screen

Racun Dunia yang Mematikan

“Racun Dunia yang Mematikan”

Wahai saudara-saudaraku!

Sebagaimana yang kalian ketahui, dalam mengerjakan pekerjaan ini kita melarikan diri dari racun pembunuh seperti egoisme, akuisme, dan memiliki kedudukan terhormat di bawah tirai kemuliaan dan kebanggaan diri. Kita menolak dengan keras hal-hal yang dapat memicu keadaan buruk. Tentu saja disini selama 6-7 tahun Anda melihat dengan mata kepala Anda sendiri dan `sejak 20 tahun lamanya lewat berbagai penyelidikan yang Anda lakukan, Anda pahami bahwasanya saya tidak menginginkan penghormatan atau pemberian kedudukan kepada saya secara pribadi. Saya dengan keras menegur Anda sekalian terkait persoalan tersebut. Saya sering menegur Anda dengan kalimat:”Mohon jangan beri saya kedudukan di luar batas kemampuan saya”….

Lampiran Kastamonu, halaman 116-117

Penjelasan:

Surat ini terdapat pada Lampiran Kastamonu dan Tarihce Hayati, tepatnya di bab Kehidupan selama di Kastamonu. Ketika murid-murid Ustaz yang memiliki keluhuran, sifat mukhlis, pandangan tajam, serta kepekaan kalbu ingin menuliskan perasaan-perasaannya terhadap Ustaz, mereka yang tadinya ingin menggunakan kata-kata pujian mendapatkan peringatan keras dari Ustaz. Pandangan mereka yang penuh basirah tentu saja tidak salah. Akan tetapi, dikarenakan asas dari aktivitas ini adalah keikhlasan, maka kepekaan Ustaz untuk melarikan diri dari apa yang disebut sebagai ‘racun pembunuh seperti egoisme, akuisme, dan memiliki kedudukan terhormat di bawah tirai kemuliaan dan kebanggaan diri’ sangat penuh dengan arti. Titik-titik tersebut adalah lumbung empuk dimana setan dari kalangan manusia maupun jin dapat menyerang dan mengeksploitasi senjata mereka. Perlu bagi kita untuk mengetahui bahwasanya titik-titik tersebut adalah titik-titik lemah dimana kita harus membuka mata kita lebar-lebar dimana kita perlu memperingatkan dan menjaga diri kita sendiri serta saudara-saudara kita. Seringkali disebabkan setan mendekati kita dari arah kanan, sulit bagi kita untuk mengetahui dan membedakan jebakan-jebakan tersembunyinya. Setan menyuguhkan pembenaran-pembenaran kepada kita dengan bungkus lapisan berkilat seperti:  demi pengabdian yang lebih baik kepada agama, supaya lebih layak, dan lebih kuat pengaruhnya.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 11

aktivasi_membaca

Menjadi Pembaca yang Benar

Menjadi Pembaca yang Benar

 

Tanya: Di seluruh penjuru dunia, perhatian kepada gerakan sukarela ini semakin bertambah dari hari ke hari. Untuk itu, apa saja yang perlu dijadikan prioritas agar kesempatan ini tidak sia-sia dan lawan bicara kita dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat?

Jawab: Pertumbuhan atensi secepat deret geometri[1] kepada gerakan sukarela benar-benar terjadi akhir-akhir ini. Teman-teman kita telah tersebar hingga  ke 150-160 negara. Seakan-akan tidak lagi tersisa tempat dimana Anda tidak menghembuskan nafas dan memperdengarkan pesan-pesan Anda. Sebagai bentuk tahadduts ni’mah[2], dapat dikatakan bahwasanya kita menerima anugerah yang dulu pernah diberikan Allah kepada para sahabat. Tentu saja apa yang tergambar disini semata-mata merupakan anugerah dan kebaikan yang berasal dari Allah SWT. Kita tidak tahu apa sebab dari segala macam anugerah dan kebaikan ini. Insya Allah anugerah ini bukanlah istidraj[3]. Semoga bukan istidraj dan semoga segala anugerah ini tidak menjadikan kita bangga diri.

Semangat Mobilisasi yang Baru

Jika pertumbuhan atensi yang seperti deret geometri ini hanya dibarengi oleh pertumbuhan kualitas dan kuantitias setara deret aritmetika dari orang-orang yang akan melakukan pendampingan dan bimbingan, maka sumber daya manusia yang ada harus kembali dibakar semangatnya dengan api yang pernah membara di dada teman-teman kalian yang dulu amat bersemangat dan bergairah untuk meraih pahala hijrah di tahun 90an.

Firman Allah di dalam Al Quran berikut ini menunjukkan target tersebut.

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya:

…dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah… (QS al Baqarag 2:218)

Maksudnya, seorang manusia dengan berhijrah ia dapat meraih derajat mulia di sisi Allah. Selain itu, di tempat tujuan hijrah, mereka berjuang untuk meruntuhkan tembok yang menghalangi manusia dari mengenal Allah. Perjuangan mereka dilatarbelakangi oleh semangat bahwasanya apa yang mereka lakukan itu semata-mata merupakan penunaian kewajiban yang diemban oleh mereka yang berhijrah. Untuk itu, agar dapat mengimbangi pertumbuhan geometrik atensi masyarakat kepada gerakan sukarela ini, usaha untuk melejitkan manusia ke dalam kehidupan kalbu dan ruh, menjauhkan manusia dari jasmaninya, serta mengeluarkan manusia dari kebutuhan hewaninya untuk kemudian memasukkan mereka ke dalam orbit kalbu dan ruh dengan pendidikan ketat ala sahabat di Era Kebahagiaan merupakan hal yang sangat penting. Disebabkan oleh ketidaksempurnaan orang-orang yang baru masuk Islam di akhir era sahabat dan di awal era tabiin dalam memahami ruh agama, maka muncullah golongan-golongan seperti Khawarij, Rafidhah, dan Kebatinan. Sabda Baginda Nabi ketika menyampaikan keadaan tersebut: “Akan muncul di antara kalian orang-orang yang akan membuat kalian menganggap shalat, puasa, dan amal kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat, puasa, dan amal mereka. Mereka membaca al Quran tetapi al Quran yang mereka baca tidak sampai melewati batas tenggorokannya. Mereka  keluar dari Islam secepat anak panah meluncur dari busurnya (HR Bukhari, bab Fadhailul Quran, 36; HR Muslim No.1773).

Anda dapat memikirkan makna hadits itu untuk masa Anda saat ini. Beberapa orang salat sedemikian rupa hingga meninggalkan bekas di dahi dan lututnya. Akan tetapi, karena ia tidak berhasil mencapai informasi-informasi prinsip di dalam salat, ia pun tidak berhasil menyelamatkan dirinya dari bahaya ifrat dan tafrit[4]. Berkebalikan dengan penampilan mereka yang mirip seperti orang yang dekat dengan Allah, dengan mudahnya mereka mengafirkan sosok-sosok seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Padahal sosok-sosok tersebut adalah sosok-sosok yang dijanjikan Baginda Nabi dengan surga. Perhatikanlah bagaimana pandangan mereka yang satu berkontradiksi dengan pandangan mereka lainnya. Rasulullah yang mana dirimu mengaitkan diri dengan agamanya telah menjanjikan sepuluh sahabatnya dengan surga, tetapi beberapa manusia kemudian bangkit dan menuduhkan hal-hal yang membuat bulu kuduk berdiri. Itulah kebodohan yang berasal dari ketidaktahuan dan ketidaksadaran pada ruh dan esensi agama.

Oleh karena itu, kita harus meneliti jalan apa saja yang bisa digunakan untuk mencetak insan kamil agar ketika mengobarkan semangat mobilisasi di kalbu-kalbu manusia untuk kedua kalinya, kita tidak menderita distorsi dan deformasi yang bersumber dari ragam kultur budaya dan latar belakang pemahaman yang berbeda-beda. Untuk dapat mewujudkannya, orang-orang yang nantinya akan jadi pemandu, pembina, pembimbing, harus menguasai secara mendalam al Quran dan as Sunnah sebagai rujukan utama agama kita. Di waktu yang sama, mereka juga harus mengetahui dan mengenal karakter  para lawan bicara di tempat mereka menjalankan tugasnya. Di samping itu, mereka juga harus memiliki pengetahuan memadai seputar sains dan ilmu sosial. Mereka setidaknya pernah mempelajari dasar-dasar ilmu seperti fisika, kimia, matematika, dan antropologi. Ya, seseorang yang akan melakukan tugas membimbing manusia harus berangkat sebagai seseorang yang telah matang dengan sempurna. Generasi pertama dari kawan-kawan kalian telah berangkat dengan keimanan yang murni, penuh keikhlasan, serta kesederhanaan. Berkat inayat ilahi mereka telah menjadi sarana bagi terwujudnya banyak kebaikan. Akan tetapi, mulai dari sekarang, di saat ada banyak tempat yang membuka dirinya kepada kalian, dibutuhkan kedalaman, keluasan, dan kelengkapan perangkat yang lebih baik lagi.

Manfaat yang Dijanjikan oleh Membaca secara Muzakarah[5]

Ketika kita sedang membaca buku-buku referensi untuk menutrisi kedalaman, keluasan, dan kelengkapan perangkat kita, hendaknya ia tidak sekedar dibaca begitu saja. Kita harus membacanya dengan penuh gairah, diperbandingkan satu karya dengan karya lainnya, dianalisis, dengan tekad meraih kombinasi informasi yang terbaik dan teruji.

Perhatikanlah tafsir Al Quran: betapa banyak buku tafsir yang ditulis semenjak Al Quran diturunkan hingga hari ini. Betapa banyak pula hasyiah[6] yang telah dituliskan. Ya, hari ini terdapat ribuan jilid buku yang ditulis untuk menafsirkan Al Quran. Di satu sisi, sebagai ibnuzzaman, anak-anak zaman, setiap mufasir mengambil setiap ilham yang didapatkannya serta dengan melihat kondisi terkini di lingkungan sekitarnya kemudian menuliskan: “ayat ini dipahami seperti ini, tujuan seperti ini yang ingin dicapai olehnya.” Lewat tafsiran-tafsirannya tersebut, mereka berangkat menuju pembukaan-pembukaan baru dalam memahami Al Quran. Jika kita membandingkan beberapa buku tafsir, kita akan menemukan perbedaan-perbedaan. Misalnya Imam Fakhruddin ar Razi[7] menafsirkan suatu ayat, tetapi penafsiran Zamakhsyari[8] terkait ayat yang sama berbeda dengannya. Sedangkan Imam al-Baidhawi[9] menganalisis ayat tersebut dengan jalan yang berbeda lagi. Walaupun Ebussuud Efendi[10] umumnya bersandar kepada al Baidhawi, beliau juga memiliki penafsirannya sendiri. Jadi, karya-karya tafsir al Quran terus bermunculan hingga akhirnya terbit karya tafsir abad ini yang ditulis oleh al Allamah Hamdi Yazir[11]. Tentu saja setelah karya beliau juga akan lahir karya-karya lainnya. Kita harus bergerak dengan semangat ini. Kita juga harus mendidik insan-insan yang mampu membaca dengan baik kebutuhan zaman, mampu mendeteksi dan menganalisis sesuatu dengan lebih baik, mampu melihat lebih luas makna di setiap benda dan peristiwa, mampu lebih merangkul, serta mampu melihat lebih detail. Karena para pembimbing ini akan bertemu dengan anak-anak dari beragam latar belakang budaya. Oleh karena itu, jika ia tidak bersiap dan melengkapi dirinya untuk menghadapi beragam masalah yang mungkin muncul akibat perbedaan pemahaman dan budaya, ia akan jatuh KO.

Untuk itu, kita katakan bahwasanya di tempat dimana kita pergi bertugas, Allah SWT dapat menganugerahi hati kita dengan ilham-ilhamNya lewat beragam sarana. Akan tetapi, pada saat Anda ingin memanfaatkan beragam sarana ini, hendaknya ilham-ilham ini tidak disuarakan seperti halnya ketika Anda menyuarakannya kepada lingkungan sekitar Anda, melainkan harus Anda sesuaikan dengan kultur masyarakat di tempat Anda bertugas. Hal ini sekali lagi menunjukkan betapa kita membutuhkan pembimbing yang berkalbu luas, yang mampu melihat makna di balik benda dan peristiwa lebih mendalam, serta mampu merangkul para lawan bicaranya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, suatu mobilisasi membaca dan berpikir harus dimulai sekali lagi.

Baginda Nabi SAW menyebut persoalan ini dengan istilah tazakur. Makna dari kata istilah ini adalah suatu persoalan dimuzakarahkan dengan keterlibatan sedikitnya dua orang. Mereka yang terlibat dalam proses muzakarah dan berkumpul di dalam suatu majelis yang seperti ini dikatakan oleh Baginda Nabi sedang berada di dalam rahmat dan penjagaan ilahi. Selain itu, Baginda Nabi menyebut majelis yang demikian dalam sabdanya sebagai berikut:

لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Artinya: “Tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka.” (HR Bukhari, Bab Daawat, 66)

Maksudnya, ala kulli hal, mereka yang hadir di dalam majelis itu pasti akan menerima sesuatu. Pasti sesuatu yang baik akan masuk entah ke dalam hati ataupun ke dalam kepala mereka. Bisa jadi ada seseorang yang duduk di majelis tersebut dengan niat awal yang bersifat duniawi. Bisa jadi ia menghadiri majelis tersebut dengan niatan mendapat manfaat yang sifatnya materi. Namun, karena ia berkumpul bersama orang-orang baik, akhirnya ada nilai kebaikan yang menelusuk ke dalam dirinya. Lebih tepatnya, orang itu memperoleh insibag[12] dari orang-orang saleh di sekitarnya. Syakhsiyah maknawiyah; satu kuas turut digoreskan kepadanya dan dengannya ia pun tergores dengan goresan kuas maknawiyah. Dari sisi ini, dengan inayat dan anugerah ilahi setiap pembimbing dan pembina lewat sarana muzakarah harus dapat membangun jalan keluar permasalahan paling muskil sekalipun. Ia harus mampu menghasilkan solusi bagi segala permasalahan serta mampu meraih level dimana ia bisa menjawab segala macam pertanyaan.

Sayangnya, orang-orang kita saat ini jauh dari metode membaca yang demikian. Bahkan Al Quran yang notabene merupakan firman Sang Rabbi pun terpaksa menjadi korban dari pembacaan dan pembahasan yang biasa, statis dan hanya mengupas kulit permukaannya saja ini. Barangkali saat ini Al Quran sedang tersimpan rapih di dalam sampul beludru di samping tempat tidur kita. Sebenarnya masyarakat kita memiliki penghormatan istimewa terhadap Al Quran. Aku pun memuji penghormatan tersebut. Akan tetapi, masyarakat kita saat ini awam akan makna Al Quran. Padahal ia merupakan pesan dari Allah yang dikirimkan kepada kita. Kenyataan amatlah pahit, kita tidak pernah bertanya kepada diri kita sendiri:”Apa yang sebenarnya diinginkan Allah dari kita lewat pesan-pesanNya ini?” Kita amatlah asing bahkan dengan kitab suci kita sendiri. Ya, pengemasan yang biasa dan statis telah membutakan mata kita, telah membuat kita gagal memahami makna yang terkandung di dalam kitab suci kita. Kita pun telah berpuas diri dengan penghormatan kering tersebut. Sekali lagi, saya memuji penghormatan yang seperti itu. Namun, penghormatan sejati terhadap Al Quran hanya dapat diwujudkan dengan meniti ruh, makna, dan esensi yang ada di dalamnya.

Dapat dikatakan bahwasanya kita juga buta terhadap karya-karya yang membahas hakikat Al Quran dan As Sunnah. Membacakan salah satu kitab tersebut di setiap pagi tidak dapat dikatakan cukup sebagai usaha untuk memahami hakikat-hakikat Al Quran dan Sunnah. Yang menjadi kriteria asas adalah bagaimana kita mampu memperhatikan kepadatan dan kearifan gagasan serta pikiran tokoh tersebut di dalam karyanya, berusaha memahaminya dengan membandingkan gagasan di karya yang satu dengan karya lainnya. Misalnya, terkait suatu topik pembahasan, Imam Ghazali berpendapat seperti ini. Akan tetapi, Bediuzzaman Said Nursi berpendapat berbeda. Kita harus mampu mengembangkan sistem membaca yang baru dan setidaknya kita harus mampu membaca dengan metode perbandingan seperti contoh tersebut. Mari kita pikirkan, bagaimana nama-nama sosok pilihan tersebut mampu membangkitkan semangat kita, bagaimana nama-nama mereka mampu mendiktekan semangat para sahabat kepada Anda, apakah nama-nama mereka mampu memantik dan menggerakkan diri Anda? Tetapi apa yang terjadi, karya-karya agung tersebut kemudian berubah hanya menjadi lembaran-lembaran yang dibaca karena kebiasaan belaka. Padahal karya-karya agung tersebut harus didaras lebih mendalam dengan beragam sudut pandangnya. Bahkan kita seharusnya tidak hanya mencukupkan diri dengan ungkapan-ungkapan di dalam karyanya saja, melainkan kita juga harus berusaha menangkap ufuk pandangnya. Setelahnya, cara membaca yang dipenuhi analisis dan kombinasi dari berbagai karya harus diwujudkan.

 

Kedalaman yang paralel dengan perluasan  

Kita membutuhkan pembimbing dan pembina yang dapat menerangi jalanan kita, yang membaca dan menguasai karya-karya dasar dalam Islam dengan ushul dan keluasan yang paralel dengan pertumbuhan geometrik perhatian masyarakat kepada gerakan sukarela ini. Jika kita mencukupkan diri dengan pertumbuhan aritmetika jumlah pembimbing dan pembina yang mampu menguasai karya-karya tersebut, maka malfungsi akan banyak terjadi karena kurangnya asupan nutrisi pembinaan yang adekuat. Malfungsi yang terjadi hari ini pun bersumber dari lemahnya semangat membaca dan lemahnya usaha untuk menemukan nilai serta jati diri kita. Hal-hal seperti mencukupkan diri pada apa yang tampak, dan berfokus pada hal-hal yang sifatnya permukaan adalah sebab-sebab dasar munculnya masalah-masalah ini. Bediuzzaman misalnya, membaca Risalah Ikhlas yang ditulisnya sendiri sebanyak 115 kali. Ada seorang profesor yang heran dan takjub melihat potret ini dan berkata:”Apa mungkin seseorang  membaca karya yang ditulisnya sendiri sebanyak ini?” Menurut saya, jika karya tersebut layak untuk dibaca sebanyak itu, artinya karya tersebut memang harus dibaca sebanyak itu. Bediuzzaman dalam setiap kesempatan membaca, dengan ilham dan anugerah yang terlahir di dadanya pasca membaca, seakan ada sebuah layar terkembang yang mengantarkannya berlayar menuju ufuk-ufuk yang lebih agung  dan membantunya mencapai kedalaman maknawi yang luar biasa. Sayangnya, meskipun terdapat kesempatan yang amat luas seperti ini, saya rasa kita tidak mampu membaca dan memahaminya dengan cara pandang luas sebagai berikut:”Topik ini dibahas seperti ini di karya itu. Topik yang sama dibahas dan diringkas seperti itu. Dari dua karya tersebut terdapat hubungan demikian ketika membahas topik ini…dan seterusnya”

Pada hari ini, kita sebagai anggota masyarakat membutuhkan pembimbing dan pembina yang mampu mencerna dan menginternalisasi esensi dari Al Quran, as Sunnah, serta karya-karya yang menafsirkan dan menjelaskan rujukan utama Islam ke dalam karakternya. Jika pembimbing dan pembina dengan karakteristik ini tidak tersedia, kita akan menemui banyak masalah yang tidak diharapkan ketika di sisi lain kesempatan untuk menjelaskan hakikat terbuka lebar dengan kecepatan tertingginya.  Akhirnya energi yang ada akan habis oleh usaha untuk memikirkan solusi-solusinya. Mungkin sebagian besar dari Anda tidak akan mampu memecahkan sebagian besar dari masalah yang muncul.

Ya, sekali lagi saya sampaikan, di sepanjang sejarah, manusia yang tidak matang selalu menimbulkan masalah. Ribuan orang Khawarij misalnya berkumpul dan menyampaikan tuntutan-tuntutan versi mereka. Ketika sosok yang medapat gelar Al Allamah-nya umat Sayyidina Ibnu Abbas pergi menemui mereka dan menjelaskan duduk persoalannya:”Anda mungkin menuntut hal ini. Akan tetapi, sebenarnya hal ini tidak dipahami demikian!” kemudian muncul jawaban dari ratusan orang di antara mereka:”Astagfirullah! Kita tidak pernah memahami perihal ini seperti itu!” Barangkali di antara mereka, ada orang-orang yang dalam sehari menunaikan shalat ratusan rakaat, mengkhatamkan al Quran tiga hari sekali. Akan tetapi orang yang sama, dengan santainya mengafirkan sosok-sosok agung seperti Sayyidina Ali, Muawiyah, dan Amr bin Ash.

Jika individu-individu tidak memahami suatu topik permasalahan beserta segala tetek bengeknya dengan cara yang seharusnya ia dipahami, dan jika mereka tidak bergerak dengan informasi yang benar, maka mereka akan senantiasa muncul sebagai masalah. Kuantitas yang seperti ini akan mencatatkan kualitas yang tidak jauh berbeda. Hafizanallah, demikian gentingya permasalahan yang akan terjadi, Anda akan terpaksa meresponnya dengan ungkapan:”Seandainya  pertumbuhan atensi masyarakat tidak terjadi secepat ini!”. Untuk itu, agar Anda tidak menyisakan kekosongan di antara manusia, Anda harus mengetahui dan menguasai hal-hal yang harus Anda ketahui, dan menginternalisasikannya dalam kehidupan Anda sehari-hari. Ketika menunaikan shalat, Anda harus menunaikannya dengan kesadaran penuh bahwasanya Anda sedang berada di hadapan Sang Penguasa Alam Semesta. Ketika Anda menyungkurkan diri untuk bersujud, dada Anda harus berguncang dan bergemuruh layaknya suara air mendidih yang direbus di dalam panci. Orang-orang harus melihat Anda dalam keadaan demikian. Mereka harus takjub dengan kualitas Anda dan berkata:”Orang-orang ini betul-betul orang yang mengimani Allah dengan sepenuh hati.” Tentu saja kita tidak melakukannya supaya orang-orang memuji kita. Akan tetapi, kita harus berusaha untuk meraih kedalaman dan sifat-sifat agung ini sebagai tabiat kita. Untuk itu, manusia yang berhasil menjadikan sifat-sifat agung tadi sebagai tabiatnya, seakan tenggelam ke dalam daya tarik suci mereka akan berkata:”Inilah yang aku cari! Aku telah menemukan sesuatu yang telah lama kucari!”

Pendeknya, di samping kecemerlangan dan kemilau indah gagasan serta ketepatan penyajian, daya tarik dari para representasi nilai-nilai ini memiliki  efek dahsyat dan pengaruh luar biasa kepada para pendengarnya. Dari sini, saat kita memulai kembali mobilisasi atas nama kemanusiaan, ruh dan kalbu kita harus menyerukan kalimat “Bismillah tanpa henti!” seakan-akan kita baru pertama kali memulainya. Kita harus terjun ke pekerjaan ini dengan gairah yang luar biasa. Ketika idealisme ini diperankan oleh sosok seperti Hulusi Efendi, Hafiz Ali, dan Husrev Efendi, masyarakat akan berlari menghampiri. Mereka yang datang tidak akan pernah berpaling lagi.Tidak boleh dilupakan, orang-orang akan berpaling saat mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Mereka dapat berpikir: “mengapa aku menyia-nyiakan waktuku di sini?” dan mereka pun perlahan menjauh. Untuk itu, walaupun berat untuk nafsu kita, idealisme hidup untuk menghidupkan orang lain dan semangat berjuang sepanjang umur hingga izrail menjemput harus dicanangkan.

Diterjemahkan dari artikel berjudul “Okuma Seferberligi”

[1] Barisan dan deret geometri adalah barisan bilangan yang nilai pembanding (rasio) antara dua suku yang berurutan selalu tetap. Rasio, dinotasikan dengan huruf r, merupakan nilai perbandingan dua suku berururtan. Rumus suku ke-n adalah Un = arn-1 dengan u1 adalah a, r adalah rasio, dan n adalah bilangan asli. Rasio dapat dihitung dengan rumus r = un : un-1

[2] Menyebut-nebut nikmat Allah yang dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah dan bukan dalam rangka menyombongkan diri pada yang lain.

[3] Hal atau keadaan luar biasa yang diberikan Allah SWT kepada orang kafir sebagai ujian sehingga mereka semakin takabur dan lupa diri kepada Tuhan, seperti yang terjadi pada Firaun dan Karun.

[4] Ifrath: berlebih-lebihan (terlalu ketat) dalam agama

Tafrith: mengurang-kurangi (terlalu ringan) ajaran agama

[5] Pertukaran pikiran tentang suatu masalah; pengulangan pelajaran secara bersama-sama (KBBI

[6] Catatan atau keterangan yang dituliskan di tepi buku (KBBI); komentar terkait satu karya tafsir

[7] Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Mafatih al Ghaibi

[8] Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Al Kasysyaf

[9] Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Anwar Al Tanzil wa Asrar Al Ta’wil

[10] Syaikhul Islam Usmani, menjalankan tugasnya di masa kepemimpinan Kanuni Sultan Sulaiman dan Sultan Selim II (Sari Selim)

[11]  Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Hak Dini Kur’an Dili

[12] Celupan, terwarnai. Lihat QS al Baqarah 2:138 “Sibgah Allah.” Siapa yang lebih baik sibgahnya daripada Allah? Dan kepadaNya kami menyembah

berapa orang yang telah kau bunuh

Sudah Berapa Orang Yang Kau Bunuh?

“Sudah Berapa Orang Yang Kau Bunuh?”

Tanya: Apa saja ushul untuk membangun kembali hubungan dengan saudara-saudara kita yang memisahkan diri karena berbagai sebab? Apakah ada konsekuensi jika kita menjadi sebab bagi memisahkan dirinya mereka? Apakah ada tanggungjawab bagi mereka yang telah memisahkan diri?

Jawab: Ada satu ulama yang berkata kepada dirinya sendiri: “Sampai saat ini siapakah gerangan yang mengetahui berapa orang yang sudah kau bunuh?” Yang beliau maksud dari perkataannya tersebut adalah: Orang-orang datang dengan niat ingin mengambil hikmah darimu, tetapi engkau tidak berhasil menentukan karakter serta bidang apa yang mereka minati. Oleh karena kamu tidak berhasil memberikan hikmah yang ia butuhkan, ia pun membencimu serta ideologimu. Mereka lalu memunggungi hakikat agung itu. Maka hal yang demikian digambarkan dengan pertanyaan: siapa gerangan yang mengetahui berapa orang yang sudah kau bunuh!

Berdasarkan pada keadaan tersebut, maka setiap pihak yang terlibat dalam usaha irsyad, mereka sebagai individu yang harusnya merepresentasikan kebenaran berkewajiban untuk memberikan perhatian penuh agar orang-orang disekitarnya tidak antipati terhadap dakwah Islam. Mereka harus melakukan segala hal yang perlu dilakukan. Jika dibutuhkan, mereka juga harus merintih dan berusaha keras agar tidak sampai menyakiti hati lawan bicaranya.

Jika kita tidak mampu menyetel keadaan dan perilaku kita agar senantiasa bergerak sesuai akhlak yang diwariskan Nabi Muhammad,  maka akan ada lebih banyak lagi orang yang memisahkan diri dari lingkungan suci ini.  Demikianlah, dari gambaran ini entah berapa banyak darah yang telah kita tumpahkan karenanya.. Entah berapa nyawa yang telah kita babat.. Sudah berapa banyak orang yang kita jauhkan dari haknya dengan melukai kehormatannya. Orang-orang yang dijauhkan dari hak-haknya ini di kemudian hari berusaha berdalih dari kekurangan dan kekeliruannya  serta mulai mengkritik kalian. Ya, semua itu adalah konsekuensi serius yang merupakan dampak dari kekeliruan kita dalam bersikap. Akan tetapi, disini juga harus saya sampaikan bahwasanya dalam kondisi terburuk sekalipun, jumlah teman-teman yang memisahkan diri dari lingkaran kebenaran dan hakikat ini amatlah sedikit.

Terkait isu memisahkan dirinya teman-teman dari sisi kita, kekurangan kita di antaranya adalah sedikitnya kuantitas kunjungan dan lemahnya kepedulian kita kepada mereka; kurangnya perhatian kita kepada mereka; dan kurangnya kita dalam merangkul mereka. Sebagai akibatnya, mereka pun mengikuti arahan hawa nafsu dan bisikan setan sehingga perlahan-lahan menjauhi lingkungan ini. Bisa jadi perlahan mereka mulai berbuat dosa dimana dosa tersebut membuat mereka menggelinding perlahan-lahan ke lubang gayya[1]. Tempat dimana mereka hidup seiring berjalannya waktu tanpa disadari telah berubah menjadi dasar sumur kesesatan.  Dunia dengan berbagai daya tariknya seperti jabatan, harta kekayaan, kemuliaan, dapat menyihir dan mengunci mata serta hati mereka.  Sebagian lagi terkekang oleh fobia, kesukuan, keengganan untuk keluar dari zona nyaman, serta pemikiran untuk hanya memikirkan dirinya sendiri, perlahan mereka pun jadi egois. Pada hari ini, orang-orang yang mengalami kondisi seperti itu dijauhkan dari hakikat dan kebenaran. Mereka berubah menjadi boneka setan.

Menemukan kebenaran dan hakikat adalah sebuah level pencapaian, tetapi istikamah di jalan kebenaran dan hakikat adalah level pencapaian lainnya. Meraih kebenaran dan hakikat telah berhasil dicapai oleh kita dan mereka, tetapi beberapa darinya – walaupun jumlahnya sangat sedikit – tidak cukup beruntung untuk dapat meraih keistikamahan. Al Qur’an mengajarkan kepada kita sebuah doa:”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami…”[2]. Menurut riwayat yang disampaikan oleh Ummul Mukminin Ummu Salamah, Baginda Nabi SAW sering mengulang doa berikut:”Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap berada di atas agamaMu.” Bahkan saat ditanyakan mengapa beliau sering mengulangi doa ini, Baginda Nabi bersabda:”Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”[3]

Terkait topik pembahasan mengenai tergelincirnya hati, hal yang sangat sederhana sekalipun dapat  menjadi sebab yang mempengaruhi iradat, niat, dan keputusan seorang manusia. Keadaannya mirip seperti berjalan di atas es dimana seseorang dapat tergelincir jika tidak melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Atas sebab itu, seorang mukmin harus menunaikan hak dari iradatnya dan dia harus memperhatikan langkahnya saat berjalan di atas es. Ada peluang tergelincir jika seseorang berjalan di atas es. Memang yang menciptakan perwujudan pekerjaan kita adalah Allah SWT, tetapi iradat dan kecondongan hati seorang hamba menentukan bagaimana Allah memberi jawaban yang sesuai dengan keinginan dan keputusan hidup manusia. Dengan bahasa lain, saat terdapat usaha atau niatan untuk melakukan pekerjaan seperti dosa kecil, kesalahan, ketergelinciran, pandangan, sentuhan, makan harta haram, Allah pun akan menciptakan keinginan hambaNya tersebut yaitu berupa sikap yang menyimpang dan kekufuran. Allah adalah Pencipta hidayah sekaligus kesesatan. Akan tetapi, Allah tidak meridai kesesatan dan kekufuran. Allah SWT hanya meridai hidayah dan keimanan.

Teman-teman yang memisahkan diri dari jalan dakwah pun berpisah dengan jalan demikian. Peristiwa seperti ini pun tidak khusus terjadi pada kita saja. Di buku Maktubat karya Imam Rabbani Ahmad Sirhindi, terdapat surat-surat yang beliau tulis dengan beragam peringatan serius untuk murid-muridnya.  Sang Imam di suratnya tersebut tidak bisa menyembunyikan keheranannya pada orang-orang memisahkan diri dengan kalimat: ‘setelah mengenal, mengetahui, mempelajari, dan menyaksikan, bagaimana bisa kamu memisahkan diri?’[4] Mujadid lainnya mengungkapkan rasa herannya pada seseorang yang terkelabui oleh kata-kata orang zindik padahal ia telah menerima pelajaran-pelajaran hakikat dari dirinya.

Salah seorang bernama asli Nahar bin Unfuwa yang dikenal dengan lakab Rajjal adalah seseorang yang keluar masuk majelis ilmu yang diasuh oleh Baginda Nabi SAW. Semua daya, upaya, dan kefasihan bahasa yang dimilikinya digunakan sepenuhnya untuk mendukung Rasulullah SAW. Bertahun-tahun ia istikamah menghadiri majelis Rasulullah SAW. Akan tetapi, datang suatu hari dimana ia justru merapatkan barisan ke Musailamah al Kadzab si nabi palsu. Sayyidina Abu Hurairah r.a. menjelaskan peristiwa tragis itu sebagai berikut:

“Waktu itu kita bertiga ada di sisi Baginda Nabi SAW, yaitu aku, Rajjal, dan Furat bin Hayyan.  Baginda Nabi SAW bersabda:’Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka akan lebih besar dari Gunung Uhud.’[5] (Maksudnya, salah satu dari ketiga orang ini akan menjadi pelaku tindakan kriminal yang amat menakutkan. Tingkat ketakutan yang diakibatkan oleh tindakan kriminal ini oleh Baginda Nabi diungkapkan dengan menggunakan tabir gigi geraham). Kengerian senantiasa meliputi hatiku hingga datangnya perang Yamamah. Furat bin Hayyan telah mendahului kami dengan gugur sebagai seorang syahid. Artinya ia bukanlah orang yang tidak beruntung tersebut. Aku takut akan akhir dari nasib kehidupanku. Ketika mendengar Rajjal terbunuh di barisan Musailamah al Kadzab oleh pedangnya Zaid bin Khattab dalam Perang Yamamah, saat itu kusadari bahwa orang yang tidak beruntung tersebut bukan aku, dan atasnya kupanjatkan puji syukur kepada Allah SWT.”

Rajjal telah menjelma sebagai pembela terbesar Musailamah al Kadzab. Peristiwa tersebut sangat mengguncang kakak Sayyidina Umar, yaitu Sayyidina Zaid bin Khattab r.a. Sayyidina Zaid yang lebih dulu beriman kepada Rasulullah sebelum Sayyidina Umar beriman, tidak bisa menerima kenyataan. Bagaimana mungkin seseorang seperti Rajjal sanggup meninggalkan Baginda Nabi demi berpaling kepada Musailamah si pembohong dan memutuskan untuk memerangi orang-orang muslim. Di hari Yamamah, matanya mengintai Rajjal. Seketika setelah menemukan kesempatan, ia segera bergerak ke arah Rajjal dan memberikan pelajaran setimpal kepadanya. Akan tetapi, di medan perang yang sama beliaupun jatuh syahid oleh pasukan musuh lainnya.

Ada orang-orang lain yang keluar dari agama sebagaimana Rajjal. Di antara mereka salah satunya adalah Tulaihah. Akan tetapi, selang beberapa waktu Allah SWT berkenan membuka mata hati Tulaihah dan memberikan kesempatan padanya untuk masuk Islam sekali lagi. Sebagaimana mereka, di hari itu terdapat orang-orang, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan, yang keluar dari jalan kebenaran.

Ya, jika ternyata terdapat orang-orang yang keluar dari wilayah suci Baginda Nabi SAW sebagai pemilik daya tarik suci yang paling agung, lalu siapalah kita sehingga tidak akan ada satupun orang yang memisahkan dirinya dari kita! Aku mengetahui ada beberapa teman yang memisahkan diri karena ada tawaran jabatan untuknya. Akan tetapi, segala pujian hanya untuk Allah SWT, sebagaimana juga terjadi di masa-masa sebelumnya, di masa ini jumlah mereka yang memisahkan diri juga sangat sedikit. Mari kita berdoa kepada Allah SWT, jangan sampai kita menjadi penyebab bagi terjadinya kejadian memisahkan diri ini.

Sisi lain dari masalah ini adalah: Saat orang-orang ini menunjukkan tanda-tanda akan memisahkan diri, tanggung jawab kita sebagai seorang mukmin adalah segera berlari dan mengulurkan tangan untuk membantunya layaknya Nabi Khidir. Kita harus berusaha menahan kakinya agar tidak pergi dan berseru: ’Jangan pergi!’ kepadanya. Intuisi ini amatlah penting. Sinyal memisahkan diri diawali dengan kritik. Pendapat-pendapat serta keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh tim manajemen digugat. Kemudian, pembahasan-pembahasan proyek kemanusiaan ditanggapi dingin. Di awali dengan pengabaian shalat, dilanjutkan dengan kemunculan perbedaan-perbedaan dalam pemikiran dan gagasan.

Setiap pemisahan diri dimulai perlahan dengan tahapan-tahapan kurang lebih seperti tersebut di atas. Meminjam istilah salah satu cendekiawan:’dalam setiap dosa terdapat jalan menuju kekufuran. Jika dosa tersebut tidak segera dihapus dengan tobat dan istigfar, ia akan berubah menjadi ular yang diletakkan dan dibesarkan di dalam kalbu. Ular tersebut di kemudian hari akan menelannya. Setelah itu, maka lahirlah kekufuran dan terjadilah apa yang diancamkan oleh Allah SWT: “Allah telah mengunci hati mereka…”[6]. Oleh sebab itu, teman-teman yang demikian harus dirangkul, curahan hati dan keluh kesahnya harus didengarkan, tanda tanya di kepalanya harus berusaha dicarikan jawaban yang dapat memuaskannya.

Jika semua usaha sudah dikerahkan, pekerjaan rumah berikutnya adalah melanjutkan silaturahmi. Teman-teman yang demikian tidak boleh dikecam dan dipaksa. Mereka mungkin melakukan kesalahan. Tidak perlu diberi kesempatan untuk melakukan kesalahan kedua. Kesalahan-kesalahan harus diselesaikan dengan cara yang diajarkan oleh Baginda Nabi. Rasulullah SAW meluruskan kesalahan dan kekurangan individu dengan menyampaikannya kepada para sahabat secara umum, seakan-akan kesalahan tersebut adalah kesalahan komunal. Jadi, jika seseorang melakukan kesalahan, tanpa membahas pelakunya, tanpa menyinggungnya, kesalahan dan kekeliruan tersebut harus dijelaskan. Pihak yang bersalah pun tanpa perlu merasa tersinggung bisa mengambil hikmahnya saat ia berada di tengah-tengah masyarakat. Izinkan aku menyampaikan sebuah kisah dari Masa Risalah Kenabian tentang bagaimana Baginda Nabi memperbaiki kesalahan sekelompok orang:

Saat terjadi Fathul Mekkah, secara materi Baginda Nabi SAW telah menyelesaikan perjuangannya. Dari sisi ini, tugas kenabian sebenarnya sudah selesai. Dari sisi itu, terdapat pelajaran-pelajaran terakhir dari Allah yang akan disampaikannya kepada para sahabat. Beliau mempraktikkan sendiri hukum-hukum Islam terakhir yang diturunkan kepadanya. Beliau melaksanakan hukum-hukum tersebut. Setelah itu, ganimah dari Perang Hunain sebagian besarnya dibagikan kepada tokoh-tokoh pembesar Mekkah. Tokoh-tokoh Mekkah yang menerima ganimah di antaranya adalah Aqra bin Habis, Abu Sufyan, Safwan bin Uyaina. Tokoh-tokoh ini sebelumnya adalah orang-orang yang paling keras menentang Baginda Nabi. Baginda Nabi adalah pemilik kefatanahan teragung dan kelapangan hati yang luar biasa. Dengan jalan tersebut, beliau mengunci lidah-lidah mereka, melembutkan hati mereka untuk menyukai Islam. Tokoh-tokoh tersebut disebut Al Quran sebagai muallafal qulub, yaitu orang-orang yang dilembutkan hatinya. Mereka yang melihat tindakan istimewa dari baginda Nabi ini mengeluarkan testimoninya:”Demi Allah, sosok ini pastilah seorang Nabi. Karena tidak mungkin orang biasa dapat berlaku sedermawan ini.”[7]

Aqra bin Habis sebelumnya adalah sosok manusia yang amat kasar. Banyaknya harta yang diberikan oleh Rasulullah kemudian melembutkan hatinya. Demikian juga dengan kepala kabilah lainnya, yang mana hadiah-hadiah tersebut akhirnya jadi sarana bagi tertariknya dukungan dari orang-orang di bawah kepemimpinannya. Mereka pun lewat sarana tersebut akhirnya mampu meraih cahaya abadi, yaitu kebahagiaan abadi di hari akhir kelak

Di sisi lain, pembagian ganimah yang demikan rupanya tidak memuaskan beberapa anak muda Ansar yang turut terlibat dalam perjuangan di medan perang. Anak muda yang baru saja menyelesaikan fase kanak-kanaknya ini mulai menggunjing:”Ia telah menemukan kaum dan kabilahnya. Sepertinya setelah ini beliau tidak akan kembali bersama kita ke Madinah. Padahal yang turun ke medan perang kita, tetapi ganimahnya justru dibagikan kepada mereka…”. Sayyidina Sa’ad bin Ubadah r.a. yang mendengar isu ini segera berlari menemui Baginda Nabi untuk menceritakan apa yang didengarnya. Demi mendengar kabar ini, Baginda Nabi meminta Sa’ad untuk mengumpulkan semua kaum Ansar. Beliau juga mengingatkan Sayyidina Sa’ad supaya tidak mengajak satupun orang Muhajir.

Ya, dimasa itu juga ada orang-orang yang melakukan kesalahan dan sayangnya kesalahan itu dilakukan kepada Baginda Nabi SAW. Padahal tindak-tanduk seorang Nabi bukanlah perkara yang bisa dikritik. Kesalahan yang ditujukan kepada Baginda Nabi berarti melakukan kiritk atas perilaku Sang Nabi, dimana kesalahan ini dapat disebut sebagai kesesatan. Kita tidak bisa beranggapan kesalahan seperti ini layak dilakukan oleh sahabat. Rasulullah segera bergerak untuk menghapus pemikiran ini dari kalbu kaum Ansar dan lewat satu isyarat beliau memerintahkan pengumpulan orang-orang Ansar.

Disana Baginda Nabi mengingatkan bagaimana Beliau adalah nikmat besar bagi kaum Ansar:”Bukankah saat pertama kali aku datang, kalian masih berada di dalam kesesatan? Bukankah Allah dengan mengirimku telah membukakan pintu hidayahNya kepada kalian? Bukankah dengan mengirimku, Allah telah membuat kalian menjadi kaya? Bukankah sebelumnya kalian saling bermusuhan satu sama lain? Bukankah Allah dengan perantaraanku telah mendamaikan hati kalian?”

Semua orang Ansar menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan jawaban serentak:”Benar, benar, kami berhutang budi kepada Allah dan RasulNya!” Baginda Nabi meneruskan:”Kini saat semua orang pulang ke rumahnya membawa unta dan domba, apakah kalian tidak ingin pulang ke rumah dengan membawa RasulNya?” demi mendengar kalimat ini,  maka menangislah kaum Ansar. Dengan demikian fitnah mereda. Jika Anda memperhatikannya, Anda akan menemukan bagaimana Baginda Nabi tidak menegur secara personal orang yang bersalah, melainkan menjelaskannya kepada seluruh anggota kaum secara umum.

Baginda Nabi meneruskan penjelasannya:”Jika Allah tidak menciptakanku sebagai muhajir, pasti aku akan menjadi salah satu di antara kaum Ansar. Seandainya orang-orang berjalan ke suatu bukit dan orang-orang Ansar ke bukit yang lain, pasti aku berjalan ke arah bukitnya kaum Ansar. Ya Allah, sayangilah kaum Ansar juga anak-anak dan cucu-cucu mereka.”

Ya, sebagaimana terlihat, begitu mudahnya Baginda Nabi menguraikan kesalahan-kesalahan, tidak ada satu orang pun yang tersinggung dengan solusinya. Akan tetapi, dia yang bersalah menyesali kesalahannya hingga akhir umurnya.

Jika demikian, maka kita harus mencontoh bagaimana Baginda Nabi menyelesaikan kekurangan dan kesalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Apabila yang kita lakukan adalah menyakiti dan menyinggung hati orang-orang di sekitar kita, itu bersumber dari ketidakmampuan kita dalam meneladani Baginda Nabi SAW. Semoga Allah mengampuni kita!

Disini, terdapat pertanyaan yang mungkin singgah di kepala kita: Mengapa Baginda Nabi menginginkan agar semua orang dari kalangan Ansar untuk datang dan tidak mau ada satu orang saja dari kalangan Muhajir datang?

Beliau menginginkan semua orang Ansar hadir karena isu tersebut telah tersebar di tengah-tengah kaum Ansar. Jika ada yang tidak hadir, akan ada kemungkinan mereka yang menghembuskan isu ini tidak hadir dan terlibat dalam pertemuan tersebut. Andai orang-orang tersebut pada akhirnya mendengar penjelasan Baginda Nabi dari pihak-pihak yang hadir, pengaruhnya di hati tidak akan sama jika ia mendengarkan langsung kata-kata mulia dari lisan orang yang paling mulia SAW dan bisa saja kedongkolannya tidak terobati.

Lagipula tidak ada satu orang pun yang ingin kehilangan momen spesial tersebut dimana ia akan mendapat kemuliaan untuk menyimak kalimat-kalimat mulia dari lisan sang Nabi. Rasulullah SAW akan menyebutkan keagungan derajat kaum Ansar dari lisan mulianya sendiri. Untuk itu, beliau ingin agar semua orang Ansar datang. Apalagi demikian dahsyatnya Baginda Nabi menjelaskan keagungan derajat kaum Ansar, jika terdapat 2-3 orang dari kalangan Muhajirin yang turut datang, maka orang muhajir tersebut dapat lupa akan kualitas khusus yang dimilikinya dan mulai cemburu pada saudara-saudaranya dari kalangan Ansar. Karena seorang muhajir yang telah meninggalkan tanah airnya dan menjadi sarana bagi diraihnya derajat ansar oleh Kaum Ansar, dapat merasa bahwa diri mereka ternyata tidak meraih kemuliaan seagung kaum Ansar dan bisa jadi mereka akan tersinggung. Barangkali sebagian besar orang Muhajir tidak mengetahuinya bahkan tidak menyadarinya. Keagungan derajat kaum Ansar tersebut, karena disampaikan langsung oleh Baginda Nabi maka kekhususan tersebut akan terus melekat kepada mereka selamanya.

Ya, solusi dari segala masalah yang akan muncul di hadapan kita, pasti jalan keluarnya akan dapat diambil dari kehidupannya Baginda Nabi. Tugas kita adalah mempraktikkan kehidupan yang dijalani oleh Baginda Nabi di semua sisi.

Diterjemahkan dari artikel yang berjudul “Kaç Insanın Katilsin” dari Buku Berjudul Bahar Nesidesi hlm. 198

[1] Nama sumur azab di neraka

[2] QS al Imran 3:8

[3] HR Tirmizi no. 3522, Musnad Imam Ahmad 6/135, Ibnu Abi Syaibah Musannaf 6/168

[4] Lihat Imam Rabbani, al Maktubat, hlm. 240 (surat ke-202)

[5] Al Humaidi, al Musnad 2/495

[6] QS al Baqarah 2:7

[7] Al Waqidi, Kitabul Magazi 2/854-855; Ibnu Asakir,  Dimasq, 24/114. Lihat juga HR Muslim, bab fadhail 59; HR Tirmizi, zakat 30

marion-michele-779368-unsplash

SEMANGAT PENGABDIAN SEPANJANG KEHIDUPAN

 

Semangat Pengabdian Sepanjang Kehidupan

(Diterjemahkan dari artikel “Bir Ömür Boyu Adanmışlık Ruhu”dari buku  Kırık Testi 14; Buhranlı Günler ve Umit Atlasımız)

Pertanyaan: Apa saja prinsip-prinsip pokok agar dapat menjaga semangat pengabdian tetap menyala di dalam kalbu ?

Jawab: Orang-orang yang sudah mengabdikan dirinya secara menyeluruh harus menjauhkan diri dari segala macam sikap dan perbuatan yang dapat menjatuhkan nama baik atau kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Menurut saya,  orang-orang yang sudah memberikan hatinya kepada sebuah cita-cita mulia dengan tulus dan tanpa pamrih, tidak akan pernah sengaja untuk melakukan hal-hal yang menghancurkan jamaahnyaserta tidak akan pernah sengaja melakukan perbuatan yang membuat kecewa teman seperjuangannya. Namun, kadangkala langkah yang diambil tanpa dipikir matang atau tanpa pertimbangan yang hati-hati dalam suatu persoalan dapat membuat seseorang tergelincir dan akan menyebabkan hilangnya kepercayaan orang lain atas dirinya. Dalam hal ini, maka yang perlu dilakukan adalah suatu tindakan yang sigap dari teman-teman seperjuangannya, yang memiliki pemikiran dan perasaan serupa untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Tindakan yang sigap ini tidak hanya menyelamatkan orang tersebut dari rasa malu, tetapi juga mencegah pikiran negatif orang lain terhadap jamaah tersebut.

Ya Allah, Jangan Biarkan Hamba Membuat Malu Sahabat-Sahabatku!”

Seorang tokoh ulama, Mawlana Khalid al-Baghdadi, sangat berhati-hati dalam menjaga martabat dirinya dengan tidak meminta-minta dari siapapun dan mampu memberikan contoh yang baik bagi kita semua. Dalam mencegah persepsi negatif orang-orang di zamannya, beliau mengingatkan para murid dan pengikutnya sejak awal: “Jangan pernah terlalu dekat dengan orang-orang kaya, penguasa, dan pemerintah. Mereka bisa saja menawarkan makanan yang lezat, memberikanmu kedudukan terhormat, dan juga berwajah manis untuk melakukan korupsi di belakang. Jika sudah berada di bawah pengaruh mereka, kalian akan tunduk kepada mereka sepanjang hidup. Oleh karena itu, merasa cukuplah dengan apa yang kamu miliki dan jangan pernah meminta kepada siapapun. Jangan lupa bahwa para penguasa dan pemerintah berkeinginan untuk menguasaimu agar tunduk kepada mereka.”

Orang-orang yang memprioritaskan filosofi hidup dalam mengabdi kepada Rabbnya, harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang menimbulkan rasa curiga terhadap jamaahnyadan tidak pernah mendekati tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan terhadap mereka. Contohnya, mereka tidak boleh meskipun hanya sekedar melewati sebuah bar agar orang-orang tidak memiliki pikiran bahwa mereka baru saja keluar dari bar, karena ada  kemungkinan mereka bisa mendapatkan fitnah dari orang lain. Oleh sebab itu, diperlukan sikappenuh kehati-hatian.

Seteliti apapun dalam bertindak, perlu diingat bahwa selalu ada kemungkinan bagi kita untuk menjadi sasaran fitnah. Meskipun kalian selalu menjaga persaudaraan, menyebarkan perasaan cinta, memiliki sifat lapang dada, dan tidak memiliki musuh dengan siapapun, jika ada orang-orang yang memiliki rasa dengki dan benci, mereka tidak akan pernah mengulurkan tangan dan tidak melapangkan dada kepada kalian. Sebaliknya,mereka akan membalas senyuman kalian dengan wajah masam. Pada saat itu, tidak ada hal selain meminta kepada Rabb dan memohonlah pertolongan kepadaNya. Jangan pernah lupa, kejadian seperti ini sudah terjadi sejak masa Nabi Adam Alaihissalam hingga sekarang dan akan terus berlangsung. Apa yang menjadi perhatian di sini adalah jiwa-jiwa pengabdi harus menjauhkan diri dari kondisi dan perilaku yang dapat menodai pergerakan mereka sendiriserta kehidupan keluarga dan sosial.Kalian harus memiliki tekad dan selalu memohon kepadaNya seraya berdoa, “Ya Rabbi jangan membuat malu teman-teman atas perbuatan kami, dan jangan membuat kami malu atas perbuatan teman-teman kami.” Jangan pernah berhenti mencari perlindungan Allah dan meminta pertolonganNya. Karena sangatlah mungkin bagi seseorang jatuh kepada nafsu duniawi dan setan terus-menerus memperindah angan-angan dan membuat lupa dirinya, selalu membuat dosa-dosa nampak indah bagi manusia.

Seseorang yang tidak berhati-hati akan bahaya dosa, mungkin akan masuk ke salah satu dosa tersebut tanpa sadar dan (semoga Allah melindungi kita) dapat membuat malu. Oleh sebab itu, orang-orang yang berada dalam sebuah gerakan yang jutaan orang memandangnya dengan penuh harapan harus sangat waspada untuk menghindari segala hal yang dapat membahayakan akhlak dan kesucian, teguh melawan godaan setan dan nafsu, serta tidak pernah memberikan kelonggaran atas nilai kejujuran dan amanah (dapat dipercaya). Mereka harus takut bila melanggar hak-hak dari rekan relawan yang bersama mereka dalam melangkah di jalan ini. Mereka harus mengangkat tangan seraya berucap, “Ya Rabbi, jika hamba membuat teman-teman merunduk malu, dengan segenap hati hamba lebih suka dikubur dalam tanah sebagai gantinya.” Itulah ungkapan kesetiaan dan loyalitas kepada teman-temannya. Agar tidak membiarkan orang lain berpikiran negatif dan kesalahan sekecil apapun terjadi, setiap jiwa yang mengabdi harus berusaha seperti seorang duta kejujuran, kesetiaan, dan kesucian. Sepanjang waktu, mereka harus dengan hormat menahan diri dari meminta-minta, mengemis dari orang lain, serakah, bersyukur atas apa yang diberikan Allah, dan menjauhkan diri dari segala hal yang merusak kehormatannya.

Sebelum Menasehati Berikanlah Contoh

Siapapun yang berusaha menyampaikan kebenaran dan kebajikan, jangan pernah lupa bahwa dengan sikap tulus dan teladan dapat mengajak orang-orang kepada kebaikan, daripada sekedar kata-kata yang diucapkan. Kata-kata yang tidak mencerminkan kebenaran atau jauh dari makna hakiki karena terlalu berlebihan, mungkin dapat membuat orang-orang terpesona namun itu hanya sementara. Bukan menjadikannya tertanam abadi di dalam kalbu, justru mengganggu kredibilitas/kepercayaan dari orang lain. Sedangkan perbuatan yang terus-menerus dilakukan, tidak mungkin sebuah kepalsuan. Dia akan terus mengalir di alurnya. Seseorang yang selalu jujur, setia sepanjang waktu, tidak pernah bermain-main dengan kesucian, dan terus menerus menginspirasi kejujuran akan sangat meyakinkan bagi orang-orang sekitarnya. Dari sudut pandang ini kita dapat berkata bahwa di dalam Islam, teladan perbuatan lebih utama daripada perkataan.

Salah satu tugas kenabian dari Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam, yang sangat kita cintai bagaikan raja bagi kita, adalah menyampaikan wahyu yang beliau terima dari Allah. Oleh karena itu, jika wahyu tidak disampaikan melalui sosok yang dirahmati seperti beliau, mukjizat wahyu Ilahi tidak akan terasa hingga masa ini dan kalbu tidak akan menerimanya. Untuk alasan inilah, Al-Qur’an yang kita taruh di rak dinding rumah-rumah kita yang dibalut dengan sampul beludru yang indah, telah dan akan selalu diwakilkan oleh orang-orang yang pantas mewakilinya. Dalam hal ini, kedalaman tingkat keteladanan Rasulullah memiliki hak tertinggi untuk menyampaikan wahyu Ilahi. Beliau diangkat ke langit saat Mi’raj, tidak hanya karena beliau telah menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga karena beliau telah memberikan contoh teladan melalui akhlak dan kepribadiannya.

Kerendahan Hati dan Berusaha Tidak Membuat Iri

Rasululullah bersabda, “Tuannya dari orang-orang adalah dia yang melayani mereka.” Salahuddin Ayyubi, seorang pahlawan Islam yang merupakan teladan dari sikap ini, adalah penguasa pertama yang diberi gelar “Pelayan Dua Tempat Suci”, yaitu Makkah dan Madinah. Beberapa abad kemudian, Sultan Selim I, yang juga memiliki semangat yang sama merasa kurang nyaman mendapat gelar “Penguasa Dua Tempat Suci”, lalu segera mengubahnya menjadi “Pelayan Dua Tempat Suci” seraya berlutut dari singgasananya, sebagai tanda hormat. Mereka yang menjadi pewarisnya pun menggunakan sebutan “Pelayan Dua Tempat Suci.” Dalam hal ini, tanpa melihat status sosialnya, para jiwa yang semangat mengabdi harus menyadari bahwa sebuah kehormatan terbesar adalah dengan melayani orang lain. Bahkan mereka akan mengatakan, “Dibutuhkan seseorang untuk membawakan minuman dan melayani mereka yang sedang duduk bersama untuk berbagi pemikiran, cita-cita, dan ide,” dan selalu menjadi yang terdepan dalam melayani orang lain.

Selain itu, keberhasilan seseorang pada bidang tertentu dapat menimbulkan rasa iri hati pada orang lain. Beberapa orang dengan karakter yang lemah dapat menjadi sangat cemburu, terbawa perasaan persaingan. Pada masalah ini, perlu melihat prinsip-prinsip mulia yang diajarkan agama Islam dalam mendisiplinkan nafsu. Bediuzzaman Said Nursi, yang membuat pedoman di bawah cahaya prinsip-prinsip tersebut, menyatakan bahwa murid sejati Al-Qur’an tidak boleh menyebabkan rasa iri pada para pengikutnya. Secara umum, perasaan iri yang manusiawi masih bisa diterima dalam Islam. Tetapi mengingat faktanya, perasaan iri adalah tetangga dekat dari hasad (rasa iri yang menimbulkan kemarahan), seseorang yang memendam perasaan iri, suatu saat dapat melampaui batas tanpa disadari. Atas alasan inilah Bediuzzaman menyatakan untuk tidak berbuat yang menimbulkan perasaan iri hati kepada orang lain sebagai sebuah tanggung jawab sebagai murid Al-Qur’an. Cara untuk mewujudkan ini, seseorang harus menghargai setiap manusia yang mengabdi atas nama Allah dan lebih mengutamakan orang banyak daripada dirinya sendiri. Selain itu, setiap manusia memiliki titik lemah yang berbeda-beda, misalnya berkeinginan untuk mendapatkan tepuk tangan, meraih penghargaan, dan mendapat kenaikan pangkat.  Oleh karena itu, diperlukan seseorang dalam bidang tertentu untuk menyiapkan lahan dalam berkarya dalam lingkup yang luas, membiarkan berbagai individu untuk melayani dengan tepat dalam bidang yang beragam, dan juga merasa puas atas hasil jerih payahnya. Selain itu, perlu untuk menjaga orang lain agar tetap dalam keimanan dan moralitas, menjaga ikatan yang kuat kepada Rabb nya, dan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah.

Bahaya ketika Berada di Derajat Tinggi

Hal lain yang harus kita perhatikan adalah berada dalam jalan yang lurus dengan teguh. Allah yang Maha Kuasa mungkin sedang membawa kita ke jalanNya; namun mencari jalan yang lurus saja tidaklah cukup; yang paling utama adalah untuk berjalan lurus hingga garis akhir dengan pandangan waspada. Berdasarkan sabda Rasulullah, “Setiap manusia dapat terjatuh dalam kebinasaan, kecuali yang berilmu. Orang yang berilmu juga dapat terjatuh dalam  kebinasaan, kecuali mereka yang mengamalkan berdasarkan pengetahuan mereka. Mereka yang mengamalkan pengetahuan juga dapat terjatuh dalam kebinasaan, kecuali bagi mereka yang ikhlas. Mereka yang ikhlas juga menghadapi bahaya yang besar.”[1] Mungkin bahaya besar ini bisa disebut “bahaya ketika berada di derajat tinggi.” Dalam hal ini, tidak peduli seberapa tinggi Allah menaikkan derajat, kita harus selalu merasa takut bahwa kita dapat terjatuh kapan saja. Allah telah membimbing beberapa kaum pada jalan yang benar, tetapi saat mereka tidak fokus kepada titik di tengah “lingkaran”, mereka tersesat hingga garis luar dan sulit untuk kembali. Karenanya sebuah kaum menjadi tersesat dan menyimpang, dan ada juga kaum yang mendapat azab dan menerima murka Allah. Dengan demikian, meskipun mencari jalan yang lurus adalah tugas yang sulit dan sangat diutamakan, berada di jalan yang lurus terus-menerus tentu lebih sulit. Sama ketika menghadapi kesulitan saat mendaki tebing, mempertahankan diri di puncak jauh lebih sulit. Atas dasar itulah Bediuzzaman mengingatkan kembali bahwa seseorang yang terjatuh dari ketinggian dari keikhlasan akan menghadapi bahaya jatuh ke lubang yang dalam.

Memberikan Tugas Sesuai dengan Keahlian

Ada sebuah hal penting lain yang harus diperhatikan oleh jiwa-jiwa pengabdi agar bisa berbakti dengan tepat dalam jangka waktu yang lama yaitu mengenali apa saja sumber daya manusia yang tersedia dan menempatkan dengan benar, dan tidak bertentangan dengan bakat alami. Allah yang Maha Kuasa menciptakan manusia dengan bakat yang beragam dan memberkahi manusia dengan berbagai keahlian. Ada beberapa orang yang kurang efektif dalam menyampaikan pesan secara langsung kepada khalayak karena kemampuan sosialisasinya yang kurang. Misalnya, ada beberapa orang yang sanggup menyuarakan kebenaran ketika menggoreskan pena pada kertas, yang dapat membujuk orang lain, mengobarkan kembali semangat di dada. Saat mereka diminta untuk menyampaikan khutbah, bisa jadi mereka kehilangan kepercayaan diri yang biasanya mereka dapatkan dengan adanya buku-buku disampingnya pada saat di atas mimbar, karena Allah mungkin tidak memberikan keahlian berbicara yang sama baiknya dengan keahlian menulisnya. Tetapi orang tersebut bisa sangat berhasil dalam menyampaikan kebenaran yang diyakininya dengan buku-buku, artikel, dan tulisan-tulisan karyanya. Jadi seorang pimpinan yang memiliki wewenang untuk membimbing dan mengelola bawahan harus menyadari fakta ini dan memberikan pekerjaan pada setiap orang dengan tugas yang sesuai keahliannya. Seperti kisah yang banyak diketahui ini, ada permintaan yang ditujukan kepada Khalid ibn al-Walid, Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam pun mengirimnya ke Yaman sebagai pengajar ilmu agama. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Abu Musa al-Ash’ari, hari dan bulan berlalu tetapi tidak ada kabar mengenai perkembangannya. Dan sebenarnya, Khalid ibn al-Walid bukanlah pembicara yang baik. Allah yang Maha Kuasa tidak memberkahinya dengan keahlian untuk menjadi seorang yang terpilih menjadi pembimbing melainkan menjadi seorang komandan prajurit. Ya, Allah telah memberkahinya dengan keunggulan di bidang lain. Kebijaksanaan Allah melampaui akal kita. Seandainya Khalid ibn al-Walid menjadi rajanya sastra yang jumlahnya sangat jarang sepanjang sejarah – sama seperti para sahabat lainnya – lalu siapa yang akan memimpin pasukan melawan kekuatan besar musuh kala itu? Setelah tinggal beberapa lama di Yaman, beliau kembali ke Madinah, lalu Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam mengirimkan Ali ibn Abi Talib ke Yaman sebagai gantinya. Sosok Ali ibn Abi Talib, adalah pengkhutbah dan orator yang bagus, kata-katanya sangat menyentuh jiwa, suaranya menjangkau semua usia, dan Allah telah memberkahi beliau dengan keahlian khusus di bidang ini, maka jumlah penduduk yang menyatakan keimanan pun tumbuh pesat. Beliau sosok mulia yang sangat mengenal dengan baik bagaimana menjangkau ke dalam jiwa-jiwa orang ketika sedang berbicara dan mengetahui apa yang harus disampaikan. Dengan demikian, apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin adalah mampu membedakan bakat dan keahlian dan menempatkan setiap orang pada posisi yang tepat sehingga dapat bekerja dengan efisien. Seperti memberikan beban tugas seekor gajah kepada seekor semut justru akan menginjaknya, sebaliknya mempekerjakan seekor gajah yang mampu mengangkut batang pohon dengan sebuah beban yang sanggup dipikul oleh seekor semut adalah mubazir. Sangat penting untuk menilai keahlian dan karakter setiap individu, dan tidak pernah lupa bahwa semua itu bergantung pada kekuasaan Allah. Misalnya, saya mengenal beberapa orang yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik, dia yang mengalami kesulitan saat berbicara meskipun hanya beberapa kalimat, tetapi sanggup melunakkan hati orang-orang setelah berbicara beberapa patah kata. Kalian tidak bisa menjelaskan hal tersebut ketika hanya melihat penampilan fisik seseorang, kualitas, kapasitas, batas pemikiran, dan kemampuan berekspresi, selama hati ada di tangan Allah. Dialah yang memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki. Untuk itu, demi Allah para relawan tidak bisa menganggap remeh segala tanggung jawab yang mereka emban. Mereka harus berusaha menunaikan tanggung jawabnya, meski sekedar membuatkan secangkir teh, makanan, atau melakukan kunjungan. Singkat kata, kita perlu memanfaatkan segala kesempatan yang ada untuk memenangkan hati orang lain.

Keseimbangan antara Cita-cita dan Realita

Agar dapat membedakan antara cita-cita dan realita, sangat perlu untuk menjaga standar yang tinggi dan mengejar tujuan yang luhur – maka mereka yang berhijrah demi mewujudkan cita-citanya harus benar-benar mengejar cita-cita yang tinggi yaitu mengubah wajah dunia. Jika seseorang menyimpan impian yang tinggi dengan penuh semangat, bahkan jika mereka tidak berhasil meraihnya dengan usaha sendiri, Allah yang Maha Kuasa akan mengganjar niat dan memberikan pahala sesuai apa yang di dalam hati mereka. Setiap orang akan diganjar pahala atas niat baiknya meskipun dia tidak berhasil dalam meraih tujuan. Atas hal ini, setiap orang harus selalu memiliki cita-cita yang tinggi dan menjaga harapan besar mereka. Bersamaan dengan ini, cita-cita harus disadari juga dengan mempertimbangkan waktu, tempat, kemungkinan, dan faktor manusia. Rencana yang baik harus dipertimbangkan sesuai kondisi riil sehingga langkah yang kita ambil tidak akan salah dan mengalami kegagalan. Kadang-kadang, banyak orang pergi untuk mengubah warna dunia, tetapi sebenarnya mereka hanya berfantasi tentang sebuah utopia semacam “Negeri Saleh” karya Al Farabi atau “The City of The Sun” karya Campanella. Pada dunia hasil imajinasi mereka, masyarakat saling berpelukan di manapun mereka berjumpa. Kawanan singa dan serigala datang menawarkan bantuan pada domba-domba. Pasar menjadi tempat yang sangat sempurna dimana sebagian besar pedagang adalah malaikat. Di dunia tersebut, tidak ada satupun yang bertindak asusila dan melakukan korupsi. Anak-anak memasuki proses pertumbuhan dan pendewasaan dengan baik tanpa ada masalah pendidikan dan pendisiplinan yang serius, lalu mereka seperti menjadi sosok malaikat ketika berusia lima belas tahun. Meskipun sangat mudah memiliki hal-hal tersebut dalam pikiran dan imajinasi, kenyataannya sangatlah berbeda. Kita harus memperhatikan perangai manusia dan hubungan interpersonal. Kehidupan di suatu tempat yang bukan di lingkungan Rasulullah tinggal, sebuah pasar tidak pernah menjadi tempat yang penuh kebaikan, serigala dan domba tidak pernah berdamai, dan singa tidak pernah meninggalkan daging untuk menjadi vegetarian. Menurut saya, melihat apa yang realita yang terjadi, kita tidak bisa acuh dalam mempertimbangkan apakah mencari kebenaran bisa terwujud atau tidak. Bahkan jika kita mengharapkan teman seperjuangan kita memikul beban kebajikan untuk mengubah warna dunia, kita akan mengalami kekecewaan karena membangun cita-cita kita dengan sebuah mimpi kosong dan larut dalam mengejar kesia-siaan, yang juga akan menghancurkan harapan mereka yang menaruh harapan kepada kita. Agar tidak memikul beban dosa itu, sekali lagi sangat perlu untuk menilai potensi dan bakat setiap orang, mendistribusikan tugas dengan tepat, dan menyadari cita-cita mulia kita dengan mempertimbangkan waktu, tempat, dan ketersediaan sumber daya manusia.

[1]Lihat Kasyf al-Khafa (2796)

tj-k-349056-unsplash

MASA DEPAN DAN KEWAJIBAN KITA

Masa Depan dan Kewajiban Kita

 

Tanya: “Di antara perubahan di masa depan, suara yang paling tinggi dan paling lantang akan berupa suara Islam”. Usaha apa yang harus kita kerjakan agar pernyataan ini dapat terwujud?

Jawab: Sebelum hal lainnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar umat Nabi Muhammad tidak menanti lebih lama lagi dan semoga nikmat ini segera dianugerahkan-Nya kepada kita. Terkait permasalahan ini, di satu sisi merupakan tugas bagi seorang hamba, di sisi lainnya merupakan keharusan dari perwujudan sifat Rububiyah Allah SWT. Kita akan berusaha menjawab pertanyaan ini dari sisi kedua.

Pertama-tama, di antara perubahan di masa depan, suara yang paling tinggi dan paling lantang akan berupa suara Islam merupakan kabar yang disampaikan Allah SWT di dalam al Quran. Dalam sebuah ayat yang mulia, Allah SWT berfirman bahwasanya nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada Nabi Daud dan Sulaiman juga akan dianugerahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Allah  berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai (QS An Nur 24:55).

Ini adalah aturan Ilahi. Demikianlah, terkait permasalahan tersebut, ketika hal-hal yang diinginkan Allah dapat kita penuhi, suara teragung dan terlantang yang akan terdengar dalam perubahan-perubahan masa depan akan berupa suara Islam. Ayat mulia lain yang menguatkan makna tersebut di antaranya adalah:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِـُٔوا۟ نُورَ اللَّهِ بِأَفْوٰهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُونَ

”Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai (QS at Taubah 9:32).

Tanpa bersandar pada asas yang kokoh, dengan slogan kosong yang hanya bergulir di lidah, mereka berusaha memadamkan Islam ad dinul mubin (Islam, agama yang jelas). Allah sama sekali tidak mengizinkan hal itu untuk terjadi. Walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya, kehendak Allah adalah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun mereka ingin memadamkannya dengan segenap daya, upaya, gagasan, dan ungkapan.

Allah SWT, mengirimkan Sang Habibi SAW dengan hidayah-Nya yang murni, dengan asas-asas yang akan mengeluarkan umat manusia menuju cahaya, dengan agama yang benar dan sangat cocok dengan fitrah manusia, serta dengan prinsip-prinsip yang cocok dengan agama, tabiat, dan syariat fitriah. Allah mengirim dan di waktu yang sama menjaganya. Allah pun melanjutkan penjagaan-Nya. Sebagaimana bintang-bintang lenyap setelah terbitnya matahari, ketika pemiliknya telah merentangkan sayap agungnya, agama ini dengan maknanya yang hakiki akan mengalahkan segala macam ideologi. Dengan istilah lain, saat Allah mengecambahkan benih di suatu tempat, saat Allah menyiapkan telur-telur untuk dierami dan kemudian menetaskan anak-anak ayam, Allah akan menjaga mereka dari kekuatan-kekuatan jahat. Penjelasan lain dalam makna yang sama terdapat pada ayat mulia lainnya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya” (QS Ash Shaf 61:9)”.

Suatu hari Baginda Nabi SAW bersabda, ”Seandainya aku bisa menyaksikan saudara-saudaraku!”. Para sahabat dengan sedikit heran bertanya kepada Baginda Nabi, ”Ya Rasulullah, bukankah kami adalah saudara-saudaramu?”. Baginda Nabi menjawab, ”Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku belum datang, mereka akan datang setelahku…”[1]. Dari sini dapat dipahami bahwasanya Allah SWT  akan menganugerahkan kemuliaan-kemuliaan yang setara baik kepada umat terdahulu maupun untuk umat yang akan datang kemudian.

Di hadits lainnya, Baginda Nabi bersabda, “Jihad dimulai denganku dan akan berlanjut hingga datang hari pertempuran umat terakhirku dengan Dajjal.”[2] Dari hadits ini dapat dipahami bahwa umat terakhir yang memanggul kewajibannya kepada Allah di pundaknya akan menjunjung tinggi agama ini. Mereka akan melawan orang-orang yang mengingkari keilahiatan Allah, orang-orang yang mengaku sebagai nabi, orang-orang yang menentang kenabian, baik dari kalangan orang-orang lugu maupun dari kalangan mereka yang telah keluar dari agama. Dengan demikian, representasi agama ini sekali lagi akan berlanjut dengan kecemerlangannya. Ya, Baginda Nabi lewat haditsnya membahas tentang adanya kumpulan orang yang akan terus mendukung agama ini hingga datangnya hari kiamat. Tidak bisa dibayangkan jika orang-orang yang demikian tidak ada. Komunitas itu mungkin di suatu periode waktu tertentu melemah, tetapi seiring berjalannya waktu kekuatan mereka akan kembali terpulihkan. Mereka akan memikul agama ini hingga sangkakala kiamat dibunyikan.

Jika kita melihat semua sisi tersebut, di tengah-tengah terjadinya pergolakan masa depan, akan nampak bahwa suara Islam akan menjadi suara yang teragung dan terlantang, keadaan yang ada saat ini pun seakan membenarkan dan mengonfirmasinya. Kita telah menjadi saksi terurai dan mundurnya dunia Islam di abad ke-18 hingga abad 19.  Angin topan nilai-nilai asing betul-betul bertiup kencang dan orang-orang kita selangkah demi selangkah menjauhi nilai-nilai mulianya sendiri. Ada banyak intelektual yang menganggap tindakan menjauhi agama sebagai kemuliaan dan kebajikan. Sedangkan sisanya, yaitu mereka yang terpengaruh oleh intelektual-intelektual itu sayangnya kemudian terperangkap oleh perasaan rendah diri dan lebih memilih untuk mengikuti langkah para intelektual tersebut. Akan tetapi, di seperempat akhir abad ke-20, kita melihat kecemerlangan dari sebagian kilatan cahaya menuju arah kita. Orang-orang beriman sekali lagi bersatu dan bangkit untuk melawan ateisme dan keingkaran terhadap keilahiatan Allah. Kaum muslimin yang ada di masa ini bukan lagi sosok seperti kaum muslimin di abad 18-19. Kaum muslimin di masa ini, walaupun  sendirian, mereka memiliki iradat, merasa kuat, dan memiliki harapan untuk memanggul tugas dakwahnya Baginda Nabi SAW.

Penjelasan saya adalah salah satu sisi dari permasalahan yang sedang kita bahas. Sisi lainnya adalah sebagai berikut: Kita memiliki kewajiban untuk menghidupkan Islam yang menjadi garansi kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Inilah yang disyaratkan oleh keikhlasan kepada kita. Kewajiban kita adalah menunaikan tugas, sedangkan untuk hasilnya kita tidak memiliki ruang untuk ikut campur. Kita tidak bisa mengetahui apa saja yang terjadi dan diperdebatkan di alam malaikat. Baginda Nabi bersabda, ”Saya bangun pada suatu malam dan salat semampu saya, kemudian saya mengantuk dan merasa berat. Tiba-tiba Rabb-ku muncul dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan berfirman: Wahai Muhammad, tahukah kamu tentang apa para malaikat itu berdebat? Aku menjawab: Tidak, Ya Rabb.  Kemudian tangannya diletakkan di antara dua bahuku, aku merasakan kesejukan di antara dua belikat atau di dadaku. Peristiwa itu terjadi di antara waktu magrib dan isya. Setelahnya, aku jadi mengetahui segala macam hal. Kemudian datang suara: ”Wahai Muhammad!” Aku jawab: ”Aku dengar dan aku taat, wahai Tuhanku”. Dia melanjutkan firman-Nya: ”Saat ini apakah kamu tahu hal apa saja yang diperdebatkan di alam malaikat?” Aku menjawabnya: ”Derajat dan kafarat, berjalanlah menuju jamaah dan masjid, mengambil wudu dengan sempurna walaupun kondisinya amat sulit, dan tentang menantikan salat dengan penuh semangat setelah menunaikan satu waktu salat.” Barangsiapa yang mengerjakannya, ia akan hidup dalam kebaikan, mati di dalam kebaikan, dia akan disucikan dan dibersihkan dari beragam kesalahan dan dosa, seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.”[3]

Seorang manusia akan menunjukkan gairahnya untuk mati di jalan Allah dan dalam semangat tersebut ajal akan menemuinya sehingga ia pun bisa bertemu dengan Tuhannya. Mereka yang melewati kuburnya tidak akan lewat tanpa mengirimkan pahala surat Al-Fatihah untuknya. Balasan dari derajat yang diraihnya tersebut akan diberikan di akhirat. Sedangkan orang lainnya mungkin tidak bisa selamat sepenuhnya dari dosa-dosa. Akan tetapi, sedari awal ia bagaikan bara dari api unggun, ia memeluk erat agamanya, ia mungkin akan kehilangan pangkat dan jabatannya, perniagannya mungkin akan merugi, beberapa di antaranya mungkin akan menerima perlakuan buruk. Walaupun demikian, ia tetap memegang erat agamanya dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Ia tidak sekali-kali berkenan untuk melepaskan agamanya begitu saja. Terkait mereka, pembahasannya juga akan dilakukan oleh Allah dan para malaikatnya. Baik kita ketahui ataupun tidak, itulah yang akan terjadi. Kewajiban kita adalah berusaha dan berikhtiar sebaik-baiknya. Itulah tugas kita satu-satunya.

 

Diterjemahkan dari artikel berjudul “Istikbal ve Bize Dusen” di buku Bahar Nesidesi, hlm. 161-165

[1] HR Muslim, bab taharah, 39; HR Nasai, bab taharah, 113

[2] HR Abu Daud, Jihad 35

[3] HR Tirmizi, bab tafsirul quran, surat Shad

david-monje-671441-unsplash

Getaran Jiwa dan Akal Sehat

Getaran Jiwa dan Akal Sehat

Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan salabatud diniyah dan bagaimana ia harusnya dipraktikkan?

Jawab: Tidaklah tepat jika kosakata salabatud diniyah dimaknai sebagai fanatik buta, keras kepada yang berbeda pendapat dengannya, serta merasa dirinya paling benar dengan menyalahkan pendapat lain yang berbeda dengan pendapat yang diyakininya. Kita menggunakan kosakata kefanatikan lebih kepada keras kepala, berpikiran tertutup, membela pendapat pribadinya dengan membabi buta, tanpa adanya dalil dan sumber yang mendasarinya. Kata kefanatikan juga dapat dimaknai sebagai tidak toleran dan menghargai, serta menolak pendapat lain tanpa ampun. Dari penjelasan ini, maka istilah salabatud diniyah tidak bermakna fanatik buta dan berpikiran tertutup, melainkan bermakna memegang erat prinsip agama dengan teguh dan konsisten. Perihal tersebut digambarkan surat ِAl Baqarah sebagai berikut :

لَٓا اِكْرَاهَ فِي الدّ۪ينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰىۗ لَا انْفِصَامَ لَهَاۜ وَاللّٰهُ سَم۪يعٌ عَل۪يمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS  Al Baqarah 2: 256)

Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu alayhi wasallam lewat hadis mulianya menyampaikan amanatnya kepada kita,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتيِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بالنَّوَاجِذِ

Artinya: “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham.”[1]

“Gigitlah dengan geraham” yang terdapat dalam hadis tersebut adalah sebuah gaya bahasa atau idiom yang digunakan dalam Bahasa Arab. Oleh karena itu, ketika berusaha untuk memahaminya, ia harus dipahami sebagai orang Arab memahaminya.

Idiom “Gigitlah dengan geraham” dapat dipahami sebagai: “Pegang eratlah prinsip–prinsip agamamu, seperti kamu memegang erat sesuatu dengan alat catut”.Jadi, dari teks hadis tersebut dapat dipahami bahwasanya yang dimaksud dengan salabatud diniyyah adalah: memegang teguh perintah–perintah agama, loyal dan setia kepadanya; konsisten dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti iman, akhlak, dan kehormatan diri; serta menjaga diri dari kelalaian dan keteledoran. Sedangkan berpikiran tertutup serta fanatisme buta dalam beragama, memaksa orang lain untuk menerima pendapat dan keyakinannya, sebagaimana kami sampaikan di awal, ia  bukanlah salabatud diniyah, melainkan fanatik buta belaka.

Jangan Jadi Sebab Seseorang Membenci Agamamu ketika Dirimu Berusaha Mengabdi kepada Agama

Jika seseorang  merasa bahwa memaksakan pendapat, bersikeras dengan pandangan pribadinya, dan berlaku kasar kepada mereka yang berbeda pendapat dengannya adalah bagian dari salabatud diniyyah;  dan jika dengan pemahaman tersebut ia berpikir bahwa ia telah berkhidmat kepada agamanya, sungguh ia sedang berada dalam kekhilafan yang nyata. Laku tersebut dapat memancing reaksi  negatif. Bukannya simpati dan diterima dengan hangat, lakunya tersebut justru akan membuat lawan bicaranya benci dan semakin menjauhkan diri dari agama.  Oleh sebab itu, jika Anda tidak menjelaskan kedalaman ruh serta esensi pokok dalam agama; Jika Anda tidak menyampaikan makna dan intisari serta kebaikan dan keindahan seperti apa yang bisa umat manusia capai dengan agama; Jika Anda tidak mampu membangkitkan rasa ketertarikan pada agama dalam hati mereka; maka Anda akan mendapati respon yang mungkin tidak Anda bayangkan sebelumya. Ketika Anda bermaksud mengabdi kepada agama, tanpa disadari, Anda sedang membuat orang–orang di sekitar Anda menjauhi agama. Ya, segala sesuatu yang dikerjakan dengan pikiran tertutup dan pemaksaan kehendak lebih besar kerugiannya daripada keuntungannya.

Ya, semua orang tahu bagaimana hasil akhir dari pelaksanaan beragam “isme” yang berusaha dikukuhkan lewat kekuatan dan kekuasaan di abad ke-20. Seperti Anda ketahui, ada satu negara di mana 40-50 juta orang dibunuh demi dipraktikkannya “isme” ini. Seakan sistem tersebut dibangun di atas tengkorak – tengkorak rakyatnya. Apa yang disisakan dari kezaliman, penindasan, dan kekerasan tersebut hanyalah kebencian dan dendam. Ya, walaupun sistem tersebut berusaha ditegakkan lewat kekerasan, kebengisan, dan penindasan, 50-60 tahun kemudian sistem tersebut akhirnya runtuh. Setelah sistem runtuh, orang – orang yang ditekan itu kemudian kembali ke keyakinan lamanya.  

Kriteria Hakiki Loyalitas kepada Agama

Jika demikian, seorang mukmin pemilik salabatud diniyah tidak boleh melakukan kesalahan semisal hanya menggunakan perasaannya saja, tanpa diimbangi pertimbangan lain seperti akal dan logika, lalu menyampaikan pesannya dengan teriakan–teriakan.  Metode seperti ini hanya akan memicu kebencian dari lawan bicara serta menambah resistensinya kepada agama. Kebencian dan resistensinya tersebut perlahan menumpuk di dalam dirinya, bahkan bisa berubah menjadi permusuhan dan agresi. Agar jalan bagi reaksi-reaksi negatif serta komplikasinya tidak terbuka, maka kita harus mengambil asas gerakan positif, memegang teguh nilai-nilai suci agama kita, berkonsentrasi padanya, memposisikan diri sebagai petugas pengundang agar lawan bicaranya berkenan melirik nilai–nilai mulia agamanya, dan di waktu yang sama, ia harus berupaya untuk menampilkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk yang paling indah dengan bahasa sikap dan kalbu. Pada masa dimana ilmu pengetahuan, mantik, dan logika berada di garda terdepan serta pada zaman dimana penaklukan peradaban diwujudkan dengan jalan persuasif, seorang manusia yang religius serta memiliki salabatud diniyyah harus mengetahui dengan baik nilai–nilai suci dalam agamanya. Ia harus mempelajarinya dengan baik serta mempraktikkan dalam kehidupan sehari–hari sampai nilai–nilai tersebut menjadi sifat tabiatnya. Jika usaha ini mengharuskan seseorang untuk membaca seratus judul buku, maka seseorang yang ingin berkhidmat kepada agamanya harus mendedikasikan 2–3 tahun dari umur kehidupannya untuk mempelajari serta memahami isi dari buku–buku tersebut. Jika diperlukan, buat ringkasannya, lakukan analisis atasnya, dan praktikkan hasil temuan Anda dari buku–buku tersebut. Selain itu, jangan lupa dimensi maknawiyahnya. Dengan keteguhan serta konsistensi tinggi, dirikanlah salat tahajud dan hajat selama empat puluh tahun. Panjatkanlah doa dalam sujud–sujudnya: “Ya Allah, hanya kepada-Mulah aku berserah diri! Kumohon lembutkanlah hati orang-orang ini untuk beriman!”

Jika untuk mempelajari nilai–nilai suci dan meresapinya sebagai sifat tabiat membutuhkan usaha yang demikian keras, maka sesuai dengan kriteria itulah Anda harus membaca dan mendedikasikan diri. Di waktu yang sama, gentingnya persoalan ini tidak hanya membutuhkan usaha perseorangan. Jadi ia tidak cukup disiapkan dengan usaha membaca perseorangan saja. Anda harus mengundang teman–teman Anda untuk bermusyawarah dan berdiskusi dengannya terkait persoalan ini, serta mengevaluasinya bersama–sama. Anda akan terjun ke lapangan dakwah berbekal motivasi dan kekuatan maknawi yang dihasilkan lewat diskusi bersama dan proses tukar pikiran tersebut. Tidak cukup sampai di situ, Anda juga harus memelihara hubungan Anda dengan Sang Pencipta serta senantiasa berusaha menjadi hamba-Nya yang baik demi diraihnya inayat Ilahi. Dengannya, Allah Subhanahu wa ta’ala  akan mendukung usaha–usaha yang tulus serta akan memberi pengaruh pada tutur kata Anda, sehingga setiap kata yang keluar akan meniupkan semangat kebangkitan serta membangunkan motivasi diri di hati para pendengarnya. Seperti yang dapat dilihat, persoalan yang ada tidak diselesaikan dengan emosi–perasaan– belaka. Ia harus diselesaikan dengan mantik logika serta pemikiran yang mendalam. Bukankah ini jalannya Nabi Muhammad SAW? Beliau dalam kurun waktu 23 tahun menyajikan  pesan-pesannya dalam bentuk yang dapat diterima oleh lawan bicaranya. Beliau senantiasa bergerak dengan akal dan logika dari Al Quran. Beliau menyampaikan wahyu Ilahi ke setiap hati pendengarnya tanpa perlu membangkitkan reaksi negatif dari orang–orang yang menerima pesannya.

Khususnya di zaman ini, tanpa mengikuti kaidah mantik dan logika, tanpa kerangka dari kitabullah, kita tidak bisa menjelaskan sesuatu ataupun menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan menggunakan kekerasan, kekuasaan, dan perilaku kasar. Ya, jika Anda bertekad untuk melakukan pengabdian kepada agama dan bangsa walau ia harus mengorbankan kehidupan Anda, maka Anda harus dilengkapi dengan pemikiran dan spiritualitas yang luhur. Anda harus memiliki hubungan yang kuat dengan Allah  Subhanahu wa ta’ala, keprihatinan, dan kepedulian yang tinggi atas segala permasalahan umat. Perkara representasi Islam yang semakin langka di permukaan bumi telah menjadikannya sebagai masalah bagi seluruh umat Islam. Hal yang demikian tentunya tidak bisa ditangani secara individu. Seringkali laku individu berujung pada kesalahan fatal yang aibnya harus ditanggung oleh seluruh umat Islam di seantero dunia. Misalnya, seseorang menduga bom bunuh diri adalah jalan untuk membela Islam. Sayangnya apa yang diperbuatnya itu telah mencoreng wajah Islam. Hal tersebut membuat masyarakat Islam di berbagai penjuru dunia pun akhirnya kesulitan untuk menjelaskan keagungan dan keluhuran agama Islam yang sebenarnya. Apa yang mereka lakukan telah membuat masyarakat dunia berpersepsi negatif kepada kaum muslimin lainnya: “Pelaku bom bunuh diri itu mengaku sebagai muslim. Gaya pakaiannya pun menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslim.” Agama yang merupakan representasi dari kebenaran, keadilan, dan rahmat pun mendapatkan stigma negatif dari masyarakat dunia. Kesalahan yang akibatnya harus ditanggung oleh semua umat muslim ini bersumber dari tidak dipahaminya semangat agama, tidak dianalisisnya definisi dari siratalmustakim, ditinggalkannya mantik dan logika Al Quran serta didahulukannya emosi dan perasaan. 

Dinamisme Emosi Jiwa yang Diperbaiki dengan Akal dan Logika

Dari apa yang saya katakan ini, janganlah dipahami bahwasanya saya sedang mendorong Anda untuk meminggirkan emosi dan perasaan. Perasaan tentu saja merupakan sebuah faktor yang sangat penting untuk menjelaskan dan membela agama Islam. Seorang manusia, harus sangat bersemangat ketika menjelaskan nilai–nilai yang diyakininya kepada orang lain. Jika terdapat musibah yang akan menimpa agamanya, ia harus gemetar seakan dirinya yang akan menemui ajal. Namun di waktu yang sama, ia harus senantiasa menjaga keseimbangan motivasinya dengan akal dan logika. Ia juga harus mengetahui bagaimana cara terbaik untuk menyalurkan motivasinya tersebut dengan benar.

Izinkan saya menjelaskannya dengan sebuah contoh: Bayangkan terdapat sebuah pemukiman di tepi puncak gunung yang tinggi. Di musim dingin, salju lebat menutupi puncak gunung tersebut. Saat musim semi datang, salju yang mencair menciptakan potensi banjir dahsyat yang dapat menyapu bersih seluruh pemukiman. Secara logika, hal yang harus dikerjakan dengan segera adalah membuat bendungan. Bendungan tersebut nantinya menampung salju yang mencair. Setelah itu, saluran irigasi juga harus dibangun untuk mengalirkan air di bendungan ke wilayah–wilayah yang membutuhkannya. Seperti halnya masyarakat di pemukiman tersebut yang sangat bergairah membangun bendungan demi menyelamatkan pemukimannya dari banjir, seorang mukmin juga harus memiliki gairah yang sama untuk menyelamatkan agamanya. Jika ada sesuatu yang mengancam agamanya, ia harus diselimuti rasa khawatir yang amat sangat. Rasa kantuknya akan segera hilang. Ia akan segera bangkit dari ranjangnya dan jalan mondar–mandir di koridor seperti orang gila. Ia tidak akan melakukan laku sia–sia seperti berteriak tanpa gerak. Demikianlah, ia akan berusaha melakukan hal yang harusnya dilakukan, yakni solusi logis dan masuk akal, untuk mengatasi masalah tersebut. Ia akan mengubah gairahnya yang membara menjadi aksi dan gerakan positif. Akan tetapi, saat melakukannya ia sama sekali tidak diperbolehkan melakukan gerak secara individu, hanya berdasar pada perasaan belaka, serta tanpa pemikiran yang matang.

Meskipun emosi dan semangat merupakan rasa yang layak dipuji, ia tetap harus diletakkan di bawah kendali akal dan logika sehingga manfaatnya dapat dimaksimalkan. Segala peristiwa yang menimpa dunia Islam dewasa ini atau bahkan segala peristiwa yang menimpa kemanusiaan dewasa ini seharusnya sudah cukup membuat kita gemetar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki serta membuat kita sangat bergairah untuk segera memberikan kontribusi. Akan tetapi, jika seseorang bergerak hanya sebatas karena faktor emosional belaka, maka orang–orang di sekitarnya akan terancam terkena dampak turbulensi dari gerakannya. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya justru bisa jadi antipati dan membencinya. Lebih buruk lagi, gerakannya tersebut dapat memancing orang–orang di sekitar untuk memusuhi bahkan menyerangnya. Ya, jika perasaan dan emosi jiwa tidak diselaraskan dengan pertimbangan akal dan logika; jika ia tidak disalurkan melalui kanal yang telah dievaluasi keamanannya oleh akal dan logika; perasaan dan emosi tersebut akan berubah banjir bandang yang siap menyapu bersih apa yang dilewatinya. Bukannya memberi manfaat, ia justru akan mendatangkan mara bahaya yang teramat besar bagi lingkungan sekitarnya.

Dari sini, tidaklah mungkin bagi kita untuk melupakan respon hebat yang ditunjukkan oleh Ustaz Said Nursi. Seperti yang Anda ketahui, beliau adalah sosok manusia yang penuh semangat dan bermotivasi tinggi. Bisa dikatakan pada masa itu sudah tidak tersisa lagi orang dengan semangat dan motivasi yang setara frekuensinya dengan beliau. Di waktu yang sama, juga tidak ada orang yang mampu bergerak seseimbang dirinya. Ya, walaupun seluruh umur kehidupannya dipersembahkan untuk kemajuan bangsanya sehingga harusnya ia layak untuk dimuliakan dan diapresiasi perjuangannya, ia malah menghabiskan sisa umur kehidupannya di penjara, tepatnya saat umur beliau di kisaran 75–80an tahun. Walau perlakuan seperti ini yang diterimanya, beliau tidak pernah bertindak gegabah dan emosional. Sosok agung ini selain tahu kapan harus mengerem dirinya, beliau juga mengetahui bagaimana cara mengerem orang–orang di sekitarnya. Padahal di sekitarnya berjajar sosok–sosok pemberani nan gagah berani yang siap membela dan melindunginya. Ustaz Said Nursi mengetahui dengan baik bahwasanya bergerak secara perseorangan dan reaktif tidak akan menuai hasil yang baik. Sebaliknya, beliau mengarahkan potensi emosi dan semangat ini dengan mantik dan logika Al Quran serta menstimulasinya ke berbagai saluran. Semua perkembangan dan kemajuan pada hari ini di bidang ilmu pengetahuan dan agama tak mungkin dilepaskan dari strategi–strategi yang dikembangkannya di masa itu.

Pada akhirnya dapat kita katakan bahwasanya emosi jiwa dan semangat merupakan dinamika yang sangat penting untuk menyampaikan pesan–pesan agama ke setiap relung jiwa serta melindungi nyalanya agar tak padam. Akan tetapi, dinamika tersebut harus dimodifikasi dengan ilmu pengetahuan, akal salim, mantik, pemikiran yang mendalam, musyawarah untuk mencapai mufakat, serta keputusan kolektif. Lewat modifikasi ia diubah menjadi bentuk yang paling efektif dan efisien sehingga bisa memberikan manfaat maksimal.

[1] Tirmizi Kitab Ilm 16, Abu Dawud Kitab sunnah 5, Ibnu Majah Kitab Mukaddimah 6