muslim-praying-mosque-traditional-ground-carpet_21730-11191

Salat Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar

Sebagai mukmin, hidup kita berada diantara perintah dan larangan. Kita harus mengelola kehidupan kita dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Mengerjakan semua perintah adalah bagian dari agama Islam dan menjauhi larangan juga merupakan bagian lainnya dari agama Islam.

Peran Penting dari Salat

Sebagai orang yang berharap pada Allah ﷻ, jika kita mengerjakan perintahnya, kita akan jadi umat Nabi Muhammad ﷺ. Yaitu jamaah yang meninggalkan semua yang dilarang, dan mengerjakan semua yang diperintahkan untuk meraih hal tersebut, salat memiliki peran yang sangat penting.

Pertama, salat adalah salah satu ibadah yang diperintahkan kepada kita. Bahkan ia adalah ibadah yang berat. Pelaksanaannya di 5 waktu bersama wudu dijelaskan hadis :

“Tahukah kamu tentang apa penghuni langit itu berdebat?”

Poin yang dijelaskan dalam hadis tersebut:

  • Berwudu dengan sempurna walaupun nafsu kita tidak menyukainya.
  • Berwudu secara sempurna dalam cuaca ekstrem dingin ataupun ekstrem panas.
  • Berwudu dengan sempurna tak peduli ditempat itu airnya sedikit atau banyak.

Di alam malaikat, terjadi perdebatan diantara mereka tentang bagaimana pahala ibadah para hamba tersebut dicatat. Di tengah perdebatan tersebut, terdengar suara pena beradu. Salat, kewajiban yang berat. Tetapi ia juga kewajiban yang manis. Yang diwajibkan salat, mendekatkan diri pada yang mewajibkan perintah, yaitu Allah ﷻ. Salat adalah ibadah suci. Ia adalah sarana bagi yang diperintah dan Yang Memberi Perintah untuk bertemu. Salat adalah perintah paling utama diantara perintah lainnya. Di waktu yang sama, salat oleh Al-Qur’an dikatakan sebagai pencegah manusia dari kemungkaran. Salat yang sejati mencegah manusia dari keburukan, akhlak buruk, dan segala macam ketergelinciran. Salat mencegah manusia dari nafsu yang buruk, serta segala macam kemungkaran. Salat adalah ibadah yang menyeluruh. Salat adalah cerminan dari nama Ahmad. Salat adalah penjelasan dari perpaduan asma dan sifatnya. Salat selain memiliki sisi perintah Allah ﷻ, ia juga memiliki identitas sebagai pencegah kemungkaran.

Karena itu kita menyebut salat sebagai ibadah yang menyeluruh. Salat mencegah manusia dari akhlak yang buruk. Ketika Anda menjelaskan salat dengan makna denotasi dan konotasinya. Mereka yang salatnya tidak mencegah dari akhlak yang buruk, dapat disebut bahwa orang itu tidak menunaikan salat. Pandangan ini bisa jadi benar disatu sisi, tapi tidak disisi lainnya. Tetapi, ia benar disisi ini: “Jika seorang mukmin menunaikan salat dengan benar, salat itu akan mencegahnya dari keburukan dan kemungkaran”. Karena salat bermakna sebagai hadirnya kita ke hadapan Allah, mempertanggungjawabkan hidup kita 5 kali sehari.

Salat artinya hadirnya kita dihadapan Allah ﷻ yang berfirman: “Aku memiliki surga dan neraka“. Seakan melewati neraka diatas jembatan sirat, seakan berlari ke surga, seakan Izrail akan mencengkeram kita.

Salat, ungkapan kehadiran kita dihadapan Ilahi, dimana ada dukungan malaikat dan bujukan setan di kanan kirinya. Mereka yang menghadap Allah ﷻ seperti itu, akan mengalami suasana seakan tirai ke alam gaib terbuka untuknya.

Imam salat membaca Al-fatihah dan surat pendek, Anda menunaikan salat seakan ada dihadapan Allah ﷻ. Segala sesuatu yang berhubungan dengan surga dan neraka seakan ditampilkan di hadapanmu.

Seperti apa?

Misal disampaikan pada seorang lelaki:

“Ini ada wanita, silakan pergauli semaumu. Kamu bisa menenggelamkan diri dalam keburukan.”

Silakan ambil jalan hidup tanpa mempedulikan halal dan haram. Kamu bisa makan riba, suap, dan uang korupsi. Kamu bisa menikmatinya sesukamu. Silakan ambil jalan duniawi, jalan menuju kekuasaan, dan jalan menuju pangkat jabatan dunia. Setelah kamu menikmatinya, akan kita buka tabirnya. Tempat tujuan mu berikutnya adalah sumur Gayya yang panas apinya menjalar-jalar.

Tetapi jika kamu mampu menolaknya, maka saat tabir diangkat, tempat tujuan mu adalah taman surga yang indah. Sekarang tabir-Nya kita turunkan, kamu bebas mau hidup seperti apa! Setelah hakikat itu dijelaskan dengan jelas dan terang, kamu bebas mau jadi kafir ataupun jadi mukmin. Kamu bebas mau jadi orang yang sesat, atau mau jadi orang pencari hidayah. Kamu bebas mau mengikuti keburukan, atau mau mengerjakan ketaatan beribadah.

Apakah manusia bisa tenggelam pada keburukan setelah menyaksikan hakikat ini!? Apakah manusia akan meninggalkan surga setelah mengetahui hakikat ini?

Untuk itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

Baik surga ataupun neraka, keduanya diliputi oleh sesuatu. Salah satunya diliputi oleh hal yang disukai syahwat. Sedangkan yang lainnya diliputi oleh hal yang dibenci nafsu

Untuk masuk ke surga dibutuhkan kesabaran menghadapi kesulitan. Untuk selamat dari neraka juga dibutuhkan kesabaran menghindari bujukan syahwat. Salat menyingkap tabir ini dari kita. Sehari 5 kali, salat dengan semua makna dan esensi yang dimilikinya. Dengan qira’at dan tilawah-Nya, ketika ia membuka tabir di depan mata kita. Jangankan mengikuti larangan, jangankan tenggelam dalam keburukan, jangankan kemungkaran. Barangkali hal-hal yang mubah sekalipun dapat menghilangkan selera bagi orang-orang mukmin sejati.

Umar radhiyallahu ‘anhu karena mendengar sesuatu dari alam lain ketika salat, ia jatuh sakit dan harus istirahat dirumah. Sahabat meriwayatkan: Karena sakit, penjenguk berdatangan (Sayyidina Umar) terbaring sakit. Demikianlah salat menghindarkan manusia dari dunia dan hal-hal duniawi.

Sungguh mengingat Allah ﷻ  adalah pekerjaan yang agung. Bagaimana Allah ﷻ membuat kita mengingat-Nya. Di sisi lain, tidak lupa kepadanya juga sangat agung. Ini adalah sisi lain dari ungkapan ini. Ini adalah sisi lain dari ungkapan ini. Kita membacanya setiap akan turun dari mimbar Jumat mengingat Allah ﷻ  sangatlah agung. Banyak mengingat Allah ﷻ adalah sebab lahirnya ketenteraman dan penyingkir kemuraman. Di dunia ini tidak ada yang lebih agung dari mengingat Allah ﷻ didalam hati.

Untuk itu, seorang mukmin sejati tidak akan tahan jika Allah ﷻ keluar dari akalnya. Beberapa Ahlullah pun sesuai derajatnya mengharuskan dirinya untuk gusul (mandi besar) jika akalnya lupa akan Allah ﷻ. Makna Gusul adalah: berbuat kesalahan, menjauhi Tuhan sementara waktu, memenuhi kebutuhan syahwat. Sebagai kafarat-Nya, Anda melakukan Gusul (mandi besar). Jika seorang Ahlullah lalai dari mengingat Allah ﷻ walau tak sampai sedetik, ia mengharuskan diri untuk gusul. Hal ini tidak ada dalam syariat. Ini sukarela, ungkapan dari kebersihan hati Nurani.

Seorang Ahlullah tidak bisa tahan jika ia lupa Allah ﷻ walau kurang dari sedetik dan selama Allah ﷻ  ada diakalnya, tidak mungkin sesuatu yang lain masuk ke dalamnya. Sayyidina Ali minta sahabat mencabut panah dari tubuhnya saat ia salat. Ia tidak merasa kesakitan saat panah yang menembus tulangnya dicabut. Karena Allah ﷻ yang ia ingat telah melingkupi akalnya.

Izinkan saya menjelaskan satu kisah kenangan dari keturunannya: Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib.

Apakah ada yang belum mengenalnya? Apakah ada yang belum mengenal putra dari Ksatria Mu’tah?

Rasulullah ﷺ sepulang dari perang mu’tah bersabda:

“Aku menyaksikan Ja’far ibn Abi Talib terbang disurga dengan 2 sayapnya yang berwarna hijau”

Terdapat pelindung leher menempel dileher temannya yang sama-sama masuk surga. Karena itu adalah cara untuk melindungi diri dari sabetan pedang dan tombak saat bertarung dimedan perang.

“Aku melihat Ja’far tidak mengenakannya. Karena ia menyambut kematian dengan senyuman.”

Saat tombak menerjang, saat pedang membelah tubuhnya, ia saksikan dengan gembira. Ia pun masuk surga tanpa beban.

Kisah Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib

Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib adalah putra dari sosok agung ini, sang Ksatria Mu’tah. Di masa Umayyah, ia pergi ke Syam untuk mengunjungi Hisyam bin Abdulmalik. Mungkin Allah ﷻ tidak meridai kunjungan tersebut. Tidak ada rida karena ditengah perjalanan kakinya tertusuk sesuatu. Karena tidak diobati tepat waktu, keadaannya semakin memburuk dan menjadi gangrene[1]. Ketika ia sampai dihadapan Hisyam bin Abdulmalik, waktunya sudah sangat terlambat. Dokter dipanggil, mereka berkata: Jika tapak kakinya tidak dipotong, nanti pahanya yang harus dipotong. Sosok yang ayahnya kehilangan tangan & kaki di Mu’tah, kini ia kehilangan kaki dihadapan khalifah Umayyah di Mu’tah.

Uniknya takdir, bapak dan anak meninggalkan kakinya didunia. Mereka menghadap Allah dalam keadaan demikian.

“Ayo kita potong” kata mereka.

“Tapi kita bius agar tidak terasa sakit, agar kamu tidak berteriak.”

+ Bagaimana kalian membiusku?

– Kamu akan minum yang memabukkan sampai kamu tidak merasakan sakit lagi.

“Tidak sekali-kali aku berkenan untuk lalai dalam mengingat Tuhanku. Tak akan pernah!”

Kalbu diarahkan kepada Rabb-Nya, ia menyaksikan bagaimana kakinya perlahan-lahan digergaji. Ini hanya satu sisinya. Para Ahlullah[2] tak rela dirinya lalai mengingat Rabb-Nya walau kurang dari sedetik Perhatikanlah sisi lainnya!

Ia ambil kaki yang sudah dipotong itu dan berkata:

“Rabb! Segala puji hanya untukMu! Engkau telah menganugerahiku tubuh yang sempurna. Kini Engkau mengambil satu kakiku! Aku bersyukur dan memujiMu yang telah memberi anggota tubuh lain dalam keadaan sehat dan sempurna!”

Perhatikan kesadarannya! Bagaimana ia mengingat keagungan Rabb-Nya dengan amat layak. Beberapa menit kemudian musibah seperti yang dialami Nabi Ayub akan menghujaninya dengan deras. Datang satu berita: Salah satu anaknya jatuh dari lantai atas rumah Hisyam dan meninggal dunia.

Ia mengangkat tangan :”Ya Rabb! Aku memuji-Mu berkat sisa anak yang Engkau anugerahkan dalam keadaan sehat”. Ia tidak memperhatikan yang pergi dan hilang, ia mensyukuri apa yang tersisa. Itulah usaha untuk tetap mensyukuri segala yang anugerahkan Allah ﷻ kepada kita. Itulah jalan hidup seorang mukmin.

Di dalam pemikiran yang dalam, ingatan yang serius, kita akan menyuntikkan nama Allah ﷻ dalam tiap zarah kehidupan kita. Kalian tidak akan bisa membedakan antara malaikat dengan Abdullah bin Ja’far. Representasi Nabi Ayub dapat Anda saksikan pada diri Abdullah bin Ja’far. Kalian akan menyaksikan Abdullah bin Ja’far terbang disurga bersama ayahnya

Keistimewaan apa yang membuatnya nanti terbang disurga?

Penyerahan hati kepada Tuhannya, penunaian salat dengan segala haknya, diraihnya ketenteraman sejati. Menjauhi kemungkaran seperti dendam, kebencian, dan kemarahan yang dibenci Allah ﷻ. Itulah pembentukan hidup yang manis. Semoga Allah ﷻ menganugerahi kita keberhasilan dalam membentuknya. Di dalam rasa sedih akan perpisahan dengan Ramadan, mari kita berdoa kepada Allah ﷻ dengan hati yang sedih.

Anugerahkanlah kami siratalmustakim. Jagalah kami dari hal-hal buruk yang dibawa oleh keinginan rendah, hasrat, serta syahwat kami. Anugerahilah kami keikhlasan sempurna, semua doa para nabi, serta jadikan kami Mukhlisin dan Mukhlasin.

[1] Gangrene adalah Jaringan mati yang disebabkan oleh infeksi atau kurangnya aliran darah.

[2] Ahlullah adalah   mereka yang mewujudkan ketakwaan kepada Allah ﷻ baik dalam kesunyian dan keramaian, berhati-hati dalam makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggalnya jangan sampai menyelisihi apa yang dia dapatkan dari belajar Alquran baik terjatuh dalam keharaman atau kesamaran.

levi-meir-clancy-Y2oE2uNLSrs-unsplash

Salat: Cahaya Jalan Miraj

Shalat merupakan ringkasan penghambaan kita kepada Allah. Sebuah ikhtisar dari segala penghambaan yang kita lakukan untuk Allah. Kuncinya adalah persiapan ruhani, serta persiapan jasmani, dengan berwudhu. Mengambil wudhu adalah penyegaran jiwa, mempertemukan ruh dengan kekuatannya serta mengembangkan sisi kemalaikatan. Berwudhu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi. Ketika air dingin menyentuh badan, bagaimana sengatannya menyegarkan tubuh kita. Ketika air dingin menyentuh persendian, bagaimana kekuatannya membangkitkan kita. Sebagaimana ia memiliki penjelasan ilmiah. Demikian juga dengan wudhu yang membuat ruh menjadi muda, segar, dan bangkit. Sehingga si hamba berhasil meraih level dimana ia siapakan menjadi sarana bagi umat Muhammad SAW dipanggil dengan panggilan khusus di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda: “Di hari kiamat umatku akan dipanggil dengan sebutan ‘Ghurran Muhajjaliin‘ “Umat Muhammad akan dipanggil sebagai ‘Ghurran Muhajjaliin’ Apa itu ‘Ghurran Muhajjaliin’? Yaitu mereka yang dahinya cemerlang, menyebarkan cahaya ke sekelilingnya, tanda dari eksisnya hakikat. Cahaya yang muncul dari anggota wudhu adalah bukti bahwa mereka adalah umat Muhammad SAW. Anggota wudhunya bercahaya. Di satu sisi sangat bersih, bening, dan cemerlang. Di sisi lain, ia menyebarkan cahaya cemerlang yang menandakannya sebagai umat Muhammad SAW. “Anggota wudhunya jadi cemerlang karena bekas wudhu”. “Siapa hendak menambah cahayanya, hendaknya ia menyempurnakan wudunya” (Muttafaqun Alaih).

Topik ini diriwayatkan lebih luas dan mendalam oleh sahabat lainnya. Rasulullah & sahabatnya pergi ke Baqiul Gharqad, Sejarawan berkata ada 10.000 sahabat dimakamkan disana. Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya. Beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud. Terdapat makna ladunni dalam peristiwa ini bahwa barangkali, karena keagungan dan ketinggian derajat Baginda Nabi di akhirat nanti, Beliau tak bisa temui mereka hingga kiamat tiba.  Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia. Dengan jasmaninya, beliau temui mereka. Sekali lagi disampaikannya salam kepada ruh-ruh agung itu. Saat memasuki Baqiul Gharqad: “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur ini!” “InsyaAllah dalam waktu dekat saya juga akan bergabung!” Dan sejak saat itu, mengucapkan kalimat yang sama menjadi hal yang disunahkan kepada umatnya. Dan sepertinya terjadi musyahadah. Pandangannya lebih dalam, penglihatannya meluas, kemudian kata-kata ini keluar dari bibir mulianya: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku” “Bukankah kami ini saudaramu, Ya Rasulullah?” “Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku yang setia dan terkasih”. “Saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku…”Jamaah yang mulia, umat yang mulia, serta bangsa yang mulia…”Bagaimana Anda bisa mengenali mereka yang masih belum datang…? Baginda Nabi bersabda: “Bayangkan seorang laki-laki…” “Laki-laki itu memiliki kuda-kuda yang wajahnya putih cemerlang” “Kakinya jenjang dan berwarna putih bersih” “Jika kuda itu ada di tengah kumpulan kuda hitam nan pekat, bukankah ia akan mengenali kudanya?” “Tentu,” jawab sahabat Rasul Allah bersabda “Umatku akan datang sebagai ‘Ghurran Muhajjalin'”Aku akan melihat mereka saat berjalan ke Hadapan Allah. Aku mengenali mereka dari cahaya di dahinya”. Aku akan menyaksikan anggota wudhu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya “Aku akan mengenali umatku sebagaimana laki-laki itu mengenali kudanya” “Aku adalah farat haudh dari mereka.  Akulah yang paling dahulu menuju haudh!”

Makna dari Farat adalah: “Biar kusiapkan tempat untuk mereka, demikian juga dengan kautsar dan cawannya...” “Sebagaimana tuan rumah menjamu tamu…,” “…Aku ingin menjamu mereka dengan sebaik-baiknya ketika mereka datang nanti…” “Akulah farat dari umatku di Haudhku” “Akulah farat dari mereka yang memiliki bekas sujud di keningnya…” “Akulah farat dari mereka yang berwudu…” “…di hari penuh kesulitan dimana semua orang hanya memikirkan keselamatan dirinya”. “Akulah farat bagi mereka, umatku yang kukenali dari pancaran cahaya anggota wudhunya” “Ketika banyak orang terusir dari haudh-ku…” “Ada wajah yang menandakan cahaya, ada nurani yang meroket ke langit karena anggota wudunya” “Kepada merekalah aku memberi syafaat…!”

“Aku adalah Farat mereka di tepi telagaku”. Apapun yang dijelaskan oleh berbagai riwayat ini, pesan utama yang harus kita ambil adalah walaupun terpisah berabad-abad yang lalu dengan Baginda Nabi disebabkan oleh wudhu dan salatnya,d engan senantiasa mengingat Allah dan Rasul-Nya, dihasilkanlah kecemerlangan di dalam diri. Kepada jamaah yang berhasil meraih kemurnian jiwa tersebut.

Ketika Nabi mengirim salam kepada Penghuni Baqiul Gharqad, beliau menembus batas waktu dan kirimkan salam: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku…”. Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat, sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca. Beliau juga melakukan pengecekan terakhirnya di Baqiul Gharqad. Seakan beliau sedang mengecek kondisi semua umat terdahulu yang kini mendiami alam kubur. Beliau juga mengecek ruh umat yang akan datang kemudian. Dengan jasmaninya, sekali lagi beliau mengeluarkan seruannya. Seperti panggilan terakhir dari Komandan Tertinggi kepada umatnya: “Bersiap siagalah!” Beliau mengunjungi Baqiul Ghargad untuk terakhir kalinya. Beliau memberikan salam sebagaimana memberi salam kepada ahli kubur. Ketika beliau menyaksikan wajah umatnya yang akan datang nanti penuh dengan cahaya. Dengan makna kagum pada cahayanya, yang bersumber dari cahaya kenabiannya. Beliau pun bersabda: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku…”.

Jamaah muslim yang terhormat! Ini adalah isytiak dari Baginda Nabi. Sedang isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudhu agar ia bersinar di akhirat, serta menghiasi kening dengan tanda sujud. Dengan harapan menjadi umatnya, dengan harapan dibangkitkan sebagai umatnya. Dengan kerinduan untuk dapat melihatnya “Apakah Anda merindukan kami, Ya Rasulullah?”. Kami juga rindu untuk bertemu denganmu. Kami berjuang lewat ketaatan beribadah demi meraih kedekatan denganmu. Sebagaimana engkau jelaskan di hadits, kami pun mengambil wudhu dengan sempurna. Walaupun panas dan berkeringatkami tetap mendirikan salat di masjid. Kami berpuasa demi dapat berkumpul bersamamu nanti. Waktu siang semakin panjang dan suhu udara semakin panas, sebagian orang puasanya batal. Tetapi kami mencoba bersabar untuk tetap setia kepada warisanmu. Jika kita sanggup untuk melakukannya, betapa beruntungnya kita!

Duhai sosok agung yang keterikatan pada umatnya digambarkan lewat ucapan salam 14 abad yang lalu! Dengan meraih sensitivitas dalam ubudiyah dan ketaatan beribadah dengan mengerjakan semua itu dengan keseriusan mendalam. Dengan begitu, artinya kalian telah menjawab salam tersebut dengan jawaban: “Wa’alaikum salaam“. Jika ada cinta, kerinduan, dan isytiak untuk bertemu dengannya, kamu akan berada di jalan Sang Nabi. Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat Baginda Nabi. Betapa banyak orang akan dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah. Mereka melihat mizan, tetapi tak bisa melihat Sang Nabi. Mereka mungkin melihat Allah ketika dihisab, tetap tidak bisa melihat Rasulullah untuk meminta syafaat. Di antara mereka yang buta dan terhalang dari nikmat tersebut. Masjid jadi sarana supaya kamu tidak menjadi bagian dari yang buta dan terhalang. Puasa dan menahan lapar jadi sarana supaya nanti tidak buta dan terhalang. Bayarlah zakat dari sebagian hartamu supaya tidak termasuk dalam golongan merugi tersebut. Pergilah berhaji, bersabarlah terhadap kesulitannya, supaya kamu tidak menjadi yang buta dan terhalang. Dengan bertawaf di Kabah dan menziarahi makam Baginda Nabi, perbaharuilah kesetiaanmu. Semoga Allah SWT membuka mata umat Muhammad yang tertutup debu selama 14 abad serta membuka mata mereka ke alam lahut yang penuh senyum. Semoga Allah melindungi kita dari dunia yang penuh kelalaian. Jadikanlah pandangan kami sebagai pandangan abadi dan agung. Celupkanlah diri kami ke dalam celupan alam lahut. Jadikanlah kami sebagai sosok yang layak mendiami alam sebenarnya di akhirat nanti.

mengembangkandiri.com golden-scales-of-justice-on-wooden-table-on-black-2021-09-01-13-07-28-utc

Tidaklah Sama Kebaikan dengan Kejahatan

Tidaklah Sama Kebaikan dengan Kejahatan

Perbedaan Nabi Nuh ‘alaihisalam dan Nabi Musa ‘alaihisalam dengan Rasulullah ﷺ

Nabi ﷺ bersabda:”Di antara para nabi aku tidak mirip dengan Nabi Nuh dan Musa as”

Nabi Nuh ‘alaihisalam merupakan nabi yang hidup selama 950 tahun dan selama itu pula nabi Nuh berdakwah dan menasihati kaumnya.  Bukan hal yang mengherankan. Semuanya atas kuasa Allah.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al – ‘Ankabut ayat 14)

Saat semua sebab dan sarana bungkam, saat semua pintu yang diketuk tertutup untuknya. Sampai di mana akhirnya, nabi Nuh berdoa kepada tuhannya yaitu Allah subhana wa ta’ala agar kaumnya yang menolak nasihat yang beliau berikan selama 9 abad lamanya untuk diberi peringatan.

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi”.” (Nuh ayat 26)

Jangan biarkan mereka yang mengingkarimu, tak mengenalmu, menutup matanya dari perintahmu yang acuh terhadap syariahmu tinggal dan menetap di muka bumi.

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”. (Nuh ayat 28)

Beliau berdoa agar kehancuran bagi orang-orang zalim ditambahkan. Namun, di tempat lain, saat Nabi Nuh kehabisan suara dan napas,

“Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)””.(Al – Qamar ayat 10)

Selama itu beliau pergi berkeliling dari pintu ke pintu Apa yang beliau sampaikan?

“Dia yang menciptakan mu, Sang Penyusun amir takwini.”

“Pencipta keseimbangan antara alam denganmu, Dia ingin kalian mengimaniNya”

Baginda Nabi ﷺ di periode tertentu berdakwah: “Ucaplah La ilaha illallah, raihlah keselamatan”

Raihlah kemenangan! Raih keselamatan!

Tak ada seorangpun berwenang mengatakannya! Hanya ia, pemiliki komunikasi dengannya, pengemban risalah, yang berwenang mengatakannya Lewat ibarat diungkapkan: “la ilaha illallah”, sedang lewat isyarat, ungkapan usulnya: “muhammadur Rasulullah ﷺ “. Maka semua nabi menyampaikan pesan yang sama, demikian juga Nabi Nuh ‘alaihisalam. Demikian juga Nabi Musa, di 1-2 tempat, untuk kaumnya yang keras kepala, khususnya pada Firaun,

Akif menyebutnya sebagai Amnofis, Atau julukan lainnya. Dimana tak ada kezaliman yang tak dirasakan Nabi Musa darinya

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakan lah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”. (Yunus: 88)

Kemiripan Akhlah Nabi Ibrahim ‘alaihisalam dan Nabi Isa ‘alaihisalma dengan Rasulullah ﷺ

“Namun dari segi akhlak, aku mirip dengan Nabi Ibrahim dan Isa” sabda Baginda Nabi

Pernyataan ini bukanlah hafalan tanpa dipikir…

Nabi Ibrahim saat meninggalkan ayahnya, beliau mendoakannya walau ayahnya sangat keras kepala

“Dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat”(Asy – Syu’ara’ : 86)

Jawaban beliau ketika diusir ayahnya justru doa Andai Azhar ayahnya. Beberapa penafsir berkata, ia pamannya, karena abi juga dipakai untuk panggilan paman.

Nabi Isa berkata:”Kebaikan bukanlah kebaikan kepada mereka yang berbuat baik kepadamu…”

“Kebaikan adalah berbuat baik kepada mereka yang berlaku buruk kepadamu” Itulah gambaran kelembutan akhlak Nabi Isa ‘alaihisalam. Rasulullah pun mengadopsinya.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (Fussilat ayat 34)

Kebaikan dan keburukan hal berbeda satu sama lain. Yang satu seperti anak panah yang menunjuk arah menuju neraka. Satu lagi seperti anak panah atau kompas penunjuk kiblat, ia mengarahkan ke surga. Keduanya berbeda satu sama lain,Keduanya dipisahkan jarak yang amat jauh, gap antara ‘hasanah’ dan ‘sayyi’ah’ amatlah lebar. Kebaikan tidaklah sama dengan keburukan. Bersihkanlah keburukan dengan kebaikan.

Kisah Habil dan Qabil

Jika kamu melakukannya, mereka yang selalu men denyut kan permusuhan akan membuka dadanya untuk merangkul mu. Dan hari ini, kalian menghadapi ujian yang amat besar. Heroisme adalah tidak meninggalkan kebaikan walau untuk mereka yang berlaku keterlaluan kepadamu. Seperti yang dikatakan anak pertama kebaikan (Habil) kepada keburukan (Qabil):

“Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Jika kamu mengangkat tangan untuk membunuhku, andai kamu mengangkat senjata, kapak, bayonet untuk membunuhku. Aku tak berniat untuk membalas mu, karena aku takut kepada Allah. Ingatlah akhir dari perbuatan mu, yaitu neraka. Akibat dari perbuatan mu kepadaku adalah neraka. Maka urungkan lah niatmu.

Disini sebenarnya Habil tidak ingin saudaranya masuk neraka. Tak usah Habil yang merupakan putra Nabi Adam ‘alaihisalam.

Aku pun ketika mendoakan mereka yang berbuat buruk kepada kalian “Ya Allah, janganlah Engkau hukum mereka dengan azab di akhirat. Selamatkan mereka dari neraka.”

“Jika Kehendak mu mewajibkan mereka untuk diazab, maka azab lah mereka di dunia dengan azab yang lembut.”

Di akhirat nanti wajah mereka berkerut diselimuti rasa malu. Pandangannya menyiratkan permohonan pengampunan. Mereka yang berbuat buruk, menjauhkan hak-hak hidup Anda, mereka yang membunuh karakter Anda kelak di akhirat nanti, mereka akan datang membungkuk di hadapan Anda

Doaku: “Ya Allah, agar mereka nanti tidak terlalu parah menahan malu, jika kehendak mu menghendaki azab.”

“Dengan mengakhiri masa penangguhan azab, dengan keadilan dari ke maha suci an mu, hukumlah mereka di dunia”

“Janganlah Kau azab mereka di akhirat, jangan pula Kau azab kami dengan mengazab mereka”

“Karena aku takkan sanggup! Aku tak sanggup melihat orang lain terbakar oleh api neraka jahannam…!”

Ya, Jika sosok agung tersebut sedemikian nya memikirkan Qitmir, tentu dia berkata

“Andai engkau mengulurkan tangan tuk membunuhku, aku takkan mengulurkan tangan tuk membunuhmu…”

إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ…

“…..Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (Al – Ma’idah: 28)

Karena itu, maka karakter dan akhlak inilah yang harus ditunjukkan. Benih kebaikan yang kalian tebar dan semai tanpa disadari, saat Anda melihatnya, Anda akan terkejut ia berkecambah menjadi tunas pohon-pohon kebaikan.

Atas izin Allah, tunas-tunas tersebut nantinya akan menjadi puluhan pohon cemara Anda akan berkata:”Ternyata semua ujian ini tujuannya untuk menumbuhkan ‘pohon’ ini. Berarti aku beruntung..”

Biarkan saja mereka yang memilih jalan rendah, biar mereka melanjutkan jalannya. Anda tetap harus memikirkan bagaimana cara berbuat baik kepada mereka. Hendaknya keburukan tidak dibalas dengan keburukan, sebagaimana dicontohkan Baginda Nabi, Nabi Isa membalas dengan kebaikan berarti Anda menunjukkan sifat gentelman, kemanusiaan, dan karakter mulia Anda.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”.”(Al – Isra’: 84)

Seseorang bersikap sesuai bawaan karakternya. Berbuat zalim, berkata zalim, berpikir zalim…

Seseorang bersikap sesuai bawaan karakternya. Berbuat zalim, berkata zalim, berpikir zalim…

Pandangan Anda harus mengalirkan keadilan,

Telinga Anda penuh akan gemerincing keadilan,

Mulut Anda harus senantiasa mengucap keadilan,

Jantung Anda pun harus mendetakkan keadilan…

Semoga Allah menjadikan kita sebagai manusia dengan kualitas demikian

Semoga Allah mengampuni kesalahan kata-kataku..

Aku mohon maaf juga dari Anda sekalian…

mengembangkandiri.com_fresh-white-tulips-on-pink-background-symbol-of-p-2022-03-18-00-27-24-utc

Sarana Meraih Keikhlasan dan Keistikamahan

Sarana Meraih Keikhlasan dan Keistikamahan di Masa Kemunafikan dan Keegoisan[1]

Al-Qur’an menyebutkan bahwa tempat kaum munafik adalah di lapisan neraka paling bawah, bahkan lebih rendah daripada orang-orang kafir sekalipun. Ini karena mereka bermuka dua: mengaku muslim, tetapi perbuatannya justru menguntungkan orang kafir. Mereka bahkan menggunakan nilai-nilai suci agama sebagai argumen demi meraih keuntungan pribadi. Karenanya, kemunafikan lebih berbahaya dari kekafiran. Tugas kita di masa ini adalah menjauhi kemunafikan dan waspada kepada orang-orang munafik. Mereka bisa muncul kapan dan di mana saja.

Saya rasa, orang munafik lebih berkembang di tempat di mana pemikiran islami menjadi mayoritas. Hal ini karena ketika yang sedang jaya dan berkuasa adalah orang-orang yang kufur dan ingkar, mereka—orang-orang munafik—dapat melakukan kekufuran secara terang-terangan. Misalnya, Abu Jahal, Utbah, Syaibah, Uqbah bin Abi Mu’aith, dan Walid tidak merasa perlu melakukan kemunafikan. Karena berkuasa dan kuat, maka mereka mampu melakukan segala yang diinginkannya. Misalnya, mereka berkuasa untuk merantai orang yang menentangnya. Namun, di Madinah, saat kaum muslimin berkuasa, kemunafikan mulai berkembang. Sebelum Madinah diubah Sang Nabi menjadi pusat peradaban, mereka punya harapan untuk berkuasa. Harapan mereka hanyalah bagaimana bisa berkuasa dan mengekalkannya. Saat mahkota menemukan pemilik sejatinya, yaitu Rasulullah, mereka sama sekali tak rela dengan kenyataan itu. Kriteria ini berlaku di setiap waktu. Sebagian menanti pamrih agar seisi dunia memuja mereka, baik pujian dari dunia Islam maupun dari dunia non-Islam. Namun, sebagaimana dikatakan Ustaz Badiuzzaman: “Masa ini adalah Masa Keegoisan”. Sebagai konsekuensinya, masa ini pun masa kemunafikan. Orang-orang munafik akan menunaikan misinya, di tempat di mana pemikiran dan praktik Islam sedang menjadi mayoritas dan sedang bergelora dilakukan. Maksudnya, saat praktik islami menjadi tren, di saat manusia mudah mengikuti arusnya, di sanalah benih kemunafikan tumbuh dan berkembang pesat. Itu karena kondisinya mendukung. Orang munafik ini memanfaatkan argumen agama sehingga kaum muslimin pun sering tertipu. Untuk itu, Ustaz berkata: “Kita adalah seorang muslim, mungkin saja tertipu. Namun, kita tidak sekali-kali menipu”.

Menurutku, walau kita puluhan kali ditipu, kita tetap harus berhusnuzan sambil terus waspada. Kita tetap harus berhusnuzan kepada mereka yang sudah menipu kita. Namun, kita tetap harus waspada agar tak ditusuk dari belakang. Nasihat dari Badiuzzaman: “Berhusnuzan dan tetaplah waspada…”

Di satu sisi: “Kita ini muslim yang mungkin saja tertipu, tetapi kita tidak sekali-kali menipu”. Mengapa? Karena kita membuat kesimpulan dari apa yang terlihat secara lahiriah saja. Kita hanya bisa menilai dari apa yang dikatakan oleh lisannya saja, kita tak mampu membelah dada dan membaca isi hatinya. Rasulullah lah yang mengatakannya. Kepada siapa? Putra Zaid, Usamah, anak yang amat dicintainya[2]. Sosok yang sangat agung, Sayyidina Usamah saat itu berhasil memojokkan musuh. Saat terdesak, si musuh pun bersyahadat. Beliau radhiyallahu anhu berijtihad: “Kita berada di dalam perang. Ia adalah musuh. Ia bersyahadat karena terdesak belaka”. Beliau radhiyallahu anhu pun membunuhnya. Saat kabar ini didengar Nabi, Beliau bertanya: “Mengapa kamu membunuhnya?” Usamah: “Dia bersyahadat karena terdesak” Nabi bersabda: “Apa kamu telah membelah dan membaca dadanya?!”

Perhatikanlah! Kriteria ini selalu berlaku bagi kita. Jika dari lisannya masih keluar kata: “Allah, Rasulullah, Islam”. Anda tak bisa berkata: “Saya tidak percaya”. Karena mereka, yaitu Nabi dan penduduk langit berkata: “Apa kamu sudah membelah dan membaca isi dadanya”. “Bagaimana jika ia bersyahadat dengan tulus?” Inilah husnuzan. Namun, jika terdapat keraguan atas pernyataannya, setelah berhusnuzan, lakukanlah adam-i itimad (waspada). Janganlah Anda lalai memberikan suatu amanah penting kepada seseorang yang belum teruji. Punggung Anda dapat tertusuk belati. Jangan sekali-kali Anda lalai, karena punggung Anda dapat tertusuk belati.

Dikatakan juga: “Di hatimu harus selalu tersedia kursi di mana semua tipe orang dapat duduk di sana”. Mengenal, menganalisa, dan mengelola orang-orang munafik amatlah sulit. Jika Anda tak bisa tepat menganalisanya, Anda tak boleh membuat kesimpulan instan. Pertama, analisis harus dilakukan sebelum amanah nantinya diberikan. Anda pasti menemui kesulitan dalam prosesnya. Kadang Anda melihatnya menyungkurkan wajah dengan mata sembab di Multazam, atau melihatnya mengusap wajah ke Hajar Aswad dan berkata: “Biar aku jadi tebusanmu!”. Namun hatinya lebih kotor dari hati Abu Jahal, Utbah, dan Syaibah. Tak peduli di depan Ka’bah, mereka menanti suitan dan tepuk tangan pujian kepada mereka. Pujian seperti: “Jayalah! Engkau tak memiliki tandingan! Biar aku jadi tebusanmu!” Ketika orang-orang memujinya, ia pun membesar seperti kalkun.

Kembali ke pembahasan, zaman ini zaman kemunafikan dan keegoisan. Manusia ibarat setetes air, tetapi ia melihat dirinya seakan samudra. Mereka mulai suka terlihat seperti matahari, padahal kita hanyalah zarah, sehingga pamrihnya pun amat besar. Misal mereka berkata: “Kalau kita lewat, kita harus disambut tepuk tangan”. “Dalam posisi berdiri takzim, seperti posisi saat salat di hadapan Allah”. Nauzubillah! Sebentar lagi mungkin mereka mengaku sebagai Tuhan! Firaun mengaku sebagai tuhan secara terang-terangan karena dia lebih jentelmen dibanding mereka. Karena Firaun menunjukkan kebiadabannya terang-terangan, demikian juga dengan Qarun dan Haman, maka Nabi Musa dan Harun pun mengetahuinya. Sedangkan mereka, orang-orang di masa ini berkata, “minal kalalisy“. Ini adalah istilah translasi campuran dari bahasa Turki ke bahasa Arab. Anda bisa menanyakan makna “kalalisy[3] pada mereka yang tahu bahasa Arab. Karena itu mereka selalu menipu dan menempatkan orang lain di posisi hulubalang. Ia memandang semua masyarakat berada di kasta paria. “Kamu dibanding aku hanyalah makhluk yang levelnya 10 tingkat di bawahku.” Lalu jika ada orang yang berkata kepadanya: “Menyentuhmu adalah bagian dari ibadah”. Maka ia menjawab: “Terima kasih, Kamu sangat tahu cara mengapresiasi saya!”

Jika dikatakan: “Ia memiliki semua sifat Allah”. Ia menjawab lagi: “Kamu sangat tahu cara mengapresiasiku!” Tidak ada yang berani mengatakan, “sungguh itu merupakan ucapan yang bisa mengantarkan pada kekafiran mereka yang mengatakannya”. Namun, mereka dengan mudah mengafirkan dan menyesatkan para sukarelawan Hizmet yang menyebar ke seluruh dunia demi rida Allah, demi berkibarnya bendera agama dan bangsa, serta demi dikenalnya nama agung Baginda Nabi Muhammad Saw.

Ketika mengafirkan, isyarat mereka tidak mengarah kepada perseorangan seperti Ustaz Osman Simsek, Ustaz Ergun Capan, Ustaz Rasyid Haylamaz. Namun, yang dikatakan adalah: “Saya meragukan keimanan mereka!”. Mereka meragukan iman para sukarelawan yang mengibarkan bendera Sang Nabi di seluruh dunia. Namun, mereka tak meragukan iman orang yang mengatai Al-Qur’an, tak meragukan iman orang yang bilang “menyentuhnya adalah ibadah”. Saya rasa dengan contoh ini Anda dapat memahami ciri orang munafik. Anda akan memahaminya. Walau nanti akan tertipu lagi, suatu saat Anda akan selamat dari tipuannya.

Apapun yang terjadi, ingatlah ayat Al Quran surat An-Nisa 4:45:

وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ نَصِيرًا

“Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu).

Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu)”

Abu Hasan as Syazili menjadikannya bagian dari wiridnya dengan mengulangnya 10 kali. Aku tak tahu apa hikmahnya. Setelah membaca: يَا غَارَةَ اللهِ، حُثِّي السَّيْرَ مُسْرِعَةً “Ya Allah, kumohon segera turunkan pertolongan-Mu!”. Lalu beliau membaca: وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ نَصِيرًا

Beliau mengulangnya sebanyak 10 kali. Cukuplah Allah sebagai Wakil dan Penolong kalian…! Serahkan pada Allah, rangkul pertolongan Allah, dan taatilah hikmah-Nya. “Jika ada jalan keluar, pastilah ini, aku tak tahu jalan keluar lainnya.” Inilah nasihat dari Mehmet Akif, penyair abad ini yang memiliki jiwa dan cara pandang yang luas.

[1] Sebagian terjemahan dari:

http://fgulen.com/tr/ses-ve-video-tr/bamteli/nifak-ve-enaniyet-caginda-ihlas-ve-istikamet-vesileleri dan teks ceramah dari video https://www.youtube.com/watch?v=-oUqFf_gwQU&t=112s

[2] Demikian cintanya Rasulullah kepada Usamah dan ayahnya sangat menginspirasi Sayyidina Umar. Pada Masa kekhalifahannya, Sayyidina Umar memberikan gaji kepada Sayyidina Usamah lebih tinggi dibanding siapapun, termasuk kepada anaknya. Hingga akhirnya, anaknya yaitu Abdullah bin Umar bertanya kepada Amirul Mukminin karena penasaran. Abdullah berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Engkau memberikan gaji kepada Usamah 4000 sedangkan engkau memberikan aku hanya 3000. Padahal ayahnya tidak lebih utama dari dirimu, dan ia juga tidak lebih mulia daripadaku.”

Umar Al Faruq berkata: “Engkau keliru… Ayahnya lebih dicintai oleh Rasul daripada ayahmu. Dan ia lebih dicintai Rasul daripada dirimu!”

Maka Abdullah bin Umar rela menerima pemberian gaji yang diberikan untuknya. Dan Umar bin Khattab setiap kali ia berjumpa dengan Usamah bin Zaid akan berkata: “Selamat datang, Amirku!” Jika ada orang yang merasa aneh dengan tingkah Umar ini, ia akan berkata kepada orang itu: “Rasul ﷺ telah menjadikan dia sebagai amirku!”

Ya, Rasulullah telah menjadikan Sayyidina Usamah bin Zaid sebagai amir pasukan yang di dalamnya terdapat sahabat-sahabat senior seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Sa’d bin Abi Waqash, Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan sahabat besar lainnya.

[3] Ia merupakan bentuk jamak dari istilah yang artinya pengkhianat

mengembangkandiri.com_great-wall-2021-08-26-13-40-08-utc

Perbaikan Benteng Kemanusiaan

Badiuzzaman mengatakan bahwasanya hizmet tak sekedar melakukan perbaikan kecil dan parsial. Sebaliknya, hizmet melakukan perbaikan pada benteng yang melingkupi Islam dimana benteng ini mengalami pengeroposan. Pada prinsipnya, ia disebut memperbaiki kemanusiaan.

Apa benteng ini bisa disebut benteng kemanusiaan?

Ya, pada prinsipnya ia adalah benteng kemanusiaan.

Kini, sistem yang dirindukan umat manusia sedang tidur lelap ketika penindasan terjadi di muka bumi. Sistem ramah manusia yang dilukis para utopis, dimana dunia berdasar pada hukum dan melindungi hak manusia. Pada sistem ini, kemanusiaan memiliki posisi mulia. Demikian juga para wanita.

Dunia di mana orang-orang akan bergumam: “Di sinilah saya akan meraih ketenteraman…”

Itulah dunia yang diimpikan.

Maka masalah kemanusiaan pada hari ini adalah tidak adanya dunia yang seperti itu. Bumi kini alpa akan kehadirannya. Karena ia alpa, manusia pun saling menyembelih sesamanya.

Mereka menyusun rencana untuk menghabisi sesamanya: “Ditebas dibagian mana bagusnya?

Apa kita babat tenggorokannya, atau lengannya, atau kakinya, atau kita cungkil matanya…?

Atau kita hujani telinganya dengan peluru..” dan rencana setan lain semacamnya.

Atau pemikiran seperti:”Bagaimana kalau kita gantung?

50.000 orang itu kita hukum gantung?”

Bukankah dulu saat 15.000 orang digantung, masyarakat berhasil diselimuti rasa takut? Jika kini 50 ribu orang digantung, masyarakat akan tunduk pada Firaun, Amenophis, dan Ramses abad ini! Apabila demikian, rencana-rencana setan itu akan selalu bergaung di masa ini.

Kini sebagian sisinya menatap wajah dunia Islam -disini saya menyebut dunia Islam secara umum-. Teleskopnya sedang diarahkan ke wajah dunia Islam. Mereka menyaksikannya, membaca, dan memahaminya.

Saat mereka beropini, pasti mereka berkata: “Mengapa dunia Islam akan memikirkannya?”

Dari sini, pada prinsipnya masalah dunia Islam adalah masalah seputar iman. Karena itu Sang Juru Bicara abad ini, Badiuzzaman Said Nursi mengerahkan semua dayanya untuk meletakkan hakikat iman dalam diri manusia. Beliau senantiasa melakukan fortifikasi pada isu ini. Beliau mengulang penjelasan isu yang sama dengan puluhan cara berbeda. Teknik ini disebut al Quran sebagai tasrif yaitu menjelaskan hal yang sama dengan versi berbeda. Ia menjelaskan iman kepada Allah dengan uslub tertentu. Di tempat lain, dijelaskan dengan jalan lain. Sebab manusia memiliki latar belakang bakat, kemampuan, pendidikan, profesi, watak & kecondongan yang berbeda-beda. Manusia memahami sesuatu dengan jalan berbeda-beda. Ada yang memahami Hijaz, ada yang memahami Usyak. Sisanya paham Saba, Huzzam, atau Segah (nama-nama tadi adalah nama ragam nada pada azan). Itulah pentingnya tasrif: menjelaskan sebuah persoalan dengan berbagai versi. Sebagaimana Azan dikumandangkan dengan nada berbeda, sesuai waktunya.

Dengan demikian semua orang bisa memahami lalu mengucap kalimat iman. “Aku beriman kepada Allah, malaikat, para nabi, kitab-kitabNya, akhirat, serta beriman bahwasanya takdir baik dan takdir buruk itu asalnya dari Allah. Aku mengimani kebangkitan setelah kematian adalah benar, Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya…”

Inilah rukun iman.

Namun, Ustaz fokus pada empat pilar iman dimana semua agama samawi sepakat: tauhid, kenabian, kebangkitan, dan keadilan.

Imam Ghazali menyebut ada 3 pilar iman, dengan menggabungkan dua pilarnya jadi satu. Beliau juga menyusun banyak penjelasan untuk menerangkan urgensinya. Kehilangan terbesar bagi kemanusiaan adalah hilangnya iman: Manusia tidak mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana mestinya; Manusia tidak mengimani para Nabi sebagaimana mestinya; Manusia tak memiliki mahabbatullah dengan kadar melebihi cintanya pada hal yang dicintainya.

Seperti Sayyidina Umar radhiyallahu anhu yang merevisi ungkapan cintanya pada Nabi: “Aku mencintaimu Ya Rasulullah, lebih dari cintaku pada diriku sendiri”.

PR utamanya adalah bagaimana kita bisa mengungkapkan perasaan ini dengan lebih tulus lagi! Disinilah Bediuzaman memfokuskan usahanya, yaitu fokus pada masalah iman. Jika benteng iman diperbaiki, maka benteng kemanusiaan akan pulih kembali. Apa yang diperintahkan oleh Islam…?

Ketika ditanya apa itu Akhlak Agung Islamiyah?

Mari mengecek referensi kitab-kitab akhlak Islam. Maka Anda akan menyaksikan bagaimana manusia ini hidup layaknya malaikat.

Orang akan pangling melihat imam masjid dan berujar: “Apakah dia ini Jibril, Mikail, atau Israfil?” Masyarakatnya akan terenovasi ke level tersebut saat kata “bohong” terucap, mereka akan bingung memahaminya. Sebab kata itu terhapus dalam perbendaharaan kata dii kamusnya. Kebohongan akan ditelan oleh air terjun kebohongan, ia tak akan pernah kembali. Kata “fitnah”, pun akan terhapus. Sehingga mereka akan bingung memahaminya saat ia terucap. Demikian juga dengan istilah “pembunuhan karakter”, semua akhlak tercela ini, yang Imam Ghazali sebut sebagai “Muhlikat”, akan terhapus dari memori umat manusia.

Orang-orang untuk mengingat makna dari istilah itu akan saling bertanya. Apa itu “marah”, apa itu “benci”, apa itu “dendam”, apa itu “dengki”, apa itu “terlaknat”. Khususnya rasa dengki yang mewabah di zaman ini: “Kamu berhasil sukses, sedangkan aku gagal. Karena itu saya harus menghabisimu”. Akhlak terlaknat itu sayangnya sedang mewabah di masa ini.

Menghadapi dunia seperti ini, Anda membangun dinding blokade dengan pondasi iman. Jika keseimbangannya Anda susun sesuai standar Islam, jika Anda bangun ia dengan kokoh dan tak mudah roboh. Sebagaimana Badiuzzaman mengerahkan semua usahanya untuk fokus pada masalah itu. Ya, Anda akan menyelesaikan pembangunan dunia yang tak mampu dibangun oleh kaum utopis. Singkatnya, Orang-orang cerdik cendekia akan terkejut melihat keberhasilan Anda. Anda membangun “Negara Matahari” yang diimpikan Campanella, negara yang hanya ada dalam khayalan. Anda akan membangun masa jaya Usmani. Mungkin bukan di masa jaya, tapi tepatnya di masa saat matahari Usmani akan tenggelam. Masa ketika matahari tergelincir akan terbenam, udara mulai sejuk, yaitu setelah waktu ashar. Masa itu dapat kita sangsikan, karena kemantapannya perlahan mulai pudar, mulai luntur. Pada masa senjanya Usmani saja sang cendekia berujar: “Sia-sia saya menulis Negara Matahari. Ternyata ia ada dan nyata di sini!” Bayangkanlah! Anda seakan merangkum Kitab Şecere-i Numâniye tulisan Muhyiddin Ibn Arabi yang membahas Usmani.

Saat Anda membangun pondasi dunia yang didambakan tersebut, Anda akan jadi sumber harapan bagi umat manusia. Anda akan jadi representasi dari nilai kemanusiaan, umat manusia akan banyak belajar dari Anda. Misalnya, bagaimana menghargai orang lain serta bagaimana menegakkan hukum dan keadilan. Dengannya, mereka akan membangun dunia yang sanggup menghembuskan angin ketenteraman. Dari sini, Anda tidak hanya membangun kebaikan yang eksklusif untuk dunia Anda sendiri. Di waktu yang sama, ia akan bermanfaat bagi seluruh penjuru dunia. Demikian strategisnya prasasti yang Anda bangun, ia akan terlihat dari segala penjuru.

Dilihat dari manapun, Prasasti tersebut akan jadi dambaan semua orang:”Menakjubkan sekali!” Sebenarnya umat manusia di masa ini kehilangan pondasi itu. Umat manusia membutuhkan pembentukan (taassus) pondasi itu. Saya gunakan kata taassus karena ia berasal dari istilah takalluf (pelaksanaan kewajiban), dimana dibutuhkan banyak usaha keras dan melewati berbagai kesulitan untuk bisa meraihnya.

zac-durant-FGrlQJs-dos-unsplash

Rasa Cinta dan Derita pada Dakwah

Tanya: Bagaimana metode mendapatkan hati manusia yang dilakukan Rasulullah dan para Ashabul Kiram, sebagai sosok yang senantiasa hidup dengan kecintaan dan nyeri tabligh? Apakah perjuangan mencari dada yang bisa memahami diskusi selama 30-40 menit dalam sebuah perjalanan kereta api pun dihitung sebagai cerminan dari cinta dan rasa sakit itu? Apa peran dari pendekatan individu (dakwah fardiyah) dalam usaha ini?

Jawab: Ya, diriwayatkan bahwa Rasul & Ashabul Kiram senantiasa hidup dalam semangat tablig & menanggung deritanya. Pertama-tama, sangat penting untuk meyakini urgensi berdakwah dan yakin akan adanya ganjaran yang dijanjikan kepada para pelaku dakwah. Ya, mereka meyakininya. Seberapa percaya? Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah hari ini akan datang hari esok. Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah matahari tenggelam malam akan tiba.

Matahari bisa saja tidak terbit, malam bisa saja tidak datang. Seberapa besar kemungkinannya matahari tidak terbit dan malam tidak datang? Mungkin hanya 1/1triliun. Kemungkinan itu muncul seperti saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menahan matahari sebagai salah satu mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga malam pun tidak datang. Atau kiamat pecah, sehingga malam tidak datang karena yang datang adalah hal lain.

Namun, mereka sangat percaya pada tujuan mereka sehingga mereka mempercayainya dengan pasti seperti percaya pada hasil hitungan matematika. Mungkin terdapat keraguan pada hasil hitung dua kali dua sama dengan empat. Akan tetapi, kami tidak ragu pada akhir perjalanan kami. Kami tidak sedikit pun ragu pada yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Mereka meyakini hakikat itu. Ini adalah perkara yang sangat penting.

Mungkinkah kepercayaan ini muncul secara tiba-tiba? Allah ketika mengutus Rasulullah di waktu yang sama Dia juga mengirim orang-orang yang akan menyambutnya. Anda tidak bisa menjelaskan perkara ini dari sudut pandang lainnya. Rasulullah dibekali mungkin dengan satu ayat atau satu surat. Rasulullah mengambil pesan ini dengan semangat untuk menyampaikan apa saja yang dijanjikan oleh pesan ini kepada orang lain. Beliau menyampaikannya kepada Sayyidah Khadijah.

Semoga Ummul Mukminin Khadijah mengampuni kita dan berkenan memasukkan kita dalam naungan pengayomannya. Semoga beliau berkenan mengusap rambut kepala kita di akhirat nanti. Dan mengakui kita sebagai anak-anaknya, insya Allah.

Tanpa keraguan, ia meletakkan telapak tangan di dadanya dan berkata: “Sampaikan kepadaku…! Sekali-kali Allah tidak akan merendahkanmu! Sesungguhnya engkau menyambung hubungan keluarga, menafkahi kerabat, dan membantu orang-orang tidak mampu. Memberikan jamuan kepada tamu serta menolong orang-orang yang tertimpa musibah. Allah tidak akan mengizinkan setan mengganggumu, mereka tidak akan membuatmu tenggelam dalam khayalan. Tidak bisa diingkari lagi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilih engkau untuk memberi petunjuk kepada kaummu. Jalan yang engkau tempuh selalu merupakan jalan menuju kekamilan.. Ufukmu senantiasa merupakan ufuk yang agung…” Ini merupakan respon dan pemikiran yang luar biasa. Dialah orang yang pertama kali menghibur Rasulullah.

Orang yang kedua adalah Sayyidina Abu Bakar. Dia adalah orang yang pertama kali ditemui Rasulullah ketika keluar rumah pasca beliau menerima wahyu. Ia adalah sosok yang dikenal dan sering membersamainya sejak masa kecilnya. Jarak umurnya 2-3 tahun lebih muda. Beliau menanyai Sayyidina Abu Bakar: “Kepada siapakah akan kusampaikan pesan ini?” Sayyidina Abu Bakar menjawab tanpa ragu: “Kepadaku Ya Rasulullah!”

Ketika melihat peristiwa itu dari perspektif ini, ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengirimkan sosok yang akan membawa pesan yang akan mengubah warna dunia, ketika Allah mengirimkan seorang insan kamil untuk membawa pesan agung ini, sejak awal Dia menyiapkan sosok-sosok dengan karakter khusus yang akan menyambut pesan dari utusan-Nya. Demikianlah Allah memprogram dan menakdirkannya. Beberapa dari mereka hanya membutuhkan satu ayat untuk melejit, misalnya Abu Bakar, Ali, dan Usman radhiyallahu anhum. Tiga-empat tahun kemudian Sayyidina Umar menyusul. Demikian juga para Asyarah Mubasyarah, mereka semua merupakan sahabat muhajirin. Anda juga dapat mengkaji mereka dengan kriteria yang serupa.

Faktor kedua, seperti yang dibahas Badiuzzaman, yaitu faktor insibag (celupan). Kepada siapa pun Rasulullah menggoreskan kuas pesan, perasaan, dan pemikirannya, seakan mereka yang digores mengalami proses melangit. Mereka yang menyaksikan sikap, perilaku, dan tatapan matanya akan berseru: “Tidak ada kebohongan padanya”. Apabila mereka yang menyaksikannya tidak memiliki praduga, mereka akan takjub & jatuh hati kepadanya. Dan berseru: “Beliau sosok terpercaya yang layak untuk diyakini”. Demikianlah besaran kekuatan magnetnya. Mereka yang tadinya hidup di dalam jelaga hitam pun seketika rontok noda-nodanya. Seakan disucikan oleh telaga kautsar di surga sehingga mereka layak bersanding bersama malaikat. Teruntuk mereka yang meyakini adanya kehidupan setelah mati dengan segala kriterianya dan mereka yang meyakini Rasulullah serta pesan-pesan yang dibawanya, sungguh terdapat ganjaran atas apa yang mereka yakini sebagai kabar gembira yang telah dijanjikan.

Sebaliknya, terdapat ancaman bagi mereka yang mengingkarinya. Di satu sisi, mereka yang meyakininya akan berangkat menuju kebahagiaan abadi. Mereka menjadi calon orang beruntung yang akan menyaksikan jamaliyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berangkat menuju ufuk untuk meraih rida Allah. Sedangkan mereka yang tidak meyakininya akan mendapat hal yang sebaliknya. Jika kelompok yang satu melangit, menyerupai malaikat, berangkat menuju derajat malakut. Maka kelompok yang ini akan terpuruk dan tergelincir ke derajat asfala safilin. Kini jika kita melihat perbedaan dari dua keadaan ini secara bersamaan, maka kelompok yang berhati bersih ini akan dengan penuh semangat menyebarkan pesan-pesan ini kepada manusia. Aku tidak bisa menggunakan analogi yang sama untuk Rasulullah. Namun, Al Qur’an menjelaskan kondisinya dalam dua ayat Fa la’allaka bākhi’un nafsak (QS al Kahfi 18:6) yang artinya Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu”

Beliau sangat ingin agar umatnya memilih jalan yang pertama supaya umatnya melejit ke derajat ‘alaya iliyin, supaya umatnya dimuliakan dengan surga. Dengan demikian mereka akan dimahkotai kesempatan menyaksikan jamaliyahnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Beliau berharap umatnya untuk meyakininya sehingga mereka pun menjadi layak dimahkotai dengan Ridwan. Beliau berseru “Orang ini juga harus yakin/beriman… Orang itu juga harus yakin/beriman…” . Bukan seperti apa yang dikatakan sebagian teolog islam masa kini: “Allah juga punya neraka. Buat apa kamu terlalu semangat berdakwah dan mengundang orang-orang?” Ungkapan ini merupakan wujud ketidaksadaran diri dan ketidakpahaman akan makna neraka.

Nadanlar eder sohbeti nadan ile telezzüz

Divanelerin hemdemi divane gerektir.

Hanya orang tak berilmu yang menikmati perbincangan dengan orang dungu.

Dan kawan orang gila adalah juga orang yang tak berminda.

Ziya Pasa

Di sisi lain, orang-orang yang tidak beruntung berarti kehilangan kebahagian abadinya. Sebagaimana dibahas dalam tafsir. “… Lābiṡīna fīhā aḥqābā.”Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya (QS An Naba 78:23)

Serta ayat: Innallażīna kafarụ bi`āyātinā saufa nuṣlīhim nārā, kullamā naḍijat julụduhum baddalnāhum julụdan gairahā liyażụqul-‘ażāb, innallāha kāna ‘azīzan ḥakīmā,  Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab (QS. An-Nisa 56). Ya, Setiap kali kulitnya hangus, Allah akan ganti kulitnya dengan kulit yang lain sehingga mereka bisa merasakan azab.

Ketika melihat gambaran dari ancaman ini, hati kita bergidik “Ampun Ya Allah..!” Ternyata kita harus merangkul dan menyelamatkan orang-orang. Kini menghadapi masalah yang demikian jika Anda masih memiliki hati nurani, Apakah Anda tidak akan membunuh diri Anda sendiri seperti yang dirasakan oleh Rasulullah? Inilah yang dirasakan dan dipikirkan para sahabat. Di satu sisi mereka memandang surga dengan mata kepalanya. Mereka tidak akan menyia-nyiakannya. Di sisi lain mereka menyaksikan neraka seperti digambarkan oleh Al Qur’an. “Ampun beribu ampun! Jangan sampai Allah menjebloskan kita ke tempat ini!” Jangan sampai satu orang pun jatuh ke dalamnya. Oleh karena itu, kita harus mengulurkan tangan.

Kemudian ia tidak menikmati waktu untuk pribadinya. Ia menggunakannya untuk kebutuhan orang lain. Mereka rela mati asal orang lain bisa bangkit hidup. Mereka hidup untuk orang lain. Hidup yang tak digunakan untuk hidup orang lain tak layak disebut hidup. Hidup yang demikian adalah hidup yang rugi. Dan mereka tak tinggal diam di derajat yang rendah itu. Mereka selalu hidup di derajat alaya iliyyin, menuju kekamilan hidup.

Pertama-tama, permasalahannya perlu ditinjau dari sudut pandang ini. Demikianlah Rasulullah dan ashabul kiram hidup dalam semangat dan pilunya dakwah dan cara memenangkan hati manusia.

Selain itu, yang ketiga adalah mulayamah (lemah lembut). Ia merupakan faktor penting lainnya. Ia dibahas dalam Al-Qur’an dalam bentuk anjuran kepada Nabi Musa supaya berlaku dengan Qawl Layyin. Jika Anda menunjukkan kebaikan, kelembutan, dan toleransi dalam wajah dan pemikiran Anda, jika Anda memiliki rasa hormat terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal, pihak lain tidak akan tidak menghormati Anda, mereka juga akan menghormati Anda. Ini akan menjadi kisah penuh hormat yang disampaikan kepada pihak yang penuh rasa hormat juga. Ia disebut Qawl Layyin, yaitu tutur kata yang lembut.

Misalnya Anda pergi menemui Amenophis II atau Firaun. Lalu Anda berseru: “Wahai orang merugi yang merasa dirinya adalah tuhan! Saya mengundangmu kepada hidayah. Jika menolak, dirimu akan dijebloskan ke dalam neraka.”

Namun, perintah Al-Qur’an berkata: “Fa qụlā lahụ qaulal layyinal la’allahụ yatażakkaru au yakhsyā ~ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha 44)”.

Dengan adanya perintah ini, maka kita perlu sesuaikan apa yang akan kita sampaikan. Mungkin disampaikan: “Wahai hamba Allah…”

Saya rasa pemilihan kata yang tepat juga merupakan faktor yang sangat penting. Apabila Anda merangkul semua orang, termasuk kepada mereka yang menghina Anda, maka alam semesta pun akan merangkul Anda. Lewat pendekatan Rumi dan Yunus Emre kita rangkul semua orang. Kita harus mampu berkata:”Nilai yang saya yakini telah mentarbiyah sikap saya.” Bukankah ini cukup meyakinkan?

“Saya pun juga seorang manusia, saya pun bisa marah. Namun nilai yang saya yakini telah membentuk karakter saya sedemikian rupa. Meskipun Anda menghina saya sedemikian rupa, saya tetap ingin merangkul Anda.”

Pada akhirnya, mereka juga manusia; Sebagai apresiasi mereka pun akan memberi respon positif. Apalagi dengan beragamnya perbedaan yang ada dewasa ini. Misalnya perbedaan agama, mazhab, dan suku. Di satu sisi kita perlu menutup mata pada perbedaan tersebut untuk kemudian mengundangnya minum teh. Kita pun perlu datang juga memenuhi undangannya, atau mengunjunginya sambil membawa bingkisan. Kita juga bisa memanfaatkan hari-hari besar agama.

Contoh lainnya bisa Anda tambah sendiri. Misalnya kita membuat program untu memperingati waktu wahyu pertama turun atau lazim disebut Nuzulul Qur’an. Itulah hari di mana pintu langit dibuka kepada kita. Kita harus memaksimalkan dan manfaatkan hari ketika wahyu pertama turun di singgasana Hira tersebut melalui peringatan yang penuh makna.

Contoh berikutnya, kita buat peringatan hari di mana Rasulullah diboikot misalnya.

Berikutnya yaitu peringatan Maulid Nabi. Tentu program maulid kita sudah rutin melakukannya; atau peringatan Isra Mikraj.

Contoh berikutnya, membuat peringatan wafatnya Sayyidah Khadijah. Dalam program tersebut kita bsia membaca manaqibnya. Kita sampaikan kisah hidup Ummul Mukminin yang agung.

Contoh berikutnya, membuat peringatan tahun baru hijrah yang dimulai perhitungannya pada masa Sayyidina Umar. Ketika membahas tahun baru hijriah otomatis kita akan membahas kemuliaan hijrah. Hijrah merupakan awal keberadaan dan awal pembentukan negeri madani. Di dalamnya terdapat peristiwa dipersaudarakannya muhajirin dan ansar, serta hal agung lainnya.

Kita bisa memanfaatkan beragam peristiwa serupa. Misalnya iduladha, idulfitri, nisfu syaban, dsb. Di masyarakat kita terdapat penghormatan terhadap hari-hari besar itu. Itu juga merupakan kesempatan bagi Anda untuk menyampaikan rasa hormat kepada hari-hari besar tersebut. Di hari tersebut bisa kita bawakan bubur sumsum, bubur candil, bubur baro-baro, dsb. Kita masakkan juga rendang, dan nasi liwet. Melalui sarana ini kita coba menunjukkan bahwasanya kita dekat. Kunjungan ini kita jadikan sebagai jembatan penghubung. Dengan jembatan yang dibangun itu mereka pun bisa datang mengunjungi kita. Di hari berikutnya Anda akan menyaksikan mereka membawakan teh dan kopi untuk Anda. Saya pikir hal-hal ini sangatlah penting untuk mengenalkan dunia Anda, Wallahu alam.