photo-1546023690-2ff75535b596

Tauhid 2 – Kebenaran Agung

Seseorang yang sifat kemanusiaannya belum padam, belum hilang hati nuraninya, yang masih memiliki hati di dadanya, apa saja yang ia gunakan, ia rasakan, ia lihat, dan ia peroleh, maka ia pasti akan memikirkan orang lain agar dapat memperoleh manfaat dari hal-hal berguna yang indah dan berharga. Jika ia pergi dan melihat surga, ia pun mengundang orang lain ke sana, dan meyakinkan orang lain. Itulah yang menjadi masalah utamanya. Jika ia melihat taqdir, melihat pena taqdir, buku catatan nasib, tentang pena, tentang buku catatan, membujuk orang-orang adalah menjadi masalah penting baginya. Entah dia mendengar ayat-ayat Allah dari bahasa alam semesta, jika dia melihat-Nya dengan pandangan dan pemahamannya yang khas, menunjukkan-Nya, memperdengarkan kepada mereka yang perlu mendengarkan-Nya adalah menjadi tugas penting baginya. Ini untuk manusia yang hati nuraninya belum pudar, yang memiliki suara dalam hatinya. Inilah keprihatinan dan masalahnya Rasulullah Saw. Beliau percaya seperti beliau melihat Allah, beliau melihat surga dan beliau percaya. Takdir beliau melihat pena takdir dan beliau percaya, beliau berbicara dengan malaikat secara lisan hal, melihat mereka dan percaya. Beliau melihat, mendengar, percaya dengan diri beliau sendiri bahwa kitab yang turun kepada beliau berasal dari Allah dan kemudian beliau meninggalkan surga, beliau meninggalkan bidadari-bidadari, beliau meninggalkan para pelayan surga dan kembali ke dunia manusia untuk memberitahu dan membawa mereka semua keindahan itu. Ketika beliau mencapai puncak tertinggi di sana, beliau kembali berada di antara orang-orang untuk memegang tangan mereka dan menaikkan mereka ke surga yang telah beliau saksikan sebelumnya.

Dalam hal ini, Rasulullah Saw sangat menderita, karena manusia menolak untuk memahami apa yang beliau katakan, mereka lari dari beliau dan menghindar untuk mendengarkan kebenaran-kebenaran yang agung itu. Hati beliau dalam penderitaan dan kekhawatiran.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling (Al-Kahfi; 6)

Beginilah Al-Quran menggambarkan kondisi Rasulullah SAW dalam penderitaan. Setelah melihat Allah dengan segala bukti, mendengarkan Dia dari alam semesta, setelah masuk ke jiwa dan memahami-Nya di sana, dan mendengarkan suara-Nya dalam hati nuraninya. Masalah penting bagi seseorang adalah memperdengarkan suara ini kepada siapa saja yang belum mendengarkannya, untuk bahwa mereka berada di jalan yang benar, mencerahkan mereka dengan cahaya ini, untuk memastikan yang mengarahkan mereka ke surga Darussalam dalam keadaan aman. Ini adalah masalah manusia yang sebenarnya.

Suatu ketika Umar ra. berada di samping seseorang sedang menangis tersedu-sedu. Ketika sang khalifah lewat di depan sebuah biara dan melihat seorang pendeta yang mengeluarkan kepalanya dari kanopi. Pendeta malang ini telah hidup zuhud mengabdikan dirinya, tidak makan tidak minum dan lelah. Ketika melihat ini, Umar ra. tidak bisa menahan isaknya dan mulai menangis. Wahai Khalifah Nabi Allah, dia orang Kristen” kata mereka. Karena itulah aku menangis kata Umar. “Dia telah mengubah dunia menjadi neraka bagi dirinya sendiri, tidak ada penderitaan yang belum ia derita, tetapi dia ketinggalan kapal. Dia tidak dapat menemukan utusan Allah; dia akan pergi ke neraka, karena itu aku menangis sedih.”

Rasulullah Saw juga menderita dan berlutut di ujung kepala anak yahudi sesaat sebelum ia meninggal. Anak yahudi yang beliau layani ketika ia menghembuskan nafas-nafas terakhirnya. Jika ia memanfaatkan saat-saat terakhir hidupnya dengan benar, ia akan masuk surga Darussalam dan di sana ia akan melayani nabi dari semua nabi. Jika tidak ia memanfaatkannya, ia akan masuk neraka. Rasulullah Saw memberikan pandangan yang penuh kasih sayang kepada anak itu dan semanis katanya: أ سلم يا ولدJadilah seorang muslim nak”. Anak itu sudah melekatkan hatinya pada Rasulullah, tetapi karena keganasan ayahnya dan takut pada ibunya, ia tidak bisa mengikuti ajakan Rasulullah Saw. Dapat terlihat bagaimana menderita Rasulullah dari raut wajahnya, dalam menghadapi kemungkinan penolakan dari anak itu, jika saja tiba-tiba ia katakan “aku tidak mau”. Melihat Rasulullah begitu menderita, anak itu mengalihkan pandangannya dari Rasulullah dan memandang ayahnya yang non-muslim. Ayahnya berkata; أ طع أبا القا سمAnakku sayang! Taatilah Abu Qasim!” Dalam hembusan nafas terakhirnya, saat bernafas yang terakhir kalinya, seolah-olah dia menggambarkan spiral ke atas yang bercahaya dan ruhnya naik ke dalamnya sambil mengatakan: لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ‎. Rasulullah Saw pun pulang kembali ke rumah, beliau merasakan seolah-olah baru saja menaklukkan dunia, tidak bisa dibayangkan bagaimana hati beliau begitu senang dan gembira.

Begitu pula ketika Nabi di hadapan Abu Quhafa, beliau dalam penderitaan dan kekhawatiran. Sampai hari penaklukan Mekkah, Abu Quhafa masih menutup dirinya dari makna hakiki Ilahi. Kilau kenabian pertama sekali menyala di rumahnya, dan cucunya adalah istri Rasulullah. Putranya, Abu Bakar telah menjadi lukisan kebanggaan yang akan terus berada dalam ingatan umat manusia sampai hari kiamat.  Namun sayang sekali, Abu Quhafa tidak bisa melihat cahaya ini sampai penaklukan kota Mekkah. Dia tidak bisa melihat cahaya di rumahnya sendiri, dia tidak bisa melihat cahaya Rasulullah Saw. yang memancar di jalan-jalannya. Pada hari itu, ketika Mekkah ditaklukan, bongkahan es yang ada dalam diri Abu Quhafah mencair dan terjadilah juga penaklukan dalam dirinya. Ini adalah sumber kegembiraan bagi putranya. Sang anak pun memegang tangan ayahnya dan membawanya ke hadapan Rasulullah; Ia adalah ayah dari mertuanya, ayah dari ayah istrinya, ayah dari sahabat setianya, ayah sahabatnya di Raudhah. Rasulullah berkata: “Kamu telah menyusahkan orang tua, saya akan mengunjungi dan mentalqinnya…” Abu Bakar menjawab: “Tidak wahai Rasulullah, dia seharusnya datang dan bersimpuh di hadapanmu.” Sang ayah yang sudah tua renta pun ada di sana, beliau pun mengucapkan kalimat yang memiliki kekuatan paling besar:  لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ

Lihatlah, satu-satunya putra Abu Quhafa, Abu Bakar, yang bergeser ke samping dan menangis terisak-isak. “Kenapa Anda menangis wahai Abu Bakar?” “Ayahku datang dan menyerah kepadamu, dan mendapat hidayah. Saya akan sangat menginginkan melihat Abu Thalib di posisi ayah saya wahai Rasulullah! Karena itulah aku menangis. Sedekat mana ayah saya dengan saya, segitulah dekat ia (Abu Thalib) dengan anda.” Dekat tetapi dia juga telah ketinggalan kapal dan dia tidak bisa mengucapkan kalimat suci itu.

Hakikat kalimat “La Ilaha Illallah” yang coba dijelaskan oleh alam semesta dengan bahana gemuruhnya, yang terus-menerus digelombangkan oleh manusia bagai ombak lautan yang dalam dengan penuh kesenyapan merupakan hakikat agung dimana ragat raya tunduk di hadapannya. Setiap hakikat kebenaran yang ia ciptakan dalam kalbu setiap individu, beginilah antusiasmenya, menjadi sangat antusias. Di hadapan orang yang tidak beriman, hatinya akan sangat hancur.

Jalan-jalan penuh dengan orang-orang yang tidak beriman. Banyak asrama pelajar yang akan dipenuhi oleh orang-orang yang tidak beriman. Jika kita tidak sedih melihat orang-orang yang tidak beriman dengan gambaran yang mengerikan ini, berarti hati kita telah padam, hati nurani dalam diri manusia itu sudah tidak ada lagi. Semoga Allah menganugerahkan kita hati nurani, kesadaran dan pemahaman. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menjelaskan dan menerangkan kebenaran yang kita yakini dengan sepenuh hati kepada orang lain.

mathilde-cureau-ZfroDfOR_fg-unsplash

Tauhid 1 – Iman

Setiap manusia memiliki sesuatu yang menyibukan dirinya, membuatnya sedih dan sering membuatnya melupakan perkara lain yang berhubungan dengan dunia. Setiap manusia masing-masing memiliki perkara yang dianggapnya besar. Sesuai dengan ukuran masalahnya, manusia tersebut akan meninggalkan apa pun selain masalah itu. Semakin besar masalah, maka semakin banyak pula perkara lain yang dilupakan dan ditinggalkan. Sebagai contoh, seseorang yang sedang menghadapi masalah kehilangan kakinya maka tidak akan terpikir olehnya untuk berbicara tentang jenis makanan apa yang akan dimasaknya pada hari itu, karena dia memilki masalah besar yang sedang dihadapi. Seseorang yang istrinya meninggalkan rumah dan pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui. Pada hari itu, dia tidak akan peduli untuk menyemir sepatunya. Pada dasarnya, dia telah melupakan banyak masalah lain seperti itu. Sesuai dengan besar kecilnya suatu masalah, membuat segalanya dilupakan dan ditinggalkan. Siapa yang akan menentukan apa masalah ini? Bagaimana kita bisa memahami ukuran besar kecilnya sautu urusan yang ada di luar kehidupan kita? Mungkin pernyataan terakhir ini lebih inklusif.

Di setiap masa, beberapa perkara telah menjadi penting. Pada masa Rasulullah SAW, di masanya ada perkara yang yang menjadi sangat penting. Mungkin akan tiba suatu masa, perkara perang itu menjadi hal penting, menaklukkan dunia menjadi hal penting, membangun peradaban, membangun properti menjadi hal yang penting. Terkadang juga, memberi orang kepuasan yang mereka butuhkan adalah hal penting.

Sementara Iman menjadi perkara yang penting untuk  menyelamatkan manusia dari menikmati keinginan mereka sendiri. Menjadi perkara penting karena keinginan Allah kepada hambanya adalah menjalankan dan menghidupkan perintahNya. Ini adalah salah satu masalah nyata yang hampir dapat dirasakan oleh setiap manusia yang memilki hati nurani dengan bimbingan akal. Seseorang yang tidak bersedih saat menghadapi generasi yang tidak terkendali, berarti dia tidak memiliki hati nurani. Jika seseorang yang memiliki seorang anak atau kerabatnya tidak beragama dan dia tidak bersedih karenanya, berarti dia telah kehilangan kemampuan alaminya (sikap kemanusiaannya telah hilang). Dalam kehancuran seperti itu, dimana kehancuran dan hidup terasa sia-sia, hanya mengikuti satu sama lain di ranah masyarakat suatu bangsa, jika bangsa itu tetap acuh tak acuh dan mati rasa maka tidak dapat dikatakan bahwa bangsa itu memiliki hati nurani.

Setiap manusia yang memiliki hati nurani, apabila ada dari saudaranya meskipun bukan dari bangsanya, meskipun masalah ini memiliki tingkat kepentingan tersendiri, karena ada mereka yang keluar dari agama dan ada yang tidak beragama, meninggalkan shalat dan tidak berakhlak maka harus ada rasa sedih yang luar biasa di dalam hatinya. Jika semua itu tidak menimbulkan kesedihan yang besar di hatinya maka kita dapat simpulkan bahwa ia tidak memiliki hati nurani. Jika seseorang menyesali dirinya karena masalah yang sangat kecil, namun tidak sedih karena perkara keimanan, berarti mereka memiliki keraguan, tentang konsekuensi akan tidak adanya iman.

Jika seseorang tidak bersedih dalam menghadapi keruntuhan, pembubaran dan perpecahan maka pada dasarnya, berarti bahwa dia tidak percaya adanya hari kebangkitan, dia tidak percaya adanya Yaumul Hisab (hari perhitungan), tidak percaya akan kembali kepada Allah, dan tidak percaya akan keabadian hakiki. Jika dia tidak menyesal menghadapi anaknya yang kehilangan kendali, kehilangan moralitas, kami akan membuang setiap bukti dalam hal ini ke belakang. Karena pertanda nyata, pertama kali mempercayai hal ini adalah usaha yang akan dilakukan dengan menyelamatkan anaknya.

Akan ada beberapa usaha yang harus dilakukan dalam perkara ini. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa membuat kita dapat memahami dan menyadari masalah penting ini sesuai dengan tingkat kepentinganya. Rasulullah Saw telah membuka matanya untuk hidup dan memahami makna hidup, Dia telah menyibukkan diri dengan perkara ini dan menjadikannya sebagi masalah yang besar baginya. Rasulullah telah mengorbankan kekayaannya untuk masalah ini. Dia juga telah mengorbankan kekayaan istrinya untuk masalah ini. Dia tidak mendapatkan waktu untuk beristirahat karena masalah ini. Mereka mengatakan “kepalamu telah pecah!”. “Aku tidak peduli, aku memiliki masalah lain yang lebih besar”.  “Gigimu patah!”. “Aku tidak peduli, aku memiliki masalah lain yang lebih besar”. “Kamu terpaksa meninggalkan kampung halamanmu”. “Aku tidak peduli, aku memiliki masalah lain yang lebih besar” “Kamu seorang imigran. “Aku tidak peduli, aku memiliki masalah lain yang lebih besar”. Beliau selalu berkata begitu. Dia (SAW) selalu memiliki masalah dalam benaknya. Hal ini membuatnya hampir mati lemas sehingga dalam Al Quran disampaikan: “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Mekkah) tidak beriman.” Qs. Asy Syuara: 3




Iniah ekspresi hati manusia yang beriman. Inilah ekspresi orang yang memiliki hati nurani. Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.

Begitu juga ketika beliau menderita karena pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib telah membantu dan melindungi Rasulullah selama hampir 40 tahun. Dia tidak melindungi Rasulullah karena kenabiannya, tetapi karena dia adalah seorang yang dekat dengannya, dia adalah kerabat baginya. Jika saja dia melakukannya karena kenabiannya maka es di hatinya akan dicairkan dan dia juga akan mencair di lautan Rasulullah. Tetapi dia hanya melakukannya dengan perasaan kedekatan dan kasih sayang. Tetapi Rasulullah ingin perlindungannya itu menjadi tanpa pamrih, maka dari awal dia telah meminta sesuatu darinya: “Pamanku, aku tidak ingin terlalu banyak darimu, katakan Lailaha illallah sehingga saya bisa menjadi perantara bagimu di hari penghakiman besar nanti”. Tetapi Abu Thalib ragu-ragu…

Kita belajar lagi dari Rasulullah: “Bagaimana kalian hidup, begitulah kalian mati, bagaimana kalian mati begitulah pula kalian akan dibangkitkan.” Abu Thalib tidak hidup dengan mengucapkan Lailaha illallah, maka meninggal lah seperti itu! Allah tidak memberikannya kesempatan saat itu, Rasulullah saat itu selalu bersikeras. Ada tokoh-tokoh Quraisy di hadapannya saat itu disana juga, Abu Jahil, (bapak kebodohan) Ketika Rasulullah mencoba meyakinkannya untuk mengatakan Lailaha illallah Abu Jahal pun mengatakan “Apakah engkau menyimpang dari agama leluhurmu?” Rasulullah pun tidak bisa membujuk Abu Thalib. Jika seseorang terjebak dalam pemikiran yang terbentuk sebelumnya, orang itu akan tidak bisa diyakinkan! Kata-kata terakhir Abu Thalib adalah “Ala Millati Abdul Muttalib”. Sementara kata-kata terakhir seorang Mukmin adalah “Lailaha Illallah”. Namun, pernyataan terakhir Abu Thalib adalah “Saya sedang sekarat pada agama Abdul Muthalib”. Diketahui bagaimana Abdul Muthalib meninggal di masa Jahiliyyah. Saat itu hancur perasaan Rasulullah, seakan-akan beliau di dalam bangunan dan kubahnya jatuh keatas kepala beliau. Paman beliau telah melindungi beliau selama 40 tahun, menanggung begitu banyak penderitaan bagi beliau, dan telah menghadapi segala bahaya yang mematikan, lalu dia meninggal sedangkan Rasulullah tidak bisa melakukan apapun dan dia melewatkan kesempatan syafaat Rasulullah. Hancur perasaan Rasulullah, beliau sangat tertekan saat itu sehingga beliau mengucapkan kata-kata ini: “Selama Aku  diizinkan, Aku akan selalu berdoa untuk pengampunanmu.” Tetapi Allah tidak mengizinkan. Allah langsung menurunkan ayat pada saat itu juga: “Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kerabatya, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahannam.” (Qs; At-Taubah; 113)

Ayat selanjutnya adalah sebagai hiburan kepada Rasulullah “Sungguh engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (Al-Qashas; 56)

Jadi, janganlah bersedih! Jangan sampai hatimu yang murni menjadi sedih. Walaupun dia dekat denganmu, kedekatan yang sebenarnya adalah kedekatanmu dalam Taqwa, ketaqwaan kepada Allah.

Ya, apa yang membuat seorang mukmin tertekan, yang membuat seorang mukmin menderita adalah tidak beragamanya seseorang. Bagaimana jika seribu orang menjadi tidak beragama setiap harinya? Bagaimana jika tiap harinya seribu orang mati kehilangan iman? Bagaimana jika ribuan orang menyimpang dari agama? Siapa pun yang tidak merasa menyesal dalam menghadapi pemandangan seperti ini berarti dia tidak memiliki hati nurani. Dengan begitu, orang-orang akan mencoba menjelaskan dakwah besar ini kepada orang lain sesuai dengan keyakinannya. Perkara utamanya adalah menjelaskan Allah kepada orang lain.

Seseorang yang terlibat dalam suatu partai politik, berjalan dari desa ke desa, dia menceritakan tentang Adi dan Budi kepada siapa pun itu yang merupakan pemimpin partai politiknya. Bukankah Allah memiliki nilai di pandangan anda seperti halnya pemimpin di partai itu? Apakah Rasulullah tidak sebanding dengan pemimpin partai di pandangan kalian? Apabila Anda tidak menjelaskan Allah kalian kepada orang lain dengan pergi dari desa ke desa dan dari kota ke kota, jika hatimu tidak sedih dalam menghadapi pemuda yang keluar dari nilai moral, maka kita telah rusak, maka berarti hati kita telah busuk.

Semoga Allah membantu kita! Semoga Dia memberikan kita kesempatan untuk memahami kebenaran yang agung. Berapa lama lagi orang-orang ini akan merangkak, Allah tahu! Sudah pasti bahwa ini akan terjadi hingga bangsa ini kembali kepada Allah. Semoga Allah mengampuni kita dengan karunia-Nya dan membawa kita ke jalan yang lurus. Inilah keprihatinan dan dakwahnya Rasulullah. Jadikanlah keprihatinan dan dakwahnya Rasulullah sebagai keprihatinan dan jalan dakwah kalian. Ini lah yang Allah inginkan. Berdakwahlah sesuai dengan yang Allah inginkan. Hiduplah dengan hati kalian, hiduplah dengan hati nurani kalian, buatlah keputusan di bawah cahaya hati nurani kalian dan cobalah untuk membuat pekerjaan yang kalian lakukan agar didengarkan.

Sayyidina Ali ra, telah ditugaskan oleh Rasulullah untuk penaklukan Khaybar. Ketika Khaybar tidak bisa ditaklukkan, Rasulullah berkata:

لأعطين الراية غدا رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله

Besok aku akan memberikan bendera ini ke seseorang, yang mana orang ini dia mencintai Allah dan Rasul-Nya dan juga Allah dan Rasul-Nya mencintainya.

Malam itu semua orang mengharapkan bendera akan diberikan kepada dirinya esok lusa nanti. Umar menunggu, Abu Bakar juga menunggu, Utsman juga menunggu (radhiyallahu ‘anhum). Sayyidina Ali ra. yang matanya sakit dan memiliki penyakit di matanya datang ke hadapan Nabi kita dan beliau mengoles air liur di matanya dan sembuhlah dia. Ketika Rasulullah memberinya bendera, terlihatlah siapa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Beliau berkata “Berjalanlah seperti dirimu, kemana kamu pun pergi jelaskanlah tentang Allah. Jelaskanlah tentang Allah kepada siapa pun yang kamu jumpai!”

فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.

Keimanan seseorang individu dari bangsa ini lebih penting daripada kematian total negara ini. Runtuh dan ratanya kota Izmir dengan tanah karena gempa bumi adalah kejadian yang sangat sederhana dibandingkan dengan penyimpangan seorang individu dari agama. Bila orang-orang meninggal maka mereka bisa masuk surga jika mereka mendapatkan ridha Allah SWT.

Bagaimana dengan mereka yang tinggal di neraka abadi yang telah selamanya kehilangan Allah, mereka telah kehilangan Al Quran selamanya? Itulah sebabnya, perkara yang paling penting bagi seorang mukmin adalah menjelaskan tentang Allah dan juga menjelaskan Rasulullah SAW.




Desain tanpa judul

Perpisahan Terakhir dengan Salat

“Perpisahan Terakhir dengan Salat”

Jamaah Muslim yang terhormat! Salat yang merupakan ringkasan segala ibadah, mengandung kabar gembira, keselamatan bagi kaum mukmin. Dengan hati yang penuh rasa takut dan hormat, Kita menunaikan penghambaan kita lewat salat kepada Rabb yang Maha Rahmat dan Karim. Ia mengandung kabar gembira keselamatan serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Kabar gembira ini disampaikan Al Quran pada kita. Kabar Qurani untuk mereka yang hatinya penuh rasa takut dan takzim, baik di dalam maupun di luar. Dengan segala macam dosa dan kekurangannya, mereka sadari posisinya di hadapan keagungan Allah. Untuk itu, di antara ibadah-ibadah personal, tak ada ibadah yang bisa menyaingi keutamaan salat.

Salat memiliki makna menyeluruh, ia memiliki ringkasan dari segala macam ibadah lainnya. Ibadah lain wajib dikerjakan saat seseorang jadi mukalaf atasnya. Setelah mengerjakannya maka kewajiban pun gugur. Namun, kewajiban salat terus berlanjut, ia memelihara hubungan antara hamba dengan Allah. Salat memelihara ikatan antara manusia dengan Sang Rahmat. Manusia mengerjakan salat sehari 5 kali, kadang 10 kali, bahkan mereka rela meninggalkan keadaan hidup yang paling manis demi memelihara ikatan ini. Untuk itu salat sebagai kewajiban terbesar ditujukan kepada manusia yang datang dengan tugas teragung.

Baginda Nabi SAW memberikan porsi terpenting kepada salat. Ketika Al Quran menjelaskan urgensi salat dengan sangat serius, Rasulullah SAW tidak menerima sesuatu dari orang yang tidak salat. Beliau juga menghukumi bahwa tidak ada satupun darinya yang akan diterima oleh Allah. Beliau memberikan perhatian khusus terkait permasalahan ini.

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :  إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ  

Dari Abi Huraitah R.A Berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal yang seorang hamba yang pertama kali dihisab di hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya bagus, maka ia menang dan sukses. Dan jika shalatnya rusak, maka ia menyesal dan rugi. Maka jika ada yang kurang dari shalat fardunya, Tuhan Azza Wa jalla berfirman, “Lihatlah kalian, apakah hambaKu mempunyai (amal) shalat sunnah, maka itulah yang dapat menyempurnakan kekurangan fardhunya, kemudian semua amalnya (juga) seperti itu.”[1] (H.R Tirmidzi)

 .Mungkin ini sudah sering, atau ratusan kali kalian dengarkan. Beliau tidak mencukupkan diri dengan salat yang 5 waktu saja. Beliau ingin melanjutkan munajat dan pertemuan dengan Rabbnya di malam yang gelap, dan beliau berusaha melakukannya. Andai beliau sedang tidak bisa menunaikan salat malam yang dianggap wajib bagi dirinya, beliau meng-qadhanya di siang hari untuk menambal lubangnya. Tidak ada ibadah yang sudah beliau mulai kemudian diberi jeda, apalagi ditinggalkan. Kecuali untuk memberi umatnya kemudahan, maka beliau kadang meninggalkan yang kiranya bisa ditinggalkan. Kekosongan dari yang ditinggalkan itupun diganti berkali lipat dengan ibadah di malam hari. Beliau hidup dengan semangat dan kesadaran ini. Beliau  selalu merentangkan sayap dan berusaha terbang naik menuju Allah.Tak mungkin saat wafat beliau memikirkan hal lain.

Mari kita pelajari menit-menit akhir kehidupan mulianya dari Sayyidah Aisyah ra. Pintu rumah mulianya terbuka ke arah pintu masjid. Beliau memikirkan satu kaki di rumah, di dalam keluarga, satu kakinya lagi di masjid. Ketika beliau memasuki masjid untuk itikaf, terkadang beliau mengulurkan kepala atau kakinya ke dalam rumah. Seakan tubuh mulianya dibagi dua, separuh di rumah, separuhnya lagi di masjid yang penuh berkah. Ketika berangkat kerja beliau melewati masjid. Beliau salat lalu pergi Sebelum masuk rumah beliau mampir ke masjid. Salat, kemudian baru masuk ke rumah. Baginya salat menjadi sebuah jalan, sedangkan masjid menjadi tempat beliau mampir. Tempat melejit baginya adalah derajat antara Pencipta dan yang dicipta. Beliau maju di atas jalan ini tanpa henti. Beliau SAW  melewati menit-menit akhirnya dengan semangat atau impiannya tersebut, yaitu salat.

Para sahabat tidak ingin menunaikan salat tanpa kehadiran Beliau SAW. Setiap sahabat mendenyutkan harapan ini di hatinya, Allah menerima ibadah setiap hamba tanpa perlu perantara. Akan tetapi, salat di belakang Sang Pembimbing Kamil adalah suatu kebahagiaan luar biasa. Saat bertawajuh pada Mihrab Abadi SWT, seakan kita berlindung di belakang Rasul SAW, seakan kita menyuguhkan ibadah lewat bimbingan dan naungannya SAW. Tanpanya, kita tak akan mampu merasakan. Apa yang kita dengar saat beliau ada di sisi kita tak akan bisa kita dengar saat dirinya tak ada. Saat itu, waktu salat telah masuk, dan hampir habis. Para sahabat tetap tidak mau menunaikan salat tanpanya. Sahabat selalu melihat Rasul di depan mereka, dan mereka terbiasa salat di belakang Sang Rasul.

Harmoni sedih kadang berlalu-lalang, mereka seakan kehilangan kesadaran dan segera bersujud. Untuk itu mereka tidak ingin berpisah dari Sang Nabi SAW. Beliau pun berpikir untuk mengimami mereka salat. Akan tetapi, rasa sakit yang dahsyat membuatnya lelah dan tak sanggup untuk datang ke masjid. Demam tinggi betul-betul melingkupinya. Ia tidak membiarkan Sang Nabi untuk menapakkan langkahnya.

Di Sahih Bukhari, Sayyidah Aisyah:”Saat Nabi sedikit sadar, beliau langsung berseru:’Salat!’ “

“Tolong siramkan air seember agar aku dapat sadarkan diri”

“Kepala beliau lalu kita siram. Beliau sedikit sadar dan bangkit, tetapi akhirnya beliau pingsan lagi”

Para sahabat menunggu imam di masjid, sedang imam menunggu waktu ia mampu bangkit ke masjid. Walaupun seperti itu, itu adalah kebangkitan dan pingsannya yang terakhir. Beliau tidak akan bisa mengimami dan sujud bersama jamaahnya lagi. Beliau sedang di menit akhir kehidupannya.

“Tolong siramkan lagi air seember!” sabdanya.

Ember demi ember air menumpahi kepala mulianya. Para sahabat pun menumpahkan air matanya ember demi ember. Imam tidak datang, tidak datang, tidak datang. Jamaah merindukan kehadiran imam. Imam pun menahan nyeri demi salat berjamaah. Demikianlah potret jamaah dan imamnya. Kita mengetahui dan mengenal jamaah dan imam yang seperti itu. Semoga Allah menganugerahi kita makna salat seperti itu walau hanya sebesar zarah.

Hari terakhir, hembusan ajal sudah mengelusnya. Takdir langkah demi langkah mendekatinya, sangkakala bagi beliau mulai terdengar. Semua tanda-tanda kiamat kecil bagi Rasulullah mulai muncul. Jamaah masih menanti. Saat tirai diangkat, wajah-wajah pun tersenyum. Karena terangkat, mereka pikir imam akan datang, sehingga mereka pun mulai gembira. Beliau mengangkat tirai kamarnya. Telah dikatakan kepada beliau bahwa waktu kembali telah tiba. Para penghuni langit telah menunggunya dengan segala sambutan perhiasannya. Kini giliranmu memberi kemuliaan kepada langit. Duhai manusia bumi & langit, bumi telah cukup.

“Waktumu telah tiba!”

Nuraninya mendengar seruan ini. Beliau mengangkat tirainya, dilihatnya keadaan jamaah amat sempurna. Di mimbar ada Abu Bakar sebagai imam yang mulia. Ia mengangkat tangan untuk takbir dan mengimami salat.Rasulullah bergumam: “Jamaah ini bisa mengatasi segala permasalahan.” Beliau tersenyum seperti mawar yang merekah. Beliau menurunkan tirai dan tak ada yang bisa melihat wajah indahnya lagi.Hanya Abu Bakar yang dapat melihatnya, beberapa jam setelah kembali dari desanya, Sunh. Itupun ketika mengangkat penutup jasad mulianya. “Ya Rasulullah, engkau indah saat hidup maupun saat wafat!” dan mencium kening mulianya.

Rasulullah di akhir kehidupannya pun merasakan semangat salat. Beliau saat hidup mengatakan “Salat! Salat!” Di akhir hidupnya, Beliau minta disiram air dan kembali menyeru salat saat sadar. Ketika beliau pulang ke Rabbnya pun berseru, “Salat…! Salat…!”

Sayyidina Umar dadanya ditusuk belati, beliau  meregang nyawa. Lalu suara azan terdengar dari menara. Diserukan “Salat, wahai Amirul mukminin!!”

“Inilah aku  sudah sadarkan diri!” jawabnya.

Beliau berdiri dengan susah payah. Setiap bergerak, darah keluar darinya, membuatnya tak mampu lagi menggerakkan bibirnya. Dengan bibirnya yang pucat, beliau berseru dengan semangat “Salat…!” Sambil menggeliat ia berseru “Salat…!” Beliau menggeliat seakan bisa bangkit, padahal ia tak mampu.Sayyidina Umar juga menyerahkan ruhnya kepada Allah sambil berseru: “Salat…!” Belati menusuk dada Sayyidina Umar pun ketika beliau sedang salat. Pecinta salat, menemui takdirnya juga di saat salat. Sayyidina Umar ketika meletakkan wajahnya, yaitu di waktu yang terdekat dengan Tuhannya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Dari Abi Hurairah R.A, Sesungguhnya Rasulullah S.A.W. Bersabda: “Waktu paling dekat dengan Tuhan adalah saat bersujud. Maka perbanyaklah doa di dalamnya” (H.R Muslim)

Ketika bibirnya dihiasi oleh senyum ini, dadanya ditusuk belati. Mungkin saja saat segala sebab diam membisu, ia berteriak: “Ya Allah!” Siapa yang tahu teriakan ini terdengar dan memantul di langit serta alam lahut, kita tak bisa membayangkannya. Ia pun berseru:”Salat!” lalu masuk ke majelis, berseru, “Salat!” dan menjalankan hidup. Ia juga masuk ke hadapan Ilahi dengan berseru: “Salat!”

Siapa pun yang berseru “Salat..!”, kalian akan menemukan profil yang sama. Salat bukanlah sebuah beban yang hendak kita singkirkan dari diri dan bahu kita. Salat adalah ungkapan kedekatan dengan Tuhan. Tak ada hal yang lebih manis selain mendekatkan diri kepada Tuhan lewat sujud secara tersembunyi. Sujud secara tersembunyi, di lokasi dimana tak ada orang yang melihat. Ketika dadamu menggeliat, ketika kalbumu telah mengenal Allah, maka seperti itulah kedekatanmu dengan Allah saat sujud. Saat Anda dekat dengan Allah, setan akan berteriak dan menjauhkan diri.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إذا قرأ ابن آدم السجدة فسجد اعتزل الشيطان يبكي يقول : يا ويلي ، أمر ابن آدم بالسجود فسجد فله الجنة ، وأمرت بالسجود فأبيت فلي النار  

Rasulullah SAW bersabda: “Saat seorang mukmin membaca ayat Sajdah dan mendekatkan diri kepada Rabb dengan bersujud, setan akan melarikan diri sambil berteriak histeris” Manusia diperintahkan sujud dan mereka pun sujud sehingga menjadi ahli surga. Mereka meraih rida Sang Rabb. Sebelumnya saya diwajibkan tetapi mengingkarinya. Akibatnya saya ditakdirkan sebagai penghuni neraka.[2] Mereka akan berteriak, menangis, dan menjauhkan diri

Wahai Mukmin! Janganlah kalian tinggalkan salat yang dapat mendekatkan diri kalian dengan Rabb. Berilah keutamaan kepada sujud. Sebenarnya tidak ada sunah dan mustahab seperti ini. Tetapi carilah alasan untuk bersujud dan menyungkurkan kepala di hadapan keagungan Ilahi, untuk menjelaskan keadaanmu.

“Dengarkanlah Ya Rabb! Tak ada yang memahami perasaan ini.”

“Dengarkanlah Ya Rabb! Tak ada yang mendengarkan jeritanku ini.”

“Dengarkanlah Ya Rabb! Tak ada yang mampu menjawab permasalahanku.”

Bukalah kalbumu kepada Tuhanmu!

“Rabbi, tak ada yang bisa mengampuniku selain diriMu, Aku telah menzalimi diriku, mengotori dahiku.

 Tanpa melihat kecilnya diriku, aku telah berbuat dosa besar.

Maka aku masuk dalam keagunganMu, kuremukkan rasa banggaku, Kuletakkan kepalaku di tanah dan kumohon ampunanMu.

Aku tak tahu pintu yang lain. Andai ada, aku akan meletakkan kepalaku di depannya. Andai ada, aku akan bersujud padanya.

Padahal Engkau Maha Menyaksikan dan Mengetahuinya Walau saya pendosa, aku tak pergi ke selainMu untuk meletakkan kepala dan memohon ampun.

Aku tak pernah mengetuk pintu yang lain, demikian juga aku tak sujud dan rukuk kepada selainMu

Andai ada yang mencampuri urusanku, aku berusaha tak memalingkan sujudku kepada selainMU

Ketika setan berteriak dan melarikan diri, Aku mendengar seruan “Fa firra ilallah” dan aku mentaatinya

Aku pun berlari menujuMu, aku berlindung kepadaMu

Semoga dengan keberangkatan, perjalanan, mikraj, dan kenaikan menuju Allah ini

Semoga dengan salat, Allah perdengarkan kalimat suciNya kepada hati nurani kita. Semoga Allah mengenyangkan hati kita dengan semangat ibadah. Semoga mereka yang asing dari ketaatan beribadah, dan yang menunaikannya secara formalitas, Allah beri kesadaran agar menemukan makna sejati salat.

Aamiin!

[1] (Al-Jami’ Al-Kabir At-Tirmidzi Juz 1 Hadis Nomor 413)

[2] Shahih Ibn Huzaymah cetakan AL-Maktab Al-Islamy 1424 H. Juz 1 Halaman 303

luka-vovk-1311079-unsplash

SAAT SALJU MULAI MENCAIR

Para pembaca sekalian, Allah SWT membangun alam semesta untuk memperkenalkan dirinya kepada kita. Allah SWT telah menjadikan makhluk berakal dan tak berakal untuk berzikir dan memuji nama agung-Nya. Keteraturan, harmoni, dan alam semesta membicarakan keagungan Allah SWT. Karena manusia adalah makhluk yang berakal, maka ia berkewajiban untuk menjadi penerjemah keagungan-Nya.

Sebagai mahkluk yang memiliki kemampuan berbicara, manusia diciptakan untuk menceritakan keagungan nama Allah SWT. Manusia adalah makhluk istimewa yang mengandung intisari segala ciptaan. Allah SWT ingin memperkenalkan diri-Nya melalui keteraturan megah dan tatanan harmonis spektakuler yang diciptakan-Nya. Allah ingin memperkenalkan diri lewat kesempurnaan makhluk ciptaan-Nya, yaitu manusia, serta lewat Al Qur’an-Nya dan melalui lisan mulia Rasul-Nya.

Saat waktu itu tiba, yaitu saat salju mulai mencair, mulai bermunculan orang-orang yang mengenal-Nya. Seperti pengikut Nabi Adam, pengikut Nabi Nuh, serta ratusan pengikut nabi-nabi lainnya. Pengikut dan umat Nabi Muhammad SAW dimana para nabi pun menjadi pengikutnya SAW bagaikan salju yang mencair, mereka seperti sungai yang mengalir deras menuju hak dan hakikat. Ketika diserukan kepada mereka, “Allah!”, mereka pun berseru: “Allah”. Begitu juga ketika diminta untuk mengucapkan, “La ilaha illallah”, mereka pun mengucapkannya, “La ilaha illallah”.

Namun, salju mencair di musim semi, burung bulbul pun berkicau di musim semi. Waktu digemakannya kalimat tauhid “La ilaha illallah” pun akan terjadi saat musim semi tiba. Benih akan ditaburkan dan tunas akan berkecambah. Musim semi  tiba selangkah demi selangkah, saat itulah anda mendengar ribuan “La ilaha illallah” di tiap lembah. Era yang mengingatkan pada era kebahagiaan, adegan yang serupa dengan adegan ketika orang-orang di sekitar Nabi Muhammad mulai mencair hatinya. Anda akan melihat, mungkin itu adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidup.

Saat itu, anda akan melihat ratusan ribu tangan diangkat untuk memanjatkan doa dan mengemis asa sembari meggemakan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah…”. Seandainya saya bisa mengintip dari lubang kecil peristiwa agung nan manis tersebut, sungguh saya akan merasa teramat senang seolah-olah saya berada di surga. Peristiwa manis saat kalimat suci “La ilaha illallah”  bergema di setiap lembah.

Era Nabi Muhammad adalah era kesabaran dan berlapang dada menghadapi ujian. Era dimana terjadi ribuan kesulitan, era dimana nyawa dipertaruhkan demi hidupnya Islam. Mereka terus bertahan, kesabaran pun melewati batasnya dan berada di atas level yang diperkirakan. Akhirnya, musim semi itu pun tiba, semua lembah Makkah dipenuhi orang-orang yang menggemakan kalimat “La ilaha illallah”. Betapa banyak tokoh yang tidak diperkirakan kemudian luluh hatinya kepada Islam. Apa rahasianya? Tak ada satu pun yang tahu. Tetapi, peristiwa ini menjelaskan banyak hal untuk kalimat tauhid .

Peristiwa ini juga menjelaskan urgensi kalimat tauhid di muka bumi. Hakikat peristiwa ini memiliki nilai amat penting di hadapan Allah. Apa arti peristiwa ini di masa depan, saya serahkan kepada alam pikir para pembaca sekalian di masa depan. Perang Badar telah dimenangkan, kaum kafir tak lagi bisa menyombongkan diri. Islam pun sudah mulai bisa berjalan seperti mesin yang berfungsi dengan harmonis. Orang-orang kafir marah dan ingin membalas dendam karena mereka telah dipermalukan.

Safwan bin Umayyah bin Khalaf, yang akan masuk Islam setelah Pertempuran Hunain, menahan kemarahannya kepada Nabi Muhammad SAW. Umair ibn Wahb pun tidak kalah marahnya, dia adalah sepupu Safwan, mereka siap berbuat keburukan apapun untuk mencelakakan Nabi Muhammad SAW. Setelah Badar usai, mereka duduk dan berbicara dengan hati yang sedih dan penuh duka. Sedangkan di Madinah, para sahabat merayakan kemenangan dengan hati gembira dan ungkapan-ungkapan manis. Mereka berdoa semoga Allah berkenan menganugerahi kembali nikmat-nikmat yang seperti ini.

Rekan-rekan Umair serta Safwan ibn Umayyah menceritakan kesedihan-kesedihannya pasca Perang Badar, putra Amr ibn Wahb ditawan, sedangkan ayah Safwan terbunuh dalam pertempuran Badar. Keduanya menahan dada penuh dendam di masa jahiliyah,  Umair ibn Wahb dijuluki sebagai iblisnya kaum Quraisy, dialah setan dari kaum Quraisy. Tetapi perhatikanlah, saat takdir berkehendak, iblisnya Quraisy pun menjadi penolong Sang Nabi SAW. Ia berbicara dengan Safwan dan merencanakan rencana mereka; dia akan pergi ke Madinah untuk menengok putranya, ia berencana mendekati Nabi dengan dalih untuk menebus putranya. Jika berhasil, ia akan membunuh Nabi Muhammad dengan pedang yang telah dilumuri dengan racun.

Dengannya ia akan membalaskan dendam semua orang Quraisy, dia pergi ke Madinah dengan niat itu. Ketika ia mengikat untanya di depan Masjid, Umar ibn al-Khattab melihat orang berjulukan setan Quraisy ini. “Berlindunglah ke masjid sebelum sosok buas ini masuk!” serunya kepada para sahabat. Dia akan menyakiti Nabi, ada tanda-tanda pedang di balik pakaiannya. Betapa dahsyatnya kepekaan, kehati-hatian, dan kewaspadaannya! Orang berjiwa buas itu masuk, tetapi Umar sudah masuk sebelum dia masuk. “Ya Rasulullah, seseorang yang buas akan datang ke sini, semoga dia tidak menyakitimu!”, kata Umar kepada baginda Nabi. Nabi tersenyum dan berkata, “Tinggalkan aku bersamanya, wahai Umar! Biarkan dia masuk!”.

Umair ibn Wahb mendekati Nabi, kemudian Nabi pun bertanya, “Umair, kenapa kamu kemari?”. “Aku datang ke sini untuk membayar uang tebusan dan menjemput putraku.”, jawab Umair. Percakapan antara Nabi dan Umair pun berlanjut:

 

Nabi       : “Katakan padaku alasan sebenarnya! Kenapa kamu datang ke sini?”

Ketika Umair terus berbicara tanpa menyatakan alasan sebenarnya, Nabi Muhammad pun berkata,

Nabi      : “Jika kamu mau, saya dapat memberitahumu! Anda berdiskusi dengan Safwan ibn Umayyah di pinggir Ka’bah. Rencanamu adalah datang kemari sambil menyuguhkan alasan ingin menebus putramu, lalu membunuhku dengan pedang yang telah kau rendam dengan racun selama berhari-hari.”

Rasulullah belum selesai berbicara, tetapi setannya Quraisy ini tiba-tiba bangkit terkaget-kaget, kemudian berkata,

Umair   : “La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Apakah anda mengizinkan ya Rasulullah jika saya tinggal bersamamu? Izinkan saya menggunakan pedang tajam ini di jalan Allah!”

Nabi       : “Pelajarilah Al Qur’an!”

Ia pun mempelajari Al-Qur’an di Masjid Nabawi. Setannya Quraisy menjadi murid Sang Nabi,  ia mengambil tempat di samping Umar. Akhirnya dia mempelajari Al-Qur’an sebanyak yang dia bisa. Sementara itu di Makkah, Safwan berjalan mondar-mandir, ia menyusuri jalanan Makkah sambil menunggu kejadian luar biasa yang akan terjadi di Madinah. Berita yang akan datang itu penting baginya, bagi orang-orang Makkah dan bagi sejarah. Ia menantikan kabar kematian Sang Nabi, dia menanyakan setiap kafilah yang lewat, tetapi berita yang dinanti tak kunjung datang. Apa yang dia harapkan tidak terjadi.

“Ada apa di Madinah? Apakah ada berita?”, pada suatu hari dia bertanya pada seorang pria. Dia menjadi sangat bersemangat dan lega ketika pria itu berkata “Ada berita besar ini!”. Dia berpikir bahwa peristiwa yang akan membuat Quraisy sangat senang telah terjadi. “Bagaimana itu bisa terjadi? Bisakah kamu memberitahuku kejadian hebat itu?”,  “Ya, coba saya jelaskan!” jawab si pria.

Umair ibn Wahb mengunjungi Nabi, kemudian ia meninggalkannya seperti bola salju yang berpisah dari gunung esnya. Setelah mendengarkan sabda Sang Nabi, hatinya mencair dan berubah menjadi air terjun. “Ketika dia kembali, anda akan berada dalam kesulitan! Itulah kejadiannya.” kata pria tadi kepada Safwan. Dia pun bagai disambar petir di siang bolong, berita yang didengarnya tidak sesuai dengan harapannya. Sementara itu, kalbu Umair ibn Wahb begitu penuh. Ia tak tahan hanya berdiam diri di Madinah, seseorang yang tadi hatinya penuh dendam kini berubah menjadi tambang emas yang amat berharga, ia ingin menunaikan kewajibannya. “Jika anda izinkan, saya ingin kembali ke Makkah dan menuntaskan tugas dari pedang ini.”

Sang Nabi mengetahui reputasi Umair. Beliau tahu takkan ada orang yang sanggup melawannya. Umair ibn Wahb adalah seorang yang pemberani mengingat namanya berarti Umar kecil, akhirnya Nabi mengizinkannya. Safwan adalah orang yang paling pertama bertemu dengan Umair ketika dia tiba di Makkah sepulangnya dari Madinah. Safwan tidak mampu berkata dan bertanya apapun kepadanya. Dia menantang masyarakat Makkah, dia akan menunaikan tugas pedangnya sama seperti yang Umar lakukan ketika dia meninggalkan Makkah. Dia juga menjelaskan agama kepada orang-orang, dia menyampaikan keterikatan dirinya dengan kalimat “La ilaha illallah.”

Setelah satu atau dua tahun kemudian, dia kembali ke Makkah bersama kumpulan orang yang mengikutinya. Di sisi lain, Safwan masih bertahan, dia seperti es batu yang tidak akan pernah mencair dan tetap membeku. Makkah ditaklukkan, banyak hati pun turut takluk, tetapi Safwan masih menolak panggilan itu. Dia menyiapkan barang-barangnya dan menata diatas untanya. Dia memutuskan untuk melarikan diri dan menghilang di negeri yang jauh. Hati Umair ibn Wahb terasa sedih karena sepupunya belum beriman, dia menemui Nabi dan berkata,

Umair    : “Ya Rasulullah, Safwan adalah orang yang memiliki kebanggaan diri”.

Nabi       : “Mungkin ia memiliki egoisme. Tolong beri tahu dia bahwa dia aman di negeri ini.”

Umair    : “Saya percaya bahwa dia akan sangat berarti bagi Islam. ”

Nabi       : “Dia benar-benar aman untuk tinggal di sini.”

Umair    : “Tapi dia tidak akan tahu keputusanmu, bagaimana dia tahu?”

Nabi       : “Apa lagi yang bisa saya lakukan?”, tanya Nabi.

Umair       : “Semua orang melihat sorban hitam di kepala anda yang anda kenakan saat memasuki Makkah.  Jika anda berkenan, tolong berikan kepada saya, akan saya bawa kepadanya. Itu merupakan tanda bahwa anda membolehkannya tinggal di sini.”

Setelah itu dia mengambil sorban Nabi dan memakainya. Dia berbicara dengan Safwan, menjelaskan situasinya dan meyakinkannya untuk mengunjungi Nabi. Safwan pun akhirnya menemui Nabi SAW, dia sangat malu dan selalu menatap ke bawah, tidak bisa melihat ke wajah Nabi.

Safwan    : “Ya Rasulullah, dia mengatakan bahwa anda mengizinkan aku tinggal di sini, apa itu benar?”

Nabi          : “Ya itu benar.”

Safwan    : “Ya Rasulullah, aku menerima bahwa apa yang anda bawa dan katakan itu benar, tapi beri aku waktu dua bulan, jadi aku bisa berpikir.”

Nabi          : “Aku memberimu empat bulan!”, Nabi tersenyum karena beliau bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Nabi bisa melihat bagaimana Safwan nanti bertempur dalam Perang Yarmuk di perbatasan Roma. Nabi bisa melihat bagaimana putra bangsawan Quraisy bertempur sebagai prajurit biasa tanpa mengharap posisi komandan. Dia tersenyum dan berkata, “Kamu ingin dua bulan tapi ini empat bulan untukmu, ambillah!”. Ketika dia melihat kebaikan dan kemurahan hati Nabi, beberapa hari kemudian dia mendekati Sang Nabi dan mengucapkan kata-kata yang membuat Umair menangis, “Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, saya bersaksi, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,”. Safwan bin Umayyah membuka dadanya, menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta Mutlak yang berhak disembah.

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ  * وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah” (QS. An-Nasr, 110: 1-2). Kini yang masuk bukan satu per satu lagi, melainkan berbondong-bondong. Laju orang yang menerima agama ini kini berlipatganda seperti deret geometrik, lebih dalam, lebih luas, lebih berdimensi. Kata-kata “La ilaha illallah” pun kini bisa didengar di setiap lembah. Kita sekarang dalam keadaan gembira di lingkaran atmosfer majelis Sang Nabi. Pujian hanya kepada Allah karena menunjukkan jalan Sang Mawar saat kita berada dalam kubangan lumpur. Pujian hanya bagi Allah yang telah memberikan awan rahmat saat topan kekufuran menyelimuti kami. Pujian bagi Allah yang menunjukkan manifestasi kebangkitan saat bunga dan pepohonan tercabut bersama akarnya. Berbagai peristiwa telah kita hadapi, bibir terkulai karena putus asa, hati penuh luka.

Kini hati penuh dengan harapan, setelah wajah-wajah penuh hakikat yang mengingatkan Eranya Sang Nabi mulai terlihat. Semoga Allah membimbing kita ke jalan dimana memori-memori indah itu akan kembali muncul. Semoga Allah membimbing generasi kita ke jalan yang benar. Semoga Dia memberkati kita, hamba-Nya yang lemah, dengan keberanian dan keamanan dalam perjuangan besar ini. Semoga Dia membuat kita termasuk orang-orang yang tunduk pada kalimat tauhid. Jika kita bersandar padanya, kita dapat menunaikan tugas dan membuat zaman ini bekerja membantu kita. Jika kita mengandalkan diri sendiri, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa. Semoga Allah tidak membiarkan diri kita sendirian dengan nafsu kita, walau hanya sekejap mata.

 

jordan-rowland-eAiNt7N5FaA-unsplash

Guru adalah Profesi Agung Yang Dimuliakan Oleh Allah dan RasulNya

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah  yang mengajar kebaikan kepada sesamanya”.

Apa yang dimaksud kebaikan disini?

Mengajarkan dan Mempelajari Al-Quran dan intisari merupakan kebaikan. demikian juga mempelajari Fikih dan Hadis, Al Quran bersumber dari mana? Tanpa ragu sedikitpun, kita menjawab berasal dari sifat Allah, Al Kalam, karena sifat Allah Al Kalam untuk mengatur kehidupan manusia, maka Allah “Berbicara” kepada manusia melalui perantara para nabi.

Al Quran adalah firman Allah, sebagaimana manusia juga mengucapkan sesuatu. Jika ada seseorang yang setelah membaca Al Quran bersumpah bahwa ia baru berbicara dengan Allah, para fukaha berpendapat: “Sesungguhnya dia tidak berbohong atas sumpahnya.”

Benar, dia berbicara dengan Allah, karena dia membaca firman-firman Allah. Al Quran adalah firman Allah yang berasal dari sifat Allah Al Kalam.

Jika ia bersandar pada Ilmu-Nya Allah, lalu bagaimana dengan kitab alam semesta dengan nama lain (sunnatulah, atau ayatul kauniyah).  Prinsip-prinsip yang menjadi sandaran ilmu Fisika, Kimia, Matematika, Biologi, Geometri dan Alam semesta yang seperti laboratorium. Milik siapakah ini semua? Apakah ada orang lain yang menuliskannya? Alam semesta, juga kitab Allah yang berasal dari sifat Allah lainnya seperti Al Ilmu, Al Kudrat dan Al Iradah. Tidak ada perbedaan di antara dua kitab ini, kita berkewajiban untuk membaca dan mematuhi apa saja yang ditulis dalam dua kitab ini.

Ulama besar abad ini, Bediuzzaman  Said Nursi berkata tentang dua kitab ini, terdapat dua jenis kitab Allah.

Pertama, kitab yang membentuk asas-asas ilmu Fisika, Kimia, Matematika, Geometri dan  kedokteran yang merupakan kumpulan ayat kauniyah, mengatur  alam semesta yang mirip dengan laboratorium ini. Penjelasan ini apakah bisa dipahami? Terkadang dalam artikel ini kami menggunakan istilah lama yang tidak dipahami, tapi saya berusaha mengulang penjelasannya.

Kitab kedua adalah Al Quranul Karim  yang berasal dari sifat Allah, Al Kalam, sebelumnya terdapat  Taurat, Zabur, Injil, dan Suhuf-suhuf.  Jadi ada dua jenis kitab Allah Dan kita wajib untuk mengikuti setiap perintah yang ditulis di keduanya.

Barangsiapa yang mengikuti kitab Al Quran, dia akan mendapat ganjarannya di dunia dan akhirat. Namun, sebagian besar ganjaran  mentaati Al Quran, diberikan nanti di akhirat, jika mentaati, sebagian kecil ganjaran diberikan di dunia. Jika melanggar, sebagian kecil hukuman diberikan di dunia, sebagian besar hukuman  diberikan di akhirat.

Pesan apa yang dapat kita ambil? Dari segi ini, ada sedikit perbedaan antara Kitab Al Quran dan Alam Semesta. Hukuman bagi yang melanggar kitab alam semesta, sebagian besarnya diberikan di dunia, hanya sedikit saja hukumannya ditangguhkan di akhirat. Jika mentaatinya, sebagian besar ganjarannya  diberikan di dunia,  ganjaran yang diberikan nanti di akhirat porsinya lebih sedikit.

Yang mentaati kitab alam semesta, yang Anda sebut sebagai kafir, Allah memberi mereka ganjaran di dunia, jika mereka meneliti hukum alam sedetail-detailnya, mencari  dengan sungguh-sungguh. Jika mereka membangun jembatan antara manusia dengan ciptaan lainnya. Jika tanpa sadar, mereka menghayati ayat  Al Quran dalam setiap ciptaanNya. Allah akan mengganjar mereka, karena Allah Maha Adil, bagaimana kaum muslim? Karena tidak mematuhi  kitab alam, hukuman pun menanti mereka.

Kita kembali lagi ke pembahasan awal.

Rasul bersabda:

“Manusia terbaik adalah yang mengajarkan kebaikan”.

Bagi kita umat muslim, mengajarkan Al Quran dan mengajar Kitab Alam Semesta adalah sama pentingnya oleh karena dua kitab tersebut berasal dari Allah, maka menghormati dua kitab tersebut berarti menghormati Allah, dan acuh kepada dua kitab ini  merupakan sikap yang tidak sopan kepada Allah. Dari sisi tersebut, sebenarnya  pemahaman takwa kita amat luas. Orang yang bertakwa adalah selain mengerjakan yang wajib serta menjauhi yang haram, juga mengikuti prinsip-prinsip kitab alam semesta.

Anda bisa saja mengerjakan yang wajib, menjauhi yang haram, dengannya anda bisa saja masuk surga, tetapi anda tidak bisa bertakwa dengan sempurna, kalau anda tidak mematuhi kitab alam semesta.

Membaca alam semesta di masa ini memiliki posisi yang amat penting,  kini umat muslim mulai merasakan akibatnya. Umat muslim di masa lalu mengabaikan pentingnya penelitian dalam setiap benda dan peristiwa, sedangkan umat lain melakukan Renaissance dengan menggunakan prinsip kalian. Lalu mereka melakukan pembaharuan industri, sedangkan kalian masih terbuai dan mabuk  dengan kesuksesan masa lalu,  mereka membuat pembaharuan teknologi dan pembaharuan ilmu pengetahuan.

Dan kalian hanya menjadi penonton.

Semua ini dilakukan dengan mengamati denyut nadi dan detak jantung alam semesta,  dan sekarang mereka sedang memetik buahnya.

Pada saat seperti ini dimana posisi kalian ?

Jelas, kalian terpeleset ke lubang terdalam, sekarang mereka melihat kalian dari posisi atas dan Anda kini mengetuk pintu mereka untuk mendapatkan makan dan uang, kalian hanya menjadi buruh. Kalian bekerja hanya untuk mengisi perut, kalian adalah seorang muslim.

Menurut kalian, bagaimana mereka melihat kalian?

Mereka akan memandang kalian sebagaimana majikan memandang seorang hamba. Mereka memandang kalian seperti memandang petugas kebersihan, mereka memandang kalian sebagai orang-orang yang hidup di bawah jembatan. Mereka memandang kalian sebagai orang-orang yang terhimpit kemiskinan, tidak satupun mau menerima nasehat dari orang-orang berlevel di bawahnya.

Apa kalian rela menerimanya?

Misalnya pembantumu berkata: “Tuanku, bosku, presidenku, bagaimana kalau pakai taksi saja?” “Ada hal yang Anda tidak ketahui. Maka dengarkan saran saya!”

Bagaimana Anda menanggapinya?? Artinya, kalau kalian kalah di bidang tersebut, walau kalian memiliki nilai luhur seperti Islam. Mereka tetap memandang kalian dari atas, itu bermakna  kalian membuat nilai luhur tersebut menjadi hina, apakah kalian bisa memahaminya?

Seandainya kalian menjaga wibawa kalian sebagai bangsa besar di antara bangsa lainnya. Sehingga ketika kalian bisa merepresentasikan Al Quran dan menyampaikan pesan Rasulullah dengan sempurna.

Anda akan lebih berhasil menyampaikan pesan kalian.

Artinya, membaca buku alam semesta dengan benar mempengaruhi tersampaikannya pesan Al Quran. Jika sebaliknya, maka akan merugikan Al Quran. Karenanya, arti takwa juga melingkupi kewajiban membaca kitab alam semesta, ia penting demi memahami Al Quran dengan sempurna. Jika kita tak mengaplikasikannya secara sempurna, tak mungkin kita terbebas dari kemiskinan & kesengsaraan.

Arsitek masa depan adalah para guru,

Arsitek yang membangun peradaban madani adalah para guru.

Ya, mereka yang akan membangkitkan generasi emas. Jangan terlalu membesarkan orang lain dan jangan merendahkan diri sendiri. Jika kita bekerja sistematis dan bersabar, sebagaimana dikatakan penyair M.Akif: “Dengan satu langkah, atas inayah Allah, semua itu dapat diraih”.

Jepang, pada perang dunia kedua, mungkin kita tidak menyaksikannya secara langsung. Saat itu pun umur penulis berumur 7 atau 8 tahun, tepatnya tahun 1945, pada saat itu Jepang diratakan dengan tanah.

Pada PD 1, tepat 25 tahun setelah setengah dari negara Turki (negara asal Penulis) diratakan dengan tanah, mereka tidak hancur sebagaimana Jepang dihancurkan.  Saat itu Turki punya prajurit dan komandan yang menulis sejarah besar bangsa. Di Perjuangan Nasional, Bangsa itu berperang di seluruh penjuru negeri melawan negara-negara musuh. Belum habis, Turki lahir sebagai negara ber dikari.

Tapi Jepang diduduki USA. Pada serangan pertama sekitar 80.000 orang mati di Hirosima & Nagasaki. Dan sangat banyak orang cacat seumur hidup akibat efek radioaktif,  dalam waktu lama, Jepang tidak berhasil membangun industri perangnya di bidang lainnya juga sangat terbatas. Jerman pun merasakan hal yang sama, Mungkin setelah  tahun 1950an mereka diberi izin untuk membangun industrinya.

Namun setelahnya, dalam 25 tahun mereka mampu melewati Eropa, USA pun bekerja dengan mereka dalam beberapa proyek.

Kini mereka menjadi negara kaya raya di dunia. Bahkan setelah 1950an, Korea Utara dan Selatan, prestasinya melebihi Turki, mereka juga bersaing dengan Eropa dengan politik dumping, barang-barangnya membanjiri Afrika. Dengannya mereka jadi kaya raya. Jangan berpikir pesprestasi tersebut mustahil diraih. Hal itu dapat diraih dalam 5-10 tahun dengan inayah Allah, asal bekerja sistematis dan sabar. Jika kita bekerja kerja dan semoga Allah tidak memberi kesempatan kepada orang yang mau menghambat usaha kita. maka negara kita akan meraihnya dalam 5-10 tahun