boris-smokrovic-RLLR0oRz16Y-unsplash

Tanggung Jawab ini Besar dan Bebannya ini Berat

Sekelompok pemburu telah melukai seekor burung, dan makhluk malang tersebut berusaha untuk kabur. Dengan penuh susah payah, burung tersebut terus mencoba untuk bisa terbang menjauh, namun para pemburu terus mengejarnya. Tidak ada tempat bersembunyi untuknya. Dimana saja si Burung bersembunyi, pemburu menemukannya, dan dimana saja si Burung mendarat, para pemburu melacaknya.

Jantung burung kecil itu terus berdetak kencang, penuh ketakutan. Dimanapun si Burung berhenti untuk menghela nafas, tembakan senapan dari Pemburu mengarah ke arah si Burung malang. Pemburu-pemburu tersebut menikmati tantangan memburu si Burung; pengejaran tersebut menambah keseruan dalam perjalanan berburu mereka. Rasa belas kasihan sudah hilang dari hati mereka. Mereka sudah tidak peduli dengan kondisi tidak berdaya, lemah, dan rapuh dari si Burung kecil. Mereka tidak menunjukan sedikitpun rasa ampun, dan itu akan terus berlanjut sampai mereka membunuh makhluk malang tersebut. Tercium bau kematian saat peluru senapan ditembakan satu demi satu, bau bubuk senapan menyebar luas ke sekitar.

Sekarang, Si Burung hanya memiliki satu kesempatan terakhir untuk kabur, karena energinya sudah habis terkuras. Tiba-tiba, dia melihat sekelompok manusia duduk di kejauhan. Ada seorang Sheikh duduk di tengah-tengah kelompok tersebut, sedang berzikir dan bersholawat. Si Burung menggunakan energi terakhirnya untuk terbang menuju sekelompok orang tersebut. Dengan instingnya, Si Burung terbang ke dalam sorban dari Sang Sheikh, mencoba untuk bersembunyi. Si Burung sudah menemukan tempat untuk berlindung.

Sang Sheikh merasakan sesuatu bergerak-gerak di atas kepalanya dan dengan panik, meraih benda tersebut. Saat Sang Sheikh menangkapnya dengan tangan -karena Si Burung dalam kondisi yang sangat rapuh- makhluk malang tersebut terbunuh.

Singkat cerita, pada Hari Penghakiman, si Burung kecil mengajukan keluhan terhadap Sang Sheikh yang membunuhnya dulu. Sang Sheikh tidak membunuh Si Burung dengan sengaja, karena saat itu, dia tidak tahu apa yang dia akan raih dari atas kepalanya. Setelah menyadarinya pun, Sang Sheikh merasa sangat menyesal karena dia telah membunuh si Burung kecil. Karena alasan ini, Beliau tidak bersalah. Akhirnya Si Burung menerima, namun dia mengajukan permintaan terakhir yaitu:

“Aku punya permintaan. Saya mencari perlindungan di dalam sorban tanpa ragu karena percaya bahwa saya akan mendapat perlindungan karenanya. Mulai sekarang, orang yang tidak menjaga dan menghormati amanah ini tidak diijinkan memakai sorban agar makhluk lain tidak jatuh ke situasi yang sama seperti saya!”

Nilai moral dari kisah ini adalah bahwa generasi kita sedang mencari suatu tempat perlindungan sehingga mereka terlindungi dari kejamnya jebakan para pemburu. Kemanusiaan sudah jatuh kedalam rawa penuh dosa. Kemanusiaan sedang berjuang dan menangis karena tenggelam semakin dalam ke dalam pasir hisap. Kemanusiaan lah yang bertanggung jawab untuk setiap pemuda yang menjadi pecandu narkoba, karena tidak ada orang yang merangkul mereka, dan kemanusiaan lah yang juga bersalah atas setiap pemuda yang kehilangan kesuciannya, tidak melihat darimana bangsa, ras, atau warna kulit mereka. Rumah sakit, penjara, dan tempat pemakaman sedang berteriak meminta bantuan!

Inilah tanggung jawab besar kita, dan bebannya sangatlah berat. Tidak ada seorangpun yang boleh memupuskan harapan mereka yang sedang kabur dari api penderitaan ini, mereka sedang mencari perlindungan. Selama kita tidak bisa melepas kain iman dari pundak kita, maka kita harus menunjukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menjaga dan menghormati sorban ini.

Dari Akar, Mehmet, Mesel Ufku, Istanbul: Timas, 2008, hal. 103

jisun-han-cl9KWGDf52E-unsplash

Potret Maknawi Sang Bediuzzaman : Tidak Takut Akan Siksa Neraka, Tidak Berhasrat Akan Kenikmatan Surga

     Bediuzzaman Said Nursi menjelaskan perasaan rohaniah dan pemikirannya yang begitu dalam kepada Esref Edip mengenai pengabdian terhadap agama : “Satu-satunya hal yang membuatku menderita ialah bahaya yang sedang dihadapi umat Islam. Pada masa silam, bahaya berasal dari luar. Namun sekarang, berbagai bahaya itu berasal dari umat Islam sendiri. Sangat sulit untuk melawannya.  Diriku amat takut bila umat tidak mampu menahannya, dikarenakan mereka tidak mengetahui keberadaan musuh. Mereka seolah-olah menganggapnya sebagai teman.”

     Beliau melanjutkan, “Apabila pandangan masyarakat telah buta, benteng keimanan umat Islam akan berada dalam bahaya. Hanya itulah yang kupedulikan sekarang. Diriku bahkan tidak pernah punya waktu untuk memikirkan semua siksaan and penghinaan yang telah kurasakan. Yang kuinginkan hanyalah keselamatan umat. Itu sudah cukup bagiku. Apabila hal tersebut terwujud, diriku tidak akan keberatan dan bersedia untuk mengalami penderitaan yang lebih pedih.”

     “Yang sedang kubicarakan adalah pondasi utama masyarakat Islam. Iman, kalbu, dan nilai-nilai keislaman. Ketiga hal tersebut kuajarkan di bawah naungan persatuan dan keimanan sebagaimana termaktub dalam Alquran. Ketiga hal inilah yang menjadi pilar utama umat Islam. Tanpanya, umat akan hancur suatu saat nanti.”

     Mereka bertanya kepadaku, “Mengapa Anda mengambil barang ini dan itu?”. “Aku bahkan tidak menyadari hal ini. Kobaran api menyala-nyala di hadapanku, membumbung ke atas langit. Anak-anakku terbakar membara dalam api kekufuran. Begitu pula diriku. Kucoba berlari mendekati kobaran api dan memadamkannya. Aku akan menyelamatkan agamaku sendiri.” Ia beralasan, “Apakah masuk akal bila ada seseorang yang ingin berurusan dengan orang yang berhasrat menjebaknya? Dalam keadaan bahaya ini, seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan dari setiap perbuatan kecil manusia?”

     Bediuzzaman dengan tegas berkata, “Apakah mereka berpikir diriku adalah seseorang yang egois? Seseorang yang hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Tentu saja tidak. Kukorbankan seluruh dunia dan akhiratku untuk menolong umat. Diriku tidak takut pada siksa neraka dan tidak berhasrat akan kenikmatan surga. Untuk keselamatan dua puluh lima juta orang Turki, tidak hanya satu Said yang akan mengorbankan dirinya. Pasti ada ribuan Said lain yang akan melakukan hal sama. Apabila tidak ada seorang pun yang tunduk pada ajaran Alquran, diriku tidak akan menginginkan kenikmatan surga. Itu akan menjadi penjara bawah tanahku. Lebih baik diriku terbakar api neraka.”

     “Dalam 80 tahun kehidupanku, diriku tidak prnah mengetahui secuil pun kenikmatan duniawi. Hidupku habis di dalam penjara bawah tanah, pengadilan, dan pengasingan. Ditambah lagi, kehidupanku dipenuhi dengan kesedihan, penderitaan, dan kesulitan. Kukorbankan semua jiwa dan ragaku untuk keselamatan umat. Lisanku bahkan tidak mampu mengutuk kezaliman mereka. Hanya satu alasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan umat melalui buku Risalah Nur karanganku.”  Memang hal itu sebuah fakta. Berdasarkan penuturan jaksa Afyon, Said Nursi telah menyelamatkan iman 500.000 Muslim atau mungkin lebih banyak, MasyaAllah.

     Bediuzzaman adalah seseorang yang siap mengobankan jiwa dan raganya untuk keselamatan umat Islam. Sehubungan dengan hal tersebut, beliau tidak tanggung-tanggung. Beliau melakukan perjaanan ke puncak maknawi tertinggi, Beliau memaafkan semua orang yang telah menyiksanya. Begitu mulianya pribadi beliau!

     Beliau melupakan semua rasa sakit dan derita yang dialaminya dengan penerimaan satu orang akan keimanan yang suci. Beliau menganggapnya sudah cukup untuk membalas semua penderitaan yang beliau alami. Beliau berjalan di atas cakrawala Baginda Rasulullah yang bercahaya. Siapakah yang lebih kuat dibandingkan dengan orang yang memiliki kepercayaan dan ketundukan penuh kepada Tuhannya? Bagaimana gelapnya ruang pengadilan, penjara, atau kematian dapat melukainya?

     Beliau dengan rasa rendah hati menuturkan, “Sejak diriku tahu bahwa Risalah Nur menyelamatkan kalbu orang-orang yang membutuhkan rasa iman, maka biarkanlah seribu Said mengorbankan dirinya. Diriku telah memaafkan siapa saja yang menzalimi dan menyiksaku selama 28 tahun lamanya. Tidak perlu diragukan, diriku telah memaafkan siapa pun yang mengusirku dari satu kota ke kota lainnya. Kumaafkan semua orang yang menghina dan menuduhku atas banyak hal sehingga membuatku dipenjara! Kumaafkan mereka yang telah melemparkan ragaku yang lemah ini ke dalam penjara bawah tanah!”

   “Kukatakan kepada takdir yang selalu adil, diriku pantas menerima tamparan kasih sayang. Jikalau diri ini hidup seperti kebanyakan orang, yang melulu berpikir tentang dirinya sendiri dan selalu mengambil jalan termudah tanpa adanya pengorban jiwa dan raga, niscaya diriku akan kehilangan kekuatan untuk mengabdi kepada agama. Aku telah mengorbankan semuanya. Aku berhasil bertahan dari semua penderitaan pahit. Aku bersabar atas semua siksaan yang pedih. Pada giliranya, realita keimanan sudah tersebar ke segala penjuru. Lembaga pendidikan berbasis Risalah Nur telah berkembang menjadi ribuan dengan jutaan murid yang berdatangan. Mulai sekarang, mereka akan melanjutkan jalan pengabdian ini. Mereka tidak akan menyimpang dari misi pengorbanan ini. Mereka akan melakukan semuanya hanya untuk meraih rida Ilahi semata.” 1

1. Nursi, Bediuzzaman Said, Risale-i Nur Kulliyati-2. Istanbul: Nesil, 1996, hal. 2206

marek-piwnicki--7B7Vvk3KlQ-unsplash

Ambil Tongkat itu, Kami Pantas Dihukum!

Di lingkungan sekolah, nilai moral dan budaya seharusnya diajarkan dengan porsi yang sama dengan pelajaran umum lainnya, sehingga generasi dengan karakter dan semangat yang kuat dapat membentuk bangsanya menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera. Mengajar dan mendidik adalah sesuatu yang berbeda. Banyak orang bisa menjadi seorang guru, namun tidak semua orang bisa mendidik. Menjadi seorang guru-pendidik bergantung kepada perasaan bertanggung jawab dan menjadi penuh perhatian dan menanggung beban amanah di waktu yang bersamaan. Memberi pengaruh ke hati para siswanya hanya bisa dicapai melalui tingkat perasaan jiwa seperti itu.

Kejadian berikut bisa menjadi contohnya:

Pak Ari datang menemui Pak Dimas dalam keadaan panik, “Mereka kabur lagi! Sudah berapa kali kita nasehati, tapi tetap saja mereka melakukannya lagi! Mereka tidak mendengar nasehat kita. Ini sudah ketiga kalinya mereka kabur!”

Pak Dimas bertanya, “ Kali ini, mengapa mereka kabur?”

“Saya kurang tahu; mereka ingin hidup seperti anak nakal,” balasnya

“Bagaimana Anda bisa menangkap mereka terakhir kali, Pak?”

“Pertama, kami temukan mereka di terminal bus dan kedua kalinya mereka kabur, kami menemukan mereka tidur di bangku yang ada di taman. Saat itu, kondisinya sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) jadi polisi menemukan mereka dan menginformasikan kepada kita. Kami datang dan membawa mereka kembali. Kami sudah menasehati kepada mereka tentang perilaku mereka itu sangat beresiko, namun mereka tidak paham-paham.”

Sementara itu, ketiga pelajar yang sedang kabur memutuskan untuk membeli tiket kereta api. Kondektur yang sudah berpengalaman di stasiun kereta api menyadari bahwa anak-anak tersebut sedang kabur.

Dia berkata kepada mereka, “ Dengar nak, di sini bukan tempat yang aman, berikan tiket dan uang kalian dan saya akan menyimpannya. Saat kereta datang, saya akan mengembalikannya.” Anak-anak itu menyadari bahwa itu alasan yang masuk akal dan memberikan tiket mereka ke pak kondektur.

Pak kondektur pun menginformasikan ke polisi di stasiun kereta api dan meminta mereka untuk menginvestigasi anak-anak tersebut. Pak polisi bersikap baik terhadap mereka dan bertanya tentang kondisi anak-anak itu. Pak polisi menemukan nama asrama tempat mereka kabur. Segera Beliau menelpon pihak sekolah dan Pak Dimas yang mendapat informasi tersebut langsung tancap gas menuju ke stasiun. Beliau menjemput ketiga anak kabur itu dan membawanya kembali ke sekolah. Saat itu beliau ingin menghukum mereka secara berat, karena mereka sudah sering kabur sebelumnya. Saat tiba di sekolah, Beliau melihat Pak kepala sekolah dan berubah pikiran untuk menghukum siswa-siswanya. Beliau menceritakan kejadiannya ke Pak kepala sekolah.

Pak kepala sekolah berkata, “ Carikan saya 3 tongkat besi dan pastikan tongkat itu cukup tebal, saya tidak ingin tongkat itu mudah bengkok saat saya memberi pelajaran ke tiga siswa ini. Saya ada kelas sekarang, bawa 3 tongkat itu setelah saya selesai kelas.”

Pak Dimas keluar sambil berpikir, “Bukankah satu tongkat besi saja cukup? Tongkat besi tidak semestinya mudah patah seperti batang kayu biasa.” Kemudian beliau berpendapat, “ Saya harus menghormati beliau, pasti ada pelajaran penting dari ini.”

Setelah beberapa menit, dia kembali dengan menggenggam 3 batang tongkat besi di tangannya. Pak kepala sekolah pun sudah selesai dari kelasnya dan ketiga siswa tadi menunggu didepan pintu seperti pasien yang sedang menunggu untuk dioperasi, dengan rasa takut terlihat di mata mereka. Pak kepala sekolah memanggil mereka “Masuk anak-anak.” Kemudian Beliau menghadap ke Pak Dimas dan berkata kepadanya, “ Sini Pak Dimas, silakan lepas kemeja Anda, saya juga akan melakukan hal yang sama.” Kemudian Beliau melihat siswa-siswanya dan berkata, “ Ini ambil tongkat besinya masing-masing! Kami pantas untuk dihukum. Jika kami adalah contoh dan teladan yang baik, jika kami berhasil menyentuh hati kalian, kalian tidak akan berbuat hal bodoh seperti itu. Kami lah yang pantas untuk hukuman ini. Punggung kami terbuka, pukul sebanyak yang kalian mau.”

Ketiga siswa yang tadinya masuk dalam keadaan wajah pucat dan ketakutan setengah mati sekarang terkaget-kaget. Tongkat-tongkat besi tadi terjatuh dari tangan mereka dan mereka pun bersimpuh di lantai, menangis. Mereka mengaku bersalah kepada Pak kepala sekolah, “Tolong Pak, hukum saja kami apapun kehendak Bapak, patahkan kaki kami namun maafkan kami Pak.” Pak kepala sekolah cukup serius tentang keputusannya untuk menghukum dirinya sendiri. Namun, ketulusan permohonan dari siswa-siswanya menggugah hatinya. Akhirnya, Beliau berubah pikiran dan memutuskan untuk tidak bersikeras lagi. Tidak ada lagi siswa yang kabur dari asrama sekolah tersebut setelahnya.

Terinspirasi dari:

Refik, Ibrahim, Hayatin Renkleri, Istanbul: Albatros, 2001, p. 154

elly-johnson-0omE39JtUAQ-unsplash

Penderitaan dan Kesengsaraan

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata,

“Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (Q.S. al-Baqarah 2:214)

Apa itu Penderitaan dan Kesengsaraan?

Dalam tulisannya, Ustadz Fethullah Gulen menyebutkan bahwa penderitaan dan kesengsaraan adalah sarana yang penting untuk mencapai tujuan luhur dan memperoleh hasil yang maksimal. Seorang yang mencari kebenaran disucikan oleh penderitaan, dimurnikan olehnya dan dengannya dia dapat mencapai hakikat kebenaran. Seseorang tidak dapat mencapai kematangan dan pemahaman akan kalbunya, tanpa ada penderitaan.

Semua sebab dari peristiwa besar dan tujuan altruistik terbabar dalam bayang-bayang, serba kekurangan, penderitaan, dan kesengsaraan. Tidak ada hakikat kebenaran dan cita-cita yang mulia yang dapat dicapai tanpa menghadapi suatu kesulitan dan dilalui tanpa kekurangan.

Suatu Sebab Memerlukan Penderitaan dan Kesengsaraan

Pengabdian kepada Islam dan kesuksesan di jalan ini selalu terjadi dengan metode yang sama, dan begitu banyak jenis penderitaan dan kesengsaraan yang harus ditanggung. Teladan kehidupan yang penuh akan penderitaan dan kesengsaraan dalam pengabdian di jalan Tuhan dapat dilihat dalam kehidupan generasi awal masyarakat yang hidup berabad-abad yang lalu bersama Rasul mereka.

Misalnya, jika kata-kata atau cacian yang dilontarkan ke Nabi Nuh oleh umatnya, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran, dilontarkan kepada salah satu dari kita di pinggir jalan dan jika kita dihina dengan cara seperti ini, kejiwaan kita akan goyah oleh rasa sakit. Salah seorang dari lima Nabi termulia, pelayan Tuhan ini pergi dari pintu ke pintu setiap hari dan menyentuh gagang pintu rumah setiap umatnya seraya berkata, “Katakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan jadilah yang terselamatkan”; Namun, balasan dari umat-umatnya terkadang adalah mengikat tali ke kakinya dan menyeretnya, kadang-kadang mengeroyok dan memukulinya, juga melemparkan tanah padanya dan bahkan melontarkan hinaan yang sangat kejam.

Jika kita mencermati kisah kehidupan Nabi Ibrahim as, terlihat betapa berat kesulitan yang Beliau alami. Beliau menghadapi penderitaan dan kesengsaraan terberat, seperti dilempar ke dalam kobaran api, diperintahkan membawa pergi jauh istrinya dan meninggalkannya disana, dan diperintahkan untuk menyembelih putranya.

Salah satu murid Nabi Isa as mengkhianati Beliau. Kemudian, umatnya sendiri dengan licik mengepung rumahnya dan berlomba-lomba untuk menyalib Sang Nabi.

Ringkasnya, semua Nabi mengalami penderitaan. Jalan seperti inilah merupakan jalan yang mereka lalui. Oleh sebab itu, Yunus Emre (w. 1321 M) berkata:

“Jalan ini panjang; rintangannya banyak. Tidak ada jalan masuk, hanya perairan yang dalam.”

Saat kita meninjau dari perhatian yang seperti ini, mereka yang bertugas di jalan Tuhan harus disiapkan untuk semua jenis kesukaran dan kesulitan, penderitaan dan kesengsaraan. Mereka yang beriman sebaiknya bisa menerima bahwa sejak awal mungkin akan ada malapetaka mengintai mereka dalam tugas untuk menjelaskan Tuhan dan kebenaran kepada setiap hati yang membutuhkan, dan mereka harus mengetahui dengan baik dan menerima bahwa mereka harus menanggung seperti ini.

kayra-sercan-NSwyO3jcbrA-unsplash

Kami juga Menerima Pengunduran Diri Mereka yang Telah Memberikan Pengunduran Diri Kepada Anda

Sang pujangga besar Mehmed Akif Arsoy seringkali datang ke Masjid Sultan Ahmed untuk menunaikan salat Subuh. Setiap kali beliau datang ke masjid, beliau selalu melihat seorang lelaki tua sedang menangis di sudut ruangan. Suatu hari, lelaki tua itu menceritakan pengalamannya kepada beliau yang membuatnya sangat tersentuh. Lantas  beliau menjelaskan bagaimana percakapannya dengan lelaki tua tersebut.

“Setiap harinya saya selalu datang ke masjid untuk menunaikan salat Subuh. Secepat apapun saya tiba, saya selalu melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk di sudut masjid dan terus menangis . Rambut dan jenggotnya sudah beruban dan ekspresinya terlihat sedih dan putus asa. Ia terus menangis sampai-sampai saya  tidak bisa menyaksikan ia tidak menyucurkan air mata meskipun hanya semenit. Saya tidak bisa menahan diri selain bertanya-tanya mengapa lelaki tua ini menangis seperti itu. Suatu pagi, saya mendekatinya dan bertanya “Mengapa Anda menangis tersedu-sedu? Haruskah seseorang kehilangan harapan akan ampunan Tuhannya?” Dia menatapku dengan matanya yang keriput seraya berkata:

Jangan memaksaku menjelaskannya Tuan. Hatiku terasa hancur. Aku pun terus memaksanya hingga akhirnya ia berkata : ” Wahai Tuan, saya dahulu adalah seorang pejabat militer di bawah kekuasaan Sultan Abdulhamid. Satu pasukan tentara berada di bawah komando saya.  Saya bertugas hingga kematian kedua orang tua. Setelah kejadian duka itu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Harta yang saya wariskan bagi keluarga cukup banyak. Untuk mengawasi harta tersebut agar tidak disalahgunakan, akhirnya saya berpikir untuk mengelolanya dalam. Oleh karena itu, saya menulis sebuah permintaan kepada otoritas kerajaan. Permintaan tersebut berbunyi ” Kedua orang tuaku telah wafat. Kepemilikan harta dan bangunan keluarga kami sangat besar tersebar di beberapa tempat. Dengan demikian, harus ada seseorang yang mengurusnya. Mohon pertimbangkan keadaan tersebut dalam pemutusan pengunduran diri saya.”

Beberapa hari kemudian, saya menerima surat resmi dari sultan. Kubuka surat itu dengan penuh semangat. Pengunduran diri saya tertolak. Kupikir sangat jelas bahwa Sultan menerimanya secara langsung. Kutulis surat itu sekali lagi lantas kukirim kembali. Naas, hasilnya tetap sama. Akhirnya, saya putuskan untuk menemui Sultan secara langsung dan meminta persetujuan pengunduran diriku. Berbicara perihal Sultan, beliau ialah seseorang yang pemberani.  Beberapa waktu silam, saya pernah bekerja bersama asisten pribadi beliau. Ia bercerita beberapa hal mengenai Sultan. “Ketika Sultan melakukan perjalanan menggunakan kereta kuda, orang yang duduk di samping kanan dan kiri beliau merasa takut bahkan untuk bernapas saja.”

Abdulhamid ialah seseorang yang saleh. Karena alasan inilah saya memutuskan untuk menceritakan semuanya secara langsung, semoga Allah mengampuni beliau. Saya bertutur :

“Wahai Yang Mulia, dengan tulus hamba meminta Anda untuk menerima pengunduran diri hamba, memang beginilah kondisinya. Beliau berhenti selama beberapa menit. Dari ekspresinya dapat kukatakan bahwa Sultan tidak ingin menerima pengunduran diri saya. Untuk alasan inilah saya menjadi lebih sedikit bersikukuh. Lantas Sultan berbalik menatap saya dan dengan amarah beliau berkata “Pengunduran dirimu diterima” seraya menyuruh saya keluar.

Sungguh hal yang membahagiakan. Saya pun akhirnya kembali ke kampung halaman dan mengelola bisnis keluarga. Pada suatu malam, saya mengalami mimpi yang sungguh luar biasa. Kulihat semua tentara Muslim berkumpul untuk diperiksa. Resimen kami yang bertugas bertempur di wilayah timur dan barat diperiksa langsung  oleh Baginda Rasulullah.

Rasulullah berdiri de depan Istana Yidiz dan para tentara berbaris dengan sangat teratur tatkala memberi hormat pada beliau. Tampak Sultan Ottoman sebelumnya bersama Sultan Abdulhamid. Sang Sultan berdiri di belakang Rasulullah dengan sikap hormat. Dalam barisan tersebut akhirnya tibalah resimen yang kupimpin dulu. Satuan itu tidak memiliki pemimpin sehingga mereka berbaris dengan sangat kacau.

Melihat hal tersebut, Rasululllah bertanya kepada Sultan Abdulhamid ” Siapakah gerangan pemimpin resimen itu?”

Abdulhamid menjawabnya dengan penuh rasa rendah hati “Ya Rasulullah, pemimpin resimen ini telah mengundurkan diri. Ia terus bersikeras  sehingga kami putuskan untuk menyetujui surat pengunduran dirinya.’

Beliau menjawab : “Kami juga menerima pengunduran diri bagi mereka yang telah memberikan pengunduran diri kepada Anda.”

Si orang tua tersebut mengakhiri ceritanya dengan berkata :” Sekarang beri tahu, apakah saya harus menangis atau tidak?

Sesungguhnya, Rasulullah selalu berjalan di setiap langkah menuju Allah. Apabila seorang hamba ingin menerima dukungan beliau, kerjakanlah tugas sebaik mungkin.

shane-rounce-DNkoNXQti3c-unsplash

TANGGUNG JAWAB DAN MELAYANI AGAMA

Mengambil langkah di jalan Allah dengan niat untuk berjuang di jalan Allah dan untuk kebaikan umat manusia lebih diberkati daripada segala sesuatu di dunia.

Apa Arti Kata “Menjadi Sadar akan Tanggung Jawab”?

Para ahli telah mendefinisikan tanggung jawab sebagai akuntabilitas dan kewajiban seseorang terhadap kewajiban tertentu seperti keyakinan, praktik, perilaku, tindakan, dan ucapan. Nyatanya, menyadari tanggung jawab adalah salah satu kualitas terpenting yang membedakan manusia dengan hewan, karena manusia adalah makhluk hidup yang memiliki kecerdasan, kemauan bebas, tanggung jawab, dan keyakinan. Orang yang beriman adalah orang yang bertanggung jawab. Dia memiliki tanggung jawab terhadap Allah, Nabi yang mulia dan saudara-saudari Muslim. Terkadang tanggung jawab ini memanifestasikan dirinya sebagai upaya di jalan Allah dan terkadang sebagai perilaku yang baik.

Semua Muslim diwajibkan untuk menepati janji mereka kepada Allah dan berperilaku dengan cara menyadari tanggung jawab mereka. Jadi, janji apa yang kita buat untuk Allah ini? Jika kita merenungkan janji yang kita buat kepada Allah, kita perlu menyadari Allah menjadi Illah kita, dan tentang alasan penciptaan kita yaitu penyembahan dan pelayanan, dengan itu kita akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang tanggung jawab kita. Allah SWT menjelaskan ini dengan ayat berikut: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (al-Baqarah 2:286).

Seseorang yang menyadari tanggung jawabnya tidak akan pernah melupakan ayat tersebut, malah akan bertindak sesuai dengannya. Karena ayat ini memberikan rambu-rambu bagi orang yang ingin mengabdi pada agamanya, ayat ini juga menjelaskan sebuah dekrit penting: Seorang manusia bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dititipkan kepadanya.

Sudah menjadi hal yang jelas, iman adalah berkat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Rasa syukur yang sejati atas anugerah iman hanya dapat ditunjukkan dengan membawa berkat ini kepada jiwa yang membutuhkannya. Aspirasi dan perasaan ini adalah tanggung jawab terbesar seorang mukmin. Tugas mulia yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi pada suatu waktu, kini telah ditempatkan di pundak orang-orang beriman saat ini sebagai berkah dari Allah. Tentu saja, mengambil peran sebagai Sahabat adalah tugas yang sulit tetapi juga merupakan tugas yang paling mulia.

Seorang mukmin yang sadar akan tanggung jawabnya adalah orang yang tulang punggungnya berderak di bawah beban berat sebagai hamba dan menjalani kehidupannya dalam dua rangkap dalam pemahaman makna ibadah. Karenanya, Nabi kita yang mulia bersabda: “Jika kamu tahu apa yang saya ketahui, kamu akan banyak menangis dan lebih sedikit tertawa.” ‘Nabi yang mulia mengerang di bawah beban pengabdian dan tanggung jawab. Bagaimana dengan kita? Seberapa sadar kita akan tanggung jawab kita?

Kita tidak boleh lupa, seperti yang dijelaskan dengan indah oleh Fethullah Gülen Hocaefendi (diucapkan sebagai “Hodjaefendi,” sebuah kehormatan yang berarti “guru yang dihormati”), “Kita dituntut dengan tanggung jawab untuk menganugerahi dunia kita dengan semangat baru yang segar, terjalin dari cinta iman, cinta sesama manusia, dan cinta kebebasan. Kita selanjutnya telah diberi tanggung jawab untuk menjadi diri kita sendiri, terhubung dengan prinsip dari tiga cinta ini, dan untuk mempersiapkan tanah untuk tunas, akar murni dari pohon surgawi yang diberkati, sehingga akan dipelihara dan tumbuh di tanah cinta yang subur ini. Hal ini tentu saja bergantung pada keberadaan pahlawan yang akan bertanggung jawab dan melindungi nasib negara dan sejarah, agama, tradisi, budaya, dan segala hal sakral yang menjadi milik rakyat; Hal ini akan bergantung pada orang-orang hebat yang penuh dengan kecintaan pada sains dan pengetahuan, berkembang dengan pemikiran konstruktif, tulus dan saleh tanpa batas, patriotik dan bertanggung jawab, dan, oleh karena itu, selalu teliti dalam bekerja, bertanggung jawab, dan saat bertugas.

Terima kasih kepada para pahlawan ini dan upaya tulus mereka, sistem pemikiran dan pemahaman yang layaknya pohon berbuah akan selalu tumbuh bersama rakyat kita; rasa mengabdikan diri kepada orang lain dan komunitas akan menjadi terkenal; pemahaman tentang pembagian kerja, pengelolaan waktu, dan membantu serta berhubungan satu sama lain akan dihidupkan kembali; semua hubungan rakyat dengan pemerintah, majikan dengan karyawan, tuan tanah dengan penyewa, artis dengan para pengagumnya, pengacara dengan klien, guru dan murid akan menjadi aspek yang berbeda dari kesatuan secara keseluruhan; semua ini pasti terjadi setidaknya sekali lagi dan semua harapan kita dari masa lampau akan menjadi kenyataan, satu demi satu. Kami sekarang hidup di era di mana impian kami terwujud dan kami percaya bahwa dengan pengaturan waktu yang tepat, setiap tanggung jawab zaman ini akan tercapai pada saat harinya tiba.”

Karenanya, kita harus mengesampingkan kenyamanan dan kesenangan duniawi, menyucikan diri kita dari pikiran setan seperti “bodo amat” dan memenuhi tanggung jawab kita.