mengembangkandiri.com (7)

MENGIRINGI DAKWAH DENGAN DO’A

DITULIS OLEH: MUHAMMAD FETHULLAH GÜLEN HOCAEFENDI

Berdo’a merupakan tugas utama yang harus senantiasa dilakukan oleh seorang da’i, karena berdo’a adalah sarana yang paling utama untuk berhubungan dengan Allah Swt. Masalah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama para nabi dan da’i, karena untuk memberi petunjuk kepada manusia tidaklah mudah, dan kewenangannya hanya di tangan Allah Swt. Dia yang berhak memberi petunjuk atau kesesatan bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Jadi, manusia, siapa pun, tidak berwenang memberi petunjuk atau memberi kesesatan kepada siapapun. Tentang masalah ini, Allah Swt telah berfirman, “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu),” (QS al-Furqân [25]: 77).

Kesimpulannya, setiap mukmin, khususnya para nabi dan da’i, harus rajin memohon kepada Allah Swt untuk diberi kemudahan membuka pintu hati para pendengarnya. Adakalanya, karena do’a seorang yang mukhlis, banyak orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt lebih dari yang diberi ceramah. Sehingga, do’a mempunyai kekuatan bagai sihir yang dapat memengaruhi hati orang banyak. Selain itu, do’a juga menjadi senjata orang mukmin dan benteng yang paling ampuh baginya, baik di masa lalu maupun di masa kini. Karenanya, setiap da’i harus rajin memohonkan petunjuk kepada Allah Swt bagi umatnya sebelum ia berdakwah; kemudian, setelah itu, ia berdakwah semampunya. Dengan kalimat yang lebih sederhana, dapat dikatakan di sini bahwa setiap da’i harus berdo’a, menggunakan cara-cara yang masuk akal, sederhana, menarik, dan menimbulkan simpati agar dakwahnya bisa diterima oleh orang banyak.

Rasulullah Saw. telah berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan dakwahnya kepada kaumnya dengan berbagai cara, tetapi beliau tidak pernah terlepas dari berdo’a. Disebutkan bahwa beliau Saw. pernah berdo’a memohon pertolongan Allah Swt agar hati ʿUmar bin Khattab dibuka untuk masuk ke dalam Islam. Do’a beliau Saw. diterima; tidak lama setelah itu, Umar diberi petunjuk oleh Allah Swt untuk masuk Islam.

Disebutkan bahwa pada suatu hari, Abu Hurairah meminta do’a dari Rasulullah agar hati ibunya dibuka sehingga mau menerima Islam. Dalam sebuah riwayat yang lain, disebutkan bahwa Abu Hurairah ra. berkata, “Pada suatu hari, aku mengajak ibuku masuk ke dalam Islam, ketika ia masih sebagai wanita musyrik. Namun, ia mengata-ngatai Islam, sehingga aku datang kepada Rasulullah Saw. seraya menangis, “Ya Rasulullah Saw., tadinya aku mengajak ibuku masuk ke dalam Islam, tetapi ia menjelek-jelekkan Islam. Karena itu, do’akan semoga ibuku mau masuk Islam.” Kemudian, Rasulullah Saw. berdo’a, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada ibunya Abu Hurairah.” Kemudian, aku keluar pulang ke rumahku untuk mengabarkan kepada ibuku tentang do’a beliau baginya. Namun, anehnya, ketika aku tiba di depan pintu rumahku, aku lihat pintu rumahku tertutup. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, ia berkata, “Tunggulah sebentar, wahai Abu Hurairah.” Aku mendengar ia sedang mandi; setelah itu, ia memakai baju dan kerudung, kemudian ia membuka pintu seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi juga bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kata Abu Hurairah, “Kemudian aku kembali ke tempat Rasulullah Saw. sambil menangis atas keislaman ibuku.”

mengembangkandiri.com (13)

CINTA DALAM DAKWAH

Dalam perjalanan menuju cinta Ilahi, dakwah menjadi panggilan nurani yang mendorong setiap individu untuk menyelami keindahan, kejujuran, dan keyakinan yang murni. Bagi seorang pendakwah, tanggung jawab nurani ini merupakan prioritas utama untuk membantu orang lain memahami esensi jiwa dan menguatkan ikatan mereka dengan Sang Pencipta.

Dakwah yang hidup adalah dakwah yang membangun ikatan batin—antara seorang hamba dengan sesamanya, antara seorang hamba dengan dakwahnya, dan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Mencintai sesama merupakan bagian dari pencarian akan makna hidup dan kebenaran. Dakwah mengajarkan bahwa kelembutan dan kasih sayang adalah inti dari penyampaian pesan agama, di mana hubungan antar manusia menjadi cerminan dari kasih yang dianugerahkan Tuhan.

Cinta seorang hamba kepada Tuhan tidak hanya menjadi bentuk ibadah, namun juga menjadi kehadiran yang menyatu dalam segala aspek kehidupan. Dakwah sejati tidak hanya mengajarkan konsep-konsep agama, tetapi membimbing setiap individu untuk merasakan cinta Ilahi dalam setiap napas dan denyut jantung. Dakwah adalah panggilan hati yang mengajak kita menyadari bahwa cinta Ilahi adalah sumber dari segala kehidupan. Melalui dakwah, kita diajak untuk memahami bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam setiap detik kehidupan, memberikan kehangatan dan makna dalam perjalanan kita menuju kesempurnaan diri.

Seorang ulama kharismatik pernah berkata, “Dakwah tanpa cinta adalah bagaikan tubuh tanpa jiwa.” Dakwah yang hanya mengandalkan pengetahuan tanpa disertai kelembutan dan kasih sayang bagaikan tubuh yang hidup namun tanpa ruh. Cinta dalam dakwah memberikan kehangatan dan menjadikan dakwah lebih dari sekadar penyampaian pesan—ia menjadi sarana yang penuh makna dan mampu menyentuh hati setiap individu.

Dalam keseimbangan, cinta menjadi kekuatan pendorong yang menghidupkan dakwah. Cinta ini menyentuh orang-orang yang membutuhkan, memberikan kehangatan seperti jiwa yang menghidupkan tubuh. Dakwah yang penuh cinta akan membawa kedamaian dan kebijaksanaan yang mampu mengakomodasi perbedaan pandangan, serta menghadapi resistensi tanpa kehilangan esensi ajaran agama. Kelembutan membawa seseorang menuju pemahaman yang lebih dalam, dan menjadi aspek penting dalam mendampingi mereka yang sedang menempuh jalan kebenaran.

Dakwah dengan kelembutan menciptakan ruang bagi dialog yang sehat dan pengertian yang mendalam. Dalam kelembutan terdapat kemampuan untuk mendengarkan dengan perhatian, memahami perasaan orang lain, dan menyampaikan pesan agama dengan kasih sayang. Pesan dakwah dapat lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan cinta dan empati, mengingat setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang unik. Maka, dakwah yang dilandasi kelembutan bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk membangun hubungan yang erat antara pembawa dan penerima dakwah.

Cinta dalam dakwah bukanlah pelengkap, melainkan kekuatan utama. Tanpa cinta, pesan dakwah akan terasa hampa dan sulit diterima. Oleh karena itu, setiap langkah dakwah hendaknya selalu diiringi oleh cinta yang menyertakan kelembutan dan kasih sayang, sehingga pesan tersebut masuk ke dalam hati dan menginspirasi tindakan kebaikan. Cinta dalam dakwah bukan hanya tentang menyebarkan kebenaran, tetapi juga menciptakan ikatan batin yang erat dengan Allahﷻ dan sesama manusia.

mengembangkandiri.com masjid hassan

Sosiolinguistik: Menyoal Diglosia dalam Ranah Dakwah Islam

KARYA PEMBACA: F. YUSUF

Dakwah yang merupakan khazanah istimewa Islam diperintahkah dalam firman-Nya yang berbunyi,

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Ali Imran / 4:104).

Dalam menunjang keberhasilan dakwah, seseorang harus merancang strategi dakwah yang sesuai dengan objek dakwah. Mengutip dari Moh. Ali Aziz, strategi dakwah dapat dipahami sebagai perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan guna mencapai tujuan dakwah [1]. Terlebih, strategi dakwah harus diaplikasikan dengan beragam asas yang menuntun dai menuju arah dakwah yang efektif lagi efisien. Salah satunya ialah asas sosiologis yang mencakup situasi dan kondisi sasaran dakwah seperti kemampuan linguistik masyarakat sasaran dakwah. Dengan demikian, seorang dai wajib memahami sosiolinguistik masyarakat sehingga tingkat persentase kesuksesan dakwahnya menjadi lebih tinggi.

Mengapa demikian?

Bahasa pada hakikatnya merupakan proses interaksi verbal antara penutur dengan pendengar [2]. Saat seorang dai hendak berbicara, terbentuk suatu gagasan terkait materi dakwah yang mengalir dalam benaknya. Jika telah tiba waktunya, pesan tersebut disampaikan dalam bentuk ujaran yang nantinya ditransformasikan ke telinga pendengar. Dalam proses umpan balik tersebut, seorang dai seyogianya memperhitungkan faktor sosiokultural dan sosiosituasional di samping faktor linguistik yang cenderung mengarah kepada tata gramatikal [2].

Sosiolonguistik merupakan cabang linguistik empiris yang bersifat interdisipliner yang mengkaji masalah kebahasaan terkait dengan aspek sosial dan budaya masyarakat [2]. Keduanya saling bersinergi mengingat struktur sosial dapat mempengaruhi tingkah laku linguistik dan begitu pula sebaliknya [3]. Pemahaman akan disiplin sosiolinguistik begitu esensial mengingat bahasa menunjukkan variasi internal dan tidak akan menemukan seseorang dengan satu gaya bahasa sama [3]. Perbedaan tersebut mungkin terjadi pada pilihan kata, ucapan bunyi, dan struktur kalimat. Dengan memahami berbagai variasi tersebut, seorang dai diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan struktur bahasa di manapun ia berdakwah. Salah satunya berhubungan dengan diglosia. Diglosia merupakan salah satu gejala sosial yang bersangkut paut dengan situasi linguistik sasaran dakwah. Istilah tersebut mengacu kepada eksistensi dua ragam bahasa yang tumbuh berdampingan dengan bahasa lain dengan fungsi sosial yang khusus dalam skema komunikasi antarindividu [2]. Masyarakat dengan kondisi linguistik tersebut disebut diglosik. Lebih spesifik, masyarakat diglosik mengganggap adanya bahasa yang tinggi dan bahasa yang rendah. Bahasa pertama dinilai lebih bermartabat dan biasanya digunakan dalam situasi formal, sementara yang kedua memiliki karakteristik sebaliknya [2].

Diglosia dalam konsep linguistik cenderung mengarah kepada kontak bahasa. Artinya, ada berbagai bahasa yang saling bersinggungan dalam situasi pemakaian bahasa sehari-hari [4]. Menegaskan penjelasan sebelumnya, masyarakat diglosik memiliki ciri pembagian berbagai bahasa sesuai fungsi kemasyarakatan. Ranah tinggi biasanya diterapkan dalam bidang agama, pendidikan, dan pekerjaan. Adapun ranah rendah berkaitan dengan keluarga dan pertemanan. Keduanya tak boleh menerobos penggunaan yang semestinya guna menciptakan kondisi diglosia stabil. Jika sebaliknya, setiap bahasa justru tidak dapat mempertahankan fungsinya dan akhirnya berujung kepada ketirisan diglosia [4]. Ketirisan diglosia tentu akan menimbulkan kondisi sosial yang tidak kondusif mengingat masyarakat mengalami keguncangan budaya secara mendadak terkait pemakaian bahasa. Dalam situasi tersebut, seorang dai akan merasa kesulitan dalam menyampaikan dakwah sebab pengajaran Islam tak luput dari pemakaian bahasa yang baik dan benar.

Apakah yang harus dilakukan oleh seorang dai tatkala terjerembap dalam lubang musibah tersebut?

Seorang dai setidaknya mawas terhadap kondisi diglosia sasaran dakwahnya. Ia harus bijaksana dalam menggunakan ragam bahasa yang sesuai ketika proses dakwah berlangsung. Ketika menghadiri majelis formal, tentu ia diharapkan menggunakan bahasa formal yang dianggap elite oleh masyarakat sekitar. Misalnya, ketika berdakwah di ibu kota Jakarta yang dihadiri oleh golongan kelas atas, berbahasalah dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak luput pengucapan kata sesuai dengan PUEBI. Sebaliknya, tatkala mendakwahi sekelompok pemuda, usahakan gunakan bahasa yang gaul namun tetap sopan. Jangan sampai terbawa suasana sehingga melampaui batas! Penggunaan bahasa yang sesuai tentu akan menarik hati sasaran dakwah seakan-akan gelombang sinyal yang memperoleh media elektronik dengan frekuensi sama. Tak lupa, seorang dai tidak boleh menganggap eksistensi hierarki bahasa. Ia diharuskan menilai diglosia sebagai fenomena linguistik belaka tanpa mengganggu kondisi mentalnya. Jika tidak demikian, ia justru akan menggunakan bahasa yang dianggap lebih elite dan lebih akademik dengan tujuan memamerkan tingkat keilmuannya.

Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa seseorang harus mengucapkan sesuatu sesuai tingkat pemahaman pendengarnya?

Tak hanya berdampak positif terhadap keberhasilan dakwah, adaptasi diglosia yang dilakukan dai ternyata mampu menghindari kematian suatu bahasa. Bayangkan jika dai hanya menggunakan bahasa gaul di situasi apapun, tentu pendengar akan merasa ganjil. Efek setelahnya akan lebih buruk jika sasaran dakwah kelak juga menjadi seorang dai. Ia akan terus berdakwah menggunakan ragam bahasa sama di mana hal tersebut justru memperburuk citra dai.

Mengapa demikian?

Penggunaan bahasa yang monoton dalam jangka waktu panjang menyiratkan kedunguan pembicara. Apakah kematian ragam bahasa hanya berdampak pada dai? Jawabannya tentu tidak. Fenomena kebahasaan tersebut harus dihindari sebab hilangnya sebuah bahasa akan memiskinkan pengetahuan dan pemikiran masyarakat [4]. Masyarakat yang bodoh berakibat pada sulitnya menerima ajaran Islam yang penuh logika.

Intinya, seorang dai sudah sepatutnya mengaplikasikan strategi dakwah secara efisien. Sebagai ilustrasi, ia diharuskan mengetahui situasi linguistik sasaran dakwah. Ia setidaknya memahami garis besar fenomena kebahasaan yang terjadi dan bagaimana ia menghadapinya dengan bijak. Salah satunya ialah diglosia di mana dalam sebuah struktur sosial masyarakat terdapat dua atau lebih ragam bahasa. Yang satu dianggap lebih tinggi sementara yang lainnya dianggap rendah. Dengan pendekatan objektif yang tepat, seorang dai harus menerapkan penggunaan bahasa yang tepat dengan menyesuaikan situasi. Dengan demikian, dengan izin Allah, dakwahnya akan memberikan hasil yang gemilang. Pahalanya akan terus mengalir hingga ruhnya diangkat keharibaan-Nya kelak. Semoga Allah memudahkan para dai tak terkecuali demi tegaknya kalimat syahadat. Amin.

Daftar Pustaka

[1]      E. H. Husnah, “Metode dan Strategi Dakwah,” Banten, 2016.

[2]      Abdurrahman, “Sosiolinguistik: Teori, Peran, dan Fungsinya Terhadap Kajian Bahasa Sastra,” pp. 18–35.

[3]      T. Nugroho, “Apa itu sosiolinguistik?,” Ekspresi, Jakarta, pp. 26–32, Jun. 2006.

[4]      D. Susilawati, “Bahasa Masyarakat Perkotaan: Tantangan Pemerintahan Bahasa Palembang,” Magister linguistik, pp. 1–4, May 2010.

zac-durant-FGrlQJs-dos-unsplash

Rasa Cinta dan Derita pada Dakwah

Tanya: Bagaimana metode mendapatkan hati manusia yang dilakukan Rasulullah dan para Ashabul Kiram, sebagai sosok yang senantiasa hidup dengan kecintaan dan nyeri tabligh? Apakah perjuangan mencari dada yang bisa memahami diskusi selama 30-40 menit dalam sebuah perjalanan kereta api pun dihitung sebagai cerminan dari cinta dan rasa sakit itu? Apa peran dari pendekatan individu (dakwah fardiyah) dalam usaha ini?

Jawab: Ya, diriwayatkan bahwa Rasul & Ashabul Kiram senantiasa hidup dalam semangat tablig & menanggung deritanya. Pertama-tama, sangat penting untuk meyakini urgensi berdakwah dan yakin akan adanya ganjaran yang dijanjikan kepada para pelaku dakwah. Ya, mereka meyakininya. Seberapa percaya? Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah hari ini akan datang hari esok. Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah matahari tenggelam malam akan tiba.

Matahari bisa saja tidak terbit, malam bisa saja tidak datang. Seberapa besar kemungkinannya matahari tidak terbit dan malam tidak datang? Mungkin hanya 1/1triliun. Kemungkinan itu muncul seperti saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menahan matahari sebagai salah satu mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga malam pun tidak datang. Atau kiamat pecah, sehingga malam tidak datang karena yang datang adalah hal lain.

Namun, mereka sangat percaya pada tujuan mereka sehingga mereka mempercayainya dengan pasti seperti percaya pada hasil hitungan matematika. Mungkin terdapat keraguan pada hasil hitung dua kali dua sama dengan empat. Akan tetapi, kami tidak ragu pada akhir perjalanan kami. Kami tidak sedikit pun ragu pada yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Mereka meyakini hakikat itu. Ini adalah perkara yang sangat penting.

Mungkinkah kepercayaan ini muncul secara tiba-tiba? Allah ketika mengutus Rasulullah di waktu yang sama Dia juga mengirim orang-orang yang akan menyambutnya. Anda tidak bisa menjelaskan perkara ini dari sudut pandang lainnya. Rasulullah dibekali mungkin dengan satu ayat atau satu surat. Rasulullah mengambil pesan ini dengan semangat untuk menyampaikan apa saja yang dijanjikan oleh pesan ini kepada orang lain. Beliau menyampaikannya kepada Sayyidah Khadijah.

Semoga Ummul Mukminin Khadijah mengampuni kita dan berkenan memasukkan kita dalam naungan pengayomannya. Semoga beliau berkenan mengusap rambut kepala kita di akhirat nanti. Dan mengakui kita sebagai anak-anaknya, insya Allah.

Tanpa keraguan, ia meletakkan telapak tangan di dadanya dan berkata: “Sampaikan kepadaku…! Sekali-kali Allah tidak akan merendahkanmu! Sesungguhnya engkau menyambung hubungan keluarga, menafkahi kerabat, dan membantu orang-orang tidak mampu. Memberikan jamuan kepada tamu serta menolong orang-orang yang tertimpa musibah. Allah tidak akan mengizinkan setan mengganggumu, mereka tidak akan membuatmu tenggelam dalam khayalan. Tidak bisa diingkari lagi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilih engkau untuk memberi petunjuk kepada kaummu. Jalan yang engkau tempuh selalu merupakan jalan menuju kekamilan.. Ufukmu senantiasa merupakan ufuk yang agung…” Ini merupakan respon dan pemikiran yang luar biasa. Dialah orang yang pertama kali menghibur Rasulullah.

Orang yang kedua adalah Sayyidina Abu Bakar. Dia adalah orang yang pertama kali ditemui Rasulullah ketika keluar rumah pasca beliau menerima wahyu. Ia adalah sosok yang dikenal dan sering membersamainya sejak masa kecilnya. Jarak umurnya 2-3 tahun lebih muda. Beliau menanyai Sayyidina Abu Bakar: “Kepada siapakah akan kusampaikan pesan ini?” Sayyidina Abu Bakar menjawab tanpa ragu: “Kepadaku Ya Rasulullah!”

Ketika melihat peristiwa itu dari perspektif ini, ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengirimkan sosok yang akan membawa pesan yang akan mengubah warna dunia, ketika Allah mengirimkan seorang insan kamil untuk membawa pesan agung ini, sejak awal Dia menyiapkan sosok-sosok dengan karakter khusus yang akan menyambut pesan dari utusan-Nya. Demikianlah Allah memprogram dan menakdirkannya. Beberapa dari mereka hanya membutuhkan satu ayat untuk melejit, misalnya Abu Bakar, Ali, dan Usman radhiyallahu anhum. Tiga-empat tahun kemudian Sayyidina Umar menyusul. Demikian juga para Asyarah Mubasyarah, mereka semua merupakan sahabat muhajirin. Anda juga dapat mengkaji mereka dengan kriteria yang serupa.

Faktor kedua, seperti yang dibahas Badiuzzaman, yaitu faktor insibag (celupan). Kepada siapa pun Rasulullah menggoreskan kuas pesan, perasaan, dan pemikirannya, seakan mereka yang digores mengalami proses melangit. Mereka yang menyaksikan sikap, perilaku, dan tatapan matanya akan berseru: “Tidak ada kebohongan padanya”. Apabila mereka yang menyaksikannya tidak memiliki praduga, mereka akan takjub & jatuh hati kepadanya. Dan berseru: “Beliau sosok terpercaya yang layak untuk diyakini”. Demikianlah besaran kekuatan magnetnya. Mereka yang tadinya hidup di dalam jelaga hitam pun seketika rontok noda-nodanya. Seakan disucikan oleh telaga kautsar di surga sehingga mereka layak bersanding bersama malaikat. Teruntuk mereka yang meyakini adanya kehidupan setelah mati dengan segala kriterianya dan mereka yang meyakini Rasulullah serta pesan-pesan yang dibawanya, sungguh terdapat ganjaran atas apa yang mereka yakini sebagai kabar gembira yang telah dijanjikan.

Sebaliknya, terdapat ancaman bagi mereka yang mengingkarinya. Di satu sisi, mereka yang meyakininya akan berangkat menuju kebahagiaan abadi. Mereka menjadi calon orang beruntung yang akan menyaksikan jamaliyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berangkat menuju ufuk untuk meraih rida Allah. Sedangkan mereka yang tidak meyakininya akan mendapat hal yang sebaliknya. Jika kelompok yang satu melangit, menyerupai malaikat, berangkat menuju derajat malakut. Maka kelompok yang ini akan terpuruk dan tergelincir ke derajat asfala safilin. Kini jika kita melihat perbedaan dari dua keadaan ini secara bersamaan, maka kelompok yang berhati bersih ini akan dengan penuh semangat menyebarkan pesan-pesan ini kepada manusia. Aku tidak bisa menggunakan analogi yang sama untuk Rasulullah. Namun, Al Qur’an menjelaskan kondisinya dalam dua ayat Fa la’allaka bākhi’un nafsak (QS al Kahfi 18:6) yang artinya Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu”

Beliau sangat ingin agar umatnya memilih jalan yang pertama supaya umatnya melejit ke derajat ‘alaya iliyin, supaya umatnya dimuliakan dengan surga. Dengan demikian mereka akan dimahkotai kesempatan menyaksikan jamaliyahnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Beliau berharap umatnya untuk meyakininya sehingga mereka pun menjadi layak dimahkotai dengan Ridwan. Beliau berseru “Orang ini juga harus yakin/beriman… Orang itu juga harus yakin/beriman…” . Bukan seperti apa yang dikatakan sebagian teolog islam masa kini: “Allah juga punya neraka. Buat apa kamu terlalu semangat berdakwah dan mengundang orang-orang?” Ungkapan ini merupakan wujud ketidaksadaran diri dan ketidakpahaman akan makna neraka.

Nadanlar eder sohbeti nadan ile telezzüz

Divanelerin hemdemi divane gerektir.

Hanya orang tak berilmu yang menikmati perbincangan dengan orang dungu.

Dan kawan orang gila adalah juga orang yang tak berminda.

Ziya Pasa

Di sisi lain, orang-orang yang tidak beruntung berarti kehilangan kebahagian abadinya. Sebagaimana dibahas dalam tafsir. “… Lābiṡīna fīhā aḥqābā.”Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya (QS An Naba 78:23)

Serta ayat: Innallażīna kafarụ bi`āyātinā saufa nuṣlīhim nārā, kullamā naḍijat julụduhum baddalnāhum julụdan gairahā liyażụqul-‘ażāb, innallāha kāna ‘azīzan ḥakīmā,  Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab (QS. An-Nisa 56). Ya, Setiap kali kulitnya hangus, Allah akan ganti kulitnya dengan kulit yang lain sehingga mereka bisa merasakan azab.

Ketika melihat gambaran dari ancaman ini, hati kita bergidik “Ampun Ya Allah..!” Ternyata kita harus merangkul dan menyelamatkan orang-orang. Kini menghadapi masalah yang demikian jika Anda masih memiliki hati nurani, Apakah Anda tidak akan membunuh diri Anda sendiri seperti yang dirasakan oleh Rasulullah? Inilah yang dirasakan dan dipikirkan para sahabat. Di satu sisi mereka memandang surga dengan mata kepalanya. Mereka tidak akan menyia-nyiakannya. Di sisi lain mereka menyaksikan neraka seperti digambarkan oleh Al Qur’an. “Ampun beribu ampun! Jangan sampai Allah menjebloskan kita ke tempat ini!” Jangan sampai satu orang pun jatuh ke dalamnya. Oleh karena itu, kita harus mengulurkan tangan.

Kemudian ia tidak menikmati waktu untuk pribadinya. Ia menggunakannya untuk kebutuhan orang lain. Mereka rela mati asal orang lain bisa bangkit hidup. Mereka hidup untuk orang lain. Hidup yang tak digunakan untuk hidup orang lain tak layak disebut hidup. Hidup yang demikian adalah hidup yang rugi. Dan mereka tak tinggal diam di derajat yang rendah itu. Mereka selalu hidup di derajat alaya iliyyin, menuju kekamilan hidup.

Pertama-tama, permasalahannya perlu ditinjau dari sudut pandang ini. Demikianlah Rasulullah dan ashabul kiram hidup dalam semangat dan pilunya dakwah dan cara memenangkan hati manusia.

Selain itu, yang ketiga adalah mulayamah (lemah lembut). Ia merupakan faktor penting lainnya. Ia dibahas dalam Al-Qur’an dalam bentuk anjuran kepada Nabi Musa supaya berlaku dengan Qawl Layyin. Jika Anda menunjukkan kebaikan, kelembutan, dan toleransi dalam wajah dan pemikiran Anda, jika Anda memiliki rasa hormat terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal, pihak lain tidak akan tidak menghormati Anda, mereka juga akan menghormati Anda. Ini akan menjadi kisah penuh hormat yang disampaikan kepada pihak yang penuh rasa hormat juga. Ia disebut Qawl Layyin, yaitu tutur kata yang lembut.

Misalnya Anda pergi menemui Amenophis II atau Firaun. Lalu Anda berseru: “Wahai orang merugi yang merasa dirinya adalah tuhan! Saya mengundangmu kepada hidayah. Jika menolak, dirimu akan dijebloskan ke dalam neraka.”

Namun, perintah Al-Qur’an berkata: “Fa qụlā lahụ qaulal layyinal la’allahụ yatażakkaru au yakhsyā ~ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha 44)”.

Dengan adanya perintah ini, maka kita perlu sesuaikan apa yang akan kita sampaikan. Mungkin disampaikan: “Wahai hamba Allah…”

Saya rasa pemilihan kata yang tepat juga merupakan faktor yang sangat penting. Apabila Anda merangkul semua orang, termasuk kepada mereka yang menghina Anda, maka alam semesta pun akan merangkul Anda. Lewat pendekatan Rumi dan Yunus Emre kita rangkul semua orang. Kita harus mampu berkata:”Nilai yang saya yakini telah mentarbiyah sikap saya.” Bukankah ini cukup meyakinkan?

“Saya pun juga seorang manusia, saya pun bisa marah. Namun nilai yang saya yakini telah membentuk karakter saya sedemikian rupa. Meskipun Anda menghina saya sedemikian rupa, saya tetap ingin merangkul Anda.”

Pada akhirnya, mereka juga manusia; Sebagai apresiasi mereka pun akan memberi respon positif. Apalagi dengan beragamnya perbedaan yang ada dewasa ini. Misalnya perbedaan agama, mazhab, dan suku. Di satu sisi kita perlu menutup mata pada perbedaan tersebut untuk kemudian mengundangnya minum teh. Kita pun perlu datang juga memenuhi undangannya, atau mengunjunginya sambil membawa bingkisan. Kita juga bisa memanfaatkan hari-hari besar agama.

Contoh lainnya bisa Anda tambah sendiri. Misalnya kita membuat program untu memperingati waktu wahyu pertama turun atau lazim disebut Nuzulul Qur’an. Itulah hari di mana pintu langit dibuka kepada kita. Kita harus memaksimalkan dan manfaatkan hari ketika wahyu pertama turun di singgasana Hira tersebut melalui peringatan yang penuh makna.

Contoh berikutnya, kita buat peringatan hari di mana Rasulullah diboikot misalnya.

Berikutnya yaitu peringatan Maulid Nabi. Tentu program maulid kita sudah rutin melakukannya; atau peringatan Isra Mikraj.

Contoh berikutnya, membuat peringatan wafatnya Sayyidah Khadijah. Dalam program tersebut kita bsia membaca manaqibnya. Kita sampaikan kisah hidup Ummul Mukminin yang agung.

Contoh berikutnya, membuat peringatan tahun baru hijrah yang dimulai perhitungannya pada masa Sayyidina Umar. Ketika membahas tahun baru hijriah otomatis kita akan membahas kemuliaan hijrah. Hijrah merupakan awal keberadaan dan awal pembentukan negeri madani. Di dalamnya terdapat peristiwa dipersaudarakannya muhajirin dan ansar, serta hal agung lainnya.

Kita bisa memanfaatkan beragam peristiwa serupa. Misalnya iduladha, idulfitri, nisfu syaban, dsb. Di masyarakat kita terdapat penghormatan terhadap hari-hari besar itu. Itu juga merupakan kesempatan bagi Anda untuk menyampaikan rasa hormat kepada hari-hari besar tersebut. Di hari tersebut bisa kita bawakan bubur sumsum, bubur candil, bubur baro-baro, dsb. Kita masakkan juga rendang, dan nasi liwet. Melalui sarana ini kita coba menunjukkan bahwasanya kita dekat. Kunjungan ini kita jadikan sebagai jembatan penghubung. Dengan jembatan yang dibangun itu mereka pun bisa datang mengunjungi kita. Di hari berikutnya Anda akan menyaksikan mereka membawakan teh dan kopi untuk Anda. Saya pikir hal-hal ini sangatlah penting untuk mengenalkan dunia Anda, Wallahu alam.

jisun-han-cl9KWGDf52E-unsplash

Potret Maknawi Sang Bediuzzaman : Tidak Takut Akan Siksa Neraka, Tidak Berhasrat Akan Kenikmatan Surga

     Bediuzzaman Said Nursi menjelaskan perasaan rohaniah dan pemikirannya yang begitu dalam kepada Esref Edip mengenai pengabdian terhadap agama : “Satu-satunya hal yang membuatku menderita ialah bahaya yang sedang dihadapi umat Islam. Pada masa silam, bahaya berasal dari luar. Namun sekarang, berbagai bahaya itu berasal dari umat Islam sendiri. Sangat sulit untuk melawannya.  Diriku amat takut bila umat tidak mampu menahannya, dikarenakan mereka tidak mengetahui keberadaan musuh. Mereka seolah-olah menganggapnya sebagai teman.”

     Beliau melanjutkan, “Apabila pandangan masyarakat telah buta, benteng keimanan umat Islam akan berada dalam bahaya. Hanya itulah yang kupedulikan sekarang. Diriku bahkan tidak pernah punya waktu untuk memikirkan semua siksaan and penghinaan yang telah kurasakan. Yang kuinginkan hanyalah keselamatan umat. Itu sudah cukup bagiku. Apabila hal tersebut terwujud, diriku tidak akan keberatan dan bersedia untuk mengalami penderitaan yang lebih pedih.”

     “Yang sedang kubicarakan adalah pondasi utama masyarakat Islam. Iman, kalbu, dan nilai-nilai keislaman. Ketiga hal tersebut kuajarkan di bawah naungan persatuan dan keimanan sebagaimana termaktub dalam Alquran. Ketiga hal inilah yang menjadi pilar utama umat Islam. Tanpanya, umat akan hancur suatu saat nanti.”

     Mereka bertanya kepadaku, “Mengapa Anda mengambil barang ini dan itu?”. “Aku bahkan tidak menyadari hal ini. Kobaran api menyala-nyala di hadapanku, membumbung ke atas langit. Anak-anakku terbakar membara dalam api kekufuran. Begitu pula diriku. Kucoba berlari mendekati kobaran api dan memadamkannya. Aku akan menyelamatkan agamaku sendiri.” Ia beralasan, “Apakah masuk akal bila ada seseorang yang ingin berurusan dengan orang yang berhasrat menjebaknya? Dalam keadaan bahaya ini, seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan dari setiap perbuatan kecil manusia?”

     Bediuzzaman dengan tegas berkata, “Apakah mereka berpikir diriku adalah seseorang yang egois? Seseorang yang hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Tentu saja tidak. Kukorbankan seluruh dunia dan akhiratku untuk menolong umat. Diriku tidak takut pada siksa neraka dan tidak berhasrat akan kenikmatan surga. Untuk keselamatan dua puluh lima juta orang Turki, tidak hanya satu Said yang akan mengorbankan dirinya. Pasti ada ribuan Said lain yang akan melakukan hal sama. Apabila tidak ada seorang pun yang tunduk pada ajaran Alquran, diriku tidak akan menginginkan kenikmatan surga. Itu akan menjadi penjara bawah tanahku. Lebih baik diriku terbakar api neraka.”

     “Dalam 80 tahun kehidupanku, diriku tidak prnah mengetahui secuil pun kenikmatan duniawi. Hidupku habis di dalam penjara bawah tanah, pengadilan, dan pengasingan. Ditambah lagi, kehidupanku dipenuhi dengan kesedihan, penderitaan, dan kesulitan. Kukorbankan semua jiwa dan ragaku untuk keselamatan umat. Lisanku bahkan tidak mampu mengutuk kezaliman mereka. Hanya satu alasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan umat melalui buku Risalah Nur karanganku.”  Memang hal itu sebuah fakta. Berdasarkan penuturan jaksa Afyon, Said Nursi telah menyelamatkan iman 500.000 Muslim atau mungkin lebih banyak, MasyaAllah.

     Bediuzzaman adalah seseorang yang siap mengobankan jiwa dan raganya untuk keselamatan umat Islam. Sehubungan dengan hal tersebut, beliau tidak tanggung-tanggung. Beliau melakukan perjaanan ke puncak maknawi tertinggi, Beliau memaafkan semua orang yang telah menyiksanya. Begitu mulianya pribadi beliau!

     Beliau melupakan semua rasa sakit dan derita yang dialaminya dengan penerimaan satu orang akan keimanan yang suci. Beliau menganggapnya sudah cukup untuk membalas semua penderitaan yang beliau alami. Beliau berjalan di atas cakrawala Baginda Rasulullah yang bercahaya. Siapakah yang lebih kuat dibandingkan dengan orang yang memiliki kepercayaan dan ketundukan penuh kepada Tuhannya? Bagaimana gelapnya ruang pengadilan, penjara, atau kematian dapat melukainya?

     Beliau dengan rasa rendah hati menuturkan, “Sejak diriku tahu bahwa Risalah Nur menyelamatkan kalbu orang-orang yang membutuhkan rasa iman, maka biarkanlah seribu Said mengorbankan dirinya. Diriku telah memaafkan siapa saja yang menzalimi dan menyiksaku selama 28 tahun lamanya. Tidak perlu diragukan, diriku telah memaafkan siapa pun yang mengusirku dari satu kota ke kota lainnya. Kumaafkan semua orang yang menghina dan menuduhku atas banyak hal sehingga membuatku dipenjara! Kumaafkan mereka yang telah melemparkan ragaku yang lemah ini ke dalam penjara bawah tanah!”

   “Kukatakan kepada takdir yang selalu adil, diriku pantas menerima tamparan kasih sayang. Jikalau diri ini hidup seperti kebanyakan orang, yang melulu berpikir tentang dirinya sendiri dan selalu mengambil jalan termudah tanpa adanya pengorban jiwa dan raga, niscaya diriku akan kehilangan kekuatan untuk mengabdi kepada agama. Aku telah mengorbankan semuanya. Aku berhasil bertahan dari semua penderitaan pahit. Aku bersabar atas semua siksaan yang pedih. Pada giliranya, realita keimanan sudah tersebar ke segala penjuru. Lembaga pendidikan berbasis Risalah Nur telah berkembang menjadi ribuan dengan jutaan murid yang berdatangan. Mulai sekarang, mereka akan melanjutkan jalan pengabdian ini. Mereka tidak akan menyimpang dari misi pengorbanan ini. Mereka akan melakukan semuanya hanya untuk meraih rida Ilahi semata.” 1

1. Nursi, Bediuzzaman Said, Risale-i Nur Kulliyati-2. Istanbul: Nesil, 1996, hal. 2206