mengembangkandiri.com (11)

HADAPILAH KETAKUTAN DENGAN KEBERANIAN

Jangan biarkan diri terperangkap dalam rasa takut yang berlebihan. Jika kita selalu membiarkan diri terjebak dalam ketakutan, maka kita hanya akan memicu hal yang kita takutkan itu menjadi nyata. Dalam semangat berani, ada pesan mendalam dari para tokoh yang memegang teguh nilai-nilai kebenaran dan keberanian, seperti yang diungkapkan oleh Badiuzzaman Said Nursi. Beliau menegaskan, “Jikalau pun seluruh kekuatan dunia digunakan untuk melawan saya, kepala yang rela dikorbankan demi kebenaran Al-Qur’an ini tak akan menyerah kepada para Zindik.” Ungkapan ini mengajak kita untuk tak gentar, meski menghadapi ancaman yang tampaknya besar dan tak terkalahkan.

Baniuzzaman Said Nursi dengan lantang menyampaikan bahwa kematian bukanlah akhir dari perjuangan, justru sebaliknya, ia akan menjadi ledakan semangat yang menghancurkan kezaliman. “Setelah membunuh satu orang yang setia, kalian tidak akan hidup tenang. Kematian saya akan meledak seperti bom yang menghancurkan kepada kalian. Jika kalian ingin hidup tenang, jangan ganggu saya,” ungkapnya. Pesan ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak takut menghadapi kezaliman dan ancaman, tetapi sebaliknya, hadapi dengan keyakinan dan keteguhan iman. Ketahuilah, pembalasan dari Allah bagi ketidakadilan akan datang, bahkan dengan kekuatan yang berkali-kali lipat.

Harapan beliau pada Allah adalah bahwa kematian dapat lebih melayani agama daripada hidupnya sendiri. Ucapan ini menegaskan pengorbanan total, bahkan hingga titik terakhir, demi keyakinan. Semangat seperti ini harus diwarisi oleh generasi setelahnya, untuk tidak takut atau gentar melawan ketidakadilan dan kezaliman. Keberanian yang terpancar dalam kata-kata tersebut menyiratkan bahwa setiap dari kita memiliki potensi untuk menjadi suara zaman, menghadapi tantangan dengan keteguhan yang kuat.

Ketika kota Istanbul diduduki, tampak di tengah-tengah tentara penjajah seorang uskup Gereja Anglikan dengan keangkuhan dan pertanyaan menantang kepada umat Islam. Pada saat seperti inilah seorang “Pahlawan Zaman” muncul dan mengangkat suaranya dengan penuh keteguhan. Dalam kondisi di mana ketangguhan dan perlawanan mutlak diperlukan, beliau memberikan perlawanan yang nyata.

Bisa saja, dalam keadaan penuh tekanan dan intimidasi, Badiuzzaman memilih untuk menjawab tantangan itu dengan tindakan, yaitu meludah. Meludah bukan pada orang, tetapi pada wajah ketakutan, pada wajah ancaman, pada wajah pengusiran, kehancuran, perbudakan, dan kezaliman. Sebuah simbol dari ketidakpatuhan terhadap ancaman yang menindas. Inilah bentuk keberanian dan keyakinan yang luar biasa, bahwa rasa takut harus dilawan, bukan ditakuti.

Siapakah yang benar di antara mereka yang berjuang untuk kebenaran dan mereka yang menyebarkan kezaliman? Hanya waktu yang akan menunjukkan kebenarannya. Waktu tidak pernah berdusta; ia adalah saksi yang selalu akurat dalam menafsirkan hasil dari setiap tindakan. Keberanian yang dibarengi dengan kebenaran akan tetap bersinar, meskipun mungkin harus melewati jalan panjang.

Percayalah pada tafsiran waktu, karena waktu adalah manifestasi dari kehendak, kekuasaan, perlindungan, dan pertolongan Allah. Semoga Allah tidak mencabut keberanian dan keyakinan itu dari kita semua, karena keberanian adalah kunci untuk mengalahkan ketakutan dan menghadapi segala rintangan dengan hati yang mantap. Aamiin.

mengembangkandiri.com (10)

SANG PELAMPUNG KESELAMATAN KITA

Dalam mengarungi samudra yang luas dan penuh bahaya, banyak orang percaya bahwa keselamatan hanya dapat dicapai jika persiapan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Persiapan tersebut mencakup pemeriksaan menyeluruh terhadap kapal, termasuk kondisi mesin dan bahan bakar. Selain itu, penting untuk memantau kondisi cuaca dan potensi badai yang mungkin terjadi selama perjalanan. Beban yang diangkut juga harus disesuaikan dengan kapasitas kapal agar tidak melebihi batas yang aman. Tak kalah penting, perlengkapan keselamatan, seperti pelampung, pasokan bahan bakar yang memadai, dan alat-alat keselamatan lainnya, harus disiapkan dengan baik untuk menghadapi kemungkinan darurat di perjalanan.

Begitu pula dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia yang fana dan penuh fatamorgana. Tanpa kita sadari, hidup ini layaknya perjalanan jauh menggunakan kapal yang melintasi samudra luas, menuju tujuan akhir yang abadi, yaitu akhirat—tempat di mana seluruh perjalanan di dunia ini akan berakhir. Sebagai penumpang dalam bahtera kehidupan, kita harus menyadari bahwa samudra dunia ini dipenuhi badai ujian dan gelombang cobaan. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan “kapal” dan “peralatan” yang baik serta layak untuk menemani perjalanan ini. Di antaranya adalah pelampung keimanan dan tali keselamatan amal yang kokoh, yang dapat kita pegang erat saat menghadapi keadaan darurat dalam perjalanan menuju tujuan akhir kita.

Pentingnya peralatan keselamatan, seperti pelampung, tidak bisa diremehkan. Pelampung berfungsi melindungi kita dalam situasi darurat, mencegah tenggelam, dan memberikan perlindungan dari terjangan ombak laut yang deras. Selain itu, pelampung juga membantu menjaga tubuh kita tetap aman di tengah lautan yang luas dan berbahaya. Fungsi ini menggambarkan pentingnya peran sahabat sejati, baik di dunia maupun akhirat.

Dalam perjalanan panjang dari dunia menuju akhirat, sahabat sejati ibarat pelampung yang selalu siap membantu kita. Mereka mendukung kita dalam kebaikan, mengingatkan saat kita melakukan kesalahan, dan melindungi kita dari gelombang maksiat yang bisa merusak ruhani. Mereka juga mencegah kita tenggelam dalam kelezatan dunia yang bersifat sementara dan menyesatkan. Seperti pelampung yang memegang erat tubuh di lautan, sahabat sejati senantiasa memandu kita menuju tujuan akhir, yakni akhirat, dengan baik dan lancar.

Disebutkan dalam ayat alqur an surat Al-Furqan [25]: 28

يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا

“Celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan  si fulan itu teman akrab(ku)

Ayat tersebut dalam tafsir Al-Azhar jilid 2 karya Buya Hamka Rahimahullah dijelaskan bahwa ada penyesalan dihati Uqbah Bin Muayyith dalam memilih Ubay Bin Khalaf sebagai teman dekatnya waktu sebelum masuknya islam karena Ubay terkenal dengan suka mengolok-olok Nabi ketika beliau sedang berdakwah Saking pentingnya seorang teman, ia bahkan menjadi sebuah identitas bagi seseorang. Syeikh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Al-Muta’allim menyampaikan hal ini dalam sebuah syair,

“Tak perlu kau tanya tentang seseorang (siapa dia), cukup tanya siapa temannya, maka setiap teman akan mengikuti orang yang dia temani.”  

Bukankah kita semua menginginkan akhir perjalanan kita, yakni akhirat, menjadi indah dan selamat? Untuk mencapainya, penting bagi kita memiliki sahabat sejati yang senantiasa mendukung dalam kebaikan, mengingatkan saat kita berbuat kesalahan, dan berlomba-lomba memberikan manfaat bagi banyak orang selama hidup di dunia. Sahabat seperti itulah yang menjadi “pelampung keselamatan” dalam kehidupan kita, menjaga agar kita tidak tenggelam dalam arus dunia yang penuh godaan dan fatamorgana.

Jika saat ini kalian belum menemukan pelampung keselamatan itu—sahabat dunia akhirat yang setia—carilah segera. Peluk dan rangkul erat sosok tersebut, jadikan dia bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup kalian. Jangan biarkan dia terlepas dari jangkauan atau bahkan terlupakan, karena sahabat sejati adalah penopang yang akan menemani kita menuju tujuan akhir yang baik dan selamat.

Referensi :

https://tafsiralquran.id/pentingnya-memilih-teman-dalam-bergaul-tafsir-surah-al-furqan-ayat-27-28/

https://muslim.or.id/45173-hadits-tentang-sahabat.html

Mataair edisi januari-maret 2024

mengembangkandiri.com (7)

MENGIRINGI DAKWAH DENGAN DO’A

DITULIS OLEH: MUHAMMAD FETHULLAH GÜLEN HOCAEFENDI

Berdo’a merupakan tugas utama yang harus senantiasa dilakukan oleh seorang da’i, karena berdo’a adalah sarana yang paling utama untuk berhubungan dengan Allah Swt. Masalah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama para nabi dan da’i, karena untuk memberi petunjuk kepada manusia tidaklah mudah, dan kewenangannya hanya di tangan Allah Swt. Dia yang berhak memberi petunjuk atau kesesatan bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Jadi, manusia, siapa pun, tidak berwenang memberi petunjuk atau memberi kesesatan kepada siapapun. Tentang masalah ini, Allah Swt telah berfirman, “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu),” (QS al-Furqân [25]: 77).

Kesimpulannya, setiap mukmin, khususnya para nabi dan da’i, harus rajin memohon kepada Allah Swt untuk diberi kemudahan membuka pintu hati para pendengarnya. Adakalanya, karena do’a seorang yang mukhlis, banyak orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt lebih dari yang diberi ceramah. Sehingga, do’a mempunyai kekuatan bagai sihir yang dapat memengaruhi hati orang banyak. Selain itu, do’a juga menjadi senjata orang mukmin dan benteng yang paling ampuh baginya, baik di masa lalu maupun di masa kini. Karenanya, setiap da’i harus rajin memohonkan petunjuk kepada Allah Swt bagi umatnya sebelum ia berdakwah; kemudian, setelah itu, ia berdakwah semampunya. Dengan kalimat yang lebih sederhana, dapat dikatakan di sini bahwa setiap da’i harus berdo’a, menggunakan cara-cara yang masuk akal, sederhana, menarik, dan menimbulkan simpati agar dakwahnya bisa diterima oleh orang banyak.

Rasulullah Saw. telah berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan dakwahnya kepada kaumnya dengan berbagai cara, tetapi beliau tidak pernah terlepas dari berdo’a. Disebutkan bahwa beliau Saw. pernah berdo’a memohon pertolongan Allah Swt agar hati ʿUmar bin Khattab dibuka untuk masuk ke dalam Islam. Do’a beliau Saw. diterima; tidak lama setelah itu, Umar diberi petunjuk oleh Allah Swt untuk masuk Islam.

Disebutkan bahwa pada suatu hari, Abu Hurairah meminta do’a dari Rasulullah agar hati ibunya dibuka sehingga mau menerima Islam. Dalam sebuah riwayat yang lain, disebutkan bahwa Abu Hurairah ra. berkata, “Pada suatu hari, aku mengajak ibuku masuk ke dalam Islam, ketika ia masih sebagai wanita musyrik. Namun, ia mengata-ngatai Islam, sehingga aku datang kepada Rasulullah Saw. seraya menangis, “Ya Rasulullah Saw., tadinya aku mengajak ibuku masuk ke dalam Islam, tetapi ia menjelek-jelekkan Islam. Karena itu, do’akan semoga ibuku mau masuk Islam.” Kemudian, Rasulullah Saw. berdo’a, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada ibunya Abu Hurairah.” Kemudian, aku keluar pulang ke rumahku untuk mengabarkan kepada ibuku tentang do’a beliau baginya. Namun, anehnya, ketika aku tiba di depan pintu rumahku, aku lihat pintu rumahku tertutup. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, ia berkata, “Tunggulah sebentar, wahai Abu Hurairah.” Aku mendengar ia sedang mandi; setelah itu, ia memakai baju dan kerudung, kemudian ia membuka pintu seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi juga bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kata Abu Hurairah, “Kemudian aku kembali ke tempat Rasulullah Saw. sambil menangis atas keislaman ibuku.”