Mengembangkandiri.com dca685fbf929e5e3d4397dcdc3ab54b6

Kemerdekaan Bangsa, Kemerdekaan Diri

Karya Pembaca : Ferghi Yusuf

Ufuk fajar menyambut berkahnya hari penuh suka cita. Digaungkan bendera merah putih kebanggaan simbol jati diri bangsa. Alhamdulillah, dengan izin-Nya, hari kemerdekaan telah tiba. Hari ulang tahun Indonesia dengan 270 juta orang yang merayakannya.

Tak dipungkiri hari kemerdekaan merupakan hari bersejarah bagi Nusantara, hari di mana NKRI lahir dan terlepas dari cengkeraman penjajah durjana. Hari di mana rakyat bersorak ria tiap kali ia menyerta. Kendati demikian, kebanyakan enggan untuk memaknai makna kemerdekaan sejati. Mereka menutup pintu qolbu yang sepatutnya diusahakan untuk sebuah memakna hakikat hari.

Kemerdekaan bangsa Indonesia seyogianya dijadikan momentum untuk memerdekakan diri. Kurang afdal bukan jika yang merdeka hanya bangsanya, tidak dengan individunya? Dengan begitu, mari rayakan hari kemerdekaan sebagai ajang kebangkitan hati. Apa maknanya?

Maknanya, Hari Kemerdekaan merupakan sarana bersyukur dan bersimpuh kepada Allah Ta’alla. Qolbu yang rapuh dan haus akan iman harus segera diisi kembali dengan maknawi penuh rohani. Qalbu yang menderita, meronta, meminta karunia kepada Sang Pemilik Segalanya yang mencurahkan rahmat ke dunia fana. Qolbu yang terkorek hitamnya dosa harus bersujud memohon ampun pada-Nya, bertaubat seolah tak ada waktu tersisa.

Tidak berhenti semata, jadikan kemerdekaan sebagai cermin diri bagaimana pendiri bangsa berjuang membela tanah air dengan nyawa mereka. Jadikan pengorbanan mereka sebagai motivasi intrinsik untuk mengabdi tanpa pamrih kepada sesama sesuai tuntunan agama. Jadikan celotehan mereka sebagai prinsip hidup yang terpatri dalam raga. Jadikan tetes darah mereka sebagai pemantik spirit ukhuwah islamiyah kita. Begitu kiranya…

Masih belum kelar, kenyataan pahit memang, Hari Kemerdekaan justru diperingati sebagai momentum berfoya-foya yang tidak semestinya. Banyak orang melakukan maksiat yang dibenci oleh Sang Pencipta. Kita harus berani berbeda. Rayakan hari kemerdekaan dengan melakukan amalan yang membuat malaikat turun berdoa. Isi hari dengan membaca buku, tilawah Al-Qur’an, dan mengembangkan kemampuan yang sekiranya berguna. Terus terang ajakan ini untuk semua pembaca, termasuk penulis juga. Jadi, kita berjuang bersama, ya. Bismillah

ochimax-studio-N5bKG8C93Uw-unsplash

Kemerdekaan Ibarat Sepertiga Dunia Seisinya

Karya Pembaca : Habib A.S

Yang perlu diingat, tiga setengah abad bukanlah waktu yang singkat, bukan pula waktu yang penuh akan nikmat. Nikmat untuk dapat menikmati hidup yang singkat, nikmat untuk sekadar menikmati hasil jeri payah dan keringat. Sejarah telah mencatat hampir tanpa cacat, perihal kehidupan leluhur kita di bawah kuasa kolonial yang jahat. Entah apa yang Tuhan maksudkan, kita hanya dapat menjadikannya sebagai bahan renungan. Renungan yang mengantarkan kita kepada sikap syukur atas kemerdekaan yang telah diberikan. Renungan yang memicu semangat kita untuk terus berjalan ke depan. Renungan yang mendorong kita untuk menadahkan tangan ke atas, memohonkan ampun mereka atas semua kesalahan. Itulah yang semestinya kita lakukan.

Ya. Tujuh puluh tujuh tahun negara ini mendapatkan kemerdekaannya, dimana sebelumnya dirampas oleh mereka yang hanya mementingkan kepentingannya. Begitu banyak hal yang sebenarnya dapat kita jabarkan tentangnya, baik sebelum dan selama dijajah, serta sebelum dan selama merdeka. Tentu tidaklah cukup, apabila semuanya dituangkan hanya pada satu tulisan saja. Begitu pula dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sangatlah banyak hal yang kiranya dapat kita petik dan kita amalkan dalam kehidupan. Sampai-sampai, tak satupun yang dapat kita ingat, kecuali pada saat hari besar kenegaraan saja.

Memang tidaklah salah, jika kita benar-benar demikian, mengingat nikmat kemerdekaan ini hanya pada hari peringatan yang tertanggalkan. Itu menunjukkan bahwa, hari peringatan benar-benar berfungsi sebagaimana yang dimaksudkan, guna memupuk kembali rasa cinta tanah air dan menguatkan ingatan kita akan para leluhur yang telah berjuang habis-habisan.

Terlepas dari itu semua, baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sang panutan umat manusia, yang kecintaannya kepada tanah airnya tidaklah lagi diragukan, sebagaimana disebutkan pada hadist-hadist shahih yang ada, pernah bersabda demikian yang kiranya dapat kita jadikan wallpaper di handphone kita, agar kita ingat selalu tentangnya, agar kita termasuk menjadi seseorang yang senantiasa mensyukuri nikmat kemerdekaan yang Tuhan berikan, tidak hanya pada hari peringatan saja. Demikianlah sabdanya,

“Barangsiapa di antara kalian yang bangun tidur dalam keadaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan mendapatkan makanan (pokok) pada harinya, seakan-akan telah diberikan kepadanya dunia dan semua isinya” (HR. Ibnu Majah).

Dari hadist tersebut, mari kita renungi sejenak diri kita sekarang. Apakah kita terbangun dari tidur karena adanya suara ledakan? Apakah kita terbangun dari tidur akibat teriakan manusia yang kencang? Atau apakah ada suatu gangguan lainnya yang membangunkan kita dari tidur nyenyak? Jika tidak ada, beruntunglah kita menjadi seorang hamba yang diberikan kenikmatan ini. Kenikmatan kemerdekaan atas negeri dimana kita tinggal yang membuat kita bangun dari tidur dalam keadaan yang aman. Tak perlu beranjak pada poin kedua dan ketiga hadist tersebut, kita sudah diberi nikmat yang begitu besar, nikmat yang dapat diibaratkan dengan sepertiga dunia seisinya, nikmat yang tidak akan kita sanggup beli kepada-Nya, jika Dia menetapkan harga pada setiap nikmat yang Dia berikan.

“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya”. (QS. A Nahl : 18)

Demikianlah, Tuhan Sang Maha Pemurah memberikannya kepada kita, dimana ada diantara hamba-hambanya yang belum berkesempatan merasakannya. Terlebih, jika kita mengikuti berita perkembangan dunia, bahwa semakin banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita. Oleh karena itu, kita sangat perlu untuk bersyukur. Bersyukur karena termasuk golongan hambanya yang beruntung, beruntung karena menjadi hamba yang diberikan nikmat tersebut. “kemerdekaan”

“dan bersyukurlah kamu akan nikmat Allah, jika memang hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. An Nahl :114)

Namun, janganlah kita terlampau bangga dulu, janganlah kita menganggap diri kita taat karena diberikan nikmat tersebut. Mari coba renungkan, apakah Dia memberikannya kepada kita secara cuma-cuma tanpa maksud?

“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu`minun : 115)

Dan mari kita renungkan sekali lagi, apakah nikmat kemerdekaan ini justru menjadi sebuah ujian dan musibah bagi kita? Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hazm,

“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu hanyalah musibah”. (Jaami`ul Ulum wal Hikam, 2:82)

Demikianlah. Kemerdekaan yang tengah kita rasakan ini, tidaklah lain adalah pemberian-Nya. Pemberian yang menuntut kita untuk merawatnya sebagai salah satu bentuk syukur kita. Pemberian yang tidak diberikannya secara percuma, melainkan mengandung maksud tertentu dari-Nya agar kita benar-benar memanfaatkannya dengan baik dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita rawat bersama kemerdekaan yang telah Dia berikan kepada kita, yang menjadikan perjuangan dan pengorbanan leluhur kita sebagai perantaranya. Satukan rasa, sampingkan perbedaan, hadapi lawan, dan selesaikan masalah secara bersama. Buktikan kepada-Nya bahwa kita bisa melakukannya, sebagai bentuk mensyukuri nikmat-Nya. Lebih dari itu, kita dapat menjadikannya sebagai sarana untuk menolong saudara kita yang belum seberuntung kita.

Dan yang terpenting, setiap nikmat akan ada pertanggungjawabannya, dengan apa dan bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini dalam ketaatan kepada-Nya.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa berdoa untuk kelanggengan kemerdekaan negara ini sebagaimana yang Nabi Ibrahim Alaihis Salam telah contohkan kepada kita. Tak lupa, selipkan doa kita untuk mereka yang belum seberuntung kita, yang masih berjuang untuk kemerdekaan.

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS. Al Baqarah : 126)

Sekian. Selamat hari kemerdekaan untuk kita semua, Indonesia.

Referensi

M.A Tuasikal, “Akan Dipertanyakan Segala Nikmat”, 2012.

idul adha ibadah kurban

Perjuangan dalam Kebahagiaan Ibadah Kurban

Karya Pembaca: Habib A.

Setahun sekali, umat muslim melakukan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Rabb-nya, sebagai sunnah yang diwariskan oleh beliau abu anbiya Ibrahim alaihi salam. 

Tak henti – hentinya dan tak bosan – bosannya, mereka yang berada di jalan dakwah mengingatkan kepada kita yang awam tentang keutamaannya, tidak lain adalah guna memotivasi kita supaya ikhlas, hanya mengharap ridha-Nya. 

Semua manusia turut merasakan dampaknya, tidak terkhusus bagi mereka yang muslim saja. 

Hari raya kedua umat muslim yang ditetapkan oleh-Nya pada bulan Dzulhijjah, sebagai salah satu dari empat bulan haram, menjadi suatu hari yang begitu dinantikan. Hari dimana golok dan pisau sudah dalam keadaan tajam, siap untuk mengambil manfaat hewan kurban yang telah disiapkan. Hari dimana kantung plastik dan timbangan bersatu dalam menjalankan peran, membagikan kepada semuanya tanpa membedakan ras, suku, agama, dan golongan. Hari dimana para ibu mempersiapkan bumbu masakan beserta alat masak untuk melanjutkan estafet perjuangan. Semuanya berbahagia di hari itu dan di tempat itu, hanya mereka yang disembelih-lah yang meneteskan air mata, air mata kebahagian karena dipersembahkan kepada Penciptanya.

Ya. Bukan hari raya namanya jika tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Bukanlah hari raya namanya jika sebelumnya tidak ada perjuangan yang dilakukan. 

Keduanya, baik kebahagiaan maupun perjuangan merupakan suatu kemurahan dari-Nya, Sang Maha Pemurah. Kemurahan yang diberikan bukan tanpa maksud, melainkan dimaksudkan agar hamba-Nya menjadikannya sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan abadi di akhirat kelak, sebagai bentuk kasih sayang-Nya, Sang Maha Penyayang.

Sudah menjadi hal yang rutin bagi kita untuk gigih dalam perjuangan sebelum datang kebahagiaan sebagai ekspresi dari kemenangan. Perjuangan yang tidak terlepas dari sebuah pengorbanan. Perjuangan yang timbul dari ketakwaan.  Perjuangan untuk menaklukan hawa nafsu dalam jiwa. Perjuangan yang lebih berat daripada menaklukan sebuah kota sendirian.  

Perjuangan yang dimaksud tersebut adalah puasa, yang setelahnya akan tiba kebahagiaan dalam bentuk hari raya. Terlepas dari hukum pelaksanaan keduanya yang berbeda, mengisyaratkan kepada kita akan adanya kesakitan sebelum kesenangan, keringat sebelum nikmat.

Tak hanya puasa saja yang dapat dikatakan sebagai perjuangan. Kurban yang dilakukan pada Idul Adha pun demikian. Meskipun di awal disebutkan bahwa hari raya -idul adha – merupakan suatu kebahagiaan yang datang setelah adanya perjuangan, tetapi mengapa masih ada perjuangan yang dilakukan di dalamnya?  Dan mengapa berkurban dikatakan sebagai sebuah perjuangan? Perjuangan dalam kebahagiaan?

Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut dapat kita baca pada QS. Al Hajj (22) ayat 37, Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya,

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Ya. Pada ayat tersebut disebutkan bahwa daging dan darah dari hewan yang kita kurban-kan tersebut tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kita. Ayat ini menjadi penangkis terhadap praktik sesaji yang dilakukan, sebagai bentuk penegasan bahwa Allah Yang Maha Suci berbeda dengan berhala-berhala yang dijadikan mereka sebagai sekutu-Nya.

Sekali lagi, tidak akan sampai kepada Allah sesuatu berupa benda yang kita kurban-kan. Melainkan, yang akan sampai kepada-Nya adalah ibadah kurban yang kita lakukan sebagai bentuk ketakwaan kita kepada-Nya. Ketakwaan yang melahirkan perjuangan, perjuangan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya. Ketakwaan yang dilakukan dengan dasar keimanan dan disempurnakan dengan keikhlasan. Ketakwaan yang mengharuskan kita melepaskan dengan rela apa yang kita cinta. Tidak semua orang dapat melakukannya, kecuali mereka yang Allah inginkan kebaikan untuknya.

Allah berfirman, “Dan unta – unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki dalam keadaan terikat). ..” QS. Al Hajj (22) : 36.

Allah berfirman, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar – syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati”.  QS. Al Hajj (22) : 32.

Memang, tidaklah mudah untuk melepaskan sekaligus merelakan sesuatu yang kita cinta, baik itu harta, tahta, pasangan, maupun anak. Itulah sebabnya ibadah kurban dapat dikatakan sebagai bentuk perjuangan, perjuangan pada saat hari raya, perjuangan dalam kegembiraan, perjuangan sebagai bentuk ketakwaan. 

Di sinilah Allah Sang Pemilik Alam Semesta menguji kita, menguji seberapa sami`na wa atho`na nya diri kita terhadap apa yang diperintahkan-Nya. Yang mana sebelumnya, Dia melakukannya kepada kekasih-Nya Ibrahim `alaihissalam, yang menjadi tonggak awal lahirnya perjuangan ini. Dia menguji seberapa sami`na wa atho`na nya beliau Ibrahim alaihi salam ketika dihadapkan dengan perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail alaihi salam. Beliau berhasil. Lalu, Dia menyampaikan kembali bentuk ketakwaan tersebut kepada anak keturunan Ibrahim Sang Kekasih-Nya hingga akhir zaman.

Bukan tanpa maksud, disampaikan oleh-Nya perintah kurban kepada kita adalah agar kita menjadi dekat kepada-Nya, agar kita mendapat ridho-Nya, dengan ketakwaan sebagai dasarnya. Berbekal kedekatan dengan-Nya, berbekal ridho-Nya, Dia memberikan kebahagiaan yang tidak terbayang oleh kita sebelumnya. 

Demikianlah. Puasa dan kurban sebagai miniatur kecil dari sebuah perjuangan yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan sebagai bentuk dari kemenangan. Namun, sebagaimana diumpamakan dengan ibadah kurban, kebahagiaan tersebut belumlah bersifat final, masih terdapat perjuangan yang dilakukan di dalamnya. 

Karena sejatinya, hidup kita saat ini di dunia adalah sebuah perjuangan, perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang tidak terdapat lagi perjuangan di dalamnya, kebahagiaan sebagai hari raya yang sesungguhnya, kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya. 

idul adha ibadah kurban

Artikel lain tentang keutamaan Bulan Dzulhijah dapat dibaca dalam artikel berikut: Keutamaan Sepuluh Malam Pertama Zulhijah

mengembangkandiri.com festive-lantern-with-bokeh-background-ramadan-kar-2021-08-30-14-08-28-utc

Ibadah Kurban sebagai Bentuk Kesalehan Sosial

Karya Pembaca: F. Yusuf

Menurut KBBI, kurban dapat dimaknai sebagai persembahan kepada Allah (seperti biri-biri, sapi, unta yang disembelih pada hari Lebaran Haji) sebagai wujud ketaatan muslim kepada-Nya.

Adapun secara bahasa, kurban berasal dari akar kata ‘qariba yaqrobu qurbanan wa wirbanan’ yang kurang lebih berarti ‘mendekat.’ Memang tidak dipungkiri jika kurban merupakan napak tilas Nabi Ibrahim, namun alangkah bijak jika semua mukmin mengetahui hakikat mendalam dibalik diperintahkannya ibadah kurban. Satu dari seribu hakikat kurban terwujud melalui kesalehan sosial yang niscaya bermanfaat bagi anggota masyarakat.

Bagaimana memaknai kesalehan sosial?

Kesalehan sosial dapat didefinisikan sebagai nilai Islam yang melihat kepedulian seseorang terhadap kepentingan masyarakat sebagai bagian dari ibadah. Seorang mukmin yang mengamalkan kesalehan sosial tidak hanya terkungkung kepada ibadah ritual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial tinggi untuk berbuat kebaikan terhadap orang lain di sekitarnya.

Bagaimana kurban mewujudkan kesalehan sosial?

Dalam ilmu fikih, daging kurban dibagi menjadi tiga macam, yakni dimakan, diberikan kepada kaum duafa, dan disimpan untuk suatu keadaan mendesak. Pengamalan ketiganya dengan cara berbagi mampu menghidupkan solidaritas sosial yang perlahan mendorong tumbuhnya jiwa toleransi, menebar kasih saying, dan menjalin kerukunan antaranggota masyarakat tanpe melihat kriteria sosial tertentu.

Kurban merupakan momentum terbaik untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah antaranggota masyarakat. Semua bersatu dan bekerja sama menyembelih hewan kurban. Semua mencurahkan tenaga demi kepentingan bersama. Semua mengesampingkan segala perbedaan dengan mempererat tali persaudaraan dalam satu atap prinsip fundamental kehidupan, yaitu akidah Islam dan cahaya iman. Mereka mengesampingkan sikap egosentris yang kian menjamur demi tujuan hakiki. Ibadah kurban menjadi momentum yang tepat untuk evaluasi diri sembari saling memaafkan dalam cakupan interaksi sosial antarsesama. Tali silaturahmi antarmukmin yang semula renggang menjadi erat kembali.

Kurban mengajarkan manusia untuk selalu peka, peduli, dan aktif berpatisipasi terhadap lingkungan sosial. Tatkala kurban tiba, kita membagikan demikian banyak kantung daging kepada mereka yang membutuhkan sebagai aksi konkret tenggang rasa terhadap sesama. Menurut ijtihad ulama ulung seperti Imam Abu Hanifah, pembagian kurban dilakukan kepada semua elemen masyarakat tanpa membedakan suku, bangsa, dan agama.

Kurban menjadi sarana dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, terutama bagi mereka yang mungkin jarang menyantap daging karena tuntutan ekonomi. Daging kurban mengandung nutrisi yang diperlukan organ tubuh dalam menjalankan fungsi biologisnya. Ibadah kurban menjadi kesempatan bagi anggota masyarakat untuk memperbaiki kualitas diet guna memenuhi asupan gizi empat sehat lima sempurna.

Akhir kata, pelaksanaan ibadah kurban tidak hanya ritual penyembelihan hewan belaka, tetapi juga momen penyembelihan sifat ego dalam relung kalbu setiap insan.

mengaji alquran hari raya kurban

artikel lain tentang keutamaan Bulan Dzulhijah dapat dibaca dalam artikel berikut: Keutamaan Sepuluh Malam Pertama Zulhijah

mengembangkandiri.com paper-with-brain-shape-as-dementia-symbol-on-black-2021-08-30-01-45-10-utc

Teori Kecerdasan

Karya Pembaca: Rio A.

Apa itu kecerdasaan?

Bagaimana seseorang bisa dikatakan cerdas?

Apakah kecerdasaan adalah sebuah anugrah? sebuah kualitas yang memang nilainya tetap.

Atau, kecerdasaan adalah buah dari usaha seseorang dalam mempelajari sesuatu?

Dua pandangan ini sah-sah saja untuk dimiliki. Tetapi, tahukah anda kalau cara pandang kita terhadap kecerdasan mampu berimplikasi pada cara pandang kita terhadap hal lain?

Ada dua teori dalam memandang kecerdasan, teori kecerdasan tetap dan teori kecerdasan berubah. Teori kecerdasaan tetap dapat disebut juga dengan teori kecerdasaan entitas. Dikatakan entitas karena teori ini memandang kecerdasaan sebagai suatu entitas dalam diri kita yang tidak bisa diubah. Teori kecerdasaan berubah dapat disebut juga sebagai teori kecerdasaan inkremental. Dikatakan inkremental karena teori ini memandang kecerdasaan sebagai suatu kualitas yang dapat ditingkatkan melalui proses belajar. Lantas, bagaimana teori yang dipercayai seseorang tentang kecerdasan mampu mempengaruhi pandangannya terhadap hal lain?

Dalam buku berjudul Self Theories yang ditulis oleh Carol S. Dweck, guru besar psikologi Universitas Stanford, Profesor Dweck melakukan penelitian-penelitian tentang teori kecerdasaan. Hasil dari penelitian tersebut sangat menarik. Anak-anak sekolah dasar yang teori kecerdasan entitas lebih cepat menyerah ketika menghadapi soal sulit ketimbang anak-anak teori kecerdasan inkremental.

Kenapa bisa demikian?

Saat anak-anak teori kecerdasaan entitas menjumpai soal sulit, mereka memandang soal-soal yang diberikan sebagai penilai kepintaran mereka. Artinya, kalau mereka tidak bisa menjawab soal yang diberikan, mereka berasumsi bahwa mereka tidak cukup pintar. Sebaliknya, anak-anak teori inkremental sangat suka dengan soal-soal sulit yang diberikan oleh peneliti. Mereka memandang soal sulit sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan baru. Pola-pola ini tidak hanya ditemui pada siswa sekolah dasar saja, tetapi penelitian yang dilakukan kepada mahasiswa juga menunjukan pola yang sama.

Jadi, anak-anak yang percaya bahwa kecerdasan adalah suatu entitas yang tetap akan lebih mudah menyerah daripada anak-anak yang percaya bahwa kecerdasan adalah hal yang dapat ditingkatkan melalui belajar.

Apakah kita bisa melihat fenomena “menyerahnya” anak-anak teori entitas karena persoalan yang sulit di luar penelitian?

Tentu.

Pernah dengar cerita kolega atau saudara anda yang mengatakan bahwa seseorang dulunya brilian di kelas, tetapi prestasinya menurun setelah naik ke kelas yang lebih tinggi?

Misalnya, transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah. Pada sekolah dasar, tingkat kesulitan soal atau pekerjaan dijaga minimal agar dapat memastikan pekerjaan tersebut dapat diselesaikan oleh siswa, dan siswa memperoleh banyak kesuksesan. Lebih tepatnya, kesuksesan yang mudah. Ketika mendapat kesuksesan yang mudah, baik anak teori entitas dan teori inkremental tidak terdapat perbedaan performa yang signifikan. Tetapi, saat transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah, soal-soal dan pekerjaan menjadi lebih sulit serta instruksi menjadi lebih umum. Anak-anak teori entitas yang tidak adaptif akan kaget dan percaya bahwa mereka memang tidak cukup cerdas. Anak-anak teori inkremental akan menganggap bahwa transisi tersebut memang bagian dari proses belajarnya. Selanjutnya bisa diduga, setelah transisi, prestasi anak-anak teori entitas menurun dan prestasi anak-anak teori inkremental cenderung tetap.

Saya pernah membaca cuitan seseorang di internet yang isinya kurang lebih, “Apakah benar? Saat masa SMA, perempuan yang ambisius. Tetapi waktu kuliah malah
sebaliknya?”.

Di Kamus Besar bahasa Indonesia, ambisius memiliki arti berkeinginan keras mencapai sesuatu. Mungkin yang dirujuk penulis cuitan tersebut adalah perbedaan prestasi antara masa SMA dan kuliah berdasarkan gender tertentu. Saya tidak terlalu yakin dengan hal tersebut, tentu terdapat perbedaan kasus di setiap tempat. Hal yang saya ketahui, Profesor Dweck memiliki istilah “Paradoks Gadis-gadis Pintar”. Singkatnya, paradoks tersebut berbicara tentang menurunnya prestasi gadis-gadis yang dulunya dicap pintar di bangku kuliah.

Adakah penjelasan mengenai hal tersebut?

Anak-anak yang sering dipuji karena kepintaranya, bukan kerja kerasnya, akan membentuk pola pandangan kecerdasaan teori entitas. Seiring berjalannya waktu, anakanak akan mendambakan pujian akan kepintarannya. Mereka akan memandang soalsoal yang mereka kerjakan sebagai pengukur kecerdasan mereka.

Bagaimana agar kita “tidak pernah” gagal mengerjakan soal?

Sederhana.

Kerjakan soal mudah, atau dengan kata lain, hindari soal-soal sulit. Menghindari soal-soal sulit menurunkan kemungkinan anak-anak untuk belajar hal baru. Maksudnya, kalau kita hanya melakukan apa yang kita bisa lakukan, bagaimana kita bisa belajar hal baru lebih banyak?

Fenomena ini, ditambah pandangan masyarakat bahwa laki-laki lebih baik di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menggiring “gadis-gadis pintar” untuk memilih bidang lain. Hal ini agar mereka dapat menghindari kegagalan. Kalau mereka memasuki bidang STEM pun, kegagalan akan membuat, kepercayaan diri mereka akan lebih cepat hilang dan mereka akan mempertanyakan kecerdasan mereka. Stigma masyarakat tentang dominasi laki-laki menjadi katalis menurunnya performa mereka saat menjumpai kegagalan.

Pandangan tentang teori kecerdasaan mempengaruhi seberapa cepat seseorang melabeli orang lain. Orang teori entitas melabeli orang lain lebih cepat daripada orang teori inkremental. Label di sini tidak hanya label negatif, tetapi berlaku juga pada label positif. Dari argumen-argumen pada paragraf sebelumnya, dapat dipahami kenapa fenomena tersebut dapat muncul. Ketika seseorang percaya bahwa kita memiliki sebuah kualitas yang berada di dalam diri kita yang tidak dapat diubah, maka kita hari ini adalah kita besok (dan kemarin). Satu cuplikan dapat digunakan untuk memprediksi bagaimana seseorang berperilaku ke depannya. Itulah mengapa orang teori entitas cenderung melabeli orang lebih cepat. Hasil penelitian konsisten dengan hal tersebut. Orang-orang teori inkremental, sebaliknya, melabeli orang lain relatif lebih lambat. Sangat mengesankan bagaimana cara pandang seseorang mengenai kecerdasan mampu mempengaruhi seberapa cepat penilaian seseorang kepada orang lain.

Dua pandangan teori kecerdasan , baik kecerdasan tetap maupun berubah, wajar dimiliki seseorang. Tetapi, dari hasil penelitian, pandangan bahwa kecerdasan manusia dapat dikembangkan melalui proses belajar atau kerja keras adalah pandangan yang lebih baik. Kita mungkin diberi anugrah otak yang cemerlang, tetapi, sebagian orang lupa bahwa kita juga diberi anugerah untuk berusaha. Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang, sebelum dia mengubah nasibnya sendiri.

Referensi:
Dweck, Carol S. (2000). “Self Theories”.

Artikel ini sudah dimuat dalam Buletin Yayasan RUBIC bulan Februari 2022

mengembangkandiri.com masjid hassan

Sosiolinguistik: Menyoal Diglosia dalam Ranah Dakwah Islam

KARYA PEMBACA: F. YUSUF

Dakwah yang merupakan khazanah istimewa Islam diperintahkah dalam firman-Nya yang berbunyi,

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Ali Imran / 4:104).

Dalam menunjang keberhasilan dakwah, seseorang harus merancang strategi dakwah yang sesuai dengan objek dakwah. Mengutip dari Moh. Ali Aziz, strategi dakwah dapat dipahami sebagai perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan guna mencapai tujuan dakwah [1]. Terlebih, strategi dakwah harus diaplikasikan dengan beragam asas yang menuntun dai menuju arah dakwah yang efektif lagi efisien. Salah satunya ialah asas sosiologis yang mencakup situasi dan kondisi sasaran dakwah seperti kemampuan linguistik masyarakat sasaran dakwah. Dengan demikian, seorang dai wajib memahami sosiolinguistik masyarakat sehingga tingkat persentase kesuksesan dakwahnya menjadi lebih tinggi.

Mengapa demikian?

Bahasa pada hakikatnya merupakan proses interaksi verbal antara penutur dengan pendengar [2]. Saat seorang dai hendak berbicara, terbentuk suatu gagasan terkait materi dakwah yang mengalir dalam benaknya. Jika telah tiba waktunya, pesan tersebut disampaikan dalam bentuk ujaran yang nantinya ditransformasikan ke telinga pendengar. Dalam proses umpan balik tersebut, seorang dai seyogianya memperhitungkan faktor sosiokultural dan sosiosituasional di samping faktor linguistik yang cenderung mengarah kepada tata gramatikal [2].

Sosiolonguistik merupakan cabang linguistik empiris yang bersifat interdisipliner yang mengkaji masalah kebahasaan terkait dengan aspek sosial dan budaya masyarakat [2]. Keduanya saling bersinergi mengingat struktur sosial dapat mempengaruhi tingkah laku linguistik dan begitu pula sebaliknya [3]. Pemahaman akan disiplin sosiolinguistik begitu esensial mengingat bahasa menunjukkan variasi internal dan tidak akan menemukan seseorang dengan satu gaya bahasa sama [3]. Perbedaan tersebut mungkin terjadi pada pilihan kata, ucapan bunyi, dan struktur kalimat. Dengan memahami berbagai variasi tersebut, seorang dai diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan struktur bahasa di manapun ia berdakwah. Salah satunya berhubungan dengan diglosia. Diglosia merupakan salah satu gejala sosial yang bersangkut paut dengan situasi linguistik sasaran dakwah. Istilah tersebut mengacu kepada eksistensi dua ragam bahasa yang tumbuh berdampingan dengan bahasa lain dengan fungsi sosial yang khusus dalam skema komunikasi antarindividu [2]. Masyarakat dengan kondisi linguistik tersebut disebut diglosik. Lebih spesifik, masyarakat diglosik mengganggap adanya bahasa yang tinggi dan bahasa yang rendah. Bahasa pertama dinilai lebih bermartabat dan biasanya digunakan dalam situasi formal, sementara yang kedua memiliki karakteristik sebaliknya [2].

Diglosia dalam konsep linguistik cenderung mengarah kepada kontak bahasa. Artinya, ada berbagai bahasa yang saling bersinggungan dalam situasi pemakaian bahasa sehari-hari [4]. Menegaskan penjelasan sebelumnya, masyarakat diglosik memiliki ciri pembagian berbagai bahasa sesuai fungsi kemasyarakatan. Ranah tinggi biasanya diterapkan dalam bidang agama, pendidikan, dan pekerjaan. Adapun ranah rendah berkaitan dengan keluarga dan pertemanan. Keduanya tak boleh menerobos penggunaan yang semestinya guna menciptakan kondisi diglosia stabil. Jika sebaliknya, setiap bahasa justru tidak dapat mempertahankan fungsinya dan akhirnya berujung kepada ketirisan diglosia [4]. Ketirisan diglosia tentu akan menimbulkan kondisi sosial yang tidak kondusif mengingat masyarakat mengalami keguncangan budaya secara mendadak terkait pemakaian bahasa. Dalam situasi tersebut, seorang dai akan merasa kesulitan dalam menyampaikan dakwah sebab pengajaran Islam tak luput dari pemakaian bahasa yang baik dan benar.

Apakah yang harus dilakukan oleh seorang dai tatkala terjerembap dalam lubang musibah tersebut?

Seorang dai setidaknya mawas terhadap kondisi diglosia sasaran dakwahnya. Ia harus bijaksana dalam menggunakan ragam bahasa yang sesuai ketika proses dakwah berlangsung. Ketika menghadiri majelis formal, tentu ia diharapkan menggunakan bahasa formal yang dianggap elite oleh masyarakat sekitar. Misalnya, ketika berdakwah di ibu kota Jakarta yang dihadiri oleh golongan kelas atas, berbahasalah dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak luput pengucapan kata sesuai dengan PUEBI. Sebaliknya, tatkala mendakwahi sekelompok pemuda, usahakan gunakan bahasa yang gaul namun tetap sopan. Jangan sampai terbawa suasana sehingga melampaui batas! Penggunaan bahasa yang sesuai tentu akan menarik hati sasaran dakwah seakan-akan gelombang sinyal yang memperoleh media elektronik dengan frekuensi sama. Tak lupa, seorang dai tidak boleh menganggap eksistensi hierarki bahasa. Ia diharuskan menilai diglosia sebagai fenomena linguistik belaka tanpa mengganggu kondisi mentalnya. Jika tidak demikian, ia justru akan menggunakan bahasa yang dianggap lebih elite dan lebih akademik dengan tujuan memamerkan tingkat keilmuannya.

Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa seseorang harus mengucapkan sesuatu sesuai tingkat pemahaman pendengarnya?

Tak hanya berdampak positif terhadap keberhasilan dakwah, adaptasi diglosia yang dilakukan dai ternyata mampu menghindari kematian suatu bahasa. Bayangkan jika dai hanya menggunakan bahasa gaul di situasi apapun, tentu pendengar akan merasa ganjil. Efek setelahnya akan lebih buruk jika sasaran dakwah kelak juga menjadi seorang dai. Ia akan terus berdakwah menggunakan ragam bahasa sama di mana hal tersebut justru memperburuk citra dai.

Mengapa demikian?

Penggunaan bahasa yang monoton dalam jangka waktu panjang menyiratkan kedunguan pembicara. Apakah kematian ragam bahasa hanya berdampak pada dai? Jawabannya tentu tidak. Fenomena kebahasaan tersebut harus dihindari sebab hilangnya sebuah bahasa akan memiskinkan pengetahuan dan pemikiran masyarakat [4]. Masyarakat yang bodoh berakibat pada sulitnya menerima ajaran Islam yang penuh logika.

Intinya, seorang dai sudah sepatutnya mengaplikasikan strategi dakwah secara efisien. Sebagai ilustrasi, ia diharuskan mengetahui situasi linguistik sasaran dakwah. Ia setidaknya memahami garis besar fenomena kebahasaan yang terjadi dan bagaimana ia menghadapinya dengan bijak. Salah satunya ialah diglosia di mana dalam sebuah struktur sosial masyarakat terdapat dua atau lebih ragam bahasa. Yang satu dianggap lebih tinggi sementara yang lainnya dianggap rendah. Dengan pendekatan objektif yang tepat, seorang dai harus menerapkan penggunaan bahasa yang tepat dengan menyesuaikan situasi. Dengan demikian, dengan izin Allah, dakwahnya akan memberikan hasil yang gemilang. Pahalanya akan terus mengalir hingga ruhnya diangkat keharibaan-Nya kelak. Semoga Allah memudahkan para dai tak terkecuali demi tegaknya kalimat syahadat. Amin.

Daftar Pustaka

[1]      E. H. Husnah, “Metode dan Strategi Dakwah,” Banten, 2016.

[2]      Abdurrahman, “Sosiolinguistik: Teori, Peran, dan Fungsinya Terhadap Kajian Bahasa Sastra,” pp. 18–35.

[3]      T. Nugroho, “Apa itu sosiolinguistik?,” Ekspresi, Jakarta, pp. 26–32, Jun. 2006.

[4]      D. Susilawati, “Bahasa Masyarakat Perkotaan: Tantangan Pemerintahan Bahasa Palembang,” Magister linguistik, pp. 1–4, May 2010.