ines-alvarez-fdez-fBPEXawTQ7c-unsplash

Mengharap Dengan Sangat

 

Manusia merupakan ciptaan yang sempurna dari Sang Pencipta. Walaupun tergolong sempurna sejatinya manusia tetaplah makhluk yang papa, yang selalu berada dalam kelemahan dan butuh pertolongan. Di Dalam islam dijelaskan bahwa doa atau meminta merupakan salah satu senjata terbaik muslim. Karena pada hakikatnya, kita tidak akan mampu melakukan apapun tanpa kehendak-Nya. 

Didalam berdoa atau meminta kita dianjurkan untuk melembutkan suara kita. 

“Berdoa lah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-A’raf : 55)”. 

Andai kata seorang anak meminta sesuatu kepada orang tuanya dengan suara yang keras tentulah sang anak tidak akan mendapatkan apapun bahkan orang tuanya akan marah kepadanya. Begitulah mengapa kita dianjurkan melembutkan suara ketika berdoa. 

Mintalah segala sesuatu dari Fadhilah Ilahi. Fadhilah Ilahi di sini memiliki makna bahwa “Anugerah tambahan dari sisi Ilahi”. Mintalah kepada Allah dengan perasaan harap dan cemas. Berharap doa kita akan dikabulkan serta cemas lah jikalau doa kita menjauhkan kita dari Allah Swt. 

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusu’ kepada Kami (QS. Al-Anbiya’ : 90)”. 

Bangunlah disaat kebanyakan orang terlelap dari tidurnya, bangkitlah dan berdoalah kepada Allah. Bermunajatlah berulang-ulang dan tanpa bosan. Serta yakinlah bahwa doa-doa yang kita minta akan dikabulkan oleh Allah diwaktu yang tepat. Jangan pernah berpikiran mengapa doa saya tidak dikabulkan oleh Allah. Bisa jadi doa yang kita minta akan membawa keburukan kepada kita bahkan orang disekeliling kita atau memang waktu untuk terkabulnya doa tersebut belum tepat. Rencana Allah diatas rencana manusia.

Dan barangkali ibadah yang paling afdhol adalah Intidhar Faraj, yang berarti “Menunggu kelapangan dengan penuh harap”. Ialah terbesit harapan untuk selamat dari kemalangan seperti jatuh ke sumur seperti nabi Yusuf, selamat saat ditelan ikan, selamat ketika dikepung pasukan Fir’aun, atau selamat dari perampokan ketika melakukan ibadah haji. 

Kita harus menyungkurkan kepala kita keatas sejadah, berbisik kepada bumi agar terdengar oleh langit. Berdoalah demi turunnya hidayah untuk orang-orang yang sibuk dengan keburukan. Berdoalah untuk orang-orang yang berjuang dijalan Ilahi. Berdoalah sebagaimana kita menangis ketika mendoakan Ibu, Ayah, dan keluarga kita yang telah meninggal. Dengan atmosfer yang sama sambil menumpahkan air mata kita berdoa: 

“Ya Rabb, kami memohon halangilah orang-orang zalim, fasik, iri, dan dengki itu dari usaha mereka untuk menghancurkan dakwah yang kami bangun ini” 

“Ya Rabb, selamatkanlah teman-teman kami yang karena kebaikan yang mereka lakukan telah menjadikannya korban, dizalimi, serta dirampas hak-haknya” 

“Ya Allah dengan anugerah ekstra-Mu bebaskanlah, kembalikanlah keadaan mereka” 

“Ya Allah, Anugerahilah kami ke-kariban dengan-Mu serta jagalah diri kami dari kejinya menjilat”. 

Kita sebagai makhluk papa yang sangat membutuhkan pertolongan Allah. Didalam kelemahan tersebut sudah seharusnya kita memohon dengan berurai air mata. Bermunajat seraya meminta dengan penuh pengharapan, memohon agar diberi anugerah ekstra. 

Berdoalah diwaktu-waktu yang mustajab karena Allah akan mengabulkan doa orang-orang yang meminta kepada-Nya. 

“Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni (HR. Muslim)”.

Ingatlah bahwa Allah tidak butuh doa-doa kita tapi sebaliknya kita sangat membutuhkan pertolongan Allah didalam semua kegiatan kita. Berdoalah, memintalah karena Allah sangat suka diminta.

kazuend-19SC2oaVZW0-unsplash

Bambu Islam

     Bagi sebagian orang, memeluk Islam dan menjalankan tugas sucinya adalah sama seperti proses pertumbuhan pohon bambu. Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa dan bagaimana bisa? Kita dapat dengan baik menjawab pertanyaan ini dengan memperhatikan langsung bagaimana pohon bambu itu tumbuh dan berkembang. Pertama, benihnya ditabur, disirami dan diberikan pupuk. Tidak ada perubahan yang bisa diamati pada benih tersebut selama satu tahun pertama. Kemudian benih disirami dan diberikan pupuk lagi. Hasilnya tetap sama, benih bambu itu tetap tidak muncul ke permukaan selama tahun keduanya. Langkah yang sama terus diulangi pada tahun ketiga dan keempat, benih bambu terus disirami dan diberikan pupuk, tapi ia tetap pada kondisinya semula, tidak ada tanda-tanda pertumbuhan padanya.

Sang petani tetap lanjut memberikan penyiraman dan pupuk yang cukup dengan kesabaran tinggi selama menjalani tahun kelima bambunya. Hingga pada akhirnya, menjelang akhir tahun kelima, bambu tersebut mulai tumbuh dan muncul ke permukaan, dan dalam waktu yang sangat singkat, yaitu sekitar enam minggu, ketinggiannya mencapai 27 meter. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, manakah yang lebih tepat dan lebih diterima akal, bambu itu tumbuh dan berkembang hingga mencapai ketinggian 27 meter dalam waktu hanya enam minggu atau lima tahun? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah, sudah barang tentu lima tahun. Jika saja benih tidak disirami dan diberikan pupuk selama lima tahun, jika saja kesabaran dan ketekunan yang tinggi tidak diterapkan, mestinya kita sama sekali tidak membicarakan tentang pertumbuhannya, alih-alih bambu tersebut tidak menemui wujudnya. Oleh karena itu, masa tunggu selama lima tahun diisi dengan perlakuan perlahan tapi pasti, yaitu dengan terus memberikan makanan bagi unsur kimia dan fisika yang terkandung dalam tanah, terus menyirami, serta membiarkan matahari menghangatkan benih yang selanjutnya membentuk embrio dari bambu tersebut.

Tentu saja, hal ini tidak bisa terjadi secara spontan. Bisa dipastikan itu terjadi dan terus terjadi karena adanya Yang Maha Pemberi Sebab, Allah SWT, yang telah membawa sebab-sebab tersebut bersama-sama dan memberikan urutan waktu tumbuhnya. Dialah yang telah memberikan nafas kehidupan yang menyebabkan benih bambu tersebut tumbuh.

Beberapa kepribadian mirip dengan bambu ini: sangat keras, kasar, mereka menunggu, menciptakan satu masa tunggu, yang namun pada akhirnya mereka menebus keterlambatannya dengan sangat cepat. Periode ini bisa berlangsung 3 sampai 30 tahun, mereka menunggu yang lain, atau pun barangkali mereka sedang menunggu dirinya sendiri. Mereka menyerap airmata kita, usaha dan keringat kita, seperti halnya vacuum yang tiada hentinya. Hingga waktu yang tepat datang dan mereka muncul dengan kecepatan tinggi yang bahkan bisa melangkahi mereka yang di depan. Sama seperti atlet, begitu dia mendekati garis finish, usahanya yang begitu besar sudah cukup untuk menutupi berbagai jarak dan mereka pun menyelesaikan lomba sebagai yang pertama.

Tingkat kelamaan seseorang menunggu orang lain atau orang tersebut menunggu dirinya sendiri sebelum menerima kebenaran adalah tergantung pada keinginan, karakter dan situasi yang sedang dijalani. Sudah barang tentu, bahwa karakter memainkan perannya di sini. Jika seseorang tidak dididik dengan apa yang mereka butuhkan dimana hal itulah yang menjadi dominan dalam karakternya, mereka tidak merasakan kepuasan. Sebagai contoh, jika karakter dominan seseorang adalah sebagaimana dicerminkan oleh asma Allah, Yang Maha Mengasihi dan Maha Mencintai, sebelum mereka bisa menerima sesuatu atau mengundang yang lainnya ke hati mereka, mereka membutuhkan dan mendambakan kasih sayang. Inilah kunci mereka untuk membuat perubahan. Mereka hanya akan mengalah ketika kasih sayang sudah cukup ditunjukkan bagi mereka. Sebaliknya, jika tidak, maka mereka tidak akan menyerah.

Ini bisa diamati dari konversi sebagian orang ke Islam. Kadang ada kejutan yang luar biasa, setelah waktu berinvestasi yang lama, orang tersebut memeluk Islam hanya dengan hal-hal yang sepele. Sebuah permasalahan kecil sanggup menyebabkan perubahan yang besar ini, dan itu bukanlah keharusan kita untuk mengetahui apa kuncinya. ​Fokus perhatian kita hanya untuk melanjutkan investasi, terus menyirami dan memberi makan, serta memeliharanya dengan menampilkan pokok-pokok ajaran agama kita. . .

Hampir bisa dipastikan, diantara mereka yang pertama sekali melaksanakan aksi-aksi tersebut adalah mereka yang telah mengeluarkan tenaga yang besar dan banyak mengalami penderitaan. Terdapat banyak pahlawan tanpa tanda jasa, merekalah yang telah menyirami benih masa depan dengan air mata dan kucuran keringat dari pundak mereka. Orang-orang tersebut tidak disebutkan dimana-mana, mereka tidak pernah didengarkan keberadaannya. Mereka tidak beristirahat, mereka tidak menghabiskan waktu hanya sekedar untuk mencium aroma bunga atau memakan buah usahanya, mereka hanya melakukannya demi Allah semata. Sebuah pergerakan kecil dengan usaha yang ringan terkadang bisa membuahkan hasil, namun tidak hanya orang yang memetik buah yang akan mendapatkan penghargaan. Semua yang terlibat dalam proses pertumbuhan pohon dan mematangkan buah akan diberikan penghargaan. Allah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana tidak menghukumi hanya dengan penampilan fisik saja, Dia menghukumi berdasarkan esensi dan realitasnya. Dengan alasan ini, Dia tidak membiarkan serta mengabaikan siapa pun, Dia tidak melupakan apapun, Dia memberikan imbalan atas usaha yang dilakukan setiap orang dengan adil.

Penduduk Makkah yang menjadi Muslim setelah Penaklukan Makkah pada 11 Januari 630 M atau bertepatan dengan 20 Ramadhan 8 H adalah sejalan dengan bambu Islam. Nabi mengajak mereka beriman selama 13 tahun di Makkah, yaitu dari tahun 610 sampai 622. Dia menyirami hati mereka dengan air mata sucinya dan keringat dari keningnya. Kemudian, dia menunggu di Madinah dengan penuh kesabaran selama delapan tahun. Pada akhirnya, di tahun 630, yaitu berselang 21 tahun dari awal mula kenabian, di dalam hati keras mereka yang telah dipelihara dan disirami oleh Nabi dan para sahabat yang mulia dengan usaha dan semangat pantang menyerah, benih keimanan mulai tumbuh, bercabang dan bunganya bermekaran hingga menghasilkan buah. Sudah dikatakan bahwa bambu membutuhkan waktu lima tahun untuk tumbuh, tapi orang-orang yang semula tidak beriman tersebut membutuhkan hampir 21 tahun untuk tumbuh berkembang. Alhamdulillah mereka mulai tumbuh dan bisa mempelajari Islam langsung dari Nabi.

Sebagai kesimpulan, kita menuai apa yang kita tanam. Kita tidak seharusnya memposisikan diri sebagai orang yang mengumpulkan buah, itu bukanlah peran kita. Kita adalah orang yang harus merawat benih dan menyiraminya penuh kasih sayang. Memberikan usaha dan meluangkan waktu untuk membimbing orang lain ke jalan yang benar akan membuat Allah ridha, inilah yang seharusnya menjadi pokok tujuan kita. Mereka yang dipersiapkan untuk menunggu orang-orang agar menjadi matang, yaitu selama 21 tahun, dengan penuh kesabaran berharap menaklukkan hati untuk membawa mereka ke jalan yang benar yang sesungguhnya merupakan usaha mengikuti jalan Nabi, jalan memberikan penerangan dan ajakan. Seseorang yang beranjak dari perjalanan ini tanpa adanya kesabaran akan sia-sia belaka.

eva-blue-2yc0Jofvezo-unsplash

Bunuh Diri

Bunuh Diri

(Diterjemahkan dari Kırk Testi artikel berjudul ‘Intihar)

Tanya: Bagaimana perspektif Islam tentang bunuh diri yang kini telah menjadi bencana sosial di zaman kita? Apa alasan yang mendasari seseorang untuk melakukan bunuh diri?

Jawab: Meskipun tidak ada pernyataan eksplisit di dalam Al-Qur’an, dapat kita katakan bahwasanya larangan menghilangkan nyawa juga berlaku bagi seseorang yang ingin menghilangkan nyawanya sendiri secara sengaja. Bunuh diri adalah pembunuhan. Bunuh diri sama halnya dengan membunuh orang lain, yakni ia juga adalah pembunuhan. Allah Subhanahu wa ta’ala menganggap menghilangkan satu nyawa kehidupan sama dengan membunuh seluruh umat manusia:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

“…barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya…” (QS Al Maidah 5: 32)

Seperti yang diketahui, kehidupan manusia adalah salah satu dari lima hal mendasar dimana seseorang bertanggung jawab untuk melindunginya. Dapat dikatakan juga – sebagaimana Imam Syathibi menguraikannya secara sistematis di dalam kitabnya Muwafaqat – semua hukum Islam didasarkan pada usaha melindungi lima hal paling mendasar tadi, yaitu untuk melindungi nyawa seseorang, agama, harta, akal, dan keturunan. Perlindungan terhadap nyawa adalah yang paling utama di antara hal-hal paling mendasar tadi. Demikian pentingnya urusan melindungi nyawa ini sehingga seseorang yang diserang diperbolehkan untuk membalasnya sebagai usaha membela diri.

Pengkhianatan terhadap Amanah

Kehidupan manusia adalah amanah penting dari Allah. Yakni, sebagaimana halnya iman, agama, serta pelayanan terhadap agama merupakan amanah yang dipercayakan kepada manusia, nyawa kehidupan yang membuat semua amanah-amanah tersebut bisa dijaga pun termasuk amanah juga. Atas dasar ini, jika seseorang menghilangkan nyawanya sendiri dengan sengaja berarti ia mengkhianati amanah Ilahi dimana nyawa tersebut seharusnya digunakan untuk memenuhi tanggungjawabnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Manusia datang ke dunia ini bagaikan seorang prajurit. Ia dikirim ke dunia dengan memikul sebuah tugas. Apa yang perlu dilakukannya adalah menunaikan tugas ini sambil bersabar menunggu datangnya waktu dimana mereka dipanggil untuk kembali ke hadirat Ilahi. Persis seperti seorang prajurit. Jika prajurit itu meninggalkan resimennya tanpa mengantongi tandatangan izin dari komandannya, ia akan dianggap sebagai buronan. Maka orang yang meninggalkan tugas kehidupannya sebelum datang panggilan Ilahi pun dapat dianggap sebagai buronan yang layak dihukum. Saat itu semua amal baiknya akan sia-sia. Bahkan adalah berdosa jika seseorang berharap agar Allah Subhanahu wa ta’ala mencabut nyawanya dikarenakan dirinya sudah tidak sabar lagi menerima musibah-musibah yang menimpanya. Ini karena permintaan seperti itu berarti menyiratkan penentangan dan penolakan terhadap qada dan kadar dari Allah. Oleh karena itu, seseorang yang lidahnya tergelincir sehingga terucap kata-kata yang mengharapkan agar Allah mengambil nyawanya disebabkan tidak tahan dengan musibah yang dialaminya, ia harus segera menyungkurkan kepalanya untuk bersujud, memohon ampun dan bertaubat dengan penuh kesadaran bahwasanya ia baru saja melakukan dosa yang amat besar. Jika keinginan seperti itu saja mengharuskan pertobatan yang demikian, maka bunuh diri, dimana perbuatan tersebut seperti seorang prajurit yang meninggalkan kewajibannya sebelum dikatakan bahwa tugasnya sudah selesai, adalah perbuatan tidak menunjukkan rasa hormat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Wewenang untuk meneruskan atau menyelesaikan tugas seorang makhluk hanya ada padaNya. Yang mengirimkan makhluk ke dunia adalah Dia, maka yang berwewenang untuk mengirimkan makhluk ke akhirat pun Dia. Tidak ada satupun anak manusia yang diberi hak untuk mengintervensiNya.

Pada kenyataannya, seseorang bisa kehilangan nyawanya saat ia membela dan mempertahankan nyawa, agama, ataupun hartanya. Meskipun dari sini tampak ada intervensi manusia yang menyebabkannya kehilangan nyawa, namun ia sebenarnya pergi menuju ke dunia berikutnya dalam kerangka perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Rasulullah menyatakan dalam sabdanya yang mulia :

منْ قُتِل دُونَ مالِهِ فهُو شَهيدٌ، ومنْ قُتلَ دُونَ دِينِهِ فهُو شهيدٌ، وَمَنْ قُتِل دُونَ دمِهِ فَهو شهيدٌ، ومنْ قُتِل دُونَ أهْلِهِ فهُو شهيدٌ

“Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR Tirmizî, Diyât 22; Nasâî, Tahrimu’d-dam 23).

Oleh karena itu, mereka yang kehilangan nyawanya dengan sebab demikian berarti meninggal dunia atas ‘seizin’ dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Beberapa ahli fikih mengatakan bahwa orang-orang yang meninggal dunia karena bunuh diri dihukumi seperti orang yang murtad. Jenazahnya tidak boleh dishalatkan. Namun, ada juga pertimbangan bahwa ada kemungkinan seseorang menderita penyakit gila sementara. Mereka ini memiliki kemungkinan melakukan tindakan bunuh diri saat penyakit gilanya sedang kambuh. Mereka yang berada dalam kondisi demikian, sebenarnya tidak dalam kondisi sadar dengan apa yang dilakukannya dikarenakan telah kehilangan keseimbangan akal sehatnya. Oleh karena tidak ada seorangpun yang dapat memastikan apa latar belakang yang menyebabkan seseorang melakukan usaha bunuh diri, maka tidak ada celaan bagi kita untuk berhusnuzan terhadapnya, dan mengerjakan perintah agama yaitu untuk menyalati jenazahnya.

Terkadang, penderitaan yang amat besar akan membuat seseorang bunuh diri. Memang, insiden semacam itu juga terjadi pada masa Nabi SAW. Seseorang bernama Quzman terluka dalam Perang Uhud. Untuk mengakhiri penderitaannya, ia bunuh diri dengan menyadarkan tubuhnya di ujung runcing pedangnya. Melihat ini, Rasulullah menyatakan bahwa orang itu adalah penghuni neraka. Bayangkanlah, ia berjuang hebat di dekat Nabi tercinta untuk membela Madinah dan menderita luka berat yang dapat membuatnya syahid. Akan tetapi manusia malang ini menjadi pecundang di saat akan menang karena tidak sabar dengan penderitaannya. Tanpa menunggu keputusan Ilahi, ia membuat keputusannya sendiri dan dengan demikian iapun layak untuk menjadi penghuni neraka. Musibah apapun yang menimpa seorang mukmin, bagaimanapun, tetap harus dilalui dengan penuh kesabaran. Seseorang seharusnya tetap bersabar menghadapi segala rintangan, sampai kehendak Ilahi memanggil mereka. Dengan kata lain, jika kita harus mati, kita akan mati karena kehendak Ilahi. Ayat suci yang tertuang di dalam Al Quran pun mengatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Al Imran 3: 102).

Ayat ini juga menyiratkan bahwa seseorang tidak boleh mengakhiri kehidupan mereka sendiri. Karena perbuatan bunuh diri merupakan hasil dari ketidakmampuan manusia untuk berserah diri kepadaNya. Padahal Allah telah berfirman agar tidak manusia tidak mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepadaNya. Selain itu, bunuh diri berarti menyia-nyiakan seluruh masa lalunya. Bunuh diri berarti mengakhiri hidup dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.

Serangan Bunuh Diri: Sebuah Pembunuhan Massal

Hari ini ada kemasan lain dari perbuatan bunuh diri yang disebut ‘serangan bunuh diri.’ Serangan bunuh diri pertama kali muncul di Barat dan kemudian, sayangnya, muncul juga di beberapa negara Muslim. Mereka yang melakukan serangan bunuh diri ini menjustifikasi tindakannya tersebut dengan menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah bunuh diri yang bermanfaat. Dengan kata lain, serangan ini mereka jalankan demi membela ideologi mereka. Dengannya mereka menyematkan makna positif dan nilai mulia, jika dengan usaha ‘serangan bunuh diri’ ini mereka dapat melindungi agama. Namun, saat kita melihat ke dalam hakikat dari permasalahan ini, kita dapat melihat bahwa bom bunuh diri tersebut tidak ada bedanya dengan usaha bunuh diri yang telah dijelaskan sebelumnya.

Serangan bunuh diri bahkan bisa dianggap sebagai salah satu bentuk pembunuhan, karena perbuatannya sama seperti yang dilakukan para pembunuh keji lainnya yang tidak memahami makna kemanusiaan serta tidak memahami spirit Islam yang sebenarnya. Mereka akan dikirim ke neraka dengan kepala masuk ke dalamnya terlebih dahulu. Saat membunuh dirinya sendiri, mereka juga membunuh banyak orang tidak bersalah lainnya. Di hari perhitungan, mereka akan menghadapi pertanggungjawaban yang amat berat. Pertama dikarenakan mereka membunuh diri mereka sendiri. Kedua, karena mereka membunuh begitu banyak orang yang tidak bersalah. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap korban mereka, baik anak-anak, wanita, pria, Muslim, maupun non-Muslim satu per satu.

Dalam Islam, peraturan dan hukum secara eksplisit mendefinisikan tindakan apa saja yang boleh dilakukan, baik selama masa damai maupun masa perang. Tidak ada yang bisa menyatakan perang atau memutuskan untuk membunuh orang lain hanya dengan keputusannya sendiri, dan tak ada seorang pun memiliki hak untuk membunuh anak-anak, perempuan, atau orang tua dari pihak lawan selama masa perang. Oleh karena itu, dipandang dari manapun serangan bunuh diri atau tindakan terorisme serupa tidak pernah sesuai dengan Islam. Dalam haditsnya yang mulia Junjungan Kita Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

لَا يَزْنِي العَبْدُ حِينَ يَزْنِي وَهو مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهو مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ وَهو مُؤْمِنٌ، وَلَا يَقْتُلُ وَهو مُؤْمِنٌ

“Seorang hamba tidak akan berzina sebagai orang beriman, tidak akan minum alkohol sebagai orang beriman, tidak akan mencuri sebagai orang beriman, dan tidak akan melakukan pembunuhan sebagai orang beriman” (HR Nasai, Qasama 48,49).

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seorang pembunuh ketika melakukan pembunuhan bukanlah seorang mukmin. Dengan kata lain, seseorang yang melakukan dosadosa ini tidak bisa disebut seorang Muslim. Mereka tidak disebut dengan istilah muslim ketika mereka sedang melakukan apa yang mereka maksud dan niatkan tersebut. Ketika Anda mempelajari karakter mereka pada saat itu, apa yang muncul di depan anda bukanlah potret seorang Muslim; memang, karakter tersebut tidak akan sesuai dengan kerangka Islam. Untuk alasan ini, mari kita tekankan sekali lagi bahwa seseorang yang bertindak sebagai pelaku bom bunuh diri dan membunuh orang yang tidak bersalah, tidak peduli dari negara atau kelompok agama mana mereka berasal, pembunuhan yang mereka melakukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan syarat untuk menjadi seorang Muslim. Seseorang yang membunuh begitu banyak orang, tidak akan selamat di akhirat. Tentu saja, selalu ada kemungkinan bagi orang yang melakukan dosa-dosa besar untuk bertobat dan meminta pengampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Tuhan Yang Mahakuasa dapat mengampuni dosa-dosa mereka. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui bagaimana mereka akan diperlakukan di akhirat.

Di sisi lain, adalah realita bahwa pembunuhan massal tersebut mencoreng wajah indah agama Islam. Kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang muncul sebagai seorang muslim dimana perbuatan tersebut diteriakkan demi membela agamanya, akan dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam di mata mereka yang tidak mengenal ajaran Islam yang asli. Oleh karena itu, mengubah citra keliru ini akan jadi lebih sulit dilakukan oleh kaum mukminin. Membersihkan pikiran orang dari citra negatif ini akan membutuhkan usaha yang intensif selama bertahun-tahun. Untuk alasan ini, tidak peduli siapa yang melakukan serangan-serangan bunuh diri, mereka bisa disebut sebagai dua kali lebih buruk, atau lebih tepatnya pembunuhan terburuk. Beberapa orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang ajaran asli Islam pernah bertanya padaku, “Apakah cinta akan surga yang memotivasi umat Islam untuk menjadi pelaku bom bunuh diri?” Aku pun menjawab pertanyaan mereka dengan berkata, “Jika orang-orang itu melakukannya disebabkan motif tersebut, maka mereka sedang mengada-ada. Para pelaku serangan bunuh diri tidak akan pergi ke surga, melainkan pergi neraka dengan kepala masuk terlebih dulu.”

Kesimpulannya, pembunuhan keji yang dibungkus dalam serangan bunuh diri membawa dimensi yang lebih berbahaya terlebih ketika dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama. Mari kita nyatakan sekali lagi bahwa tidak peduli apa pun motif yang melatarbelakanginya, atau metode apa yang digunakannya sehingga kebrutalan ini dilakukan, perbuatan itu adalah tindakan terkutuk yang tidak disukai dan diridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dipandang dari sudut manapun, ia juga merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

inbal-malca-NhlKx6Uvm3E-unsplash

Rasulullah dan Para Delegasi Asing 

Rasulullah dan Para Delegasi Asing 

Tanya: Rasulullah SAW, khususnya setelah Fathul Mekah, menyambut delegasi tamu yang datang dari berbagai negara dan kabilah tetangga dengan sangat baik. Beliau memuliakan para tamu ini dengan penuh ketulusan. Selain itu, beliau juga ingin agar kebiasaan ini dapat menjadi budaya yang diterapkan oleh para penggantinya. Di saat-saat terakhir kehidupannya, ia mengulangi permintaan ini sebagai bagian dari wasiatnya. Apa hikmah dari peristiwa tersebut? Jika kita menafsirkan peristiwa tersebut sesuai masa ini, pelajaran apa saja yang bisa kita ambil?

Jawab: Kebiasaan Rasulullah seharusnya menjadi titik perhatian bagi kita semua pada saat ini. Untuk itu, kita benar-benar harus menjalankannya dengan baik.

Rasulullah tidak hanya menjamu delegasi tamu, beliau juga memberi perhatian di level tertinggi bagi mereka yang mau mempelajari dan memeluk agama Islam.  Misalnya, ketika para tokoh-tokoh Mekkah seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash dan Usman bin Talhah datang ke Madinah, demikian istimewanya Rasulullah menjamu dan mengistimewakan mereka, Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab (radiyallahu anhum) pun belum pernah menerima keistimewaan tersebut.

Nabi SAW bersabda kepada Sayyidina Khalid:  “Aku heran bagaimana mungkin sosok jenius seperti Khalid dapat tinggal di dalam kekufuran!”  Selang tak berapa lama kemudian, beliau menobatkan Sayyidina Khalid dengan sebutan “Pedang Allah”.

Amr bin Ash adalah sosok yang selalu berbuat keburukan kepada umat Islam.  Hingga masa itu, sosok Amr bin Ash menggunakan kejeniusannya untuk melawan Islam. Akan tetapi, ketika dia menjadi seorang Muslim dan datang ke Madinah, Rasulullah SAW menyambutnya dengan penuh hangat dan kemuliaan, beliau tidak pernah mengungkit masa lalunya walau sekecil apapun. Sebagai jawaban dari permohonan doanya Rasulullah SAW, “Tidak tahukah kamu jika Islam menghapus dan membersihkan semua dosa yang dilakukan seseorang sebelum masuk Islam.”

Ketika Sayyidina Abdullah bin Jarir al-Bajali ra masuk ke dalam majelisnya Rasulullah, Beliau memberi isyarat agar salah satu jamaah berdiri dan memberi tempat duduk kepada Sayyidina Abdullah bin Jarir al Bajali ra. Ketika tidak ada jamaah yang memahami isyaratnya, beliau segera bergerak dan melepas jubahnya untuk dijadikan sebagai alas duduk Sayyidina Abdullah bin Jarir al Bajali.  Kemudian beliau menyampaikan nasihatnya yang abadi tentang kewajiban menyambut dan memuliakan pemimpin suatu kaum. Bagaimana Rasulullah menjamu Ikrimah putra Abu Jahal dengan kata-kata pujian adalah pelajaran penuh hikmah lainnya yang beliau tunjukkan kepada kita.[1]

Ya, kebiasaan Rasulullah ini adalah prinsip-prinsip yang tidak akan berubah. Bagaimana Rasulullah menyambut individu dan delegasi tamu yang datang dengan kerangka prinsip-prinsip tersebut, sesungguhnya terdapat banyak tujuan yang penuh hikmah di dalamnya:

Pertama: Orang-orang yang baru saja memeluk agama Islam tetapi masih belum merasakan kehangatan Islam, jika di dalam fase ketidaknyamanan dan kecemasan tersebut mereka tidak menemukan sosok dengan atmosfer hangat serta penuh rasa aman yang dapat menyelamatkan mereka dari kecemasan itu, maka mereka bisa menggunakan preferensinya dengan cara lain di mana hal itu adalah kerugian bagi mereka. Begitulah Rasulullah SAW menunjukkan perhatiannya bahkan kepada mereka yang keinginan berislamnya sekecil apapun; perhatiannya telah menyelamatkan mereka dari pengambilan keputusan yang salah. Prinsip tersebut merupakan prinsip penting yang harus diperhatikan baik di masa kini maupun di masa mendatang.

Yang kedua: Di antara anggota delegasi yang datang, selalu ada orang yang dihormati di dalam kaum mereka. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa dengan penghormatan dan perhatian seperti itu di dalam kaum mereka. Karena itu,  kemuliaan dan penghormatan harus dipersembahkan kepada mereka dalam takaran yang sama, sehingga mereka tidak merasa asing ketika tiba di lingkungan baru. Maksudnya, pemuliaan dan penghormatan ini seharusnya dapat menyingkirkan rasa tidak nyaman yang dapat muncul dari lingkungan baru serta menjamin rasa aman ke dalam hati mereka.

Ketiga: Sebagian besar delegasi ini adalah utusan resmi. Ketika Islam diumumkan sebagai sebuah sistem pemerintahan, maka kabilah-kabilah dan negara-negara di sekitarnya mengirimkan delegasi ke Madinah untuk melakukan perundingan. Orang-orang yang berada dalam delegasi ini juga bukan orang biasa; kurang lebih hampir semuanya memiliki wawasan luas akan dunia dan memiliki kemampuan mengevaluasi nilai dari sudut pandang mereka sendiri. Dan ketika orang-orang ini kembali ke tempat asal mereka, mereka akan kembali dengan kesan yang mereka bawa… Pendapat mereka akan mempengaruhi urusan-urusan di negara atau kabilah tempat mereka berasal. Jika demikian, maka orang-orang ini harus diyakinkan dengan opini-opini positif. Ini bergantung sekali dengan penghormatan yang ditunjukkan dan penyampaian masa depan yang menjanjikan.

Keempat: Akhlak dan karakter mulia Baginda Nabi telah dikenal dan diketahui oleh para Ahli Kitab. Karena akhlak dan karakter tersebut dijelaskan di dalam kitab-kitab mereka. Beberapa delegasi datang untuk menyelidiki kebenaran ini. Rasulullah SAW sendiri percaya akan dirinya sendiri. Beliau adalah nabi yang diberitakan dalam Taurat dan Injil. Beliau menganggap mereka yang datang untuk melihatnya dari dekat berarti telah menerima pesannya.

Ya, Rasulullah SAW menerima mereka dari dekat seakan membantu mereka untuk dapat menyaksikan tanda-tanda kenabiannya. Dengan demikian, sikap dan tindak tanduknya yang penuh berkah tersebut telah mencabik-cabik segala macam keraguan dan kebimbangan. Sebagian besar dari mereka yang datang lalu mengubah pandangan awalnya untuk kemudian bersiap melaksanakan misi tablig di tempat asal mereka.

Penafsiran pembahasan itu untuk kebutuhan masa kini:

Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa tidak ada satu pun manusia yang bisa meniru sikap Rasulullah ini dengan sempurna. Karena tidak ada manusia yang memiliki daya dan kemampuan untuk melaksanakannya. Bayangkan saja, beliau adalah sosok yang mampu memanggul Al Quran dengan segala keagungan dan kemuliaannya yang bahkan tak mampu dipikul oleh gunung-gunung. Kedua kakinya berdiri di tempat yang kokoh, sehingga tidak ada satu pun peristiwa ataupun perlakuan yang mampu membuatnya berpaling dari prinsip-prinsipnya. Sedangkan pada diri kita terdapat kelemahan yang bisa membuat kita jenuh dan frustrasi. Akan tetapi, membayangkan kelemahan seperti itu terdapat pada Sang Nabi saja sudah tidak mungkin.

Dalam hal ini, baik untuk kehangatan penyambutan beliau terhadap delegasi tamu, ataupun penerimaan dan pemaafan beliau kepada tokoh-tokoh yang di masa lalu melakukan kesalahan fatal sekalipun, rasanya tidak mungkin bagi kita untuk melakukan hal yang serupa. Namun, wajib bagi kita untuk melakukan hal yang sama semaksimal mungkin. Jika tidak, maka kita bisa menunjukkan hizmet yang sudah dikenal di seluruh dunia pada level yang tidak semestinya sehingga dengan demikian seakan kita telah mengkhianati hizmet yang mulia ini.

Baginda Nabi SAW memberikan arahan untuk menunjukkan sensitivitas yang diperlukan dalam menerima tamu delegasi, menjadikannya sebagai bagian dari wasiat terakhirnya[2], serta betapa dalam dimensi yang akan diraih oleh sikap ini di masa depan, menunjukkan betapa pentingnya hal ini dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Padahal di masa itu pengaruh beliau masih belum keluar dari Jazirah Arab. Surat dan hadiah dari beberapa kepala negara yang dikirimkan masih berada dalam kerangka penghormatan kepada sosok beliau sebagai individu. Akan tetapi, di masa depan, Islam sebagai negara menyebar ke seluruh penjuru dunia sehingga mengharuskannya menjadi tuan rumah dan menjamu ratusan bahkan ribuan delegasi dari berbagai negara. Sebenarnya hal itu adalah bagian dari protokoler kenegaraan, tetapi sekali lagi dasarnya juga telah diletakkan pondasinya oleh Baginda Nabi SAW. Memang dalam masa kenabiannya selama 23 tahun, dalam skala mikro, tidak ada satu pun masalah yang tidak diselesaikan olehnya… Protokol menjamu delegasi pun hanyalah salah satu masalah yang berhasil diselesaikan olehnya…


[1] “Maka Ikrimah masuk Islam dan dia datang menemui Rasulullah SAW pada waktu Penakhlukkan Mekah. Tatkala Rasulullah SAW melihatnya, beliau langsung bangun karena amat gembiranya, dan beliau tidak memakai surban hingga dia membaiatnya. (at Tamhid; Muwaththa’ Imam Malik)

[2] 38.252/2825. Telah bercerita kepada kami Qobishah telah bercerita kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Sulaiman Al Ahwal dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa dia berkata; Hari Kamis dan apakah hari Kamis?. Lalu dia menangis hingga air matanya membasahi kerikil. Dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bertambah parah sakitnya pada hari Kamis lalu Beliau berkata: Berilah aku buku sehingga bisa kutuliskan untuk kalian suatu ketetapan yang kalian tidak akan sesat sesudahnya selama-lamanya. Kemudian orang-orang bertengkar padahal tidak sepatutnya mereka bertengkar di hadapan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Mereka ada yang berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah terdiam. Beliau berkata: Biarkanlah aku. Sungguh aku sedang menghadapi perkara yang lebih baik daripada ajakan yang kalian seru. Beliau berwasiat menjelang kematiannya dengan tiga hal; Usirlah orang-orang musyrikin dari jazirah ‘Arab, hormatilah para tamu (duta, utusan) seperti aku menghormati mereka dan aku lupa yag ketiganya. Dan berkata Ya’qub bin Muhammad, aku bertanya kepada Al Mughiroh bin ‘Abdur Rohman tentang jazirah ‘Arab, maka dia menjawab; Makkah, Madinah, Yamamah dan Yaman. Dan berkata Ya’qub; Dan ‘Aroj yang merupakan permulaan Tihamah (HR Bukhari).

mikael-kristenson-3f4sQIums6k-unsplash

Manusia Keprihatinan

Manusia Keprihatinan[1]

Sebenarnya saya tidak terlalu paham makna keprihatinan (اِضْطِرَاب). Semua orang dapat merasakan keprihatinan dengan derajatnya masing-masing. Apakah yang saya rasakan ini layak disebut sebagai keprihatinan atau tidak, izinkanlah saya menyampaikan beberapa gambaran dan cerita. Selanjutnya, Anda bisa putuskan apakah perasaan ini termasuk keprihatinan atau tidak.

Dalam peristiwa tsunami Aceh, diperkirakan 170ribu orang meninggal dunia. Banyak orang kehilangan orang-orang yang dicintai, tempat tinggal, dan mata pencaharian. Demikian juga tsunami Palu, terdapat lebih dari 2000 orang meninggal dunia. Sementara itu, nilai manusia tak lagi berharga di beberapa tempat. Di banyak kerusuhan, nyawa pun melayang, di antaranya di Papua kemarin.

Saya rasa, apa yang saya rasakan tersebut adalah keprihatinan yang wajar dirasakan manusia. Walaupun mungkin ia tak bisa disebut sebagai keprihatinan sejati. Untuk mengetahui makna keprihatinan sejati, kita harus mempelajarinya dari Nabi Muhammad SAW serta tokoh-tokoh yang hidup seperti Nabi Muhammad. Bagaimana keprihatinan membuat sosok-sosok agung seperti mereka merintih dan terpilin. Al Quran menjelaskan keprihatinan Baginda Nabi secara tersirat di banyak tempat, sedangkan secara tersurat terdapat dalam satu-dua ayat seperti ayat berikut:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

“Maka (Apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Quran)” (QS Al Kahfi: 6)

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman” (QS Asy Syuara: 3)

Dari ayat tersebut dapat kita pahami betapa hancur leburnya hati Baginda Nabi kita, sehingga Allah SWT pun lewat ayat ini memperbaiki kondisinya. Demikianlah dimensi kebijaksanaan manusiawi dari seorang Nabi. Perasaannya telah mengatakannya: “Andaikata nilai-nilai kemanusiaan tidak hidup, tidak ada artinya aku hidup.  Andaikata umat manusia tidak hidup dalam ketenteraman, tidak ada artinya aku hidup dalam ketenteraman. “ Demikianlah kerangka keprihatinan dari seorang nabi!

Orang-orang pernah bertanya kepada sosok agung abad 20, yaitu Bediuzzaman Said Nursi: “Apakah Anda tidak berencana untuk menikah?” Jawabannya:”Problematika umat manusia melampaui kebutuhan hidupku sehingga aku pun tidak menemukan waktu untuk memikirkan keadaanku.” Memang jawaban apalagi yang bisa kita harapkan muncul dari seseorang yang berteriak :”Dakwahku!” saat terpeleset dari Benteng Van.

Lalu kubandingkan teriakan ini dengan teriakanku saat mobil yang kukendarai hampir mengalami kecelakaan. Betapa egoisnya teriakanku!.  Seseorang yang mengikatkan dirinya pada dakwah tidak akan memikirkan keadaan dirinya dan berteriak “Allah” agar menyelamatkannya, tetapi ia akan mengingat cita-citanya dan meneriakkannya dengan lantang:”Dakwahku!”. Demikianlah potret manusia keprihatinan, dimana jiwanya yang agung telah memprogramkan dan mengikatkan semua umur dan takdir kehidupannya kepada takdir umat manusia. Keadaan beliau pun dapat disimak dari pernyataan yang dikeluarkan oleh murid dan orang terdekatnya:”Apabila terdapat jantung yang akan berhenti berdetak karena keprihatinan, maka demi mendengar kabar bahwa  terdapat anak muda yang meninggal dunia tanpa membawa iman, sudahlah cukup hal itu membuat jantung tersebut tercabik-cabik hingga berkeping-keping sejumlah zarah dan atom.  Menurut saya, salah satu penjelasan dari makna keprihatinan adalah dengan menjadi representasi dari pernyataan tersebut…

Saya yakin bahwasanya generasi baru yang sedang tumbuh akan mampu menjadi representasi dari keprihatinan di takaran tersebut. Maka jadilah kalian seperti sosok itu, insya Allah! Bangkitlah sebagai tombol keprihatinan, biarkan ia meresap ke dalam otak Anda! Tahanlah kebutuhan duniawimu, mondar-mandirlah kalian karena memikirkan problematika umat manusia! Mohonkanlah keselamatan umat Nabi Muhammad kepada Allah SWT tanpa kenal henti! Sebelumnya saya pernah menyampaikannya, kini saya ingin mengulanginya kembali dengan izin dari Anda:

Jika saya mampu, saya ingin membagikan rasa gelisah ini ke setiap diri Anda yang akan membuat kalian lupa jalan pulang. Saya akan lakukan hal yang sama agar Anda menguasai ilmu, pengetahuan, mencintai penelitian, mengembangkan sains dan teknologi, serta agar suara kalian didengar oleh peradaban. Akan saya kerjakan dan usahakan agar kalian tergila-gila pada semangat berdakwah. Tentu saja saya tidak mampu melakukannya. Akan tetapi jika seandainya bisa, saya akan memohonkan hal itu kepada Allah SWT. Betapa inginnya saya agar keluar suara dari langit : “Boleh jadi kamu  akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak percaya kepada pesan-pesanmu!” Saya yakin suatu saat Allah akan mengantarkan Anda untuk tiba di ufuk ini. Saya yakin suatu saat Allah akan membuat wajah dunia tersenyum kembali lewat keprihatinan-keprihatinan Anda.  Seandainya hari itu tidak lama lagi tiba..

[1] Diterjemahkan dari artikel berjudul “Izdırap insanı” yang bisa di akses di https://fgulen.com/tr/fethullah-gulenin-butun-eserleri/fasildan-fasila/fethullah-gulen-fasildan-fasila-2/11340-izdirap-insani