mengembangkandiri.com (13)

CINTA DALAM DAKWAH

Dalam perjalanan menuju cinta Ilahi, dakwah menjadi panggilan nurani yang mendorong setiap individu untuk menyelami keindahan, kejujuran, dan keyakinan yang murni. Bagi seorang pendakwah, tanggung jawab nurani ini merupakan prioritas utama untuk membantu orang lain memahami esensi jiwa dan menguatkan ikatan mereka dengan Sang Pencipta.

Dakwah yang hidup adalah dakwah yang membangun ikatan batin—antara seorang hamba dengan sesamanya, antara seorang hamba dengan dakwahnya, dan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Mencintai sesama merupakan bagian dari pencarian akan makna hidup dan kebenaran. Dakwah mengajarkan bahwa kelembutan dan kasih sayang adalah inti dari penyampaian pesan agama, di mana hubungan antar manusia menjadi cerminan dari kasih yang dianugerahkan Tuhan.

Cinta seorang hamba kepada Tuhan tidak hanya menjadi bentuk ibadah, namun juga menjadi kehadiran yang menyatu dalam segala aspek kehidupan. Dakwah sejati tidak hanya mengajarkan konsep-konsep agama, tetapi membimbing setiap individu untuk merasakan cinta Ilahi dalam setiap napas dan denyut jantung. Dakwah adalah panggilan hati yang mengajak kita menyadari bahwa cinta Ilahi adalah sumber dari segala kehidupan. Melalui dakwah, kita diajak untuk memahami bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam setiap detik kehidupan, memberikan kehangatan dan makna dalam perjalanan kita menuju kesempurnaan diri.

Seorang ulama kharismatik pernah berkata, “Dakwah tanpa cinta adalah bagaikan tubuh tanpa jiwa.” Dakwah yang hanya mengandalkan pengetahuan tanpa disertai kelembutan dan kasih sayang bagaikan tubuh yang hidup namun tanpa ruh. Cinta dalam dakwah memberikan kehangatan dan menjadikan dakwah lebih dari sekadar penyampaian pesan—ia menjadi sarana yang penuh makna dan mampu menyentuh hati setiap individu.

Dalam keseimbangan, cinta menjadi kekuatan pendorong yang menghidupkan dakwah. Cinta ini menyentuh orang-orang yang membutuhkan, memberikan kehangatan seperti jiwa yang menghidupkan tubuh. Dakwah yang penuh cinta akan membawa kedamaian dan kebijaksanaan yang mampu mengakomodasi perbedaan pandangan, serta menghadapi resistensi tanpa kehilangan esensi ajaran agama. Kelembutan membawa seseorang menuju pemahaman yang lebih dalam, dan menjadi aspek penting dalam mendampingi mereka yang sedang menempuh jalan kebenaran.

Dakwah dengan kelembutan menciptakan ruang bagi dialog yang sehat dan pengertian yang mendalam. Dalam kelembutan terdapat kemampuan untuk mendengarkan dengan perhatian, memahami perasaan orang lain, dan menyampaikan pesan agama dengan kasih sayang. Pesan dakwah dapat lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan cinta dan empati, mengingat setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang unik. Maka, dakwah yang dilandasi kelembutan bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk membangun hubungan yang erat antara pembawa dan penerima dakwah.

Cinta dalam dakwah bukanlah pelengkap, melainkan kekuatan utama. Tanpa cinta, pesan dakwah akan terasa hampa dan sulit diterima. Oleh karena itu, setiap langkah dakwah hendaknya selalu diiringi oleh cinta yang menyertakan kelembutan dan kasih sayang, sehingga pesan tersebut masuk ke dalam hati dan menginspirasi tindakan kebaikan. Cinta dalam dakwah bukan hanya tentang menyebarkan kebenaran, tetapi juga menciptakan ikatan batin yang erat dengan Allahﷻ dan sesama manusia.

mengembangkandiri.com (9)

GHURABA

Akhir-akhir ini, telah banyak terjadi berbagai macam fitnah dan cobaan yang berdatangan silih berganti. Munculnya kebatilan di setiap tempat yang menyebabkan berbagai kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Banyaknya manusia yang menuruti hawa nafsu dan syahwatnya sampai mereka dikalahkan, diperbudak, bahkan berada di bawah kendali dan perintah hawa nafsunya. Terlebih banyaknya manusia yang malas dan lalai dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan sehingga menjauhkan diri mereka dari Sang Maha Pencipta. Akan tetapi sesungguhnya Allahﷻ berkuasa atas segala sesuatu dan kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Dari Anas bin Malik, Rasulullahﷺ bersabda; “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

Sesungguhnya diantara mereka ada sebuah kelompok yang Allahﷻ memilih mereka dan mensucikan mereka. Mereka dijaga dari berbagai macam fitnah manakala mereka senantiasa menjaga dan melaksanakan ketaatan atas perintah-perintah Allahﷻ kepadanya. Merekalah yang dinamakan Ghuraba.

Siapakah Ghuraba itu? diantara pendapat para ulama tentang Ghuraba, ada dua pendapat yang paling kuat, yaitu: (الذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ) “orang-orang yang berbuat kebajikan dan senantiasa melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak”. (أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ فِيْ أُنَاسِ سُوْءٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُ) “orang-orang saleh diantara banyaknya orang-orang yang buruk, orang yang menyelisihi mereka lebih banyak daripada yang mentaatinya”. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa Ghuraba adalah orang yang berpegang teguh pada ajaran islam yang murni,  di saat kondisi zaman yang semakin parah, mereka adalah sekelompok manusia yang tetap tegak, kokoh diatas kebenaran, istiqomah dengan ajaran al-Haq, menjaga ajaran Islam yang mulia.

Rasulullahﷺ bersabda,“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuroba)”. Sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya rasulallah?. Rasulullah bersabda: “Mereka adalah orang yang senantiasa memperbaiki keadaan manakala manusia telah rusak” (HR. Ahmad).

Berkata Auza’i rahimahullah, “Islam dimulai dengan keadaan asing dan Islam akan kembali asing sebagaimana dia datang”. Kemudian beliau melanjutkan “Bukan Islam yang pergi, tapi yang pergi adalah para ahlussunnah sampai-sampai tidak tersisa dari mereka kecuali satu orang saja”. Yunus Abu ubaid berkata: “Bukanlah sunnah yang asing, melainkan yang asing adalah orang yang mengetahuinya, mengikutinya dan mengamalkannya”.

Rasulullahﷺ mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang  yang memperbaiki keadaan, artinya bukan hanya orang yang saleh untuk dirinya sendiri saja. Karena orang yang saleh hanya untuk dirinya sendiri tidaklah cukup. Sedangkan salah satu dari sifat Ghuraba adalah mereka yang suka berdakwah dan memperbaiki, mereka yang mensalehkan diri mereka sendiri sekaligus meningkatkan kesalehan masyarakatnya, mereka ikut menanggung derita dari orang lain, mereka bukanlah orang yang apatis yang hanya peduli pada diri mereka sendiri, akan tetapi berusaha untuk melayani dan mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat, mereka bukan orang yang gampang berputus asa dan menyerah dengan keadaan yang telah rusak. Mereka bisa saja duduk manis sambil menyeruput secangkir kopi dengan tenang di pagi hari, menikmati hasil usahanya sendiri, hidup bahagia dengan keluarganya tanpa perlu memperdulikan keadaan sekitarnya. Tapi Ghuraba berbeda, justru mereka adalah orang yang selalu berada di garda terdepan dalam urusan umat, mereka tidak bisa tinggal diam manakala terjadinya kemungkaran, mereka selalu berusaha memberikan solusi terbaik untuk perkembangan umat, bahkan kepala mereka sampai panas dan berdenyut karena memikirkan tanggung jawab dan beban umat yang begitu banyak, tidur pun hanya 3-4 jam saja selebihnya mereka gunakan untuk berkhidmah untuk agama ini. Mereka rela meninggalkan kampung halaman yang dimana tempat mereka dibesarkan, meninggalkan sanak kerabat dan saudara mereka menuju suatu negeri hanya untuk meninggikan kalimat Allahﷻ yang mulia. Karena sedikitnya mereka di antara manusia, maka mereka disebut dengan Ghuraba atau orang yang asing.

Ibnu Rajab mengatakan: “Ghuraba terbagi menjadi 2 golongan. Pertama, mereka yang memperbaiki diri ketika manusia telah rusak dan inilah kedudukan paling bawah. Kedua, adalah mereka yang berusaha berdakwah dan memperbaiki keadaan yang telah rusak oleh perbuatan manusia dan inilah yang paling tinggi dan yang paling utama.

Seorang pebisnis yang ingin menempuh cara yang halal dan tidak berbuat curang akan terasa asing di tengah-tengah pebisnis lainnya yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan. Karena dia mengetahui bahwa Islam menuntut untuk mencari rezeki dengan cara yang halal dan jujur tanpa berbuat kecurangan karena itulah yang mendatangkan keberkahan.

Seorang pemuda yang mulai istiqomah senantiasa menjaga ibadahnya, salat, sedekah, puasa dan perintah-perintah syariat agamanya, maka dia adalah orang asing di kalangan teman-temannya yang lalai dan mengabaikan perintah agamanya.

Seorang yang bersusah payah membuka matanya di waktu sepertiga malam terakhir, bangkit dari tempat tidurnya yang hangat di musim dingin kemudian membersihkan diri serta mengambil air wudhu dan berdiri dihadapan Tuhan semesta Alam adalah orang yang asing di kalangan orang yang nyaman terlelap dalam buaian tidurnya.

Mereka adalah keluarganya Allahﷻ yang sebenar-benarnya dan pada dasarnya mereka tidaklah asing. Janganlah mengira para Ghuraba itu berada dalam kesusahan dan kepayahan. Justru mereka adalah orang yang paling bahagia. Sebagaimana sabda Nabi “Beruntunglah para Ghuraba”. Merekalah orang yang paling bahagia didunia dan mereka mempunyai derajat yang sangat tinggi di akhirat setelah para Nabi.

إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي

“Sesungguhnya Islam itu muncul dalam keadaan asing dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah Ghuraba’ (orang-orang yang terasing), yaitu orang orang yang memperbaiki sunnahku di saat manusia merusak sunnah-sunnahku” (HR. At-Tirmidzi).

Perlu diketahui bahwa, hadits-hadits yang berkaitan dengan Ghuraba bukanlah berarti penyusutan atau kemunduran Islam dan seakan-akan tidak ada harapan kejayaan Islam kembali. Inilah yang kebanyakan orang memahaminya dari golongan orang-orang yang berputus asa. Ini adalah pendapat yang keliru karena Jika Islam dimulai dalam keadaan asing, maka dengan izin Allahﷻ, dia akan kembali dengan kekuatan sebagaimana yang didapat pada generasi Islam yang pertama. Dan inilah yang benar dalam memahami masalah ini karena banyak dalil yang memperkuatnya baik di dalam ayat Al-Qu’ran maupun hadits.

Allahﷻ berfirman yang artinya “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. “Sesungguhnya Allahﷻ Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (Al-Mujadalah : 21).

Semoga Allahﷻ senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya, melimpahkan limpahan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua agar kita menjadi generasi yang senantiasa meningkatkan kesalehan diri kita, keluarga kita dan membantu meningkatkan kesalehan di masyarakat kita. Hanya Allahﷻ yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

wallahu Ta’ala A’lam.

mengembangkandiri.com (8)

KONSUMSI MAKANAN BERLEBIH DAN KURANGNYA AKTIVITAS FISIK

Ditulis oleh; Kitaka Ashraf, M.Sc

Bayangkan tubuh Anda sebagai mesin yang disetel dengan baik, dan makanan yang Anda konsumsi sebagai bahan bakar yang menggerakkannya. Sekarang, pertimbangkan skenario di mana Anda secara konsisten menuangkan lebih banyak bahan bakar ke dalam mesin melebihi apa yang dibutuhkannya, dan Anda mengabaikan energi yang dihasilkan oleh mesin tersebut. Seiring berjalannya waktu, kelebihan bahan bakar ini akan menimbulkan masalah. Dalam analogi di atas, berlebihan bahan bakar diartikan sebagai berlebihnya makanan yang dikonsumsi, dan kegagalan untuk menggunakan energi ekstra melambangkan kurangnya olahraga. Ketika mesin disetel dengan baik, tubuh Anda pun demikian. Namun, seperti pipa yang tersumbat, berkurangnya efisiensi, dan keausan pada komponen-komponennya mulai terjadi. Sama seperti mesin yang dapat menjadi lambat dan tidak efisien ketika dibebani dengan bahan bakar yang tidak perlu, tubuh manusia dapat menghadapi berbagai tantangan kesehatan ketika mengalami kelebihan kalori (energi dari makanan) secara terus menerus tanpa pengeluaran yang sesuai melalui aktivitas fisik.  Pentingnya menjaga keseimbangan antara input (konsumsi makanan) dan output (olahraga) untuk memastikan fungsi optimal dan umur panjang “mesin”, tubuh Anda, tidak dapat diremehkan. Islam adalah cara hidup yang komprehensif yang menangani setiap aspek kehidupan manusia. Allah Yang Maha Kuasa yang juga merupakan arsitek tubuh manusia telah memperingatkan kita untuk bersikap moderat dalam konsumsi makanan seperti yang ditetapkan dalam Al-Quran: “Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaianmu di setiap masjid dan makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Surat Al-A’raf (7:31).

Hippocrates, seorang dokter Yunani dan bapak kedokteran modern, pernah berkata: “Jika kita dapat memberikan setiap individu makanan dan olahraga dalam jumlah yang tepat, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, kita akan mendapatkan cara yang paling aman menuju kesehatan”. Pernyataan Hippocrates ini menggarisbawahi pentingnya olahraga rutin dalam menjaga kesehatan. Teknologi modern, kemunculan internet, dan kesibukan kerja merupakan beberapa faktor yang berkontribusi pada gaya hidup tidak aktif yang kita jalani saat ini. Banyak orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di luar ruangan sambil terus mengonsumsi makanan kaya energi yang energinya tidak dimanfaatkan melalui olahraga.

Nabi Muhammadﷺ, lambang penciptaan dan kebanggaan umat manusia, menjalani kehidupan yang patut dicontoh oleh semua orang yang beriman dalam agama Islam. Beliau melakukan aktivitas fisik, termasuk berjalan kaki dalam perjalanan jauh dan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat. Beliau dikenal aktif dalam membantu pekerjaan rumah dan pekerjaan kasar, yang menunjukkan pentingnya aktivitas fisik untuk gaya hidup sehat. Para sejarawan juga melaporkan bahwa Rasulullahﷺ sering berpartisipasi dalam berkuda, sebuah latihan aerobik dengan intensitas sedang yang melibatkan berbagai kelompok otot dan membutuhkan keseimbangan dan koordinasi. Menunggang kuda dapat disamakan dengan bersepeda di zaman modern, yang dapat membakar 16% energi yang dibutuhkan oleh rata-rata individu dalam sehari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengembangkan rekomendasi khusus untuk aktivitas fisik yang diperlukan oleh semua kelompok usia untuk menjaga kesehatan. Inisiatif ini muncul sebagai hasil dari bukti penelitian yang kuat yang menghubungkan kurangnya aktivitas fisik dengan sejumlah penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, dan lain-lain. Di bawah ini adalah rekomendasi aktivitas fisik yang dikemukakan oleh WHO.

  1. Untuk anak-anak dan remaja (6-17 tahun), setidaknya 60 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat setiap hari, termasuk aktivitas yang memperkuat otot dan tulang, setidaknya 3 kali seminggu.
  2. Untuk orang dewasa (18-64 tahun), setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit aktivitas fisik intensitas berat per minggu, atau kombinasi keduanya, termasuk aktivitas penguatan otot, setidaknya 2 kali per minggu.
  3. Untuk orang dewasa yang lebih tua (65 tahun ke atas), sama seperti orang dewasa, atau sebanyak yang dimungkinkan oleh kemampuan dan kondisinya, dengan penekanan pada aktivitas yang seimbang dan terkoordinir, setidaknya 3 kali per minggu.
  4. Untuk semua kelompok, aktivitas fisik harus menyenangkan dan bervariasi, serta membatasi perilaku kurang gerak.

Islam menganjurkan gaya hidup yang seimbang, termasuk keseimbangan antara aspek fisik, mental, dan spiritual. Terlibat dalam aktivitas yang menjaga dan meningkatkan kesehatan fisik dipandang sebagai bagian dari pemenuhan tanggung jawab seseorang terhadap tubuh, yang dianggap sebagai amanah dari Allah. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi orang yang beriman untuk menjaga tubuh mereka dengan menyeimbangkan asupan makanan dengan olahraga rutin sebagai cara untuk menghormati apa yang telah dipercayakan oleh Pencipta Allahﷻ.