mengembangkandiri.com (12)

JIWA PARA PEMUDA

Sebuah komunitas menjaga kehidupan dan perkembangannya melalui jiwa para pemudanya. Apabila sebuah komunitas kehilangan jiwa ini, maka komunitas tersebut akan memudar dan layu, seperti sekuntum bunga yang pembuluh batangnya dipotong, akhirnya bunga itu hancur sampai ke akarnya.

Seorang lelaki muda, pada masa sekolah maupun masa remaja, biasanya penuh dengan berbagai aktivitas, yang diliputi perasaan nasionalisme dan patriotisme, pembicaraan tentang cara mengatasi berbagai masalah yang ada di negaranya dan juga bagaimana cara memajukan negaranya tersebut, dan ia pun akan menjadi gusar apabila ada kemalasan ataupun ketidakpekaan terhadap berbagai masalah yang ada dalam komunitas itu. Meskipun demikian, ada pula beberapa anak muda yang awalnya begitu meluap-luap akan pikiran-pikiran mulia mereka, namun begitu mereka mendapatkan sebuah posisi ataupun pekerjaan yang cukup bagus beberapa tahun kemudian, mereka akan duduk diam dan kehilangan berbagai perasaan dalam aktifitas-aktifitas sebelumnya tersebut. Menjadi tergantung pada posisi barunya itu, dengan berjalannya waktu, demi untuk memenuhi semua keinginan dan kesenangan-kesenangannya yang berupa materi, mereka akan mulai melupakan tujuan-tujuan awal mereka, mulai merasa terbebani oleh berbagai kritikan yang datang kepada mereka, dan akhirnya jatuh ke dalam keterbatasan keinginan dan kemauan. Sekali mereka berada dalam keadaan bahaya, mereka tidak akan pernah dapat pulih kembali jika tidak ada tangan-tangan mulia yang datang untuk membantu mereka, dan mereka akan terbelenggu oleh keadaan-keadaan yang pernah membuat mereka gusar dahulu. Mereka menjadi sangat acuh tak acuh terhadap berbagai pemikiran awal mereka sehingga mereka merasa terhina ketika berbagai kritikan atau bahkan suara hati mereka sendiri ataupun orang lain, tentang penyalahgunaan pekerjaan ataupun tanggung jawab yang mereka lakukan.

Mulai saat itu, mereka menggunakan seluruh kemampuan mereka untuk berusaha mempertahankan posisi mereka dan juga memenangkan pembuktian keunggulan diri mereka, segala hal yang dapat mempermalukan seorang manusia, dan mengakibatkan seseorang itu kehilangan posisinya perlahan-lahan. Apabila mereka menunjukkan kemampuannya untuk dapat lebih dipromosikan, mereka tidak akan memikirkan hal lain lagi selain mendapatkan promosi jabatan tersebut meskipun hal itu berarti mereka harus kehilangan kehormatan dan harga diri mereka, dan melakukan segala sesuatu yang berbeda dari apa yang diperintahkan oleh kesadaran dan iman mereka. Mereka akan membungkukkan badan mereka selama orang yang mereka anggap berguna bagi posisi mereka memberikan manfaat kepada mereka, dan menunjukkan keburukan-keburukan karakter dari seseorang yang sebelumnya mereka agung-agungkan secara berlebihan.

Sebuah kepura-puraan dan bujukan akan kembali menyerang mereka dan tipe mereka ini adalah begitu merendahkan diri mereka sendiri dibandingkan dengan karakter mereka sebelumnya sehingga kita tidak dapat lagi mengharapkan kebaikan ataupun nilai-nilai berharga dari mereka. Yang lebih menyedihkan lagi, mereka mengembangkan ‘penyakit’ mental atau spiritual yang menyebabkan mereka kehilangan kepekaan dan kemampuan berpikir mereka dalam mengambil keputusan yang benar, dan hal itu adalah benar-benar sebuah kekurangan pemahaman dan kebijaksanaan, dan mereka masih menganggap diri mereka sendiri sebagai satu-satunya orang yang memiliki kemampuan berpikir lebih baik dibandingkan orang lain, yang sebenarnya orang tersebut lebih dapat membuat penilaian yang paling baik dan juga mampu berbuat sesuatu yang lebih berguna.    

Dan tentu saja, hal ini sangat tidak mudah untuk mengingatkan mereka, ataupun memberi peringatan, akan kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Sejak para pemilik jiwa-jiwa yang egois seperti mereka yang biasanya lebih mengembangkan kebencian dan dendam untuk melawan mereka yang mengungkapkan kesalahan-kesalahan mereka, dan mereka cenderung menganggap diri mereka sendiri sebagai seseorang yang selalu paling benar, mereka tidak akan pernah mau meminta saran dari siapapun.

Alamiahnya, hampir setiap orang memiliki kekurangan dalam hal tertentu dan biasanya kekurangan itu nampak tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Bagaimanapun, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk menyelamatkan orang-orang dari keterpurukan di dalam rawa kelemahan-kelemahan mereka. Apabila kita mampu untuk menanamkan kepada para pemuda sebuah kepercayaan yang kuat, pikiran-pikiran yang murni dan sehat, sebuah perasaan yang kuat akan azas mengutamakan orang lain dan sebuah perasaan cinta yang tak mudah padam kepada bangsa dan negara; apabila kita mampu membuat mereka untuk menyelesaikan bersama-sama sebuah alasan mulia dimana hal itu membuat mereka mendedikasikan diri mereka kepadanya; apabila kita membawa mereka untuk lebih memilih nilai-nilai berharga seperti kehormatan dan harga diri di atas kesenangan-kesenangan; dan apabila kita menanamkan di dalam diri mereka sebuah tugas kesetiaan kepada negara dan bekerja untuk kejayaan negaranya, dan meyakinkan mereka bahwa adalah merupakan rasa tidak berterima kasih yang tak terampunkan apabila mereka melakukan sesuatu yang tidak begitu penting dibandingkan dengan melayani bangsa dan negara dalam hubungannya dengan alasan mulia tersebut. Apabila kita mampu melakukan semua itu, para pemuda akan memelihara identitas pokok mereka untuk melawan kebusukan mental dan spiritual. Jika tidak, setiap hari kita akan menyaksikan sebuah bintang yang perlahan-lahan hilang dari langit harapan kita karena penyakit-penyakit spiritual yang terjadi seperti cinta akan kedudukan, terlalu terikat akan kehidupan dunia, pencari ketenaran dan ketergantungan akan kesenangan-kesenangan materi, dan kita akan tunduk pada kekecewaan dan harapan yang hilang.

mengembangkandiri.com man-8046025_1920

PERINTIS MUDA MELAYANI MASYARAKAT

Musim dingin yang lalu, kami berkesempatan untuk berpartisipasi dalam program bimbingan intensif, yakni program Young Leaders In Johannesburg. Berangkat dari pulau nan eksotis Indonesia, kelompok kecil kami yang terdiri dari sekumpulan delapan individu yang memiliki pikiran penuh rasa ingin tahu, menjelajahi benua hingga ke Afrika Selatan. Bersama-sama kami menjelajahi luasnya medan perjalanan, di mana setiap langkah-langkah yang kami jalani, mampu membentuk kisah penuh penemuan dan perkembangan.

Pada Jumat pagi yang dingin, kami bangun lalu mulai menyiapkan makanan yang akan dibagikan ke panti jompo. Kami membuat sandwich dengan penuh antusias. Ya, hari ini adalah hari pelayanan masyarakat. Kami memilih Jumat sebagai hari pelayanan masyarakat. Kami datang sekitar empat puluh lima menit dari komplek Nizamia, ke sekolah Mayfair di Joburg. Memerlukan sekitar dua jam bagi kami untuk menyiapkan empat ratus sandwich. Dalam usaha membuat sandwich yang sempurna, kami merasa perlu meminta bantuan dari warga sekolah disana. Kolaborasi tangan baik yang sudah pernah maupun yang baru membuat sandwich, bersatu padu untuk menyusun kreasi kuliner ini. Tawa bergema di udara saat kami memotong, menyusun, dan menata sandwich sandwich itu, mengubah tugas sederhana menjadi kolaborasi harmonis yang akan membekas dalam ingatan kami. Bapak Sarkhan, pengatur program pelayanan masyarakat, memberi tahu kami bahwa kami harus menyelesaikan tugas sebelum pukul sebelas setengah sehingga kami bisa mendistribusikannya ke panti jompo didekat sekolah dan kembali untuk salat Jumat.

Segera setelah menyelesaikan tugas, kami menyiapkan sandwich dan sekaligus mengumpulkan berbagai macam buah yang akan kami bagikan bersama-sama. Kami membawa makanan tersebut ke minivan yang tengah menunggu di luar dapur. Dalam perjalanan singkat sekitar lima menit dari sekolah, tibalah kami pada tujuan utama yakni panti jompo. “Semua orang berkumpul di depan minivan sekarang!,” kata Bapak Sarkhan. Jadi, dilingkungan yang penuh semangat ini, serangkaian rumah mengelilingi sekitar kami.

Lalu apa misi kami?

Yakni Mengetuk setiap pintu, menawarkan makanan. Begitu mereka menanggapi ketukan pintu tersebut, sejumlah makanan yang bermanfaat menanti mereka berupa tiga bungkus sandwich, disertai dengan dua jeruk dan apel yang segar. Kami menganggukkan kepala bersama-sama, sepenuhnya memahami tugas sederhana namun bermakna bagi kami.

Saat kami perlahan mengetuk setiap pintu, beberapa penghuni muncul dari dalam. Dengan detail, Bapak Sarkhan menjelaskan perjalanan kami dari Indonesia dan usaha keras yang kami lakukan sejak pagi hari untuk membuat sandwich ini khusus untuk mereka. Rasa keterhubungan antara kita pun mulai terbangun. Di tengah interaksi kami, seorang wanita paruh baya menarik perhatian kami. Ia terasing di dalam rumahnya, mobilitasnya terbatas dan dia tengah duduk dengan rasa pasrah. Mendekatlah salah satu teman kita dengan penuh rasa iba yang kemudian menyodorkan tiga kantong sandwich berikut dengan macam-macam buah yang kami bawa. Sebuah potret momen hubungan antar manusia yang bermakna mendalam terungkap di hadapan kami. Ayra berlutut dengan penuh kedermawanan, menyerahkan bingkisan tersebut kepada wanita itu, dan dengan lembut ia pun bertanya, “Bagaimana kabar Anda, bibi?” Bibi itu, kaget dengan gestur tak terduga, kemudian menjawab, “kabar saya baik, terima kasih. Siapa Anda, dan mengapa Anda memberikan ini kepada saya?”

Dengan senyum hangat, Ayra pun menjelaskan, “Kami berasal dari Indonesia. Kami menyiapkan sandwich ini sejak pagi tadi, khusus untuk Anda. Kami senang bisa berbagi dengan Anda. “Mata bibi itu terlihat berkaca-kaca dan bercampur haru saat dia melanjutkan ucapannya,” Tidak!, maksud saya, saya belum pernah menerima sesuatu yang dibuat khusus untuk saya seperti ini, bahkan bukan dari anak-anak saya sendiri.

Apakah Anda seorang Muslim?

Pandangannya tertuju pada kerudung Ayra, penuh rasa tanya. Ayra menganggukkan kepala, senyumnya melebar, “Ya, saya seorang Muslim. Kami ingin menunjukkan perhatian dan rasa hormat kami kepada Anda melalui hal sederhana ini.”

Momen tak terduga pun terjadi ditengah percakapan itu, wanita itu membuka diri tentang penyakit dan kekurangan fisiknya. Dengan perasaan rentan, dia mempercayakan kepada Ayra, mengungkapkan keinginannya untuk memeluk Islam pada hari itu. Terharu oleh ketulusan kata-katanya, Ayra memeluk wanita tersebut dengan erat, hatinya penuh kehangatan. “Bapak Sarkhan, bisakah Anda datang ke sini?” Suara Ayra membawa campuran kegembiraan dan penuh harap. Ketika Bapak Sarkhan tiba, mata bibi itu bersinar penuh ketulusan seakan ada harapan baru ketika ia menyatakan ingin memeluk Islam. Dengan bimbingan yang lembut, Bapak Sarkhan duduk di sisinya, kata-katanya menenangkan dan penuh dukungan. Saat matahari naik menuju cakrawala, memancarkan sinar hangat pada momen itu, wanita itu pun mengucapkan Syahadat, bersaksi atas iman yang suci di depan kami. Suasana kian terisi dengan rasa persatuan dan spiritualitas, sebuah momen tak terlupakan yang terukir dihati kami selamanya.

mengembangkandiri.mother-and-child-YRN2PWM

Dengan Pengorbanan

“Bolehkah saya melihat bayi saya?” pinta seorang Ibu muda itu. Sebuntal kain yang lembut diletakkan dalam dekapannya, sang ibu yang bahagia itu bergegas membuka kain selimut itu untuk segera melihat wajah mungil si jabang bayinya.

Sang ibu tertegun tidak bisa berkata-kata dengan apa yang dilihatnya. Dokter yang memperhatikan ibu dan bayi itu bergegas memalingkan wajahnya. Sang dokter segera berpaling dari mereka dan melihat ke luar jendela.

Bayi itu tidak memiliki telinga.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa fungsi pendengaran bayi tidak terpengaruh, hanya secara fisik luar tidak memiliki daun telinga.

Tahun demi tahun telah dilalui, bayi itu tumbuh dewasa dan mulai menempuh pendidikan di sekolah. Suatu ketika, sekembalinya dari sekolah, dia bergegas berlari dan mendekapkan dirinya ke pelukan sang Ibu dan menangis tersedu-sedu.

Ini adalah kekecewaan besar pertamanya.

Sambil menangis, dia berkata, “Seorang kakak kelas memanggil saya monster, Ibu.” dan terus semakin dalam isak tangisnya.

Anak kecil itu terus tumbuh dewasa.

Dia populer di antara teman sekelasnya dan menjadi siswa yang cerdas. Bahkan dia bisa saja menjadi ketua kelas, hanya jika dia dapat berbaur dengan teman-temannya.

“Kamu harus bisa bergaul dengan anak-anak lain, Nak.” ibunya selalu berpesan, meskipun di saat yang sama sang Ibu merasa sangat kasihan dengan kondisinya. Sang Ayah sempat berkonsultasi dengan seorang dokter tentang kondisi putranya.

“Tidak adakah yang bisa dilakukan, Dok?” tanya sang Ayah. 

Dokter memberikan jawabannya, “Transplantasi daun telinga bisa saja dilakukan, jika ada seseorang yang berkenan mendonorkannya.”

Pencarian pendonor untuk transplatasi daun telinga sang pemuda pun dimulai….

Setelah dua tahun penantian, sang Ayah berkata,

“Bergegaslah pergi ke rumah sakit, Nak. Ibumu dan aku telah menemukan seseorang yang akan mendonorkan daun telinganya untukmu, tetapi ingatlah bahwa ini adalah rahasia.”

Singkat cerita, operasi itu berjalan dengan lancar. Sekarang sang Pemuda sudah memiliki telinga yang sempurna. Keadaan emosionalnya membaik dengan penampilan barunya, pemuda itu mencapai kejayaan dalam kehidupan akademik dan sosial. Ia kemudian menikah dan menjadi diplomat.

Bertahun-tahun berlalu dan suatu hari anak laki-laki itu pergi menemui ayahnya dan bertanya,

“Ayah, saya sangat ingin tahu pendonor yang telah mengubah hidup Saya kala itu? Saya tidak bisa melakukan apapun untuknya…”

“Sampai saat ini tidak ada yang dapat kamu lakukan untuknya,” kata Ayahnya.

“Kesepakatannya sudah jelas. Kamu belum bisa mengetahuinya sekarang. Belum.” imbuh sang Ayah.

Rahasia yang disembunyikan selama bertahun-tahun akhirnya akan terungkap juga. Datanglah hari dimana rahasia itu tersingkap, waktunya telah tiba untuk mengungkapkannya.

Hari itu adalahah hari terkelam dalam hidup sang Pemuda, dia menunggu bersama ayahnya di samping tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa….

Ayahnya secara perlahan mengulurkan tangannya ke arah kepala sang Ibu. Sang Ayah dengan lembut mengurai rambut cokelat keemasan sang Ibu ke belakang.

Sang Ibu tidak memiliki daun telinga.

mengembangkandiri-pemuda

Demi Pemuda

Bagi mereka yang ingin memprediksi masa depan sebuah bangsa, bisa dengan mudah dan akurat mengamati sistem pendidikan yang diajarkan ke generasi mudanya.


Nafsu layaknya manisan, dan kebaikan seperti makanan yang kadang sedikit asin bahkan masam. Jikalau pemuda diberikan pilihan, yang mana akan mereka lebih sukai? Karena itulah, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengarahkan mereka menjadi sahabat bagi kebaikan dan musuh dari kebiasaan buruk dan tak bermoral.


Sampai kita menyelamatkan generasi muda kita melalui pendidikan, mereka masih akan terus tertawan oleh lingkungan, nafsu serta kesenangan dunia. Mereka hanyut tanpa tujuan, terpengaruh oleh nafsu dan jauh dari ilmu dan akal budi. Sebenarnya, mereka mampu menjadi contoh sebagai pemuda yang gagah berani yang berprinsip dan berjiwa kebangsaan, namun, hanya jika pendidikan yang mereka tempuh mampu merawat potensi mereka dan mengembangkannya dengan cermat demi masa depan.


Bayangkan, semisal masyarakat sebagai sebuah cangkir terbuat dari kristal, dan generasi mudanya adalah cairan yang dituangkan kedalamnya. Perhatikan bahwa cairan mengikuti bentuk dan warna wadahnya. Namun disisi lain, apabila ada kelompok dengan pemikiran yang melenceng menjerumuskan para pemuda untuk patuh kepada mereka ketimbang kebenaran sejati. Apakah orang seperti mereka tak pernah bertanya ke dalam benaknya sendiri? Bukankah mereka seharusnya juga berada dalam jalan kebenaran?


Maju atau mundurnya sebuah bangsa tergantung pada semangat dan kesadaran pada bidang pendidikan yang diberikan kepada para generasi muda. Bangsa yang berhasil membangun generasi mudanya dengan baik, akan selalu siap untuk maju, sedangkan bangsa yang gagal dalam mendidik generasi mudanya, akan sadar bahwa mustahil untuk maju, bahkan mustahil hanya untuk mengambil satu langkah kedepan.


Hanya sedikit perhatian yang kita berikan tantang pentingnya nilai-nilai budaya dalam pendidikan, yang sebenarnya merupakan intisari dari pendidikan. Saat kita sudah sadar dan memberikan porsinya dengan tepat, kita akan meraih tujuan utama pendidikan.


Generasi muda adalah sumber tenaga, kekuakatan dan kecerdasan masa depan suatu bangsa. Jika dilatih dan dididik dengan tepat, mereka bisa menjadi “pahlawan”, yang menghadapi rintangan dan yang berpemikiran cemerlang sebagai cahaya bagi hati dan kedamaian dunia.

magnifying-glass-white-puzzle-blue-background

Mencari Makna yang Hilang

Karya Pembaca: Haerul Al Aziz

Namanya Andre, 30 tahun. Kini ia tertegun dengan secarik kertas dan pena yang ada di hadapan matanya, penuh rasa khawatir dan bimbang. Sosoknya yang terkenal sebagai pemuda paruh baya itu konon telah menjalankan hidupnya penuh dengan limpahan harta dan kekayaan. Anak konglomerat dari salah satu daerah di Indonesia tersebut, tak merasa sukar jika ia harus menikmati segala macam jenis kenikmatan dunia. Pendidikan dengan fasilitas terbaik telah ia tempuh. Segala jenis makanan ternikmat di dunia juga mungkin telah ia rasakan. Tempat-tempat terindah yang ada di dunia pun mungkin pernah ia jelajahi.

Tetapi ada sesuatu yang ia anggap masih kurang. Ia masih merasa belum puas dengan semua itu. Seolah seluruh kenikmatan yang telah ia cicipi itu, tak bernilai. Ia belum merasakan suatu yang hingga saat ini ada, menghantui benaknya. Terpantul jelas dalam lorong-lorong bayangan rasa penasarannya di dalam relung jiwanya saat itu. Suatu hal yang justru orang lain malah lari, karena takut darinya. Ya, ia menginginkan kematian. Sesuatu yang dianggap sebagai pemutus segala kenikmatan. Dan telah ia tuliskan dalam secarik kertas sebagai petuah, pantulan dari kegelisahannya saat itu :

Saat menemui ajal kelak, mungkinkah ada kenikmatan lain yang belum pernah aku rasakan? Mungkinkah kenikmatan sejati dapat diraih setelah aku masuk ke dimensi itu?  Adakah makna dari penciptaan kehidupan baru di alam lain tersebut?

Terbesit sebuah pertanyaan besar dalam kepalanya yang hampir linglung karena telah muntah harta dan bosan akan kenyamanan dunia. Namun tak ada seorang pun yang mampu menjawab keraguan itu, kecuali mereka yang meyakini bahwa hal itu memang benar adanya. Karena yang pergi, telah pergi. Tak akan pernah kembali untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Menunggu ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat di dimensi alam ini.

Tujuan dan tugas istimewa yang dimiliki manusia di muka bumi ini

Apa yang sebenarnya manusia cari? Atau apa yang hilang, hingga ia merasa belum puas dengan kenikmatan yang ia raih di bumi ini? Benarkah dimensi lain itu lebih indah dan abadi?

Jika melihat ke semua makhluk yang ada, bisa kita pastikan bahwa kehadiran mereka ke dunia ini tentunya memiliki sebuah tujuan. Dimulai dari bulan yang menerangi langit di kala malam, hingga matahari yang menyinari siang di setiap harinya. Dari tanaman hias hingga pohon-pohon besar yang menyelimuti bumi ini. Dari seekor semut hingga hewan-hewan berkaki empat yang memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan hidup makhluk yang lain. Lalu bagaimana dengan tujuan penciptaan manusia?

Ketika berencana untuk membangun sekolah, kita perlu memahami terlebih dahulu alasan mengapa dan untuk apa kita ingin membangunnya. Pasti ada tujuan yang termaksud, yang mungkin setara atau bahkan lebih besar dari apa yang ingin kita rencanakan sebelumnya. Begitu pula dengan penciptaan alam semesta ini dan juga makhluk istimewa yang merupakan wujud intisari darinya yang kita sebut sebagai manusia. Sebagai bentuk alam kecil yang mempunyai arti yang lebih luhur dari pada alam yang besar ini, tak mungkin hadir jika tanpa sebuah tujuan.

Setiap insan yang datang ke ruang tamu dan kerajaan dunia ini, setiap kali membuka kedua matanya ia akan melihat berbagai jamuan yang sangat mulia, pameran yang penuh seni, kemah dan tempat latihan yang menakjubkan, tempat rekreasi yang sangat mengagumkan, tempat tafakkur yang penuh hikmah dan bermakna. Tetapi sesuai dengan keahliannya tersebut, dibalik tujuan pengirimannya ke dunia ini, tentunya manusia juga tak lepas dari tugas yang perlu ia emban.

Karena ia memiliki pikiran untuk memilih mana yang terbaik baginya. Memiliki hati nurani untuk menyadari apakah ada hikmah dibalik semua yang ia lihat dan rasakan dalam kehidupannya. Bersikap sadar di antara makhluk yang tak memiliki kesadaran akan esensi dari penciptaannya. Dengan kehendak parsialnya itu, ia berusaha menjawab pertanyaan dari ujian yang ada di lembaran muka bumi ini, untuk mencari makna yang sebelumnya hilang karena terpaku oleh nilai yang sifatnya material semata. Mengajaknya untuk meneliti lebih jauh makna yang ada dalam dirinya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut dengan tepat :

“Siapa ia sebenarnya? Untuk apa ia diciptakan?  Adakah pemilik hakiki dari semua ciptaan ini? Apa yang harusnya ia lakukan di muka bumi? Akan sampai kapan ia hidup? Ke mana ia akan pergi setelahnya? Bagaimana ia bisa menyelamatkan dirinya dari segala jenis kekhawatiran yang ada ini?”

Memahami makna dari arti kehidupan    

Mungkin setangkai bunga sudah merasa puas dengan kehadirannya di taman, menghiasi kebun-kebun. Bisa jadi seekor sapi merasa lega saat memakan rumput dan menganggap tugasnya telah usai saat dagingnya berhasil disantap oleh manusia. Namun  manusia tidak akan pernah puas meski seluruh isi dunia menjadi miliknya. Ia memiliki harapan dan keinginan yang abadi. Karena memang ia diciptakan untuk keabadian. Untuk itu, kita perlu menawarkan kenikmatan yang sifatnya abadi pula, atau setidaknya mengarah pada keabadian itu sendiri. Karena kenikmatan duniawi tak akan pernah cukup untuk memuaskan hasrat keabadiannya itu.

Kita hidup di dunia modern yang dengan fasilitasnya mampu memanjakan manusia yang hidup di masanya. Namun sayang, dunia yang berkembang saat ini dengan segala kemegahannya itu dalam beberapa hal hanya mampu menawarkan kenikmatan sementara yang mengantarkan individunya pada sikap narsisme, bangga diri dan tertipu oleh tampilan luar semata. Tampilan luar yang menyodorkan iming-iming palsu dengan menampilkan diri mereka yang seolah merepresentasikan sebuah nilai luhur, tapi melupakan makna yang ada di dalamnya. Sedangkan makna, mengindikasikan sebuah keabadian. Oleh karena itu, tampilan luar yang kehilangan makna tidak akan sanggup memuaskan hasrat manusia secara utuh.

Kunci untuk Meraih Makna

Kenikmatan yang dirasakan di dunia ini bagi sosok manusia, masing-masing sebenarnya merupakan permisalan. Bahwa ada hal yang lebih indah lagi yang dapat mereka rasakan di dimensi yang lain. Yang ada di dunia ini hanyalah contoh. Di samping mereka tidak akan pernah puas meski sudah mencicipi segala kenikmatan yang ada di dunia ini, di sisi lain mereka juga termasuk orang yang tak tahu diri, jika tidak mengenal siapa sesungguhnya yang memberikan seluruh nikmat tersebut dan hanya menghabiskan itu semua dengan penuh kerakusan.

Selain itu manusia tidak dikirimkan ke dunia ini hanya untuk merasakan kenikmatan belaka. Karena dengan kepedihan yang telah ia lewati atas masa lalu dan kekhawatiran yang ia rasakan akan masa depan, membuatnya tak akan sepenuhnya puas merasakan kenikmatan itu. Bersamaan dengan hal tersebut, kebutuhan, keinginan, dan harapan yang diharapkan manusia, melebihi dirinya sendiri. Maka, tak salah jika makhluk yang paling banyak kebutuhannya ialah manusia. Tetapi ia pun sebenarnya lemah dan papa, bahkan ia tak mampu memenuhi hidupnya atau menghadapi musuhnya sendirian. Untuk itulah dia butuh tempat bersandar yang maha agung dan kokoh dari manifestasinya yang lemah dan papa.

Di saat yang sama, manusia layaknya benih. Benih yang membutuhkan cahaya, air, tanah, dan pupuk yang sesuai, sehingga akan menghasilkan buah layaknya tujuan. Cahaya dalam bentuk maknawi yang mampu menerangi hidupnya. Air yang mampu memberikan nutrisi agar ia tetap bisa hidup dengan kapasitas yang ia miliki. Tanah yang dapat memberikan tempat untuk bisa menjulang tinggi dan wadah baginya untuk berkreasi menampilkan kedermawanan pemiliknya. Pupuk yang membantunya agar lebih subur dan rindang. Pada akhirnya menghasilkan buah manis dan bergizi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Padanya juga terdapat kunci, yang mana jika ia mampu menggunakannya dengan benar maka ia pun akan melihat esensi dari seluruh penciptaan alam semesta ini, termasuk dirinya sendiri. Tetapi jika ia salah dalam menggunakannya, semoga Allah ta’ala melindungi kita, ia akan menjadikannya dirinya sebagai firaun-firaun yang ada di zamannya masing-masing. Itulah yang dinamakan ego manusia. Manusia yang terpaku pada egonya, tidak akan mudah untuk mengenali dirinya sendiri. Mereka yang tak mampu mengenali diri, atas tujuan apa mereka dikirimkan ke dunia, tentunya akan sulit untuk mencari makna dari eksistensinya. Mereka yang tak mampu mendeteksi makna tersebut akan sukar untuk mengenal siapa sebenarnya yang memiliki kerajaan ini. Untuk itu, mari kita merefleksikan diri, sudah seberapa jauh kita mengendalikan ego ini untuk mencari makna yang hilang itu? Dan menyelamatkan Andre dari pikiran konyolnya tersebut.

sushobhan-badhai-LrPKL7jOldI-unsplash

Ciri Generasi Muda yang Dinanti

Pertanyaan: Ustadz yang mulia, pada beberapa kesempatan anda berkata, “semoga jalan dakwah ini menjadi takdir hidup kalian.” Apa saja nasihat Anda agar kami bisa sampai ke puncak yang ideal dan tetap terikat dalam Hizmet ini?

Secara kebetulan sama seperti kemarin, saya telah menjelaskan sifat-sifat anak muda sebagai catatan awal. Sekarang akan saya bahas mengenai sifat-sifat ksatria muda sebagaimana yang diinginkan. Apa yang kita harapkan dari para pemuda? Ketika saya mendapatkan pertanyaan seperti ini, maka mereka bertanya lagi, bisakah Anda menjelaskan sifat generasi muda seperti yang dinanti-nanti. Juga dengan persoalan hari ini, dakwah ini harus menjadi takdir kalian.

Seseorang haruslah mencintai sesuatu yang mulia, dan tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal yang murah, harga diri seseorang bukan bernilai dengan ijazahnya, jabatannya dan tempat dia bernaung. Harga diri seseorang bukanlah bernilai karena menjadi anggota dewan, perdana menteri maupun seorang presiden. Bila takdir membuatku jadi presiden hanya karena nilai diri, sungguh aku akan marah terhadap diri ini dan berkata: “Ya Allah kenapa Engkau menciptakanku tidak beruntung seperti ini.” Aku ke Hammam (pemandian air panas) pada musim panas, malah udara jadi dingin. Memangnya ada yang mau jadi presiden?

Yang aku inginkan dari Engkau adalah Engkau (Allah), yaitu menjelaskan tentang-Mu hingga nafasku terputus-putus. Aku ingin jadi lidah-Mu, kalau tidak maka biarkanlah lidahku yang putus. Aku ingin di mana-mana itu melihat-Mu, kalaupun tidak bisa, ambillah mataku ini supaya aku tidak akan melihat hal yang haram ketika masih muda. Aku ingin mendengar-Mu, bila tidak maka tulikanlah saja telingaku ini. Aku ingin bernafas di sisi-Mu, kalau tidak biarkanlah saja nafasku ini terhenti. Bisakah aku sampaikan ini dengan jelas?

Insan dakwah bukanlah orang yang sekedar makan minum dan tidur. Insan dakwah bukanlah orang yang hidup terikat dengan kebutuhannya saja. Insan dakwah adalah orang yang telah melupakan nikmat kehidupan dan gila memberikan kehidupan bagi yang lain. Insan dakwah itu seperti Majnun, tanpa mencari Laila ia tidak bermakna.

Dan juga seperti Farhat yang tiap hari melubangi gunung yang berbeda untuk mencari jalan bertemu Syirin. Seperti Emrah yang rela terbakar seperti serpihan api demi Aslı. Itulah insan dakwah.

Beberapa generasi sebelumnya menjadi harapan bagi kita untuk mencapai kualitas yang bagus dan menjadi teladan buat generasi yang kita tunggu. Saya berharap meraka menjadi contoh yang baik. Dan Insya Allah semoga kalian berada di jalan seperti itu. Saya rasa saya telah menjelaskan hal yang semestinya saya jelaskan. Apakah saya melakukan sebuah kesalahan bapak doktor? Kalau tidak, saya rasa saya sudah menyampaikan hal-hal yang mungkin saja belum saya sampaikan sebelumnya. Kalau ada penjelasan yang bertentangan, sungguh hanya Allah yang mengetahui semua yang nampak dan rahasia,  Semoga Allah juga mengampuni dosa-dosaku. Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi.

Semoga Allah isikan hati kami ini dengan iman, dan kenyangkan kami dengan iman. Bangkitkanlah kami sekali lagi, hilangkanlah kehinaan, sehingga membuat kami mencapai mimpi kami yang ingin memiliki peran cukup besar di dunia. Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Wahai Tuhanku, buatlah diri kami menjadi lupa terhadap nafsu kami, dan tingkatkanlah derajat hati dan jiwa kami, dan jadikanlah nafas kami seperti nafasnya para malaikat. Engkau memberikan kami semangat untuk berlari di Jalan-Mu ibarat Kuda. Jadikan kami tidak merasa kelelahan hingga jantung berhenti berdetak sekalipun. Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Dan jika saja yang aku ucapkan ini merupakan ucapan yang berisi kesombongan maka ampunilah dosaku. Terimalah doa kami ini sebagaimana engkau menerima doa-doa sebelumnya.

Ini adalah generasi harapanku yang terakhir. Jika generasi ini tidak melakukan apa yang mesti dilakukan sekarang, maka kita pun harus menunggu setengah abad lagi yaitu 50 tahun. Maka umur saya dan sebagian besar kita tidak akan cukup untuk itu.