kane-reinholdtsen-LETdkk7wHQk-unsplash

Etika dalam berbicara

Dalam pergaulan sehari-hari, etika berbicara itu penting, tidak boleh asal bicara. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, biasanya semakin tinggi pula etikanya dalam berbicara. Kelas pendidikan dan sosial sering menjadi faktor pembeda dalam berbicara.

Bahkan bahasa yang digunakan dan cara berbicara kepada orang yang lebih muda dari kita akan berbeda dengan bahasa dan cara berbicara kepada teman sebaya, begitu juga dengan orang yang lebih tua dari kita. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berbicara :

  1. Jangan gunakan nada bicara yang tinggi

Nada bicara yang tinggi biasanya mencerminkan emosi kemarahan. Lawan bicara akan merasa seperti di marahi atau dianggap mengalami kekurangan pendengaran. Cara ini akan mengurangi respon positif dari lawan bicara. Nada bicara yang normal dan jelas akan lebih enak didengarkan dan lebih berkenan di hati lawan bicara, terutama saat berbicara dengan guru di kelas dan orang yang lebih tua. Komunikasi akan lebih lancar dan apa yang disampaikan akan lebih di pahami.

  1. Berkata baik atau diam, gunakan kata yang halus (bahasa yang baik dan benar)

Berpikir sebelum berbicara akan lebih baik dari pada harus salah bicara karena tidak dipikir dulu. Dengan berpikir, kita akan menemukan kata yang lebih halus untuk mengungkapkan apa yang ingin disampaikan. Kata yang lebih halus akan lebih enak didengar dan lebih mudah mendapatkan respon positif dari pendengar. Bahasa dapat menunjukan kualitas kepribadian dan latar belakang seseorang. Dan tentunya tidak boleh menggunakan kata-kata yang kasar, apalagi yang meninggung hati lawan bicara. Hindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Terakhir jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna atau sia-sia. Sedikit Bicara Lebih Utama

  1. Jangan memotong pembicaraan

Komunikasi yang baik adalah 2 arah. Orang yang hanya banyak bicara dan tidak mau mendengarkan pembicaraan lawan bicara akan memunculkan pikiran tentang karakter egois pada diri kita. Berilah kesempatan pada lawan bicara untuk menyampaikan pertanyaan atau opini maka dia akan merasa lebih dihargai.

  1. Tatap mata lawan bicara

Yang dimaksud disini bukan memelototi tetapi menatap dengan tatapan wajar. Lawan bicara akan merasa tidak dihargai jika kita melengos memperhatikan hal lain dalam waktu cukup lama. Orang akan merasa tidak dihargai jika yang diajak bicara membagi fokusnya pada hal lain seperti gadget.

  1. Sebut nama mereka dengan awalan Pak atau Bu

Menyebut nama akan lebih sopan dan lebih enak di dengar dari pada menggunakan kata “kamu”. Berikan panggilan Bapak, Ibu, Mas, Mbak atau Abi yang diikuti namanya.

  1. Dilarang Membicarakan Setiap yang Didengar

Dunia kata di tengah umat manusia adalah dunia yang campur aduk. Seperti manusianya sendiri yang beragam dan campur aduk; shalih, fasik, munafik, musyrik dan kafir. Karena itu, kata-kata umat manusia tentu ada yang benar, yang dusta; ada yang baik dan ada yang buruk.

  1. Jangan Senang Berdebat Meski Benar

Saat ini, di alam yang katanya demokrasi, perdebatan menjadi hal yang lumrah bahkan malah digalakkan. Ada debat calon presiden, debat calon gubernur dan seterusnya. Pada kasus-kasus tertentu, menjelaskan argumentasi untuk menerangkan kebenaran yang berdasarkan ilmu dan keyakinan memang diperlukan dan berguna.

Tetapi, berdebat yang didasari ketidaktahuan, ramalan, masalah ghaib atau dalam hal yang tidak berguna hanya membuang-buang waktu dan berpengaruh pada retaknya persaudaraan dan menimbulkan permusuhan.

  1. Dilarang Berdusta Untuk Membuat Orang Tertawa

Dunia hiburan (entertainment) menjadi dunia yang digemari oleh sebagian besar umat manusia. Salah satu jenis hiburan yang digandrungi orang untuk menghilangkan stress dan beban hidup yang berat adalah lawak. Dengan suguhan lawak ini orang menjadi tertawa terbahak-bahak, padahal di dalamnya campur baur antara kebenaran dan kedustaan, seperti memaksa diri dengan mengarang cerita bohong agar orang tertawa

  1. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba

Ghibah adalah membicarakan orang lain di belakang orang yang kita bicarakan

boris-smokrovic-RLLR0oRz16Y-unsplash

Tanggung Jawab ini Besar dan Bebannya ini Berat

Sekelompok pemburu telah melukai seekor burung, dan makhluk malang tersebut berusaha untuk kabur. Dengan penuh susah payah, burung tersebut terus mencoba untuk bisa terbang menjauh, namun para pemburu terus mengejarnya. Tidak ada tempat bersembunyi untuknya. Dimana saja si Burung bersembunyi, pemburu menemukannya, dan dimana saja si Burung mendarat, para pemburu melacaknya.

Jantung burung kecil itu terus berdetak kencang, penuh ketakutan. Dimanapun si Burung berhenti untuk menghela nafas, tembakan senapan dari Pemburu mengarah ke arah si Burung malang. Pemburu-pemburu tersebut menikmati tantangan memburu si Burung; pengejaran tersebut menambah keseruan dalam perjalanan berburu mereka. Rasa belas kasihan sudah hilang dari hati mereka. Mereka sudah tidak peduli dengan kondisi tidak berdaya, lemah, dan rapuh dari si Burung kecil. Mereka tidak menunjukan sedikitpun rasa ampun, dan itu akan terus berlanjut sampai mereka membunuh makhluk malang tersebut. Tercium bau kematian saat peluru senapan ditembakan satu demi satu, bau bubuk senapan menyebar luas ke sekitar.

Sekarang, Si Burung hanya memiliki satu kesempatan terakhir untuk kabur, karena energinya sudah habis terkuras. Tiba-tiba, dia melihat sekelompok manusia duduk di kejauhan. Ada seorang Sheikh duduk di tengah-tengah kelompok tersebut, sedang berzikir dan bersholawat. Si Burung menggunakan energi terakhirnya untuk terbang menuju sekelompok orang tersebut. Dengan instingnya, Si Burung terbang ke dalam sorban dari Sang Sheikh, mencoba untuk bersembunyi. Si Burung sudah menemukan tempat untuk berlindung.

Sang Sheikh merasakan sesuatu bergerak-gerak di atas kepalanya dan dengan panik, meraih benda tersebut. Saat Sang Sheikh menangkapnya dengan tangan -karena Si Burung dalam kondisi yang sangat rapuh- makhluk malang tersebut terbunuh.

Singkat cerita, pada Hari Penghakiman, si Burung kecil mengajukan keluhan terhadap Sang Sheikh yang membunuhnya dulu. Sang Sheikh tidak membunuh Si Burung dengan sengaja, karena saat itu, dia tidak tahu apa yang dia akan raih dari atas kepalanya. Setelah menyadarinya pun, Sang Sheikh merasa sangat menyesal karena dia telah membunuh si Burung kecil. Karena alasan ini, Beliau tidak bersalah. Akhirnya Si Burung menerima, namun dia mengajukan permintaan terakhir yaitu:

“Aku punya permintaan. Saya mencari perlindungan di dalam sorban tanpa ragu karena percaya bahwa saya akan mendapat perlindungan karenanya. Mulai sekarang, orang yang tidak menjaga dan menghormati amanah ini tidak diijinkan memakai sorban agar makhluk lain tidak jatuh ke situasi yang sama seperti saya!”

Nilai moral dari kisah ini adalah bahwa generasi kita sedang mencari suatu tempat perlindungan sehingga mereka terlindungi dari kejamnya jebakan para pemburu. Kemanusiaan sudah jatuh kedalam rawa penuh dosa. Kemanusiaan sedang berjuang dan menangis karena tenggelam semakin dalam ke dalam pasir hisap. Kemanusiaan lah yang bertanggung jawab untuk setiap pemuda yang menjadi pecandu narkoba, karena tidak ada orang yang merangkul mereka, dan kemanusiaan lah yang juga bersalah atas setiap pemuda yang kehilangan kesuciannya, tidak melihat darimana bangsa, ras, atau warna kulit mereka. Rumah sakit, penjara, dan tempat pemakaman sedang berteriak meminta bantuan!

Inilah tanggung jawab besar kita, dan bebannya sangatlah berat. Tidak ada seorangpun yang boleh memupuskan harapan mereka yang sedang kabur dari api penderitaan ini, mereka sedang mencari perlindungan. Selama kita tidak bisa melepas kain iman dari pundak kita, maka kita harus menunjukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menjaga dan menghormati sorban ini.

Dari Akar, Mehmet, Mesel Ufku, Istanbul: Timas, 2008, hal. 103

jisun-han-cl9KWGDf52E-unsplash

Potret Maknawi Sang Bediuzzaman : Tidak Takut Akan Siksa Neraka, Tidak Berhasrat Akan Kenikmatan Surga

     Bediuzzaman Said Nursi menjelaskan perasaan rohaniah dan pemikirannya yang begitu dalam kepada Esref Edip mengenai pengabdian terhadap agama : “Satu-satunya hal yang membuatku menderita ialah bahaya yang sedang dihadapi umat Islam. Pada masa silam, bahaya berasal dari luar. Namun sekarang, berbagai bahaya itu berasal dari umat Islam sendiri. Sangat sulit untuk melawannya.  Diriku amat takut bila umat tidak mampu menahannya, dikarenakan mereka tidak mengetahui keberadaan musuh. Mereka seolah-olah menganggapnya sebagai teman.”

     Beliau melanjutkan, “Apabila pandangan masyarakat telah buta, benteng keimanan umat Islam akan berada dalam bahaya. Hanya itulah yang kupedulikan sekarang. Diriku bahkan tidak pernah punya waktu untuk memikirkan semua siksaan and penghinaan yang telah kurasakan. Yang kuinginkan hanyalah keselamatan umat. Itu sudah cukup bagiku. Apabila hal tersebut terwujud, diriku tidak akan keberatan dan bersedia untuk mengalami penderitaan yang lebih pedih.”

     “Yang sedang kubicarakan adalah pondasi utama masyarakat Islam. Iman, kalbu, dan nilai-nilai keislaman. Ketiga hal tersebut kuajarkan di bawah naungan persatuan dan keimanan sebagaimana termaktub dalam Alquran. Ketiga hal inilah yang menjadi pilar utama umat Islam. Tanpanya, umat akan hancur suatu saat nanti.”

     Mereka bertanya kepadaku, “Mengapa Anda mengambil barang ini dan itu?”. “Aku bahkan tidak menyadari hal ini. Kobaran api menyala-nyala di hadapanku, membumbung ke atas langit. Anak-anakku terbakar membara dalam api kekufuran. Begitu pula diriku. Kucoba berlari mendekati kobaran api dan memadamkannya. Aku akan menyelamatkan agamaku sendiri.” Ia beralasan, “Apakah masuk akal bila ada seseorang yang ingin berurusan dengan orang yang berhasrat menjebaknya? Dalam keadaan bahaya ini, seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan dari setiap perbuatan kecil manusia?”

     Bediuzzaman dengan tegas berkata, “Apakah mereka berpikir diriku adalah seseorang yang egois? Seseorang yang hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Tentu saja tidak. Kukorbankan seluruh dunia dan akhiratku untuk menolong umat. Diriku tidak takut pada siksa neraka dan tidak berhasrat akan kenikmatan surga. Untuk keselamatan dua puluh lima juta orang Turki, tidak hanya satu Said yang akan mengorbankan dirinya. Pasti ada ribuan Said lain yang akan melakukan hal sama. Apabila tidak ada seorang pun yang tunduk pada ajaran Alquran, diriku tidak akan menginginkan kenikmatan surga. Itu akan menjadi penjara bawah tanahku. Lebih baik diriku terbakar api neraka.”

     “Dalam 80 tahun kehidupanku, diriku tidak prnah mengetahui secuil pun kenikmatan duniawi. Hidupku habis di dalam penjara bawah tanah, pengadilan, dan pengasingan. Ditambah lagi, kehidupanku dipenuhi dengan kesedihan, penderitaan, dan kesulitan. Kukorbankan semua jiwa dan ragaku untuk keselamatan umat. Lisanku bahkan tidak mampu mengutuk kezaliman mereka. Hanya satu alasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan umat melalui buku Risalah Nur karanganku.”  Memang hal itu sebuah fakta. Berdasarkan penuturan jaksa Afyon, Said Nursi telah menyelamatkan iman 500.000 Muslim atau mungkin lebih banyak, MasyaAllah.

     Bediuzzaman adalah seseorang yang siap mengobankan jiwa dan raganya untuk keselamatan umat Islam. Sehubungan dengan hal tersebut, beliau tidak tanggung-tanggung. Beliau melakukan perjaanan ke puncak maknawi tertinggi, Beliau memaafkan semua orang yang telah menyiksanya. Begitu mulianya pribadi beliau!

     Beliau melupakan semua rasa sakit dan derita yang dialaminya dengan penerimaan satu orang akan keimanan yang suci. Beliau menganggapnya sudah cukup untuk membalas semua penderitaan yang beliau alami. Beliau berjalan di atas cakrawala Baginda Rasulullah yang bercahaya. Siapakah yang lebih kuat dibandingkan dengan orang yang memiliki kepercayaan dan ketundukan penuh kepada Tuhannya? Bagaimana gelapnya ruang pengadilan, penjara, atau kematian dapat melukainya?

     Beliau dengan rasa rendah hati menuturkan, “Sejak diriku tahu bahwa Risalah Nur menyelamatkan kalbu orang-orang yang membutuhkan rasa iman, maka biarkanlah seribu Said mengorbankan dirinya. Diriku telah memaafkan siapa saja yang menzalimi dan menyiksaku selama 28 tahun lamanya. Tidak perlu diragukan, diriku telah memaafkan siapa pun yang mengusirku dari satu kota ke kota lainnya. Kumaafkan semua orang yang menghina dan menuduhku atas banyak hal sehingga membuatku dipenjara! Kumaafkan mereka yang telah melemparkan ragaku yang lemah ini ke dalam penjara bawah tanah!”

   “Kukatakan kepada takdir yang selalu adil, diriku pantas menerima tamparan kasih sayang. Jikalau diri ini hidup seperti kebanyakan orang, yang melulu berpikir tentang dirinya sendiri dan selalu mengambil jalan termudah tanpa adanya pengorban jiwa dan raga, niscaya diriku akan kehilangan kekuatan untuk mengabdi kepada agama. Aku telah mengorbankan semuanya. Aku berhasil bertahan dari semua penderitaan pahit. Aku bersabar atas semua siksaan yang pedih. Pada giliranya, realita keimanan sudah tersebar ke segala penjuru. Lembaga pendidikan berbasis Risalah Nur telah berkembang menjadi ribuan dengan jutaan murid yang berdatangan. Mulai sekarang, mereka akan melanjutkan jalan pengabdian ini. Mereka tidak akan menyimpang dari misi pengorbanan ini. Mereka akan melakukan semuanya hanya untuk meraih rida Ilahi semata.” 1

1. Nursi, Bediuzzaman Said, Risale-i Nur Kulliyati-2. Istanbul: Nesil, 1996, hal. 2206

marek-piwnicki--7B7Vvk3KlQ-unsplash

Ambil Tongkat itu, Kami Pantas Dihukum!

Di lingkungan sekolah, nilai moral dan budaya seharusnya diajarkan dengan porsi yang sama dengan pelajaran umum lainnya, sehingga generasi dengan karakter dan semangat yang kuat dapat membentuk bangsanya menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera. Mengajar dan mendidik adalah sesuatu yang berbeda. Banyak orang bisa menjadi seorang guru, namun tidak semua orang bisa mendidik. Menjadi seorang guru-pendidik bergantung kepada perasaan bertanggung jawab dan menjadi penuh perhatian dan menanggung beban amanah di waktu yang bersamaan. Memberi pengaruh ke hati para siswanya hanya bisa dicapai melalui tingkat perasaan jiwa seperti itu.

Kejadian berikut bisa menjadi contohnya:

Pak Ari datang menemui Pak Dimas dalam keadaan panik, “Mereka kabur lagi! Sudah berapa kali kita nasehati, tapi tetap saja mereka melakukannya lagi! Mereka tidak mendengar nasehat kita. Ini sudah ketiga kalinya mereka kabur!”

Pak Dimas bertanya, “ Kali ini, mengapa mereka kabur?”

“Saya kurang tahu; mereka ingin hidup seperti anak nakal,” balasnya

“Bagaimana Anda bisa menangkap mereka terakhir kali, Pak?”

“Pertama, kami temukan mereka di terminal bus dan kedua kalinya mereka kabur, kami menemukan mereka tidur di bangku yang ada di taman. Saat itu, kondisinya sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) jadi polisi menemukan mereka dan menginformasikan kepada kita. Kami datang dan membawa mereka kembali. Kami sudah menasehati kepada mereka tentang perilaku mereka itu sangat beresiko, namun mereka tidak paham-paham.”

Sementara itu, ketiga pelajar yang sedang kabur memutuskan untuk membeli tiket kereta api. Kondektur yang sudah berpengalaman di stasiun kereta api menyadari bahwa anak-anak tersebut sedang kabur.

Dia berkata kepada mereka, “ Dengar nak, di sini bukan tempat yang aman, berikan tiket dan uang kalian dan saya akan menyimpannya. Saat kereta datang, saya akan mengembalikannya.” Anak-anak itu menyadari bahwa itu alasan yang masuk akal dan memberikan tiket mereka ke pak kondektur.

Pak kondektur pun menginformasikan ke polisi di stasiun kereta api dan meminta mereka untuk menginvestigasi anak-anak tersebut. Pak polisi bersikap baik terhadap mereka dan bertanya tentang kondisi anak-anak itu. Pak polisi menemukan nama asrama tempat mereka kabur. Segera Beliau menelpon pihak sekolah dan Pak Dimas yang mendapat informasi tersebut langsung tancap gas menuju ke stasiun. Beliau menjemput ketiga anak kabur itu dan membawanya kembali ke sekolah. Saat itu beliau ingin menghukum mereka secara berat, karena mereka sudah sering kabur sebelumnya. Saat tiba di sekolah, Beliau melihat Pak kepala sekolah dan berubah pikiran untuk menghukum siswa-siswanya. Beliau menceritakan kejadiannya ke Pak kepala sekolah.

Pak kepala sekolah berkata, “ Carikan saya 3 tongkat besi dan pastikan tongkat itu cukup tebal, saya tidak ingin tongkat itu mudah bengkok saat saya memberi pelajaran ke tiga siswa ini. Saya ada kelas sekarang, bawa 3 tongkat itu setelah saya selesai kelas.”

Pak Dimas keluar sambil berpikir, “Bukankah satu tongkat besi saja cukup? Tongkat besi tidak semestinya mudah patah seperti batang kayu biasa.” Kemudian beliau berpendapat, “ Saya harus menghormati beliau, pasti ada pelajaran penting dari ini.”

Setelah beberapa menit, dia kembali dengan menggenggam 3 batang tongkat besi di tangannya. Pak kepala sekolah pun sudah selesai dari kelasnya dan ketiga siswa tadi menunggu didepan pintu seperti pasien yang sedang menunggu untuk dioperasi, dengan rasa takut terlihat di mata mereka. Pak kepala sekolah memanggil mereka “Masuk anak-anak.” Kemudian Beliau menghadap ke Pak Dimas dan berkata kepadanya, “ Sini Pak Dimas, silakan lepas kemeja Anda, saya juga akan melakukan hal yang sama.” Kemudian Beliau melihat siswa-siswanya dan berkata, “ Ini ambil tongkat besinya masing-masing! Kami pantas untuk dihukum. Jika kami adalah contoh dan teladan yang baik, jika kami berhasil menyentuh hati kalian, kalian tidak akan berbuat hal bodoh seperti itu. Kami lah yang pantas untuk hukuman ini. Punggung kami terbuka, pukul sebanyak yang kalian mau.”

Ketiga siswa yang tadinya masuk dalam keadaan wajah pucat dan ketakutan setengah mati sekarang terkaget-kaget. Tongkat-tongkat besi tadi terjatuh dari tangan mereka dan mereka pun bersimpuh di lantai, menangis. Mereka mengaku bersalah kepada Pak kepala sekolah, “Tolong Pak, hukum saja kami apapun kehendak Bapak, patahkan kaki kami namun maafkan kami Pak.” Pak kepala sekolah cukup serius tentang keputusannya untuk menghukum dirinya sendiri. Namun, ketulusan permohonan dari siswa-siswanya menggugah hatinya. Akhirnya, Beliau berubah pikiran dan memutuskan untuk tidak bersikeras lagi. Tidak ada lagi siswa yang kabur dari asrama sekolah tersebut setelahnya.

Terinspirasi dari:

Refik, Ibrahim, Hayatin Renkleri, Istanbul: Albatros, 2001, p. 154

photo-1510784722466-f2aa9c52fff6

Tauhid 8 – Bahasa Sikap

Orang-orang yang memiliki atusiasme tinggi akan menceritakan kondisi mereka, kegembiraan dan keadaan hati mereka. Mereka akan memproyeksikan superiotas perasaan mereka ke sekitar. Mereka akan melakukannya baik dengan kata-kata atau perilaku mereka. Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah menyebutkan bahwa yang pertama adalah tentang pandai berbicara. Kita juga telah menyebutkan bahwa mereka yang menjalankan misi dakwah dengan kata-kata, mereka disebut pandai berbicara. Jika perilaku tidak sejalan dengan perkataan, dengan kata lain berwajah dua, mereka akan mencoba untuk membungkam lawan bicaranya atau menipu orang lain.

Ketika perilaku sesuai dengan perkataannya, maka segala sesuatu yang ingin diceritakan masuk ke dalam hati dan diterima. Hanya dengan begitu lingkaran cahaya akan terbentuk di sekitarnya seperti yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw. Karena alasan inilah perilaku dan kemurnian hati dianggap sebagai faktor terpenting dalam menceritakan kebenaran. Hal itu membutuhkan struktur hati dan struktur spritual yang bebas dari dendam, permusuhan, amarah, iri hati dan hanya memikirkan Allah yang Maha Esa. Untuk itulah, Guru kita Ustad Said Nursi memberikan kabar gembira:

“Bila kita memperlihatkan kesempurnaan akhlak Islamiyah dan hakikat keimanan dengan perilaku, maka pasti para pengikut agama lain akan masuk Islam secara berbondong-bondong.”

Suatu ketika, Umar r.a. naik ke atas mimbar. Tanpa harus menunggu untuk khutbah di hari jumat, Umar r.a terkadang memanfaatkan waktu naik ke mimbar. Ia menjelaskan dan menceritakan beberapa masalah agama kepada publik seperti yang telah dilakukan Rasulullah Saw. Suatu hari ia naik ke mimbar dan berpidato kepada jama’ah: “Jamaah! Dengarkan dan pahami”, dia berkata. “Setelah anda mempelajarinya, bertindaklah sesuai dengan itu!”. Tiba-tiba terdengar suara yang merobek keheningan di dalam masjid. Pertahian seluruh masyarakat tertuju kepada pemilik suara. Seorang sahabat ini berdiri di depan mimbar menentang Umar: “Tidak! aku tidak akan mendengarkan dan aku juga tidak mau memahaminya!” katanya. Tidak ada yang tahu mengapa dia menolak Sayyidina Umar dan mengatakan semua hal ini. Tetapi hanya beberapa menit kemudian semuanya akan terungkap. Umar mengenakan kemeja mewah hari itu. Umar r.a sedang memberikan khutbah kepada publik dengan kemeja pertamanya. Kain baju itu adalah salah satu potongan kain yang dibagi dari hasil ghanimah perang sehari sebelumnya. Sahabat yang menolak Umar juga diberi selembar kain itu. Tapi dia tidak bisa menjahit kemeja itu karena tidak cukup untuk kemeja. Mungkin dia hanya bisa menjahit kemeja untuk salah satu anaknya. Ketika sahabat itu melihat baju utuh dipakai Umar, dia keberatan. Ini merupakan sebuah ketidakadilan, ia telah menyaksikan perlakuan penghinaan terhadap keadilan. Karena alasan ini, dia tidak mau mendengarkan Umar dan menyatakan bahwa dia tidak akan mendengarkan. Dia berkata “Saya tidak akan mendengarkan.” “Kenapa kamu tidak mau mendengarkan”, kata Umar. Khutbah tidak lagi didengarkan. Mereka fokus pada dialog antara salah satu sahabat dengan Umar. “Wahai Umar, takutlah kepada Allah”, katanya. “Kamu melakukan kezhaliman”, katanya. “Kemarin kamu memberiku sepotong kain, kamu juga mengambilnya. Kenapa saya tidak bisa menjahit kemeja untuk diri sendiri, sedangkan kamu bisa jadikan satu kemeja? Kemudian kamu berdiri di depan saya dan berkata “dengarkan saya dan pahami”. Saya tidak akan mendengarkan maupun memahami”. Umar r.a adalah orang yang tidak diam terhadap ketidakadilan. Dia sangat senang melihat sahabat seperti itu, yang blak-blakan mengatakan yang sebenarnya. Tapi dia perlu mengklarifikasi masalah tersebut. “Putraku Abdullah, berdiriilah, ceritakan tentang kisah baju ini”, kata Umar kepada putranya. Abdullah r.a pun berdiri dan menjelaskan kepada jamaah: “Ayahku mendapatkan sepotong kain, begitu pun saya, tetapi tidak ada yang cukup untuk menjadi sebuah kemeja. Oleh sebab itu, saya memberikan bagianku kepada ayahku agar dia punya baju baru saat memberikan khutbah kepada jamaah pada hari jumat. Inilah yang terjadi. Kalau tidak, bagian kain yang diperoleh ayahku tidak cukup untuk menjadi kemeja”. Sahabat yang tadi berkata dengan nada yang sama “Bicaralah Umar! Aku sedang mendengarkan sekarang” katanya. “Saya mendengarkan karena saya melihat kebenaran anda, karena saya melihat keadilan anda”, katanya.

Umar r.a menjalankan apa yang dia katakan. Satu yang dia katakan tetapi 10 yang ia lakukan. Perilakunya lebih benar dari pada perkataannya. Mungkin ada beberapa kesalahan dalam perkataannya, tetapi perilakunya adalah ekspresi, monumen kebenaran. Kita harus menjadi orang yang pandai bersikap, berteladan. Maka orang akan percaya pada kita, maka kebenaran akan menunjukkan efek yang diharapkan darinya. Maka hati akan menerima kebenaran yang mereka butuhkan dan akan menerimanya. Ketika perkataan kita ada di suatu lembah dan perilaku kita di lembah yang lain, tidak ada yang akan percaya pada kita selama kita hidup dengan cara munafik, berwajah dua, orang-orang tidak akan mengikuti kita.

Ya, saya ulangi sekali lagi perkataan yang sama. Para nabi telah meyatukan kata-kata dan perilaku. Mereka telah mempraktikkannya dalam kehidupan mereka sendiri apa yang mereka sampaikan kepada orang lain. Mereka tidak berwajah dua. Karena itu orang-orang mengikuti merekadan membentuk komunitas besar dan jamaah di sekitar mereka. Itu telah terjadi sampai abad ini. Orang-orang yang perilakunya sama jujurnya dengan perkataannya telah memobilisasi komunitas. Saat ini, jika ada seorang remaja yang kejujuran bisa dilihat dari wajah mereka, ini karena mereka yang tindakannya sama jujurnya dengan perkataannya. Ini telah disadari oleh mereka yang telah meninggalkan kesenangan duniawi, meninggalkan keinginan-keinginan mereka. Mereka yang tidak dapat menemukan apapun selain kardigan tua (pakaian yang dirajut) untuk dikenakan di punggung mereka, mereka yang meninggalkan kenikmatan duniawi, mereka yang sama sekali tidak melakukan ketidakadilan, mereka yang tindakannya bahkan lebih jujur dari perkataannya telah melakukannya dengan berkat dan pertolongan Allah SWT.

Jika anda ingin kata-kata anda memberi ruang di hati, -mungkin saya tidak akan bisa melakukannya sama sekali- tetapi jika anda benar-benar menginginkannya, maka anda harus memperhatikan penyatuan perilaku dan perkataan anda. Hindari sifat munafik dan mencoba untuk hidup dalam persatuan internal & eksternal. Jangan lupa bahwa Allah tidak mencintai mereka yang menjalani kehidupan ganda. Dalam Al-Quran mereka disebut dengan munafik. Semoga Allah SWT melindungi kita dari sifat munafik, berwajah dua, menjalani kehidupan ganda. Semoga Allah menganugerahi kita hidup dalam persatuan saat kita pergi menghadap-Nya.

gabriel-gheorghe-qTi4VCx-dh0-unsplash

Rasa Tanggung Jawab yang Ditunjukkan oleh Nabi dan Para Sahabatnya

Nabi kita yang mulia merasakan beban tanggung jawab begitu besar sehingga ketika Surat Hud diturunkan, jumlah rambut abu-abu di janggutnya bertambah sangat banyak. Mereka bertanya padanya:

“Wahai Rasulullah, akhir-akhir ini warna abu-abu di janggutmu bertambah sangat banyak.”
Beliau menjawab: “Surah Hud telah membuat saya tua.”
Sekali lagi, mereka bertanya: “Ayat yang mana, yaa utusan Allah?”

Beliau menjawab: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Hud 11:112).

Dalam setiap jenjang ajakannya beragama, Rasulullah SAW sebagai orang yang paling bertanggung jawab selalu menekankan pentingnya rasa tanggung jawab kepada orang yang dituju, karena, orang yang memiliki rasa tanggung jawab akan selalu berperilaku lihai dan dengan cara yang tepat. Kadang-kadang, Nabi kita menyebutkan bahwa semua Muslim memiliki tanggung jawab dan kadang-kadang Beliau menunjuk pada kelompok tertentu ketika Beliau berbicara tentang tanggung jawab manusia. Ada juga saat-saat di mana Beliau mengingatkan seseorang akan tanggung jawabnya. Sekarang, mari kita berikan beberapa contoh sehubungan dengan topik ini.

Nabi kita menunjukkan bahwa setiap individu dalam masyarakat memiliki tanggung jawab dan Beliau tidak mengecualikan siapa pun: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.”1

Dalam kaitannya dengan mengajak orang-orang kepada kebaikan, setiap Muslim bertanggung jawab akan hal tersebut. “Siapa yang melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya.”2 (Ketika mempraktikkan hadits ini, Muslim tidak boleh melanggar hukum negara tuan rumah mereka.)

Nabi kita sangat mementingkan pengetahuan, pembelajaran dan pengajaran. Beliau fokus pada tanggung jawab sebelum bertindak. Perhatiannya tentang tanggung jawab berlanjut juga selama latihan. Menurut Nabi yang mulia, ini adalah perkembangan yang tidak berakhir pada titik tertentu. Alasannya, masyarakat pada masa itu tidak memiliki struktur yang kokoh; selalu mengalami perubahan. Jumlah individu dalam komunitas terus meningkat, sehingga informasi penting perlu diulangi bagi mereka yang baru bergabung dengan komunitas tersebut.

Nabi kita memiliki banyak pernyataan yang menjelaskan berbagai aspek tanggung jawab. Jelas bahwa jika suatu gerakan didisiplinkan melalui rasa tanggung jawab, hal itu akan lebih menguntungkan. Sebaliknya, gerakan yang tidak didisiplinkan melalui rasa tanggung jawab akan melahirkan anarki dan kekacauan. Utusan Allah telah mengembangkan karakter orang-orang di sekitarnya melalui sentimen tanggung jawab dan mengubah mereka menjadi individu yang bermanfaat bagi masyarakat. Sentimen tanggung jawab yang didakwahkan oleh Nabi yang mulia dapat dilihat dalam kehidupan dan perilaku para Sahabat.

Nabi kita biasa memberikan tanggung jawab kepada para sahabatnya dalam hal menyampaikan kebenaran. Salah satu Sahabat ini adalah Mus’ab ibn Umayr. Beliau adalah putra dari keluarga Mekah yang kaya. Mus’ab adalah seorang pemuda yang lembut, beradab, dan tampan. Beliau berpaling dari semua kekayaan yang dimiliki keluarganya untuk menjadi seorang Muslim. Setelah sumpah pertama di Aqaba, Nabi mengirim Mus’ab ke Madinah untuk mengajar Islam dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka yang telah menerima kenabiannya. Di Madinah, Mus’ab tinggal di rumah Asad ibn Zurara.

Mus’ab, seorang pria yang bertanggung jawab yang mengerahkan semua usahanya untuk menjelaskan Islam dibimbing oleh Asad ibn Zurara yang membawanya ke para pemimpin Madinah. Banyak orang di Madinah telah memeluk Islam. Namun, hal ini perlu dilakukan dalam skala yang lebih besar sehingga pertemuan dengan pimpinan sangatlah penting. Itu penting untuk mendorong beberapa pemimpin terkemuka untuk memeluk Islam.

Sa’d ibn Muaz, pemimpin suku Aws belum menjadi Muslim dan beliau khawatir dengan penyebaran Islam di Madinah. Beliau mengirim Usayd ibn Khudayr, yang juga salah satu pemimpin sukunya, menemui Mus’ab sehingga Beliau bisa menghentikannya menyebarkan Islam. Beliau juga menambahkan, “Saya tahu apa yang harus saya lakukan dengannya, jika sepupu saya Asad ibn Zurara tidak terlibat.”

Usayd bergegas ke lokasi tempat Mus’ab berkumpul dengan sekelompok kecil orang. Usayd sangat marah ketika Beliau mendekati kelompok itu. Asad telah memperhatikan Usayd sedang mendekat dan dengan cepat menoleh ke Mus’ab dan menjelaskan bahwa Beliau adalah salah satu pemimpin suku mereka. Usayd berdiri di samping mereka dan berteriak, “Mengapa kamu datang ke sini! Anda menyesatkan beberapa orang kami yang lemah dan tidak tahu apa-apa. Jika Anda tidak ingin kehilangan nyawa Anda, pergi sekarang juga! “

Mus’ab menjawab, “Tunggu, datang dan duduklah sebentar. Dengarkan apa yang saya katakan. Jika Anda setuju dengan apa yang saya katakan maka Anda akan menerimanya; jika Anda tidak melakukannya maka Anda dapat melakukan apa yang Anda inginkan dengan saya. ” Ini adalah balasan yang baik dan ramah dari Mus’ab.

Usayd berkata, “Kamu telah mengatakan yang sebenarnya.” Beliau kemudian meletakkan tombaknya di tanah dan duduk di sebelahnya. Mus’ab menjelaskan Islam kepadanya dan kemudian membacakan beberapa ayat dari Al-Qur’an. Usayd tidak bisa menahan dirinya lagi saat Beliau berkata, “Kata-kata indah apa ini? Bagaimana seseorang memeluk agama ini?” Mus’ab dan Asad menjelaskan bahwa pertama-tama Beliau perlu mandi, berganti pakaian, dan kemudian mendaraskan kesaksian iman. Mereka juga menambahkan bahwa Beliau harus melaksanakan Sholat. Usayd mengikuti semua instruksi dan menjadi seorang Muslim. Kemudian, Beliau berdiri dan berkata, “Saya akan pergi sekarang dan mengirim seseorang yang penting bagi Anda. Jika orang ini memeluk Islam, tidak akan ada orang di wilayah kami yang menolak agama ini. “

Dengan cepat, Beliau kembali ke Sa’d ibn Muaz. Saya bertanya, “Apa yang telah Anda lakukan dengan mereka?” Beliau menjawab, “Saya melakukan apa yang perlu dan berbicara dengan mereka tetapi saya tidak melihat ada masalah dengan keduanya.” Sa’d berkata, “Penjelasan Anda tidak memuaskan.”

Sa’d menjadi sangat kesal saat memutuskan untuk memecahkan masalah tersebut sendiri. Beliau pergi dan dengan cepat menemukan Mus’ab dan Asad. Beliau berteriak dengan marah saat Beliau berdiri di dekat mereka, “Hai Asad! Jika kami tidak berhubungan, saya tidak akan menunjukkan toleransi apapun terhadap Anda, karena Anda telah membawa kekacauan pada orang-orang kami!”

Mendengar ini, Mus’ab menjawab dengan lembut, “Silakan duduk bersama kami sebentar. Dengarkan apa yang saya katakan. Jika Anda merasa kata-kata ini dapat diterima, terimalah. Jika Anda menemukan mereka menjijikkan maka kami akan berhenti menyampaikannya.”

Sa’d diyakinkan saat Beliau duduk dan mendengarkan. Mus’ab menjelaskan arti Islam dan membacakan beberapa ayat dari Al-Qur’an. Saat Beliau melafalkan syair tersebut, ekspresi Sa’d berubah dan tanda-tanda iman mulai terlihat di wajahnya. Tiba-tiba, Beliau berkata, “Apa yang kamu lakukan untuk masuk ke agama ini?” Mus’ab menjelaskan esensi Islam dan nilai-nilainya. Tanpa ragu Sa’d membacakan kesaksian iman dan memeluk Islam. Melalui sikap lembut Mus’ab dan pendekatan yang tulus, tidak ada rumah di Madinah di mana Islam belum masuk.3 Orang-orang yang mirip Mus’ab saat ini dapat belajar banyak dari kejadian-kejadian ini.

Semangat Tanggung Jawab Harus Selalu Tetap Hidup

Ketika orang mengucapkan kata-kata “Mengapa saya harus repot-repot dengan ini”, sebuah dialog yang terjadi antara Sultan Sulaiman yang Agung dan Yahya Efendi, yang merupakan seorang Cendekiawan berpengarauh pada zaman itu, muncul di benaknya. Sultan dan Yahya Efendi adalah saudara sepersusuan. Yahya Efendi adalah individu suci yang doanya kuat.

Suatu hari, Sultan Sulaiman merenungkan masa depan Negara Utsmaniyah dan menulis surat kepada Yahya Efendi: “Saudaraku, kamu adalah seorang cendekiawan yang bijaksana. Berkati kami dengan pengetahuanmu dan beri tahu kami apa yang akan terjadi dengan putra-putra Utsman.”

Yahya Efendi membalas dengan pesan berikut: “Mengapa saya harus repot-repot dengan ini, saudara?”

Sultan Suleyman tercengang dengan jawaban itu sehingga dengan cepat Beliau memutuskan untuk mengunjungi Yahya Efendi di penginapan darwisnya di Taman Yildiz. Beliau kecewa karena tidak ada jawaban yang diberikan atas pertanyaannya. Saat Sultan masuk, Beliau bertanya, “Saudaraku, Anda belum menjawab pertanyaan saya, apakah saya telah melakukan sesuatu yang salah?”

Yahya Efendi menjawab, “Saya telah menjawab pertanyaan Anda, namun saya terkejut Anda gagal untuk mengerti.”

“Apa maksudnya itu?” tanya Sultan Suleyman.

Yahya Efendi menjawab: “Saudaraku, dalam suatu bangsa, jika ketidakadilan dan tirani menyebar luas dan jika mereka yang melihat ini berkata “Mengapa saya harus repot dengan ini” dan tidak bertindak; jika seekor domba dimangsa oleh gembala bukan serigala dan jika mereka yang tahu tidak mengatakan apa-apa; jika jeritan orang miskin dan orang tak berdosa naik ke langit dan jika tidak ada yang mendengarnya, maka tunggu sampai matinya bangsamu. Harta karunmu akan dijarah dan tentaramu akan memberontak, inilah akhir zaman.”

Beruntung adalah mereka yang sadar akan kemanusiaan mereka dan memiliki perasaan tanggung jawab yang luhur. Mereka tidak pernah bisa berkata, “Mengapa saya harus repot-repot dengan ini.” Ketika mereka melihat luka berdarah, mereka tidak mengabaikan ini karena hati mereka terbakar oleh kesakitan. Mereka merasa malu di hadapan Allah dan hati nurani mereka merasakan tekanan spiritualitas Nabi sehingga mereka tidak meninggalkan tujuan suci yang dipercayakan kepada mereka. 4

  1. Sahih Bukhari, Jumua 11; Sahih Muslim, Imarat, 20; Sunan Abu Dawud, Haraj 1
  2. Sahih Muslim, Iman, 87
  3. Ibn Hisham, As Sirah, 1/275-277
  4. Akar, Mehmet, Mesel Ufku, Istanbul: Timas, 2008, p104