun tidak dapat diremehkan karena bagi manusia ia memiliki nilai yang sangat vital.

Kepekaan dalam beragama dimulai dari menjalankan kehidupan pribadi yang kemudian dilanjutkan dengan keluarga inti, hingga lingkaran keluarga terluarnya agar dapat hidup kongruen atau sesuai dengan prinsip-prinsip agama,  serta menunjukkan kepekaan luar biasa pada kehidupan beragama orang-orang yang membentuk suatu masyarakat di sekitarnya; menjadi sensitif dan perasa; serta menunjukkan kehalusan, ketelitian, dan kecermatan dalam beragama.

Kepekaan dalam beragama oleh seorang kekasih Allah dijelaskan lewat sebuah syair:

            “Seandainya penduduk dunia mencintai Kekasihku!

                Seandainya kata-kata kita selalu menceritakan Sang Terkasih…!”

            (Taşlıcalı Yahya)

            Lewat syairnya tersebut ia menyuarakan keinginan agar seluruh dunia turut mencintai Tuhan yang dicintainyasepanjang umur kehidupan.

 

“Seandainya Aku Bisa Menyalakan ApiKecintaan Kepada Allah Di Setiap Kalbu”

Perasaan dan pikiran kaum mukmin yang memiliki kepekaan beragama terhadap orang lain di sekitarnya kira-kira adalah seperti ini: “Andai aku bisa mengenalkan Allah kepada saudaraku ini!Andai aku bisa menyalakan api cinta kepada Allah di dalam hatinya! Andai aku bisa membangkitkan keinginan untuk senantiasa bersama Allah (ma’iyyatullah) kepadanya!  Andai saat menengadahkan kedua tangannya mereka dapat dekat dengan Allah untuk kemudian bermunajat kepadaNya:”

اَللّٰهُمَّ عَفْوَكَ وَعَافِيَتَكَ وَرِضَاكَ وَتَوَجُّهَكَ وَنَفَحَاتِكَ وَأُنْسَكَ وَقُرْبَكَ وَمَحَبَّـتَـكَ وَمَعِيَّـتَكَ وَحِفْظَكَ وَحِرْزَكَ وَكِلَائَـتَكَ وَنُصْرَتَكَ وَوِقَايَتَكَ وَحِمَايَتَكَ وَعِنَايَتَكَ

Yang artinya: “Ya Allah! Aku memohon ampunanMu yang agung, sehat dan afiat dariMu, keridaanMu, tawajuhMu, wewangianMu, kekaribanMu, kedekatanMu, mahabahMu, kebersamaanMu, perlindunganMu, penjagaanMu, kemenangan berkat pertolonganMu, pemeliharaan serta inayatMu!”

            Seorang mukmin yang memiliki kepekaan seperti ini, sesuai dengan derajat keimanannya barangkali tidak hanya peduli terhadap orang-orang di sekitarnya saja. Mereka juga akan memikirkan bagaimana caranya agar semua lapisan masyarakat dalam satu negara, bahkan mungkin seluruh umat manusia di dunia, mampu memiliki kepekaan beragama yang sama. Tujuan dan cita-cita mereka adalah  mewujudkan masyarakat yang jatuh cinta dan tergila-gila kepada Baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Sehingga ketika nama agung Sayyidul Anam diperdengarkan, tulang hidung mereka akan menggelenyar karena besarnya rasa cinta kepadanya. Di sisi lain, ketika melihat orang-orang yang tergelincir berjatuhan dari jalan kebenaran, mereka akan jatuh tersimpuh. Dalam simpuhnya mereka akan bergumam: “Bagaimana caranya agar aku bisa menjauhkan umat manusia dari perbuatan aib dan memalukan, apa lagi yang kiranya harus ku lakukan?”  Sambil bergumam demikian, mereka juga dengan penuh semangat akan berusaha menciptakan solusi dan strategi untuk mengatasi permasalahan kemanusiaan tersebut. Pada akhirnya, ia akan hidup dengan kepekaan dan sensitivitas yang tinggi dalam rangka menginspirasi masyarakat, mencegah mereka agar tidak terpeleset dan terjatuh, serta untuk mengantisipasi menjauhnya masyarakat dari nilai-nilai agama.

 

Kepekaan untuk Membangkitkan Masyarakat

Seseorang yang mengambil jalan lurus ini, tidak akan merasa cukup jika nama agung Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallamhanya terdengar di menara-menara masjid di negaranya saja. Mereka menganggap hadits: “Namaku akan tersebar di tempat di mana matahari terbit dan tenggelam.”[2]  sebagai tujuan yang harus mereka capai. Hadits ini akan menjadi ufuk dimana mereka mengikat kehidupan mereka  dan mengantarkannya hingga bisa sampai pada tujuan ini. Dia sebagai sosok yang berlari untuk mencapai ufuk ini tidak akan pernah sekalipun sibuk dengan kesusahan pribadi mereka. Dia tidak akan rendah diri dengan berkata: “Orang seperti aku memangnya bisa berbuat apa?” Dia akan selalu bergerak dengan keyakinan, “Betapa banyak orang kecil yang Allah anugerahkan kesuksesan untuk menunaikan pekerjaan-pekerjaan besar.” Merekapun bergerak dengan penuh semangat dan keteguhan hati. Dia memiliki keyakinan mendalam, “Jika di suatu tempat terdapat dada yang penuh dengan iman, maka dada tersebut akan menemukan jalan untuk menyampaikan ilham dalam jiwanya ke dalam kalbu orang-orang di sekitarnya.” Ya, perlu diketahui bahwasanya jika semua usaha seseorang diperuntukkan untuk kepentingan bangsanya, Allah akan menganugerahkan kepada orang tersebut kesuksesan untuk menuntaskan pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh suatu negara.[3]   Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kesuksesan tersebut kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Sang Kebanggaan Kemanusiaan Shallallahu Alaihi Wasallam, Allah juga dapat menjadikan orang tersebut memiliki kemampuan dan kelayakan untuk mengemban misi agung ini.

Demikianlah, semua ini lebih dari sekedar bagaimana menjadi pribadi saleh, melainkan penjelasan tentang bagaimana menjadi sosok yang memiliki kepekaan luar biasa dalam menjalani kehidupan beragamanya. Kalau seandainya ingin disampaikan dengan istilah lain, mungkin Anda bisa menyebutnya sebagai membangkitkan masyarakat dan kepekaan untuk menghidupkan orang lain. Dari segi ini maka dapat dikatakan bahwasanya kesalehan dan kepekaan dalam beragama merupakan istilah yang berbeda satu sama lain.

Akan tetapi, tetap terdapat sisi-sisi yang berdampingan di antara keduanya. Batas terakhir dari kesalehan di antaranya adalah menjauhi hal-hal yang meragukan[4], dikarenakan lalai dalam menunaikan shalat pada waktunya lalu ia melihat dirinya sebagai penjahat yang seolah-olah baru saja melakukan pembunuhan, serta menunaikan pekerjaan-pekerjaan dengan sensitivitas yang sempurna. Di waktu yang sama, ketika berhasil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diperintahkan Allah, selain merasakan insyirah – kelapangan dada – sebagai bentuk tahdis nikmat – menyebutkan dan menceritakan nikmat dari Allah yang diberikan kepada kita sebagai bentuk syukur dan bukan untuk menyombongkan diri – dia juga membawa perasaan khawatir seperti: “Mudah-mudahan kesuksesan ini tidak bercampur dengan riya’. Semoga keberhasilan ini tidak terkotori oleh sum’ah” yang merupakan batas awal dari kepekaan beragama. Karena pada keluasan dan kedalaman inilah seorang mukmin yang memiliki kepekaan beragama akan merasakan perlunya menularkan kepekaan dan sensitivitas beragama kepada orang lain. Singkatnya, ia akan berkeinginan untuk menyampaikan nikmat yang dirasakannya agar dirasakan juga oleh orang lain.

 

Sebelumnya Kita Perlu Meratakan Keakuan Kita dengan Tanah

Orang-orang dengan cakrawala seperti ini senantiasa membuat lelah otaknya. Baik ketika duduk maupun saat berdiri, ia selalu memikirkan tujuannya. Otaknya pun merasakan siksaan akibat beban berpikir ini. Bahkan walaupun ia sedang – mohon maaf – berhajat, aktivitas berpikir dalam otaknya tersebut akan terus berlanjut, ia pun akan menghasilkan beragam gagasan baru. Dalam kesempatan pertama ia akan menyimpan gagasan-gagasan yang muncul dalam pemikirannya. Jika ia tidak menemukan kesempatan untuk menyimpannya, maka ia akan menyimpannya di antara neuron-neuron dalam kepalanya dengan maksud merealisasikannya kemudian. Jiwa-jiwa yang prihatin serta ruh-ruh yang menderita demikian eratnya meliputi mereka sampai-sampai kehilangan konsentrasi ketika shalat.

Walaupun tidak terdapat istilah yang tepat terkait terminologi ini, kami menghubungkan cita-cita agung tersebut dengan istilah ketergelinciran para muqarrabin. Misalnya, terkait beberapa sujud sahwi[5]  yang dilakukan Baginda Nabi dalam beberapa shalatnya, kita akan berpikir: “Siapa yang bisa tahu masalah agung seperti apa yang menggeliat di dalam benak sosok seperti Baginda Nabi, sosok yang terbuka dan dapat dilihat siapa saja, sehingga shalatpun di satu sisi nampak kecil di hadapan permasalahan tersebut.” Dan memang Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam pun menganggap mikraj sebagai hal yang kecil bila dibandingkan dengan tugas yang diembannya, sehingga setelah berhasil mencapai tempat yang tak mungkin dicapai tersebut beliau pun kembali untuk menunaikan tugasnya itu.[6]  Kata-kata dari Abdul Quddus seakan menjelaskan hakikat ini. Ia berkata: “Demi Allah, Sayyidina Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah berhasil mencapai yang tak mungkin dicapai, Beliaupun telah melihat apa yang tak mungkin dilihat. Demikian agungnya tempat yang telah dicapainya, orang biasa yang telah mencapainya tidak mungkin meninggalkannya. Demi Allah, seandainya aku yang mencapai tempat tersebut maka aku tidak akan kembali!” Salah satu kekasih Allah memberikan komentarnya terkait pernyataan ini: “Itulah perbedaan derajat kewalian dan kenabian!” Maksudnya, derajat kewalian akan terus menjulang lewat fana billah, baqa billah, dan ma’allah. Akan tetapi kenabian, setelah ia berhasil mencapai puncak tertinggi, mereka akan kembali ke tengah-tengah manusia demi bisa merengkuh tangan mereka dan mengangkatnya hingga mencapai puncak.

Kita dapat melihat hubungan ini juga pada sahwi yang dikerjakan oleh Sayyidina Umar. Seusai beliau menyelesaikan shalatnya, beliau menjawab para sahabat yang mengingatkannya jika ia menunaikan shalat dengan salah bahwa tadi ia sedang mengarahkan prajurit untuk I’layi kalimatullah ke Iraq[7].  Seperti yang dapat dilihat, tugas agung untuk ilayi kalimatullah telah menguasai setiap sendi kehidupan sosok agung ini, ia segera menyelinap masuk ke kepalanya saat terjadi kekosongan sejenak dalam shalatnya. Hal ini adalah penjelasan dari kepekaan luar biasa dalam mengayomi prinsip-prinsip agama. Seseorang yang demikian peka terhadap prinsip-prinsip agamanya, tidak mungkin akan tersingkir di hadapan hal-hal yang diharamkan ataupun cacat dalam menunaikan kewajiban.

Pendek kata, tidak mungkin dengan gairah yang lesu serta dengan pemikiran yang setengah-setengah seseorang akan menjadi pahlawan kebangkitan ataupun akan mampu menghidupkan kembali spiritualitas masyarakat untuk kembali menunaikan kewajiban-kewajiban ibadah. Seandainya kita menginginkan terlahirnya prasasti jiwa yang akan mampu mempesona, ‘menyihir’ umat manusia, dan memberi mereka insyirah[8], sebelumnya kita harus mengambil kapak dan menghancurkan keakuan (egoisme) yang mengendap dalam diri kita. Dengan perintah dan larangan agama menjadi tanah dan batu batanya, kita harus mendirikan sebuah prasasti yang hanya mengharapkan rida Ilahi sebagai bayarannya, dan jangan sampai ia runtuh kembali. Untuk itu,  pemikiran “tunaikan saja shalat, berpuasalah, namun jangan ganggu urusan orang lain” tidak dapat dibenarkan, karena dengan pemikiran tersebut tidak mungkin tugas ilayi kalimatullah dapat ditunaikan.

[1]Ihsan, keadaan dimana seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

[2]HR Abu Dawud, Bab Fitnah, no.4252

[3] Badiuzzaman, Tarihce Hayat (Biografi Kehidupan Said Nursi), hlm. 95

[4]HR Tirmizi, Bab Kiamat; Ibnu Majah, bab zuhud

[5]Sahwi yang pertama, diriwayatkan dalam Bukhari Bab Salat dan Bab Azan; HR Muslim bab masjid. Sahwi kedua, diriwayatkan dalam Bukhari, Bab Sahwi; HR Nasai, bab Sahwi

[6]QS Isra 17:1; HR Bukhari, bad’ul halk 6 dan manaqibul ansar 42; HR Muslim, iman 264

[7]HR Bukhari, ama fis salat 18; ibnu Abi Suaybah, al Musannaf 2:186

[8]Kelapangan jiwa. (Penerj.)