IMG-20250424-WA0003

Pengabdian sebagai Bahasa Syukur yang Tertinggi

Rasa syukur adalah sikap menghargai dan berterima kasih atas setiap anugerah dalam hidup—baik besar maupun kecil. Ia hadir dalam bentuk penghargaan atas kesehatan, keluarga, pertemanan, pengalaman, bahkan momen sederhana seperti secangkir kopi hangat di pagi hari. Syukur sejati bukan hanya muncul di kala segalanya berjalan baik, tetetapijustru menjadi paling bermakna saat seseorang mampu melihat cahaya di tengah kegelapan. Ia bukan berarti menutup mata terhadap kesulitan, melainkan memilih untuk tetap menemukan kebaikan dalam setiap ujian. Semakin hati dipenuhi rasa syukur, semakin terasa kecukupan hidup yang hakiki.

Dalam gerakan Hizmet, syukur menjadi inti kehidupan spiritual. Ia tidak berhenti sebagai ungkapan lisan, melainkan termanifestasi dalam pelayanan yang tulus kepada sesama. Hocaefendi Fethullah Gülen menekankan bahwa syukur sejati mendorong lahirnya kerendahan hati, sebab seorang hamba yang sadar bahwa segala nikmat berasal dari Allah ﷻ akan terdorong untuk menggunakan nikmat itu demi kemaslahatan. Dalam perspektif ini, pengabdian adalah bentuk syukur yang paling luhur—ibadah yang tumbuh dari kesadaran spiritual dan kepedulian sosial.

Syukur juga menjadi energi yang mendorong lahirnya karya dan aksi nyata: di bidang sosial, pendidikan, budaya, hingga dialog lintas iman. Ia menjembatani kesenjangan, menumbuhkan solidaritas, dan mempererat ikatan kemanusiaan. Sebagaimana pepatah mengatakan, “True gratitude is expressed not only in words, but in service to others.” Maka, syukur yang tulus tak cukup diucapkan, tetetapiharus diwujudkan dalam pengabdian. Nikmat Allah adalah amanah yang harus dibagikan demi kebaikan bersama.

Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan agung dalam menebar kasih dan melayani dengan penuh syukur. Dikisahkan, suatu hari ketika beliau sedang lapar, datang seorang wanita yang memberinya sepotong roti. Namun, beliau tidak menyantapnya untuk diri sendiri, melainkan membagikannya kepada para sahabat. Saat ditanya, beliau menjawab bahwa memberi kepada orang lain membuatnya merasa lebih bahagia. Syukur beliau juga tercermin dalam hubungannya dengan Allah ﷻ. Meskipun sudah dijamin masuk surga dan diampuni, beliau tetap beribadah dengan sungguh-sungguh hingga kakinya bengkak. Semua itu adalah wujud syukur yang mendalam—melayani umat tanpa pamrih dan terus beribadah sebagai bentuk cinta kepada Sang Pencipta.

Sahabat Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu merupakan contoh lain dari pribadi yang hidup dalam syukur. Meski hidup dalam kekurangan dan sering menahan lapar, beliau tidak pernah mengeluh. Sebaliknya, beliau senantiasa berada di sisi Rasulullah ﷺ, menyimak setiap sabda, dan menyebarkannya dengan semangat. Dari beliau kita belajar bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk tetap memberi dan mengabdi.

Fethullah Gülen dan Bediüzzaman Said Nursi juga menunjukkan keteladanan serupa. Said Nursi, meski berada dalam penjara dan pengasingan, tidak menyia-nyiakan waktunya. Ia menulis Risale-i Nur, karya yang menegaskan pentingnya sabar, syukur, dan pelayanan di tengah cobaan. Fethullah Gülen, meski harus hidup jauh dari tanah kelahirannya dan menghadapi berbagai kesulitan, tetap berkomitmen dalam menyebarkan nilai-nilai pendidikan, kedamaian, dan dialog antaragama. Keduanya mengajarkan bahwa pengabdian bukan hanya soal ibadah pribadi, tetapijuga aksi nyata yang memberi manfaat luas bagi umat manusia.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 152, Allah ﷻ berfirman:

“Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”

Dan dalam Surah Ibrahim ayat 7:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Bagi mereka yang berada di jalan Hizmet, syukur bukan sekadar pengakuan terhadap nikmat, tetetapijuga bahan bakar untuk terus bergerak, melayani, dan berkontribusi. Syukur menumbuhkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa setiap karunia adalah amanah untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Maka, bersyukur berarti menjadikan hidup sebagai ladang pengabdian yang tulus—bukan hanya bagi Allah ﷻ, tetetapi juga bagi sesama.

Ya Rabb, kami bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Mu yang tak terhitung. Jadikanlah hati kami selalu terhubung dengan-Mu dalam rasa syukur yang tulus, dan arahkan langkah kami untuk terus melayani dengan ikhlas di jalan-Mu.

Ya Rabb, kuatkan kami untuk bersyukur melalui tindakan, bukan hanya dengan ucapan. Jadikanlah pengabdian kami sebagai bukti cinta dan kerinduan kami kepada-Mu dan Rasul-Mu. Jauhkan kami dari kekufuran dan kelalaian, dan tumbuhkanlah dalam hati kami rasa cukup, lapang, serta bahagia atas apa pun yang Engkau anugerahkan.

Aamiin.

Wallāhu Ta‘ālā A‘lam.

mengembangkandiri.com

LIMA HARI DI PHNOM PENH

Di tulis Oleh : Muhamad Andika Saputra

Bepergian ke luar negeri merupakan salah satu mimpi yang sudah lama ku idamkan. Keluar dari zona nyaman untuk membuka cakrawala kalbu. Melihat-lihat belahan lain dari dunia fana dan mentafakuri hikmah atas penciptaan-Nya. Inilah tujuan utama yang kuinginkan ketika diberi kesempatan oleh Sang Maha Kuasa.

Hari pertama, aku berangkat ke bandara bersama ketujuh orang temanku yang berasal dari berbagai daerah. Kami berdelapan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pagi hari yang cerah. Karena ini merupakan pertama kalinya bagi kami untuk pergi ke luar negeri, kami tentu tak ingin ada halangan apapun yang menghambat perjalanan kami. Sesuatu yang ditakutkan adalah bagian imigrasi yang terdengar cukup ketat bagi individu yang pertama kali melakukan perjalanan lintas negara. Kami memasuki pengecekan barang dan paspor, kemudian melanjutkan ke pemeriksaan oleh petugas imigrasi. Syukur Alhamdulillah kami bisa melewati gerbang otomatis jadi tidak perlu melakukan wawancara seperti interogasi yang dibicarakan orang-orang. Salah seorang petugas hanya menanyakan negara tujuan ke mana dan apa alasan kami ke sana. Kami menjawab negara Kamboja dan tujuan kami ialah ingin melakukan studi banding tentang pendidikan di sana. Kami juga diundang oleh salah satu kampus terbaik di Phnom Penh, yaitu Paragon International University untuk melihat kondisi pedagogi serta fasilitasnya.

Setelah mengudara selama 4 jam, akhirnya kami mendarat di Bandara Internasional Phnom Penh. Kami dijemput oleh teman kami yang merupakan mahasiswa di Paragon University yang bernama Akhyar. Selain Akhyar, ada juga Ranang yang keduanya adalah sama-sama mahasiswa Indonesia di Kamboja. Oh ya, perkenalkan namaku Andika serta ketujuh temanku dari Indonesia, yaitu Falih, Danar, Rafif, Beta, Akmal, dan Bayu. Setelah sampai di tempat penginapan yang merupakan asrama kampus tersebut, kami langsung disambut dengan teman-teman yang tidak lain adalah mahasiswa-mahasiswa internasional dari berbagai negara. Kami dijamu dengan makanan-makanan khas timur tengah. Malam ini, kami hanya berkenalan satu sama lain dan mengobrol santai.

Hari kedua, kami awali dengan membaca buku bertajuk “Etika Sosial dalam Islam” sebagai pembuka hari yang cerah nan memesona. Membaca sumber ilmu sebagai awal kegiatan adalah langkah awal untuk membuka lembaran-lembaran cahaya ilmu lainnya yang akan diperoleh sepanjang hari itu. Kami membaca buku sampai azan Zuhur tiba, lalu kami bersiap untuk salat Zuhur berjamaah. Setelah salat, kami berkeliling kota Phnom Penh dengan mengunjungi berbagai destinasi wisata yang biasa dikunjungi oleh turis. Pertama, kami mengunjungi Euro Park, taman ala Eropa yang di dalamnya terdapat berbagai bangunan khas Eropa, seperti menara Eiffel di Paris dan Jam besar di London. Kami menghabiskan sekitar 1 jam di sana.

Setelah berkeliling di Euro Park, kami melanjutkan perjalanan ke Royal Palace, tempat bersejarah di Phnom Penh yang tidak akan dilewatkan oleh para turis yang berkunjung ke Kamboja. Royal Palace adalah istana megah berwarna emas yang sangat berkilau. Kami berfoto-foto di depannya. Kemudian seiring mentari menepi, kami menuju pinggir sungai Mekong yang terkenal sangat panjang. Kami menghabiskan petang di tepi sungai sembari menikmati pemandangan sungai dan gedung-gedung kota Phnom Penh, serta burung-burung berkicau menepikan diri ke sungai. Sungguh elok pemandangan sore ini. 

Setelah puas menikmati petang di tepi sungai, kami kembali ke asrama untuk membersihkan diri dan bersiap untuk salat. Malam ini kami diundang untuk makan malam di rumah salah satu guru yang bekerja di Paragon International School. Kami memakan makanan khas Asia Tengah, tetapi suatu hal yang jarang kurasakan di Indonesia adalah budaya makan malam yang tidak hanya satu babak saja, melainkan minimal terdapat 3 babak. Pertama dimulai dengan makanan pembuka, kedua makanan berat, dan ketiga makanan penutup seperti buah-buahan dan teh. Kami sangat kenyang malam itu karena penyajian yang diberikan. Guru tersebut juga bercerita tentang hidupnya. Ia bercerita bagaimana seseorang bisa menjadi guru dan bermanfaat bagi orang lain. Ia juga berkata bahwa menjadi guru dapat menjadi ladang dakwah bagi insan cendekia untuk mengenalkan Tuhan kepada manusia lainnya. Ia seorang muslim yang mengajar di sekolah umum dengan rata-rata siswa yang juga beragama Budha, agama mayoritas di negara tersebut. Pesan yang menggugah hati ketika ia berkata bahwa pelayanan terbaik terhadap agama adalah bagaimana kita bisa membuat orang yang sebelumnya tidak mengenal agama, lalu menjadi tahu dan berkenalan dengan agama tersebut. Ada banyak cerita inspiratif yang kami dapati malam itu.

Hari ketiga, kami mempunyai agenda untuk berkunjung ke Museum Genosida di Phnom Penh. Sangat kurang rasanya bila berkunjung ke suatu daerah atau negara, tetapi tidak mengunjungi museumnya agar mengetahui sejarah tempat tersebut. Museum Genosida adalah tempat yang dulunya sekolah, lalu dijadikan sebagai tahanan oleh Rezim Pol Pot yang berkuasa saat itu. Di museum ini banyak sekali turis mancanegara yang belajar mengenai sejarah museum tersebut. Melalui secarik denah pemandu untuk pengunjung, kami memulai posnya satu demi satu. Di dalam ruangan museum ini berisikan kondisi tempat tidur dan tempat tinggal tahanan saat itu dengan properti yang asli serta ada beberapa gambar yang ditangkap. Ada juga lukisan-lukisan yang menggambarkan kondisi penyiksaan tahanan oleh Rezim Pol Pot saat itu. Jujur suasana hati ini tak sanggup untuk mengelilingi seluruh sudut ruangan yang ada di museum. Perasaan luluh nan pilu membayangkan betapa kejamnya penyiksaan yang mereka rasakan saat itu.

Setelah lama dan puas mempelajari sejarah di museum tersebut, kami melanjutkan perjalanan sejarah Rezim Pol Pot berikutnya, Lapangan Pembantaian atau biasa disebut Killing Field dalam bahasa Inggris. Berdasarkan sejarah, ada lebih dari 2 juta orang yang disiksa dan dibantai secara massal di lapangan ini. Lapangan ini hanya berisi beberapa tugu dan kuburan massal. Lagi dan lagi kami bersedih mendengar cerita pembantaian di lapangan ini melalui audio pemandu. Kami tak terlalu lama di sini.

Kami melanjutkan kunjungan ke asrama-asrama mahasiswa lainnya yang ada di Phnom Penh. Kami berkenalan satu sama lain dan berbagi cerita terkait dunia pendidikan dan dunia Islam. Tak hanya itu, kami juga berdiskusi mengenai kebudayaan negara kami masing-masing. Senang sekali rasanya dapat mengenal dan bercerita satu sama lain. 

Hari keempat, tiba waktunya kami berkunjung ke kampus-kampus Paragon yang dimulai dari tingkat TK sampai dengan universitas. Kami mengawali hari dengan mengunjungi universitasnya terlebih dahulu. Kami diajak mengelilingi ruangan yang ada di kampus dan kami juga dijamu oleh rektor kampus tersebut. Kami berdiskusi mengenai dunia pendidikan. Setelah itu, kami beranjak mengunjungi TK yang tidak jauh dari sana. Saya tidak mengira kalau itu adalah gedung taman kanak-kanaknya. Awalnya saya mengira ini adalah Sekolah Dasar. Sebab gedungnya cukup besar dan fasilitas di dalamnya lengkap. Kami diajak berkeliling ke setiap ruangan, kami takjub dengan sekolah ini. Biasanya TK di Indonesia hanya sampai jam 10 pagi atau sampai jam 12 siang, kemudian pulang. Namun, murid di sini berada di sekolah sampai jam 3 petang. 

Kemudian kami beranjak berjalan kaki mengunjungi sekolah dasarnya yang sangat dekat di sana. Sekolah dasar (SD) di sini juga sangat menakjubkan dengan fasilitas dan materi pembelajaran yang ditawarkannya. Siswa sudah diajarkan untuk mengoperasikan komputer, bahkan diajarkan untuk menjalankan aplikasi pemrograman. Di sini juga ada kelas robotik dan siswanya juga rutin mengikuti perlombaan robotik yang ada. Selain itu, ada berbagai laboratorium di sini, seperti laboratorium Komputer, Kimia, Fisika, Biologi, dan sebagainya. Selain itu, untuk menunjang aktivitas olahraganya, di sini cukup lengkap dengan berbagai fasilitas lapangan serta terdapat juga kolam renang di dalam sekolahnya. Dari segi fasilitas dan kurikulum yang ditawarkan, sekolah ini sangat modern dan canggih.

Setelah takjub dengan SD-nya, kami selanjutnya mengunjungi gedung SMP dan SMA-nya yang disatukan dalam satu gedung yang sama. Fasilitas di sekolahnya lebih lengkap daripada sekolah dasar sebelumnya tadi. Kami bertemu guru yang berasal dari Indonesia dan diajaknya berkeliling sekolah. Hari ini kami menghabiskan waktu berkeliling kampus yang membuat kami belajar banyak mengenai pendidikan yang berkualitas.

Hari kelima, kami mengawali pagi dengan membaca buku sampai jam 12 siang. Buku yang kami baca sebelumnya sungguh menginspirasi dan terkadang menyayat hati. Meresapi inti sarinya membuat air mata merintih. Membaca buku terkadang baik sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri. Hari ini, kami diajak jalan-jalan dan berbelanja di pusat oleh-oleh untuk persiapan kepulangan esok. Hingga hari mulai petang, kami berniat ingin bermain wahana hiburan seperti ice skating, tetapi ternyata waktu kami terlalu mepet. Kami pulang ke asrama dan malam ini kami mengadakan fun football bersama mahasiswa-mahasiswa Kamboja di sana. Seru sekali rasanya dapat mengakrabkan diri melalui permainan sepak bola. Kami dapat mengobrol dan bercerita lagi satu sama lain.

Keesokan harinya, kami menyiapkan diri untuk pulang ke Indonesia. Setelah selesai salat Jumat, kami bergegas menuju ke bandara. Lima hari berkunjung ke negeri orang tak terasa lamanya. Kami sangat bersyukur atas kesempatan yang kami dapatkan ini. Melalui perjalanan ini, kami dapat memahami satu sama lain. Mengunjungi belahan dunia yang lain memang memberikan pembelajaran yang berarti. Kami dapat belajar banyak hal baru yang menjadikan semangat kami untuk masa depan lebih membara. Sedih rasanya berpisah dengan teman-teman di Kamboja. Namun, setiap pertemuan adalah awal dari perpisahan. Kami tetap bisa saling berkomunikasi dan berbagi tawa meskipun melalui media daring. Terima kasih atas lima hari yang tak akan pernah terlupakan dalam hidup ini!

mengembangkandiri.com (3)

TAWAKAL KEPADA ALLAH

Dunia merupakan tempat bagi seorang mukmin untuk mengabdikan diri kepada Tuhan-Nya. Selain sebagai ladang amal bagi kehidupan kekal di akhirat kelak, dunia juga menjadi tempat ujian yang harus dilalui dalam rangka memantaskan diri meraih predikat taqwa. Karena itu, seorang mukmin selalu mengaitkan segala macam perilakunya agar sesuai dengan tuntunan Allahﷻ. Dalam setiap gerak-geriknya, ia memiliki kesadaran utuh bahwa Allahﷻ senantiasa mengawasinya dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari kemudian.

Kesadaran semacam ini akan mengantarkan seorang mukmin kepada tingkatan ihsan. Ia selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia. Ia selalu saja menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam hal yang dilarang-Nya. Karena ia percaya bahwa tidak ada satupun yang luput dari pengawasan Tuhannya. Bahkan dalam suasana spiritual seperti ini, ia tidak pernah berkata sia-sia atau menginjak seekor serangga karena takut akan tanggung jawab kelak di hadapan Tuhannya. Bagi mukmin seperti ini, jelas orientasinya adalah mencari rida Ilahi.

Sejarah membuktikan bahwa sosok-sosok agung seperti inilah yang telah mewarnai zaman keemasan Islam. Mereka merupakan sosok pelita yang ditunggu kehadirannya untuk menerangi dan memajukan peradaban. Mereka adalah pribadi-pribadi yang telah berhasil menempatkan kepentingan Allahﷻ, Rasul-Nya serta umat manusia jauh melebihi keunggulan dirinya. Mereka bukanlah pribadi egois dan oportunis yang hanya mengharapkan pujian dan tepuk tangan manusia, bahkan sebaliknya sosok-sosok agung itu mampu merangkul manusia zamannya untuk bersama menggapai rida Allahﷻ.

Dalam sejarah perjalanannya, bukan berarti mereka tanpa halangan dan cobaan. Jauh sebelum mereka bergerak, mereka sadar bahwa tugas yang diemban tersebut merupakan perkara agung dan akan menghadapi risiko yang harus dilalui. Dengan memantapkan diri dan berserah diri di hadapan Tuhan, mereka terus bergerak menyebarkan nilai-nilai luhur Islam yang mereka yakini. Padahal ada banyak para penentang yang tidak menginginkan keagungan nilai-nilai itu tersebar dan membumi. Namun sosok agung itu berujar tegas, “Apapun pendapat mereka tentang kita, dengan izin dan inayah Allahﷻ, kita tetap berpikir tentang Islam.”

Mereka tidak sedikit pun terpengaruh oleh halangan-halangan itu, bahkan tidak ada rasa dendam dan permusuhan yang justru menghalangi gerak niatnya mencari rida Allahﷻ. Sebaliknya mereka tetap menjalankan tugas untuk menegakkan keharmonisan di bumi, membangun perdamaian, memberantas kebodohan, dan mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan ke tengah-tengah umat. Harus kita akui, mereka telah menjalaninya dengan sukacita dan penuh cinta kepada sesamanya. 

Sungguh dengan kondisi umat yang ditinggal berantakan selama beberapa abad sekarang ini, betapa kita merindukan sosok-sosok agung itu. Mereka adalah ksatria cinta yang memenuhi relung batin kita yang saling bermusuhan, penuh kebencian, dan hampa kasih sayang. Mereka adalah mentari yang menyinari dan membakar semangat hidup beragama dan persaudaraan sesama manusia. Dan bagaikan mesin, mereka menggerakkan kejumudan berpikir, kemandekan langkah berbuat, dan kekosongan peradaban seperti yang kita rasakan saat ini. 

Sekarang, kita berharap sosok itu adalah kita, kalau bukan kalian atau mereka. Karena itu, tugas kita saat ini adalah memantaskan diri untuk bersama meraih rida-Nya. Mari bersama kita tumbuhkan semangat beragama, serta semangat berbakti kepada nusa dan bangsa. Hingga kita pun dapat meraih kehidupan yang mulia, baik di dunia yang sementara maupun di akhirat kelak yang kekal selama-lama. Wassalam.

mengembangkandiri.com man-standing-on-a-mountain-and-looking-out-over-the-scenery-picjumbo-com

SOSOK YANG MENGABDIKAN HIDUPNYA DEMI KEMANUSIAAN

Suatu hari ketika saya tinggal di kota Izmir, Seseorang datang kepada saya dan dia meminta maaf. “Saya berkata kepadanya, saya tidak kenal dengan Anda kenapa anda mintak maaf kepada saya?”, Dia berkata “selama lima tahun saya diam-diam mengikuti Anda, tugas saya adalah memata-matai Anda, sampai saat ini saya tidak pernah melihat bahwa Anda mengikuti partai dan mendukung pimpinan tertentu, tapi hanya satu yang saya lihat bahwa Anda sangat peduli dengan  siswa, mahasiswa dan generasi muda. Alasan saya memintak maaf kepada Anda adalah suatu hari ketika saya sedang memata-matai Anda dari kejauhan.

Pada saat itu musim dingin dan salju pun turun, yang mana biasanya salju jarang turun di kota Izmir. Pada waktu itu saya melihat Anda dengan satu orang siswa. Saya perhatikan siswa itu telah melaksanakan salat dengan kaki terlanjang, lalu di depan pintu masjid Dia memeras kaos kakinya yang basah dan berlumpur. Begitu Anda melihat siswa tersebut Anda menemuinya dan mengusap pundaknya. Saya tidak bisa mendengar Anda dengan jelas tetapi sepertinya Anda berkata kepada siswa itu ”tunggu sebentar disini” lalu anda pergi dan datang kembali dengan membawa sepasang sepatu dan kaos kaki. Anda berkata kepada siswa tersebut “pakailah ini” Anda membuat siswa itu tersenyum lalu Anda pergi meninggalkannya. Seandainya Anda tidak memberikan sepasang sepatu dan kaos kaki kepada siswa tersebut, maka siswa itu akan pergi ke sekolah dengan memakai sepatu dan kaos kaki yang basah dan penuh lumpur. Pada saat itu yang Anda lakukan sangat menyentuh hati saya dan saya langsung berfikir, orang seperti anda tidak mungkin melakukan kejahatan apapun kepada negara  atas dasar pemikiran itu saya memantapkan diri untuk datang dan meminta maaf kepada Anda. Dan kita bercerita bahwa ia juga mempunyai seorang anak yang sedang menempuh pedidikan tingkat SMA.

Apakah Anda bersedia membimbing dan membina anak saya juga?

Saya menjawab, tentu saja saya bersedia, karena ini adalah tugas saya. Kemudian saya mulai membimbing anaknya lalu saya menjelaskan tentang Allah, akhirat, tujuan kedatangan kita di dunia ini, berbuat baik dan hormat kepada orang tua, karena mereka adalah sebab kita ada di dunia. Setelah satu bulan ayahnya datang kembali dan berkata “ Pak, saya sangat merasa malu kepada anak saya karena dia sudah mulai melaksanakan salat sedangkan kita sebagai orang tuanya tidak melaksanakan salat”.

Pada waktu itu pun saya berkata mari kita juga menunaikan perintah sang pencipta kita. Setelah 10-15 tahun berlalu, seorang berteriak di belakang saya “Pak”, saya melihatnya, ternyata dia adalah anak yang saya bimbing dan saya bina waktu itu, dia sudah lulus S1.

Dia berkata : “Ayah saya mengundang Anda”, Lalu kita pergi bertemu ayahnya dan kita minum the bersama dan ayahnya berterimakasih kepada saya.

Ayahnya berkata : “Alhamdulillah waktu itu kita dalam kekosongan dan sekarang kita faham betul kenapa kita dikirim ke dunia. Saya berterimakasih sekali, Anda menjadi perantara bagi kita untuk mewujudkan kebahagiaan dan ketentraman dalam keluarga kita”.

Semoga Allah senantiasa memudahkan jalan dakwah kita Amminn……

toa-heftiba-9n_tf0_YANE-unsplash

Semester 5

Semester 5 Rencana Merealisasikannya
Buku Lain Nashaihul Ibad Imam Nawawi | Fihi Ma Fihi Rumi Ujiankan sebulan sekali (memaksimalkan momen minikamp)
Buku Risalah Lamaat Pilihan 1 Diselesaikan dalam 15 pertemuan sohbet/Diujikan di desember
Buku Referensi Kendi Yang Retak | Guru di Perantauan Diselesaikan di Kamp Semester
Talaqqi Bacaan Quran al Fatihah-Maryam Diselesaikan dalam semester 5
Tajwid Praktik Membaca Mengundang Ustaz Berkompetensi Qiraah
Hafalan At Thariq, al Buruj, Al Insyiqaq Dicicil di Minikamp dan Kamp Besar, dicatat saja
Terjemah 100 hlm, Thaha-Al Ankabut Dibaca habis salat 1 halaman, 1 Agustus
Fiqih Hal Makruh dan Istihsan (Buku Rujukan: ?) Hal Makruh di Minikamp | Istihsan di Kamp Semester
Hadis Setiap habis salat 2 halaman, 1 Agustus
Hafalan Hadist 5 hadist arbain lainnya Kamp Semester, bisa hafal 2-3 hadits udah bagus
Zikir dan Doa Seminggu sekali selesai jausyan dan tauhidname | mengenalkan al Qulubud daria
Nonton Train to Busan & Keluarga Cemara Satu Semester Sekali
Seminar 1. Iman dan Aksi Para Sahabat | 2. Unsur-Unsur Ujian | 3. Tamparan Kasih Sayang | 4. Enam Serangan | 5. Faktor Sarana didalam Tabligh/Berdakwah. Satu Semester Sekali
popularity

Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas

“Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas”

Said Baru sebagaimana Said Lama, betul-betul menolak, tidak pernah dan tidak akan pernah mau menerima penghormatan kepada dirinya; tidak akan pernah mau mencari perhatian kepada dirinya, serta tidak akan pernah mau mencari popularitas dan kemuliaan.

Lampiran Emirdag, 1/117

Penjelasan

Bagian ini diambil dari salah satu bab pada buku Lampiran Emirdag dan buku Tarihce Hayati di bagian Kehidupan di Emirdag, tepatnya di artikel yang berjudul “Tiba-tiba diperingatkan; Aku pun terpaksa menulis”.

Lewat topeng komite rahasia yang dipegang oleh pihak asing dimana benang-benangnya terhubung pada orang-orang tak beragama, untuk meruntuhkan pengaruh pengabdian kepada iman dan Al Quran, mereka secara terang-terangan menghina dan mencaci-maki Ustaz guna menghapuskan atensi dan perhatian masyarakat kepada pengabdiannya. Ustaz pun menyatakan bahwasanya dirinya memang tidak menginginkan atensi dan perhatian tersebut. Ustaz memberi tahu bahwasanya pengabdiannya ini merupakan pelindung dari usaha-usaha anarkis dari pihak luar yang berusaha masuk ke tanah airnya. Ustaz memberi tahu bahwa pengabdiannya ini merupakan titik pondasi terbesar dari rasa cinta kepada tanah air, serta bahwasanya ia berusaha mencetak rasa cinta kepada dunia Islam yang memiliki penduduk jutaan jiwa di tanah airnya.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Sumber: Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 12