zac-durant-FGrlQJs-dos-unsplash

Rasa Cinta dan Derita pada Dakwah

Tanya: Bagaimana metode mendapatkan hati manusia yang dilakukan Rasulullah dan para Ashabul Kiram, sebagai sosok yang senantiasa hidup dengan kecintaan dan nyeri tabligh? Apakah perjuangan mencari dada yang bisa memahami diskusi selama 30-40 menit dalam sebuah perjalanan kereta api pun dihitung sebagai cerminan dari cinta dan rasa sakit itu? Apa peran dari pendekatan individu (dakwah fardiyah) dalam usaha ini?

Jawab: Ya, diriwayatkan bahwa Rasul & Ashabul Kiram senantiasa hidup dalam semangat tablig & menanggung deritanya. Pertama-tama, sangat penting untuk meyakini urgensi berdakwah dan yakin akan adanya ganjaran yang dijanjikan kepada para pelaku dakwah. Ya, mereka meyakininya. Seberapa percaya? Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah hari ini akan datang hari esok. Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah matahari tenggelam malam akan tiba.

Matahari bisa saja tidak terbit, malam bisa saja tidak datang. Seberapa besar kemungkinannya matahari tidak terbit dan malam tidak datang? Mungkin hanya 1/1triliun. Kemungkinan itu muncul seperti saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menahan matahari sebagai salah satu mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga malam pun tidak datang. Atau kiamat pecah, sehingga malam tidak datang karena yang datang adalah hal lain.

Namun, mereka sangat percaya pada tujuan mereka sehingga mereka mempercayainya dengan pasti seperti percaya pada hasil hitungan matematika. Mungkin terdapat keraguan pada hasil hitung dua kali dua sama dengan empat. Akan tetapi, kami tidak ragu pada akhir perjalanan kami. Kami tidak sedikit pun ragu pada yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Mereka meyakini hakikat itu. Ini adalah perkara yang sangat penting.

Mungkinkah kepercayaan ini muncul secara tiba-tiba? Allah ketika mengutus Rasulullah di waktu yang sama Dia juga mengirim orang-orang yang akan menyambutnya. Anda tidak bisa menjelaskan perkara ini dari sudut pandang lainnya. Rasulullah dibekali mungkin dengan satu ayat atau satu surat. Rasulullah mengambil pesan ini dengan semangat untuk menyampaikan apa saja yang dijanjikan oleh pesan ini kepada orang lain. Beliau menyampaikannya kepada Sayyidah Khadijah.

Semoga Ummul Mukminin Khadijah mengampuni kita dan berkenan memasukkan kita dalam naungan pengayomannya. Semoga beliau berkenan mengusap rambut kepala kita di akhirat nanti. Dan mengakui kita sebagai anak-anaknya, insya Allah.

Tanpa keraguan, ia meletakkan telapak tangan di dadanya dan berkata: “Sampaikan kepadaku…! Sekali-kali Allah tidak akan merendahkanmu! Sesungguhnya engkau menyambung hubungan keluarga, menafkahi kerabat, dan membantu orang-orang tidak mampu. Memberikan jamuan kepada tamu serta menolong orang-orang yang tertimpa musibah. Allah tidak akan mengizinkan setan mengganggumu, mereka tidak akan membuatmu tenggelam dalam khayalan. Tidak bisa diingkari lagi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilih engkau untuk memberi petunjuk kepada kaummu. Jalan yang engkau tempuh selalu merupakan jalan menuju kekamilan.. Ufukmu senantiasa merupakan ufuk yang agung…” Ini merupakan respon dan pemikiran yang luar biasa. Dialah orang yang pertama kali menghibur Rasulullah.

Orang yang kedua adalah Sayyidina Abu Bakar. Dia adalah orang yang pertama kali ditemui Rasulullah ketika keluar rumah pasca beliau menerima wahyu. Ia adalah sosok yang dikenal dan sering membersamainya sejak masa kecilnya. Jarak umurnya 2-3 tahun lebih muda. Beliau menanyai Sayyidina Abu Bakar: “Kepada siapakah akan kusampaikan pesan ini?” Sayyidina Abu Bakar menjawab tanpa ragu: “Kepadaku Ya Rasulullah!”

Ketika melihat peristiwa itu dari perspektif ini, ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengirimkan sosok yang akan membawa pesan yang akan mengubah warna dunia, ketika Allah mengirimkan seorang insan kamil untuk membawa pesan agung ini, sejak awal Dia menyiapkan sosok-sosok dengan karakter khusus yang akan menyambut pesan dari utusan-Nya. Demikianlah Allah memprogram dan menakdirkannya. Beberapa dari mereka hanya membutuhkan satu ayat untuk melejit, misalnya Abu Bakar, Ali, dan Usman radhiyallahu anhum. Tiga-empat tahun kemudian Sayyidina Umar menyusul. Demikian juga para Asyarah Mubasyarah, mereka semua merupakan sahabat muhajirin. Anda juga dapat mengkaji mereka dengan kriteria yang serupa.

Faktor kedua, seperti yang dibahas Badiuzzaman, yaitu faktor insibag (celupan). Kepada siapa pun Rasulullah menggoreskan kuas pesan, perasaan, dan pemikirannya, seakan mereka yang digores mengalami proses melangit. Mereka yang menyaksikan sikap, perilaku, dan tatapan matanya akan berseru: “Tidak ada kebohongan padanya”. Apabila mereka yang menyaksikannya tidak memiliki praduga, mereka akan takjub & jatuh hati kepadanya. Dan berseru: “Beliau sosok terpercaya yang layak untuk diyakini”. Demikianlah besaran kekuatan magnetnya. Mereka yang tadinya hidup di dalam jelaga hitam pun seketika rontok noda-nodanya. Seakan disucikan oleh telaga kautsar di surga sehingga mereka layak bersanding bersama malaikat. Teruntuk mereka yang meyakini adanya kehidupan setelah mati dengan segala kriterianya dan mereka yang meyakini Rasulullah serta pesan-pesan yang dibawanya, sungguh terdapat ganjaran atas apa yang mereka yakini sebagai kabar gembira yang telah dijanjikan.

Sebaliknya, terdapat ancaman bagi mereka yang mengingkarinya. Di satu sisi, mereka yang meyakininya akan berangkat menuju kebahagiaan abadi. Mereka menjadi calon orang beruntung yang akan menyaksikan jamaliyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berangkat menuju ufuk untuk meraih rida Allah. Sedangkan mereka yang tidak meyakininya akan mendapat hal yang sebaliknya. Jika kelompok yang satu melangit, menyerupai malaikat, berangkat menuju derajat malakut. Maka kelompok yang ini akan terpuruk dan tergelincir ke derajat asfala safilin. Kini jika kita melihat perbedaan dari dua keadaan ini secara bersamaan, maka kelompok yang berhati bersih ini akan dengan penuh semangat menyebarkan pesan-pesan ini kepada manusia. Aku tidak bisa menggunakan analogi yang sama untuk Rasulullah. Namun, Al Qur’an menjelaskan kondisinya dalam dua ayat Fa la’allaka bākhi’un nafsak (QS al Kahfi 18:6) yang artinya Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu”

Beliau sangat ingin agar umatnya memilih jalan yang pertama supaya umatnya melejit ke derajat ‘alaya iliyin, supaya umatnya dimuliakan dengan surga. Dengan demikian mereka akan dimahkotai kesempatan menyaksikan jamaliyahnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Beliau berharap umatnya untuk meyakininya sehingga mereka pun menjadi layak dimahkotai dengan Ridwan. Beliau berseru “Orang ini juga harus yakin/beriman… Orang itu juga harus yakin/beriman…” . Bukan seperti apa yang dikatakan sebagian teolog islam masa kini: “Allah juga punya neraka. Buat apa kamu terlalu semangat berdakwah dan mengundang orang-orang?” Ungkapan ini merupakan wujud ketidaksadaran diri dan ketidakpahaman akan makna neraka.

Nadanlar eder sohbeti nadan ile telezzüz

Divanelerin hemdemi divane gerektir.

Hanya orang tak berilmu yang menikmati perbincangan dengan orang dungu.

Dan kawan orang gila adalah juga orang yang tak berminda.

Ziya Pasa

Di sisi lain, orang-orang yang tidak beruntung berarti kehilangan kebahagian abadinya. Sebagaimana dibahas dalam tafsir. “… Lābiṡīna fīhā aḥqābā.”Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya (QS An Naba 78:23)

Serta ayat: Innallażīna kafarụ bi`āyātinā saufa nuṣlīhim nārā, kullamā naḍijat julụduhum baddalnāhum julụdan gairahā liyażụqul-‘ażāb, innallāha kāna ‘azīzan ḥakīmā,  Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab (QS. An-Nisa 56). Ya, Setiap kali kulitnya hangus, Allah akan ganti kulitnya dengan kulit yang lain sehingga mereka bisa merasakan azab.

Ketika melihat gambaran dari ancaman ini, hati kita bergidik “Ampun Ya Allah..!” Ternyata kita harus merangkul dan menyelamatkan orang-orang. Kini menghadapi masalah yang demikian jika Anda masih memiliki hati nurani, Apakah Anda tidak akan membunuh diri Anda sendiri seperti yang dirasakan oleh Rasulullah? Inilah yang dirasakan dan dipikirkan para sahabat. Di satu sisi mereka memandang surga dengan mata kepalanya. Mereka tidak akan menyia-nyiakannya. Di sisi lain mereka menyaksikan neraka seperti digambarkan oleh Al Qur’an. “Ampun beribu ampun! Jangan sampai Allah menjebloskan kita ke tempat ini!” Jangan sampai satu orang pun jatuh ke dalamnya. Oleh karena itu, kita harus mengulurkan tangan.

Kemudian ia tidak menikmati waktu untuk pribadinya. Ia menggunakannya untuk kebutuhan orang lain. Mereka rela mati asal orang lain bisa bangkit hidup. Mereka hidup untuk orang lain. Hidup yang tak digunakan untuk hidup orang lain tak layak disebut hidup. Hidup yang demikian adalah hidup yang rugi. Dan mereka tak tinggal diam di derajat yang rendah itu. Mereka selalu hidup di derajat alaya iliyyin, menuju kekamilan hidup.

Pertama-tama, permasalahannya perlu ditinjau dari sudut pandang ini. Demikianlah Rasulullah dan ashabul kiram hidup dalam semangat dan pilunya dakwah dan cara memenangkan hati manusia.

Selain itu, yang ketiga adalah mulayamah (lemah lembut). Ia merupakan faktor penting lainnya. Ia dibahas dalam Al-Qur’an dalam bentuk anjuran kepada Nabi Musa supaya berlaku dengan Qawl Layyin. Jika Anda menunjukkan kebaikan, kelembutan, dan toleransi dalam wajah dan pemikiran Anda, jika Anda memiliki rasa hormat terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal, pihak lain tidak akan tidak menghormati Anda, mereka juga akan menghormati Anda. Ini akan menjadi kisah penuh hormat yang disampaikan kepada pihak yang penuh rasa hormat juga. Ia disebut Qawl Layyin, yaitu tutur kata yang lembut.

Misalnya Anda pergi menemui Amenophis II atau Firaun. Lalu Anda berseru: “Wahai orang merugi yang merasa dirinya adalah tuhan! Saya mengundangmu kepada hidayah. Jika menolak, dirimu akan dijebloskan ke dalam neraka.”

Namun, perintah Al-Qur’an berkata: “Fa qụlā lahụ qaulal layyinal la’allahụ yatażakkaru au yakhsyā ~ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha 44)”.

Dengan adanya perintah ini, maka kita perlu sesuaikan apa yang akan kita sampaikan. Mungkin disampaikan: “Wahai hamba Allah…”

Saya rasa pemilihan kata yang tepat juga merupakan faktor yang sangat penting. Apabila Anda merangkul semua orang, termasuk kepada mereka yang menghina Anda, maka alam semesta pun akan merangkul Anda. Lewat pendekatan Rumi dan Yunus Emre kita rangkul semua orang. Kita harus mampu berkata:”Nilai yang saya yakini telah mentarbiyah sikap saya.” Bukankah ini cukup meyakinkan?

“Saya pun juga seorang manusia, saya pun bisa marah. Namun nilai yang saya yakini telah membentuk karakter saya sedemikian rupa. Meskipun Anda menghina saya sedemikian rupa, saya tetap ingin merangkul Anda.”

Pada akhirnya, mereka juga manusia; Sebagai apresiasi mereka pun akan memberi respon positif. Apalagi dengan beragamnya perbedaan yang ada dewasa ini. Misalnya perbedaan agama, mazhab, dan suku. Di satu sisi kita perlu menutup mata pada perbedaan tersebut untuk kemudian mengundangnya minum teh. Kita pun perlu datang juga memenuhi undangannya, atau mengunjunginya sambil membawa bingkisan. Kita juga bisa memanfaatkan hari-hari besar agama.

Contoh lainnya bisa Anda tambah sendiri. Misalnya kita membuat program untu memperingati waktu wahyu pertama turun atau lazim disebut Nuzulul Qur’an. Itulah hari di mana pintu langit dibuka kepada kita. Kita harus memaksimalkan dan manfaatkan hari ketika wahyu pertama turun di singgasana Hira tersebut melalui peringatan yang penuh makna.

Contoh berikutnya, kita buat peringatan hari di mana Rasulullah diboikot misalnya.

Berikutnya yaitu peringatan Maulid Nabi. Tentu program maulid kita sudah rutin melakukannya; atau peringatan Isra Mikraj.

Contoh berikutnya, membuat peringatan wafatnya Sayyidah Khadijah. Dalam program tersebut kita bsia membaca manaqibnya. Kita sampaikan kisah hidup Ummul Mukminin yang agung.

Contoh berikutnya, membuat peringatan tahun baru hijrah yang dimulai perhitungannya pada masa Sayyidina Umar. Ketika membahas tahun baru hijriah otomatis kita akan membahas kemuliaan hijrah. Hijrah merupakan awal keberadaan dan awal pembentukan negeri madani. Di dalamnya terdapat peristiwa dipersaudarakannya muhajirin dan ansar, serta hal agung lainnya.

Kita bisa memanfaatkan beragam peristiwa serupa. Misalnya iduladha, idulfitri, nisfu syaban, dsb. Di masyarakat kita terdapat penghormatan terhadap hari-hari besar itu. Itu juga merupakan kesempatan bagi Anda untuk menyampaikan rasa hormat kepada hari-hari besar tersebut. Di hari tersebut bisa kita bawakan bubur sumsum, bubur candil, bubur baro-baro, dsb. Kita masakkan juga rendang, dan nasi liwet. Melalui sarana ini kita coba menunjukkan bahwasanya kita dekat. Kunjungan ini kita jadikan sebagai jembatan penghubung. Dengan jembatan yang dibangun itu mereka pun bisa datang mengunjungi kita. Di hari berikutnya Anda akan menyaksikan mereka membawakan teh dan kopi untuk Anda. Saya pikir hal-hal ini sangatlah penting untuk mengenalkan dunia Anda, Wallahu alam.

mengembangkan_diri-heart-shape

Tauhid 9 – Cinta Allah dan Ujian

Tujuan penciptaan alam semesta adalah beriman kepada Allah.

Seorang hamba, jika ia bisa istiqamah dalam tujuan ini, maka ia akan damai di dunia dan lebih bahagia di akhirat. Orang yang malas berjalan ke arah tujuan penciptaan, yang berjalan dengan berat dan yang tidak menunjukkan upaya apapun ke arah itu, maka ia akan menjadi malang, tidak bahagia, gelisah di dunia ini, dan menjadi sasaran murka Allah di akhirat.

Menghormati Allah, tergantung pada mengenal-Nya dengan sangat baik. Merasa terhubung dengan-Nya dengan sangat baik pun bergantung pada mengenal-Nya juga. Tidak terguncang, terkejut atau tersentak dari hal-hal yang datang dari-Nya, itu juga tergantung pada mengenal Allah dengan sangat baik.

Siapapun yang telah meninggalkan keislaman, di satu sisi dia juga meninggalkan al-Quran, merekalah yang tidak mengenal Allah dengan baik. Mereka tidak mengenal Al-Quran, oleh sebab itu ketika merasa sulit mereka pergi meninggalkan Al-Quran. Ketika Allah menguji mereka, mereka pun gagal dalam ujian tersebut.

Namun, jika seseorang yang benar-benar mengenal Allah, bahkan jika dia tidak menemukan satu tumbuhan dan langit tidak memberikan setetes air pun, jika ia memiliki iman kepada Allah, ia selalu akan melihat tanda-tanda Nya pada segala hal, dan mengikatkan diri kepada-Nya dengan jiwa dan hatinya maka dia tidak akan menyimpang dari-Nya.

Orang yang memiliki pemahaman dan berwawasan, hanya berpaling sekali dalam hidupnya. Itu pun dia akan kembali ke fitrahnya, dia kembali ke arah tujuan penciptaannya, yaitu kepada Allah dan Al-Quran, orang itu tidak akan pernah memikirkan untuk meninggalkan-Nya. Apapun bala musibah menimpa dirinya, walaupun alam semesta melawan dan menimpa dirinya, setelah dia kembali kepada Allah, dia tidak akan lagi meninggalkan-Nya dan berpaling kepada sesuatu yang lain.

Di balik pengabaian kita terhadap apa yang telah kita miliki sekarang adalah karena ada ketidakmampuan dalam iman (lemah iman). Dalam menghadapi peristiwa-peritiwa yang kecil lengan kita kendur, karena iman kita tidak produktif. Itu karena ada ketidakmampuan untuk percaya kepada Allah seutuhnya. Karena ada ketidakmampuan untuk mengenal-Nya sesuai dengan kebesaran-Nya. Jika kita memiliki semua itu dalam arti yang sebenarnya, kita akan terikat dengan iman yang sempurna kepada Allah yang Maha Sempurna, dan kita akan melakukan apapun yang diperlukan untuk menjaga ikatan ini dengan-Nya. Semoga Allah yang Maha Esa menganugerahkan iman yang sempurna kepada semua orang. Izinkan saya uraikan kepada anda semua beberapa contoh untuk menjelaskan masalah ini.

Seorang muslim sejati, Ketika merasa semua cahaya padam dalam dirinya bahkan ketika kemampuan alami otaknya berhenti, dia segera kembali kepada Allah yang Maha Kuasa.

“Ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Ada sesuatu yang membuatku kewalahan dan mencekik, saya kewalahan. Oleh karena itu, “saya meninggalkan agama!” ini adalah perkataan orang kafir.

Saya telah kewalahan, jantungku telah berhenti berdetak, semua kemampuan alami di kepala saya telah berhenti, oleh karena itu saya kembali kepada Pemilik mutlak yaitu hanyalah Allah!” Ini adalah perkataan orang yang beriman.

Seorang muslim akan kembali bersama Allah bahkan Ketika semuanya berakhir, semuanya terkuras habis dan habis.

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl: 128).

Mereka yang berlindung kepada-Nya, mereka yang mengharapkan bantuan dari-Nya, jangan lupa bahwa Allah menyertai mereka. Mereka akan terguncang, akan merasakan musibah, akan ditempa ujian demi ujian entah berapa kali dan jika mereka bertahan dan tidak menyimpang, maka mereka akan melihat rahmat Allah yang luar biasa, dan mereka akan mendengarnya dengan jiwa mereka, mengalaminya dengan perasaan mereka, dan mereka akan mampu menjalani kehidupan seperti surga bahkan ketika masih di dunia ini.

Izinkan penulis mempersembahkan sesuatu, percayalah dengan keyakinan mutlak. Rasulullah Saw telah mengungkapkan hal itu, bisa kita ketahui siapa yang paling besar ujiannya melalui hadits berikut; Allah mengirimkan ujian terbesar kepada hamba-hamba Nya yang terkasih, dengan kata lain, kepada nabi-nabi Nya. Kemudian kepada para ulama atau wali-wali Nya. Setiap orang mendapat ujian ini sesuai dengan derajat keimanan mereka masing-masing.

Yang imannya paling kuat, maka momoknya paling berat dan paling keras. Yang imannya lemah maka ujian-ujiannya lebih sedikit.

Banyak ujian yang menimpa Rasulullah. Rumah beliau telah berubah menjadi rumah di mana masalah datang dan berlalu. Setiap hari, satu masalah menggantikan yang lain. Setiap hari masalah baru bertengger di satu sisi rumah. Setiap hari, Rasulullah menghadapi kesulitan. Ia menanggung penderitaan, menderita di sini untuk membawa kebahagiaan sejati dan damai untuk orang-orang yang menderita. Ia bukan satu-satunya yang mengalami musibah tersebut, bahkan anggota keluarganya, istri-istrinya juga mendapatkan bagiannya.

Siti Aisyah adalah mahkota dunia wanita. Saya akan menggosok wajah saya dengan tanah yang dia injak dan seandainya kuambil tanah itu, dan kucium aroma terbaik itu, saya berharap dari belas kasihan Rabbku. Allah tidak akan membuat hidungku yang telah mencium bau tanah terinjak oleh siti Aisyah mencium aroma neraka. Jika aku tidak mencintainya lebih dari ibuku, jika aku tidak memberinya tahta/tempat yang mulia di hatiku, maka saya akan memiliki kesimpulan bahwa saya tidak menghormatinya. Hanya saya yang tahu betapa senangnya saya saat mengucapkan “ibuku”. Jika saya adalah orang Muslim yang paling rendah derajatnya, maka kedudukan siti Aisyah di hati semua Muslim sangatlah agung, dan sangat tinggi. Tapi tolong perhatikan bahwa karena dia adalah anggota rumah tangga Rasulullah, dia juga tidak bisa terhindar dari ujian itu.

Hidup mereka penuh dengan ujian. Begitu dia selesai dengan satu ujian, maka ujian yang lain akan menangkapnya. Beliau waktu itu masih muda, masih masa berbunga, dan beliau telah mengabdikan dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan semua indranya. Beliau mengabdikan diri sedemikian rupa sehingga ketika beliau dan istri Rasulullah lainnya telah diberi kesempatan untuk memilih salah satu dari dua pilihan,

Rasulullah memanggil dan berkata kepadanya: “Aku akan menyampaikan sesutu kepadamu. Tapi jangan memutuskan itu tanpa berkonsultasi dengan ayah dan ibumu!”

“Apa itu wahai Rasulullah?”

“Intinya adalah bahwa Allah memerintahkan saya untuk meninggalkan kalian jika kalian mau, tetapi jika kalian tidak mau, kalian boleh tinggal dengan saya. Apakah kamu lebih memilih Allah dan Rasulullah atau dunia?” kata Rasulullah kepada istri-istrinya.

“Apakah ini yang saya tanyakan kepada ayah saya?” tanya Siti Aisyah.

“Demi Allah, aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya” katanya.

“Tiga bulan dapur di rumah kami tidak menyala, kami tidak menemukan seteguk air untuk diminum.” Siti Aisyah lebih memilih Rasulullah terlepas dari semua hal itu.

Tapi ujian musibah datang bersamanya, karena dia adalah orang yang hebat, dan dia memiliki tempat yang ditinggikan setelah Rasulullah.

Ketika Al-Quran bebicara kepada Rasulullah, itu memerintahkan bahwa Nabi lebih disukai daripada dirimu sendiri dan istrinya lebih berharga daripada ibumu sendiri. Siti Aisyah, wanita yang lebih berharga dari semua ibu Muslim. Dia ikut pergi bersama Rasulullah untuk Perang Bani Mustaliq, dia kehilangan kalungnya dalam perjalanan itu. Saat dia mencarinya, tentara sudah bergerak ke tujuan lain. Jadi dia memutuskan untuk menuju tempat peristirahatan semula. Ketika siti Aisyah kembali bersama tantara bagian belakang pemeriksa yang bernama Safwan, orang-orang munafik mengamuk, menghina dan memfitnahnya. Mereka juga tahu bahwa siti Aisyah lebih bersih dan lebih cerah dari matahari langit.

Mereka juga tahu kepantasannya menjadi istri Rasulullah, tetapi mereka tetap mengolok dan menghinanya. “Lemparlah lumpur, meskipun sedikit pasti ada yang menempel!”

Sampai Allah membebaskan siti Aisyah dari tuduhan, situasi ini menyebabkan tekanan batin di hati Rasulullah, dan gelombang penderitaan di hati siti Aisyah dan di rumah Abu Bakar.

Hari-hari telah berlalu, dan siti Aisyah tidak menyadari apapun.

Saat berjalan dengan ibu dari salah satu kerabatnya, salah satu dari mereka yang telah mencaci dirinya. Siti Aisyah mendengar klaim itu darinya dan darah di pembuluh darahnya membeku. Dia datang ke rumah Rasulullah dan dia merasa tidak dapat pujian seperti sebelumnya. Ketika Rasulullah masuk ke biliknya, dia meminta izin kepada Rasulullah, untuk mengunjungi rumah orang tuanya.

Penafsir hebat hukum Islam yang akan menerangi umat manusia di bidang Hadits dan hukum Islam ini melebur seperti lilin. Rasulullah SAW telah berkonsultasi dengan banyak orang. Sayyidina Ali mengusulkan kepadanya untuk berkonsultasi dengan seorang wanita yang bisa mengatakan sesuatu yang paling benar.

“Ya Rasulullah, bicaralah dengan wanita itu. Dia akan mengatakan kebenarannya, membebaskan siti Aisyah” katanya. Dan Zaynab binti Jahsh membebaskan siti Aisyah dari tuduhan tersebut.

Sayyidina Umar menunjukkan kepintarannya, dengan mengatakan kebenaran yang paling indah: “Waktu itu kita sedang salat, Ya Rasulullah! Saat melaksanakan salat, Anda melepas sepatu Anda sebelum melakukan ruku’, dan para sahabat di barisan belakang juga melepas sepatu mereka. Kami bertanya setelah salat. Anda mengatakan: “Jibril telah memerintahkan dan karena itu saya melepaskannya”. Anda telah mengetahuinya dari Jibril dan memberi tahu kami. Ada sedikit kotoran di sepatumu dan Jibril telah memberitahumu agar itu tidak membatalkan salat, hingga Anda melepaskannya. Bukankah Allah telah memberi tahu Anda tentang kotoran kecil yang mengotori sepatu anda. Apa mungkin Allah Swt tidak memberitahu Anda tentang pencemaran nama baik yang dilemparkan pada keluarga Anda? Kata yang sangat menusuk, analisis yang sangat bagus walaupun sanadnya lemah. Perkataan ini membuat Rasulullah, menjadi sedikit lebih tenang.

Rasulullah berkata kepada para sahabatnya di masjid: “Apakah tidak ada orang yang bisa menghapus fitnah ini dari keluargaku?”.

Para sahabat sudah siap. Sahabat agung Saad bin Muadz mengaum seperti singa: “Perintahkan, akan kupenggal siapapun yang menfitnahmu”.

Namun semua itu tidak cukup untuk meringankan luka ini sampai wahyu Allah datang. Nabi yang terluka, Nabi yang berduka pergi ke rumah yang penuh duka itu. Abu Bakar membaca Al-Quran tanpa henti dan bertawajuh kepada Allah. Ummi Ruman, ibu dari siti Aisyah merasa seolah-olah ada api di dalam dirinya. Istri Rasulullah difitnah -hasya wa kalla-

Siti Aisyah berada di Kasur seolah-olah dia sedang menunggu kematiannya. Rasulullah menghormati rumah suci itu dan membawa kebahagian padanya. Ketika siti Aisyah menyampaikan peristiwa tersebut kepada kami.

Rasulullah datang dan berkata kepada saya: “Ya Aisyah, saya tahu bahwa anda baik dan suci, tetapi jika seseorang membuat kesalahan dan kemudian kembali kepada Allah, Allah akan mengampuninya.”

Ketika saya mendengar kata ini dari Rasulullah, saya mengerti bahwa ada sesuatu yang melawan saya. Kedengarannya seperti ada keraguan. Wallahi, aku berkata aku hanyalah seorang perempuan belia: Saya tidak tahu banyak tentang Al-Quran. Saya tidak tahu harus berkata apa.

Saya menoleh ke ibu saya dan berkata: “Jawablah kepada Rasulullah!”

Dia berkata: “Saya tidak tahu harus berkata apa kepada Rasulullah”.

Saya menoleh ke ayah saya dan meminta hal yang sama. Dia juga tidak menjawab. Saya sudah sangat binggung. Sehingga saya ingin melafalkan surat Yusuf, saya lupa nama Nabi Yakub juga dan kemudian saya teringat nama anaknya Yusuf, lalu saya berkata: “Wallahi, cerita kita sama seperti cerita Yusuf dan ayahnya. Ketika dia melepaskan diri dari asbab, dia berkata: “Jadi jalan yang tepat bagi saya adalah, menjadi kesabaran yang bertahan tanpa keluhan. Allah lah yang dimintai pertolongan seperti yang telah kamu gambarkan.” (Q.S Yusuf – 18).

Saya pun mebacakan ayat ini atas nama dunia Islam:

فَصَبْرٌ جَم۪يلٌۜ وَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُونَ

Tapi di mana semuanya berakhir, ada yang mengawasi segalanya. Ada Allah yang Maha Mendengar dan Melihat. “Darahku membeku, air mataku telah mengering, aku kembali ke kamar, punggungku menghadap kiblat, dan berbaring di pembaringan lalu aku bertawajuh kepada Allah.

Saat berada di posisi itu, tiba-tiba terjadi badai petir, sepertinya Jibril berlari untuk membantuku. Akhirnya, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Saw. Tubuh beliau bergetar. Begitulah keadaan beliau ketika menerima wahyu.

Setelah selesai (menerima wahyu), ayat-ayat berikut dicurahkan dari bibirnya yang diberkati: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.” (Q.S. Nur – 11).

Duhai kekasihku, Ya Rasulallah! Mereka memfitnah keluargamu. Mereka mengatakan kebohongan tentang keluargamu. Mereka lempar lumpur kepada keluargamu yang suci. Janganlah kamu kira bahwa semua itu buruk bagimu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Dengan ujian berat ini kalangan munafik, orang tidak berkarakter dan berkepribadian lemah sudah ketahuan. Dengan ujian ini Allah mengangkat derajat keluarga Sayyidina Abu Bakar.

Nabi Muhammad Saw dengan ujian ini akan diangkat oleh Allah ke tempat dan kedudukan yang dipuji (Maqam Mahmudah) Siti Aisyah dengan suka cita kembali ke rumah Nabi di mana merupakan tempat kebahagian. Abu Bakar juga senang, dan Ummi Ruman juga senang.

Siti Aisyah, -yang menjalani kehidupan seperti surga di dunia dan di akhirat- juga bahagia, Rasulullah juga sangat bahagia. Bahkan ketika semuanya sudah berakhir, orang yang beriman selalu bertawajuh kepada Allah, dan mereka tidak tersinggung, patah hati karena Allah tidak memberikan apa yang mereka minta.

Sebaliknya, mereka kembali kepada Allah sesuai dengan hadits; “Aku bersama mereka yang hatinya hancur”.

Menurut hadits qudsi, saat mereka merasa patah hati, mereka akan bertawajuh kepada Allah. Allah menyertai mereka.

Allah akan memegang tangan mereka dengan keselamatan. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang ihsan (berbuat kebaikan) ” (Q.S. an Nahl – 128)

Walaupun mereka tidak dapat melihat-Nya, tetapi mereka hidup seolah-olah mereka melihat-Nya.

faye-cornish-Uq3gTiPlqRo-unsplash

Mengapa Kita harus memiliki budi pekerti yang luhur?

“Mengapa Kita harus memiliki budi pekerti yang luhur?”

Tidaklah ayah dan ibu meninggalkan warisan yang lebih baik daripada budi pekerti yang luhur (HR Tirmizi)

Tidak ada agama ataupun sistem kehidupan yang memberikan perhatian terhadap budi pekerti sebesar Islam . Baginda Nabi bersabda: “Islam artinya Budi Pekerti yang luhur”. Memiliki budi pekerti yang luhur adalah cara terbaik mengejewantahkan identitas kita sebagai seorang muslim.
Ada banyak sabda Nabi yang memotivasi kita untuk memiliki budi pekerti luhur. Misalnya:
1. Di antara kaum mukminin yang paling mantap imannya adalah yang paling baik akhlaknya.
2. Di antara kalian yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di hari kiamat adalah kalian yang budi pekertinya paling luhur.

Berikut adalah alasan mengapa kita harus berbudi pekerti luhur:
1. Karena agama kita selain memberi perhatian besar kepada ibadah ia juga memberi perhatian besar kepada hubungan antar manusia. Mereka yang tidak memiliki budi pekerti yang luhur tidak mungkin dapat dikatakan telah menjalankan agama dengan sempurna.
2. Karena Nabi kita juga menjadi representasi dari budi pekerti yang luhur. Untuk bisa menjadi seorang calon penghuni surga, diharuskan memiliki budi pekerti yang luhur.
3. Karena seorang mukmin yang dapat meraih kedalaman dalam ibadahnya dengan budi pekerti yang luhur. Nabi bersabda:”Seseorang berkat budi pekertinya yang luhur dapat meraih derajatnya mereka yang melakukan ibadah malam serta kemuliaannya mereka yang menahan haus di siang yang terik.” Hadis ini hendaknya dipahami dengan tepat, yaitu dengan budi pekerti yang luhur maka segala ibadah yang dilakukan oleh seseorang dapat meraih maknanya yang sempurna
4. Karena budi pekerti yang luhur adalah tanda cinta kita kepada Allah dan kekasihnya, yaitu rasulullah.
5. Karena di belahan bumi dimana kita tidak memahami bahasa dan kultur setempat, satu-satunya bahasa yang dapat kita andalkan untuk bisa bertahan dan diterima di masyarakat tersebut adalah budi pekerti yang luhur.

Nabi Muhammad sebagai prasasti kesopanan

• Sabda nabi: yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya. Hadis ini memberi pesan kepada kita bahwasanya berbudi baik kepada kawan kita adalah sebuah pekerjaan mulia
• Di waktu lainnya, Nabi kita memberi kabar gembira kepada para sahabat bahwasanya di surga terdapat istana dimana mereka yang di dalamnya dapat melihat mereka yang di luar istana, sedangkan mereka yang di luar istana dapat melihat apa isi di dalam istana. Seorang badui yang mendengar kabar ini bertanya: buat siapakah istana tersebut ya Rasulullah? Rasul menjawab: istana tersebut diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kesopanan serta mereka yang senantiasa berbicara dengan kata-kata yang manis
• Salah satu sahabat terdekat nabi, Anas bin Malik berkata:”Saya mengabdi kepada Rasulullah selama 10 tahun. Selama itu beliau tidak pernah mengeluhkan saya. Beliau tidak pernah mengkritik apa yang saya lakukan ataupun apa yang tidak saya lakukan. Karena beliau adalah sebagik-baik pemilik budi pekerti yang luhur.

Apa saja yang termasuk dalam budi pekerti yang luhur:
• Tidak berkata hal-hal yang tidak perlu
• Tidak mempermalukan seseorang atas kesalahan yang diperbuatnya
• Memberi perhatian besar pada kebiasaan saling memberi hadiah
• Senantiasa menyenangkan orang-orang yang membutuhkan
• Senantiasa berada di tengah-tengah masyarakat

david-marcu-14AOIsSRsPs-unsplash

Menjadi Jiwa Berdedikasi

“Menjadi Jiwa Berdedikasi[1]

Bisakah Anda menjelaskan ungkapan: “Yang aku inginkan bukanlah menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu ataupun menjadi bagian dari kesuksesan di masa mendatang; yang aku inginkan hanyalah menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa ini”

 

Mungkinkah bagi kita untuk tidak berharap menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu, walaupun sekedar menjadi prajurit rendahannya saja? Ketika membahas masa lalu kita yang amat mulia itu, pikiran kita secara otomatis akan meluncur ke sana.  Untuk itu, penyair besar yang juga mengalami masa-masa pahit kemunduran peradaban kita di masa ini, yaitu Mehmet Akif Ersoy berkata:

Aku menatap burung-burung hantu yang meratapi puing-puing peradaban

Kulihat juga tanah air layaknya surga ini sedang berada di musim gugur

Andai Periode Mawar kuketahui, kurela menjadi bulbul

Ya Allah, andai Engkau ciptakan aku terlahir di masa itu!

 

Ya, siapakah di antara kita yang tidak mau berbagi masa kehidupan dengan Kanuni Sultan Sulaiman?[2] Siapakah dari kita yang tidak mau berada di sisi Yavuz Sultan Selim[3], dimana bersamanya kita menyenandungkan mars Yeniceri[4]? Siapakah dari kita yang enggan untuk mendampingi di sisi kiri ataupun kanan dari sultan-sultan seperti mereka di medan pertempuran seperti Mercidabik, Ridaniye, dan Caldiran[5]. Siapakah dari kita yang tidak suka untuk membusungkan dada kita demi menjadi perisai bagi sultan-sultan seperti mereka. Ya, sejarah cemerlang tersebut senantiasa menjadi fokus otonom alam bawah sadar kita.

Di sisi lain, terdapat janji Sang Nabi dan pengingatan dari para wali, dimana ketika memikirkan masa depan penuh kebahagiaan yang dinanti dengan penuh harapan itu kita pun senantiasa ingin segera tiba di masa tersebut.

Pemikiran yang seperti itu sebagaimana dapat disebut sebagai pendekatan nostalgia; sambil mengeluhkan banyaknya kekurangan di periode masa ini yang penuh kesempitan serta menjemukan, kita seperti seorang pelukis ataupun penyair, singkatnya seperti seniman yang mengkritik subjek-subjek dan objek-objek di hadapannya sembari membandingkannya dengan masa lalu ataupun masa yang akan datang.

Ya, sebagian dari kita barangkali pernah masuk ke dalam pemikiran tersebut. Meskipun hal tersebut bukanlah tugas serta tanggungjawab kita, meskipun hal tersebut dapat mendatangkan arti menawar takdir Ilahi, hal-hal seperti itu tetap dapat mendatangi pikiran kita. Kemudian dengan keikhlasan dan ketulusan yang tersisa, kita pun memperbaiki pemikiran tersebut: “Mohon ampun Ya Rabb, hal tersebut bukanlah perhatian utama kami… Siapalah kami kemudian berhak mengatakan hal seperti itu! Kami hanya berkewajiban mengerjakan tugas dan tanggungjawab kami. Kami tidak turut campur dalam wilayah kuasa RububiyahMu.” Akan tetapi, sekuat apapun tekad kita untuk senantiasa istikamah, sekokoh apapun kita menapakkan langkah kaki, dunia pikiran dan khayalan terkadang membawa kita menuju pemikiran bengkok sehingga hati pun terpeleset olehnya.   Segera kami sampaikan bahwasanya hal tersebut layaknya tergelincirnya hati dalam beriman, ia bukanlah dosa yang tak dapat dimaafkan. Barangkali ia adalah keburukan yang tidak berakibat ditulisnya dosa.

Sebenarnya bagi kita maupun bagi orang lain, kejayaan masa lalu bukanlah hal yang tak boleh diimpikan. Semoga masa depan kita pun seiring berkembangnya akar kejayaan akan setara dengan kejayaan masa lalu, insya Allah.

Akan tetapi, saya dengan pendekatan ala Qitmir, tidak merasa layak untuk berharap dapat menjadi seorang Kanuni dan Yavuz yang jaya di masa lalu, ataupun bermimpi untuk menjadi pimpinan bagi sosok-sosok suci yang menjadi representasi pekerjaan ini di masa mendatang. Sebaliknya, saya lebih suka untuk memilih menjadi salah satu unsur kecil lagi sederhana dari kumpulan mereka yang berhizmet pada masa ini. Mengapa demikian?

Karena:

  1. Kesuksesan di masa mendatang, bersama capaian-capaian keberhasilan juga akan membawa unsur seperti gibah, hasad, serta kebencian. Terdapat ganimah yang dipandang wajib untuk dibagikan. Kecintaan pada pangkat dan jabatan akan menyerang jiwa-jiwa manusia. Ambisi, kebencian, serta kedengkian akan menggelembung. Dari mana Anda tahu? Saya mengetahuinya karena hal-hal itu terdapat pada tabiat manusia. Sejarah manusia telah menjadi saksi bahwa hampir di setiap zaman di masa kesejahteraan dan kebahagiaan yang mengikuti permasalahan dan penderitaan muncul, manusia tidak mampu menjaga kebersihan hati serta ketulusannya. Kemarin mereka yang berada dan berjuang di satu barisan lalu ketika sukses berhasil diraih mereka akan saling hantam satu sama lain demi pangkat dan manfaat pribadi. Keistimewaan yang dicapai di masa sulit satu demi satu akan hilang seiring datangnya keluasan dan kenyamanan. Sebenarnya saya tidak mau hidup di masa pasca hizmet, yaitu di masa kekacau balauan, kebinasaan, dan kemusnahan akan datang, wassalam.

Semoga Allah senantiasa membuat kita selalu berhizmet. Untuk sawerannya, siapapun yang akan membagikannya bagikanlah ia. Buat saya itu tidak terlalu penting. Asal masyarakat jadi bahagia, hidup tenteram dan rukun, itu cukup buat kita. Kalau mereka mau, mereka dapat merekrut kita sebagai buruh tani. Atau mungkin mengasingkan kita ke tempat-tempat terpencil. Sama sekali tidak masalah. Kita bisa pergi ke atas gunung dan hidup zuhud di sana. Maka jika dilihat dari penjelasan ini, maka saya dapat mengatakan: “Yang aku inginkan bukanlah menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu ataupun menjadi bagian dari kesuksesan di masa mendatang, yang aku inginkan hanyalah menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa ini”

  1. Kita adalah anak-anak dari masa kini. Tidak mungkin kita masuk ke masa lalu ataupun lompat ke masa depan. Barangkali sebagian dari kita akan menemui masa depan, tetapi yang paling penting adalah hidup dan mengisi masa ini. Artinya kita tidak akan mengatai masa lalu kita sebagai dongeng. Tidak juga melihat masa depan sebagai mimpi di siang bolong. Atau dengan ungkapan lain: masa lalu bukanlah pemakaman raksasa; demikian juga masa mendatang, bukanlah negeri para gergasi[6]. Memang bukan, tetapi untuk menyiapkan masa depan yang setara dengan kejayaan masa lalu hanya dapat dilakukan dengan mengisi hari ini dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, dengan gambaran ini, mereka yang pada hari ini bangkit dan duduknya senantiasa dihiasi dengan pikiran hizmet, hulubalang kecil yang kedipan matanya diperuntukkan hanya untuk hizmet dan bukan untuk pikiran lainnya, mereka itu lebih baik dibandingkan para raja dan penguasa di masa lalu. Bahkan dapat dikatakan jika mereka bisa lebih baik daripada para wali, para kutub, bahkan para ghauts.
  2. Orang-orang yang berhizmet dalam periode waktu dan kriteria tertentu bisa jadi membawa kebanggaan di dalam jiwa-jiwanya. Kebanggaan tersebut dapat menyapu bersih pahala-pahala dari pekerjaan baik mereka di periode tersebut. Untuk itu, seorang muslim sebaiknya sehari setelah meraih sukses, seperti halnya pergi bermigrasi setelah waktu asar lewat, maka pergi berpisah dari dunia ini adalah yang terbaik untuknya. Ya, waktu itu adalah waktu paling tepat untuk berdoa: “Ya Allah, ambillah amanahmu (nyawaku) ini!”

Dengan pemikiran demikianlah aku kemudian berkata: “Yang aku inginkan bukanlah menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu ataupun menjadi bagian dari kesuksesan di masa mendatang; yang aku inginkan hanyalah menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa ini”. Saya pun mengucapkannya kembali pada hari ini. Akan tetapi, tetap saja kita tidak bisa mengetahui manakah hal yang paling hakiki. Saya tidak tahu, dan saya juga tidak bisa memutuskan apakah pemikiran ini berasal dari bisikan setan ataukah ilham dari Ilahi. Karena nafsu sangatlah menipu dan setan terkadang mendatangi manusia dari sebelah kanan. Pemikiran  seperti itu bisa jadi merupakan hasil pendekatan setan dari sebelah kanan. Allahlah sebaik-baik yang Mahamengetahui kebenaran.

 


 

[1] Diterjemahkan dari artikel https://fgulen.com/tr/fethullah-gulenin-butun-eserleri/prizma-serisi/fethullah-gulen-prizma/11647-fethullah-gulen-adanmis-ruh-olabilmek di akses pada tanggal 4 Oktober 2019, pukul 10.45

[2] Kanuni Sultan Sulaiman dikenal di barat dengan julukan Suleiman the Magnificent. Dia adalah sultan kesepuluh Usmani. Dia adalah sultan terlama selama sejarah Usmani, memerintah dari tahun 1520 hingga wafatnya pada tahun 1566, atau 46 tahun (hampir setengah abad). Masanya adalah salah satu masa paling cemerlang dari Usmani. Kepemimpinannya dibantu oleh Perdana Menteri brilian seperti Ibrahim Pasa dan Rustem Pasa sedangkan di bidang agama ada sosok seperti Seyhul Islam Ebussuud Efendi.

[3] Di Barat dikenal dengan julukan Selim The Grim. Terkenal dengan kisah bagaimana beliau turun dari kudanya saat perjalanan dalam menakhlukkan Kesultanan Mamluk di Mesir. Saat dimohonkan untuk naik kuda oleh Panglimanya dikarenakan semua pasukan kelelahan karena turut turun dari kuda, ia menjawab:”Bagaimana aku bisa naik di atas punggung kudaku sedangkan di depan kita terdapat Baginda Nabi SAW yang berjalan kaki memimpin pasukanku.” Beliau adalah ayah dari Kanuni Sultan Sulaiman.

[4] Yeniceri adalah korps elit dari pasukan infanteri Kesultanan Usmani. Yeniceri dikenal sebagai model pasukan modern pertama di Eropa. Diperkirakan Yeniceri dibentuk di masa Sultan Murad I (1362-1389)

[5] 3 perang tersebut adalah 3 fase pertempuran Usmani dengan Mamluk

[6] Jembalang: raksasa besar yang suka makan orang (KBBI)

jeremy-bishop-iftBhUFfecE-unsplash

BERAKSI DAN BERGERAK DENGAN DINAMIKA-DINAMIKA DASAR

Tanya: Dalam berhizmet kepada agama, apakah rahasia untuk bisa selalu menjadi manusia aksi dan penuh semangat yang cocok dengan kebutuhan dan kondisi dewasa ini? Apa saja solusi untuk bisa senantiasa menghidupkannya?

Pentingnya Menyandarkan Segala Daya Kepada Pemiliknya, yaitu Allah SWT

Aksi adalah kata yang diserap dari bahasa Perancis. Berikutnya, kita bisa menggunakan istilah gerakan untuk menggantikannya. Di dalam hizmet-hizmet yang dibuat demi agama kita, ketika kita menyebut aksi ataupun gerakan, kita dapat memikirkan makna-makna seperti: tidak melihat cukup apa yang sudah ada; menggenggam usaha di posisi tertinggi; tidak pernah berhenti, jenuh, dan bosan dalam usaha mengubah dunia menjadi koridor surga, ataupun mengantarkan pekerjaan ini hingga tercapai tujuan akhirnya.  Sedangkan akhir dari pekerjaan ini adalah – sesuatu  sehingga jawaban rahasia dari pertanyaan di atas adalah – untuk  menangkap titik ufuk yang dijelaskan oleh ayat:

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ 

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”[1]

Jadi, maksudnya adalah mengantarkan penghambaan dengan semua ketulusan dan keaktifan sehingga ia menjadi kokoh sampai ajal datang nanti. Ya, mengantarkan penghambaan hingga ajal datang adalah gerakan dan aksi yang sebenarnya. Baik secara individu maupun secara kelompok masyarakat, jika seorang hamba memikirkan tugas dan kewajiban yang diharapkan dari dirinya dengan sepenuh jiwa dan hatinya serta berjuang untuk menunaikannya, maka sebagaimana kita sebutkan sebelumnya, ia telah memahami dan hidup dengan gerakan dan aksi yang sejati. Sebaliknya, jika permasalahannya hanya diambil dari satu dimensi tunggal belaka dan dengan pengabdian-pengabdian materi yang mereka kerjakan sejak awal, walaupun nantinya mereka berhasil membawa Turki menjadi negara paling makmur di dunia serta, sebagaimana disampaikan dalam beberapa karya tulis, andai pedang-pedang digantung di atas menara Masjid Blue Mosque, pekerjaan itu akan tergelincir. Sedangkan sisanya akan mundur dengan teratur. Bahkan andai dalam satu gerakan mereka menyelamatkan dunia lalu mereka yakin dan percaya pada kapasitas perbuatannya, dapat dengan mudah saya sampaikan bahwa segala yang mereka kerjakan tersebut tidak akan dianggap sedikitpun di sisi Sang Haq.

Di bagian kedua pertanyaan dikatakan “Apa saja solusi untuk bisa senantiasa menghidupkannya?” Pertama-tama, untuk bisa melanjutkan semangat dan ruh tersebut berhubungan dengan faktor-faktor berikut ini:

1. Amaliyatul Fikriyah :

 Ya, tampaknya kekurangan terbesar kita adalah jauhnya dan lalainya kita dari tafakur dan tadqiq[2]. Selebihnya disebabkan oleh jauhnya kita dari muraqabah (autokontrol) kehidupan hati dan kubur.

2. Rabitatul Maut :

Yaitu senantiasa memikirkan kematian, bersatu dengannya; mempersiapkan diri untuk memenuhi janji pertemuan dengan Malaikat Izrail. Untuk itu, rumah sakit harus dijenguk…, berempati dan menyatu dengan para pasien pengidap berbagai penyakit. Harus mengingat kembali bahwasanya dunia ini fana dan senantiasa mengalami dekadensi dengan menziarahi kuburan serta memikirkan kondisi di liang lahat di mana di sana kita tinggal tulang belulang mengering belaka. Di sisi lain, mengingat pepatah “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama,” kita harus berjuang meninggalkan karya dan jasa, dengannya kita berusaha memenuhi umur kehidupan kita. Perhatikanlah kehidupan Sang Kebanggaan Alam Semesta! Di akhri kehidupannya, di waktu perjumpaan dengan Sang Rafiq al Ala semakin dekat pun beliau menyiapkan pasukan untuk melawan Bizantium.[3] Beliau juga mengangkat putra dari syuhada Mu’tah[4], yang dicintainya seperti cintanya kepada cucu-cucu kandungnya, yaitu Sayyidina Usamah bin Zaid[5] r.a. sebagai komandan pasukan. Di waktu-waktu akhir saat sakitnya semakin parah, beliau pingsan, sadar, pingsan lagi, dan setiap sadar beliau selalu bertanya apakah pasukan sudah berangkat atau belum. Saya mohon izin, apakah hal tersebut lazim dipikirkan dan dikalutkan oleh orang-orang yang sedang menghadapi sakaratul maut? Tetapi tidak bagi para pegiat dakwah. Dibutuhkan pekerja magang yang layak untuk disandingkan dengan Sultan seperti Beliau! Dan dari negeri ini muncul satu jenius yang amat cemerlang: Murad Hudavendigar[6]. Beliau membatasi hidupnya dengan jalan meletakkan ganjal di perut sebagaimana yang dilakukan Baginda Nabi. Sebelum menyerahkan ruhnya kepada Tuhannya di medan perang, orang-orang terdekatnya, yaitu Gazi Mihal[7] dan Gazi Evranos[8] bertanya: “Sultan, apa ada permintaan terakhir Anda?” Jawaban Sang Sultan adalah jawaban yang nanti  ditulis oleh tinta emas dalam lembaran sejarah manusia:”Attan inmeye inmeyesüz, kılıcınızı kınına koymayasuz! ~ Kita tidak boleh turun dari punggung kuda, kita tidak boleh sarungkan pedang!”. Beliau tidak berwasiat untuk memakamkan jasadnya di Bursa ataupun supaya penerusnya membalaskan dendamnya. Sebaliknya, dengan apa yang disampaikannya tersebut beliau sedang menghembuskan semangat aksi di jalan dakwah dimana beliau jatuh syahid. Salah satu jalan untuk bisa meraih titik ufuk tersebut adalah dengan menghadapi kematian dengan senyuman serta menerima kematian sebagai hari raya dan pesta resepsi purna tugas kita di muka bumi.

3. Tidak tertinggal dari profit yang didapat dari hasil kerja kolektif.

Barangkali sebagian dari kita telah runtuh kehidupan kalbuya. Kita harus memperbaikinya dengan jalan hadir di dalam atmosfer yang penuh berkah, yaitu tempat di mana orang-orang baik berkumpul. Terkadang di dalam atmosfer negatif dimana kita terdapat di dalamnya, mata kita, telinga kita, tangan hingga kaki kita sendiri tidak cukup bagi kita. Di waktu itulah genggaman tangan, tatapan mata, serta perhatian dari telinga para sahabat dapat mewujudkan apa yang kita butuhkan serta membantu kita meraih keadaan di atas kekuatan dan kemampuan kita.

4. Untuk bisa selalu berada dalam skema hizmet kepada bangsa yang hidup dan aktif, secara mutlak kita harus ambil bagian dalam tugas dengan penuh semangat tanggungjawab

            Ya, sejumlah orang yang berniat untuk melakukan hizmet kepada bangsanya berkumpul dalam frekuensi sering; mereka sibuk menelaah dan membahas hasil kerja serta program lanjutannya, seminggu penuh mereka bangun dan tidur dengan kesibukan tersebut; tanpa membiarkan waktu berlalu percuma mereka hembuskan nafas-nafas hizmet. Ketika mereka berlaku demikian, maka Allah SWT pun memberkahi gairah dan semangatnya, atau dengan kata lain memberkati gerakan dan aksinya. Barangkali ini adalah ungkapan hakikat dari hadis qudsi:”…Jika ia datang kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari...”[9]

            Kesimpulan; ketika penindasan disungkurkan ke tanah; para ksatria yang menyumbangkan bahunya untuk memikul pekerjaan yang amat indah ini pertama-tama melalui tafakur akan menyadari betapa berharganya nilai-nilai yang mereka miliki… dengan rabitatul maut, mereka akan melampaui fana dan dekadensi dunia… bahkan mereka akan menunjukkan jalan untuk menjadi eksis di tengah-tengah kefanaan dan dekadensi dunia kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka akan menunjukkan kepada orang lain jalan untuk menjadi eksis di dalam kumpulan rekan-rekan yang membersamainya bahu-membahu di jalan hizmet kepada bangsa. Bersama mereka melewati setiap kesulitan, cobaan, ujian, juga kebahagiaan di setiap tempat dan waktu. Dengan jalan ini angka satu akan mencapai seribu. Para pahlawan futuwah yang menjadi representasi dari loyalitas akan berlari menuju hizmet-hizmet berikutnya dengan penuhsemangat dan gairah seolah berangkat menuju pertemuan dengan tokoh-tokoh besar nan jadi panutan di dunia pembimbing dan penunjuk jalan keselamatan. Betapa banyak pahlawan yang akan menampilkan gerakan di atas gerakan untuk mewujudkan kabar gembira yang telah dikirimkan ke alam dunia berabad-abad yang lalu.

            Ya Allah, angkatlah generasi kami dengan anugerah, kemurahan, serta inayatMu! Berkat Kemahakuatan serta KeperkasaanMu, dukunglah kami di jalan dan perjuangan besar yang mana ia tak mampu kami lalui dengan kekuatan dan kemampuan kami! Jadikanlah kami dan generasi kami sebagai bagian yang melanjutkan tugas besar ini! Ya Allah, selama agama ini eksis di muka bumi, bahagiakanlah mereka baik yang ada di atas maupun di dalam permukaan bumi!

 

Diterjemahkan dari artikel yang berjudul “Temel Dinamikleri Ile Aksiyon”, yang terdapat di buku Prizma 1, hlm. 24


[1]Surat al Hijr 15:99

[2] Pemeriksaan secara seksama dan detil

[3] Bukhârî, mağâzî 87; Müslim, fazailü’s-sahâba 63.

[4] Bukhârî, mağâzî 44; Müslim, janâiz 30

[5] Bukhârî, adab 22, Ahmad Ibn Hanbal, al-Musnad 5/205.

[6] Murat Hudavendigar adalah Sultan Murad I. Hudavendigar berasar dari bahasa Persia yang bermakna “Yang Taat Kepada Tuhannya”. Tetapi dalam konteks ini bermakna Khalifahnya Allah. Adalah sultan ke-3 Usmani setelah Osman Gazi dan Orhan Gazi. Beliau syahid setelah berhasil menakhlukkan Kosovo

[7] Abdullah Mihal Gazi adalah sahabat seperjuangan Sultan Murad. Beliau adalah komandan bizantium pertama yang memilih Islam dan bergabung dengan pasukan Usmani. Bernama asli Mikhael Kosses, setelah bersyahadat beliau menerima nama yang diusulkan oleh Sultan Muran, yaitu Abdullah. Beliau kemudian dikenal dengan nama Abdullah Mihal Gazi

[8] Komandan Perang di masa Sultan Murad I, Bayezid I, Suleyman Celebi, dan Mehmed I

[9] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”(HR Bukhari no 6970 dan Muslim no. 2675)

samuel-zeller-rk_Zz3b7G2Y-unsplash

Ramah-Tamah Bersama Para Pemuda (Bagian 1)


“Ramah-Tamah Bersama Para Pemuda (Bagian 1)”

Wejangan kepada 200 Mahasiswa yang Berkunjung

Kurasa pesan-pesan berikut yang dianjurkan sebagai resep oleh Ustaz Nursi amatlah penting. Tolong-menolong adalah kaidah untuk meringankan beban kerja. Ringkasan resepnya adalah manajemen waktu, distribusi tugas, dan yang terakhir adalah tolong-menolong untuk meringankan beban. Saya rasa sebagaimana “bastha zamaan”, resep tersebut adalah sarana mengerjakan banyak pekerjaan di waktu yang singkat.

Waktu harus dikelola dengan sangat baik. Apapun yang akan dikerjakan dan direncanakan adalah untuk kehidupan kita. Untuk itu, waktu harus dikelola dengan sangat baik. Misalnya, berapakah waktu yang akan dialokasikan untuk tinggal di rumah, untuk melayani ayah ibu, berapa alokasi waktu untuk tidur, untuk berjaga, untuk menelaah buku, serta kegiatan lainnya. Maka rekan-rekan yang mengaitkan hatinya pada hal penting seperti khidmat tidak sepatutnya sibuk dengan aktualita. Kita harus berdiri jauh dari hal-hal yang tidak berhubungan secara langsung dengan kita. Hal tersebut harus menjadi garis batas kita. Semua pekerjaan kita dari awal secara rapi harus direalisasikan di dalam perencanaan yang jelas.

Kemudian, kita juga menyebut distribusi tugas. Apa saja yang bisa ia kerjakan, apapun kecenderungannya, apapun yang ditunjuk oleh kompas kalbu dan jiwanya, saya rasa ia harus mengambil jalan itu. Jika tidak, dia akan berjalan di gang yang tidak disenangi, itu akan korbankan banyak waktunya. Saya menyaksikan bagaimana teman-teman kita menyelesaikan doktoralnya dalam 10-15 tahun. Betul-betul menghabiskan umur! Pelajaran yang bisa selesai 10 bulan dikelola 4 tahun. Selama 4 tahun mereka menyibukkan orang. Seandainya dibuat seringkas mungkin, jika disiplin dasar dapat diberikan dengan baik.

Di matematika ada rumus singkat, andai pembuatan rumus singkat pembelajaran diberikan pada mereka, pembelajaran di SMA yang 4 tahun dan SMP 3 tahun dapat diringkas total selama 2-3 tahun saja. Demikian juga pembelajaran di tingkat Universitas, jika dilihat ia bisa diringkas dalam 2-3 tahun saja. Dengannya maka manusia bisa bermanfaat bagi bangsa dan negaranya di usia paling produktifnya.

Satu lagi yang ingin kubahas lebih dalam adalah disiplin ketiga. Saya rasa ia adalah prinsip terpenting, yaitu “prinsip meringankan beban lewat tolong menolong.” Ta’awun dalam ilmu sharaf dari asalnya dijelaskan sebagai musyarakatun baynal isnayn fashaa’idan. Artinya, dua orang atau lebih bersama-sama mencari solusi dari suatu permasalahan Secara prinsip dapat dikatakan “berunding dengan pemikiran kolektif.” Misal, ada teman yang sedang doktoral. Di sisi lain, ada teman yang menguasai buku-buku referensi. Di situ yang menguasai buku-buku referensi harus membantu teman yang menempuh doktoral tersebut. Contoh lain, ada yang ahli membuat komposisi. Saat memegang pena, not demi not lancar ditulisnya. Kalau Anda lihat, Anda mengira komposisi itu ditulis oleh Ferdowsi, penyair terkenal dari Iran. Itulah bakatnya, maka di bidang komposisi ia harus membantu saudara-saudara dan rekan-rekannya. Dengan demikian, di waktu singkat tetesan air pun akan sanggup mencairkan batuan marmer. Syair ini terinspirasi dari pepatah Turki, “Bukanlah aliran air yang mengikis marmer, melainkan kontinuitasnya.”

Nasihat berikutnya saya peruntukkan kepada mereka yang menyerahkan dirinya untuk belajar. Ada beberapa yang tinggal bersama ayahnya, membantu pekerjaan keluarga. Ada yang masuk ke bidang politik, dia pun membuat beragam pengabdian yang cocok dengan kondisinya. Tetapi, karena umumnya teman-teman kita adalah manusia yang memiliki idealisme, sekali lagi mengutip istilah yang digunakan Ustaz Said Nursi, “Jika orang tak punya idealisme atau lupa maka pikirannya berputar-putar di sekitaran keakuannya.” Cita-cita yang sangat agung, Ustaz menyebutnya dengan istilah “Gaye-i Hayal.” Kita sebut dengan istilah “idealisme,” sedangkan penyair Ziya Gokalp menyebutnya “mefkure”. Mengaitkan kalbu dengan cita-cita agung, dan selalu menjadikannya sebagai tujuan Cita-cita yang demikian haruslah dimiliki.

Jika seseorang mempunya cita-cita yang agung, maka hatinya tak akan tertarik dengan hal remeh dan tak bernilai. Cita-cita agung akan menjadi “”Leyla”, sedangkan dirinya akan menjadi “Majnun”. Pada waktu melihat Leyla jika bisa ia tak boleh mengenalinya, sehingga ia selalu mencari Leyla. Ia senantiasa dalam keadaan mabuk dan ekstase sehingga tak bisa mengenali Leyla. Karenanya, teman-teman yang mau cita-cita agung harus menganggap hal lain sebagai hal rendahan. Tidak boleh terlalu dekat dengannya karena hal rendahan itu bisa menyebabkan kekacauan. Karenanya Ustaz menyebutkan “Jika orang tak punya idealisme atau lupa,” isytiqaq terlupa dari kata tanaa siy, digunakan dalam istilah lama kedokteran, “tamaarudh,” artinya pura-pura sakit. Kalau disini artinya walau tidak lupa, tetapi dia pura-pura lupa. Ketika pikiran berputar di sekitaran keakuan, maka akal berubah menjadi egosentris. Tanpa disadari si manusia pun menjadi egois, egosentris, dan narsistik. Karenanya, untuk Allah kita harus meletakkan keinginan kita demi hal-hal yang sangat agung.

Misalnya, apa yang harus kukerjakan demi meraih keridaanNya? Bagaimana aku bisa membuat Sayyidul Anam SAW bahagia? Seandainya beliau hadir dan bertahta di kalbuku, menerangi malam-malamku, andai hal itu terjadi setiap malam! Jika hati manusia terkekang oleh hal agung itu, ia akan menjadi pencinta, ia tak akan terpikir hal lain. Ia masuk ke saf Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, saf ratusan tokoh lainnya Radiyallau anhum, saf Mus’ab.

Aku membaca di kitab bahwa lengannya (Mus’ab) terputus, tetapi ada satu Ustaz dalam khutbahnya, Aku menaruh hormat kepadanya, ia berkata, “Mus’ab menerima sabetan di lehernya, ia pun tumbang.” Wajahnya menempel tanah supaya tak ada yang tahu ini wajah siapa. Jika malaikat bertanya, “Saat lehermu masih utuh bagaimana bisa mereka menyentuh Rasulullah!” Saat itu seolah Mus’ab berkata, “Ya Allah, aku malu untuk hadir di hadapanMu!” Demikianlah keterkaitan hatinya kepada Rasulullah SAW. Itu adalah tapak kaki yang dilangkahkan menujuNya. Jika kamu melangkah sekali, Dia akan mendekatimu sepuluh langkah. Pernyataan ini terdapat di Hadis Kudsi[1], “Jika hambaKu mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika hambaKu mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sedepa..” Karena itu penyerupaan, kami anggap makruh, jadi kami memilih mengartikannya “Allah membalas setimpal.”


 

[1] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).