beautiful-rare-black-dragon-hybrid-rose-red-white

Berdedikasi dalam Tugas

Bagaimana Menjadi Seorang yang Berdedikasi dalam Berkhidmah?

Zubeyr Gundüzalp, seorang murid langsung Ustaz Badiuzzaman menulis surat kepada Nazim Gokcek yang tinggal di Gaziantep, yang juga seorang murid Risale-i Nur (“Risalah Cahaya,” berisi komentar Bediuzzaman Said Nursi tentang Al-Qur’an setebal 6000 halaman) menjelaskan kualitas seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk melayani Al-Qur’an:

Karena Anda sudah menyampaikan kepada kami bahwa Anda siap menerima semua cobaan dan kesulitan atas nama Allah, Anda telah memberi kami dorongan dan semangat, oleh karena itu bacalah baik-baik.

  • Tugas Anda adalah memetik mawar di antara duri-duri. Walaupun kaki Anda tergores dan tertusuk, tangan Andapun akan kemasukan duri. Namun, hal ini tetap akan membuat Anda senang.
  • Anda akan memasukkan orang-orang seperti Nabi Musa ke dalam barisan Anda, orang-orang yang dibesarkan di istana para firaun. Karena hal ini Anda akan dipukuli. Mereka akan memenjarakan Anda karena berbicara, tetapi ini akan membuat Anda senang.
  • Jika mereka melemparkan Anda ke ruang bawah tanah yang gelap, Anda akan mengeluarkan cahaya; jika Anda menemukan jiwa yang berkarat, Anda akan melumasinya; jika Anda melihat hati yang tidak beriman, Anda akan memberikan cahaya Ilahi kepada mereka. Apa yang Anda berikan akan dianggap melanggar hukum, Anda akan dihukum karena pemikiran dan ucapan Anda yang akan mengirim ke penjara, namun Anda akan berterima kasih kepada Allah untuk ini.
  • Anda akan terpisah dari ibu, keluarga, dan orang-orang terkasih Anda. Namun Anda akan memegang teguh Al-Qur’an dengan hati Anda. Dari setetes air, Anda akan menjadi lautan dan dari hembusan udara Anda akan menjadi angin topan.
  • Jika Anda terjebak dalam badai kebohongan, berita jahat dan fitnah, Anda tidak akan menanggapinya dengan emosi. Jika mereka membangun penghalang baja di depan Anda, maka Anda akan mengunyahnya dengan gigi Anda. Jika Anda harus melewati gunung, Anda akan menggalinya bahkan dengan jarum.

Tidak ada Kewajiban yang Lebih Besar dari Melayani Agama

Di dunia ini tidak ada tugas yang lebih besar dari melayani agama Allah. Karena jika ada kewajiban seperti itu, maka Allah akan menganugerahkannya kepada para Nabi-Nya. Misi mengajak kepada hidayah adalah kehormatan terbesar yang diberikan kepada para Nabi dan tugas yang paling dihargai di sisi Allah. Kehormatan itu seperti matahari terbit untuk menyampaikan pesan Allah kepada orang-orang agar mereka dapat menyucikan diri dan kembali ke intisari mereka. Sejak zaman Nabi Adam, setiap manusia yang telah menerima undangan ini dan memiliki tanggung jawab, dalam arti tertentu dapat dianggap sebagai mereka yang duduk di meja yang sama dengan para Nabi.

Untuk itu, seorang mukmin harus mengabdi pada agamanya dengan rasa tanggung jawab dan penuh kepercayaan. Berkenaan dengan masalah ini, mari kita simak kisah berikut yang terjadi pada masa kekhalifahan Utsmaniyah. Suatu hari, Hüsrev Efendi, salah seorang ulama Utsmaniyah, sedang menjelaskan suatu topik kepada murid-muridnya. Murid-muridnya memperhatikan rasa keengganan dalam sikap cendekiawan itu. Mereka bertanya: “Guru, Anda tampak agak tidak bersemangat hari ini.”

Hüsrev Efendi menjawab: “Maafkan saya, sebenarnya saya tidak ingin menunjukkan sikap ini, tetapi hari ini sebelum saya meninggalkan rumah, putri saya meninggal. Saat aku memikirkan pengaturan pemakaman, aku ingat bahwa aku ada kelas hari ini. Kemudian saya berkata pada diri sendiri, “Apa yang akan Allah katakan kepada saya jika saya mengabaikan murid-murid saya? Di sisi lain, tubuh putri saya terbaring di rumah. Karena itulah pikiranku terus berbolak-balik.”

Ini adalah potret guru yang mewakili kafilah keabadian dan jika kehidupan dibentuk di tangan para guru seperti itu, umat manusia akan bersatu kembali dengan kecukupan.

Mari kita juga berikan contoh dari waktu sekarang: Suatu hari, kepala sekolah melihat seorang anak jatuh dari jendela yang terbuka. Siswa itu jatuh dari lantai tinggi di sekolah tersebut. Dalam kepanikan, kepala sekolah bergegas keluar dari kantornya dan berlari menuruni tangga. Saat dia berlari ke arah anak itu, dia terus berpikir, “Apa yang akan saya katakan kepada keluarganya? Bagaimana jika insiden ini memengaruhi layanan kami dan orang-orang akan menarik anak-anak mereka dari kami? Ya Allah! Kejadian ini tentu akan merugikan layanan pendidikan kita!”

Saat kepala sekolah mendekati anak yang terbaring di tanah, dia mengucapkan kata-kata, “Alhamdulillah; itu adalah anak saya. Tidak akan ada masalah yang datang untuk pelayanan kami.”1

Jelas tidak ada perbedaan antara Hüsrev Efendi dan kepala sekolah heroik muda ini. Orang-orang yang telah menangkap cakrawala kebajikan yang sama bersatu di jalur yang sama. Ini adalah indikasi penemuan kembali matahari yang pernah hilang.

Benarkah Kita Sudah Melakukan Tugas Kita?

Nabi kita yang mulia sadar akan tanggung jawabnya. Dia memiliki kemauan yang tak tergoyahkan dan sarafnya terbuat dari baja. Dia telah mengalami segala bentuk kesulitan di Mekah namun hal itu tidak membuatnya patah semangat sedikitpun. Istri dan pamannya telah meninggal satu demi satu namun dia tidak kehilangan harapan meskipun mereka adalah pendukung terbesarnya dalam hidup.

Ia diberi tugas menjadi pembimbing bagi umat manusia. Dia harus menjelaskan Allah kepada umatnya, satu per satu. Ini adalah tugas yang sulit namun Rasulullah telah melakukan ini tanpa ragu-ragu. Akibatnya, ia berhasil masuk ke dalam hati manusia.

Bahkan ketika dia masih kecil, dia akan mengulangi kata-kata, “Umatku … umatku!” Seolah-olah dia telah memprogram dirinya sendiri untuk tugas yang terbentang di depan. Penampilannya yang penuh perhatian pada Hari Pembalasan, berdiri di dua sisi, adalah perpanjangan dari tanggung jawab mulia ini. Bagaimanapun, siapa yang bisa memiliki daya tahan untuk mengambil tanggung jawab seperti itu selain dia? Seolah-olah dia telah mengambil tanggung jawab seluruh umat manusia dari manusia pertama hingga terakhir.

Dia menjalani hidupnya dengan cara yang sama, dengan kepekaan dan disiplin, dari hari dia memulai tugasnya sampai hari dia meninggal. Sikap yang dia miliki ketika mereka adalah kelompok kecil yang terdiri dari satu pria, satu wanita, satu anak dan seorang budak… adalah sikap yang sama ketika dia berbicara kepada kerumunan seratus ribu pengikut selama haji Wada/Haji terakhir Rasulullah.

Saat ia menyampaikan khotbah perpisahannya, umat Islam berkumpul untuk mendengarkannya. Suaranya yang suci menyebar dalam gelombang spiral yang bersinar, mencapai semua telinga dan akan terus bergema sampai Hari Penghakiman. Bagi mereka yang tidak hadir, dia akan berkata, “Bagi Anda yang di sini, sampaikan ini kepada mereka yang tidak hadir.” Nabi yang mulia bersiap untuk pergi maka dia mengucapkan kata-kata terakhirnya:

“Wahai orang-orang! Aku datang kepadamu dengan sebuah misi. Aku telah menjelaskan beberapa hal kepada Anda. Besok, di hadapan yang agung, mereka akan bertanya kepada Anda apakah saya telah menyelesaikan misi saya atau belum. Bagaimana Anda akan bersaksi tentang ini?”

Memang, dia adalah seorang Rasul yang telah menyelesaikan misinya. Dia adalah orang yang disucikan sehingga bagi Allah, bahkan pembagian seikat rambut di sisi wajahnya merupakan kejadian penting dibandingkan dengan peristiwa yang terjadi di alam semesta. Rasulullah berbeda. Dia diampuni untuk semua yang terjadi di masa lalu dan semua yang akan terjadi di masa depan. Namun, dia masih memiliki kekhawatiran. Meskipun, dia telah menyelesaikan misinya dengan sukses, akankah orang-orangnya setuju untuk bersaksi tentang ini? Tiba-tiba, Gunung Arafat dan Muzdalifa mulai bergetar dengan teriakan. Jeritan ini datang dari lubuk hati yang terdalam:

“Anda telah memenuhi misi Anda! Anda telah membimbing kami sebagai Rasul yang mulia! Anda meninggalkan kami sebagai orang yang telah menyelesaikan tugas!” Setelah mendengar ini, Nabi yang mulia mengangkat jari telunjuknya ke langit dan berseru: “Jadilah saksiku ya Allah! Jadilah saksiku ya Allah! Jadilah saksiku ya Allah!”2

Apa yang dimaksud Rasulullah dengan ini? Tergantung pada status dan pangkat mereka, setiap orang memiliki tanggung jawab dan tugas tertentu. Yang mulia telah menyelesaikan tugasnya dengan sukses besar. Bagaimana dengan kita? Apakah kita menjalankan tugas kita di zaman sekarang ini? Ini adalah pertanyaan yang masing-masing dan kita semua harus tanyakan pada diri kita sendiri. Kita tidak bisa menjadi pengamat di depan api yang berkobar ini. Kita semua harus mengambil ember dan bergegas untuk memadamkannya.

  1. Akar, Mehmet, Mesel Ufku, Istanbul: Timas, 2008, p.49
  2. Sunan ibn Majah, Manasik, 84; Sunan Abu Dawud, Manasik, 57

natasya-chen-86rFYHziFi4-unsplash

Untukmu, Jiwa-Jiwa yang Kami Nantikan!

Kami sudah sering mendengar, melihat, serta melalui berbagai macam peristiwa, namun entah mengapa kami tidak bisa menyingkirkan keresahan dan gagal menemukan hakikat kedamaian di dalam jiwa.  Kami tidak pernah merasa puas dalam mencari kedamaian hati; mengingat memang kebutuhan hati kami dan obat pelipur lara yang dunia tawarkan sungguh berbeda.

Kami sedang mengharap akan kehadiran seorang teman yang bersedia mengulurkan tangan kepada kami yang menyimpang dan bermaksiat, yang menangis bersama dengan hati yang remuk, yang gelisah gundah melihat kemungkaran. Kami mengharapkan seseorang teman dengan tutur katanya yang lemah lembut, semangatnya yang hidup, dan dakwahnya yang sungguh-sungguh.

Bertahun-tahun lamanya, kami menunggu seorang yang menawarkan obat pelipur lara atas penyakit yang kami derita. Kepadanya kami dapat menyampaikan isi lubuk hati terdalam dengan sejujurnya. Seseorang dengan iman dan kesuciannya bagaikan gunung yang kokoh menjulang. Dalam kelaparan, penyakit, dan ketakutan yang melanda kami terus-menerus, dalam penderitaan terpedih melahap jiwa dan mengikis impian kami, kami merasa setiap hembusan napas teman ini menghidupkan jiwa kami dengan harapan dan impiannya.

Seandainya saja kami dapat memahami petunjuk yang telah Tuhan sampaikan selama ini, seandainya kami percaya akan itu semua. Akan banyak kekosongan yang sudah terisi. Banyak masalah pasti sudah terselesaikan. Namun, ribuan kali kami berkumpul bersama, saling mengisi dengan harapan, menjejakkan langkah untuk memulai kehidupan baru, atau mungkin ribuan kali juga kami melanggar sumpah, lantaran kami tidak dapat menemukan hakikat apa yang kami cari dan tidak bisa mengerti hakikat dari apa-apa yang kami dapatkan.

Kalbu kami sangat haus akan kasih sayang dan cinta, terus mengharap kebajikan dari kemanusiaan. Sayang sekali! Jiwa kami malah dituntun menuju kesengsaraan. Mereka mencoba membenamkan hati kami ke dalam lautan kekejian. Kami sedang diperdaya, menderita kesedihan tanpa akhir. Dalam setiap keadaan tertindas, tercela, dan sengsara, kami terus-menerus dilecehkan dan menjadi korban ketamakan.

Inilah alasan mengapa kami tidak percaya kepada seorangpun dan tidak membuka hati kepada siapapun.

“Tatkala kita menginginkan seorang wanita cantik yang sedang memetik mawar, kita juga berharap ia memiliki pipi indah merah merona ; tatkala kita menginginkan sang penakluk Khaibar (Ali bin Abi Talib) , kita juga menginginkan pelayan kerajaan Kambar.” ( Muhammad Lutfi ).

Kami mungkin akan menemukannya, atau tidak, tetapi setelah dirundung oleh banyak masalah, yang kami inginkan sekarang adalah kemurnian, ketulusan, dan dedikasi di jalan “pecinta buta” ini. Setelah kami mengalami terlalu banyak pengabaian, bahkan pengkhianatan, akan tampak naif bila kami katakan bahwa kami merangkul orang lain dengan toleransi dan tanpa keraguan terhadapnya. Terlepas dari semua iktikad baik dan rasa toleransi kami, kami tetap saja tidak mampu untuk melenyapkan keraguan dan menghilangkan atmosfer ketidakpercayaan kepada orang lain.

Membuat kami mempercayai seseorang dan menyingkirkan keraguan dalam benak kami sangat tergantung pada ikhtiar keikhlasan yang terus menerus dari pahlawan kami ini. Berkat ketulusan dan perbuatannya yang meyakinkan, kami mampu melenyapkan segala bentuk prasangka buruk dan ketidakpercayaan yang selama ini kami rasakan. Kami muak dengan kemunafikan, sopan santun, dan keberanian palsu, berpura-pura menjadi pahlawan setelah kemenangan mereka, yang dipenuhi oleh rasa bangga diri.  Alih-alih mensyukuri nikmat, mereka malah berkeinginan kuat untuk merasakan kenikmatan duniawi, hidup dengan penuh ketamakan, dan gila jabatan. Yang kami harapkan dari pahlawan kami ialah ikhtiarnya untuk membawa sumber semangat dari puncak gunung tertinggi, tekad yang kuat, sungguh-sungguh berusaha sendiri guna mencapai kesuksesan, rela mengorbankan jiwa dan raganya demi orang lain, dan berjuang dengan ikhlas tanpa pamrih.

Biarkan pikiran mereka menjadi bersih tak ternoda. Biarkan jalan mereka menjadi lurus tanpa lika-liku. Biarkan mereka memikirkan dan menceritakan tentang hakikat kehidupan. Biarkan mereka untuk tidak menjadi munafik dan tidak memperdaya kami.

Biarkan muncul raut kesedihan dan penderitaan di wajah mereka. Biarkan wajah mereka basah berlinang air mata, dan dada mereka sesak. Biarkan hati nurani mereka menjadi hidup, tidak hitam mati. Biarkan mereka bermuhasabah diri dan berbudi luhur dengan ajaran sufi, tafakur para ulama, dan kedisiplinan dan ketundukan golongan militer. Biarkan mereka mendapatkan derajat kesempurnaan melalui perbuatan terpuji ini.

Biarkanlah mereka menolong orang terdekat kami -yang hati dan pikirannya telah terkoyak, jiwa mereka telah dirampas dari hati nuraninya – menyelamatkan mereka dari depresi yang berlarut-larut, dan semoga mereka dikembalikan ke kondisi semula seperti sedia kala.

Biarkan mereka berpegang pada kebenaran. Tidak beranggapan bahwa pikiran dan penghambaan mereka adalah satu-satunya jalan yang benar. Tidak lalai bahwa jalan menuju Sang Pencipta sangatlah banyak, sebanyak hembusan-hembusan napas ciptaan-Nya.

Biarkan mereka bersemangat menjadi insan terbaik dalam melayani dan mengabdi, namun enggan dalam menerima ganjaran dan keuntungan. Layaknya Si Tua Kato (seseorang yang memperoleh kejayaan tetapi lebih memilih menjadi petani yang sederhana dan rendah hati). Mereka harus menyingkir dari pandangan masyarakatnya setelah terpenuhinya tanggung jawab akan tugasnya dan dengan sabar menunggu tugas selanjutnya.

Para pelopor di jalan yang diridai ini senantiasa menghindari jabatan dunia. Tatkala mereka harus  menduduki suatu posisi otoritas, mereka dengan tulus dan bersikeras mengharap orang lain yang lebih layak untuk menduduki posisi tersebut.

Mereka yang dengan suka rela bekerja untuk kebangkitan umat harus tetap berada dalam jalan ini. Jika tidak, kekacauan yang ditimbulkan akibat ketidakseimbangan antara kedudukan terbatas dengan jumlah orang yang haus kekuasaan akan menjadi tidak terhindarkan dan sulit diatasi. Terutama jika gagasan ini muncul dalam jiwa-jiwa kawula muda yang belum sepenuhnya matang.

Diriku bertanya-tanya apakah kita mampu melihat ketulusan yang luar biasa dari orang-orang yang selama ini diharapkan menjadi pembimbing. Sekali lagi, kita menyampaikan keputusasaan yang kuat, mengharapkan sosok ini. Kita terus memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan lisan seluruh makhluk – ikan di lautan dan rusa di pegunungan – agar kita tidak perlu menunggu lebih lama lagi.

adrian-dascal-6gGSIRRNlJc-unsplash

Kualitas Para Manusia Khidmah

Dalam salah satu artikelnya, Fethullah Gulen merangkum kualitas orang-orang yang mengabdikan diri pada Khidmah (kata yang berasal dari bahasa Arab, digunakan juga dalam bahasa Turki –Hizmet- yang berarti kesukarelaan dan bermanfaat bagi orang lain):

  1. Orang yang berkhidmah harus meneguhkan diri, demi tujuan yang telah mereka percayai dengan hati, bahkan untuk menyeberangi lautan “darah dan nanah”.
  2. Ketika mereka mendapatkah hal yang diinginkan, mereka harus cukup dewasa untuk menghubungkan segala sesuatu dengan Pemiliknya yang Sah, menghormati serta berterima kasih kepada-Nya. Suara dan nafas mereka digunakan memuliakan dan mengagungkan Allah, Pencipta yang Agung. Orang-orang seperti itu sangat menghormati dan menghargai setiap orang, serta menerima apapun Kehendak Allah sehingga mereka tidak mengidolakan orang-orang yang melakukan hal baik sekalipun.
  3. Mereka memahami bahwa mereka bertanggung jawab atas pekerjaan yang tidak terselesaikan, penuh pertimbangan dan berpikiran terbuka kepada semua orang yang mencari bantuan mereka, serta selalu hidup untuk membela kebenaran.
  4. Mereka sangat teguh dan penuh harapan bahkan ketika institusi mereka dibubarkan, rencana mereka gagal, dan pasukan mereka dikalahkan.
  5. Orang-orang yang melayani, bersikap moderat dan toleran ketika mereka mengambil pemahaman baru dan akhirnya bisa melambung ke puncak, dan sangat rasional dan bijaksana sehingga mereka mengakui sebelumnya bahwa jalannya sangat curam. Begitu bersemangat, tekun, dan percaya diri sehingga mereka rela melewati semua lubang neraka yang ditemui di jalan.
  6. Orang yang begitu tulus dan rendah hati sehingga mereka tidak pernah mengingatkan orang lain tentang pencapaian mereka. 1

Itu Tidak Dapat Dicapai tanpa Kesulitan dan Penderitaan

Salah satu kualitas orang beriman yang menganggap melayani agama sebagai tujuan hidupnya adalah kesulitan dan penderitaan. Seperti diketahui, tujuan para nabi adalah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar melalui undangan dan pengawasan. Tidak ada momen dalam hidup mereka di mana misi Ilahi ini tidak terjadi. Kegiatan paling nyata yang diamati dalam kehidupan para Nabi adalah mengingatkan orang-orang tentang iman; merencanakan dan memunculkan strategi untuk memenuhi misi Ilahi ketika mereka sendirian; meminta bantuan dari Allah agar apa yang diusahakan bisa tercapai; berdoa dan memohon keselamatan bagi mereka yang melepaskan diri dari Allah dan mengalami kesulitan dan penderitaan di jalan ini.

Tentu, tidak berbeda dengan Nabi kita. Beliau memiliki perhatian dan kasih sayang yang besar terhadap rakyatnya. Beliau menanggung banyak kesulitan dan segala bentuk penderitaan agar orang lain bisa memeluk Islam. Al-Qur’an menjelaskan situasinya dengan ayat berikut: Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (at-Taubah 9:128).

Sama seperti yang Beliau lakukan di bumi, Nabi kita yang mulia juga akan berusaha menyelamatkan orang-orang beriman di Hari Penghakiman dengan menggunakan hak syafaatnya, dia akan memohon belas kasihan Allah untuk keselamatan mereka yang layak diampuni. Di zaman sekarang ini, seorang Muslim harus peka tentang situasi orang lain, sama seperti Rasulullah, mereka harus berharap agar mereka memiliki iman, mempelajari kebaikan universal dan mengamalkannya sesuai sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan di kedua dunia. Selain itu, berdoa untuk keselamatan mereka dan peduli tentang masa depan mereka adalah jalan kenabian. Untuk alasan ini, setiap jiwa yang telah memiliki tanggung jawab ini telah membiasakan untuk melafalkan doa berikut: “Allahummarham ummata Muhammad“, ya Allah, kasihanilah umat Muhammad, damai dan berkah besertanya.

Sebagaimana dijelaskan di atas, doa ini mencakup sekilas pandangan para nabi yang luhur karena juga membagikan pandangan-pandangan mereka yang bermartabat. Orang-orang yang memiliki cita-cita luhur seperti itu kadang-kadang berkata, “Ya Allah, pada Hari Penghakiman, buatlah tubuhku begitu besar sehingga memenuhi seluruh Neraka, dengan cara ini tidak akan ada celah kosong untuk orang lain!” Ada juga yang mengatakan: “Saya telah mengorbankan dunia saya dan akhirat untuk kepercayaan rakyat saya. Saya bersedia membara di api neraka jika saja saya bisa melihat keselamatan dari iman umat saya. ” Orang-orang seperti itu telah menunjukkan tindakan pengorbanan diri ini dengan terus hidup dalam kerangka pikiran ini.

Mari kita coba memperkuat argumen kita dengan analogi: Suatu ketika, seseorang berpikir dalam hati, “Saya ingin tahu apakah ada orang suci di zaman-zaman ini?”. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Ya ada seseorang. Dia adalah pandai besi di tempat ini dan itu dan namanya Ahmad Efendi. “

Jadi orang ini mencari Ahmad Efendi dan menemukannya. Dari kejauhan dia mengamati gaya hidupnya. Ia ingin melihat kualitas luar biasa apa yang dimiliki Ahmad Efendi. Namun, dia tidak bisa melihat sesuatu yang mencolok tentang dia.

Akhirnya, dia memutuskan untuk mengunjunginya dan menceritakan pengalamannya. Setelah mendengarkan, Ahmad Efendi menjawab: “Seperti yang Anda lihat, saya tidak memiliki kehidupan religius yang intens. Saya tidak terjaga setiap malam dan saya tidak berpuasa setiap hari. Namun, ketika saya meletakkan besi saya di atas api dan berubah menjadi merah, dan siap untuk saya tempa, umat Muhammad, semoga Allah memberikan sholawat dan salam kepadanya, muncul di benak saya. Saya berpikir tentang bagaimana mereka hidup terpisah dari Allah dan ditemani oleh dosa. Ini adalah saat saya berdoa, “Ya Allah, ampunilah Muslim dan kasihanilah mereka. Selamatkan mereka dari situasi yang memalukan ini.” Saya sangat tersesat dalam pikiran ini sehingga kadang-kadang saya mengambil baja dari sisi yang panas dan saya bahkan tidak merasakan panas di tangan saya. Orang satunya menjawab, “Baik, sekarang saya tahu mengapa Anda begitu berharga di sisi Allah.”

Memang, seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk melayani agama harus merasakan kepedihan dan penderitaan mereka yang membutuhkan bimbingan. Setelah kematian Abu Ali Dakkak, seorang hamba Allah yang tercinta, mereka melihatnya dalam mimpi dimana dia menangis dan berharap dia kembali ke bumi. Mereka bertanya mengapa dia menginginkan hal seperti itu dan dia menjawab:

“Saya ingin kembali ke bumi dan mengenakan pakaian bagus saya. Kemudian ambil tongkat saya dan bergegas ke jalan saat saya mengetuk setiap pintu. Saya ingin meneriaki setiap rumah tangga, “Saya harap anda tahu bahwa anda semakin jauh dengan Allah!”

Pikiran untuk menyentuh setiap jiwa dan mengetuk setiap pintu dan berseru, “Beriman kepada Allah dan selamatkan dirimu!” selalu terlintas di pikiran semua Nabi dan orang alim. Sayangnya, manusia tidak menyadari permainan yang mereka mainkan, hal-hal yang mereka lewatkan dan di mana mereka akan berakhir. Seseorang tidak dapat memahami manusia yang tidak berpikir untuk menggunakan kehidupan yang diberikan kepada mereka, sebagai modal untuk mendapatkan kehidupan kekal mereka.

1.Gulen, M. Fethullah, Pearls of Wisdom, New Jersey: Tughra Books, 2012, hal. 103-104

patrick-tomasso-fBpGf_W9hS4-unsplash

Apa yang Harus Diperhatikan Saat Melayani Bangsa dan Agama?

Apa yang harus dimiliki oleh seorang mukmin yang bertanggung jawab, yang jantungnya berdebar-debar dengan niat mulia untuk melayani agama dan bangsa miliknya? Mari kita coba temukan jawaban untuk pertanyaan ini.

Pertama-tama, kita perlu mempelajari agama kita dengan benar. Untuk melakukan ini, kita perlu mempelajari esensi agama dengan belajar dari sumber-sumber yang otentik. Pengetahuan yang dipelajari harus tercermin dalam kehidupan kita. Utamanya, seseorang yang bertanggung jawab harus mempelajari agamanya dalam kerangka keyakinan orang-orang Sunni (Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah) dan mengamalkan apa yang sudah didapatnya.

Penting juga untuk memelihara kesabaran. Seperti halnya dengan, panutan kita dalam menyampaikan kebenaran ke orang lain, Nabi Muhammad, SAW., ketika kita membaca kehidupannya yang bercahaya, kita melihat bahwa beliau memiliki kesabaran yang sangat tinggi.

Sebagaimana yang kita pahami, masalah dan kesulitan besar datang kepada para nabi yang merupakan hamba Allah yang paling terkasih, namun, mereka menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Tidak diragukan lagi, pasti akan ada berbagai macam rintangan di jalan orang-orang beriman yang ingin mengabdi pada agama dan bangsanya. Mereka perlu mengatasi rintangan ini dengan kesabaran yang besar, seperti kesabaran yang kita amati dalam kehidupan Nabi yang mulia.

Utusan Allah mengalami segala jenis penghinaan, saat duri-duri dipasang di jalan yang akan dilaluinya dan cairan menjijikan dituangkan di atas kepalanya ketika beliau khusyuk memanjatkan doa. Namun, terlepas dari semua itu, beliau menunjukkan dedikasinya yang luar biasa, tetap mengetuk, berkunjung ke setiap rumah dan tenda di setiap jalanan di Mekah demi membimbing orang ke jalan yang benar.

Salah satu landasan terpenting dalam dakwah Nabi kita adalah toleransi dan kelembutan. Al-Qur’an menggambarkan pendekatan lembut Nabi kami kepada orang-orang dengan ayat berikut:

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Q.S. Ali Imran 3:159)

Kebajikan adalah kunci terang yang digunakan oleh Nabi kita untuk membuka hati yang ternoda. Dengan kunci ini beliau telah membuka banyak hati. Oleh karena itu, kita juga harus membekali diri dengan prinsip-prinsip berikut ini: “Bersikaplah toleran sehingga hatimu menjadi luas seperti samudra. Terinspirasi oleh iman dan cinta untuk orang lain. Tawarkan bantuan kepada mereka yang kesusahan, dan berikan perhatian ke semua orang. Puji yang baik untuk kebaikan mereka, hargai mereka yang memiliki hati yang teguh, dan bersikap baik kepada orang beriman. Dekati orang-orang kafir dengan sangat lembut terhadap rasa iri dan benci mereka. Membalas kejahatan dengan kebaikan, dan mengabaikan perlakuan tidak sopan. Karakter seseorang tercermin dalam perilakunya. Pilih sikap toleransi, dan murah hati kepada yang tidak sopan. Ciri paling khas dari jiwa yang imannya kuat adalah mencintai semua jenis cinta yang diungkapkan dalam perbuatan, dan memusuhi semua jenis permusuhan di mana kebencian diumbar. Membenci segala sesuatu adalah tanda kegilaan atau tergila-gila pada Setan. “*

Hal lain yang paling penting: Kita mengamati bahwa dalam menjelaskan Islam, Nabi yang mulia lebih memilih menggunakan metode selangkah demi selangkah. Jika Kita menempatkan beban seberat lima puluh kilogram pada seseorang yang kemampuannya dibatasi hingga dua puluh kilogram, Kita kemungkinan besar akan menyebabkan orang tersebut cedera. Rasulullah memperlakukan orang sesuai dengan tingkat dan kemampuan mereka, menjelaskan realitas agama tidak sekaligus tetapi dalam dosis yang disesuaikan dengan cinta dan perhatian, maka inilah cara beliau memungkinkan iman dan kebaikan masuk ke dalam hati mereka.

Kita juga harus menggarisbawahi hal berikut: Seorang mukmin harus berusaha sebisa mungkin, menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Allah. Dalam merasakan keberhasilan, seseorang seharusnya tidak pernah merasa bangga dan sombong. Sebaliknya, seseorang harus selalu memiliki pemikiran bahwa Allahlah yang memberikan segalanya dan tidak ada yang dapat dicapai tanpa pertolongan-Nya.

Pada akhirnya, seseorang harus selalu menjaga semangat pelayanannya; di samping Sholat Harian, harus ada Tahajud, Nafilah, Awwabin, Tasbihat dan juga Jawshan. Hal-hal tersebut tidak boleh diabaikan. Kehidupan sehari-hari mukmin harus dibangun di atas ketaqwaan dan zuhud.

*Gulen, M. Fatullah, Pearls of Wisdom, New Jersey: Tughra Books, 2012, hal. 103-104.

denis-agati-QmIZnMoe5FI-unsplash

Tentang Kesetiaan dan Ketaatan

Apa itu kesetiaan dan ketaatan?

Sebagai seorang Muslim yang ideal, kesetiaan sangat berkaitan dengan menaati janji-janji, memberikan segala kemampuan kita dengan baik dan benar, serta menunjukkan rasa hormat kita pada agama guna memperoleh rahmatNya. Sedangkan ketaatan berkaitan dengan bagaimana menjadi pribadi yang benar dalam segala aspek, termasuk jujur dan bisa dipercaya.

Menjaga kesetiaan dan ketaatan termasuk salah satu cara bagi kita sebagai umat Muslim untuk mendapatkan nilai luhur di mata Allah SWT. Menjadi seorang yang setia dan taat merupakan sebuah tugas mulia bagi Muslim yang ideal. Setiap individu Muslim masing-masing mempunyai level dan kemampuan untuk setia dan taat. Dengan itu, generasi mendatang membutuhkan bimbingan dari Muslim dengan level kesetiaan dan ketaatan yang tinggi.

Siapa saja yang disebut teman sejati?

Setiap manusia mempunyai tiga teman yang penting bagi dirinya. Dari ketiga teman tersebut, salah satunya merupakan teman sejati, sedangkan dua di antaranya merupakan teman yang fana. Ketiga teman manusia itu ialah harta, keluarga, dan amal baiknya.

Setelah kematian datang, salah satu teman manusia yang bernama harta tidak akan ikut mengantarkannya ke liang lahat. Semua akan ditinggalkan tanpa peduli lagi dengan apa yang akan terjadi pada pemiliknya. Sedangkan salah satu temannya lagi yang bernama keluarga, akan menemaninya hanya sampai ke liang lahat, lalu meninggalkannya. Mungkin saja mereka sedih, ataupun menangis, tetapi kesetiaan itu tidak dapat ditunjukkan hanya dengan itu. Teman yang benar-benar setia ialah amal baik manusia itu. Amal baik akan menemani manusia itu selama ia dalam kubur. Bahkan, ketika amal buruk menyiksanya di dalam kubur, amal baiklah yang akan membantunya menghadapi siksaan tersebut.

Untuk apa, siapa, dan bagaimana kita setia dan taat?

Berikut ialah rangkuman untuk apa dan siapa kita harus setia dan taat, serta bagaimana melakukannya.

  1. Setia dan taat kepada Allah SWT.
    Menjadi setia dan taat kepada Allah hanya dapat ditempuh dengan cara menjadi hamba yang sesempurna-sempurnanya. Yaitu hamba yang berpegang teguh pada Alquran sebagai firman Allah serta hadist Nabi SAW.
  1. Setia dan taat kepada Nabi dan Rasul Allah.
    Menjadi setia dan taat pada Nabi dan Rasul dapat ditempuh melalui perbuatan taat dengan apa saja yang mereka sampaikan berupa wahyu Allah.
  1. Setia dan taat kepada Alquran.
    Membaca, mengamalkan, serta meyakini bahwa kitab suci inilah yang menjadi penuntun hidup kita merupakan cara yang tepat untuk menunjukkan sifat taat kita. Ketiga aspek itu harus dijalankan secara berbarengan, guna terserapnya segala bentuk wahyu yang ada di dalamnya.
  1. Setia dan taat kepada agama.
    Karena Islam merupakan rahmat atau hadiah terbesar dari Allah untuk umat manusia, maka dengan taat kepada Islam akan menuntun kita kepada rahmat-rahmatNya yang lain.
  1. Setia dan taat kepada ulama.
    Kesetiaan dan ketaatan kita kepada para ulama dapat kita tunjukkan melalui penghormatan pada nama-namanya, serta mengambil pelbagai pelajaran yang disebarkan.
  1. Setia dan taat kepada orang tua.
    Orang tua yang menuntun kita kepada iman juga merupakan salah satu yang perlu kita taati. Dengan usaha mereka, kita dapat mengenal bahkan mempraktekkan tuntunan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
kelvin-yan-fG0LRiUifNI-unsplash

Dimana Sajakah Dirimu Selama ini?

Seorang lelaki khidmah bercerita,

            Saat itu, di Turki, tahun 1994. Saya terlambat datang ke pengajian bincang santai yang juga dihadiri teman-teman saya. Akhirnya, saya meminta maaf kepada mereka seraya menjelaskan alasannya. Saya terlambat karena harus mengunjungi salah seorang teman yang sedang dirundung duka. Seseorang yang disayanginya meninggal dunia. Kejadiannya cukup menarik meskipun akhirnya ada yang meninggal dunia.  Sesaat sebelum wafatnya, almarhum menerima empat panggilan telepon dari putra, putri, dan menantunya. Awalnya almarhum terkejut, karena keempat panggilan tersebut terjadi berurutan. Beliau selalu menjawab, “Saya baik-baik saja.”. Lantas satu gagasan terbesit di pikirannya, “Ada yang aneh ini…” Beberapa menit kemudian, beliau meninggal dunia dengan posisi sedang duduk di sofa. Keseluruhan kejadian tadi hanya berlangsung sekitar setengah jam.

            Saat saya menceritakan cerita tadi sambil kami minum teh, seorang  pemuda tiba-tiba menyahut, “Izinkan saya menceritakan kejadian yang serupa yang saya alami, Pak.”

            Ia melanjutkan,

            “Suasana harmonis pertemanan dan percakapan di bincang santai ini begitu berkesan untuk saya. Memang kita baru saja bertemu. Namun, entah mengapa terngiang dalam pikiran saya sebuah pertanyaan, “Mengapa diri saya tidak berjumpa dengan orang-orang seperti di bincang santai seperti ini sebelumnya?” Izinkanlah saya, yang hanya memiliki satu lengan ini menceritakan kejadian yang serupa dan hal-hal menarik yang terjadi kepada saya beberapa waktu silam.

            Kejadian ini terjadi tepat ketika saya bersama tunangan saya Ipek, kami hendak menikah sepuluh hari lagi waktu itu. Saat itu, saya menjemputnya dari rumahnya, kemudian pergi ke kafe malam. Kemudian, kedua temanku yang namanya sama, Murat, juga datang bersama kekasihnya. Jujur, waktu itu saya tidak menduga kedatangan mereka. Oleh sebab itu, saya bertanya  apa yang mereka lakukan di kafe malam itu. Dengan arogan mereka tertawa dan berteriak keras, “Kami ke sini untuk mati!”. Dengan kencang kami pun mengatakan hal yang sama. Kami pun tertawa dengan penuh senda gurau.

            Setelah puas tertawa, salah satu kawan kami lagi, si Hakan datang bersama dua wanita lain. Sepengetahuan saya, ia tidak akan datang ke sini, saya tidak menduga kedatangannya. Oleh karena itu, saya menanyainya hal yang sama seperti sebelumnya, “Apa yang kamu lakukan di sini?” Meskipun ia tidak mendengar jawaban Murat sebelumnya, namun ia menjawab dengan lantang, “Aku ke sini untuk mati!” Sungguh mengejutkan. Apakah hal ini merupakan suatu kebetulan?  Kami tidak terlalu mempedulikannya, kami terus minum dan tertawa riang. Dirasa sudah puas, kami akhirnya keluar dari kafe malam itu. Saya berikan kunci mobil saya ke Hakan dan memilih menumpang mobilnya Murat. Saya melihat Ipek nampak sedikit aneh. Saya ingin duduk di belakang di antara Ipek dan satu wanita lain. Namun, bagaimanapun saya memaksa Ipek, ia tetap tidak mau menurut. Ia menyuruhku duduk di kursi tengah, belakang sopir persis. Sementara di kursi depan, duduk Murat yang sedang mengendarai mobil bersama kekasihnya.

            Kami pun pergi meninggalkan kafe malam. Sesaat kemudian, kami mengalami kecelakaan yang sungguh tragis. Murat, Ipek, dan wanita di sebelahku meninggal ditempat. Sementara diri saya mengalami koma. Wanita di kursi depan selamat tanpa terluka. Dia membuka pintu mobil dan keluar tanpa menoleh ke belakang.

             Ketika satuan polisi tiba di tempat kecelakaan, dikiranya semua orang yang ada di dalam mobil meninggal dunia. Oleh karena itu, kami dibawa langsung ke kamar mayat di rumah sakit terdekat. Kemudian saat para dokter masuk akan mengidentifikasi tubuh kami, salah satu dari mereka sadar bahwa saya masih hidup. Nampak, saat itu saya masih bergerak dan menjerit tatkala pintu kamar mayat dibuka. Kejadian itu cukup menyebabkan salah satu petugas disana sangat terkejut hingga mengalami gangguan psikis sampai harus menjalani terapi selama beberapa bulan.

            Satu lengan saya harus diamputasi. Proses penyembuhannya memakan waktu beberapa bulan, baik itu di dalam negeri dan di luar negeri. Kemudian, saya baru tahu jika Hakan dan yang lainnya juga terlibat dalam kecelakaan beruntun itu.  Mereka semua meninggal kecuali seorang perempuan (kekasih Murat) dan diri saya.”

            Selama Murat (yang berlengan satu) menceritakan kejadian tadi, kami semua tak sempat menghela nafas dan mendengar ceritanya dengan penuh perhatian. Dia kemudian melanjutkan ceritanya;

            “Beberapa bulan setelah kejadian itu, saya memahami sesuatu yang luar biasa. Temanku Murat (yang meninggal dunia dalam kecelakaan), telah menyiapkan satu makam untuk dirinya, kurang lebih 15 hari sebelum kecelakaan mengerikan itu. Ia bahkan meminta seorang ulama untuk membacakan ayat suci Alquran di atas makamnya. Sang ulama bertanya, “Bagaimana saya bisa membaca Alquran kalau makamnya kosong seperti ini?” Murat lantas menjawab, “Anda fokus saja pada tugas itu, seseorang akan mengisi makam ini tak lama lagi.”Apa yang diucapkannya sungguh terjadi. Mereka menguburkan Murat sendiri di makam itu.

            Sementara itu, kisah tunanganku Ipek, lebih menarik. Persis sebelum saya menjemputnya, ia merapikan pakaiannya kemudian memasukkannya ke dalam koper. Ia meninggalkan sebuah catatan kecil di koper bertuliskan, “Jika diriku tidak kembali, berikanlah semua pakaian ini kepada orang miskin atau anak-anak dalam panti pengungsian.” Tampak seolah-olah ia memiliki firasat mengenai kecelakaan mengerikan malam itu. Saya sadar mengapa ia memaksaku duduk di kursi tengah. Ia ingin melindungiku. Ia sangat menyayangiku. Belum pernah saya melihat ia bersikeras seperti itu sebelumnya.”

            Tatkala Murat menceritakan hal ini, ia menangis tersedu-sedu. Lantas ia bertanya, “Ipek, kekasihku, ia beriman kepada Tuhan dan tidak meminum alkohol. Ia adalah seseorang yang jujur dan peduli terhadap orang lain. Ia senang membantu sesama. Hanya karena ia dibesarkan dengan cara yang salah, ia akhirnya tidak memiliki banyak ilmu tentang agama. Bagaimana menurutmu, saudaraku, akankah Tuhan mengampuninya?”

            Kami pun berusaha menenangkan tangisannya. Kami meyakinkan bahwa ampunan Tuhan tidak terbatas. Terlebih lagi, kepada mereka yang hidup dalam kondisi fatrat (kondisi di mana tiada nabi yang membimbing umat itu).  Karena itu, seorang Mukmin tidak boleh putus asa dari ampunan Tuhan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.

            Murat melanjutkan bercerita tentang keadaan dirinya,

            “Saya beriman kepada Tuhan. Saya bahkan tidak menyentuh minuman keras dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, sudah lama saya merasa, diri ini sangat jauh dari naungan agama. Saya tidak tahu tentang ilmu agama dan tiada seorang pun  yang membimbing saya. Mungkinkah Tuhan mengampuniku, wahai saudara-saudaraku?”

            Sekali lagi, kami jelaskan padanya tentang luasnya ampunan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tampak matanya berkaca-kaca tatkala ia tersenyum dan berkata, “Saya tidak ingin meninggalkan kalian, saudara-saudaraku. Dengan izin kalian,  saya mohon, terimalah diriku menjadi saudara kalian!” Dengan hati yang tulus kami menjawab, “Kami menerimamu wahai saudaraku.”

            Beberapa minggu kemudian, Murat mengumpulkan koran-koran yang berisi tentang kecelakaan tragis yang menimpanya. Ia bermaksud untuk memberikannya kepada kami. Akan tetapi, akibat kecelakaan itu, ia sering mengalami kejang-kejang. Pada suatu sore, ia mengalami kejang-kejang yang parah dan Pak Ismail membawanya pulang. Ketika ia sudah siuman, tiba-tiba ia mengucapkan minta maaf lantaran tidak dapat hadir di pengajian bincang santai sebelumnya. Kejadian seperti itu terus berlanjut. Tepat seminggu kemudian, kami dapat informasi bahwa Murat mengalami kejang-kejang lagi dan terjatuh di kamar mandi. Kepalanya terbentur dan terluka. Keluarganya saat itu langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Ketika kami membesuknya, ia tidak mengenal kami sama sekali. Beberapa hari kemudian, Murat, saudara kami yang sangat kami cintai itu menghembuskan napas terakhirnya. Semoga Allah mengampuninya.

            Semua pemuda yang tinggal di Jalan Raya Bagdad, Istanbul, kala itu menangis karena kepergiannya. Mereka semua hadir di acara pemakaman. Ketika pemuda-pemuda itu menyadari siapa kami, tanpa basa-basi mereka mendatangi kami. Salah satu orang dari mereka bercerita,

            “Murat selalu menemui kami setelah bertemu dengan kalian. Ia bercerita telah bersahabat dengan orang-orang yang baik. Oleh karena itu, kami pun sangat ingin bertemu dengan kalian. Murat menasihati kami kalau jalan yang kami tempuh sekarang bukanlah jalan yang baik. Tidak hanya itu, ia menjelaskan bahwa semua yang ada di dunia ini hanya sementara. Dengan ketulusan kalbunya, ia ingin hidup dalam naungan Islam dan mengajak kami ke pengajian bincang santai kalian. Ia ingin sekali memperkenalkan kalian kepada kami, tetapi takdir berkata lain. “

            Allah Yang Maha Kuasa telah meridai Murat dalam waktu sesingkat itu. Setelah proses pemakaman usai, kami mengunjungi keluarganya. Ibu dan saudara perempuannya juga mengatakan hal yang sama. Ia sungguh bahagia bisa bersama kami.

            Saat di pemakaman tampak pula seorang lelaki dengan perban di kepalanya. Ia mendatangi kami dan berkata,

            “Murat adalah teman terbaikku dan saya benar-benar menyayanginya. Ketika saya mendengar kabar kematiannya, saya sangat terkejut dan menabrakan mobil saya ke pembatas jalan saat mengemudi. Itulah mengapa kepala saya diperban. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan ke kalian, saya hanya ingin bertanya, apakah Murat harus mati dulu sehingga kita bisa bertemu satu sama lain seperti ini? Mengapa kalian tidak pernah menemui kami sebelumnya?”

            Diakhirnya, kami mengetahui bahwa Murat adalah seorang pemuda yang sangat dermawan di lingkungannya. Bahkan setelah kematian Ipek, tunangannya, ia menjadi lebih gemar menolong sesama. Sekarang, ia dimakamkan persis di sebelah Ipek – di makam yang ia sudah persiapkan sebelumnya – berlokasi di Tempat Pemakaman Umum Karacaahmet.

Diambil dari kisah dalam:
Refik, Ibrahim, Hadiselerin Ibret Dili, Istanbul: Albatros, 2000, hal. 98