pexels-timur-weber-9127051

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Anak-anak adalah amanah, tanggung jawab, dan hadiah bagi orangtua. Tugas orangtua adalah memastikan anak tumbuh menjadi orang yang suka bekerja keras, produktif. Serta, yang paling utama adalah ia menjadi pribadi yang beriman kepada Allah dan bisa berguna bagi sesama.

Tidak ada anak yang berperilaku buruk karena karakter alaminya, biasanya hal tersebut dilakukannya berdasarkan apa yang ia lihat, dengar, rasakan dan pelajari dari lingkungan hidupnya sehari-hari.

Anak-anak belajar tentang hal yang benar dan salah sesuai dengan apa yang diberikan orang tuanya. Tanggung jawab orangtua adalah mengajarkan anak untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Anak memiliki insting alami untuk melakukan hal yang benar, namun insting tersebut harus dirawat dan diasah melalui pengajaran orangtua. Orangtua bertugas menjadi pembimbing dan teladan bagi anak dalam menaati Allah dan Rasul-Nya. Orang tua yang baik menurut Islam, akan mengambil tanggung jawab ini secara serius. Sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan selalu melakukan hal benar sesuai dengan ajaran agama.

Pendidikan islam adalah hal yang sangat penting dalam pendidikan anak, oleh karena itu peran orang tua sebagai pendidik pertama harus bertanggung jawab penuh dalam hal ini. Orang tua harus memiliki kesadaran yang tinggi terhadap nilai-nilai ideal dan cita-cita mulia yang perlu ditanamkan dalam diri anak, anak harus mendapatkan pendidikan serta ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kelompok usianya. Ketika kesadaran, motivasi dan pengetahuan kurang, keluarga tidak akan dapat mewujudkan pendidikan agama yang ideal bagi anak.

Di sisi lain, orangtua tidak hanya perlu memenuhi kebutuhan jasmaniyah anaknya saja, kebutuhan ruh dan jiwa anak-anaknya pun harus dipenuhi dengan menyerahkannya pada pendidik yang berkualitas dan terpercaya. Orangtua yang lupa memenuhi kebutuhan ruh dan jiwa anak-anaknya, selain picik juga merugi karena melepas anaknya dalam kejahiliyahan. Orangtua yang tidak berhasil memberikan pendidikan ruh dan jiwa bagi anak-anaknya adalah termasuk orang tua yang zalim. Apalagi jika orangtua menjadi penghalang dari jalan baik yang ditemukan anak-anaknya, sungguh mereka termasuk orang-orang yang celaka..!

mengembangkandiri.com give-a-hope-2021-08-29-00-54-56-utc

Harapan Keluarga

Orang tua zaman sekarang yang tidak mendapatkan banyak pendidikan dari orang tua mereka di masa lalu, oleh karena itu saat ini mereka terkadang berharap banyak  kepada orang lain dalam hal pendidikan anak-anak mereka. Namun, dalam hal pendidikan, keluarga, guru dan institusi memiliki tanggung jawab masing-masing. Dan itu tidak dapat diserahkan hanya kepada satu pihak saja. Agar dapat mencapai hasil yang baik proses pendidikan harus dilakukan secara bersama dan saling bersinergi.

Kita yang sudah menjadi orang tua tentu senantiasa berharap, berdo’a dan berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang shalih, anak-anak yang bermanfaat.

Sungguh beruntung dan berbahagia lah orang tua yang telah mendidik anak-anak mereka sehingga menjadi anak yang shalih, yang selalu membantu orang tuanya, mendoakan orang tuanya, membahagiakan mereka dan menjaga nama baik kedua orang tua. Karena anak yang shalih akan senantiasa menjadi investasi pahala, sehingga orang tua akan mendapat aliran pahala dari anak shalih yang dimilikinya.

Oleh karenanya, saking urgennya pembinaan dan pendidikan sang anak sehingga bisa menjadi anak yang shalih, Allah ta’ala langsung membebankan tanggung jawab ini kepada kedua orang tua.

Tanggung jawab pendidikan anak ini harus ditangani langsung oleh kedua orang tua. Para pendidik yang mendidik anak di sekolah–sekolah, hanyalah partner bagi orang tua dalam proses pendidikan anak.

Orang tua yang berusaha keras mendidik anaknya dalam lingkungan ketaatan kepada Allah, maka pendidikan yang diberikannya tersebut merupakan pemberian yang berharga bagi sang anak, meski terkadang hal itu jarang disadari.

Mengenai tanggung jawab pendidikan anak terdapat perkataan yang berharga dari imam Abu al-Hamid al-Ghazali rahimahullah. Beliau berkata, “perlu diketahui bahwa metode untuk melatih/mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya.

Betapa indahnya, jika kita memandang anak-anak kita menjadi anak yang shalih, karena hal itu salah satu penyejuk pandangan kita. Namun yang patut kita perhatikan adalah faktor yang juga mengambil peran penting dalam pembentukan keshalehan anak adalah keshalihan orang tua itu sendiri.

Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang tua yang shalih.

Karya Pembaca: Jejen

mengembangkandiri.com kids-love-nominated-2021-08-29-01-17-20-utc

Mendidik Cinta, Kasih, dan Hormat Keberagaman

MENDIDIK ANAK TENTANG CINTA, KASIH SAYANG DAN RASA HORMAT DALAM BUDAYA YANG BERBEDA

Semua anak pada umumnya, khususnya anak muslim yang hidup dalam masyarakat barat; Seiring dengan mempelajari keyakinan mereka sendiri dengan sangat baik, mereka juga harus mencintai dan mengasihi semua orang tanpa memandang keyakinan mereka, dan mereka harus dididik dan dibesarkan dengan menghormati agama dan budaya yang berbeda. Jika anak yang dibesarkan tanpa dididik untuk mencintai dan mengasihi serta menghormati orang lain, maka ia tidak akan bisa bermanfaat baik bagi dirinya atau bagi masyarakat tempat ia tinggal.

Mengenalkan anak pada keragaman penting dilakukan sejak dini. Orang tua harus mengajak anak untuk bersosialisasi, bisa di sekolah maupun di lingkungan rumah. Orang tua perlu memberi pemahaman kepada anak agar tidak terpengaruh pada perilaku yang melanggar norma.

Anak harus diajak untuk berpikir kritis dan terbuka. Yakinkan kepada anak dengan keberagaman yang dimiliki akan membawa kedamaian. Berikan pemahaman bahwa dengan perbedaan kita bisa saling melengkapi. Bangun percaya diri anak dengan menonjolkan kelebihan mereka. Ikutkan anak pada kegiatan yang mendukung minat dan bakat. Dari sini anak mengenal banyak keragaman dan dapat menambah semangat dalam mengembangkan bakatnya.

Orang tua harus memberi contoh langsung perbuatan yang menunjukkan toleransi. Misal mengajak anak berkunjung ke panti-panti sosial, tentu akan dapat menumbuhkan jiwa anak untuk menghormati kehidupan yang penuh dengan keberagaman.

Mengajari anak mengenai toleransi beragama antar sesama dan menghargai perbedaan bisa dimulai dengan cara-cara sederhana dari rumah. Tunjukkan kepada anak bahwa cinta kita sebagai orang tua tidak bersyarat. Tunjukkan pula rasa cinta dan hormat, bahkan kepada orang-orang yang berbeda dari kita. Tunjukkan rasa cinta juga pada diri kita sendiri dan biarkan anak-anak melihat bahwa kita tidak menghakimi siapapun.

Kita hidup dalam dunia yang tidak sempurna. Tidak ada  manusia yang sempurna. Siapa saja dari suku apa saja, dan dari agama apa pun bisa melakukan kesalahan. Tahan diri kita untuk tidak berkomentar menyangkut perbedaan dengan hal salah yang mereka lakukan. Dengan demikian anak pun belajar dari kita untuk selalu memaafkan dan menghargai perbedaan.

Tanpa kita sadari, media yang ditonton, dibaca, dan didengar anak juga turut serta memberi masukan mengenai kesetaraan, dan rasa hormat kepada sesama. Kita perlu jeli membaca pesan tersirat dari alur cerita, penokohan, dialog, atau sudut pandang penceritaan dari media yang dinikmati anak. Meski demikian, dunia tidak mungkin steril dari semua hal yang berseberangan dengan nilai keluarga kita. Sekali lagi, kebiasaan berdiskusi menjadi kuncinya.

Bila orang tua mendorong sikap toleran pada anak-anaknya, membicarakan nilai-nilai dalam keluarga dan mencontohkan perilaku serta ucapan yang menunjukkan bahwa kita menghargai semua orang, anak-anak akan mengikuti jejak kita.

Karya Pembaca: Jejen

pexels-a-darmel-8164745

Prinsip Mendidik dengan Agama

PRINSIP DASAR DALAM PENDIDIKAN AGAMA:

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa, “Permudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”

Ada sebuah pernyataan bahwa “Islam itu agama yang mudah dan luas” (al-islamu dinun yusrun wus’atun).

Sedangkan pertanyaannya adalah mana dalil pendukung pernyataan tersebut dan bagaimana penjabarannya? Apakah pernyataan itu dibenarkan oleh nushush al-syari’ah (teks-teks syariah)?

Untuk menjawabnya, terlebih dahulu kita perlu melacak dari mana pernyataan itu berasal. Ternyata ia langsung dari Baginda Nabi shallallahu‘alaihi wasallam. Ada dalam sebuah hadis dengan sanad sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di sana beliau menyatakan:

     إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Artinya, “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya. Karena itu, luruskanlah, dekatilah, dan berilah kabar gembira! Minta tolonglah kalian di waktu pagi-pagi sekali, siang hari di kala waktu istirahat dan di awal malam,” (HR. al-Bukhari [39] dan Muslim [2816]).

Maksud hadis ini adalah syariat yang Allah turunkan kepada umat Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mudah dan tidak sulit. Allah telah mengangkat hal-hal yang memberatkan mereka. Sehingga ia tidak memaksa seorang hamba kecuali sesuai kemampuannya.

Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. artinya Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah subhanahu wata’ala  menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya’: 107]

Dengan hal ini Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan, kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

 مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ تَنزِيلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

“Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]

Dapat kita simpulkan sebagaimana dengan keterangan diatas bahwa Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya.

Oleh karena itu tidak ada hal apa pun yang sulit dalam Islam. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ.

“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” HR. Al-Bukhari (no. 39),

Karya Pembaca: Jejen

mengembangkandiri.com children-enjoy-with-friends-2021-08-31-22-24-40-utc

Perasaan dan Pergerakan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Perasaan dalam Pemikiran dan Pergerakan

Setiap pemikiran akan bermakna ketika ada pergerakan, sebaliknya pergerakan juga akan lebih bermakna ketika menghasilkan pemikiran-pemikiran baru. Pemikiran dan pergerakan, seolah, silih berganti saling menguatkan, memiliki hubungan timbal balik satu dengan yang lainnya.

Pemikiran dan pergerakan akan terhubung lebih erat dengan perasaan. Perasaan dapat berperan sebagai bumbu penyedap racikan pemikiran dalam suguhan pergerakan. Tanpa adanya perasaan, pemikiran dan pergerakan akan terasa hambar.

Memahami Perasaan

Bagaimana kita memahami perasaan, dalam pemikiran dan pergerakan di kehidupan nyata?

Bayangkan ketika kita memiliki pemikiran untuk menjadikan anak-anak kita sebagai generasi emas penerus bangsa. Pastinya, pemikiran kita ini harus diimbangi dengan pergerakan memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak calon generasi emas tersebut.

Pemikiran dan pergerakan ini saja tidaklah mencukupi. Keduanya harus juga dilengkapi dengan perasaan. Perasaan yang dikemas dalam bentuk keikhlasan, dedikasi, dan rasa syukur dalam mendidik. Keikhlasan, dedikasi, dan syukur membuat sebentuk rasa yang memberi makna ketika kita mendidik anak-anak kita menuju generasi emas anak bangsa. Beginilah kita memahami perasaan. Intinya, perasaan memainkan peran hati ketika kita berpikir dan bergerak.

Ya, perasaan memang sedikit berbeda dengan pemikiran dan pergerakan. Pemikiran bisa saja dibuat dalam bentuk tulisan. Kita biasa menuangkan pemikiran kita dalam bentuk perencanaan, program kerja, konsep, atau rancangan yang kita persiapkan dengan matang.

Di sisi lain, pergerakan bisa dilihat dengan kasat mata karena dilakukan dalam dimensi fisiknya. Pergerakan biasanya dilakukan untuk mengusung sebuah pemikiran melalui sebuah wujud aksi nyata dan tindakan fisik di lapangan.

Lantas, bagaimana dengan perasaan? Apakah perasaan juga bisa dituliskan atau dilihat secara kasat mata?

Sulit untuk bisa mengatakan “Ya”. Perasaan memang sejatinya dirasa, tidak dapat dituliskan atau digerakkan secara fisik. Bahkan, rasa itu terkadang tidak disadari keberadaannya oleh seseorang yang sebenarnya memiliki rasa tersebut.

Orang yang ikhlas, tidak merasa dirinya ikhlas. Orang yang berdedikasi, tidak merasa dirinya berdedikasi. Orang yang bersyukur, terkadang tidak merasa dirinya sudah cukup bersyukur. Jadi, perasaan seseorang apakah ikhlas, berdedikasi, atau bersyukur biasanya tidak diakui keberadaannya oleh dirinya sendiri.

Biasanya, perasaan pada diri seseorang dirasakan keberadaannya dan diakui oleh orang lain. Namun terkadang, ketika perasaan dirasakan keberadaannya oleh orang lain, maka interpretasinya bisa sangat berbeda dan memiliki subjektivitas yang tinggi. Artinya, perasaan yang dirasa mungkin akan memberikan rasa yang berbeda bagi setiap individu yang berbeda.

Misalnya saja perasaan ikhlas. Terkadang kita bisa sangat merasakan keikhlasan melekat pada diri seseorang dalam pemikiran dan pergerakannya, tetapi ternyata orang lain tidak merasakan hal yang sama dengan kita. Bahkan mungkin saja, orang lain itu justru merasa orang yang kita anggap ikhlas itu malah tidak cukup memiliki keikhlasan. Jadi, perasaan itu sulit untuk bisa ditebak keberadaannya.

Perasaan dan Pandangan Hidup

Dari tataran filosofis, perasaan sebagai bumbu pemikiran dan pergerakan itu sangat tergantung dengan bagaimana kita memandang kehidupan. Jika kita memandang kehidupan hanya dengan pemikiran nihilisme, maka perasaan dalam bentuk rasa ikhlas, berdedikasi, dan rasa syukur tidak perlu lagi kita kedepankan. Kehidupan kita akan lebih mementingkan kesenangan dunia, dan gaya hidup kita pun menjadi hedonis dan materialistis.

Penganut paham nihilisme ini berpikir bahwa adanya pemikiran dengan menggunakan akal dan rasionalitas dan adanya pergerakan dengan menggunakan fisik, sudah sangat cukup untuk bisa mengarungi kehidupan di dunia.

Bagi mereka, kehidupan dunia adalah satu-satunya kehidupan. Setelah kehidupan di dunia orang akan berhadapan dengan kematian, kenihilan, atau ketiadaan. Setelah kematian tidak akan ada ada lagi kehidupan. Kematian adalah akhir dari segala-galanya, batas akhir kehidupan.

Sebaliknya, jika kita memandang kehidupan dunia ini hanyalah sebagai salah satu bagian dari dua sisi kehidupan, dan bahwasanya akan ada sisi kehidupan lain setelah kematian, maka segala hal di dunia ini akan kita lakukan dengan tujuan mendapatkan sebuah makna. Makna untuk menggapai kehidupan hakiki kelak. Makna seperti inilah yang akan memberikan sebuah rasa dalam pemikiran dan pergerakan kita. Makna seperti inilah yang membuat kita sadar akan pentingnya mengedepankan perasaan.

Oleh karenanya, perasaan tidak boleh terlupakan dalam kehidupan kita. Meskipun perasaan bersifat immaterialistik dan tak terlihat, tetapi perasaan bisa saja diberikan penguatan agar lebih bisa kita perhatikan keberadaannya.

Ibarat rasa masakan yang bisa dikuatkan dengan menambah bumbu lebih banyak, begitu juga dengan perasaan ikhlas, berdedikasi, dan bersyukur juga bisa dikuatkan dengan membumbuinya dengan nilai-nilai yang benar.

Perasaaan dikuatkan dengan nilai-nilai spiritualisme yang dijalani dengan penuh penghayatan. Ibadah, doa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan dapat memupuk perasaan agar bisa menghidupi pemikiran dan pergerakan.

Pemikiran dan pergerakan yang dikuatkan dengan perasaan akan mampu memberikan warna baru bagi dunia yang kita tinggali ini. Dunia yang sejatinya bisa diisi dengan perasaan yang diliputi kedamaian, ketentraman, dan kemaslahatan.

Sebuah Refleksi

Terkait perasaan dalam pemikiran dan pergerakan, ulama Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi dalam bukunya Bangkitnya Spiritualitas Islam menuliskan, “Sebenarnya, setiap pemikiran merupakan titik awal atau proses yang akan digunakan untuk melewati jalan menuju tujuan yang diwujudkan melalui sebuah pergerakan… Dalam rangkaian proses ini, pemikiran memiliki peran seperti layaknya benang merah yang menghubungkan antara yang awal dengan yang akhir, sementara perasaan adalah bagaikan ukiran yang menghiasi rangkaian ini.”

Ya, dari pemikiran menuju pergerakan adalah sebuah proses. Proses seharusnya memang dihiasi dengan perasaan sehingga terhindar dari kejumudan. Disinilah peran penting perasaan untuk membumbui dan memberi cita rasa dalam berproses. Yang lebih penting lagi, perasaan bisa membuat proses tersebut memiliki makna yang lebih mendalam.

Alhasil, untuk mengarungi dunia yang semakin berkembang dari segala sisinya ini, kita memang memerlukan sebuah pandangan hidup yang jelas. Pandangan hidup yang akan diterjemahkan menjadi sebuah pemikiran dan pergerakan yang dibumbui dengan perasaan.

Mari kita pikirkan kembali apa sebenarnya pandangan hidup kita, dari mana kita berasal, apa yang harus kita lakukan di dunia ini, dan kelak kemana kita akan kembali. Hiasilah itu semua dengan perasaan ikhlas, dedikasi, dan rasa bersyukur kepada-Nya.

mengembangkandiri.com nature-background-with-flower-behind-patterned-gla-2021-12-09-17-48-43-utc

Kejujuranku Menyelamatkanku

Sebuah kisah dari sosok, seorang sahabat, teladan umat Islam, Ka’b bin Malik tentang kejujurannya yang sudah menyelamatkannya.

Ka’b bin Malik: “Kejujuranku Menyelamatkanku”

Dalam setiap diskusi membahas tentang kejujuran, sosok Ka’b ibn Malik selalu menjadi rujukan karena kisahnya ini.

Beliau adalah sahabat yang sangat ahli dalam menggunakan pedang dan kata-kata.

Beliau adalah seorang penyair.

Melalui syair-syairnya, Ka’b ibn Malik dapat melemahkan semangat orang-orang kafir. Beliau telah bersumpah setia kepada Rasulullah di Aqabah. Oleh karena itu, dia termasuk orang-orang pertama yang beriman di Madinah. Namun, dia tidak bisa mengikuti perang Tabuk. Mari kita dengarkan saat dia menceritakan kisahnya sendiri:

“Panggilan untuk berjihad dalam perang itu ditujukan untuk semua orang, karena perang itu diprediksi akan berlangsung secara sengit. Namun, prediksi keberlangsungan perang ini bukanlah ketetapan dari Allah SWT dan bahkan, pertarungan secara langsung tidak terjadi dalam perang itu. Hasil dari peperangannya mungkin atau juga mungkin tidak diilhamkan kepada Rasulullah SAW. Namun, Beliau sangat memberikan perhatian kepada kesiapan pasukan perang tersebut.

Seperti yang lain, saya juga melakukan persiapan. Bahkan, saya tidak pernah bersiap lebih baik dibandingkan perang-perang sebelumnya. Rasulullah SAW memberi sinyal kepada pasukan muslim untuk mulai berangkat.

Saya tidak mengikuti mereka dan berpikir, ‘Saya dapat mengejar mereka bagaimanapun juga.’

Saya tidak memiliki kegiatan lain yang khusus. Tapi karena kepercayaan diri saya, saya tertinggal. Sehingga saya menunda keberangkatan ke hari berikutnya, namun, banyak hari pun berlalu.

Saya tidak mungkin lagi mengejar Rasulullah.

Saya tidak bisa melakukan apapun selain menunggu mereka kembali. Tapi penantian ini terasa begitu lama bagi saya.

Akhirnya, kabar kembalinya Rasulullah SAW pun datang juga. Madinah akan segera hidup sebelum Beliau kembali. Kegembiraan akan kembalinya Rasulullah terlihat di wajah semua orang…

Akhirnya, harapan mereka terkabul, dan pasukan tiba di Madinah.

Seperti biasa, Rasulullah SAW pergi ke masjid dan melakukan shalat dua rakaat dan mulai menyapa orang-orang. Kemudian semua orang datang ke masjid secara berkelompok dan mengunjungi Beliau.

Mereka yang tidak bisa mengikuti peperangan menyampaikan permintaan maaf mereka. Sebagian besar orang yang tidak ikut berperang telah menyebutkan alasan mereka, dan Rasulullah telah menerima alasan mereka.

Saya bisa melakukan hal yang sama karena saya memiliki kemampuan khusus untuk membujuk orang dan menggunakan bahasa dan retorika.

Tapi bagaimana saya bisa berbohong kepada Rasulullah, karena saya tidak punya alasan.

Saya tidak melakukannya; saya tidak bisa.

Saat kami bertemu, Rasulullah menyapa saya dengan senyum masam yang menusuk hati saya.

“Di mana dirimu?” beliau bertanya.

Saya menjelaskan cerita saya apa adanya.

Beliau memalingkan wajahnya dari saya dan berkata tanpa suara,

‘Pergi.’

Saya pun pergi.

Orang-orang mengerumuni saya, berkata, ‘Beri alasan dan bebaslah.’ Mereka membujuk saya.

Tapi saya sadar dan bertanya, ‘Apakah ada orang lain seperti saya?’

‘Ya,’ jawab mereka, dan menyebutkan nama dua orang.

Keduanya adalah sahabat terkemuka yang pernah berpartisipasi dalam Perang Badar yaitu Murarah bin Rabi dan Hilal bin Umayyah. Mereka tidak menyebutkan alasan apapun, tetapi mengatakan yang sebenarnya.

Mereka seperti saya.

Saya bisa mengikuti cara mereka. Saya memutuskan untuk seperti mereka dan menghindari menyampaikan alasan apapun.

Sebuah perintah dikeluarkan perihal kami bertiga. Perintahnya adalah melarang siapapun berbicara atau bertemu dengan kami.

Dua orang yang lain tinggal di rumah, menangisi dosa-dosa mereka. Saya lebih muda dan lebih kuat. Jadi saya bisa berjalan di jalan-jalan dan pasar dan saya bisa pergi ke masjid pada waktu salat.

Tapi tidak ada yang berbicara kepada saya. Saya menghabiskan sebagian besar waktu di masjid.

Saya akan menunggu dengan sungguh-sungguh senyum dari Rasulullah.

Yang membuat saya cemas, setiap hari saya pulang ke rumah dengan kekecewaan.

Meskipun selalu ada senyum di wajahnya, Rasulullah tidak pernah menatap saya dan tersenyum pada saya.

Saya selalu menyambutnya dan menunggu dengan seksama jawaban darinya.

Tapi bibir Beliau tetap tertutup untuk saya.

Saya juga terkadang mencuri-curi pandang kepada Beliau saat berdoa. Beliau melihat kearah saya ketika saya mulai melakukan shalat, tapi Beliau mengalihkan pandangannya dari saya selepas shalat.

Selama lima hari saya dalam keadaan seperti ini. Semua orang di sekitar tempat saya tinggal mulai tampak begitu asing sehingga terasa seperti tinggal di negara asing.

Suatu hari, saya melewati pagar dan masuk ke kebun Abu Qatadah —Beliau adalah putra paman saya dan kami sangat dekat— dan pergi menemuinya.

Saya mengucapkan salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak membalas salam saya.

Saya berkata: ‘Wahai Abu Qatadah, saya memohon padamu demi Allah! Tahukah kamu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Dia diam.

Saya mengulangi pertanyaan saya tiga kali. Akhirnya, dia berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,’ dan pergi.

Seluruh dunia tampak terbalik.

Saya tidak pernah menyangka akan mendengar hal ini dari Abu Qatadah.

Mataku berlinang air mata dan menangis.

Suatu hari, saya sedang berjalan-jalan di Madinah, dan saya mendengar seseorang mencari saya. Dia datang kepada saya dan menyerahkan surat kepada saya..

Itu dari raja Ghassan. Raja mengundang saya ke negaranya.

Surat itu tertulis: ‘Saya telah diberitahu bahwa sahabatmu (Rasulullah SAW) telah memperlakukanmu dengan kasar. Bagaimanapun, Allah tidak membuatmu tinggal di tempat di mana kamu merasa rendah diri dan kehilangan hakmu. Jadi, bergabunglah dengan kami, dan kami akan menghiburmu.’

Ketika saya membacanya, saya berkata pada diri sendiri, ‘Ini juga adalah ujian,’ dan saya membawa surat itu ke perapian dan membakarnya.

Pada hari ke 40 dari 50 hari yang berlalu.

Seorang utusan Rasulullah datang kepada saya dan berkata, ‘Rasulullah memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.’

Saya berkata, ‘Haruskah saya menceraikannya; atau apa yang harus saya lakukan?”

Dia berkata, “Tidak, jauhi saja dia dan jangan bergaul dengannya.”

Saya berkata kepada istri saya, ‘Pergilah ke orang tuamu dan tinggal bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan-Nya dalam masalah ini.’

Sementara itu, istri Hilal telah meminta izin untuk melayani Hilal. Hilal adalah seorang lelaki tua tak berdaya yang tidak memiliki pelayan untuk merawatnya. Rasulullah memberikan izin kepadanya.

Beberapa orang menyarankan agar saya meminta izin dengan cara yang sama.

Tapi saya tidak mau melakukannya. Saya tidak tahu bagaimana reaksi Rasulullah jika saya melakukan itu.

Kami terus berada dalam kondisi tersebut selama 10 malam, hingga periode 50 malam selesai.

Jiwa saya terasa sesak dan bumi tampak sempit bagi saya, padahal ia begitu lapang.

Setelah menyelesaikan salat Subuh pada pagi kelima puluh, saya mendengar seseorang memanggil nama saya. ‘Wahai Ka’b, berbahagialah (dengan menerima kabar baik)’ katanya.

Mengetahui bahwa telah datang pengampunan-Nya, saya pun tersungkur  dalam sujud di hadapan Allah.

Rasulullah telah mengumumkan penerimaan taubat kami oleh Allah setelah salat Subuh.

Saya berlari ke masjid.

Semua orang mengucapkan selamat kepada saya.

Talhah dengan cepat mendatangi saya, menjabat tangan saya dan memberi selamat kepada saya. Seolah-olah saya berada di hari Aqaba.

Saya pergi ke hadapan Rasulullah dan memegang tangannya. Beliau juga meraih tangan saya.

Rasulullah berkata, ‘Allah memaafkanmu.’ Kemudian, beliau membacakan ayat berikut:

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah 9:118).

Setelah ayat ini turun, Ka’b ibn Malik berkata kepada Rasulullah SAW: “Saya berjanji untuk berkata benar selama hidup saya.”