Mus’ab Bin Umair telah meninggalkan hidupnya yang nyaman dan serba berkecukupan dan pergi ke Madinah. Saran saya, jika kalian ingin menyelamatkan dunia, maka kalian harus menjadi seperti Mus’ab, Khabbab Bin Al-Aratt ataupun Ibnu Jahsy. Suatu beban yang hanya bisa diangkat dengan tangan yang dapat mengangkat beban lima kilogram, tak akan bisa diangkat dengan tangan yang hanya kuat mengangkat beban tiga kilogram. Orang-orang yang kesana-kemari berjibaku dalam isu-isu dunia dan lebih mencintainya daripada akhirat, memilih untuk menikmati kasurnya yang empuk daripada melayani al-Qur’an dan umat, serta tidak merasa sedih dan kehilangan ketika agamanya roboh ataupun ketika anak mudanya telah termabuk akan dunia, tak ada yang bisa diharapkan dari mereka untuk perjuangan dakwah ini. Tapi ingatlah, pintu Allah akan selalu terbuka, selalu menunggu kedatangan kalian entah muda atau tua dan menyambut dengan sangat gembira ketika kalian datang menghadap-Nya. Allah akan menjaga kalian dari petaka yang menyakitkan dan penderitaan ini. Dan Dia pun akan menjaga kalian dari konflik dan kerisauan batin.
Jikalau kalian menjadikan rasa kebertuhanan, iman dan makrifat kepada Allah lebih dominan dalam hidup, maka kalian akan diliputi oleh rahmat Allah yang tak terbatas tanpa bisa kalian sangka-sangka. Tunjukkanlah kepada orang lain cara untuk lebih menyukai pengabdian kepada al-Qur’an daripada kenyamanan ranjang tidur. Saya memberikan penekanan pada masalah ini karena dua alasan. Pertama, saya akan membungkam rasa putus terhadap asa orang-orang yang menatap masa depan dengan pandangan pesimis. Kedua, saya akan menghilangkan rasa cemas dari sebuah penghinaan. Saya sepenuhnya percaya dan menyatakan kepada dunia bahwa suara mereka yang mencintai, menghormati, dan melayani orang banyak, suara Islam, suara Nabi Muhammad SAW, suara suci al-Qur’an yang merupakan kalam ilahi, akan menjaga dan melindungi keistimewaan suara yang kuat dan merdu mereka pada skala manusia.
Hanya ada satu cara untuk mewujudkan cita-cita mulia kita ini. Ialah dengan menjaga generasi muda kalian. Seorang individu, keluarga, komunitas ataupun seluruh bangsa harus menyadari pentingnya menjaga anak-anak kita. Mereka akan mengenal Allah dan Utusan-Nya. Kemudian hati dan kepala mereka akan terisi dengan sains modern di sekolah-sekolah sehingga mereka akan tumbuh menjadi manusia yang sempurna. Kita akan membangun masa depan dunia berlandaskan kepercayaan, perdamaian dan kebahagiaan dengan membekali anak kita akan penggabungan sains barat, ilmu agama, kebenaran Rasulullah SAW dan al-Qur’an yang mulia. Saya tidak percaya mereka yang berkelahi di jalanan bisa mengerti misi ini. Saya tidak percaya mereka yang mengklaim bahwa akan mendirikan Turki yang hebat dengan suara lantang bisa menghasilkan sesuatu. Lindungilah generasi kalian dan Allah Yang Maha Kuasa akan menjadikan kalian mulia. Pada saat ini, Allah telah melimpahkan nikmat dan anugerah-Nya pada kalian yang bahkan tidak ada pada abad sebelumnya. Kalian berada pada posisi untuk meninggikan agama Islam sampai pada titik tertinggi kemanusiaan dan meninggikannya sampai pada titik puncak kemanusiaan. Kalian telah memasuki jalan menuju langit dengan bantuan dan rahmat Allah. Allah Yang Maha Kuasa telah menganugerahi kalian keberkahan ini. Dia tidak mengambil kembali nikmat yang telah Ia berikan setelah Ia limpahkan keberkahan-Nya.
Seorang ibu mengaku amat resah saat menyadari anak laki-lakinya yang telah beranjak SMA belum juga memiliki seorang pacar. Lalu sang ibu sibuk mengajari anak tersebut bagaimana agar segera bisa memiliki kekasih hati. Belum cukup dengan hal itu ibu dan ayah dari anak ini bahkan memberikan ‘iming-iming’ tambahan uang saku dan fasilitas kendaraan bila si buah hati berhasil mendapat pacar. Keadaan ini semakin diperparah dengan banyaknya film dan tayangan televisi yang mengarahkan generasi muda untuk mengikuti pola hidup hedonis. Maka tak heran jika beberapa waktu lalu dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan adanya pesta tidak senonoh yang diadakan sebelum dan sesudah UN dalam rangka pelepas kegembiraan para remaja tersebut. Lebih miris lagi saat perayaan hari kasih sayang atau valentine day lalu, beberapa anak usia SD mengirimkan tweet atau status FB yang mengumbar status bernada mesra pada ‘teman khususnya’ dengan bahasa yang masih belum pantas mereka gunakan.
Jika ditelusuri lebih jauh kita dapat melihat mata rantai yang hilang dari pendidikan agama anak-anak dan generasi muda saat ini, dan mungkin sudah sejak lama, yaitu rasa malu atau haya yang terlupa untuk diajarkan bahkan seringkali disalah artikan. Benar adanya bahwa betapa beruntungnya anak-anak di Indonesia yang bisa belajar mengaji dan shalat sejak usia mereka amat dini, sementara mungkin di belahan bumi yang lain ‘nikmat’ ini sulit untuk didapat. Namun sayangnya pelajaran agama yang didapatkan anak dari sejak mereka kecil tidak dibarengi dengan pemahaman moral dan iman yang benar-benar terpatri di hatinya, dan sesungguhnya salah satu cabang dari iman adalah malu. (HR.Muslim, al-Iman 57,58)
Konteks malu ini sendiri seringkali salah dipersepsikan oleh masyarakat. Seringkali masyarakat kita mengartikan malu sebagai perasaan tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang tidak baik atau karena memiliki kekurangan. Sehingga sejak kecil anak-anak telah diajarkan untuk ‘berani tampil’ dan tidak merasa malu. Padahal malu yang dalam bahasa Arab disebut al-haya, al-khajal atau al-hisymah diartikan sebagai menjauhi segala yang tidak diridhai Allah karena takut dan segan kepada-Nya. Ketika sikap ini berpadu dengan perasaan malu yang telah ada secara naluriah di dalam watak manusia, maka hal tersebut akan membentuk orang tersebut memiliki hubungan erat dan jalinan kuat yang sesuai dengan nilai-nilai adab dan kehormatan. Sementara menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, haya adalah sebuah tabiat yang mendorong seseorang meninggalkan perbuatan dan mencegahnya dari meremehkan kebaikan.
Betapa kontras kedua pemaknaan malu ini sehingga para orang tua yang belum memahami esensi dan pentingnya rasa malu justru mendorong anak-anaknya dari sejak balita untuk justru mengurangi bahkan menghilangkan rasa malu yang sesungguhnya adalah fitrah manusia. Jika dalam sabdanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Malu hanya akan mendatangkan kebaikan” (HR.Bukhari, Adab: 77). Maka bisa kita bayangkan keburukan apa yang akan menimpa sebuah generasi yang terus ditekankan untuk tidak malu. Padahal perasaan yang pertama pada seorang manusia adalah haya atau rasa malu. Begitu pentingnya rasa malu ini hingga dalam hadis yang lain beliau mengingatkan kita : “Jika kau tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR.Bukhari, Adab:78). Maka amatlah jelas terlihat bahwa perilaku sesuka hati yang terus menggejala semakin parah akhir-akhir ini adalah karena manusia seringkali telah amat kehilangan fitrahnya dalam menjaga malu yang sesungguhnya adalah akhlak seorang mukmin sejati.
Banyak perilaku sehari-hari yang sering kita anggap sepele namun perlahan-lahan telah mengikis fitrah malu yang ada pada diri kita. Dengan gampang kita memuji wanita lain di depan suami atau sebaliknya bangga saat ketampanan suami dikagumi oleh wanita lain adalah pintu malu yang seringkali lupa kita tutup. Bahkan maraknya media sosial berbasis internet telah membuat kita menjadi-jadi dalam sikap tanpa malu massal. Di masa ini orang dapat tahu pasti apa yang kita lakukan dengan suami, kemana kita pergi dengannya dan kegiatan pribadi lain yang seharusnya menjadi batas privasi kita dan keluarga lalu justru menjadi konsumsi publik hanya dengan melihat status dan foto yang kita unggah di internet. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata : “Janganlah seorang wanita memandang dan mengagumi wanita lain, lalu ia menceritakan sifat-sifatnya kepada suaminya seakan-akan suaminya sedang memandangnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Rendah hati berarti mempunyai sifat malu seperti halnya menjaga kesucian dan dalam kesederhanaan. Rendah hati dan sederhana berkaitan dengan membatasi diri agar tidak berlebihan dalam segala hal. Hal ini juga berkaitan dengan penempatan diri seseorang untuk melindungi hubungannya dengan Tuhan terlebih dahulu, kemudian dengan manusia.
Rendah hati juga merupakan salah satu kualitas utama yang dapat menjadikan manusia sebagai hamba terbaik. Selain itu rendah hati ialah perhiasan spiritual yang dimiliki seseorang, yang menjadi watak utama sebagai patokan Allah melihat kualitas hambanya. Dalam hal ini berarti, rendah hati juga berkaitan dengan menghindari segala perbuatan buruk, yang mana Allah tidak menyukainya, dan membuatnya menjadi hamba berkualitas buruk.
Dalam kitab Al Mutawwa, dikatakan bahwa setiap agama mempunyai satu kode etik, dan kode etik Islam ialah kerendahan hati dan kesederhanaan. Rasulullah mencontohkan sifat mulia ini kepada umat muslim melalui keseharian beliau. Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah melarang seorang lelaki yang menyuruh saudaranya untuk tidak rendah hati, dengan berfirman kepada lelaki tersebut, ‘biarkanlah dia, rendah hati merupakan sebagian dari iman.” Di hadist lain dikatakan, “Iman mempunyai lebih dari tujuh puluh cabang, dan cabang yang paling utama ialah pernyataan,’tidak ada yang patut disembah kecuali Allah,’ sedangkan cabang yang paling bawah ialah menyingkirkan kerikil dari jalan. Rendah hati ialah salah satu cabang atau bagian dari iman.”
Lalu, kepada siapa saja kita harus bersifat rendah hati dan sederhana?
Rendah hati dan sederhana kepada Allah
Bentuk paling sederhana dari sikap rendah hati dan sederhana kepada Allah ialah menaati segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Rendah hati dan sederhana kepada manusia
Sikap ini dapat dilakukan dalam bentuk tidak menyakiti sesama dan melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama.
Rendah hati dan sederhana kepada diri sendiri
Sikap ini dapat dilakukan dengan menghindari dosa-dosa ketika sedang dalam keadaan sendiri.
Rasulullah mengajarkan bahwa ketakutan akan sifat sederhana dan rendah hati dapat mengarahkan seseorang pada kekafiran. Sunan ibnu Majjah mengatakan, “Kerendahan hatian dan kesederhanaan ialah struktur keimanan. Apabila struktur itu diruntuhkan, maka keimananpun akan rusak dan hancur. Karena moral keislaman ialah rendah hati dan sederhana.
Suatu hari, seorang yang bijaksana dengan pengetahuan teknologinya melihat seorang laki-laki tampan yang bermasalah dengan sifat sederhananya. Menyadari hal itu, seorang bijaksana itu memberitahu laki-laki tampan yang ditemuinya dengan perkataan yang lembut dan penuh pelajaran. Dia berkata, “Ini ialah rumah yang mewah dan bagus, saya harap rumah ini juga memiliki fondasi yang kuat.”
Fondasi yang kuat ialah sifat sederhana dan rendah hati. Tanpa keduanya segala sesuatu yang indah tak akan memiliki arti. Seperti halnya bangunan yang tak memiliki fondasi maka tidak akan pernah bisa berdiri.
Beberapa orang hanya menampakkan sifat rendah hatinya saat orang lain melihatnya. Faktanya, hal ini justru akan mengarahkan orang itu kedalam perbuatan dosa. Hal ini juga menentukan level kerendahan hati orang tersebut. Seorang yang hanya menghindari dosa hanya saat di depan publik tanpa melakukannya ketika dalam keadaan sendiri, sama saja levelnya dengan kehinaan.
Dalam hal ini, marilah bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah seseorang pernah benar-benar sendiri ketika tidak ada seorang pun di sekitarnya? Tentunya tidak. Ada malaikat yang terus mengawasi kita selama 24 jam. Seseorang yang mempunyai keyakinan itu akan terus menjaga sifat sederhana dan rendah hatinya dalam keadaan apapun.
Semua sabda Sang Nabi adalah berlian. Kata-kata dari sultannya umat manusia adalah sultan dari segala kata. “Sebaik-baik pemuda di antara kalian adalah yang mirip dengan orang tua”.
“Sebaik-baik pemuda diantara kalian adalah yang menyerupai orang tua; sementara seburuk-buruk orang tua diantara kalian adalah yang menyerupai pemuda.” (HR. Thabrani dan Abu Ya’la)
Ketika tanda-tanda ajal sudah mulai muncul, para pemuda ini ketika melihat dunia, mereka ingat akan akhiratnya. Para pemuda ini pun dengan paradigma itu mengelola hidupnya. Pemuda yang demikian bahkan lebih baik dibandingkan para orang tua di antara kita.
Pada prinsipnya salah satu sisi terpenting dari agama adalah akhlak. Baginda Nabi bersabda: تَخَلَّقُوْا بِأَخْلَاقِ اللهِ “Berlakulah dengan akhlak Allah”.
Al Quran memuji Baginda Nabi Muhammad SAW dalam Surah al-Qalam,
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظيم “Sungguh kamu memiliki akhlak yang agung!”
Saat ini tidak ada hal yang mengagumkan dari dunia Islam. Yang mewujudkannya sebagai pesan dari Nabi adalah kalian, orang-orang di jalannya Bediuzzaman, dengan izin dan inayah Allah SWT.
Terkait hal ini, aku tak pernah kehilangan keyakinan dan mengubah pandanganku. Ya, Anda adalah salah satu bukti penampakan Anugerah Ilahi.
Semua anak lahir ke dunia dengan fitrah Islam dan bersih dari dosa. Seandainya Anda berkata: “Demi Allah bayi ini layak masuk surga!” Tiada dosa untuk Anda, apa yang kalian katakan tak bertentangan dengan kebenaran. Demikianlah, manusia lahir dengan fitrah yang suci.
Futuwah artinya sebagaimana kamu menerimanya dari-Ku dalam keadaan bersih, sebersih itu juga kamu akan mengembalikannya kepada-Ku. Kamu akan dimatikan seperti saat kamu hidup. Seperti apa kamu mati, seperti itu juga kamu dibangkitkan. Di satu sisi, jika Anda menghiasi hidup dengan iman dan amal salih dan menghiasinya dengan salat, Sebagaimana Sang Nabi, lewat mikraj Beliau menapaki lapisan langit. Lewat itu Beliau dimuliakan bisa bertemu dengan Allah SWT. Jika Anda juga salat lima waktu dengan penuh khusyuk, Anda pun berkesempatan melakukan mikraj lewat salat.
Salat adalah mikrajnya orang beriman. Dari sini, sebagaimana kita suci saat lahir ke dunia ini, demikian juga saat bertemu dengan-Nya. Semua segala sesuatu adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kita berasal dari Allah, kita ini milik Allah, kepada-Nya kita akan kembali. Sebagaimana kita dikirim ke dunia dalam keadaan suci, tanpa ternoda maksiat duniawi, kita sangat berharap dapat kembali kepadaNya dalam keadaan suci.
Kurasa pesan-pesan berikut yang dianjurkan sebagai resep oleh Ustaz Nursi amatlah penting. Tolong-menolong adalah kaidah untuk meringankan beban kerja. Ringkasan resepnya adalah manajemen waktu, distribusi tugas, dan yang terakhir adalah tolong-menolong untuk meringankan beban. Saya rasa sebagaimana “bastha zamaan”, resep tersebut adalah sarana mengerjakan banyak pekerjaan di waktu yang singkat.
Waktu harus dikelola dengan sangat baik. Apapun yang akan dikerjakan dan direncanakan adalah untuk kehidupan kita. Untuk itu, waktu harus dikelola dengan sangat baik. Misalnya, berapakah waktu yang akan dialokasikan untuk tinggal di rumah, untuk melayani ayah ibu, berapa alokasi waktu untuk tidur, untuk berjaga, untuk menelaah buku, serta kegiatan lainnya. Maka rekan-rekan yang mengaitkan hatinya pada hal penting seperti khidmat tidak sepatutnya sibuk dengan aktualita. Kita harus berdiri jauh dari hal-hal yang tidak berhubungan secara langsung dengan kita. Hal tersebut harus menjadi garis batas kita. Semua pekerjaan kita dari awal secara rapi harus direalisasikan di dalam perencanaan yang jelas.
Kemudian, kita juga menyebut distribusi tugas. Apa saja yang bisa ia kerjakan, apapun kecenderungannya, apapun yang ditunjuk oleh kompas kalbu dan jiwanya, saya rasa ia harus mengambil jalan itu. Jika tidak, dia akan berjalan di gang yang tidak disenangi, itu akan korbankan banyak waktunya. Saya menyaksikan bagaimana teman-teman kita menyelesaikan doktoralnya dalam 10-15 tahun. Betul-betul menghabiskan umur! Pelajaran yang bisa selesai 10 bulan dikelola 4 tahun. Selama 4 tahun mereka menyibukkan orang. Seandainya dibuat seringkas mungkin, jika disiplin dasar dapat diberikan dengan baik.
Di matematika ada rumus singkat, andai pembuatan rumus singkat pembelajaran diberikan pada mereka, pembelajaran di SMA yang 4 tahun dan SMP 3 tahun dapat diringkas total selama 2-3 tahun saja. Demikian juga pembelajaran di tingkat Universitas, jika dilihat ia bisa diringkas dalam 2-3 tahun saja. Dengannya maka manusia bisa bermanfaat bagi bangsa dan negaranya di usia paling produktifnya.
Satu lagi yang ingin kubahas lebih dalam adalah disiplin ketiga. Saya rasa ia adalah prinsip terpenting, yaitu “prinsip meringankan beban lewat tolong menolong.” Ta’awun dalam ilmu sharaf dari asalnya dijelaskan sebagai musyarakatun baynal isnayn fashaa’idan. Artinya, dua orang atau lebih bersama-sama mencari solusi dari suatu permasalahan Secara prinsip dapat dikatakan “berunding dengan pemikiran kolektif.” Misal, ada teman yang sedang doktoral. Di sisi lain, ada teman yang menguasai buku-buku referensi. Di situ yang menguasai buku-buku referensi harus membantu teman yang menempuh doktoral tersebut. Contoh lain, ada yang ahli membuat komposisi. Saat memegang pena, not demi not lancar ditulisnya. Kalau Anda lihat, Anda mengira komposisi itu ditulis oleh Ferdowsi, penyair terkenal dari Iran. Itulah bakatnya, maka di bidang komposisi ia harus membantu saudara-saudara dan rekan-rekannya. Dengan demikian, di waktu singkat tetesan air pun akan sanggup mencairkan batuan marmer. Syair ini terinspirasi dari pepatah Turki, “Bukanlah aliran air yang mengikis marmer, melainkan kontinuitasnya.”
Nasihat berikutnya saya peruntukkan kepada mereka yang menyerahkan dirinya untuk belajar. Ada beberapa yang tinggal bersama ayahnya, membantu pekerjaan keluarga. Ada yang masuk ke bidang politik, dia pun membuat beragam pengabdian yang cocok dengan kondisinya. Tetapi, karena umumnya teman-teman kita adalah manusia yang memiliki idealisme, sekali lagi mengutip istilah yang digunakan Ustaz Said Nursi, “Jika orang tak punya idealisme atau lupa maka pikirannya berputar-putar di sekitaran keakuannya.” Cita-cita yang sangat agung, Ustaz menyebutnya dengan istilah “Gaye-i Hayal.” Kita sebut dengan istilah “idealisme,” sedangkan penyair Ziya Gokalp menyebutnya “mefkure”. Mengaitkan kalbu dengan cita-cita agung, dan selalu menjadikannya sebagai tujuan Cita-cita yang demikian haruslah dimiliki.
Jika seseorang mempunya cita-cita yang agung, maka hatinya tak akan tertarik dengan hal remeh dan tak bernilai. Cita-cita agung akan menjadi “”Leyla”, sedangkan dirinya akan menjadi “Majnun”. Pada waktu melihat Leyla jika bisa ia tak boleh mengenalinya, sehingga ia selalu mencari Leyla. Ia senantiasa dalam keadaan mabuk dan ekstase sehingga tak bisa mengenali Leyla. Karenanya, teman-teman yang mau cita-cita agung harus menganggap hal lain sebagai hal rendahan. Tidak boleh terlalu dekat dengannya karena hal rendahan itu bisa menyebabkan kekacauan. Karenanya Ustaz menyebutkan “Jika orang tak punya idealisme atau lupa,” isytiqaq terlupa dari kata tanaa siy, digunakan dalam istilah lama kedokteran, “tamaarudh,” artinya pura-pura sakit. Kalau disini artinya walau tidak lupa, tetapi dia pura-pura lupa. Ketika pikiran berputar di sekitaran keakuan, maka akal berubah menjadi egosentris. Tanpa disadari si manusia pun menjadi egois, egosentris, dan narsistik. Karenanya, untuk Allah kita harus meletakkan keinginan kita demi hal-hal yang sangat agung.
Misalnya, apa yang harus kukerjakan demi meraih keridaanNya? Bagaimana aku bisa membuat Sayyidul Anam SAW bahagia? Seandainya beliau hadir dan bertahta di kalbuku, menerangi malam-malamku, andai hal itu terjadi setiap malam! Jika hati manusia terkekang oleh hal agung itu, ia akan menjadi pencinta, ia tak akan terpikir hal lain. Ia masuk ke saf Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, saf ratusan tokoh lainnya Radiyallau anhum, saf Mus’ab.
Aku membaca di kitab bahwa lengannya (Mus’ab) terputus, tetapi ada satu Ustaz dalam khutbahnya, Aku menaruh hormat kepadanya, ia berkata, “Mus’ab menerima sabetan di lehernya, ia pun tumbang.” Wajahnya menempel tanah supaya tak ada yang tahu ini wajah siapa. Jika malaikat bertanya, “Saat lehermu masih utuh bagaimana bisa mereka menyentuh Rasulullah!” Saat itu seolah Mus’ab berkata, “Ya Allah, aku malu untuk hadir di hadapanMu!” Demikianlah keterkaitan hatinya kepada Rasulullah SAW. Itu adalah tapak kaki yang dilangkahkan menujuNya. Jika kamu melangkah sekali, Dia akan mendekatimu sepuluh langkah. Pernyataan ini terdapat di Hadis Kudsi[1], “Jika hambaKu mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika hambaKu mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sedepa..” Karena itu penyerupaan, kami anggap makruh, jadi kami memilih mengartikannya “Allah membalas setimpal.”
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).