mengembangkandiri.com man-8046025_1920

PERINTIS MUDA MELAYANI MASYARAKAT

Musim dingin yang lalu, kami berkesempatan untuk berpartisipasi dalam program bimbingan intensif, yakni program Young Leaders In Johannesburg. Berangkat dari pulau nan eksotis Indonesia, kelompok kecil kami yang terdiri dari sekumpulan delapan individu yang memiliki pikiran penuh rasa ingin tahu, menjelajahi benua hingga ke Afrika Selatan. Bersama-sama kami menjelajahi luasnya medan perjalanan, di mana setiap langkah-langkah yang kami jalani, mampu membentuk kisah penuh penemuan dan perkembangan.

Pada Jumat pagi yang dingin, kami bangun lalu mulai menyiapkan makanan yang akan dibagikan ke panti jompo. Kami membuat sandwich dengan penuh antusias. Ya, hari ini adalah hari pelayanan masyarakat. Kami memilih Jumat sebagai hari pelayanan masyarakat. Kami datang sekitar empat puluh lima menit dari komplek Nizamia, ke sekolah Mayfair di Joburg. Memerlukan sekitar dua jam bagi kami untuk menyiapkan empat ratus sandwich. Dalam usaha membuat sandwich yang sempurna, kami merasa perlu meminta bantuan dari warga sekolah disana. Kolaborasi tangan baik yang sudah pernah maupun yang baru membuat sandwich, bersatu padu untuk menyusun kreasi kuliner ini. Tawa bergema di udara saat kami memotong, menyusun, dan menata sandwich sandwich itu, mengubah tugas sederhana menjadi kolaborasi harmonis yang akan membekas dalam ingatan kami. Bapak Sarkhan, pengatur program pelayanan masyarakat, memberi tahu kami bahwa kami harus menyelesaikan tugas sebelum pukul sebelas setengah sehingga kami bisa mendistribusikannya ke panti jompo didekat sekolah dan kembali untuk salat Jumat.

Segera setelah menyelesaikan tugas, kami menyiapkan sandwich dan sekaligus mengumpulkan berbagai macam buah yang akan kami bagikan bersama-sama. Kami membawa makanan tersebut ke minivan yang tengah menunggu di luar dapur. Dalam perjalanan singkat sekitar lima menit dari sekolah, tibalah kami pada tujuan utama yakni panti jompo. “Semua orang berkumpul di depan minivan sekarang!,” kata Bapak Sarkhan. Jadi, dilingkungan yang penuh semangat ini, serangkaian rumah mengelilingi sekitar kami.

Lalu apa misi kami?

Yakni Mengetuk setiap pintu, menawarkan makanan. Begitu mereka menanggapi ketukan pintu tersebut, sejumlah makanan yang bermanfaat menanti mereka berupa tiga bungkus sandwich, disertai dengan dua jeruk dan apel yang segar. Kami menganggukkan kepala bersama-sama, sepenuhnya memahami tugas sederhana namun bermakna bagi kami.

Saat kami perlahan mengetuk setiap pintu, beberapa penghuni muncul dari dalam. Dengan detail, Bapak Sarkhan menjelaskan perjalanan kami dari Indonesia dan usaha keras yang kami lakukan sejak pagi hari untuk membuat sandwich ini khusus untuk mereka. Rasa keterhubungan antara kita pun mulai terbangun. Di tengah interaksi kami, seorang wanita paruh baya menarik perhatian kami. Ia terasing di dalam rumahnya, mobilitasnya terbatas dan dia tengah duduk dengan rasa pasrah. Mendekatlah salah satu teman kita dengan penuh rasa iba yang kemudian menyodorkan tiga kantong sandwich berikut dengan macam-macam buah yang kami bawa. Sebuah potret momen hubungan antar manusia yang bermakna mendalam terungkap di hadapan kami. Ayra berlutut dengan penuh kedermawanan, menyerahkan bingkisan tersebut kepada wanita itu, dan dengan lembut ia pun bertanya, “Bagaimana kabar Anda, bibi?” Bibi itu, kaget dengan gestur tak terduga, kemudian menjawab, “kabar saya baik, terima kasih. Siapa Anda, dan mengapa Anda memberikan ini kepada saya?”

Dengan senyum hangat, Ayra pun menjelaskan, “Kami berasal dari Indonesia. Kami menyiapkan sandwich ini sejak pagi tadi, khusus untuk Anda. Kami senang bisa berbagi dengan Anda. “Mata bibi itu terlihat berkaca-kaca dan bercampur haru saat dia melanjutkan ucapannya,” Tidak!, maksud saya, saya belum pernah menerima sesuatu yang dibuat khusus untuk saya seperti ini, bahkan bukan dari anak-anak saya sendiri.

Apakah Anda seorang Muslim?

Pandangannya tertuju pada kerudung Ayra, penuh rasa tanya. Ayra menganggukkan kepala, senyumnya melebar, “Ya, saya seorang Muslim. Kami ingin menunjukkan perhatian dan rasa hormat kami kepada Anda melalui hal sederhana ini.”

Momen tak terduga pun terjadi ditengah percakapan itu, wanita itu membuka diri tentang penyakit dan kekurangan fisiknya. Dengan perasaan rentan, dia mempercayakan kepada Ayra, mengungkapkan keinginannya untuk memeluk Islam pada hari itu. Terharu oleh ketulusan kata-katanya, Ayra memeluk wanita tersebut dengan erat, hatinya penuh kehangatan. “Bapak Sarkhan, bisakah Anda datang ke sini?” Suara Ayra membawa campuran kegembiraan dan penuh harap. Ketika Bapak Sarkhan tiba, mata bibi itu bersinar penuh ketulusan seakan ada harapan baru ketika ia menyatakan ingin memeluk Islam. Dengan bimbingan yang lembut, Bapak Sarkhan duduk di sisinya, kata-katanya menenangkan dan penuh dukungan. Saat matahari naik menuju cakrawala, memancarkan sinar hangat pada momen itu, wanita itu pun mengucapkan Syahadat, bersaksi atas iman yang suci di depan kami. Suasana kian terisi dengan rasa persatuan dan spiritualitas, sebuah momen tak terlupakan yang terukir dihati kami selamanya.

mengembangkandiri.com friends-3408314

SAHABAT DAN TEMAN MENURUT HADIST

Jika kita perhatikan hadist-hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kita bisa melihat bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat memerhatikan persahabatan dan pertemanan. Seorang mukmin dengan saudaranya, harus rida terhadap persahabatan mereka. Yang artinya, ia harus mampu mencintai saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan oleh karenanya mereka membangun persahabatan dan persaudaraan. Didalam salah satu hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam disebutkan :

”Tali iman yang paling kuat adalah bersahabat karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bermusuhan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan juga cinta karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan benci karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala”.

Pada kenyataannya, persahabatan yang dibangun atas dasar cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan berlanjut hingga berabad-abad, sebaliknya jika persahabatan di dasari oleh landasan untuk saling memanfaatkan maka persahabatan itu bisa kandas di dunia ini. Orang yang saling mencintai dan bersahabat karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan ada rasa untuk saling memanfaatkan sama sekali, dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya :

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (Az-Zukhruf, 43/67)

Jelas bahwa pertemanan yang dilakukan selain dari cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka di akhirat kelak akan menjadi musuh yang nyata.

Disamping itu tidak ada naungan selain naungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, di padang mahsyar salah satu dari mereka yang akan mendapat perlindungan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah “Orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala” yang di nukilkan di dalam hadist berupa penghargaan bagi mereka yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seorang mukmin harus membangun persahabatan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan seorang sahabat akan membawa sahabatnya untuk saling mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena persahabatan yang terbaik adalah persahabatan yang membawa kita untuk mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam hadist-Nya menjelaskan sebuah persamaan yang memukau tentang sahabat :

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap”.

Hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam “Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya” yang menganjurkan kita agar lebih berhati-hati dan memperhatikan ketika memilh teman. Karena teman yang baik akan membawa kita ke surga dan teman yang buruk akan membawa ke neraka.

Persahabatan seperti dua tubuh yang bekerjasama dalam satu roh. Teman dan sabahat adalah modal dunia dan akhirat kita. Mereka merupakan nilai-nilai berharga untuk memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan akhirat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam hadist-Nya menjelaskan tentang hal ini :

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah Ta’ala terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Ta’ala. ” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka? Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih. ”Dan beliau membaca ayat ini: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

mengembangkandiri.com man-gd3c40c712_1280

MENJADI PRIBADI TERBAIK DIBULAN KEAGUNGAN

Dalam Islam, Satu Muharam, disebut sebagai Tahun Baru Hijriah, merupakan waktu yang sangat bersejarah bagi kaum Muslim. Hari ini, kaum Muslim di seluruh dunia mendapati awal kalender Islam, yang dimulai dengan hijrah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Bagi kaum Muslim, Muharam merupakan bulan pertama dalam kalender Islam dan memiliki makna yang sangat mendalam.

Momen Tahun Baru Hijriah ini, kaum Muslim menganggap sebagai waktu untuk muhasabah dan tafakur. Hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Mekah ke Madinah adalah peristiwa yang menunjukkan keteguhan iman, keinginan yang mulia, dan pengorbanan untuk menegakkan kebenaran serta menyebarkan ajaran Islam. Tahun Baru Hijriah memberi kaum Muslim kesempatan untuk merenungkan bagaimana menjalani hidup dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik.

Selama bulan Muharam, yang juga disebut sebagai bulan yang suci dan penuh berkah, kaum Muslim diminta untuk melakukan lebih banyak amal kebajikan, seperti berpuasa, berdoa, memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan, dan mengingat keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hari Asyura’, yang jatuh pada tanggal 10 Muharam, adalah salah satu momen yang paling diingat dalam bulan Muharam. Hari Asyura’ memiliki banyak arti. Bagi kaum Muslim, hari ini adalah peristiwa penting karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa Alaihi Sallam dan pengikutnya dari Firaun dengan membelah Laut Merah. Selain itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memaafkan Nabi Adam Alaihi Sallam atas kesalahannya pada hari Asyura’. Hari ini, beberapa kaum Muslim berpuasa sebagai bentuk bersyukur atas pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

“Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tahun Baru Hijriah adalah permulaan perjalanan baru bagi setiap orang Muslim. Saat ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan tujuan hidup, meningkatkan iman, menghapus dosa, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Satu Muharam menunjukkan semangat keberanian, pengorbanan, dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan dan tantangan hidup.

Dengan berganti tahun dalam kalender Hijriah, kaum Muslim diingatkan untuk terus meningkatkan keimanan, meningkatkan kebijaksanaan, dan berusaha menjadi orang yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Setiap tahun baru membawa peluang baru untuk melakukan amal kebajikan dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Di tengah kegembiraan menyambut Tahun Baru Hijriah, jangan lupa untuk mendoakan perdamaian, persatuan, dan kesejahteraan bagi seluruh kaum Muslim. Selamat menyambut bulan Muharam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi dan merahmati kita semua saat kita memulai kehidupan baru.

Aaminn…..

Muslim man praying in the mosque

MANUSIA AKAN MENEMUKAN KETENANGAN DENGAN IBADAH

Manusia butuh kepada pelaksanaan ibadah. Ketika manusia sakit maka ia akan pergi ke dokter. Kemudian setelah sang dokter mendeteksi penyakitnya barulah di berikan beberapa obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Setelah itu ia memaksa agar orang yang sakit tersebut menggunakan obat yang telah di berikan. Sama seperti ini, ibadah merupakan sebuah resep tertulis dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menyembuhkan penyakit dan luka yang terdapat dalam maknawi diri. Ketentraman dan kebahagiaan anak adam hanya mungkin ada jika ibadah dilaksanakan sebagaimana mestinya. Seseorang yang hatinya bersemangat dengan hamba serta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka ruhnya akan mencapai pada sebuah kepuasan. Rida-Nya Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada seorang hamba yang performanya semakin meningkat, ia akan hidup dengan kebahagiaan yang mendalam dan kesenangan yang tak ter definisikan di dalam kehidupan dunianya. Dari kelezatan maknawi yang diambil oleh orang yang seperti ini, dalam kehidupannya sehari-hari bagaimanapun kesulitan yang menghadangnya ia sanggup menghadapinya dengan tegar.

Karena ia telah bersandar dan percaya kepada Sang Pencipta Yang Satu Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menciptakan segala sesuatu dan kejadian. Sebagai seorang hamba bagi kita nikmat yang besar adalah usaha kita dalam melaksanakan tugas penghambaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Usaha yang seperti ini, akan menghasilkan ketentraman baik pada dirinya sendiri dan juga pada lingkungan.

Ustadz Bediuzzaman Said Nursi mengatakan, Manusia atau Insan secara jasmani kecil, lemah dan tidak berdaya namun memiliki ruh yang tinggi. Memiliki bakat yang besar. Memiliki kecondongan yang tidak bisa di batasi. Pemilik tujuan dan kebutuhan yang abadi. Memiliki pemikiran yang tidak bisa dihitung. Mempunyai syahwat dan kemarahan yang tidak menerima batasan, dan begitu hebat penciptaannya, seolah-olah diciptakan sebagai ringkasan bagi seluruh jenis dan seluruh alam.

Bagitulah ibadah memberikan kelapangan bagi ruh manusia. Mengembangkan bakat. Memisahkan dari Kecenderungan dan keinginan yang buruk lalu menjadikannya kepada sesuatu yang sangat bersih. Mewujudkan tujuan dan keinginan. Memperluas pemikiran dan menertibkannya. Perasaan syahwat dan kemarahannya di berikan batasan lalu menjaga dari keburukan dan kelewatan batas. Naik menuju puncak kedewasaan dan insan kamil. Ibadah merupakan hubungan yang memiliki keterikatan indah, antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

WhatsApp Image 2023-06-15 at 19.28.00

A Life of Hizmet

mengembangkandiri.com pexels-kampus-production-7414102

BUKANKAH MEMBACA BUKU SESUATU YANG KHUSUS BAGI ORANG YANG BISA MELIHAT?

Gemar membaca merupakan hal yang sangat penting yang bisa membawa manusia kepada hakikat, dan hati lebih menginginkannya dibandingkan dengan mata. Kejadian di bawah ini akan menggambarkan sebuah bukti yang bagus.

“Aku keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Dengan langkah sedikit berlari aku menuju ke stasiun metro sambil menyiapkan rancangan pelarajan yang akan aku ajarkan ke siswa-siswaku nanti, di samping itu aku juga berusaha untuk tetap berjalan di bawah atap trotoar jalan agar tidak basah dari hujan yang sedang gerimis. Aku turun ke stasiun menggunakan eskalator. Suara “tak.. tak.. tak..” yang keluar dari tongkat salah seorang yang berjalan searah denganku menghilangkan kepanikan dan semua pikiran yang ada di kepalaku. Jelas bahwa dia juga sedang buru-buru. Meskipun ia memiliki tas besar di punggung dan tongkat di tangannya, ia melaju hampir sepadan dengan kecepatanku. Ketika ku melihatnya dengan sedikit perhatian, barulah ku ketahui bahwa dia seorang wanita dan disaat yang sama juga ia merupakan seseorang yang ‘tunanetra’.

Aku bergumam dengan sendiriku “kira-kira kenapa dia buru-buru?”

Barangkali juga ia belum pernah melihat dunya ini. Walaupun berada dalam keadaan memiliki kekurangan melaju dengan sendirinya namun sikap dan cara berjalannya meninggalkan kesan ke setiap orang yang melihatnya bahwa ia adalah seorang yang percaya diri. Seketika aku lupa segalanya. Dia mulai bergerak secara perlahan seolah-olah berada dalam kamera slowmotion. Dia mengontrol kanan dan kiri dengan tongkatnya untuk mengetahui penghalang yang ada di depannya, agar bisa membuka jalan untuknya dan mungkin juga itu merupakan sebuah pertunjukan dari tekad hidup.

Aku merasakan bahwa kami akan mendekati tangga. “Apa ku tolong saja ketika turun dari tangga?”pikiranku.

Diapun kemudian mulai turun dari tangga dengan sendirinya. Seolah-olah dunia ini datar dan tidak ada halangan yang menghadang di depannya.

Apa ada sesuatu di ujung tongkat itu yang mengarahkannya atau wanita ini sedang bercanda?

Ketika aku sedang mengumpulkan semua pikiran yang ada dikepalaku, aku baru menyadari bahwa ia telah tiba di stasiun kereta api.

Rasa penasaran membawaku ke wanita ini dan aku menaiki gerbong yang sama dengannya. Setelah menempati dan duduk di kursinya, dia melipat tongkatnya dan memasukkannya ke bagian depan tasnya secara cepat. Ia membuka bagian tasnya yang lain. Aku mengira apakah ia akan membuka tasnya untuk mengambil walkman atau sejenis makanan dan minuman, aku merasa kasihan melihatnya. Tidak ada yang tau, mungkin ia sangat ingin melihat dunia ini; pepohonan, rumah, kendaraan, manusia dan mata. Sangat banyak hal yang bisa dilihat.

Dan saat itu juga aku merasa keistimewaan diriku. Mata adalah sebuah jendela yang terbuka untuk dunia dan aku masih belum mengetahui betapa berharganya sebuah mata. Yang dikeluarkan dari dalam tas wanita ini adalah sebuah buku tebal yang seketika mengganggu penglihatan dan menggores pikiran-pikiranku ini. Seseorang yang tidak bisa melihat akan membaca buku, tiba-tiba ia meraba-raba bukunya dengan ujung jari dan berhenti di suatu tempat. Kemungkinan ia telah menemukan halaman yang ia cari. Kemudian jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kanannya mulai bergerilya di atas tulisan bercetak timbul tersebut.

Ia sedang membaca, tapi ia tidak bisa melihat. Aku melamun beberapa detik.

Bukankah membaca buku sesuatu yang khas untuk orang-orang yang bisa melihat?

Aku mengerti. Ia sudah tidak membaca dengan matanya lagi, namun dengan hati, perasaan dan dengan jiwanya. Dan akupun malu pada diriku sendiri. Aku teringat sebuah buku yang selalu ku bawa selama berbulan-bulan dan baru ku baca beberapa lembarnya saja dan orang yang tidak pernah membaca buku selama bertahun-tahun. Andaikan saja mereka juga menyaksikan kejadian ini yang membuat manusia berfikir dan malu terhadapnya.

Di dunia ini ada berjuta-juta manusia. Kenapa aku? Aku lagi-lagi tertegun dengan pikiranku yang tiba-tiba macet. Ia telah menyelesaikan satu halaman dan berpindah ke halaman selanjutnya. Jari-jarinya yang bergerilya dengan lihainya di atas tulisan bercetak timbul itu mengisyaratkan bahwa ia adalah orang yang ahli dalam hal ini. Yang artinya bahwa ia adalah pembaca yang handal.

Tapi apa yang bisa ia baca?

Karena tidak mungkin ribuan buku, majalah dan koran diterbitkan setiap hari dan setiap minggu hanya untuk mereka yang tidak bisa melihat.

Dari peringatan masinis aku menyadari bahwa aku telah tiba di stasiun yang aku tuju. Hanya empat menit berlalu dan membaca buku merupakan sesuatu yang penting walaupun di waktu yang sesingkat ini. wanita yang memberikan pelajaran padaku itu memasukkan bukunya kedalam tas, ia bersiap-siap untuk turun. Dan sesaat kemudian kereta apipun berhenti. Aku menunggu hingga ia turun. Ia melaju dengan suara tongkatnya diantara orang-orang yang turun. Aku melihat dari belakang beberapa detik. Suara tongkat yang berbunyi “tak” tersebut menggema di dalam otakku sambil berkata baca.. baca.. baca.. dan bersyukurlah.