big-heap-columns-different-coins (1)

Tidak Mengharapkan Upah dari Melayani

Seseorang yang beriman sebaiknya tidak mengharapkan hal duniawi maupun ukhrawi saat melayani agamanya. Dalam salah satu dialognya, Ustad Fethullah Gülen menjabarkan tentang penjelasan ini dalam beberapa uraian berikut:

“Bagian kita adalah melayani tanpa mengahrapkan apapun. Entah itu ditempat yang sekarang atau dimanapun nanti, seorang yang melayani tidak boleh mengharapkan hal-hal duniawi. Saya selalu sampaikan kepada siswa-siswa terkasih saya, “Menyebarlah ke seluruh dunia. Jangan harapkan upah ataupun beasiswa. Jadilah buruh, pencuci piring atau tukang sapu dan hidupilah diri anda, namun tetap layani masyarakat sekitar dan agama anda. Jika anda punya bakat atau keahlian, tulislah sesuatu, terbitkan buku. Jika tidak ada pilihan lain, jadilah pengangkut sampah, tapi jangan pernah mengharapkan apapun sebagai upahmu. Jika tidak seperti itu, anda akan melewatkan hari-hari yang diimpikan di masa depan.”

Dalam hal melayani, seorang yang beriman harusnya ada di baris terdepan, namun saat tiba waktu pembagian upah, dia ada di baris paling belakang tak mengharap imbalan apapun. Seseorang dengan jiwa melayani hanya mengharapkan upah balasan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia tidak boleh berharap apapun dari orang lain. Orang-orang dengan jiwa melayani, yang tidak memiliki impian kecuali Ridha dari Allah SWT, harusnya selalu sensitif terhadap kedudukan dunia yang hanya sebagai tempat sementara bukan tempat untuk mencari pamrih. Mereka harus memiliki pemahaman bahwa “Upah dari pelayanan kami adalah nanti di Akhirat”; karenanya mereka akan terus berusaha tanpa lelah, tanpa mengharapkan sekepingpun koin sebagai imbalan.

Sebagai contoh, salah satu harapan yang paling penting adalah untuk mendidik generasi emas. Investasi terbaik adalah investasi yang disalurkan untuk mendidik seorang manusia, khususnya adalah anak muda. Pemuda hari ini akan menjadi pelayan bagi bangsa dan masyarakat di masa depan sebagai sosok dewasa masa depan.

Suatu hari, berkumpulah sekumpulan prajurit dalam suatu musyawarah. Umar bin Khattab bertanya kepada mereka satu per satu: “Anda memiliki impian untuk melayani Islam. Jika saja Tuhan menerima doamu, apa yang akan Anda minta dari-Nya atasnama untuk melayani Islam?”

Seorang dari mereka membalas: “Jika doa saya dikabulkan, saya akan meminta sebuah peti emas. Saya akan gunakan itu semua untuk mengabdi kepada Islam.”

Umar bertanya pertanyaan yang sama kepada seorang yang lain yang ada di sebelahnya, dia menjawab: “Saya juga akan meminta sepeti penuh harta dan saya akan gunakan semua koin peraknya untuk mengabdi kepada Islam.”

Seorang yang lain menyaut: “Kalau saya akan meminta dari Allah SWT sekawanan domba yang sangat besar, hingga memenuhi padang pasir. Saya akan menyalurkan hasil susu dan daging dari hewan ternak tersebut untuk para muslim dan untuk melayani Islam.”

Diakhir, pasukan tersebut bertanya ke Sayidina Umar, apa yang akan dia doakan. Umar menjawab: “Jikalau Tuhan mengabulkan apa yang saya minta, saya tidak akan meminta perak, emas, domba ataupun unta. Saya akan memohon seorang kawan yang setia. Kawan seperti Abu Ubayda, Abu Dharr dan Muaz bin Jabal.”

Memang, membesarkan generasi yang dirahmati adalah hal yang paling penting.

beautiful-rare-black-dragon-hybrid-rose-red-white

Berdedikasi dalam Tugas

Bagaimana Menjadi Seorang yang Berdedikasi dalam Berkhidmah?

Zubeyr Gundüzalp, seorang murid langsung Ustaz Badiuzzaman menulis surat kepada Nazim Gokcek yang tinggal di Gaziantep, yang juga seorang murid Risale-i Nur (“Risalah Cahaya,” berisi komentar Bediuzzaman Said Nursi tentang Al-Qur’an setebal 6000 halaman) menjelaskan kualitas seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk melayani Al-Qur’an:

Karena Anda sudah menyampaikan kepada kami bahwa Anda siap menerima semua cobaan dan kesulitan atas nama Allah, Anda telah memberi kami dorongan dan semangat, oleh karena itu bacalah baik-baik.

  • Tugas Anda adalah memetik mawar di antara duri-duri. Walaupun kaki Anda tergores dan tertusuk, tangan Andapun akan kemasukan duri. Namun, hal ini tetap akan membuat Anda senang.
  • Anda akan memasukkan orang-orang seperti Nabi Musa ke dalam barisan Anda, orang-orang yang dibesarkan di istana para firaun. Karena hal ini Anda akan dipukuli. Mereka akan memenjarakan Anda karena berbicara, tetapi ini akan membuat Anda senang.
  • Jika mereka melemparkan Anda ke ruang bawah tanah yang gelap, Anda akan mengeluarkan cahaya; jika Anda menemukan jiwa yang berkarat, Anda akan melumasinya; jika Anda melihat hati yang tidak beriman, Anda akan memberikan cahaya Ilahi kepada mereka. Apa yang Anda berikan akan dianggap melanggar hukum, Anda akan dihukum karena pemikiran dan ucapan Anda yang akan mengirim ke penjara, namun Anda akan berterima kasih kepada Allah untuk ini.
  • Anda akan terpisah dari ibu, keluarga, dan orang-orang terkasih Anda. Namun Anda akan memegang teguh Al-Qur’an dengan hati Anda. Dari setetes air, Anda akan menjadi lautan dan dari hembusan udara Anda akan menjadi angin topan.
  • Jika Anda terjebak dalam badai kebohongan, berita jahat dan fitnah, Anda tidak akan menanggapinya dengan emosi. Jika mereka membangun penghalang baja di depan Anda, maka Anda akan mengunyahnya dengan gigi Anda. Jika Anda harus melewati gunung, Anda akan menggalinya bahkan dengan jarum.

Tidak ada Kewajiban yang Lebih Besar dari Melayani Agama

Di dunia ini tidak ada tugas yang lebih besar dari melayani agama Allah. Karena jika ada kewajiban seperti itu, maka Allah akan menganugerahkannya kepada para Nabi-Nya. Misi mengajak kepada hidayah adalah kehormatan terbesar yang diberikan kepada para Nabi dan tugas yang paling dihargai di sisi Allah. Kehormatan itu seperti matahari terbit untuk menyampaikan pesan Allah kepada orang-orang agar mereka dapat menyucikan diri dan kembali ke intisari mereka. Sejak zaman Nabi Adam, setiap manusia yang telah menerima undangan ini dan memiliki tanggung jawab, dalam arti tertentu dapat dianggap sebagai mereka yang duduk di meja yang sama dengan para Nabi.

Untuk itu, seorang mukmin harus mengabdi pada agamanya dengan rasa tanggung jawab dan penuh kepercayaan. Berkenaan dengan masalah ini, mari kita simak kisah berikut yang terjadi pada masa kekhalifahan Utsmaniyah. Suatu hari, Hüsrev Efendi, salah seorang ulama Utsmaniyah, sedang menjelaskan suatu topik kepada murid-muridnya. Murid-muridnya memperhatikan rasa keengganan dalam sikap cendekiawan itu. Mereka bertanya: “Guru, Anda tampak agak tidak bersemangat hari ini.”

Hüsrev Efendi menjawab: “Maafkan saya, sebenarnya saya tidak ingin menunjukkan sikap ini, tetapi hari ini sebelum saya meninggalkan rumah, putri saya meninggal. Saat aku memikirkan pengaturan pemakaman, aku ingat bahwa aku ada kelas hari ini. Kemudian saya berkata pada diri sendiri, “Apa yang akan Allah katakan kepada saya jika saya mengabaikan murid-murid saya? Di sisi lain, tubuh putri saya terbaring di rumah. Karena itulah pikiranku terus berbolak-balik.”

Ini adalah potret guru yang mewakili kafilah keabadian dan jika kehidupan dibentuk di tangan para guru seperti itu, umat manusia akan bersatu kembali dengan kecukupan.

Mari kita juga berikan contoh dari waktu sekarang: Suatu hari, kepala sekolah melihat seorang anak jatuh dari jendela yang terbuka. Siswa itu jatuh dari lantai tinggi di sekolah tersebut. Dalam kepanikan, kepala sekolah bergegas keluar dari kantornya dan berlari menuruni tangga. Saat dia berlari ke arah anak itu, dia terus berpikir, “Apa yang akan saya katakan kepada keluarganya? Bagaimana jika insiden ini memengaruhi layanan kami dan orang-orang akan menarik anak-anak mereka dari kami? Ya Allah! Kejadian ini tentu akan merugikan layanan pendidikan kita!”

Saat kepala sekolah mendekati anak yang terbaring di tanah, dia mengucapkan kata-kata, “Alhamdulillah; itu adalah anak saya. Tidak akan ada masalah yang datang untuk pelayanan kami.”1

Jelas tidak ada perbedaan antara Hüsrev Efendi dan kepala sekolah heroik muda ini. Orang-orang yang telah menangkap cakrawala kebajikan yang sama bersatu di jalur yang sama. Ini adalah indikasi penemuan kembali matahari yang pernah hilang.

Benarkah Kita Sudah Melakukan Tugas Kita?

Nabi kita yang mulia sadar akan tanggung jawabnya. Dia memiliki kemauan yang tak tergoyahkan dan sarafnya terbuat dari baja. Dia telah mengalami segala bentuk kesulitan di Mekah namun hal itu tidak membuatnya patah semangat sedikitpun. Istri dan pamannya telah meninggal satu demi satu namun dia tidak kehilangan harapan meskipun mereka adalah pendukung terbesarnya dalam hidup.

Ia diberi tugas menjadi pembimbing bagi umat manusia. Dia harus menjelaskan Allah kepada umatnya, satu per satu. Ini adalah tugas yang sulit namun Rasulullah telah melakukan ini tanpa ragu-ragu. Akibatnya, ia berhasil masuk ke dalam hati manusia.

Bahkan ketika dia masih kecil, dia akan mengulangi kata-kata, “Umatku … umatku!” Seolah-olah dia telah memprogram dirinya sendiri untuk tugas yang terbentang di depan. Penampilannya yang penuh perhatian pada Hari Pembalasan, berdiri di dua sisi, adalah perpanjangan dari tanggung jawab mulia ini. Bagaimanapun, siapa yang bisa memiliki daya tahan untuk mengambil tanggung jawab seperti itu selain dia? Seolah-olah dia telah mengambil tanggung jawab seluruh umat manusia dari manusia pertama hingga terakhir.

Dia menjalani hidupnya dengan cara yang sama, dengan kepekaan dan disiplin, dari hari dia memulai tugasnya sampai hari dia meninggal. Sikap yang dia miliki ketika mereka adalah kelompok kecil yang terdiri dari satu pria, satu wanita, satu anak dan seorang budak… adalah sikap yang sama ketika dia berbicara kepada kerumunan seratus ribu pengikut selama haji Wada/Haji terakhir Rasulullah.

Saat ia menyampaikan khotbah perpisahannya, umat Islam berkumpul untuk mendengarkannya. Suaranya yang suci menyebar dalam gelombang spiral yang bersinar, mencapai semua telinga dan akan terus bergema sampai Hari Penghakiman. Bagi mereka yang tidak hadir, dia akan berkata, “Bagi Anda yang di sini, sampaikan ini kepada mereka yang tidak hadir.” Nabi yang mulia bersiap untuk pergi maka dia mengucapkan kata-kata terakhirnya:

“Wahai orang-orang! Aku datang kepadamu dengan sebuah misi. Aku telah menjelaskan beberapa hal kepada Anda. Besok, di hadapan yang agung, mereka akan bertanya kepada Anda apakah saya telah menyelesaikan misi saya atau belum. Bagaimana Anda akan bersaksi tentang ini?”

Memang, dia adalah seorang Rasul yang telah menyelesaikan misinya. Dia adalah orang yang disucikan sehingga bagi Allah, bahkan pembagian seikat rambut di sisi wajahnya merupakan kejadian penting dibandingkan dengan peristiwa yang terjadi di alam semesta. Rasulullah berbeda. Dia diampuni untuk semua yang terjadi di masa lalu dan semua yang akan terjadi di masa depan. Namun, dia masih memiliki kekhawatiran. Meskipun, dia telah menyelesaikan misinya dengan sukses, akankah orang-orangnya setuju untuk bersaksi tentang ini? Tiba-tiba, Gunung Arafat dan Muzdalifa mulai bergetar dengan teriakan. Jeritan ini datang dari lubuk hati yang terdalam:

“Anda telah memenuhi misi Anda! Anda telah membimbing kami sebagai Rasul yang mulia! Anda meninggalkan kami sebagai orang yang telah menyelesaikan tugas!” Setelah mendengar ini, Nabi yang mulia mengangkat jari telunjuknya ke langit dan berseru: “Jadilah saksiku ya Allah! Jadilah saksiku ya Allah! Jadilah saksiku ya Allah!”2

Apa yang dimaksud Rasulullah dengan ini? Tergantung pada status dan pangkat mereka, setiap orang memiliki tanggung jawab dan tugas tertentu. Yang mulia telah menyelesaikan tugasnya dengan sukses besar. Bagaimana dengan kita? Apakah kita menjalankan tugas kita di zaman sekarang ini? Ini adalah pertanyaan yang masing-masing dan kita semua harus tanyakan pada diri kita sendiri. Kita tidak bisa menjadi pengamat di depan api yang berkobar ini. Kita semua harus mengambil ember dan bergegas untuk memadamkannya.

  1. Akar, Mehmet, Mesel Ufku, Istanbul: Timas, 2008, p.49
  2. Sunan ibn Majah, Manasik, 84; Sunan Abu Dawud, Manasik, 57

denis-agati-QmIZnMoe5FI-unsplash

Tentang Kesetiaan dan Ketaatan

Apa itu kesetiaan dan ketaatan?

Sebagai seorang Muslim yang ideal, kesetiaan sangat berkaitan dengan menaati janji-janji, memberikan segala kemampuan kita dengan baik dan benar, serta menunjukkan rasa hormat kita pada agama guna memperoleh rahmatNya. Sedangkan ketaatan berkaitan dengan bagaimana menjadi pribadi yang benar dalam segala aspek, termasuk jujur dan bisa dipercaya.

Menjaga kesetiaan dan ketaatan termasuk salah satu cara bagi kita sebagai umat Muslim untuk mendapatkan nilai luhur di mata Allah SWT. Menjadi seorang yang setia dan taat merupakan sebuah tugas mulia bagi Muslim yang ideal. Setiap individu Muslim masing-masing mempunyai level dan kemampuan untuk setia dan taat. Dengan itu, generasi mendatang membutuhkan bimbingan dari Muslim dengan level kesetiaan dan ketaatan yang tinggi.

Siapa saja yang disebut teman sejati?

Setiap manusia mempunyai tiga teman yang penting bagi dirinya. Dari ketiga teman tersebut, salah satunya merupakan teman sejati, sedangkan dua di antaranya merupakan teman yang fana. Ketiga teman manusia itu ialah harta, keluarga, dan amal baiknya.

Setelah kematian datang, salah satu teman manusia yang bernama harta tidak akan ikut mengantarkannya ke liang lahat. Semua akan ditinggalkan tanpa peduli lagi dengan apa yang akan terjadi pada pemiliknya. Sedangkan salah satu temannya lagi yang bernama keluarga, akan menemaninya hanya sampai ke liang lahat, lalu meninggalkannya. Mungkin saja mereka sedih, ataupun menangis, tetapi kesetiaan itu tidak dapat ditunjukkan hanya dengan itu. Teman yang benar-benar setia ialah amal baik manusia itu. Amal baik akan menemani manusia itu selama ia dalam kubur. Bahkan, ketika amal buruk menyiksanya di dalam kubur, amal baiklah yang akan membantunya menghadapi siksaan tersebut.

Untuk apa, siapa, dan bagaimana kita setia dan taat?

Berikut ialah rangkuman untuk apa dan siapa kita harus setia dan taat, serta bagaimana melakukannya.

  1. Setia dan taat kepada Allah SWT.
    Menjadi setia dan taat kepada Allah hanya dapat ditempuh dengan cara menjadi hamba yang sesempurna-sempurnanya. Yaitu hamba yang berpegang teguh pada Alquran sebagai firman Allah serta hadist Nabi SAW.
  1. Setia dan taat kepada Nabi dan Rasul Allah.
    Menjadi setia dan taat pada Nabi dan Rasul dapat ditempuh melalui perbuatan taat dengan apa saja yang mereka sampaikan berupa wahyu Allah.
  1. Setia dan taat kepada Alquran.
    Membaca, mengamalkan, serta meyakini bahwa kitab suci inilah yang menjadi penuntun hidup kita merupakan cara yang tepat untuk menunjukkan sifat taat kita. Ketiga aspek itu harus dijalankan secara berbarengan, guna terserapnya segala bentuk wahyu yang ada di dalamnya.
  1. Setia dan taat kepada agama.
    Karena Islam merupakan rahmat atau hadiah terbesar dari Allah untuk umat manusia, maka dengan taat kepada Islam akan menuntun kita kepada rahmat-rahmatNya yang lain.
  1. Setia dan taat kepada ulama.
    Kesetiaan dan ketaatan kita kepada para ulama dapat kita tunjukkan melalui penghormatan pada nama-namanya, serta mengambil pelbagai pelajaran yang disebarkan.
  1. Setia dan taat kepada orang tua.
    Orang tua yang menuntun kita kepada iman juga merupakan salah satu yang perlu kita taati. Dengan usaha mereka, kita dapat mengenal bahkan mempraktekkan tuntunan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
kelvin-yan-fG0LRiUifNI-unsplash

Dimana Sajakah Dirimu Selama ini?

Seorang lelaki khidmah bercerita,

            Saat itu, di Turki, tahun 1994. Saya terlambat datang ke pengajian bincang santai yang juga dihadiri teman-teman saya. Akhirnya, saya meminta maaf kepada mereka seraya menjelaskan alasannya. Saya terlambat karena harus mengunjungi salah seorang teman yang sedang dirundung duka. Seseorang yang disayanginya meninggal dunia. Kejadiannya cukup menarik meskipun akhirnya ada yang meninggal dunia.  Sesaat sebelum wafatnya, almarhum menerima empat panggilan telepon dari putra, putri, dan menantunya. Awalnya almarhum terkejut, karena keempat panggilan tersebut terjadi berurutan. Beliau selalu menjawab, “Saya baik-baik saja.”. Lantas satu gagasan terbesit di pikirannya, “Ada yang aneh ini…” Beberapa menit kemudian, beliau meninggal dunia dengan posisi sedang duduk di sofa. Keseluruhan kejadian tadi hanya berlangsung sekitar setengah jam.

            Saat saya menceritakan cerita tadi sambil kami minum teh, seorang  pemuda tiba-tiba menyahut, “Izinkan saya menceritakan kejadian yang serupa yang saya alami, Pak.”

            Ia melanjutkan,

            “Suasana harmonis pertemanan dan percakapan di bincang santai ini begitu berkesan untuk saya. Memang kita baru saja bertemu. Namun, entah mengapa terngiang dalam pikiran saya sebuah pertanyaan, “Mengapa diri saya tidak berjumpa dengan orang-orang seperti di bincang santai seperti ini sebelumnya?” Izinkanlah saya, yang hanya memiliki satu lengan ini menceritakan kejadian yang serupa dan hal-hal menarik yang terjadi kepada saya beberapa waktu silam.

            Kejadian ini terjadi tepat ketika saya bersama tunangan saya Ipek, kami hendak menikah sepuluh hari lagi waktu itu. Saat itu, saya menjemputnya dari rumahnya, kemudian pergi ke kafe malam. Kemudian, kedua temanku yang namanya sama, Murat, juga datang bersama kekasihnya. Jujur, waktu itu saya tidak menduga kedatangan mereka. Oleh sebab itu, saya bertanya  apa yang mereka lakukan di kafe malam itu. Dengan arogan mereka tertawa dan berteriak keras, “Kami ke sini untuk mati!”. Dengan kencang kami pun mengatakan hal yang sama. Kami pun tertawa dengan penuh senda gurau.

            Setelah puas tertawa, salah satu kawan kami lagi, si Hakan datang bersama dua wanita lain. Sepengetahuan saya, ia tidak akan datang ke sini, saya tidak menduga kedatangannya. Oleh karena itu, saya menanyainya hal yang sama seperti sebelumnya, “Apa yang kamu lakukan di sini?” Meskipun ia tidak mendengar jawaban Murat sebelumnya, namun ia menjawab dengan lantang, “Aku ke sini untuk mati!” Sungguh mengejutkan. Apakah hal ini merupakan suatu kebetulan?  Kami tidak terlalu mempedulikannya, kami terus minum dan tertawa riang. Dirasa sudah puas, kami akhirnya keluar dari kafe malam itu. Saya berikan kunci mobil saya ke Hakan dan memilih menumpang mobilnya Murat. Saya melihat Ipek nampak sedikit aneh. Saya ingin duduk di belakang di antara Ipek dan satu wanita lain. Namun, bagaimanapun saya memaksa Ipek, ia tetap tidak mau menurut. Ia menyuruhku duduk di kursi tengah, belakang sopir persis. Sementara di kursi depan, duduk Murat yang sedang mengendarai mobil bersama kekasihnya.

            Kami pun pergi meninggalkan kafe malam. Sesaat kemudian, kami mengalami kecelakaan yang sungguh tragis. Murat, Ipek, dan wanita di sebelahku meninggal ditempat. Sementara diri saya mengalami koma. Wanita di kursi depan selamat tanpa terluka. Dia membuka pintu mobil dan keluar tanpa menoleh ke belakang.

             Ketika satuan polisi tiba di tempat kecelakaan, dikiranya semua orang yang ada di dalam mobil meninggal dunia. Oleh karena itu, kami dibawa langsung ke kamar mayat di rumah sakit terdekat. Kemudian saat para dokter masuk akan mengidentifikasi tubuh kami, salah satu dari mereka sadar bahwa saya masih hidup. Nampak, saat itu saya masih bergerak dan menjerit tatkala pintu kamar mayat dibuka. Kejadian itu cukup menyebabkan salah satu petugas disana sangat terkejut hingga mengalami gangguan psikis sampai harus menjalani terapi selama beberapa bulan.

            Satu lengan saya harus diamputasi. Proses penyembuhannya memakan waktu beberapa bulan, baik itu di dalam negeri dan di luar negeri. Kemudian, saya baru tahu jika Hakan dan yang lainnya juga terlibat dalam kecelakaan beruntun itu.  Mereka semua meninggal kecuali seorang perempuan (kekasih Murat) dan diri saya.”

            Selama Murat (yang berlengan satu) menceritakan kejadian tadi, kami semua tak sempat menghela nafas dan mendengar ceritanya dengan penuh perhatian. Dia kemudian melanjutkan ceritanya;

            “Beberapa bulan setelah kejadian itu, saya memahami sesuatu yang luar biasa. Temanku Murat (yang meninggal dunia dalam kecelakaan), telah menyiapkan satu makam untuk dirinya, kurang lebih 15 hari sebelum kecelakaan mengerikan itu. Ia bahkan meminta seorang ulama untuk membacakan ayat suci Alquran di atas makamnya. Sang ulama bertanya, “Bagaimana saya bisa membaca Alquran kalau makamnya kosong seperti ini?” Murat lantas menjawab, “Anda fokus saja pada tugas itu, seseorang akan mengisi makam ini tak lama lagi.”Apa yang diucapkannya sungguh terjadi. Mereka menguburkan Murat sendiri di makam itu.

            Sementara itu, kisah tunanganku Ipek, lebih menarik. Persis sebelum saya menjemputnya, ia merapikan pakaiannya kemudian memasukkannya ke dalam koper. Ia meninggalkan sebuah catatan kecil di koper bertuliskan, “Jika diriku tidak kembali, berikanlah semua pakaian ini kepada orang miskin atau anak-anak dalam panti pengungsian.” Tampak seolah-olah ia memiliki firasat mengenai kecelakaan mengerikan malam itu. Saya sadar mengapa ia memaksaku duduk di kursi tengah. Ia ingin melindungiku. Ia sangat menyayangiku. Belum pernah saya melihat ia bersikeras seperti itu sebelumnya.”

            Tatkala Murat menceritakan hal ini, ia menangis tersedu-sedu. Lantas ia bertanya, “Ipek, kekasihku, ia beriman kepada Tuhan dan tidak meminum alkohol. Ia adalah seseorang yang jujur dan peduli terhadap orang lain. Ia senang membantu sesama. Hanya karena ia dibesarkan dengan cara yang salah, ia akhirnya tidak memiliki banyak ilmu tentang agama. Bagaimana menurutmu, saudaraku, akankah Tuhan mengampuninya?”

            Kami pun berusaha menenangkan tangisannya. Kami meyakinkan bahwa ampunan Tuhan tidak terbatas. Terlebih lagi, kepada mereka yang hidup dalam kondisi fatrat (kondisi di mana tiada nabi yang membimbing umat itu).  Karena itu, seorang Mukmin tidak boleh putus asa dari ampunan Tuhan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.

            Murat melanjutkan bercerita tentang keadaan dirinya,

            “Saya beriman kepada Tuhan. Saya bahkan tidak menyentuh minuman keras dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, sudah lama saya merasa, diri ini sangat jauh dari naungan agama. Saya tidak tahu tentang ilmu agama dan tiada seorang pun  yang membimbing saya. Mungkinkah Tuhan mengampuniku, wahai saudara-saudaraku?”

            Sekali lagi, kami jelaskan padanya tentang luasnya ampunan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tampak matanya berkaca-kaca tatkala ia tersenyum dan berkata, “Saya tidak ingin meninggalkan kalian, saudara-saudaraku. Dengan izin kalian,  saya mohon, terimalah diriku menjadi saudara kalian!” Dengan hati yang tulus kami menjawab, “Kami menerimamu wahai saudaraku.”

            Beberapa minggu kemudian, Murat mengumpulkan koran-koran yang berisi tentang kecelakaan tragis yang menimpanya. Ia bermaksud untuk memberikannya kepada kami. Akan tetapi, akibat kecelakaan itu, ia sering mengalami kejang-kejang. Pada suatu sore, ia mengalami kejang-kejang yang parah dan Pak Ismail membawanya pulang. Ketika ia sudah siuman, tiba-tiba ia mengucapkan minta maaf lantaran tidak dapat hadir di pengajian bincang santai sebelumnya. Kejadian seperti itu terus berlanjut. Tepat seminggu kemudian, kami dapat informasi bahwa Murat mengalami kejang-kejang lagi dan terjatuh di kamar mandi. Kepalanya terbentur dan terluka. Keluarganya saat itu langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Ketika kami membesuknya, ia tidak mengenal kami sama sekali. Beberapa hari kemudian, Murat, saudara kami yang sangat kami cintai itu menghembuskan napas terakhirnya. Semoga Allah mengampuninya.

            Semua pemuda yang tinggal di Jalan Raya Bagdad, Istanbul, kala itu menangis karena kepergiannya. Mereka semua hadir di acara pemakaman. Ketika pemuda-pemuda itu menyadari siapa kami, tanpa basa-basi mereka mendatangi kami. Salah satu orang dari mereka bercerita,

            “Murat selalu menemui kami setelah bertemu dengan kalian. Ia bercerita telah bersahabat dengan orang-orang yang baik. Oleh karena itu, kami pun sangat ingin bertemu dengan kalian. Murat menasihati kami kalau jalan yang kami tempuh sekarang bukanlah jalan yang baik. Tidak hanya itu, ia menjelaskan bahwa semua yang ada di dunia ini hanya sementara. Dengan ketulusan kalbunya, ia ingin hidup dalam naungan Islam dan mengajak kami ke pengajian bincang santai kalian. Ia ingin sekali memperkenalkan kalian kepada kami, tetapi takdir berkata lain. “

            Allah Yang Maha Kuasa telah meridai Murat dalam waktu sesingkat itu. Setelah proses pemakaman usai, kami mengunjungi keluarganya. Ibu dan saudara perempuannya juga mengatakan hal yang sama. Ia sungguh bahagia bisa bersama kami.

            Saat di pemakaman tampak pula seorang lelaki dengan perban di kepalanya. Ia mendatangi kami dan berkata,

            “Murat adalah teman terbaikku dan saya benar-benar menyayanginya. Ketika saya mendengar kabar kematiannya, saya sangat terkejut dan menabrakan mobil saya ke pembatas jalan saat mengemudi. Itulah mengapa kepala saya diperban. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan ke kalian, saya hanya ingin bertanya, apakah Murat harus mati dulu sehingga kita bisa bertemu satu sama lain seperti ini? Mengapa kalian tidak pernah menemui kami sebelumnya?”

            Diakhirnya, kami mengetahui bahwa Murat adalah seorang pemuda yang sangat dermawan di lingkungannya. Bahkan setelah kematian Ipek, tunangannya, ia menjadi lebih gemar menolong sesama. Sekarang, ia dimakamkan persis di sebelah Ipek – di makam yang ia sudah persiapkan sebelumnya – berlokasi di Tempat Pemakaman Umum Karacaahmet.

Diambil dari kisah dalam:
Refik, Ibrahim, Hadiselerin Ibret Dili, Istanbul: Albatros, 2000, hal. 98

boris-smokrovic-RLLR0oRz16Y-unsplash

Tanggung Jawab ini Besar dan Bebannya ini Berat

Sekelompok pemburu telah melukai seekor burung, dan makhluk malang tersebut berusaha untuk kabur. Dengan penuh susah payah, burung tersebut terus mencoba untuk bisa terbang menjauh, namun para pemburu terus mengejarnya. Tidak ada tempat bersembunyi untuknya. Dimana saja si Burung bersembunyi, pemburu menemukannya, dan dimana saja si Burung mendarat, para pemburu melacaknya.

Jantung burung kecil itu terus berdetak kencang, penuh ketakutan. Dimanapun si Burung berhenti untuk menghela nafas, tembakan senapan dari Pemburu mengarah ke arah si Burung malang. Pemburu-pemburu tersebut menikmati tantangan memburu si Burung; pengejaran tersebut menambah keseruan dalam perjalanan berburu mereka. Rasa belas kasihan sudah hilang dari hati mereka. Mereka sudah tidak peduli dengan kondisi tidak berdaya, lemah, dan rapuh dari si Burung kecil. Mereka tidak menunjukan sedikitpun rasa ampun, dan itu akan terus berlanjut sampai mereka membunuh makhluk malang tersebut. Tercium bau kematian saat peluru senapan ditembakan satu demi satu, bau bubuk senapan menyebar luas ke sekitar.

Sekarang, Si Burung hanya memiliki satu kesempatan terakhir untuk kabur, karena energinya sudah habis terkuras. Tiba-tiba, dia melihat sekelompok manusia duduk di kejauhan. Ada seorang Sheikh duduk di tengah-tengah kelompok tersebut, sedang berzikir dan bersholawat. Si Burung menggunakan energi terakhirnya untuk terbang menuju sekelompok orang tersebut. Dengan instingnya, Si Burung terbang ke dalam sorban dari Sang Sheikh, mencoba untuk bersembunyi. Si Burung sudah menemukan tempat untuk berlindung.

Sang Sheikh merasakan sesuatu bergerak-gerak di atas kepalanya dan dengan panik, meraih benda tersebut. Saat Sang Sheikh menangkapnya dengan tangan -karena Si Burung dalam kondisi yang sangat rapuh- makhluk malang tersebut terbunuh.

Singkat cerita, pada Hari Penghakiman, si Burung kecil mengajukan keluhan terhadap Sang Sheikh yang membunuhnya dulu. Sang Sheikh tidak membunuh Si Burung dengan sengaja, karena saat itu, dia tidak tahu apa yang dia akan raih dari atas kepalanya. Setelah menyadarinya pun, Sang Sheikh merasa sangat menyesal karena dia telah membunuh si Burung kecil. Karena alasan ini, Beliau tidak bersalah. Akhirnya Si Burung menerima, namun dia mengajukan permintaan terakhir yaitu:

“Aku punya permintaan. Saya mencari perlindungan di dalam sorban tanpa ragu karena percaya bahwa saya akan mendapat perlindungan karenanya. Mulai sekarang, orang yang tidak menjaga dan menghormati amanah ini tidak diijinkan memakai sorban agar makhluk lain tidak jatuh ke situasi yang sama seperti saya!”

Nilai moral dari kisah ini adalah bahwa generasi kita sedang mencari suatu tempat perlindungan sehingga mereka terlindungi dari kejamnya jebakan para pemburu. Kemanusiaan sudah jatuh kedalam rawa penuh dosa. Kemanusiaan sedang berjuang dan menangis karena tenggelam semakin dalam ke dalam pasir hisap. Kemanusiaan lah yang bertanggung jawab untuk setiap pemuda yang menjadi pecandu narkoba, karena tidak ada orang yang merangkul mereka, dan kemanusiaan lah yang juga bersalah atas setiap pemuda yang kehilangan kesuciannya, tidak melihat darimana bangsa, ras, atau warna kulit mereka. Rumah sakit, penjara, dan tempat pemakaman sedang berteriak meminta bantuan!

Inilah tanggung jawab besar kita, dan bebannya sangatlah berat. Tidak ada seorangpun yang boleh memupuskan harapan mereka yang sedang kabur dari api penderitaan ini, mereka sedang mencari perlindungan. Selama kita tidak bisa melepas kain iman dari pundak kita, maka kita harus menunjukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menjaga dan menghormati sorban ini.

Dari Akar, Mehmet, Mesel Ufku, Istanbul: Timas, 2008, hal. 103

marek-piwnicki--7B7Vvk3KlQ-unsplash

Ambil Tongkat itu, Kami Pantas Dihukum!

Di lingkungan sekolah, nilai moral dan budaya seharusnya diajarkan dengan porsi yang sama dengan pelajaran umum lainnya, sehingga generasi dengan karakter dan semangat yang kuat dapat membentuk bangsanya menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera. Mengajar dan mendidik adalah sesuatu yang berbeda. Banyak orang bisa menjadi seorang guru, namun tidak semua orang bisa mendidik. Menjadi seorang guru-pendidik bergantung kepada perasaan bertanggung jawab dan menjadi penuh perhatian dan menanggung beban amanah di waktu yang bersamaan. Memberi pengaruh ke hati para siswanya hanya bisa dicapai melalui tingkat perasaan jiwa seperti itu.

Kejadian berikut bisa menjadi contohnya:

Pak Ari datang menemui Pak Dimas dalam keadaan panik, “Mereka kabur lagi! Sudah berapa kali kita nasehati, tapi tetap saja mereka melakukannya lagi! Mereka tidak mendengar nasehat kita. Ini sudah ketiga kalinya mereka kabur!”

Pak Dimas bertanya, “ Kali ini, mengapa mereka kabur?”

“Saya kurang tahu; mereka ingin hidup seperti anak nakal,” balasnya

“Bagaimana Anda bisa menangkap mereka terakhir kali, Pak?”

“Pertama, kami temukan mereka di terminal bus dan kedua kalinya mereka kabur, kami menemukan mereka tidur di bangku yang ada di taman. Saat itu, kondisinya sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) jadi polisi menemukan mereka dan menginformasikan kepada kita. Kami datang dan membawa mereka kembali. Kami sudah menasehati kepada mereka tentang perilaku mereka itu sangat beresiko, namun mereka tidak paham-paham.”

Sementara itu, ketiga pelajar yang sedang kabur memutuskan untuk membeli tiket kereta api. Kondektur yang sudah berpengalaman di stasiun kereta api menyadari bahwa anak-anak tersebut sedang kabur.

Dia berkata kepada mereka, “ Dengar nak, di sini bukan tempat yang aman, berikan tiket dan uang kalian dan saya akan menyimpannya. Saat kereta datang, saya akan mengembalikannya.” Anak-anak itu menyadari bahwa itu alasan yang masuk akal dan memberikan tiket mereka ke pak kondektur.

Pak kondektur pun menginformasikan ke polisi di stasiun kereta api dan meminta mereka untuk menginvestigasi anak-anak tersebut. Pak polisi bersikap baik terhadap mereka dan bertanya tentang kondisi anak-anak itu. Pak polisi menemukan nama asrama tempat mereka kabur. Segera Beliau menelpon pihak sekolah dan Pak Dimas yang mendapat informasi tersebut langsung tancap gas menuju ke stasiun. Beliau menjemput ketiga anak kabur itu dan membawanya kembali ke sekolah. Saat itu beliau ingin menghukum mereka secara berat, karena mereka sudah sering kabur sebelumnya. Saat tiba di sekolah, Beliau melihat Pak kepala sekolah dan berubah pikiran untuk menghukum siswa-siswanya. Beliau menceritakan kejadiannya ke Pak kepala sekolah.

Pak kepala sekolah berkata, “ Carikan saya 3 tongkat besi dan pastikan tongkat itu cukup tebal, saya tidak ingin tongkat itu mudah bengkok saat saya memberi pelajaran ke tiga siswa ini. Saya ada kelas sekarang, bawa 3 tongkat itu setelah saya selesai kelas.”

Pak Dimas keluar sambil berpikir, “Bukankah satu tongkat besi saja cukup? Tongkat besi tidak semestinya mudah patah seperti batang kayu biasa.” Kemudian beliau berpendapat, “ Saya harus menghormati beliau, pasti ada pelajaran penting dari ini.”

Setelah beberapa menit, dia kembali dengan menggenggam 3 batang tongkat besi di tangannya. Pak kepala sekolah pun sudah selesai dari kelasnya dan ketiga siswa tadi menunggu didepan pintu seperti pasien yang sedang menunggu untuk dioperasi, dengan rasa takut terlihat di mata mereka. Pak kepala sekolah memanggil mereka “Masuk anak-anak.” Kemudian Beliau menghadap ke Pak Dimas dan berkata kepadanya, “ Sini Pak Dimas, silakan lepas kemeja Anda, saya juga akan melakukan hal yang sama.” Kemudian Beliau melihat siswa-siswanya dan berkata, “ Ini ambil tongkat besinya masing-masing! Kami pantas untuk dihukum. Jika kami adalah contoh dan teladan yang baik, jika kami berhasil menyentuh hati kalian, kalian tidak akan berbuat hal bodoh seperti itu. Kami lah yang pantas untuk hukuman ini. Punggung kami terbuka, pukul sebanyak yang kalian mau.”

Ketiga siswa yang tadinya masuk dalam keadaan wajah pucat dan ketakutan setengah mati sekarang terkaget-kaget. Tongkat-tongkat besi tadi terjatuh dari tangan mereka dan mereka pun bersimpuh di lantai, menangis. Mereka mengaku bersalah kepada Pak kepala sekolah, “Tolong Pak, hukum saja kami apapun kehendak Bapak, patahkan kaki kami namun maafkan kami Pak.” Pak kepala sekolah cukup serius tentang keputusannya untuk menghukum dirinya sendiri. Namun, ketulusan permohonan dari siswa-siswanya menggugah hatinya. Akhirnya, Beliau berubah pikiran dan memutuskan untuk tidak bersikeras lagi. Tidak ada lagi siswa yang kabur dari asrama sekolah tersebut setelahnya.

Terinspirasi dari:

Refik, Ibrahim, Hayatin Renkleri, Istanbul: Albatros, 2001, p. 154