mengembangkandiri.com ringlet-7861419_960_720

SETAN SANG PENGAHALANG UJIAN DUNIA

Bahkan, setan tergolong kedalam pengahalang penting yang tertera di depan jalan kehidupan kita. Kehidupan juga termasuk kedalam kompetisi dan ujian. Persis seperti kompetisi yang mempunyai rintangan. Mari kita lihat siapakah yang akan tersandung dan terjatuh di rintangan tersebut dan siapa yang akan melompati lalu melalui untuk melaju ke target.

Apakah kalian pernah melihat rintangan-rintangan di lapangan latihan para prajurit tentara?

Bermacam ragam rintangan memenuhi lapangan tersebut. Diantaranya ada rintangan yang tinggi dan harus melompatinya. Sedangkan yang lain ada jurang yang dalam, lalu harus melompat dan keluar dari dalamnya. Bahkan juga ada tangga, harus memanjatinya dan juga masih banyak rintangan-rintangan lain. Semua ini tentunya bukanlah untuk menyiksa para prajurit tentara yang sedang berlatih. Namun pada setiap rintangan akan membantu mengembangkan organ-organ tubuh, otot dan meningkatkan bakat gerakan tentara yang berlatih. Sebagaimana lapangan Pentatlon (panca lomba) sebutan dari tempat latihan ini, jika ia bisa mengembangkan bakat dan kekuatan serta menambah kesuksesan para tentara; maka begitu juga sebagian rintangan dalam lapangan kehidupan, akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman untuk menguatkan kepercayaan dan akhlaknya.

Nah, setan termasuk kedalam salah satu rintangan tersebut. Bahkan termasuk kedalam golongan rintangan yang sangat besar. Nafsu yang terdapat dalam diri manusia,  yang menginginkan keburukan dan juga perasaan yang kuat merupakan dukungan setan yang sangat besar. Untuk melawan persatuan kekuatan-kekuatan jahat ini haruslah dengan daya tahan yang kuat, kukuh dan matang. Namun sebaliknya, jika seperti seorang atlet yang jarang latihan akan sangat mudah tersandung dan ketinggalan di rintangan-rintangan tersebut.

Orang-orang yang mengenal setan dan segala jebakan-jebakannya juga orang-orang yang selalu dalam keadaan siap berjuang berhadapan dengannya, mereka dengan mudahnya melewati rintangan-rintangan setan. Akan tetapi, di setiap sesi latihan, pastilah sebuah perjuangan sangat dibutuhkan, akan ada keringat yang keluar dan sedikit kelelahan. Namun, ketika mangatasi rintangan tersebut lalu tidak kalah terhadap jebakan setan, maka keberhasilan yang diperoleh merupakan salah satu kenikmatan yang paling besar. Kerena ini merupakan ujian manusia itu sendiri. Dengan artian, iradahnya mengukur daya tahannya secara pribadi. Kekuatan iradah, perasaan-perasaan yang sehat dan ujian keimanan yang diberikan ketentramannya bukanlah suatu kenikmatan yang kebetulan.

Bakat manusia akan berkembang secara relatif ketika melewati rintangan yang datang dihadapannya.

mengembangkandiri.com ringlet-7861419_960_720

PARA TENTARA SUKARELA SETAN

Orang yang menjadi tentara dan selalu berada di belakang setan, ia telah mengundurkan diri menjadi manusia sejati dan telah menjadi makhluk asing. Bahkan sebagian darinya dengan rela hati mau menjadi makhluk asing tersebut.

Mengapakah kira-kira?

Karena, penciptaan mereka sudah rusak dan kehilangan dasar-dasar karakteristiknya, lebih menyukai keburukan dari kebaikan, senang mengikuti setan dibandingkan taat kepada Allah. Dan salah satu dari orang-orang yang seperti ini, ia penasaran dengan setan, penasaran dengan kecintaannya kepada setan, selalu memikirkan bagaimana simbol kejahatan setan, bagaimana setan melakukannya, bagaimana cara untuk mempengaruhi manusia. Dan suatu hari akan datang suatu makhluk yang aneh dihadapan orang tersebut. Dengan perasaan takut, bingung dan sedikit keheranan ia pun bertanya :

  • Siapa kamu?
  • Sayalah setan.
  • Hah!!! Jadi kamu ini setan! Saya sangat senang bertemu denganmu. Saya sangat cinta juga sangat penasaran dengan mu. Bahkan kamu tidak tahu bagaimana senangnya saya bisa kenalan denganmu. Namun ada satu permintaanku padamu.
  • Apakah itu?
  • Saya sangat penasaran denganmu, bagaimana caramu bekerja dan bagaimana caramu mendorong manusia kedalam perbuatan dosa. Maka hari ini sembari berjalan-jalan denganmu maukah kamu menunjukkan kepadaku apa saja yang kamu lakukan?
  • Dengan senang hati, jawab setan. Mereka pun mulai berangkat. Maka setan memperliatkan semua jalan kejahatan dan dosa serta bagaimana ia mengahasut manusia-manusia kedalam dosa dan kejahatan.

Orang yang mengambil kenikmatan dari dosa tersebut, sangat senang menjadi teman setan. Menjelang malam, “untuk kali ini kita cukupkan sampai disini” kata setan. Orang tersebut sangat senang, bahkan tidak mau berpisah dengan setan.

  • “Baiklah! Tapi saya punya pertanyaan terakhir untukmu, maka sebelum berpisah berikanlah jawabannya”, kata orang tersebut
  • “Tanyakan” kata setan.
  • Saya melihat bermacam-macam tali di tubuhmu. Apakah semua ini? Apa fungsinya?

Setanpun tertawa dengan garing lalu ia mengatakan :

  • Saya menggunakan semua ini untuk mengikat dan menyeret manusia ke jalan dan jejakku.

Dengan sedikit keheranan, orang ini berkata :

  • Tapi sepanjang hari kamu telah mengajakku berkeliling, namun kamu tidak mengikatku dengan tali-tali ini.

Maka sebelum setan menghilang dari pandangan, setan menjawab kepada orang tersebut :

  • Saya memasangkan tali ini kepada orang-orang yang tidak ingin dan tidak rela untuk menjadi pengikut saya. Saya menggunakan tali-tali ini untuk memaksa mereka. Tapi kamu dan orang-orang yang sepertimu memang telah menjadi tentara-tentara sukarelaku. Untuk apa saya mengikat dan meliliti kalian? Bukannya kalian memang datang dengan sukarela.

                                                                                           * * *

Nah! Begitulah orang yang memudahkan pekerjaan setan, ada yang terjatuh dalam bujuk rayu dan jebakan setan. Sungguh kasihan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, sebagiannya lagi lebih buruk. Tanpa harus diseret dan diingatkan kejahatan-kejahatan itu oleh setan, mereka sendiri telah terjatuh kedalam kejahatan-kejahatan tersebut. Bahkan mereka mengajak orang lain kedalam kejahatan dan  bertanggung jawab atas tugas setan. Dengan begini, setan dengan hati yang tenang pergi berlibur. liburan yang sangat panjang. Sungguh kasihan orang-orang yang seperti ini.

Sebaagian manusia adalah para tentara sukarelanya setan. Mereka merasakan kenikmatan dari kejahatan dibandingkan dengan kebaikan.

mengembangkandiri.com austria-7507345_960_720

PUASA MERESTORASI KE PENGATURAN PABRIK

Ditulis Oleh : Ashraf Kitaka MSc. Nutrition

Sejauh ini, manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah yang paling menakjubkan. Allah sendiri bersaksi tentang ini di dalam kitab suci-Nya, Al-Qur’an yang di dalamnya ia berfirman; “Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Rancangan tubuh manusia yang rumit telah memesona para ilmuwan selama beberapa generasi sebelumnya dan akan terus berlanjut hingga generasi mendatang. Otak manusia khususnya, telah menarik banyak perhatian lalu melahirkan ilmu Neurologi. Otak yang merupakan pusat koordinasi tubuh manusia ternyata mengandung miliaran jalur saraf. Jalur yang berfungsi sebagai penyedia penghargaan otak/reward-system yang berfungsi untuk bertanggung jawab dalam mengendalikan dan mengatur kemampuan kita untuk merasakan kesenangan. Hal ini telah banyak dipelajari oleh para ilmuwan dalam beberapa tahun terakhir. Jalur ini terkait dengan mencari tiga rewards terpenting yang dibutuhkan dalam kehidupan yaitu; makanan, air dan pasangan. Persepsi penghargaan pada otak diatur dalam sebuah sistem kompleks yang melibatkan hormon dopamin, yakni zat kimia yang juga bertanggung jawab untuk membuat kita tetap termotivasi. Dopamin pada tingkat optimalnya membantu kita mencari kebutuhan rasa senang alami dalam rangka untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Namun, masalah biasanya muncul ketika kita secara berlebihan mencari rasa senang ini dan mendapatkannya secara berlebihan juga. Tingkat dopamin melonjak dan sistem rasa senang akhirnya terkesampingkan.

Dewasa ini, dunia telah menjadi salah satu pelopor kebebasan hidup berlebihan yang disebabkan oleh kemajuan teknologi. Dunia adalah tempat penuh kekurangan beberapa abad lalu, namun kini ia telah berubah menjadi tempat serba ada. Akses dalam mengonsumsi makanan dan minuman dengan rasa dan warna yang beraneka ragam, telah membuat kita kecanduan. Kemampuan kita untuk menemukan pasangan melalui internet sekarang ini pasti membuat nenek moyang kita merasa iri. Selain manfaat tersebut, melonjaknya angka, variasi dan potensi akan tingginya rangsangan rasa senang begitu mengejutkan. Bermain Faceebook, Instagram, Youtube, Tweeter, berbelanja online, berkirim pesan, bermain game, dan membaca berita itu memang sangat menyenangkan, tak aneh jika kita sulit melepaskan diri kita dari hal-hal tersebut. Namun apakah mungkin rangsangan ini mengalahkan sistem Dopamine-reward kita?

Dalam waktu singkat, bayangkan kita ingin memperbaiki dominasi pada system reward otak kita ke dalam mode “Pengaturan pabrik”. System reward otak kita akan kembali kepada keadaan fungsi optimal, yang membuat kita tetap termotivasi untuk mencari kesenangan dengan jumlah yang tepat. Untuk mencapainya, otak kita harus belajar kembali untuk merasakan kenikmatan yang datang dari frekuensi ambang rendah. Penjelasan mudahnya, otak kita belajar untuk makan dan minum dalam porsi sedikit dan mencari pasangan dengan cara yang sehat namun tetap bisa membuat kita bahagia. Dengan kata lain, kita belajar bahwa kita bisa bertahan tanpa harus memenuhinya dalam jumlah berlebih. Bukankah praktik ini dinamakan puasa?

Tentu saja ini bukan kebetulan dimana puasa Ramadhan dalam islam melarang umatnya untuk makan,  minum dan berhubungan intim selama 12-14 jam sehari. Pada dasarnya, proses ini turut membantu memperbaiki arus system-reward / hasrat kita dalam berupaya untuk mengembalikannya pada setelan pabrik. Pernahkah anda bertanya-tanya mengapa muslim begitu berenergi selama bulan suci?. Orang-orang, yang merasa begitu malasnya sebelum Ramadhan kini tiba-tiba menjadi penuh semangat dalam menghidupkan malam, membaca berlembar-lembar Al-Qur’an dan berdoa sebanyak-banyaknya. Alasannya mungkin berkaitan dengan meningkatnya motivasi sebagai hasil dari pengembalian dopamine kepada tingkat tertingginya. Kini orang tahu mengapa kita sangat dianjurkan untuk melakukan berbagai ibadah dan menghindari perbuatan dosa. Ketika sistem reward dibuat tumpul karena rangsangan yang melemahkan hubungan kita dengan Allah, dalam waktu bersamaan, kita secara spontan akan mulai merasa senang untuk beribadah yang mana hal ini dapat memperkuat hubungan kita dengan Allah. Hal ini terus berlaku selama 30 hari. Mencoba untuk menjauh dari tingginya rangsangan nafsu sebagaimana telah disebutkan diatas akan mampu mempercepat proses ini. Kini anda tahu mengapa anda harus melempar HP anda ke air…. Just kidding!

Untuk menggapai manfaat secara maksimal karena berhasil mengembalikan iman kita ke setelan pabrik, kita harus mempertahankan apa yang telah kita upayakan dalam mencapai titik ini. Untuk menanamkannya dalam pikiran, jika puasa tujuannya adalah mengurangi dan menjinakkan nafsu makan ketika dimana jika hal ini terpenuhi maka kita akan menggapai respons nikmat tertinggi, lalu mengapa kita perlu berbuka puasa dan makan seakan-akan itu merupakan “balas dendam” karena telah seharian menahan lapar. Ini sama seperti ketika kita menyiapkan makanan yang begitu lezat dan tepat sebelum menyajikannya, kita malah membuangnya ke tempat sampah dengan sengaja. Mungkin contoh barusan sedikit ekstrim namun mengena. Manfaat dari menahan diri terhadap makan berlebih saat buka puasa memang tak bisa diremehkan. Ingat, kita memenuhi hasrat kepuasan dari sedikit makan dan minum.

Resep puasa atas kita yang diperintahkan oleh tuhan kita adalah manifestasi dari rahmat dalam dan dari dzat-Nya sendiri. Ketetapan puasa atas kita ini seperti cara Allah berfirman kepada hamba-hamba-Nya: “Jauhkanlah sejenak dirimu dari hal-hal yang sangat menyenangkan bagimu hanya agar kamu tidak kebergantungan kepadanya, berhubunganlah dengan-Ku melalui ibadah dan menahan diri dari dosa seperti ini. jalan yang paling bermanfaat dari apa pun yang pernah Anda ketahui, berbagilah dengan apa yang telah aku berikan kepadamu dengan hamba-hamba-Ku dan lepaskan diri Anda dari kesenangan sia-sia yang darinya karena engkau tidak akan pernah mencapai kebahagiaan sejati”.

Ketika kita masih merasa ingin makan, minum, dan menggunakan perangkat kita secara berlebihan, hal ini bisa jadi merupakan indikator hambatan dalam perjalanan memulihkan sirkuit nafsu kita ke pengaturan pabrik. Berpuasa dengan ikhlas, makan secukupnya, tahan diri dari maksiat dan batasilah penggunaan internet dan media sosial mungkin dapat menjadi cara agar kita bisa menuai panen secara maksimal di bulan suci Ramadhan ini. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa kita.

mengembangkandiri.com ringlet-7861419_960_720

SETAN BAGAIKAN KARUNG PASIRNYA PETINJU

Berarti, walau bagaimanapun, pisau itu digunakan untuk memotong roti, karena memang fungsinya untuk itu. Api diperlukan untuk memasak makanan, jika kita memasukkan tangan kedalamnya maka akan mengerang kesakitan, karena bukanlah untuk itu kegunaannya.

Maka dari itu, sebab dari penciptaanya setan bukanlah untuk patuh dan mengikutinya; namun disetiap kedatangannya kita mengusir dan melakukan kebalikan dari apa yang dikatakannya. Dari perspektif ini setan terlihat bagaikan karung pasirnya petinju.

Coba perhatikan, karung pasir bagi petinju yang handal sangatlah berguna dan bermanfaat untuk latihannya. Semakin dipukul atau ditinju maka otot-otonya akan berkembang, sistem pernafasan akan terbuka dan bakatnya bertambah, karena memang inilah fungsinya, yaitu agar para petinju melakukan latihan dan semakin handal. Akan tetapi jika petinju yang tidak cekatan, maka karung pasirnya bisa menjadi musibah baginya. Misalnya ketika melakukan latihan, ia berbicara dengan orang lain atau sedang memerhatikan sesuatu lalu ia tidak melakukan pukulan ke karungnya secara teratur, maka karungnya yang akan memukulinya dan bisa jadi babak belur. Nah, sekarang jika petinju yang seperti ini mengatakan “keluarkan karung ini dari tempat latihan karena sangat berbahaya”, apakah ini benar?

Benar jika bagi dirinya karung itu berbahaya akan tetapi ini karena kecerobohonnya dalam memakai dan sangatlah bermanfaat bagi petinju yang cekatan. Maka karung tinju bisa jadi sesuatu yang berbahaya bagi yang tidak bisa menggunakannya atau bisa menggunakan namun tidak dengan hati-hati.

Nah, anak-anak! Setan itu bagaikan karung tinju bagi kita. Apabila di setiap kedatangannya kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dikatakan, menjauh dan mengusirnya maka itu sangat bermanfaat, sangat penting dan menjadi sesuatu yang baik untuk kita. Karena kita akan mendapatkan pahala dan maknawi kitapun bertambah jika kita tidak mendengarkan bisikannya dan tidak mengikuti pekerjaannya.

Tapi jika seperti yang dilakukan petinju ceroboh tadi, jika kita behadapan dengan tidak hati-hati dan ceroboh, mendengar dan mengikutinya maka kita akan memperoleh dosa. Dengan begini kita telah menjadikan setan sesuatu yang jelek dan berbahaya bagi kita.

Mari kita lihat, siapa saja yang berhati-hati dan menjadi petinju yang handal, yang bisa meninju setiap kedatangan setan kepadanya dan siapa yang bakalan di tinju hingga sengsara?. Nah, inilah petualangan dunia yang sangat penting. Akan tetapi siapa yang bisa dihajar oleh setan sangatlah lebih buruk dibandingkan dihajar manusia. Karena pukulan setan bukanlah melukai atau menghancurkan wajah dan mata kita, melainkan ruh, jiwa hati nurani bahkan iman kita.

Para petinju berlatih dengan karung pasir. Petinju yang tidak berlatih dengan karung pasir, maka akan mudah K.O dihadapan lawan.

mengembangkandiri.com ringlet-7861419_960_720

PENCIPTAAN SETAN BUKANLAH SESUATU YANG BURUK

Pertanyaan :   Apakah penciptaan setan merupakan hal yang bagus atau jelek? mengapa Allahﷻ menciptakan setan? apakah agar manusia melakukan kejahatan atau selalu melakukan dosa?

Jawaban : Beberapa muridku yang bisa memahami inti pada contoh-contoh yang sebelumnya mengangkat tangan lalu memberikan jawaban. Mereka hampir menangkap hikmah dari penciptaan setan. Setelah panjang lebar hasil yang kita sepakati bersama, bahwasanya penciptaan setan bukanlah hal yang buruk, jelek atau tidak perlu.

Allahﷻ menciptakan setan dengan satu sebab, dan sebab ini sangatlah penting dan juga sangat diperlukan. Karena Allahﷻ sangat mencintai hamba-hambanya. Dia menginginkan hamba-hambanya yang baik, bermanfaat dan layak ditempatkan di surganya. Maka setanlah yang akan menjadi penengah dari urusan ini agar kebaikan dan pahala manusia terus bertambah; mereka meraih dan mendapatkan kelayakan menjadi hamba-hambanya.

Sebab itulah Allahﷻ menciptakan manusia yang terkadang bisa naik dan turun derajatnya. Maka dari itu, jika manusia bisa menaikkan derajatnya, ia akan mampu mencapai puncak tertinggi dari hakikat kemanusiaan, bahkan ia bisa menjadi tetangga para kekasih Allahﷻ. Namun, jika derajat kemanusiaan itu turun dan jatuh, maka ia bisa berada pada level hewan, bahkan lebih rendah dari itu. Nah, setan dalam hal ini sangatlah menguntungkan bagi manusia ketika ia terjatuh lalu bangkit dan menuju puncak tertinggi. Selama tidak mendengar, menahan diri dari kejelekan-kejelekan dan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan yang diinginkan setan, maka manusia menjadi mulia, menjadi seperti malaikat, bahkan melebihi itu semua ia bisa mencapai ke puncak dengan tingkat maknawi yang tinggi. Akan tetapi, jika ia mendengar, melakukan kelakuan-kelakuan buruknya setan, maka ia akan terjatuh ke tempat yang rendah, menjadi seperti hewan bahkan lebih rendah dari itu, seperti layaknya setan itu sendiri. Jika manusia sudah berprilaku seperti setan dan perilaku ini sudah mewabah, maka setan sangatlah senang, bahkan yang banyak berlibur itu setan sendiri dari pekerjaan buruknya, karena manusia-manusia sepertinya terus bertambah dan melakukan  semua tugas-tugasnya secara sukarela. Maka setan akan datang dari sebelah kanan dan bersenang-senang.

mengembangkandiri.com map-7106584_960_720

MENGAPA ORANG MENOLONG?

Pada pertengahan tahun 1992, terjadi pembantaian warga Bosnia oleh Kroasia. Pada saat itu, seorang reporter TV Inggris Michael Nicholson, berusaha menyelamatkan seorang anak berusia 8 tahun yang telah kehilangan kedua orang tuanya keluar dari Bosnia, dengan cara memalsukan namanya dalam paspor sebagai anaknya. Tindakannya tersebut sangatlah berbahaya, karena ia bisa saja ditangkap oleh pemerintah setempat yang saat itu sangat tidak ramah pada wartawan asing. Selain itu ia juga akan menghadapi masalah besar ketika tiba di Inggris, karena telah menyelundupkan warga asing.[1]

kisah yang serupa juga terjadi pada tahun 1950 tentang seorang tentara Turki yang menyelamatkan gadis kecil asal Korea, yang kemudian kisah ini diangkat menjadi sebuah film yang berjudul, “Ayla: The Daughter ofWarr”. Film asal Turki yang dirilis pada tahun 2017 ini mengisahkan pertemuan antara seorang prajurit Turki dengan gadis kecil asal Korea Selatan bernama Ayla. Film ini memang diangkat dari kisah nyata seorang sersan Turki yang ditugaskan untuk membantu peperangan saudara diKorea Selatan pada tahun 1950an.

Kisahnya bermula saat Suleyman (İsmail Hacıoğlu) datang ke sebuah desa yang seluruh masyarakatnya telah habis dibantai dalam perang. Tanpa terduga, di sana Suleyman menemukan seorang anak kecil yang selamat dari pembantaian bernama Ayla (Kim Seol). Saat itu Ayla tengah menangis sambil menggenggam erat tangan ibunya yang telah meninggal. Melihat keadaan tersebut Suleyman pun bergegas membawa Ayla ke Kamp untuk menyelamatkannya. Pada mulanya pimpinan Suleyman tidak mengizinkan Ayla tinggal di Kamp, namun berkat keteguhan hati Suleyman, sang pimpinan akhirnya memperbolehkannya.

Di Kamp tersebut Suleyman mengasuh Ayla seperti anaknya sendiri, mulai dari mengajak bermain hingga berjalan-jalan, sampai akhirnya Ayla memanggil Suleyman dengan panggilan kata Baba. Usai perang Suleyman bermaksud membawa Ayla pulang ke Turki tetapi tidak diperbolehkan. Dengan berat hati, Suleyman menitipkan Ayla di Panti Asuhan dengan janji akan kembali suatu saat nanti. 60 tahun kemudian, Suleyman tidak lupa janjinya kepada Ayla, ia terus berusaha mencari keberadaannya. Hingga pada akhirnya salah satu stasiun televisi yang mendengar kisah ini dengan usaha kerasnya berhasil mempertemukan Suleyman dan Ayla yang keduanya telah lama berpisah.[2]

Kemudian timbullah pertanyaan dari benak hati yang paling dalam,

Mengapa dua orang tokoh yang sudah kita sebutkan di atas mereka berani mengambil sebuah tindakan yang beresiko tinggi demi menyelamatkan seorang anak yang tidak dikenalnya?

Apa motivasi yang mendasari tindakannya ini?

Apakah demi popularitas semata (karena ia dapat membuat kisah nyata yang sangat menarik) atau memang tindakannya ini didasari oleh niat yang tulus untuk menolong?

Tingkah laku menolong yang tidak sedramatis cerita di atas sesungguhnya merupakan hal yang biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Diantaranya; Seperti membukakan pintu untuk orang lain yang sedang membawa banyak barang di sebuah Supermarket, memberi uang untuk pengemis yang ada di jalanan, mengantar seorang kakek/nenek lansia untuk menyeberangi sebuah jalan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tingkah laku menolong, atau dalam psikologi sosial dikenal dengan tingkah laku prososial, adalah tindakan individu untuk menolong orang lain tanpa adanya keuntungan langsung bagi si penolong. Contoh dari tingkah laku menolong yang paling jelas adalah altruisme, yaitu motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain. Pada altruistik, tindakan seseorang untuk memberikan bantuan pada orang lain adalah bersifat tidak mementingkan diri sendiri (selfish).[3]

Jika kita pernah membaca buku cerita sejarah kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, maka kita akan menemukan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah memberikan banyak contoh Sifat altruisme ini. Salah satu diantaranya adalah kisah sahabat Rasulullah Utsman bin ‘Affan yang dikenal sebagai saudagar kaya raya dan paling dermawan di kala itu. Pada masa Kekhalifahan Amirul Mukminin Abu Bakar Ash-Shiddiq, kaum muslimin pernah dilanda krisis kekeringan yang begitu dahsyat, akibatnya banyak lahan pertanian yang tidak dapat menghasilkan apa-apa. Dalam kondisi sulit seperti ini, menyebabkan para pedagang melakukan banyak cara untuk melipat gandakan harga-harga yang tak sewajarnya.

Pada suatu hari, kapal-kapal niaga milik Usman bin ‘Affan yang mengangkut komoditas pangan seperti jagung, minyak (mentega), dan kismis yang baru tiba, yang di mana jumlahnya hanya bisa diangkut oleh seribu unta, para pedagang penyalur (distributor) dan broker[4] yang ada pada saat itu mendatanginya untuk menawarkan jasa dengan harga tawaran sepuluh kali lipat dari harga biasanya. Akan tetapi ia menolaknya dan berkata, “Adakah yang berani membeli barang-barang ini dengan harga lebih dari 700 kali lipatnya”?, semua pedagang hanya diam terpana. Mereka membayangkan, jika harga setinggi itu di manipulasi dengan selicik apa pun, tak akan pernah ada orang yang dapat meraih laba dan keuntungan. Kemudian Utsman berkata lagi, “Bila tidak ada yang mampu, maka semua ini akan kujual kepada Allah,” seraya membagi-bagikan barang-barang dagangan miliknya kepada orang-orang miskin begitu saja secara cuma-cuma. Angka 700 yang Utsman sebutkan ialah sebuah isyarat yang merujuk kepada Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 261 tentang ganjaran berinfak di jalan yang Allah rida’i.[5]

Sifat altruisme dalam kisah ini menggambarkan begitu sangat luar biasa dermawannya seorang Utsman bin ‘Affan demi mensejahterakan kehidupan orang-orang yang susah dan sedang membutuhkan pertolongan. Bisa kita bayangkan, bila volume satu truk container setara dengan muatan 25 unta, maka lebih kurang ia telah menyedekahkan harta miliknya sebanyak 40 kontainer jumlahnya. Lalu, di zaman sekarang ini, pernahkah kita melihat konvoi container sebanyak itu yang dimiliki oleh hanya seorang pedagang saja?, adakah pernah kita mendengar ada barang import sebanyak itu yang diinfakkan begitu saja oleh pemiliknya?, yang bahkan pada saat itu harga-harga barang sedang melambung tinggi dan suplai dipasar nyaris tidak ada?.

Sosok Utsman adalah manusia langka, seorang saudagar kaya raya yang tidak pernah silau dengan laba di dunia. Karena ia tahu, sebanyak dan sebesar apa pun untungnya, harta itu tak akan pernah bisa dibawa ketika ajal dan keputusan Allahﷻ mendatangi dan menjemputnya. Ia sangat yakin bahwa simpanan yang sejati dan akan kekal selamanya adalah harta benda yang ia infakkan, diwakafkan, disedekahkan, dan dipinjamkan di jalan Allahﷻ.

Kisah ini hanyalah salah satu dari banyaknya contoh sifat kedermawanan yang dimiliki oleh Utsman, hingga tak heran jika Utsman adalah salah satu dari 10 orang sahabat Rasulullah yang telah dijamin masuk Surga. Ibnu Umar r.a pernah berkata, “Saya datang kepada Nabi SAW bersama sembilan orang sahabat, lalu salah seorang sahabat dari Anshar berkata: “Siapakah orang yang paling pandai dan paling mulia Ya Rasulullah?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak ingat kematian di antara mereka dan paling sangat persiapannya untuk kematian itu. Merekalah orang-orang yang pandai. Mereka pergi dengan kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat”.[6]

Terakhir, orang yang telah diberi nikmat begitu banyak oleh Allahﷻ dan kemudian menjadi tumpuan bagi orang lain, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar, jika ia mau membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan. Membantu kesulitan orang lain dapat dilakukan dengan berbagai cara dan tentu saja dilakukan tanpa pamrih. Lakukan saja apa yang bisa kita berikan secara ikhlas. Ingatlah bahwa Allahﷻ adalah Zat Yang Maha Mengetahui segala hal yang dilakukan oleh setiap makhluk-Nya. Sebagaimana firman Allahﷻ dalam Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 9, “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. Dengan demikian, jika semua hal yang kita lakukan diniatkan hanya untuk mengharapkan rida dari Allahﷻ semata, maka semuanya akan menjadi ringan dan mudah ketika dikerjakan.

[1] Sarlito W. Sarwono, Psikologi Sosial. (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), hlm. 122.

[2]https://www.kompas.com/hype/read/2021/07/20/091753466/sinopsis-ayla-the-daughter-of-war-kisah-mengharukan-tentara-turki-dan-gadis?page=all. Diakses pada pukul 11.08 WIB, Minggu 4 November 2022.

[3] Sarlito W. Sarwono, Psikologi Sosial. hlm. 125.

[4]broker/bro·ker/ n pedagang perantara yang menghubungkan pedagang satu dengan yang lain dalam hal jual beli atau antara penjual dan pembeli (saham dan sebagainya); cengkau; makelar; pialang. Lihat https://kbbi.web.id/broker.

[5]Wiwid Prasetyo, Utsman bin Affan Akhir Tragis Sahabat Paling Dermawan, (Solo: Tinta Medina, 2015), hlm. 201.

[6]Asy Syaikh Zuhair Syafiq Al-Kubbiy, Sakaratul Maut wa Syiddatuhu, judul terjemah, Imam Al Ghazali Berbicara Tentang Saakaratul Maut dan Kekerasannya, penerjemah Ahmad Sunarto, (Semarang: CV. Surya Angkasa Semarang, 1995), hlm. 6-7.