mikael-kristenson-3f4sQIums6k-unsplash

Perjalanan Kekariban, Keamanan Jalan, dan Pertolongan

Ketika kita melihat apa yang terjadi melalui lensa akhirat dan konsekuensinya, yang muncul adalah gambaran yang benar-benar berbeda…!

Melibatkan harapan duniawi pada pekerjaan-pekerjaan ukhrawi selain menyebabkan kegagalan, ia juga mengisyaratkan syirik. Segala puji dan sanjungan hanyalah bagi Sang Pencipta, ketika sedang memperjelas posisi kita dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya meskipun prosesnya penuh dengan masalah Dia melalui sebuah lereng, wilayah, pelabuhan, dan dermaga yang tersedia lagi cocok menghentikan kita seakan berfirman: “Tunggu di sini!”. Barangkali salah satu di antaranya akan terbang di angkasa. Atau mungkin seperti cerita yang dikarang Jules Verne, dia akan melakukan perjalanan melintasi bintang-gemintang. Namun, jika hasilnya adalah kegelapan di hari kiamat maka untuk apa semua capaian itu? Al-Ustaz Badiuzzaman Said Nursi menyampaikan di banyak tempat tentang asas dari benih tersebut: “Iman secara maknawi sedang mengandung benih yang akan melahirkan pohon tuba di surga nanti. Sementara kekufuran secara maknawi sedang mengandung benih dari pohon zaqqum dari neraka jahanam.” Maka sebenarnya mereka senantiasa menelan benih pohon zaqqum sepanjang umurnya, hafizanallah. 

Untuk itu, apapun masalah yang menyekat tenggorokan kita, setelah kita menolehkan pandangan mata kita ke alam berikutnya ia akan hilang berkat izin dan inayat ilahi. Apalagi jika jalannya mendatar tanpa rintangan dan penghalang!

Ketika Sang Potret Kebanggaan Umat Manusia menutup mata dan rohnya bersiap untuk mengembangkan sayap layaknya merpati untuk terbang menuju ke rahmatullah, segala sesuatu tak lagi bernilai di depan mata ini. Tenaga menjadi hilang hingga tak sanggup lagi untuk berdiri. Semoga nyawaku pun turut dicabut…! Demi melihat kerumunan orang berkumpul dalam semangat penghambaan sebagaimana mereka berkumpul di sekitar Ka’bah, maka Sayidina Abu Bakar beranjak untuk mengimami salat… Barangkali peristiwa tersebut terjadi di Madinah. Namun, menggunakan istilah yang digunakan Badiuzzaman, di mana pun manusia berada, ketika ia bertawajuh ke arah Ka’bah dalam bentuk lingkaran halakah, maka ujung jalan akan terhampar hingga Sidratul Muntaha… Ya, ketika memandang pemandangan yang menyiratkan harapan, manis, nan lembut ini Rasulullah pun tersenyum. Meskipun energinya bahkan tak sanggup untuk menyiratkan senyuman, tetapi sungguh beliau sedang tersenyum. 

Insya Allah Sang Maha Pengasih menakdirkan Anda semua untuk menyaksikan menit-menit yang lezat, manis, indah, nan legit ini. Ya, Dia bisa menggubah dunia layaknya surga bagi Anda. Ketika menatap dunia dengan pandangan ini sungguh ia akan jadi sangat berbeda. 

Bukankah dalam suatu kesempatan terdapat sebuah kalimat yang disandarkan kepadanya, Rasulullah bersabda:  اَلدُّنْيَا جِيفَةٌ، وَطَوَالِبُهَا كِلاَبٌ yang artinya “Dunia itu adalah bangkai, yang mencarinya (dunia), adalah anjing.” Apabila dunia diucapkan demikian oleh Sang Pemilik lisan yang Suci, itu pasti karena adanya kesepakatan yang secara lahiriah menuntutnya demikian. Setelah sabda tersebut, penjelasan apapun yang dirangkai guna menerangkan makna dunia tak akan sebanding dengannya. Semua yang beliau katakan selaras dengan hakikatnya.  Dalam hal ini, beliau menyebutnya “qilabun (anjing)”. 

Mereka yang menjalankan kehidupan dengan kesadaran bahwasanya dunia adalah ladang yang hasilnya akan dipanen di akhirat sekaligus sebagai cermin manifestasi nama-nama ilahi, di hari akhir nanti akan menyaksikan Jamalullah dari peraduannya. 

Untuk itu, pada dunia terdapat sisi-sisi lahiriah cerminan dari asma-asma ilahi. Sebagaimana disampaikan oleh Badiuzzaman, dunia adalah mazraatul akhirah, ladang akhirat. Anda dapat menyaksikan nama-nama-Nya yang agung ketika memperhatikan seluruh sisi dunia.

  تَأَمَّلْ سُطُورَ الْكَائِنَاتِ فَإِنَّهَا * مِنَ الْمَلَإِ اْلأَعْلَى إِلَيْكَ رَسَائِلُ

“Tafakkurilah baris-baris alam semesta sedalam mungkin. Itu karena mereka adalah pesan-pesan ilahi yang diturunkan dari Tempat Tertinggi untuk kalian semua.” “Seluruh alam semesta adalah suatu kitabullah yang agung/huruf mana pun yang kau eja di situ muncul Nama Allah.” (R.M. Ekrem)

Apabila kita melihat sisi-sisi ini, pada prinsipnya mereka pun menyiratkan-Nya. Mereka ibarat lensa dan proyektor yang disesuaikan dengan level-level setiap manusia. Sekali lagi, di satu sisi seorang manusia akan berkata: “Aku ingin melihat-Nya!” ketika berkontemplasi tentang-Nya. Aku sendiri terlihat. Karena aku terlihat, aku yakin akan bisa melihat-Nya, insya Allah. Semoga Allah menganugerahkan level dan derajat pada dua ufuk tersebut, insya Allah. Mari kita menjalani hidup dengan mengaitkan diri dari kesadaran bahwasanya kita “disaksikan”. Semoga di waktu berikutnya Allah memuliakan kita dengan kesempatan untuk mampu “menyaksikan-Nya”. 

Sebagaimana disampaikan pada kitab Bad’ul Amali, 

يَرَاهُ الْمُؤْمِنُونَ بِغَيْرِ كَيْفٍ

وَإِدْرَاكٍ وَضَرْبٍ مِنْ مِثَالٍ

“Orang mukmin melihat-Nya tanpa melalui sarana/alat. Padanya juga tidak dapat dicarikan padanannya. Dalam bahasa hadis: “Kaum mukminin menyaksikan-Nya tanpa sarana ataupun alat seperti saat mereka menyaksikan bulan purnama.’ Ini merupakan ungkapan yang menyatakan kemudahan memandang. Ungkapan ini tidak menyatakan bahwasanya Allah mirip dengan purnama, matahari, atau apapun yang bisa dilihat oleh mata kita1. Semua manusia akan mampu melihat Zat Allah Yang Maha Agung, Sang Pengelola alam semesta ini dengan kapasitasnya masing-masing. 

Bait tersebut ada kelanjutannya, berikut sambungannya:

يَرَاهُ الْمُؤْمِنُونَ بِغَيْرِ كَيْفٍ

وَإِدْرَاكٍ وَضَرْبٍ مِنْ مِثَالٍ

فَيَنْسَوْنَ النَّعِيمَ إِذَا رَأَوْهُ

فَيَا خُسْرَانَ أَهْلَ الْاِعْتِزَالِ

Mukminin mampu menyaksikan-Nya tanpa alat dan tanpa sarana. Tak ada permisalan yang sepadan dengannya. Begitu menyaksikan-Nya, mereka akan lupa pada segala nikmat surga. Betapa meruginya kaum muktazilah yang mengatakan “Allah tak bisa disaksikan”. Ketika mereka menyaksikan-Nya, mereka akan melupakan nikmat-nikmat surga. Meskipun ada istana, di mana sungai mengalir di kakinya, di mana para bidadari menantikannya, .. menyaksikan-Nya, di hadapan pemandangan yang sanggup membuat pingsan akan membuat ahli surga berkata: “apa pentingnya nikmat-nikmat tersebut” .. Demikian kira-kira…

Apabila kesempatan menyaksikan-Nya telah diraih, artinya tidak ada lagi hal yang perlu dikejar. Demikianlah takaran posisinya. Biarlah nyawa ini menjadi tebusan bagi Zat yang memberikan urgensi pemosisian ini…! Pemandu kita dalam perkara ini adalah pemandu yang tak menyesatkan, shallallahu alaihi wasallam. Pada masa ini, penerjemah Rasulullah, yang mengikuti langkah-langkahnya senti demi senti, adalah Ustaz Said Nursi. Beliau akan berbahagia di Firdaus-Nya, insya Allah. Tangannya akan memegang bahu kita, beliau menyokong kita dari belakang, insya Allah. Apabila kita meniti jalannya dengan memegang Risalah Ikhlas, Ukhuwah, dan semangat untuk meninggikan kalimat Allah, insya Allah Anda telah berada di bawah panduan tangan dan garansi yang kuat. Setelah ini tidak ada lagi hal yang perlu dicoba. 

Kita tidak perlu mengaku sebagai orang suci. Apabila semua saudara-saudara kita melakukan muhasabah mendalam dan merenungi makna tanggung jawab yang diembannya, serta memisahkan diri dari keakuan untuk kemudian berlindung di bawah kekuatan dan kewenangan Allah, itu sudah cukup.

Adalah tidak tepat untuk melihat permasalahannya dari satu sisi saja. Terdapat sekelompok orang yang pada periode waktu tertentu tak mampu menahan kecemburuannya kepada Anda. Mereka berusaha mendirikan institusi-institusi sosial sesuai kebutuhan mereka. Ketika Anda muncul dengan beberapa perbedaan, mereka kemudian mengamuk karena cemburu. Misalnya terdapat kejadian seperti ini. Namun, ketika kita memahami permasalahannya seperti itu, dalam hati kita kemudian membuih perasaan untuk menyalahkan mereka. Meskipun ini salah, kita dapat menyebutnya sebagai “kesalahan ijtihad”. Karena saat ini kezaliman, keburukan, dan kemaksiatan menunjukkan demikian. Ini adalah lapisan diryah yang paling dasar. Ziya Gokalp menyebutnya sebagai “merajalelanya dosa”

Permasalahan kedua sebagai berikut: Allah jalla jalaluhu telah memberi kita banyak kesempatan. Ketika sedang membahas saudara kita yang baik ini, saya tidak pernah ingin mengungkapkan pikiran-pikiranku tentang dirinya.  Namun, sebagai pengingat dengan menautkan permasalahannya kepada diriku sendiri, maka saya berkata: “Seandainya saya mampu bersikap logis lagi tepat, barangkali tawajuh orang-orang ini akan bertansformasi menjadi pengabdian-pengabdian yang indah! Sayangnya, dikarenakan diriku memotong permasalahannya sedemikian rupa, pengabdian ini pun tersendat…! 

Aku tak bisa menilai saudaraku dengan pendekatan ini. Namun, terdapat satu hal yang ingin aku ingatkan: “Tidak masalah bagi saudara-saudara kita untuk bertawajuh kepada Allah dengan pendekatan seperti tadi.” Sebagaimana Anda ketahui Al-Ustaz Said Nursi berkata: “Lakukan tazkiyah nufus dengan tidak melakukan tazkiyah nufus (Lihat An Najm: 32).” Jangan anggap diri kita suci. Terdapat penjelasan dalam kata ke-31:

إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِيَدِ الرَّجُلِ الْفَاجِرِ

Beliau berkata: “ Terkadang Allah meninggikan agama ini melalui tangan orang-orang fajir (pendosa)”. “Karena Anda tidak suci, barangkali Anda perlu menganggap diri sebagai seorang fajir,” lanjutnya. Dari sisi ini, setiap pribadi perlu memandang dirinya demikian. Pendekatan ini selain penting dalam rangka membersihkan diri, ia juga penting untuk menyadarkan bahwa dirinya tidak memiliki kontribusi apa-apa. Semakin kita memisahkan diri dari kekuatan, kehendak, dan kebajikan kita sendiri, maka semakin kita mengandalkan dan berlindung pada kekuatan, kekuatan, rahmat, dan kebijaksanaan-Nya.  Memang inilah pendekatan yang tepat.

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Tiada daya dan upaya kecuali terwujud berkat izin dan kehendak Allah.

Selain itu, kita juga perlu memandangnya seperti ini: “Di mana kiranya kita membuat kesalahan!” Misalnya: “Apakah ia terjadi karena kurangnya analisis kita? Apakah kita bergerak sendirian? Seandainya sedari awal kita membuat keputusan melalui keputusan kolektif dan musyawarah! Ini persoalan yang berbeda tentu… Terkait hal ini kita bisa membuat daftar lainnya… Namun, permasalahan ini secara khusus perlu mempertimbangkan tiga hal fundamental sebagai bahasan utama.

“Bersama kesulitan terdapat kemudahan.” Pada setiap peristiwa-peristiwa sulit kita juga perlu melihat beragam anugerah ilahi lainnya. 

Terdapat sisi-sisi baik dari setiap permasalahan. Memang segala hal bermula dari kebaikan. Misalnya di suatu negara praktik agama dilarang. Sebagaimana Anda ketahui, TPA Al Qur’an pun dilarang. Pada masa itu, aku tetap berangkat ke TPA Al-Qur’an. Mereka membuat terowongan dari kandang sapi menuju ruangan pengajar Al Qur’an. Di situlah kami, anak-anak, belajar mengaji. Saya ingat bagaimana Satpol PP membongkarnya. Dalam masa yang demikian, apa yang dilakukan Ustaz Said Nursi? Pada masa itu tidak terlalu buruk, terdapat 2-3 orang yang berkumpul di rumah-rumah belajar… Jadi masalah-masalah itu di satu sisi menunjukkan jalan keluar yang luar biasa bagi kita, insya Allah. Apa yang kita capai pada hari ini bermula dari kondisi sulit tersebut…

Demikianlah sisi-sisi positifnya. Barangkali saat ini Allah sedang menekan kita, tetapi dalam setiap kesulitan terdapat kemudahan: فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . Demikian firman Allah dalam Surat Al Insyirah. Artinya di periode Mekkah kalbu mulia Nabi Muhammad sangat tersiksa. Untuk itu Al-Qur’an berkata: وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ

“Dan Kami telah menghilangkan daripadamu beban yang memberatkan punggungmu? (Al Insyirah 2-3).” “Beban yang dapat meremukkan tulang punggungmu…” Beliau menghadapi kondisi yang demikian. “Namun, kamu harus tahu bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan”

Selain kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, ternyata Allah juga mendorong kita untuk menemukan hal-hal baik dan indah lainnya. Dia menebarkan kita ke seluruh penjuru dunia. Pada satu masa mereka bertebaran secara sukarela.. Ini pun pasti ada hikmah yang tak mampu dicerna akal kita.. Jika mereka di masa itu tidak berangkat, jika mereka tidak menerjemahkan perasaan, pemikiran, serta prinsip-prinsip Anda, barangkali para “muhajir” yang datang kemudian tidak akan disambut sehangat ini… Di negara-negara tujuan, teman-teman Anda telah membangkitkan profil yang sangat bagus di tengah masyarakat lokal. Masyarakat lokal pun menyambut teman-teman yang datang kemudian dengan rangkulan erat yang hangat. Ini adalah contoh hal-hal positif di masa yang sulit. 

Setelah ini, kita harus bersikap sesuai situasi dan kondisi. Terdapat teman-teman yang telah berangkat dan tinggal di sana. Apabila terdapat pihak-pihak tertentu yang berusaha merusak kedamaian dan merusak perencanaan Anda, Anda tetap harus mengerjakan tugas ini, insya Allah. Mereka datang dengan agenda untuk merusak tatanan ini. Merusak itu mudah. Namun, mereka pasti berada dalam golongan yang kalah di sisi Allah. Ya, demikianlah kita harus memahaminya. Dalam satu jangka waktu tertentu kita perlu melihatnya seperti ini. 

Gangguan-gangguan tadi menyebabkan tetesan darah. Darah itu juga membasahi kalbuku, ia mengusir kantukku, dan memicu penyakit-penyakit baru bagiku. Namun, kita harus mengencangkan geraham dan bersabar. Kita perlu menyambut ujian-ujian ini dengan wirid yang biasa kita baca pagi dan sore hari:

رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) رَسُولاً

Dalam beberapa riwayat terdapat lafal: رَسُولاً نَبِيًّا 

Aku rida bahwa Allah adalah Rabb-ku, Islam adalah agamaku, dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul“.

 Dengan wirid ini kita tebas segala perasaan, pemikiran, takhayul, dan imajinasi negatif, insya Allah. 

Di satu sisi kita menjalankan hidup sesuai ufuk rida dengan senantiasa berharap akan rida dan membuat Allah senang dengan pekerjaan kita, di sisi lain kita merencanakan beragam aksi sesuai kebutuhan, situasi, dan kondisi dunia tempat kita hidup saat ini, mudah-mudahan dengan demikian kita menjadi orang-orang yang berjalan lurus menuju Allah, insya Allah. Kita adalah pejalan kekariban (kedekatan dengan Allah). 

Para sufi mempraktikkannya di majelis-majelis zikir: “Fana fis syaikh”, “ Fana fir rasul”, “Fana fillah”, Baqabillah-ma’allah”, “Sayir anillah”… Anda akan berangkat serta mengalami naik dan turun. Anda akan pergi, Anda akan kenyang, Anda akan puas; benar-benar akan marem, Anda akan meluap, luapan ini terjadi dengan izin Allah. Anda akan berkata: “Saya wajib menyampaikan kebaikan-kebaikan ini”. Pahamilah semangat menghidupkan orang lain seperti ketika Abdul Quddus menerangkan kondisi Rasulullah: “Demikian tingginya derajat yang dicapai dan kualitas yang dilihat! Jika aku yang meraihnya, sungguh aku tak akan pulang ke bumi. Namun, beliau memutuskan untuk pulang ke bumi!”. Waliullah lainnya berkata :”Inilah perbedaan level antara kenabian dan derajat-derajat lainnya, pahamilah ini baik-baik!”

Inilah semangat menghidupkan orang lain.. Selain itu adalah semangat untuk melanjutkan hidup. Itu pun tidak hina. Jika masuk surga, dirimu akan menjadi bidadari yang awet muda. Demikianlah penjelasan Allah dalam Al-Qur’an. Namun, tidak ada satu pun yang setara dengan semangat menghidupkan orang lain. Dengannya Anda akan merengkuh tangan dan mengangkat derajat orang lain dan seterusnya…

Perasaan ini akan terus datang dan pergi. Ketika perasaan terus menghantam kita bertubi-tubi, bersegeralah kita ambil resep solusinya sembari memanjatkan munajat: “Ya Rasulullah! Aku menghadapi masalah pelik. Kira-kira apa solusinya?” Barangkali beliau akan menjawab: “Apakah kamu tidak membaca sirahku..?!”

Ketika memulai kehidupan baru di negara tujuan, yang harus menjadi target selain kemampuan berintegrasi dengan masyarakat lokal, kita juga tak boleh longgar dalam menjalankan perintah agama.

Bahasan lainnya adalah puji syukur kita bisa berhijrah, bermigrasi. Ada yang di Kanada, California, Jerman, Inggris, Belanda, Amerika, bahkan Afrika! Yang perlu diperhatikan, di sana terdapat orang-orang yang tumbuh dengan matang setelah membaca dengan benar seluk beluk budaya lokal. Maka, apabila kita bergotong royong dalam prinsip:

 مَا خَابَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Orang yang bermusyawarah tidak akan merugi.”

Dengan prinsip ini kita akan menjadi orang beruntung. Berkat izin dan inayat ilahi kita akan berhasil mendapatkan untung, kemungkinan merugi akan dapat diturunkan semaksimal mungkin.    

Kita perlu membaca legenda geografis dengan benar. Oleh karena itu, di dunia bagian mana pun kita berada, kita perlu untuk menentukan hal-hal yang akan kita katakan serta gestur apa yang digunakan ketika kontak langsung dengan orang-orang di sana sembari memperdalamnya dengan semangat representasi. Dengan kata lain, selain ekspresi kenabian – saya katakan “di samping ekspresi kenabian” – tempatkan “sikap” dan “representasi” dalam baris-baris pembahasan ini. Maksudnya, pada prinsipnya setiap sikap kita harus sama senti demi senti dengan apa yang kita sampaikan. Demikian cara kita berintegrasi dengan masyarakat lokal. Masyarakat tersebut pun akan melihat kita sebagai individu bahkan komunitas yang merupakan bagian dari entitas mereka..! 

Selain itu, ketika berada di negeri yang asing akan terdapat sesuatu yang dominan dan berasal dari luar dunia kita di mana hal-hal tersebut bisa mempengaruhi kita. Ia dapat berupa uslub, gaya hidup, maupun sistem kepercayaan. Contoh lain adalah nilai-nilai kemanusiaan. Ia bisa berada di barisan terdepan… Namun, terdapat beberapa perintah agama. Kita diharuskan mampu berdiri teguh menentang gaya hidup bohemian, membuat semacam konservatori, di mana kita bisa hidup aman di dalamnya… Poin-poin ini sangat penting bagi kita dan bagi generasi penerus kita. Buku-buku yang dibaca pemuda-pemudi kita adalah buku-buku yang berasal dari latar belakang negeri itu. Kita perlu melakukan upaya untuk menjunjung nilai-nilai kita sendiri setinggi langit serta membuat para pemuda-pemudi mencintainya. Adakah orang yang melihat gaya hidup hampir utopis masyarakat Asr Saadah yang tak jatuh cinta padanya?  Demikian baiknya nilai ini diselipkan dan disampaikan, sehingga anak-anak kita kemudian mampu membangun konservatori yang melindunginya dari asimilasi negatif, insya Allah.

Himmat adalah praktik yang dilaksanakan sejak masa Asr Saadah. Pada hari ini namanya, wilayah jangkauannya, dan bentuknya sedikit berubah menjadi “muawanah2.  Apapun nama dan sebutannya, membantu mereka yang membutuhkan merupakan bagian dari hutang budi yang ingin kita bayar.

Rasulullah ketika memulai usaha ini mengawalinya dengan mengumpulkan himmat dari orang-orang. Ketika itu, mereka akan pergi ke Tabuk. Mereka memerlukan beragam perbendaharaan yang amat serius. Bagaimana ia dijalankan berarti ia diwujudkan sesuai dengan kebutuhan di masa itu. Maka Rasulullah pun mengumpulkan himmat. 

Apa yang kumpulkan pada hari ini pun disebut “himmat”. Anda mengumpulkan “himmat” hampir di setiap kesempatan. Dari situ Anda memberi beasiswa, membangun asrama, membuka pusat bimbingan belajar, dan sebagainya.

Rasulullah kemudian membukanya dengan pidato yang paling berpengaruh. Demi sabdanya, gunung, bebatuan, pepohonan, bahkan hewan sekalipun akan memberi jawaban. Apabila Anda memperhatikan risalah Al-Ustaz Said Nursi yang membahas mukjizat Rasulullah, demi mendengar panggilannya segala sesuatu menjawab “Labbaik (Aku penuhi panggilanmu, Ya Rasulullah)!” dan berlari ke arahnya. 

Terdapat hal-hal menarik dari peristiwa tersebut. Sayidina Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali bertindak sesuai karakter mereka yang agung. Sayidina Abu Bakar menyerahkan semua hartanya. Sayidina Umar memberikan setengah hartanya. Sayidina Ali menyerahkan separuh donasinya secara sembunyi-sembunyi dan separuhnya lagi secara terang-terangan. Sayidina Usman seperti diketahui memberi 500 unta. Apa yang mereka lakukan telah menjadi legenda. 

Namun, ada saja orang-orang yang tak memahaminya. Misalnya terdapat orang yang berbicara: “Jadi sekarang kita harus memberikan harta yang dikumpulkan dengan peluh keringat ini ke sakunya..?”. Lalu ada orang yang memahami pesan ini, ia kemudian berlari ke rumahnya. Ia keluar membawa semaksimal mungkin yang bisa dibawa dan berkata: “Ambil ini, Ya Rasulullah!” Demi melihatnya orang yang pertama kemudian berkata: “Ternyata yang diharapkan adalah pendekatan seperti itu.” Demikian kira-kira. 

Dari situ ternyata kita tidak bisa paham begitu saja. Semoga Allah meridai teman-teman dan guru-guru yang telah menanamkan semangat berinfak dalam benak kita. Demikian berkembangnya semangat ini berkat izin dan inayat ilahi, saya ingin menyampaikan satu kisah dari banyak peristiwa yang saya saksikan, bahkan saya ingin menyebut nama tempatnya:

Dalam sebuah aula di Bozyaka. Sekali lagi al-fakir menyampaikan pesan ini tanpa sistematika sebagaimana saya membuat kepala Anda sakit saat ini. Kemudian rekan-rekan yang bertugas mengambil buku tulis dan pensil. Mereka menanyai satu per satu: “Kamu bisa kasih berapa? Kalau kamu berapa?” Orang-orang kemudian menyebut janji seakan ia dipetik dari kalbunya. Setelah berbicara saya mundur karena merasa sedikit malu. Saya merasa seperti meminta-minta, tetapi apa boleh buat. Kalau tidak demikian turbinnya tak berputar. Dibutuhkan kekuatan air terjun untuk bisa menggerakkannya. Saya mundur ke kamar. Kemudian seorang purnawirawan militer yang juga terlibat dalam usaha pengabdian ini datang tergopoh-gopoh sambil menyerahkan kunci. Matanya sembab dan berkata: “Ustaz, saya tak punya uang. Ini saya kasih kunci rumah yang baru saya beli dari uang pesangon saya.” ini adalah peristiwa yang tak mungkin saya lupakan…

Namun, betapa banyaknya peristiwa yang tak bisa kulupakan. Donasi di suatu tempat sayangnya berjumlah sedikit. Ini membuat saya gelisah. Saya pun berkata: “Kekurangannya dari saya. Saya janji akan berdonasi 100ribu lira!” Aku menyebutnya tanpa berpikir bagaimana bisa mendapatkannya. 1-2 hari kemudian seseorang yang kalian kenal, ipar-iparnya juga dermawan, mereka di dalam hizmet. Entah bagaimana saya datang sarapan di rumah mereka. Saya tak meminta apa-apa. Mereka pun jarang muncul. Lalu mereka berkata: “Ustaz, Anda menyampaikan janji donasi sebesar 100ribu lira. Jika diizinkan, biar saya yang membayar donasi itu.” Ya, di satu tempat Anda melangkah dengan berani. Allah-lah yang kemudian menjawabnya. Pada hakikatnya Anda malu melakukannya dan meringkuk seperti tongkat bengkok. 

Sebagaimana terbiasa dengan himmat, demikian juga dengan muawanah. Namanya saja yang berubah, demikian juga tujuan penyalurannya. Dulu kita mengerjakannya di Turki. Kini, kita ke luar negeri. Terdapat banyak orang yang harus dirawat dan diperhatikan, orang-orang yang perlu dibantu, dari kalangan wanita dan anak-anak. Ada banyak orang yang syahid, meninggal dunia di tengah perjalanan. Mereka perlu dirawat dan diperhatikan.

Bagaimana kita melakukannya di luar, misal di Amerika, atau di Jerman? Barangkali di LSM dan yayasan di luar sana mereka mempunyai anggaran untuk membantu orang-orang ini. Bisa saja mereka yang menunaikan tugas ini. Namun, kita harus yakin dan percaya bahwa kita juga bisa.

Jika kemarin kita melakukannya melalui kata, hari ini kita membungkusnya dengan sikap dan representasi. Kita bergerak bersama layaknya paduan suara, berkat izin dan inayat ilahi. Semua orang akan mendengar dan menyambut undangan ini, insya Allah.

  1. Selengkapnya baca: https://mutiarazuhud.wordpress.com/tag/melihat-allah/
  2. Konsep al-Muawanah dalam al-Qur’an diartikan sebagai bentuk tolong menolong atau bantu membantu untuk meringankan beban serta kesukaran. Dalam Al-Qur’an, term al-Muawanah terkadang dimaksudkan sebagai sarana untuk memelihara sifat kemanusiaan antar sesama
muslim-praying-mosque-traditional-ground-carpet_21730-11191

Salat Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar

Sebagai mukmin, hidup kita berada diantara perintah dan larangan. Kita harus mengelola kehidupan kita dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Mengerjakan semua perintah adalah bagian dari agama Islam dan menjauhi larangan juga merupakan bagian lainnya dari agama Islam.

Peran Penting dari Salat

Sebagai orang yang berharap pada Allah ﷻ, jika kita mengerjakan perintahnya, kita akan jadi umat Nabi Muhammad ﷺ. Yaitu jamaah yang meninggalkan semua yang dilarang, dan mengerjakan semua yang diperintahkan untuk meraih hal tersebut, salat memiliki peran yang sangat penting.

Pertama, salat adalah salah satu ibadah yang diperintahkan kepada kita. Bahkan ia adalah ibadah yang berat. Pelaksanaannya di 5 waktu bersama wudu dijelaskan hadis :

“Tahukah kamu tentang apa penghuni langit itu berdebat?”

Poin yang dijelaskan dalam hadis tersebut:

  • Berwudu dengan sempurna walaupun nafsu kita tidak menyukainya.
  • Berwudu secara sempurna dalam cuaca ekstrem dingin ataupun ekstrem panas.
  • Berwudu dengan sempurna tak peduli ditempat itu airnya sedikit atau banyak.

Di alam malaikat, terjadi perdebatan diantara mereka tentang bagaimana pahala ibadah para hamba tersebut dicatat. Di tengah perdebatan tersebut, terdengar suara pena beradu. Salat, kewajiban yang berat. Tetapi ia juga kewajiban yang manis. Yang diwajibkan salat, mendekatkan diri pada yang mewajibkan perintah, yaitu Allah ﷻ. Salat adalah ibadah suci. Ia adalah sarana bagi yang diperintah dan Yang Memberi Perintah untuk bertemu. Salat adalah perintah paling utama diantara perintah lainnya. Di waktu yang sama, salat oleh Al-Qur’an dikatakan sebagai pencegah manusia dari kemungkaran. Salat yang sejati mencegah manusia dari keburukan, akhlak buruk, dan segala macam ketergelinciran. Salat mencegah manusia dari nafsu yang buruk, serta segala macam kemungkaran. Salat adalah ibadah yang menyeluruh. Salat adalah cerminan dari nama Ahmad. Salat adalah penjelasan dari perpaduan asma dan sifatnya. Salat selain memiliki sisi perintah Allah ﷻ, ia juga memiliki identitas sebagai pencegah kemungkaran.

Karena itu kita menyebut salat sebagai ibadah yang menyeluruh. Salat mencegah manusia dari akhlak yang buruk. Ketika Anda menjelaskan salat dengan makna denotasi dan konotasinya. Mereka yang salatnya tidak mencegah dari akhlak yang buruk, dapat disebut bahwa orang itu tidak menunaikan salat. Pandangan ini bisa jadi benar disatu sisi, tapi tidak disisi lainnya. Tetapi, ia benar disisi ini: “Jika seorang mukmin menunaikan salat dengan benar, salat itu akan mencegahnya dari keburukan dan kemungkaran”. Karena salat bermakna sebagai hadirnya kita ke hadapan Allah, mempertanggungjawabkan hidup kita 5 kali sehari.

Salat artinya hadirnya kita dihadapan Allah ﷻ yang berfirman: “Aku memiliki surga dan neraka“. Seakan melewati neraka diatas jembatan sirat, seakan berlari ke surga, seakan Izrail akan mencengkeram kita.

Salat, ungkapan kehadiran kita dihadapan Ilahi, dimana ada dukungan malaikat dan bujukan setan di kanan kirinya. Mereka yang menghadap Allah ﷻ seperti itu, akan mengalami suasana seakan tirai ke alam gaib terbuka untuknya.

Imam salat membaca Al-fatihah dan surat pendek, Anda menunaikan salat seakan ada dihadapan Allah ﷻ. Segala sesuatu yang berhubungan dengan surga dan neraka seakan ditampilkan di hadapanmu.

Seperti apa?

Misal disampaikan pada seorang lelaki:

“Ini ada wanita, silakan pergauli semaumu. Kamu bisa menenggelamkan diri dalam keburukan.”

Silakan ambil jalan hidup tanpa mempedulikan halal dan haram. Kamu bisa makan riba, suap, dan uang korupsi. Kamu bisa menikmatinya sesukamu. Silakan ambil jalan duniawi, jalan menuju kekuasaan, dan jalan menuju pangkat jabatan dunia. Setelah kamu menikmatinya, akan kita buka tabirnya. Tempat tujuan mu berikutnya adalah sumur Gayya yang panas apinya menjalar-jalar.

Tetapi jika kamu mampu menolaknya, maka saat tabir diangkat, tempat tujuan mu adalah taman surga yang indah. Sekarang tabir-Nya kita turunkan, kamu bebas mau hidup seperti apa! Setelah hakikat itu dijelaskan dengan jelas dan terang, kamu bebas mau jadi kafir ataupun jadi mukmin. Kamu bebas mau jadi orang yang sesat, atau mau jadi orang pencari hidayah. Kamu bebas mau mengikuti keburukan, atau mau mengerjakan ketaatan beribadah.

Apakah manusia bisa tenggelam pada keburukan setelah menyaksikan hakikat ini!? Apakah manusia akan meninggalkan surga setelah mengetahui hakikat ini?

Untuk itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

Baik surga ataupun neraka, keduanya diliputi oleh sesuatu. Salah satunya diliputi oleh hal yang disukai syahwat. Sedangkan yang lainnya diliputi oleh hal yang dibenci nafsu

Untuk masuk ke surga dibutuhkan kesabaran menghadapi kesulitan. Untuk selamat dari neraka juga dibutuhkan kesabaran menghindari bujukan syahwat. Salat menyingkap tabir ini dari kita. Sehari 5 kali, salat dengan semua makna dan esensi yang dimilikinya. Dengan qira’at dan tilawah-Nya, ketika ia membuka tabir di depan mata kita. Jangankan mengikuti larangan, jangankan tenggelam dalam keburukan, jangankan kemungkaran. Barangkali hal-hal yang mubah sekalipun dapat menghilangkan selera bagi orang-orang mukmin sejati.

Umar radhiyallahu ‘anhu karena mendengar sesuatu dari alam lain ketika salat, ia jatuh sakit dan harus istirahat dirumah. Sahabat meriwayatkan: Karena sakit, penjenguk berdatangan (Sayyidina Umar) terbaring sakit. Demikianlah salat menghindarkan manusia dari dunia dan hal-hal duniawi.

Sungguh mengingat Allah ﷻ  adalah pekerjaan yang agung. Bagaimana Allah ﷻ membuat kita mengingat-Nya. Di sisi lain, tidak lupa kepadanya juga sangat agung. Ini adalah sisi lain dari ungkapan ini. Ini adalah sisi lain dari ungkapan ini. Kita membacanya setiap akan turun dari mimbar Jumat mengingat Allah ﷻ  sangatlah agung. Banyak mengingat Allah ﷻ adalah sebab lahirnya ketenteraman dan penyingkir kemuraman. Di dunia ini tidak ada yang lebih agung dari mengingat Allah ﷻ didalam hati.

Untuk itu, seorang mukmin sejati tidak akan tahan jika Allah ﷻ keluar dari akalnya. Beberapa Ahlullah pun sesuai derajatnya mengharuskan dirinya untuk gusul (mandi besar) jika akalnya lupa akan Allah ﷻ. Makna Gusul adalah: berbuat kesalahan, menjauhi Tuhan sementara waktu, memenuhi kebutuhan syahwat. Sebagai kafarat-Nya, Anda melakukan Gusul (mandi besar). Jika seorang Ahlullah lalai dari mengingat Allah ﷻ walau tak sampai sedetik, ia mengharuskan diri untuk gusul. Hal ini tidak ada dalam syariat. Ini sukarela, ungkapan dari kebersihan hati Nurani.

Seorang Ahlullah tidak bisa tahan jika ia lupa Allah ﷻ walau kurang dari sedetik dan selama Allah ﷻ  ada diakalnya, tidak mungkin sesuatu yang lain masuk ke dalamnya. Sayyidina Ali minta sahabat mencabut panah dari tubuhnya saat ia salat. Ia tidak merasa kesakitan saat panah yang menembus tulangnya dicabut. Karena Allah ﷻ yang ia ingat telah melingkupi akalnya.

Izinkan saya menjelaskan satu kisah kenangan dari keturunannya: Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib.

Apakah ada yang belum mengenalnya? Apakah ada yang belum mengenal putra dari Ksatria Mu’tah?

Rasulullah ﷺ sepulang dari perang mu’tah bersabda:

“Aku menyaksikan Ja’far ibn Abi Talib terbang disurga dengan 2 sayapnya yang berwarna hijau”

Terdapat pelindung leher menempel dileher temannya yang sama-sama masuk surga. Karena itu adalah cara untuk melindungi diri dari sabetan pedang dan tombak saat bertarung dimedan perang.

“Aku melihat Ja’far tidak mengenakannya. Karena ia menyambut kematian dengan senyuman.”

Saat tombak menerjang, saat pedang membelah tubuhnya, ia saksikan dengan gembira. Ia pun masuk surga tanpa beban.

Kisah Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib

Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib adalah putra dari sosok agung ini, sang Ksatria Mu’tah. Di masa Umayyah, ia pergi ke Syam untuk mengunjungi Hisyam bin Abdulmalik. Mungkin Allah ﷻ tidak meridai kunjungan tersebut. Tidak ada rida karena ditengah perjalanan kakinya tertusuk sesuatu. Karena tidak diobati tepat waktu, keadaannya semakin memburuk dan menjadi gangrene[1]. Ketika ia sampai dihadapan Hisyam bin Abdulmalik, waktunya sudah sangat terlambat. Dokter dipanggil, mereka berkata: Jika tapak kakinya tidak dipotong, nanti pahanya yang harus dipotong. Sosok yang ayahnya kehilangan tangan & kaki di Mu’tah, kini ia kehilangan kaki dihadapan khalifah Umayyah di Mu’tah.

Uniknya takdir, bapak dan anak meninggalkan kakinya didunia. Mereka menghadap Allah dalam keadaan demikian.

“Ayo kita potong” kata mereka.

“Tapi kita bius agar tidak terasa sakit, agar kamu tidak berteriak.”

+ Bagaimana kalian membiusku?

– Kamu akan minum yang memabukkan sampai kamu tidak merasakan sakit lagi.

“Tidak sekali-kali aku berkenan untuk lalai dalam mengingat Tuhanku. Tak akan pernah!”

Kalbu diarahkan kepada Rabb-Nya, ia menyaksikan bagaimana kakinya perlahan-lahan digergaji. Ini hanya satu sisinya. Para Ahlullah[2] tak rela dirinya lalai mengingat Rabb-Nya walau kurang dari sedetik Perhatikanlah sisi lainnya!

Ia ambil kaki yang sudah dipotong itu dan berkata:

“Rabb! Segala puji hanya untukMu! Engkau telah menganugerahiku tubuh yang sempurna. Kini Engkau mengambil satu kakiku! Aku bersyukur dan memujiMu yang telah memberi anggota tubuh lain dalam keadaan sehat dan sempurna!”

Perhatikan kesadarannya! Bagaimana ia mengingat keagungan Rabb-Nya dengan amat layak. Beberapa menit kemudian musibah seperti yang dialami Nabi Ayub akan menghujaninya dengan deras. Datang satu berita: Salah satu anaknya jatuh dari lantai atas rumah Hisyam dan meninggal dunia.

Ia mengangkat tangan :”Ya Rabb! Aku memuji-Mu berkat sisa anak yang Engkau anugerahkan dalam keadaan sehat”. Ia tidak memperhatikan yang pergi dan hilang, ia mensyukuri apa yang tersisa. Itulah usaha untuk tetap mensyukuri segala yang anugerahkan Allah ﷻ kepada kita. Itulah jalan hidup seorang mukmin.

Di dalam pemikiran yang dalam, ingatan yang serius, kita akan menyuntikkan nama Allah ﷻ dalam tiap zarah kehidupan kita. Kalian tidak akan bisa membedakan antara malaikat dengan Abdullah bin Ja’far. Representasi Nabi Ayub dapat Anda saksikan pada diri Abdullah bin Ja’far. Kalian akan menyaksikan Abdullah bin Ja’far terbang disurga bersama ayahnya

Keistimewaan apa yang membuatnya nanti terbang disurga?

Penyerahan hati kepada Tuhannya, penunaian salat dengan segala haknya, diraihnya ketenteraman sejati. Menjauhi kemungkaran seperti dendam, kebencian, dan kemarahan yang dibenci Allah ﷻ. Itulah pembentukan hidup yang manis. Semoga Allah ﷻ menganugerahi kita keberhasilan dalam membentuknya. Di dalam rasa sedih akan perpisahan dengan Ramadan, mari kita berdoa kepada Allah ﷻ dengan hati yang sedih.

Anugerahkanlah kami siratalmustakim. Jagalah kami dari hal-hal buruk yang dibawa oleh keinginan rendah, hasrat, serta syahwat kami. Anugerahilah kami keikhlasan sempurna, semua doa para nabi, serta jadikan kami Mukhlisin dan Mukhlasin.

[1] Gangrene adalah Jaringan mati yang disebabkan oleh infeksi atau kurangnya aliran darah.

[2] Ahlullah adalah   mereka yang mewujudkan ketakwaan kepada Allah ﷻ baik dalam kesunyian dan keramaian, berhati-hati dalam makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggalnya jangan sampai menyelisihi apa yang dia dapatkan dari belajar Alquran baik terjatuh dalam keharaman atau kesamaran.

levi-meir-clancy-Y2oE2uNLSrs-unsplash

Salat: Cahaya Jalan Miraj

Shalat merupakan ringkasan penghambaan kita kepada Allah. Sebuah ikhtisar dari segala penghambaan yang kita lakukan untuk Allah. Kuncinya adalah persiapan ruhani, serta persiapan jasmani, dengan berwudhu. Mengambil wudhu adalah penyegaran jiwa, mempertemukan ruh dengan kekuatannya serta mengembangkan sisi kemalaikatan. Berwudhu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi. Ketika air dingin menyentuh badan, bagaimana sengatannya menyegarkan tubuh kita. Ketika air dingin menyentuh persendian, bagaimana kekuatannya membangkitkan kita. Sebagaimana ia memiliki penjelasan ilmiah. Demikian juga dengan wudhu yang membuat ruh menjadi muda, segar, dan bangkit. Sehingga si hamba berhasil meraih level dimana ia siapakan menjadi sarana bagi umat Muhammad SAW dipanggil dengan panggilan khusus di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda: “Di hari kiamat umatku akan dipanggil dengan sebutan ‘Ghurran Muhajjaliin‘ “Umat Muhammad akan dipanggil sebagai ‘Ghurran Muhajjaliin’ Apa itu ‘Ghurran Muhajjaliin’? Yaitu mereka yang dahinya cemerlang, menyebarkan cahaya ke sekelilingnya, tanda dari eksisnya hakikat. Cahaya yang muncul dari anggota wudhu adalah bukti bahwa mereka adalah umat Muhammad SAW. Anggota wudhunya bercahaya. Di satu sisi sangat bersih, bening, dan cemerlang. Di sisi lain, ia menyebarkan cahaya cemerlang yang menandakannya sebagai umat Muhammad SAW. “Anggota wudhunya jadi cemerlang karena bekas wudhu”. “Siapa hendak menambah cahayanya, hendaknya ia menyempurnakan wudunya” (Muttafaqun Alaih).

Topik ini diriwayatkan lebih luas dan mendalam oleh sahabat lainnya. Rasulullah & sahabatnya pergi ke Baqiul Gharqad, Sejarawan berkata ada 10.000 sahabat dimakamkan disana. Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya. Beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud. Terdapat makna ladunni dalam peristiwa ini bahwa barangkali, karena keagungan dan ketinggian derajat Baginda Nabi di akhirat nanti, Beliau tak bisa temui mereka hingga kiamat tiba.  Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia. Dengan jasmaninya, beliau temui mereka. Sekali lagi disampaikannya salam kepada ruh-ruh agung itu. Saat memasuki Baqiul Gharqad: “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur ini!” “InsyaAllah dalam waktu dekat saya juga akan bergabung!” Dan sejak saat itu, mengucapkan kalimat yang sama menjadi hal yang disunahkan kepada umatnya. Dan sepertinya terjadi musyahadah. Pandangannya lebih dalam, penglihatannya meluas, kemudian kata-kata ini keluar dari bibir mulianya: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku” “Bukankah kami ini saudaramu, Ya Rasulullah?” “Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku yang setia dan terkasih”. “Saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku…”Jamaah yang mulia, umat yang mulia, serta bangsa yang mulia…”Bagaimana Anda bisa mengenali mereka yang masih belum datang…? Baginda Nabi bersabda: “Bayangkan seorang laki-laki…” “Laki-laki itu memiliki kuda-kuda yang wajahnya putih cemerlang” “Kakinya jenjang dan berwarna putih bersih” “Jika kuda itu ada di tengah kumpulan kuda hitam nan pekat, bukankah ia akan mengenali kudanya?” “Tentu,” jawab sahabat Rasul Allah bersabda “Umatku akan datang sebagai ‘Ghurran Muhajjalin'”Aku akan melihat mereka saat berjalan ke Hadapan Allah. Aku mengenali mereka dari cahaya di dahinya”. Aku akan menyaksikan anggota wudhu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya “Aku akan mengenali umatku sebagaimana laki-laki itu mengenali kudanya” “Aku adalah farat haudh dari mereka.  Akulah yang paling dahulu menuju haudh!”

Makna dari Farat adalah: “Biar kusiapkan tempat untuk mereka, demikian juga dengan kautsar dan cawannya...” “Sebagaimana tuan rumah menjamu tamu…,” “…Aku ingin menjamu mereka dengan sebaik-baiknya ketika mereka datang nanti…” “Akulah farat dari umatku di Haudhku” “Akulah farat dari mereka yang memiliki bekas sujud di keningnya…” “Akulah farat dari mereka yang berwudu…” “…di hari penuh kesulitan dimana semua orang hanya memikirkan keselamatan dirinya”. “Akulah farat bagi mereka, umatku yang kukenali dari pancaran cahaya anggota wudhunya” “Ketika banyak orang terusir dari haudh-ku…” “Ada wajah yang menandakan cahaya, ada nurani yang meroket ke langit karena anggota wudunya” “Kepada merekalah aku memberi syafaat…!”

“Aku adalah Farat mereka di tepi telagaku”. Apapun yang dijelaskan oleh berbagai riwayat ini, pesan utama yang harus kita ambil adalah walaupun terpisah berabad-abad yang lalu dengan Baginda Nabi disebabkan oleh wudhu dan salatnya,d engan senantiasa mengingat Allah dan Rasul-Nya, dihasilkanlah kecemerlangan di dalam diri. Kepada jamaah yang berhasil meraih kemurnian jiwa tersebut.

Ketika Nabi mengirim salam kepada Penghuni Baqiul Gharqad, beliau menembus batas waktu dan kirimkan salam: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku…”. Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat, sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca. Beliau juga melakukan pengecekan terakhirnya di Baqiul Gharqad. Seakan beliau sedang mengecek kondisi semua umat terdahulu yang kini mendiami alam kubur. Beliau juga mengecek ruh umat yang akan datang kemudian. Dengan jasmaninya, sekali lagi beliau mengeluarkan seruannya. Seperti panggilan terakhir dari Komandan Tertinggi kepada umatnya: “Bersiap siagalah!” Beliau mengunjungi Baqiul Ghargad untuk terakhir kalinya. Beliau memberikan salam sebagaimana memberi salam kepada ahli kubur. Ketika beliau menyaksikan wajah umatnya yang akan datang nanti penuh dengan cahaya. Dengan makna kagum pada cahayanya, yang bersumber dari cahaya kenabiannya. Beliau pun bersabda: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku…”.

Jamaah muslim yang terhormat! Ini adalah isytiak dari Baginda Nabi. Sedang isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudhu agar ia bersinar di akhirat, serta menghiasi kening dengan tanda sujud. Dengan harapan menjadi umatnya, dengan harapan dibangkitkan sebagai umatnya. Dengan kerinduan untuk dapat melihatnya “Apakah Anda merindukan kami, Ya Rasulullah?”. Kami juga rindu untuk bertemu denganmu. Kami berjuang lewat ketaatan beribadah demi meraih kedekatan denganmu. Sebagaimana engkau jelaskan di hadits, kami pun mengambil wudhu dengan sempurna. Walaupun panas dan berkeringatkami tetap mendirikan salat di masjid. Kami berpuasa demi dapat berkumpul bersamamu nanti. Waktu siang semakin panjang dan suhu udara semakin panas, sebagian orang puasanya batal. Tetapi kami mencoba bersabar untuk tetap setia kepada warisanmu. Jika kita sanggup untuk melakukannya, betapa beruntungnya kita!

Duhai sosok agung yang keterikatan pada umatnya digambarkan lewat ucapan salam 14 abad yang lalu! Dengan meraih sensitivitas dalam ubudiyah dan ketaatan beribadah dengan mengerjakan semua itu dengan keseriusan mendalam. Dengan begitu, artinya kalian telah menjawab salam tersebut dengan jawaban: “Wa’alaikum salaam“. Jika ada cinta, kerinduan, dan isytiak untuk bertemu dengannya, kamu akan berada di jalan Sang Nabi. Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat Baginda Nabi. Betapa banyak orang akan dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah. Mereka melihat mizan, tetapi tak bisa melihat Sang Nabi. Mereka mungkin melihat Allah ketika dihisab, tetap tidak bisa melihat Rasulullah untuk meminta syafaat. Di antara mereka yang buta dan terhalang dari nikmat tersebut. Masjid jadi sarana supaya kamu tidak menjadi bagian dari yang buta dan terhalang. Puasa dan menahan lapar jadi sarana supaya nanti tidak buta dan terhalang. Bayarlah zakat dari sebagian hartamu supaya tidak termasuk dalam golongan merugi tersebut. Pergilah berhaji, bersabarlah terhadap kesulitannya, supaya kamu tidak menjadi yang buta dan terhalang. Dengan bertawaf di Kabah dan menziarahi makam Baginda Nabi, perbaharuilah kesetiaanmu. Semoga Allah SWT membuka mata umat Muhammad yang tertutup debu selama 14 abad serta membuka mata mereka ke alam lahut yang penuh senyum. Semoga Allah melindungi kita dari dunia yang penuh kelalaian. Jadikanlah pandangan kami sebagai pandangan abadi dan agung. Celupkanlah diri kami ke dalam celupan alam lahut. Jadikanlah kami sebagai sosok yang layak mendiami alam sebenarnya di akhirat nanti.

mengembangkandiri.com golden-scales-of-justice-on-wooden-table-on-black-2021-09-01-13-07-28-utc

Tidaklah Sama Kebaikan dengan Kejahatan

Tidaklah Sama Kebaikan dengan Kejahatan

Perbedaan Nabi Nuh ‘alaihisalam dan Nabi Musa ‘alaihisalam dengan Rasulullah ﷺ

Nabi ﷺ bersabda:”Di antara para nabi aku tidak mirip dengan Nabi Nuh dan Musa as”

Nabi Nuh ‘alaihisalam merupakan nabi yang hidup selama 950 tahun dan selama itu pula nabi Nuh berdakwah dan menasihati kaumnya.  Bukan hal yang mengherankan. Semuanya atas kuasa Allah.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al – ‘Ankabut ayat 14)

Saat semua sebab dan sarana bungkam, saat semua pintu yang diketuk tertutup untuknya. Sampai di mana akhirnya, nabi Nuh berdoa kepada tuhannya yaitu Allah subhana wa ta’ala agar kaumnya yang menolak nasihat yang beliau berikan selama 9 abad lamanya untuk diberi peringatan.

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi”.” (Nuh ayat 26)

Jangan biarkan mereka yang mengingkarimu, tak mengenalmu, menutup matanya dari perintahmu yang acuh terhadap syariahmu tinggal dan menetap di muka bumi.

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”. (Nuh ayat 28)

Beliau berdoa agar kehancuran bagi orang-orang zalim ditambahkan. Namun, di tempat lain, saat Nabi Nuh kehabisan suara dan napas,

“Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)””.(Al – Qamar ayat 10)

Selama itu beliau pergi berkeliling dari pintu ke pintu Apa yang beliau sampaikan?

“Dia yang menciptakan mu, Sang Penyusun amir takwini.”

“Pencipta keseimbangan antara alam denganmu, Dia ingin kalian mengimaniNya”

Baginda Nabi ﷺ di periode tertentu berdakwah: “Ucaplah La ilaha illallah, raihlah keselamatan”

Raihlah kemenangan! Raih keselamatan!

Tak ada seorangpun berwenang mengatakannya! Hanya ia, pemiliki komunikasi dengannya, pengemban risalah, yang berwenang mengatakannya Lewat ibarat diungkapkan: “la ilaha illallah”, sedang lewat isyarat, ungkapan usulnya: “muhammadur Rasulullah ﷺ “. Maka semua nabi menyampaikan pesan yang sama, demikian juga Nabi Nuh ‘alaihisalam. Demikian juga Nabi Musa, di 1-2 tempat, untuk kaumnya yang keras kepala, khususnya pada Firaun,

Akif menyebutnya sebagai Amnofis, Atau julukan lainnya. Dimana tak ada kezaliman yang tak dirasakan Nabi Musa darinya

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakan lah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”. (Yunus: 88)

Kemiripan Akhlah Nabi Ibrahim ‘alaihisalam dan Nabi Isa ‘alaihisalma dengan Rasulullah ﷺ

“Namun dari segi akhlak, aku mirip dengan Nabi Ibrahim dan Isa” sabda Baginda Nabi

Pernyataan ini bukanlah hafalan tanpa dipikir…

Nabi Ibrahim saat meninggalkan ayahnya, beliau mendoakannya walau ayahnya sangat keras kepala

“Dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat”(Asy – Syu’ara’ : 86)

Jawaban beliau ketika diusir ayahnya justru doa Andai Azhar ayahnya. Beberapa penafsir berkata, ia pamannya, karena abi juga dipakai untuk panggilan paman.

Nabi Isa berkata:”Kebaikan bukanlah kebaikan kepada mereka yang berbuat baik kepadamu…”

“Kebaikan adalah berbuat baik kepada mereka yang berlaku buruk kepadamu” Itulah gambaran kelembutan akhlak Nabi Isa ‘alaihisalam. Rasulullah pun mengadopsinya.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (Fussilat ayat 34)

Kebaikan dan keburukan hal berbeda satu sama lain. Yang satu seperti anak panah yang menunjuk arah menuju neraka. Satu lagi seperti anak panah atau kompas penunjuk kiblat, ia mengarahkan ke surga. Keduanya berbeda satu sama lain,Keduanya dipisahkan jarak yang amat jauh, gap antara ‘hasanah’ dan ‘sayyi’ah’ amatlah lebar. Kebaikan tidaklah sama dengan keburukan. Bersihkanlah keburukan dengan kebaikan.

Kisah Habil dan Qabil

Jika kamu melakukannya, mereka yang selalu men denyut kan permusuhan akan membuka dadanya untuk merangkul mu. Dan hari ini, kalian menghadapi ujian yang amat besar. Heroisme adalah tidak meninggalkan kebaikan walau untuk mereka yang berlaku keterlaluan kepadamu. Seperti yang dikatakan anak pertama kebaikan (Habil) kepada keburukan (Qabil):

“Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Jika kamu mengangkat tangan untuk membunuhku, andai kamu mengangkat senjata, kapak, bayonet untuk membunuhku. Aku tak berniat untuk membalas mu, karena aku takut kepada Allah. Ingatlah akhir dari perbuatan mu, yaitu neraka. Akibat dari perbuatan mu kepadaku adalah neraka. Maka urungkan lah niatmu.

Disini sebenarnya Habil tidak ingin saudaranya masuk neraka. Tak usah Habil yang merupakan putra Nabi Adam ‘alaihisalam.

Aku pun ketika mendoakan mereka yang berbuat buruk kepada kalian “Ya Allah, janganlah Engkau hukum mereka dengan azab di akhirat. Selamatkan mereka dari neraka.”

“Jika Kehendak mu mewajibkan mereka untuk diazab, maka azab lah mereka di dunia dengan azab yang lembut.”

Di akhirat nanti wajah mereka berkerut diselimuti rasa malu. Pandangannya menyiratkan permohonan pengampunan. Mereka yang berbuat buruk, menjauhkan hak-hak hidup Anda, mereka yang membunuh karakter Anda kelak di akhirat nanti, mereka akan datang membungkuk di hadapan Anda

Doaku: “Ya Allah, agar mereka nanti tidak terlalu parah menahan malu, jika kehendak mu menghendaki azab.”

“Dengan mengakhiri masa penangguhan azab, dengan keadilan dari ke maha suci an mu, hukumlah mereka di dunia”

“Janganlah Kau azab mereka di akhirat, jangan pula Kau azab kami dengan mengazab mereka”

“Karena aku takkan sanggup! Aku tak sanggup melihat orang lain terbakar oleh api neraka jahannam…!”

Ya, Jika sosok agung tersebut sedemikian nya memikirkan Qitmir, tentu dia berkata

“Andai engkau mengulurkan tangan tuk membunuhku, aku takkan mengulurkan tangan tuk membunuhmu…”

إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ…

“…..Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (Al – Ma’idah: 28)

Karena itu, maka karakter dan akhlak inilah yang harus ditunjukkan. Benih kebaikan yang kalian tebar dan semai tanpa disadari, saat Anda melihatnya, Anda akan terkejut ia berkecambah menjadi tunas pohon-pohon kebaikan.

Atas izin Allah, tunas-tunas tersebut nantinya akan menjadi puluhan pohon cemara Anda akan berkata:”Ternyata semua ujian ini tujuannya untuk menumbuhkan ‘pohon’ ini. Berarti aku beruntung..”

Biarkan saja mereka yang memilih jalan rendah, biar mereka melanjutkan jalannya. Anda tetap harus memikirkan bagaimana cara berbuat baik kepada mereka. Hendaknya keburukan tidak dibalas dengan keburukan, sebagaimana dicontohkan Baginda Nabi, Nabi Isa membalas dengan kebaikan berarti Anda menunjukkan sifat gentelman, kemanusiaan, dan karakter mulia Anda.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”.”(Al – Isra’: 84)

Seseorang bersikap sesuai bawaan karakternya. Berbuat zalim, berkata zalim, berpikir zalim…

Seseorang bersikap sesuai bawaan karakternya. Berbuat zalim, berkata zalim, berpikir zalim…

Pandangan Anda harus mengalirkan keadilan,

Telinga Anda penuh akan gemerincing keadilan,

Mulut Anda harus senantiasa mengucap keadilan,

Jantung Anda pun harus mendetakkan keadilan…

Semoga Allah menjadikan kita sebagai manusia dengan kualitas demikian

Semoga Allah mengampuni kesalahan kata-kataku..

Aku mohon maaf juga dari Anda sekalian…

zac-durant-FGrlQJs-dos-unsplash

Rasa Cinta dan Derita pada Dakwah

Tanya: Bagaimana metode mendapatkan hati manusia yang dilakukan Rasulullah dan para Ashabul Kiram, sebagai sosok yang senantiasa hidup dengan kecintaan dan nyeri tabligh? Apakah perjuangan mencari dada yang bisa memahami diskusi selama 30-40 menit dalam sebuah perjalanan kereta api pun dihitung sebagai cerminan dari cinta dan rasa sakit itu? Apa peran dari pendekatan individu (dakwah fardiyah) dalam usaha ini?

Jawab: Ya, diriwayatkan bahwa Rasul & Ashabul Kiram senantiasa hidup dalam semangat tablig & menanggung deritanya. Pertama-tama, sangat penting untuk meyakini urgensi berdakwah dan yakin akan adanya ganjaran yang dijanjikan kepada para pelaku dakwah. Ya, mereka meyakininya. Seberapa percaya? Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah hari ini akan datang hari esok. Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah matahari tenggelam malam akan tiba.

Matahari bisa saja tidak terbit, malam bisa saja tidak datang. Seberapa besar kemungkinannya matahari tidak terbit dan malam tidak datang? Mungkin hanya 1/1triliun. Kemungkinan itu muncul seperti saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menahan matahari sebagai salah satu mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga malam pun tidak datang. Atau kiamat pecah, sehingga malam tidak datang karena yang datang adalah hal lain.

Namun, mereka sangat percaya pada tujuan mereka sehingga mereka mempercayainya dengan pasti seperti percaya pada hasil hitungan matematika. Mungkin terdapat keraguan pada hasil hitung dua kali dua sama dengan empat. Akan tetapi, kami tidak ragu pada akhir perjalanan kami. Kami tidak sedikit pun ragu pada yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Mereka meyakini hakikat itu. Ini adalah perkara yang sangat penting.

Mungkinkah kepercayaan ini muncul secara tiba-tiba? Allah ketika mengutus Rasulullah di waktu yang sama Dia juga mengirim orang-orang yang akan menyambutnya. Anda tidak bisa menjelaskan perkara ini dari sudut pandang lainnya. Rasulullah dibekali mungkin dengan satu ayat atau satu surat. Rasulullah mengambil pesan ini dengan semangat untuk menyampaikan apa saja yang dijanjikan oleh pesan ini kepada orang lain. Beliau menyampaikannya kepada Sayyidah Khadijah.

Semoga Ummul Mukminin Khadijah mengampuni kita dan berkenan memasukkan kita dalam naungan pengayomannya. Semoga beliau berkenan mengusap rambut kepala kita di akhirat nanti. Dan mengakui kita sebagai anak-anaknya, insya Allah.

Tanpa keraguan, ia meletakkan telapak tangan di dadanya dan berkata: “Sampaikan kepadaku…! Sekali-kali Allah tidak akan merendahkanmu! Sesungguhnya engkau menyambung hubungan keluarga, menafkahi kerabat, dan membantu orang-orang tidak mampu. Memberikan jamuan kepada tamu serta menolong orang-orang yang tertimpa musibah. Allah tidak akan mengizinkan setan mengganggumu, mereka tidak akan membuatmu tenggelam dalam khayalan. Tidak bisa diingkari lagi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilih engkau untuk memberi petunjuk kepada kaummu. Jalan yang engkau tempuh selalu merupakan jalan menuju kekamilan.. Ufukmu senantiasa merupakan ufuk yang agung…” Ini merupakan respon dan pemikiran yang luar biasa. Dialah orang yang pertama kali menghibur Rasulullah.

Orang yang kedua adalah Sayyidina Abu Bakar. Dia adalah orang yang pertama kali ditemui Rasulullah ketika keluar rumah pasca beliau menerima wahyu. Ia adalah sosok yang dikenal dan sering membersamainya sejak masa kecilnya. Jarak umurnya 2-3 tahun lebih muda. Beliau menanyai Sayyidina Abu Bakar: “Kepada siapakah akan kusampaikan pesan ini?” Sayyidina Abu Bakar menjawab tanpa ragu: “Kepadaku Ya Rasulullah!”

Ketika melihat peristiwa itu dari perspektif ini, ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengirimkan sosok yang akan membawa pesan yang akan mengubah warna dunia, ketika Allah mengirimkan seorang insan kamil untuk membawa pesan agung ini, sejak awal Dia menyiapkan sosok-sosok dengan karakter khusus yang akan menyambut pesan dari utusan-Nya. Demikianlah Allah memprogram dan menakdirkannya. Beberapa dari mereka hanya membutuhkan satu ayat untuk melejit, misalnya Abu Bakar, Ali, dan Usman radhiyallahu anhum. Tiga-empat tahun kemudian Sayyidina Umar menyusul. Demikian juga para Asyarah Mubasyarah, mereka semua merupakan sahabat muhajirin. Anda juga dapat mengkaji mereka dengan kriteria yang serupa.

Faktor kedua, seperti yang dibahas Badiuzzaman, yaitu faktor insibag (celupan). Kepada siapa pun Rasulullah menggoreskan kuas pesan, perasaan, dan pemikirannya, seakan mereka yang digores mengalami proses melangit. Mereka yang menyaksikan sikap, perilaku, dan tatapan matanya akan berseru: “Tidak ada kebohongan padanya”. Apabila mereka yang menyaksikannya tidak memiliki praduga, mereka akan takjub & jatuh hati kepadanya. Dan berseru: “Beliau sosok terpercaya yang layak untuk diyakini”. Demikianlah besaran kekuatan magnetnya. Mereka yang tadinya hidup di dalam jelaga hitam pun seketika rontok noda-nodanya. Seakan disucikan oleh telaga kautsar di surga sehingga mereka layak bersanding bersama malaikat. Teruntuk mereka yang meyakini adanya kehidupan setelah mati dengan segala kriterianya dan mereka yang meyakini Rasulullah serta pesan-pesan yang dibawanya, sungguh terdapat ganjaran atas apa yang mereka yakini sebagai kabar gembira yang telah dijanjikan.

Sebaliknya, terdapat ancaman bagi mereka yang mengingkarinya. Di satu sisi, mereka yang meyakininya akan berangkat menuju kebahagiaan abadi. Mereka menjadi calon orang beruntung yang akan menyaksikan jamaliyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berangkat menuju ufuk untuk meraih rida Allah. Sedangkan mereka yang tidak meyakininya akan mendapat hal yang sebaliknya. Jika kelompok yang satu melangit, menyerupai malaikat, berangkat menuju derajat malakut. Maka kelompok yang ini akan terpuruk dan tergelincir ke derajat asfala safilin. Kini jika kita melihat perbedaan dari dua keadaan ini secara bersamaan, maka kelompok yang berhati bersih ini akan dengan penuh semangat menyebarkan pesan-pesan ini kepada manusia. Aku tidak bisa menggunakan analogi yang sama untuk Rasulullah. Namun, Al Qur’an menjelaskan kondisinya dalam dua ayat Fa la’allaka bākhi’un nafsak (QS al Kahfi 18:6) yang artinya Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu”

Beliau sangat ingin agar umatnya memilih jalan yang pertama supaya umatnya melejit ke derajat ‘alaya iliyin, supaya umatnya dimuliakan dengan surga. Dengan demikian mereka akan dimahkotai kesempatan menyaksikan jamaliyahnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Beliau berharap umatnya untuk meyakininya sehingga mereka pun menjadi layak dimahkotai dengan Ridwan. Beliau berseru “Orang ini juga harus yakin/beriman… Orang itu juga harus yakin/beriman…” . Bukan seperti apa yang dikatakan sebagian teolog islam masa kini: “Allah juga punya neraka. Buat apa kamu terlalu semangat berdakwah dan mengundang orang-orang?” Ungkapan ini merupakan wujud ketidaksadaran diri dan ketidakpahaman akan makna neraka.

Nadanlar eder sohbeti nadan ile telezzüz

Divanelerin hemdemi divane gerektir.

Hanya orang tak berilmu yang menikmati perbincangan dengan orang dungu.

Dan kawan orang gila adalah juga orang yang tak berminda.

Ziya Pasa

Di sisi lain, orang-orang yang tidak beruntung berarti kehilangan kebahagian abadinya. Sebagaimana dibahas dalam tafsir. “… Lābiṡīna fīhā aḥqābā.”Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya (QS An Naba 78:23)

Serta ayat: Innallażīna kafarụ bi`āyātinā saufa nuṣlīhim nārā, kullamā naḍijat julụduhum baddalnāhum julụdan gairahā liyażụqul-‘ażāb, innallāha kāna ‘azīzan ḥakīmā,  Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab (QS. An-Nisa 56). Ya, Setiap kali kulitnya hangus, Allah akan ganti kulitnya dengan kulit yang lain sehingga mereka bisa merasakan azab.

Ketika melihat gambaran dari ancaman ini, hati kita bergidik “Ampun Ya Allah..!” Ternyata kita harus merangkul dan menyelamatkan orang-orang. Kini menghadapi masalah yang demikian jika Anda masih memiliki hati nurani, Apakah Anda tidak akan membunuh diri Anda sendiri seperti yang dirasakan oleh Rasulullah? Inilah yang dirasakan dan dipikirkan para sahabat. Di satu sisi mereka memandang surga dengan mata kepalanya. Mereka tidak akan menyia-nyiakannya. Di sisi lain mereka menyaksikan neraka seperti digambarkan oleh Al Qur’an. “Ampun beribu ampun! Jangan sampai Allah menjebloskan kita ke tempat ini!” Jangan sampai satu orang pun jatuh ke dalamnya. Oleh karena itu, kita harus mengulurkan tangan.

Kemudian ia tidak menikmati waktu untuk pribadinya. Ia menggunakannya untuk kebutuhan orang lain. Mereka rela mati asal orang lain bisa bangkit hidup. Mereka hidup untuk orang lain. Hidup yang tak digunakan untuk hidup orang lain tak layak disebut hidup. Hidup yang demikian adalah hidup yang rugi. Dan mereka tak tinggal diam di derajat yang rendah itu. Mereka selalu hidup di derajat alaya iliyyin, menuju kekamilan hidup.

Pertama-tama, permasalahannya perlu ditinjau dari sudut pandang ini. Demikianlah Rasulullah dan ashabul kiram hidup dalam semangat dan pilunya dakwah dan cara memenangkan hati manusia.

Selain itu, yang ketiga adalah mulayamah (lemah lembut). Ia merupakan faktor penting lainnya. Ia dibahas dalam Al-Qur’an dalam bentuk anjuran kepada Nabi Musa supaya berlaku dengan Qawl Layyin. Jika Anda menunjukkan kebaikan, kelembutan, dan toleransi dalam wajah dan pemikiran Anda, jika Anda memiliki rasa hormat terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal, pihak lain tidak akan tidak menghormati Anda, mereka juga akan menghormati Anda. Ini akan menjadi kisah penuh hormat yang disampaikan kepada pihak yang penuh rasa hormat juga. Ia disebut Qawl Layyin, yaitu tutur kata yang lembut.

Misalnya Anda pergi menemui Amenophis II atau Firaun. Lalu Anda berseru: “Wahai orang merugi yang merasa dirinya adalah tuhan! Saya mengundangmu kepada hidayah. Jika menolak, dirimu akan dijebloskan ke dalam neraka.”

Namun, perintah Al-Qur’an berkata: “Fa qụlā lahụ qaulal layyinal la’allahụ yatażakkaru au yakhsyā ~ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha 44)”.

Dengan adanya perintah ini, maka kita perlu sesuaikan apa yang akan kita sampaikan. Mungkin disampaikan: “Wahai hamba Allah…”

Saya rasa pemilihan kata yang tepat juga merupakan faktor yang sangat penting. Apabila Anda merangkul semua orang, termasuk kepada mereka yang menghina Anda, maka alam semesta pun akan merangkul Anda. Lewat pendekatan Rumi dan Yunus Emre kita rangkul semua orang. Kita harus mampu berkata:”Nilai yang saya yakini telah mentarbiyah sikap saya.” Bukankah ini cukup meyakinkan?

“Saya pun juga seorang manusia, saya pun bisa marah. Namun nilai yang saya yakini telah membentuk karakter saya sedemikian rupa. Meskipun Anda menghina saya sedemikian rupa, saya tetap ingin merangkul Anda.”

Pada akhirnya, mereka juga manusia; Sebagai apresiasi mereka pun akan memberi respon positif. Apalagi dengan beragamnya perbedaan yang ada dewasa ini. Misalnya perbedaan agama, mazhab, dan suku. Di satu sisi kita perlu menutup mata pada perbedaan tersebut untuk kemudian mengundangnya minum teh. Kita pun perlu datang juga memenuhi undangannya, atau mengunjunginya sambil membawa bingkisan. Kita juga bisa memanfaatkan hari-hari besar agama.

Contoh lainnya bisa Anda tambah sendiri. Misalnya kita membuat program untu memperingati waktu wahyu pertama turun atau lazim disebut Nuzulul Qur’an. Itulah hari di mana pintu langit dibuka kepada kita. Kita harus memaksimalkan dan manfaatkan hari ketika wahyu pertama turun di singgasana Hira tersebut melalui peringatan yang penuh makna.

Contoh berikutnya, kita buat peringatan hari di mana Rasulullah diboikot misalnya.

Berikutnya yaitu peringatan Maulid Nabi. Tentu program maulid kita sudah rutin melakukannya; atau peringatan Isra Mikraj.

Contoh berikutnya, membuat peringatan wafatnya Sayyidah Khadijah. Dalam program tersebut kita bsia membaca manaqibnya. Kita sampaikan kisah hidup Ummul Mukminin yang agung.

Contoh berikutnya, membuat peringatan tahun baru hijrah yang dimulai perhitungannya pada masa Sayyidina Umar. Ketika membahas tahun baru hijriah otomatis kita akan membahas kemuliaan hijrah. Hijrah merupakan awal keberadaan dan awal pembentukan negeri madani. Di dalamnya terdapat peristiwa dipersaudarakannya muhajirin dan ansar, serta hal agung lainnya.

Kita bisa memanfaatkan beragam peristiwa serupa. Misalnya iduladha, idulfitri, nisfu syaban, dsb. Di masyarakat kita terdapat penghormatan terhadap hari-hari besar itu. Itu juga merupakan kesempatan bagi Anda untuk menyampaikan rasa hormat kepada hari-hari besar tersebut. Di hari tersebut bisa kita bawakan bubur sumsum, bubur candil, bubur baro-baro, dsb. Kita masakkan juga rendang, dan nasi liwet. Melalui sarana ini kita coba menunjukkan bahwasanya kita dekat. Kunjungan ini kita jadikan sebagai jembatan penghubung. Dengan jembatan yang dibangun itu mereka pun bisa datang mengunjungi kita. Di hari berikutnya Anda akan menyaksikan mereka membawakan teh dan kopi untuk Anda. Saya pikir hal-hal ini sangatlah penting untuk mengenalkan dunia Anda, Wallahu alam.

mhrezaa-0s9ai7vatFg-unsplash

Penghormatan Pada Manusia dalam Pemikiran Fethullah Gulen

Satu dari tonggak pemikiran sosial dan spiritual Fethullah Gulen adalah konsep penghormatan kepada manusia. Tema yang senantiasa disenandungkan dalam ceramah dan tulisannya. Menghormati yang lain merupakan rahasia di balik jalannya kehidupan ini. Dan merupakan prasyarat utama dalam mengabdi kepada Tuhan. Ya, penghormatan adalah sebuah penghargaan yang layak didapati seseorang hanya karena ia seorang manusia dan ini menyatu dengan penghormatan kepada Tuhan. Penghormatan juga merupakan rahasia di balik Tuhan memerintahkan Jibril bersujud kepada Adam, manusia pertama dan seorang nabi (Qur’an, 2:34).

Bagi Gulen, nilai sejati dari seorang manusia dalam bentuk terbaiknya dirumuskan oleh agama-agama samawi, terutama Islam. Analisa yang objektif terhadap isi al-Qur’an tidak mengungkapkan apa-apa selain cinta sejati pada manusia. Hasil tersebut juga tidak ada bedanya jika kita melihat langsung kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan mengamati bagaimana beliau mengutamakan kecintaan dan penghormatannya pada manusia dalam hubungannya dengan orang lain. Pada cara beliau mengajari keimanan pada umatnya dan diplomasi beliau dengan komunitas dan negara lain. Dengan menghormati orang-orang di sekelilingmu berarti menghormati manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Menurut Gulen, ini adalah sebuah budaya yang harus diajarkan kepada generasi penerus seperti halnya mengajarkan praktik salat dan harus dijalankan dalam semua aspek kehidupan, mulai dari pendidikan hingga bisnis, dari keluarga hingga pegawai pemerintah, dari olahraga hingga seni dan politik. Rutenya beda, tapi maksudnya sama.

Adalah fitrah kita untuk beda pemikiran. Karenanya kita harus menghargai pandangan yang berbeda dan tidak memaksa seseorang untuk berpikiran seperti kita.

Menghormati manusia adalah kunci untuk memanifestasikan kualitas batin yang indah, dan untuk mengembangkan keterampilan kita. Sama seperti pengembangan dalam setiap aspek kehidupan kita yang bergantung pada kondisi yang nyaman, begitu juga kemampuan kita berkembang dalam suasana yang mengedepankan rasa hormat pada manusia. Gulen juga mengajak untuk menghormati orang-orang yang memilih jalan yang berbeda. Seseorang tidak boleh menghambat perkembangan mereka atau menjadi musuh mereka hanya karena mereka mengambil jalan yang berbeda dari kita. Adalah berseberangan dengan fitrah manusia untuk memaksa orang-orang agar mengikuti jalan tertentu dan bukan yang lain. Selama kita memiliki tujuan yang sama, keberadaan pemikiran dan metode yang berbeda merupakan sumber keuntungan yang tidak boleh ditinggalkan demi mengikuti kehendak ego tertentu.

Bagi Fethullah Gulen, penghormatan pada manusia haruslah menjadi titik awal untuk mencapai karakter yang baik dan mengembangkan hubungan yang kuat. Mengadopsi sikap yang seperti ini sebagai asas menjalin hubungan dengan pihak lain akan menciptakan dialog yang berkelanjutan dengan siapapun, baik yang dekat maupun jauh. Apakah mereka orang yang beriman atau tidak, orang salih atau mereka yang dekat dengan Anda dan memiliki nasib yang sama dengan Anda. Dalam semua kasus, mereka masih merupakan manusia yang diciptakan Tuhan, mereka masih berhak dihormati, bahkan dengan berkali-kali lipat, untuk alasan sederhana itu.

Manusia telah diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Dalam ayat al-Qur’an yang menjelaskan kebenaran ini, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak mengatakan seorang yang beriman atau seorang muslim, Dia menyebut manusia. Semua manusia memiliki potensi ini sebagai karakter pemberian Tuhan. Karenanya menghormati manusia merupakan aspek alamiah menjadi manusia. Dan itu harus diukir dalam diri kita dengan sering sehingga ia menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kemanusiaan kita. Rasa hormat pada manusia merupakan ciri istimewa dari “manusia hati” yang diimpikan oleh Gulen dalam buku-buku dan ceramahnya. “Manusia hati” adalah arsitek masa depan yang membangun dunia dan mengembangkan relasi dengan pihak lain atas dasar cinta dan rasa hormat. Gulen membayangkan masa depan dimana penghormatan pada hidup manusia dan orang lain akan ditempatkan di tengah-tengah semua tindak tanduk kita, dari membentuk sebuah keluarga hingga membangun pusat kajian dan pembelajaran, dari tetangga sampai hubungan internasional, dari pabrik makanan hingga layanan masyarakat dan kemajuan teknologi. Ini begitu penting jika kita ingin menyelesaikan masalah-masalah sosial yang meluas terjadi.

Satu kualitas luar biasa yang dimiliki generasi orang-orang yang terinspirasi Fethullah Gulen dan mengabdikan hidupnya untuk melayani orang lain adalah rasa hormat pada manusia. Relawan dari gerakan pelayanan ini pertama kali menaruh rasa hormat pada orang lain, dan menghargai setiap orang tanpa melihat perbedaan mereka dalam agama, bahasa, budaya, pekerjaan, atau status ekonomi. Ini adalah rahasia di balik semua pencapaian mereka. Rasa simpati dan cinta yang mereka terima dari seluruh penjuru dunia. Bagi Gulen, para relawan ini melihat, menerima cinta dan rasa hormat setiap orang seperti halnya mereka. Perbedaan tidak pernah bisa menjadi landasan bagi diskriminasi.