neven-krcmarek-175845-unsplash

Bangkit Bersama Tahajud

“Bangkit Bersama Tahajud”

Jamaah Muslim yang Terhormat! Sebagai manusia yang mengingat sisi-sisi kemanusiaannya, Sebagai manusia yang merasakan naluri kalbu, karena meneliti jalan untuk meraih kembali apa-apa yang hilang merupakan keharusan bagi manusia, maka kita akan berusaha meneliti dan menemukan jalan untuk meraih kembali apa yang telah hilang. Itu adalah potensi yang harus berusaha kita keluarkan dan wujudkan.

Kita berusaha mencari jalan untuk menghembuskan kehidupan kepada alam Islam yang sedang mati. Kita harus berusaha menunjukkan hal-hal menyenangkan nan segar lewat generasi muslim yang baru. Ini bergantung pada bagaimana kita hidup dan berkesadaran dengan nafas Islam. Bergantung pada bagaimana kita mampu menjadi Jamaah Qur’ani, bukan dengan memahami dan menjalankan Islam sekehendak hawa nafsu. Tetapi dengan kriteria dan sudut pandang dari Nabi Muhammad SAW-lah kita harus memahami Islam. Kita juga berkewajiban untuk menjelaskannya, kita berhadapan dengan kewajiban seperti itu, dan kita merasakannya sebagai tugas yang amat agung.

Agar mampu menjalankan tugas berat dan agung ini, kita harus menyandarkan diri kepada Sang Rabb sebagaimana prajurit yang bersandar kepada sultannya. Sebagaimana prajurit yang berhasil menawan raja karena mereka bersandar pada sultannya. Dengan bersandar padaNya dan kedekatan pada Rabb, kita bisa membuat segala sesuatu bertekuk lutut. Dengan bersandar padaNya, kita bisa menggeser gunung. Dengannya kita akan meraih kekuatan. Dengan bersandar kepadaNya, kita bisa membuat air mengalir hingga menjadi air terjun. Tanpa bersandar kepadaNya, bahkan kita tak akan mampu melakukan hal sepele sekalipun.

Kita, yaitu takdir alam Islam, betul-betul bergantung kepada ikatan dan tawajuh kepada Quran. Masa lalu dan masa depan Islam, bergantung pada tawajuh kita dengan Al Quran dan Pemiliknya. Di belakang Saf Nabi Muhammad SAW, di bawah bimbingan Al Quran. Selama kita tunaikan kewajiban penghambaan kepadaNya, maka Allah akan meninggikan & memuliakan kita. Jika tidak, pintu yang kita ketuk itu akan dilemparkan ke muka kita, harapan tak akan dikabulkan. Keinginan kita akan dicampakkan ke wajah kita, kehinaan dalam 2-3 abad terakhir ini akan ditambah.

Sebagai umat Islam yang agung, sebagai umat Islam yang mulia, Bangsa Islam yang pernah menjadi pemimpin selama 9 abad, kini tak bisa lepas dari status pengemis. Padahal Allah SWT telah mensyaratkan bahwa kemenangan dan kebahagiaan bergantung pada hubungan kita denganNya. Semoga Allah SWT menganugerahi kita dengan kebangkitan dan kebahagiaan. Kita akan bertawajuh kepada Sang Rabb. Kita akan bertawajuh kepadaNya di waktu malam, dengan doa dan munajat kita bertawajuh kepadaNya. Kita berusaha membuat suara ini didengar Allah SWT dengan memanjatkannya dalam keheningan. Aku betul-betul menekankan pentingnya hal ini. Sebagaimana ditekankan oleh Al Quran, aku pun menekankan pentingnya hal ini.

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا 

Dan di sebagian malam, bersujudlah kepadaNya, dan bertasbihlah kepadaNya di bagian malam yang panjang (QS Insan 76:26).

“Bertasbihlah kepada RabbMu di sebagian malam! Bertasbihlah kamu pada bagian yang panjang di malam hari!”

Masih di awal masa kenabiannya,masih di waktu ‘dhuha’.

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah untuk salat pada waktu malam, kecuali sebagian kecil”

“yaitu separuhnya, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al Quran dengan perlahan-lahan

Diperintahkan: “Bangunlah! Hidupkan malammu!”

Bangun dan bersedekaplah di hadapan Tuhan di sebagian besar waktu malam

Dengan perintah: “Atau separuhnya, atau lebih dari seperdua itu, beribadahlah kepada RabbMU”

Ditetapkanlah waktu berdoa dan bermunajat bagi Rasulullah SAW. Karena kamu sibuk dengan hal lain di waktu siang, malam adalah waktu mengajukan permohonan. Agar bisa memikul beratnya tugas kenabian di siang hari, malam adalah waktu untuk memohon & berdoa

“Wahai mata, apa itu kantuk? Bangun dan berzikirlah!”

Pandangilah bintang gemintang dan tafakurilah ayat-ayatNya. Perhatikanlah alam semesta, tafakurilah hikmah-hikmahNya! Tafakurilah! Maka akan kamu pahami Mahakudratnya Allah SWT…”

Kamu menjadi tamu dunia di siang hari, maka kamu akan jadi tamuNya di waktu malam! Saat mengetuk pintuNya, Dia akan mempersilahkanmu masuk. Sebagaimana seorang pemandu melayani tamunya, Dia akan memperlakukanmu seperti itu juga. Dia tidak akan membiarkanmu tanpa jamuan, tanpa penghormatan, tanpa penghargaan. Akan kamu tinggalkan rasa kantuk demi pertemuan dengan Rabbmu. FirmanNya di al Quran:

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا 

“Dan di sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai tambahan bagimu, Mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS Isra 17: 79)

Bertahajudlah kepada Rabbmu di waktu malam!

Bertawajuhlah kepada Rabbmu di waktu malam!

Ikatkanlah dirimu kepada perintah-perintah Rabbmu di waktu malam. Bertawajuhlah kepada Allah di waktu malam, yang akan menjadi mihrab abadimu nanti. Sehingga dirimu naik ke derajat ‘makam-mahmuda’, yaitu derajat dimana dirimu layak dipuji. Sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat dirimu naik ke derajat terpuji. Dirimu akan naik ke derajat yang dirindukan dan diinginkan alam semesta. Semua itu bergantung kepada permohonan kepada Rabbmu di waktu malam. Keutamaan ini tak bisa diraih dengan kelalaian. Derajat ini tak bisa dicapai dengan kesia-siaan. Ia tak bisa dicapai dengan tidur di ranjang yang hangat. Hanya dengan mencium sajadah dengan keningmu hal itu bisa diraih. Ia hanya bisa diraih dengan menabung modal abadi demi alam abadi dunia kita nanti. Ia hanya bisa diraih dengan bertawajuh kepada Rabbmu di saat tak ada orang lain yang melihat. Semoga Allah menyadarkan & membuat kita mampu menjelaskan cara meraihnya kepada orang lain.

Semoga Allah menganugerahi kita siratal mustaqim. Rasulullah SAW memiliki sensitivitas serius pada tawajuh dan taat pada perintah-perintahNya. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

“Saat kiamat datang Allah akan berfirman dari posisi tertinggi: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan penuh takut & harap.[1]

“Dimanakah hamba-hamba yang mengharapkan rahmat, takut akan azab, dan meninggalkan selimutnya di waktu malam?

Dimanakah hamba-hamba yang meninggalkan kenyamanannya demi beribadah kepada Rabbnya?

Dimanakah mereka yang bangkit untuk salat subuh setelah melewati pendeknya malam?

Dimanakah mereka yang meramaikan masjid?

Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya:

“Mereka berkumpul di hadapan Tuhannya sebagai kelompok kecil, Rabb memberikan perintahNya kepada kelompok kecil ini.

Dia memberi perintahNya kepada kelompok kecil yang menghidupkan waktu malamnya:

فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ

..Maka mereka akan masuk surga, di dalamnya mereka diberi rizki yang tidak terhingga (QS 40:40)

Mereka akan masuk surga tanpa hisab. Mereka yang beribadah kepada Tuhannya di waktu malam. Di hari dimana para siddiqin dan syuhada dihisab, mereka masuk surga tanpa hisab.

Kemudian Baginda Nabi bersabda: “Lainnya dipanggil untuk dihisab”.

Demi tahajud, Baginda Nabi bahkan meninggalkan kenikmatan jasmani paling lezat. Beliau berpaling dari kenikmatan jasmani menuju puncak dari kedudukan kalbu dan jiwa. Di titik itu, beliau menatap Sang Rabb, dan meletakkan dirinya untuk beribadah kepada Tuhannya. Sayyidina Aisyah as Siddiqah menceritakan dalam sahihain: “Aku kehilangan dirinya di waktu malam. Pelita yang menyala di rumah pun tidak ada.” Begini ia menceritakan rumah dan ruangan mulianya “Demikian sempitnya ruangan kamar kami, Ketika hendak kerjakan salat dari tengah malam hingga subuh, aku julurkan kakiku ke tempat sujudnya.” Kita dapat melihat penjelasan ini di Sahih Bukhari dan Muslim.

“Saat sujud, beliau mendorong kakiku dengan punggung tangannya dan bersujud di tempat kakiku tadi.” Demikianlah gambaran ruangan Sang Nabi. “Aku terkejut melihatnya tak ada di sampingku, Sebagaimana fitrah wanita, rasa cemburuku muncul. Apakah beliau pergi ke istrinya yang lain? Rasa cemburu meliputiku. Aku mengecek lagi dengan merabakan tanganku. Tanganku menyentuh kakinya saat beliau bersujud. Tanganku menyentuh kaki mulia Rasulullah SAW. Beliau sedang bersujud. Telingaku mendengar dengan jelas, aku memahami apa yang beliau panjatkan. Bagaimana beliau tersedu sedan, beliau dalam sujudnya berdoa seperti ini:”

Ya Allah, kuberlindung di balik ridaMu dari murkaMu, Kuberlindung pada keselamatanMu dari pedihnya azabMu. Aku berlindung kepadaMu dariMu, aku berlindung kepada sifat Jamal dari sifat JalalMu.

Ya Allah, kuberlindung di balik ridaMu dari murkaMu, Kuberlindung pada keselamatanMu dari pedihnya azabMu. Aku berlindung kepadaMu dariMu, aku berlindung kepada sifat Jamal dari sifat JalalMu.

Aku berlindung kepada rahmatMu dari sifat al QahharMu, Aku berlindung kepada tawajuhMu dari alpanya tawajuhku. “Aku berlindung kepada anugerah MahasuciMu, Aku memohon kepadaMu, Ya Allah” demikian munajatnya.

Beliau bermunajat kepada Rabbnya. Sayyidah Aisyah meriwayatkan:

“Aku berlindung kepadaMu dariMu”

“Aku tak mampu memujiMu, Ya Allah,” keluh beliau

“Aku tak sanggung memuji dan mengagungkanMu dengan layak”

“Aku tak mampu memujiMu sebagaimana diriMu memujiMu, Aku tak mampu menjelaskanmu seperti diriMu menjelaskanMu”

Bahasanya Sayyidah Aisyah: “Seseorang yang tunduk, tawaduk, dan dengan sujudnya ia menyembah Rabbnya”

Semoga Allah SWT mengbangkitkan kalbu kita dari kematiannya. Semoga Allah SWT anugerahi kita dengan penghambaan sempurna. Semoga Allah SWT menganugerahi jalan keselamatan kepada bangsa ini, Serta memberikan hidayah di jalan lurusNya. Semoga Allah SWT menyelamatkan mereka yang fakir dan pendosa dari sifat riya dan kemunafikan. Jika saya naik mimbar tanpa menghidupkan malam, kuanggap diriku telah berlaku munafik. Kuanggap diriku munafik, karena aku berwajah dua. Semoga Allah lewat hidayahNya, meluruskan hidup yang tidak bisa saya luruskan selama 40 tahun umurku.

Semoga Allah menyelamatkanku dari ketenggelaman dalam kesalahan saat berusaha menyelamatkan diri. Semoga Allah menyelamatkan mereka yang keadaannya mirip denganku. Saya rasa banyak orang yang saya kenal memiliki kegelisahan yang sama. Lewat bait Yunus Emre, yang keindahannya membuat bunga berbicara.

Aku bertanya kepada satu bunga mengapa kamu menunduk. Bunga berkata: Wahai Darwis, aku menunduk di hadapan al Haq

Dan refrein pun dimulai: Aku adalah budakMu yang tak berdaya, Banyak sekali dosanya. Sebesar gunung besarnya satu dosa. Duhai Allah ampuni hamba. Demikian bunyi refreinnya.

Betapa banyak orang yang saat kulihat, Ia seperti budakNya yang tak berdaya, banyak berdosa, dimana satu dosa setara gunung besarnya. Betapa banyak orang, kulihat mereka seperti halnya diriku yang tak mencium sajadah di tengah malam. Keningnya tidak mencium sajadah.

Betapa banyak orang, bertahun-tahun sajadahnya kering dari air matanya. Betapa banyak orang, di gelap rumahnya tak muncul gelombang semangat, tak terdengar rintihan kalbu.

Betapa banyak orang hidup dengan kalbu yang mati, berkeliling dengan kalbu yang mati, Bangun dan tidur sebagai orang dengan kalbu yang mati. Semoga Allah memberikan irsyad dan hidayah kepada orang-orang yang mirip denganku, Juga kepada mereka yang seperti halnya kita, terjatuh dalam sebagian sifat nifak.

Saat sosok seperti Sayyidina Umar & Sayyidatina Aisyah khawatir ada ciri nifak dalam dirinya, Pun saat aku mengkhawatirkan ciri nifak pada diriku, hendaknya tidak membuat kalian putus asa. Hal itu terkait padaku, mungkin hal itu adalah kesalahan. Tetapi demikianlah aku memandang diriku, aku tak ingin memandang diriku dari perspektif lainnya.

Demi generasiku, ketika aku menjelaskan keadaan mereka, Sebagai seseorang dari mereka yang tampil di hadapan Baginda Nabi, penjelasanku meraih suatu bentuk yang berbeda. Walau aku merasakan hal berbeda saat mengimami salat, aku tak pernah lupa akan sifat nifakku.

Atas nama generasiku, Jika aku mengulurkan keningku untuk dicium Baginda Nabi, Aku melakukannya atas nama generasiku, serta atas nama mereka yang melayani Al Quran dan iman. Tetapi tak pernah saya lupa, bahwa saya bahkan bukan sesuatu dibandingkan Qitmirnya Ashabul Kahfi. Di akhir zaman, Allah SWT akan menghembuskan nafas kehidupan kepada umat manusia. Andai aku dijadikan keledainya al Masih, aku akan menganggapnya sebagai kemuliaan dan berharap bisa masuk surga karenanya. Demikianlah saya melakukan perhitungan pada diri saya. Demikianlah saya menutup buku amal saya. Saya juga ingin agar nanti dapat mati seperti itu. Itulah dua sisi kehidupanku.

Ketika mempersembahkan keadaan generasiku di hadapan Rabbku, Ketika menghadap Baginda Nabi dengan leher menunduk dan punggung membungkuk, Aku berusaha menjelaskan keadaan dan derita yang dirasakannya. Kepada generasi yang menderita, Kepada penerjemah generasi yang rasakan derita! Seandainya Allah menjadikannya merasakan derita yang sejati, seandainya sebagaimana dulu, Allah membuatku menangis dalam setiap segmen kehidupan. Seandainya Allah membuatku mampu melihat ciri nifakku lebih serius lagi sebagaimana dulu kala. Seandainya Allah menganugerahiku akhir yang baik dari kehidupan yang fana ini, Aku akan menganggapnya sebagai kebahagiaan terbesar.

Aku menyandarkan harapanku pada derajat yang akan diraih jamaah ini di hadapan Allah. Generasi yang dengan semangatnya dapat meraih siratal mustakim & kecintaan untuk pahami Quran. Jika mereka masuk surga, mereka akan melihatku di belakangnya. Barangkali mereka tak akan memasuki surga tanpa mengajakku juga. Demikianlah saya menyandarkan harapanku.

Aku menyandarkan harapanku kepada mereka yang tak berdosa. Semoga Allah menghidupkanku dengan harapan ini, serta mencabut nyawaku dengan harapan ini. Semoga Allah SWT terus hidupkan rasa ini pada diriku, rasa tak berdaya, papa, & remeh di hadapanNya. Semoga Allah anugerahi kita dengan pemahaman dan kesadaran ini!

[1] QS As-Sajdah ayat 16

Desain tanpa judul

Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Sya’ban, Ramadhan)

“Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Syaban, Ramadhan)”

Tanya: Untuk bisa mendengarkan gairah tiga bulan suci di dalam jiwa kita, serta agar kita dapat memanfaatkan secara maksimal amosfer maknawi dan rohani tiga bulan suci tersebut, apa saja nasihat dari Anda?

Jawab: Sebelum sampai pada jawaban pertanyaan, perlu saya sampaikan kembali bahwasanya pada tiga bulan suci ini manusia memiliki kesempatan terbaik untuk bisa lebih dekat kepada Allah SWT, meraih rahmatNya yang luas, melepaskan diri dari cengkeraman dosa dan melakukan perjalanan ruh dan kalbu di dalamnya. Dalam usaha tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa, untuk mentarbiyah ruh dan membersihkan kalbunya, manusia memang pada dasarnya membutuhkan sebuah periode rehabilitasi samawi setiap tahunnya. Tiga bulan yang penuh berkah ini merupakan periode waktu paling penting dalam usaha rehabilitasi  tersebut.

Tidak ada keraguan bahwasanya manusia memerlukan tafakkur dan tazakkur yang amat serius agar dalam periode waktu yang penuh berkah ini mereka dapat meninggalkan beban jasmani dan nafsu syahwatnya sehingga mereka pun bisa berhasil naik ke ufuk yang lebih tinggi. Namun ketika melakukannya, mereka harus senantiasa membuka kalbu dan ruhnya ke sisi maknawi. Maksudnya, ia di satu sisi dengan akal dan pikirannya harus berusaha memahami topik-topik seputar iman dan Al Quran lewat aktivitas muzakarah; di sisi lainnya, ia juga harus berusaha meraih tetes demi tetes hujan maknawi yang sedang turun dengan derasnya dalam periode waktu yang penuh keberkahan tersebut.

Tawajjuh Ilahi Harus Dibalas dengan Tawajjuh Lagi

            Betapa banyak tokoh agama yang menggambarkan keutamaan periode waktu ini dengan berbagai penjelasannya yang indah. Betapa banyak ungkapan yang mereka gunakan untuk menarik hati kaum yang beriman agar bersemangat meraih banyak keutamaan dalam tiap siang dan malam yang mengiringinya. Agar mampu mendengar serta memahami keberadaan dan keutamaan dari tiga bulan yang penuh berkah ini, adalah sangat penting bagi kita meluangkan waktu  untuk menganalisis karya-karya para ulama besar yang mengulas keutamaan bulan-bulan ini, lalu mencerna setiap kata yang digunakan di dalamnya dengan metode muzakarah. Ya, agar kita mampu mengambil manfaat secara maksimal dari karya-karya tersebut, kita harus menjauhi cara membaca biasa yang hanya menampakkan permukaannya saja; kita harus mengetahui cara membuka kedalaman setiap topik yang dibahas di dalamnya. Jika jiwa dan pikiran kita tidak dipersiapkan,  tidak mungkin kita dapat meraih manfaat maksimal dari setiap pembahasan yang kita baca dan dengarkan seputar kemuliaan tiga bulan ini.

            Selain itu, untuk dapat merasakan kelezatan dan keindahan khusus yang dimiliki periode waktu ini secara sempurna di dalam hati kita, di awal kita harus  mengetahui dan menyadari bahwa tiga bulan mulia ini adalah “bulan-bulan ghanimah”, lalu diikuti dengan tekad untuk tidak menyia-yiakan setiap detik yang berlalu dalam siang dan malamnya. Misalnya, bagi mereka yang tidak bertekad untuk menemui Tuhannya di waktu sepertiga malam terakhir serta bagi mereka yang tidak meneguk kesadaran untuk memuliakan waktu malamnya; tidak mungkin mereka dapat merasakan dan menikmati keindahan mendalam yang mengiringi tiga bulan mulia ini. Ya, jika mereka memasuki bulan-bulan mulia ini dengan tegangan metafisik yang tinggi; tidak menyerahkan dirinya dalam suatu penghambaan yang serius; dan tidak menyeburkan diri ke dalamnya; walaupun keutamaan yang dibawa oleh bulan mulia ini ditumpahkan seperti gelas penuh berisi air yang dibalik, mereka tidak akan mampu mendengar dan merasakannya. Bahkan mereka bisa menganggap orang-orang yang sibuk mengumpulkan dan meraih keutamaan bulan mulia ini sebagai fantasi belaka.

            Ya, kemampuan mendengar ilham yang mengalir dengan derasnya di hari-hari yang penuh berkah tersebut sangat berkaita dengan sejauh mana kita meyakini dan bertawajjuh kepadanya. Karena tawajjuh harus dibalas dengan tawajjuh lagi. Jika Anda tidak bertawajjuh atau mengalihkan pandangan kita kepada ruh dan makna dari bulan-bulan yang istimewa ini, mereka pun tidak akan membukakan pintunya kepada Anda. Bahkan ungkapan dan penjelasan terbaik seputar keutamaan tiga bulan mulia ini pun bisa jadi hanya bernilai seperti seonggok jasad tak bernyawa nan redup tak bercahaya di mata Anda. Penjelasan Ibnu Rajal al Hanbali yang menyentuh dawai hati ataupun penggambaran Imam Ghazali yang mengguncang kalbu pun akan memberi efek kebalikan di hati Anda. Mungkin Anda akan mengatakan:”Ngomong apa sih mereka?!” lalu pergi dan mengabaikannya. Karena kekuatan pengaruh dalam setiap kata, selain bergantung pada nilai yang dibawa oleh pilihan katanya, juga dipengaruhi oleh perspektif, niat, sera keterbukaan pikiran dan perasaan pendengarnya terhadap masalah yang dibahas.

            Dengan demikian, umat manusia harus menyadari pentingnya tiga bulan tersebut, sampai-sampai mereka pun berubah menjadi bulan rajab, syaban, dan ramadhan itu sendiri. Demikian sempurnanya mereka melebur di dalamnya, sehingga mereka pun mampu mendengar apa yang dibisikkan bulan suci ini kepada jiwa manusia. Jika tidak maka Anda tetap menjadi Anda yang tidak berkembang, tidak mampu melepaskan diri dari superfisial; kata penjelasan dan pembahasan terbaik seputar keutamaan bulan mulia nan agung ini pun hanya akan masuk ke telinga kanan, dan keluar lewat telinga kiri Anda. Mereka yang tidak menghormati bulan ini; mereka yang tidak memiliki semangat dan tekad untuk memperbaharui diri mereka di musim ghanimah ini; mereka yang tidak mampu menangkap keseriusan dalam setiap sikap dan perilakunya; mereka yang demikian akan sulit mendapat manfaat dan kemuliaan dari bulan-bulan yang mulia ini.

Program-Program yang Cocok diadakan di Waktu Mulia ini

            Terkait topik ini, terdapat sisi dimana ia diterima oleh pandangan masyarakat secara umum. Adalah sebuah fakta bahwasanya kedalaman dan keluasan makna dari bulan-bulan mulia ini hanya bisa didengar serta dirasakan oleh ufuk ruh dan kalbu yang secara istimewa dimiliki pribadi-pribadi tertentu. Namun, juga merupakan sebuah kenyataan bahwasanya masyarakat secara umum juga menyambut serta mengagungkan berkah dan nilai dari bulan-bulan mulia ini, dimana mereka berbondong-bondong ke masjid dan mengarahkan diri mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyambut kedatangannya.  Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut, penyelenggaraan berbagai program dan aktivitas di bulan-bulan mulia ini dapat dijadikan sebagai sarana penting dalam usaha menyampaikan pesan Ilahi  ke dalam hati manusia. Program dan kegiatan yang sesuai dengan nafas agama dapat diselenggarakan untuk mengisi malam-malam mulia seperti Ragaib, Isra Mikraj, Nisfu Syaban, Nuzulul Quran, dan Lailatul Qadar. Lewat jalan tersebut, kita bisa memaksimalkan malam-malam tersebut sebagai sarana untuk memperdengarkan hakikat agama ke setiap kalbu dan mendekatkan umat manusia kepada Penciptanya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana hakikat ini bisa disampaikan kepada hati manusia lewat beragam program yang diselenggarakan di masjid, ia pun bisa disampaikan dengan berkumpul dan menyelenggarakan berbagai majelis sohbet dan muzakarah di tempat-tempat lainnya. Dengan jalan demikian, tawajjuh serta harapan orang-orang beriman untuk bisa meraih keberkahan dan keutamaan di bulan-bulan mulia ini bisa difasilitasi dengan tepat.

            Sebelumnya, jika diperkenankan, saya ingin menarik perhatian Anda terkait satu hal yang saya pandang penting terkait dengan penyelenggaraan program di waktu-waktu mulia tersebut. Visi dari setiap program yang kita fasilitasi haruslah bertujuan untuk membuat pikiran dan perasaan manusia selangkah lebih dekat kepada Penciptanya. Jika program-program yang mana kita disibukkan dengannya tersebut tidak menjadikan kita sebagai pemandu bagi tercapainya tujuan tersebut, artinya kita sedang sibuk dengan hal-hal hampa dan tak berarti. Ya, jika program-program yang kita selenggarakan tidak menyampaikan hakikat dari Sang Pencipta, jika ia tidak membuat orang-orang selangkah lebih dekat dengan Junjungannya shallallahu alayhi wasallam; bahkan jika ia hanya dirancang untuk memuaskan nafsu manusia belaka supaya dikatakan: “betapa indahnya waktu yang kita habiskan disini,” bisa jadi kita telah menyia-nyiakan waktu, bisa jadi kita berdosa karenanya. Semua jalan yang tidak mengantarkan pejalannya menuju Allah subhanahu wa ta’ala da dan  Junjungan kita shallallahu alayhi wasallam adalah ‘penipuan.’ Dan memang tugas dan pekerjaan dari mereka yang kalbunya beriman bukanlah untuk menghibur orang-orang dengan festival belaka.

Sebagai tambahan, perlu untuk disadari bahwa orang-orang di zaman modern ini mempunyai gaya hidup yang condong pada program yang bersifat hiburan. Untuk alasan ini, respon positif mereka bisa jadi menipu. Dengan melihat respon positif mereka, bisa jadi Anda berpikir telah melakukan pekerjaan yang baik. Padahal kriteria utama kita bukan sekadar pada bagaimana membuat mereka senang, melainkan apakah yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan kriteria Al Quran dan sunnah atau belum. Berkenaan dengan hal ini, meskipun acara-acara tersebut nantinya tidak didatangi banyak orang, Anda harus selalu mengejar kebenaran. Dengan kata lain, hal yang paling penting tidak terletak pada pujian dan tepuk tangan orang-orang. Melainkan apakah program tersebut berisi hal-hal yang berarti bagi perkembangan kehidupan spiritual kita atau tidak.

Pada waktu yang penuh berkah ini, ketika langit dipenuhi anugerah dan di bumi terhampar hidangan-hidangan langit, kita haruslah terus menunjukkan kepada orang-orang jalan untuk memperdalam dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual mereka; kita harus mengejar tujuan ini di setiap hal dan program yang kita selenggarakan. Kita harus mampu menyampaikan arti dan semangat baru pada orang-orang setiap saat. Dengannya kita membantu mereka mengibarkan layar perahunya untuk mengarungi cakrawala maknawi tanpa batas.

Untuk mewujudkannya, barangkali nasyid, syair, kasidah, dan puji-pujian kepada Allah dan RasulNya bisa disenandungkan. Komposisi dan melodi baru pun bisa diciptakan. Apapun itu, yang terpenting kita harus selalu memicu kerinduan akan kehidupan abadi yang bahagia pada semua peserta yang hadir ke program-program kita. Tak cukup dengan itu, kita juga harus menghembuskan rasa khawatir akan kehilangan kebahagiaan abadi tersebut. Pada kesimpulannya, kita harus senantiasa memberi pengingatan dan peringatan pada ruh spiritual setiap insan yang menjadi lawan bicara kita.

Akhirnya, masjid-masjid, jamaah-jamaah, hari-hari jumat, malam-malam di bulan rajab, syaban, dan ramadhan, malam ragaib, isra mikraj, nisfu syaban, nuzulul quran, dan lailatul qadar harus menjadi sarana bagi kita untuk mengarahkan umat manusia bertawajjuh kepada Allah  subhanahu wa ta’ala. Semua kegiatan yang disusun di waktu-waktu yang suci ini, harus diarahkan untuk mewujudkan tujuan mulia dan agung tersebut.

(Diterjemahkan dari ‘Ruhumuzu Dinleme Zamani:

Uc Aylar’ dari buku Kirik Testi 13: Mefkure Yolculugu)

Untitled design

Sudah Benarkah Salatmu?

“Sudah Benarkah Salatmu?”

Jamaah Muslim yang terhormat! Penunaian salat dengan penuh kesadaran akan membantu menata kehidupan kita jadi lebih teratur. Ia akan membawa keseimbangan dan keteraturan bagi hati kita yang berantakan. Ia akan membangkitkan rasa maknawi kita yang tadinya luluh lantak. Ia akan menerangi bagian hidup kita yang suram. Berkat salat, kita akan meraih penglihatan, pemikiran, dan pembicaraan yang benar. Semuanya berkat salat yang ditunaikan dengan penuh kesadaran. Semuanya berkat kedatangan kita ke hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan hidup kita.

Kemudahan mengatur diri akan tercapai berkat terjaganya kekuatan hubungan dengan Rabb kita. Berkat anugerah Allah, kita meraih keseimbangan dan keteraturan jiwa serta kebenaran dalam berpikir. Kita akan meraih harmoni baik dalam kehidupan materi maupun maknawi. Salat mengandung dan mengikat makna-makna tadi. Semoga Allah merahmati mereka yang menunaikan salat tetapi jauh dari makna-makna ini, berkenan memberi mereka ampunan-Nya. Kepada mereka yang kalbunya mati semoga diberi kehidupan, cahaya, dan nyawa.

Sayyidah Aisyah ra: “Ketika salat, kami mendengar seperti ada suara beban berputar dari dada Nabi. Ketika salat, kami mendengar dari dada nabi seperti ada suara air mendidih.”

Saat menghadap Tuhannya beliau bagai tungku yang mengepul, lalu kepulan keagungan muncul darinya.

Sayyidah Aisyah: Suatu malam Rasulullah berkata ‘Wahai Aisyah! Jika engkau mengizinkan, aku ingin beribadah kepada Rabbku.”

Pernyataan tersebut adalah ungkapan kesopanan dan kehalusan yang telah mencapai level puncak.

“Wahai Aisyah! Jika engkau mengizinkan, aku ingin beribadah kepada Rabbku.”

Di tengah malam, Nabinya para Nabi ingin menjauhi peraduannya. Beliau meminta izin dari istrinya: “Jika engkau izinkan, kuingin meletakkan wajahku di tanah untuk menghamba kepada Rabbku.”

“Ya Rasulullah! Dibanding hal lainnya, aku lebih ingin jika engkau ada di sampingku. Tetapi, aku juga menyukai jika engkau beribadah kepada Rabbmu. Lakukanlah apa yang engkau sukai!”

Beliau bangun di malam yang gelap. Beliau bersedekap di hadapan Rabbnya. Aku tidak bisa mengetahui berapa lama beliau berdiri dan ruku. Yang kuketahui adalah ketika beliau berdiri, beliau membuat dadanya basah oleh air matanya. Sajadahnya yang basah ketika beliau bersujud. Pakaiannya yang basah ketika beliau duduk bersimpuh. Beliau beribadah dengan keadaan demikian hingga masuk waktu subuh. Setiap hari beliau beribadah, tetapi di hari itu beliau beribadah tanpa jeda. Begitu fokusnya beliau dalam beribadah, seakan tidak melihat dan tidak mendengar sekelilingnya. Apa yang harusnya dilihat dan didengar pun menjadi fana, tenggelam di dalam mahabah ilahi.

Saat Sayyidina Bilal berseru “as Salah!” di depan pintu, Nabi masih tenggelam dalam mahabahNya.

“Ya Rasulallah, apa yang terjadi? Mengapa Anda tenggelam dalam tangis dan keprihatinan yang amat dalam?”

“Sebuah ayat telah turun”

الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ

“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau terbaring. Mereka mentafakuri penciptaan langit dan bumi.”[1]

Makna ini yang dijelaskan di awal (QS 3:190)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”

Tetapi pada ayat kedua, Rasulullah mengerjakan persis seperti apa yang diharapkan darinya. Merekalah orang-orang yang bertafakur, dan sadar terhadap tujuan hidupnya. Merekalah sosok yang berlari ke ufuk ideal yang dirajut Tuhan pada dirinya. Merekalah sosok yang terengah-engah untuk meraih rida dari Rabbnya.

“Mereka mengingat Allah sambil berdiri”

Rasulullah mengingat Rabbnya ketika berdiri, beliau menumpahkan air matanya. “Mereka duduk…,” beliau pun duduk mengingat Tuhannya dan menumpahkan air matanya. Mereka mengingat Tuhannya dalam keadaan berbaring ataupun  dalam keadaan sujud. Beliau letakkan kepalanya di tanah.

“Keadaan terdekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud.” Beliau pun menjalankan sesuai dengannya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Abu Hurairah ra. meriwayatkan dari Rasulullah SAW bersabda: “Keadaan terdekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud. Maka perbanyaklah doa di dalamnya.”[2]

Mungkin menit demi menit terlalui. Wajah mulia Rasulullah tersungkur di atas tanah. “Allah! Allah! Aku tidak menyekutukanMu dengan suatu apapun. Ya Allah, aku telah menzalimi diriku sendiri! Ampunilah aku!” Maha Suci Engkau, betapa agung perbuatanMu. Mahasuci, Maha Quddus, Rabbnya para malaikat dan ruh Menzikirkan kalimat:

Maha Suci Rabbku Yang Mahatinggi,

Penguasa Yang Mahaagung, Pemilik Kerajaan,

Penguasa Kesombongan dan alam jabarut

Dengan mengingat Rabb

dengan segala keagunganNya

akan menghasilkan  kekhidmatan dan kedahsyatan di dalam diri

Beliau menangis ketika berdiri, duduk, rukuk, demikian juga saat sujud. “Malam ini ayat itu turun. Betapa ruginya mereka yang membaca tetapi tidak mentafakuri ayat tersebut. Betapa ruginya mereka yang membaca tetapi tidak meraih getaran jiwa di dalam dirinya.” Rasul dengan takut dan hormat datang ke hadapan Rabbnya. Beliau berusaha memenuhi adab hamba di depan Tuhannya. Beliau tak lupa posisi dirinya sebagai hamba walau hanya sesaat. Beliau beribadah seperti seharusnya seorang hamba lakukan pada Rabbnya.

Memang seorang manusia saat memenuhi kewajibannya di hadapan Tuhan, tak mungkin ia memikirkan hal lain. Jika ia memikirkan hal lain, berarti dia tidak berada di hadapan Tuhan. Penjelasannya seperti ini:

Manusia jika tidak sedang di hadapan Tuhan bersama kalbunya, ia pasti sedang berada di alam lainnya. Jika ia datang ke hadapan Tuhan bersama kalbunya, artinya ia berpaling dari hal lain, karena ia sedang terbakar cinta Ilahi. Jika hatinya tak terbakar, berarti hatinya tidak hadir di hadapan Tuhannya. Kalbu di lembah yang satu, sedangkan jasad di lembah lainnya. Apa yang Allah ciptakan utuh, dibaginya jadi dua. Tanpa sadar, ia melakukan syirik khafi. Tanpa kesadaran, ia datang ke hadapan Tuhannya.

Sahabat bercerita kepada kita. Sahabat menceritakan Abbad bin Bisyri kepada kita. Mereka menceritakan bahwa ia tidak pernah terlihat menguap ketika menunaikan salat. Itulah salat yang dimaksud. Mereka tak pernah melihatnya menguap karena ia betul-betul sedang di hadapan Allah. Ketika Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Daud menceritakan peristiwa ini. Mereka tak memberi nama, tetapi penulis maghazi memberi tahu siapa nama sahabat itu. Ammar ra adalah Muhajir utama dari yang terutama.

Abbad bin Bisyr pun demikian dari kalangan Ansar. Abbad adalah salah satu murid dari Mus’ab. Di Aqabah, Mus’ab berkata:”Ya Rasulallah! Engkau telah memberiku tugas. Aku pergi ke Madinah. Aku jelaskan agama ini sesuai arahanmu. Aku ke Aqabah bersama mereka yang mengimanimu. Mereka mau ulurkan tangan untuk baiat.”

Abbad bin Bisyr juga hadir dalam kumpulan orang ini. Ia adalah salah satu syahid Yamamah. Dengan pedang dan perisainya, Ia adalah salah satu orang yang menjadi korban si nabi palsu. Ia adalah salah satu yang berteriak “Ansar!” di perbukitan. Lalu, Abbad bin Bisyr pun jadi korban dari angin topan mengerikan itu. Bani Mustalik sedang kembali dari perjalanannya. Rasul SAW menugaskan dua sahabat terpercaya sebagai petugas piket. Petugas piket di tempat tugasnya membagi peran di waktu malam, “Ketika satunya istirahat, satu lagi berjaga.”

Abbad berkata: Saya berkata kepada sahabatku Ammar bin Yasir “Kamu istirahat saja dulu, biar saya yang berjaga. Nanti gantian.” Ketika ia beristirahat, setelah mengecek sekeliling dan merasa aman dari musuh, saya menunaikan salat. Aku membaca surat al Kahfi. Aku tenggelam di dalamnya. Ternyata disitu ada pasukan kafir yang mengetahui pos jaga kita. Ia mendekat hingga masuk jangkauan anak panah. Ketika aku tenggelam dalam syahdunya bacaan Surat al Kahfi, tiba-tiba anak panah menusuk tubuhku. Pikirku, apakah kutangani panah, kubangunkan Ammar, atau kulanjutkan bacaanku? Kucabut panah dan kulanjutkan bacaanku. Aku membaca surat al Kahfi. Aku tenggelam dalam kesyahduan salat yang panjang. Aku rukuk, ketika i’tidal satu anak panah lagi menusuk tubuhku. Kucabut ia agar tidak merusak salatku. Sekali lagi aku tenggelam dalam rukuk. Ketika akan sujud, entah darahku yang membangunkannya ataukah gerakanku. Ketika Ammar membuka mata, ia melihat posisiku yang akan jatuh.

“Demi Allah, mengapa engkau tidak membangunkanku?”

“Wallahi, demikian dalamnya aku tenggelam dalam kesyahduan Al Quran, aku tidak ingin merusaknya. Aku tidak ingin merusak ketenteraman di hadapan Allah SWT.” Ammar membuat serangan balasan hingga pasukan kaum kafir itu pun kabur.

Seorang mukmin ketika mendirikan salat ia melupakan keadaan sekelilingnya. Aku tidak mengenal diriku seperti itu. Apakah dia itu aku atau aku itu dia? Apakah dia adalah kamu, ataukah kamu adalah dia? Itulah ambiguitas dan kesamaran dari hakikat ini. Penunaian salat seperti inilah yang akan menemukan makna sejatinya. Menghapuskan diri. Disitu hanya menyendiri bersama Tuhan, mengeluarkan dunia dan segala sesuatunya dari dalam kalbu. Berusaha keras untuk bisa menunaikan salat seperti ini walau hanya sekali.

Dalam ungkapan yang dikaitkan kepada Baginda Nabi dikatakan “Salatlah kamu seakan ini salat terakhirmu!”[3] Jaga-jaga, mungkin nanti tak bisa lagi, coba kusempurnakan salatku sebagai hadiah untuk Tuhanku. Andai ungkapan itu betul dari Rasulullah, maka itu adalah nasihat yang amat besar dan menyeluruh. Salatlah kamu seakan ini salat terakhirmu! Tunaikanlah salat jumat ini seakan ia salat perpisahan. Anda tidak memiliki garansi bisa hidup berapa lama lagi. Bisa jadi ini adalah salat terakhirmu. Salatlah dengan motivasi seperti ini di setiap salatmu.

Tunggulah waktu salat keduamu dengan atmosfir motivasi seperti ini, bersiaplah. Salat memberi rasa takut, ketenteraman, dan penghormatan yang demikian. Semoga Allah memberi keberhasilan pada kita untuk menunaikan salat seperti ini insya Allah. Semoga kita selalu ada di jalanNya ini, dan anugerahi kita untuk bisa menuaikan salat demi meraih kemenangan.

[1]. QS Al Imran: 191

[2]. HR.MUSLIM

[3]. Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (1/462) Al Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401)

oase air wudu

OASE AIR WUDU

Para pembaca yang terhormat, ringkasan dan ikhtisar segala penghambaan yang kita lakukan kepada Allah adalah shalat. Kunci untuk membuka pintu ibadah shalat adalah persiapan ruhani serta persiapan jasmani, yaitu dengan berwudu. Mengambil wudu merupakan penyegaran jiwa, mempertemukan ruh dengan kekuatannya, dan mengembangkan sisi kemalaikatan.

Berwudu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi. Ketika air dingin menyentuh badan, bagaimana sengatannya menyegarkan tubuh kita. Ketika air dingin menyentuh persendian, kekuatannya membangkitkan kita. Sebagaimana tersebut memiliki penjelasan secara ilmiah, demikian juga dengan wudu, ia membuat ruh menjadi muda, segar, dan bangkit. Sehingga si hamba berhasil meraih level dimana ia siap menerima berbagai anugerah Ilahi.

Penyucian dengan level dan kualitas semacam ini akan menjadi sarana bagi umat Muhammad SAW dipanggil dengan panggilan khusus di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda: “Di hari kiamat umatku akan dipanggil dengan sebutan ‘Ghurran Muhajjaliin’ “, umat Muhammad akan diseru sebagai Ghurran Muhajjaliin. Apa itu ‘Ghurran Muhajjaliin’? Mereka adalah orang-orang  yang dahinya cemerlang menyebarkan cahaya ke sekelilingnya, hakikat cahaya yang muncul dari anggota wudu ini adalah bukti bahwa mereka adalah umat Muhammad SAW.

 

  • Ringkasan dan ikhtisar segala penghambaan yang kita lakukan kepada Allah adalah shalat
  • Berwudhu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi
  • Ghurran Muhajjaliin adalah orang-orang yang dahinya cemerlang menyebarkan cahaya ke sekelilingnya dari anggota wudu

 

Anggota wudunya bercahaya. Di satu sisi  sangat bersih, bening, dan cemerlang. Di sisi lain, ia menyebarkan cahaya cemerlang yang menandakannya sebagai umat Muhammad SAW. “Anggota wudunya jadi cemerlang karena bekas wudu, barangsiapa hendak menambah cahayanya, hendaklah ia menyempurnakan wudunya” (Muttafaqun Alaih).

Topik ini diriwayatkan secara lebih luas dan mendalam oleh sahabat lainnya. Suatu ketika Rasulullah mengajak sahabat untuk pergi ke Baqiul Gharqad, sejarawan mengungkapkan bahwa terdapat 10.000 sahabat dimakamkan disana. Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya, beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud. Terdapat makna ladunni dalam peristiwa ini. Barangkali karena keagungan dan ketinggian derajat baginda Nabi di akhirat nanti, beliau tak bisa menemui mereka hingga kiamat tiba.  Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia. Dengan jasmaninya, beliau temui mereka. Sekali lagi disampaikannya salam kepada ruh-ruh agung itu saat memasuki Baqiul Gharqad, “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur ini! InsyaAllah dalam waktu dekat saya juga akan bergabung!”. Dan sejak saat itu, mengucapkan kalimat yang sama menjadi hal yang disunahkan kepada umatnya.

Saat itu tampaknya terjadi musyahadah, pandangan Rasulullah SAW lebih dalam, penglihatannya meluas, kemudian melalui bibir mulianya beliau berkata, “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku”. Para sahabat pun bertanya, “Bukankah kami ini saudaramu ya Rasulullah?”, “Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku yang setia dan terkasih, saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku”, jawab Nabi. Kemudian para sahabat bertanya dengan heran, “Bagaimana anda bisa mengenali mereka yang masih belum datang?”, baginda Nabi bersabda, “Bayangkan, jika seorang laki-laki memiliki kuda-kuda yang wajahnya putih cemerlang, kakinya jenjang dan berwarna putih bersih, jika kuda itu ada di tengah kumpulan kuda hitam nan pekat, bukankah ia akan mengenali kudanya?”, “Tentu” jawab sahabat.

 

  • Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya, beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud
  • Barangkali karena keagungan dan ketinggian derajat baginda Nabi di akhirat nanti, beliau tak bisa menemui mereka hingga kiamat tiba. Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia.
  • “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku,” “saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku”

 

Rasululllah bersabda, “Umatku akan datang sebagai ‘Ghurran Muhajjalin'”, aku akan melihat mereka saat berjalan ke hadapan Allah. Aku mengenali mereka dari cahaya di dahinya. Aku akan menyaksikan anggota wudu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya. Aku akan mengenali umatku sebagaimana laki-laki itu mengenali kudanya. Aku adalah farat haudh dari mereka. Akulah yang paling dahulu menuju haudh! Makna dari Farat adalah “Biar kusiapkan tempat untuk mereka, demikian juga dengan kautsar dan cawannya sebagaimana tuan rumah menjamu tamu. Aku ingin menjamu mereka dengan sebaik-baiknya ketika mereka datang nanti.” Kurang lebih seperti itulah yang ingin disampaikan Rasulullah.

“Akulah farat dari umatku di Haudhku”. Akulah farat dari mereka yang memiliki bekas sujud di keningnya. Akulah farat dari mereka yang berwudu di hari penuh kesulitan dimana semua orang hanya memikirkan keselamatan dirinya. Akulah farat bagi mereka, umatku  yang kukenali dari pancaran cahaya anggota wudunya ketika banyak orang terusir dari haudhku. “Ada wajah yang menandakan cahaya, ada nurani yang meroket ke langit karena anggota wudunya, kepada merekalah aku memberi syafaat! Aku adalah Farat mereka di tepi telagaku.” Apapun yang dijelaskan oleh berbagai riwayat ini, pesan utama yang harus kita ambil adalah walaupun terpisah berabad-abad yang lalu dengan baginda Nabi, tetapi dikarenakan oleh wudu dan shalatnya, karena senantiasa mengingat Allah dan Rasul-Nya, dihasilkanlah kecemerlangan di dalam diri.

Kepada orang-orang yang berhasil meraih kemurnian jiwa tersebut, maka ketika Nabi menemui penghuni Baqiul Gharqad, beliau menembus batas waktu dan mengirimkan salam kerinduan, “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku”. Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca. Beliau juga melakukan pengecekan terakhirnya di Baqiul Gharqad, seakan beliau sedang mengecek kondisi semua umat terdahulu yang kini mendiami alam kubur. Beliau juga mengecek ruh umat yang akan datang kemudian dengan jasmaninya. Sekali lagi beliau mengeluarkan seruannya seperti panggilan terakhir dari komandan tertinggi kepada umatnya, “Bersiap siagalah!”

 

  • Aku akan menyaksikan anggota wudu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya
  • “Akulah farat dari umatku di Haudhku”
  • Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca

 

Beliau mengunjungi Baqiul Ghargad untuk terakhir kalinya, memberikan salam sebagaimana memberi salam kepada ahli kubur ketika beliau menyaksikan wajah umatnya yang akan datang nanti penuh dengan cahaya. Dengan makna kagum pada cahayanya, yang bersumber dari cahaya kenabiannya, beliau pun bersabda: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku.” Para pembaca yang budiman! Ini adalah isytiak dari baginda Nabi, sedang isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudu agar ia bersinar di akhirat, serta menghiasi kening dengan tanda sujud dengan harapan menjadi umatnya, dengan harapan dibangkitkan  sebagai umatnya. Dengan kerinduan untuk dapat melihatnya.

Apakah anda merindukan kami ya Rasulullah? Kami juga rindu untuk bertemu denganmu. Kami berjuang lewat ketaatan beribadah demi meraih kedekatan denganmu. Sebagaimana engkau jelaskan di hadits, kami pun mengambil wudu dengan sempurna. Walaupun panas dan berkeringat kami tetap mendirikan salat di masjid. Kami berpuasa demi dapat berkumpul bersamamu nanti. Waktu siang semakin panjang dan suhu udara semakin panas, sebagian orang puasanya batal. Tetapi kami mencoba bersabar untuk tetap setia kepada warisanmu. Jika kita sanggup untuk melakukannya, betapa beruntungnya kita!

Duhai mulianya hati sosok agung yang keterikatan pada umatnya digambarkan lewat ucapan salam 14 abad yang lalu. Dengan meraih sensitivitas dalam ubudiyah dan ketaatan beribadah, ketika kita mengerjakan semua itu dengan keseriusan mendalam maka kita telah menjawab salam Nabi tersebut. Saat baginda Nabi bersabda “Assalamu’alaikum,”  kita menjawab: “Wa’alaikum salam” lewat ketaatan beribadah kita. Jika ada cinta, kerinduan, dan isytiak untuk bertemu dengannya, kamu akan berada di jalan Sang Nabi. Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat baginda Nabi. Betapa banyak orang akan dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah.

 

  • Isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudu agar ia bersinar di akhirat
  • Saat baginda Nabi bersabda “Assalamu’alaikum,” kita menjawab: “Wa’alaikum salam” lewat ketaatan beribadah kita
  • Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat baginda Nabi.

 

Mereka melihat mizan, tetapi tak bisa melihat Sang Nabi. Mereka mungkin melihat Allah ketika dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah untuk meminta syafaat. Di antara mereka yang buta dan terhalang dari nikmat tersebut, masjid menjadi sarana agar  tidak menjadi bagian dari yang buta dan terhalang. Puasa dan menahan lapar menjadi sarana agar nanti tidak buta dan terhalang. Bayarlah zakat dari sebagian hartamu supaya tidak termasuk dalam golongan merugi tersebut. Pergilah berhaji, bersabarlah terhadap kesulitannya, supaya kamu tidak menjadi yang buta dan terhalang. Dengan bertawaf di Ka’bah dan menziarahi makam baginda Nabi, perbaharuilah kesetiaanmu. Semoga Allah SWT membuka mata umat Muhammad yang tertutup debu selama 14 abad serta membuka mata mereka ke alam lahut yang penuh senyum. Semoga Allah melindungi kita dari dunia yang penuh kelalaian. Ya Allah, jadikanlah pandangan kami sebagai pandangan abadi dan agung. Celupkanlah diri kami ke dalam celupan alam lahut[1]. Jadikanlah kami sebagai sosok yang layak mendiami alam sebenarnya di akhirat nanti.

 

[1] Alam Lahut adalah salah satu istilah pembagian alam dalam ilmu sufi, ia adalah alam ghaibul ghaib yang maksudnya ialah alam yang lebih bersifat ghaib di dalam ghaib.