mengembangkandiri.com (16)

KONSEP ALAM SEMESTA DALAM AL-QUR’AN DAN SAINS MODERN

Alam semesta, dalam wujudnya yang sangat luas dan penuh dengan keteraturan, sering kali menjadi bahan perenungan mendalam bagi manusia. Dalam Al-Qur’an, Allahﷻ menggambarkan alam semesta sebagai sebuah karya penciptaan yang sempurna dan terstruktur, yang tidak hanya mencerminkan kebesaran-Nya, tetapi juga menunjukkan hakikat hubungan antara ciptaan dengan Sang Pencipta. Ketika kita memasuki ruang kajian sains modern, kita menemukan pandangan yang mirip namun berbeda dalam menjelaskan struktur alam semesta, yang berfokus pada hukum-hukum fisika dan perubahan yang dapat diobservasi. Dengan demikian, pemahaman tentang alam semesta dalam Al-Qur’an dan dalam sains modern mengungkapkan suatu realitas yang lebih dalam: bahwa alam semesta adalah sebuah harmoni yang mengandung keteraturan mutlak, namun penuh dengan dimensi ketidakpastian yang hanya bisa dimengerti melalui pertanyaan tentang asal-usul, keberadaan, dan tujuan hidup.

Al-Qur’an menegaskan bahwa alam semesta bukanlah sekadar kumpulan benda mati yang eksis begitu saja, melainkan sebuah ciptaan yang penuh makna dan tujuan, sebagaimana Allahﷻ berfirman,

اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ وَالۡفُلۡكِ الَّتِىۡ تَجۡرِىۡ فِىالۡبَحۡرِ بِمَا يَنۡفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنۡزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنۡ مَّآءٍ فَاَحۡيَا بِهِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَمَوۡتِهَا وَبَثَّ فِيۡهَا مِنۡ کُلِّ دَآ بَّةٍ وَّتَصۡرِيۡفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الۡمُسَخَّرِ بَيۡنَ السَّمَآءِوَالۡاَرۡضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّعۡقِلُوۡنَ

Artinya: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah 2:164)

Ayat ini mencerminkan sebuah konsep dunia yang dinamis dan penuh keteraturan, yang tidak hanya ada karena kebetulan semata, tetapi disusun sedemikian rupa oleh Pencipta-Nya untuk menunjukkan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Di dalam Al-Qur’an, Allahﷻ seringkali mengaitkan keindahan dan keteraturan alam semesta dengan kebijaksanaan-Nya yang tak terhingga, mengajak umat manusia untuk merenungkan tujuan di balik setiap ciptaan.1

Sains modern, di sisi lain, melihat alam semesta dengan pendekatan yang lebih analitis, berbasis pada hukum-hukum fisika dan teori-teori ilmiah. Dalam kosmologi, sebagai contoh, penemuan tentang Big Bang dan perluasan alam semesta menggambarkan bahwa alam semesta memiliki titik awal yang sangat spesifik, yang dimulai dengan ledakan besar yang menciptakan ruang dan waktu. Seiring waktu, alam semesta terus berkembang dan berubah, mengikuti hukum-hukum yang berlaku, yang di antaranya adalah hukum gravitasi, hukum termodinamika, dan interaksi kuantum yang mempengaruhi semua materi dan energi yang ada. Alam semesta ini, dalam pandangan sains, tampak sebagai suatu kesatuan yang memiliki keteraturan yang terstruktur melalui prinsip-prinsip fisika yang sangat fundamental.2

Namun, meskipun Al-Qur’an dan sains modern tampak memberikan penjelasan yang berbeda tentang alam semesta, keduanya pada dasarnya menunjukkan konsep yang serupa: adanya keteraturan yang mengatur setiap elemen alam semesta, serta keterbatasan pemahaman manusia dalam menjelaskan hakikat keberadaan alam semesta itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, Allahﷻ berfirman,

اَوَلَمۡ يَرَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡۤا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ كَانَـتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰهُمَا‌ ؕ وَجَعَلۡنَا مِنَالۡمَآءِ كُلَّ شَىۡءٍ حَىٍّ‌ ؕ اَفَلَا يُؤۡمِنُوۡنَ

Artinya: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?.”(QS. Al-Anbiya 21:30)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa alam semesta pada asalnya adalah satu kesatuan yang utuh, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah bagian dari proses penciptaan yang lebih besar. Di sini, Allahﷻ mengisyaratkan tentang hukum-hukum yang mengatur kosmos, yang seiring waktu manusia akan temukan, meskipun dalam batasan-batasan kemampuan pengetahuan mereka.1

Dalam sains, teori tentang asal-usul alam semesta, yang dikenal dengan Big Bang Theory, memberikan perspektif yang menarik. Teori ini menjelaskan bahwa sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, alam semesta bermula dari suatu singularitas, titik yang memiliki kepadatan dan suhu tak terhingga, yang kemudian mengembang dan mendingin, membentuk galaksi, bintang, dan planet yang ada sekarang. Konsep ini, meskipun berfokus pada penjelasan materialistik, mengarah pada pemahaman bahwa alam semesta memiliki suatu titik awal, yang selaras dengan ajaran Al-Qur’an bahwa segala sesuatu di dunia ini diciptakan oleh Allah dengan tujuan tertentu. Dalam Al-Qur’an, Allahﷻ berfirman,

قُلْ لَّنۡ يُّصِيۡبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا ۚ هُوَ مَوۡلٰٮنَا ‌ ۚ وَعَلَى اللّٰهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.”(QS. At-Tawbah 9:51)

Dari ayat ini, kita diperingatkan bahwa meskipun kita mengkaji dan memahami hukum-hukum alam semesta, pada akhirnya kita akan menemui sebuah misteri yang hanya bisa dijelaskan dengan pengakuan terhadap kekuasaan-Nya.1

Apabila kita mengamati konsep alam semesta ini lebih dalam, kita akan menyadari bahwa ada keselarasan yang mendalam antara pandangan Al-Qur’an dan sains. Dalam sains, kita melihat keteraturan kosmos yang didasarkan pada hukum-hukum alam, yang membawa kita untuk memahami dunia ini sebagai sesuatu yang terstruktur dengan sangat tepat. Namun, pada saat yang sama, Al-Qur’an mengajak kita untuk merenung lebih jauh, bahwa keteraturan tersebut adalah manifestasi dari kebesaran Tuhan yang tiada tara, yang menciptakan segala sesuatu dengan tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar keberadaan fisik. Dalam Al-Qur’an, Allahﷻ berfirman,

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِىۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ فِىۡ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسۡتَوٰى عَلَى الۡعَرۡشِيُغۡشِى الَّيۡلَ النَّهَارَ يَطۡلُبُهٗ حَثِيۡثًا ۙ وَّالشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ وَالنُّجُوۡمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمۡرِهٖ ؕ اَلَالَـهُ الۡخَـلۡقُ وَالۡاَمۡرُ‌ ؕ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الۡعٰلَمِيۡنَ

Artinya: “Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Ar-A’raf 7:54)

Ayat ini, dalam konteksnya, menunjukkan bahwa keteraturan alam semesta bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa tujuan, melainkan merupakan sebuah kesatuan yang tak terpisahkan, yang berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan.1

Melalui pemahaman ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa alam semesta, baik dalam perspektif Al-Qur’an maupun sains modern, adalah sebuah entitas yang tidak dapat dipahami hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Alam semesta adalah sebuah harmoni yang menggabungkan hukum-hukum alam yang dapat dipelajari dengan sains, tetapi pada saat yang sama juga mengandung dimensi spiritual yang mengingatkan kita akan keterhubungan kita dengan Pencipta. Dalam memahami keduanya, kita diajak untuk merenung tentang keteraturan kosmos sebagai bukti kebesaran Tuhan, serta batasan-batasan pemahaman manusia yang terus berkembang dalam mengejar pengetahuan.3

Referensi:

[1] Ünal, A. (2008). The Qur’an with Annotated Interpretation in Modern English. Tughra Books.

[2] Carroll, S. (2016). The Big Picture: On the Origins of Life, Meaning, and the Universe. Dutton.

[3] Hawking, S. (1988). A Brief History of Time. Bantam Books.

mengembangkandiri.com (15)

ILMU MEKANIKA DALAM BINGKAI PABRIK ILAHI

Alam semesta ini adalah mahakarya Pabrik Ilahi, tempat segala sesuatu bekerja dalam keteraturan yang sempurna. Sebagaimana ilmu mekanika mengajarkan tentang gerak, gaya, dan interaksi benda-benda di dunia fisik, alam semesta juga mengikuti hukum-hukum yang telah Allah tetapkan. Dalam kerangka ini, manusia diajak untuk merenungi posisinya dalam sistem yang lebih besar, di mana segala sesuatu memiliki peran yang saling mendukung. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

وَمَا خَلَقۡنَا السَّمَآءَ وَالۡاَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا بَاطِلًا

Artinya: “Dan Kami tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia” (QS. Sad [38] : 27).

Menegaskan bahwa setiap elemen dalam alam semesta ini memiliki tujuan yang jelas dan tidak diciptakan secara kebetulan. Allah menciptakan alam semesta dengan tujuan yang luhur, setiap makhluk dan peristiwa memiliki hikmah dan peranannya masing-masing dalam mewujudkan kebesaran-Nya. Bumi, langit, dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya adalah bagian dari sistem yang saling terkait, yang berfungsi dengan sangat teratur. Bahkan manusia, sebagai ciptaan yang paling mulia, diciptakan untuk mengenal Tuhan, menjaga bumi, dan melaksanakan tugas sebagai khalifah. Oleh karena itu, setiap tindakan kita di dunia ini juga memiliki tujuan dan tanggung jawab, yang harus kita jalani dengan penuh kesadaran akan peran kita dalam sistem ciptaan yang lebih besar.

Bumi, sebagai bagian kecil dari sistem kosmik–segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta, termasuk ruang, waktu, bintang, planet, galaksi, dan segala bentuk kehidupan yang ada di luar bumi–ini, menjadi tempat bagi manusia untuk memahami makna hidup melalui interaksi dengan hukum-hukum alam. Tanah, air, dan udara bekerja sama untuk menumbuhkan kehidupan, sebagaimana mekanika mesin yang membutuhkan roda-roda gigi yang berputar harmonis. Namun, ketika manusia melupakan posisi ini dan melanggar keseimbangan yang telah Allah tetapkan, konsekuensinya pasti terjadi. Prinsip ini mengingatkan kita pada tulisan Ustadz Badiuzzaman Said Nursi dalam Al-Kalimat, bahwa setiap makhluk diciptakan untuk memanifestasikan nama-nama Allah yang agung. Dalam keteraturan alam, ada tanda-tanda keagungan-Nya, dan dalam kekacauan yang dibuat manusia, ada teguran Ilahi.

Dalam kehidupan modern, salah satu tantangan besar adalah kegalauan generasi muda. Mereka hidup di tengah banjir informasi, tetapi sering kali kehilangan arah. Kegalauan ini bisa dilihat sebagai bentuk ketidakseimbangan dalam mekanika kehidupan. Generasi muda seperti mesin yang kehilangan pelumasnya; ia tetap bergerak tetapi dengan suara gesekan yang memekakkan. Kondisi tersebut terjadi akibat kegelisahan yang berasal dari kurangnya kesadaran akan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Ustadz Badiuzzaman Said Nursi menegaskan bahwa jiwa manusia hanya akan tenang ketika ia kembali pada fitrahnya, yaitu mengenali dirinya sebagai hamba yang bergantung sepenuhnya pada Allah.

Namun, dibalik kegalauan ini tersimpan potensi besar. Generasi muda memiliki kekuatan untuk menjadi “roda penggerak” dalam sistem kehidupan yang lebih baik, asalkan mereka menemukan keseimbangan dalam hati dan pikirannya. Mekanika Pabrik Ilahi mengajarkan bahwa setiap bagian, sekecil apa pun, memiliki peran vital. Begitu pula dengan setiap individu. Ketika mereka menemukan hubungan dengan Allah, mereka akan mampu melihat dunia sebagai tempat untuk menjalankan tugas-tugas mulia, bukan sekadar ruang kosong yang diisi dengan hiburan tanpa ilmu.

Pesan utama yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju keseimbangan. Sebagaimana roda mesin berputar dalam harmoni, manusia harus menemukan sinkronisasi antara akal, hati, dan amal. Kehidupan dunia ibarat ladang, tempat manusia menanam benih amal untuk dipanen di akhirat. Maka, generasi muda harus menyadari bahwa setiap keputusan, tindakan, dan langkah mereka adalah bagian dari mekanika besar yang memengaruhi kehidupan di masa depan.

Ketika kita merenungkan bagaimana sebuah mesin bekerja dengan sempurna, kita seharusnya lebih kagum pada sistem alam yang diciptakan oleh Allah. Apakah kita telah berperan sebagai “roda gigi” yang mendukung harmoni Pabrik Ilahi ini, atau justru menjadi bagian yang memperlambat geraknya? Allah berfirman,

الَّذِىۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا‌ ؕ مَا تَرٰى فِىۡ خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ تَفٰوُتٍ‌ ؕ فَارۡجِعِ الۡبَصَرَۙهَلۡ تَرٰى مِنۡ فُطُوۡرٍ

Artinya: “Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?” (QS. Al-Mulk [67] : 3).

Ayat ini menjelaskan bahwa ciptaan Allah, baik langit maupun seluruh alam semesta, diciptakan dengan kesempurnaan yang tidak ada cacatnya. Allah menantang manusia untuk memperhatikan dan merenungkan kebesaran ciptaan-Nya, yang bekerja dalam keseimbangan yang luar biasa. Setiap elemen alam, dari yang paling besar hingga yang terkecil, berfungsi dengan cara yang sangat teratur dan sesuai dengan hukum-Nya. Ketidakseimbangan atau kerusakan hanya terjadi ketika manusia mengabaikan hukum-hukum ini atau merusak keseimbangan tersebut. Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan peran kita dalam menjaga keharmonisan alam dan mempertanyakan apakah kita sudah berperan sesuai dengan kehendak Allah atau malah menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem-Nya.

Semoga kita mampu mengambil peran yang seharusnya, semoga kita mampu menjaga keseimbangan ini, dan kembali pada fitrah sebagai makhluk yang tunduk kepada-Nya. Sebab, hanya dengan memahami mekanika kehidupan yang telah ditetapkan Allah, kita dapat meraih kedamaian sejati dan menunaikan tugas sebagai hamba dan khalifah di bumi.

 

Referensi:

Al-Qur’anul Karim. (n.d.). QS. Sad: 27 & QS. Al-Mulk: 3.

Nursi, B. S. (2008). Al-Kalimat (Terj. A. Izzudin). Risale-i Nur Press.

Newton, I. (1999). Mathematical principles of natural philosophy (A. Motte, Trans.). University of California Press.

mengembangkandiri.com (11)

HADAPILAH KETAKUTAN DENGAN KEBERANIAN

Jangan biarkan diri terperangkap dalam rasa takut yang berlebihan. Jika kita selalu membiarkan diri terjebak dalam ketakutan, maka kita hanya akan memicu hal yang kita takutkan itu menjadi nyata. Dalam semangat berani, ada pesan mendalam dari para tokoh yang memegang teguh nilai-nilai kebenaran dan keberanian, seperti yang diungkapkan oleh Badiuzzaman Said Nursi. Beliau menegaskan, “Jikalau pun seluruh kekuatan dunia digunakan untuk melawan saya, kepala yang rela dikorbankan demi kebenaran Al-Qur’an ini tak akan menyerah kepada para Zindik.” Ungkapan ini mengajak kita untuk tak gentar, meski menghadapi ancaman yang tampaknya besar dan tak terkalahkan.

Baniuzzaman Said Nursi dengan lantang menyampaikan bahwa kematian bukanlah akhir dari perjuangan, justru sebaliknya, ia akan menjadi ledakan semangat yang menghancurkan kezaliman. “Setelah membunuh satu orang yang setia, kalian tidak akan hidup tenang. Kematian saya akan meledak seperti bom yang menghancurkan kepada kalian. Jika kalian ingin hidup tenang, jangan ganggu saya,” ungkapnya. Pesan ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak takut menghadapi kezaliman dan ancaman, tetapi sebaliknya, hadapi dengan keyakinan dan keteguhan iman. Ketahuilah, pembalasan dari Allah bagi ketidakadilan akan datang, bahkan dengan kekuatan yang berkali-kali lipat.

Harapan beliau pada Allah adalah bahwa kematian dapat lebih melayani agama daripada hidupnya sendiri. Ucapan ini menegaskan pengorbanan total, bahkan hingga titik terakhir, demi keyakinan. Semangat seperti ini harus diwarisi oleh generasi setelahnya, untuk tidak takut atau gentar melawan ketidakadilan dan kezaliman. Keberanian yang terpancar dalam kata-kata tersebut menyiratkan bahwa setiap dari kita memiliki potensi untuk menjadi suara zaman, menghadapi tantangan dengan keteguhan yang kuat.

Ketika kota Istanbul diduduki, tampak di tengah-tengah tentara penjajah seorang uskup Gereja Anglikan dengan keangkuhan dan pertanyaan menantang kepada umat Islam. Pada saat seperti inilah seorang “Pahlawan Zaman” muncul dan mengangkat suaranya dengan penuh keteguhan. Dalam kondisi di mana ketangguhan dan perlawanan mutlak diperlukan, beliau memberikan perlawanan yang nyata.

Bisa saja, dalam keadaan penuh tekanan dan intimidasi, Badiuzzaman memilih untuk menjawab tantangan itu dengan tindakan, yaitu meludah. Meludah bukan pada orang, tetapi pada wajah ketakutan, pada wajah ancaman, pada wajah pengusiran, kehancuran, perbudakan, dan kezaliman. Sebuah simbol dari ketidakpatuhan terhadap ancaman yang menindas. Inilah bentuk keberanian dan keyakinan yang luar biasa, bahwa rasa takut harus dilawan, bukan ditakuti.

Siapakah yang benar di antara mereka yang berjuang untuk kebenaran dan mereka yang menyebarkan kezaliman? Hanya waktu yang akan menunjukkan kebenarannya. Waktu tidak pernah berdusta; ia adalah saksi yang selalu akurat dalam menafsirkan hasil dari setiap tindakan. Keberanian yang dibarengi dengan kebenaran akan tetap bersinar, meskipun mungkin harus melewati jalan panjang.

Percayalah pada tafsiran waktu, karena waktu adalah manifestasi dari kehendak, kekuasaan, perlindungan, dan pertolongan Allah. Semoga Allah tidak mencabut keberanian dan keyakinan itu dari kita semua, karena keberanian adalah kunci untuk mengalahkan ketakutan dan menghadapi segala rintangan dengan hati yang mantap. Aamiin.

mengembangkandiri.com (10)

SANG PELAMPUNG KESELAMATAN KITA

Dalam mengarungi samudra yang luas dan penuh bahaya, banyak orang percaya bahwa keselamatan hanya dapat dicapai jika persiapan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Persiapan tersebut mencakup pemeriksaan menyeluruh terhadap kapal, termasuk kondisi mesin dan bahan bakar. Selain itu, penting untuk memantau kondisi cuaca dan potensi badai yang mungkin terjadi selama perjalanan. Beban yang diangkut juga harus disesuaikan dengan kapasitas kapal agar tidak melebihi batas yang aman. Tak kalah penting, perlengkapan keselamatan, seperti pelampung, pasokan bahan bakar yang memadai, dan alat-alat keselamatan lainnya, harus disiapkan dengan baik untuk menghadapi kemungkinan darurat di perjalanan.

Begitu pula dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia yang fana dan penuh fatamorgana. Tanpa kita sadari, hidup ini layaknya perjalanan jauh menggunakan kapal yang melintasi samudra luas, menuju tujuan akhir yang abadi, yaitu akhirat—tempat di mana seluruh perjalanan di dunia ini akan berakhir. Sebagai penumpang dalam bahtera kehidupan, kita harus menyadari bahwa samudra dunia ini dipenuhi badai ujian dan gelombang cobaan. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan “kapal” dan “peralatan” yang baik serta layak untuk menemani perjalanan ini. Di antaranya adalah pelampung keimanan dan tali keselamatan amal yang kokoh, yang dapat kita pegang erat saat menghadapi keadaan darurat dalam perjalanan menuju tujuan akhir kita.

Pentingnya peralatan keselamatan, seperti pelampung, tidak bisa diremehkan. Pelampung berfungsi melindungi kita dalam situasi darurat, mencegah tenggelam, dan memberikan perlindungan dari terjangan ombak laut yang deras. Selain itu, pelampung juga membantu menjaga tubuh kita tetap aman di tengah lautan yang luas dan berbahaya. Fungsi ini menggambarkan pentingnya peran sahabat sejati, baik di dunia maupun akhirat.

Dalam perjalanan panjang dari dunia menuju akhirat, sahabat sejati ibarat pelampung yang selalu siap membantu kita. Mereka mendukung kita dalam kebaikan, mengingatkan saat kita melakukan kesalahan, dan melindungi kita dari gelombang maksiat yang bisa merusak ruhani. Mereka juga mencegah kita tenggelam dalam kelezatan dunia yang bersifat sementara dan menyesatkan. Seperti pelampung yang memegang erat tubuh di lautan, sahabat sejati senantiasa memandu kita menuju tujuan akhir, yakni akhirat, dengan baik dan lancar.

Disebutkan dalam ayat alqur an surat Al-Furqan [25]: 28

يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا

“Celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan  si fulan itu teman akrab(ku)

Ayat tersebut dalam tafsir Al-Azhar jilid 2 karya Buya Hamka Rahimahullah dijelaskan bahwa ada penyesalan dihati Uqbah Bin Muayyith dalam memilih Ubay Bin Khalaf sebagai teman dekatnya waktu sebelum masuknya islam karena Ubay terkenal dengan suka mengolok-olok Nabi ketika beliau sedang berdakwah Saking pentingnya seorang teman, ia bahkan menjadi sebuah identitas bagi seseorang. Syeikh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Al-Muta’allim menyampaikan hal ini dalam sebuah syair,

“Tak perlu kau tanya tentang seseorang (siapa dia), cukup tanya siapa temannya, maka setiap teman akan mengikuti orang yang dia temani.”  

Bukankah kita semua menginginkan akhir perjalanan kita, yakni akhirat, menjadi indah dan selamat? Untuk mencapainya, penting bagi kita memiliki sahabat sejati yang senantiasa mendukung dalam kebaikan, mengingatkan saat kita berbuat kesalahan, dan berlomba-lomba memberikan manfaat bagi banyak orang selama hidup di dunia. Sahabat seperti itulah yang menjadi “pelampung keselamatan” dalam kehidupan kita, menjaga agar kita tidak tenggelam dalam arus dunia yang penuh godaan dan fatamorgana.

Jika saat ini kalian belum menemukan pelampung keselamatan itu—sahabat dunia akhirat yang setia—carilah segera. Peluk dan rangkul erat sosok tersebut, jadikan dia bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup kalian. Jangan biarkan dia terlepas dari jangkauan atau bahkan terlupakan, karena sahabat sejati adalah penopang yang akan menemani kita menuju tujuan akhir yang baik dan selamat.

Referensi :

https://tafsiralquran.id/pentingnya-memilih-teman-dalam-bergaul-tafsir-surah-al-furqan-ayat-27-28/

https://muslim.or.id/45173-hadits-tentang-sahabat.html

Mataair edisi januari-maret 2024

mengembangkandiri.com (7)

MENGIRINGI DAKWAH DENGAN DO’A

DITULIS OLEH: MUHAMMAD FETHULLAH GÜLEN HOCAEFENDI

Berdo’a merupakan tugas utama yang harus senantiasa dilakukan oleh seorang da’i, karena berdo’a adalah sarana yang paling utama untuk berhubungan dengan Allah Swt. Masalah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama para nabi dan da’i, karena untuk memberi petunjuk kepada manusia tidaklah mudah, dan kewenangannya hanya di tangan Allah Swt. Dia yang berhak memberi petunjuk atau kesesatan bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Jadi, manusia, siapa pun, tidak berwenang memberi petunjuk atau memberi kesesatan kepada siapapun. Tentang masalah ini, Allah Swt telah berfirman, “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu),” (QS al-Furqân [25]: 77).

Kesimpulannya, setiap mukmin, khususnya para nabi dan da’i, harus rajin memohon kepada Allah Swt untuk diberi kemudahan membuka pintu hati para pendengarnya. Adakalanya, karena do’a seorang yang mukhlis, banyak orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt lebih dari yang diberi ceramah. Sehingga, do’a mempunyai kekuatan bagai sihir yang dapat memengaruhi hati orang banyak. Selain itu, do’a juga menjadi senjata orang mukmin dan benteng yang paling ampuh baginya, baik di masa lalu maupun di masa kini. Karenanya, setiap da’i harus rajin memohonkan petunjuk kepada Allah Swt bagi umatnya sebelum ia berdakwah; kemudian, setelah itu, ia berdakwah semampunya. Dengan kalimat yang lebih sederhana, dapat dikatakan di sini bahwa setiap da’i harus berdo’a, menggunakan cara-cara yang masuk akal, sederhana, menarik, dan menimbulkan simpati agar dakwahnya bisa diterima oleh orang banyak.

Rasulullah Saw. telah berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan dakwahnya kepada kaumnya dengan berbagai cara, tetapi beliau tidak pernah terlepas dari berdo’a. Disebutkan bahwa beliau Saw. pernah berdo’a memohon pertolongan Allah Swt agar hati ʿUmar bin Khattab dibuka untuk masuk ke dalam Islam. Do’a beliau Saw. diterima; tidak lama setelah itu, Umar diberi petunjuk oleh Allah Swt untuk masuk Islam.

Disebutkan bahwa pada suatu hari, Abu Hurairah meminta do’a dari Rasulullah agar hati ibunya dibuka sehingga mau menerima Islam. Dalam sebuah riwayat yang lain, disebutkan bahwa Abu Hurairah ra. berkata, “Pada suatu hari, aku mengajak ibuku masuk ke dalam Islam, ketika ia masih sebagai wanita musyrik. Namun, ia mengata-ngatai Islam, sehingga aku datang kepada Rasulullah Saw. seraya menangis, “Ya Rasulullah Saw., tadinya aku mengajak ibuku masuk ke dalam Islam, tetapi ia menjelek-jelekkan Islam. Karena itu, do’akan semoga ibuku mau masuk Islam.” Kemudian, Rasulullah Saw. berdo’a, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada ibunya Abu Hurairah.” Kemudian, aku keluar pulang ke rumahku untuk mengabarkan kepada ibuku tentang do’a beliau baginya. Namun, anehnya, ketika aku tiba di depan pintu rumahku, aku lihat pintu rumahku tertutup. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, ia berkata, “Tunggulah sebentar, wahai Abu Hurairah.” Aku mendengar ia sedang mandi; setelah itu, ia memakai baju dan kerudung, kemudian ia membuka pintu seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi juga bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kata Abu Hurairah, “Kemudian aku kembali ke tempat Rasulullah Saw. sambil menangis atas keislaman ibuku.”

mengembangkandiri.com (6)

SELARASKAN QALBU DENGAN Al-QUR’AN

DITULIS OLEH: MUHAMMAD FETHULLAH GÜLEN HOCAEFENDI

Jika seorang da’i ingin berhasil dalam usaha dakwahnya, maka hendaklah ia menyesuaikan qalbunya seiring dengan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Sebab, hubungan antara qalbu dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Sunnah sangatlah dekat. Dengan kata lain, Al-Qur’an ini sangat erat hubungannya dengan qalbu yang bersih dan sadar diri. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mau menggunakan fungsi akalnya, atau yang mau menggunakan pendengarannya, sedang ia menyaksikannya” (QS Qâf [50]: 37).

Al-Qur’an adalah kitab suci yang Allah Azza wa Jalla turunkan bagi umat Islam. Di dalamnya mengandung berbagai petunjuk, nasihat yang baik, dan sekaligus peringatan. Syarat utama agar bisa meresapi seluruh kandungan Al-Qur’an ke dalam sanubari adalah qalbu kita harus terbuka atau bersedia menerima ajaran Al-Qur’an. Oleh karena itu, setiap pembaca Al-Qur’an hendaknya memusatkan pandangan dan pendengarannya kepada kandungan Al-Qur’an.

Bahkan, sangat dianjurkan agar ia menfokuskan seluruh perhatian kepada isi Al-Qur’an. Karena, tidak mungkin seseorang dapat mengambil pelajaran dari Al-Qur’an jika ia juga bersedia menerima petunjuk dari sumber yang lain atau mengikuti jalan yang bertentangan dengan jalan yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an. Sebab, siapa saja yang perhatiannya tidak sejalan dengan ajaran Al-Qur’an, maka ia tidak akan menikmati ketinggian nilai mukjizatnya. Bahkan, ia akan berani menyamakan Al-Qur’an dengan ucapan manusia biasa dalam perlakuannya terhadap Al-Qur’an. Siapa pun yang menilai Al-Qur’an dengan penilaian seperti itu, maka ia tidak akan bisa mengamalkan ajaran Al-Qur’an, meski ia banyak berbicara tentang Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an sendiri menyatakan sebagai berikut: “Alîf lâm mîn, Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS al-Baqarah [2]: 1-2).

Kitab suci Al-Qur’an berisikan firman-firman Allah Swt., Tuhan seluruh alam semesta. Di dalamnya tidak ada yang perlu diragukan, dan kitab tersebut tidak dapat memberi petunjuk apa pun, kecuali kepada orang-orang yang bertakwa hanya kepada-Nya.

Dari penjelasan firman Allah di atas, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah manusia yang paling mulia, dan mereka paling mengerti dengan syari’at Islam yang sangat cocok dengan fitrah manusia. Perlu diketahui pula bahwa seseorang yang tidak peduli dengan ajaran Al-Qur’an, maka ia bukanlah orang yang bertakwa, karena qalbunya tidak dapat menerima petunjuk apa pun dari Al-Qur’an. Bahkan, qalbunya telah tertutup rapat (mati), sehingga tidak dapat melihat kebenaran Al-Qur’an. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an berikut ini: “Dan orang-orang yang beriman bertanya, mengapa tiada diturunkan suatu surah?” Maka apabila diturunkan suatu surah yang jelas maksudnya, dan disebutkan di dalamnya perintah berperang, maka akan engkau lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam qalbunya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati. Dan kecelakaanlah bagi mereka” (QS Muhammad [47]: 20).

Bagaimana pendapat Anda jika seorang yang sedang tidak sadarkan diri akibat ketakutan mampu mengerti ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya? Tentu, tidak mungkin sama sekali. Akan tetapi, seorang yang sanubarinya terfokus dan peduli kepada ajaran Al-Qur’an, maka ia akan mampu memerhatikan segala kejadian yang ada di alam semesta ini sebagai ciptaan Allah Swt. Sebaliknya, jika seseorang tidak dapat memerhatikan segala kejadian yang ada di alam semesta ini sebagai ciptaan Allah, maka ia tidak akan bisa menerima petunjuk apa pun yang bersumber dari Al-Qur’an.

Jika kita tinjau masalah ini dari sisi yang sedikit berbeda, maka dapat kita simpulkan bahwa ketika seorang da’i ingin berhasil dalam dakwahnya, maka hendaklah sanubarinya selalu disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an. Apabila ia mampu menyesuaikan sanubarinya dengan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an, maka dijamin ia akan berhasil dalam dakwahnya. Jika sebaliknya, maka usaha dakwahnya akan mengalami kegagalan. Karena, seorang da’i akan mampu mengambil pelajaran dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an, jika ia bisa menyatukan qalbunya dengan tuntunan Al-Qur’an. Sehingga diharapkan ia akan bisa menjadi seorang yang mempunyai sanubari lembut, bersih, penuh kasih sayang yang mulia, dan berbagai sifat terpuji lainnya. Lalu ia akan menjadi seorang Mukmin yang sejati.

Segala perwujudan dari sifat orang yang bersikap ingkar pada masa sekarang ini tidak selalu menunjukkan bahwa ia sebagai seorang yang kafir. Demikian pula halnya dengan sifat orang beriman yang tidak selalu menunjukkan bahwa ia sebagai orang yang beriman. Adakalanya sifat-sifat seorang mukmin diwarnai dengan sifat-sifat mereka yang kafir pada tampilan lahiriahnya. Oleh karena itu, pada masa sekarang ini banyak kaum mukmin yang kemudian menjadi lemah karenanya. Sebab, setiap mukmin dituntut untuk mempunyai segala sifat yang berlaku sebagai seorang mukmin, terutama para da’i yang harus memiliki sifat-sifat seorang mukmin secara penuh. Karena, seorang Mukmin adalah cerminan dari sikap seorang yang berjiwa lembut, bersih, ramah, dipenuhi kasih sayang, sehingga ia mampu menyaksikan alam semesta ini sebagai karunia Allah Yang Maha Memberi.

Hendaknya pula seorang mukmin mempunyai kehidupan yang teratur dalam segala aspeknya, sehingga tidak satu saat pun yang ia lewati melainkan ia terlihat sebagai seorang yang terpimpin dan mendapat petunjuk kebenaran. Seorang mukmin tidak boleh membuang waktunya sia-sia di tempat-tempat yang tidak mendatangkan manfaat. Sebab, tempat-tempat dimaksud tidak akan menisbahkan kebaikan apa pun baginya. Sebaiknya, seorang mukmin keluar dari rumah menuju ke tempat-tempat yang baik seperti masjid, majelis ilmu, dan tempat-tempat untuk berdakwah. Jika seorang da’i telah mempunyai sifat-sifat terpuji yang sejatinya dimiliki oleh orang mukmin, maka ia menjadi seorang penuntun ke jalan yang baik.

Kini kita dapat membuktikan mengapa sebagian orang di wilayah Barat lebih unggul daripada orang-orang Islam di wilayah Timur. Karena, mereka mau melaksanakan apa yang menjadi dasar pijakan dari ajaran Islam dengan baik. Sehingga mereka mendapatkan kemajuan yang luar biasa. Sedangkan umat Islam sendiri mengalami kemunduran di berbagai bidang, karena mereka justru melupakan atau menjauh dari ajaran Islam yang sejati. Sehingga dapat kita simpulkan di sini bahwa siapa saja yang bersedia melakukan ajaran Islam dengan baik, maka ia akan mendapat keunggulan di berbagai bidang kehidupan. Dan jika sebaliknya, maka mereka akan mengalami kemunduran di berbagai bidang kehidupan ini. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi seorang mukmin untuk menyelamatkan dirinya di kehidupan alam dunia ini dan alam akhirat kelak, kecuali dengan berpegang-teguh terhadap ajaran Al-Qur’an.