photo-1615716450567-de83e9246aab

Tauhid 5 – Iman Butuh Pengorbanan

Kita berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran (al-haq) yang kita dengar. Kita juga bertanggung jawab untuk menyampaikan apa yang kita petik dari pengalaman hidup kita (ibrah untuk orang lain). Merupakan kewajiban bagi kita menyampaikan manfaat hidayah yang kita dapat ke orang lain. Ini lah tugas kemanusian, ini lah tugasnya seorang muslim. Setiap orang bertanggung jawab dan wajib menyampaikan hal-hal yang didengarnya atas nama kebenaran dan realitas, atas nama Al-Quran, juga atas nama islam kepada hati siapa saja yang membutuhkannya. Itu adalah misi untuk menyampaikannya kepada orang lain yang telah dibebankan kepada anda oleh Allah SWT. Misi ini juga merupakan makna dan pancaran dari misi profetik, yang telah dipercayakan kepada mereka yang telah menjadi yang terbesar, paling terhormat dan paling dermawan dari semua manusia. Semoga Allah SWT memungkinkan kita untuk meraihnya dengan sukses.

Jika sesuatu yang kita dengarkan, hal-hal yang kita pelajari tidak bisa bermanfaat bagi orang lain, jika perilaku kita tidak membawa kita pada hasil, jika tidak ada rencana untuk mencapai hasil dalam perbuatan kita maka kita melakukan hal yang sia-sia. Itu berarti kita telah membuang-buang waktu dan menghabiskan waktu kita dengan sia-sia. Mempelajari sesuatu memiliki arti dan tujuan. Mendengarkan sesuatu memiliki arti dan juga tujuan. Jika memperhatikan adalah arti mendengarkan, kemudian melakukan sesuatu yang muncul sebagai hasil dari mendengarkan ini adalah ekspresi (hasil) dari tujuan ini. Makna memahami sesuatu bukanlah dengan tujuan tidak melakukan apa pun. Memahami sesuatu hal adalah mampu mengaplikasikan apa yang kita pahami, mencapai sesuatu yang lain dari apa yang kita pahami dan mampu menarik kesimpulan lain. Mengapa kita menyebut Allah SWT? Mengapa kita menyebut Nabi Saw? Mengapa kita menyebut Al-Quran? Mengapa kita membuktikan bahwa dunia diciptakan dan menunjukkan Kebesaran Allah?  Mengapa kita mengambil kepemilikan dari asbab dan memberikannya kepada Allah atau mencoba melihatnya dan mencoba untuk mematahkan lain yang bertentangan dengannya? Tujuan kita adalah untuk membuat pengetahuan tentang Allah berakar di dalam diri kita. Kita memiliki tujuan dalam semua ini untuk membawa hati mereka yang membutuhkan cahaya itu. Semoga Allah memberikan kita tujuan ini!

Jika kita mendengarkan dan memahami tujuan ini, Allah SWT akan memberikan dan membuat kita mencapai hasilnya. Ini adalah hukum-Nya dan kita berharap dan memohon belas kasihannya agar ia melimpahkannya kepada kita. Rasulullah Saw telah berubah menjadi bara setelah dia memahami Wajibul wujud dan Quddus. Ia telah menyempurnakan pembelajarannya dari alam semesta dan memahami kandungannya ini melalui Alquran dan akhirnya ia tidak bisa berdiam diri. Kemanapun ia menghadap, “Allah” lah yang ia katakan. Dia berdakwah dalam penderitaan dan cobaan tanpa henti.

Setiap individu yang mengambil pelajaran kebenaran dari Rasulullah akan menjadi sekeping api. Tanah gelap dan waktu diterangi bersama mereka, mencapai cahaya. Hati yang gelap tercerahkan bersama mereka, kuburan yang diduga gelap juga akan diterangi mereka. Orang-orang mulai menjalani kehidupan seperti surga di sini dan di akhirat. Ribuan penderitaan dan cobaan sedang dipertahankan. Namun, orang-orang yang beriman semuanya akan bahagia. Mereka percaya bahwa mereka akan hadir di hadapan Allah dan mereka akan bahagia dengan kebahagiaan surga. Selama Allah ada, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ribuan penderita, ribuan orang yang menanggung musibah pada zaman Rasulullah, mereka tetap mengatakan “Allah” dan “Rasululullah.” Mereka memutuskan untuk bertahan dengan keimanannya. Kita melihat keluarga Yasir yang merupakan salah satu dari golongan yang pertama kali beriman. Mereka telah mencapai cahaya islam dan kemudian beberapa rintangan muncul di hadapan mereka. Ketika ada orang tersesat, tidak ada yang mengatakan kepada mereka mengapa memilih jalan itu. Tidak ada yang mengatakan mengapa kamu berjalan di jalan yang berkelok ini? Tapi begitu ia mulai istiqamah dalam hidupnya, maka ribuan rintangan, ribuan halangan akan muncul di hadapannya.

Keluarga Yasir datang ke Madinah dari tempat yang jauh, tanpa pelindung dan terlantar di Madinah. Mereka bekerja untuk seseorang dan berusaha mencari nafkah. Dia mengambil seorang wanita dari tuannya. Sumayyah adalah seorang wanita Islam yang terhormat. Dia adalah wanita Syahid Islam pertama dan dia telah melahirkan seorang anak yang terhormat. Ammar yang menjadi syahid di depan Sayidina Ali. Ammar Agung, Amar bin Yasir.

Keluarga yang kuat, yang telah mengambil hikmah kebenaran dari Rasulullah, mulai berputar di sekitar cahaya islam. Mereka telah memutuskan untuk tetap bertahan dalam keimanannya walapun bila ada musibah atau api yang akan membakar mereka. Namun, manusia memiliki batas ketahanan, sampai pada titik dimana dia tidak bisa lagi menanggungnya. Ketika penyiksaan terhadap mereka mencapai tingkat tertentu yang tidak dapat mereka tahan, Rasulullah saat itu lewat disana: Tangan kaki dan kepala Yasir dicelupkan kedalam air yang mendidih, Yasir diseret dengan tali yang diikatkan di kakinya. Mereka melakukan hal yang sama kepada wanita itu tanpa malu. Mereka menyiksanya dengan penyiksaan yang sama. Mereka melakukan hal yang sama kepada anak muda Ammar. Ketika penyiksaan mencapai tingkat yang ekstrem, ketika Rasulullah lewat, Yasir tidak tahan dan berkata: “Wahai Rasulullah”. Dia sedang menunggu bantuan. Mungkin, dia mengharapkan Rasulullah untuk mengangkat tangannya berdoa untuk mereka, meminta sesuatu dari Allah, semoga yang menyiksa ini dikutuk oleh Allah dengan bala-Nya. Rasulullah menjawab: “Sabar, wahai keluarga Yasir” Tapi sabar ada batasnya, Bisakah mereka bertahan lebih dari itu? Ya, mereka tetap bertahan dengan keimanannya, siksaan seperti dalam neraka, dalam penderitaan, dia melihat mereka dengan senyum pahit, mereka memutuskan untuk bertahan.

Beberapa hari kemudian Yasir dibunuh di depan mata istrinya. Iya dibunuh dengan berbagai bentuk penyiksaan yang di luar akal. Istrinya tidak hancur, seorang wanita pemberani yang mendapatkan keyakinan sejati dari beberapa ayat yang telah turun, dengan beberapa ayat yang telah ia dapati dan berbalik kepada Allah dan tidak menghianati keyakinannya ia memutuskan untuk bertahan dengan keimanannya. Saat kepala dimasukkan ke dalam air panas rambutnya rontok dan kepala botak yang muncul. Tapi perhatikanlah, bahwa wanita hebat itu lagi-lagi berkata: “Tiada Tuhan selain Allah Muhammad adalah Rasulullah”. Hal-hal yang menusuk tubuhnya membuatnya berbicara, dan dia terus-menerus mengatakan “Allah”. Dari beberapa riwayat yang dijelaskan tentang penyebab kematiannya, dari seluruh riwayat dikatakan penyiksaannya semuanya sungguh mengerikan. Penyiksaan berupa mengikatnya pada hewan, merenggangkan kakinya. Mereka mengatakan bahwa mereka membunuhnya seperti ini. Dikatakan juga bahwa Abu Jahal menancapkan tombak di dadanya yang mulia. Ada yang mengatakan bahwa beliau meninggal karena setelah kepalanya dicelupkan ke dalam air mendidih dan daging wajahnya terkelupas. Terlepas dari penyebab kematiannya, kami melihatnya saat dia berkata: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Nya” dengan sepenuh hati.” “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-Ankabut 69). Allah beserta orang-orang yang berbuat baik, yaitu mereka yang beribadah seakan-akan melihat-Nya dan tidak akan berpaling dari-Nya.

Mereka melakukan penyiksaan yang sama kepada anaknya. Besi panas ditempel di dadanya, tetapi dia berdiri kokoh bagaikan gunung. Entah bagaimana dia bisa berdiri di hadapan Rasulullah dengan perasaan penyesalan yang serius karena pepatah bahwa dia mundur padanya dengan setengah hati. Dengan menangis ia berkata: “Aku hancur ya Rasulallah.” Itu adalah jamaah yang terhubung ke Allah dan Rasulullah sedemikian rupa. Itu adalah jamaah yang telah menghadapi segala macam cobaan dan bahaya untuk menjalani apa yang mereka yakini, untuk mendorong orang lain untuk menghidupinya dan untuk berdakwah ke orang lain. Jika jamaah yang berbaris bershaf seperti di belakang sahabat melawan kesesatan, kekufuran, dan hujatan di abad ke-20, mendengar hal yang sama, menjalani hal yang sama, dan menunjukkan kesabaran dengan cara yang sama dengan pertolongan dan anugrah Allah. Jamaah itu, sekaligus mereka juga akan melihat mentari yang telah terbit untuk para sahabat. Musim seminya akan lebih cerah dari pada hari-hari surga, alam kuburnya akan lebih cerah dari pada dunia. Pasti akan menemukan inayah dan kelembutan Allah dengan sendirinya. Allah memberitahu kita dengan bersumpah: “Mereka yang melakukan jihad di jalanku, Saya meminta mereka berjalan dalam jalan yang beragam, membimbing mereka dalam berbagai cara, dan sebagai hasilnya Aku membuat mereka mencapai rahmat dan bimbinganKu. Jangan lupa bahwa Allah bersama orang-orang yang ihsan.” Allah bersama mereka yang mengembangkan iman yang mereka miliki, terus beramal dengan cara yang kondusif bagi keyakinan yang maju dan tidak meninggalkan jalan-Nya.

Semoga Allah Yang Maha Kuasa menjaga kita dalam suasana ilahi dan membuat kita berhasil. Semoga Allah SWT menganugerahkan kita cinta dalam berdakwah apa yang kita dengar kepada orang lain. Semoga Dia melindungi kita dari bencana yang tidak dapat hikmah setelah kita meninggalkan masjid.

Menjelaskan kepada orang yang lain hal yang telah kita pelajari adalah syiarnya orang mukmin, syiarnya orang muslim. Bermalas-malasan ini adalah sifatnya orang-orang kafir.

Semoga Allah melindungi kita dari sifat-sifat orang kafir, dan melengkapi kita dengan ciri-ciri orang beriman.

photo-1499209974431-9dddcece7f88

Tauhid 4 – Hadiah Terbaik

Setiap orang memiliki hubungan dengan orang lain mulai dari yang paling dekat hingga yang paling jauh. Dalam kaitan ini, ia memiliki respon sesuai dengan tawajjuh yang diberikan karena itu hubungannya beragam. Karena hubungannya beragam, respon terhadap tawajjuh ini pun juga beragam. Hubungan orang tua kepada anak-anaknya sangat kokoh, kuat dan merupakan fitrah. Jadi tawajjuh mereka sesuai dengan itu dan tingkat pengorbanan mereka untuk anak-anak mereka pun sesuai dengan itu (tinggi). Bahkan hubungan seorang anak kepada ibu dan ayahnya, bisa saja berubah. Seorang anak tidak memberikan perhatian pada pamannya seperti halnya ia memberikan perhatian kepada ayahnya. Ia tidak menunjukkan hubungan dan perhatian yang sama kepada istri pamannnya seperti halnya terhadap pamannya. Perhatian dan respon yang ditampilkan semuanya berbanding lurus.

Kita memahami bahwa saat kita bergerak dari lingkaran jauh hingga mendekati ke dalam, hubungan meningkat, begitu juga tawajjuh. Dan ini membutuhkan respon terhadap peningkatan perhatian pada tingkat itu. Dengan kata lain kita selalu diwajibkan menunjukkan perhatian dan rasa hormat kepada orang di sekitar kita. Kita pun harus membalas kembali perhatian dan rasa hormat yang diberikan kepada kita. Karena tanggapan ini mungkin didasarkan pada langkah-langkah kita, penilaian kita atas peristiwa di dunia -pada saat yang sama- itu didasarkan pada kriteria Ilahi yang berada di atas ukuran, penghargaan, dan nilai-nilai kita. Sikap saling santun yang ditampilkan di antara umat islam sesuai dengan perintah Allah, meskipun hukum yang melekat memainkan peran yang menarik di sini. Kita melakukan sikap tawajjuh sesuai dengan perintah kehendak Allah. Dalam agama Islam disebut “mencintai karena Allah” dan kita juga menghentikannya dalam batas yang ditunjukkan oleh Allah dan kita menyebutnya “membenci karena Allah”. Kita mencintai karena Allah, kita bermuamalah dan bertukar hadiah satu sama lain karena Allah, dan karena Allah juga kita memutuskan hubungan. Jadi kita harus menaggapi orang-orang sesuai dengan kedekatan mereka dengan kita, sesuai dengan tawajjuh mereka.

Sebagai seorang muslim, untuk mengevaluasi dan mengatasi ini dalam timbangan Allah akan menjadi bentuk respon paling bijaksana dan paling tepat untuk mendapatkan ridha Allah. Hadiah yang akan anda berikan satu sama lain, hubungan kedekatan yang akan anda bangun antara satu sama lain, harus menemukan nilai dalam kriteria yang ditetapkan oleh Allah dan harus disajikan dengan nilai-nilai seperti itu. Semoga Allah membawa kita ke pemahaman seperti ini. Di satu sisi, saya ingin menyampaikan dengan poin-poin ini, yang merupakan dasar dari ide tersebut. Kita pada dasarnya wajib memberikan sikap saling santun seperti itu kepada orang-orang di sekitar kita dari yang paling dekat hingga paling jauh. Anda akan menanggapi orang yang anda cintai -kalau boleh diungkapkan dengan bertukar hadiah- berilah hadiah terbesar yang membuat Allah juga senang, berilah hadiah yang dapat membuat anda dan orang yang anda cintai menjadi hubungan yang abadi serta tercatat di akhirat nanti.

Hadiah terbesar adalah perbuatan yang anda lakukan hanya karena Allah. Dan yang terpenting adalah menjelaskan Allah yang Maha Kuasa dalam konteks pemahaman, filosofi dan kriteria zaman ini. Dengan begitu anda memberikan hadiah tentang ma’rifatullah kepada orang lain.

Hadiah terbesar seorang istri kepada suaminya adalah memberikan hadiah ini kepadanya. Ini juga akan menjadi hadiah terbesar yang akan suami berikan kepada istrinya. Ini juga akan menjadi hadiah seorang anak kepada ayahnya dan juga hadiah seorang ayah kepada anaknya. Hubungan yang anda bangun dengan orang-orang di sekitar anda, bertukar pikiran dalam hal pengetahuan tentang Allah SWT, menjelaskan pemahaman tentang Allah. Ini akan memberi anda keabadian.

Nabi Muhammad Saw yang telah memahami kebijaksanaan ini dengan mendalam, ia diperintahkan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (An Nahl; 125). Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya SAW untuk mengajak orang-orang ke jalan-Nya dengan menghindari ribuan jalan yang bathil, dalam konteks pemahaman era tertentu dan tingkat ilmu. Ada yang berbondong-bondong ke dakwah ini. Tetapi ketika orang meninggalkan rumahnya, ada di antaranya yang meninggalkan ibu mereka di sana, beberapa meninggalkan suami mereka, beberapa meninggalkan anak-anak mereka, dan beberapanya meninggalkan istri mereka. Mereka meninggalkan orang-orang terdekat dengan mereka untuk mengikuti cahaya ilahi yang abadi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Kita perhatikan Abu Huraira ra. orang hebat yang disebut “Bapak Kucing” oleh Rasulullah SAW atau “Kucing Kabilah Daws” oleh para sahabat. Orang yang luar biasa ini hampir mendengar setengah dari seluruh hadits-hadits Nabi SAW. Ia juga mentransfer unsur-unsur dasar agama kepada kita. Orang Shuffah miskin ini tidak memiliki pakaian untuk menutupi punggungnya, tidak meninggalkan Rasulullah bahkan untuk sesaat. Tetapi ada yang mengganjal di hatinya dan membawanya pulang dari waktu ke waktu. Dia telah menemukan cahaya yang dia cari sebagai kupu-kupu dan berputar di sekelilingnya, tetapi dia memiliki seorang ibu di rumah yang terlepas dari semua desakannya, belum menerima hakikat kebenaran dan melempar dirinya ke dalam api. Dia telah memohon, banyak menangis, agar ia menerima hadiah karunia Ilahi ini, sebagai bentuk perhatian yang paling indah, tetapi ibunya belum menerimanya. Suatu hari dia berkata; “Saya datang kepada Rasulullah, dengan mata menangis. ‘Wahai Rasulullah’ sapa saya. ‘Bisakah anda berdoa untuk ibunya Abu Hurairah agar Allah membimbingnya pada kebenaran!’ Rasulullah mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibunya Abu Hurairah! Rasanya senang sekali, saya pun pulang ke rumah dengan hati yang lega. Saya berlari hingga ke depan pintu, ketika itu pintunya tertutup. Ketika saya menyentuhnya ada suara yang mengatakan: “Diam di tempat!” Ketika saya mendengarkan dengan hati-hati, saya mendengar percikan air dari belakang pintu, saya mengerti bahwa dia sedang mandi wajib. Saya masuk setelah ia mengenakan pakaiannya kemudian ia duduk tepat di hadapan saya. Kemudian ia bertanya “Katakan nak, apa yang kamu inginkan?” “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku juga bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Secara jujur dan spontan ia mengatakannya. Saya bangun dan pergi ke Rasulullah sambil menangis kegirangan, menyampaikan rasa terima kasih saya yang terdalam dan saya meminta permintaan; “Ya Rasulallah, Allah mengabulkan doamu, doakan supaya Allah membuatku dan ibuku dicintai orang-orang.” Kemudian Abu Hurairah mengatakan; “Setelah ini, siapapun yang mendengar namaku, maka ia akan memberikan kasih sayang kepadaku.” Oleh karena itu barang siapa yang tidak memiliki perasaan kasih sayang kepada Abu Hurairah, berarti ia memiliki hubungan yang lemah dengan Rasulullah.

Ketika Mekkah ditaklukkan – seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya – semua es mencair, gunung-gunung yang akan menambahkan tanah ke tanah melebur menjadi tanah, dan dunia berubah ke dunia yang lain. Mereka yang kejam lagi liar, ladang-ladang berduri itu berubah menjadi padang rumput, burung bulbul mulai bernyanyi. Kemudian, seperti dijelaskan Al-Qur’an: “Dan engkau akan melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (Qs: An Nasr:2). Dan Islam mulai berkembang dan mendapatkan kekuatan secara besar-besaran.

Saat itu ada yang menutup mata, telinga, dan hati mereka menuju cahaya Islam dan Al Quran. Beberapa dari mereka melarikan diri dan mencari perlindungan di Ka’bah. Beberapa seperti Wahsyi pergi dan kemudian datang dan meminta perlindungan (masuk islam). Itu akan menjadi penghinaan bagi sahabat besar seperti Ikrimah -putra kafir besar Abu Jahl- untuk mengatakan namanya sebegai referensi kepada ayahnya setelah ia menjadi seorang muslim. Sampai penaklukan Mekkah, dia adalah musuh utama Rasulullah SAW dan memiliki keinginan untuk membunuhnya. Dia lari dari Mekah setelah penaklukan Mekah. Tetapi istrinya, Ummu Hakim, wanita pintar, memintakan permohonan maaf kepada Rasulullah SAW, yang merupakan pusat pengampunan. Dia berucap: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya

Ketika dia melihat bahwa Rasulullah menerima permintaannya, dia merasa sangat lega dan bertanya-tanya apakah beliau akan memaafkan Ikrimah juga. Dia bertanya: “Wahai Rasulullah, Ikrimah telah melarikan diri. Apakah anda akan menerimanya juga jika dia kembali?” Rasulullah tidak menolak siapapun yang datang ke pintunya, Rasulullah juga akan menerima Ikrimah. Mereka memberikan isyarat mempersilakan. Ummu Hakim sudah memutuskanuntuk pergi hingga ke Yaman. Dia menyebrangi gurun besar itu, berpergian bersama orang-orang yang berbahaya. Kesejahteraan dan kesuciannya juga berkali lipat dalam keadaan bahaya. Namun, dia akan memberikan hadiah kepada suaminya, hadiah kebahagian abadi, karunia Ilahi, Makrifah Ilahi. Dia akan membuatnya mendengar apa yang telah ia dengar, memberinya ilmu apa yang telah ia dapat. Tanpa memberikan ini, hatinya tidak akan merasa tenang. Karena itu dia menanggung banyak penderitaan dan menyampaikan permintaan dari Rasulullah. Sampailah ia ke hadapan suaminya. Ketika suaminya memutuskan untuk naik perahu dan melarikan diri ke tempat yang lain, Ikrimah berkata: “Apakah dia benar-benar menerimaku?” Istrinya menjawab: “Ya, dia menerima. Dia memaafkanmu dan dia sedang menunggumu (masuk Islam).” Dia mengikuti jalan panjang itu dengan suaminya dalam sukacita besar. Ikrimah, komandan agung yang datang ke hadapan Rasulullah, tidak bisa melihat wajah Rasulullah. Bahkan pada hari penaklukan, dia menggunakan pedangnya, dan bahkan pada hari penaklukan, dia telah membantai beberapa sahabat. Tetapi dia ada di hadapan orang yang pemaaf, di hadapan Allah yang berbelas kasih. Dia ada di hadapan Rasulullah. Meskipun dia tidak bisa melihat wajahnya, dia ditutupi dengan rahmat di sekitarnya. Rasulullah memandangnya dari kepala ke kaki. Seolah-olah dia sedang membersihkan dan menghilangkan semua hal yang disebabkan oleh hal yang nista. Ikrimah, yang kemudian mengangkat kepalanya bertanya: “Wahai Rasulullah, wanita ini telah mengatakan sesuatu. Apakah itu benar bahwa Anda memaafkan saya?”Ya, saya memaafkanmu.” “Baik, terus apa yang anda inginkan dariku?” “Aku menginginkan apa yang Allah inginkan darimu.” Kemudian Ikrimah: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya.” Ikrimah mengatakan itu dengan sepenuh hati. Sekarang Ikrimah adalah Ikrimah yang lain. “Tolong biarkan aku menghabiskan hartaku dan semua yang kumiliki di jalan dakwahmu, wahai Rasulullah!” katanya. Dia meminta Rasulullah untuk berdoa kepada Allah agar dia menjadi syahid sebagai penebusan atas semua perbuatan jahatnya. Ketika Rasulullah wafat, ia berlari kesana kemari mencari mati syahid. Dalam pertempuran Yamamah, dia bertarung dengan sengit. Banyak sahabat dicincang seperti daging di atas telenan kayu, tetapi Ikrimah kesal dalam perjalanan kembali ke Madinah karena dia tidak menemukan kesyahidan yang dia cari. Setelah wafatnya Rasulullah, betapa banyak tempat yang ia pergi, betapa banyak ia bertempur, tetapi apa yang ia cari tidaklah ia dapatkan. Ketika pertempuran Yarmuk pecah, dia berdiri kokoh tanpa mundur selangkah pun di bawah bendera Rasulullah SAW. Para sahabat menggambarkan adegan itu kepada kami. Pada saat-saat nafas terakhirnya dia berteriak memanggil: “Wahai yang menjabat tangan Rasulullah di Hudaybiyyah, yang berperang Badar di barisan depan, yang bersama dengannya di perang Uhud, kemarilah kalian di bawah bendera Rasulullah, biarlah kita mati tercincang tetapi jangan sampai bendera ini terjatuh ke tanah.”  Ya, dia tercincang. Bendera itu jatuh tetapi jatuh ke atas jenazah Ikrimah. Ia bagaikan dalam bentuk daging cincang di atas telenan kayu. Tetapi itu adalah tumpukan daging yang pada waktu itu, mungkin dia terbang ke hadapan Rasulullah dengan sayap hijau. Dia begitu keras kepala sampai pada saat penaklukan Mekah tetapi cahaya telah melelehkan semua yang ada di dalam dirinya dan dia menjadi pengembara ke arah cahaya.

Bayangkan betapa kita sangat membutuhkan pelajaran Al Quran yang sangat bijak, di abad ke 20, ketika gunung-gunung muncul kembali dan lautan menjadi dingin. Dengan hatimu, putar tanganmu menghadap Allah dan memungkinkan dirimu dan kami menyatakan bahwa kita mencari perlindungan kepada-Nya. Semoga Allah melelehkan es kita dan memberi kita antusiasme yang sama. Di bawah nama Rasulullah yang mulia, marilah kita mati di bawah bendera yang berkibar untuk Allah SWT, jangan sampai bendera itu terjatuh. Mari kita kibarkan bendera itu di cakrawala kita. Mari kita berusaha mati dengan mulia. Semoga Allah membantu kita.

photo-1457269449834-928af64c684d

Tauhid 3 – Ajaklah dengan Hikmah

Allah Swt menunjukkan diri-Nya kepada alam semesta dengan menciptakan manusia untuk mengamati kenikmatan seni-Nya, membuat mereka bertepuk tangan, dan memberi makna pada pengamatan mereka. Dia menciptakan manusia agar mereka dapat mengetahui alam semesta Di alam semesta mereka dapat mengerti arti ma’rifatullah sehingga dapat beribadah kepada-Nya. Karena mata manusia tidak mampu melihat dengan cermat anugerah melimpah di alam semesta, mereka tidak dapat memahami banyak kebenaran yang telah Dia perlihatkan kepada mereka. Dan menyatakan diri-Nya kepada mereka di alam semesta dengan nama Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Dia maha peyayang bagi orang-orang yang beriman” (Qs. Al-Ahzab; 43).

Dia mengutus Nabi Muhammad SAW dan semua nabi lainnya ke bumi ini untuk mengajari manusia dan untuk menjelaskan arti alam semesta bagi mereka. Para nabi menjelaskan kepada manusia makna alam, makna manusia dan berusaha menunjukkan kepada manusia jalan menuju kepada Allah SWT.  Jika seseorang tidak memasuki jalan menuju Allah seperti yang ditunjukkan, dijelaskan dan diarahkan oleh para nabi. Berarti dia telah menyimpang dari jalan dan masuk ke dalam hal yang bertentangan dengan ciptaan dan fitrahnya. Orang itu akan dikatakan sesat. Jika seseorang memasuki jalan sebagaimana yang telah ditunjukkan, diarahkan, dan menuju jalan hidayah melalui wasilah nabi, maka dia telah memasuki jalan yang diridhai Allah SWT dan merupakan jalan tujuan diciptakannya alam semesta. Seperti bahasa Al Quran, seperti juga dalam kitab-kitab yang lain, Allah SWT memerintahkan para nabi, memerintahkan nabi-Nya, untuk menjadi penunjuk dan penuntun bagi jalan-Nya. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran (nasihat) yang baik” (Qs. An Nahl; 125).

Ajaklah orang-orang ke jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan untuk memahami tujuan Allah menciptakan alam semesta, untuk memahami keagungan Allah, untuk bersimpuh di hadapan kebesaran ini, bersujud, dan mengakui peghambaan kepada-Nya. “Ajaklah orang-orang ke jalan ini”. Begitulah Ia memerintahkan nabi-Nya. “Ajaklah dengan hikmah” (penuh kebijaksanaan). Firman-Nya, “Ajaklah mereka dengan menjelaskan kepada mereka tujuan penciptaan mereka, dengan menjelaskan makna alam semesta, dengan menunjukkan kebijaksanaan-Ku di alam semesta, dengan menunjukkan manfaat maslahat pada objek benda, dengan menguraikan isi suatu objek hingga ke bagian terkecilnya, dengan menceritakan makna pergerakannya, kelebihan-kelebihan dan kapasitasnya, panggil mereka ke jalan-Ku dengan menanamkan makna semua ini sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan mereka!” Perintah Allah. Rasulullah saw, telah menyampaikan Hakikat kepada orang-orang yang berada pada zamannya dengan tingkat pemahaman mereka. Faktanya adalah bahwa beliau telah melakukan tugasnya dengan cara yang menyenangkan semua hati. Hati kami juga senang. Semoga Allah memberinya tempat terpuji, menganugerahkan beliau lingkaran cahaya syafaat, dan membuat kita mencapai syafaatnya.

Rasulullah SAW menyampaikan al-Quran dengan cara yang diperintahkan al-Quran, dalam waktu singkat menjadi wasilah pembentukan lingkaran yang terbuat dari cahaya di sekitarnya. Lingkaran cahaya ini terus mengembang tiap harinya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Naabi (penyair Turki terkemuka 1642-1712), “Dia bukan bulan yang telah mengumpulkan lingkaran cahaya di sekelilingnya dan duduk di dalamnya. Ia adalah bintang.” Nabi Muhammad saw adalah seorang pengkhutbah yang menjelaskan kebenaran kepada orang-orang. Beliau menjelaskannya dengan ungkapan, “Para sahabatku bagaikan bintang-gemintang.” Sebagaimana juga beliau menjelaskan hakikat kebenaran kepada bintang-bintang. Bintang-bintang ini seperti kilau di sekitar bulan, telah menunjukkan kompetensi berkembang di sekelilingnya setiap hari. Banyak potongan es mencair, banyak batuan padat melebur menjadi tanah, dan padang rumput mulai berfungsi menjadi pot bunga untuk mawar dan bunga-bunga.

Anak dari Abu Jahal (Ikrimah), hatinya penuh dengan permusuhan dan kebencian. Dulunya adalah batuan padat. Tetapi di hadapan Rasulullah SAW, dari mulut beliau yang menuangkan kebijaksanaan dan kebenaran. Ketika beliau membuka mulut, hati Ikrimah yang keras pun luluh dan berubah menjadi padang rumput dan menjadi pot bunga untuk mawar dan bunga-bunga. Salah satu dari mereka yang menentang Rasulullah, yang menutupi telinga dan hatinya dari hikmah, adalah Khalid ibn Al Walid yang tumbuh dalam ras itu dan seorang politikus besar lainnya Amr ibn Al Ash.

Setelah Hudaibiyah, Khalid ibn Al Walid dan Amr ibn Al ‘Ash juga luluh hatinya. Sebenarnya sudah lama petir melintas di kedua pikiran mereka, tetapi karena keras kepala mereka bertahan, tetap menentang Rasulullah. Amr ibn Al ‘Ash telah pergi ke Abyssinia bertahun-tahun yang lalu. Dia telah melihat Amr bin Umayyah ra di sana. Dia meminta izin dari Negus untuk memenggal sahabat Rasulullah. Dan kemudian dinukilkan kepada kita: “Perkenankan saya wahai raja yang mulia untuk memukul kepala ummat shabiin ini. Biarkan aku memenggal Amr bin Umayyah!” Saat dia mengangkat tangannya dan hendak memukul hidungnya dengan keras, dalam kebingungan dan kemarahan itu, jantungku mau loncat karena kaget, takut aku pikir dia akan memenggal aku. Lalu dia berkata; “Bagaimana bisa! Seorang nabi yang menceritakan apa yang dikatakan Nabi Musa, seorang nabi yang adalah pertanda kabar gembira dari Isa, seorang nabi penguasa alam semesta, seorang nabi yang aku imani ini, bagaimana mungkin aku serahkan kepadamu?” “Tuanku yang mulia, apakah anda percaya padanya?” “Aku percaya padanya” katanya. Bahkan Amr ibn Al ‘Ash berkata; “Aku mengulurkan tanganku di sana, memberi penghormatan kepada penguasa.” Setelah itu, menyalalah di benaknya kebenaran cahaya di sana.

Adapun Khalid ibn Al Walid menceritakan situasinya di Hudaibiyah: Ketika utusan Allah membuat kesepakatan di sana, saya memutuskan untuk menyerang dari belakang dengan pasukan berkuda saya. Mereka berdiri untuk shalat, mereka melaksanakan shalat khauf. Sebagian tentara berdiri di hadapan kami dan sebagian lagi shalat bersama jamaah lainnya di belakang. Kemudian mereka bertukar. Saya tidak diberikan kesempatan untuk menyerang. Kemudian saya bingung tentang apa yang harus dilakukan ketika muslim dan musyrik mencapai kesepakatan.  Sampai hari itu, selama 5-6 tahun saya selalu menarik tirai ke matahari, kututup mataku, tutup telingaku pura-pura tidak mengenalnya. Rasa kantuk seketika hilang, saya merasa tidak nyaman dengan berpikir kemana harus pindah, ke Abyssinia atau Damaskus. Suatu hari, Walid ibn Al Walid, yang adalah saudara saya, lebih duluan pergi dari pada saya mencapai kebahagiaan cahaya. Dia pergi sebelum saya dan masuk ke dalam lingkaran cahaya Rasulullah. Dia menulis surat untuk saya. Dalam surat itu, saudara saya berkata: “Ketika Rasulullah telah melakukan umrah pada tahun berikutnya yang tidak bisa dia lakukan di Hudaybiyah, Dia mengatakan kepadaku “Kenapa orang seperti Khalid yang cerdas berakal masih musyrik? Bukankah seharusnya orang seperti Khalid masuk ke dalam lingkaran cahaya ini? Bukankah seharusnya dia berada di pasukan ini? Bukankah seharusnya dia termasuk di antara para utusannya? Dia menulis dalam suratnya. Ketika saya mendengar ini, saya merasa seperti dunia diberikan kepada saya. Saya telah diliputi oleh kegelisahan, saya lelah pergi ke kedai minum setiap hari, saya lelah melakukan hal-hal kekufuran, saya lelah tanpa sujud, tidak mengingat Allah, hati nurani saya membuat saya malu. Saya akhirnya memutuskan untuk pergi. Saya memutuskan untuk pergi, tetapi bagaimana saya bisa pergi sendiri? Saya pikir saya akan pergi, namun saya akan membawa orang lain. Saya pergi ke Safwan bin Umayyah yang cerdas. Dia telah banyak menentang. “Demi Allah, walaupun aku akan tinggal sendirian aku tidak akan percaya padanya” katanya. Dan saya katakan kepadanya: “Dunia sedang berantakan, pelan-pelan semua orang akan mengikutinya.”

Seolah-olah dia telah melihat hari ini. Seolah-olah dia telah melihat bahwa dua pertiga dari dunia akan berada di bawah kedaulatannya SAW. Es akan mencair, bebatuan akan berubah menjadi tanah lunak. “Semua orang akan tunduk kepadanya, ayuk kita pergi”. Khalid bin Walid kemudian mendatangi Ikrimah dan mencoba meyakinkannya. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa selain kata-kata Safwan. Akhirnya, beliau pergi ke Talhah bin Utsman, dan menawarkan ajakan, dia menerima untuk ikut Bersama Khalid bin Walid. “Kami pergi dalam gelap di malam hari tanpa terlihat. Saya khawatir apa yang akan terjadi jika mereka berada di hadapan kami, jika kami tidak bisa mencapai kapal (hidayah), atau jika mereka menghalangi kita untuk menjangkaunya, bagaimana jika kematian menangkap kita sebelum kita mencapainya. Pada malam hari kami meluncur di kegelapan, kami mendirikan tenda di lembah yang gelap, kami mulai beristirahat.

Utusan Allah juga pernah melewati lembah-lembah gelap di malam yang begitu gelap. Beberapa tahun kemudian, Khalid al Walid bersama Thalhah mengikutinya dalam kondisi pikiran yang sama, di udara yang sama, melewati lembah yang sunyi. Saat mereka bisa berhenti dan istirahat di sana. Malam itu dalam kekhawatiran yang sama Amr bin Al ‘Ash juga berangkat, “Aku muak dengan kekufuran ini, aku jenuh dengan kondisi tanpa shalat ini, aku bosan dengan keadaan hatiku ini yang tiada Allah di dalamnya. Aku mau pergi untuk merasakan ketenangan di kota Madinah. Aku akan bergabung mengikutinya (Rasulullah).”

Semua orang bergabung dengannya dan menemukan kebahagiaan. Dia juga muncul dari lembah gelap lain dalam sensasi dan emosi yang sama. Amr ibn Al ‘Ash berkata: “Ketika aku melihat bayangan di depan dalam kegelapan, aku berkata ‘Duh, aku tertangkap!’ Perlahan aku mendekati tenda, untuk memeriksa siapa yang ada di dalamnya. Aku berhadapan dengan Khalid ibn Al Walid. Kami telah berhadapan dengan Rasulullah di Badr. Kami berperang melawannya. Dulu kami menentang orang Muslim di Badr. Di Uhud, bersama-sama kami telah menyerang Rasulullah dari belakang. Di Khandaq kami juga bersama. Di Hudaibiyah kami juga dalam permainan yang sama, kami bermain bersama (perang).” Kami terkejut ketika kami bertemu. “Pergi kemana kamu, Khalid?” Tidak, aku hanya keluar jalan-jalan” “Dan bagaimana denganmu?” “Aku juga lagi jalan-jalan” Seorang yang lalai, seseorang yang tidak percaya kepada Allah, mengembara, berjalan dan hanya berkeliling sia-sia. Perlahan hati mereka terbuka, “Wahai Khalid, aku sudah bosan, aku sudah bosan dengan hidup dalam kekufuran. Aku juga ingin pergi ke Rasulullah untuk mengikutinya, aku akan pergi dan mengatakan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, yang menyembuhkan segala penyakit.”Betulkah? Aku juga keluar karena itu, aku juga sedang pergi ke arah sana.” Kedua komandan saling berpelukan. Mereka menangis di pundak mereka dan berjalan beriringan bersama dalam perjalanan mereka menuju kekekalan.

Berita itu sudah sampai ke Rasulullah. Allah, yang kebesaran-Nya menghubungkan langit dan bumi, memusatkan dan menentukan barat dan timur. Allah telah mengirim malaikat-Nya dan telah memberitakan kabar ini. Khalid bertemu dari jauh, dan mengatakan bahwa dia sedang ditunggu oleh Rasulullah. Khalid begitu bahagia. “Kami tinggal di Aqabah, ada orang yang datang menemui kami, lalu kami pergi ke Madinah, memasuki hadirat Rasulullah. Beliau Saw. menyambut kami dengan senyum di wajahnya. Ketika duduk langsung saya ucapkan:    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

Khalid ibn al Walid mengatakan: “Saya merasa seolah-olah memasuki surga, tetapi ada masalah dalam diriku. Baik saya maupun Amr ibn Al Ash tidak dapat mengangkat kepala dan memandang wajah beliau.” Terutama yang dikatakan Amr ibn Al ‘Ash, “Wahai Rasulullah, saya telah melakukan banyak hal jahat kepadamu sehingga tak mampu melihat wajahmu, doakan saya! Begitupun Khalid al Walid juga mengatakan hal yang sama, meminta dimohonkan ampunan dari Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengangkat tangannya: “Ya Allah, ampunilah Khalid. Sejak hari itu, Rasulullah menggambarkan Khalid sebagai pedang yang ditempatkan melawan kekufuran. Ia menjulukinya Saifullah. Tentara ciut di hadapannya, batu-batu melebur. Nama Allah berkibar di bahu dan di embara. Nama Allah adalah yang tertinggi, ditunjukkan di alam semesta sebagai yang tertinggi oleh Khalid ibn al Walid dan Amr ibn Al ‘Ash.

Ya, ceritakan kebenaran dengan kebijaksanaan, ceritakan Al-Quran dengan kebijaksanaan. Ceritakan nabi kita Muhammad SAW yang mulia yang telah melakukan misinya dengan kebijaksanaan. Es akan mencair, gunung-gunung akan meleleh, batu-batu akan melebur, semua orang dan segala sesuatu di alam semesta akan datang dan  mengatakan Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Rahasia “tidak ada yang tidak memuliakan Dia dengan pujian-Ny” akan dipahami. Dia yang ditinggikan dan dimuliakan oleh segala hal akan dinyatakan, semuanya akan berlutut di hadapan Allah. Anda hanya perlu memberitahu tentang-Nya kepada semua orang di mana pun anda berada. Semoga Allah Yang Maha Kuasa melindungi hati dari petunjuk yang buruk, hasrat kepada-Nya, dan memberikan semangat ini kepada mereka yang hatinya telah terjepit dan membusuk di abad ini. Terutama Muslim yang menderita, dengan memberi mereka makan dengan inspirasi ini. Semoga Dia memberi kepercayaan kepada hati. Semoga Dia menganugrahkan antusiasme menjadi orang yang percaya setelah mendengar kebenaran iman dan menceritakannya kepada yang lain!

photo-1546023690-2ff75535b596

Tauhid 2 – Kebenaran Agung

Seseorang yang sifat kemanusiaannya belum padam, belum hilang hati nuraninya, yang masih memiliki hati di dadanya, apa saja yang ia gunakan, ia rasakan, ia lihat, dan ia peroleh, maka ia pasti akan memikirkan orang lain agar dapat memperoleh manfaat dari hal-hal berguna yang indah dan berharga. Jika ia pergi dan melihat surga, ia pun mengundang orang lain ke sana, dan meyakinkan orang lain. Itulah yang menjadi masalah utamanya. Jika ia melihat taqdir, melihat pena taqdir, buku catatan nasib, tentang pena, tentang buku catatan, membujuk orang-orang adalah menjadi masalah penting baginya. Entah dia mendengar ayat-ayat Allah dari bahasa alam semesta, jika dia melihat-Nya dengan pandangan dan pemahamannya yang khas, menunjukkan-Nya, memperdengarkan kepada mereka yang perlu mendengarkan-Nya adalah menjadi tugas penting baginya. Ini untuk manusia yang hati nuraninya belum pudar, yang memiliki suara dalam hatinya. Inilah keprihatinan dan masalahnya Rasulullah Saw. Beliau percaya seperti beliau melihat Allah, beliau melihat surga dan beliau percaya. Takdir beliau melihat pena takdir dan beliau percaya, beliau berbicara dengan malaikat secara lisan hal, melihat mereka dan percaya. Beliau melihat, mendengar, percaya dengan diri beliau sendiri bahwa kitab yang turun kepada beliau berasal dari Allah dan kemudian beliau meninggalkan surga, beliau meninggalkan bidadari-bidadari, beliau meninggalkan para pelayan surga dan kembali ke dunia manusia untuk memberitahu dan membawa mereka semua keindahan itu. Ketika beliau mencapai puncak tertinggi di sana, beliau kembali berada di antara orang-orang untuk memegang tangan mereka dan menaikkan mereka ke surga yang telah beliau saksikan sebelumnya.

Dalam hal ini, Rasulullah Saw sangat menderita, karena manusia menolak untuk memahami apa yang beliau katakan, mereka lari dari beliau dan menghindar untuk mendengarkan kebenaran-kebenaran yang agung itu. Hati beliau dalam penderitaan dan kekhawatiran.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling (Al-Kahfi; 6)

Beginilah Al-Quran menggambarkan kondisi Rasulullah SAW dalam penderitaan. Setelah melihat Allah dengan segala bukti, mendengarkan Dia dari alam semesta, setelah masuk ke jiwa dan memahami-Nya di sana, dan mendengarkan suara-Nya dalam hati nuraninya. Masalah penting bagi seseorang adalah memperdengarkan suara ini kepada siapa saja yang belum mendengarkannya, untuk bahwa mereka berada di jalan yang benar, mencerahkan mereka dengan cahaya ini, untuk memastikan yang mengarahkan mereka ke surga Darussalam dalam keadaan aman. Ini adalah masalah manusia yang sebenarnya.

Suatu ketika Umar ra. berada di samping seseorang sedang menangis tersedu-sedu. Ketika sang khalifah lewat di depan sebuah biara dan melihat seorang pendeta yang mengeluarkan kepalanya dari kanopi. Pendeta malang ini telah hidup zuhud mengabdikan dirinya, tidak makan tidak minum dan lelah. Ketika melihat ini, Umar ra. tidak bisa menahan isaknya dan mulai menangis. Wahai Khalifah Nabi Allah, dia orang Kristen” kata mereka. Karena itulah aku menangis kata Umar. “Dia telah mengubah dunia menjadi neraka bagi dirinya sendiri, tidak ada penderitaan yang belum ia derita, tetapi dia ketinggalan kapal. Dia tidak dapat menemukan utusan Allah; dia akan pergi ke neraka, karena itu aku menangis sedih.”

Rasulullah Saw juga menderita dan berlutut di ujung kepala anak yahudi sesaat sebelum ia meninggal. Anak yahudi yang beliau layani ketika ia menghembuskan nafas-nafas terakhirnya. Jika ia memanfaatkan saat-saat terakhir hidupnya dengan benar, ia akan masuk surga Darussalam dan di sana ia akan melayani nabi dari semua nabi. Jika tidak ia memanfaatkannya, ia akan masuk neraka. Rasulullah Saw memberikan pandangan yang penuh kasih sayang kepada anak itu dan semanis katanya: أ سلم يا ولدJadilah seorang muslim nak”. Anak itu sudah melekatkan hatinya pada Rasulullah, tetapi karena keganasan ayahnya dan takut pada ibunya, ia tidak bisa mengikuti ajakan Rasulullah Saw. Dapat terlihat bagaimana menderita Rasulullah dari raut wajahnya, dalam menghadapi kemungkinan penolakan dari anak itu, jika saja tiba-tiba ia katakan “aku tidak mau”. Melihat Rasulullah begitu menderita, anak itu mengalihkan pandangannya dari Rasulullah dan memandang ayahnya yang non-muslim. Ayahnya berkata; أ طع أبا القا سمAnakku sayang! Taatilah Abu Qasim!” Dalam hembusan nafas terakhirnya, saat bernafas yang terakhir kalinya, seolah-olah dia menggambarkan spiral ke atas yang bercahaya dan ruhnya naik ke dalamnya sambil mengatakan: لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ‎. Rasulullah Saw pun pulang kembali ke rumah, beliau merasakan seolah-olah baru saja menaklukkan dunia, tidak bisa dibayangkan bagaimana hati beliau begitu senang dan gembira.

Begitu pula ketika Nabi di hadapan Abu Quhafa, beliau dalam penderitaan dan kekhawatiran. Sampai hari penaklukan Mekkah, Abu Quhafa masih menutup dirinya dari makna hakiki Ilahi. Kilau kenabian pertama sekali menyala di rumahnya, dan cucunya adalah istri Rasulullah. Putranya, Abu Bakar telah menjadi lukisan kebanggaan yang akan terus berada dalam ingatan umat manusia sampai hari kiamat.  Namun sayang sekali, Abu Quhafa tidak bisa melihat cahaya ini sampai penaklukan kota Mekkah. Dia tidak bisa melihat cahaya di rumahnya sendiri, dia tidak bisa melihat cahaya Rasulullah Saw. yang memancar di jalan-jalannya. Pada hari itu, ketika Mekkah ditaklukan, bongkahan es yang ada dalam diri Abu Quhafah mencair dan terjadilah juga penaklukan dalam dirinya. Ini adalah sumber kegembiraan bagi putranya. Sang anak pun memegang tangan ayahnya dan membawanya ke hadapan Rasulullah; Ia adalah ayah dari mertuanya, ayah dari ayah istrinya, ayah dari sahabat setianya, ayah sahabatnya di Raudhah. Rasulullah berkata: “Kamu telah menyusahkan orang tua, saya akan mengunjungi dan mentalqinnya…” Abu Bakar menjawab: “Tidak wahai Rasulullah, dia seharusnya datang dan bersimpuh di hadapanmu.” Sang ayah yang sudah tua renta pun ada di sana, beliau pun mengucapkan kalimat yang memiliki kekuatan paling besar:  لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ

Lihatlah, satu-satunya putra Abu Quhafa, Abu Bakar, yang bergeser ke samping dan menangis terisak-isak. “Kenapa Anda menangis wahai Abu Bakar?” “Ayahku datang dan menyerah kepadamu, dan mendapat hidayah. Saya akan sangat menginginkan melihat Abu Thalib di posisi ayah saya wahai Rasulullah! Karena itulah aku menangis. Sedekat mana ayah saya dengan saya, segitulah dekat ia (Abu Thalib) dengan anda.” Dekat tetapi dia juga telah ketinggalan kapal dan dia tidak bisa mengucapkan kalimat suci itu.

Hakikat kalimat “La Ilaha Illallah” yang coba dijelaskan oleh alam semesta dengan bahana gemuruhnya, yang terus-menerus digelombangkan oleh manusia bagai ombak lautan yang dalam dengan penuh kesenyapan merupakan hakikat agung dimana ragat raya tunduk di hadapannya. Setiap hakikat kebenaran yang ia ciptakan dalam kalbu setiap individu, beginilah antusiasmenya, menjadi sangat antusias. Di hadapan orang yang tidak beriman, hatinya akan sangat hancur.

Jalan-jalan penuh dengan orang-orang yang tidak beriman. Banyak asrama pelajar yang akan dipenuhi oleh orang-orang yang tidak beriman. Jika kita tidak sedih melihat orang-orang yang tidak beriman dengan gambaran yang mengerikan ini, berarti hati kita telah padam, hati nurani dalam diri manusia itu sudah tidak ada lagi. Semoga Allah menganugerahkan kita hati nurani, kesadaran dan pemahaman. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menjelaskan dan menerangkan kebenaran yang kita yakini dengan sepenuh hati kepada orang lain.

mathilde-cureau-ZfroDfOR_fg-unsplash

Tauhid 1 – Iman

Setiap manusia memiliki sesuatu yang menyibukan dirinya, membuatnya sedih dan sering membuatnya melupakan perkara lain yang berhubungan dengan dunia. Setiap manusia masing-masing memiliki perkara yang dianggapnya besar. Sesuai dengan ukuran masalahnya, manusia tersebut akan meninggalkan apa pun selain masalah itu. Semakin besar masalah, maka semakin banyak pula perkara lain yang dilupakan dan ditinggalkan. Sebagai contoh, seseorang yang sedang menghadapi masalah kehilangan kakinya maka tidak akan terpikir olehnya untuk berbicara tentang jenis makanan apa yang akan dimasaknya pada hari itu, karena dia memilki masalah besar yang sedang dihadapi. Seseorang yang istrinya meninggalkan rumah dan pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui. Pada hari itu, dia tidak akan peduli untuk menyemir sepatunya. Pada dasarnya, dia telah melupakan banyak masalah lain seperti itu. Sesuai dengan besar kecilnya suatu masalah, membuat segalanya dilupakan dan ditinggalkan. Siapa yang akan menentukan apa masalah ini? Bagaimana kita bisa memahami ukuran besar kecilnya sautu urusan yang ada di luar kehidupan kita? Mungkin pernyataan terakhir ini lebih inklusif.

Di setiap masa, beberapa perkara telah menjadi penting. Pada masa Rasulullah SAW, di masanya ada perkara yang yang menjadi sangat penting. Mungkin akan tiba suatu masa, perkara perang itu menjadi hal penting, menaklukkan dunia menjadi hal penting, membangun peradaban, membangun properti menjadi hal yang penting. Terkadang juga, memberi orang kepuasan yang mereka butuhkan adalah hal penting.

Sementara Iman menjadi perkara yang penting untuk  menyelamatkan manusia dari menikmati keinginan mereka sendiri. Menjadi perkara penting karena keinginan Allah kepada hambanya adalah menjalankan dan menghidupkan perintahNya. Ini adalah salah satu masalah nyata yang hampir dapat dirasakan oleh setiap manusia yang memilki hati nurani dengan bimbingan akal. Seseorang yang tidak bersedih saat menghadapi generasi yang tidak terkendali, berarti dia tidak memiliki hati nurani. Jika seseorang yang memiliki seorang anak atau kerabatnya tidak beragama dan dia tidak bersedih karenanya, berarti dia telah kehilangan kemampuan alaminya (sikap kemanusiaannya telah hilang). Dalam kehancuran seperti itu, dimana kehancuran dan hidup terasa sia-sia, hanya mengikuti satu sama lain di ranah masyarakat suatu bangsa, jika bangsa itu tetap acuh tak acuh dan mati rasa maka tidak dapat dikatakan bahwa bangsa itu memiliki hati nurani.

Setiap manusia yang memiliki hati nurani, apabila ada dari saudaranya meskipun bukan dari bangsanya, meskipun masalah ini memiliki tingkat kepentingan tersendiri, karena ada mereka yang keluar dari agama dan ada yang tidak beragama, meninggalkan shalat dan tidak berakhlak maka harus ada rasa sedih yang luar biasa di dalam hatinya. Jika semua itu tidak menimbulkan kesedihan yang besar di hatinya maka kita dapat simpulkan bahwa ia tidak memiliki hati nurani. Jika seseorang menyesali dirinya karena masalah yang sangat kecil, namun tidak sedih karena perkara keimanan, berarti mereka memiliki keraguan, tentang konsekuensi akan tidak adanya iman.

Jika seseorang tidak bersedih dalam menghadapi keruntuhan, pembubaran dan perpecahan maka pada dasarnya, berarti bahwa dia tidak percaya adanya hari kebangkitan, dia tidak percaya adanya Yaumul Hisab (hari perhitungan), tidak percaya akan kembali kepada Allah, dan tidak percaya akan keabadian hakiki. Jika dia tidak menyesal menghadapi anaknya yang kehilangan kendali, kehilangan moralitas, kami akan membuang setiap bukti dalam hal ini ke belakang. Karena pertanda nyata, pertama kali mempercayai hal ini adalah usaha yang akan dilakukan dengan menyelamatkan anaknya.

Akan ada beberapa usaha yang harus dilakukan dalam perkara ini. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa membuat kita dapat memahami dan menyadari masalah penting ini sesuai dengan tingkat kepentinganya. Rasulullah Saw telah membuka matanya untuk hidup dan memahami makna hidup, Dia telah menyibukkan diri dengan perkara ini dan menjadikannya sebagi masalah yang besar baginya. Rasulullah telah mengorbankan kekayaannya untuk masalah ini. Dia juga telah mengorbankan kekayaan istrinya untuk masalah ini. Dia tidak mendapatkan waktu untuk beristirahat karena masalah ini. Mereka mengatakan “kepalamu telah pecah!”. “Aku tidak peduli, aku memiliki masalah lain yang lebih besar”.  “Gigimu patah!”. “Aku tidak peduli, aku memiliki masalah lain yang lebih besar”. “Kamu terpaksa meninggalkan kampung halamanmu”. “Aku tidak peduli, aku memiliki masalah lain yang lebih besar” “Kamu seorang imigran. “Aku tidak peduli, aku memiliki masalah lain yang lebih besar”. Beliau selalu berkata begitu. Dia (SAW) selalu memiliki masalah dalam benaknya. Hal ini membuatnya hampir mati lemas sehingga dalam Al Quran disampaikan: “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Mekkah) tidak beriman.” Qs. Asy Syuara: 3




Iniah ekspresi hati manusia yang beriman. Inilah ekspresi orang yang memiliki hati nurani. Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.

Begitu juga ketika beliau menderita karena pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib telah membantu dan melindungi Rasulullah selama hampir 40 tahun. Dia tidak melindungi Rasulullah karena kenabiannya, tetapi karena dia adalah seorang yang dekat dengannya, dia adalah kerabat baginya. Jika saja dia melakukannya karena kenabiannya maka es di hatinya akan dicairkan dan dia juga akan mencair di lautan Rasulullah. Tetapi dia hanya melakukannya dengan perasaan kedekatan dan kasih sayang. Tetapi Rasulullah ingin perlindungannya itu menjadi tanpa pamrih, maka dari awal dia telah meminta sesuatu darinya: “Pamanku, aku tidak ingin terlalu banyak darimu, katakan Lailaha illallah sehingga saya bisa menjadi perantara bagimu di hari penghakiman besar nanti”. Tetapi Abu Thalib ragu-ragu…

Kita belajar lagi dari Rasulullah: “Bagaimana kalian hidup, begitulah kalian mati, bagaimana kalian mati begitulah pula kalian akan dibangkitkan.” Abu Thalib tidak hidup dengan mengucapkan Lailaha illallah, maka meninggal lah seperti itu! Allah tidak memberikannya kesempatan saat itu, Rasulullah saat itu selalu bersikeras. Ada tokoh-tokoh Quraisy di hadapannya saat itu disana juga, Abu Jahil, (bapak kebodohan) Ketika Rasulullah mencoba meyakinkannya untuk mengatakan Lailaha illallah Abu Jahal pun mengatakan “Apakah engkau menyimpang dari agama leluhurmu?” Rasulullah pun tidak bisa membujuk Abu Thalib. Jika seseorang terjebak dalam pemikiran yang terbentuk sebelumnya, orang itu akan tidak bisa diyakinkan! Kata-kata terakhir Abu Thalib adalah “Ala Millati Abdul Muttalib”. Sementara kata-kata terakhir seorang Mukmin adalah “Lailaha Illallah”. Namun, pernyataan terakhir Abu Thalib adalah “Saya sedang sekarat pada agama Abdul Muthalib”. Diketahui bagaimana Abdul Muthalib meninggal di masa Jahiliyyah. Saat itu hancur perasaan Rasulullah, seakan-akan beliau di dalam bangunan dan kubahnya jatuh keatas kepala beliau. Paman beliau telah melindungi beliau selama 40 tahun, menanggung begitu banyak penderitaan bagi beliau, dan telah menghadapi segala bahaya yang mematikan, lalu dia meninggal sedangkan Rasulullah tidak bisa melakukan apapun dan dia melewatkan kesempatan syafaat Rasulullah. Hancur perasaan Rasulullah, beliau sangat tertekan saat itu sehingga beliau mengucapkan kata-kata ini: “Selama Aku  diizinkan, Aku akan selalu berdoa untuk pengampunanmu.” Tetapi Allah tidak mengizinkan. Allah langsung menurunkan ayat pada saat itu juga: “Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kerabatya, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahannam.” (Qs; At-Taubah; 113)

Ayat selanjutnya adalah sebagai hiburan kepada Rasulullah “Sungguh engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (Al-Qashas; 56)

Jadi, janganlah bersedih! Jangan sampai hatimu yang murni menjadi sedih. Walaupun dia dekat denganmu, kedekatan yang sebenarnya adalah kedekatanmu dalam Taqwa, ketaqwaan kepada Allah.

Ya, apa yang membuat seorang mukmin tertekan, yang membuat seorang mukmin menderita adalah tidak beragamanya seseorang. Bagaimana jika seribu orang menjadi tidak beragama setiap harinya? Bagaimana jika tiap harinya seribu orang mati kehilangan iman? Bagaimana jika ribuan orang menyimpang dari agama? Siapa pun yang tidak merasa menyesal dalam menghadapi pemandangan seperti ini berarti dia tidak memiliki hati nurani. Dengan begitu, orang-orang akan mencoba menjelaskan dakwah besar ini kepada orang lain sesuai dengan keyakinannya. Perkara utamanya adalah menjelaskan Allah kepada orang lain.

Seseorang yang terlibat dalam suatu partai politik, berjalan dari desa ke desa, dia menceritakan tentang Adi dan Budi kepada siapa pun itu yang merupakan pemimpin partai politiknya. Bukankah Allah memiliki nilai di pandangan anda seperti halnya pemimpin di partai itu? Apakah Rasulullah tidak sebanding dengan pemimpin partai di pandangan kalian? Apabila Anda tidak menjelaskan Allah kalian kepada orang lain dengan pergi dari desa ke desa dan dari kota ke kota, jika hatimu tidak sedih dalam menghadapi pemuda yang keluar dari nilai moral, maka kita telah rusak, maka berarti hati kita telah busuk.

Semoga Allah membantu kita! Semoga Dia memberikan kita kesempatan untuk memahami kebenaran yang agung. Berapa lama lagi orang-orang ini akan merangkak, Allah tahu! Sudah pasti bahwa ini akan terjadi hingga bangsa ini kembali kepada Allah. Semoga Allah mengampuni kita dengan karunia-Nya dan membawa kita ke jalan yang lurus. Inilah keprihatinan dan dakwahnya Rasulullah. Jadikanlah keprihatinan dan dakwahnya Rasulullah sebagai keprihatinan dan jalan dakwah kalian. Ini lah yang Allah inginkan. Berdakwahlah sesuai dengan yang Allah inginkan. Hiduplah dengan hati kalian, hiduplah dengan hati nurani kalian, buatlah keputusan di bawah cahaya hati nurani kalian dan cobalah untuk membuat pekerjaan yang kalian lakukan agar didengarkan.

Sayyidina Ali ra, telah ditugaskan oleh Rasulullah untuk penaklukan Khaybar. Ketika Khaybar tidak bisa ditaklukkan, Rasulullah berkata:

لأعطين الراية غدا رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله

Besok aku akan memberikan bendera ini ke seseorang, yang mana orang ini dia mencintai Allah dan Rasul-Nya dan juga Allah dan Rasul-Nya mencintainya.

Malam itu semua orang mengharapkan bendera akan diberikan kepada dirinya esok lusa nanti. Umar menunggu, Abu Bakar juga menunggu, Utsman juga menunggu (radhiyallahu ‘anhum). Sayyidina Ali ra. yang matanya sakit dan memiliki penyakit di matanya datang ke hadapan Nabi kita dan beliau mengoles air liur di matanya dan sembuhlah dia. Ketika Rasulullah memberinya bendera, terlihatlah siapa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Beliau berkata “Berjalanlah seperti dirimu, kemana kamu pun pergi jelaskanlah tentang Allah. Jelaskanlah tentang Allah kepada siapa pun yang kamu jumpai!”

فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.

Keimanan seseorang individu dari bangsa ini lebih penting daripada kematian total negara ini. Runtuh dan ratanya kota Izmir dengan tanah karena gempa bumi adalah kejadian yang sangat sederhana dibandingkan dengan penyimpangan seorang individu dari agama. Bila orang-orang meninggal maka mereka bisa masuk surga jika mereka mendapatkan ridha Allah SWT.

Bagaimana dengan mereka yang tinggal di neraka abadi yang telah selamanya kehilangan Allah, mereka telah kehilangan Al Quran selamanya? Itulah sebabnya, perkara yang paling penting bagi seorang mukmin adalah menjelaskan tentang Allah dan juga menjelaskan Rasulullah SAW.




papaioannou-kostas-tysecUm5HJA-unsplash

Ciri-ciri Generasi Muda Yang Dinanti-nanti

Ciri-ciri Generasi Muda Yang Dinanti-nanti


Dan sekarang pertanyaan dari Anda,

Yang pertama: Ustadz yang mulia, pada beberapa kesempatan anda berkata, “semoga jalan dakwah ini menjadi takdir hidup kalian”. Apa saja nasihat Anda agar kami bisa sampai ke puncak yang ideal dan tetap terikat dalam Hizmet ini? Secara kebetulan sama seperti kemarin, saya telah menjelaskan sifat-sifat anak muda sebagai catatan awal. Sekarang akan saya bahas mengenai sifat-sifat kesatria muda sebagaimana yang diinginkan.

Apa yang kita harapkan dari para pemuda? Ketika saya mendapatkan pertanyaan seperti ini, maka mereka bertanya lagi, bisakah Anda menjelaskan sifat generasi muda seperti yang dinanti-nanti. Juga dengan persoalan hari ini; dakwah ini harus menjadi takdir kalian. Seseorang haruslah mencintai sesuatu yang mulia, dan tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal yang murah, harga diri seseorang bukan bernilai dengan ijazahnya, jabatannya dan tempat dia bernaung. Harga diri seseorang bukanlah bernilai karena menjadi anggota dewan, perdana menteri maupun seorang presiden. Bila takdir membuatku jadi presiden hanya karena nilai diri, sungguh aku akan marah terhadap diri ini dan berkata: “Ya Allah kenapa Engkau menciptakanku tidak beruntung seperti ini”. Aku ke Hammam (pemandian air panas) pada musim panas, malah udara jadi dingin. Memangnya ada yang mau jadi presiden? Biarkan hancur rata dengan tanah. Yang aku inginkan dari Engkau adalah Engkau (Allah) yaitu menjelaskan tentang-Mu hingga nafasku terputus-putus, Aku ingin jadi lidah-Mu, kalau tidak maka biarkanlah lidahku yang putus. Aku ingin di mana-mana itu melihat-Mu, kalaupun tidak bisa, ambillah mataku ini supaya aku tidak akan melihat hal yang haram ketika masih muda. Aku ingin mendengar-Mu, bila tidak maka tulikanlah saja telingaku ini. Aku ingin bernafas di sisi-Mu, kalau tidak biarkanlah saja nafasku ini terhenti.

Bisakah aku sampaikan ini dengan jelas? Insan dakwah bukanlah orang yang sekedar makan minum dan tidur. Insan dakwah bukanlah orang yang hidup terikat dengan kebutuhannya saja. Insan dakwah adalah orang yang telah melupakan nikmat kehidupan dan gila memberikan kehidupan bagi yang lain. Insan dakwah itu seperti Majnun, tanpa mencari Laila ia tidak bermakna. Dan juga seperti Farhat yang tiap hari melubangi gunung yang berbeda untuk mencari jalan bertemu Syirin. Seperti Emrah yang rela terbakar seperti serpihan api demi Aslı. Itulah insan dakwah.

“Apa saja nasihat Anda agar bisa ke puncak yang ideal dan tetap terikat dalam Hizmet ini?” Beberapa generasi sebelumnya menjadi harapan bagi kita untuk mencapai kualitas yang bagus dan menjadi teladan buat generasi yang kita tunggu. Saya berharap meraka menjadi contoh yang baik. Dan Insya Allah semoga kalian berada di jalan seperti itu. Saya rasa saya telah menjelaskan hal yang semestinya saya jelaskan. Apakah saya melakukan sebuah kesalahan bapak doktor? Kalau tidak, saya rasa saya sudah menyampaikan hal-hal yang mungkin saja belum saya sampaikan sebelumnya.

Kalau ada penjelasan yang bertentangan, sungguh hanya Allah yang mengetahui semua yang nampak dan rahasia, Semoga Allah juga mengampuni dosa-dosaku.. Kumemohon pada-Mu ya Rabb, kuberharap pada-Mu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Semoga Allah isikan hati kami ini dengan iman, dan kenyangkan kami dengan iman. Bangkitkanlah kami sekali lagi, hilangkanlah kehinaan, sehingga membuat kami mencapai mimpi kami yang ingin memiliki peran cukup besar di dunia. Kumemohon pada-Mu ya Rabb, kuberharap pada-Mu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dari-Mu ketika Kau memberi. Wahai Tuhanku, buatlah diri kami menjadi lupa terhadap nafsu kami, dan tingkatkanlah derajat hati dan jiwa kami, dan jadikanlah nafas kami seperti nafasnya para malaikat. Engkau memberikan kami semangat untuk berlari di Jalan-Mu ibarat Kuda, jadikan kami tidak merasa kelelahan hingga jantung berhenti berdetak sekalipun.

Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Dan jika saja yang aku ucapkan ini merupakan ucapan yang berisi kesombongan maka ampunilah dosaku. Terimalah doa kami ini sebagaimana engkau menerima doa-doa sebelumnya. Ini adalah generasi harapanku yang terakhir. Jika generasi ini tidak melakukan apa yang mesti dilakukan sekarang, maka kita pun harus menunggu setengah abad lagi, 50 tahun. Maka umur saya dan sebagian besar kita tidak akan cukup untuk itu